Sepasang Ular Naga di Satu Sarang 13


Orang itu masih tetap kebingungan. Dan Mahisa Agni pun kemudian bertanya, “Kenapa kau nampak ketakutan?”

Orang itu tidak segera menjawab.

“Coba, katakan. Apa yang telah kau pikirkan tentang kami?”
“Tidak, tidak apa-apa tuan.” orang itu tergagap.

Tetapi Mahisa Agni mendesak, “Tentu ada apa-apa dengan kalian. Tetapi baiklah. Yang penting bagi kami, apakah kau mempunyai tempat untuk tiga orang di antara kami bermalam di rumahmu?”

Betapa ketakutan melanda hati, namun orang ini pun tidak berani pula untuk menolak. Karena itu, maka katanya, “Silahkan tuan, silahkan.”

Mahisa Agni pun menyadari bahwa orang itu telah ditekan oleh perasaan takutnya sehingga ia memberikan tempatnya untuk bermalam. Tetapi Mahisa Agni akan membuktikan, bahwa mereka tidak akan ketakutan lagi besok setelah Mahisa Agni dan kawan-kawannya minta diri.

“Besok mereka akan menarik nafas dalam-dalam. Karena malam ini kami tidak akan berbuat apa-apa.”

Karena itu, maka dipersilahkannya Ranggawuni dan Mahisa Cempaka untuk bermalam di rumah itu, dikawani oleh Witantra, karena banyak hal yang akan dapat terjadi di malam.

Mahisa Agni sendiri tetap berada di antara pasukannya, Ia berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain. Dari satu gardu ke gardu yang lain di dalam padukuhan itu.

Gardu-gardu yang ada di padukuhan itu, ternyata telah dipergunakan oleh para pengawal untuk bermalam. Mereka tidak basah oleh embun di malam hari, sementara satu dua orang berganti-ganti harus berjaga-jaga mengawasi keadaan.

Dalam pada itu, selagi mereka mulai merasakan sejuknya angin malam, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh derap kaki kuda di kejauhan. Bukan hanya satu dua. Tetapi cukup banyak.

Tanpa perintah dari siapa pun juga, maka setiap pengawal yang ada di padukuhan itu pun segera bersiap. Mereka berkumpul di beberapa tempat yang terpisah. Dengan sepenuh kesiagaan mereka pun menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.

Di ujung lorong, di luar gerbang padukuhan itu beberapa orang pengawal telah bersiap. Mereka harus menghentikan orang-orang berkuda itu. Jika mereka melawan, maka akan terjadi pertempuran yang seru, karena pengawal yang ada di padukuhan itu seluruhnya telah siap menghadapi apapun juga.

Sejenak kemudian, di dalam keremangan malam, mereka seolah-olah melihat sebuah iring-iringan pasukan berkuda mendekati, meskipun sebenarnya baru mereka dengar suara derap kaki kuda. Namun mereka pasti, sebentar lagi kuda-kuda itu akan segera muncul dari dalam kegelapan.

Karena itu, maka seorang pengawal segera mengambil obor dari sebuah gardu dan membawanya kepintu gerbang. Setelah menyelipkan tangkai obor itu pada dinding padukuhan maka pengawal itu pun melangkah surut.

Sebentar kemudian, nampak dalam keremangan cahaya lampu obor, muncul beberapa ekor kuda dengan penunggangnya.

Namun nampaknya kuda-kuda itu tidak berjalan terlampau cepat. Bahkan kemudian menjadi semakin lama semakin lambat.

Dalam pada itu, para pengawal itu pun segera mengenal, bahwa yang ada di punggung kuda itu adalah para prajurit Singasari yang berpihak kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Di tangan mereka masih nampak melingkar gelang lawe wenang.

Bahkan, semakin dekat mereka itu dengan obor yang terselip pada dinding padukuhan, para pengawal yang sudah terlebih dahulu ada di padukuhan itu pun segera melihat, bahwa yang ada di paling depan adalah Lembu Ampal sendiri.

Di pintu gerbang Lembu Ampal berhenti. Ia sadar bahwa para pengawal tentu sudah mempersiapkan diri. Karena itu maka ia pun mengangkat tangan kanannya sambil berkata, “Selamat malam. Siapakah yang ada di padukuhan ini?”

Yang mula-mula muncul dari balik pintu gerbang adalah Mahisa Agni. Sambil tersenyum ia menjawab, “Aku. Bukan Tuanku Tohjaya.”

Lembu Ampal pun tersenyum pula. Katanya, “Aku sudah memperhitungkan. Menilik jejak yang aku ikuti, tentu dengan sengaja kalian memberikan tanda-tanda agar aku tidak sesat. Dan hal yang demikian tidak akan dilakukan oleh pengawal-tuanku Tohjaya. Apalagi mereka sudah menjadi jauh berkurang setelah pertempuran yang menentukan itu.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk.

“Aku melihat bekas pertempuran itu. Beberapa orang yang terluka dan tertawan, sudah dibawa ke Singasari. Yang terbunuh terpaksa dikuburkan di tempat itu untuk sementara.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk pula. Lalu katanya, “Marilah. Kau tentu ingin menghadap tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Jika keduanya sudah tertidur, sebaiknya kau menghadap besok pagi-pagi sebelum kita melanjutkan perjalanan menyusul tunaku Tohjaya.”

Lembu Ampal pun kemudian dibawa oleh Mahisa Agni ke rumah tempat Ranggawuni dan Mahisa Cempaka bermalam. Sedang prajurit-prajurit kemudian bergabung dengan kawan-kawan mereka yang telah mendahului.

Ternyata Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pun masih belum tertidur. Mereka mendengar juga derap kaki kuda mendekat. Dan mereka pun sudah menduga bahwa yang datang itu adalah pasukan kecil yang diminta oleh Mahisa Agni.

Tidak banyak yang dapat diceriterakan oleh Lembu Ampal tentang istana Singasari. Yang diketahuinya, kini seluruh Singasari telah dikuasainya. Yang ada di istana sepeninggalnya adalah Mahendra yang sebagian besar waktunya dipergunakan untuk menunggui Ken Umang yang seolah-olah sudah kehilangan ingatannya sama sekali. Kadang ia menangis melolong-lolong, kemudian tertawa berkepanjangan.

“O.” Ranggawuni menarik nafas dalam, sedang Mahisa Cempaka hanya dapat menundukkan kepalanya.

“Hampir tidak dapat dikuasai lagi.” berkata Lembu Ampal.

“Apa yang dilakukan oleh Mahendra?” bertanya Witantra.

“Sebagian besar adalah memberikan gambaran yang salah kepada tuan puteri.”

“Maksudmu?”

“Mengiakan saja apa yang dikatakannya. Misalnya tentang tuanku Tohjaya yang masih dianggapnya berkuasa di Singasari. Mahendra tidak sampai hati merusak angan-angannya yang sudah tidak waras lagi itu, sehingga karena itu. maka ia hanya mengiakan saja semua bayangan-bayangan yang dibuatnya di angan-angannya.”

“Kasihan.” desis Mahisa Cempaka.

“Itu adalah sisa angan-angannya yang membubung tinggi tanpa batas. Nafsunya untuk menguasai isi dunia ini telah membuatnya menjadi tamak dan kehilangan pengamatan diri.” berkata Witantra.

“Akibatnya menjadi terlampau parah baginya.”

“Ya. Kenyataan yang sangat pahit telah merenggutnya dari dunia harapan yang dibentuknya. Harapan yang berlebihan sehingga membuatnya menjadi seorang manusia yang dikungkung oleh nafsu. Ketika pada suatu saat ia terlempar pada kegagalan yang mutlak, maka perasaannya pun tidak lagi berhasil menahan goncangan yang terlampau dahsyat baginya.”

Witantra berhenti sejenak, lalu, “Memang kasihan sekali.”

Mahisa Agni memandang Witantra dengan tatapan mata suram. Ia mengetahui bahwa Ken Umang adalah adik ipar sejak ia masih menjadi Panglima di Tumapel.

Dan agaknya Witantra pun sedang memikirkannya, sehingga hampir di luar sadarnya ia berkata, “Ia adalah adikku.”

“Siapa?” Lembu Ampal bertanya dengan wajah yang tegang.

“Tuanku Ken Umang.”

“Adikmu?”

“Adik iparku.”

Lembu Ampal menunduk. Tetapi keadaan itu sudah terjadi dan tidak dapat dihindarinya lagi. Ken Umang telah kehilangan ingatan. Dan setiap orang akan mengatakan bahwa ia memang sudah menjadi gila karena kegagalan yang dialaminya.

Sejenak mereka itu pun kemudian saling berdiam diri. Mereka mulai membayangkan apa yang akan mereka hadapi. Jika Ken Umang mengetahui apa yang dialami oleh Tohjaya di perjalanannya, maka ia pun tentu akan menjadi semakin parah.

Atau bahkan tidak peduli sama sekali, karena sudah tidak ada perasaan yang dapat tersentuh oleh keadaan apapun juga.

Yang terdengar kemudian adalah desah tarikan nafas Mahisa Agni. Lalu katanya, “Sekarang, silahkan tuanku berdua beristirahat. Besok kita akan menempuh perjalanan yang panjang.”

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pun kemudian mencoba untuk dapat beristirahat, karena yang akan mereka lakukan di hari berikutnya masih terlampau banyak. Sementara Witantra mengawaninya, maka Mahisa Agni dan Lembu Ampal pun meninggalkan bilik itu kembali ke tengah-tengah pasukan mereka.

“Aku telah membawa bekal seperti yang kau pesankan.” berkata Lembu Ampal.

“Terima kasih. Mungkin kita masih akan menempuh perjalanan untuk satu dua hari lagi, karena agaknya Tohjaya dan pengikutnya menyadari bahwa kami mencarinya. Mereka telah berusaha untuk menghapus jejak mereka, sehingga usaha kita menjadi agak sulit.”

Lembu Ampal mengangguk-angguk. Memang bukan tugas yang berat menyusul perjalanan Tohjaya. Tentu Tohjaya masih juga membawa pengawal vang cukup kuat, sehingga mungkin masih akan terjadi benturan senjata di antara pasukan yang mengawal Tohjaya dengan pasukan yang berusaha menyusulnya.

Namun kemudian Mahisa Agni pun berkata, “Lembu Ampal. Sebaiknya kita pun beristirahat. Masih ada waktu. Besok pagi kita akan menempuh perjalanan jauh.”

Lembu Ampal mengangguk-angguk pula. Jawabnya, “Baiklah. Tetapi agaknya kau jauh lebih lelah dari aku.”

“Kita sama-sama bertempur hari ini.”

“Tetapi aku kemudian berada di istana. Dan kau memburu tuanku Tohjaya dan masih harus bertempur sekali lagi melawan pengawalnya yang cukup kuat.” Lembu Ampal berhenti sejenak, lalu, “Beristirahatlah. Sebentar lagi aku pun akan beristirahat. Kau di sini, aku di ujung yang lain.”

Keduanya pun kemudian berpisah. Mahisa Agni dan Lembu Ampal berada di tempat yang berbeda, agar mereka dapat menyesuaikan diri dengan segera jika terjadi sesuatu dari arah manapun juga.

Dalam pada itu, Ranggawuni dan Mahisa Cempaka beserta Witantra masih berada di tempatnya. Beberapa orang pengawal berada di halaman untuk mengawasi rumah yang disinggahi anak-anak muda yang akan memegang pimpinan tertinggi bagi Singasari.

Namun, ternyata bahwa malam itu tidak terjadi sesuatu pada pasukan yang dipimpin Mahisa Agni. Mereka sempat beristirahat dengan baik. Mahisa Agni sempat tidur beberapa saat. Demikian juga pemimpin-pemimpin yang lain. Betapa kegelisahan selalu mengganggu perasaan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka dalam pertentangan antara keluarga sendiri itu, namun agaknya kelelahan yang sangat telah membawa mereka tidur barang sejenak.

Ketika ayam berkokok di akhir kalinya, semua orang di dalam pasukan itu sudah terbangun. Mereka segera mengemasi pakaian dan senjata mereka. Sebelum mereka berada di dalam kelompok masing-masing, mereka masih sempat pergi kepakiwan dan meneguk semangkuk minuman panas yang mereka siapkan sendiri dengan meminjam dapur dan perlengkapan penghuni padukuhan itu.

“Kita membawa persediaan beras yang cukup berkata Lembu Ampal. Menjelang perjalanan yang panjang, kalian dapat menyiapkan makan pagi.”

Prajurit-prajurit itu pun kemudian menyiapkan makan pagi mereka sebelum mereka berangkat menyelusuri jejak yang semakin lama menjadi semakin rumit.

Demikianlah ketika matahari mulai naik, pasukan itu pun telah siap untuk bergerak. Mahisa Agni masih sempat mengucapkan terima kasih kepada penghuni padukuhan itu sebelum ia meninggalkan mereka dalam keragu-raguan.

“Pasukan ini agak berbeda dengan pasukan yang lewat kemarin.” berkata seorang laki-laki tua.

“Di dalam pasukan yang kemarin terdapat tuanku Tohjaya. Maharaja Singasari. Karena itulah kita harus menghormati dan berbuat apa saja menurut perintahnya.”

“Tetapi di dalam pasukan ini terdapat tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Merekalah yang mengusir tuanku Tohjaya dari tahta karena tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka merasa berhak atas tahta itu.”

“Siapa yang mengatakan hal itu kepadamu?”

“Semalam dua orang prajurit yang berjaga-jaga di halaman rumahku sempat menceriterakan kepadaku.”

“Kau keluar rumah dan menemuinya?”

“Mula-mula maksudku sekedar memberikan sekedar minuman panas agar mereka tidak berbuat apa-apa atas keluargaku.”

“Uh. Hanya dengan minuman panas. Jika mereka ingin berbual sesuatu, jangankan minuman panas.”

“Maksudku, agar sikap mereka sedikit lebih lunak.” ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi ternyata mereka adalah orang baik. Mereka tidak bertindak dengan kasar. Dan mereka justru berceritera tentang tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sama sekail tidak berani keluar rumah. Aku juga mendengar dua atau tiga orang yang meronda dan berhenti di pendapa. Agaknya mereka duduk di sana sambil berbicara beberapa lama. Kemudian mereka pun meninggalkan rumahku tanpa aku ketahui arahnya.”

“Jika kau berani keluar dan menemuinya, mereka akan memberikan banyak penjelasan. Mereka ternyata tidak sekasar prajurit-prajurit yang ada di dalam pasukan pengawal tuanku Tohjaya. Agaknya memang benar, bahwa tuanku Tohjaya sedang melarikan diri dan dikejar oleh pasukan tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka ini.”

“Aku tidak mengerti. Tetapi menilik akibat yang ditinggalkan pasukan ini memang lebih baik. Mereka mengembalikan semua alat-alat yang mereka pinjam dengan baik.”

Kawannya berbicara mengangguk-anggukkan kepalanya. Seperti kawannya ia memang menilai pasukan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka lebih baik dari pasukan yang mengawal Tohjaya. Dan itu menggambarkan bahwa keadaan prajurit-prajurit yang mengawal Tohjaya dalam keadaan yang jauh lebih buruk dari prajurit-prajurit yang datang kemudian itu.

Sebenarnyalah bahwa keadaannya memang demikian. Keadaan prajurit-prajurit yang mengawal Tohjaya memang jauh lebih puruk. Mereka tidak sempat membawa persediaan apa pun juga karena mereka berangkat dengan tergesa-gesa. Yang mula-mula diingat oleh Tohjaya hanyalah seperti perhiasan emas dan berlian. Dan perhiasan-perhiasan itu tidak akan dapat dipergunakan bagi anak buahnya di perjalanan. Jika mereka lapar, maka mereka hanya dapat merampas makanan dari penduduk di padukuhan padukuhan yang mereka lalui tanpa menghiraukan keadaan penduduk itu sendiri.

Malam itu Tohjaya dan anak buahnya bermalam di padukuhan terpencil. Ia menempatkan beberapa orang pengawal agak jauh di belakang mereka. Jika mereka melihat pasukan yang mengikutinya, maka mereka harus memberikan isyarat dengan panah sendaren.

Tetapi malam itu pasukan Mahisa Agni pun berhenti pula, sehingga karena itu, maka tidak ada sebatang anak panah pun yang dilepaskan di udara.

Menjelang fajar, maka pengawal-pengawal yang harus memberikan isyarat itu pun telah berada kembali di induk pasukannya dan sejenak kemudian mereka pun meninggalkan padukuhan itu untuk meneruskan perjalanan.

Prajurit-prajurit itu sama sekali tidak menghiraukan barang-barang yang mereka pergunakan. Mereka merampas beras dan makanan yang mereka jumpai. Mempergunakan alat-alat dapur dan memaksa beberapa orang memasak untuk mereka. Namun ketika merasa perlu untuk pergi, begitu saja mereka meninggalkan padukuhan itu. Barang-barang yang mereka pergunakan masih berserakan dan tersebar di halaman dan sepanjang jalan.

Dengan tergesa-gesa Tohjaya dan pengawalnya berangkat meninggalkan padukuhan itu. Mereka tidak memilih jalan yang besar dan rata, tetapi mereka menyelusuri jalan-jalan sempit dan buruk. Dengan saksama mereka mencoba menghapuskan jejak mereka, agar pasukan yang akan menyusuli mereka tidak dapat menemukan arah yang benar.

Namun ternyata betapapun mereka berusaha menghapus jejak mereka, namun agaknya mereka telah dikejar oleh kegelisahan dan kecemasan. Lebih dari itu, mereka pun agaknya terlampau tergesa-gesa sehingga pencari jejak yang ada di dalam pasukan Mahisa Agni masih mampu untuk mengenalinya betapapun lama dan lambatnya. Tetapi ternyata bahwa pengawal-pengawal Ranggawuni dan Mahisa Cempaka selalu milih arah yang benar.

