Kisah Pendekar Bongkok Jilid 05


Pek Lan menjatuhkan dirinya berlutut di depan nenek buruk dan tua itu ketika si nenek menurunkannya dari pondongan. Mereka kini berada di puncak sebuah bukit kecil yang sunyi dan sepi.

“Terima kasih, Nenek telah menyelamatkan saya, dan selanjutnya saya mohon petunjuk nenek apa yang harus saya lakukan sebab hidup saya sebatang kara dan tidak memiliki harapan lagi.”
“Pek Lan, engkau berjodoh untuk menjadi muridku. Mulai sekarang, aku adalah gurumu. Kalau engkau tidak mau menjadi muridku, engkau akan kubunuh sekarang juga. Nah, engkau pilih mana?”

Diam-diam Pek Lan terkejut bukan main. Dia harus menjadi murid nenek iblis ini dan kalau ia tidak mau ia akan dibunuh! Manusia macam apakah nenek ini? Dan ia belum pernah mimpi akan berguru kepada seorang nenek iblis. Mau belajar apa dari nenek ini? Akan tetapi, tidak sukar untuk memilih antara berguru kepada nenek itu atau mati.

“Tentu saja saya memilih berguru, nek.”
“Hushhh! Kalau memilih berguru kepadaku, kenapa masih menyebut nenek? Sebut aku subo (ibu guru)!”
“Baik, subo. Saya akan mentaati semua perintah subo.”
“Bagus! Memang syaratnya engkau harus mentaati semua perintahku. Perintah apa pun harus kau taati, tahu? Kalau tidak, engkau akan kupecat sebagai murid, kemudian akan kubunuh!”

Pek Lan bergidik. Nenek ini sedikit-sedikit mengancam mau membunuhnya! Akan tetapi lalu timbul dalam benaknya bahwa jika ia dapat memiliki ilmu kepandaian seperti nenek itu, ia akan mampu menghadapi siapa pun juga, termasuk nenek ini! Ia akan dapat menghajar semua orang yang tidak disukainya. Maka bangkitlah semangatnya.

“Apa pun yang subo perintahkan kepada teecu akan teecu laksanakan.”
“Heh-heh-heh, bagus sekali. Sekarang engkau harus melaksanakan tugas yang sangat penting. Kita membutuhkan harta yang amat banyak agar kita dapat hidup tenteram dan berkecukupan. Kalau sudah begitu barulah engkau akan dapat belajar dengan baik.”
“Bagaimana kita bisa mendapatkan harta yang banyak, subo?”
“Mari, ikut dengan aku ke kota besar Ho-tan di timur. Di sana terdapat benteng besar pasukan dan di kota itu terdapat seorang yang paling kaya raya, yaitu Pangeran Cun Kak Ong yang menjabat komandan atau panglima besar. Banyak sekali barang-barang rampasan disimpan sendiri oleh pangeran itu dan kalau kita dapat memasuki gudang hartanya, tentu kita akan menjadi kaya raya!”

Pek Lan ikut bergembira dan ia pun pergi mengikuti subo-nya. Ia telah melihat kesaktian nenek itu. Ia percaya bahwa nenek itu akan mampu melaksanakan rencananya dengan baik. Mereka akan menjadi kaya raya dan hidup berkecukupan sehingga ia dapat mulai mempelajari ilmu-ilmu kesaktian dari nenek itu.

Pangeran Cun Kak Ong adalah seorang laki-laki tinggi besar berusia lima puluh tahun. Ia adalah seorang bangsawan, masih sanak keluarga Kerajaan Beng-tiauw. Pada masa itu Kerajaan Beng-tiauw sudah mulai mengalami masa surut, bukan hanya disebabkan pemerintahannya mendapat gangguan para bajak laut, pemberontakan-pemberontakan dalam negeri, ancaman gerakan orang-orang Mancu di luar Tembok Besar, akan tetapi terutama sekali akibat para pembesarnya sudah kehilangan kesetiaan mereka terhadap tanah air dan bangsa, namun hanya mementingkan kesenangan pribadi masing-masing sehingga sukar ditemukan seorang pembesar yang setia dan tidak melakukan korupsi besar-besaran.

Pangeran Cun Kak Ong juga seorang di antara para pembesar yang kegiatannya hanya membesarkan perut sendiri. Pada saat ia diangkat menjadi panglima besar dan menjadi orang nomor satu di daerah Sin-kiang, dia menjadi semacam raja kecil. Hanya sedikit saja bagian hasil dari daerah itu yang disetorkan ke pusat. Selebihnya, yang terbanyak, masuk ke dalam gudang hartanya sendiri.

Bangsawan ini memiliki kesukaan mengumpulkan barang-barang kuno yang berharga, patung-patung emas, barang-barang antik dari batu giok, perhiasan-perhiasan dari intan atau mutiara, lukisan-lukisan yang mahal harganya. Dia seorang pembesar yang kaya raya sehingga tidak aneh jika hidupnya di kota besar Ho-tan seperti kehidupan seorang raja, berikut dengan istananya yang megah dan siang malam dijaga oleh puluhan orang prajurit.

Bukan hanya penjagaan di rumah seperti istana itu yang amat ketat, akan tetapi juga di istana itu terdapat banyak rahasianya sehingga orang luar jangan harap bisa memasuki istana tanpa terancam jebakan-jebakan rahasia. Apa lagi kalau ada maling yang masuk, jangan harap dia akan mampu menemukan kamar-kamar atau gudang-gudang rahasia di bawah tanah! Inilah yang menjadi penyebab kenapa orang sakti seperti Hek-in Kui-bo ingin menggunakan muridnya yang cantik jelita untuk melaksanakan niatnya, yaitu untuk mencuri harta dari pangeran itu.

Satu di antara kelemahan-kelemahan Pangeran Cun Kak Ong adalah wanita cantik! Di dalam istananya sudah terdapat belasan orang selir yang muda-muda dan cantik-cantik dari bermacam suku bangsa. Ada gadis suku bangsa Uigur yang manis, bangsa Uzbek yang panas, bangsa Kirgiz yang cantik lembut, bangsa Hui yang pandai merayu, bahkan ada dari bangsa Tajik yang bermata kebiruan dan berhidung mancung. Akan tetapi dia masih selalu membuka mata dan hidung lebar-lebar setiap kali berjumpa dengan wanita cantik yang belum menjadi miliknya!

Pada pagi hari itu, ketika dia berkuda dari rumahnya menuju ke benteng, diiringkan oleh belasan orang pengawal, tiba-tiba dia menahan kudanya dan memberi isyarat kepada pasukannya untuk berhenti. Semua prajurit ikut menengok ke kiri, ke mana panglima itu menengok dan mereka semua menahan senyum, telah maklum apa yang menyebabkan panglima itu menahan kuda dan memberi isyarat mereka agar berhenti.

Kiranya di tepi jalan itu terdapat seorang wanita muda yang sedang menangis. Wanita yang masih amat muda itu, baru tujuh belas tahun usianya, amat cantik manis sehingga tidak mengherankan apa bila panglima yang sudah terkenal mata keranjang itu tertarik sekali.

Pangeran itu turun dari atas kudanya, kemudian sambil membusungkan dadanya dia melangkah gagah menghampiri gadis cantik yang sedang memangis itu. Akan tetapi, karena sejak beberapa tahun ini perutnya berkembang lebih cepat dari pada dadanya sehingga perutnya amat gendut, yang membusung bukan dadanya melainkan perutnya menjadi semakin menonjol. Akan tetapi dia melangkah dengan lagak yang gagah, yakin akan kegagahan pakaiannya sebagai seorang panglima yang serba gemerlapan.

Beberapa orang yang tadinya juga tertarik dan mendekati gadis yang menangis itu, kini cepat mundur ketika melihat panglima besar itu menghampiri gadis itu. Yang tinggal di dekat gadis itu hanya seorang nenek yang sudah tua sekali dan buruk rupa.

“Nona, siapakah engkau dan kenapa menangis di sini?” Pangeran Cun bertanya.

Hatinya semakin tertarik karena setelah dekat, dia mendapat kenyataan betapa gadis itu lebih cantik dari pada yang diduganya. Wajahnya manis sekali, kulitnya putih mulus dan ketika menangis, gadis itu menunduk sehingga dari atas dia dapat melihat celah-celah belahan dada dan nampaklah lereng sepasang bukit yang menantang.

Gadis itu tidak menjawab melainkan menangis lebih sedih lagi, sampai sesenggukan dan menutupi mukanya dengan kedua tangan dan sehelai sapu tangan sutera. Nenek di dekatnya juga ikut berlutut, akan tetapi tidak mengeluarkan suara.

“Nona, ceritakanlah padaku. Jangan engkau khawatir, aku yang akan menolongmu dan menghukum orang yang membikin susah hatimu. Agaknya engkau bukan orang sini, nona. Dari manakah engkau?”

“Maaf, Taijin... karena berduka maka tadi saya sukar sekali mengeluarkan suara... saya memang bukan orang sini... saya berasal dari sebuah dusun kecil di luar kota Ye-ceng. Nama saya Pek Lan dan saya... saya, pengantin baru... baru satu bulan menikah dan ketika saya diboyong ke dusun suami saya... di tengah jalan kami dihadang perampok! Suami saya, semua keluarga saya... melakukan perlawanan dan dalam kesempatan itu, saya berhasil melarikan diri, dibantu oleh pelayan tua kami yang setia ini. Ia gagu dan tuli, akan tetapi ia setia sekali... karena itu, tolonglah kami, Taijin...”

Gadis itu bukan lain adalah Pek Lan, dan nenek yang diakuinya sebagai pelayan setia itu bukan lain adalah gurunya, Hek-in Kui-bo, iblis yang amat jahat dan kejam! Semua itu adalah siasat dan rencana si nenek untuk menundukkan hati dan memenangkan kepercayaan Pangeran Cun yang terkenal mata keranjang.

Tepat seperti dugaan nenek ini yang dapat melihat betapa cantik menariknya muridnya, seketika Pangeran Cun jatuh hati! Apa lagi mendengar bahwa gadis jelita itu adalah seorang pengantin baru yang baru satu bulan menikah dan kini berpisah dari suaminya!

Menurut patut, kalau dia mau menolong, tentu dia akan mengerahkan pasukan untuk mencoba menyelamatkan suami dan keluarga gadis ini. Akan tetapi tidak sama sekali, dia menolong dengan cara ‘menampung’ Pek Lan, dan hal ini sudah pula diperhitungkan nenek Hek-in Kui-bo!

“Aduh kasihan...!” Pangeran itu berseru sambil melihat kemulusan gadis itu. “Janganlah menangis, nona, dan jangan bersedih. Tentu saja kami suka menolongmu. Mari, mari ikut ke istana kami dan engkau akan segera melupakan mala petaka yang menimpa dirimu, he-he-he!”

Pek Lan yang bermain sandiwara demi memenuhi perintah gurunya, segera memberi hormat. Berkali-kali dia menghaturkan terima kasih, serta tak lupa untuk menghadiahkan kerling memikat dan senyum kecil yang menantang, membuat hati pangeran itu menjadi semakin tertarik. Seketika dia pun membatalkan kepergiannya ke benteng, melainkan memutar pasukannya pulang ke istana sambil mengawal kereta yang cepat disediakan untuk Pek Lan dan ‘pelayannya’.

Tepat seperti diperhitungkan oleh Hek-in Kui-bo. Dalam waktu singkat sekali Pangeran Cun sudah bertekuk lutut dan tergila-gila kepada selir barunya ini! Hek-in Kui-bo yang berpengalaman juga begitu bertemu dengan Pek Lan sudah tahu bahwa gadis itu bukan perawan, melainkan seorang wanita yang biar pun masih muda namun sudah matang, dan bahwa dalam diri Pek Lan tersembunyi watak cabul dan pemikat.

Pek Lan memang amat cerdik. Tentu saja ia pun tidak mempunyai rasa suka kepada Pangeran Cun. Biar pun dia seorang pangeran, bangsawan tinggi yang berkedudukan tinggi dan kaya raya, akan tetapi usianya sudah setengah abad lebih. Mukanya yang sudah keriputan itu coba ditutupi dengan watak pesolek, pakaian indah. Akan tetapi pakaiannya yang mewah itu tidak mampu menyembunyikan perutnya yang gendut luar biasa.

Pek Lan terpaksa memejamkan mata supaya tidak melihat perut yang seolah-olah akan meledak itu setiap kali sang pangeran mendekatinya. Akan tetapi, dia mempergunakan segala kecantikannya, gaya dan kepandaiannya, untuk benar-benar meruntuhkan hati sang pangeran.

Dalam keadaan terbuai dengan kemesraan yang memuncak, Pangeran Cun Kak Ong mencurahkan seluruh kasih sayang dan kepercayaannya kepada selir baru ini sehingga hanya dalam waktu dua minggu saja dia sudah membuka rahasia tempat penyimpanan hartanya. Gudang di bawah tanah itu penuh alat rahasia dan dijaga oleh jagoan-jagoan yang didatangkan dari kota raja dan memiliki ilmu silat tinggi!

