Bu Kek Siansu Jilid 17

Delapan belas orang itu saling pandang, kemudian memandang Ouw Sian Kok dengan mata terbelalak heran. Bagaimana mereka tidak akan merasa heran mendengar kata-kata Ouw Sian Kok yang menunjukkan bahwa dua orang perkasa ini sama sekali tidak mengenal keadaan sehingga tidak tahu bahwa pasukan itu adalah pasukan pemberontak An Lu Shan?
Melihat kehebatan ilmu silat mereka, Song Kiat dan para sute-nya menduga bahwa tentu kedua orang ini adalah pertapa-pertapa sakti yang baru saja turun gunung sehingga sama sekali tidak mengerti akan keadaan dunia. Timbul keinginan mereka untuk mengajak dua orang sakti ini membantu perjuangan mereka, selain mengangkat kembali nama Bu-tong-pai yang telah dirusak oleh The Kwat Lin, juga berbakti kepada negara menentang pemberontakan.

"Agaknya Ji-wi tidak tahu akan keadaan di kota raja," Song Kiat berkata. "Kami adalah murid-murid Bu-tong-pai yang membantu pemerintah untuk menghadapi para pemberontak. Pasukan tadi adalah pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Jenderal An Lu Shan. Kami bertugas menyelidiki kedudukan An Lu Shan yang kabarnya kini berpusat di Telaga Utara, akan tetapi baru tiba di sini kami telah dikeroyok oleh pasukan itu. Melihat kesaktian Ji-wi, demi keselamatan negara dan bangsa, kami mohon sudilah kiranya Ji-wi membantu usaha penyelidikan kami itu."

Ouw Sian Kok mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala. "Kami berdua tidak ingin terlibat ke dalam permusuhan dan kami sama sekali tidak mengerti dan tidak mengenal siapa itu An Lu Shan dan pemberontakannya. Kalau tadi kami turun tangan membantu adalah karena kami tidak senang melihat jumlah kecil dikeroyok oleh jumlah banyak. Selain itu, kami pun mempunyai sedikit keperluan untuk bertanya kepada Cuwi."

Kecewa rasa hati Song Kiat mendengar bahwa dua orang sakti itu tidak mau mencampuri urusan pemerintah, akan tetapi karena kedua orang ini sudah menyelamatkan mereka semua dari bahaya maut, dia menyembunyikan kekecewaannya itu dan menjawab dengan ramah, "Silakan Taihiap kalau hendak bertanya sesuatu tentu kami akan berusaha memberi keterangan sejelasnya dan sedapatnya."

"Kami hanya ingin menanyakan kalau-kalau Cuwi pernah bertemu dengan seorang pemuda dan seorang pemudi yang bernama Han Swat Hong. Kami berdua sedang mencari mereka itu dan kami akan merasa berterima kasih sekali andai kata di antara Cuwi ada yang pernah melihat mereka itu."

Delapan belas orang pendekar itu saling pandang dan masing-masing mengangkat pundaknya. Tak seorang pun di antara mereka pernah mendengar dua nama yang ditanyakan itu. "Maaf, Taihiap. Agaknya di antara kami tidak ada yang pernah mendengar nama itu. Akan tetapi nama-nama itu telah kami catat dalam hati dan kami akan mencarinya. Hanya kalau sudah kami dapat, ke manakah kami harus melapor kepada Ji-wi?"

Liu Bwee menarik napas panjang. "Sudahlah, kalau tidak mengenal sudah saja. Akan tetapi kalian adalah orang-orang Bu-tong-pai, apakah kalian mengenal seorang tokoh Bu-tong-pai yang bernama The Kwat Lin?"

Seketika wajah delapan belas orang itu berubah mendengar ini. Mereka terkejut bukan main karena tidak menyangka-nyangka bahwa wanita perkasa itu akan menyebut nama iblis betina yang menjadi musuh besar Bu-tong-pai itu! Timbul kekhawatiran di hati mereka. Dua orang ini memiliki kesaktian yang luar biasa, sama dengan The Kwat Lin dan wanita ini mengenal The Kwat Lin, tentulah segolongan dengan The Kwat Lin!

Akan tetapi, Song Kiat memiliki pendapat lain. Dua orang ini terang sekali berbeda dengan The Kwat Lin dan mereka berdua telah membuktikan kegagahan mereka dengan membantu yang lemah tertindas, biar pun belum mengenal. Maka dengan berani, berbeda dengan sute-sute-nya yang berpendapat untuk tidak mengaku kenal The Kwat Lin, Song Kiat melangkah maju, menjura kepada Liu Bwee sambil bertanya, "Sebelum saya menjawab, bolehkah saya bertanya apakah Lihiap sahabat dari wanita bernama The Kwat Lin itu?"

Liu Bwee membelalakkan matanya dan sinar matanya berapi-api. "Sahabat? Apa kau gila? Kalau bertemu, aku akan membunuh iblis betina itu!"

Mendengar ini serta merta Song Kiat menjatuhkan diri berlutut, diturut oleh tujuh belas orang sute-nya sehingga Liu Bwee dan Ouw Sian Kok menjadi terkejut dan terheran-heran.

"Apa... apa artinya ini?!" Liu Bwee membentak.

"Maafkan, kami berlutut saking girang dan terharunya hati kami mendengar ucapan Lihiap tadi. Kami sudah merasa khawatir sekali kalau-kalau Jiwi mempunyai hubungan baik dengan The Kwat Lin. Kiranya iblis betina itu adalah musuh Jiwi dan kami merasa mendapatkan bantuan untuk menghadapinya karena iblis betina itu adalah musuh besar Bu-tong-pai."

"Ahhh...! Bukankah dia dahulu anak murid Bu-tong-pai? Bagaimana kalian bisa mengatakan bahwa dia musuh besar Bu-tong-pai?" Liu Bwee yang dahulu sudah mendengar riwayat The Kwat Lin bertanya sambil memandang penuh selidik.

"Benar ucapan Lihiap. The Kwat Lin sebenarnya masih terhitung Suci (Kakak Perempuan Seperguruan) kami sendiri karena dia adalah seorang di antara Cap-sha Sin-hiap (Tiga Belas Pendekar), murid-murid dari Supek kami almarhum Kui Bhok Sianjin. Akan tetapi setelah selama belasan tahun dia menghilang, beberapa bulan yang lalu pada suatu hari dia muncul bersama seorang puteranya dan dia menggunakan kepandaiannya yang luar biasa menundukkan Suhu kami, ketua Bu-tong-pai yang sah, bahkan telah merampas tongkat pusaka lambang kekuasaan ketua Bu-tong-pai. Iblis betina itu merampas Bu-tong-pai dan mengangkat diri sendiri menjadi ketua Bu-tong-pai....."

"Ahhh...! Benar-benar iblis dia!" Liu Bwee memaki.

"Dia becita-cita untuk merampas kerajaan, lalu mengirim muridnya menyelundup ke istana, akan tetapi ketahuan dan muridnya itu dihukum mati. Karena kegagalan ini, The Kwat Lin menjadi buruan pemerintah dan dia kini telah melarikan diri dari Bu-tong-pai yang kini telah dikuasai pula oleh Suhu kami. Karena perbuatan The Kwat Lin itulah, hampir saja Bu-tong-pai dibasmi oleh pemerintah dan untuk membuktikan kesetiaan kami terhadap pemerintah, kini Bu-tong-pai membantu pemerintah menghadapi pemberontak An Lu Shan."

Ouw Sian Kok mengangguk-angguk. "Hemmm, kiranya itulah yang menyebabkan kalian bentrok dengan pasukan An Lu Shan hari ini."

"Di manakah adanya The Kwat Lin sekarang?" Liu Bwee bertanya.

Dia ingin segera bertemu dengan The Kwat Lin, membalas kejahatan madunya itu dan merampas kembali pusaka Pulau Es seperti dipesan oleh suaminya dengan huruf ukiran di dinding istana Pulau Es itu. Apa-lagi dengan bantuan Ouw Sian Kok, dia yakin akan dapat membalas dendam kepada madunya yang jahat itu.

"Kami rasa dia bersembunyi di Rawa Bangkai. Kalau saja kami sudah selesai dengan tugas kami di Telaga Utara, tentu dengan senang hati kami menemani Jiwi menyerbu ke sana."

"Rawa Bangkai? Di manakah itu? Tempat apakah itu?" Liu Bwee mendesak penuh semangat karena dia merasa girang bisa memperoleh keterangan di mana adanya musuh besarnya itu.

"Rawa Bangkai adalah sebuah tempat yang amat berbahaya dan tidak ada orang berani mengunjunginya karena banyak sudah binatang dan manusia tewas secara mengerikan ketika berada di dekat tempat itu. Konon kabarnya dahulu banyak terdapat bangkai binatang dan mayat manusia di rawa itu sehingga diberi nama Rawa Bangkai. Majikan tempat itu adalah seorang di antara datuk-datuk kaum sesat yang berjuluk Kiam-mo Cai-li, seorang wanita yang amat lihai dan merupakan iblis betina yang ditakuti. Kiam-mo Cai-li telah menjadi sekutu The Kwat Lin dan agaknya sebagai orang buruan dia melarikan diri bersama puteranya ke tempat itu. Akan tetapi, amatlah berbahaya bagi orang-orang asing seperti Jiwi untuk mendatangi tempat berbahaya itu. Kalau Jiwi sudi bersabar sampai kami menyelesaikan tugas kami di Telaga Utara, tentu dengan senang hati kami akan membantu Jiwi, karena The Kwat Lin juga merupakan musuh besar kami."

Liu Bwe dan Ouw Sian Kok saling pandang. Ternyata di antara kedua orang ini sudah terdapat saling pengeritan yang mendalam sehingga bentrokan pandang mata mereka saja sudah cukup menjadi pengganti kata-kata perundingan. Liu Bwee mengangguk dan terdengar Ouw Sian Kok berkata, "Baiklah kami berdua akan membantu Cuwi menyelidiki Telaga Utara. Biar pun kami tidak mempunyai urusan dengan pemberontakan An Lu Shan, setelah tadi kami membantu Cuwi, tentu saja berarti kami juga dimusuhi oleh mereka. Setelah kami membantu Cuwi ke Telaga Utara, harap kelak Cuwi suka membantu menjadi petunjuk jalan kami ke Rawa Bangkai."

Berseri wajah delapan belas orang itu dan mereka segera menyatakan setuju. Tentu saja hati mereka girang bukan main. Tempat yang dijadikan markas rahasia oleh An Lu Shan merupakan tempat yang amat sulit dikunjungi, merupakan tempat yang berbahaya sekali dan kabarnya amat sukar memasuki daerah Telaga Utara itu. Kini dengan bantuan kedua orang sakti ini, hati mereka menjadi besar karena bantuan mereka berdua akan mempermudah penyelesaian tugas mereka.

Berangkatlah delapan belas orang itu mengiringkan Liu Bwee dan Ouw Sian Kok menuju ke Telaga Utara yang terletak di dekat tembok besar di utara dan tempat ini merupakan tempat rahasia dari An Lu Shan di mana An Lu Shan mengumpulkan orang-orang gagah untuk membantunya. Di sepanjang jalan, Liu Bwee dan Ouw Sian Kok mendengar banyak penuturan delapan belas pendekar Bu-tong-pai itu tentang orang-orang kang-ouw dan tentang pemberontakan An Lu Shan yang mengancam keamanan hidup rakyat jelata. Melihat semangat kepahlawanan delapan belas orang ini, tergeraklah hati Liu Bwee mengingat bahwa dia adalah permaisuri Han Ti Ong dan suaminya juga berdarah keluarga Kaisar di daratan besar, maka dia pun mulai bersemangat untuk membantu mereka menghadapi An Lu Shan.

Telaga Utara merupakan telaga yang kecil saja, bergaris tengah paling banyak dua li dan tengahnya terdapat sebuah pulau yang dihubungkan ke pinggir telaga dengan jembatan buatan. Di atas pulau inilah berdiri sebuah gedung yang menjadi tempat pertemuan bagi An Lu Shan dan para pembantunya jika dia hendak mengadakan perundingan dengan para tokoh kang-ouw yang berilmu tinggi untuk membagi-bagi tugas kerja. Biar pun telaga itu tidak berapa besar, namun letaknya di antara puncak-puncak gunung sehingga amat sukar dikunjungi orang, apa-lagi puncak di mana telaga itu berada, merupakan puncak yang dikelilingi jurang-jurang amat curam sehingga bagi orang luar yang tidak mengenal jalan, merupakan suatu ketidak-mungkinan untuk datang ke telaga itu.

Berbeda dengan pertempuran-pertempuran resmi, jika mengunjungi telaga ini, An Lu Shan berpakaian seperti rakyat biasa dan tidak dikawal oleh pasukan pengawal, melainkan oleh belasan orang pengawal yang berpakaian preman pula sehingga kelihatannya seperti sedang berpesiar. Akan tetapi, pengawal-pengawal itu adalah orang-orang pilihan yang berilmu tinggi.

Orang-orang kang-ouw yang mengadakan pertemuan di Telaga Utara itu adalah rata-rata orang lihai, baik dari golongan sesat mau pun dari golongan bersih yang membantu An Lu Shan dengan pamrih masing-masing. Sebagian besar yang datang dari golongan besih adalah orang-orang kang-ouw yang menaruh dendam kepada kerajaan. Ada pula yang menganggap bahwa pemberontakan An Lu Shan adalah benar karena menentang raja lalim yang hanya tahu bersenang-senang dengan selir Yang Kui Hui saja tanpa menghiraukan kesengsaraan rakyat. Mereka menganggap pemberontakan itu sebagai perjuangan para patriot yang membela bangsa, kebenaran dan keadilan.

Tentu saja yang datang dari golongan sesat lain lagi pamrih atau dasar tindakan mereka yang membantu An Lu Shan. Ada yang ingin memperoleh keuntungan harta benda, ada yang menginginkan kedudukan dan kemuliaan. Walau pun An Lu Shan kelihatannya kasar, namun selain merupakan seorang jenderal yang ahli dalam ilmu perang, juga merupakan seorang yang amat cerdik. Tentu saja dia pun tahu akan dasar dan pamrih yang terkandung di hati para orang pandai yang membantunya, namun dia pura-pura tidak tahu karena pada waktu itu dia amat membutuhkan tenaga mereka. Tentu saja dia pun sudah bersiap-siap untuk menghadapi semua pamrih mereka itu dan siapa pun yang merasa dapat mengelabui An Lu Shan akan kecelik sekali!

Biar pun dia merasa aman kalau berada di Telaga Utara, akan tetapi kesukaran mencapai puncak ini bukan merupakan hal yang membuat An Lu Shan menjadi lengah. Diam-diam dia menaruh mata-mata dan penjaga yang melakukan penjagaan di sekitar pegunungan itu secara sembunyi untuk mengikuti setiap gerak-gerik orang yang menuju ke Telaga Utara, juga membayangi gerak-gerik para tokoh kang-ouw yang katanya menjadi pembantu An Lu Shan. Apa-lagi kalau dia sendiri sedang berada di gedung di telaga itu, penjagaan secara sembunyi dilakukan dengan ketat sekali.

Demikianlah, ketika delapan belas orang pendekar Bu-tong bersama Liu Bwee dan Ouw Sian Kok pada pagi hari itu tiba dipegunungan ini, gerak-gerik mereka telah diamat-amati para penjaga rahasia itu dari jauh dan bahkan sudah ada penjaga yang cepat lari ke telaga untuk memberi laporan. An Lu Shan yang mendengar bahwa ada dua puluh orang yang gerak-geriknya lincah dan merupakan orang-orang asing menuju ke telaga, memberi perintah kepada komandan pengawal agar membayangi saja dua puluh orang itu.

"Hendak kulihat bagaimana mereka akan dapat mengunjungi telaga tanpa mengetahui jalan rahasia kita," katanya. "Dan kalau pun mereka bisa memasuki telaga, setelah mereka masuk, potong jalannya agar mereka tidak dapat keluar pula," demikian perintahnya.

Dia sama sekali tidak merasa gentar karena barisan terpendam yang melindungi berjumlah tidak kurang dari seratus orang, sedangkan lima belas orang pengawal pilihan selalu mendapinginya, belum lagi dua puluh lebih orang kang-ouw yang menjadi sekutunya dan yang tentu akan siap membantunya jika ada bahaya mengancam. Apa artinya dua puluh orang itu? Akan tetapi dia tidak mau memerintahkan membasmi mereka karena dia harus tahu lebih dulu siapa mereka dan apa kehendak mereka mengunjungi Telaga Utara.