Tohjaya sendiri keadaannya menjadi semakin parah. Luka-luka di tubuhnya meskipun mula-mula tidak terlampau parah, namun karena tidak mendapat pengobatan yang baik dan segera, ternyata akhirnya telah merampas segenap tenaganya. Ia menjadi sangat lemah dan duduk saja di atas tandunya. Badannya terasa panas dan nyeri. Sedang lukanya nampak membengkak dan sakit bukan kepalang.

Dalam keadaan yang demikian, maka ia pun menjadi selalu marah dan membentak-bentak. Tidak ada yang benar di matanya, apa saja yang dilakukan oleh pengawalnya. Kadang-kadang ia merasa dirinya dipermainkan. Tetapi kadang-kadang ia dibayangi oleh ketakutan yang amat sangat. Bukan saja kepada pasukan yang menyusulnya, tetapi juga kepada pasukannya sendiri.

Jika seorang prajurit berjalan di depan berhenti sejenak karena kelelahan, dan apabila berpaling, maka ia pun segera membentak dan berteriak-teriak.

“He, kenapa kau berhenti? Apakah kau tidak dapat berjalan lagi?” bahkan kadang-kadang ia berkata lantang, “Kau iri melihat aku membawa peti ini he? Gila. Kau tentu akan mendapat bagianmu kelak. Dan jika pada suatu saat aku berhasil merebut tahta kembali, kau akan menjadi tumenggung. Kau dengar?”

Prajurit itu hanya dapat mengangguk dalam-dalam sambil berkata, “Hamba tuanku. Hamba mengerti.”

Namun kemudian Tohjaya menjadi terlampau sering marah. Semakin tinggi matahari, maka udara menjadi semakin panas seperti tubuh Tohjaya sendiri. Agaknya luka-lukanya memang mengandung racun betapapun lunaknya.

“Air, air.” teriak Tohjaya.

Seorang prajurit berlari-lari memberikan air kepadanya. Dengan dada yang berdegup cepat, Tohjaya menerima air itu dan meneguknya.

“Jangan terlampau banyak tuanku.” Senapati yang mengiringi memperingatkannya. “Jika tuanku terlampau banyak minum, maka kesehatan tuanku akan menjadi semakin buruk, Tuanku akan merasa pening dan terlampau penat.”

“Gila. Gila, Kau iri ya. Kau sendiri akan menghirup air itu sampai habis?”

“Tuanku. Hamba merasa sangat letih. Tetapi hamba dengan setia mengawal tuanku. Karena itu, maka hamba pun mencoba memperingatkan tuanku dengan tulus.”

“Diam. Diam kau tikus.”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Namun demikian, Tohjaya pun berhenti meneguk air betapapun ia masih ingin. Kemudian menyerahkan guci kecil berisi air itu kepada pengawalnya sambil berkata, “Simpan air itu. Aku akan selalu haus hari ini. Matahari terlampau terik. Dan tubuhku terlampau panas.”

“Kita akan mencari dukun yang pandai tuanku.” desis Senapati yang memimpin pengawalan itu.

Tohjaya tidak menyahut. Tetapi tubuhnya serasa menjadi semakin panas. Bahkan rasa-rasanya bagaikan dipanggang di atas api.

Tetapi, iring-iringan itu berjalan terus. Betapapun lambatnya Tohjaya dan pengawalnya masih tetap maju. Beberapa orang dengan hati yang buram masih juga mencoba menghilangkan jejak mereka.

“Apakah ada gunanya.” desis seorang prajurit.

“Kenapa?” kawannya bertanya.

“Aku tidak mempunyai harapan lagi. Kita tentu akan tertangkap dan aku tidak tahu, nasib apa yang akan terjadi alas kita semua.”

“He, kau sadari apa yang kau katakan?”

“Ya,”

Adalah di luar dugaan, bahwa tiba-tiba saja kawannya berlari lari menghadap Tohjaya yang masih ada di atas tandu dengan tubuh yang semakin lemah.

Dengan terbata-bata prajurit itu berkata, “Ampun tuanku. Ada di antara kita yang ternyata menjadi lemah hati.”

“Apa maksudmu?”

“Seorang kawan hamba mengatakan, bahwa tidak ada harapan lagi bagi kita. Kita tentu akan tertangkap. Dan kita tidak tahu, nasib apa yang akan menimpa kita.”

“Gila. Siapa yang berkata begitu?”

“Itulah tuanku. Justru kawan hamba sendiri.”

“Panggil, panggil ia kemari.” Tohjaya berteriak.

Prajurit yang sekedar berguman dengan kawannya itu menjadi heran. Ia tidak menyangka bahwa kawannya akan mengambil sikap demikian.

Namun ia tidak dapat membantah lagi. Dengan wajah yang tegang ia mendekati tandu Tohjaya.

Semua orang yang menyaksikan apa yang kemudian terjadi, terkejut bukan kepalang. Tiba-tiba saja Tohjaya mengayunkan tombaknya langsung menusuk ke jantung prajurit yang malang itu.

Tidak ada yang sempat dilakukannya. Ketika tombak itu dicabut, maka prajurit itu pun jatuh terjembab. Mati.

“Ia harus mati. Ia harus mati.” teriak Tohjaya.

Tidak ada yang menyahut. Semua orang yang melihat peristiwa itu bagaikan melihat sesosok hantu yang mencengkam jantung korbannya dan menghirup darahnya.

Dalam ketegangan itu tiba-tiba terdengar suara tertawa yang melengking. Di antara suara tertawa itu terdengar kata-kata, “Mampus kau. Mampus kau. Kau tidak akan dapat lagi mengganggu aku. Aku tentu akan dapat mengawini isterimu kelak jika aku kembali ke Singasari. Aku akan menjadi Tumenggung. Aku akan menerima hadiah segenggam mutiara kuning yang paling mahal harganya.”

Sikap prajurit itu benar-benar telah menggoncangkan perasaan. Kematian prajurit yang ditusuk tombak langsung menembus jantung itu telah menimbulkan kejutan yang luar biasa. Apalagi disusul dengan sikap yang tidak wajar dari seorang prajurit muda.

“Sudah lama aku mencintai isterinya.” berkata prajurit itu, “Sekarang baru terbuka jalan.”

“Kau sudah gila.” teriak seorang kawannya.

“Tidak. Aku tidak gila. Aku masih tetap sadar, bahwa, aku akan menjadi seorang Tumenggung dan akan memperisteri seorang perempuan yang paling cantik di seluruh Singasari.”

“Kau gila.” Senapati yang memimpin pengawalan itulah yang kemudian menggeram.

Tohjaya melihat sikap orang itu dengan wajah yang merah padam. Dengan geramnya ia berkata, “Seret ia kemari. Cepat.”

Beberapa orang prajurit telah menangkapnya dan membawanya kepada Tohjaya.

Namun dalam pada itu Senapatinya pun berkata, “Tuanku, serahkanlah orang itu kepada hamba.”

“Bawa kemari.” teriak Tohjaya.

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari, nasib apakah yang akan dialami oleh prajurit yang malang itu.

Yang terjadi tidak luput dari dugaan para prajurit. Seperti kawannya yang telah terbunuh, ia pun kemudian menghembuskan nafasnya yang penghabisan.

Senapati yang bertanggung jawab atas perjalanan itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia sudah melihat, bahwa jalan di hadapan mereka adalah gelap semata-mata.

Perjalanan berikutnya benar-benar tidak menyenangkan, jalan yang sulit dan sikap Tohjaya yang kadang-kadang tidak dapat dimengerti. Namun iring-iringan itu berjalan terus.

Ketika malam kemudian turun lagi, iring-iringan itu berhenti pula di sebuah dusun kecil. Seperti yang pernah terjadi, maka mereka pun segera merampas makanan yang ada. Memaksa beberapa orang untuk bekerja bagi mereka.

Namun malam yang sejuk itu terasa betapa panasnya bagi Tohjaya. Lukanya menjadi semakin membengkak. Dan badannya terasa semakin lemah dan sakit.

Tetapi ia ingin bertahan. Ia harus melepaskan diri dari tangan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Ia ingin berada di tempat yang tidak dapat dijangkau oleh kedua kemenakannya itu dan kemudian menyusun kekuatan kembali untuk merebut tahta Singasari.

Pada saat fajar mulai membayang, iring-iringan itu pun melanjutkan perjalanannya. Setiap orang sudah menjadi semakin letih. Bahkan ada di antara mereka yang sudah tidak bernafsu sama sekali untuk berjalan. Namun mereka tidak berani membantah, karena mereka menyadari akibat yang dapat terjadi atas mereka.

Apalagi orang-orang yang mengusung tandu. Mereka menjadi semakin lemah dan letih.

Dalam pada itu, pasukan Mahisa Agni pun berjalan terus. Mereka pun tidak dapat berjalan terlampau cepat. Selain mereka harus meneliti jejak, maka mereka tidak dapat membiarkan kuda-kuda mereka menjadi sangat letih.

Namun bagaimanapun juga, agaknya perjalan pasukan Mahisa Agni agak lebih cepat dari Tohjaya bersama pengiringnya.

Kegelisahan, luka dan perasaan nyeri pada tubuh Tohjaya membuatnya semakin kehilangan keseimbangan. Kadang-kadang ia pun menjadi hampir berputus asa. Tetapi kadang-kadang darahnya bagaikan bergejolak oleh dendam yang tidak tertahankan. Dendam atas kematian ayahandanya yang sudah dapat ditumpahkannya kepada Anusapati, agaknya harus ditebus dengan perasaan dendam dan sakit hati pula, karena Ranggawuni dan Mahisa Cempaka berhasil mengusirnya dari istana dalam keadaan yang parah.

Dalam keadaan yang semakin lemah itulah, maka Tohjaya berusaha untuk menyangkal kenyataan tentang dirinya. Karena itu, dengan mengerahkan segenap tenaganya, ia tetap duduk tegak di atas tandunya yang mulai gontai. Meskipun pengawalnya sudah menjadi letih sekali.

“Gila.” teriak Tohjaya, “Apakah kalian tidak dapat berjalan lebih baik?”

Para pengawalnya berusaha untuk berjalan dengan tegap dan teratur. Namun keadaan mereka benar-benar sudah tidak memungkinkan. Bahkan bukan saja keadaan tubuh mereka yang letih, tetapi pakaian mereka pun sudah tidak utuh lagi. Perut yang lapar dan perasaan gelisah serta cemas, membuat mereka tidak dapat berbuat dengan tertib atas diri mereka sendiri.

Tohjaya terkejut ketika ia merasakan tandunya terguncang. Dengan serta merta ia mengangkat kepalanya dan memandang para pengawal yang memanggul tandu.

Tiba-tiba saja wajahnya menjadi merah padam. Kemarahan yang selalu menyala di dadanya, rasa-rasanya melonjak sampai ke ujung ubun-ubunnya.

Dengan mata yang merah ia melihat pengawalnya yang memanggul tandu di depan sebelah kanan sedang sibuk memperbaiki celananya yang sudah sobek, dan karena kekhilafannya telah tersingkap. Kain panjangnya tidak dikenakannya lagi karena mengganggu langkahnya, sehingga kain panjang itu hanya disangkutkannya saja di lehernya.

Tohjaya yang sedang gelap hati melihat hal itu sebagai suatu peristiwa yang besar, yang tidak dapat dimaafkannya lagi. Selain penghinaan atas seorang Maharaja yang besar dari Singasari, maka hal itu memberikan perlambang kepadanya bahwa nasibnya agaknya memang kurang baik. Seolah-olah ia telah melihat kegagalan diri sendiri. Pakaian yang tersingkap adalah perlambang kegelapan bagi nasib seorang besar seperti Tohjaya.

Karena itu, tanpa berkata apapun juga, di dorong oleh kemarahan yang meluap, maka dengan serta merta orang itu pun telah dipukul dengan sebatang tangkai tombak yang selalu ada di sisi Tohjaya. Demikian kerasnya sehingga orang itu pun berteriak kesakitan.

Tetapi bukan saja berteriak. Tiba-tiba saja ia melonjak dan melepaskan tandunya sehingga Tohjaya pun kemudian terlempar jatuh.

Kemarahan yang meluap itu pun menjadi semakin membakar dadanya. Tertatih-tatih ia mencoba berdiri dan dengan sisa tenaganya ia mengangkat tombaknya sambil berteriak, “Gila, Kau gila. Kau harus dibunuh karena kau memberikan perlambang buruk bagiku. Selebihnya kau telah menghina seorang Maharaja besar, karena kau tidak berpakaian sepantasnya apalagi kau berjalan di hadapanku.”

“Tuanku.” Senapati yang memimpin pengawal itu berteriak. Ia mencoba mencegah sesuatu yang bakal terjadi.

Tetapi yang terjadi agaknya memang terlampau cepat. Pengawal yang kesakitan itu telah kehilangan akal pula. Kelelahan, putus asa dan ketiadaan harapan, membuatnya bermata gelap.

Karena itu, ketika ia melihat ujung tombak mengarah ke dadanya, dengan serta merta ia pun menarik kerisnya. Dengan tanpa disadarinya ia justru meloncat maju menyongsong ujung tombak yang telah terayun ke arahnya.

Senapati yang memimpin pengawalan itu justru harus memalingkan wajahnya ketika ia melihat benturan yang sangat mengerikan. Ujung tombak itu benar-benar telah menembus dada pengawal yang malang itu. Tetapi agaknya sisa dorongan tenaganya masih melontarkannya beberapa langkah maju, sehingga ujung kerisnya telah menyentuh tubuh Tohjaya. Keris yang dilumuri dengan racun warangan yang kuat.

Sejenak kemudian orang itu pun terlempar ke samping dan jatuh menelentang. Langsung kehilangan nyawanya.

Namun dalam pada itu. Tohjaya pun jatuh terduduk pula. Ia sudah mengerahkan segenap sisa tenaganya. Apalagi terasa sentuhan keris itu di tubuhnya. Tubuh yang memang sudah terlampau lemah.

“Tuanku.” Senapati yang memimpin pengawalannya mendekat.

Tetapi Tohjaya menjadi semakin lemah. Racun warangan yang kuat pada ujung keris itu dengan cepatnya mulai bekerja. Apalagi daya tahan tubuh Tohjaya telah hampir punah sama sekali.

Tidak seorang pun yang dapat mengatasi batas maut apabila sudah menghampirinya. Demikian pula tuanku Tohjaya yang pernah menjadi seorang Maharaja yang besar di Singasari setelah ia berhasil membunuh Anusapati. Tetapi ternyata ia pun tidak cukup lama duduk di atas tahta.

Racun warangan yang bekerja di tubuhnya itu telah mencengkamnya demikian kuat, sehingga darahnya pun seakan-akan telah tersumbat oleh gumpalan-gumpalan darahnya yang membeku.

Dengan mata sayu dipandanginya Senopati yang berjongkok di sampingnya. Kemudian sebelum ia jatuh menelentang. Senopati itu sudah menyambarnya dan meletakkan kepala Tohjaya itu di pangkuannya.

“Tuanku.” desisnya.

“Aku, aku tidak akan dapat melanjutkan perjalanan ini.” desis Tohjaya.

“Tahankanlah tuanku. Hamba akan berusaha mendapatkan seorang dukun yang pandai.”

Tohjaya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak ada gunanya. Aku akan mati.” Namun tiba-tiba Tohjaya itu tersentak, “Persetan. Kalian memang mengharap aku mati, agar kalian dapat memiliki harta kekayaan yang aku bawa.”

“Tuanku.” suara Senepati itu lambat, “Tenangkan hati tuanku. Tidak seorang pun yang akan berkhianat terhadap tuanku.”

“Omong kosong. Siapa yang menusuk aku?”

“Orang itu sudah mati.”

“Mati?”

“Hamba tuanku.”

Tohjaya menarik nafas dalam sekali. Namun rasa-rasanya nafasnya sudah menjadi semakin dalam.

Sejenak kemudian Tohjaya itu pun memejamkan matanya. Perlahan-lahan terdengar ia berdesis, “Ambillah. Ambillah petiku seisinya.”

Senopati itu mengerutkan keningnya. Ia merasakan sebuah tarikan nafas yang sendat. Tarikan nafas terakhir dari Tohjaya yang berbaring di pangkuannya.

Untuk beberapa saat lamanya, Senopati itu rasa-rasanya bagaikan membeku. Bahkan terasa matanya menjadi basah. Beberapa hari ia mengikuti Tohjaya yang terusir dari tahta. Dengan setia ia mengawal Tohjaya itu betapun beratnya. Kini ia hanya dapat menuggui Tohjaya yang sudah tidak bernyawa lagi.

Prajurit-prajurit pengawalnya pun kemudian berkerumun. Sejenak mereka pun ikut berduka cita. Namun kemudian ada sesuatu yang melonjak di dalam hati mereka. Kejemuan dan kelelahan yang amat sangat, agaknya telah menumbuhkan perasaan putus-asa dan kelemahan tekad.

Sebagian besar dari mereka sama sekali tidak lagi mempunyai nafsu untuk berbuat sesuatu.

Dalam pada itu, pasukan berkuda yang dipimpin oleh Mahisa Agni semakin lama menjadi semakin dekat. Jalan yang rumit memang merupakan penghambat dari perjalanan itu. Tetapi karena mereka berada di punggung kuda, maka mereka tidak merasakan kelelahan seperti prajurit-prajurit yang mengusung Tohjaya di atas tandu.

Para pencari jejak, menangkap jejak prajurit-prajurit yang mereka ikuti mengikuti jalan sempit yang sukar. Tetapi, ternyata semakin lama jejak itu menjadi semakin jelas.