Setelah berhasil mengorek rahasia ini, Pek Lan segera memberi tahu kepada gurunya yang menyamar sebagai pelayannya.

“Subo, cepatlah bertindak. Aku sudah tidak tahan lagi didekati babi itu!” keluh Pek Lan yang terpaksa harus melayani pria yang tidak disukainya.

Nenek itu tertawa tanpa membuka mulut. “Jangan khawatir, malam ini kita kerjakan! Akan tetapi, pekerjaan ini berbahaya sekali, oleh karena itu, sebaiknya kalau engkau tinggal saja di dalam kamarmu. Aku akan memancing mereka mengejar keluar, barulah aku akan kembali dan mengambilmu dari kamarmu.”

“Tapi..., tapi... subo jangan lupa untuk mengajak teecu keluar dari neraka ini!”

Kembali nenek itu tertawa, “Anak goblok, kedudukanmu begitu baik kau bilang neraka?”

“Aihh, subo. Siapa sih yang suka siang malam dalam pelukan babi itu? Dengkurnya saja membuat kepalaku selalu pening dan tidak dapat tidur barang satu jam pun. Seleranya seperti babi, aku jijik...”
“Engkau jangan khawatir. Aku akan bekerja cepat. Walau pun katanya tiga orang jagoan itu berilmu tinggi, akan tetapi aku tidak takut dan tentu aku akan mampu merobohkan mereka,” berkata nenek itu setelah mencatat dalam ingatannya tentang jebakan-jebakan rahasia yang berhasil dikorek dari mulut Pangeran Cun.

Malam gelap pun tiba dan setelah lewat tengah malam, nenek Hek-in Kui-bo berkelebat keluar dari kamarnya sendiri di dekat kamar Pek Lan yang ketika itu sedang merasa tersiksa ‘menderita’ di dalam pelukan Pangeran Cun.

Pada waktu sang pangeran yang kelelahan telah tertidur dan mendengkur keras seperti dengkurnya babi disembelih, Pek Lan perlahan-lahan melepaskan diri dari pelukannya, lalu duduk di tepi pembaringan, melamun. Jantungnya berdebar tegang karena ia tahu bahwa saat itu pula gurunya sedang memasuki lorong bawah tanah untuk mengunjungi gudang harta yang dijaga ketat itu. Bagaimana kalau gurunya gagal? Apakah ia tidak akan tersangkut?

Dia akan mempergunakan segala rayuan dan kecantikannya untuk menyelamatkan diri, membanjiri pangeran itu dengan segala kemesraan dan kehangatan. Setidaknya, ia tak tertangkap basah dan tidak ikut dengan gurunya ke gudang harta itu! Ia berada dalam pelukan sang pangeran ketika pencurian itu terjadi!

Dengan memaksakan diri, Pek Lan kembali merebahkan diri dan mendekati Pangeran Cun Kak Ong. Pangeran itu bergerak dalam tidurnya dan lengannya yang gemuk dan berat itu merangkul, melintang di atas dada Pek Lan! Gadis itu sampai merasa sesak bernapas, akan tetapi ia mandah saja, hanya miringkan tubuhnya supaya tidak sampai mati terhimpit!

Bagaikan bayangan setan, Hek-in Kui-bo berhasil menyelinap ke lorong bawah tanah. Di bawah tanah itu terdapat banyak kamar, di antaranya kamar atau gudang harta yang besar dan terjaga ketat. Belasan orang penjaga berkeliaran di sekitar gudang itu, dan di depan gudang terdapat sebuah kamar di mana tiga orang jagoan yang amat lihai tidur dan berjaga secara bergiliran. Yang terus melakukan perondaan adalah para anak buah mereka yang jumlahnya ada selosin orang.

Dua orang penjaga meronda dan berjalan di belakang gudang itu, membawa sebuah lentera minyak. Tiba-tiba saja ada sesosok bayangan hitam berkelebat dan dua orang itu terbelalak, akan tetapi tidak mampu bergerak atau berteriak karena mereka sudah tertotok secara aneh sekali.

Tentu saja yang menotoknya adalah Hek-in Kui-bo dan secepat kilat nenek ini sudah merampas lentera sebelum terlepas dan terjatuh. Sekali tiup, lentera itu pun padam! Dan seperti bayangan setan, ia kembali bersembunyi dan mengintai.

Tak lama kemudian kembali dua orang penjaga datang membawa lentera dan tombak panjang. Mereka jelas mencari-cari dua orang kawannya tadi, dan begitu melihat dua orang kawan itu berdiri di belakang gudang, tidak bergerak, mereka pun cepat-cepat lari menghampiri.

Akan tetapi kembali ada bayangan hitam berkelebat dan di lain saat, dua orang ini pun berdiri seperti patung tak bergerak, tombak dan lentera terampas dari tangan mereka! Semua ini terjadi dengan amat cepatnya dan kini empat orang itu dari jauh nampaknya seperti sedang merundingkan sesuatu, berdiri seperti patung.

Dua orang berikutnya lebih curiga. Mereka melihat empat orang kawan mereka berdiri di belakang gudang dan seperti orang sedang berunding, akan tetapi tanpa lentera dan tanpa tombak! Dan mereka itu tidak bergerak-gerak. Hal ini membuat mereka berdua bercuriga.

Mereka tidak menghampiri, melainkan berseru memanggil empat orang kawan itu. Akan tetapi tidak ada jawaban dan selagi mereka hendak lari kembali ke depan gudang dan melapor, mendadak mereka pun roboh terpelanting dengan pelipis berlubang tertusuk ujung tongkat. Lentera dan tombak mereka terampas sebelum terbanting ke atas tanah.

Kini bayangan hitam yang agak bungkuk itu, Hek-in Kui-bo, mengambil dua buah lentera terdahulu, membukanya dan menyiramkan minyak dari dua lentera itu ke tubuh empat orang yang ditotoknya. Kemudian, sambil membuka totokan mereka ia pun membakar empat orang penjaga itu!

Tentu saja empat orang penjaga itu berteriak-teriak, menjerit-jerit dan tubuh mereka lalu terbakar! Mereka berlari cerai berai sambil menjerit-jerit. Hal ini tentu saja mengejutkan kawan-kawan mereka, bahkan tiga orang jagoan itu pun cepat-cepat keluar dari kamar mereka.

Empat orang yang terbakar itu berlarian cerai berai dan tidak dapat bicara kecuali hanya menjerit-jerit, membuat tiga orang jagoan itu menjadi bingung mengejar ke sana-sini. Mereka lalu merobohkan empat orang yang berlarian-larian, yang membakar beberapa bagian bangunan bawah tanah itu dengan tubuh mereka. Akan tetapi, sebelum mereka sempat memberi penjelasan, empat penjaga itu sudah tewas lebih dahulu oleh luka-luka bakar.

Kemudian, tiga orang jagoan itu menemukan pula dua orang penjaga yang pelipisnya berlubang. Tentu saja mereka terkejut dan maklum bahwa ada orang jahat. Akan tetapi di mana? Mereka memeriksa semua bagian, tidak ada jejak kaki orang luar!

Tentu saja mereka tidak memeriksa ke dalam gudang di mana Hek-in Kui-bo dengan santai memilih benda-benda yang paling berharga, tidak tergesa-gesa karena nenek ini maklum betapa perbuatannya itu membuat semua penjaga mencari-cari keluar, bukan ke dalam gudang! Ia memasuki gudang itu dari jendela belakang yang dipasangi alat rahasia, akan tetapi, berkat kecerdikan muridnya, dia sudah mengetahui rahasia alat itu dan telah melumpuhkannya pula.

Sesudah berhasil membuka jendela dan memasukinya tanpa menyentuh anak panah beracun yang dipasang di sana, dia menutup kembali daun jendela dan memasang lagi anak panah itu, kemudian dia memilih benda-benda yang paling berharga. Patung emas murni, benda dari batu giok, perhiasan-perhiasan kuno dari intan, mutiara dan permata mulia lainnya. Dikumpulkan semua benda yang merupakan harta yang dapat membuat orang menjadi kaya raya itu ke dalam sebuah kantung kain yang sudah dipersiapkannya sebelumnya, kantung kain hitam yang tebal dan kuat, lalu dipanggulnya kain hitam yang kini penuh barang berharga di atas punggungnya yang agak bungkuk.

Dengan hati-hati dia lalu mengintai keluar. Enam orang penjaga dan tiga orang jagoan itu masih sibuk memadamkan api yang membakar empat orang penjaga karena mereka tadi berlarian menabrak sana-sini, sehingga ada beberapa tempat yang kebakaran pula.

Mempergunakan kesempatan ini, Hek-in Kui-bo keluar dari dalam kamar melalui jendela pula, menutupkan lagi jendela itu dan ia pun berkelebat menuju ke pintu lorong. Kalau ia mau, mengandalkan ginkang-nya yang tinggi, tentu dia dapat menyelinap keluar tanpa diketahui.

Akan tetapi ia harus membawa muridnya keluar pula, dan hal ini tidak mudah. Ia harus memancing semua penjaga untuk mengejarnya keluar dari gedung itu, maka ia sengaja memberatkan tubuhnya dan langkahnya pun terdengar oleh tiga orang jago.

“Heiiii, berhenti...!” Tiga orang jagoan itu berteriak, mencabut pedang dan mereka sudah mengejar.

Memang betul keterangan yang diperoleh Pek Lan dari mulut Pangeran Cun. Tiga orang jagoan ini memiliki kepandaian yang hebat dan tubuh mereka meluncur cepat sekali mengejar tubuh berpakaian hitam yang bungkuk itu.

Akan tetapi, Hek-in Kui-bo adalah seorang datuk sesat yang seperti iblis. Ia telah keluar dari lorong, masuk ke dalam taman gedung itu. Tiga orang jagoan terus mengejar dan melihat betapa bayangan hitam itu dapat bergerak amat cepatnya, mereka pun berteriak memberi tanda kepada para rekan mereka yang berjaga di atas.

Keadaan menjadi gaduh sekali ketika banyak penjaga berlarian ke sana-sini dan cuaca menjadi terang karena semua penjaga itu menyalakan lentera-lentera dan lampu-lampu gantung. Hek-in Kui-bo sengaja berkelebatan ke sana-sini untuk membikin keadaan jadi kacau, kemudian dia sengaja memperlihatkan diri dan lari ke dalam kebun di samping gedung.

Kebun atau taman ini amat luas dan semua penjaga, dipimpin oleh tiga orang jagoan dan para perwira, mereka mengejar ke sana. Hek-in Kui-bo sengaja menanti di tempat gelap dan ketika mereka semua datang menyerbu, ia mengamuk dengan tongkatnya.

Beberapa orang penjaga roboh seketika, akan tetapi tiga orang jagoan itu memang lihai. 
Mereka bukan saja mampu menjaga diri dari amukan tongkat akan tetapi juga mampu membalas, walau pun bagi Hek-in Kui-bo, mereka itu masih belum apa-apa, merupakan lawan-lawan yang lunak saja.

Setelah merobohkan kurang lebih sepuluh orang, Hek-in Kui-bo meloncat ke atas pagar tembok dan menghilang ke dalam kegelapan malam. Tentu saja tiga orang jagoan dan para perwira melakukan pengejaran, diikuti pula oleh pasukan pengawal. Mereka sama sekali tidak tahu betapa bayangan hitam itu sebetulnya bersembunyi dekat tembok dan begitu mereka semua berloncatan keluar, Hek-in Kui-bo mengambil jalan memutar dan sudah meloncat masuk kembali!

Pangeran Cun sudah mendengar keributan di luar, bahkan ada pengawal yang sudah melapor dari luar kamar. Dengan malas Pangeran itu mengenakan pakaian, kemudian dia berkata sambil bersungut-sungut. “Pencuri itu minta mampus barangkali. Bagaimana mungkin dapat melakukan pencurian di gedungku ini yang dijaga ketat? Tentu sekarang sudah tertangkap!”

Dia pun membiarkan selir tercinta itu mengenakan pakaiannya, bahkan dia tidak sadar bahwa di sudut kamar terdapat buntalan pakaian yang cukup besar, pakaian yang sejak tadi dipersiapkan oleh Pek Lan, menggunakan saat pangeran itu mendengkur pulas.

“Brakkk!”

Tiba-tiba jendela itu berantakan dan tentu saja Pangeran Cun terkejut bukan main. Dia membalik tubuh dan melihat dengan mata terbelalak betapa nenek buruk rupa, pelayan selirnya itu meloncat masuk, membawa buntalan hitam di punggungnya.

“Pek Lan, mari kita pergi!” kata nenek itu.

Pangeran Cun masih belum sadar. Akan tetapi mendengar nenek itu hendak mengajak pergi selirnya, dia menjadi marah. “Keparat, mau apa kau? Pergi dari kamar ini!” Dan dia mencabut pedang yang tergantung di dinding kamar itu.

