Si Tangan Sakti Jilid 06


"Yo-twako, sebenarnya, apa sih yang kita cari di dunia ini? Mengapa dalam kehidupan ini selalu kita dipermainkan senang dan susah, puas dan kecewa? Bahkan apa yang menyenangkan pun menjadi membosankan. Kenyataan hidup terlalu sering berlawanan dengan apa yang kita idamkan dan harapkan. Sekelumit kesenangan segera diseling segunung kesusahan. Bukankah kita manusia ini seperti selalu mencari-cari? Apa yang kita cari? Kebahagiaan? Di mana dan apakah kebahagiaan itu? Pertanyaan ini selalu menggangguku dan sudah kutanyakan kepada banyak sekali orang-orang pandai, tetapi tak pernah aku memperoleh jawaban yang meyakinkan dan memuaskan."

Yo Han tersenyum lebar. "Pertanyaanmu itu agaknya sudah menjadi pertanyaan dunia sepanjang masa, pertanyaan seluruh manusia di permukaan bumi ini, Cia-te. Kita selalu mencari-cari kebahagiaan, mengejar-ngejar kebahagiaan, akan tetapi tak pernah dapat menemukannya. Kalau ada kalanya merasa menemukan, ternyata dalam waktu singkat yang kita tadinya anggap sebagai kebahagiaan itu berubah menjadi kesengsaraan. Kita mengejar dan mencari terus selama kita hidup."

"Akan tetapi, adakah orang yang betul-betul telah menemukan kebahagiaan itu, Twako? Dan dimanakah sebenarnya kebahagiaan itu?"
"Cia-te. Marilah kita selidiki bersama. Mungkinkah kita mencari sesuatu yang tidak kita kenal?"
"Tentu saja mustahil!" jawab sang pangeran tanpa ragu.
"Tepat. Karena itu, sebelum kita bertanya di mana adanya kebahagiaan yang kita cari, lebih dulu aku hendak bertanya, apakah kebahagiaan itu, Cia-te?"
"Kebahagiaan! Tentu saja kebahagiaan ialah suatu perasaan, yaitu perasaan bahagia!"
"Kalau begitu pertanyaan yang menyusul, apakah engkau pernah mengalami perasaan bahagia itu, Cia-te?"

Pangeran Cia Sun tertegun dan mengingat-ingat, lalu mengangguk-angguk. "Rasanya pernah dan sering malah. Kalau aku merasa bebas dari kepusingan apa pun, merasa bebas dan lega, seperti ketika aku berada seorang diri di tepi laut yang sunyi, seperti kalau aku berada di puncak gunung yang sunyi pada suatu senja memandang matahari tenggelam, seolah-olah aku melayang di antara sinar senja, ketika aku saling tatap dan bercakap-cakap dengan Eng-moi, yah, sering kali aku merasakan itu dan mungkin aku selalu mencari-cari saat atau detik-detik seperti itu..."

"Nah, itulah, Cia-te! Sekali saat kita merasa berbahagia seperti yang kau alami itu. Akan tetapi nafsu menguasai hati akal pikiran. Karena nafsu selalu mengejar keenakan serta kesenangan, maka nafsu di hati akal pikiran membuat kita lantas ingin mengabadikan perasaan bahagia di saat itu! Kita ingin memilikinya! Dan kita terseret oleh nafsu, yaitu menjadikan saat indah dan suci itu menjadi semacam kesenangan. Jadi, yang kita cari selama ini, yang dicari-cari oleh setiap manusia di dunia ini, hanyalah kesenangan yang mengenakan topeng kebahagiaan. Yang bisa dikejar hanya kesenangan, Cia-te. Mudah saja mengejar kesenangan yang sebenarnya makanan nafsu itu, melalui mata, hidung, telinga, mulut, kulit serta anggota badan luar dan dalam lainnya. Kesenangan timbul dari kenangan, dari pengalaman, yang diulang-ulang, karenanya mati dan selalu disusul oleh kebosanan. Kebahagiaan sudah ada dan selalu ada. Hidup bagaikan awan berarak di angkasa, bagaikan gelombang di samudera, tak dapat ditangkap dan dimiliki, tak dapat diulang-ulang, dirasakan saat demi saat tanpa bayangan kenangan masa lalu."