“Mereka sudah sangat letih, sehingga mereka tidak sempat lagi menghapus jejak dengan baik.” berkata salah seorang pencari jejak.

“Jaraknya pun tidak begitu jauh lagi. Jejak ini masih baru.” berkata yang lain.

Mahisa Agni dan kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Meskipun demikian mereka pun melihat tanda bahwa sebentar lagi mereka akan dapat segera menyusul Tohjaya dan pengikut-pengikutnya.

“Marilah kita percepat perjalanan ini.” berkata Mahisa Agni.

Dengan demikian maka mereka pun maju semakin cepat. Jejak yang mereka ikuti pun menjadi semakin jelas. Sosok mayat yang mereka jumpai di perjalanan telah menumbuhkan berbagai tanggapan atas prajurit-prajurit Tohjaya yang kelelahan itu.

Meskipun jalan menjadi semakin sempit, namun kuda mereka dapat berlari lebih cepat. Mereka tidak perlu lagi berjalan membungkuk-bungkuk melihat jejak di atas tanah berbatu-batu, atau di atas rerumputan di pinggir jalan, jejak itu kini nampak jelas dan pasti.

Ternyata mereka tidak terlalu lama lagi berkuda. Dari kejauhan mereka telah melihat sekelompok prajurit yang berserakan di pinggir jalan. Prajurit-prajurit yang berjongkok dan duduk-duduk dengan kepala tunduk di dalam sebuah suasana yang asing.

“Itulah mereka?” desis Mahisa Agni.

“Apa yang terjadi paman?” tiba-tiba Ranggawuni bertanya.

“Aku tidak tahu. Tetapi kita harus tetap berhati-hati. Kita tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh tuanku Tohjaya. Kadang-kadang ia dapat berbuat di luar dugaan.”

“Tetapi suasananya nampak aneh paman? Mereka seakan-akan tidak menghiraukan lagi kedatangan kita. Tentu sesuatu telah terjadi. Di perjalanan kita menjumpai mayat yang terluka di dada. Mungkin ada persoalan yang tumbuh di antara prajurit-prajurit itu sendiri.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Itu tidak mustahil. Dalam keadaan yang parah, mungkin timbul pikiran-pikiran yg berbeda-beda. Dan perbedaan yang demikian kadang-kadang tidak dapat diselesaikan dengan pembicaraan, karena otak mereka telah beku.”

Sebenarnyalah bahwa prajurit-prajurit yang mengerumuni Tohjaya yang sudah terbunuh itu sudah tidak menghiraukan lagi kehadiran pasukan berkuda yang menyusul mereka. Mereka sudah terlampau letih lahir dan batin. Mereka sudah tidak tahu lagi apa yang sebaiknya mereka lakukan selain daripada pasrah diri terhadap nasib.

Meskipun demikian namun Mahisa Agni cukup berhati-hati menanggapinya. Mungkin orang-orang itu dengan sengaja berbuat demikian, tetapi tiba-tiba saja mereka bangkit dan menyergap.

Karena itu maka pasukan Mahisa Agni pun menebar. Ada di antara mereka yang terpaksa turun kepategalan di pinggir jalan.

Perlahan-lahan pasukan itu maju. Mahisa Agni yang berada di paling depan bersama Witantra dan Lembu Ampal pun tidak kehilangan kewaspadaan sama sekali.

Ternyata tidak seorang prajurit pun yang beranjak dari tempatnya. Mereka tetap duduk atau berjongkok di tempat.

Satu dua di antara mereka ada yang memalingkan wajahnya melihat kedatangan pasukan berkuda itu. Namun orang-orang itu seolah-olah acuh tidak acuh saja.

Karena tidak seorang pun dari mereka menyentuh senjatanya, maka Mahisa Agni maju lebih dekat lagi. Bahkan ia pun kemudian meloncat turun dari kudanya dan menyerahkan kudanya kepada seorang pengawal. Demikian pula Witantra dan Lembu Ampal.

Perlahan-lahan mereka berjalan mendekat. Beberapa langkah kemudian mereka terhenti karena mereka melihat seseorang yang terbujur di tanah, dan seorang lagi di pangkuan seorang prajurit.

“Ki sanak.” berkata Mahisa Agni lantang, “Siapakah yang memimpin kelompok prajurit di antara kalian?”

Tidak ada seorang pun yang segera menyahut.

“He, siapakah yang mempertanggung jawabkan kelompok kalian itu?”

Senapati yang masih memangku Tohjaya itu pun mengangkat kepalanya sambil berkata keras-keras. “Akulah yang bertanggung jawab. Mendekatlah. Aku tidak mempunyai kepentingan apa-apa lagi sekarang.”

Mahisa Agni terkejut mendengar jawaban itu. Perlahan-lahan ia mendekat. Kemudian ia pun bertanya, “Siapakah itu?”

Senapati itu memandanginya. Wajahnya nampak sayu dan matanya masih merah. Jawabnya, “Tuanku Tohjaya.”

“Kenapa?”

“Tuanku telah meninggal.”

Jawaban itu telah mengejutkan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka Dengan serta merta mereka meloncat dari punggung kudanya dan berlari mendekat. Tetapi Mahisa Agni dan Witantra telah menahan kedua anak-anak muda.

“Sabarlah tuanku. Kita harus meyakinkan dahulu.”

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tertegun sejenak. Namun mereka tidak dapat memaksa. Mereka membiarkan Mahisa Agni kemudian mendekat dan melihat bahwa Tohjaya benar-benar sudah terbaring diam.

Barulah kemudian ia memberikan isyarat kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Keduanya berlari-lari mendekat dan berjongkok di sisi tubuh Tohjaya yang sudah membeku.

“Paman, paman.” desis Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.

Kedua anak-anak muda itu mengusap matanya yang basah. Sementara Mahisa Agni, Witantra dan Lembu Ampal memperhatikan setiap gerak dan sikap prajurit-prajurit Singasari yang mengawal Tohjaya sampai akhir hayatnya.

Tiba-tiba saja Ranggawuni meloncat berdiri sambil bertanya lantang, “Siapa yang membunuh pamanda Tohjaya?”

Senapati yang memangkunya melontarkan pandangan matanya kearah prajurit yang terbaring diam. Sebuah luka menganga di dadanya karena tombak Tohjaya.

“Sampyuh?” Senapati itu mengangguk.

“Apakah kau tidak dapat mencegahnya?” bertanya Mahisa Cempaka.

“Peristiwa itu cepat sekali terjadinya. Hamba tidak sempat berbuat apa-apa tuanku.” jawab Senapati itu. Ia pun kemudian menceriterakan apa yang telah dilihatnya dan kemudian yang dapat disaksikan adalah kematian Tohjaya di pangkuannya itu.

Yang mendengarkan ceritera itu menundukkan kepalanya. Kematian Tohjaya benar-benar tidak terduga-duga. Seorang prajurit yang mengawalnya dengan setialah yang justru telah membunuhnya.

Sejenak mereka berdiri termangu-mangu menyaksikan akhir dari hidup Tohjaya. Kemudian Ranggawuni pun memerintahkan untuk membawa jenazah Tohjaya kembali ke Singasari dan menyelenggarakan sebaik-baiknya sesuai dengan adat upacara yang harus dilakukan.

Demikianlah, setelah para prajurit melepaskan senjata-senjata, maka mereka pun kembali mengusung Tohjaya di atas tandu, tetapi mereka membawanya kembali ke Singasari.

Berbagai tanggapan telah timbul. Namun adalah suatu kenyataan bahwa Tohjaya sudah tidak ada lagi. Dan tidak ada yang dapat menyangkal, bahwa di antara para bangsawan, Ranggawuni lah yang paling berhak atas Tahta Singasari. Namun, Ranggawuni tidak akan bersedia mukti sendiri. Karena baginya jabatan tertinggi itu merupakan tanggung jawab yang sangat berat.

Dan karena itulah maka Ranggawuni telah menerima jabatan tertinggi di Singasari bersama saudara sepupunya, Mahisa Cempaka.

Keduanyalah yang kemudian menyelenggarakan jenazah Tohjaya sebagaimana mestinya, dan dicandikan di Katanglumbang.

Beberapa saat kemudian, setelah Singasari menjadi tenang, dan rakyat Singasari tidak lagi di cemaskan oleh peristiwa-peristiwa baru yang timbul, maka Ranggawuni pun telah dinobatkan menjadi Maharaja di Singasari dengan resmi.

Ranggawuni yang menjabat sebagai Maharaja dengan gelar Wisnuwardana, sedangkan Mahisa Cempaka diangkat menjadi Ratu Angabhaya dengan gelar Batara Narasinga. Keduanya memerintah Singasari dengan rukun dan seakan-akan tidak pernah terpisahkan, sehingga rakyat Singasari menganggap keduanya bagaikan Sepasang Ular Naga di satu sarang.

Untuk sementara Singasari pun diliputi oleh ketenangan yang damai. Namun demikian Sepasang Ular Naga di satu sarang itu tidak dapat mencegah mengalirnya waktu. Mereka tidak dapat mencegah tuan puteri Ken Dedes menjadi semakin tua seperti juga Mahisa Agni dan Witantra yang kemudian kembali ke padepokannya. Mereka tidak dapat mencegah Mahendra yang kembali pula ke rumahnya menjadi bertambah tua pula seperti juga Lembu Ampal. Apalagi Ken Umang yg tidak dapat disembunyikan lagi dan yang kemudian sebagaian orang menganggap lebih baik baginya ketika ia meninggal dunia, justru lebih cepat dari Ken Dedes yang tua dan sakit-sakitan.

Tetapi bahwa yang kasat mata tidak akan abadi adanya, juga ketenangan dan kedamaian di Singasari, yang ibu kotanya masih tetap berada di Tumapel lama.

Demikialah maka Kediri yang sudah ditinggalkan Mahisa Agni pun berkembang pula. Tetapi, Kediri merasa dirinya memiliki masa lampau yang lebih besar dari Singasari. Itulah sebabnya, pada suatu saat akan datang persoalan yang tumbuh karena kebesaran Kediri yang hampir pulih kembali.

Namun untuk waktu yang lama, Singasari adalah negara yang besar di bawah pimpinan Sepasang Ular Naga di satu Sarang.

Tidak ada seorang pun yang tidak menjadi cemas di seluruh istana bahwa seluruh daerah Singasari yang besar, ketika nenekda Maharaja Singasari yang bergelar Wisnuwardana, yaitu Ken Dedes, menjadi sakit keras. Kecuali sakit yang dideritanya untuk waktu yang lama, maka tuan puteri memang sudah berusia lanjut.

Siang malam beberapa orang emban selalu menungguinya. Bahkan Tuanku Maharaja di Singasari sendiri sering sekali datang menjenguknya.

Dalam keadaan yang semakin gawat, kakak angkat tuan puteri, Mahisa Agni, hampir tidak pernah beranjak dari sisinya.

Tetapi yang harus terjadi, akan terjadilah.

Herapa banyak orang-orang pandai dalam ilmu pengobatan telah mencoba untuk mengobatinya, namun sakitnya sama sekali tidak menjadi berkurang.

“Kakang Mahisa Agni.” berkata tuan puteri dengan suara yang lemah, “Aku masih melihat daun-daun kemuning di halaman berguguran.”

“Ah mana mungkin tuan puteri.” jawab Mahisa Agni, “Tuan puteri selalu berada di dalam bilik. Tuan puteri tidak pernah turun ke halaman bangsal ini.”

Ken Dedes tersenyum. Katanya, “Akan tetapi, bukankah daun kemuning itu masih selalu berguguran? Setiap pagi juru taman selalu menyapu pekarangan itu dan menyingkirkan daun-daun kering yang berhamburan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.....

“Kakang.” berkata Ken Dedes, “Aku pun menjadi makin lemah. Sebenarnya umurku lebih muda daripadamu kakang. Tetapi nampaknya aku menjadi jauh lebih tua daripadamu.”

“Ah. Mungkin begitu. Tetapi itu bukan hal yang perlu dihiraukan. Kakang Witantra pada suatu saat nampak jauh lebih tua daripadaku.”

Ken Dedes yang selalu berbaring di pembaringannya itu masih juga tersenyum. Katanya, “Mungkin kau benar kakang. Tetapi rasa-rasanya agak lain dengan diriku. Aku sudah menjadi sakit-sakitan. Bahkan sudah agak lama. Sehari dua hari badanku seakan-akan sudah menjadi baik. Tetapi kemudian penyakitku yang tidak diketahui namanya ini kambuh lagi. Mungkin penyakit inilah yang disebut penyakit tua.”

“Tuan puteri memang harus banyak beristirahat. Pada saatnya tuan puteri akan sembuh.”

Namun Ken Dedes tersenyum pula. Katanya, “Kau ingin membuat aku menjadi tenang. Aku memang tidak gelisah kakang. Bahkan seandainya janji itu sampai juga menjemput aku. Rasa-rasanya hidupku yang pahit selama ini telah terobati. Di saat-saat terakhir aku melihat bahwa cucu-cucuku akan dapat menemukan masa-masa yang cerah. Kita agaknya tidak perlu cemas lagi bahwa Singasari akan diguncang dengan pertentangan yang tidak berkesudahan.”

“Mudah-mudahan tuan puteri.”

“Aku melihat Ranggawuni dan Mahisa Cempaka dapat bekerja sama dengan baik. Bahkan keduanya seolah-olah tidak dapat dipisahkan lagi. Aku sadar, bahwa peran kakang Mahisa Agni cukup besar sehingga jiwa kedua anak itu dapat terbentuk seperti sekarang ini.”

“Nampaknya memang demikian tuan puteri. Beberapa orang di dalam lingkungan istana ini, yang semula, masih diragukan kesetiaannya setelah pimpinan pemerintah berada di tangan cucunda Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, agaknya kini tidak lagi menjadi persoalan. Mereka meskipun perlahan-lahan telah dapat menerima kenyataan, bahwa di bawah pimpinan cucunda Ranggawuni dan Mahisa Cemaka, keadaan menjadi semakin baik.”

Ken Dedes mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan. Semuanya merupakan kenyataan yang sangat manis di saat-saat terakhir ini.”

Mahisa Agni hanya dapat menarik nafas. Namun sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang seolah-olah jenuh, maka ia dapat menduga bahwa saat terakhir bagi Ken Dedes itu memang sudah dekat.

Meskipun demikian, seperti Ken Dedes sendiri, Mahisa Agni selalu menyatakan syukur di dalam hati, bahwa Ken Dedes yang seakan-akan di sepanjang umurnya selalu dicengkam oleh keprihatinan itu, kini mendapat juga sekedar obat bagi jiwanya, la sempat melihat keturunannya memegang kekuasaan. Betapapun juga, agaknya ramalan seorang yang mumpuni pada masa Ken Arok, yang kemudian bergelar Sri Rajasa, masih muda. Bahwa seorang gadis yang pada tubuhnya nampak cahaya yang khusus, akan dapat melahirkan orang-orang yang akan memiliki kewibawaan yang tinggi, kini menjadi kenyataan. Ken Dedes telah menurunkan seorang yang bernama Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang kemudian memegang pimpinan tertinggi di Singasari.

Demikianlah, keadaan kesehatan Ken Dedes semakin hati menjadi semakin susut. Tetapi jiwanya nampak semakin hari menjadi semakin segar. Agaknya Ken Dedes benar-benar telah siap menghadap apabila saatnya telah datang, ia dipanggil oleh kekuasaan tertinggi untuk menghadap.

Ketahanan hati Ken Dedes, membuat keluarga istana menjadi tabah pula. Meskipun mereka tidak dapat menghindarkan diri dari kecemasan, tetapi mereka pun telah pasrah, apa saja yang akan terjadi, terjadilah.

Maharja di Singasari dan Ratu Angabhaya, yang keduanya adalah cucu Ken Dedes, akhirnya harus mengendapkan kegelisahan hati mereka. Ken Dedes sendiri sempat memanggil keduanya menghadap di pembaringannya.

“Cucunda.” berkata Ken Dedes yang sudah semakin lemah, “Tidak ada kelanggengan di dunia yang fana ini. Semua yang nampak akan menjadi tiada. Semua yang hidup akan mati. Perubahan akan selalu terjadi, selain perubahan itu sendiri. Karena itu, cucunda berdua harus menghadapinya dengan sepenuh kesadaran bahwa pada suatu saat aku harus meninggalkan cucunda. Aku sudah wajib berterima kasih kepada Yang Maha Agung, bahwa aku sempat menyaksikan cucu-cucuku menjadi orang yang terpandang di Singasari.”

Kedua cucunda Ken Dedes itu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Pada suatu saat akan datang pelayan kepada cucunda berdua dan memberitahukan bahwa aku sudah tidak ada lagi.”

Keduanya masih mengangguk-angguk.

Untuk beberapa saat lamanya Ken Dedes masih dapat memberikan beberapa pesan sebelum ia berkata kepada kedua cucunya, “Biarlah aku beristirahat. Aku masih ingin tjdur sejenak. Mungkin aku masih diperkenankan bertemu dengan beberapa orang lagi sebelum saat itu datang besok atau lusa.”

“Kami akan menunggui di sini.” berkata Maharaja Wisnuwardana.

Ken Dedes menggeleng, “Itu tidak perlu. Bukankah tugas seorang Maharaja dan Ratu Angabhaya itu terlampau banyak. Pada saat-saat yang paling dekat, aku akan berusaha memberitahukan kepada cucunda berdua. Bukan maksudku mengatakan bahwa aku akan dapat mengerti batas-batas yang penuh dengan rahasia itu. Tetapi setidak-tidaknya kelemahan tubuhku akan memberikan petunjuk tentang hal itu.”

Kedua cucunda memandang kepada Mahisa Agni yang selalu menunggui Ken Dedes, hampir siang dan malam itu.