“Cerewet kau!” bentak nenek itu dan sekali tongkatnya bergerak, tubuh yang gendut itu telah terbanting roboh di atas lantai, tak mampu bergerak lagi karena tertotok oleh ujung tongkat secara aneh.
“Subo, kenapa babi ini tidak dibunuh saja?” berkata Pek Lan sambil mengambil buntalan dari sudut kamar, bahkan ia lalu mengumpulkan perhiasan di atas meja. Perhiasan ini merupakan hadiah dari sang pangeran dan tadi ia harus melepaskannya semua supaya tidak ‘mengganggu’ pelayanannya kepada bangsawan itu.
“Ahh, jangan, he-he-heh! Bukankah dia yang membuat kita kaya raya? Mari kita pergi!”

Nenek itu menyambar lengan muridnya dan membawanya ‘terbang’ melalui jendela. Karena para penjaga sedang sibuk sendiri melakukan pengejaran keluar tembok pagar gedung itu, dengan mudah guru dan murid ini meninggalkan gedung, menyelinap di kegelapan malam sambil membawa buntalan di punggung mesing-masing.

Meski Pek Lan selama dua minggu ini tersiksa oleh Pangeran Cun yang memaksanya harus bersikap manis dan mesra, akan tetapi dia tidak merasa rugi. Pertama, dia telah menyenangkan hati gurunya dan kedua, selain ia sendiri mendapatkan pakaian-pakaian indah dan perhiasan mahal, gurunya berhasil mencuri banyak sekali barang yang tidak ternilai harganya, yang membuat mereka seketika itu pula menjadi kaya raya sehingga memungkinkan mereka hidup mewah dengan harta benda itu.

Beberapa bulan kemudian, di tepi Telaga Co-sa yang indah, berdiri sebuah rumah yang mungil dengan perkebunan yang amat luas. Nenek Hek-in Kui-bo telah membeli tanah yang sangat luas di daerah telaga ini, membangun rumah dan hidup sebagai seorang nenek yang kaya raya, mempunyai beberapa orang pelayan, hidup bersama muridnya, dikagumi dan disegani para penduduk dusun sekitarnya sebagai orang-orang kaya raya yang hidupnya menyendiri dan tidak mau bergaul rapat dengan para penghuni dusun.

Dan mulai saat itu, Pek Lan yang tadinya merupakan seorang gadis manis yang lemah lembut, mulai digembleng untuk menjadi seorang iblis betina seperti gurunya. Ternyata gadis ini memiliki bakat yang baik sekali dalam ilmu silat…..
********************
Ang-in-kok atau Lembah Awan Merah merupakan sebutan bagi salah sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Kun-lun-san. Bukit yang puncaknya disebut Ang-in-kok ini berada di ujung barat. Mungkin karena pemandangan di puncak ini waktu senja amatlah indahnya, di mana orang dapat menikmati keindahan matahari terbenam di ufuk barat, membuat angkasa seperti kebakaran dan kemerahan, maka puncak ini lalu disebut pula Ang-in-kok. Letaknya jauh dari pusat Kun-lun-pai yang agak ke timur dari Pegunungan Kun-lun-san.

Ang-in-kok ini sunyi, tidak pernah didatangi manusia karena untuk mendaki puncak ini tidak mudah, orang harus melalui jurang-jurang yang curam. Sungguh pendakian yang tidak mungkin dilakukan orang biasa. Karena sunyi dan indah itulah maka tempat ini dipilih oleh Himalaya Sam Lojin dan supek mereka, yaitu Pek-sim Siansu untuk menjadi tempat tinggal sementara.

Mereka berempat menggembleng Sie Liong. Karena pemuda remaja ini menjadi murid Pek-sim Siansu, maka tiga orang kakek yang berasal dari Himalaya itu, tiga orang tokoh besar yang usianya masing-masing sudah tujuh puluh tahun lebih, terhitung sebagai para suheng (kakak seperguruan) dari Sie Liong!

Namun, tiga orang suheng inilah yang pertama-tama mendidik dan menggemblengnya. Karena tiga orang kakek ini yang merasa dirinya sudah amat tua dan tidak mampu lagi melakukan tugas-tugas penting yang membutuhkan kekuatan dan ketahanan tubuh, dan mereka mengharapkan sute (adik seperguruan) mereka ini yang nantinya akan menjadi wakil mereka, maka mereka pun menggembleng anak itu dengan penuh kesungguhan, bahkan mereka lalu mengajarkan ilmu andalan dan simpanan masing-masing kepada Sie Liong.

Pek In Tosu mengajarkan ilmu simpanannya yang dinamakan Pek-in Sin-ciang (Tangan Sakti Awan Putih), pukulan yang mengandung tenaga sinkang amat hebatnya sehingga kalau pukulan ini dipergunakan, maka dari kedua telapak tangan pemukulnya keluar uap putih.

Pukulan ini bukan hanya kuat sekali sehingga angin pukulannya saja dapat merobohkan lawan, akan tetapi juga mampu menahan dan membuyarkan pukulan-pukulan beracun yang jahat dari orang-orang golongan hitam atau kaum sesat.

Orang ke dua dari Himalaya Sam Lojin, yaitu Swat Hwa Cinjin yang selalu tersenyum ramah itu, mengajarkan ilmu simpanannya yang disebut Swat-liong Sin-ciang (Tangan Sakti Naga Salju). Pukulan ini pun mengandung tenaga sinkang yang sangat kuat, dan kehebatan ilmu pukulan ini adalah pada pukulan itu terkandung hawa yang amat dingin, hawa dingin yang mampu membikin beku darah di dalam tubuh orang yang terpukul, sehingga pukulan itu dinamakan Naga Salju!

Orang ke tiga dari Himalaya Sam Lojin, yaitu Hek Bin Tosu yang bermuka hitam, juga mewariskan ilmu simpanannya yang disebut Pay-san Sin-ciang (Tangan Sakti Menolak Gunung)! Dan sesuai dengan namanya, pukulan ini mengandung tenaga raksasa yang seakan-akan dapat merobohkan gunung dengan telapaknya! Ketika dilatih ilmu ini, Sie Liong harus mampu merobohkan batang-batang pohon yang kecil sampai yang besar.

Selama lima tahun Himalaya Sam Lojin menggembleng Sie Liong dengan tekun. Anak itu pun rajin bukan main. Tidak saja dia melakukan pekerjaan untuk melayani tiga orang suheng-nya dan seorang suhu-nya, tetapi setiap ada waktu luang, dia selalu melatih diri dengan tekun.

Hal ini amat menggembirakan hati tiga orang kakek itu. Apa lagi saat mereka mendapat kenyataan betapa Sie Liong memang mempunyai bakat yang luar biasa sekali. Tubuh bongkok itu ternyata memiliki darah yang bersih dan tulang yang kuat. Apa lagi otaknya. Luar biasa!

Selama lima tahun itu Sie Liong hampir tidak memikirkan hal lain kecuali hanya latihan ilmu-ilmu silat tinggi. Hanya kadang-kadang saja dia turun dari puncak, pergi ke dusun untuk mencari bahan-bahan makanan yang dibutuhkan tiga orang kakek itu, dengan cara menukarnya dengan hasil-hasil yang bisa didapatkan di puncak, antara lain berupa kulit-kulit binatang hutan, tanduk-tanduk menjangan yang berkhasiat, akar-akar obat dan ramuan-ramuan lainnya yang banyak didapatkan di tempat itu atas petunjuk Pek-sim Siansu yang ahli dalam hal pengobatan.

Selama lima tahun itu, Pek-sim Siansu jarang sekali keluar dari dalam goanya. Ia duduk bersemedhi dan hanya kadang-kadang saja makan, atau kadang-kadang pula dia keluar melihat kemajuan yang dicapai oleh murid barunya.

Setelah lewat lima tahun, yaitu waktu yang diberikan oleh Pek-sim Siansu kepada tiga orang murid keponakan untuk menggembleng anak itu, mulailah Pek-sim Siansu sendiri menggembleng Sie Liong yang sudah berusia delapan belas tahun.

Dia telah menjadi seorang pemuda yang sebetulnya bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat, akan tetapi karena punggungnya bongkok, dia kelihatan pendek. Seorang pemuda yang cacat, bongkok dan agaknya hal ini membuat dia bersikap rendah diri.

Gemblengan yang dilakukan Pek-sim Siansu merupakan penyempurnaan dari ilmu-ilmu yang telah dipelajari Sie Liong dari ketiga orang suheng-nya. Selain menyempurnakan ilmu-ilmu yang sudah dikuasai oleh muridnya, juga Pek-sim Siansu mengajarkan latihan siu-lian untuk menghimpun sinkang yang menjadi semakin kuat.

Juga kekuatan batin yang membuat pemuda ini seolah-olah kebal terhadap serangan ilmu sihir. Dia diberi pelajaran ilmu tongkat yang diberi nama Thian-te Sin-tung (Tongkat Sakti Langit Bumi) dan ilmu pengobatan. Selama dua tahun lagi dia tekun mempelajari ilmu, langsung di bawah bimbingan gurunya, sedangkan tiga orang Himalaya Sam Lojin sudah meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempat pertapaan masing-masing.

Setelah membimbing Sie Liong selama dua tahun, pada suatu hari Pek-sim Siansu berkata kepada muridnya bahwa sudah tiba saatnya mereka untuk saling berpisah.

“Sie Liong, sekarang usiamu sudah dua puluh tahun, sudah cukup dewasa dan sudah cukup pula ilmu-ilmu kau pelajari untuk kau pergunakan dalam hidupmu. Engkau tentu masih ingat maksud pinto dan para suheng-mu mengajarkan semua ilmu itu kepadamu. Yaitu supaya engkau dapat mewakili kami yang sudah terlalu tua ini untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dalam kehidupan rakyat, membela yang benar dan menentang yang jahat. Selain itu, pinto memberi tugas kepadamu untuk melakukan penyelidikan ke Tibet. Engkau tentu masih ingat akan penyerbuan Tibet Ngo-houw itu. Kami semua merasa heran mengapa Dalai Lama mengutus mereka untuk memusuhi kami, padahal justru golongan kami yang dulu membela dia ketika dia hendak diculik oleh para Lama. Selidikilah apa yang terjadi di sana dan kalau mungkin usahakan supaya engkau dapat menghadap Dalai Lama dan menceritakan segala yang terjadi di sini dan minta kepada Dalai Lama agar menghentikan sikap permusuhan para Lama terhadap kami.”

“Baik, suhu. Semua petunjuk dan perintah suhu dan tiga orang suheng, akan teecu taati. Dan teecu menghaturkan terima kasih atas segala budi kebaikan suhu yang selama ini telah memberi bimbingan kepada teecu.”

Pek-sim Siansu lalu meninggalkan puncak itu dan kembali ke He-lan-san yang pernah menjadi tempat pertapaannya selama bertahun-tahun. Sie Liong juga akhirnya ikut pergi meninggalkan tempat itu. Dia menuruni puncak Ang-in-kok dan langsung saja menuju ke dusun Tiong-cin, di dekat perbatasan utara yang cukup jauh.

Dia sudah mendengar keterangan dari enci-nya tentang dusun tempat kelahirannya itu, di mana menurut enci-nya ayah ibunya sudah tewas akibat penyakit menular. Dia ingin mengunjungi makam orang tuanya dan bersembahyang di makam mereka.

Setelah melakukan perjalanan jauh yang susah payah, akhirnya berhasil juga Sie Liong memasuki dusun itu. Ketika dia mendapat keterangan yang meyakinkan bahwa dusun itu adalah dusun Tiong-cin, jantungnya lantas berdebar tegang. Betapa tidak? Tempat ini adalah tanah tumpah darahnya, tempat di mana ibunya melahirkan dirinya! Kampung halaman ayah ibunya yang telah meninggal dunia.

Penduduk dusun itu melihat Sie Liong dengan pandang mata heran. Jarang ada orang luar memasuki dusun itu, dan tidak ada seorang pun yang pernah merasa kenal dengan pemuda bongkok ini.

Sie Liong juga tidak memperlihatkan sikap yang mencurigakan. Sikapnya biasa saja, seperti sikap kebanyakan pemuda dusun, bahkan dia mencari bagian yang sunyi dari dusun itu.

Ketika dia melihat seorang kakek memanggul cangkul menuju ke ladangnya, dia cepat menghampiri dan memberi hormat kepada orang tua itu.

“Maaf, lopek (paman tua). Bolehkah saya bertanya sedikit kepadamu?”

Biar pun pemuda yang bongkok itu tidak menarik, akan tetapi sikapnya yang sopan dan kata-katanya yang teratur dan halus membuat kakek itu menghentikan langkahnya dan menghadapi pemuda bongkok itu. Setelah mengamatinya beberapa lamanya, kakek itu pun menjawab.

“Hemm, tentu saja boleh, orang muda. Apakah yang hendak kau tanyakan?”
“Maaf, lopek. Saya ingin mengetahui di mana adanya makam dari suami isteri Sie Kian.”