Pangeran Cia Sun tertawa dan memegangi kepala dengan kedua tangannya. "Aduh, kepalaku yang pening, Twako. Jika begitu, menurut Twako apakah amat tidak baik bila dalam hidup ini kita bersenang-senang?"

Yo Han tertawa pula. "Wah, bukan begitu, Cia-te! Menikmati keenakan dan kesenangan dalam hidup merupakan anugerah yang sudah sepatutnya kita nikmati. Manusia berhak menikmati kenikmatan dan kesenangan melalui panca-indra. Akan tetapi, diperhamba nafsu lain lagi akibatnya. Kita lalu menjadi hamba, setiap saat hanya mengejar-ngejar dan mencari-cari kesenangan dengan melupakan segala macam cara. Di sini perlunya kita mempergunakan alat kita yang lainnya, yaitu akal budi untuk mempertimbangkan, kesenangan macam apa yang baik dan tidak baik, yang sehat dan tidak sehat. Engkau tentu mengerti apa yang kumaksudkan."

Pangeran itu mengangguk-angguk. "Sekarang, bagaimana baiknya, Twako? Sebetulnya aku ingin sekali memperisteri Eng-moi, akan tetapi jelas bahwa ayahnya pasti tidak akan menyetujuinya. Ia anti pemerintah, anti Mancu, sedangkan aku justru seorang pangeran Mancu."

"Memang keadaan kalian itu sulit sekali, Cia-te. Akan tetapi, aku tetap yakin bahwa lahir, jodoh dan mati ditentukan dan sudah diatur oleh kekuasaan Tuhan. Maka, bersabarlah dan sebaiknya sekarang engkau kembali dulu karena dipanggil keluargamu. Sebaiknya kalau kau ceritakan persoalanmu ini kepada orang tuamu. Mungkin mereka akan dapat menemukan jalan sehingga akhirnya engkau akan dapat berjodoh dengan kekasihmu itu."

Pangeran itu menggeleng-geleng kepalanya dengan sedih. "Agaknya mustahil jika ayah mengijinkan aku menikah dengan Eng-moi, kalau ia mengetahui bahwa Eng-moi adalah puteri ketua Pao-beng-pai yang menentang pemerintah."

"Kalau begitu, lebih sulit lagi. Tapi percayalah, Cia-te, betapa pun sulit dan mustahilnya suatu urusan bagi kita manusia, kalau Tuhan menghendaki, segala kesulitan itu akan terlampaui dan perkara ini dapat diatasi dengan segala ikhtiarmu, dengan penyerahan diri kepada kekuasaanNya."
"Dan sekarang, engkau sendiri hendak ke mana, Twako? Aku akan kembali ke kota raja. Maukah engkau ikut denganku ke sana? Akan kuperkenalkan kepada ayah ibuku."

Diam-diam Yo Han merasa ngeri. Ikut ke sana dan bertemu dengan Sian Li? Ahh, tidak! Dia tidak ingin membuat adik angkatnya ini menjadi terganggu apa bila tahu bahwa dia mempunyai hubungan dekat sekali dengan gadis tunangannya itu. Juga dia tidak mau membuat Sian Li menjadi rikuh. Di samping itu, dia pun tidak ingin menyiksa diri sendiri bila menyaksikan pertunangan antara adik angkatnya dengan gadis yang dicintanya.

"Terima kasih, Cia-te. Akan tetapi, aku harus melanjutkan pelaksanaan tugasku, yaitu mencari puteri bibi guruku yang hilang sejak kecil itu."
"Pekerjaan yang teramat sukar, Twako. Bagaimana mungkin mencari seseorang yang belum pernah kau kenal sama sekali? Apa lagi dia hilang ketika berusia tiga tahun dan jarak waktunya sudah dua puluh tahun. Ia sendiri mungkin tidak ingat lagi akan keadaan dirinya ketika berusia tiga tahun."
"Kalau saja aku dibimbing dalam kekuasaan Tuhan, tidak ada perkara yang sulit, Cia-te. Engkau tentu ingat kata-kataku tadi. Aku tidak akan putus asa dan akan terus mencari. Setidaknya, aku mengetahui tanda pada tubuhnya ketika ia lahir, yaitu di pundak kirinya dan di kaki kanannya."

