Sepasang Ular Naga di Satu Sarang 15


Serangan Tapak Lamba itu ternyata bagaikan aba-aba yang diberikan kepada ketiga orang kawannya. Dengan serta mereka mereka pun segera berloncatan mencari sasaran masing-masing.
Serangan-serangan itu benar-benar tidak diduga. Selagi perhatian orang-orang yang ada di halaman itu tertuju kepada Tapak Lamba yang menyerang secepat kilat, maka serangan-serangan berikutnya telah datang membadai.

Dengan demikian ,maka sekejap kemudian perkelahian telah menyala dengan dahsyatnya di halaman itu. Tapak Lamba tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diperolehnya pada serangan pertama. Selagi lawannya itu kehilangan keseimbangan, maka tangan kirinya dengan cepat pula telah menghantam tengkuk orang itu sehingga ia pun segera jatuh tersungkur.

Dengan serta merta Tapak Lamba memungut senjata orang itu. Sebilah padang yang cukup panjang. Dan dengan pedang itu di tangan kanannya, dan memindahkan keling di genggaman tangan kirinya, ia pun segera bertempur melawan orang-orang yang dengan serta merta telah menyerangnya.

Tiga kawan Tapak Lamba ternyata tidak mengecewakannya. Mereka berhasil menguasai keadaan pada benturan pertama meskipun selanjutnya mereka sadar, bahwa lawan mereka tentu akan dapat menekan mereka dan bahkan mengalihkannya jika mereka tidak berhasil mempergunakan setiap kesempatan sebaik-baiknya. Bahkan mereka pun sadar, bahwa di balik dinding itu tentu masih ada beberapa orang yang akan segera turun ke halaman dan bertempur bersama-sama.

“Memang tidak ada pilihan lain kecuali mati.” berkata Tapak Lamba di dalam hatinya, “Tetapi matilah dengan cara yang paling baik. Mati sebagai seorang prajurit meskipun aku sudah bukan lagi seorang prajurit.”

Dengan demikian maka Tapak Lamba pun bertempur semakin dahsyat. Pedangnya terayun-ayun mengerikan sekali. Sementara ketiga lawannya berusaha berkelahi dalam pasangan yang rapat. Mereka berputaran dan kadang-kadang berlari-larian membi-ngungkan lawan-lawan mereka.

Dari tujuh orang yang masih mampu bertempur, Tapak Lamba harus melawan dua orang yang bertempur berpasangan. Sedang tiga orang kawannya, bersama-sama melawan lima orang yang Jain. Mereka bertempur dalam kelompok-kelompok yang dengan sengaja dikacaukan oleh tiga orang kawan Tapak Lamba. Sekali-sekali mereka berdiri beradu pungung. Namun tiba-tiba mereka berlari-larian memencar. Namun kemudian mereka telah berada dalam satu lingkaran yang rapat lagi.

Tetapi bagaimanapun juga, lawan mereka adalah jumlah yang hampir berlipat. Apalagi mereka pun bukan orang-orang ke¬banyakan yang sama sekali tidak mengenal ilmu kanuragan.

Karena itulah, maka pertahanan Tapak Lamba dan kawan-kawannya pun semakin lama menjadi semakin berat.

Namun dalam pada itu, ketiga orang kawan Tapak Lamba itu berhasil mengurangi seorang lawannya yang terpelanting oleh sentuhan keling di pelipisnya. Meskipun sentuhan itu tidak terlampau tajam membenturnya, namun kulit pelipisnya itu bagaikan terkelupas. Darah yang segar memerah diseluruh wajahnya.

Tertatih-tatih melangkah menepi. Ia mencoba menyeka darahnya dengan kain panjangnya. Namun darah itu masih saja mengalir terus.

Dengan demikian, maka jumlah lawan pun menjadi semakin berkurang. Tetapi sejalan dengan itu, tenaga Tapak Lamba dan kawan-kawannya pun menjadi semakin berkurang pula.

Untuk beberapa saat lamanya, perkelahian itu masih berjalan dengan sengitnya. Tapak Lamba bertempur dengan perhitungan yang masak. Sebagai seorang bekas Senapati ia mampu melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di dalam perkelahian itu.

Karena itu, maka ia pun dengan segenap kemampuannya telah bertempur untuk mengurangi jumlah lawan secepat-cepatnya. Meskipun dengan demikian ia harus mengerahkan tenaga, tetapi ia berharap bahwa lawannya yang tersisa tidak akan memerlukan tenaga terlampau banyak.

Karena itulah, maka serangan-serangan Tapak Lamba justru dia¬rahkan kepada lawannya yang paling lemah. Ujung pedangnya bagaikan lalat yang selalu mengejar kemana pun lawannya menghindar.

Dengan mempergunakan segenap kekuatan ilmunya, ujung pedang Tapak Lamba mulai menyentuh tubuh lawannya yang paling lemah. Meskipun hanya segores kecil dan sama, sekali tidak menimbulkan perasaan sakit yang mengganggu. Tetapi titik darah yang kemudian meleleh dilengannya akan dapat mempengaruhi ketahanan perasaan lawannya itu.

Tapak Lamba bertempur semakin seru. Serangan-serangannya bagaikan angin pusaran yang dahsyat sekali.

Demikian juga ketiga orang kawannya. Setelah kawannya susut, mereka menjadi semakin garang. Apalagi di hati masing-masing mulai tumbuh harapan untuk dapat bertahan dan hidup lebih lama lagi. Jika lawannya bukan orang-orang yang memiliki kelebihan melampaui mereka berempat, maka harapan untuk meninggalkan halaman itu tentu masih ada. Meskipun menarik diri dari peperangan agak menimbulkan gangguan pada rasa harga diri tetapi melawan orang-orang yang berjumlah jauh lebih banyak, bukannya cara yang pantang dilakukan.

Karena itulah, maka ketiga orang itu pun berusaha untuk bertempur sambil mendekati Tapak Lamba. Ketika ada kesempatan pada salah seorang dari mereka, maka orang itu pun berdesis di dekat Tapak Lamba, “Apakah kita akan bertempur terus?”

Tapak Lamba segera mengerti maksudnya. Karena itu, ia pun mulai mempertimbangkannya, sementara serangan-serangannya justru menjadi semakin garang. Ia telah berhasil menyentuh lagi lawannya dengan ujung pedangnya dan kemudian mendesaknya ke sudut halaman.

Tetapi dalam pada itu, keadaan ketiga kawannya menjadi agak berbeda. Tangan-tangan mereka yang memegang keling menjadi terasa pedih. Setiap kali mereka harus menangkis senjata lawan dengan keling yang tergenggam di tangan. Dan setiap kali tangannya menjadi terasa nyeri.

Tapak Lamba pun mempertimbangkan keadaan itu. Memang keling bukan senjata yang baik untuk melawan senjata panjang. Hanya karena terpaksa tidak ada senjata yang lain sajalah, maka keling itu dipergunakannya.

Akhirnya Tapak Lamba mengambil keputusan yang serupa pula. Ia yakin bahwa masih akan datang lawan-lawan yang lain yang akan mengepung mereka didalam halaman itu.

Karena itu, maka ia pun segera mencari kesempatan. Betapa banyak lawannya, jika ia berhasil melepaskan diri dari halaman itu, tentu ia dan ketiga kawan-kawannya akan dapat lolos dari tangan orang-orang padukuhan itu.

“Kita masih memiliki tenaga untuk lari.” desis Tapak Lamba yang kemudian bersiap-siap untuk memberikan isyarat sambil mencari kesempatan.

Namun dalam pada itu, sepasang mata memperhatikan pertempuran yang terjadi di halaman dari balik pintu regol di samping pendapa. Dengan wajah yang tegang ia mengikuti setiap perkembangan. Kadang-kadang wajahnya mengendor sejenak, tetapi kemudian menjadi tegang kembali.

Tiga orang pengawal yang berdiri di belakangnya, rasa-rasanya sudah tidak sabar lagi melihat keadaan kawan-kawannya di halaman. Tetapi orang itu masih tetap diam saja.

Di halaman perkelahian semakin lama menjadi semakin sengit. Ketika Tapak Lamba merasa, saat yang sebaik-baiknya untuk lari telah terbuka, karena lawan mereka kebetulan berada di satu sisi, maka ia pun segera memberikan isyarat kepada ketiga orang kawannya untuk saling mendekat.

“Ki Buyut.” desis salah seorang yang berada dibalik regol samping pendapa, “Mereka akan lari.”

“Ya, mereka akan melarikan diri.”

“Kita harus bertindak cepat sebelum mereka lolos.”

“Ya.” ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi mereka tidak akan lari.”

“Lihat. Mereka telah bergabung. Kesempatan itu kini benar-benar telah terbuka. Menilik kemampuan mereka, tentu sulit untuk mengejar dan menangkap mereka semuanya. Padahal menurut apa yang telah mereka lakukan di halaman itu, mereka pantas mendapat hukuman yang paling berat. Dibunuh di sarang semut salaka.”

Ki Buyut justru tertawa. Katanya, “Membunuh di sarang semut memang menyenangkan sekali. Apalagi dengan cara yang paling baik. Mereka tidak akan diikat. Tetapi mereka akan dilepaskan dalam kerangkeng.”

“Bagus sekali Ki Buyut. Orang-orang itu sempat meIonjak-Ionjak kesakitan dan berlari-larian di dalam kerangkeng, sebelum mereka akan jatuh menjadi mangsa semut salaka, sehingga hanya kerangka mereka saja yang tinggal.”

Ki Buyut tertawa perlahan-lahan. Tetapi ia masih berdiri di tempatnya memandangi orang-orang yang berusaha untuk mendekati pintu gerbang.

“Mereka tentu berhasil lari Ki Buyut. Tanpa meloncati dinding. Mereka dapat menempuh jalan yang paling aman. Lari lewat pintu gerbang, sementara orang-orang kita yang dungu itu menjadi semakin lelah.”

Tetapi Ki Buyut masih tetap berdiam diri.

Seperti yang diduga oleh ketiga pengawal Ki Buyut itu, maka Tapak Lamba memang mencari jalan yang paling aman. Lari melalui pintu gerbang. Dengan demikian maka cara mereka bertempur pun saling menyesuaikan diri untuk dapat bergeser mendekati pintu gerbang itu.

Pada saat yang terakhir, maka Tapak Lamba pun tiba-tiba telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada di dalam dirinya. Pedangnya bagaikan angin prahara yang mengamuk di tengah-tengah padang ilalang.

Dengan demikian, maka lawan-lawannya pun telah terdesak mundur beberapa langkah, sehingga memberi kesempatan kepada kawan-kawannya untuk dengan cepat mencapai regol halaman yang masih terbuka itu.

Dengan demikian, maka saat untuk melarikan diri itu benar-benar telah terbuka. Menurut pengamatan mereka, di luar regol masih belum ada orang-orang lain yang datang dengan atau tidak dengan isyarat.

Tetapi ketika mereka sudah siap untuk meninggalkan halaman itu, terdengarlah salah seorang dari Iawan-Iawannya bersuit nyaring. Agaknya ia merasa bahwa tidak ada lagi yang dapat dilakukannya untuk menahan keempat orang yang akan melarikan diri itu.

“Terlambat.” desis salah seorang dari para pengawal Ki Buyut.

“Isyarat itu yang terlambat.” desis Ki Buyut.

“Mereka mengira bahwa kita selalu mengikuti perkelahian itu. Dengan atau tanpa isyarat kita akan turun kehalaman.”

Tetapi Ki Buyut justru tertawa lagi sambil berdesis, “Mereka tidak akan lari.”

Baru saja mulutnya terkatub, maka seorang dari ketiga kawan Tapak Lamba telah melangkah surut ke pintu regol disusul oleh kawannya yang lain. Dua orang yang lain, masih tetap bertempur sambil mundur perlahan-perlahan mendekati pintu regol, sebelum mereka akan meloncat berlari.

Tetapi, ketika Tapak Lamba yang paling akhir berdiri di regol itu, siap meneriakkan isyarat untuk berlari, tiba-tiba saja ia mendengar suara tertawa meledak di balik regol kecil di sebelah pendapa. Di sela-sela suara tertawa itu terdengar Ki Buyut berkata, “He, kampret, ternyata kau memang luar biasa.”

Panggilan itu telah menghentikan langkah Tapak Lamba. Dalam keragu-raguan ia mendengar kawannya berdesis, “Marilah. Jangan hiraukan pangilan itu.”

Tetapi Tapak Lamba menjadi termangu-mangu.

Lawan-lawannya pun menjadi heran melihat sikap Tapak Lamba. Justru karena Tapak Lamba tidak segera berlari meninggalkan halaman, maka mereka pun menjadi ragu-ragu untuk bertindak. Apa lagi setelah mereka mendengar suara tertawa Ki Buyut dari balik regol di sisi pendapa.

“Marilah, cepat.” sekali lagi kawan Tapak Lamba memperingatkan.

“Tunggu.” desis Tapak Lamba, “Kau mendengar suara tertawa itu?”

“Ya.”

“Dan kau mendengar orang yang tertawa itu menyebut kita kampret?”

“Jangan pedulikan. Kita akan terjebak oleh lawan yang jumlahnya tidak terhitung.”

“Tetapi kita harus menunggu sebentar.” desis Tapak Lamba yang tiba-tiba saja berteriak, “He, keluarlah.”

Sejenak suasana halaman rumah Ki Buyut itu menjadi sangat tegang. Tapak Lamba berdiri tegak di tempatnya dengan kepala tengadah. Ditangannya masih tergenggam sebilah pedang. Dan di tangan kirinya sebuah keling.

Suara tertawa masih terdengar dari balik regol di sebelah pendapa. Tetapi Tapak Lamba dan kawan-kawannya masih belum melihat siapakah yang telah tertawa itu.

Dalam pada itu, ketiga pengawal Ki Buyut menjadi semakin tidak sabar. Mereka melihat Ki Buyut tertawa berkepanjangan, sedang orang-orang yang berdiri di regol itu sudah siap untuk melarikan diri.

“Kita akan turun lebih dahulu.” desis salah seorang dari mereka.

“Sst, mungkin itu suatu cara baru dari Ki Buyut untuk menahan orang-orang yang akan lari meninggalkan halaman ini.”

“Persetan.” desis yang lain.

Tetapi suara tertawa Ki Buyut pun segera terhenti. Dengan senyum dibibirnya ia berkata kepada ketiga orang pengawalnya, “Nah, kau lihat? Ia tidak akan pergi meninggalkan halaman ini.”

“Kenapa Ki Buyut?”

Ki Buyut tidak menjawab. Tetapi ia berdesis, “Kita akan turun ke halaman.”

Ki Buyut pun kemudian membuka pintu regol itu lebar-lebar. Diiringi oleh ketiga orang pengawalnya, ia kemudian menuruni tangga regol disisi pendapa itu.

“He kampret yang buruk.” Katanya, “Kau benar-benar memiliki kelebihan yang tidak mudah dicari tandingnya. Kemarilah. Jangan lari. Tidak pantas seorang Senapati melarikan diri dari gelanggang.”

Tapak Lamba termangu-mangu sejenak. Sedang kawannya di belakang regol berdesis, “Jangan hiraukan. Jangan hiraukan.”

“Lihatlah.” berkata Tapak Lamba kepada kawan-kawannya, “Ki Buyut sendiri agaknya sudah keluar dari sarangnya. Menilik sikap dan pakaiannya, ia adalah pimpinan tertinggi di sini.”

“Kita tidak peduli. Kita tinggalkan saja tempat ini.”

“Kemarilah dan lihatlah. Aku menjadi curiga.”

Ketiga orang kawannya menjadi ragu-ragu. Sementara Ki Buyut menjadi semakin dekat. Sekali lagi suaranya yang besar mengumandang di halaman itu, “He kau kampret dan cucurut-cucurut kecil? Apakah kalian akan lari? Bukankah kalian prajurit-prajurit pilihan pengawal pribadi tuanku Tohjaya.”

Ketiga kawan Tapak Lamba menjadi ragu-ragu pula mendengar suara itu. Perlahan-lahan mereka menjengukkan kepala mereka untuk melihat siapakah sebenarnya Ki Buyut yang dibayangi oleh kekaburan dan rahasia.

“He, kemarilah kampret.” desis Ki Buyut itu, “Kita akan berbicara dengan baik. Ternyata kau adalah satu-satunya tamuku yang dapat memaksa aku keluar dari ruang yang aku sediakan untuk menerima tamu-tamuku.”

Tapak Lamba memandang orang itu dengan saksama. Orang itu tidak begitu tinggi, tetapi tegap. Matanya tajam sedang daun telinganya agak lebih lebar dari daun telinga yang kebanyakan. Bibirnya tipis dan rambutnya agak keriting.”

“He.” desis Tapak Lamba kepada kawan-kawannya, “Kau lihat orang itu.”

Ketiga kawannya pun termangu-mangu. Hampir mereka tidak mempercayai penglihatannya. Ternyata orang itulah yang sedang dicarinya. Sunggar Watang.

Tetapi menghadapi kenyataan itu, Tapak Lamba dan ka¬wan-kawannya menjadi ragu-ragu. Apakah orang itu telah berubah sikap terhadap kawan-kawannya atau ada perhitungan lain, sehingga ia harus membunuhnya.

“Setiap orang asing dibunuhnya.” desis Tapak Lamba, “Mungkin ia dengan demikian berusaha untuk melenyapkan setiap kemungkinan untuk mengenalinya.”

“Ia benar-benar tidak mau dikenal lagi.” bisik kawannya, “Apakah itu bukan berarti bahwa kita pun harus dilenyapkan.”

“Apalagi kita sudah pasti dapat mengenalnya dengan sebaik-baiknya.” gumam yang lain.

“Kita akan melihat perkembangan keadaan ini.” berkata Tapak Lamba, “Namun selama ini kita tidak melihat isyarat apa pun yang diberikan oleh orang-orang di dalam halaman ini. Bukankah tidak ada orang diluar regol?”

Sejenak Tapak Lamba dan kawan-kawannya masih tetap mematung, sementara Ki Buyut melangkah menjadi semakin dekat.

“Kampret, kau masih mengenal suaraku?” bertanya Ki Buyut.

Tapak Lamba mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah kau Buyut dari pedukuhan ini?”

“Ya.”