Kakek itu membelalakkan matanya dan sekarang memandang kepada Sie Liong penuh selidik. “Orang muda, engkau siapakah dan mengapa mencari makam suami isteri Sie Kian?”

Sie Liong tidak mau membuat dirinya menjadi perhatian orang, maka sambil lalu saja dia menjawab, “Saya masih terhitung sanak keluarga jauh dari mereka, lopek, dan saya kebetulan sedang lewat di dusun ini, maka saya ingin berkunjung ke makam mereka untuk memberi hormat.”

Kakek yang wajahnya semenjak tadi nampak muram itu bersungut-sungut. “Hemm, apa perlunya mengingat orang yang sudah mati? Paling banyak setahun sekali kuburan itu seharusnya ditengok, namun kuburan keluarga itu sudah bertahun-tahun tidak ada yang datang menengok! Benar kata orang bahwa kalau hendak berbakti kepada orang tua, berbaktilah selagi mereka masih hidup, karena apa sih artinya berbakti kalau orang tua sudah mati dan tidak lagi dapat merasakan nikmat kebaktian anak?”

Sebelum Sie Liong menjawab, terdengar teriakan orang.
“Heiii, Lo Kwan, tunggu dulu...!”

Sie Liong menengok dan melihat tiga orang laki-laki tinggi besar datang berlari-lari, dan melihat mereka, kakek berusia enam puluh tahun itu mengerutkan alisnya dan nampak ketakutan. Sie Liong lalu melangkah ke samping, berdiri di pinggir untuk mendengar apa yang akan dibicarakan tiga orang itu dengan kakek berwajah muram ini.

Setelah dekat, nampaklah bahwa tiga orang itu berusia kurang lebih tiga puluh tahun, bertubuh kuat dan di pinggang masing-masing tergantung sebatang golok. Pakaian dan lagak mereka, apa lagi golok itu, sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka adalah golongan petani.

Salah seorang di antara mereka yang hidungnya besar sekali, seperti baru saja disengat kalajengking, melangkah maju dan menudingkan jari telunjuknya kepada kakek itu, tidak mempedulikan pemuda bongkok yang berdiri di pinggiran.

“He, kakek Kwan! Apakah sudah tebal kulitmu, maka engkau berani melarikan diri dari rumah? Bukankah hari ini merupakan hari terakhir janjimu untuk membayar hutangmu kepada Bouw Loya? Hayo katakan, engkau hendak minggat ke mana?”

Kakek itu membungkuk dengan sikap takut-takut. “Aih, mana saya berani melarikan diri? Kalian lihat sendiri, saya membawa cangkul, hendak bekerja di ladang. Tentang hutang itu... ahhh, bagaimana lagi? Semua orang juga tahu bahwa panen sekali ini buruk sekali hasilnya karena hujan turun terlalu pagi sehingga banyak merusak gandum yang belum tua benar. Terpaksa tahun ini saya belum mampu mengembalikan hutang saya kepada Bouw-chungcu (kepala dusun Bouw). Harap sampaikan maaf saya kepada beliau dan tahun depan tentu akan saya bayar lunas.”

“Enak saja buka mulut! Kalau sedang butuh, minta hutang merengek-rengek akan tetapi kalau disuruh mengembalikan, ada saja alasannya! Tidak tahu malu!” bentak si hidung besar.

Muka kakek yang muram itu berubah merah, agaknya dia merana penasaran sekali, akan tetapi karena takut maka tidak leluasa mengeluarkan perasaan penasaran itu.

“Akan tetapi, selama berbulan-bulan ini saya selalu membayar bunganya, kalau semua dikumpulkan, bunga-bunga itu sudah hampir sama banyaknya dengan jumlah pokok uang yang saya hutang!”
“Tentu saja kau harus membayar bunga. Memangnya yang yang kau hutang itu milik nenek moyangmu? Akan tetapi hutang itu menurut perjanjian harus dikembalikan dalam enam bulan dan sekarang sudah delapan bulan. Hari ini adalah hari terakhir, engkau harus membayarnya. Harus kau bayar sekarang, mengerti?”

Kakek itu menarik napas panjang. “Bagaimana saya dapat membayarnya? Saya tidak mempunyai uang dan saya tidak bisa mencari pinjaman kepada orang lain. Sungguh mati saya tidak bisa membayar sekarang, bukan tidak mau... harap saya diberi waktu.”

Si hidung besar menggeleng kepala dan hidungnya nampak menjadi lebih besar dan kemerahan. “Tidak bisa! Majikan kami mengharuskan engkau membayar sekarang juga. Sudahlah, kami akan pergi ke rumahmu dan akan mengambil apa saja yang berharga untuk kami sita!”

Kakek itu tersenyum sedih. “Barang apa lagi? Semua sudah kami jual untuk membayar bunga kepada Bouw-chungcu, dan sebagian lagi untuk makan. Di rumah tidak ada lagi sepotong pun benda yang berharga.”

“Hemm, kukira tidak demikian, orang tua! Ada bunga yang manis dan bunga itu cukup untuk membayar hutangmu kepada majikan kami!” Berkata demikian si hidung besar lalu membalikkan tubuh dan pergi bersama dua orang kawannya.

Kakek itu kelihatan pucat dan ketakutan. “Celaka... celaka... mereka akan membawa Siu Si! Celaka, ya Tuhan, apa yang dapat saya lakukan untuk menyelamatkan cucuku yang malang itu...?” Suaranya bercampur tangis kebingungan.

“Lopek, siapakah itu Siu Si? Dan mengapa mereka hendak membawanya?”

Ditanya oleh pemuda bongkok itu, kakek yang sudah putus harapan itu lalu berkata, “Namaku Kwan Sun, hidupku hanya dengan cucuku Siu Si, gadis berusia tujuh belas tahun yang sudah yatim piatu. Memang sudah lama kepala dusun kami, Bouw Kun Hok, tertarik kepada cucuku dan beberapa kali dia ingin mengambil cucuku sebagai selir, akan tetapi selalu kami tolak dengan halus. Dan agaknya, hutangku kepadanya yang akan membuat Siu Si celaka! Ahhh, kalau saja mendiang Sie Kauwsu (Guru silat Sie) masih hidup, tentu tidak ada kepala dusun yang berani menekan rakyatnya...”

Ucapan terakhir ini membangkitkan semangat dalam hati Sie Liong. Ayahnya disebut sebagai seorang yang mencegah terjadinya kejahatan di dusun itu. Ayahnya telah tiada, akan tetapi dia, puteranya, masih ada! Dia lalu memegang lengan kakek itu.

“Hayo, lopek, kenapa tinggal diam saja? Cucumu tidak boleh diganggu orang, aku akan membantumu!” Berkata demikian, Sie Liong lalu menarik tangan kakek itu untuk diajak berjalan cepat.

Kakek itu masih tetap ketakutan. Dia meragukan kemampuan pemuda bongkok ini yang mengajaknya untuk menentang tukang-tukang pukul yang ganas serta kejam itu. Akan tetapi, mengingat akan ancaman bahaya bagi cucunya, dia pun berlari-lari dan menjadi petunjuk jalan menuju ke rumahnya.

Di sepanjang jalan, banyak penduduk dusun yang hanya berani menjenguk dari pintu dan jendela. Mereka itu memandang dengan muka ketakutan dan gelisah sekali.

“Awas, Lo Kwan, cucumu...!”
“Mereka ke sana...”
“Hati-hatilah, Lo Kwan, kepala dusun mengincar cucumu...!”

Dari sikap mereka, Sie Liong maklum bahwa semua penduduk berpihak kepada kakek yang she Kwan ini. Akan tetapi mereka itu semua ketakutan dan tidak berani berbicara terang-terangan, bahkan agaknya tidak berani keluar dari rumah masing-masing melihat ada tiga orang tukang pukul kepala dusun menuju ke rumah kakek Kwan!

Akhirnya mereka pun tiba di depan rumah kakek itu. Kakek Kwan Sun cepat mendekati rumahnya dan pada saat itu pula terdengar jerit tangis cucunya. Seorang di antara tiga tukang pukul itu, yang berhidung besar, menyeret gadis itu keluar dari rumah sambil memegangi pergelangan tangan kirinya. Sedangkan dua orang lagi mengobrak-abrik isi rumah.

Pada saat gadis berusia tujuh belas tahun yang manis itu, walau pun pakaiannya amat sederhana, melihat kakeknya, ia berteriak sambil menangis.....

“Kong-kong, tolonglah aku...!”

Gadis itu meronta-ronta, akan tetapi hanya rasa nyeri pada pergelangan tangan saja yang dia dapatkan karena pegangan si hidung besar itu sungguh erat sekali.

Melihat cucunya meronta dan menangis tanpa daya, kakek Kwan Sun lupa akan rasa takutnya. Dia tidak marah melihat barang-barang dalam rumahnya yang tidak berharga itu dirusak, akan tetapi melihat cucunya yang tersayang itu ditangkap, dia marah sekali.

“Lepaskan cucuku! Ia tidak berdosa! Mau apa engkau menangkap cucuku? Hayo cepat lepaskan Siu Si...!” teriaknya sambil lari mendekati si hidung besar dan berusaha untuk membebaskan cucunya.

Akan tetapi, kaki yang panjang dan besar itu lantas menendang sehingga tubuh Kwan Sun terlempar dan terguling-guling. Si hidung besar tertawa.

“Ha-ha-ha, apakah kau bosan hidup? Gadis ini kujadikan sandera, dan jika engkau ingin melihat dia bebas, bayarlah hutangmu pada majikan kami!”

Dia kemudian memberi isyarat kepada dua orang kawannya yang sudah merasa puas menghancurkan pintu dan jendela rumah kecil itu. Dia lalu menyeret tubuh Kwan Siu Si yang meronta-ronta dan terus menangis melihat kakeknya ditendang roboh.

“Kawan, perlahan dulu!”

Tiba-tiba saja Sie Liong sudah menghadang di depan si hidung besar. Sikapnya tenang, akan tetapi matanya mencorong.

Melihat ada orang berani menghadangnya, si hidung besar memandang heran penuh perhatian karena dia tidak mengenal orang yang punggungnya bongkok ini.

“Siapa engkau dan mau apa kau menghadangku?” bentaknya marah.
“Sobat, urusan hutang pihutang uang tidak ada sangkut-pautnya dengan nona ini. Maka, kuharap engkau suka membebaskannya,” kata Sie Liong dengan sikap masih tenang.

Marahlah si hidung besar. “Setan! Engkau tidak kenal siapa aku?” Dia menunjuk ke arah hidungnya yang besar. “Apa kau ingin mampus? Kalau aku tidak mau membebaskan gadis ini, engkau mau apa?!”

Sie Liong mengerutkan alisnya.

“Sungguh engkau telah menyeleweng dari kebenaran. Oleh karena itu, kalau tidak kau bebaskan, terpaksa aku akan memaksamu membebaskannya.”
“Hah?!” Si hidung besar membelalakkan matanya yang besar dan hidungnya yang lebih besar lagi itu bergerak-gerak seperti hidung monyet mencium sesuatu yang aneh.
“Kau... kau... setan bongkok ini sungguh lancang mulut!” Dia menoleh kepada dua orang kawannya dan membentak. “Hajar mampus setan bongkok ini!”

Kedua orang temannya itu adalah orang yang pekerjaannya memang tukang memukul dan menyiksa orang. Tidak ada lagi kesenangan yang lebih mengasyikkan bagi mereka melebihi menghajar orang lain. Hal ini mendatangkan perasaan bangga karena mereka dapat memperlihatkan bahwa mereka lebih kuat, lebih pandai dan lebih berkuasa dari pada yang mereka pukuli, juga mendatangkan perasaan nikmat dalam hati mereka yang kejam.

Selain itu, mendatangkan uang pula karena memang pekerjaan mereka sebagai tukang pukul dari kepala dusun Tiong-cin yang amat diandalkan oleh si kepala dusun. Apa lagi harus menghajar seorang pemuda bongkok! Pekerjaan kecil yang teramat mudah, pikir mereka.

Dengan lagak bagaikan jagoan-jagoan sejati, dua orang yang sombong itu menghampiri Sie Liong sambil menyeringai. Apa lagi pemuda bongkok itu tidak bersenjata, juga tidak menunjukkan sikap sebagai seorang ahli berkelahi, melainkan hanya seorang pemuda bongkok sederhana saja.

“Sekali pukul bongkokmu itu akan pindah ke depan!” salah seorang di antara mereka mengejek.
“Tidak, biar kupukul sekali lagi, agar bongkoknya berubah menjadi dua, seperti seekor unta dari Mongol!” Orang ke dua memperoloknya.

Namun Sie Liong diam saja, bahkan sikapnya seperti mengacuhkan mereka. Memang dia tahu bahwa dua orang itu hanyalah gentong-gentong kosong yang nyaring bunyinya namun tidak ada isinya.