Pangeran itu tertawa geli. "Ha-ha-ha-ha, sekarang mengertilah aku mengapa gadis yang mengirim surat Eng-moi kepadaku melalui jarum yang disambitkan padamu itu memaki-makimu! Kiranya engkau pernah menyangka gadis itu sebagai gadis yang kau cari dan engkau tentu membuka bajunya untuk melihat pundaknya, juga membuka sepatunya untuk melihat kakinya. Pantas ia marah-marah!" Pangeran itu tertawa geli dan Yo Han juga ikut tertawa dengan muka kemerahan.

"Apa lagi ketika engkau menjawabnya dengan sikap kasar, aku sempat terheran-heran melihat sikapmu, Twako. Ehhh, kiranya engkau bersandiwara dan tahu bahwa gadis itu tentu mempunyai maksud tertentu. Nyatanya ia menyambitmu dengan jarum yang ada surat Eng-moi sehingga kita dapat siap melaksanakan sandiwara ketika Eng-moi datang membebaskan kita."
"Memang dialah gadis yang disuruh Siangkoan Kok untuk menjebakku. Baru kemudian kuketahui bahwa dia adalah murid terbaik dari ketua Pao-beng-pai itu. Nah, sekarang sebaiknya kita saling berpisah di sini, Cia-te. Percayalah, jika engkau memang berjodoh dengan nona Siangkoan Eng, kelak engkau pasti dapat menjadi suaminya. Dan kalau tugasku selesai, kelak pada suatu hari aku pasti akan mengunjungimu di kota raja."

Dua orang pemuda itu bangkit dan setelah saling memberi hormat dan saling rangkul, mereka lalu mengambil jalan masing-masing. Pangeran Cia Sun kembali ke kota raja sedangkan Yo Han mengambil jalan yang belum dia ketahui menuju ke mana karena dia pun tidak tahu ke mana harus mencari Sim Hui Eng.

Ia akan melanjutkan ikhtiarnya itu dengan menghubungi orang-orang di dunia kang-ouw, terutama para golongan sesat untuk menyelidiki siapa pelaku penculikan atas diri puteri bibi gurunya itu.....

********************
Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun. Tubuhnya sedang namun tegap. Dadanya bidang dan kekar dengan otot-otot menggelembung sehingga nampak jantan dan gagah. Wajahnya juga tampan dan bersih, alisnya tebal, hidungnya mancung dan mulutnya memiliki bentuk yang manis, dengan dagu yang kokoh dan mata mencorong seperti bintang. Pakaiannya sederhana bentuknya, namun bersih, dan rambutnya pun tersisir rapi.

Seorang pemuda yang tampan dan gagah. Apa lagi pada pagi hari itu, dia berlatih silat seorang diri di bawah pohon besar itu dengan gerakan yang perkasa, cepat tangkas dan mengandung tenaga yang amat kuat sehingga daun-daun pohon itu bergoyang-goyang seperti dilanda angin.

Makin lama gerakan pemuda itu makin cepat. Tiba-tiba, sambil membalikkan tubuhnya, tangannya bergerak memukul ke arah sebatang pohon sebesar paha orang. Tangan itu tidak sampai menyentuh batang pohon, masih ada satu setengah meter jaraknya, tetapi kemudian terdengar suara…..

"Kraaakkk!" dan batang pohon itu pun patah dan tumbang!

Sekarang mulut pemuda itu tertarik dan menyeringai aneh, dan pada saat itu, nampak berkelebat seekor burung yang terkejut mendengar robohnya pohon kecil itu. Burung itu terbang ke dekat pohon besar, dan pemuda itu mendadak saja meloncat ke atas serta tangannya bergerak ke arah burung.
Dan sebagai akibatnya, burung itu tiba-tiba terjatuh seperti sebuah batu dan disambar oleh tangan pemuda itu yang juga melayang turun. Sambil membuang bangkai burung itu, dia menengadah, kemudian wajah yang tampan itu menyerigai, dan dia pun tertawa bergelak seperti kesetanan!