“Tinggalkan neneknda beristirahat tuanku. Tuanku berdua tidak dapat mengesampingkan tugas tuanku dan menunggui neneknda untuk waktu yang terlalu lama.” berkata Mahisa Agni, “Hamba akan tetap berada di sini.”

Kedua cucu Ken Dedes itu pun kemudian meninggalkan neneknda yang semakin lemah, tetapi masih tetap sadar sepenuhnya apa yang dihadapinya.

Pada saat-saat terakhir itu, seolah-olah beberapa orang sahabat Mahisa Agni pun telah berkumpul pula di halaman istana. Di antara mereka adalah Witantra dan Mahendra.

Mahendra di saat-saat terakhir itu memerlukan datang untuk menengok Ken Dedes. Sebuah kenangan khusus telah menyentuh hatinya semasa ia masih muda. Ia pernah tergila-gila kepada Ken Dedes dan mempertaruhkan apa saja yang ada padanya. Bahkan ia pernah melakukan perang tanding dengan Mahisa Agni yang pada waktu itu menyebut dirinya bernama Wiraprana, karena Wiraprana sendiri, seorang anak muda yang dicintai oleh Ken Dedes, sama sekali tidak mampu mempertahankan gadis itu dengan cara yang keras.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam jika kenangan itu mulai membayang.

“Tetapi semuanya sudah lama lampau.” berkata Mahendra kepada diri sendiri.

Namun, bayangan itu bagaikan lewat dengan urutan yang jelas di dalam angan-angannva. Ken Dedes yang kemudian jatuh di tangan Akuwu Tunggul Ametung yang bujukan Kuda Sempana. Tetapi akhirnya Kuda Sempana sendiri mendendam karenanya. Ken Ddes benar-benar telah diperisteri sendiri oleh Akuwu Tunggul Ametung.

Sesuatu telah terjadi saat itu. Mahendra pun akhirnya mendengar bahwa Tunggul Ametung pernah mengucapkan kepada Ken Dedes, bahwa ia telah menyerahkan kekuasaan atas Tumapel kepada isterinya. Ken Dedes itu.

Meskipun kemudian Ken Dedes diperisteri oleh Ken Arok sepeninggal Akuwu Tunggul Ametung karena dibunuh oleh Ken Arok itu sendiri, namun ternyata sampai saat terakhir, garis keturunan Ken Dedes lah yang memegang kekuasaan di Singasari. Tohjaya hanya berhasil menguasai Singasari yang besar untuk waktu yang sangat pendek. Tidak lebih dari setahun.

Akhirnya Ranggawuni dan Mahisa Cempaka lah yang menjadi Maharaja dan Ratu Angabhaya dengan gelar Wisnuwardana dan Batara Narasinga.

Mahendra tidak dapat menghapus kenangan itu. Pada saat ia bersama Witantra diperkenankan memasuki bangsal Ken Dedes, maka bayangan itu pun rasa-rasanya menjadi semakin jelas membayang.

Dengan hati yang berdebar-debar keduanya bergeser mendekati pembaringan.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Ken Dedes yang terbaring diam. Wajahnya yang dibayangi dengan garis-garis umur nampak pucat. Tetapi bagi Mahendra yang melihat wajah itu di masa mudanya, seolah-olah melihat kecantikan yang dahulu masih membayang. Kecantikan yang menyeret Ken Dedes ke tempat yang sama sekali tidak dikehendaki dan tidak diduganya sama sekali.

Mahisa Agni yang ada di ruang itu pula sempat melihat wajah Mahendra yang menegang. Namun hanya sejenak, karena Mahendra berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menguasai perasaannya.

Ketika Ken Dedes kemudian membukakan matanya, Mahendra menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia berhasil menghapus kesan-kesan itu dari wajahnya.

Meskipun keadaan tubuh Ken Dedes sudah sangat lemah, tetapi ingatannya masih cukup baik. Ia tidak melupakan masa-masa lampau yang agaknya membayang juga di angan-angan Mahendra.

“Mahendra.” berkata Ken Dedes perlahan-lahan sekali.

Mahendra bergeser mendekat. “Hamba tuan puteri.”

“Aku mengucapkan terima kasih. Bantuanmu besar sekali bagi cucu-cucuku, dan terutama bagi Singasari.”

“Itu sudah menjadi kuwajiban hamba tuan puteri.”

“Mahendra.” berkata Ken Dedes pula, “Kesempatan terakhir ini akan aku pergunakan untuk selain mengucapkat terima kasih, juga minta maaf kepadamu. Aku menyimpan kesalahan yang mungkin telah menyakiti hatimu.”

“Ah, sudahlah tuan puteri. Sekarang tuan puteri tinggal menenteramkan hati. Cucunda telah sampai pada jenjang yang seharusnya. Yang lampau biarlah lampau.”

Ken Dedes tersenyum. Katanya, “Mungkin aku tidak akan dapat menunggu cucuku lebih dari saat-saat purnama naik besok lusa. Kepadamu, kepada kakang Witantra dan kepada Kakang Mahisa Agni aku mohon, agar cucuku selalu mendapatkan perlindungan.”

“Pesan itu akan selalu kami junjung tinggi tuan puteri.”

Ken Dedes tersenyum. Kemudian katanya kepada Witantra, “Kakang, sejak masa pemerintahan Akuwu Tumapel, kau adalah orang yang banyak memberikan arah dalam pemerintahan. Apakah kau juga akan berbuat demikian pada saat-saat cucu-cucuku memegang pemerintahan di Singasari?”

“Tuan puteri.” berkata Witantra, “Selagi hamba, mendapat kesempatan, hamba akan melakukannya.”

Keri Dedes tersenyum pula. Kehadiran Witantra dan Mahendra membuat hatinya semakin besar. Seolah-olah ia dengan hati yang lapang, dapat meninggalkan cucu-cucunya tanpa kecemasan apapun, karena di sekitar Baginda Wisnuwardana dan Batara Narasinga, berdiri orang-orang yang dapat dipercaya, sementara kedua cucu-cucunya itu tumbuh menjadi orang yang cukup kuat untuk kemudian berdiri sendiri.

Kehadiran Witantra dan Mahendra agaknya menambah lapang jalan yang akan ditempuh oleh Ken Dedes. Ternyata sepeninggal mereka, wajah Ken Dedes yang semakin pucat, menjadi semakin cerah pula.

Dan pada akhirnya saat yang tidak dapat dihindari itu pun tiba. Saat-saat terakhir dari kehidupan seorang yang semula adalah gadis padepokan kecil di sebelah padukuhan Panawijen, namun yang perjalanan hidupnya menelusuri kekuasaan demi kekuasaan sejak saat Tumapel sampai Singasari. Sejak suaminya yang pertama, yang mengambilnya dengan paksa dari padukuhan, sampai pada saat cucu-cucunya berkuasa, setelah melampaui masa yang penuh dengan duri-duri tajam.

Hari itu adalah hari berkabung bagi seluruh daerah Singasari. Seorang puteri telah pergi. Bagi rakyat Singasari, mereka menganggap bahwa Ken Dedes adalah pepunden, tetapi sekaligus ibu mereka.

Tetapi hanya sedikit orang yang mengerti, bahwa semasa gadisnya, Ken Dedes pernah menggetarkan hati seorang yang disebut putera Brahma, karena tubuh gadis itu memancarkan cahaya yang aneh, yang menurut ramalan seorang ahli, bahwa gadis yang demikian itulah yang kelak akan menurunkan orang-orang yang berkuasa di seluruh tlatah kepulauan yang berhamburan di katulistiwa.

Sampai saat terakhir, ramalan itu ternyata benar. Cucu-cucu Ken Dedes yang akhirnya berkuasa memegang tampuk pemerintahan di Singasari.

Dan orang yang meramalkan tentang gadis yang bercahaya itu adalah seorang pendeta bernama Lohgawe jauh sebelum Ken Dedes menjadi isteri Sri Rajasa.

Dan ramalan itulah yang telah mendorong Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa itu untuk melakukan beberapa pembunuhan dan perbuatan licik lainnya, meskipun kemudian sebagai seorang raja ia adalah raja yang besar.

Disaat terakhir itu, Ken Dedes mendapat kehormatan tertinggi dari seluruh rakyat Singasari.

Namun dalam pada itu, selagi rakyat Singasari sibuk dengan upacara yang khitmat, tiga orang berjalan di antara rakyat Singasari yang sedang berkabung itu. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kesan serupa dengan orang-orang lain yang sedang merasa kehilangan. Yang nampak pada wajah itu justru dendam dan kebencian yang menyala di dalam dadanya.

Tetapi, tidak banyak orang yang menghiraukannya. Orang-mang yang berpapasan dengan ketiga orang itu hanya menganggap bahwa orang-orang itu memang berwajah keras. Tanpa prasangka apapun juga.

“Rakyat Singasari sudah dibius oleh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.” berkata salah seorang daripadanya.

“Juga orang-orang Kediri menjadi banci. Mereka tidak melihat-lihat saat-saat yang sebenarnya menguntungkan.” sahut yang lain.

“Apa peduli kita terhadap Kediri. Di Kediri tidak ada lagi orang-orang yang dapat dipercaya. Apalagi jika mereka mendengar nama Mahisa Agni. Rasa-rasanya mereka sudah mati berdiri.”

“Mahisa Agni memang seorang yang tidak ada duanya.” desis yang tertua di antara ketiganya, “Tetapi bukan berarti bahwa Mahisa Agni tidak akan terlawan. Ia kini sudah menjadi semakin tua. Sebentar lagi kemampuannya, betapapun tingginya akan retak ditelan umurnya. Ia akan mati tanpa dibunuh oleh siapapun.”

“Tetapi sementara itu ia sempat membentuk sepasang ular itu menjadi orang seperti dirinya.” bantah yang lain.

Ketiganya terdiam sejenak. Mereka sempat memperhatikan betapa orang-orang Singasari menjadi sibuk karena wafatnya Ken Dedes.

“Kita akan sampai pada saat yang tepat. Selagi orang-orang Singasari memusatkan perhatian mereka kepada saat-saat penguburan Ken Dedes, kita akan dapat mulai dengan goncangan-goncangan yang dapat membangunkan rakyat dari tidurnya.”

“Apa yang dapat kita kerjakan sekarang?”

“Bahwa sepeninggal tuanku Tohjaya, Singasari menjadi kisruh.”

“Hanya kisruh?”

“Untuk sementara. Selebihnya harus kita atur kemudian.”

“Tetapi jangan diberi kesempatan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka memerintah dengan tenang. Kekisruhan ini akan mempengaruhi hubungan Singasari dengan Kediri pula.”

“Sekali lagi aku katakan, aku tidak dapat mengharapkan Kediri. Tetapi aku lebih mengharapkan bantuan satu atau dua orang Akuwu. Dengan demikian kita akan mempunyai pacatan kekuasaan bagi diri kita sendiri. Tidak bagi orang-orang Kediri, karena orang-orang Kediri pun akan berjuang bagi diri mereka sendiri.”

“Tetapi untuk sementara Kediri dapat dipergunakan untuk menarik perhatian atau setidak-tidaknya mengurangi kekuatan Singasari. Selebihnya, kita akan menarik keuntungan dari benturan itu.”

“Harapannya kecil sekali. Sekarang Kediri justru masih dapat dihisap oleh Mahisa Agni.”

“Jadi?”

“Kita akan menunggu. Kita melihat, apa yang dilakukan oleh rakyat Singasari pada saat-saat kematian Ken Dedes sekarang ini.”

“Harus ada kesan, bahwa tidak seluruh rakyat Singasari berkabung. Dengan demikian, maka kesan itu akan tersebar luas, karena justru pada saat ini banyak sekali orang-orang dari luar kota Singasari berada di sini. Jika kita dapat menimbulkan atas Ken Dedes sekarang ini, maka usaha kita yang pertama sudah berhasil.”

“Apakah keuntungannya?”

“Sudah aku katakan. Bahkan kesan yang didapat, tidak semua orang setia kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Sehingga orang-orang Singasari tidak menganggap bahwa mereka adalah manusia yang memiliki wewenang langsung dati yang Maha Agung untuk memerintah Singasari seperti anggap beberapa orang.”

“Apakah begitu?”

“Sebagian rakyat Singasari menganggap bahwa kedua orang itu memang sudah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin bagi mereka, sehingga mereka menjadi silau dan tidak dapat menilai dengan sewajarnya.”

“Jika mereka dapat menilai dengan sewajarnya?” bertanya kawannya.

“Ah. kau gila. Aku berharap bahwa rakyat Singasari ini menjadi terbuka matanya, bahwa ada kekuatan lain yang perlu dipertimbangkan.”

“Kau benar.” sahut yang lain. Lalu, “Aku setuju bahwa kita harus menumbuhkan kesan, bahwa kematian Ken Dedes, bukan sesuatu yang harus disesalkan. Dan bahwa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka adalah manusia lumrah yang pada suatu saat akan dapat ditumbuhkan.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Lalu tiba-tiba salah seorang dari mereka bergumam, “Bagaimana dengan kekuasaan Linggapati di Mahibit?”

Yang lain mengerutkan keningnya. Kemudian salah seorang dari mereka di Mahibit mempunyai kekuatan yang memadai untuk melaksanakan rencana ini.

“Tetapi seperti Kediri, ia akan berbuat bagi dirinya sendiri. Aku lebih condong untuk berhubungan dengan Akuwu di Babatu.”

“Kita pikirkan kemudian.” potong yang lain, lalu, “Apa yang pantas kita lakukan sekarang.”

“Kita sebut-sebut nama tuanku Tohjaya.”

“Itu terlampau berbahaya.”

“Jadi?”

“Sebaiknya kesan yang timbul bukan karena kita mendendam karena tuanku Tohjaya telah disingkirkan. Dengan, demikan maka pengaruhnya akan kecil sekali bagi rakyat Singasari, karena mereka menganggap lumrah jika kita, pengikut-pengikut tuanku Tohjaya menjadi sakit hati sepeninggalnya.”

“Jadi?”

“Kita membuat rajapati. Kita mengambil seseorang dan membunuhnya di gerbang kota. Kita lemparkan kepada para prajurit penjaga pintu gerbang. Jika mereka mengejar kita. Kita selesaikan sama sekali di luar kota.”

“Kita sisakan salah seorang dari mereka. Kita perkenalkan diri kita dan perguruan kita. Kita tunjukkan ciri-ciri kita yang bukan lagi prajurit-prajurit seperti saat-saat kita belum berguru.”

“Apakah itu tidak berbahaya? Mahisa Agni akan bertindak atas perguruan kita.”

“Tidak seorang pun akan dapat menemukan padepokan kita itu.”

Ketiga orang itu terdiam sejenak. Lalu salah seorang dari mereka tiba-tiba berkata, “He, kau lihat anak muda itu?”

“Ya. Anak muda yang tampan. Ia berjalan seorang diri.” jawab kawannya, “Apa maksudmu?”

Kawannya tidak segera menjawab. Di pandanginya saja anak muda yang disebutnya. Namun tiba-tiba ia berkata, “He, ia tidak sendiri. Ia berjalan bersama kawannya. Atau barangkali adiknya. Rupanya mirip sekali.”

Kedua kawannya yang lain mengangguk-angguk. Anak muda yang dimaksud memang berjalan bersama seorang anak muda yang lain, yang mula-mula sedikit terpisah, namun yang kemudian bergabung kembali.

“Kau mengenal anak muda itu?” bertanya orang yang mula-mula menunjuknya.

Kawan-kawannya menggelengkan kepalanya.

“Tidak.” jawab salah seorang dari padanya.

“Aku senang kepada anak-anak muda itu.”

“Maksudmu? Apakah anak-anak itu akan kau ajak makan bersama kita atau kau ajak pulang atau akan kau beri uang?”

Orang itu tertawa. Katanya, “Kita buat anak itu menjadi bahan.”

“Bahan?”

“Bukankah kita sepakat untuk membuat keributan? Kita bawa anak itu ke dekat perbatasan kota. Kemudian anak ini kita bunuh dan kita lemparkan kepada para prajurit yang bertugas. Jika prajurit-prajurit ku mengejar kita, kita akan membunuh mereka pula. Bukankah begitu? Bukankah kita akan membiarkan seorang dari mereka hidup dan mengenal ciri-ciri perguruan kita. Sehingga dengan demikian, Singasari akan menyadari, bahwa sebuah perguruan yang besar telah memusuhinya untuk jangka waktu yang panjang, maka perguruan itu akan menghimpun rakyat yang menyadari keadaannya dan menumbangkan kekuasaan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka melihat kedua anak muda itu berjalan perlahan-lahan menyusuri jalan kota yang sedang diliputi oleh suasana berkabung.

“Marilah kita ikuti anak yang malang itu, karena tiba-tiba saja ia telah diterkam oleh bahaya maut. Tidak seorang pun yang dapat menolak nasib, yang telah menggerakkan hati kita untuk memilihnya menjadi korban yang pertama, karena korban-korban berikutnya akan berjatuhan.”

Ketiganya pun kemudian berjalan mengikuti kedua anak muda yang mereka sebut sebagai anak-anak muda yang malang, yang tiba-tiba saja telah diterkam oleh nasib buruk.

Semakin lama ketiga orang itu menjadi semakin dekat, sehingga mereka mendengar pembicaraan kedua orang anak-anak muda itu.

“Marilah kita kembali.” ajak yang muda.

“Kita belum mengelilingi kota ini seluruhnya.” jawab yang lebih tua.

“Bukankah ayah berpesan, agar kita segera kembali? Upacara penyelenggaraan jenazah itu sudah akan dilakukan dan sebaiknya kita sudah berada di halaman istana.”

Yang tua termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Tetapi kita akan menempuh jalan yang lain. Bukan jalan yang kita lalui pada saat kita pergi dari istana sampai ke tempat ini.”