Dua orang itu agaknya hendak bersaing dan berlomba siapa yang akan terlebih dahulu merobohkan Sie Liong, maka mereka pun menerjang dengan cepat dari kanan kiri, yang seorang menghantam ke arah kepala Sie Liong, orang ke dua menonjok ke arah dada pemuda bongkok itu.

Sie Liong melihat datangnya dua pukulan itu yang bagi dia tentu saja teramat lambat datangnya. Dia seolah tidak melihat atau tidak mampu menghindar, akan tetapi begitu dua orang itu dekat dan pukulan mereka sudah hampir menyentuh sasaran, tiba-tiba dia mengembangkan kedua lengannya dan... dua orang itu terlempar ke kanan kiri sampai beberapa meter jauhnya, lalu terbanting ke atas tanah sampai berdebuk suaranya dan debu mengebul ketika pantat mereka terbanting keras ke atas tanah.

Dua orang itu meringis dan tangan mereka mengelus pantat yang amat nyeri itu, akan tetapi perasaan malu dan marah membuat mereka segera melupakan rasa nyeri itu. Mereka sudah meloncat bangun dan kini dengan gemas mereka sudah mencabut golok dari pinggang masing-masing. Sinar golok yang berkilauan membuat Kwan Sun dan cucunya, Kwan Siu Si, memandang dengan mata terbelalak penuh kengerian.

“Tuan-tuan... jangan membunuh orang...!” kata Kwan Sun, ngeri membayangkan betapa pemuda bongkok yang menolongnya itu akan menjadi korban golok para tukang pukul itu. “Orang muda, pergilah, larilah...!”

Akan tetapi, tentu saja dua orang tukang pukul yang sudah marah sekali itu tidak ingin mempedulikannya.

Sie Liong menoleh kepada Kwan Sun, lalu berkata, “Lopek, jangan khawatir. Mereka ini adalah orang-orang jahat yang mengandalkan kekerasan untuk menindas orang, karena itu mereka patut dihajar...”

Baru saja Sie Liong bicara demikian, dua orang sudah menyerang dengan golok mereka dari kanan kiri, mempergunakan kesempatan selagi pemuda bongkok itu menoleh dan bicara kepada Kwan Sun!

Kwan Sun dan cucunya memejamkan kedua mata saking ngerinya. Mereka tidak tahan melihat betapa tubuh pemuda bongkok itu segera akan menjadi korban bacokan dan roboh mandi darah.

Akan tetapi, dengan tenang saja Sie Liong menggeser kakinya dan dua bacokan golok itu luput! Dan sebelum dua orang penyerangnya sempat menarik kembali golok mereka, kembali Sie Liong mengembangkan ke dua lengannya.

“Plak! Plakkk!”

Kini dua tubuh itu terlempar lagi seperti tadi, akan tetapi lebih keras sehingga mereka terpental dan terbanting keras.

“Ngek! Ngek!”

Mereka kini tidak malu-malu lagi mengaduh-aduh sambil menggunakan kedua tangan menekan-nekan pantat mereka yang seperti remuk rasanya. Mereka mencoba untuk bangkit duduk akan tetapi terguling lagi dan golok mereka entah lenyap ke mana.

Kini si hidung besar terbelalak. Agaknya baru dia tahu bahwa pemuda bongkok itu lihai! Dia lalu menggunakan kelicikannya. Tangan kiri memegang pergelangan tangan Kwan Siu Si, dan tangan kanan mencabut golok lalu ditempelkan kepada leher gadis itu!

“Setan bongkok, mundur kau! Kalau tidak, akan kubunuh gadis ini!” bentaknya.

Sie Liong menggelengkan kepalanya dan melangkah maju menghampiri. “Tidak, engkau tidak akan membunuh gadis itu!” katanya.

Tiba-tiba tangannya bergerak ke depan dan biar pun jaraknya dengan orang itu masih ada dua meter, namun sambaran angin pukulannya mengenai pundak kanan si hidung besar. Tanpa dapat dihindarkan lagi, si hidung besar melepaskan goloknya karena tiba-tiba merasa lengannya tergetar dan kehilangan tenaga.

Dia terbelalak dan mukanya berubah pucat, akan tetapi pada saat itu, Sie Liong sudah melangkah ke depannya. Dia masih mencoba untuk menggerakkan tangan kanannya, menyambut Sie Liong dengan pukulan. Akan tetapi, Sie Liong menangkap pergelangan tangannya dan mencengkeram.

“Aduh... aduhhh... aughhhhh!”

Si hidung besar menjerit-jerit seperti babi disembelih dan otomatis pegangannya pada pergelangan tangan Siu Si terlepas. Demikian nyeri rasa lengannya yang dicengkeram pemuda bongkok itu. Di lain saat, Sie Liong sudah mendorongnya sehingga tubuhnya terlempar jauh ke belakang, terbanting keras dan tidak dapat bergerak lagi karena dia sudah roboh pingsan!

Melihat ini, dua orang temannya cepat menghampirinya, lalu menggotongnya dan tanpa menoleh lagi, mereka berdua lalu lari lintang pukang menggotong si hidung besar yang pingsan.

Melihat kejadian ini, Kwan Sun dan cucunya cepat menjatuhkan diri di depan kaki Sie Liong.

“Taihiap... mata kami buta, harap maafkan...” kata Kwan Sun. “Kami tidak tahu bahwa taihiap memiliki kepandaian tinggi dan sudah menyelamatkan kami, akan tetapi... harap taihiap cepat pergi dari sini... kepala dusun Bouw tentu akan datang bersama banyak anggota gerombolannya...”

Sie Liong tersenyum dan merasa suka kepada kakek itu. Biar pun dirinya sendiri dan cucunya sedang terancam, kakek itu masih sempat mengkhawatirkan dirinya dan tadi pun menganjurkan agar dia melarikan diri supaya tidak sampai celaka di tangan orang-orang jahat itu.

“Bangkitlah, lopek,” katanya sambil menyentuh pundak itu dan menarik orang tua itu bangun. “Engkau juga, nona. Sekarang, harap kalian kumpulkan penduduk dusun ke sini, terutama kaum prianya dan yang masih muda-muda, aku ingin bicara dengan mereka. Cepat lopek, sebelum kepala dusun yang jahat itu muncul!”

Tidak sukar pekerjaan ini sebab tadi pun, pada saat pemuda bongkok itu menghajar tiga orang tukang pukul yang amat mereka takuti, hampir seluruh penduduk mengintai dan melihatnya. Mereka hampir tidak percaya bahwa ada seorang pemuda, bongkok pula, mampu mengalahkan mereka bertiga. Maka, tanpa perlu diperintah lagi, mereka sudah mengabarkan kepada orang-orang lain dan kini banyak orang berdatangan ke rumah kakek Kwan Sun.

Maka, ketika kakek itu minta kepada para penduduk agar datang ke situ karena pemuda bongkok itu hendak berbicara dengan mereka, sebentar saja tempat itu sudah penuh dengan para penghuni dusun, terutama para prianya yang masih muda. Bahkan yang tua-tua pun tak mau ketinggalan. Melihat mereka, diam-diam Sie Liong merasa terharu. Inilah teman-teman dan para sahabat mendiang orang tuanya!

“Saudara-saudara,” katanya dengan suara lantang, “kalian mempunyai seorang kepala dusun yang jahat dan yang mempunyai kaki tangan penjahat, mengapa diam saja dan tidak melawan?”

Semua orang saling pandang dan wajah mereka membayangkan ketakutan.

“Mana kami berani?” akhirnya seorang laki-laki muda menjawab.
“Andai kata Sie Kauwsu masih hidup, apakah mungkin ada kepala dusun yang jahat seperti itu di dusun ini?” tanya pula Sie Liong, sekali ini ditujukan kepada mereka yang tua-tua karena tentu saja yang masih muda tidak mengenal Sie Kauwsu.

Mendengar ini, beberapa orang tua segera menjawab. “Tidak mungkin! Dusun ini aman ketika Sie Kauwsu masih hidup!”

“Nah, ketahuilah paman sekalian. Aku bernama Sie Liong dan aku adalah putera Sie Kauwsu! Aku akan mewakili mendiang ayahku untuk menghajar kepala dusun itu, dan kuharap kalian semua mendukung dan membantuku!”
“Kami... kami tidak berani...” beberapa orang berseru. “Kepala dusun Bouw mempunyai banyak tukang pukul yang lihai.”
“Hemm, kalian lihat saja. Mereka itu hanya pandai menggertak, akan tetapi sama sekali tidak lihai. Apa lagi jumlah kalian jauh lebih banyak. Kalian tidak perlu turun tangan, lihat saja aku akan menghajar mereka!” berkata Sie Liong tanpa nada sombong, melainkan nada penasaran. Mengapa begini banyak pria di dusun orang tuanya itu mandah saja kehidupan mereka ditindas oleh seorang kepala dusun yang jahat?

Meski pun pemuda ini sudah berjanji akan menghajar kepala dusun Bouw dan anak buahnya, tetap saja para penduduk dusun itu belum yakin benar. Memang pemuda ini tadi sudah mengalahkan tiga orang tukang pukul lurah Bouw, akan tetapi mampukah pemuda yang bongkok itu mengatasi Bouw-chungcu dengan para jagoannya yang cukup banyak dan kejam? Maka, mereka tidak berani menyanggupi untuk membantu pemuda bongkok itu dan hanya berdiri bergerombol agak jauh.

“Yang kumaksudkan bukanlah agar kalian membantuku menghajar mereka, melainkan mendukung dan selanjutnya bersikap berani dan bersatu menghadapi kekejaman yang menindas kalian. Juga kalau pembesar tinggi datang, kalian harus berani melaporkan kejahatan para pejabat di sini.”

Orang-orang itu mengangguk dan merasa lega bahwa pemuda itu tidak minta mereka untuk membantu dengan perkelahian. Dengan demikian, andai kata pemuda itu gagal dan kalah, mereka tidak akan dipersalahkan oleh Bouw-chungcu.

Tidak lama kemudian, terdengar suara banyak orang. Para penduduk dusun itu segera bersembunyi di balik rumah-rumah dan pohon-pohon, seperti kura-kura ketakutan dan menyembunyikan kepalanya di dalam rumahnya.

Nampak lurah Bouw yang bertubuh gendut pendek itu diiringkan oleh lima belas orang yang bersikap gagah dan kasar, di antaranya tiga orang yang tadi telah dihajar oleh Sie Liong. Lurah Bouw ini memperoleh kedudukannya sebagai lurah Tiong-cin dengan jalan menyogok pembesar tinggi yang berwenang menentukan siapa lurah di dusun itu, dan dengan jalan mengancam mereka yang tidak setuju dia diangkat menjadi lurah, dengan bantuan belasan orang tukang pukulnya.

Dia bukan orang berasal dari dusun Tiong-cin. Baru tiga tahun saja menjadi lurah di situ, dia telah menjadi kaya raya dan hidupnya bagai seorang raja kecil.

Ketika mendengar laporan tiga orang tukang pukulnya bahwa di dusunnya telah datang seorang pemuda bongkok yang berani menentang bahkan menghajar tiga orang tukang pukulnya, lurah Bouw menjadi marah bukan main. Dia sendiri adalah seorang ahli silat yang cukup pandai. Dia segera mengumpulkan pembantunya yang berjumlah lima belas orang, membawa senjata lengkap mencari pemuda bongkok itu.

Sie Liong menanti kedatangan mereka dengan sikap tenang saja, sebaliknya, melihat pemuda itu, tiga orang jagoan yang tadi menerima hajarannya segera menuding dan berseru, “Itulah si setan bongkok!”

Lurah Bouw mendongkol bukan main. Pemuda itu biasa saja, bahkan cacat, bongkok dan sama sekali tidak mengesankan sebagai seorang yang memiliki ilmu kepandaian. Akan tetapi, tiga orang tukang pukulnya yang ditugaskan menyandera Kwan Siu Si yang membuatnya tergila-gila dan mengilar, dapat digagalkan pemuda itu!

Maka begitu berhadapan dengan Sie Liong, lurah Bouw yang juga memegang sebatang golok seperti para anak buahnya, menudingkan goloknya ke arah muka Sie Liong dan membentak marah.

“Engkau ini orang bongkok dari mana, beraninya datang ke dusun kami dan membikin kacau?”

Sie Liong mengangkat muka dan memandang wajah lurah itu, sinar matanya yang mencorong mengejutkan hati lurah itu. Sie Liong pun tersenyum.

“Namaku Sie Liong dan aku adalah orang yang dilahirkan di dusun Tiong-cin ini. Aku datang untuk menengok kuburan ayah ibuku. Tidak tahunya kini dusun ini telah berada dalam cengkeraman seekor serigala yang kejam! Engkau telah mengerahkan penjahat-penjahat untuk menindas penduduk dusun. Engkau tidak pantas menjadi lurah, dan aku mewakili ayahku, Sie Kian untuk menghajar kalian dan membersihkan dusun kami ini dari serigala-serigala berwajah manusia yang berkeliaran di sini!”