Lalu dia berjongkok, memeriksa bangkai burung yang seluruh tubuhnya sudah menjadi hitam, keracunan. Kembali dia tertawa, akan tetapi tawa ini aneh karena berhenti secara tiba-tiba seperti tercekik. Dia lalu memandang ke sekeliling, seolah-olah takut kalau ada yang melihat atau mendengarnya, kemudian dia pun meloncat dan menyelinap ke balik semak belukar dan tahu-tahu tubuhnya lenyap.

Kalau ada orang yang melihat dan mencarinya, menyingkap semak belukar, orang itu tentu akan melihat adanya sebuah sumur yang amat dalam di balik semak belukar itu. Sumur yang tua dan kalau dilihat dari atas, tidak nampak dasarnya, saking dalam dan gelapnya.

Dapatlah dibayangkan betapa besar bahayanya kalau orang berani menuruni sumur itu, dengan tangga atau tali sekali pun, karena dia tidak tahu apa yang berada di dasar sumur. Mungkin gas beracun, atau ular berbisa.

Orang itu tentu akan bertambah heran dan kagum kalau melihat betapa pemuda tadi memasuki sumur dengan cara merayap melalui dinding sumur. Gerakannya cepat bagai seekor cicak saja yang merayap menuruni dinding! Dan kini, pemuda itu sudah berada di ruangan bawah tanah yang mendapat sinar matahari dari celah-celah batu retak di atas.

Pemuda itu tertawa-tawa seorang diri, menghadapi sebuah dinding yang penuh dengan coret-coretan huruf dengan gambar-gambar yang sebagian sudah terhapus.

"Ha-ha-ha-ha, susiok-kong (kakek paman guru) Ciu Lam Hok yang buntung tangan dan kakinya itu mencoba untuk melenyapkan Bu-kek Hoat-keng! Ha-ha-ha, arwahnya tentu sekarang akan cemberut kalau melihat betapa usahanya itu tidak sempurna, dan bahwa ilmu Bu-kek Hoat-keng akhirnya dapat dimiliki orang yang paling berhak, yaitu aku, Ouw Seng Bu, ha-ha-ha!"

Seperti orang sinting pemuda itu tertawa-tawa dan sekarang dia menggunakan kedua tangannya menggaruk-garuk ke permukaan dinding batu. Sungguh hebat bukan main. Gerakan jari-jari tangannya itu membuat dinding batu ini lantas rontok bagaikan tepung saja, seolah-olah dinding batu itu hanya merupakan tanah yang lunak. Sebentar saja, terhapuslah sudah semua huruf dan gambar yang tercoret di dinding itu.

Siapakah pemuda itu? Ia merupakan seorang tokoh muda dari Thian-li-pang dan seperti kata-katanya tadi, ia bernama Ouw Seng Bu. Belasan tahun yang lalu, ketika dia sendiri masih seorang anak laki-laki kecil berusia delapan atau sembilan tahun, Thian-li-pang, perkumpulan orang-orang gagah anti penjajah Mancu itu dipimpin oleh mendiang Ouw Ban sebagai ketuanya.

Ouw Ban mempunyai dua orang putera. Yang pertama adalah Ouw Cun Ki yang dahulu diselundupkan ke istana untuk membunuh kaisar Mancu, akan tetapi dia tertawan dan dihukum mati. Yang ke dua adalah Ouw Seng Bu yang ketika peristiwa itu terjadi, masih kecil.

Kemudian terjadilah perpecahan di kalangan para pimpinan Thian-li-pang sehingga Ouw Ban tewas di tangan guru-gurunya sendiri, yaitu mendiang Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong. Kemudian muncul Yo Han yang secara kebetulan mewarisi ilmu kepandaian kakek yang buntung kaki tangannya di dalam sumur rahasia, yaitu mendiang kakek Ciu Lam Hok, sute dari Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong yang memiliki ilmu kesaktian hebat.

Munculnya Yo Han akhirnya membersihkan Thian-li-pang dari pengaruh-pengaruh sesat dan jahat partai-partai lain seperti Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai dan kehadiran Yo Han menyebabkan pimpinan Thian-li-pang beralih kepada Lauw Kang Hui sebagai ketuanya.