“Siapa namamu?” bertanya Tapak Lamba.

“Kau cukup hati-hati. Terima kasih atas pertanyaanmu itu.”

Ketiga orang pengawal Ki Buyut itu menjadi terheran-heran. Sikap Ki Buyut kali ini agak lain terhadap tamu-tamunya. Biasanya ia bertanya sepatah dua patah kata saja. Kemudian menentukan, apa yang harus dilakukan terhadap tamu itu. Dibebaskan meskipun sambil ditakut-takuti, atau dibunuh dengan cara yang berbeda-beda. Cara yang menyenangkan sekali bagi mereka.

“Sebut namamu.” desis Tapak Lamba.

“Namaku Kidang Pengasih.”

“He.” Tapak Lamba terkejut mendengar nama yang baginya terdengar lucu.

Kidang Pengasih mengerutkan keningnya melihat perubahan wajah Tapak Lamba. Namun kemudian ia tertawa terbahak-bahak sehingga tubuhnya berguncang-guncang.

Dengan nada yang tinggi, disela-sela suara tertawanya ia berkata, “Kau heran mendengar namaku he? Aku adalah seseorang yang digadang-gadang oleh orang tuaku menjadi seorang yang baik hati, penolong dan penuh dengan belas kasihan. Aku memang pernah bertapa di hutan-hutan sebelah padukuhan ini. Tapa Kidang. Apakah kalian tidak percaya?”

“Aku percaya.” berkata Tapak Lamba, “Lalu apakah maksudmu menahan aku disini? Aku sudah akan pergi meninggalkan halaman ini. Tetapi kau menahan kami.”

“Ki Sanak.” berkata Ki Buyut yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih, “Kau memang tamuku yg khusus, yang mempunyai cara tersendiri untuk menjumpaiku.”

“Aku tidak ingin bertemu dengan kau lagi. Aku tahu, bahwa kau tidak mau berhubungan dengan siapa pun juga. Orang yang pingsan itu berkata, bahwa tidak ada orang yang sempat keluar dari halaman ini.”

“Ah itu tidak benar. Aku dapat menilai seseorang dengan beberapa pertanyaan. Jika ia tidak mengkhawatirkan padukuhan ini, tentu akan aku bebaskan. Tetapi jika mereka aku anggap berbahaya, maka aku akan melenyapkannya demi padukuhanku. Bukan sekedar karena aku seorang pendendam.”

“Itu pun suatu kebohongan besar. Kau adalah pendendam yang paling menarik hati. Dendammu kau tumpahkan kepada sasaran yang tidak tepat. He, kita sudah terlalu banyak berbicara. Biarlah aku pergi, atau kau akan memaksa aku membuat padukuhanmu ini menjadi karang abang?”

Ki Buyut tertawa semakin keras. Katanya, “Kau memang kampret kecil yang nakal. Tetapi dengan demikian aku justru ingin mempersilahkan kau duduk. Aku akan merubah kebiasaanku untuk menerima tamuku di bagian belakang rumahku ini. Sekarang, aku akan menerima kalian di pendapa.”

Tapak Lamba termangu-mangu sejenak. Dan kawannya yang ada di belakangnya berbisik, “Apakah ini bukan sekedar sebuah jebakan?”

Tapak Lamba berdesis perlahan-lahan sekali, “Kita akan mencobanya. Ia tentu tidak akan dapat segera berterus terang. Agaknya pengawal-pengawalnya pun tidak mengetahui siapakah ia sebelumnya.”

“He.” berkata orang yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih itu, “Apa yang kalian bicarakan? Apakah kalian ragu-ragu? Atau curiga?”

“Ya.” jawab Tapak Lamba tegas.

Orang itu tertawa pula. Lalu ia pun bertanya, “He, siapa namamu, he? Apakah aku tadi sudah bertanya?”

“Namaku Tapak Lamba.”

Orang yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih itu pun tertawa semakin keras. Katanya, “Bagus. Namamu bagus sekali. Tapak Lamba.” ia berhenti sejenak, lalu, “Kemarilah Tapak Lamba. Kita dapat berbicara dengan baik di pendapa.”

Tapak Lamba termangu-mangu. Sedang ketiga orang pengawal Ki Buyut dan orang-orangnya yang masih sadar akan dirinya menjadi bingung atas sikap itu.

Sejenak Tapak Lamba merenung. Kemudian ia berpaling kepada ketiga orang kawannya. Katanya berbisik, “Kita akan mencobanya. Nampaknya ia pun harus tetap menjaga kedudukannya di hadapan para pengawalnya.”

“Kau dengar kesempatan yang aku berikan kepadamu.” berkata orang yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih itu, “Aku melihat kelainan pada kalian berempat. Karena itu, kita akan berbicara sebaik-baiknya.”

Ketiga pengawal Ki Buyut menjadi semakin tidak mengerti. Maka salah seorang dari mereka pun bertanya, “Kenapa sikap kita tiba-tiba menjadi sangat lunak? Bukankah mereka telah berbuat onar, dan bahkan menjatuhkan beberapa orang korban? Seharusnya mereka mendapat hukuman jauh lebih berat dari siapa pun yang telah datang ketempat ini.”

Ki Buyut mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah kau tidak melihat sikap dan tandangnya? Ia dapat menjatuhkan korban lebih banyak lagi di antara kita. Mereka memiliki kemampuan yang luar biasa. He, apakah kau tidak melihat bahwa mereka bertempur dengan cara yang hampir tidak dapat disembunyikan lagi.”

“Apa itu Ki Buyut.”

“Mereka adalah Senopati-Senopati Singasari.”

“Gila.” desis pengawalnya, “Bukankah dengan demikian berarti mereka harus dilenyapkan?”

“Jika kita mampu. Jika tidak, aku dapat menyumbat mulutnya dengan apapun yang dimintanya.”

“He.” ketiga pengawalnya termangu-mangu. Tetapi mereka tidak bertanya lagi.

Ki Buyut pun kemudian melangakah semakin dekat dengan Tapak Lamba yang masih berdiri di regol.

“Ki Sanak. Aku memenuhi tuntutanmu. Aku tidak akan menerima di bagian belakang rumahku ini. Sebaiknya kau melenyapkan semua perasaan curiga itu.”

“Apakah aku dapat mempercayaimu?” desis Tapak Lamba.

“Itu terserah kepadamu. Tetapi aku bermaksud baik. Aku akan bersikap lain terhadapmu.”

Tapak Lamba masih dicengkam oleh keragu-raguan. Sekali-sekali ia berpaling kepada kedua kawannya yang juga termangu-mangu.

“Aku berjanji.” berkata Ki Buyut yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih, “Tidak akan terjadi sesuatu apapun lagi di halaman ini.”

“Kau dapat merubah janjimu dalam sekejap.” berkata Tapak Lamba.

“Jadi bagaimana?” betanya Ki Buyut, “Baiklah kau yang menentukan, apakah yang harus aku lakukan untuk menerima kalian.”

“Aku akan berbicara sendiri. Maksudku, berdua saja dengan Ki Buyut Kidang Pengasih. Ini adalah tuntutanku yang terakhir. Semula aku memang berharap untuk dapat berbicara dtngan Ki Buyut di pendapa. Tetapi ternyata keadaan berkembang semakin buruk bagi kami.”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak, lalu, “Maksudmu hanya kau dan aku?”

“Ya.”

“Lalu bagaimana dengan kawan-kawanmu itu?”

“Ia akan menunggu aku diregol ini. Dan orang-orangmu harus menjauh sampai ke dinding halaman sebelah menyebelah.”

Ki Buyut tertawa. Jawabnya, “Tuntutan yang gila. Lebih mirip dengan tuntutan seorang pengecut. Baiklah kampret. Aku bersedia memenuhinya.”

“Ki Buyut.” desis pengawalnya, “Itu berbahaya sekali bagi Ki Buyut.”

Ki Buyut masih tertawa. Katanya, “Aku bukan tikus curut. Jika ia mau bermain gila, aku dapat memenggal lehernya di pendapa, sementara ketiga kawannya itu dapat kau cincang di halaman.”

“Aku atau kau.” kata Tapak Lamba, “Kau jangan membuat gambaran yang salah terhadap anak buahmu. Kau tidak akan dapat memenggal leherku. Tetapi justru aku mungkin sekali untuk melakukannya.”

“Itu pun suatu gambaran yang keliru. Kita tidak dapat memperbandingkan kemampuan kita sekarang ini.” berkata Ki Buyut, “Nah, kita sudah berbicara terlampau panjang. Naiklah.” lalu katanya kepada pengawalnya, “Mundur sampai ke dinding itu. Kalian dapat melihat apa yang kami lakukan di pendapa. Jika ia curang, terserahlah kepadamu apa yang pantas kalian lakukan terhadap ketiga kawannya yang akan tetap berdiri diregol. Sebagai tiga orang yang merasa dirinya terlampau lemah, maka mereka selalu mencari tempat yang paling baik untuk segera dapat melarikan diri.”

Tapak Lambalah yang menjawab, “Tidak dalam perang tanding. Tetapi dalam perkelahian bersama seperti ini, maka lari bukannya sikap yang tercela.”

“Suaramu seperti guruh yang meledak di langit. Tetapi itulah yang menarik. Aku memang memerlukan beberapa orang prajurit. Marilah, naiklah ke pendapa.”

Ki Buyut kemudian melangkah ke pendapa sambil memberikan isyarat kepada pengawal-pengawalnya untuk surut dan berdiri di tepi halaman, sementara ketiga kawan Tapak Lamba masih tetap berdiri di regol.

“Hati-hatilah.” pesan Tapak Lamba kepada mereka, “Aku yakin bahwa ia adalah orang yang kita cari. Tetapi aku tidak tahu sikap yang sebenarnya daripadanya.”

“Kau pun harus berhati-hati.” berkata ketiga kawannya itu hampir bersamaan.

Tapak Lamba menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian dengan langkah yang tetap ia berjalan menuju ketangga pendapa pula.

Sejenak kemudian keduanya pun telah naik dan untuk sejenak mereka berdiri termangu-mangu.

“Ah, duduklah.” Ki Buyut pun kemudian mempersilahkan tamunya duduk di atas sehelai tikar yang memang terbentang di pendapa itu.

“Apakah kau lupa kepadaku.” tiba-tiba saja Ki Buyut bertanya.

“Tidak. Aku datang memang dengan harapan dapat bertemu dengan kau. Tetapi kami menjadi ragu-ragu setelah kami melihat keadaan disini.”

“Apakah mula-mula kau bertanya tentang aku?”

“Ya. Aku mencari seseorang. Tetapi aku tidak dengan jelas menyebut namamu, Sunggar Watang.” sahut Tapak Lamba, “Tetapi yang aku jumpai kemudian adalah suatu usaha untuk membunuhku.”

“Bukan maksudku.”

“Agaknya selama ini kau telah menjadi iblis yang paling buruk di sini. Kau membunuh setiap orang yang tersesat ke dalam lingkunganmu.”

“Jarang sekali orang yang memasuki daerah ini. Tetapi kau pun harus ingat, bahwa aku sedang bersembunyi disini. Jika ada orang yang mengenalku, meskipun hanya ciri-ciri bentuk tubuhku, aku akan dapat diseret ke tiang gantungan.”

“Ternyata keadaan di Singasari tidak seburuk itu. Aku juga bersembunyi, justru di dalam kota raja. Tetapi aku dikenal sebagai seorang yang tua, kurus dan terbungkuk-bungkuk.”

“Kau terlampau gila. Bagaimana kau berani tinggal di dalam kota raja, he?”

“Ternyata aku selamat sampai sekarang. Tidak ada orang yang mencari aku, atau dengan sengaja menyelidiki kemanakah aku bersembunyi.”

“Tetapi aku langsung dapat mengenalmu.”

Tapak Lamba mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun menjawab, “Aku datang kemari sebagaimana aku adanya. Aku tidak menyapu wajahku dengan warna-warna yang kegelapan dan membuat kumisku agak keputih-putihan. Aku tidak berjalan-jalan terbungkuk-bungkuk sambil terbatuk-batuk.”

“Menggelikan sekali.” berkata Ki Buyut yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih, “Bagaimanapun juga, maka orang-orang yang telah mengenalmu dengan baik akan tetap mengenalmu.”

“Tetapi ternyata tidak. Apalagi memang tidak ada usaha untuk mengenali orang-orang yang hilang sejak tuanku Tohjaya tidak memerintah lagi. Juga tidak ada orang yang berusaha mencarimu kemana pun juga.”

Tiba-tiba wajah Ki Buyut itu berkerut. Katanya, “Tetapi apakah aku dapat percaya kepadamu? Seperti kau kepadaku, aku pun curiga keadamu. Apakah kau tidak sedang mengemban tugas dari Ranggawuni dan Mahisa Cempaka dan mengkhianati kekeluargaan kita? Apakah kau sedang mencari aku dan akan menangkapnya?”

“Jika karena itu, aku dapat menjawab dengan pasti, bahwa aku tidak sedang melakukan tugas yang demikian. Tetapi jika nyawaku terancam, aku dapat berbuat kasar, tetapi untuk melindungi hidupku. Sudah aku katakan, setidak-tidaknya aku harus membunuh orang dalam jumlah yang sama. Empat orang. Dan aku yakin bahwa aku akan dapat melakukannya di sini meskipun kau ada.”

“Kau jangan membuat persoalan baru lagi disini.”

“Kau mencurigai aku.” sahut Tapak Lamba, “Padahal aku memang mencarimu. Ada persoalan yang ingin aku bicarakan. Bukankah kau telah memberikan petunjuk bahwa aku harus datang ke tempat ini? Tetapi yang aku ketemukan ternyata suatu daerah pembantaian yang mengerikan sekali.”

Ki Buyut itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada datar, “Sebenarnyalah aku terlalu dihantui oleh ketakutanku sendiri. Aku mencurigai setiap orang, sehingga aku memang berusaha melenyapkan siapa pun juga yang aku sangka dapat menjadi sebab orang lain dapat mengenalku.”

“Tetapi ketakutanmu membawa akibat yang sangat buruk bagi orang lain. Adalah salahmu bahwa tiba-tiba saja kau telah menjadikkan dirimu seorang Buyut dipadukuhan ini. Tetapi kau adalah Buyut yang paling gila yang pernah aku jumpai. Jika kau memilih kedudukan seperti kedudukanku, maka kau tidak perlu mencurigai setiap orang, karena tidak seorang pun yang akan pernah tertarik kepadku.”

“Apakah ada bedanya? Justru karena aku seorang Buyut di sini, maka aku dapat melindungi diriku seperti sekarang ini. Aku dapat memerintahkan orang-orangku untuk membuat pengamatan yang berlapis-lapis.”

“Itu pikiran yang paling bodoh. Bukankah seorang Buyut akan selalu menjadi sorotan orang lain? Jika seseorang datang ke padukuan ini dan bertemu dengan kau, maka orang itu harus kau lenyapkan. Akhirnya, hal itu berkembang menjadi semakin buruk. Bukan saja setiap orang yang datang ke¬padamu harus dilenyapkan, tetapi orang yang sama sekali tidak berkepentingan sama denganmu pun akan dipancing untuk datang ke halaman rumah ini dan memasuki regol samping itu untuk tidak pernah keluar lagi.”

Ki Buyut tegang karenanya. Lalu, “Agaknya memang begitu. Sebenarnya banyak sekali orang yang hanya sekedar lewat. Tetapi orang-orangku memancingnya untuk singgah dan akhirnya tidak akan pernah keluar lagi.”

“Nah, bukankah itu suatu pembantaian yang tidak ada taranya?” ia berhenti sejenak, lalu, “Aku juga seorang pembunuh. Aku pun akan melepaskan dendamku kepada orang-orang yang tidak mau mengerti arti perjuanganku. Tetapi tidak seperti yang kau lakukan. Aku, seorang pembunuh pula, merasa ngeri melihat caramu dan orang-orangmu yang berusaha menjilat dihadapanmu. Mereka merasa berjasa dan mendapat kehormatan darimu jika mereka dapat menghadapkan satu atau lebih korban yang akan kau cincang di halaman belakang rumahmu ini. Agaknya yang terjadi atasmu adalah gabungan antara dendam, ketakutan dan pelepasan sakit hati yang tidak terkendali.”

“Ya. Kau benar. Dan orang-orangku sudah terbiasa berbuat demikian.”

“Terserah kepadamu. Apakah kau masih akan tetap berbuat demikian atau tidak. Jika kau masih tetap akan membunuh siapa pun termasuk kami, maka kami pun dapat berbuat serupa. Karena kami tahu, orang-orangmu bukanlah prajurit-prajurit yang mampu mengimbangi kemampuan kami.”

“Sebagian kau benar. Tetapi sebagian salah. Bagaimanapun tinggi ilmumu, namun jumlah yang berlipat ganda akan dapat menentukan akhir sebuah perkelahian.”

“Jadi kau tetap bersikap demikian.”

“Bukan maksudku berkata seperti itu. Aku akan memikirkannya. Tetapi sementara ini, aku harus dapat mengambil sikap terhadap kalian.”

“Itu terserah kepadamu. Tetapi aku akan tetap menggenggam senjata ini.”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya nampak di pelupuk matanya, apa yang pernah dilakukannya selama ia berada di padukuhan itu.

Peristiwa demi peristiwa, seakan-akan baru saja terjadi dua tiga hari yang lalu.

“Semuanya seolah-olah terjadi diluar sadarku.” berkata Ki Buyut itu.

“Bagaimana kau dapat menjadi Buyut di padukuhan ini?” bertanya Tapak Lamba.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dilihatnya orang-orangnya yang berdiri dengan gelisah di pinggir halaman, se¬dang ketiga kawan Tapak Lamba termangu-mangu di depan regol.

“Memang sebuah ceritera yang menarik.” berkata Ki Buyut, “Semula aku memang tidak bermimpi untuk menjadi Buyut disini.”

“Apakah Buyut yang lama atau keturunannya yang berhak telah kau bunuh pula?”

“Pertanyaanmu membuat aku berdebar-debar.”

“Jika demikian, sesungguhnya kau telah melakukannya.”

“Bukan begitu. Aku tidak membunuh Ki Buyut yang lama atau keturunannya yang berhak. Aku justru telah berjasa kepadanya, dan aku diambilnya menjadi menantunya.”