Yang muda pun mengangguk-angguk.

Ketiga orang yang dengan sengaja ingin menimbulkan kekacauan itu mengikutinya saja. Mereka mencari kesempatan untuk membujuk anak-anak itu pergi keperbatasan kota.

Ketika kedua anak muda itu tiba-tiba berhenti dan termangu-mangu maka tahulah ketiga orang yang mengikutinya bahwa anak itu menjadi bingung. Mereka tidak mengetahui, jalan yang manakah yang menuju keistana Singasari.

Salah seorang dari ketiga orang yang mengikutinya itu pun kemudian mendekatinya sambil bertanya, “He anak muda, Apakah ada yang sedang kau cari?”

Anaka muda itu memandang orang yang bertanya kepadanya dengan heran, karena ia merasa sama sekali belum pernah mengenalnya.

“Kau tentu belum mengenal aku.” berkata orang itu, “Karena aku pun belum pernah mengenal kalian. Tetapi aku dapat melihat bahwa kalian agaknya sedang kebingungan. Apakah kau orang baru di kota ini?”

“Kami bukan orang baru di kota ini.” jawab yang lebih tua, “Kami adalah anak padesan, yang saat ini mengikuti ayah ke istana, karena di istana ada seorang puteri yang wafat.”

Orang yang mengikutinya itu mengangguk-angguk. Lalu, “Bukankah sedang mencari jalan ke istana?”

“Darimana kau tahu?”

“Menilik sikapmu. Kau bingung?”

“Ya. Kami agak bingung. Jika kami tidak menemukan jalan ke istana, kami akan menempuh jalan pada saat kami meninggalkan istana pergi menyusuri jalan sampai ke tempat ini.”

“Apakah kau masih ingat jalan yang baru saja kau lalui sampai ke tempat ini?”

“Tentu masih ingat.”

“Berjalan sajalah terus. Bukankah kau ingin melihat lebih banyak dari kota Singasari?”

“Ya.”

“Berjalanlah mengikuti jalan ini. Jika kau sampai ke simpang tiga, kau berbelok saja kekiri, kemudian sekali lagi kau belok ke kiri.”

Kedua anak-anak muda itu termangu-mangu. Kemudian yang lebih tua bertanya, “Apakah kau tidak keliru. Menilik arah dari letak istana itu, jalan yang tunjukkan menjadi semakin jauh dari tujuan.”

Orang itu tertawa, “Kami adalah penghuni kota ini. Sudah tentu kami mengenal setiap lorong dengan baik.”

Anak yang lebih tua itu menengadahkan wajahnya memandang kelangit. Gumamnya, “Bukan jalan itu.”

Ketiga orang yang mencoba menunjukkan jalan itu saling berpandangan sejenak. Mereka merasa heran bahwa anak-anak muda itu tidak mau mempercayainya.

“Kenapa kau tidak percaya kepada kami.” bertanya salah seorang dari ketiganya.

“Bukan maksudku tidak percaya Ki Sanak. Tetapi kami merasa yakin bahwa jalan yang kau tunjukkan adalah salah. Mungkin kalian bertiga adalah penduduk kota ini. Tetapi suatu ketika kalian telah menjadi bingung.”

Seorang di antara ketiga orang itu tiba-tiba membentak, “Jangan gila anak-anak muda. Kau membuat kami marah. Kami ingin berbuat baik terhadap kalian, tetapi kalian justru menghina kami. Kau sangka bahwa kami orang-orang pikun yang sudah tidak tahu kiblat?”

“Bukan. Sama sekali tidak. Tetapi apa boleh buat. Kami akan mengambil jalan lain. Menurut perhitunganku, kami berada di sebelah Timur istana. Jadi kami harus berjalan terus ke Selatan. Itu benar. Tetapi kami harus berbelok justru ke kanan, dan sekali lagi ke kanan. Itu arahnya.”

He, kau sekarang menghadap kemana?”

“Ah, mudah sekali. Lihatlah matahari.”

Ketiga orang itu termenung sejenak. Namun salah seorang di antara mereka tidak sabar lagi. Katanya, “Baiklah. Kau anak-anak muda yang cukup cerdas. Tetapi aku tidak peduli kemana kalian akan pergi. Kalian harus berjalan menurut arah yang kami tunjuk.”

“Kenapa? Sebaiknya kita tidak usah ribut. Aku berterima kasih bahwa Ki Sanak berusaha menunjukkan jalan bagi kami. Tetapi anggaplah bahwa kami tidak pernah bertemu. Biarlah kami memilih jalan kami sendiri meskipun kami harus tersesat. Sejauh-jauhnya kami akan tersesat sampai ke gerbang kota. Di gerbang kota kami akan dapat bertemu dengan dua atau tiga orang prajurit yang dapat membetulkan arah perjalanan kimi.”

“Persetan.” geram salah seorang dari ketiganya. “Ikuti kami.”

“Kenapa?”

“Aku tidak mempersoalkan jalan ke istana lagi. Tetapi kami memerlukan kalian berdua. He, siapa nama kalian?”

“Apakah keperluan kalian dengan kami?” bertanya anak muda yang lebih tua.

“Kau tidak usah bertanya. Sebut lebih dahulu namamu.”

Kedua anak muda itu justru menjadi semakin curiga. Karena itu maka yang tua menjawab, “Kalian tidak perlu mengetahui namaku. Aku tidak tahu hubungan apakah yang sudah terjadi di antara kita sekarang. Karena itu, maka nama kami tidak ada gunanya bagi kalian. Kecuali jika persoalan yang ada di antara kita menjadi jelas.”

“Gila.” geram salah seorang dari ketiga orang yang sengaja ingin menumbuhkan keributan itu. “Aku tidak peduli lagi nama kalian. Sekarang ikutlah kami.”

“Maaf Ki Sanak, kami harus segera kembali ke istana.”

Tiba-tiba saja kedua orang yang telah berdiri di arah yang berlainan. Salah seorang berkata, “Kalian tidak dapat menolak perintah kami.”

Kedua anak muda itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian yang muda berkata, “Kalian tidak akan dapat memaksa kami. Jika kami berteriak, maka orang-orang di sekitar tempat ini tentu akan tertarik perhatiannya.”

Salah seorang dari ketiga orang itu tertawa. Katanya, “Sebelum kau sempat berteriak, dadamu sudah sobek jika kau ingin membuat keributan.”

“Tetapi orang-orang akan beramai-ramai menangkap kalian bertiga.”

“Mereka akan menyesal, karena mereka akan mati seperti kau.”

“Prajurit-prajurit yang meronda akan berdatangan.”

“Kami sudah hilang dari daerah ini. Cepat sekali membunuh kalian berdua. Dan cepat sekali untuk menghilangkan jejak. Nah, sekarang jangan membantah. Ikutlah kami.”

Yang tua menggelengkan kepalanya. Katanya, “Jangan memaksa kami berteriak. Sebenarnya kami akan berteriak.”

“Gila.” yang paling tua di antara tiga orang itu berkata, “Kita bunuh saja mereka di sini. Kemudian kita berlari dan bersembunyi di tempat yang sudah kita siapkan itu. Kawan kita tentu akan memberikan tempat perlindungan yang sangat baik jika kita tidak sempat keluar kota.”

“Ki Sanak.” berkata anak muda yang lebih tua, “Apa salah kami, maka kalian akan membunuh kami.”

“Kalian tidak mau mengikuti perintahku, jika kalian tidak membantah, nasib kalian tidak akan terlampau jelek.”

“Mungkin jauh lebih buruk. Di sini kami akan segera mendapat pertolongan.” anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi sebaiknya kita tidak saling mengganggu. Kota ini akan menjadi kacau, justru pada saat yang penting sekarang. Kita wajib bersama-sama berkabung atas wafatnya tuan puteri Ken Dedes.”

“Persetan dengan Ken Dedes. Aku tidak berkepentingan atas kematiannya. Apabila kemudian timbul kekacauan karena kematianmu, itulah tujuan kami yang utama.”

Tiba-tiba saja wajah anak-anak muda itu menjadi merah. Yang muda tidak dapat menahan hati lagi dan berkata, “Sekarang kami menjadi jelas. Jika demikian, kami akan segera minta bantuan untuk menangkap kalian bertiga, karena kalian dengan sengaja akan menimbulkan kekacauan.”

Orang-orang itu justru tertawa. Katanya, “Setiap usahamu akan mempercepat saja kematianmu. Pasrahlah agar kalian mati dengan baik.”

Sejenak suasana menjadi tegang. Beberapa orang lain yang lewat beberapa langkah dari mereka yang sedang bertengkar itu sama sekali tidak mengetahui bahwa bahaya maut sedang mengancam kedua anak-anak muda itu.

Namun, sejenak kemudian jawaban anak-anak muda itu justru mengejutkan ketiga orang yang akan membunuhnya. Yang tua di antara kedua anak muda itu menjawab, “Ki Sanak. Kami tidak mempunyai sangkut paut dengan Ki Sanak. Kebetulan saja kita berjumpa. Dan aku pun tahu, kebetulan saja kalian memilih kami berdua untuk menjadi korban usaha kalian mengacaukan suasana berkabung sekarang ini. Tetapi dalam keadaan yang kebetulan itu aku tetap pada pendirian yang pernah diberikan oleh ayahku kepadaku. Aku tidak mencari musuh dimana pun juga. Tetapi aku pun tidak mau mati sambil menyilangkan tangan di dada.”

“He.” wajah ketiga orang yang akan membunuhnya itu menjadi merah, “Jadi apa maumu?”

“Sebagai seorang laki-laki, aku memilih mati dengan jantan. Apakah dengan demikian kematian itu akan semakin cepat atau lambat. Aku akan berusaha menyelamatkan diri, bagaimanapun juga caranya. Melawan, berteriak atau apa saja.”

Ketiga orang itu tertawa. Yang seorang berkata di antara derai tertawanya meskipun mengandung nada kemarahan, “Aku cincang kau menjadi kepingan tulang yang akan berserakan di sepanjang jalan kota ini.”

Sekali lagi jawab yang didengarnya adalah mengejutkan sekali, “Itu lebih baik. Setiap orang akan mempercakapkan kami berdua.”

“Persetan.” tiba-tiba yang paling tua di antara ketiga orang itu membentak, “Kita bunuh saja anak itu sekaligus. Kita pukul dadanya, dan kita remukkan iganya.”

Dua orang yang lain tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja keduanya mendekati anak-anak muda itu.

“Kita bunuh dengan cepat, dan kita akan segera hilang di lorong-lorong sempit. Mereka tidak akan menemukan tempat persembunyian kita meskipun prajurit di seluruh Singasari akan dikerahkan.”

Kedua orang yang lain tetap berdiam diri. Namun tiba-tiba mereka mempersiapkan diri untuk meremukkan tulang-tulang iga ke dua anak-anak muda itu.

Tetapi, sekali lagi ketiga orang itu terkejut. Kedua anak muda itu benar-benar tidak menjadi takut karenanya. Bahkan tiba-tiba saja mereka berloncatan dan herdiri beradu punggung. Menilik sikapnya, maka kedua anak muda itu benar-benar akan melawan. Bukan saja karena mereka ingin bersikap jantan, tetapi menilik sikap tangan dan kakinya, keduanya mempunyai bekal untuk berbuat demikian.

“Gila.” yang tertua dari orang-orang yang akan membunuh kedua anak muda itu pun menggeram. “Bunuh mereka. Cepat.”

Tidak ada waktu terbuang lagi. Kedua orang yang lain pun segera meloncat, langsung memukul ke arah dada kedua anak-anak muda itu.

Tetapi ternyata anak-anak muda itu tidak membiarkan diri mereka diremukkan oleh serangan lawannya. Mereka pun dengan lincahnya meloncat ke arah yang berbeda, sehingga dengan demikian serangan itu sama sekali tidak dapat menyentuh tubuhnya. Bahkan yang lebih muda dari kedua anak-anak muda itu, tidak dapat menahan perasaannya lagi. Ia tidak sekedar menghindarkan diri saja dari serangan itu. Tetapi hampir di luar nalar lawan-lawannya bahwa anak muda itu pun segera meloncat menyerang pula. Ketika kakinya yang sebelah menyentuh tanah saat ia menghindar, maka kaki itu berputar di atas tumitnya dan sebuah loncatan kecil telah mendorong tubuhnya maju mendekati lawannya. Sebuah putaran yang deras mengayunkan kakinya yang lain menghantam ke arah lambung lawannya.

Gerakan itu sangat mengejutkan dan hampir tidak terduga. Dengan demikian, maka lawannya sudah tidak sempat lagi memperhitungkan kemana ia harus mengelak. Karena itu, maka lawannya segera merendahkan diri sambil menangkis serangan itu dengan sikunya.

Ternyata anak muda itu benar-benar cekatan. Ia masih sempat mengurungkan serangan kakinya. Tetapi tiba-tiba saja ia berdiri tegak menghadap lawannya yang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan gerak lawannya yang demikian cepatnya. Dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh lawannya, ia maju selangkah. Tubuhnya menjadi condong kedepan bersama dengan kedua tangannya yang terjulur lurus kedepan. Yang kanan langsung mengarah ke jantung, yang kiri ke ulu hati.

Gerakan itu terlampau cepat bagi lawannya. Ia hanya berhasil menangkis sebuah serangan. Sedang serangan yang lain berhasil menyusup masuk mengenai dada di arah jantung.

Serangan itu benar-benar terasa betapa sakitnya. Rasa-rasanya jantungnya telah berhenti berdentang, dan darahnya terhenti mengalir.

Untunglah, bahwa ia adalah orang yang memiliki daya tahan yang luar biasa. Pengalamannya yang tertimbun di dalam perbendaharaan ilmunya, dan latihan-latihan yang mantap, telah menyelamatkannya. Dadanya tidak pecah oleb serangan itu, dan jantungnya tidak runtuh. Namun ia harus terdorong beberapa langkah surut, dan bahkan dengan sekali berguling ia baru dapat memperbaiki keadaannya.

Sambil menyeringai, ia mulai menyadari keadaannya. Ternyata lawannya bukan sekedar seekor tikus yang mati dengan sekali injak. Kesalahannya yang besar adalah, menganggap anak-anak muda itu korban yang sangat lunak.

Dengan demikian maka orang yang sudah menyadari kesalahannya itu pun segera mencoba memperbaikinya sebelum terlambat sama sekali.

Dalam pada itu, ia pun sempat sekilas melihat kawannya yang berkelahi dengan anak muda yang nampaknya lebih tua dari yang seorang lagi. Ternyata ia pun mengalami nasib yang sama. Bahkan agak lebih parah sedikit, karena kawannya itu sudah terbanting di tanah oleh sebuah dorongan kaki yang keras. Hanya karena pengalamannya yang luas dan ketahanan tubuhnya seperti dirinya sajalah, ia kemudian berhasil meloncat dan berdiri tegak. Tetapi ia masih belum dapat menemukan keseimbangannya yang utuh.

Agaknya anak yang lebih tua itu tidak mau kehilangan ke sempatan. Selagi lawannya belum berhasil menguasai dirinya sebaik-baiknya, ia pun telah meluncur menyerang dengan kakinya yang terjulur lurus, seolah-olah merupakan sebuah lontaran tonggak yang lurus dengan seluruh tubuhnya, mendatar mengarah ke lehernya.

Lawannya itu terkejut bukan buatan. Wajahnya menjadi pucat. Ia hanya dapat melihat serangan itu meluncur dengan derasnya tanpa dapat berbuat sesuatu.

Demikian juga kawannya yang masih berdiri di luar arena. Ia pun terkejut bukan buatan. Ia sadar, bahwa kawannya yang masih belum berhasil menguasai dirinya sepenuhnya itu dikenai serangan yang demikian, maka ia akan mengalami kesulitan yang barangkali tidak akan dapat ditolong lagi.

Karena itu, maka ia pun tidak berpikir lebih panjang lagi. Dengan serta merta ia pun segera meloncat membentur serangan anak muda yang meluncur dengan derasnya itu.

Akibatnya ternyata dahsyat sekali. Benturan itu telah melemparkan kedua belah pihak beberapa langkah surut. Namun karena anak muda itu telah dengan sepenuh tenaga sengaja membenturkan diri, maka ia berada dalam keadaan yang lebih baik. Apalagi ternyata bahwa tenaganya agak lebih kuat dari lawannya yang menganggapnya sasaran yang tidak berarti.

Lawannya, salah seorang dari ketiga orang yang berusaha untuk membunuhnya itu pun terlempar surut. Tetapi keadaannya agaknya tidak terlampau jelek pula. Sambil menyeringai menahan sakit, ia jatuh terguling. Namun dengan sigapnya ia pun berhasil meloncat berdiri dan segera bersiaga menghadapi setiap kemungkinan yang bakal datang.

Apalagi sementara itu, kawannya pun telah berhasil pula memperbaiki keadaannya untuk menghadapi keadaan berikutnya. Menghadapi anak-anak muda yang sama sekali tidak diduga memiliki kemampuan yang luar biasa.

Ternyata anak yang lebih muda itu pun masih juga berdiri tegak ditempatnya. Di luar sadarnya ia tersenyum melihat orang orang yang tidak dikenalnya, dan yang tiba-tiba saja ingin membunuhnya itu terdesak dan bahkan untuk beberapa saat ada dalam kebingungan.

Dalam pada itu, selagi kedua anak-anak muda itu termangu-mangu, maka orang yang paling tua di antara ketiga lawannya itu pun menggeram sambil bertanya, “He, siapakah kalian sebenarnya?”

Yang lebih tua di antara anak-anak muda itu menyahut, “Apakah kau perlu mengetahui siapakah kami?”