Lauw Kang Hui telah sadar dan membawa kembali Thian-li-pang ke jalan lurus, sebagai perkumpulan orang gagah yang menentang penjajah Mancu. Juga dia merasa iba pada Ouw Seng Bu, putera suheng-nya dan mengajarkan ilmu silat kepada keponakannya itu.

Ouw Seng Bu berlatih dengan rajin. Di depan paman guru yang kini menjadi gurunya dan di depan para tokoh Thian-li-pang, ia selalu memperlihatkan sikap sebagai seorang pemuda yang gagah perkasa dan pendiam. Namun, pemuda ini tidak pernah melupakan pesan mendiang ayahnya dahulu ketika dia masih kecil bahwa sekali waktu, dia harus berani memasuki serta menyelidiki sumur di bawah tanah, mencari peninggalan kakek paman gurunya yang sakti.

Demikianlah, setelah ia memiliki ilmu kepandaian dan cukup gagah, dalam usia delapan belas tahun, dia nekat mencari dan menemukan sumur di balik semak belukar itu dan nekat memasukinya dengan tali yang panjang. Setelah mencari-cari dan membongkar-bongkar batu besar di dalam goa dan terowongan di bawah tanah, akhirnya dia berhasil menemukan dinding penuh coretan dan gambaran itu yang tadinya tertutup batu besar.

Agaknya kakek Ciu Lam Hok dahulu pernah membuat coretan dan gambaran di dinding itu, kemudian menghapus sebagian dan menutupi dinding dengan batu besar. Dia pun tahu bahwa itulah ilmu Bu-kek Hoat-keng yang merupakan ilmu rahasia kakek buntung itu, maka dengan penuh ketekunan dia mulai mempelajari ilmu itu secara rahasia.

Selama lima tahun dia rajin belajar tanpa mengetahui bahwa karena ilmu yang aneh itu tidak lengkap, maka ia pun menyimpang dari jalur yang semestinya. Tanpa disadarinya, dia telah melakukan latihan yang salah, bahkan kadang-kadang berlawanan. Berkali-kali dia jatuh pingsan karena salah mengerahkan tenaga sinkang.

Akan tetapi, setelah lima tahun belajar dengan tekun dan rahasia, tanpa diketahui siapa pun juga, akhirnya dia berhasil menguasai ilmu yang aneh dan dahsyat bukan main. Tanpa disadarinya, penyelewengan cara latihan yang salah itu juga telah mendatangkan perubahan pada dasar wataknya, pusat susunan syarafnya.

Dia memang masih nampak pendiam dan lembut, jujur dan baik di depan para pimpinan Thian-li-pang. Akan tetapi pada saat-saat tertentu, bila dia sedang berada seorang diri, terutama sekali sehabis dia berlatih ilmu silat Bu-kek Hoat-keng yang tidak lengkap itu, dia lalu menjadi seperti kesetanan, seperti sinting, tertawa-tawa sendiri, kadang-kadang menangis sendiri, dan pandang matanya yang biasanya lembut dan jujur itu mencorong penuh kecerdikan!

Juga latihan yang salah itu membuat dia berhasil menguasai pukulan yang mengandung hawa beracun yang dapat membuat semua yang dipukulnya menjadi tewas dengan tubuh menghitam seperti menjadi hangus! Hal ini diketahuinya ketika beberapa kali dia menguji kecepatannya, membunuh burung atau binatang lain yang ditemuinya. Dengan sekali pukul, binatang itu akan tewas dengan tubuh hangus!

Pagi hari itu ia merasa telah menamatkan ilmunya. Maka, ia menghapus semua coretan di dinding itu dengan jari-jari tangannya yang memiliki kekuatan demikian dahsyatnya sehingga sekali garuk saja permukaan dinding itu rontok dan semua coretan lenyap.

Setelah merasa puas karena di situ tidak terdapat apa pun juga yang dapat dipelajari orang lain, Ouw Seng Bu lalu merayap keluar dari dalam terowongan goa bawah tanah melalui sumur, dan menutupkan kembali sumur itu dengan semak belukar. Kemudian dia pun berjalan dengan santai kembali ke markas Thian-li-pang yang berada di dekat puncak Bukit Naga.