Tapak Lamba mengerutkan keningnya.

“Aku telah membunuh seorang laki-laki yang ingin merampas anak gadis Ki Buyut itu. Karena itulah maka aku mendapat kesempatan yang baik dan karena aku adalah menantunya, maka aku telah menggantikan kedudukannya.”

“Setelah Ki Buyut meninggal?”

“Tidak. Ki Buyut menyerahkan jabatan itu karena ia sudah tua dan tidak sanggup lagi melakukan tugasnya.”

“Dan anaknya masih tetap menjadi isterimu?”

“Ya.”

“Hatinya tentu tersiksa jika ia tahu apa yang telah kau lakukan.”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Nampak kekecewaan membayang diwajahnya. Sambil memandang kekejauhan ia berkata, “Beberapa kali kau salah tebak.”

“Jadi, bagaimanakah yang sebenarnya?”

“Isteriku senang sekali melihat perbuatanku.”

“He.”

“Kau akan mengenalnya nanti. Kadang-kadang ia berbuat lebih gila daripadaku. Ia memilih korbannya dan cara yang paling disukai untuk membunuh korban itu.”

“Gila. He, apakah kau berkata sebenarnya?”

“Aku berkata sebenarnya. Ia adalah pembunuh yang jarang dicari duanya. Bahkan diantara seribu laki-laki sekalipun.”

“Bagaimana hal itu terjadi?”

Ki Buyut menggelengkan kepalanya. Jawabnya , “Aku tidak tahu. Aku jumpai perempuan itu sudah dalam sifatnya yang demikian. Ia mengagumiku setelah aku berhasil membunuh laki-laki yang paling ditakuti dipadukuhan ini.”

“Yang mula-mula dikagumi oleh perempuan itu?”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Kali ini kau menebak tepat. Kami memang sedang bersaing. Meskipun umurku lebih tua, namun ternyata aku masih lebih kuat daripadanya. Apalagi kemudian aku dapat memberinya kepuasan dengan memberikan korban-korban yang dapat diperlakukan menurut kehendaknya.”

“Gila.” tiba-tiba saja Tapak Lamba menggeram, “Aku tidak percaya. Sejak dahulu kau selalu membuat ceritera khayal yang mengerikan. Dan ceritera-ceritera khayal itulah agaknya yang telah membuatmu menjadi liar dan buas. Apalagi setelah kau mendapat kesempatan di padukuhan ini. Maka ceritera khayal yang bergabung dengan dendam dan sakit hati itu telah kau ujudkan. Aku tidak pernah dapat membayangkan perempuan seperti yang kau katakan itu.”

“Kali ini aku tidak sedang berkhayal. Aku berkata sebenarnya. Nanti kau akan dapat berkenalan dengan perempuan itu. Tetapi jangan terkejut jika tiba-tiba ia meraba kulitmu atau salah seorang kawanmu sambil bergumam, “Alangkah bagusnya kulit ini.”

“Apa maksunnya dengan kata-kata itu?”

“Ia menginginkan kulit itu untuk membuat barbagai macam barang yang disenanginya. Mungkin alas tempat duduk, atau hiasan yang akan dilekatkan pada dinding dan barangkkali sebuah selubung songsong atau benda-benda yang dikeramatkannya.”

“Gila. Itu lebih gila lagi. Maksudmu, ia sampai hati menguliti korbannya seperti menguliti seekor lembu?”

Ki Buyut mengangguk.

“Alangkah buasnya. Kebuasannya sesuai dengan kebuasanmu.” Tapak Lamba berhenti sejenak, lalu, “Tetapi aku tidak percaya. Aku tidak percaya semua ceriteramu. Nah, jika benar, dimana perempuan itu. Panggil ia kemari.”

“Jangan sekarang. Ia baru sibuk di belakang. Jika ia marah, akibatnya akan menggelisahkan padukuhan ini.”

“Kenapa?”

“Ia harus membunuh. Jika tidak ada orang asing yang akan dibunuhnya, maka ia mencari korbannya diantara penduduk sendiri.”

Tapak Lamba memandang sorot mata Ki Buyut yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih itu. Dengan nada yang datar ia berdesis, “Apakah kau sudah gila dan mengkhayalkan dunia yang paling biadab?”

Ki Buyut yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih itu menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia menebarkan pandangan matanya keseluruh halaman. Ia melihat pengawalnya menjadi sangat gelisah seperti kawan-kawan Tapak Lamba yang berdiri di regol.

Sejenak kemudian ia pun berkata, “Aku sama sekali tidak gila. Tetapi jika tidak ada perubahan apa pun di dalam tata kehidupanku, maka aku sebenarnya akan dapat menjadi gila seperti yang kau katakan.”

Tapak Lamba menjadi semakin heran melihat mata Ki Buyut yang menjadi semakin buram. Seolah-olah ia melihat sebuah ruangan yang dalam dan penuh rahasia.

“Kau tentu tidak percaya. Apakah kau ingin berkenalan dengan isteriku?” bertanya Ki Buyut tiba-tiba.

“Dimana isterimu itu?”

“Marilah, kita pergi kebelakang. Ia berada disana.”

Tapak Lamba tersenyum pahit. Katanya, “Kau sudah mencoba untuk mengkhianati aku. Sudah aku katakan, aku tidak mau pergi ke bagian belakang rumahmu. Aku tahu, bagian belakang rumahmu ini penuh dengan alat-alat untuk membunuh. Membunuh dengan cara yang baik dan membunuh dengan cara yang paling biadab.”

“Kau selalu bercuriga. Maksudku, aku ingin mempertemukan kau dengan isteriku.”

“Suruh isterimu kemari. Dari sorot matanya dan dari tutur katanya, aku akan dapat melihat, apakah ceriteramu itu benar atau sekedar sebuah khayalanmu saja.”

Mata Ki Buyut itu tiba-tiba menjadi aneh. Hitam matanya bagaikan mengambang, sementara bibirnya mulai bergerak-gerak tidak menentu.

Tapak Lamba memandanginya saja dengan penuh kewaspadaan. Rasa-rasanya kawannya itu memang mengalami perubahan tata kehidupan yang dipengaruhi oleh sesuatu yang kurang dimengertinya.

“Tetapi mungkin juga karena gejolak perasaan dendam yang tiada tersalurkan sejak ia meninggalkan kota raja dan bersembunyi di padukuhan terpencil ini.” berkata Tapak Lamba kemudian kepada diri sendiri.

“He.” tiba-tiba Ki Buyut itu berdesis, “Kau benar-benar tidak mau pergi ke belakang?”

“Sunggar Watang.” desis Tapak Lamba kemudian, “Jangan kau turutkan perasaan gilamu itu. Ingat, bahwa sesuatu hanya dapat dilakukan dengan perhitungan yang matang. Kau aku anggap saudara tua didalam banyak hal. Tetapi jika kau menjadi gila, sudah tentu aku tidak akan dapat mendengarkan kata-katamu lagi.”

Ki Buyut bernama Sunggar Watang, tetapi yang lebih senang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih itu masih saja membayangkan sesuatu yang tidak sewajarnya. Namun nampaknya ia berusaha untuk menguasai dirinya dan bertahan pula kesadarannya.

“Tolong, tolonglah aku.” ia kemudian berdesis, “Di mana sebenarnya aku sekarang berdiri? Apakah aku benar-benar sudah gila?”

“Kakang Sunggar Watang.” Tapak Lamba berkata perlahan-lahan sambil bergeser maju, “Jangan terlalu banyak membebani dirimu dengan berbagai macam perasaan. Mungkin kau dan aku mempunyai beban perasaan yang sama. Tetapi aku tidak pernah benar-benar tenggelam dalam dunia yang tidak berkesadaran. Memang pernah hampir saja aku membunuh dua orang anak muda tanpa perhitungan. Tetapi untunglah bahwa aku bertemu dengan Linggadadi, adik Linggapati, sehingga niat itu urung karenanya.”

“He, kau sebut-sebut nama Linggapati?”

“Ya, kenapa?”

Ki Buyut memegangi keningnya sambil menundukkan kepalanya. Gumamnya, “Aku bingung sekali. Nama itu pernah aku dengar.”

“Dengarlah kata-kataku. He, kakang Sunggar Watang. Apakah kau benar-benar beristeri di sini?”

“Ya. Aku benar-benar beristeri disini. Dan isteriku itulah yang membuat aku gila dan buas seperti yang kau lihat sekarang.”

“Kau mulai mengigau lagi.”

“Aku tidak mengigau.” tiba-tiba Ki Buyut itu berteriak, “Kau akan berkenalan dengan isteriku. Tetapi setiap orang yang pernah melihat isteriku tentu akan mati. Ia menuntut kematian setiap orang. Apalagi sudah beberapa hari tidak seorang pun yang dibunuhnya di rumah ini.”

Tetapi Tapak Lamba menggelengkan kepalanya, “Aku tidak percaya. Kegilaanmulah yang telah membuat gambaran serupa itu.”

“Gila, gila. Jika kau tidak percaya, kenapa kau tidak mau pergi menemuinya dan mencoba merubah sikapnya itu. O, ia akan dengan gembira menunjuk kulit wajahmu yang aneh dan minta kepadaku, agar kau dipancung dihadapannya dan menyimpan wajahnya sebagai topeng yang sangat menarik.”

“Ingat Ki Buyut, aku masih membawa senjata. Dan ingat, bahwa aku bukan seekor anjing yang dapat kau kelabui dengan sepotong tulang.”

“O, gila, gila. Aku akan memanggil isteriku kemari. Tetapi jika ia minta kau dikuliti, sama sekali bukan salahku.”

Tapak Lamba menjadi berdebar-debar. Ia termangu-mangu sejenak ketika ia kemudian melihat Ki Buyut itu berdiri dan dengan tergesa-gesa meninggalkan pendapa masuk ke ruang dalam.

Dengan dada yang berdebar-debar Tapak Lamba memandang ketiga kawannya yang masih berdiri dipintu. Agaknya mereka masih tetap menunggu apa yang akan terjadi.

“Mereka bukan pengecut pula.” desis Tapak Lamba di dalam hati, “Agaknya mereka pun akan menunggu meskipun akibatnya dapat berbahaya sekali.”

Beberapa saat Ki Buyut masih tetap berada di dalam rumahnya. Tidak ada pembicaraan yang terdengar. Agaknya isterinya berada di bagian belakang rumah Ki Buyut yang besar itu.

Hampir saja Tapak Lamba kehilangan kesabaran. Apalagi ketika ia melihat orang-orang yang berada di regol itu memberikan isyarat kepadanya, agar ia meninggalkan tempatnya.

“Sebaiknya aku memang pergi saja dari rumah orang gila ini.” katanya di dalam hati. Sekilas ia memandang orang-orang Ki Buyut yang berdiri di tepi halaman melekat dinding batu.

“Apakah yang akan mereka lakukan jika aku meninggalkan tempat ini?” pertanyaan itu timbul di dalam hati Tapak Lamba.

Namun dalam pada itu, selagi ia sudah bersiap-siap untuk turun ke halaman dan meninggalkan rumah Ki Buyut itu, tiba-tiba ia mendengar suara di dalam rumah. Suara seorang perempuan.

“Agaknya itulah isterinya.” berkata Tapak Lamba kepada diri sendiri.

Sejenak kemudian Tapak Lamba terkejut bukan buatan. Yang muncul di pintu adalah Ki Buyut Kidang Pengasih yang mendukung seorang perempuan yang agaknya cacat pada kakinya. Lumpuh.

Namun dalam pada itu, terasa bulu-bulu Tapak Lamba me¬remang. Wajah perempuan itu ternyata wajah yang nampaknya sangat bengis dan kejam.

“Jadi, agaknya Sunggar Watang tidak berbohong.” berkata Tapak Lamba di dalam hatinya.

Ketika kemudian Ki Buyut meletakkan isterinya di atas tikar di pendapa, perempuan itu menggeram, “Jadi orang inilah yang telah memaksa aku keluar ke pendapa?”

“Ya.” sahut Ki Buyut, “Ia adalah sahabatku sejak aku berada di Singasari.”

“Persetan.” jawabnya. Sejenak perempuan itu memandang wajah Tapak Lamba sehingga terasa dada Tapak Lamba bagaikan digelitik oleh perasaan aneh. Ia belum pernah melihat wajah seorang perempuan sebengis perempuan itu.

“Apa sebabnya kawanmu ini tidak kau bawa ke belakang saja?” bertanya perempuan itu.

“Ia memilih tempat ini.”

“Gila, bukankah kita yang mempunyai rumah ini?”

“Dan bukankah kau sudah bersedia menemuinya disini?”

Perempuan itu membelalakkan matanya. Namun kemudian katanya, “Memang tidak ada bedanya. Di sini pun aku dapat menilai ujudnya.”

Tapak Lamba masih tetap termangu-mangu. Tetapi rasa-rasanya dadanya bergetar ketika tiba-tiba saja ia melihat perempuan itu tersenyum. Tersenyum ramah kepadanya.....
Tapak Lamba mengerutkan keningnya.

“He.” perempuan itu tiba-tiba saja menjadi tegang, “Kenapa orang-orang itu berdiri di sana?”

“Itu menjadi syarat pembicaraanku dengan orang ini. Sahabatku.”

“Gila. Tidak ada orang yang dapat memberikan syarat apapun di sini. Akulah yang paling berkuasa. Ayo, panggil mereka kemari.”

Ki Buyut menjadi bimbang. Tetapi isterinya membentaknya, “Cepat, panggil mereka kemari.”

Dalam ke-ragu-raguan itu ia melihat Tapak Lamba tersenyum sambil berkata, “Jangan memaksa suamimu. Akulah yang minta agar mereka tetap berada di tempatnya.”

“Persetan.” perempan itu berteriak, “Bukan kau yang mengatur. Tetapi aku.”

“Kali ini akulah yang mengatur. Aku bersenjata. Dan senjataku ini dapat aku pergunakan setiap saat. He, apakah suamimu tidak pernah mengatakan sesuatu tentang aku? Aku adalah algojo yang paling disegani di Singasari. Aku dapat memancung kepala seseorang dengan sekali sentuh. Pedangku ini memiliki kekuatan dan ketajaman tujuh kali lipat pedang pada umumnya.”

“Kau bohong.” jawab perempuan itu, “Pedang itu adalah pedang yang kau rampas dari orang-orangku.”

“He.” Tapak Lamba mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk sambil berkata, “Ya. Aku lupa. Aku telah merampas pedang anak buahmu yang tidak mau menurut perintahku. Tetapi aku tetap seorang algojo yang menarik. Aku kadang-kadang membunuh korbanku tidak dengan senjata. Tetapi aku gantung terbalik. Aku ikat kakinya dan aku tutup hidung dan mulutnya dengan tanganku sampai ia mati lemas. Bukankah itu menyeyangkan sekali? Tetapi lain kali aku biarkan korban-korbanku mati dengan sebelah tangannya aku ikat pada sebatang pohon. Lucu sekali. Ada yang lima hari baru mati. Ada yang tujuh hari. Tetapi ada yang hanya satu hari. Nah, kau dapat meniru caraku. Membunuh dengan semut tidak menarik lagi bagiku.”

Perempuan itu mengerutkan keningnya. Wajahnya yang bengis nampak menjadi semakin bengis. Namun sekali Iagi dada Tapak Lamba berdesir ketika ia melihat perempuan itu tersenyum. Dengan sepenuh hati ia berusaha untuk tetap menguasai kesadarannya menghadapi perempuan yang menyimpan seribu macam rahasia itu.

“Baiklah.” berkata perempuan itu, “Kau memang seorang algojo yang menarik. Tetapi suamiku tidak pernah mengatakannya sesuatu kepadaku tentang kawan-kawannya. Apalagi seorang algojo dari Singasari. Ia mengatakan, bahwa baru satu kali ia berada di kota raja ketika ia melihat wisuda tuanku Tohjaya. Sesudah itu ia merantau dari satu tempat ketempat yang lain, sehingga akhirnya ia sampai ke rumah ini.”

Tapak Lamba mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Disini sua¬mimu itu kau ajari membunuh setiap orang yang kau kehendaki.”

“Tidak. Aku tidak pernah mengajarinya membunuh. Ia memang seorang pembunuh yang baik.”

“Ya.” desis Tapak Lamba, “Tetapi tidak untuk selalu membunuh setiap saat seperti yang dilakukannya sekarang.”

“Ia memang seorang pembunuh.” teriak perempuan itu, “Bertanyalah kepadanya. Ia sudah membunuh laki-laki yang akan menjadi suamiku. Yang aku cintai dan yang mencintai aku dengan sepenuh hati.”

“He?” mata Tapak Lamba terbelalak, “Jadi?”

“Bukan, bukan begitu.” sahut Ki Buyut.

“Diam.” bentak isterinya, “Aku tahu. Kau tentu akan mengatakan bahwa ayahkulah yang menyuruhmu karena ayahku tidak setuju dengan laki-laki itu. Sebagai upahmu maka kau akan diambilnya menjadi menantunya dan akan menggantikan kedudukannya. Dan janjinya itu dipenuhinya. Kau diambilnya menjadi menantunya, dan selang beberapa pekan, ia kedapatan mati membunuh diri dengan pesan, bahwa kau akan mendapatkan kedudukannya.”

“Itu tidak benar.”

“Benar. Apakah kau akan membantah?”

Tiba-tiba saja Ki Buyut menundukkan kepalanya, sedang isterinya berkata seterusnya, “Tetapi kau harus tetap ingat akan janjimu. Aku mau menjadi isterimu asal kau memenuhi segala permintaanku.”

“Dan permintaanmu yang pertama adalah permintaan yang paling gila. Kau minta aku membunuh ayahmu.”

“Tidak. Bukan aku yang memintanya. Ia membunuh diri.”

Tapak Lamba termangu-mangu sejenak. Tetapi dibiarkannya saja kedua orang suami isteri itu saling mempertahankan kebenarannya masing-masing. Dengan demikian ia bermaksud mengetahui apakah sebenarnya yang telah terjadi di padukuhan itu.

Ki Buyut Kidang Pengasih yang agaknya masih akan mencuci kesalahannya dihadapan kawan lamanya itu berkata, “Kau jangan mengada-ada. Bukankah kau minta aku melepaskan dendammu karena kau menyangka bahwa ayahmulah yang menyuruh membunuh laki-laki yang akan merampas kehormatanmu itu?”