"Bagaimana mungkin menuju ke dataran di depan itu kalau dikelilingi jurang selebar dan securam ini?" Liu Bwee bertanya dengan penuh keraguan ketika mereka semua berdiri di depan jurang yang ternganga lebar di depan mereka.

Jurang itu lebarnya kurang lebih dua puluh lima meter dan curam sehingga melompati jurang ini mendatangkan ancaman bahaya maut yang mengerikan. Tanpa bersayap, mana mungkin orang melompatinya begitu saja?

Ouw Sian Kok mengerutkan alisnya. "Apakah semua keliling gunung ini di halangi jurang seperti ini?"

Song Kiat, orang tertua dari Bu-tong Cap-pwe Eng-hiong mengangguk. "Kami sudah menyelidiki tempat ini dengan seksama dan memang telaga di gunung ini dikelilingi oleh jurang-jurang. Bagian yang paling sempit hanya bagian ini, maka kita harus menyeberang melalui tempat ini."

"Hemm, bagaimana caranya kalian hendak menyeberang?" tanya Ouw Sian Kok penuh keraguan. Dia sendiri yang memiliki kepandaian jauh melampaui mereka merasa ragu-ragu untuk mempertaruhkan nyawa meloncati jurang selebar ini.

"Rintangan ini telah kami pelajari dan perhitungkan masak-masak sebelum kami berangkat ke sini, Taihiap. Harap jangan khawatir karena kami telah memperoleh akal untuk menyeberang. Kalau kita turun ke jurang, kemudian merayap naik, amat sukar dan lebih berbahaya. Maka jalan satu-satunya adalah membuat jembatan manusia dari sini ke seberang jurang."

"Jembatan manusia? Apa maksudmu dan bagaimana caranya?" tanya Liu Bwee.

"Harap Lihiap jangan khawatir karena kami sudah melatih diri dan berhasil baik. Kalau jembatan sudah terbentuk, harap Taihiap dan Lihiap suka menyeberang lebih dulu dan melindungi kami di seberang sana."

"Baik, lekas kerjakan sebelum tampak ada penjaga di seberang!" kata Ouw Sian Kok.

Dengan hati kagum Liu Bwee dan Ouw Sian Kok menyaksikan betapa delapan belas orang pendekar itu beraksi. Seorang di antara mereka, yang betubuh tinggi besar dan jelas membayangkan tenaga yang hebat, berdiri di tepi jurang, memasang kuda-kuda dan mengerahkan Tenaga Sakti Ban-kin-liat sehingga kedua kakinya seolah-olah berakar di dalam tanah yang diinjaknya. Di dalam latihannya, apa-lagi orang berkaki kuat ini sudah memasang kuda-kuda seperti itu, enam ekor kuda pun tidak akan mampu menarik kedua kakinya terlepas dari tanah!

Dia berdiri memasang kuda-kudanya di belakang sebongkah batu yang menonjol sedikit dari dalam tanah, batu yang merupakan batu raksasa tertanam di tepi jurang itu. Kemudian, seorang saudaranya melompat dan berdiri di atas pundaknya. Disusul pula oleh loncatan orang ke tiga dan ke empat sehingga mereka berdiri tersusun, masing-masing berdiri di pundak saudaranya dengan tegak dan sedikit pun tidak bergoyang seolah-olah merupakan sebatang pohon yang kokoh! Setelah itu, orang ke lima merayap naik melalui tubuh empat orang saudaranya, terus berdiri di atas pundak orang yang berada paling atas, disusul oleh orang ke enam yang berdiri di atas pundak orang ke lima dan demikian seterusnya sampai ada tujuh belas orang berdiri susun menyusun amat tingginya, namun sedikit pun tidak bergoyang dan orang yang berada paling bawah kelihatan tidak bergeming, seolah-olah beban enam belas orang banyaknya itu tidak terasa amat berat baginya!

Kemudian atas aba-aba Song Kiat yang berada paling atas, kaki masing-masing yang tadinya menginjak pundak orang dibawahnya itu merosot ke belakang pundak dan kedua betisnya ditangkap oleh kedua tangan orang bawah, dan pada saat itu, susunan orang itu mendoyong ke depan dan terus mendoyong dengan cepatnya seperti akan runtuh ke dalam jurang. Orang ke delapan belas yang tidak ikut naik tadi, kini membantu orang paling bawah, memasang kuda-kuda dan memegangi kedua kaki orang terbawah yang sudah mengait pada tonjolan batu tadi.

Melihat ini Liu Bwee dan Ouw Sian Kok merasa cemas sekali. Mereka mulai mengerti bagaimana cara mereka itu membentuk sebuah jembatan manusia, akan tetapi cara itu sungguh amat berbahaya. Selain membutuhkan ginkang dan sinkang yang kuat, ketangkasan yang terlatih, juga membutuhkan nyali yang amat besar. Sekali saja meleset atau sedikit saja salah perhitungan, bisa mengakibatkan tewasnya delapan belas orang itu terjerumus kedalam jurang!

Kini susunan orang itu telah melintang, dan orang teratas telah berhasil mencapai seberang dan menyambar akar pohon yang amat kuat yang berdiri di seberang. Maka jadilah ‘jembatan’ istimewa itu! Sunguh merupakan demonstrasi ketangkasan yang luar biasa dan berbahaya bukan main! Sejenak Liu Bwee dan Ouw Sian Kok tercengang, penuh keheranan dan kagum. Baru mereka sadar ketika terdengar suara orang yang memegangi kaki orang terbawah tadi.

"Taihiap dan Lihiap, silakan menyeberang lebih dulu agar dapat melindungi kami di seberang sana!" Kata-kata ini menyadarkan kedua orang itu.

Ketika Liu Bwee memandang kepada Ouw Sian Kok, putera Ketua Pulau Neraka ini mengangguk. Dengan tombak rampasan di tangannya, Ouw Sian Kok tanpa ragu-ragu lagi lalu melangkah dan ‘menyeberang’ melalui jembatan manusia yang sambung-menyambung dan menelungkup itu sambil mengerahkan ginkang-nya. Dia melangkah dengan cekatan dan ringan sekali sehingga tak lama kemudian Ouw Sian Kok telah tiba di seberang sana, lalu melambaikan tangannya kepada Liu Bwee yang memandang dengan kagum.

Setelah melihat betapa Ouw Sian Kok menyeberang, Liu Bwee lalu mencontoh perbuatan temannya itu. Dengan pedang rampasan di tangan kanan, dengan hati-hati sambil mengerahkan ginkang-nya, Liu Bwee mulai menyeberangi ‘jembatan’ istimewa itu dan melangkah sambil mengatur keseimbangan tubuhnya.

Betapa pun lihainya, Liu Bwee tidak berani menengok ke bawah karena dia merasa ngeri juga! Akhirnya dia berhasil mencapai tepi seberang dan meloncat ke bawah pohon dekat Ouw Sian Kok.

"Mereka benar-benar merupakan pendekar-pendekar yang mengagumkan," kata Liu Bwee.

Ouw Sian Kok mengangguk dan merasa girang bahwa dia dan Liu Bwee telah mengambil keputusan untuk membantu delapan belas orang gagah ini.

Setelah dua orang itu menyeberang dengan selamat, orang ke delapan belas yang berada paling belakang, lalu mengeluarkan suara teriakan sebagai isyarat kepada saudara-saudaranya, kemudian orang terakhir juga memegangi kedua betis orang ke tujuh belas dan melompat ke bawah jurang! Liu Bwee hampir menjerit karena ngerinya menyaksikan betapa jembatan manusia itu seolah-olah putus di ujung sana dan kalau tadi ketika membentuk jembatan mereka saling berdiri di pundak orang di bawahnya, kini mereka saling bergantungan pada kaki orang yang berada di atasnya. Yang mengerikan adalah ketika susunan orang yang delapan belas banyaknya ini meluncur ke bawah dari ujung sana dan agaknya akan terbanting hancur pada dinding karang di seberang sini.

Namun dengan cekatan dan terlatih, masing-masing kini hanya merangkul kedua kaki teman di atas dengan sebuah lengan saja sedangkan tangan yang bebas dipergunakan untuk mendorong ke depan, ke arah dinding karang ketika tubuh mereka terayun dekat dinding. Akhirnya selamatlah rangkaian orang ini tergantung di sepanjang dinding karang. Kini yang paling berat bagiannya adalah Song Kiat karena dia merupakan orang pertama paling atas yang menggunakan kekuatan kedua tangannya, bergantung pada akar pohon dan menahan berat tujuh belas orang sute-nya yang bergantung pada kakinya! Pantas saja twa-suheng ini menjadi orang pertama, karena memang tugasnya paling berat, dan ji-suheng (kakak seperguruan ke dua) dari delapan belas orang pendekar itulah yang menjadi orang terakhir, yaitu Si Tinggi Besar tadi.

Ouw Sian Kok mengangguk kagum ketika bersama Liu Bwee dia melihat betapa orang yang bergantung paling bawah kini mulai merayap naik ke atas, disusul oleh orang ke dua, ketiga dan seterusnya sehingga tak lama kemudian, kedelapan belas orang itu telah dapat meloncat ke tepi jurang dengan selamat!

"Bagus! Cuwi memang pantas menjadi Bu-tong Cap-pwe Eng-hiong!" Ouw Sian Kok memuji.

"Taihiap terlalu memuji. Kami telah melihat daerah ini dan penyeberangan secara membuat jembatan tadi telah kami latih selama berbulan-bulan. Baru hari ini kami berani mencoba menyeberangi tempat ini. Sekarang selanjutnya kami hanya mengharapkan bantuan Jiwi, karena An Lu Shan memiliki banyak sekali kaki tangan yang amat lihai. Menurut penyelidikan kami, pada saat ini Telaga Utara kosong sehingga kita boleh menyelidiki dengan aman. Kalau jenderal pemberontak itu tidak berada di sini, penjagaan tidaklah demikian kuat."

Ouw Sian Kok menoleh ke kanan-kiri, lalu menghela napas dan berkata, "Kuharap saja Cuwi (Saudara Sekalian) tidak sampai membuat salah perhitungan. Menurut penglihatanku, tempat rahasia seorang berpangkat tinggi tentulah selalu dijaga ketat. Tempat ini kelihatan begitu sunyi senyap, seperti sebuah pulau kosong saja. Hal ini bahkan menimbulkan kecurigaan...."

"Apa pun yang akan terjadi, setelah kita berada di sini, akan kita hadapi bersama. Ouw-toako, tidak perlu kita khawatir," Liu Bwee menghibur.

Mereka lalu begerak maju memasuki daerah itu. Tak lama kemudian tibalah mereka di tepi telaga dan sudah tampak bangunan besar yang berada di tengah telaga. Selama itu tidak nampak seorang pun penjaga sehingga Ouw Sian Kok merasa makin khawatir dan curiga.

"Hemm, hanya ada dua kemungkinan. Mereka telah pindah dan meninggalkan tempat ini, atau kita masuk perangkap!" baru saja Ouw Sian Kok mengeluarkan kata-kata ini, terdengar suara tertawa disusul suara gerakan banyak orang dan muncullah puluhan orang dari jembatan telaga mau pun dari belakang pohon dan semak-semak.

"Celaka, kita terjebak...!" Song Kiat berseru. "Taihiap Lihiap, kita kembali saja!"

Tergesa-gesa delapan belas orang pendekar itu memutar tubuh dan lari kembali ke jurang di mana mereka menyeberang tadi, diikuti oleh Ouw Sian Kok dan Liu Bwee. Akan tetapi, begitu tiba di tepi jurang, Song Kiat menjadi pucat dan memandang ke depan dengan mata terbelalak, demikian pula para sute-nya. Ternyata di tempat penyeberangan itu, di sebelah sana tampak berbaris pasukan yang siap dengan busur dan anak panah mereka. Dengan adanya pasukan panah itu tidak mungkin lagi bagi mereka untuk melarikan diri dengan membentuk jembatan manusia seperti tadi. Tentu mereka akan dihujani anak panah dan akan tewas semua.

Melihat betapa delapan belas orang pendekar itu kebingungan, Ouw Sian Kok berkata dengan suara agak kecewa, "Mengapa Cuwi menjadi bingung setelah berhadapan dengan musuh?"

"Taihiap tidak tahu, memang benar dugaan Taihiap tadi bahwa kita terperosok ke dalam perangkap. Penyelidikan kita yang sudah-sudah pun agaknya sudah diketahui oleh orang-orang An Lu Shan. Ternyata secara diam-diam An Lu Shan berada di sini, lengkap dengan semua pembantunya dan hal ini amatlah berbahaya."

"Berbahaya atau tidak, kita sudah menghadapinya dan perlu apa bingung? Kebingungan hanya akan membuat kita tidak tenang dan lemah. Hadapilah apa saja yang kita temui, berbahaya mau pun tidak. Apa gunanya hidup sebagai pendekar kalau matinya seperti pengecut?"

Mendengar ucapan Ouw Sian Kok ini, bangkitlah semangat kepahlawanan delapan belas orang murid Bu-tong-pai itu. "Ucapan Taihiap tepat sekali! Maafkan kalau tadi kami bingung karena hal ini sama sekali tidak kami duga-duga. Apa-lagi kami telah mengajak Jiwi ke sini, berarti kami menyeret Jiwi ke dalam bahaya pula."

"Hidup memang merupakan keadaan yang penuh bahaya, tergantung kita menghadapinya," Liu Bwee berkata. Memang bagi wanita yang sudah mengalami banyak kesengsaraan, apa-lagi sejak kecil tinggal di Pulau Es, bahaya bukanlah apa-apa dan merupakan hal yang wajar.

"Kalau begitu, mari kita ke telaga dan kita hadapi An Lu Shan sendiri. Setelah menghadapi dia, tugas kami berubah, tidak lagi melakukan penyelidikan melainkan kalau perlu menewaskan jenderal pemberontak itu!" Song Kiat berkata penuh semangat sambil mencabut pedangnya.

Gerakan ini diikuti oleh tujuh belas orang sute-nya. Dengan berlari cepat mereka kembali ke telaga di mana telah menanti An Lu Shan dan semua pembantunya. Akan tetapi mereka tercengang ketika tiba ditempat itu. Mereka melihat An Lu Shan berdiri diiringi oleh puluhan orang yang bermacam-macam bentuk dan keadaannya, menanti dengan sikap tenang, sama sekali tidak memperlihatkan sikap permusuhan. Akan tetapi mereka juga melihat betapa tempat itu telah dikurung oleh banyak sekali orang-orang yang bersenjata lengkap! Delapan belas orang itu tidak tahu harus berkata apa, akan tetapi mereka sudah siap untuk melawan dengan nekat dan mati-matian apabila diserang oleh pasukan yang demikian banyaknya.

Ternyata memang An Lu Shan telah mengatur perangkap ini. Ketika mendengar laporan dari anak buahnya yang berhasil menyelamatkan diri, betapa delapan belas orang pendekar dari Bu-tong-pai yang tadinya sudah hampir dapat dibasmi itu diselamatkan oleh dua orang laki-laki dan wanita yang memiliki kesaktian luar biasa, An Lu Shan merasa tertarik sekali dan cepat dia mengatur persiapan untuk menyambut mereka.

"Mereka tentu akan mengunjungi tempat ini," katanya. "Biarkan mereka menyeberang dan jangan menurunkan tangan besi sebelum mendapatkan perintahku. Aku ingin bicara dulu dengan mereka, siapa tahu kita dapat membujuk mereka untuk bekerja sama, terutama dua orang sakti itu."

Demikianlah, karena memandang rendah kecerdikan An Lu Shan, delapan belas orang murid Bu-tong-pai itu masuk ke dalam perangkap yang memang telah dipasang oleh jenderal itu. Kalau dia menghendaki, tadi ketika delapan belas orang itu membuat jembatan manusia, tentu dengan mudah dia akan membasmi mereka.

"Hemm, Cuwi tentulah Bu-tong Cap-pwe Enghiong yang gagah perkasa," terdengar An Lu Shan berkata dengan suaranya yang nyaring penuh wibawa, kasar dan tidak memakai banyak sopan santun pula. "Ada keperluan apakah Cuwi mengunjungi tempat kami ini?"