Matahari sudah mulai meninggi dan cuaca cerah sekali. Wajah pemuda itu kini kembali menjadi lembut dan senyumnya ramah gembira, jauh berbeda dengan ketika dia berlatih silat dan di dalam tanah tadi. Dia kini menjadi seorang pemuda yang nampak ramah dan murah senyum, pendiam dan lembut menyenangkan!

Ketua Thian-li-pang yang bernama Lauw Kang Hui ini telah tua sekali, usianya sudah tujuh puluh tiga tahun. Meski pun dia masih nampak tinggi besar dengan muka merah, gagah dan berwibawa, namun bagaimana pun juga, usia tua membuat semangatnya banyak menurun.

Saat itu diam-diam Lauw Kang Hui tengah melihat-lihat siapa kiranya yang pantas untuk dijadikan penggantinya. Dia sendiri tidak memiliki keturunan, dan di antara para anggota Thian-li-pang dan murid-muridnya, hanya ada dua orang muridnya yang agaknya cukup dapat dipercaya.

Yang pertama adalah murid wanita yang sudah berusia empat puluh tahun, berwajah buruk dan berwatak kasar namun setia kepada Thian-li-pang, bernama Lu Sek. Wanita ini sudah menjadi janda dan tak mempunyai anak. Suaminya tewas dalam pertempuran membela Thian-li-pang.

Bahkan, menurut penilaian Lauw Kang Hui, di antara para muridnya, Lu Sek inilah yang paling lihai, mempunyai tingkat yang paling tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan apa yang dicapai oleh Ouw Seng Bu, yaitu murid ke dua yang dipercayanya dan dianggap merupakan calon penggantinya. Ia masih bimbang, apakah ia harus menunjuk Lu Sek ataukah Ouw Seng Bu untuk menjadi penggantinya, menjadi ketua Thian-li-pang.

Meski pun seorang wanita, Lu Sek sangat berwibawa dan penuh semangat. Juga janda itu memiliki hubungan dekat dengan Lauw Kin, duda yang berusia lima puluh tahun dan tidak mempunyai anak pula. Lauw Kin masih keponakan Lauw Kang Hui sendiri, putera tunggal adiknya yang mati muda.

Hati ketua itu lebih condong memilih Lu Sek untuk menjadi calon penggantinya. Ilmu silatnya paling tinggi di antara semua murid Thian-li-pang, apa lagi kalau dibantu Lauw Kin yang mungkin sekali menjadi suaminya. Selain itu, hatinya sedikit tidak enak kalau mencalonkan Ouw Seng Bu. Bagaimana pun juga, Seng Bu adalah putera mendiang suheng-nya, Ouw Ban yang dahulu pernah menjadi ketua Thian-li-pang, dan yang telah menyelewengkan Thian-li-pang ke jalan sesat.

Lauw Pangcu (Ketua Lauw) telah sarapan pagi dan duduk di ruangan depan ketika dia melihat Seng Bu melangkah masuk dari luar. Kebetulan sekali, pikirnya. Dia harus lebih dahulu memberi tahu muridnya itu agar kalau pada suatu hari dia mengambil keputusan, muridnya ini tidak merasa kecewa.

Beberapa kali dalam sikap muridnya itu ia melihat tanda bahwa Seng Bu mengharapkan kelak akan bisa menjadi ketua Thian-li-pang. Bahkan para tokoh Thian-li-pang sebagian besar juga menyangka bahwa pemuda yang pandai membawa diri ini pantas menjadi calon penggantinya.

Kalau saja di situ terdapat Pendekar Tangan Sakti Yo Han, tentu tidak sukar baginya untuk mengambil keputusan berdasarkan petunjuk pendekar muda yang sakti itu. Tapi sudah lima tahun lebih Yo Han yang dianggap menjadi pemimpin besar atau penasehat Thian-li-pang tak pernah terdengar beritanya. Kini ia harus mengambil keputusan sendiri dan dia harus dapat bersikap bijaksana demi keutuhan para tokoh di Thian-li-pang. Dia berteriak memanggil nama muridnya itu.