“Bohong. Ia sama sekali tidak akan berbuat demikian. Aku mencintainya dan ia mencintai aku.”

“Jika demikian kau tidak akan melemparkan pisau itu ke arahnya meskipun meleset.”

“Aku tidak pernah melakukannya. Ayahkulah yang melakukannya, ketika aku sedang duduk berdua dengan laki-laki itu. Yang pernah aku lakukan adalah sebaliknya, aku telah melemparkan pisau kepada ayah. Aku akan membunuhnya ketika itu. Ketika ia disusupi iblis.”

Tapak Lamba mengerutkan keningnya. Ia menjadi bingung mendengar percakapan yang tidak berujung pangkal itu. Bahkan yang setiap kalimat rasa-rasanya saling bertentangan.

Tetapi kemudian ia menjadi agak jelas melihat persoalannya ketika ia mendengar perempuan itu berkata diantara sedu sedannya yang tiba-tiba saja meledak, “Ayah itu bukan ayahku sendiri. Dan itulah sumber dari segala kejahatan yang pernah terjadi di padukuhan ini.”

Ki Buyut tidak menyahut lagi. Kepalanya pun kemudian tertunduk lesu.

“Aku telah dihinggapi dendam tiada taranya. Ibuku dibunuh atas perintah ayah tiriku, karena ayah tiriku mempunyai niat-niat buruk terhadapku. Laki-laki yang aku cintai itu pun dibunuhnya pula.” ia berhenti sejenak, lalu, “Dan mulailah aku dengar permainan iblis itu pula. Aku mencari jalan untuk membunuh ayah tiriku. Dan setelah itu iblis itu benar-benar telah merasuk kedalam diriku.”

Tapak Lamba menarik nafas dalam-dalam. Kini ia menjadi semakin jelas apakah yang sebenarnya telah terjadi. Agaknya dipadukuhan ini telah berkobar api dendam yang melingkar-lingkar. Dendam di antara keluarga, dibumbui oleh dendam yang menyala di hati Sunggar Watang. Akibatnya, pedukuhan ini menjadi tempat pembantaian. Sunggar Watang yang diburu oleh ketakutan, bahwa seseorang akan dapat mengenalinya, isterinya yang mendendam kepada setiap laki-laki karena bakal suaminya terbunuh, berbaur menjadi suatu bentuk yang sangat mengerikan sekali.

Dalam kerisauan itu, terdengar Tapak Lamba berkata, “Nah, Ki Buyut. Jika dendam memang masih tetap menyala di dalam hati, marilah kita mencari saluran yang sewajarnya. Aku pun seorang pembunuh yang tidak tanggung-tanggung. Dan kau ternyata benar-benar bertangan dan berhati iblis. Bagaimana jika kita menyebut sekali lagi nama Linggapati.”

Ki Buyut Kidang Pengasih termangu-mangu sejenak. Agaknya ia pun menjadi bingung atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di padukuhannya. Yang ia mengerti ialah, perempuan itu minta ia melakukan sesuatu. Dan ia pun telah melakukannya.

“Aku tidak tahu, pesona apakah yang telah membelengguku waktu itu.” ia berkata kepada diri sendiri, “Sehingga aku seolah-olah tidak tahu lagi apa yang pantas aku lakukan, dan yang manakah yang tidak.”

Ki Buyut memandang isterinya sekilas. Isterinya itu masih tetap cantik, meskipun membayang kebengisan iblis di wajahnya.

“Ia waktu itu masih lumpuh seperti sekarang.” berkata Ki Buyut di dalam hatinya. Tetapi peristiwa itu memang tidak lapat dihindari. Lumpuh bagi isterinya bagaikan penyakit keturunan. Ibunya juga lumpuh sebelum tangan-tangan yang jahat membunuhnya. Kemudian beberapa saat setelah itu, isterinya itu pun mennjadi lumpuh pula.

Tetapi setelah isterinya itu perIahan-Iahan menjadi lumpuh, kebengisan dan kekejamannya justru menjadi semakin bertambah-tambah.

Sakit hatinya, ditambah kecewa yang membara oleh cacatnya itu, dibumbui oleh dendam dan kebencian didada suaminya, menjelmalah istana pembantaian yang mengerikan itu.

Tapak Lamba yang liar itu pun merasa ngeri membayangkan apa yang telah pernah terjadi dibagian belakang rumah itu.

“Ki Buyut.” berkata Tapak Lamba kemudian, “Kau belum menjawab pertanyaanku. Daripada kau hidup di bawah bayang-bayang yang gelap, oleh dendam dan sakit hati, bagaimanakah jika kita menghubungkan diri dengan Linggapati? Meskipun dengan demikian masih akan berarti pembunuhan dan pembunuhan, namun hal itu kita lakukan untuk tujuan yang jelas. Berhasil atau tidak berhasil. Kita tidak sekedar membunuh dan menguliti seseorang seperti menguliti seekor kambing. Tetapi kita membunuh dengan cita-cita yang mapan dan jelas.”

“Siapakah Linggapati itu?” bertanya isteri Ki Buyut.

“Seorang yang memiliki pengaruh bukan saja pengaruh, tetapi juga ilmu yang tiada taranya.” jawab Tapak Lamba.

“Ialah yang harus datang kemari.” geram isteri Ki Buyut itu.

“Nyai Buyut.” berkata Tapak Lamba, “Aku tidak akan berani mengatakannya seandainya pada suatu kali akan bertemu lengan Linggapati. Sebenarnyalah Linggapati jauh lebih perkasa dari kita masing-masing. Dan ia memiliki alas perjuangan yang jauh lebih kuat dari sebuah padukuhan seperti ini.”

“Bohong.” Nyai Buyut itu hampir berteriak, “Kau sangka ada orang yang lebih kuat dari Ki Buyut dan pengawalnya. Aku dapat menangkap setiap orang yang aku kehendaki. Juga Linggapati.”

Tapak Lamba menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Nyai Buyut itu masih belum mengetahui, betapa lebatnya hutan diluar semak-semak perdu di sekitar padukuhannya.

“Nyai.” berkata Tapak Lamba, “Aku pernah bertemu dengan Linggapati dan adiknya Linggadadi. Aku pernah bertempur melawan Linggadadi. Aku mengetahui betapa tinggi ilmu yang ada padanya sehingga aku tidak dapat mengatakannya apakah aku rangkap lima dapat melawannya.”

“Mungkin kau tidak dapat melawannya meskipun rangkap lima. Tetapi suamiku dan tiga orang pengawalnya itu akan sanggup melawan siapa pun juga.”

“Mungkin. Tetapi Linggapati adalah manusia luar biasa.”

Nyai Buyut memandang Tapak Lamba sejenak. Namun tiba-tiba saja ia tersenyum sambil berdesis, “Wajahmu memang menarik sekali Ki Sanak. Kau mempunyai tahi lalat dipelipis. Kumismu adalah kumis yang jarang terdapat meskipun hanya tipi sekali. Sepasang matamu menunjukkan sifat-sifatmu yang keras, tetapi licik. He, wajahmu pantas sekali diabadikan.”

Tapak Lamba mengerutkan keningnya. Namun kemudiai ia pun tersenyum, “Suamimu tadi juga sudah mengatakan, bahwa mungkin kau akan tertarik sekali kepada wajahku. Wajah yang mungkin ingin kau ambil begitu saja dan kau simpan sebagai hiasan dinding rumahmu bersama-sama beberapa buah topeng kayu. Bukankah begitu?”

Nyai Buyut memandang Tapak Lamba dengan tajamnya. Orang ini memang aneh. Ia sama sekali tidak menjadi ketakutan dan ngeri. Bahkan ia masih dapat tersenyum sambil berkat, “Nyai Buyut. Aku mengerti bahwa kau dan suamimu sudah dihinggapi penyakit semacam penyakit gila. Aku tahu bahwa kadang-kadang kau berbicara dan bersikap dengan sadar, namun kadang-kadang tidak. Tetapi cobalah kau mengenang peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi atasmu dan suamimu. Maka kau sendiri akan tahu dengan pasti, bahwa kalian berdua telah dihinggapi penyakit jiwa yang parah.”

“Cukup.” bentak Nyai Buyut. Bahkan kemudian ia tertawa, “Menarik sekali. Aku mau menyimpan wajah itu dengan kepalanya sama sekali. Aku akan membuat reramuan obat yang dapat mengawetkan kepalamu.”

Nyai Buyut justru terkejut ketika ia melihat Tapak Lamba justru tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Jangan salah sikap. Aku pun sering memotong kepala orang lain dan menyimpannya. Tetapi biasanya aku rendam pada semacam cairan yang asam-asam. Dan aku pun ingin menyimpan kepala seorang perempuan sakit ingatan seperti kau.”

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Ki Buyut Kidang Pengasih itu pun berteriak keras-keras. “Cukup. Sudah cukup. Permainan ini dapat membuat aku gila.”

Bentakan itu memang mengejutkan. Dan karena itulah agaknya ada semacam kejutan yang menghentak di kepala Nyai Buyut itu. Dan kejutan itu ternyata telah merubah sikapnya pula dengan tiba-tiba.

Perlahan-lahan Nyai Buyut itu menyadari keadaan dirinya. Dan karena itulah maka setitik air mata telah mengembun di matanya.

“Kita semuanya telah menjadi gila.” berkata Ki Buyut, “Marilah kita hentikan kegilaan ini. Marilah kita berpikir seperti seorang yang waras.”

Tapak Lamba mengerutkan keningnya. Katanya di dalam hati, “Mudah-mudahan keduanya tersadar dari mimpi gila yang mengerikan itu.”

Dengan hati yang berdebar-debar Tapak Lamba melihat Nyai Buyut itu pun kemudian menangis. Seolah-olah ia dihadapkan pada sebuah gambaran masa lalu yang sangat pahit dan menyedihkan.

“Tidak, tidak.” desisnya disela-sela tangisnya, “Aku tidak mau melihat itu lagi.”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Diusapnya bahu isterinya sambil berkata, “Sudahlah Nyai. Marilah kita hentikan semuanya itu. Meskipun aku tidak akan berhenti sebagai pembunuh, tetapi sebaiknya kita pikirkan pendapat tamu kita kali ini. Meskipun kita masih akan tetap membunuh, sebaiknya pembunuhan itu lebih terarah dan berencana. Apakah kau dapat mengerti?”

Nyai Demang mengusap matanya. Sambil mengangguk ia berkata, “Aku mengerti kakang.”

“Nah, dengan demikian, maka kita mempunyai masa depan yang lebih baik dari sekarang. Kita tidak hanya akan menunggui kuburan raksasa ini dan memaksa diri mencari kepuasan dengan cara yang paling gila, tetapi mungkin pada suatu saat kita benar-benar menemukan suatu kesempatan yang baik.
Nyai Buyut mengangguk pula.

“Tegasnya, kita akan bersama-sama dengan Ki Linggapati memberontak. Bukankah begitu?”

“Begitulah.” jawab Tapak Lamba.

“Kita akan melawan kekuasaan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka meskipun kita tidak akan dapat menghidupkan tuanku Tohjaya lagi.”

“Kita tidak usah terikat kepada seseorang. Tetapi yang penting, arah dendam kita dan kesempatan bagi kita sendiri.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah Ki Sanak. E, siapakah namamu?”

Sebelum Tapak Lamba menjawab, isterinya menjadi heran dan bertanya, “Bukankah seharusnya kau sudah mengenal namanya?”

Ki Buyut termangu-mangu. Tetapi ia pun tak mau menyebut na¬ma kawannya itu, seperi juga kawannya tidak mau menyebut namanya.

“Panggil aku Tapak Lamba.” sahut Tapak Lamba.

“Ya, Tapak Lamba. Aku ingat sekarang.” gumam Ki Buyut meskipun ia tahu betul bahwa nama itu pun bukan nama yang pernah dikenalnya dahulu.

“Sekarang.” berkata Ki Buyut pula, “Marilah kita mulai dengan jalan kehidupan yang baru. Aku akan berusaha untuk mengarahkan cara hidup rakyat padukuhan ini sesuai dengan rencana kita.”

“Bagaimana dengan pengawal-pengawalmu yang kebingungan itu?” bertanya Tapak Lamba.

Ki Buyut yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih itu pun berkata, “Biarlah aku memanggilnya dan berbicara dengan mereka. Jika aku berhasil mempengaruhi mereka, maka yang lain tentu akan tunduk dan mengikut saja.”

“Lalu bagaimana dengan orang-orangku?” bertanya Tapak Hamba.

“Sebaiknya, biarlah mereka mengamati suasana.”

“Aku tidak mengerti.” sahut Tapak Lamba, “Aku akan memanggil orang-orangmu dan tetap menjauhkan aku dari orang-orang ku yang berdiri dimuka gerbang itu.”

Ki Buyut termangu-mangu. Lalu katanya, “Nyai. Marilah kita berpikir waras. Bagaimana dengan ketiga orang-orangmu itu? Apakah ia akan dapat mengerti jika kita berubah pikiran? Mereka sudah terlalu lama hidup dan berbuat gila seperti yang kita lakukan.”

Nyai Buyut menundukkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak mengerti. Aku tidak yakin, seperti aku tidak yakin akan diriku sendiri.”

“Kau harus yakin, seperti aku yakin akan diriku. Aku harus meletakkan harapan bagi masa depanku. Dan mereka pun dapat menumpang pada tujuan ini.”

“Kau dapat mencobanya.” berkata Nyai Demang itu. “Tetapi jika gagal, dan menganggap kita kehilangan kiblat, maka aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan.”

“Bagaimanapun juga mereka masih tetap mempunyai akal budi. Aku akan mencobanya. Mudah-mudahan kegilaan kita semuanya masih ada batasnya.”

Nyai Buyut tidak menjawab. Dengan tatapan yang sayu ia memandang kearah ketiga orang pengawalnya yang melekat dinding, sedang yang lain bertebaran dipinggir halaman.

“Panggillah mereka.” berkata Nyai Buyut kemudian.

“Aku akan menyingkir.” berkata Tapak Lamba.

“Kau masih tetap bercuriga.”

“Ya. Aku lebih tidak yakin lagi, apakah yang akan dapat terjadi kemudian.”

“Terserahlah.” berkata Ki Buyut, “Pergilah kepada orang-orangmu. Aku akan memanggil orang-orangku.”

“Aku akan berada di halaman.” berkata Tapak Lamba.

Ki Buyut tidak menghiraukannya lagi. Ia pun kemudian berdiri dan sebuah suitan yang nyaring terdengar menggelepar di halaman rumah itu.

Beberapa orang yang berada di halaman itu pun tiba-tiba bergerak serentak mengepung pendapa dengan senjata masing-masing. Tiga orang pengawal terdekat Ki Buyut pun segera naik. Bahkan mereka langsung bersiap menghadap kepada Tapak Lamba yang sudah bersiap untuk melangkah turun.

Tapak Lamba terkejut melihat sikap mereka. Hampir saja ia bertindak dan memanggil kawan-kawan mereka. Untunglah bahwa ia belum terlanjur, karena Ki Buyut pun kemudian berteriak, “Kemarilah. Aku akan berbicara dengan kalian.”

Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Mereka saling berpanda¬ngan dengan terheran-heran.

“Kemarilah.” Ki Buyut mengulangi, “Biarkan orang itu turun kehalaman dan menemui kawan-kawannya.”

Para pengawal Ki Buyut tidak segera menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi ketika mereka memandang Ki Buyut dan Nyai Buyut yang duduk dengan kepala tunduk di pendapa itu.

“Kemarilah.” sekali lagi Ki Buyut memanggil.

Dengan ragu-ragu orang-orang itu pun bergeser mendekatinya. Namun sekali-sekali mereka masih berpaling dan memandang kepada Tapak Lamba yang berjalan turun kehalaman dan langsung mendekati kawan-kawannya.

“Apakah benar ia tidak akan berbuat apa-apa?” bertanya salah seorang kawannya tidak sabar.

“Agaknya demikian.” berkata Tapak Lamba.

“Aku sudah tidak sabar.” berkata kawannya yang lain, “Dan sekarang pun sebenarnya aku masih tetap curiga. Karena itu, bagaimana jika kita pergi saja?”

“Jangan. Agaknya ia sudah hampir terbangun dari mimpinya. Jika kita pergi, maka ia akan kembali ke dalam mimpi buruknya.”

Dengan singkat Tapak Lamba menceriterakan tanggapannya atas Sunggar Watang yang kemudian menyebut dirinya benama Kidang Pengasih itu.

“Mereka benar-benar menjadi gila.” berkata kawannya, “Mungkin hari ini mereka menjadi waras. Tetapi besok mereka akan dapat kambuh lagi dan berbuat diluar pengamatan nalarnya.”

Kawan-kawannya termangu-mangu sejenak. Dilihatnya para pengawal yang berada dipendapa mengelilingi Ki Buyut dan isterinya. Anak muda yang mengajak tapak Lamba datang ke halaman itu pun telah sadar pula dan dengan kekuatan yang belum pulih sama sekali, tertatih-tatih naik pula kependapa dan ikut duduk di sekitar Ki Buyut dan isterinya.

“Kita akan mengambil sikap lain.” berkata Ki Buyut, “Sudah sekian lama kita hidup dalam cengkaman ketakutan dan kecemasan. Dibumbui oleh dendam dan kebencian, maka hidup kita telah menemukan bentuk yang mengerikan.”

“Apakah cara yang pernah kita tempuh itu salah?” salah seorang dari ketiga orang pengawal terdekat Ki Buyut itu pun bertanya, “Aku tidak melihat cara hidup yang lebih baik dari cara yang pernah kita tempuh. Dengan memusnahkan setiap orang yang kita curigai, maka padukuhan kita yang aman dan damai ini tidak akan terganggu.”

Ki Buyut mengerutkan keningnya. Tentu mereka tidak memiliki ketakutan seperti dirinya. Mereka tidak takut untuk dikenal sebagai salah seorang pelarian Senapati Singasari pe¬ngikut Tohjaya yang sudah terbunuh.

Namun justru karena itu, maka alasan mereka yang selama ini mereka anggap tepat adalah alasan yang sulit untuk disisihkan dari hati mereka.