“Persetan. Aku harus mengetahui siapakah kalian sebelum kalian mati. Kalian menunjukkan ilmu yang pernah aku kenal sebelumnya.”

“Kalian masih tetap akan membunuh kami?”

“Ya.”

“Itu tidak mungkin. Perkelaian ini telah menarik perhatian. Sebentar lagi tentu ada prajurit yang datang kemari. Lihat di kejauhan orang-orang berlari-larian mendekat. Mungkin mereka ingin melerai. Tetapi agaknya perkelahian yang kita lakukan, yang nampaknya seolah-olah perkelahian antara orang-orang yang berilmu, sekali lagi, hanya nampaknya saja, justru karena kekasaran kita masing-masing telah menjadi ragu-ragu. Tetapi tentu ada di antara mereka yang melaporkannya kepada prajurit Singasari.”

“Aku akan membunuh prajurit-prajurit yang mendekat.”

“Jumlahnya tentu banyak sekali. Di tambah dengan kami berdua.”

“Persetan, siapa kau berdua.”

Sesaat kedua anak muda itu ragu-ragu. Namun kemudian yang tua menjawab, “Kami adalah dua orang bersaudara. Jika kalian memang ingin mengetahui, kami berasal dari padesan. Kami baru saja datang untuk ikut bersama ayah kami menyatakan bela sungkawa atas kematian tuan puteri Ken Dedes.”

“Siapa ayahmu itu, siapa?”

“Namanya Mahendra.”

“Gila. Jadi kau anak Mahendra saudara seperguruan Witantra yang juga disebut Panji Pati-Pati.”

“Ya. Apakah kau sudah mengenal ayahku.”

“Gila. Kalian memang harus dibunuh. Ayahmu ikut bersama Mahesa Agni merobohkan kekuasaan tuanku Tohjaya.”

“Ayahku yang ikut. Bukan aku dan bukan adikku. Jika kau mendendam kepada ayahku, aku akan memanggilnya. Ia berada di istana sekarang bersama pamanda Witantra dan Mahisa Agni. Mungkin pamanda Lembu Ampal ada juga di sana. Jika kau ingin aku dapat memanggil mereka.”

Wajah orang-orang itu menjadi merah padam. Tiba-tiba saja mereka menyadari, bahwa mereka telah terbentur batu yang keras tiada taranya. Anak-anak Mahendra yang mau tidak mau tentu memiliki ilmu ayahnya. Dan ternyata keduanya tidak mengecewakan meskipun belum masak. Tetapi karena kelengahan ketiga orang itu, maka mereka tidak segera dapat berhasil membunuh anak-anak itu.

Namun mereka telah terlanjur melakukannya. Karena itu, mereka tidak dapat lagi menarik diri. Kedua anak-anak muda itu harus mati.

Tetapi pekerjaan itu harus dilakukan dengan cepat, sebelum ada orang lain yang ikut campur di dalam perkelahian vang harus mereka lakukan dan tidak mereka duga sebelumnya akan terjadi.

Demikianlah ketiga orang itu pun segera bersiap. Yang tertua di antara mereka berkata kepada seorang kawannya, “Ikatlah yang tua itu dalam perkelahian. Kami berdua akan membunuh yang muda ini lebih dahulu. Kemudian yang tua itu kita bunuh beramai-ramai. Dengan demikian pekerjaan ini akan segera selesai.”

Kawan-kawannya tidak menjawab. Tetapi mereka pun segera mempersiapkan diri. Dan sejenak kemudian perkelahian pun segera telah mulai lagi.

Yang tua dari kedua bersaudara itu memang menjadi cemas. Adiknya harus bertempur melawan dua orang yang mungkin akan sulit dilawannya. Karena itu, maka katanya kepada adiknya sambil bertempur, “Kita bertempur berpasangan.”

Adiknya tidak bertanya lagi. Ia pun segera menyesuaikan diri, sehingga jarak perkelahian mereka menjadi semakin dekat.

“Tahan yang tua itu.” berteriak salah seorang dari kedua orang yang sedang berkelahi melawan yang muda di antara kedua bersaudara itu.

Tetapi jawabnya, “Aku sudah berusaha.”

Namun usaha itu tidak berhasil. Bahkan dua orang yang bertempur melawan seorang, yang muda di antara kedua bersaudara itu pun tidak berhasil menahan jarak dari keduanya.

Ternyata kedua anak-anak muda itu memang memiliki ilmu yang dapat mereka banggakan. Apalagi ketika mereka kemudian menjadi semakin dekat. Rasa-rasanya ada hubungan yang tidak terpisahkan di antara keduanya. Seakan-akan keduanya telah digerakkan oleh satu otak yang mempergunakan dua tubuh yang berloncatan dengan lincahnya.

Yang tua dari kedua bersaudara itu mendesak semakin dekat. Lawannya tidak mampu menahannya, dan akhirnya batas yang mereka usahakan itu pun dapat dipecahkannya.....
Keduanya pun kemudian bertempur dalam satu lingkaran arena. Keduanya mampu membentuk dinding perlawanan yang seakan-akan tidak akan tertembus meskipun usaha mereka untuk menyerang pun menjadi terbatas. Namun demikian, ternyata kedua anak-anak muda itu adalah anak-anak muda yang sangat berbahaya.

Untuk beberapa saat lamanya mereka bertempur dengan sengitnya. Namun ternyata bahwa tiga orang yang sedang bertempur melawan dua orang anak-anak muda itu, sama sekali tidak mendapat kesempatan. Jangankan membunuhnya, sedang untuk menyentuh kulitnya pun mereka masih belum berhasil.

Dalam kegelapan hati, maka ketiga orang itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka, dengan senjata di tangan. Tetapi mereka masih tetap dalam kesulitan, apalagi ketika kedua anak-anak muda itu telah mencabut kerisnya.

“Senjata ini terlampau pendek.” desis yang muda.

“Apa yang akan kau pergunakan?” bertanya yang tua.

Yang muda tidak menyahut. Namun tiba-tiba saja ia telah mengurai sebuah rantai berwarna putih berkilat-kilat dari bawah ikat pinggangnya sambil berlindung di belakang kakaknya yang herusaha menghalau setiap serangan.

“Baiklah.” berkata yang tua, “Pergunakan senjatamu, lalu setelah rantai itu terurai berikan kerismu kepadaku.”

Yang tua pun kemudian membawa dua bilah keris. Keris yang seolah-olah menjadi merah membara. Sedang yang muda telah mempergunakan sebuah rantai.

Dengan demikian, maka kedua anak-anak muda itu pun seakan-akan menjauhi yang satu dengan yang lain Namun dalam pada itu, keduanya masih tetap terikat dalam satu pasangan yang tidak terpisahkan.

Dengan rantai di tangannya, yang muda dari kedua bersaudara itu menjadi semakin lincah. Ujung rantainya berputaran dan kadang-kadang mematuk seperti kepala seekor ular.

“Gila.” teriak salah seorang dari ketiga lawannya.

Sementara perkelahian itu menjadi semakin seru, seperti yag dikatakan oleh kedua bersaudara itu, bahwa mereka telah menarik perhatian orang-orang yang melihatnya. Bahkan kemudian telah timbul keributan di antara mereka. Meskipun mereka tidak berani melerainya, namun beberapa orang yang memiliki sedikit keberanian, berusaha untuk mendekat dan di luar sadar, mereka telah membuat semacam lingkaran mengelilingi perkelahian itu, meskipun lingkaran itu terlampau luas.

“Apa yang terjadi.” desis salah seorang dari mereka.

“Kami tidak tahu.” jawab yang lain.

Dan tiba-tiba saja salah seorang berteriak, “He Ki Sanak Kenapa kalian berkelahi?”

Tiba-tiba saja yang muda di antara kedua anak Mahendra itu menyahut, “Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja mereka menyerang.”

“Persetan.” desis lawannya.

“Panggil prajurit.” teriak anak yang muda itu.

“Gila.” teriak lawannya pula. Bahkan kemudian, “Siapa yang berani memanggil prajurit, aku patahkan lehernya.”

“Jangan takut.” teriak yang muda pula, “Jika prajurit itu datang, ketiga orang ini akan ditangkap dan dihukum.”

Tetapi orang-orang itu masih juga termangu-mangu. Mereka bagaikan terpukau melihat perkelahian yang luar biasa, yang hampir tidak dapat mereka ketahui ujung dan pangkalnya.

Meskipun demikian, tetapi ada juga beberapa orang yang berpikir dengan baik. Agaknya memang lebih baik menyampaikan persoalan itu kepada mereka yang bertanggung jawab. Apalagi pada saat Singasari sedang berkabung.

Karena itulah, maka satu dua orang di antara mereka itu pun segera berlari-lari meninggalkan arena itu.

“Gila.” teriak salah seorang dari ketiga orang itu, “Siapa yang melaporkan kepada prajurit Singasari, akan aku cekik dan aku cincang di tengah jalan.”

Tetapi lawannya yang muda menyahut, “Bagaimana kau akan mencekik dan mencincang? Mereka sudah lari dan kau masih berada di sini bersamaku.”

“Gila.” kemarahan ketiga orang itu telah memuncak. Tetapi mereka tidak dapat memaksakan keadaan. Kedua anak-anak muda itu benar-benar memiliki kemampuan yang tidak dapat ditembusnya betapapun mereka berusaha. Bahkan kemudian ketiga orang itu sudah bertempur dengan kasar dan liar.

Akhirnya ketiga orang itu harus mengakui, bahwa mereka memang tidak akan dapat membunuh kedua anak-anak muda itu. Mereka agaknya telah salah pilih. Kedua pemuda itu disangkanya tidak akan dapat berbuat apapun juga sehingga dengan mudahnya keduanya akan mereka bunuh dan mereka lemparkan kedepan para prajurit pengawal di pintu gerbang. Jika prajurit-prajurit itu ingin menangkap mereka bertiga, maka prajurit-prajurit itu pun akan mereka bunuh pula, karena ketiga orang itu menganggap dirinya mampu melawan lima bahkan sepuluh orang prajurit-prajurit kecil yang bertugas di pintu gerbang dalam keadaan damai dan tenang.

Tetapi ternyata bahwa terhadap kedua anak-anak muda itu pun mereka tidak sanggup berbuat lebih banyak daripada bertempur tanpa akhir.

Kenyataan yang tidak mereka ingkari itu gagaknya telah mendorong orang tertua di antara mereka untuk mengambil sikap. Jika benar-benar beberapa orang prajurit datang membantu kedua anak-anak muda itu, keadaannya tentu akan berbeda daripada mereka harus melawan sepuluh orang prajurit-prajurit dungu.

Karena itu, maka sejenak kemudian terdengar isyarat dari mulutnya. Isyarat yang hanya dapat dimengerti oleh mereka bertiga. Tetapi yang maksudnya dapat diduga, bahwa mereka akan segera menarik diri dari arena.

Ternyata dugaan itu benar. Ketiganya pun tiba-tiba segera meloncat urut dan dengan serta merta meninggalkan arena perkelahian menerobos lingkaran orang-orang yang melihat perkelahian itu dari jarak yang agak jauh.

Yang muda dari kedua bersaudara itu akan mengejarnya. Tetapi kakaknya menahannya. Katanya, “Sudahlah. Kita tidak tahu siapakah yang berdiri di belakang mereka. Kita akan menyerahkan kepada yang berkuajiban, agar persoalan ini dapat diselesaikan. Setidak-tidaknya peristiwa ini dapat menjadi isyarat bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan oleh kekuasaan yang ada di Singasari sekarang ini.”

Dalam pada itu, orang yang semula berdiri melingkari arena meskipun pada jarak yang agak jauh, tiba-tiba telah berpencaran. Mereka berlari-lari menyibak, memberikan jalan kepada tiga orang yang berlari-larian sambil membawa senjata yang teracu.

“Tidak seorang pun yang berani menahan mereka.” desis yang muda dari kedua orang bersaudara itu.

“Sudah barang tentu. Mereka sudah melihat kemampuan ketiga orang itu.” jawab yang tua.

Sejenak keduanya termangu-mangu melihat beberapa orang yang menyibak dan kemudian berdiri mematung memandang tiga orang yang berlari semakin jauh itu.

“Kakang.” bertanya yang muda, “Benarkah tiga orang itu mampu melawan prajurit-prajurit Singasari?”

“Mungkin.”

“Apakah prajurit-prajurit Singasari itu terlampau lemah bagi mereka? Jika mereka gentar kepada prajurit-prajurit yang bertugas, mereka tidak akan berani berbuat demikian di dalam kota ini Dan bukankah mula-mula mereka sudah berkata bahwa mereka akan membunuh prajurit-prajurit yang mendekat ketika kita mengatakan bahwa akan ada prajurit-prajurit yang tertarik kepada perkelahian ini?”

Yang tua menarik nafas dalam-dalam. Ia masih berdiri ditempanya sambil membawa dua bilah keris.

“Ini kerismu.” katanya sambil menyerahkan keris itu. Yang muda itu pun segera menerima kerisnya dan menyarungkannya setelah ia melingkarkan rantainya kembali di bawah ikat pinggangnya.

“Apakah kita akan kembali ke istana sekarang?” bertanya yang muda.

Kakaknya tidak menjawab. Ia berdiri seolah-olah membeku memandangi orang-orang yang masih berada di tempatnya masing-masing. Orang-orang yang memandang kedua anak muda itu dengan ragua pula.

Namun sejenak kemudian, terdengar derap beberapa ekor kuda mendekat. Sejenak kemudian mereka pun melihat sekelompok prajurit berkuda, mendatangi arena perkelahian yang sudah menjadi beku itu.

Orang-orang yang sudah menyibak pada saat ketiga orang yang berkelahi itu berlari, semakin menyibak pula memberikan jalan kepada sekelompok prajurit berkuda yang lewat.

Beberapa langkah dari kedua anak-anak muda itu pun prajurit-prajurit itu berhenti. Sejenak mereka memandang kedua anak-anak muda itu. Baru kemudian pemimpin dari sekelompok prajurit itu bertanya, “Kaukah yang berkelahi?”

“Ya.” jawab yang tua, “Kami tiba-tiba saja diserang oleh orang-orang yang tidak kami kenal.”
Prajurit-prajurit itu mengerutkan keningnya. Pemimpin mereka pun meloncat turun sambil berkata, “Aneh. Apakah kau benar-benar tidak kenal mereka itu?”

“Ya. Baru kali ini aku bertemu dengan mereka bertiga.”

“Jadi mereka bertiga?”

“Ya.”

“Berkatalah sebenarnya, barangkali kau dan mereka bertiga sudah saling mendendam, atau saling bermusuhan sejak lama. Kemudian kalian bertemu dalam suasana yang seharusnya tenang karena kita bersama-sama sedang berkabung.”

“Kami berdua sama sekali tidak mengenal mereka.”

Prajurit-prajurit yang lain pun kemudian berloncatan turun pula. Mereka tetap berada di tempatnya. Namun nampak pada wajah mereka, bahwa mereka pun tidak dapat mempercayai kata-kata kedua anak-anak muda itu.

“Anak-anak muda.” berkata pemimpin prajurit itu, “Kami tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah. Seandainya kalian sudah saling mendendam dan bermusuhan sejak lama, tetapi kalian memang tidak bersalah, kami tidak akan berbuat apa-apa. Namun dengan demikian keteranganmu akan mempermudah kami, sikap apakah yang harus kami ambil.”

Kedua anak-anak muda itu menjadi bingung. Yang muda dari keduanya, yang agaknya memang lebih banyak berbicara itu pun kemudian berkata, “Sebenarnya memang aneh. Kami pun merasa aneh bahwa tiba-tiba saja kami diserang oleh orang-orang yang tidak kami kenal. Jika sekiranya kami mengenalnya, tentu kami akan dengan senang hati menyebutnya agar mereka ditangkap. Apakah keberatan kami mengatakan yang sebenarnya?”

“Banyak sekali kemungkinan yang dapat memaksa kalian untuk berbohong. Mungkin kalian termasuk orang-orang yang memang bernasib buruk karena kalian terlibat dalam tindakan yang melanggar ketentuan pemerintah Singasari. Tetapi ketiga orang itu berhasil meloloskan diri.”

“Jadi, maksud tuan, kami telah merampok mereka di tengah kota ini?”

“Bukan sejauh itu. Tetapi mungkin serupa itu.” jawab pemimpin prajurit itu, “Atau tindakan lain yang melibatkan kalian dalam pelanggaran sehingga kalian tidak dapat berterus terang, karena jika orang-orang itu tertangkap, kalian akan tersangkut juga.”

“Gila.” geram yang muda, “Kamilah yang telah diserang. Mungkin mereka memang akan merampok kami meskipun kami tidak membawa apapun juga.”

“Anak-anak muda. Banyak keterangan yang dapat kau berikan. Tetapi untuk pengusutan selanjutnya, kalian berdua terpaksa kami tahan. Tidak ada jalan lain yang dapat kami tempuh. Jika ternyata kalian tidak bersalah, maka kalian akan segera kami bebaskan.”

Kedua anak-anak muda itu termangu-mangu. Namun kemudian yang tua berkata lebih sareh, “Tuan. Kami adalah orang-orang yang memang kurang beruntung. Kami telah mengalami sesuatu yang tidak pernah kami duga sebelumnya, bahwa di tengah-tengah kota seperti ini kami harus berkelahi. Apalagi kemudian justru kamilah yang akan ditangkap setelah penyerang-penyerang kami lari meninggalkan kami. Tuan, jika orang-orang itu tidak merasa bersalah, mereka tidak akan lari tunggang langgang ketika tuan datang kemari.”

“Bukan aku tidak mempercayai keteranganmu. Tetapi baiklah kalian ikut bersama kami. Kalian akan didengar segala keterangan tentang diri kalian dan tentang orang-orang yang kau katakan lari itu.”