Karena tidak mungkin lagi berpura-pura atau berbohong, maka sesuai dengan wataknya sebagai pendekar, Song Kiat menjawab dengan suara lantang, "Kami datang untuk membunuh Jenderal pemberontak An Lu Shan!"

Tentu saja jawaban ini membuat marah para pembantu jenderal itu, yang sudah kelihatan gatal tangan untuk membasmi musuh. Akan tetapi An Lu Shan menggerakkan tangan ke atas untuk mencegah. Dia berkata lagi, ditujukan kepada delapan belas orang pendekar itu, akan tetapi diam-diam matanya yang tajam menyapu dengan penuh selidik kepada laki-laki setengah tua yang memegang tombak dan wanita cantik yang memegang pedang di dekat delapan belas pendekar itu.

"Sungguh kami merasa heran sekali mengapa para orang gagah di Bu-tong-pai masih juga belum sadar? Pemerintah yang dikuasai Kaisar lalim selain menyia-nyiakan sebuah perkumpulan besar seperti Bu-tong-pai, juga telah menghinanya, menganggap Bu-tong-pai sebagai perkumpulan orang jahat. Sekarang Cuwi malah membela Kaisar, bukankah itu namanya penjilatan? Apakah orang-orang gagah demikian rendah dirinya, menjilat-jilat kalau dihina oleh pihak yang lebih tinggi?"

"Kami bukan membela Kaisar atau pemerintah, kami membela rakyat dan negara dari gangguan pemberontak!" Song Kiat berteriak lantang.

An Lu Shan tertawa. "Ha-ha-ha, bagus sekali! Demikianlah semestinya watak seorang pendekar yang berjiwa pahlawan. Kalau begitu antara Cuwi dan kami terdapat kecocokan. Kami bukanlah pemberontak, melainkan pejuang yang memperjuangkan nasib rakyat kecil yang tertindas oleh kelaliman Kaisar yang hanya tahu bersenang-senang belaka. Marilah kita bersama-sama mengenyahkan pemerintahan lalim ini untuk membangun sebuah pemerintahan yang akan dapat mendatangkan kemakmuran kepada rakyat jelata. Dengan demikian, barulah tidak percuma kita hidup sebagai manusia, terutama sebagai manusia yang berjiwa gagah."

Ucapan yang keluar dari mulut An Lu Shan terdengar penuh semangat kepahlawanan. Memang jenderal ini merupakan seorang ahli bicara yang amat pandai sehingga sejenak delapan belas orang itu saling pandang dengan bingung.

Tiba-tiba Liu Bwee yang biar pun hanya seorang wanita namun pernah menjadi Permaisuri Raja Pulau Es, yang merasa masih sedarah dengan Kaisar daratan besar, dan sudah banyak pula membaca kitab sejarah sehingga mengerti sedikit akan politik, berkata yang ditujukan kepada delapan belas orang gagah itu, "Orang gagah harus memiliki pendirian. Sifat suka berbalik pikiran dan mudah terbawa angin adalah sifat ular kepala dua dan merupakan sifat yang paling rendah dan berbahaya."

Mendengar ucapan ini, sadarlah pendekar dari Bu-tong-pai itu dan Song Kiat berteriak, "Jenderal An Lu Shan! Tidak ada gunanya engkau mencoba untuk membujuk kami! Kami tidak membutuhkan pangkat, tidak membutuhkan harta, tidak membutuhkan nama besar sebagai pemberontak! Kami harus mempertahankan pendirian kami, harus membela dan mematuhi perintah ketua dan guru kami dengan darah dan nyawa!"

Kedua pihak sudah ‘panas’, akan tetapi An Lu Shan masih bersabar. Ia mengangkat tangannya, menahan anak buahnya, lalu berkata, "Terserah pemilihan Cuwi dari Bu-tong-pai. Akan tetapi karena Jiwi yang datang bersama Bu-tong Cap-pwe Eng-hiong merupakan manusia-manusia sakti yang cerdik pandai, ingin kami mengenal mereka, dan mengapa pula Jiwi mencampuri urusan Bu-tong-pai yang memusuhi kami?"

"Kami berdua hanyalah orang-orang yang kebetulan lewat dan melihat kegagahan Bu-tong Cap-pwe Enghiong, kami berdua sudah mengambil keputusan untuk membantu mereka. Tentu saja ini adalah tanggung-jawab kami dan tidak ada sangkut pautnya dengan kalian," kata Ouw Siang Kok.

"Harap Jiwi suka mempertimbangkan, dan kami menjamin bahwa Jiwi kelak akan menerima penghargaan dari kekuasaan yang memerintah negara, dari rakyat dan dari dunia kang-ouw yang banyak membantu kami. Jiwi tidak perlu membantu kami menghadapi orang-orang Bu-tong-pai. Asal Jiwi suka lepas tangan, kami sudah amat berterima kasih dengan Jiwi." An Lu Shan yang bermata tajam dapat menduga bahwa dua orang itu amat lihai, maka dia berusaha membujuk Ouw Sian Kok dan Liu Bwee.

"Jenderal An Lu Shan," tiba-tiba Liu Bwee berkata, suaranya penuh wibawa dan sikapnya agung seperti seorang ratu bicara kepada seorang bawahannya. "Engkau tentu maklum, bagi seorang yang gagah perkasa dan budiman, janji adalah lebih berharga dari-pada nyawa, dan bagi seorang gagah, nyawa bukan merupakan benda yang terlalu disayangkan, sedikitnya tidaklah melebihi kehormatan dan nama. Kematian bukan apa-apa. Kami yang sudah berjanji kepada Bu-tong Cap-pwe Eng-hiong tentu tidak mungkin dapat mundur lagi. Nah, kami semua telah siap. Apa pun yang akan kau lakukan, kami akan hadapi dengan pertaruhan nyawa."

An Lu Shan tercengang dan sampai lama tak mampu menjawab, memandang kepada Liu Bwee dengan penuh penyesalan. Mana hatinya tidak akan menyesal melihat seorang wanita sehebat itu berdiri di pihak musuh? Terpaksa dia menggerakkan tangannya dan bergeraklah para pengawalnya menerjang maju!

Liu Bwee dan Ouw Sian Kok yang sudah bersatu hati itu seperti mengerti isi hati masing-masing, maka hampir berbareng mereka berdua menggerakkan kaki meloncat ke arah An Lu Shan. Mereka maklum bahwa menghadapi lawan yang jauh lebih besar jumlahnya, mereka harus berlaku cerdik dan sedapat mungkin mereka harus lebih dulu merobohkan pimpinan lawan. Kalau pemimpin seperti An Lu Shan itu dapat ditangkap, tentu yang lain akan tunduk, atau kalau sampai dapat dibunuh, hal ini tentu akan melumpuhkan semangat lawan.

An Lu Shan terkejut melihat gerakan mereka berdua. Memang dia sudah mendengar laporan anak buahnya bahwa dua orang ini lihai sekali. Akan tetapi tidak disangkanya bahwa mereka akan dapat bergerak secepat itu, seperti dua sinar halilintar saja menyambar ke arahnya. Dia berteriak dan cepat menjatuhkan diri ke belakang sehingga dua orang penyerang itu langsung dihadapi oleh tokoh-tokoh kang-ouw yang berdiri di kanan-kiri dan belakangnya.

"Trang-cringgg-cringgg...!!"

Para tokoh kang-ouw itu terkejut bukan main. Sekaligus ada empat orang yang melindungi An Lu Shan dan menangkis pedang dan tombak di tangan Liu Bwee dan Ouw Sian Kok, akan tetapi empat orang itu terhuyung ke belakang karena mereka bertemu dengan tenaga yang amat dahsyat!

Ouw Sian Kok yang ingin agar penyerbuan delapan belas orang pendekar itu berhasil dalam waktu singkat dan tidak perlu terjadi pembunuhan besar-besaran, sudah mengunakan ginkang-nya yang amat hebat. Tubuhnya melucur ke depan mengejar An Lu Shan yang hendak menyelamatkan diri ke belakang para pembantu dan para pengawalnya.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati An Lu Shan ketika melihat tiba-tiba dia diancam oleh sebatang tombak yang dipegang oleh orang yang seperti ‘terbang’ di atasnya! Dia pun bukanlah seorang biasa, melainkan seorang panglima yang sudah banyak pengalamannya bertempur, memiliki pula ilmu silat campuran yang lihai dan tenaganya kuat bukan main. Melihat betapa dia terancam, secepat kilat tangan kanannya bergerak dan begitu pedangnya tercabut, tampak sinar terang yang menyilaukan mata. Kemudian pedangnya menangkis ke arah tombak yang mengurungnya dengan sinar tombak.

"Trakkkk!" tombak di tangan Ouw Sian Kok itu patah-patah! Tentu saja tombak biasa itu tidak mampu melawan pedang Tiong-gi-kiam hadiah dari Kaisar kepada An Lu Shan ini, yang merupakan sebatang pedang pusaka kuno yang amat ampuh.

Akan tetapi Ouw Sian Kok yang berilmu tinggi itu tidak menjadi gugup. Dia bahkan mampu menggerakkan sisa gagang tombaknya menotok pergelangan tangan kanan An Lu Shan dengan kecepatan sedemikian rupa sehingga serangan ini tidak tampak dan tahu-tahu tangan Jenderal itu telah tertotok dan pedangnya terampas oleh Ouw Sian Kok! Kini para pengawal dan orang-orang kang-ouw telah mengurungnya dan berhasil melindungi An Lu Shan yang cepat menyelinap ke belakang.

Jenderal ini menjadi marah. Selain pedangnya terampas, hampir saja dia celaka. "Serbu mereka! Basmi mereka semua, jangan beri ampun seorang pun juga!" dia berteriak memberi perintah.

An Lu Shan adalah seorang yang cerdik dan pandai memikat hati orang untuk membantunya. Akan tetapi, di waktu marah dia berubah menjadi seorang yang amat kejam dan tidak mengenal ampun, sesuai dengan latar belakang hidupnya yang liar dan ganas.

Terjadilah pertempuran yang amat seru di tepi telaga itu. Bu-tong Cap-pwe Eng-hiong, Liu Bwee, dan Ouw Sian Kok, mengamuk dengan hebatnya sungguh pun Liu Bwee dan Ouw Sian Kok selalu merobohkan lawan tanpa membunuh mereka. Di antara mereka berdua dan An Lu Shan sama sekali tidak terdapat permusuhan, apa-lagi dengan para anak buah Jenderal itu, sama sekali tidak ada urusan dengan mereka. Maka tentu saja mereka tidak sampai hati untuk melakukan pembunuhan dan hanya merobohkan mereka dengan tendangan, dorongan tangan kiri, totokan atau ada juga yang tersambar pedang akan tetapi tidak terluka parah yang membahayakan nyawa mereka.

Berbeda dengan sepak terjang Liu Bwee dan Ouw Sian Kok yang biar pun mengiriskan namun tidak pernah membunuh, sebaliknya delapan belas orang pendekar dari Bu-tong-pai itu mengamuk dengan mengerikan. Mereka seperti segerombolan harimau yang haus darah. Pedang mereka berkelebatan. Kalau ada pihak lawan yang roboh, tentu roboh dalam keadaan yang mengerikan sekali, terobek perut mereka atau tersayat leher mereka hampir putus, atau tertembus dada mereka oleh pedang sehingga begitu roboh mereka berkelojotan dan nyawa mereka melayang tidak lama kemudian. Delapan belas orang pendekar dari Bu-tong-pai itu seolah-olah menyebar maut di antara para pengawal An Lu Shan.

Hal ini membuat An Lu Shan marah sekali. Cepat dia memerintahkan pengawal-pengawal pribadinya untuk meninggalkannya dan menyerbu lawan. Juga para tokoh kang-ouw tidak ada yang menganggur, sebagian menghadapi Liu Bwee dan Ouw Sian Kok yang amat lhai, sebagian pula kini menghadapi delapan belas orang pendekar Bu-tong-pai itu. Kini pasukan pengawal yang menjaga di sekitar tempat itu sudah berkumpul semua sehingga lebih dari seratus orang anak buah An Lu Shan mengurung dan mengeroyok musuh.

Betapa pun gagahnya delapan belas orang pendekar Bu-tong-pai itu, menghadapi pengeroyokan lawan yang jumlahnya jauh lebih banyak, apa-lagi setelah para pengawal pribadi An Lu Shan dan orang-orang kangouw maju akhirnya mereka roboh juga seorang demi seorang! Tak lama kemudian, Bu-tong Cap-pwe Enghiong yang gagah perkasa itu tewas seorang demi seorang setelah melakukan perlawanan sampai titik darah terakhir dan setelah masing-masing merobohkan sedikitnya dua orang lawan! Tempat itu yang biasanya menjadi tempat pertemuan dan peristirahatan bagi An Lu Shan, hari itu berubah menjadi tempat yang penuh dengan noda darah dan penuh dengan mayat manusia yang malang melintang. Mengerikan!

Liu Bwee dan Ouw Sian Kok juga terdesak hebat. Mereka adalah orang-orang yang memiliki tingkat ilmu silat lebih tinggi dari-pada tokoh-tokoh kang-ouw yang berada di situ, bahkan ilmu silat mereka termasuk ilmu yang aneh dan tidak dikenal oleh para lawan. Biar pun banyak sudah, sedikitnya ada dua puluh orang yang roboh tak berdaya oleh mereka, namun mereka seperti dua ekor belalang dikeroyok semut yang banyak dan dekat.

Akhirnya sebuah hantaman dengan toya yang mengenai lutut kanan Liu Bwee membuat nyonya perkasa ini terjungkal dan dia lalu ditubruk oleh empat orang lawan, ditotok dan dibelenggu, lalu diseret pergi sebagai seorang tawanan. Betapa pun juga orang-orang kang-ouw itu masih merasa segan untuk membunuh wanita yang amat mereka kagumi ini.

Melihat Liu Bwee tertawan, Ouw Sian Kok mengeluarkan pekik melengking dan pekik ini saja sudah cukup untuk merobohkan beberapa orang pengeroyok yang kurang kuat sinkang-nya. Tiong-gi-kiam di tangannya menyusul berkelebat, membuat belasan batang senjata lawan beterbangan dan robohlah lima enam orang lagi! Bukan main hebatnya sepak terjang Ouw Sian Kok yang sudah marah itu.

"An Lu Shan, bebaskan Liu-toanio atau... akan kubasmi kalian semua! Aku Ouw Sian Kok dari Pulau Neraka tidak biasa mengeluarkan ancaman kosong belaka!" Saking marah dan khawatir melihat Liu Bwee ditawan, Ouw Sian Kok lupa diri dan menyebut-nyebut Pulau Neraka.

Terkejutlah semua orang mendengar ini. Mereka tidak pernah tahu di mana adanya Pulau Neraka, akan tetapi di dalam dongeng mereka mendengar bahwa Pulau Es dan Pulau Neraka merupakan pulau-pulau tempat tinggal para dewata dan siluman yang memiliki ilmu yang amat luar biasa!

"Kalian tidak tahu dia itu adalah bekas Permaisuri dari Pulau Es! Bebaskan dia!" teriaknya lagi sambil menendang dengan kedua kakinya secara berantai, merobohkan empat orang di antara para pengeroyoknya.

Kembali semua orang terkejut, termasuk An Lu Shan. Pulau Es? Benarkah apa yang dikatakan laki-laki gagah perkasa itu? Ataukah hanya gertak sambal saja agar wanita yang tertawan itu dibebaskan?

Selagi semua orang ragu-ragu, terdengarlah suara ketawa, "Heh-heh-heh, anak-anak nakal, kiranya masih ada yang tinggal di antara penghuni Pulau Es dan Pulau Neraka! Hemmm, hayo kalian berdua ikut saja bersamaku karena bukan di sinilah tempat kalian!" Suara ini halus dan perlahan saja, namun anehnya mengatasi semua suara dan terdengar dengan jelas oleh mereka semua.

Ketika An Lu Shan dan anak buahnya memandang, ternyata yang muncul adalah seorang kakek bercaping lebar yang mereka kenal sebagai kakek nelayan yang suka memancing ikan di telaga. Karena kakek itu bersikap halus dan tidak pernah bicara, maka An Lu Shan hanya menyuruh anak buahnya mengamat-amati saja. Kakek itu sudah berbulan-bulan memancing ikan di telaga dan sama sekali tidak mengganggu, juga sama sekali tidak mencurigakan, maka kini kemunculannya dalam keadaan yang menegangkan itu benar-benar amat mengherankan hati orang.