“Anak-anak.” berkata Ki Buyut, “Kita sudah cukup lama berada di dalam dunia yang kelam. Kita tidak akan dapat hidup dalam pengasingan terus menerus seperti sekarang ini.”

“Ki Buyut.” berkata salah seorang pengawal-pengawalnya, “Ke¬napa tiba-tiba saja Ki Buyut mempersoalkan cara hidup kita?”

“Aku sudah jemu dengan cara hidup seperti ini.” berkata Nyai Buyut, “Aku ingin hidup sewajarnya seperti saat ibu ku masih ada.”

Ketiga pengawalnya mengerutkan keningnya, sedang yang lain pun termangu-mangu.

“Apakah kalian tidak ingat lagi, apa yang pernah kalian alami saat itu?”

“Aku tidak begitu ingat. Tetapi yang jelas, saat itu padukuhan ini bukan padukuhan yang tenang dan damai seperti sekarang. Kadang-kadang masih ada gangguan yang datang dari luar padukuhan ini.”

Nyai Buyut menarik nafas dalam-dalam. Yang paling jelas nampak dalam ingatan para pengawalnya adalah justru kekacauan dan gangguan yang setiap kali datang kepadukuhan ini.

“Anak-anak.” berkata Nyai Buyut kemudian, “Kalian benar bahwa saat itu ada gangguan-gangguan kecil yang kadang-kadang menja¬mah padukuhan ini. Tetapi sebagai imbangannya, kami dapat hidup dalam lingkungan yang jauh lebih luas. Kami tidak selalu dibayangi oleh kecemasan bahwa pada suatu saat ada sekelompok orang yang akan datang untuk membalas dendam karena ada satu atau dua orangnya yang hilang dipadukuhan ini.”

“Tidak seorang pun yang mengetahuinya.” desis salah seorang pengawalnya.

“Tetapi pada suatu saat tentu ada. Karena itu, marilah cara hidup ini kita hentikan. Kita akan berusaha menjalin kehidupan yang lebih baik. Kawan-kawanmu sebaiknya perlu mendapat penjelasan.”

“Aku sendiri tidak jelas, apakah yang harus aku lakukan.” desis yang lain.

“Dengarlah baik-baik.” berkata Ki Buyut, “Ketahuilah bahwa yang datang itu, dan yang telah menunjukkan kelebihannya di dalam olah kanuragan, adalah seorang yang memiliki ketajaman pengamatan dan kecerdasan berpikir. Ia telah menyarankan, agar kita disini merubah tata cara kehidupan yang selama ini kita tempuh.”

“Gila.” geram salah seorang dari para pengawalnya itu, “Sudah bertahun-tahun kita menempuh cara hidup ini. Kini, tiba-tiba saja dengan mudahnya seseorang berusaha untuk merubahnya. Sudah barang tentu setelah ia menganggap bahwa cara hidup kita adalah salah.”

“Kau benar. Ia berhasil meyakinkan aku, bahwa cara hidupku sama sekali tidak benar. Aku terlibat dalam tindak dan sikap yang sangat biadab. Baru saja aku menyadarinya setelah kawanku membentangkan pendapatnya dengan segala alasannya.”

“Bohong.” geram yang lain, “Tentu ada persoalan-persoalan lain yang membuat Ki Buyut berdua berubah pikiran. Apakah Ki Buyut takut menghadapi hanya empat orang itu saja?”

“Tentu tidak.” jawab Ki Buyut, “Kau tahu, bahwa aku mampu bertempur dengan kekuatan dan kecepatan yang tidak ada duanya di padukuhan ini? Juga kalian semuanya tidak ada yang dapat menyamai kemampuanku? Nah, kalian tidak akan dapat menuduh aku sebagai seorang pengecut yang ketakutan menghadapi lawan yang hanya empat orang itu.”

“Jadi, jika demikian apakah alasan Ki Buyut yang sebenarnya?”

“Sudah aku katakan. Ada semacam kesadaran dalam diriku bahwa cara yang kita tempuh selama ini adalah salah.”

“Ah, itu adalah sesuatu yang terlampau tiba-tiba bagi kami. Kami tidak mengerti, kesadaran macam manakah yang telah merubah sikap Ki Buyut.”

“Anak-anak.” berkata Ki Buyut, “Aku tahu bahwa untuk meninggalkan kegemaran seperti yang pernah kita lakukan itu adalah sangat sulit. Tetapi marilah kita coba. Hidup dalam keadaan pahit getir selama ini membuat kita semuanya menjadi kehilangan akal. Tetapi kepahitan yang paling dalam sebenarnya terjadi pada Nyai Buyut. Pada isteriku. Sedangkan ia dapat melihat dengan mata hatinya, bahwa cara hidup yang selama ini kita tempuh adalah cara yang ingkar dari tata kehidupan manusia.”

“Omong kosong.” tiba-tiba salah seorang dari ketiga orang pengawal itu berteriak, “Aku tidak percaya. Kita sudah menempuh cara yang benar. Cara yang paling baik.”

Dalam ketegangan itu, tiba-tiba anak muda yang baru sadar dari pingsannya berkata, “Rasa-rasanya memang ada sesuatu yang pantas dipikirkan saat ini. Baru saja aku sadar dari pingsan. Tetapi rasa-rasanya baru saja aku sadar dari tidur yang pulas tetapi yang dibayangi oleh sebuah mimpi yang sangat buruk.”

“Diam kau.” bentak salah seorang pengawal.

“Dengarlah. Aku akan berbicara sedikit lagi. Agaknya memang masih ada tata cara hidup yang lebih baik dari tata cara hidup kita sekarang.”

“Tidak.” teriak salah seorang dari ketiga pengawal itu, “Membunuh adalah kesenangan yang dapat mendatangkan kebahagiaan. Dengan demikian kita akan dapat melihat kesan dari berpuluh-puluh wajah dari orang-orang yang mengalami berbagai macam perasaan menjelang saat-saat kematian.”

“Itulah yang kita lihat selama ini. Tetapi tentu bukan itulah tata cara kehidupan seseorang yang sewajarnya. Dan aku cenderung untuk menempuh tata cara kehidupan yang baru.”

“Tutup mulutmu.” pengawal yang lain berteriak, “Aku dapat membunuhmu, kau dengar.”

Tetapi pengawal-pengawal yang lain, kecuali tiga orang itu, ternyata bersikap lain. Salah seorang dari mereka berkata, “Kita tidak tergesa-gesa menentukan sikap. Semuanya memang tidak akan dapat berubah dengan tiba-tiba. Tetapi persoalan ini wajib kita pikirkan dan kita pertimbangkan.”

“Tidak. Tidak ada yang harus kita pikirkan dan kita pertimbangkan. Keempat orang itu pun harus dibunuh seperti orang-orang lain yang pernah datang kepadukuhan ini.”

Pendapa itu pun kemudian menjadi tegang. Ternyata kedatangan Tapak Lamba, orang yang sudah dikenal dengan baik oleh Ki Buyut yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih itu, telah menumbuhkan kegoncangan. Tetutama di dalam alam pikir mereka.

Seorang yang bertubuh kurus diantara para pengawal yang sudah bertempur melawan Tapak Lamba dan kawan-kawannya itu pun berkata, “Agaknya memang ada cara hidup yang lain di dunia ini, selain hidup sebagai seorang pembunuh. Meskipun sudah lama berlalu, tetapi rasa-rasanya aku masih merasa betapa damainya hati pada saat itu. Pada saat padukuhan ini masih belum dikotori dengan darah yang disusul oleh tetes-tetes darah berikutnya.”

“Omong kosong.” bentak salah seorang dari ketiga pengawal Ki Buyut yang khusus itu, “Kau bermimpi di siang hari. Jangan kau ingat yang sudah lampau. Saat itu tidak akan dapat kembali sekarang ini. Kita sudah menghayati kehidupan yang penuh dengan sifat-sifat kejantanan dan kepahlawanan. Semakin banyak korban yang terbunuh karena tangan kita, maka kita akan menjadi semakin menyadari betapa tinggi arti hidup kita ini. Sebelum kita pun akan mati pada suatu saat, maka kita ha¬rus mengenal bentuk-bentuk kematian sebanyak-banyaknya, agar disaat kematian tiba, berduyun-duyun orang yang akan mengantarkan kita dialam akhir itu. Orang-orang yang telah mati oleh tangan kita itu akan menjadi hamba-hamba kita dikemudian hari. Semakin menarik cara kematian yang kita berikan, maka ia akan menjadi semakin setiap mengawal kita kelak. Sudah barang tentu, siapakah yang hambanya paling banyak, maka dialam mendatang itu, akan menjadi penghuni yang paling berpengaruh.”

“Gila.” teriak Ki Buyut, “Mimpimulah yang paling berbahaya. Kita semuanya belum pernah melihat kehidupan yang akan datang. Tetapi sudah barang tentu tidak akan terjadi seperti yang kau katakan. Setiap pembunuhan adalah kesalahan yang mendatangkan hukuman. Hukuman aku akan berkurang jika kita berbuat baik bagi sesama.”

“O.” tiba-tiba ketiga orang pengawalnya tertawa berbareng, “Sejak kapan Ki Buyut mengenal kebajikan dengan memperbandingkan perbuatan baik dan buruk? Jika benar demikian, maka kesalahan Ki Buyut tidak akan dapat ditebus dengan berbuat baik sepanjang sisa umurmu.”

“Gila, Aku pun tidak tahu yang sebenarnya. Tetapi aku berpendapat bahwa kita tidak boleh lebih lama lagi dibayangi oleh tata cara hidup yang gila ini.” ia berhenti sejenak, lalu, “Sekarang dengarlah. Aku perintahkan kalian berbuat lain daripada perbuatan-perbuatan yang terkutuk yang pernah kalian lakukan. Kita akan memikirkan bentuk kehidupan yang akan kita jalani kelak.”

“Tidak.” pengawalnya yang paling besar segera memotong kata-katanya Ki Buyut. “Sebenarnyalah bahwa Ki Buyut tidak mempunyai kekuasaan apa-apa disini. Jika Ki Buyut masih tetap dalam cara hidup yang selama ini kita tempuh, aku akan tetap setia kepadamu. Tetapi jika kau ingin merubah tata cara kehidupan yang sampai saat ini kia lakukan, maka akulah orang yang akan menentang pertama-tama.”

“Gila.” teriak Ki Buyut, “Jika aku tidak berkuasa di sini, isterikulah yang memiliki kekuasaan itu, karena ia adalah anak Ki Buyut yang sah.”

“Tidak. Justru ia adalah anak durhaka. Ia telah meminjam tanganmu membunuh ayahnya yang telah membesarkannya.”

“Tidak. Tidak.” Nyai Buyut berteriak, “Ia bukan ayahku. Dan ia selalu menghantuiku siang dan apalagi malam.”

Orang yang bertubuh kekar itu membantah, “Omong kosong. Kalian sudah bersekongkol untuk membunuhnya dan kemudian mengambil alih kekuasaan disini untuk melakukan kegilaan ini. Aku sudah terseret dalam tindakan-tindakan yang mula-mula aku anggap sebagai tindakan yang paling gila. Tetapi ketika aku menjadi tertarik sekarang ini, kalian mencoba untuk menghentikannya.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tidak. Aku tidak mau. Ki Buyut masih harus tetap dalam sikap dan perbuatan seperti yang pernah kita lakukan bersama.”

“Bagaimanapun juga, akulah buyut disini.” bentak Ki Buyut tidak kalah garangnya, “Sah atau tidak sah, tetapi kini akulah yang diakuinya. Meskipun demikian, jika kau mengungkat saluran kekuasaan atas padukuhan ini, maka aku pun akan bertanya, siapakah kalian sebenarnya? Dan sejak kapan kalian berada di padukuhan ini menjadi pengawalku? Sekarang kalian tidak akan dapat membusungkan dada. Kalian tetap budak-budakku disini. Kau datang dengan membawa nafas kekejaman. Dendamku kau rabuk dengan sifat-sifat liar dan buasmu itu sehingga terjadilah kehidupan yang sama sekali tidak mencerminkan kehidupan seorang manusia yang mengenal peradaban betapapun terkebelakangnya.”

“Omong kosong.” bentak pengawal yang lain, “Sebenarnyalah bahwa kami bertigalah yang berkuasa sampai sekarang. Kekuatan dan kemampuan kami adalah lambang dari kekuasaan kaki. Siapa yang menentang kami, akan berarti maut. Maut lewat jalan yang paling mengerikan yang belum pernah kita lakukan disini? Mungkin dengan cara-cara baru yang akan segera dapat aku ketemukan. Nah, apa katamu Ki Buyut. Kau adalah debu yang tidak berarti disini. Kawan-kawanmu diregol itu tidak akan berarti pula bagi kami.”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Ia melihat sorot mata para pengawalnya yang semula dianggapnya setia itu, seolah-olah telah menyala.

Namun Ki Buyut pun kemudian tertawa. Katanya, “Anak-anak. Kalian memang aneh. Kalian mencoba un¬tuk menggertak aku. Dengarlah. Kita sudah lama berkumpul. Kita sudah saling mengetahui, sampai dimana tingkat kemampuan kami masing-masing. Kenapa kau menyebut-nyebut seolah-olah kalian adalah orang yang paling perkasa disini? Aku tidak dapat kau takut-takuti seperti anak-anak. Aku tahu, sampai dimana batas kemampunmu, kemampuan setiap pengawalku. Pengawalku yang terdekat dan paling setia, yaitu kalian bertiga atau pengawal-pengawalku yang lain.”

“Persetan.” berkata ketiga pengawal itu, “Jika Ki Buyut tetap pada pendiriannya, maka aku akan mengambil jalan kekerasan.”

“Kami bukan cacing tanah.” teriak Ki Buyut, “Agaknya aku memang masih harus membunuh meskipun ia adalah pengawalku sendiri.”

Tiba-tiba saja ketiga orang pengawalnya itu pun berloncatan mundur. Mereka langsung menggenggam senjata masing-masing.

Tetapi dalam pada itu, beberapa orang yang lain telah berdiri pula. Mereka bergeser di sebelah menyebelah Ki Buyut. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku sadar, bahwa kalian memiliki kelebihan dari kami. Tetapi selain jumlah kami lebih banyak, juga Ki Buyut ada di antara kami. Dan kita semuanya tahu, bahwa Ki Buyut memiliki kemampuannya tersendiri.”

“Persetan cucurut dungu. Kau adalah pengkhianat. Kau tidak setia kepada tujuan hidupmu. Karena itu kau pun harus mati dan menjadi hambaku di alam seberang dari hidup kita ini.”

“Pikiranmu adalah pikiran yang sesat. Meskipun aku masih akan tetap menjadi pembunuh, tetapi mungkin caraku akan lebih kesatria dengan cara-cara yang kita lakukan sekarang.”

“Tutup mulutmu.” teriak salah seorang dari ketiga orang pengawal yang menentang sikap Ki Buyut itu.

Ki Buyut pun kemudian melangkah maju mendekati ketiga orang pengawalnya itu sambil berkata, “Kita akan bertempur. Tetapi jangan kalian ganggu isteriku. Biarlah ia melihat akhir dari perkelahian ini. Siapakah yang akan mati terkapar di halaman, dan siapakah yang masih akan tetap hidup.”

“Persetan.” geram pengawal Ki Buyut yang paling muda, “Aku akan memperisterikannya, dan aku adalah Buyut di padukuhan ini. Meskipun lumpuh, tetapi isterimu cantik sekali.”

Ki Buyut menjadi marah bukan kepalang. Ia sudah tidak dapat menahan diri lagi. Meskipun yang ada dihadapannya itu adalah pengawalnya, namun ia sudah kehilangan kesabarannya sama sekali.

Dengan demikian, maka Ki Buyut itu pun tiba-tiba telah me¬nyerang dengan garangnya, diikuti oleh beberapa orang pengawalnya yang lain.

Namun ternyata bahwa ketiga pengawalnya itu memiliki beberapa kelebihan dari pengawal-pengawal Ki Buyut yang lain. Karena itu, meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak, tetapi dalam benturan yang pertama, ternyata bahwa mereka sudah harus terdesak surut.

Hanya Ki Buyut sendirilah yang ternyata mampu mengimbangi kemampuan pengawalnya itu Karena itu, ia dapat mengikat salah seorang dari mereka dalam perkelahian yang sengit, sedang yang lain harus melawan beberapa orang sekaligus, yang agaknya sama sekali tidak membuat mereka menjadi gelisah.

“Kali ini kami akan melakukan sejenis pembantaian yang lain.” berkata salah seorang pengawal itu.

Sejenak kemudian maka perkelahian itu pun menjadi semakin sengit. Masing-masing mengerahkan segenap kemampuannya untuk dapat segera mengalahkan lawannya.

Tetapi agaknya dua orang pengawal Ki Buyut yang tidak dapat menyetujui sikapnya itu, segera nampak lebih unggul dari pengawal-pengawal yang mengeroyoknya. Bahkan dengan pasti mereka dapat mendesak lawannya untuk beberapa langkah.

Nyai Buyut yang lumpuh itu menjadi semakin lama semakin gelisah. Ia tidak dapat berubat lain kecuali duduk di tempatnya dengan kecemasan. Apalagi ketika ia melihat, pengawal-pengawal yang masih tetap setia kepada Ki Buyut mulai terdesak.

Meskipun demikian, namun pertempuran itu agaknya masih akan berlangsung lama. Masing-masing tentu akan tetap bertahan sampai kemungkinan yang terakhir. Sebab mereka masing-masing menyadari, bahwa mati di dalam perkelahian itu akan jauh lebih baik daripada mati dibelakang tembok yang menyekat halaman Ki Buyut itu.

Karena itulah, maka agaknya ketiga orang pengawal yang memiliki kelebihan itu pun tidak segera dapat mengalahkan lawan-lawan mereka.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja salah seorang dari ketiga pengawal yang melawan Ki Biyut itu mendapat pikiran untuk mempercepat perkelahian. Jika ia berhasil menangkap Nyai Buyut dan mengancam akan membunuhnya, maka Ki Buyut tentu akan berhenti bertempur.

Meskipun demikian, ia tidak segera dapat melakukannya. Ia masih harus menunggu kesempatan yang sebaik-baiknya.

Namun dalam pada itu, setiap kali ia pun selalu berpaling memandang Ki Buyut yang sedang berkelahi melawan salah seorang dari mereka dan kemudian memandang Nyai Buyut dan duduk dengan gelisah.