“Aku sama sekali tidak dapat mengatakan apapun tentang mereka, kecuali bahwa kami telah mereka serang tanpa sebab.”

“Anak-anak muda.” berkata pemimpin prajurit itu, “Jangan menolak. Kami mempunyai wewenang untuk melakukannya.”

“Tetapi itu melanggar keadilan. Kami merasa diperlakukan tidak semestinya di sini.” bantah yang muda. Namun sebelum ia melanjutkan kata-katanya, yang tua telah menggamitnya dan berkata, “Tuan. Sebaiknya tuan percaya saja kepada keterangan kami. Kami tidak akan ingkar untuk memberikan keterangan. Kemana kami harus pergi, kami akan pergi. Kepada siapa kami harus menghadap, kami akan menghadap. Tetapi jangan menangkap kami seperti menangkap dua orang penjahat yang tersesat ke dalam kota. Barangkali tuan dapat bertanya kepada orang-orang yang masih ada di sekitar tempat ini, dan memandang kami dengan penuh pertanyaan itu. Apakah yang telah mereka lihat sebenarnya.”

“Jangan membantah.” pemimpin prajurit itu tiba-tiba saja bersikap lebih keras, “Kami menjalankan tugas kami.”

“Kami adalah orang-orang yang dilindungi oleh ketentuan hukum.” sahut yang muda, “Tuan tidak dapat memperlakukan kami seperti itu. Lebih baik tuan memerintahkan kepada kami, kemana kami harus pergi. Dan seperti yang dikatakan oleh kakakku, kepada siapa kami harus menghadap.”

Pemimpin prajurit itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Apakah kalian dapat kami percaya?”

“Jika pada saatnya kami tidak menghadap, tuan dapat datang menangkap kami dan memenggal kepala kami.”

“Jangan main-main seperti kanaka. Kemana kami harus menangkap kalian?” ia berhenti sejenak, lalu, “Sebaiknya, marilah, jangan membantah. Kau dapat menyebut seribu macam nama tempat. Tetapi kami belum pernah mengenal kalian di sini. Apakah kalian orang-orang Singasari?”

“Kami memang orang-orang Singasari, tetapi kami bukan orang dari kota raja ini.”

Para prajurit itu tiba-tiba melangkah maju. Sedang pemimpin nya berkata, “Jika kalian masih saja banyak bicara, kami akan menangkap kalian dengan kekerasan. Barangkali kau dapat berkelahi melawan tiga orang dan memaksa mereka lari. Tetapi kalian tidak akan dapat berbuat demikian.”

Darah kedua anak-anak muda itu rasa-rasanya akan mendidih. Tetapi yang tua masih dapat mengendalikan dirinya, sedang yang muda berdesis, “Tiga orang itu mengatakan, bahwa mereka tidak takut terhadap prajurit-prajurit Singasari, apakah kita akan takut kepada mereka.”

“Tetapi mereka mempunyai wewenang untuk melakukan sesuatu tindakan.”

“Tidak tanpa sebab.” sahut yang muda, “Kami tidak bersalah.”

Sejenak keduanya termangu-mangu. Sedang pemimpin prajurit yang akan menangkapnya telah berkata pula, “Menyerahlah. Kalian harus memberikan senjata kalian.”

“Kami tidak membawa senjata.”

“Keris itu.”

“Ah.” yang tua menjawab, “Ini keris pusaka, pemberian ayah. Aku tidak dapat memberikan kepada orang lain.”

“Kalian berkeras.”

Yang muda menjadi tidak sabar lagi. Dengan matanya ia menghitung jumlah prajurit berkuda itu.

“Hanya enam orang.” desis yang muda.

Yang tua menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya keenam pra jurit itu bukan prajurit pilihan. Mereka petugas yang setiap hari mengawasi keadaan dan ketenangan kota raja. Mereka agaknya bukan prajurit-prajurit pengawal, atau prajurit yang biasa berada di medan-medan pertempuran.

Sejenak anak-anak muda itu termangu-mangu. Sementara pemimpin prajurit itu mendesaknya lagi, “Serahkan kerismu. Atau kami akan melakukan kekerasan.”

“Tuan harus berpikir sebaik-baiknya. Tuan adalah petugas-petugas yang dapat menimbang baik dan buruk, bukan sekedar pelaksana tanpa pertimbangan apapun juga.”

“Persetan.” prajurit-prajurit itu menjadi marah. Mereka benai benar telah kehilangan kesabaran.

Orang-orang yang menyaksikan dalam lingkaran yang mengelilingi perbantahan itu menjadi termangu-mangu. Ada di antara mereka yang menyesalkan sikap anak-anak muda yang berani itu. Tetapi ada pula yang kecewa melihat anak-anak yang tidak bersalah itu harus ditangkap.

Seorang yang sudah berambut putih, tidak dapat membiarkan peristiwa yang tidak dikehendaki terjadi. Karena itu maka ia pun melangkah maju mendekati kedua anak-anak muda itu sambil berkata, “Angger, sebaiknya angger tidak membantah. Meskipun angger tidak bersalah, tetapi sebaiknya angger mengikutinya saja.”

Kedua anak-anak muda itu termangu-mangu, namun, “Apakah itu adil kakek. Aku bukan orang kota raja ini. Tetapi aku tidak mau diperlakukan tidak adil seperti ini.”

“Soalnya bukan adil atau tidak adil. Tetapi kalian wajib mentaatinya agar persoalan ini segera dapat dijernihkan. Bukan sebaliknya bahkan menjadi semakin rumit.”

“Sudah aku katakan.” jawab yang muda, “Aku akan pergi kemana aku harus pergi. Aku akan menghadap kepada siapa aku harus menghadap. Tetapi tidak ditangkap seperti penjahat.”

“Kalian tidak akan ditangkap seperti penjahat. Tetapi kalian akan diajak bersama-sama pergi ketempat mereka bertugas.”

Ketika yang tua sedang berpikir-pikir, yang muda berkata, “Tidak. Kami tidak akan pergi bersama-sama. Kami akan pergi kepada ayah kami lebih dahulu, baru kami akan menghadap kemana kami harus menghadap.”

“Jangan begitu anak muda.” berkata orang itu itu, “Biarlah nanti ayahmu diberitahu. Di manakah ayahmu sekarang? Di rumah atau di kota ini.”

“Ayah juga berada di kota ini.”

“Nah, sebaiknya kalian pergi saja mengikutinya. Bukankah saat ini kota dan seluruh Singasari sedang berkabung?”

“Jangan korbankan kami.” yang muda tidak sabar lagi, “Kami tetap pada pendirian kami.”

“Persetan.” pemimpin prajurit itu marah pula, “Kami akan menangkap kalian dengan kekerasan. Jika semula kami akan membawa kalian dengan baik, tetapi karena kalian melawan, maka kalian akan kami bawa dengan tangan terikat.”

“Tidak.” Yang muda menggeram, “Kami mempunyai harga diri. Dan kami tidak mau rasa keadilan kami tersinggung.”

“O, anak-anak nakal.” desis orang tua, “Mungkin peraturan di sini agak lebih tertib dari peraturan yang berlaku di padukuhanmu. Anak-anak, jangan membantah lagi ngger.”

“Aku tetap tidak mau diperlakukan seperti itu.”

“Itu tidak apa-apa. Orang yang melihat pun tidak akan segera mempunyai prasangka buruk terhadap kalian.”

“Kami tidak akan pergi.”

“Pergilah.” berkata pemimpin prajurit itu kepada orang tua yang mencoba meredakan kekerasan hati kedua anak-anak muda itu, “Biarlah aku mengurusnya.”

Tanpa diperintahkan lagi, maka prajurit-prajurit itu menyerahkan kendali kudanya kepada kawan-kawannya, sehingga empat orang di antara mereka melangkah maju di sebelah pemimpinnya.

“Tangkap mereka.” berkata pemimpin prajurit itu. Keempat prajurit itu pun segera melangkah mendekati kedua anak yang merasa dirinya tidak bersalah.

“Bukan maksud kami melawan prajurit-prajurit Singasari.” berkata yang tua, “Tetapi kami menuntut diperlakukan dengan adil.”

Keempat prajurit Singasari itu pun segera mengambil tempat. Berlima dengan pimpinan kelompok kecil itu, mereka telah mengepung kedua anak-anak muda yang berdiri termangu-mangu. Tetapi karena para prajurit itu agaknya benar-benar akan bersikap kasar, maka seperti pada saat mereka menghadapi ketiga orang yang tibaa saja akan membunuhnya, mereka pun segera berdiri beradu punggung.

“Anak dungu.” berkata pemimpin prajurit itu, “Jika kalian benar-benar menghendaki sikap kasar, kami akan bersikap kasar. Tetapi jika terjadi sesuatu dengan kalian, itu adalah salah kalian sendiri. Cobalah sebut namamu, agar jika terjadi sesuatu, kalian sudah dikenal nama dan barangkali tempat tinggalmu.”

Kedua anak-anak muda itu tidak menyahut.

“Cepat, sebut namamu.”

Keduanya masih ragu-ragu. Tetapi tiba-tiba yang tua berkata, “Memang ada baiknya. Jika aku mati di sini karena aku ingin diperlakukan adil, sebut namaku Mahisa Murti. Dan ini adalah adikku, Mahisa Pukat.”

“Hem, nama yang sangat baik. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tetapi tingkah laku kalian benar-benar tingkah laku yang tercela. Dari sikap kalian aku dapat mengambil kesimpulan, bahwa kalianlah yang telah membuat keributan.”

“Jika kami membuat keributan, kami tidak akan tinggal di tempat kami, ketika tuan-tuan datang.” yang muda menjawab, “Tetapi ketiga orang itulah yang lari tunggang langgang ketika sekelompok prajurit berkuda datang ketempat ini.”

“Mereka tidak tahu siapakah yang datang. Tetapi agaknya mereka sekedar merasa mendapat kesempatan untuk lari dan agaknya kalian tidak sempat untuk melenyapkan diri karena kami tiba-tiba saja sudah ada di hadapan kalian.”

Yang muda menggeram. Kemarahannya sudah tidak dapat ditahankannya lagi, sehingga ia pun berteriak, “Tangkaplah kami jika kalian memang ingin bertindak kasar dan tergesa-gesa.”

Tidak ada jawaban keempat prajurit dan pemimpinnya itu pun melangkah semakin mendekati kedua orang itu dari arah yang berbeda-beda. Tetapi mereka sama sekali tidak menarik senjata mereka dari sarungnya.

Kedua anak-anak muda itu pun menjadi ragu-ragu. Jika prajurit-prajurit itu menarik pedang mereka, maka anak-anak muda itu pun akan menarik senjata mereka pula. Tetapi prajurit-prajurit itu agaknya akan menangkap mereka dengan tangan.

Dalam keadaan yang semakin tegang itu, tiba-tiba terdengar seekor kuda berderap dengan lajunya. Namun ketegangan dan kerumunan orang-orang yang melingkari kedua orang yang akan ditangkap itu telah menarik perhatiannya.

Namun sebelum terjadi sesuatu dengan kedua anak-anak muda itu, terdengar orang yang berada di punggung kuda itu memanggil, “Mahisa Murti, he Mahisa Pukat. Apakah yang terjadi?”

Semua orang berpaling kepada penunggang kuda itu yang dengan tergesa-gesa meloncat turun.

“Paman Witantra.” teriak Mahisa Pukat, “Nah, cobalah paman mengadili sikap prajurit-prajurit ini.”

Prajurit-prajurit itu pun termangu-mangu sejenak. Mereka mengenal Witantra sebagai salah seorang yang sangat disegani, bukan saja oleh setiap prajurit Singasari, tetapi juga oleh Maharaja dan Ratu Angabhaya, karena kedudukannya, dan karena beberapa kelebihan yang dimilikinya dan jarang ada duanya. Witantra memiliki nama yang hampir sejajar dengan Mahisa Agni, Hanya karena Mahisa Agni adalah saudara laki-laki tuan puteri Ken Dedes, maka kedudukan Mahisa Agni nampaknya agak lebih tinggi dari Witantra.

Karena itu prajurit itu pun tercenung beberapa saat di tempatnya.

Witantra berjalan mendekati kedua anak-anak muda itu sambil menuntun kudanya. Dengan ragu-ragu ia pun bertanya sekali lagi, “Apakah yang terjadi?”

Mahisa Pukat tidak menunggu lebih lama lagi. la pun segera mengatakan apa yang dialaminya bersama kakaknya Mahisa Murti.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Di pandanginya pemimpin prajurit yang akan menangkap kedua anak-anak muda itu. Kemudian ia pun bertanya, “Kaukah yang memimpin prajurit-prajurit ini.”

Pemimpin prajurit itu mengangguk sambil menjawab, “Ya, Ki Panji Pati-Pati.”

“Benarkah yang dikatakan oleh anak itu?”

“Kami masih belum bertanya selengkapnya.” jawabnya.

Dan pemimpin prajurit itu pun menceriterakan pula apa yang akan dilakukannya.

Witantra terdiam sejenak, la memandang kedua anak-anak muda itu berganti-ganti dengan pemimpin prajurit yang akan menangkapnya.

Prajurit-prajurit itu pun menjadi berdebar-debar. Witantra dapat berbuat apa saja atas mereka. Namun demikian, prajurit-prajurit itu bertanya di dalam hati, ada hubungan apakah antara Witantra dan kedua anak-anak muda itu?

Agaknya pertanyaan itu dapat dirasakan oleh Witantra meskipun tidak diucapkan oleh salah seorang dari mereka. Karena itu, maka Witantra pun berkata, “Kedua anak-anak itu adalah kemenakanku. Mereka adalah anak Mahendra, saudara mudaku. Kalian pun tentu sudah mengetahui, siapakah Mahendra itu.”

“O.” pemimpin prajurit itu mengangguk-angguk. Sepercik keterangan telah menyentuh dadanya.

Namun ia menjadi bingung ketika Witantra pun kemudian berkata, “Tetapi jika menurut kebijaksanaanmu, kau akan menangkap kedua anak-anak itu, aku tidak akan merintanginya.”

Semua orang yang mendengar kata-kata Witantra itu tidak segera mengerti maksudnya. Bahkan beberapa orang menganggap bahwa Witantra benar-benar menjadi marah kepada prajurit-prajurit yang akan menangkap kemanakannya itu.

“Jika Ki Panji Pati-Pati itu marah, maka kami akan di sapunya sampai bersih.” berkata prajurit-prajurit itu di dalam hatinya, “Dan tidak seorang pun akan dapat menghalanginya. Apalagi hanya sekelompok kecil prajurit. Segelar sepapan pun akan gentar melihat kemarahannya.”

Agaknya Witantra melihat keragu-raguan itu. Maka ia pun segera mengulangi, “Aku hanya secara kebetulan saja lewat Aku tidak akan mencampuri persoalan ini. Jika kalian sudah mengambil sikap terhadap kedua anak-anak muda itu, lakukanlah.”

“Paman.” berkata Mahisa Murti, “Aku tidak mengerti, apakah yang akan paman lakukan sekarang ini.”

“Tidak apa-apa. Aku hanya lewat. Dan karena itu, aku akan meneruskan perjalanan.”

“Tetapi prajurit-prajurit itu?”

“Mereka akan menangkap kalian.”

“Aku tidak mau.” teriak Mahisa Pukat, “Itu tidak adil. Paman harus meyakinkan mereka.”

“Kau tidak boleh melawan. Kau dapat memberikan keterangan nanti.”

“Tetapi kami tidak bersalah.”

“Ya. Karena itu jangan cemas.”

“Tidak paman.” berkata Mahisa Murti, “Bagaimana pun juga aku tidak senang diperlakukan sebagai tawanan. Apalagi mereka akan merampas pusaka-pusaka yang diberikan ayah kepada kami. Kami akan mempertahankan kebebasan kami dan pusaka-pusaka kami.”

“Aku senang mendengarnya Murti.” sahut Witantra, “Tetapi jika kau berbuat demikian terhadap prajurit-prajurit yang sedang bertugas adalah kurang tepat. Kau harus bersedia melakukan perintahnya. Kemudian kau akan didengar keteranganmu. Tidak akan berganti hari kau sudah bebas kembali dan pusaka-pusakamu akan kembali kepadamu.” Witantra berhenti sejenak, lalu berpaling kepada pemimpin prajurit itu, “Bukan kah begitu? Bukankah persoalannya akan selesai dalam waktu yang singkat?”

“Ya, ya Ki Panji.” pemimpin prajurit itu menjawab terbata-bata.

“Kalian akan diperlakukan dengan baik.” berkata Witantra seterusnya.

“Tetapi ayah tentu akan marah.”

“Ya. Ayahmu akan marah. Tetapi marah kepadamu berdua. Karena itu, tunduklah kepada perintahnya. Meskipun barangkali aku atau ayahmu atau pamanmu Mahisa Agni dapat minta kekhususan atas kalian berdua, tetapi itu tidak baik Meskipun kau anak Mahendra yang disegani oleh semua orang di Singasari, tetapi kau tidak dapat minta diperlakukan khusus.”

Kedua anak-anak muda itu tidak mengerti maksud Witantra, sehingga Mahisa Pukat masih berkata, “Mereka bertindak tergesa-gesa paman.”

“Patuhilah. Baru kemudian kalian memberikan penjelasan.”

“Bagaimana jika penjelasanku tidak didengar?”

Witantra berpaling kepada prajurit-prajurit itu. Katanya, “Tentu kalian akan mendengarkan penjelasan yang sebenarnya. Bukankah begitu?”

“Ya, ya Ki Panji Pati-Pati.”

“Nah kau dengar? Mereka tidak akan berbuat lain kecuali bersikap benar dan adil.”