Ouw Sian Kok yang mendengar ucapan itu menjadi terkejut sekali. Cepat dia memandang. Terlihat olehnya seorang kakek berpakaian sederhana tambal-tambalan, bertopi caping lebar seperti yang biasa digunakan para nelayan, memegang tangkai pancing dari bambu dan dipinggangnya tergantung sebuah kipas bambu. Dia cepat memandang wajah kakek itu dan melihat wajah yang sudah tua akan tetapi dengan sepasang mata yang tajam penuh wibawa. Tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang lihai. Otomatis dia mengira bahwa tentu ini merupakan seorang tokoh kang-ouw yang menjadi kaki tanan An Lu Shan pula. Maka lebih baik turun tangan lebih dulu sebelum lawan tangguh ini mendahuluinya, pikir Ouw Sian Kok.

"Sudah tua bangka masih banyak pamrih mencampuri urusan pemberontakan!" bentaknya. Pedangnya mengeluarkan sinar, lenyap bentuknya berubah menjadi sinar bergulung-gulung ketika dia meloncat dan memutar senjata itu menyerang.

Dengan tenang kakek itu menghadapi penyerangan ini, sikapnya seperti seorang tua menghadapi seorang anak yang nakal. Karena menduga bahwa kakek itu tentu amat lihai, maka sekali ini Ouw Sian Kok tidak bersikap tanggung-tanggung, pedangnya meluncur dengan amat cepatnya dan dia membuka serangan. Akan tetapi tiba-tiba kakek itu memutar pancingnya dan terdengarlah suara bersuitan nyaring sekali.

Ouw Sian Kok bersikap waspada. Ketika tangkai yang terbuat dari bambu panjang itu menyambar ke depan menyambutnya, dia cepat menggerakkan pedangnya yang ampuh dengan mengerahkan tenaga sinkang untuk membabat putus bambu itu. Namun bambu itu seperti hidup bergerak mengikuti sinar pedangnya, berkejaran dengan sinar pedangnya tetapi tidak pernah tersentuh, dan tahu-tahu Ouw Sian Kok merasa betapa tubuhnya terangkat ke atas. Ternyata bahwa ketika kakek itu memutar bambu yang menjadi tangkai pancing, tali pancingnya berputaran sedemikian cepatnya sampai tidak tampak karena tali itu kecil saja. Tahu-tahu mata pancing itu telah mengait punggung baju Ouw Sian Kok sehingga seolah-olah Ouw Sian Kok dijadikan ‘ikan’ yang terkena pancing!

Ouw Sian Kok terkejut dan marah. Dia bergerak hendak membabat tali pancing di atas punggungnya, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya yang tergantung itu berputar cepat sekali. Dia diputar-putar di atas kepala kakek itu sehingga kalau sampai tali itu diputuskan dengan tangannya, tentu tubuhnya akan terlempar dan terbanting keras tanpa dia mampu mencegahnya karena tubuhnya sudah berputaran seperti kitiran di udara.

Semua orang memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, kaget dan kagum melihat betapa mudahnya kakek tua itu membuat Ouw Sian Kok yang sakti itu tidak berdaya sama sekali!

Ouw Sian Kok merasa malu dan marah. Dikerahkannya sinkang-nya dan dia telah menggunakan ilmu memberatkan tubuhnya. Seketika tubuhnya yang masih berputar-putar itu agak menurun dan bambu itu melengkung seolah-olah tidak kuat menahan tubuhnya.

"Tidak buruk...!" kakek itu berseru kagum juga.

Akan tetapi karena dia masih memutar-mutar hasil pancingannya itu dengan amat cepatnya, Ouw Sian Kok tidak dapat melepaskan diri. Ia hanya melirik ke arah kakek itu dengan pandang mata penuh kemarahan dan kadang-kadang mencoba untuk menggerakkan pedang membacok ke arah tubuh kakek itu.

Tiba-tiba terdengar suara Liu Bwee, "Ouw-toako, jangan melawan...! Lo-cianpwe, mohon Lo-cianpwe sudi mengampuninya...!!"

Mendengar seruan Liu Bwee ini Ouw Sian Kok terkejut. Dia menghentikan usahanya untuk menyerang atau membebaskan diri, lalu berkata, "Harap Lo-cianpwe sudi memaafkan kalau saya bersikap kurang ajar!"

"Heh-heh-heh, ternyata Pulau Neraka belum merusakmu, orang muda!" Tali pancing itu mengendur dan tahu-tahu Ouw Sian kok telah mendapatkan dirinya berada di atas tanah. Dia berdiri tak bergerak, hanya menoleh ke arah Liu Bwee yang kini sudah terbelenggu dan dijaga ketat.

Kakek itu lalu menghadap ke arah An Lu Shan yang berdiri di tempat aman, kemudian berkata halus, "An-goanswe harap suka memenuhi permintaan seorang tua seperti aku agar suka membebaskan wanita itu."

Sudah kita ketahui bahwa An Lu Shan adalah seorang yang amat cerdik. Melihat keadaan kekek itu, dia pun maklum bahwa orang tua itu amat sakti dan menghadapi seorang kakek seperti itu, lebih baik bersahabat dari-pada memusuhinya. Kalau ingin berhasil dalam mengejar cita-cita, berbaiklah dengan sebanyak mungkin orang pandai, demikian pedoman hatinya. Maka tanpa ragu-ragu lagi dia memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk membebaskan Liu Bwee.

Tentu saja isyarat ini tidak ada yang berani membantahnya sungguh pun para anak buah dan pembantunya merasa khawatir akan sikap An Lu Shan ini. Di situ terdapat tiga orang lawan tangguh, yang seorang sudah tertawan, mengapa dibebaskan lagi? Bukankah ini merupakan perbuatan bodoh dan berbahaya?

Liu Bwee yang sudah terbebas dari totokan dan belenggu segera menghampiri kakek itu dan menjatuhkan diri berlutut. "Lo-cianpwe...," katanya dan melanjutkan katanya dengan tangis yang menyedihkan.

Kakek itu mengangguk-angguk. "Sudahlah, sudahlah, aku sudah tahu semua yang menimpa dirimu dan Pulau Es. Sudah semestinya demikian, ditangisi pun tidak akan ada gunanya."

Liu Bwee tersadar setelah mendengar ucapan ini. Cepat ia menghapus air matanya, lalu berkata kepada Ouw Sian Kok, "Ouw-twako, beliau ini adalah kakek dari suamiku yang telah lama meninggalkan pulau dan mengasingkan diri sebagai seorang pertapa. Baru sekarang aku dapat bertemu dengan beliau...."

Mendengar ini, terkejutlah hati Ouw Sian Kok. Kalau orang tua ini kakek dari Han Ti Ong, berarti kakek ini dahulunya adalah Raja Pulau Es atau setidaknya tentu pangeran! Dan tentu ilmunya sudah amat tinggi, karena dia tadi sudah merasakan kelihaian kakek ini. Hatinya makin tunduk dan dia pun menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu di samping Liu Bwee. "Teecu Ouw Sian Kok mohon maaf sebesarnya kepada Lo- cianpwe," katanya.

Kakek itu terkekeh, "Heh-heh-heh, kalian ini dua orang muda memang tidak pernah bertobat! Sudah puluhan tahun hidup menghadapi bermacam penderitaan, masih saja tidak mau merubah dan mencari keributan pula di sini. Kalian berdua mempunyai bakat baik sekali untuk mempelajari hidup dan marilah kalian ikut bersamaku! Kalau kalian tidak mau, aku pun tidak akan memaksa, akan tetapi kelak kalian hanya akan menemui kekecewaan dan kesengsaraan belaka. Sebaliknya, kalau kalian suka ikut bersamaku, segala hal mungkin saja terjadi.”

Liu Bwee dan Ouw Sian Kok saling pandang. Biar pun mulut mereka tidak saling bicara, namun hati mereka sudah saling menerima getaran. Mereka tahu bahwa ke mana pun mereka pergi, asal mereka tidak berpisah, mereka akan merasa cukup kuat, berani, tabah dan bahagia! Maka keduanya lalu mengangguk-angguk tanpa bicara lagi.

Kakek itu merasa girang, lalu menoleh ke arah An Lu Shan. "An-goanswe, telah berbulan-bulan aku menyaksikan gerakanmu dan engkau memang pantas menjadi penggempur kelemahan kerajaan. Bukan urusanku untuk mencampuri. Nah, perkenankan kami bertiga pergi dari sini."

An Lu Shan cepat melangkah maju dan mengangkat kedua tangannya ke depan dada, "Lo-cianpwe, saya mohon petunjuk Lo-cianpwe mengenai perjuangan kami!" Jenderal ini maklum bahwa membujuk mereka untuk membantunya amatlah sukar, maka sedikitnya dia ingin memperoleh petunjuk dan nasehat dari kakek sakti itu.

Mendengar ini, kakek itu lalu memutar-mutar pancingnya yang mengeluarkan suara bersuitan dan makin lama makin nyaring kemudian terdengar suara itu melengking seperti suling dan berlagu! Barulah terdengar suaranya seperti orang bernyanyi, diiringi suara seperti suling yang timbul dari tali yang diputar cepat itu. "Yang lama akan terguling yang baru menggantikannya, yang baru akan menjadi lama dan ada yang lebih baru pula! Yang tua akan mati diganti yang muda, yang muda akan menjadi tua, mati dan diganti pula! Apakah yang kekal di dunia ini? Yang menyebabkan kematian dan kesengsaraan akan dilanda kematian dan kesengsaraan. Ayah dan anak menyukai kekerasan akan menjadi korban kekerasan pula!”

Suara melengking dan nyanyian terhenti. Semua orang tercengang dan diam, pikiran bekerja memecahkan arti nyanyian itu. Ketika mereka memandang, tiga orang itu telah pergi dari situ. Barulah para pengawal sadar dan hendak mengejar, akan tetapi An Lu Shan berkata, "Jangan ganggu mereka!"

Para pengawal yang mengikuti dari jauh kemudian melapor kepada An Lu Shan betapa kakek itu menggandeng tangan Ouw Sian Kok dan Liu Bwee melompati jurang yang amat lebar, kemudian lenyap di balik gunung!

An Lu Shan menghela napas panjang, mengingat-ingat dan mencoba memecahkan arti nyanyian itu, menyuruh orangnya menuliskan nyanyian kakek itu. Dia merasa girang ketika orang-orangnya yang terkenal ahli sastra menguraikan nyanyian yang merupakan ramalan baik baginya. Yang lama akan terguling, yang baru akan menggantikannya. Hal ini saja sudah jelas berarti bahwa perjuangannya menggulingkan pemerintahan lama pasti akan berhasil.

Apa-lagi bait-bait terakhir yang mengatakan bahwa ayah dan anak menyukai kekerasan akan menjadi korban kekerasan pula. Ditafsirkannya bahwa ayah dan anak tentulah Kaisar dan Putera Mahkota yang tentu akan dibunuhnya kalau dia berhasil merebut tahta kerajaan.

Memang demikianlah semua manusia. Selalu menafsirkan segala sesuatu dengan kepentingan dan keinginan hatinya sendiri seolah-olah segala sesuatu yang tampak di dunia ini khusus diperuntukkan dirinya belaka! Kenyataannya kelak akan terbukti, bahwa biar pun An Lu Shan behasil merampas tahta kerajaan, namun dia tidak dapat lama menikmati hasil pembunuhan besar-besaran dalam perang pemberontakan itu, karena tidak lama kemudian dia dan puteranya berturut-turut dibunuh oleh kaki tangannya sendiri!

Orang memang selalu lupa akan kenyataan hidup bahwa yang baru lambat laun akan menjadi lama juga, yang muda akan menjadi tua pula. Manusia selalu dibuai oleh khayal, selalu dipermainkan oleh pikirannya sendiri yang menjangkau jauh ke masa depan, menjangkau segala sesuatu yang tidak ada atau yang belum dimilikinya.

Manusia tidak mau melihat apa adanya, tidak mau mempedulikan ‘yang begini’ melainkan selalu mengarahkan pandang matanya kepada ‘yang begitu’, yaitu sesuatu yang belum ada, yang menimbulkan keinginan hatinya untuk memperolehnya. Manusia lupa bahwa ‘yang begitu’ tadi, artinya belum diperolehnya, kalau sudah diperoleh dan berada di tangannya akan menjadi ‘yang begini’ pula dan mata akan tidak mempedulikan lagi karena sudah memandang pula kepada ‘yang begitu’, ialah hal lain yang belum dimilikinya.

Betapa akan berada jauh keadaan hidup apabila kita menunjukkan pandang mata kita kepada ‘yang begini’, kepada apa adanya, mempelajari, mengertinya sehingga terjadilah perubahan karena dengan mengerti kebiasaan yang buruk, mengerti dengan sedalam-dalamnya, otomatis kebiasaan itu pun terhentilah. Dengan mengerti sedalamnya akan keadaan sekarang, saat ini, apa adanya setiap detik, benda apa pun juga, di mana pun juga, mengandung keindahan murni yang tidak dapat diperoleh keinginan. Lenyaplah batas yang memisahkan indah dan buruk, senang dan susah, untung dan rugi, aku dan engkau. Kalau sudah begini, baru kita tahu apa artinya cinta kasih, apa artinya kebenaran, kemurnian, kesucian dan apa artinya sebutan Tuhan yang biasanya hanya menjadi kembang bibir belaka.

Kita tinggalkan dulu Liu Bwee dan Ouw Sian Kok yang ikut pergi bersama kakek nelayan sakti yang bukan lain adalah kakek dari Han Ti Ong, bekas Raja Pulau Es yang telah puluhan tahun lamanya meninggalkan pulau itu dan merantau di tempat-tempat sunyi sebagai pertapa yang mengasingkan diri dari dunia ramai. Sudah terlalu lama kita meninggalkan Sin Liong dan Swat Hong, maka marilah kita mengikuti perjalanan dua orang itu.
********************
Seperti telah dituturkan di bagian depan, Sin Liong dan Swat Hong saling bertemu kembali di lereng puncak Gunung Awan Merah tempat tinggal Tee-tok Siangkoan Houw. Setelah mendengar tentang Bu-tong-pai yang dikuasai oleh The Kwat Lin yang memang sedang mereka cari-cari, Sin Liong bersama Swat Hong lalu meninggalkan lereng Awan Merah, turun gunung dan dengan cepat pergi menuju ke pegunungan Bu-tong-san.
Biar pun kedua orang muda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi ini telah menggunakan ilmu berlari cepat dan hanya mengaso apabila mereka merasa lapar dan terlalu lelah saja, namun karena jaraknya yang amat jauh, kurang lebih sebulan kemudian barulah mereka tiba di lereng Pegunungan Bu-tong-san. Di kaki gunung tadi mereka telah memperoleh petunjuk dari seorang petani di mana letak Bu-tong-pai, yaitu di atas salah satu di antara puncak-puncak pegunungan Bu-tong-san.
"Hati-hatilah, sumoi, kita sudah tiba di daerah Bu-tong-pai," Sin Liong berkata ketika mereka berhenti sebentar di bawah pohon untuk melepas lelah sambil menghapus keringat dari dahi dan leher.
"Hemm, kita hanya berurusan dengan The Kwat Lin, urusan pribadi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Bu-tong-pai. Kita harus menyatakan ini kepada semua orang Bu-tong-pai, kalau mereka tidak mau mengerti dan hendak membela The Kwat Lin, kita hantam mereka pula!"
SULING EMAS : JILID-0
Hati Sin Liong merasa khawatir sekali. Memang akibatnya amat berlawanan setelah bertemu dengan sumoi-nya ini. Girang dan juga khawatir. Serba susah. Dia tentu saja girang sekali dapat bertemu dengan sumoi-nya dalam keadaan selamat dan sehat. Akan tetapi di samping rasa girang ini, juga dia kini selalu dilanda kekhawatiran akan sifat Swat Hong.