Sementara itu, perkelahianpun menjadi semakin ramai. Dimuka regol, Tapak Lamba yang tidak mendengar pembicaraan orang-orang di pendapa itu seluruhnya, menjadi bingung. Ia sudah menduga bahwa telah terjadi perbedaan sikap dan penda¬pat. Namun perkelahian yang dahsyat itu benar-benar telah sangat menarik perhatiannya.

“Kakang Sunggar Watang masih tetap seorang prajurit yang memiliki kelebihan.” berkata Tapak Lamba.

“Tetapi lawannya juga mampu bertempur dengan gagahnya.” sahut salah seorang kawannya.

Tapak Lamba termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Ketiga orang itu memang mencurigakan. Menilik sikap, tutur katanya, ia memang mempunyai kelainan dengan orang-orang padukuhan ini.”

“Mungkin mereka adalah pendatang seperti kakang Sunggar Watang.” desis Tapak Lamba kemudian.

Namun mereka pun terdiam ketika mereka melihat perkelahian menjadi semakin seru. Agaknya mereka tidak lagi dapat mengekang diri. Mereka bukan lagi sekedar berkelahi untuk memaksakan pendapatnya, tetapi mereka sudah benar-benar berusaha untuk saling membunuh.

Sementara itu, salah seorang dari ketiga pengawal itu masih tetap dalam rencananya. Ia akan memaksa Ki Buyut berhenti dengan caranya. Kemudian ia akan dapat membunuh Ki Buyut dengan cara yang paling menyenangkan, yang belum pernah dilakukannya sampai saat terakhir. Mereka baru sering membicarakannya cara itu, tetapi belum pernah melakukannya.

“Ia akan aku masukkan kedalam sebuah jambangan yang sangat besar. Di bawah jambangan itu akan dinyalakan api yang tidak terlampau panas, sehingga tidak membunuhnya dengan segera. Aku akan mendapat kesempatan untuk melihat saat-saat yang paling menyedihkan didalam hidup Ki Buyut itu sebelum kematian akan merenggutnya.” berkata pengawal itu di dalam hatinya.

Tiba- saja tersenyum sendiri. Sekali-sekali sambil bertempur ia pun berpaling kepada Ki Buyut, kemudian kepada Nyai Buyut yang bukan saja gelisah, tetapi menjadi ketakutan.

“Tunggulah saatnya.” berkata pengawal itu di dalam hatinya, “Jika di dalam jembangan yang besar iu ditaburkan sedikit garam, asam dan gula kelapa, maka Ki Buyut akan menjadi hidangan yang lezat.”

Sementara itu, Tapak Lamba memperhatikan perlahian itu dengan saksama. Ia mulai cemas melihat pengawal-pengawal Ki Buyut yang lain menjadi semakin terdesak. Hanya Ki Buyut sendirilah yang mampu bertahan dengan gigihnya.

“Cepat, selesaikan mereka.” desis pengawal yang bertempur melawan Ki Buyut itu.

Dengan sepenuh tenaga, kedua kawannya pun berusaha untuk segera memenangkan pertempuran. Namun setiap kali seorang di antaranya selalu saja diganggu oleh rencananya yang dianggapnya akan sangat menyenangkan.

Tapak Lamba dan kawan- kawannya yang menyaksikan perkelahian itu, seolah-olah diluar sadarnya telah berjalan mendekat. Bahkan diantara mereka ada yang memungut sepotong kayu di halaman.

“Untuk apa?” bertanya kawannya.

“Jika kami harus bertempur, kayu ini akan dapat membantu di samping keling di tangan.”

Yang lain mengangguk-angguk. Ia melihat pedang di tangan Tapak Lamba. Tetapi mereka tidak dapat menemukan pedang semacam itu.

“Selarak itu menarik sekali.” desis yang seorang lagi.

“Ya.” sahut yang lain, yang belum menemukan apa pun juga. Tetapi ia pun segera tersenyum sambil berkata, “Aku juga menemukan senjata.”

Dipungutnya sepotong besi yang tidak terlampau besar, dan tidak terlampau panjang. Agaknya besi itu pun bekas senjata atau semacam sumbat kelapa, karena pada salah satu ujungnya agak pipih dan sedikit tajam.

“Kita tidak akan turut campur.” desis Tapak Lamba, “Biar apapun yang akan terjadi, kita adalah orang asing disini.”

“Bagaimanakah dengan kakang Sunggar Watang. Jika ia kalah, mungkin kita akan benar-benar dibantai disini.” sahut salah seorang kawannya.
Pintu itu masih terbuka dan kita akan dapat lari dari halaman ini, demikian Sunggar Watang terbunuh.”

Kawannya-kawannya menjadi ragu-ragu. Salah seorang berdesis, “Sebaiknya kita tidak membiarkan terjadi pembunuhan yang akan sangat mengerikan atas mereka.”

Tapak Lamba tidak segera menyahut. Namun tiba-tiba saja ia memalingkan wajahnya ketika ia melihat salah seorang pengawal yang berhasil melukai lawannya, tiba-tiba benar-benar seperti orang yang kehilangan akal. Diancangnya lawannya itu dihadapan pengawal yang lain yang menjadi sangat ngeri karenanya.

Ternyata ketiga kawan-kawannya menjadi ngeri pula karenanya. Darah memancar dari luka-nya dan bahkan kemudian tubuhnya pun menjadi tidak berbentuk lagi.

“Iblis.” desis kawan Tapak Lamba.

Yang lain berkata, “Kita akan mencegah pembunuhan berikutnya, atau kita akan lari saja dari tempat ini.”

Yang seorang menyahut, “Mungkin aku sendiri tidak akan menjadi ngeri seandainya aku yang terbunuh seperti itu. Tetapi untuk menyaksikannya benar-benar sangat menyinggung harga diri dan martabat kemanusiaan meskipun aku juga seorang pembunuh.”

Tapak Lamba berpikir sejenak. Kemudian ia pun berkata, “Agaknya ketiga orang itulah yang telah mendorong dan menjerumuskan Sunggar Watang ke dalam dunianya sekarang.”

“Jadi, apakah yang akan kita lakukan?”

Selagi Tak Lamba termangu-mangu, maka ia pun melihat sesuatu yang mencurigakan. Hampir diluar sadarnya ia pun bergeser maju semakin dekat dengan arena perkelahian itu.

Ternyata ketajaman mata Tapak Lamba tidak dapat dikelabuinya lagi. Karena itu, maka ia pun kemudian berdesis, “Bukan saja kejam dan bengis, tetapi agaknya mereka juga licik. Cepatlah, kita tidak dapat berpangku tangan. Kita pun pembunuh yang lengkap. Dan sekarang kita akan membunuh lagi. Tetapi membunuhlah dengan cara yang baik.”

Sekilas Tapak Lamba termangu-mangu. Namun ia melihat lagi wajah yang bengis dan licik itu berpaling kepada Nyai Buyut yang lumpuh.

Tatapan mata itulah yang seolah-olah menjadi aba-aba Tapak Lamba. Ia pun kemudian meloncat semakin dekat.....
Tepat pada saatnya, maka Tapak Lamba melihat salah seorang dari para pengawal yang telah melawan Ki Buyut itu meloncat ke arah Nyai Buyut yang lumpuh.

Nyai Buyut yang melihat loncatan itu memekik kecil. Tetapi Ki Buyut yang sedang terlibat dalam perkelahian sengit itu pun tidak dapat berbuat apa-apa, selain memaki-memaki.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja pengawal yang telah hampir mencapai Nyai Buyut itu terkejut. Terasa sebuah dorongan yang keras sekali membenturnya, sehingga ia pun melangkah surut.

Dengan wajah yang merah padam ia berdiri tegak di atas kedua kakinya yang renggang. Matanya seakan-akan menjadi merah membara dan memancarkan kemarahan yang tiada taranya.

“Gila, kenapa kau turut campur?” teriaknya.

“Sebenarnya aku tidak ingin turut campur. Bertempurlah. Tetapi karena kau licik, dan akan mempergunakan Nyai Buyut yang tidak berdaya untuk kepentingan yang akan berakibat sangat buruk dan mengerikan, maka aku tidak akan dapat tinggal diam.”

“Kau adalah orang yang paling gila yang pernah aku jumpai. Sebenarnya kau mendapat kesempatan untuk melarikan diri dari halaman ini, dan kau akan selamat. Tetapi apakah kau tidak menyadari, bahwa tindakanmu ini dapat memancing kematian, bahkan dengan cara yang sangat mengerikan?”

“Jangan menakut-nakuti. Aku juga pembunuh seperti kau. Demikian juga kawan-kawanku. Dengan demikian, maka kita akan saling bertempur untuk memuaskan hati kita masing-masing. Siapa¬kah yang hari ini memperoleh kepuasan itu, membunuh dengan cara yang telah kita pilih.”

“Gila. Kau benar-benar orang gila.”

“Kita sama-sama orang gila. Jangan berbicara lagi. Aku akan berkelahi. Bagaimanapun juga aku tidak dapat melihat caramu yang licik. Sebagai seorang pembunuh dan penjahat yang mempunyai harga diri, aku menyesalkan tindakanmu yang dapat menodai nama dan sikap jantan dari golongan kita. Golongan pembunuh-pembunuh gila yang haus darah dan sekedar membunuh sebagai kesenangan.”

“Tetapi perempuan itu juga seorang yang paling kejam. Ialah yang menentukan bagaimana caranya kita akan membunuh seseorang.”

“Ia tidak akan berbuat demikian, jika kau tidak ada di sampingnya. Kaulah yang mengajarinya dan kemudian dengan perlahan-lahan memaksanya untuk melakukannya terus menerus.”

“Bohong.”

“Jangan ingkar.”

“Persetan, apa pedulimu.”

“Jangan berbicara lagi. Kita akan berkelahi.”

Lawanya benar-benar tidak berbicara lagi. Dengan serta merta ia pun meloncat menyerang dengan garangnya.

Kini pertempuran itu pun menjadi semakin luas. Tetapi kehadiran Tapak Lamba telah merubah segala-galanya. Ketiga pengawal yang melawan Ki Buyut itu, kini mendapat lawan yang seimbang. Yang seorang harus melawan Ki Buyut sendiri, yang seorang lagi melawan Tapak Lamba dan yang seorang lagi harus melawan demikian banyak orang.

Ketiga kawan Tapak Lamba mulai menilai keadaan. Karena itu, maka salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan membantu kakang Tapak Lamba. Dengan demikian perkelahian ini akan semakin cepat berakhir. Kau berdua, kawanilah pengawal-pengawal yang lain, yang agaknya tidak memiliki ilmu yang cukup untuk melawan pengawal yang garang itu.”

Demikianlah salah seorang kawan Tapak Lamba itu pun mendekatinya. Beberapa saat ia termangu-mangu menilai pertempuran yang sedang berlangsung itu.

Kemudian perlahan-lahan ia melangkah maju sambil berkata, “Kakang Tapak Lamba. Biarlah aku ikut bersamamu menyelesaikan perkelahian ini. Jika perkelahian ini segera berakhir, maka kita pun segera terlepas dari lingkaran kegilaan di halaman rumah ini.”

Tapak Lamba tidak segera menjawab. Tetapi ia kemudian mendengar lawannya tertawa, “Cepat, masuklah ke dalam arena. Agaknya kami harus memperlakukan kalian dengan tindakan yang paling khusus.”

Kawan Tapak Lamba itu ragu-ragu. Namun ia pun kemudian segera meloncat, membantu Tapak Lamba melawan seorang pengawal yang tidak lagi menurut perintah Ki Buyut itu.

Sejenak kemudian segera terasa, bahwa para pengawal itu mulai terdesak. Bahkan kemudian hampir pasti, bahwa mereka akan segera kehilangan kesempatan untuk hidup. Apalagi setelah dua orang kawan Tapak Lamba yang lain ikut pula di dalam pertempuran diantara pengawal-pengawal Tapak Lamba yang lain.

Dalam pada itu, Ki Buyut pun bertempur semakin gigih. Rasa-rasanya ia pun akan berhasil mendesak lawannya. Namun sejalan dengan kemenangan-kemenangan yang semakin membayang, Ki Buyut dan isterinya justru menjadi semakin gelisah.

“Apakah pada saat terakhir aku akan mampu melawannya.” berkata Ki Buyut didalam hatinya.

Sebenarnyalah, bahwa ketika para pengawal itu sampai pada puncak kesulitannya, maka tiba-tiba saja salah seorang dari mereka pun segera berteriak nyaring. Suaranya melengking seakan-akan akan memecahkan selaput telinga.

Ki Buyut mengerti isyarat itu. Tetapi ia belum pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, meskipun ia sudah berada didalam satu rumah untuk waktu yang cukup lama dengan ketiga orang itu.

Sejenak kemudian, ketiga orang itu pun berloncatan. Mereka segera bergabung menjadi satu dan berdiri saling beradu punggung.

Ki Buyut, Tapak Lamba dan kawan-kawannya serta para pengawal yang lain menjadi termangu-mangu. Mereka justru melangkah surut.

“Kami tidak mempunyai cara lain kecuali dengan cara ini.” geram salah seorang dari mereka, “Kalian semuanya memang harus mati. Mati dengan cara yang paling mengedihkan sekali.”

Sebelum seseorang sempat menjawab, maka terdengar salah seorang dari pengawal itu menggeram. Tangannya bergerak mendatar di depan dadanya, diikuti yang kedua orang yang lain.

Ki Buyut, Tapak Lamba dan orang-orang yang kemudian mengepungnya, justru melangkah surut. Namun mereka pun segera mempersiapkan diri mereka, menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi.

Ketiga orang itu ternyata sedang mempersiapkan ilmu mereka yang paling tinggi. Dengan suara nyaring salah seorang dari mereka berkata, “Ilmu ini adalah ilmu yang jarang sekali aku tunjukkan kepada siapa pun. Sekarang, aku sudah siap untuk mempergunakannya karena aku berhadapan dengan orang-orang yang sangat licik.”

Ki Buyut tidak menjawab. Tapak Lamba pun mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya. Ia akan dapat menghadapi keadaan yang tidak diduganya sama sekali.

Tetapi Tapak Lamba sudah terlanjur basah. Karena itu ia tidak akan surut, meskipun banjir akan melandanya.

Sejenak kemudian ketiga orang itu mulai bergerak berpu¬taran. Salah seorang dari mereka masih berkata, “Ki Buyut. Aku masih memberimu kesempatan. Jika kau berjanji untuk menuruti segala perintahku, maka kau akan terlepas dari maut maut dan tetap menjadi Buyut disini. Tetapi kau akan kehilangan isterimu dan hak untuk memerintah lebih jauh daripada melakukan semua perintahku dan petunjukmu meskipun atas namamu.”

Ki Buyut menggeram. Tetapi ternyata ia pun seorang jantan. Katanya, “Kalau kau ingin membunuh aku, lalukanlah. Aku bukan tikus tanah yang licik.”

“Persetan.” geram salah seorang pengawal itu.

Tiba-tiba saja mereka pun kemudian bergerak dalam lingkaran. Semakin lama semakin cepat. Namun kemudian, mereka mereka tidak hanya melingkar-lingkar saja, tetapi mereka mulai membuka serangan.

Demikianlah perkelahian itu terulang lagi. Justru menjadi semakin dahsyat. Ketiga orang itu berlari berputaran seperti sebuah roda. Sedangkan senjata-senjata mereka bagaikan gerigi-gerigi yang tajam pada roda yang sedang berputar itu.

Dengan demikian maka baik Ki Buyut, maupun Tapak Lamba dan kawan-kawannya tidak berani mendekat putaran itu. Sekali-sekali mereka mencoba menyerang, tetapi ternyata lingkaran gerigi itu sama sekali tidak dapat didekati, meskipun hanya dengan ujung senjata.

Setiap serangan yang diluncurkan, tentu menyentuh senjata mereka pula. Apalagi rasa-rasanya putaran itu semakin lama lama menjadi semakin cepat dan membingungkan.

“Gila.” geram Tapak Lamba di dalam hatinya. “Ilmu apa lagi yang sedang aku hadapi ini.”

Ki Buyut pun menjadi bingung pula. Ia belum pernah melihat ketiga pengawalnya itu berlaku demikian selama ia berada di padukuhannya.

Namun dengan demikian Ki Buyut pun menyadari, bahwa ketiga pengawalnya itu kini sedang dalam puncak ilmu yang selama ini disimpannya saja.

“Agaknya selama mereka berada di padukuhan ini, me¬reka tidak pernah mengalami kesulitan seperti sekarang, sehingga mereka tidak pernah merasa perlu untuk memperguna-kan ilmu yang dahsyat ini.” berkata Ki Buyut didalam hatinya.

Sementara itu, lingkaran yang berputar itu pun semakin lama menjadi semakin melebar. Bahkan tiba-tiba saja lingkaran itu bagaikan angin pusaran yang menyambar mangsanya, telah melihat beberapa orang yang sedang mengepungnya.

Serangan yang demikian itu benar-benar telah mengejutkan. Beberapa orang sempat berloncatan mundur. Tetapi seorang yang terlambat, tiba-tiba saja bagaikan ditelan oleh putaran itu.

Tidak seorang pun yang sempat melihat apa yang telah terjadi. Tetapi ketika putaran itu bergeser maka yang mereka lihat adalah sesosok mayat yang terbaring di tanah. Tubuhnya bagaikan terkelupas oleh luka yang tidak terhitung jumlahnya.

“Gila.” desis Tapak Lamba dan Ki Buyut hampir berbareng. Meskipun mereka adalah pembunuh-pembunuh, tetapi rasa-rasanya mereka menjadi ngeri melihat apa yang telah terjadi. Apalagi para pengawal yang lain dan ketiga kawan Tapak Lamba.

“Kini aku benar-benar dihadapkan pada musuh yang tidak tanggung-tanggung.” berkata Tapak Lamba di dalam hatinya, “Baru saja aku mengagumi Linggapati. Kini aku berhadapan dengan tiga orang gila yang memiliki ilmu yang gila pula.”

Namun Tapak Lamba tidak akan lari. Menurut penilaiannya, ketiga orang itu masih akan dapat ditembus dengan kekuatan jasmaniah dan akal yang diperhitungkan masak-masak.