Wajah lurah Bouw menjadi merah padam saking marahnya. Memang dia bukan orang berasal dari dusun ini, akan tetapi dia telah berhasil menjadi lurah dan hidup makmur di situ.

“Jahanam keparat, setan bongkok yang sombong!” Dan dia menoleh kepada para anak buahnya. “Pukul dia sampai mati!”

Lima belas orang itu memang sudah siap dengan senjata di tangan. Begitu mendengar komando ini, mereka serentak maju mengepung dan mengeroyok Sie Liong! Belasan senjata tajam berupa golok, pedang dan tombak, datang bagaikan hujan ke arah tubuh Sie Liong.

Orang-orang dusun yang mengintai dan menonton, menjadi pucat dan mereka merasa ngeri. Bahkan ada yang diam-diam sudah meninggalkan tempat itu dan bersembunyi di rumah sendiri saking takut terlibat.

Akan tetapi, Sie Liong yang kini telah menjadi seorang pendekar sakti, tidak menjadi gugup menghadapi hujan senjata tajam itu. Tubuhnya membuat gerakan memutar dan kedua tangannya dikibaskan ke kanan kiri dan depan belakang. Akibatnya, beberapa batang senjata tajam terlempar karena pemegangnya merasa betapa ada tenaga yang dahsyat menyambar tangan mereka dan serta merta membuat lengan mereka menjadi seperti lumpuh!

Akan tetapi mereka mengandalkan pengeroyokan banyak orang, maka yang lain masih terus menyerang. Sementara itu, yang senjatanya terlepas, cepat memungut kembali senjata mereka dan menyerang semakin ganas.

Kini, melihat betapa dalam segebrakan saja beberapa orang anak buahnya melepaskan senjata, lurah Bouw sendiri menjadi sangat penasaran. Sambil mengeluarkan bentakan nyaring, dia pun maju menyerang dengan mengangkat goloknya tinggi-tinggi, kemudian melakukan bacokan yang amat cepat dan kuat.

Hanya dengan miringkan tubuh, Sie Liong membuat bacokan itu luput dan lewat di dekat pundaknya. Sebelum kepala dusun itu sempat merobah posisinya, tiba-tiba saja dia merasa tengkuknya diraba dan tubuhnya menjadi kaku!

Di lain saat, Sie Liong sudah mengangkat tubuh lurah ini dan mempergunakan sebagai perisai atau sebagai senjata yang diputar-putar di atas kepalanya! Melihat ini, tentu saja para tukang pukul menjadi terkejut bukan main dan mereka menahan senjata mereka!
Sie Liong terus maju dan kedua kakinya secara bergantian menendangi mereka dan beberapa orang pengeroyok kena ditendang sampai terlempar jauh dan terbanting jatuh dengan kerasnya ke atas tanah! Sebelum mereka dapat bangkit, tiba-tiba saja datang banyak orang yang memukuli mereka yang terbanting jatuh itu! Mereka yang memukuli ini adalah orang-orang dusun!

Kiranya ketika para penghuni dusun melihat betapa pemuda bongkok itu benar-benar dapat mengatasi lurah Bouw dan para anak buahnya, mereka menjadi bersemangat. Pada waktu melihat beberapa orang tukang pukul yang mereka benci itu terlempar, mereka lalu mengeroyok dan memukulinya dengan tangan mereka!

Tentu saja tukang-tukang pukul yang sudah kehilangan senjata dan masih pening akibat terbanting keras, kini hanya mampu berkaok-kaok ketika dikeroyok serta dipukuli oleh para penduduk dusun! Makin keras dia memaki dan mengancam, semakin keras pula orang-orang itu memukulinya sehingga mukanya menjadi bengkak-bengkak dan tubuh mereka pun babak bundas, pakaian mereka robek-robek!

Sie Liong tersenyum gembira melihat ulah para penduduk dusun itu. Dia telah berhasil membangkitkan semangat para penduduk dusun itu setelah semangat mereka lenyap selama bertahun-tahun di bawah penindasan kepala dusun yang jahat itu. Maka dia pun segera melempar tubuh kepala dusun Bouw yang langsung jatuh berdebuk, kemudian terguling-guling.

Kepala dusun itu hanya dapat mengeluh karena kepalanya sudah pening sekali ketika tubuhnya diputar-putar, kini terbanting keras pula setelah totokan pada tengkuknya dibebaskan pemuda bongkok yang lihai itu. Dan dia pun terkejut ketika kini orang-orang dusun mengejarnya dan memukulinya.

“Hei...! Keparat... ini aku, lurahmu...!” teriaknya.

Akan tetapi teriakannya hanya disambut dengan pukulan-pukulan para penduduk yang sudah melihat kesempatan untuk membalas dendam bertahun-tahun itu. Lucunya, kini banyak pula wanita dusun yang keluar dari rumah dan mereka pun ikut pula memukuli kepala dusun dan anak buahnya dengan gagang-gagang sapu!

Sie Liong mengamuk, dan dalam waktu singkat saja, seluruh tukang pukul yang lima belas orang banyaknya sudah dia robohkan dan kini mereka semua, juga kepala dusun Bouw, berteriak-teriak dan mengaduh-aduh tanpa mampu melawan ketika orang-orang dusun, tua muda, laki perempuan, mengeroyok mereka dan memukuli mereka sampai seluruh muka mereka bengkak-bengkak!

Sampai beberapa lamanya Sie Liong membiarkan orang-orang dusun itu melampiaskan kemarahan dan sakit hati mereka, akan tetapi dia menjaga supaya mereka tidak sampai melakukan pembunuhan. Akhirnya, khawatir kalau-kalau kepala dusun Bouw dan anak buahnya akan mati konyol dia lalu berseru dengan suara nyaring.

“Cukup, saudara-saudara, cukup dan jangan memukul lagi!”

Teriakan yang nyaring ini ditaati seketika oleh para penghuni dusun yang kini penuh semangat itu. Dipimpin oleh seorang kakek yang bersemangat, mereka pun berseru, “Hidup putera mendiang Sie Kauwsu...!”

Sie Liong mengangkat kedua tangan ke atas memberi isyarat agar mereka tenang, lalu dia memeriksa keadaan enam belas orang musuh itu. Keadaan mereka sungguh amat menyedihkan, keadaannya lebih dari setengah mati.

Muka mereka bengkak-bengkak dan bonyok-bonyok, bahkan kepala dusun Bouw tidak mempunyai hidung lagi. Bukit hidungnya penyok dan hancur, ada yang matanya pecah, patah tulang dan sebagainya.

Akan tetapi Sie Liong merasa bersyukur bahwa tidak ada di antara enam belas orang itu yang tewas. Dia lalu menghampiri lurah Bouw dan mengguncang pundaknya. Lurah itu mengeluh dan merintih, berusaha keras untuk membuka kedua matanya yang bengkak-bengkak, memandang kepada Sie Liong.

“Orang she Bouw, bagaimana sekarang? Apakah engkau masih merasa penasaran dan hendak mempergunakan kekuasaanmu untuk menindas rakyat dusun Tiong-cin?”

Lurah Bouw sudah ketakutan setengah mati. Ketika tadi dipukuli oleh rakyat, dia yang tadinya memaki-maki dan mengancam, mulai menangis dan minta-minta ampun.

“Ampun... ampunkan saya... saya tidak berani lagi... saya berjanji akan menjadi lurah yang baik...”

Akan tetapi mendengar ucapannya itu, semua penduduk dusun menolak keras. “Tidak! Kami tidak mau dia menjadi lurah kami!”

Sie Liong tersenyum dan berkata kepada orang she Bouw itu. “Nah, engkau sudah mendengar sendiri. Kalau tidak ada aku di sini, engkau tentu telah mereka pukuli terus sampai mati. Orang she Bouw, sekarang lebih baik kalau engkau dan anak buahmu itu pergi dari dusun ini secepatnya. Kami penduduk Tiong-cin tidak membutuhkan engkau dan orang-orangmu, kami dapat mengatur diri kami sendiri. Aku akan melapor kepada pembesar atasanmu bahwa engkau tidak disuka rakyat dan bahwa engkau telah pergi, dan kami akan mencari pengganti seorang kepala dusun. Nah, sekarang cepat engkau pergilah dan bawalah keluargamu, juga hartamu. Akan tetapi, gudang gandum dan padi harus kau tinggalkan, karena itu milik rakyat yang kau peras!”

Semua penghuni dusun bersorak gegap gempita menyambut ucapan Sie Liong karena mereka semua merasa setuju sekali. Menghadapi semangat rakyat yang berkobar itu, Bouw Kun Hok, yaitu kepala dusun yang jahat itu, menjadi ngeri. Dengan susah payah dia bersama anak buahnya, lalu kembali ke rumahnya dan mengumpulkan keluarga mereka, membawa harta mereka dan pada hari itu juga mereka pergi meninggalkan dusun Tiong-cin, diantar sorak-sorak para penduduk yang merasa lega sekali.

Setelah enam belas orang itu bersama keluarga mereka pergi, dengan dipimpin seorang kakek, yaitu kakek Kwan Sun sendiri, para penghuni dusun menjatuhkan diri berlutut di depan Sie Liong. Sekarang mereka semua keluar, termasuk kanak-kanak dan wanita sehingga ratusan orang berlutut di depan Sie Liong.

“Sie-taihiap,” kata Kwan Sun dengan suara nyaring, “kami seluruh penghuni dusun Tiong-cin menghaturkan terima kasih kepada taihiap yang sudah membebaskan kami dari tekanan lurah Bouw. Sekarang kami mohon supaya taihiap suka menjadi kepala dusun kami.”
“Hidup Sie-taihiap...!”
“Kami setuju!”
“Akur! Sie-taihiap menjadi lurah kami!”

Melihat mereka itu berteriak-teriak, Sie Liong mengangkat kedua tangan ke atas dan hatinya terharu sekali. Selama ini, orang-orang hanya memandang kepadanya dengan ejekan, dengan olok-olok, ada pula yang dengan pandang mata kasihan.

Dia seorang bongkok yang dipandang rendah, membuat dia merasa rendah diri. Akan tetapi sekarang, di dusun orang tuanya, di tempat kelahirannya, dia seperti dipuja-puja!

“Terima kasih atas kepercayaan cu-wi (anda sekalian)! Akan tetapi, aku masih memiliki tugas yang sangat penting dan tidak mungkin tinggal selamanya di sini. Karena itu, aku tidak dapat pula menjadi seorang lurah, apa lagi mengingat bahwa aku tidak mempunyai pengalaman dan tidak berpengetahuan bagaimana memimpin rakyat dusun. Sebaiknya kalau sekarang cu-wi memilih sendiri seorang di antara cu-wi yang benar-benar dapat dipercaya, kemudian mengangkatnya menjadi lurah baru.”

Kembali terjadi kegaduhan ketika mereka mengajukan nama-nama calon, akan tetapi ternyata sebagian besar suara mereka memilih kakek Kwan Sun. Melihat ini, Sie Liong juga menyatakan persetujuannya.

“Kalian telah memilih dengan tepat. Kwan Lopek memang sangat tepat untuk menjadi lurah kalian yang baru. Kuharap Kwan Lopek dapat menerimanya dan suka memimpin saudara-saudara ini!”

Kwan Sun bangkit dan mukanya agak merah karena merasa malu bahwa dia, seorang petani biasa, kini diangkat menjadi lurah. “Sie-taihiap, bukan saya menolak, akan tetapi bagaimana mungkin saya bisa menjadi lurah tanpa pengangkatan para pembesar yang berwajib di kota besar Wen-su?”

Semua orang menjadi bengong dan bingung karena apa yang diucapkan oleh kakek itu memang benar. Sie Liong mengangguk-angguk, karena dia pun baru tahu akan hal itu sekarang.

“Harap lopek jangan khawatir. Aku sendiri yang akan pergi ke kota Wen-su dan akan kutemui pejabat yang berwenang untuk itu. Akan kuceritakan pula tentang keadaan di Tiong-cin ini, juga tentang kejahatan lurah Bouw dan tentang keputusan para penduduk mengangkat lopek sebagai lurah!”

Semua orang bersorak gembira karena mereka semua yakin bahwa kalau Pendekar Bongkok yang muda itu turun tangan, pasti akan beres, seperti yang telah dibuktikan ketika dia menumpas lurah Bouw dan anak-anak buahnya.

“Akan tetapi, taihiap. Bagaimana kalau orang she Bouw itu tidak mau menerima dan setelah taihiap pergi dari sini, dia akan datang bersama gerombolannya dan membalas dendam?” tanya seorang penduduk muda.

Kembali semua orang bengong dan wajah mereka berubah ketakutan. Membayangkan balas dendam dari lurah Bouw dan gerombolannya, selagi Pendekar Bongkok, demikian mereka menjuluki Sie Liong, tidak berada lagi di dusun itu, langsung membuat mereka mengeluarkan keringat dingin.