Andai kata dia sendiri saja yang datang ke Bu-tong-pai, tentu dia akan membujuk agar The Kwat Lin mengembalikan pusaka-pusaka Pulau Es dan dia tidak akan menuntut hal ini. Akan tetapi, setelah pergi bersama Swat Hong, dia tahu bahwa tentu gadis ini akan menimbulkan keributan. Tentu Swat Hong akan memusuhi The Kwat Lin yang dianggapnya menjadi penyebab kesengsaraan ayah-bundanya. Hal ini menaruh dia di tempat yang amat tidak menyenangkan. Membantu Swat Hong memusuhi The Kwat Lin berlawanan dengan batinnya karena dia tidak ingin memusuhi siapa pun juga. Tidak membantu, tentu Swat Hong terancam bahaya dan tentu akan marah dan benci kepadanya!

Mereka sudah mendekati puncak di mana tampak dinding tembok Bu-tong-pai yang tinggi.

"Sumoi, kau serahkan saja kepadaku untuk bicara dengan orang-orang Bu-tong-pai. Kurasa mereka akan suka menerima alasan kita kalau mereka mendengar apa yang telah dilakukan oleh ketua baru mereka."

Swat Hong mengangguk. "Baiklah, terserah kepadamu, Suheng. Akan tetapi kalau sudah tiba saatnya, kuharap engkau jangan mencegah aku membunuh iblis betina itu!"

Sin Liong tidak menjawab, hanya menghela napas panjang. "Mari kita mendekati pintu gerbang itu. Heran sekali, mengapa sunyi amat? Bukankah kabarnya Bu-tong-pai merupakan perkumpulan yang besar dan mempunyai banyak anak murid?"

Akan tetapi ketika mereka tiba di depan pintu gerbang yang tertutup, tiba-tiba saja pintu gerbang yang lebar itu terbuka dari dalam, terpentang lebar-lebar. Tampaklah lima belas orang laki-laki tua, di antaranya beberapa orang tosu, melangkah keluar dengan sikap tenang namun penuh wibawa dan memandang tajam penuh selidik kepada Sin Liong dan Swat Hong!

Setelah para tokoh Bu-tong-pai itu keluar dan berhadapan dengan mereka, Sin Liong cepat menjura dengan hormat sambil berkata, "Apakah kami berhadapan dengan para Lo-cianpwe dari Bu-tong-pai?"

Dengan pandang mata curiga, belasan orang itu memandang Sin Liong. Tosu tua yang berada paling depan lalu bertepuk tangan dan berteriak, "Kalian keluarlah dan jangan melakukan sesuatu sebelum diperintah!"

Sebagai jawaban kata-kata ini, berlompatanlah delapan belas orang laki-laki gagah perkasa yang tadi bersembunyi di balik pohon-pohon dan rumpun di luar pintu gerbang. Mereka lalu membuat gerakan mengepung dan mereka siap dengan tangan di gagang pedang masing-masing.

Melihat ini timbul kemarahan di hati Swat Hong. "Bukan maling mengapa dikepung? Apakah kalian hendak menantang berkelahi? Aku ingin bertemu dengan ketua Bu-tong-pai. Lekas panggil dia keluar!"

Melihat sikap galak ini, kakek tosu yang agaknya memimpin mereka, berkata, "Siancai... kiranya Nona hendak bertemu dengan ketua Bu-tong-pai? Pinto (saya) ketuanya. Tidak tahu siapakah Nona dan ada keperluan apa hendak bertemu dengan pinto?"

Swat Hong terbelalak. Ia memandang kaget dan heran. "Eh...? Benarkah ini? Kami... kami tidak datang mencari Totiang...."

Para tosu dan semua orang itu saling pandang. Seorang di antara mereka, seorang tosu pula yang tinggi besar bermuka hitam, tidak setua kakek pertama, kemudian bertanya, "Kalau begitu, siapakah yang Nona cari?"

"Kami mencari The Kwat Lin...."

Baru selesai Swat Hong berkata demikian, kakek muka hitam itu sudah berteriak keras dan menubruk maju. Tangan kirinya mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Swat Hong sedangkan tangan kanannya menotok ke arah leher.

Swat Hong terkejut dan marah. Serangan kakek itu benar-benar amat ganas, kejam dan berbahaya sekali. Apa lagi ketika terasa olehnya betapa dari kedua tangan yang panjang dan besar itu menyambar hawa pukulan yang menandakan bahwa kakek itu memiliki tenaga yang kuat. "Heiiittt...!!" dia melengking panjang, kedua tangannya bergerak cepat menyambut.

"Dukkkk... plakkk...!!"

Tangan yang mencengkeram ke arah ubun-ubunnya dapat dia tangkis dengan kuat, sedangkan tangan yang menotok lehernya itu dielakkan dengan menundukkan kepala sedikit, kemudian jari tangannya mendahului sehingga dia berhasil menyambut serangan itu dengan totokan kepada pergelangan tangan. Pada detik berikutnya, selagi tosu muka hitam itu menyeringai kesakitan karena tangkisan itu membuat lengannya tergetar dan totokan itu melumpuhkan lengan satunya, kaki Swat Hong sudah bergerak menendang.

"Desss...!!" tubuh tosu muka hitam itu terjengkang dan jatuh terbanting ke atas tanah dengan cukup keras!

Semua orang terkejut, juga tosu tua itu mengerutkan alisnya. Tosu muka hitam itu adalah sute-nya, tingkat kepandaiannya sudah tinggi, bagaimana dapat dirobohkan oleh nona muda itu dalam segebrakan saja? Tak salah lagi, tentu kedua orang ini adalah orang-orang sebangsa The Kwat Lin yang pernah merampas kedudukan ketua Bu-tong-pai, demikian tosu tua yang bukan lain adalah Kui Tek Tojin itu berpikir. Hanya orang-orang sebangsa iblis betina The Kwat Lin saja yang memiliki ilmu kepandaian seperti setan itu.

Melihat tosu muka hitam roboh, para tosu dan tokoh Bu-tong-pai lainnya lalu serentak menyerbu, didahului oleh delapan belas orang murid Kui Tek Tojin yang bukan lain adalah Bu-tong Cap-pwe Eng-hiong itu. Karena mengira bahwa Swat Hong tentulah mempunyai hubungan dengan The Kwat Lin, serta merta mereka maju menyerbu dengan pedang di tangan.

"Hemm, kalian benar-benar mengajak berkelahi? Bagus, majulah semua! Hayo, jangan ada seorang pun yang tinggal. Suruh semua orang Bu-tong-pai maju mengeroyokku kalau kalian membela The Kwat Lin!" Swat Hong mencabut pedangnya dan matanya memancarkan cahaya seperti hendak menyebarkan maut.

Tiba-tiba Sin Liong membentak. "Tahan senjata...!!"

Tubuhnya berkelebat dan berloncatan di antara orang-orang Bu-tong-pai dan segera terdengar seruan-seruan kaget ketika tiba-tiba di mana saja bayangan pemuda itu berkelebat, senjata yang terpegang tangan terlepas dan berjatuhan ke atas tanah tanpa mereka ketahui sebabnya!

Sin Liong sudah berhadapan dengan Kui Tek Tojin, menjura dan berkata, "Harap Totiang berlaku sabar dan maafkan Sumoi. Ketahuilah, kami berdua datang ke Bu-tong-pai ini sama sekali bukan hendak berurusan dengan Bu-ting-pai karena kami tidak pernah berurusan dengan Bu-tong-pai. Kami datang untuk mencari The Kwat Lin, untuk urusan pribadi yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Bu-tong-pai. Harap Cuwi Totiang dan sekalian orang gagah Bu-tong-pai dapat mengerti ini dan jangan secara membuta membela The Kwat Lin tanpa lebih dulu mengetahui urusannya."

"Apa...? Membela The Kwat Lin? Bukankah Ji-wi ini sahabat-sahabat wanita iblis itu?"

"Bicara lancang dan ngawur!" Swat Hong membentak. "Aku datang untuk membunuh The Kwat Lin dan kalau kalian hendak membelanya, jelas bahwa kalian bukan manusia baik-baik dan biarlah kubunuh sekalian!"

"Siancai...! Siancai...!" Kui Tek Tojin berseru dan ia tersenyum memperlihatkan mulut yang tidak bergigi lagi. "Maafkan pinto dan semua murid Bu-tong-pai! Karena tidak tahu maka terjadi kesalah-pahaman ini. Semua ini gara-gara wanita iblis yang telah merusak nama baik Bu-tong-pai dan membuat kami selalu menaruh curiga kepada siapa pun. Silakan masuk, Sicu dan Nona. Marilah bicara di dalam!"

Sin Liong dan Swat Hong lalu diiringkan masuk ke dalam bangunan yang menjadi pusat Bu-tong-pai itu dan dipersilakan duduk di ruangan tamu. Setelah menerima suguhan minuman, Kui Tek Tojin bertanya, "Bolehkan pinto mengetahui siapa adanya Ji-wi dan mengapa menanam bibit permusuhan dengan The Kwat Lin? Pinto melihat ilmu kepandaian Ji-wi hebat sekali, mengingatkan pinto kepada kepandaian The Kwat Lin sehingga hal itu menambah lagi kecurigaan kami tadi."

“Kiranya tidaklah perlu kami memperkenalkan diri," jawab Sin Liong yang memang ingin menghindarkan diri sejauh mungkin dengan urusan kang-ouw sehingga lebih baik kalau tidak memperkenalkan diri. "Akan tetapi kami berdua mempunyai urusan pribadi dengan The Kwat Lin, dan mendengar bahwa dia telah menjadi ketua Bu-tongpai, maka kami berdua menyusul ke sini."

Kui Tek Tojin mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk. Diam-diam dia dapat menduga bahwa dua orang muda yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa ini tentu ada hubungannya pula dengan Pulau Es! Akan tetapi dia tidak berani banyak bertanya. Kui Tek Tojin kemudian menceritakan betapa The Kwat Lin yang merasa bekas murid Bu-tong-pai itu dengan kekerasan merampas kedudukan ketua dan diam-diam mengatur pemberontakan terhadap Kaisar. Karena usahanya menyelundupkan muridnya ke istana gagal, dia menjadi seorang buruan pemerintah.

"Betapa pun lihainya, iblis betina itu tidak berani menghadapi pasukan pemerintah, maka dia lalu melarikan diri bersama para pengikutnya, meninggalkan Bu-tong-pai. Kami mengambil alih Bu-tong-pai kembali dan belum lama ini, hampir saja kami menjadi sasaran penyerbuan pemerintah. Baiknya kami telah dapat menceritakan keadaan kami dan sekarang, mau tidak mau, untuk membuktikan bahwa Bu-tong-pai tidak bersekutu dengan pemberontak, terpaksa kami harus membantu pemerintah. Hari ini pun Bu-tong Cap-pwe Eng-hiong, murid-murid pinto, terpaksa akan berangkat ke utara melakukan tugas penyelidikan terhadap pemberontakan An Lu Shan."

Mendengar ini, Sin Liong dan Swat Hong merasa kecewa sekali. Jauh-jauh mereka menyusul ke Bu-tong-san, hanya untuk mendengar bahwa The Kwat Lin tidak berada lagi di tempat itu dan sekarang telah menjadi orang buruan pemerintah.

"Aihhh... ke mana kita harus mencarinya?" Swat Hong berkata kesal sambil menoleh kepada Sin Liong.

"Nona, untuk menebus kesalahan kami tadi, baiklah kami beri-tahukan bahwa kalau tidak salah dugaan kami, The Kwat Lin melarikan diri ke tempat kediaman Kiam-mo Cai-li. Kalau Ji-wi mencarinya ke sana, tentu akan setidaknya mendengar lebih jauh tentang wanita itu."

"Kiam-mo Cai-li? Siapa dia? Dan di mana tempat tinggalnya?" Swat Hong mendesak dan wajahnya berseri karena timbul pengharapan lagi di dalam hatinya.

“Dia adalah seorang datuk kaum sesat, sorang wanita yang tinggi ilmunya dan telah bersekutu dengan The Kwat Lin untuk membantu pemberontak. Kiam-mo Cai-li tinggal di Rawa Bangkai, di kaki pegunungan Lu-liang-san, tidak begitu jauh dari sini."

"Suheng, tunggu apa lagi? Mari kita cepat pergi ke Lu-liang-san!" Swat Hong dengan penuh semangat sudah bangkit berdiri.

Sin Liong terpaksa juga bangkit berdiri, akan tetapi Ketua Bu-tong-pai itu berkata, "Harap Ji-wi berhati-hati. Rawa Bangkai merupakan daerah yang sangat berbahaya. Selain dua wanita itu amat sakti, juga Kiam-mo Cai-li mempunyai banyak anak buah. Bahkan kaki tangan The Kwat Lin yang tadinya berada di sini sekarang pun ikut pergi bersamanya."

"Terima kasih atas peringatan Lo-cianpwe," kata Sin Liong sambil memberi hormat dan karena dia pun merasa amat tidak enak telah mengganggu orang-orang tua di Bu-tong-pai ini, dia cepat mengajak sumoi-nya pergi dari situ. Setelah berpamit, sekali berkelebat saja dua orang muda itu lenyap.

Kui Tek Tojin menghela napas dan mengelus jenggotnya, "Siancai..... dua orang muda yang amat luar biasa. Pinto yakin bahwa mereka tentulah orang-orang dari Pulau Es juga. Gerakan mereka aneh seperti gerakan Kwat Lin, akan tetapi kalau Pulau Es telah membuat Kwat Lin menjadi seperti iblis, dua orang muda itu seperti dewa!"
********************
"Suheng, bukankah di lereng puncak yang sana itu tempatnya?"

"Kalau tidak salah memang di sana, Sumoi. Akan tetapi sekali ini kita melakukan pekerjaan yang amat berbahaya, maka kuharap Sumoi suka bersikap tenang dan sabar, tidak tergesa-gesa."

Swat Hong mengangguk, mengeluarkan sapu-tangan sutera dan menghapus keringat dari leher dan dahinya. Mukanya kemerahan, pipinya seperti buah tomat masak, matanya bersinar-sinar penuh semangat, rambutnya agak kusut dan anak rambut di dahinya basah oleh keringat.

Sin Liong memandang sumoi-nya dan diam-diam dia menaruh hati iba kepada sumoi-nya. Seorang dara muda seperti sumoi-nya sudah harus mengalami hidup merantau dan sengsara seperti ini! Padahal seorang dara muda seperti sumoi-nya itu sepatutnya berada di dalam rumah bersama keluarga, hidup aman tenteram dan penuh kegembiraan, bermain-main di dalam taman bunga yang indah, bersendau-gurau, tertawa, bernyanyi, membaca sajak, atau jari-jari tangan yang kecil meruncing itu menggerakkan alat-alat menyulam. Tidak seperti sekarang ini, setiap saat menghadapi bahaya, selalu bermain dengan pedang dan maut! Dia menarik napas panjang.

Mereka berdua duduk di bawah pohon yang tinggi besar, berteduh di dalam bayangan pohon. Hari itu amat panasnya dan mereka telah melakukan perjalanan jauh sejak pagi tadi seharian itu.

"Suheng...," sesuatu dalam suara dara itu membuat Sin Liong cepat menengok dan dia melihat wajah yang cantik itu menunduk. Aneh sekali! Ada apa lagi gadis ini bersikap seperti orang malu?

"Ada apakah, Sumoi?" Swat Hong mencabut sebatang rumput, mempermainkannya dengan jari-jari tangannya, kemudian dalam keadaan tidak sadar meremas rumput itu sampai hancur di tangannya. "Suheng, setelah selesai tugas kita memenuhi pesan terakhir Ayah, lalu bagaimana?"

Tersentuh hati Sin Liong. Baru saja dia membayangkan nasib dara itu dan sekarang agaknya Swat Hong juga membayangkan masa depannya. "Kalau kita sudah berhasil memenuhi pesan Suhu, kita akan mengembalikan pusaka-pusaka itu ke Pulau Es."

"Hemm, kemudian?' Swat Hong masih tetap menunduk dan kini dia bahkan telah mencabut lagi sebatang rumput dan dimasukkan ke dalam mulutnya yang kecil dan rumput itu digigit-gigitnya.

"Kemudian? Aku akan membantumu mencari ibumu sampai dapat, Sumoi. Akan kita jelajahi seluruh pulau-pulau di sekitar Pulau Es, dan kalau tidak berhasil, kita akan mendarat lagi di daratan besar dan mencari sampai ketemu. Sebelum bertemu dengan ibumu, aku tidak akan berhenti mencari."