Karena itu, maka ia pun segera mengambil tempat di arah yang berbeda dengan Ki Buyut, karena ia sadar, bahwa di antara mereka yang mengepung ketiga pengawal itu, mereka berdualah yang paling kuat. Sedang ketiga kawan Tapak Lamba pun menyebar di seputar lingkaran bergerigi itu.

Dengan demikian, maka orang-orang yang mengepung ketiga pengawal itu telah berhasil mengurangi keganasan ketiga orang pengawal itu. Jika lingkaran itu mulai bergerak untuk melihat lawannya disatu pihak, maka Tapak Lamba atau Ki Buyut lah yang dengan cepat dan mengerahkan segenap kemampuan me¬nyerang dari arah mereka masing-masing.

“Orang gila.” terdengar salah seorang dari ketiga pengawal itu berteriak, “Pada suatu saat, maka kalian semua¬nya akan terkelupas seperti mayat itu. Tetapi dengan cara yang lebih mengerikan lagi.”

“Persetan.” geram Tapak Lamba yang tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Tetapi betapapun juga kemarahan mendesak dadanya, namun ia tidak dapat mengelakkan kenyataan, bahwa lawannya tidak akan dapat dikalahkannya dengan mudah. Bahkan kemungkinan yang lain agaknya memang dapat terjadi.

Demikian perkelahian itu berlangsung dengan dahsyatnya. Arena itu pun kemudian bergeser dari satu tempat ke tempat yang lain di halaman dan di pendapa. Sementara Nyai Buyut menyaksikannya dengan penuh kecemasan. Ia adalah perempuan yang dengan wajah tanpa kesan menyaksikan pengawalnya itu membunuh dan bahkan bertindak kejam dan bengis, sehingga akhirnya ia sendiri telah terjerumus kedalam kesenangan yang berdarah itu. Namun melihat kenyataan yang dihadapinya, dan yang mungkin akan menyangkut dirinya sendiri, mulailah timbul ketakutan di dalam hatinya.

Sementara itu, yang bertempur masih juga bertemput. Sekali lagi, Ki Buyut, Tapak Lamba dan kawan-kawannya harus menyaksikan seorang pengawal telah menjadi mayat dengan tatu arang keranjang, ketika ia tidak berhasil menghindari libatan putaran ketiga pengawal yang ganas itu.

Setelah bertempur beberapa lama, ternyata putaran lingkaran itu tidak menjadi semakin kendor. Rasa-rasanya semakin lama justru menjadi semakin cepat.

Tapak Lamba dan Ki Buyut merasa bahwa satu-satu korban akan berjatuhan betapapun mereka berusaha untuk mencegahnya. Dan korban yang terakhir dan sudah barang tentu yang paling mengerikan adalah Ki Buyut dan Tapak Lamba yang tentu dianggap sebagai sumber keonaran itu.

Namun mereka ternyata bukan berniat untuk lari dari arena. Korban telah jatuh. Bahkan kemudian seorang lagi telah menjerit dan hilang di dalam putaran itu untuk sesaat, sebelum orang itu dilontarkan lagi dengan tubuh yang telah kehilangan bentuk.

Dalam pada itu, selagi pertempuran itu menjadi semakin sengit, diluar padukuhan, seorang anak muda sedang berkuda menuju kepadukuhan itu. Nampaknya ia adalah orang asing yang telah terdampar atau bahkan mungkin tersesat ke daerah yang hampir tidak pernah dijamah oleh orang-orang dari luar lingkungan mereka.

“Betapa sepinya.” desis anak muda itu. Demikian juga kesan yang didapatkannya ketika ia sudah memasuki pedukuhan. Pintu-pintu nampak tertutup dan hampir tidak seorang pun yang dapat diajaknya berbicara.

Sebenarnyalah orang-orang padukuhan itu menjadi ketakutan ketika mereka mendengar bahwa telah terjadi perkelahian yang dahsyat di rumah Ki Buyut. Sesuatu yang tidak pernah mereka dengar dan terjadi sebelumnya.

Yang mereka ketahui sebelumnya adalah, bahwa ada beberapa orang yang masuk ke rumah itu, dan tidak akan keluar lagi untuk selama-lamanya.

Tetapi mereka sendiri, penduduk padukuhan itu, tidak pernah merasa terganggu oleh tingkah laku pemimpinnya dan para pengawalnya. Bahkan mereka mengenal pemimpinnya sebagai seorang yang baik dan sangat memperhatikan perkembangan pedukuhannya.

Tiba-tiba saja kini telah terjadi perkelahian diantara pemimpinnya yang tinggal dirumah yang serasa asing itu.

Anak muda yang datang berkuda itu pun kemudian memasuki regol padukuhan itu dengan hati yang berdebar-debar. Ia pun kemudian menyusur jalan induk, sehingga akhirnya tanpa dike¬tahuinya sendiri, ia telah menuju kerumah Ki Buyut yang se¬dang menjadi ajang perkelahian itu.

Beberapa langkah dari halaman itu, anak muda yang berkuda itu telah mendengar suara yang mencurigakan. Ia mendengar sekali-sekali suara teriakan nyaring, dan kemudian Iamat-Iamat ia pun mendengar dentang senjata beradu.

“Perkelahian atau sekedar latihan?” desisnya.

Namun dengan demikian ia menjadi semakin tertarik untuk mengetahui, apakah yang telah terjadi. Namun ia pun telah menduga bahwa yang terjadi adalah suatu tindakan kekerasan, karena ternyata seluruh penghuni padukuhan menjadi ketakutan karenanya.

Sesaat ketika ia memasuki gerbang, maka nampaklah olehnya perkelahian yang sangat dahsyat. Dengan kening yang berkerut merut ia melihat tiga orang yang bertempur dalam gerak lingkaran yang sangat berbahaya bagi lawan-lawannya. Bahkan ia pun kemudian melihat akibat dari keganasan cara bertempur yang demikian itu atas beberapa orang yang tergolek di tanah bagai¬kan terkelupas.

“Ilmu hitam itu mulai nampak lagi.” desisnya, “Sudah lama ilmu itu lenyap. Tiba-tiba kini aku menyaksikan sekelompok orang mempergunakan ilmu yang gila itu.”

Dada anak muda itu pun menjadi berdebar-debar. Ia tidak tahu siapakah yang sedang bertempur. Namun ilmu yang dilihatnya itu benar-benar telah menarik perhatiannya.

Ia pun kemudian turun dari kudanya dan menambatkan kuda itu pada sebatang pohon perdu. Selangkah demi selangkah ia mendekati arena perkelahian itu dengan dada yang berdentangan.

Ki Buyut melihat kehadiran anak muda itu. Demikian juga beberapa orang yang lain. Bahkan ketiga orang pengawalnya yang bertempur sambil melingkar itu pun melihat pula kehadiran anak muda itu.

Tiba-tiba saja dalam ketegangan itu terdengar suara Ki Buyut, “He, anak muda. Pergilah agar kau tidak terlibat dalam ma¬lapetaka ini.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih tetap berdiri di tempatnya.

“Pergilah.” Tapak Lamba mengulang.

Anak muda itu mengangguk-angguk. Ia mengerti kenapa kedua orang itu berteriak kepadanya. Agaknya keduanya memang berada pada pihak yang lemah. Dengan demikian, keduanya mengharap agar tidak ada korban yang lain jatuh selain mereka yang sedang bertempur itu sendiri.

Tetapi anak muda itu tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan ia pun kemudian bertanya dengan suara lantang. “Apakah yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa kalian harus bertempur dengan puncak ilmu masing-masing.”

“Telah terjadi pengkhianatan disini.” teriak salah seorang pengawal Ki Buyut yang telah berdiri sebagai lawannya.

Anak muda itu memandang perkelahian itu dengan tegangnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Siapa yang berkhianat?”

“Orang itu.” teriak pengawal yang telah melawan Ki Buyut itu.

“Bohong. Aku buyut dipadukuhan ini.” teriak Ki Buyut.

“Tidak.”

Dan tiba-tiba saja terdengar suara seorang perempuan meleng¬king, “Ya. Ia adalah suamiku. Ki Buyut yang harus mempertahankan haknya dari ketiga pengawalnya yang berkhianat.”

“Persetan.” teriak salah seorang pengawal itu, “Aku tidak peduli. Tetapi semuanya akan segera mati dengan kulit terkelupas dan daging tersayat-tersayat. Ayo anak muda, jika kau ingin mati juga, masuklah ke dalam arena ini.”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia melihat dari dekat, mayat yang terbaring dengan luka arang keranjang, ia pun menjadi ngeri dan berkata di dalam hatinya, “Benar-benar ilmu hitam yang paling jahat. Ilmu itu telah membunuh korbannya dengan cara yang paling biadap. Sambil berlari berputaran, setiap orang telah membenamkan senjatanya pada sese¬orang yang dapat dilibat di dalam putaran itu.”

Anak muda itu terkejut ketika ia mendengar sekali lagi Ki Buyut berkata, “Pergilah. Pergilah. Masih ada waktu bagimu. Larilah di atas punggung kudamu sejauh-jauhnya dari neraka ini.”

Anak muda itu justru mendekat sambil berkata, “Terima kasih Ki Buyut. Tetapi aku masih ingin melihat beberapa lama lagi. Ilmu itu agaknya sangat menarik. Seperti roda yang bergerigi sedang berputar dengan dahsyatnya.”

Ki Buyut masih akan memberikan penjelasan. Tetapi terpaksa diurungkannya, karena lingkaran bergerigi itu hampir saja melibatnya. Dan hampir saja ia terlempar seperti buah pi¬sang yang terkelupas.

Untunglah ia sempat meloncat jauh-jauh surut. Sedang dari arah lain, Tapak Lamba dan kawan-kawannya, dengan sengitnya me¬nyerang pula untuk membantu membebaskan Ki Buyut dari libatan putaran itu.

“Gila.” teriak salah seorang pengawal itu, “Kaulah korban yang kemudian, karena kau telah melepaskan Ki Buyut dari putaran ini.”

Dada Tapak Lamba bergetar. Tetapi ia mencoba tertawa sambil menjawab, “Aku sudah siap sejak pertempuran ini dimulai. Jangan mengancam lagi, dan jangan mencoba menakut-nakuti aku seperti menakut-nakuti anak-anak. Aku sudah dapat menilai kemampuan ilmu roda bergerigimu. Dan aku sama sekali tidak menjadi kecut karenanya.”

“Persetan.” pengawal itu menggeram. Sementara putaran itu memang bergeser mendekati Tapak Lamba. Namun Tapak lamba tidak menunjukkan kecemasannya. Ia bertempur dengan gigihnya. Sementara kawan-kawannya justru telah berhasil memungut Senjata para pengawal Ki Buyut yang telah terbunuh, sehingga dengan demikian mereka pun telah bersenjata pula untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Di dalam hati Ki Buyut merasa beruntung bahwa Tapak Lamba dan kawan-kawannya, telah hadir di rumahnya, karena ternyata kemampuan Tapak Lamba dapat membantunya setidak-tidaknya memperlambat saat-saat kematiannya.

Anak muda yang memperhatikan pertempuran itu pun bergeser justru semakin dekat. Dahinya yang berkerut merut membayangkan hatinya yang bimbang.

“Agaknya padukuhan inilah yang disebut bayangan hantu oleh sebagian besar orang-orang di sekitar hutan di luar padukuhan ini.” berkata anak muda itu di dalam hatinya, “Menurut pendengaranku, ada daerah yang tidak dikenal, yang sama sekali tidak dapat disebutkan bentuknya, karena setiap orang yang memasuki daerah itu tidak akan pernah kembali, sehingga da¬erah yang gelap itu disebut daerah bayangan hantu.” ia meng¬angguk-angguk. Namun kemudian pertanyaan yang lain tumbuh di ha¬tinya. “Tetapi kenapa justru Ki Buyut yang kini menjadi sasar¬an usaha pembunuhan ini.” Anak muda itu menarik nafas. Agaknya ia menjadi bertambah bingung.

“Cepat.” Ki Buyut yang sudah agak bebas dari pusaran itu mencoba memperingatkannya sekali lagi, “Pergilah dan neraka ini.”

“Maaf Ki Buyut.” jawab anak muda itu, “Secara kebetulan aku sampai di padukuhan yang nampaknya tenang dan damai ini. Sebenarnya aku sedang dalam perjalanan mencari daerah yang disebut daerah bayangan hantu. Ketika aku memasuki daerah ini, aku merasakan betapa tenang dan damainya padu¬kuhan ini. Tetapi ternyata aku menemukan kalian sedang bertempur.”

Anak muda itu masih akan berbicara lagi, tetapi suaranya terhenti karena ia melihat suasana yang sangat gawat bagi Ki Buyut. Untunglah, bahwa masih ada kesempatan baginya untuk menolong dirinya sendiri.

Ki Buyut tidak sempat menjawab. Ia harus memeras kemampuannya meskipun ia merasa bahwa kesempatan baginya
menjadi semakin sempit.

Tapak Lamba pun merasa, bahwa tidak lama lagi pertempuran ini akan selesai. Ki Buyut dan pengawalnya, dirinya sendiri dan ketiga kawannya, tentu akan menjadi mayat. Bahkan mungkin dengan cara yang paling mengerikan.

Namun ketika terpandang olehnya Nyi Buyut yang lumpuh, hatinya tergetar. Apakah yang akan terjadi atas perempuan yang cacat itu.

Sementara itu, anak muda itu masih berkata, “Ketika aku menembus hutan di sekitar padukuhan ini, aku membayangkan akan memasuki sarang segerombolan penjahat yang mengerikan. Namun agaknya yang aku jumpai sekarang sangat membingungkan aku.”

“Pergilah.” teriak Ki Buyut, “Yang disebut daerah bayangan hantu adalah pedukuhan ini.”

“Mana mungkin.” jawab anak muda itu.

Ki Buyut tidak menjawab, karena ia harus berusaha menolong Tapak Lamba yang mendapat serangan beruntun dari putaran bergerigi itu.

Sesaat Tapak Lamba dapat membebaskan dirinya. Tetapi serangan yang berikut pun segera datang. Beruntun, bagaikan angin pusaran yang membadai. Semakin lama Tapak Lamba semakin berdiri di tepi halaman, sehingga akhirnya ia pun tersudut pada dinding batu.

“Satu-satunya jalan adalah meloncat naik.” desisnya. “Namun aku tidak boleh meninggalkan kawan-kawanku.”

Dalam kesulitan yang hampir tidak teratasi, maka Tapak Lamba pun masih sempat menunjukkan kelebihannya. Selagi Ki Buyut berusaha menolongnya, ia telah meloncat naik ke atas dinding batu yang tinggi.

“Gila, licik.” teriak salah seorang pengawal, “Tetapi jangan mencoba untuk lari.”

“Lingkaranmu tidak akan mampu berputar di atas dinding ini.” teriak Tapak Lamba.

Tetapi ternyata ia telah menyaksikan sesuatu yang hampir tidak masuk diakalnya. Benar-benar suatu pameran ilmu yang membingungkannya.

Ternyata Tapak Lamba yang berada diatas dinding itu seolah-olah justru telah masuk ke dalam perangkap atas kehendaknya sendiri. Hampir diluar kemampuan berpikirnya, maka ketiga orang itu dengan serta merta telah mengurungnya dalam satu putaran. Benar-benar mereka bertempur dengan setengah putaran di dalam dan setengah putaran di luar dinding. Setiap kali, masing-masing meloncat naik dan kemudian turun lagi mengelilingi Tapak Lamba yang ada di atas dinding.

“Gila.” Tapak Lamba berteriak.

“Memang agak sukar.” desis salah seorang dari ketiga orang yang melingkarinya itu, “Tetapi sebentar lagi kau akan menjadi mayat seperti orang-orang yang terdahulu.”

Tapak Lamba menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak akan menyesal bahwa ia telah terlibat dalam kesulitan itu. Karena itu, maka ia pun memusatkan segenap kemampuannya untuk melawan putaran itu. Apalagi ia yakin bahwa kawan-kawannya dan Ki Buyut tentu tidak akan tinggal diam.

Sebenarnyalah bahwa Ki Buyut telah mencoba untuk membantunya. Demikian juga ketiga kawan Tapak Lamba dan sisa pengawal-pengawal yang lain. Mereka serentak menyerang dengan segenap kemampuan yang ada pada mereka.

Tetapi usaha mereka tidak banyak berhasil. Putaran itu tetap merupakan putaran yang berbahaya yang semakin lama menjadi semakin sempit.

Tapak Lamba benar-benar sudah terkurung. Ia tidak akan mampu lagi melepaskan diri dari putaran itu, sehingga ia pun telah benar-benar pasrah terhadap maut yang akan segera memeluknya. Namun demikian agaknya ia telah memilih untuk mati dengan pedang di tangannya.

Dalam pada itu, setelah beberapa lamanya putaran itu menjadi semakin sempit, maka jarak putaran itu sudah tidak lebih besar lagi dari jangkauan pedang. Karena Tapak Lamba berdiri di atas dinding, maka agaknya memang agak lebih sulit bagi ketiga lawannya untuk segera dapat membunuhnya.

Namun kematian itu kini sudah membayang. Serangan-serangan Ki Buyut dan pembantu-pembantunya tidak banyak berarti dan tidak akan banyak menunda kematian Tapak Lamba.

“Orang yang paling penting dari kalian akan mati.” teriak salah seorang dari ketiga lawan Tapak Lamba, “Tetapi adalah sangat sayang bagi kami, jika ia akan mati seperti orang-orang yang terdahulu. Ia akan mati dalam keadaan yang lain, sehingga karena itu, kami hanya akan sekedar melukai dan melumpuhkan kaki dan tangannya, sebelum kami sampai pada acara yang sesungguhnya untuk membunuhnya.”

Teriakan itu benar-benar telah mendebarkan setiap dada. Bahkan rasa-rasanya darah kawan-kawan Tapak Lamba sudah terhenti me¬ngalir. Mereka sadar, bahwa Tapak Lamba adalah salah satu dari mereka yang menjadi puncak sasaran ketiga orang pengawal itu disamping Ki Buyut sendiri.

Namun dalam pada itu, selagi setiap orang sudah mulai disentuh oleh perasaan putus asa, tiba-tiba saja terdengar anak muda yang memperhatikan perkelahian itu berteriak nyaring, “Menepilah. Aku akan mencoba mengurai putaran itu.”