“Janganlah kalian takut! Kalau kalian sudah bersatu padu seperti tadi, lurah Bouw dan gerombolannya tidak akan mampu berbuat sesuatu! Kulihat tadi di antara cu-wi banyak pula yang kuat dan memiliki gerakan silat. Bukankah mendiang ayahku dahulu adalah guru silat di sini dan disebut Sie Kauwsu? Siapa di antara cu-wi yang pernah berguru kepada ayahku?”

Ternyata ada tujuh orang yang pernah menjadi murid Sie Kauwsu. Mereka sudah lama tak pernah berlatih, akan tetapi pada saat Sie Liong menyuruh mereka memperlihatkan gerakan silat, ternyata mereka cukup mahir.

“Aku akan melatih tujuh orang saudara ini dengan beberapa jurus silat pilihan, kemudian mereka akan melatih para muda di sini. Jumlah kalian ada ratusan orang, kalau bersatu padu, tentu tidak ada gerombolan penjahat yang berani main-main.”

Semua orang setuju dan kakek Kwan Sun dipilih menjadi lurah yang baru, menempati bekas rumah lurah Bouw yang besar! Dan Sie Liong menjadi tamunya yang dihormati. Akan tetapi sebelum dia pergi ke rumah baru dari lurah Kwan, terlebih dahulu dia minta penjelasan dari Kwan Sun tentang orang tuanya.

“Seperti lopek mengetahui, saya datang untuk berkunjung ke makam ayah ibu saya di sini. Sekarang lebih dulu saya ingin pergi berkunjung ke makam itu. Di manakah makam mereka, lopek?”
“Ahh, mari kuantar sendiri, taihiap. Makam itu berada di pinggir dusun sebelah timur, tempat pemakaman penduduk kita.” Lurah baru itu lalu mengantar Sie Liong menuju ke tanah kuburan yang sunyi itu.

Tak lama kemudian, Sie Liong sudah berlutut di depan tiga buah makam yang berjejer. Makam yang sederhana sekali, dan tidak terawat. Hal ini menunjukkan bahwa ayah dan ibunya tidak mempunyai sanak keluarga lagi di dusun itu. Setelah memberi hormat, dia pun membersihkan rumput-rumput liar di makam itu, dibantu oleh lurah Kwan.

“Ini makam Sie Kauwsu dan ini makam isterinya. Aku sendiri turut mengubur jenazah mereka, dan yang ini makam Kim Cu An, muridnya yang menjadi calon mantunya.”

Sie Liong terkejut dan heran. “Apakah suheng Kim Cu An ini pun tewas karena penyakit menular yang ganas itu, lopek?”

Kini lurah Kwan itu yang memandangnya dengan mata terbelalak. “Penyakit menular? Apa maksudmu, taihiap?”

“Bukankah... bukankah ayah ibu tewas karena penyakit menular?”
“Ahh, dari mana taihiap mendengar berita itu? Sama sekali tidak begitu! Di sini memang pernah berjangkit penyakit menular, akan tetapi tidak berapa hebat dan yang jelas, ayah ibumu tidak tewas oleh penyakit menular, juga Kim Cu An ini tidak pula!”

Sie Liong terkejut bukan main, akan tetapi dia mampu menekan perasaannya sehingga tidak nampak di wajahnya. Dia mempersilakan kakek itu duduk di atas rumput, di depan makam ayah ibunya dan suheng-nya, lalu dengan lembut dia berkata, “Kwan Lopek, sekarang aku minta tolong kepadamu. Ceritakanlah dengan jelas apa yang telah terjadi pada ayah ibuku, dan bagaimana mereka itu tewas.”

Kwan Sun mengangguk-angguk. “Mendiang ayahmu terkenal sebagai Sie Kauwsu, guru silat di dusun ini yang gagah perkasa dan kami semua menghormatinya. Dia memiliki dua orang anak, yang pertama seorang gadis bernama Sie Lan Hong, ketika itu berusia lima belas tahun, dan anak ke dua adalah seorang anak laki-laki yang baru kurang lebih setahun usianya, bernama Sie Liong.”

“Akulah anak itu, lopek.”

Kakek itu mengangguk. “Ya, kami sudah menduganya, taihiap, walau pun tadinya kami ragu-ragu...” Dia memandang ke arah punggung Sie Liong. “Mendiang ayahmu memiliki beberapa orang murid, dan yang menjadi murid utamanya adalah mendiang Kim Cu An yang pada saat itu berusia kurang lebih dua puluh tahun dan sudah ditunangkan dengan puterinya yaitu Sie Lan Hong. Pada satu hari, pagi-pagi sekali, kami sedusun dikejutkan oleh keadaan di rumah orang tuamu. Sungguh mengerikan dan menyedihkan sekali...” Kakek itu berhenti bercerita dan termenung.

“Kemudian bagaimana, lopek? Apa yang telah terjadi di rumah orang tuaku?” Sie Liong mendesak karena dia sudah tidak sabar lagi dan ingin mendengar apa yang sebenarnya terjadi pada ayah ibunya.

Kwan Sun menghela napas panjang. “Akulah seorang di antara para tetangga yang pertama kali menyaksikan keadaan itu. Kami mendapatkan ayahmu dan ibumu, juga Kim Cu An, dalam keadaan tewas terbunuh! Bukan hanya mereka bertiga, juga kami mendapatkan bahwa semua binatang peliharaan orang tuamu, anjing, kucing, ayam dan kuda, juga mati terbunuh.”

“Ahhh! Apa yang telah terjadi dengan mereka, lopek? Siapa pembunuh mereka?”

Kakek itu menggeleng kepalanya. “Kami tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka dan siapa pembunuh mereka. Tidak ada tanda-tanda sama sekali! Enci-mu, Sie Lan Hong dan engkau sendiri, tidak berada di sana, taihiap. Kami tidak tahu pula apa yang terjadi dengan taihiap dan enci taihiap itu. Barang-barang dalam rumah Sie Kauwsu tidak dicuri orang yang menjadi pembunuh itu. Akan tetapi barang-barang itu, rumah itu, telah lama dirampas oleh lurah Bouw.”

Sie Liong mengepal tinjunya. “Jangan-jangan lurah Bouw yang melakukan itu!”

Kakek Kwan menggeleng kepala. “Saya kira bukan, taihiap. Walau pun dia amat jahat, akan tetapi saya yakin dia tidak akan mampu mengalahkan ayahmu yang gagah. Saya kira, yang mengetahui siapa pembunuhnya hanyalah taihiap sendiri. Akan tetapi ketika itu taihiap baru berusia setahun, akan tetapi enci-mu, Sie Lan Hong...”

“Lopek,” Sie Liong memotong, “apakah di antara para penduduk dusun ini tidak ada yang kebetulan melihat orang asing malam itu di dusun ini, lopek?”

Kakek itu menggeleng kepala lagi.

“Tidak ada. Kalau ada, tentu dia sudah bercerita kepada kami. Kami semua mencinta Sie Kauwsu dan kami semua merasa bersedih dan kehilangan.”

Sie Liong mengerutkan alisnya, sejenak ia termenung. “Lopek, banyak terima kasih atas keteranganmu, dan aku tidak ingin lagi bicara tentang hal itu.” Setelah berkata demikian, pemuda ini bersila di depan makam dan memejamkan kedua matanya, bersemedhi. Kakek Kwan tidak lagi berani mengganggunya.

Terjadi perang di dalam pikiran Sie Liong. Mengapa enci-nya bercerita lain? Mengapa enci-nya seperti hendak menutupi kematian ayah ibunya, dan mengatakan bahwa ayah ibunya tewas karena penyakit menular? Benarkah enci-nya tidak tahu akan peristiwa itu? Ataukah enci-nya sengaja membohonginya? Tetapi, bagaimana mungkin enci-nya berbohong kepadanya?

Dia yakin benar betapa besar kasih sayang enci-nya kepadanya. Tadi dia tidak mau lagi membicarakan urusan itu dengan Kwan Sun, karena khawatir kalau-kalau orang-orang mencurigai enci-nya. Tetapi betapa pun juga, memang segalanya menunjukkan bahwa enci-nya tentu tahu akan peristiwa itu dan tahu pula siapa pembunuh ayah ibunya! Hanya enci-nya yang tahu, dan dia pasti akan mendengarnya dari enci-nya. Dia akan bertanya kepada Sie Lan Hong, enci-nya.

Setelah merasa cukup melakukan sembahyang di depan makam itu, Sie Liong lalu mengikuti Kwan Sun yang menjadi lurah baru untuk pulang ke rumah baru lurah itu. Dia harus tinggal beberapa hari lamanya di dusun itu untuk melatih beberapa jurus kepada bekas murid-murid ayahnya supaya para penduduk itu dapat menyusun kekuatan untuk menghadapi ancaman orang-orang jahat seperti lurah Bouw.

Dengan penuh semangat para penduduk dusun itu, terutama mereka yang dulu pernah belajar silat pada Sie Kauwsu, berlatih silat di bawah bimbingan Sie Liong selama satu minggu. Dan pada malam terakhir, Sie Liong duduk bersila di dalam kamarnya di rumah lurah Kwan sambil merenungkan nasibnya. Nasib yang lebih banyak pahitnya dari pada manisnya.

Sejak kecil dia telah menderita banyak sekali kekecewaan. Baru setelah dia menjadi murid orang-orang sakti dan berlatih ilmu di puncak bukit, hidupnya nampak indah dan berbahagia. Sekarang, begitu turun, dia mendengar berita kematian orang tuanya yang amat mengejutkan, yaitu bahwa ayah ibunya tewas karena dibunuh orang, sama sekali bukan karena penyakit.

Ayah ibunya dan seisi rumah dibunuh, kecuali enci-nya dan dia! Apa artinya ini semua dan mengapa enci-nya harus berbohong kepadanya? Dia harus mendengar penjelasan dari enci-nya.

Pada keesokan harinya ia berpamit meninggalkan dusun Tiong-cin, tempat kelahirannya itu. Lurah Kwan terkejut mendengar bahwa pendekar itu hendak pergi meninggalkan dusun mereka.

“Sie Taihiap, kenapa engkau tergesa-gesa hendak meninggalkan kami? Harap taihiap menanti selama beberapa hari karena kami semua bermaksud untuk menjamu taihiap yang sudah menyelamatkan semua saudara di dusun ini dari penindasan orang jahat. Selain itu, juga saya sendiri mempunyai urusan yang amat penting untuk diselesaikan dengan taihiap.”

Sie Liong tersenyum. Ia memang memiliki rasa persaudaraan yang dekat sekali dengan para penghuni dusun Tiong-cin, tempat kelahirannya. Apa bila para penduduk hendak menjamunya, sebagai semacam pesta perpisahan, tidak mungkin dia menolak. Dia tidak ingin mengecewakan hati mereka, dan pula, menunda beberapa hari pun apa salahnya? Biar pun hatinya ingin sekali segera mendengar dari enci-nya tentang kematian orang tuanya, namun dia tidak perlu tergesa-gesa.

“Baiklah, Kwan Lopek. Aku tidak berkeberatan untuk menunda dua hari lagi, akan tetapi jangan terlalu lama. Tentang urusanmu itu, apakah itu, lopek?”
“Sebelumnya maaf kalau pertanyaanku ini menyinggung karena terlalu pribadi. Akan tetapi bolehkah aku mengetahui apakah engkau sudah menikah atau bertunangan, Sie Taihiap?”

Sie Liong tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Kalau saja dia belum menerima penggemblengan ilmu-ilmu yang dalam, juga pengertian tentang kehidupan dari para gurunya, tentu pertanyaan itu akan menyinggung perasaannya. Dia seorang yang cacat, bagaimana berani memikirkan tentang perjodohan? Wanita mana yang mau didekati seorang laki-laki yang bongkok seperti dia? Yatim piatu, miskin, dan bongkok pula!

“Tidak, lopek. Aku masih hidup seorang diri.”

Tiba-tiba wajah kakek itu berseri gembira sehingga Sie Liong menjadi heran. Bahkan kini kakek itu tertawa.

“Ha-ha-ha, sungguh kebetulan sekali, taihiap. Kalau Tuhan menghendaki, dan kalau taihiap tidak merasa rendah, kami sekeluarga, bahkan seluruh penduduk dusun ini akan merasa berbahagia sekali kalau taihiap sudi menjadi jodoh cucuku Kwan Siu Si. Ia juga sudah yatim piatu dan ia seorang anak yang amat baik, taihiap.”

Wajah Sie Liong berubah merah. Siu Si? Hemm, gadis yang manis sekali itu! Memang dia sama sekali belum pernah berpikir mengenai jodoh. Akan tetapi kalau benar gadis yang manis itu mau dijodohkan dengan dia, sungguh hal itu merupakan suatu anugerah baginya. Gadis itu berwajah manis, bertubuh padat dan sehat, juga seorang gadis dari dusun tempat kelahirannya sendiri.

“Bagaimana, Sie Taihiap? Maafkan kami kalau usulku tadi menyinggung perasaanmu. Memang kami akui bahwa Siu Si seorang gadis dusun bodoh dan terlalu rendah apa bila dibandingkan dengan taihiap.”