Lama tiada kata-kata keluar dari mulut yang menggigit-gigit rumput itu. Akhirnya Swat Hong bertanya juga, "Kalau sudah bertemu dengan ibu?"

"Kalau sudah ketemu?" Sin Liong mengulang pertanyaan itu dengan heran, karena hal itu terasa aneh kalau ditanyakan. "Tentu saja engkau hidup bersama ibumu...."

"Dan kau?"

"Aku? Aku... aku agaknya akan pergi merantau karena tidak ada apa-apa lagi yang mengikatku, tidak ada tugas. Aku bebas seperti burung di udara, terbang ke mana pun angin membawaku."

Kembali suasana hening, bahkan kini Sin Liong terpengaruh oleh pertanyaan itu dan merenung seolah sudah merasakan betapa nikmatnya bebas terbang di udara tanpa beban tugas sedikit pun.

"Suheng...."

"Hemmm....?"

"Kalau bertemu dengan ibu engkau akan meninggalkan kami?"

"Sudah kukatakan begitu, bukankah kau sudah aman kalau berada di samping Ibumu?"

"Bagaimana kalau... kalau kita gagal mencari ibu? Bagaimana kalau sampai tidak bertemu? Bagaimana pula andai kata Ibu... ibu sudah meninggal?"

Sin Liong terkejut. Hal ini sama sekali tidak pernah terbayangkan. Dihadapkan dengan kemungkinan kenyataan ini dia terkejut dan bingung, sejenak tidak mampu menjawab. Dia berpikir, kemudian menjawab tanpa keraguan sedikit pun juga, "Kalau begitu, tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu, Sumoi."

"Kita tinggal di mana?"

"Di mana saja sesukamu."

"Kita berkumpul?"

"Ya."

"Sampai kapan?"

Kembali Sin Liong termangu-mangu dan tak dapat menjawab.

Swat Hong berkata lagi, "Kalau demikian, aku jadi merepotkanmu, Suheng. Aku merampas kebebasan yang kau idam-idamkan tadi."

"Ah, tidak! Tidak sama sekali! Di dalam kebebasan seorang diri di dunia itu memang terdapat kenikmatan, akan tetapi di dalam melakukan sesuatu untuk orang, terutama untukmu, juga terdapat kenikmatan besar."

"Engkau menjadi seperti seekor burung yang terikat kakimu dengan kakiku, Suheng."

"Tidak, tidak begitu! Kita seperti dua ekor burung bebas yang melakukan penerbangan bersama!"

"Untuk selamanya, Suheng?"

Kembali Sin Liong termangu-mangu. "Aihh, tentu saja tidak. Engkau harus menikah, dan aku akan menjadi wakil orang tuamu. Aku yang akan meneliti, memilihkan calon suami, sampai engkau berhasil menjadi isteri seorang laki-laki yang patut menjadi suamimu."

"Tidak sudi!!" Tiba-tiba Swat Hong bangkit berdiri, menjauh dan membelakangi Sin Liong. Tak terasa lagi rumput di mulutnya sudah dikunyah-kunyah!

Sin Liong terbelalak memandang tubuh belakang sumoi-nya. Dia benar-benar terkejut dan heran sekali mengapa sumoi-nya mendadak marah seperti itu, padahal dia bicara dengan setulus hatinya, menyatakan keinginannya yang baik terhadap sumoi-nya yang akan dibelanya itu. "Sumoi...!" dia memanggil dan gadis itu membalikan tubuh.

Untuk kedua kalinya Sin Liong terbelalak. Sumoi-nya itu, biar pun tidak sesenggukan, tapi telah menangis. Sepasang pipinya basah air mata dan masih ada butiran air mata yang bergerak menurun dari pelupuk matanya.

"Suheng, engkau... engkau kejam...!" dan sekarang Swat Hong menangis betul-betul, sesenggukan dan menjatuhkan dirinya ke atas rumput, menutupi muka dengan kedua tangan, membiarkan air matanya membanjir ke luar dari celah-celah jari tangannya.

Sin Liong mengerutkan alisnya, lalu menggeleng kepala. "Kejam...?" Dia seperti hendak bertanya kepada bayangan sendiri, mengapa dia yang akan membela gadis itu bahkan dimaki kejam.

Swat Hong memeras air matanya, menghapus muka dengan sapu-tangan, kemudian mengangkat mukanya memandang. "Suheng, kau memang kejam. Kau mau enakmu sendiri saja! Kau hendak membiarkan aku sengsara, meninggalkan aku kepada orang lain agar kau dapat bebas merantau seorang diri. Padahal engkau pun tahu bahwa aku tidak punya siapa-siapa lagi, aku hanya mempunyai engkau seperti engkau mempunyai aku. Akan tetapi... uh-uh-uh... kau ingin sekali mencampakkan aku agar dapat bebas. Kalau begitu, tinggalkan saja aku sekarang...!"

"Eh-eh, Sumoi..., bagaimana pula ini? Siapa yang akan memberikanmu kepada orang lain? Tentang pernikahan itu.... tentu saja kalau engkau sudah bertemu dengan jodohmu, dengan seorang pria yang kau cinta. Aku berniat baik, sama sekali tidak ada keinginan hatiku untuk meninggalkanmu, sampai engkau berhasil memperoleh pilihan hatimu. Kalau engkau sudah menikah, apa kau kira aku harus menungguimu saja?"

"Tidak! Aku tidak akan menikah kalau hanya agar kau dapat bebas! Aku hanya akan menikah kalau engkau sudah menikah lebih dulu!" Kini Swat Hong bicara penuh semangat, seolah-olah dia merasa penasaran.

Sin Liong membelalakkan matanya memandang. "Eh? Mengapa begitu? Aku... aku selamanya tidak akan menikah, Sumoi!"

Swat Hong menampar tanah. "Tass!!" lalu memandang dengan muka merah kepada suheng-nya, disambung kata-kata nyaring, "Aku pun tidak akan menikah!"

"Wah, mana bisa? Aku seorang pria, Sumoi. Tidak menikah selamanya pun tidak apa-apa, akan tetapi engkau seorang wanita...."

"Apa bedanya? Kalau pria bisa tidak menikah selamanya, apakah wanita tidak bisa? Pendeknya, aku tidak akan menikah sebelum engkau menikah, Suheng!"

Sin Liong menarik napas panjang dan duduk bersandar pohon, tidak menjawab lagi. Gadis ini sedang marah, tidak baik kalau dilayani, pikirnya. Dia yakin bahwa ucapan sumoi-nya itu hanyalah terdorong oleh kemarahan. Kalau kelak sumoi-nya bertemu dengan seorang pemuda yang baik dan mereka saling mencinta, tentu pendirian sumoi-nya tentang pernikahan tidak seperti sekarang. Dia tidak mungkin dapat membayangkan seorang dara seperti sumoi-nya, cantik jelita, keturunan raja, pandai dan sukar dicari keduanya, sampai menjadi perawan tua atau bahkan tidak menikah sama sekali. Ngeri dia memikirkan ini!

Melihat sampai lama suheng-nya hanya duduk termenung, agaknya Swat Hong mulai menyesali sikapnya. Air matanya sudah kering, sisanya dihapus dengan sapu-tangan dan dia pindah duduk dekat suheng-nya. Mereka berhadapan, akan tetapi Sin Liong pura-pura tidak memperhatikan ulah sumoi-nya.

"Suheng...."

"Hemmm...?"

"Kau marah kepadaku?"

Mau tidak mau Sin Liong tersenyum dan memandang wajah itu. Pada saat seperti itu, terasa benar olehnya betapa dia amat sayang kepada Swat Hong, sayang dan kasihan. "Kalau ada seorang yang marah di sini, agaknya engkaulah yang marah, Sumoi, bukan aku."

"Suheng, katakanlah. Mengapa engkau tidak mau menikah?"

Pertanyaan ini merupakan serangan tiba-tiba yang membuat Sin Liong bingung bagaimana untuk menjawabnya. Dia mengerutkan alisnya, mengosok-gosok dagunya sebelum menjawab, kemudian terpaksa menjawab juga karena sepasang mata bintang yang memandang tajam kepadanya itu sudah menanti jawaban dengan tidak sabar lagi. "Aku tidak ingin menikah karena bagiku, pernikahan merupakan ikatan, sumoi. Aku ingin bebas, bebas lahir batin dan betapa mungkin aku dapat bebas kalau aku menikah, berkeluarga dan mempunyai anak isteri? Bagaimana aku dapat bebas kalau aku memiliki harta benda, kedudukan dan lain ikatan duniawi lagi?"

Swat Hong termangu-mangu, agaknya tertegun mendengar jawaban suheng-nya. Sampai lama dia diam saja, kemudian tiba-tiba bertanya, "Suheng, apakah engkau ingin menjadi pertapa?"

Sin Liong tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Seorang pertapa berarti mengikatkan diri dengan pertapaannya. Tidak, Sumoi. Aku ingin bebas dari segala-galanya."

"Suheng kita... kita... dahulu dijodohkan oleh Ayah, bukan?"

Sin Liong terkejut. Tak disangkanya bahwa Swat Hong akan menyinggung masalah ini. Dia hanya mengangguk sambil memandang wajah sumoi-nya penuh selidik. Apa lagi yang akan dikemukaan sumoi-nya ini?

"Dahulu kita sudah bicara di perahu itu dan memutuskan bahwa orang hanya dapat mengikat jodoh jika saling mencinta. Suheng..., apakah... apakah engkau tidak mencinta seorang wanita?"

Sin Liong cepat menggelengkan kepalanya.

"Aku tahu bahwa Soan Cu mencintamu, Suheng! Apakah engkau tidak mencintanya? Dia cantik jelita dan pandai...."

"Tidak, Sumoi, kalau yang kau maksudkan adalah cinta birahi."

"Akan tetapi Suheng menolongnya, membela dan melindunginya. Bukankah itu membuktikan bahwa Suheng mencintainya?"

"Memang aku mencintanya seperti aku mencinta orang lain, akan tetapi bukanlah cinta umum yang mendorong untuk menikah, kemudian setelah menikah berusaha memiliki isterinya lahir batin sehingga timbullah siksaan batin dan kesengsaraan, pertentangan, bahkan mungkin cemburu dan kebencian. Tidak, aku tidak mencinta Soan Cu seperti yang kau maksudkan itu."

"Dan bagaimana dengan Siangkoan Hui? Dia manis sekali dan dia terang-terangan mengaku cintanya kepadamu, Suheng. Apakah engkau tidak ingin mengambilnya sebagai isteri?"

"Hemmm, sama sekali tidak. Apa lagi aku mendengar bahwa dia telah bertunangan dengan orang lain."

"Jadi tidak ada wanita yang kau pilih untuk menjadi isterimu, Suheng?"

Sin Liong menggelengkan kepala, hatinya tidak enak membicarakan soal ini.

"Tidak ada dara yang kau cintai?"

Sin Liong menggeleng lagi.

"Termasuk aku...?"

Sin Liong terkejut. Sungguh bingung dia memikirkan sumoi-nya ini. Ketika dia mengangkat muka memandang, dia melihat sumoi-nya juga sedang memandangnya dengan sikap aneh. Mata sumoi-nya yang biasanya tajam lebar dan amat indahnya itu kini agak terpejam, seperti mata mengantuk, sinar matanya sayu dan seperti orang mau menangis, bibirnya tersenyum tipis akan tetapi seperti orang menahan rasa nyeri, cuping hidungnya agak kembang kempis dan jelas tampak dadanya naik turun diburu pernapasan.

"Sumoi, kau tahu bahwa aku cinta kepadamu, aku mencintamu seperti seorang Sumoi, seperti seorang adik, seperti seorang sahabat dan aku rela untuk mempertaruhkan nyawa membela dan melindungimu. Aku merasa sebagai pengganti ayah-bundamu. Aku akan merasa berbahagia kalau bisa melihatmu bahagia, Sumoi, karena itu, percayalah bahwa aku tidak akan meninggalkanmu sebelum...."

"Sudahlah... sudahlah...! Mari kita melanjutkan perjalanan, tugas kita masih belum selesai!" Swat Hong sudah meloncat bangun dan berlari cepat mendaki puncak yang menjulang tinggi itu.

"Sumoi, perlahan dulu...! Hati-hatilah...!" Sin Liong melompat dan terpaksa harus mengerahkan ilmunya untuk menyusul sumoi-nya yang lari seperti setan itu.

Karena agaknya Swat Hong berlari secara ngawur saja, asal cepat dan naik ke puncak, untuk melampiaskan kemendongkolan hatinya, maka mereka tersesat jalan, bukan menuju ke Rawa Bangkai yang berada di lereng timur, melainkan memasuki hutan lebat di lereng barat! Mereka tidak tahu bahwa ada banyak pasang mata mengintai ketika mereka memasuki hutan itu dan tiba-tiba bermunculan banyak orang yang mengeluarkan bentakan-bentakan nyaring.

Sin Liong dan Swat Hong berdiri tegak memandang ke sekeliling dan Swat Hong membelalakkan matanya saking herannya. Mereka berdua telah dikurung oleh puluhan orang yang tubuhnya katai, pendek sekali. Yang tertinggi di antara mereka hanyalah setinggi dada Swat Hong! Kalau saja tidak melihat muka orang-orang itu, tentu Swat Hong mengira bahwa mereka berdua dikurung oleh serombongan anak nakal. Akan tetapi wajah mereka yang penuh kumis pendek dan penuh keriput itu jelas adalah wajah orang-orang yang sudah dewasa, bahkan wajah laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun!

Karena tubuh mereka yang kerdil itu amat pendek, mereka kelihatan kuat dan kokoh. Wajah mereka keruh dan marah, mengandung kekejaman dan di tangan mereka tampak senjata yang bermacam-macam, senjata yang aneh-aneh tidak lumrah senjata umumnya. Gerakan mereka ketika mengurung dan bergerak mengelilingi Swat Hong juga amat aneh, kadang-kadang tumit mereka diangkat, kadang-kadang mereka bergerak sambil berjongkok sehingga menjadi makin pendek seperti katak, kadang-kadang berloncatan!

"Kalian mau apa? Pergi...!!" Swat Hong membentak dan mengirim tendangan berantai ke arah empat orang katai terdekat.

Akan tetapi betapa herannya ketika melihat empat kali tendangannya yang beruntun itu mengenai angin kosong. Dengan gerakan yang aneh dan cekatan sekali, empat orang kerdil itu telah mampu mengelak, bahkan hampir saja ujung sepatu kiri Swat Hong terbabat sebatang pedang yang bentuknya seperti gergaji!

"Hati-hati, Sumoi. Mereka bukanlah lawan lemah," Sin Liong berbisik dan pemuda ini sudah menyambar sebatang kayu dahan pohon, mematahkannya dan membuat sebatang alat pemukul sebesar lengan. "Kita hadapi mereka dengan saling melindungi," kembali Sin Liong berbisik.

Swat Hong adalah seorang dara yang keras hati dan tidak mengenal artinya takut. Akan tetapi melihat hasil tendangannya tadi, dia pun maklum bahwa rombongan orang kerdil ini tidak boleh di buat main-main, maka dia cukup cerdik untuk mentaati bisikan suheng-nya. Mereka lalu berdiri tegak, memasang kuda-kuda dengan punggung saling membelakangi hampir bersentuhan.
Swat Hong memegang pedang dengan tangan kanan yang diangkat, sedangkan tangan kiri dengan jari-jari terbuka, miring di depan dada. Sin Liong pun memasang kuda-kuda yang sama, hanya bedanya, dia memegang alat pemukulnya dengan tangan kiri. Keduanya berdiri diam tak bergerak sama sekali, hanya mata mereka yang melirik ke kanan-kiri mengikuti setiap gerak-gerik para pengurung mereka.

"Harap Cuwi jangan salah paham," Sin Liong berseru nyaring, "Kami datang bukan untuk memusuhi Cuwi sekalian atau siapa pun juga di tempat ini. Kami datang karena tersesat hendak mencari Rawa Bangkai. Kalau Cuwi dapat memberi tahu di mana adanya Rawa Bangkai, kami akan berterima kasih sekali."
Akan tetapi, orang-orang kerdil itu tetap saja bergerak maju mengelilingi mereka sambil berjingkrak dan membuat gerakan aneh-aneh. Dua orang muda-mudi itu tetap berdiri tegak, sama sekali tidak bergerak, namun semua urat syaraf di tubuh mereka menegang dalam persiapan.