Semua orang terkejut mendengar teriakan itu. Namun dengan gerak naluriah, Ki Buyut meloncat surut diikuti oleh beberapa orang pengawalnya dan ketiga kawan Tapak Lamba.

Namun dalam pada itu, terdengar jawaban dari salah seorang pengawal yang sedang berusaha melumpuhkan Tapak Lamba itu, “He, jangan ikut campur, supaya nasibmu tidak menjadi terlampau buruk seperti orang ini. Turutlah nasehat Ki Buyut. Pergilah, aku akan mengampuni kesalahanmu.”

“Jika aku pergi, maka rahasia daerah bayangan hantu ini akan terbuka. Apakah kau tidak berniat untuk membunuhku sama sekali?”

“Gila. Akan datang giliran itu.”

“Jangan ribut. Kalian sudah mendengar bahwa aku akan mengurai ilmu setanmu itu. Ilmu hitam yang sudah lama seakan-akan lenyap. Namun agaknya kini aku harus menjumpainya disini.”

“Gila. Siapa kau?” teriak salah seorang pengawal itu.

Anak muda itu tidak menjawab. Selangkah demi selangkah ia bergerak maju sambil berkata, “Ki Sanak. Cobalah bertahan sejauh-jauh dapat kau lakukan. Aku akan mencoba membantumu jika aku berhasil.”

Tapak Lamba tidak menjawab. Ia memang sedang memusatkan segenap kemampuannya untuk menangkis setiap senjata yang tiba-tiba saja seakan-akan mematuknya dari segenap arah.

Dalam pada itu, anak muda itu termenung sejenak. Nampak wajahnya yang tampan itu menjadi tegang. Sepercik bayangan kemerahan seolah-olah melintas pada wajah itu. Kemudian hampir setiap orang mencoba menggosok mata mereka, karena mereka tidak yakin apa yang mereka lihat.

Seolah-olah dari ubun-ubun anak muda itu nampak asap yang membubung naik kelangit. Asap yang berwarna kuning kebiruan. Tetapi hanya samar-samar. Hanya samar-samar saja, di antara ada dan tidak ada.

Tetapi ternyata bahwa hampir setiap orang dapat melihatnya betapapun samar-samar dan meragukan.

Sekejap kemudian, anak muda itu terdengar menggeram. Kemudian dengan langkah yang tetap ia melangkah maju mendekati putaran yang sudah semakin sempit, sehingga jiwa Tapak Lamba sebenarnya sudah berada di ujung rambutnya.

Tapak Lamba sendiri sebenarnya sudah tidak berpengharapan lagi untuk dapat hidup. Serangan ketiga lawannya benar-benar tidak terlawan lagi baginya. Namun naluri keprajuritannya masih memaksanya untuk melawan dengan segenap kemampuannya. Ia memang tidak mau menyerah begitu saja untuk dikelupas kulitnya.

Dalam puncak kesulitannya, maka Tapak Lamba masih menggerakkan senjatanya untuk menangkis serangan lawannya. Namun pada saat senjatanya membentur senjata lawannya, maka ternyata ujung senjata yang lain telah menyentuh kulitnya. Meskipun sentuhan itu masih belum berhasil menyobek kulitnya, namun rasa-rasanya luka yang kecil itu akan segera disusul dengan sayatan pada tubuhnya.

Tetapi pada saat itu, tiba-tiba saja ia merasakan suatu perubahan pada putaran yang mengitarinya. Terasa sesuatu bergetar di sekitarnya. Seolah-olah diluar kemampuan pandangan matanya, ia melihat sesuatu yang lain dalam lingkaran roda bergerigi yang mengepungnya.

Baru sejenak kemudian ia mengerti apa yang sedang dihadapinya. Ternyata ia melihat sebuah putaran yang lain diluar ketiga orang yang melibatnya. Anak muda yang datang berkuda itu telah melakukan sesuatu yang lebih mengherankan lagi. Dengan kemampuan yang tidak dapat dijajaginya, anak muda itu menyerang ketiga orang pengawal itu dengan cara yang asing pula. Ia mengikuti putaran lawannya secepat putaran itu sendiri, sehingga dengan demikian serangannya tertuju langsung kepada seseorang saja di antara mereka.

Namun serangan yang demikian itu tidak dibiarkan begitu saja oleh ketiga orang itu. Karena serangan anak muda itu agaknya memang berbahaya bagi salah seorang dari mereka, maka ketiganya terpaksa mengurangi tekanannya kepada Tapak Lamba. Bahkan kemudian mereka bergeser dan memusatkan perhatian mereka kepada anak muda itu.

Tapak Lamba menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat lingkaran itu kemudian justru bergeser menjauhinya dan me¬ninggalkan dinding halmaan itu. Sejenak kemudian maka putaran seperti angin pusaran itu pun telah berada di halaman.

Beberapa orang yang ada di halaman itu terheran-heran melihat apa yang telah terjadi. Anak muda itu masih berada diantara putaran yang mulai tegranggu itu. Tetapi ia tidak sekedar berdiri dan melihat tiga orang lawannya yang berlari berputaran. Tetapi ia sendiri ikut berputar sambil menyerang tiada hentinya.

Ternyata gerakan anak muda itu lebih cepat dari setiap orang di dalam putaran itu, sehingga lambat laun, ia telah berhasil memecahkan pusaran yang telah berhasil melibat beberapa orang dan mengelupas mereka seperti pisang.

Ki Buyut, Tapak Lamba dan beberapa orang yang lain menjadi terheran-heran. Mereka, beberapa orang yang telah bertempur bersama-sama, seakan-akan tidak kuasa sama sekali melawan tiga orang itu Tetapi, anak muda yang hanya seorang itu ternyata mampu memecahkan pusaran maut itu.

Tetapi bukan berarti bahwa pertempuran itu telah berakhir. Meskipun kemudian pusaran itu menjadi semakin lambat dan berhenti sama sekali, tetapi pertempuran itu masih berlangsung terus.

Sambil mengumpat tidak habis-habisnya, ketiga orang itu telah mengambil cara lain untuk menghadapi anak muda yang tidak dikenalnya itu.

“Jangan kau kira bahwa usahamu sudah berhasil sepenuhnya.” teriak salah seorang dari ketiga orang lawannya itu.

“Ya, aku sadar.” sahut anak muda itu.

“Kami akan mengambil cara lain untuk menangkap dan membantaimu.”

“Aku pun akan mempergunakan cara lain untuk menyelamatkan diriku sendiri.”

“Persetan.” salah seorang dari ketiga lawannya itu menggeram.

Sejenak kemudian maka ketiga lawan anak muda itu pun telah mengambil sikapnya masing-masing. Mereka kini mengepung anak muda itu tidak dalam satu gerak berputar. Tetapi mereka telah menyiapkan serangan bersama dari tiga arah.

Tetapi anak muda itu agaknya sudah bersiaga untuk menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak kemudian, seperti yang diduganya, maka serangan itu pun datang dari ketiga arah yang berbeda. Ternyata anak muda itu masih sempat mengelakkan diri dengan menembus salah satu dinding pengepungannya. Kemampuannya masih berada di atas kemampuan setiap orang dari ketiga pengawal itu, sehingga ketika ia menghentakkan senjatanya, maka ia telah berhasil memecahkan kepungan itu, dan dengan serta merta meloncat keluar dari kepungan.

Ternyata lawannya tidak membiarkannya. Namun ketika mereka mencoba memburunya, anak muda itu sudah bersikap dan menghadap kepada lawan-lawannya dengan senjatanya terjulur lurus ke depan.

“Gila.” desis salah seorang dari mereka. Namun sebenarnyalah anak muda itu membuat jantung mereka menjadi berdebar-debar.

Dalam pada itu, maka baik Ki Buyut maupun Tapak Lamba melihat pertempuran itu berlangsung dalam benturan yang nampaknya wajar. Karena itulah, maka mereka mulai berpikir, apakah mereka akan membiarkan saja anak muda itu bertempur seorang diri.

Tetapi mereka pun tidak dapat menutup mata atas kenyataan yang telah mereka hadapi. Ketiga orang itu tidak dapat mereka lawan meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak.

Dalam pada itu, anak muda yang telah siap menghadapi kemungkinan itu pun ternyata melihat bahwa orang-orang yang ada di sekitarnya agaknya ingin membantunya, sehingga karena itu ia berkata, “Jika kalian tidak ingin berpangku tangan, baiklah. Tetapi hati-hatilah menghadapi iblis dengan ilmu hitamnya ini. Ia dapat berbuat apa saja yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain.”

Ki Buyut, Tapak Lamba dan orang-orangnya pun menjadi ra¬gu-ragu. Namun kemudian Tapak Lamba berkata, “Terima kasih anak muda. Kau sudah menyelamatkan hidupku. Kau sudah berhasil memecahkan lingkaran iblis yang hampir saja mengupas kulitku. Karena itu, hidup matiku kini tidak lagi menjadi persoalan bagiku.”

“Tidak.” sahut anak muda itu, “Hidup matimu tetap menjadi persoalan bagimu, meskipun bukan kau sendirilah yang harus menentukan.”

Tapak Lamba tidak menjawab lagi. Namun ketika ia maju setapak, maka terdengar salah seorang dari ketiga pengawal itu berkata, “Kemarilah, aku senang melihat kau mendekat.”

Tapak Lamba tertegun. Tetapi anak muda itu berkata, “Aku sekarang ada di antara kalian. Aku tidak tahu, apakah kehadiranku ini akan banyak berarti. Tetapi setidak-tidaknya jumlah kalian sudah bertambah satu. Dan satu bagi keseimbangan yg mantap, akan besar pengaruhnya.”

“Gila.” teriak pengawal itu, “Tidak ada yang berarti disini.”

“Dengarlah.” berkata anak itu, “Semakin banyak ia berbicara dan berbangga diri, itu berarti bahwa mereka semakin menyadari kelemahan mereka.”

Salah seorang dari pengawal itu tidak dapat menahan hati. Dengan serta merta ia menyerang. Demikian dahsyatnya sehingga anak muda itu harus meloncat surut.

Tetapi dengan tenangnya ia berhasil mengelak. Dan bahkan ia pun mulai membuka serangan sambil berkata, “Marilah kita segera mulai. Jika kalian ingin ikut dalam permainan ini, ambillah satu saja dari ketiga iblis itu. Biarlah yang dua orang mencoba bertempur berpasangan melawan aku. Mungkin aku akan mendapatkan banyak pengalaman dari mereka.”

Ketiga lawan mereka tidak menjawab. Tetapi mereka mempunyai perhitungan tersendiri. Ternyata hanya seorang saja diantara mereka yang bertempur melawan anak muda itu, sedangkan dua orang yang lain, telah siap menghadapi Ki Buyut dengan orang-orangnya dan Tapak Lamba dengan ketiga orang kawan-kawannya.

Sejenak kemudian, menyalalah perkelahian di tiga lingkaran yang berpencaran di halaman itu. Namun ternyata perkelahian itu mempunyai keseimbangan yang berbeda-beda. Ki Buyut dan pengawalnya, segera mengalami kesulitan menghadapi seorang bekas pengawalnya yang telah mempergunakan puncak ilmu hitamnya. Sedangkan Tapak Lamba dengan ketiga kawannya, yang memiliki pengalaman lebih luas dari para pengawal Ki Buyut di dalam olah senjata, masih mempunyai kesempatan untuk mempertahankan diri, meskipun mereka harus memeras tenaganya.

Namun dalam pada itu, anak muda yang menghadapi salah seorang pengawal berilmu hitam itu, segera dapat mengatasinya. Anak muda itu pun masih tetap berada dalam ilmu puncaknya. Bahkan kemudian ia merasa wajib untuk melenyapkan orang-orang berilmu hitam itu, sebelum ilmu yang sebenarnya sudah dianggap lenyap itu tumbuh dan berkembang lagi.

“Sebenarnya aku tidak ingin membunuh seseorang.” ia berkata kepada dirinya sendiri, “Tetapi aku merasa wajib untuk menghentikan menjalarnya ilmu iblis ini.”

Karena itulah maka akhirnya ia berkedapan hati untuk berbuat sesuai dengan darmanya sebagai seorang yang sedang berkelana cengan niat yang putih.

Apalagi ketika ia melihat, bahwa Ki Buyut dan pengawalnya, ternyata tidak akan mampu bertahan Iebih lama lagi. Ia sudah mendengar keluh tertahan ketika salah seorang pengawalnya telah tetluka pula.

Anak muda itu pun kemudian menghentakan kakinya. Dengan wajah yang tegang ia memandangi lawannya yang tiba-tiba saja telah meloncat surut selangkah.

Terdengar lawannya itu mengeram. Diputarnya senjatanya tiga kali di atas kepalanya. Kemudian terdengar gemeretak gigi dan bunyi yang asing di telinga anak muda itu.

Anak muda itu pun segera bersikap pula menghadapi segala kemungkinan. Meskipun tidak ada lagi yang sempat memperhatikan, tetapi tiba-tiba asap kuning kebiru-biruan yang seolah-olah memencar dari ubun-ubunnya itu menjadi bertambah terang.

Dalam pada itu, seolah-olah kedua orang yang sedang bertempur itu sudah siap untuk menentukan, siapakah yang masih akan dapat tetap hidup. Masing-masing sudah berada dipuncak kemampuannya. Jika salah satu pihak berhasil, maka hasilnya akan segera nampak, sedangkan yang gagal, akan segera terkapar di tanah.

Sejenak mereka masih berdiri dengan tegang. Dari tatapan mata mereka, seolah-olah telah memancar api kebencian yang tidak dapat diucapkan lewat kata-kata.

Tetapi ketegangan yang diam itu hanya terjadi sesaat, karena sesaat kemudian, pengawal yang telah melawan Ki Buyut dan kemudian bertempur dengan anak muda itu, berteriak nyaring sambil meloncat dengan kecepatan yang hampir tidak dapat dilihat dengan mata wadag.

Namun dalam pada itu, anak muda itu pun segera meloncat selangkah dan berdiri miring. Kakinya ditekuknya sedikit pada lututnya.

Sesaat kemudian terjadi benturan yang dahsyat. Benturan senjata yang terayun dilambari oleh puncak kekuatan. Sepercik bunga api memancar keudara, seperti percikan api kemarahan yang tiada tertahan.

Namun ternyata bahwa kekuatan mereka melampaui kekuatan baja senjata-senjata mereka. Karena itulah, maka kedua senjata di tangan kedua orang yang sedang bertempur itu pun patah menjadi dua.

Ketika keduanya menyadarinya, maka keduanya pun segera meloncat surut. Sekali lagi keduanya memusatkan segenap kekuatan yang ada pada diri masing-masing dalam lambaran ilmu tertinggi.

Semuanya terjadi dengan cepat sekali. Bagian dari senjata yang patah itu pun telah mereka lemparkan ke tanah. Namun agaknya mereka masih akan membenturkan kekuatan mereka melampaui benturan senjata.

Sesaat kemudian, maka keduanya pun seakan-akan telah men¬dapatkan isyarat untuk melepaskan ilmunya. Hampir berbareng keduanya meloncat dan saling berbenturan di udara.

Akibatnya ternyata dahsyat sekali. Keduanya terdorong surut. Tetapi nampak betapa kekuatan anak muda itu jauh melampaui kekuatan ilmu lawannya.

Anak muda itu terloncat dua langkah mundur. Tetapi ia tetap tegak berdiri di atas kedua kakinya yang renggang dan agak merendah. Kedua tangannya bersilang di depan dadanya, sedang matanya menatap ke arah tubuh lawannya yang terlempar beberapa langkah dan terbanting jauh.

Sejenak perkelahian di halaman itu seolah-olah terhenti. Semua mata memandang kearah pengawal yang terbanting jatuh itu. Sesaat ia masih menggeliat dan mengumpat. Namun sesaat kemudian, maka ia pun telah menghembuskan nafas yang penghabisan.

Sejenak orang-orang yang menyaksikan itu terpaku diam. Mereka memandang dengan mata yang tiada berkedip. Seolah-olah mereka tidak yakin, bahwa orang itu pun pada akhirnya dapat juga terbunuh oleh kekuatan yang lebih dahsyat dari kekuatannya yang mengerikan.

Namun dalam pada itu, meskipun ia seolah-olah tidak beranjak dari tempatnya sambil memandangi lawannya yang sudah tidak bernyawa lagi, anak muda yang telah membunuhnya itu pun menjadi berdebar-debar. Orang yang terbunuh itu masih mempunyai dua orang kawan yang agaknya memiliki ilmu setingkat. Karena itu, jika keduanya bersama-sama memusatkan segenap kemampuan ilmunya, maka ia akan mengalami kesulitan. Agaknya ia tidak akan dapat melawan kedua kekuatan ilmu itu bersama-sama. Sedangkan apabila ia harus melawan salah seorang dari mereka, sedangkan yang lain berusaha mempergunakan ilmunya terhadap orang-orang lain, maka akibatnya akan sangat parah. Tidak akan ada diantara mereka yang akan mampu melawan ilmu tersebut. Baik Ki Buyut maupun orang yang nampaknya mempunyai ilmu yang cukup mapan, Tapak Lamba. Namun keduanya belum mempunyai kemampuan untuk melawan puncak ilmu kedua orang itu.

Dalam keragu-raguan itu, anak muda itu pun melihat kedua orang yang telah kehilangan seorang kawannya itu menggeram. Agaknya keduanya telah mendapatkan suatu pengalaman bahwa ilmu mereka masih belum berimbang dengan ilmu anak muda itu.

Tetapi anak muda itu pun bertindak cepat. Yang dihadapi adalah iblis yang paling ganas dengan ilmu hitamnya. Karena itu, maka ia tidak akan dapat lagi mempergunakan pertimbangan kejantanan untuk melawan mereka. Ia tidak akan dapat berdiri sambil berteriak menantang, siapakah diantara keduanya yang akan mencoba melawannya setelah seorang kawanya terbunuh.

Dalam pada itu, anak muda itu pun segera mempergunakan saat-saat yang masih belum mantap setelah salah seorang lawannya terbunuh itu. Ia pun segera memusatkan segenap kemampuannya sekali lagi.....

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : JILID 16

LihatTutupKomentar