Kedua anak-anak muda itu masih akan menjawab. Tetapi Witantra kemudian melangkah pergi sambil berkata, “Aku akan meneruskan perjalanan. Aku ada sedikit keperluan. Jika kalian tidak kembali siang ini, ayahmu sudah mengetahui bahwa kau terlibat dalam persoalan yang tidak dikehendaki. Tetapi jangan cemas. Tidak akan ada apa-apa yang terjadi atas kalian jika sebenarnya memang demikian.” Sekali lagi Witantra berpaling kepada pemimpin prajurit itu dan berkata, “Lakukanlah tugasmu dengan baik, sesuai dengan garis ketentuan yang ada. Bukankah begitu?”

“Ya, ya Ki Panji.”

“Paman.” Mahisa Pukat masih akan berbicara. Tetapi Witantra memotongnya, “Aku tergesa-gesa.”

Sejenak kemudian kuda Witantra itu sudah berderap meninggalkan tempat itu, diikuti oleh tatapan berpuluh-puluh pandang mata yang kebingungan. Bukan saja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tetapi para prajurit dan orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu pun menjadi termangu-mangu pula.

Namun kemudian perlahan-perlahan tumbuh pengakuan dihati mereka, bahwa sikap Witantra itu adalah sikap yang paling bijaksana. Ia tidak mengajari kedua anak-anak, muda itu untuk berbuat salah di hari-hari mendatang. Kali ini mereka tidak bersalah. Tetapi jika melihat perlindungan yang mudah dari Witantra atas diri mereka, mungkin justru akan timbul akibat yang lain. Jika keduanya yang masih bersih, itu akan diracuni perlahan-lahan dengan sikap tinggi hati dan perasaan bebas dari setiap tuntutan meskipun bersalah, karena ayahnya, pamannya dan apalagi Mahisa Agni yang sangat berpengaruh di Singasari akan dapat dengan mudah melepaskannya dari tanggung jawab.

Tetapi para prajurit yang akan menangkapnya itu pun menjadi sangat canggung karenanya setelah mereka mengetahui kedudukan kedua anak-anak muda itu. Apalagi kemudian mereka pun mulai percaya, bahwa sebenarnya kedua anak-anak muda itu tidak bersalah sama sekali. Mereka telah berkata dengan jujur apa yang sebenarnya telah terjadi.

Karena itu untuk beberapa saat pemimpin prajurit itu termangu-mangu. Ia tidak segera dapat mengambil sikap apa pun terhadap kedua anak-anak muda itu.

Adapun kedua anak-anak muda itu pun termangu-mangu pula. Mereka pun tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Menurut pamannya, kakak seperguruan ayahnya, mereka harus menurut semua perintah prajurit-prajurit itu.

Baru sejenak kemudian pemimpin prajurit itu dapat mengendalikan perasaannya. Ia telah menemukan kembali sikap keprajuritannya meskipun dengan cara yang agak berbeda.

Sambil menarik nafas, untuk mengatur susunan kata-katanya pemimpin prajurit itu mendekati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sambit bertanya, “Bagaimana sikap kalian sekarang?”

Mahisa Murti menggigit bibirnya. Namun kemudian katanya, “Aku tidak dapat melanggar pesan paman Witantra.”

“Jadi kalian tidak akan melawan?”

“Tidak. Bukan karena aku takut. Tetapi agaknya memang harus demikian.”

“Ya. Kami pun tidak ingin menakuti-nakuti. Kami sekedar menjalankan tugas kami.”

“Tetapi hati-hatilah menyimpan pusaka-pusaka kami.” berkata Mahisa Pukat, “Pusaka-pusaka itu adalah pusaka pemberian ayah.”

“Anak-anak muda.” berkata pemimpin prajurit itu, “Yang kami perlukan adalah keterangan yang benar dan dapat kami percaya. Menilik sikap dan kata-kata kalian, apalagi kalian juga mengatakannya kepada paman kalian seperti yang kalian katakan kepada kami, maka kami sudah mempercayainya bahwa kalian tidak bersalah. Keyakinan itulah yang ingin kami dapat dari kalian. Jika kami membawa kalian berdua, adalah untuk memberikan kesaksian sehingga kami yakin bahwa yang kalian katakan itu benar. Karena itu, setelah kami kini meyakini kebenaran kata-katamu, bahwa kalian memang tidak bersalah, aku kira aku tidak memerlukan kalian berdua lagi saat ini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Meteka menjadi bingung. Bingung karena sikap Witantra dan bingung oleh sikap pemimpin prajurit itu.

“Jelasnya, kalian tidak perlu lagi kami bawa. Tetapi setiap saat kalian kami perlukan, kami harap kalian tidak berkeberatan untuk datang.”

“Jadi kami boleh pergi?”

“Ya.” prajurit itu kemudian berkata bersugguh-sugguh, “Tetapi sadari. Bahwa yang terjadi tentu bukan hanya sekedar peristiwa yang kebetulan. Mungkin ada persoalan-persoalan yang akan menjadi berkepanjangan. Karena itu kalian harus berhati-hati. Dan bahkan Singasari harus berhati-hati. Agaknya masih ada orang-orang yang dengan sengaja menimbulkan kerusuhan.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih. Jika demikian kami akan kembali ke istana. Ayah berada di istana dalam rangka upacara penyelenggaraan jenazah tuan puteri Ken Dedes.”

“Sampaikan salam kami kepada ayah kalian. Kami tidak bermaksud mengganggu ketenangan kalian di sini.”

“Apakah dengan demikian berarti aku dapat kembali ke istana.”

“Silahkan. Tetapi hati-hatilah. Ketiga orang itu tidak akan menghentikan usahanya, justru setelah mereka mengetahui bahwa kalian adalah anak Mahendra.”

“Kenapa?”

“Kami tidak tahu pasti. Tetapi jika orang-orang itu adalah sisa-sisa pendukung Tohjaya, maka Mahendra termasuk salah seorang yang sangat dibencinya seperti juga Witantra dan Mahisa Agni.”

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kami minta diri. Kami berdua akan kembali keistana.”

“ Silahkanlah.”

Tetapi kedua anak-anak muda itu tidak segera beranjak dari tempatnya. Bahkan nampak keduanya menjadi bingung sehingga pemimpin prajurit itu bertanya, “Apakah masih ada sesuatu yang mengganggu?”

“Tidak. Tetapi kami menjadi bingung. Jalan manakah yang harus aku lalui menuju keistana?”

“O.” pemimpin itu tidak dapat menahan senyumnya, “Apakah kalian kehilangan arah?”

“Aku tentu akan dapat menemukannya karena kami tetap mengenal kiblat. Tetapi jalan yang paling dekat?”

“Berjalanlah melalui jalan ini. Tidak ada jalan lain. Ikuti sajalah. Jika jalan ini berbelok, ikut sajalah berbelok. Jangan menempuh jalan-jalan simpangnya. Jalan induk ini akan sampai ke alun-alun pungkuran.”

“Maksudmu halaman belakang istana?”

“Ya.”

“Terima kasih. Kami akan segera kembali. Ayah tentu sudah menunggunya. Jika paman Witantra tidak segera kembali, ayah akan menjadi sangat gelisah.”

Demikianlah kedua anak-anak muda itu pun kemudian berjalan tergesa-gesa mengikuti arah yang ditunjukkan oleh pemimpin prajurit itu. Mereka melalui deretan orang-orang yang menyibak dengan kepala tunduk.

Namun penyelesaian itu nampaknya memberi kepuasan kepada orang-orang yang menyaksikan persoalan itu sejak permulaan. Mereka menganggap bahwa kedua anak-anak muda itu adalah anak-anak muda yang jujur. Bukan maksudnya untuk menentang para prajurit. Tetapi bukan pula seharusnya mereka merasa terlindung oleh kedudukan ayah dan paman-pamannya.

Sejenak kemudian, maka kaki-kaki kuda prajurit-prajurit itu pun telah berderap di atas jalan-jalan kota. Namun satu hal yang menjadi perhatian mereka, tiga orang yang sengaja menumbuhkan kekacauan.

Hal itulah yang kemudian mereka sampaikan kepada pimpinan prajurit yang lebih tinggi. Yang terjadi itu tentu bukan sekedar usaha untuk membunuh anak Mahendra. Tetapi tentu jauh lebih besar lagi.

“Kita akan mempelajari persoalan ini.” berkata pemimpinnya, “Tetapi kita akan melaporkannya segera. Apalagi selama saat berkabung ini, penjagaan di seluruh kota harus ditingkatkan.”

Dengan demikian maka pasukan Singasari harus mengambil suatu sikap menghadapi peristiwa itu. Sikap yang harus diperhitungkan sebaik-baiknya. Dan pemimpin sekelompok prajurit yang melihat peristiwa yang terjadi antara tiga orang tidak dikenal dengan kedua anaka Mahendra itu telah menyusun laporan selengkapnya.

Dalam pada itu, kedua anak-anak muda anak Mahendra itu pun telah berada di istana pula. Ketika ia menghadap ayahnya sudah duduk bersama Witantra.

“Kemarilah.” panggil Mahendra.

Sambil menundukkan kepalanya kedua anak-anak muda itu mendekat.

“Kalian cepat pulang? Apakah persoalan kalian sudah selesai?”

“Sudah, ayah.” jawab Mahisa Murti.

“Menurut pamanmu Wirantra, kalian akan ditahan oleh sekelompok prajurit.”

“Ya, ayah.”

“Dan kalian akan melawan?”

Kedua anak-anak muda itu tidak menjawab.

“Tetapi kenapa kalian begitu cepat pulang? Apakah kalian melarikan diri?”

“Tidak ayah. Kami memang diperkenankan pulang. Agaknya pemimpin prajurit itu telah mempercayai keterangan kami bahwa kami memang tidak bersalah.”

Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Barangkali itulah keterangan yang benar. Jadi kalian dilepaskan bukan karena pamanmu Witnatra atau pamanmu Mahisa Agni atau karena aku sendiri. Mengertilah.”

“Ya, ayah.”

“Dan kalian harus mendengarkan nasehat yang sudah diberikan oleh pamanmu Witantra. Kalian tidak boleh melawan di dalam keadaan semacam itu.”

“Ya, ayah.”

“Sekarang berceriteralah apa yang sebenarnya telah terjadi sejelas-jelasnya.”

Kedua anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak. Kemudian Mahisa Murti pun berkata, “Ceritera itu sudah aku ka takan kepada pamanda Witantra.”

“Katakan sekali lagi, selengkapnya. Tetapi jangan berkepanjangan karena kami masih akan sibuk dengan tugas-tugas lain. “

Sekali lagi Mahisa Murti menceriterakan persoalannya kepada ayahnya, pamannya Witantra dan Mahisa Agni.

Orang-orang tua itu mengangguk-angguk. Ceritera itu memang sangari menarik.

“Sekarang beristirahatlah.” berkata Mahendra kepada kedua anak-anaknya setelah mereka selesai berceritera, “Kalian tentu lelah setelah kalian mempertunjukkan setitik ilmu yang sebenarnya tidak berarti apa-apa bagi prajurit-prajurit Singasari. Untunglah belum cidera dan diseret kebarak setelah kalian bersikap melawan.”

Kedua anak-anak muda itu mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja Mahisa Pukat berkata, “Ayah, tetapi ketiga orang yang menyerang kami itu berkata, bahwa mereka akan membunuh prajurit-prajurit yang berani mendekat. Apakah dengan demikian berarti bahwa ketiga orang itu memiliki ilmu yang tidak ternilai karena mereka dapat mengalahkan para prajurit Singasari yang pilih tanding.”

“Mungkin ketiga orang itu memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan.”

“Jadi bagaimana penilaian ayah tentang kami?”

“Maksudmu?”

“Ternyata ketiga orang itu tidak dapat membunuh kami yang hanya berdua.”

“He.” Mahendra membelalakkan matanya. Katanya, “Jangan salah menilai diri Pukat. Kau sangka bahwa karena mereka bertiga tidak dapat mengalahkan kalian berdua berarti bahwa kalian berdua lebih tangguh dari ketiga orang itu? Dan dengan demikian kau memiliki kemampuan yang berlipat ganda dari prajurit-prajurit Singasari?”

Witantra tidak dapat menahan senyumnya seperti juga Mahisa Agni. Tetapi mereka sama sekali tidak memperlihatkannya kepada kedua anak-anak itu.

Mahisa Pukat menundukkan kepalanya. Meskipun demiki an ia berkata, “Itu adalah urut-urutan jalan pikiranku ayah.”

Mahisa Murti menggamitnya, sehingga Mahisa Pukat pun kemudian terdiam.

“Pergilah kebelakang.” perintah Mahendra kemudian, “Kalian harus membersihkan diri dan beristirahat.”

“Baiklah ayah.” kedua anak-anak muda itu menjawab hampir berbareng.

Sepeninggal kedua anak-anak itu, Witantra dan Mahisa Agni tertawa pendek sambil bergeser mendekat. Mahisa Agni pun kemudian berkata, “Nah, kau dengar sendiri jalan pikiran anak muda itu? Jangan marah. Jalan pikiran anakmu ternyata masuk akal.”

Mahendra pun tersenyum pula. Sebenarnya ia juga dapat mengerti jalan pikiran anaknya itu.

Namun dalam pada itu, ketiga orang itu pun kemudian terlibat dalam pembicaraan mengenai ketiga orang yang tidak dikenal itu. Yang menurut kedua anak-anaknya, dengan serta merta telah menyarangnya dan bahkan akan membunuhnya.

“Sebenarnya Singasari sudah mulai diliputi oleh suasana yang damai.” berkata Mahisa Agni, “Kepergian Ken Dedes untuk selamanya, umur kami yang menjadi semakin tua, yang pada suatu saat akan sampai pada titik terakhir, seharusnya tidak lagi diganggu oleh riak-riak kecil di wajah Singasari yang tenang.”

“Apakah sekedar riak-riak kecil?” bertanya Witantra.

“Itulah yang belum kita ketahui.” jawab Mahendra, “Tetapi aku kira bukan sekedar riak-riak kecil yang tidak berarti.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Setelah semuanya selesai, kita akan berbicara dengan para pemimpin Singasari yang sebenarnya.”

“Ya sebenarnya?”

“Ya bukankah kita bukan pemimpin-pemimpin yang sebenarnya dari Singasari?”

“Maksudmu tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka?”

“Ya, dan sudah barang tentu pemimpin-pemimpin pemerintahan yang lain.”

Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi menurut pendapatku, yang terjadi bukannya riak-riak kecil. Mungkin untuk beberapa saat, tidak akan nampak sesuatu yang dapat membahayakan ketenangan Singasari. Tetapi jika pada suatu saat terjadi ledakan-ledakan di mana-mana, maka tentu ledakan-ledakan itu memiliki hubungan dengan peristiwa yang nampaknya kecil ini.”

“Apakah kau tidak terlampau berprasangka?”

“Aku dipengaruhi oleh firasatku.” berkata Mahendra kemudian.

Mahisa Agni mengangguk-angguk pula. Beberapa saat ia merenung saja. Namun ia pun sebenarnya memiliki pertimbangan yang serupa.

“Tetapi siapakah yang berada di belakang peristiwa ini sebenarnya.” tiba-tiba Witantra berkata perlahan-lahan, “Apakah tujuan mereka yang sebenarnya. Mungkin orang-orang itu dengan sengaja membuat Singasari kacau. Tetapi mungkin mereka sekedar ingin melepaskan dendamnya kepada Mahendra.”

“Tetapi menilik keterangan anak-anak itu, mula-mula orang-orang itu tidak tahu, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah anak-anakku.”

“Jika demikian, maka mereka bertiga ingin membuat suasana menjadi keruh, justru pada saat Singasari berkabung.”

“Ya. Banyak yang dapat terjadi. Tetapi kita harus meyakinkannya, selain berusaha agar persoalan ini tidak mengeruhkan suasana di kota raja ini.”

“Biarlah kedua anak-anak itu tetap di halaman istana sampai saatnya kami kembali.”

“Tentu tidak menyenangkan bagi anak-anak itu. Mereka tentu ingin banyak melihat. Karena itu, biarlah mereka pergi bersama kita setelah semua tugas kita dalam penyelenggaraan jenazah ini selesai.”

“Tetapi selama kita sendiri sibuk?”

“Biarlah ia di bangsal ini.”

Demikianlah maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat oleh ayahnya tidak diperkenankan pergi kemana-mana lagi jika hanya berdua saja. Mungkin ketiga orang yang bertempur melawan kedua anak-anak itu mendendam dan mereka akan datang dengan jumlah yang lebih besar atau orang-orang yang lebih kuat.

Sementara itu, pimpinan prajurit Singasari telah menerima laporan mengenai peristiwa itu dengan terperinci.

Pada umumnya mereka pun mempunyai kesimpulan, bahwa jika yang mengalami sergapan itu adalah anak-anak Mahendra, maka itu adalah kebetulan saja. Tujuan orang-orang itu tentu dengan sengaja ingin menimbulkan kekacauan di dalam kota yang sedang berkabung.

Karena itu, pemimpin tertinggi prajurit Singasari telah mengambil kebijaksanaan untuk meningkatkan pengawasan di pintu-pintu gerbang kota.

Setelah kedua putera Mahendra itu, mungkin ada sasaran lain. Mereka tentu kecewa karena mereka tidak berhasil membunuh kedua anak-anak itu. Mungkin karena akan melepaskan kekecewaan itu terhadap orang lain.

Perintah itu pun segera tersebar di seluruh kota. Tetapi para prajurit telah berusaha agar kesiagaan mereka itu tidak mempengaruhi ketenangan rakyat Singasari, sehingga karena itu, maka mereka menambah jumlah prajurit-prajurit yang bertugas dengan sangat berhati-hati.....

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : JILID 14

LihatTutupKomentar