Salah satu di antara orang kerdil itu bertanya sambil terus mengelilingi mereka berdua, "Mau apa kalian mencari Rawa Bangkai?"

Kini Swat Hong yang sudah hilang sabarnya itu menjawab dengan bentakan, "Orang-orang kerdil menjemukan! Kami mencari seorang yang bernama The Kwat Lin!"

Mata orang-orang itu melotot, namun mereka masih tetap mengelilingi dua orang muda itu. Orang yang memegang sebatang golok besar bercincin empat, agaknya pemimpin mereka, yang mukanya berseri dan kumisnya kecil melintang, bertanya lagi, "Mau apa mencari The Kwat Lin?"

"Mau kubunuh mampus!" jawaban Swat Hong ini seperti merupakan aba-aba saja.

Serentak terdengar mereka memekik aneh dan kedua orang itu terpaksa harus mengerahkan sinkang untuk melindungi jantung karena pekik-pekik aneh itu merupakan penyerangan luar biasa melalui suara yang disertai khikang. Tentu saja dua orang muda yang memiliki kesaktian hebat dari Pulau Es itu tidak dapat begitu mudah dikalahkan hanya dengan pekik-pekik itu.

Melihat betapa dua orang muda itu sama sekali tidak terpengaruh, tiba-tiba si pemegang golok bercincin berteriak. Mulailah tiga puluh enam orang kerdil itu menyerang dengan cara aneh, yaitu mereka menyerang sambil lari, tampaknya sambil lalu saja akan tetapi karena banyak senjata yang menyerang, tentu saja amat berbahaya.

Sin Liong menggerakkan tongkat pendek melindungi diri, sedangkan Swat Hong juga menangkis dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaga sinkang-nya.

"Trang-trang-cringgg...!!" bunyi senjata tajam bertemu.

Terdengar pekik kaget dari beberapa orang kerdil karena senjata mereka yang tertangkis oleh tongkat pendek dan pedang itu membalik, bahkan ada empat orang yang terpaksa melepaskan senjata dari pegangan tangan mereka yang terasa tergetar hebat dan panas itu.

Orang-orang kerdil itu ternyata cerdik sekali. Pertemuan senjata satu kali itu saja cukup membuat mereka maklum bahwa dua orang muda yang mereka keroyok itu memiliki kekuatan sinkang yang hebat, jauh melebihi mereka. Maka mereka lalu mengurung dan menyerang bertubi-tubi, bergantian tanpa mau mengadu senjata lagi. Setiap senjata mereka ditangkis, mereka menarik kembali senjata itu dan sudah ada temannya yang melanjutkan serangan dari arah lain.

"Suheng, biar kubasmi setan-setan pendek ini!" Swat Hong menjadi tidak sabar dengan cara suheng-nya yang hanya bertahan dan melindungi diri saja. Hal itu dianggapnya terlalu mengalah dan terlalu ‘memberi hati’ kepada para pengeroyok yang menjemukan hatinya itu.

Sebelum Sin Liong menjawab, Swat Hong sudah meloncat ke depan mengeluarkan suara melengking yang tinggi dan dahsyat. Pedangnya berkelebatan dan disusul dorongan tangan kiri yang mengandung tenaga Inti Salju, maka terdengarlah pekik berturut-turut dan robohlah lima orang kerdil, yang dua orang terkena sambaran pedang, yang tiga lagi roboh oleh dorongan tangan kiri dan terjangan kaki Swat Hong!

Kacaulah pengeroyokan itu karena dapat dibayangkan betapa kaget dan gentarnya hati para orang kerdil ketika dalam segebrakan saja setelah gadis itu membalas, di pihak mereka roboh lima orang! Belum lagi pemuda yang kelihatan lebih lihai itu bergerak menyerang! Kalau begini keadaannya, tentu mereka akan roboh semua. Si kerdil bergolok yang memimpin mereka segera mengeluarkan suitan aneh dan gerombolan itu lalu melarikan diri sambil membawa lima orang teman mereka yang terluka. Si pemegang golok berteriak, "Hai, dua orang muda sombong, kalau memang gagah, ikutlah kami dan lawanlah majikan kami The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li!"

"Suruh mereka keluar menemui kami!" Swat Hong membentak.

"Heh-heh, engkau takut kami jebak, ya? Orang gagah macam apa kamu itu?" si pemegang golok mengejek.

"Keparat, siapa takut?" Swat Hong melompat dan mengejar.

"Sumoi...!" Sin Liong memperingatkan, akan tetapi Swat Hong tentu saja tidak mau peduli karena dia sudah marah sekali, apa lagi mendengar nama The Kwat Lin, dia sudah bersemangat dan ingin segera berhadapan dengan musuh besarnya itu.

Melihat sumoi-nya terus mengejar, terpaksa pula Sin Liong juga meloncat dan berlari cepat mengejar. Orang-orang kerdil itu berlari terus mendekati lereng bukit, keluar dari hutan memasuki daerah yang tandus berbatu-batu. Di tempat itu terdapat banyak goa batu yang besar-besar, dan dari luar tampak menghitam karena di sebelah dalam goa tidak memperoleh matahari sehingga amat gelap. Dari belakang Sin Liong melihat betapa orang-orang kerdil itu bagaikan rombongan semut saja dengan sigapnya berloncatan memasuki goa-goa di sekitar itu, akan tetapi sebagian banyak memasuki sebuah goa terbesar dan yang berada di tengah-tengah di antara semua goa.

"Sumoi, berhenti dulu! Ini bukanlah sebuah rawa!" teriak pula Sin Liong, akan tetapi terlambat karena Swat Hong dengan penuh semangat telah menerjang masuk dan lenyap ke dalam goa besar.

"Ah, Sumoi terlalu bersemangat sehingga sikapnya sembrono dan berbahaya," Sin Liong mengomel dan terpaksa dia pun cepat mengejar memasuki goa besar itu. Goa itu gelap sekali, gelap dan sunyi. "Sumoi...!!" dia berteriak memanggil, akan tetapi hanya gema suaranya sendiri yang menjawab dari berbagai jurusan!

Sin Liong terkejut dan dapat menduga bahwa goa itu merupakan terowongan yang bercabang-cabang. Dia maju terus dan benar saja dugaannya, goa yang gelap itu merupakan lorong dan akhirnya tiba di depan terowongan yang bersimpang tiga!

"Sumoi...!!" dia berteriak lagi, dan jauh dari depan terdengar jawaban gema suaranya sendiri lima kali berturut-turut!

"Celaka," pikirnya. "Kita telah terjebak!"

Akan tetapi dia harus dapat menemukan sumoi-nya yang dia khawatirkan terjeblos ke dalam perangkap orang-orang kerdil. Sin Liong tanpa ragu-ragu memilih jalan ke kanan. Setelah kini matanya terbiasa, ternyata terowongan itu tidaklah terlalu gelap benar. Ada sinar matahari yang masuk dan memantul sampai ke dalam terowongan, entah dari mana masuknya sinar itu. Dia berjalan agak cepat ke depan dan terowongan yang dipilihnya itu ternyata berakhir pula dengan simpangan, kini simpang empat!

"Aihhh...!" dia mengeluh lalu mengerahkan khingkangnya berteriak memanggil, "Sumoi...!" gema suaranya mengaung dan membuat panggilannya itu tidak jelas lagi, mirip auman suara harimau marah!

Dia lari memasuki terowongan sebelah kiri setelah meneliti ke bawah. Tidak terlihat bekas tapak sepatu sumoi-nya saking banyaknya tapak kaki di situ, tapak kaki kecil-kecil dari orang-orang kerdil. Terowongan ini panjang sekali, menurut taksirannya tentu tidak kurang dari dua li jauhnya. Hatinya makin risau. Sudah begini lama dan jauh dia mengejar dan mencari Swat Hong, akan tetapi bekas dan jejaknya pun belum ditemukan.

"Sumoi...!!" dia berteriak lagi kuat-kuat ketika lorong itu berakhir di sebuah ruangan bawah tanah atau dalam gunung yang cukup lebar.

Sebagai jawabannya, tiba-tiba terdengar suara berdesingan, dan dari depan, kanan dan kiri menyambar sinar-sinar hitam. Pandang mata yang tajam dari Sin Liong dapat melihat bahwa benda-benda bersinar itu adalah anak panah-anak panah yang dilepas dari tempat rahasia. Cepat dia memutar tongkat pendek yang berubah menjadi segulung sinar yang melindungi seluruh tubuhnya. Sampai beberapa lama dia menangkis dan akhirnya penyerang gelap itu pun berhenti. Di ruang itu kini penuh dengan anak panah hitam yang agaknya beracun. Dia bergidik. Bagaimana nasib sumoi-nya di tempat berbahaya ini?

"Sumoi...!!"

Sambil berteriak dia segera membalikkan tubuhnya karena ruangan itu merupakan jalan buntu, lalu berlari kembali melalui terowongan yang panjangnya ada dua li itu, sampai dia tiba di jalan simpang empat tadi. Kini dia melihat terowongan kedua sambil berteriak-teriak memanggil nama sumoi-nya. "Swat Hong...! Han Swat Hong...!!"

Panggilan ini dia lakukan dengan pengerahan khikang sekuatnya sehingga dinding terowongan itu menjadi tergetar karenanya. Namun tidak ada jawaban melainkan gema suaranya sendiri yang melengking panjang. Sin Liong menjadi panik, matanya terbelalak dan mukanya pucat. Baru sekali ini dia merasa sedemikian gelisahnya dan dia menyesali diri sendiri mengapa dia tadi tidak melarang sumoi-nya memasuki goa-goa rahasia penuh jebakan ini, kalau perlu melarang dengan kekerasan!

Dia berlari terus dengan hati gelisah, akan tetapi dengan penuh kewaspadaan karena dia maklum bahwa tempat itu merupakan tempat rahasia yang amat berbahaya, perpaduan antara kekuasaan alam dan manusia. Tak mungkin tangan manusia membuat goa-goa dan lorong-lorong batu dalam gunung ini, akan tetapi hasil ciptaan alam ini dipergunakan oleh manusia, diperbaiki dan bahkan dipasang jebakan-jebakan yang jahat!

"Haiiitttt!" Sin Liong cepat meloncat ke atas, lalu meluncur kembali ke belakang sambil berjungkir balik dan jatuh berdiri kembali di jalan yang telah dilalui.

Ia terbelalak memandang ke depan. Kiranya secara tiba-tiba sekali, tentu digerakkan oleh alat rahasia yang terinjak olehnya tadi ketika berlari, di depannya telah terbuka lubang yang panjangnya ada tiga meter, terbuka secara tiba-tiba. Kalau dia tadi tidak berhasil meloncat dan lari terus, tentu akan terjeblos ke dalam jurang itu. Terdengar suara mendesis-desis dari dalam lubang yang hitam gelap, akan tetapi desis itu dan bau amis membuat Sin Liong bergidik. Tahulah dia bahwa di dalam lubang itu terdapat banyak ular berbisa! Jebakan yang amat keji!

"Keparat...!" desisnya dengan marah melihat kekejaman manusia kerdil itu yang tidak segan mempergunakan cara yang amat menjijikkan untuk mengalahkan lawan.

Dia melompati lubang itu dan melanjutkan larinya. Ketika dia berjalan satu li lebih, lorong itu pun berhenti di jalan buntu yang merupakan sebuah ruangan besar pula. Bahkan ruangan ini cuacanya cukup terang, entah memperoleh sinar dari mana, agaknya ada lubang-lubang dari mana sinar matahari dapat masuk.

Tiba-tiba, seolah-olah muncul dari dalam dinding batu, tampak seorang kerdil yang luar biasa. Bentuknya pendek tegap seperti orang-orang kerdil yang tadi, akan tetapi wajahnya menandakan bahwa dia sudah tua dan sepasang matanya seperti bintang pagi, tajam bersinar-sinar. Kumis dan jenggotnya panjang, sedangkan bentuk pakaiannya lebih mewah dari yang lain. Kakek kerdil ini memegang sebatang pedang yang bersinar-sinar tanda bahwa pedang itu adalah sebuah benda pusaka yang ampuh.

Selagi Sin Liong memandang penuh perhatian dan maklum bahwa tentu di dinding kiri ini terdapat pintu rahasianya yang tadi terbuka cepat untuk dilewati kakek ini, tiba-tiba terdengar suara dari sebelah kiri dan kembali secara tiba-tiba muncul seorang kerdil lain yang tubuhnya amat tegap dan besar membayangkan kekuatan. Juga orang kerdil ke dua ini pakaiannya mewah, sikapnya gagah dan mukanya penuh dengan brewok tebal menghitam.

Kedua orang ini dari tubuh atas sampai ke pinggang ukurannya seperti manusia biasa, akan tetapi dari pinggang ke bawah amatlah pendeknya sehingga kelihatan aneh dan lucu. Orang kedua yang brewok dan mukanya membayangkan kekerasan dan kegagahan ini memegang sebatang toya yang lebih panjang dari-pada tubuhnya sendiri. Juga toya ini bersinar-sinar tanda sebatang senjata yang baik.

Sin Liong yang selalu bersikap sabar dan tidak menghendaki permusuhan, biar pun dilanda kekhawatiran, masih dapat menekan perasaannya dan menjura dengan penuh hormat, "Harap Jiwi-lo-cianpwe sudi memaafkan kalau saya lancang tanpa diundang memasuki daerah kekuasaan Jiwi ini. Akan tetapi saya kehilangan Sumoi di sini dan kalau Jiwi sudi berlaku demikian baik hati untuk mengembalikan Sumoi kepada saya, saya berjanji akan meninggalkan tempat ini bersama Sumoi dan tidak akan berani mengganggu lagi."

Dua orang kakek itu saling pandang. Mereka kemudian tertawa melihat betapa Sin Liong mengamat-amati dinding yang kini telah tertutup kembali dan sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa di situ ada pintu rahasianya. Kakek berjenggot yang rambutnya sudah mulai ada ubannya itu berkata, "Orang muda, kalian memusuhi The-lihiap dan bilang tidak ada permusuhan dengan kami? Ha-ha, orang muda, siapakah engkau? Dan siapa pula Sumoi-mu itu?"

"Namaku Kwa Sin Liong dan... sesungguhnya kami tidak mempunyai permusuhan dengan Cuwi di tempat ini."

"Kalau begitu mengapa mencari The Kwat Lin Lihiap?"

"Kami mempunyai urusan pribadi dengan dia, hanya urusan yang sama sekali tidak menyangkut diri orang lain."

Kembali dua orang kakek itu tertawa. "Ha-ha-ha, aku Ji Bhong dan semua anak buahku, kami bangsa kerdil memang tidak ada urusan denganmu, akan tetapi sekali kalian memusuhi The-lihiap, berarti kalian adalah musuh kami juga. Menyerahlah, orang muda, kalau kau tidak ingin mengalami keksengsaraan seperti Sumoi-mu."

Sin Liong terkejut sekali, bukan hanya karena mendengar bahwa mereka ini ternyata adalah kaki tangan The Kwat Lin, terutama sekali mendengar akan sumoi-nya. "Di mana Sumoi? Apa yang kalian lakukan dengan dia?!" bentaknya.

"Ha-ha-ha, menyerahlah dan baru kita bicara!" Ji Bhong, kakek yang menjadi ketua bangsa kerdil itu menjawab.

Tentu saja Sin Liong menjadi gelisah sekali. Dia lalu menerjang maju dengan tongkat pendeknya.

"Sing... siuuut... trang-trang...!!" Dua orang kakek itu sudah menggerakkan pedang dan toya, cepat dan kuat sekali gerakan mereka.

Namun kini kedua orang itu berhadapan dengan Kwa Sin Liong, murid utama Raja Pulau Es yang telah mewarisi ilmu yang hebat-hebat. Dalam keadaan penuh kekhawatiran itu, Sin Liong sudah menggerakkan tongkat pendeknya sedemikian rupa sehingga ketika menangkis, dua orang kakek itu berteriak keras karena merasa betapa ada hawa dingin menyusup ke dalam lengan mereka melalui senjata, membuat lengan mereka seperti hampir membeku! Namun keduanya memang lihai. Cepat mereka memindahkan senjata di tangan kiri dan mengirim serangan bertubi-tubi.