“Ahh, jangan berkata demikian, lopek! Sama sekali aku tidak mempunyai pikiran seperti itu. Bahkan aku merasa berterima kasih sekali. Akan tetapi karena aku sudah tidak mempunyai ayah ibu, aku harus minta keputusan enci-ku dalam hal perjodohan. Maka, bersabarlah kalau aku belum dapat memberi jawaban dan keputusan sekarang. Aku akan menyampaikan kepada enci dan minta keputusan enci.”

“Tapi... tapi, engkau sendiri tidak berkeberatan, taihiap?”

Sie Liong menggelengkan kepala.

Lurah Kwan menjadi girang bukan main. “Terima kasih, taihiap! Aku akan memberi tahu kepada kawan-kawan agar secepatnya mempersiapkan jamuan karena engkau akan pulang ke rumah enci-mu!”

Pada keesokan harinya, perjamuan makan untuk menghormati Sie Liong dan untuk menghaturkan selamat jalan diadakan di rumah Lurah Kwan. Semua penghuni dusun itu hadir, dan Sie Liong duduk semeja dengan Lurah Kwan, dilayani oleh Siu Si sendiri.

Gadis ini nampak malu-malu, karena ia sudah diberi tahu oleh kakeknya tentang usaha kakeknya menjodohkannya dengan pendekar itu. Sie Liong melihat betapa gadis yang manis ini kelihatan canggung dan malu-malu, akan tetapi penglihatan Sie Liong yang tajam dapat menangkap bekas air mata dan mata yang agak kemerahan oleh tangis, dan bahwa sikap ramah serta senyum pada bibir yang mungil itu tidak wajar, seperti dipaksakan.

Lurah Kwan bangkit berdiri dan minta perhatian kepada semua orang, lalu dia membuat pengumuman bahwa dia telah menjodohkan Kwan Siu Si kepada pendekar Sie Liong! Tentu saja berita ini amat menggembirakan para penduduk dusun itu dan mereka lantas menyambutnya dengan sorakan dan tepuk tangan.

Lurah Kwan mengangkat kedua lengan ke atas dan mereka pun diam. Wajah mereka berseri-seri dan mereka mendengarkan penuh perhatian apa yang akan diucapkan oleh kepala dusun baru itu.

“Kemarin, perjodohan ini sudah kami bicarakan dengan Sie-taihiap, dan dia pun tidak berkeberatan. Akan tetapi jawaban dan keputusan darinya akan diberikan setelah dia menyampaikan hal itu kepada enci-nya yang kini tinggal di kota Sung-jan. Karena itu, dalam waktu dekat ini Sie-taihiap akan meninggalkan dusun kita dan pulang dahulu ke Sung-jan untuk minta persetujuan enci-nya.”

Kembali orang-orang bersorak dan bertepuk tangan. Akan tetapi Sie Liong melihat betapa Siu Si, gadis yang tadi melayani mereka, bahkan diajak makan bersama oleh kakeknya, diam-diam telah pergi meninggalkan meja dan keluar dari ruangan itu. Kwan Sun yang melihat hal itu hanya tertawa.

“Maafkan cucuku. Maklum, dia malu-malu,” katanya dan Sie Liong juga tidak berkata sesuatu.

Malam itu, di dalam kamarnya, Sie Liong agak gelisah. Malam terakhir dia di rumah keluarga Kwan yang menjadi lurah baru, karena besok pagi-pagi dia sudah akan pergi meninggalkan dusun itu. Akan tetapi bukan hal itu yang membuatnya tidak dapat tidur. Dia membayangkan keadaan sendiri, tentang ikatan jodoh itu. Bagaimana bila ternyata enci-nya menyetujui ikatan jodoh itu?

Kalau enci-nya tidak setuju, hal itu bukan yang digelisahkan. Kalau enci-nya tak setuju, tinggal menyampaikan saja kepada Lurah Kwan dan ikatan itu tidak jadi. Dia hanya suka saja kepada Siu Si yang manis, apa lagi gadis sedusun dengannya. Dia belum dapat merasakan, belum tahu dan belum mengerti apa itu yang dinamakan cinta antara pria dan wanita.

Akan tetapi, bagaimana kalau enci-nya setuju? Apakah dia harus menikah dengan Siu Si? Lalu apa jadinya dengan dia? Dia tidak mempunyai rumah tinggal, tidak mempunyai pekerjaan yang menghasilkan sesuatu. Tinggal di rumah Lurah Kwan? Sebagai laki-laki, tentu hal ini merendahkan harga dirinya. Ikut enci-nya? Ini pun tidak betul, mengingat akan sikap cihu-nya dan bahkan urusan kematian orang tuanya masih menjadi rahasia yang harus dia tanyakan kepada enci-nya.

Dan Bi Sian... Tiba-tiba Sie Liong tertegun dan termenung. Bi Sian!

Terbayanglah wajah anak perempuan yang manis, manja dan galak itu, dan jantungnya berdebar. Mengapa timbul parasaan yang amat aneh ketika dia teringat pada Bi Sian? Uhhh, anak itu tentu akan menggodanya setengah mati kalau mendengar bahwa dia hendak kawin!

Tiba-tiba saja timbul penyesalan di dalam hatinya. Mengapa dia tergesa-gesa menerima usul lurah Kwan? Sekarang dia telah melangkah maju, tidak mungkin mundur lagi tanpa menyakiti hati keluarga Kwan.

Mendadak Sie Liong bangkit duduk. Dia pun memejamkan mata sambil mengerahkan pendengarannya yang sudah sangat terlatih. Dia mendengar suara isak tangis tertahan!

Karena mengkhawatirkan terjadinya sesuatu yang tidak beres, apa lagi dia menduga bahwa tangis itu agaknya suara tangis Siu Si di dalam kamarnya, dengan hati-hati Sie Liong membuka jendela kamarnya dan sekali berkelebat dia sudah berada di luar kamarnya, kemudian meloncat naik ke atas genteng dan mengintai ke dalam kamar gadis yang dicalonkan menjadi isterinya itu.

Benar saja. Siu Si duduk di atas pembaringan sambil menangis lirih. Agaknya gadis itu menahan suara tangisnya agar tidak kedengaran orang lain. Seorang wanita setengah tua duduk di dekat gadis itu dan menghiburnya.

“Bibi Liu, kau tidak perlu membujuk dan menghiburku! Percuma kong-kong menyuruh engkau menemaniku dan membujukku. Kong-kong sudah tahu bahwa aku telah lama bersahabat akrab dengan Sui-koko, dan semua orang tahu, engkau juga tahu bahwa kami saling mencinta dan kami mengharapkan kelak menjadi suami isteri. Biar pun tidak secara resmi, bahkan kong-kong telah menyetujui jika Siu-koko kelak menjadi suamiku. Akan tetapi mengapa tiba-tiba saja kong-kong menjodohkan aku dengan... Si Bongkok itu?”

“Hushh, jangan berkata demikian, Siu Si. Sie Liong adalah seorang pendekar sakti yang budiman...”
“Aku tidak peduli! Biar dia sakti seperti dewa sekali pun, aku tidak sudi, aku tidak suka padanya. Siapa yang mau dikawinkan dengan seorang yang bongkok dan buruk?” Siu Si menangis lagi.
“Hushh, kau tidak boleh berkata demikian, Siu Si. Sie-taihiap memang bongkok, akan tetapi dia tidaklah buruk. Pula, dia telah menyelamatkan kita semua, terutama engkau! Kalau tidak ada dia, bukankah engkau telah menjadi tawanan Lurah Bouw?”
“Tapi dia menolongku dengan pamrih! Buktinya, setelah menolongku, kenapa dia tidak pergi saja dan bahkan ingin menjadi suamiku? Aku tidak sudi... tidak sudi menjadi isteri Si Bongkok! Aihh, aku mau minggat saja dengan Sui-koko...”
“Hushhh...!”

Wajah Sie Liong menjadi pucat, lalu merah kembali dan tanpa diketahui siapa pun, dia sudah melayang turun kembali ke dalam kamarnya. Hatinya seperti ditusuk rasanya.....
Dia menyelamatkan dusun kelahirannya, menolong penduduk dengan hati yang jujur, menghindarkan Siu Si dari bahaya dengan sesungguhnya tanpa pamrih. Akan tetapi kini dia dituduh yang bukan-bukan.
Dan gadis yang ditolongnya itu menyebutnya Si Bongkok dengan nada suara menghina dan penuh kebencian! Dan gadis yang amat membencinya itu akan menjadi isterinya? Tidak, tidak mungkin!
Dengan tubuh lemas dan jari-jari tangan agak gemetar Sie Liong lalu menulis sepucuk surat, pendek saja isinya.

Kwan Lopek,

Maafkan kepergianku tanpa pamit. Tentang perjodohanku itu, sebaiknya kita batalkan saja. Aku tidak mau terikat perjodohan dan aku bukanlah calon suami yang baik bagi cucumu.

Sie Liong.

Malam itu juga Sie Liong meninggalkan rumah Lurah Kwan, pergi meninggalkan dusun Tiong-cin lalu keluar menuju ke barat. Menjelang pagi, ketika matahari mulai nampak mengintai dari balik cakrawala di timur, dia sudah tiba di puncak sebuah bukit.

Dia duduk menghadap ke arah matahari yang baru tersembul, duduk sambil memeluk kedua lutut, tersenyum pahit dan kadang-kadang meraba punggungnya yang bongkok. Terngiang suara Siu Si di antara isaknya. “Siapa mau dikawinkan dengan seorang yang bongkok dan buruk? Aku tidak sudi menjadi isteri Si Bongkok...”

Senyum yang menghias wajah Sie Liong menjadi pahit sekali. Dia mengepal tinjunya, wajahnya merah. Namun kepalan tinjunya terbuka kembali dan kepahitan senyumnya menipis. Mengapa dia harus marah? Memang dia bongkok, memang dia buruk, habis mengapa? Biarlah dia berbahagia dengan kebongkokannya, dengan keburukannya.

Bongkok dan buruk hanyalah tubuh. Dia bahkan harus berterima kasih kepada Siu Si. Seorang gadis yang hebat! Tidak mau menyerah begitu saja, berjiwa pemberontak dan berani menentang kesewenang-wenangan. Kakeknya memang sewenang-wenang!

Apa bila kakek Kwan itu sudah tahu bahwa cucunya saling mencinta dengan seorang pemuda lain, mengapa mempunyai niat hendak menjodohkan cucunya itu dengan dia?! Untuk membalas budi? Untuk mencari muka? Atau untuk mengikat agar dia mau terus tinggal di dusun itu sehingga menjamin keamanan dan keselamatan penduduk? Yang jelas, niat itu sudah pasti berpamrih. Kalau tidak, sudah tentu kakek Kwan tidak akan memutuskan ikatan kasih sayang antara cucunya dan pemuda lain.

Ya, dia malah harus berterima kasih kepada Siu Si. Kalau gadis itu seperti para gadis lain yang lemah dan tidak berdaya, tidak menentang melainkan ‘terima nasib’, bukankah dia akan memasuki sebuah perkawinan yang celaka? Isterinya akan merupakan orang yang sama sekali tidak mencintanya, bahkan membencinya, dan hanya mau menjadi isterinya karena terpaksa!

“Terima kasih, Siu Si...” dia berbisik, lalu bangkit berdiri.

Pagi itu indah sekali. Matahari muncul sebagai sebuah bola merah yang amat besar, dengan sinar redup cemerlang. Dia tersenyum kepada matahari.

“Terima kasih, matahari, terima kasih untuk pagi yang seindah ini...” dia kembali berbisik sambil memandang matahari. Tidak lama, karena sebentar saja sinar matahari mulai menyilaukan dan tidak baik untuk kesehatan mata.

Sie Liong membalikkan tubuh, kemudian menuruni puncak bukit itu, senyumnya tidak lagi pahit, melainkan senyum cerah, menyongsong hari yang cerah.

“Terima kasih, Thian, untuk tubuh yang bongkok ini...” dia berbisik penuh rasa syukur.

Bukankah tubuhnya itu pemberian Tuhan? Bongkok atau pun tidak, pemberian Tuhan adalah anugerah yang paling sempurna, dan patut disyukuri. Biarlah semua orang tidak menyukainya dan menghinanya karena tubuhnya yang bongkok, dia tidak akan berkecil hati.

Memang dia bongkok, tinggal orang lain mau menerimanya seperti apa adanya ataukah tidak. Dia memang bongkok dan dia tidak ingin menjadi tidak bongkok, karena keinginan seperti itulah yang menyengsarakan kehidupan manusia. Menginginkan sesuatu yang tidak dimilikinya, menginginkan sesuatu yang lain dari yang pada yang ada.

Tidak, dia tak menginginkan apa-apa. Dia memang bongkok, tetapi dia adalah seorang pemuda yang berbahagia…..

********************
Selanjutnya baca
KISAH PENDEKAR BONGKOK : JILID-06
LihatTutupKomentar