Biar pun berada dalam keadaan gelisah dan marah, Sin Liong masih merasa tidak tega untuk membunuh orang. Maka dia mengeluarkan suara melengking keras, tongkatnya dibuang ke bawah dan dengan dua tangan kosong dia memapaki pedang dan toya yang menyambarnya dari kanan-kiri, lalu dengan berani dia menangkap dua senjata itu dengan kedua tangan kosong!

Dua orang kakek itu terbelalak. Kalau orang menangkap toya dengan tangan kosong hal ini masih biasa saja. Akan tetapi menangkap pedang pusaka dengan tangan telanjang? Benar-benar berani mati karena tangan yang bagaimana kuat pun tentu akan tersayat! Ji Bhong berteriak dan mengerahkan tenaga membetot kembali pedangnya untuk menyayat tangan lawan yang menggenggamnya. Akan tetapi betapa pun ia mengerahkan tenaga, pedang itu tetap tidak bergerak sedikit pun dari genggaman Sin Liong. Demikian pula kakek brewok yang membetot-betot toyanya, percuma saja.

Sin Liong kembali memekik keras, kedua tangannya bergerak sedikit dan... tubuh kedua orang kakek itu terlempar membentur dinding kanan-kiri! Hawa pukulan yang dingin dan kuat sekali keluar melalui kedua senjata itu, lalu menyerang melalui lengan mereka masing-masing dan memukul dada, membuat dada terasa sakit dan napas mereka sesak. Keduanya bersandar di dinding, terengah-engah dan terbelalak memandang pemuda luar biasa itu. Tiba-tiba mereka lenyap melalui pintu kecil yang terbuka secara aneh.

"Kalian hendak lari ke mana?" Sin Liong meloncat dan mengejar ke kiri, namun dinding itu sudah tertutup kembali dan kakek berjenggot panjang dan kakek brewok itu telah lenyap dari dinding kanan-kiri.

Sin Liong menancapkan pedang di atas lantai, lalu menggunakan toya rampasannya menghantami dinding kiri, namun hanya batu permukaan saja yang remuk, sedangkan dinding tebal itu tetap utuh. Akhirnya Sin Liong membuang toyanya, menghapus peluhnya dan mengerutkan alis. Tempat ini amat berbahaya dan sukar dilalui, bagaimana dia akan dapat menolong Swat Hong?

Teringat akan sumoi-nya ini, dia menjadi panik lagi. Andai kata sumoi-nya berada di sampingnya saat itu, tentu pemuda ini tidak menjadi bingung dan akan tetap tenang saja. Akan tetapi membayangkan betapa sumoi-nya terancam bahaya, benar-benar menggelisahkan hatinya. Dia merasa bertanggung-jawab akan keselamatan sumoi-nya, dan dia merasa seolah-olah mendengar suara ayah-bunda dara itu mencelanya, mengapa dia sampai membiarkan dara itu terancam bahaya.

Sin Liong menghampiri dinding kiri, lalu memeriksa, tangannya meraba-raba. Lebih satu jam dia menyelidiki, akhirnya secara tidak sengaja tangannya meraba sebuah di antara puluhan batu menonjol di dinding itu! Cepat dia menyambar pedang rampasannya dan sekali bergerak, tubuhnya sudah menyelinap melalui lubang rahasia itu dan... dia bingung lagi karena kiranya di sebelah sana dinding batu itu pun hanya merupakan sebuah lorong lain lagi! Dan tidak tampak jejak kekek yang menjadi ketua bangsa kerdil tadi.

Kembali dia berjalan dengan ngawur, tidak tahu akan dibawa ke mana oleh lorong yang dilaluinya ini. Entah berapa banyak lorong yang dilaluinya dan kini dia bahkan tidak tahu lagi mana jalan ke luar. Dia pun tidak ingin keluar sebelum dapat menolong Swat Hong! Dan cuaca makin gelap, dia pun teringat bahwa mungkin sekarang di ‘dunia luar’ sudah mulai senja. Bagaimana pun juga, dia tidak akan keluar sebelum menemukan Swat Hong.

Sin Liong berjalan terus, ke mana saja asal bergerak. Dia mulai memperhatikan lorong yang dilaluinya agar jangan melalui sebuah lorong untuk kedua kalinya. Keadaan makin gelap dan akhirnya dia hanya dapat melangkah maju dengan meraba-raba. Tiba-tiba tampak sinar terang di depan, menembus kegelapan yang mengerikan itu. Sin Liong melangkah maju menuju ke sinar terang tadi. Akan tetapi tiba-tiba dia menahan langkahnya. Tidak salah lagi, sinar terang itu tentulah api yang sengaja dibuat orang kerdil untuk memancing dan menjebaknya. Betapa pun juga, dia tidak takut!

Dengan hati-hati dia bergerak lagi melangkah maju menghampiri sinar yang ternyata kini tampak olehnya adalah sebatang obor yang gagangnya tertancap di dinding. Dan anehnya, kakinya yang melangkah hati-hati tidak menemui jebakan apa-apa sampai dia tiba di tempat obor itu. Apa artinya ini? Mengapa mereka memberi sebatang obor itu kepadaku? Sin Liong tidak peduli, lalu mengambil obor itu dan diam-diam berterima kasih sekali karena memang keadaan cuaca yang amat gelap itu membuat dia butuh sekali akan sebatang obor. Kini dia dapat melanjutkan usahanya mencari Swat Hong.

Selagi dia berjalan maju dengan hati-hati, dia mendengar suara mendengung dari belakang. Sin Liong cepat menoleh akan tetapi tidak melihat apa-apa. Sinar obor itu hanya mendatangkan cahaya dalam jarak terbatas sekali dan di sebelah sana kelihatan hitam pekat. Akan tetapi suara itu makin lama makin keras dan akhirnya tampaklah meluncur masuk ke dalam cahaya obor benda-benda hitam kecil yang mengeluarkan suara berdengung-dengung. Lebah! Banyak sekali lebah hitam yang datang berterbangan, seakan berlomba untuk mencapai sinar terang itu. Sinar api obor itulah yang menarik lebah-lebah itu.

Sin Liong sekarang maklum mengapa mereka memberikan sebatang obor. Tentu untuk menarik lebah-lebah itu, dan kalau lebah-lebah itu cukup berharga untuk dipancing mereka, tentu merupakan lebah berbahaya, lebah yang sengatannya mengandung bisa yang mematikan. Dia sudah tahu akan lebah-lebah beracun seperti ini. Sin Liong cepat mengambil sehelai sapu-tangan, menyelipkan pedang di pinggangnya, dan menggunakan sapu-tangan yang diputar-putar untuk mengusir lebah-lebah itu. Namun, tertarik oleh sinar api obor di antara kegelapan yang luar biasa, lebah-lebah itu seperti gila dan sama sekali tidak takut akan usiran menggunakan sapu-tangan ini. Biar pun mereka tidak dapat menyerang Sin Liong karena terhalang sapu-tangan, namun mereka tetap beterbangan di sekeliling Sin Liong, menanti saat baik untuk menyerang!

“Celaka,” pikir Sin Liong.

Tidak mungkin dia harus berdiri di situ semalaman hanya untuk berkelahi melawan lebah-lebah ini. Apa gunanya ada obor kalau hanya mendatangkan kerepotan ini? Sambil tetap melindungi tubuhnya dengan putaran sapu-tangan, Sin Liong menancapkan gagang obor pada celah-celah batu dinding, lalu pergi menjauh. Ternyata lebah-lebah itu tidak lagi mepedulikannya setelah dia tidak memegang obor. Kini binatang-binatang kecil itu beterbangan menyambar ke arah obor.

Sin Liong duduk bersandar dinding, memandang dari jauh. Dilihatnya banyak lebah yang mati karena menyerbu api, makin lama makin banyak. Hatinya tidak tega. Binatang-binatang itu tidak berdosa. Entah mengapa mereka dapat dibikin marah dan menyerbu api seperti gila itu. Dia harus menghentikan bunuh diri massal yang mengerikan itu. Diremasnya batu-batu dari dinding dan ditimpuknya ke arah obor sambil berteriak-teriak, "Aduh...! Aduh, mati aku...!"

Ini adalah siasatnya yang timbul sebelum memadamkan obor. Mereka itu sengaja memberi obor untuk memancing lebah-lebah. Baiklah, dia akan pura-pura menjadi korban sengatan lebah beracun. Kiranya hanya dengan cara ini dia akan dapat memancing orang-orang kerdil itu. Kalau mereka menggunakan siasat memancing dan menjebak, biarlah demi keselamatan Swat Hong dia pun mempergunakan siasat itu!

Semalaman Sin Liong berada di dalam gelap. Tidak ada orang datang mengintai atau menjenguknya. Ketika inilah dia pergunakan untuk beristirahat, biar pun sama sekali dia tidak dapat tidur. Mana mungkin dia tidur kalau hatinya gelisah memikirkan Swat Hong seperti itu? Betapa pun juga, dia dapat melepaskan lelah dan memulihkan tenaga, dan terbayanglah percakapan dengan Swat Hong di dalam hutan.

Dia menghela napas panjang. Biar pun di depan gadis itu dia berpura-pura tidak mengerti, sesungguhnya dia tahu belaka bahwa dara yang tadinya angkuh dan keras hati itu, kini agaknya mulai menyatakan cinta kasihnya kepadanya. Dia dapat menduga pula bahwa cinta kasih di hati gadis itu bersemi karena memperoleh pupuk cemburu, mencemburukan dia dengan Soan Cu dan Siangkoan Hui! Hal ini membuat hatinya terasa seperti ditusuk, perih dan duka. Tentu saja dia tidak mungkin mau menyakit hati Swat Hong dengan menyatakan bahwa dia tidak mencinta gadis itu, tidak mencinta seperti harapan gadis itu. Tidak mungkin dia mau melibatkan diri ke dalam cinta kasih seperti itu, yang telah begitu banyak contohnya hanya mendatangkan kesengsaraan belaka.

Lihat saja kehidupan ayah Swat Hong, Raja Han Ti Ong yang menjadi rusak dan hancur lebur karena Raja yang bijaksana dan perkasa itu takluk kepada cinta kasih birahi seperti itu. Lihat saja penghidupan ayah Soan Cu, yang menjadi gila karena kematian isterinya yang tercinta, juga merupakan cinta memiliki yang hanya akan berakhir dengan kesengsaraan. Masih banyak lagi contoh-contoh.

Cinta kasih yang terdorong oleh birahi dan kesengsaran ini pasti akan disusul dengan keinginan memiliki, menguasai dan mengikat. Pengikatan diri inilah yang akan mencelakakan, yang akan menimbulkan duka karena kehilangan, perpisahan atau kekecewaan karena cemburu dan lain-lain. Pengikatan diri kepada sesuatu memang menimbulkan kenikmatan duniawi, menimbulkan kesenangan lahir yang hanya sementara saja sifatnya, kemudian diakhiri dengan bermacam duka dan kesengsaraan.

Yang paling menimbulkan sesal dalam hati Sin Liong adalah kenyataan bahwa penolakannya terhadap cinta kasih gadis-gadis itu tentu akan mendatangkan kekecewaan kepada mereka. Namun dia pun yakin bahwa kekecewaan itu pun hanya akan sementara saja sifatnya. Kalau mereka, termasuk Swat Hong, sudah tertarik kepada seorang laki-laki lain, kekecewaan itu pun akan lenyap tanpa bekas lagi.

Cuaca tidak segelap tadi, tanda bahwa agaknya malam telah terganti pagi. Untuk melanjukan siasatnya, Sin Liong lalu merebahkan diri di bawah obor yang telah padam, rebah di antara bangkai-bangkai lebah yang hangus. Tak lama kemudian jantungnya berdebar karena telinganya yang menempel lantai mendengar suara-suara gerakan kaki. Ada orang-orang datang menghampirinya!

Tepat seperti yang diharapkannya, muncullah dua orang kakek itu bersama enam orang kerdil lain. Mereka segera menghampiri dan merubungnya, bahkan ada tangan yang menyentuh dada dan pergelangan tangannya. Cepat Sin Liong menggunakan ilmunya, menghentikan detak jantung dan pernapasannya.

"Dia telah mati...!!" terdengar suara di atasnya. Dia tidak melihat siapa yang bicara karena dia rebah miring.

"Kita laporkan kepada Lihiap!" terdengar suara kekek berjenggot panjang.

Pada saat itu pula Sin Liong membalikkan tubuhnya. Tangannya menyambar dan dia telah menangkap lengan seorang kerdil, lalu menotoknya roboh. Tujuh orang kerdil yang lain terkejut sekali, berloncatan dan lenyap di balik dinding melalui pintu-pintu rahasia, meninggalkan si kerdil yang telah roboh tertotok. Memang Sin Liong hanya membutuhkan seorang saja.

Sin Liong lalu mengangkat bangun orang itu, membebaskan totokannya dan menghardik, "Hayo tunjukkan aku di mana teman wanitaku itu ditawan!"

Orang kerdil itu menjadi pucat dan menggeleng-geleng kepalanya. "Aku... aku tidak tahu...."

"Bohong! Hayo katakan, aku hanya ingin menolong dan membebaskannya. Kalau kau mengaku terus terang, aku akan membebaskanmu."

"Aku... aku tidak berani...," kata orang itu kemudian, suaranya mengandung rasa takut dan dia menoleh ke kanan-kiri seolah-olah takut kata-katanya terdengar oleh dinding di kanan-kirinya.

"Hemm, aku tahu. Kalau kau mengaku, engkau takut dihukum oleh atasanmu. Akan tetapi kau menunjukkan tempat itu karena kupaksa dan mereka tentu tahu akan hal itu."

"Aku... aku takut... takut disiksa...," orang itu berkata setengah menangis.

Sin Liong menjadi gemas. Orang yang pengecut ini memaksa dia harus mengeraskan hati. Apa boleh buat, demi keselamatan Swat Hong! Dia lalu menggunakan jarinya memijit tengkuk orang itu, memijit jalan darah sambil berkata, "Kau hanya takut kepada mereka dan tidak takut kepadaku? Nah, kau tunjukan atau kubiarkan kau tersiksa seperti ini selama hidupmu!"

Orang itu menyeringai, makin lama makin lebar. Tubuhnya mengeliat-geliat menahan rasa nyeri yang menyerang tubuhnya. Akan tetapi, rasa nyeri itu tidak dapat ditahannya lagi dan dia roboh terguling, menggeliat dan berkelojotan seperti orang sekarat, mulutnya merintih, "Bebaskan aku... atau bunuh aku saja...."

Sin Liong merasa kasihan sekali, akan tetapi dia mengeraskan hatinya. "Aku tidak akan membunuhmu dan juga tidak akan menyembuhkanmu. Kalau kau tidak mau menunjukkan tempat sahabatku itu, selama hidup kau akan menderita seperti ini!"

"Tolong... aduhhh.... Baik, kutunjukkan tempatnya... tapi... tapi bebaskan dulu aku...."

Girang bukan main rasa hati Sin Liong. Dengan beberapa totokan dia membebaskan orang itu yang segera menggeliat dan memijit-mijit dadanya, kemudian memandang kepada Sin Liong penuh rasa takut dan ngeri.

"Aku akan menunjukkan tempatnya, akan tetapi... kau harus tahu bahwa kalau gadis itu sudah mati, maka bukanlah aku pembunuhnya."

Tentu saja kata-kata ini membuat Sin Liong terkejut bukan main. Dia tidak mau banyak bicara lagi, melainkan berkata dengan suara terengah, "Lekas... tunjukkan...!" dan dia menyambar pergelangan tangan orang itu agar jangan sampai melarikan diri melalui tempat-tempat rahasia.

Orang kerdil itu mengajak Sin Liong berlari melalui lorong-lorong. Ternyata lorong-lorong itu amat ruwet bangunannya, berbelit-belit dan banyak sekali persimpangannya.

“Pantas saja aku tidak berhasil,” pikir Sin Liong dengan rasa kagum.

Lorong rahasia ini memang amat hebat. Akhirnya setelah melalui jarak yang kurang lebih lima li jauhnya, tibalah mereka di dalam lorong yang tidak rata. Dindingnya lebar sempit, di lantainya banyak terdapat gundukan-gundukan batu pedang, serta dari atas bergantungan pula batu-batu yang runcing. Mereka berada di dalam goa-goa besar yang berbeda sekali dengan goa-goa dari mana Sin Liong dan Swat Hong masuk.
Selanjutnya baca
BU KEK SIANSU : JILID-18
LihatTutupKomentar