Seng Bu cepat memasuki ruangan di mana gurunya duduk seorang diri, dan dia lalu memberi hormat dan mengucapkan selamat pagi.

"Duduklah di sini, Seng Bu," kata ketua yang sudah berusia lanjut itu sambil menunjuk ke arah sebuah kursi di depannya, sebelum muridnya itu berlutut.
"Terima kasih, Suhu," berkata Seng Bu yang merasa heran.

Dia tahu bahwa tentu ada urusan penting maka suhunya mempersilakannya duduk di kursi, tidak membiarkan dia berlutut seperti biasa. Dia duduk dan menundukkan muka dengan sikap siap mendengarkan dan mentaati semua perintah gurunya.

"Seng Bu, apakah engkau sudah sarapan pagi dan dari mana engkau sepagi ini sudah berkeringat?"
"Teecu baru saja berlatih silat, Suhu, nanti setelah mandi teecu akan sarapan di dapur," jawab Seng Bu dengan sikap hormat.
"Bagus, engkau memang rajin. Kalau engkau mencontoh suci-mu Lu Sek rajinnya dalam berlatih silat, kurasa engkau akan mampu mencapai tingkatnya."
"Teecu tidak berani, Suhu. Tidak mungkin mengejar Lu-suci yang amat lihai."

Lauw Kang Hui tersenyum. Muridnya ini selalu bersikap rendah hati dan sopan, selalu menyenangkan hati orang lain. "Seng Bu, apakah dua ilmu simpananku yang terakhir aku ajarkan padamu, sudah dapat kau kuasai dengan baik?"

"Suhu maksudkan Tok-jiauw-kang (Cengkeraman Beracun) serta Kiam-ciang (Tangan Pedang)? Setiap hari teecu sudah berlatih diri dengan tekun dan mohon petunjuk Suhu."

Lauw Kang Hui menghela napas panjang. "Aku sudah terlalu tua untuk dapat berlatih dengan kedua ilmu itu denganmu, Seng Bu. Sebaiknya engkau minta kepada Lu Sek untuk latihan bersama agar engkau dapat memperoleh banyak kemajuan."

"Baik, Suhu. Teecu (murid) akan mohon bantuan Lu-suci."
"Aku ingin sekali lagi mengingatkanmu, Seng Bu. Hanya kepada Lu Sek dan engkau dua orang sajalah aku mengajarkan dua ilmu simpananku itu. Oleh karena itu, jangan dilupakan bahwa dua macam ilmu itu adalah ilmu yang amat berbahaya dan mematikan lawan. Kalau engkau tidak terancam maut atau pun terpaksa sekali, janganlah engkau menggunakan ilmu-ilmu itu untuk menyerang lawan. Mengerti?"
"Teecu mengerti, Suhu."

Lauw Kang Hui menghela napas panjang. "Sampai sekarang kalau teringat aku masih merasa menyesal bukan main karena dahulu aku pernah mempergunakan kedua ilmu itu secara sembarangan sehingga menjatuhkan banyak korban yang tidak semestinya kubunuh. Sekarang aku menghendaki agar seluruh murid Thian-li-pang, selain menjadi patriot-patriot yang menentang penjajah Mancu, juga menjadi pendekar-pendekar yang membela kebenaran dan keadilan, dan tidak mempergunakan ilmu untuk memaksakan kehendak dan berbuat kejahatan."

"Teecu mengerti."
"Ingat, kalau sampai terjadi penyelewengan oleh siapa pun juga, andai kata aku yang sudah tua tidak mampu lagi menghukum, kelak kalau Sin-ciang Taihiap Yo Han datang berkunjung, dia tentu akan turun tangan dan menindak mereka yang berani melakukan penyelewengan."
"Teecu mengerti, Suhu." Seng Bu menunduk menyembunyikan senyum mengejek yang mendesak keluar ke mulutnya. Lalu dia bersikap biasa dan hormat kembali, mengangkat mukanya yang jujur dan bertanya kepada suhunya, "Suhu, apakah Sin-ciang Taihiap itu luar biasa lihainya? Apakah Suhu sendiri tidak akan mampu menandinginya?"

Lauw Kang Hui tersenyum.

"Ha-ha-ha, Seng Bu, jangan samakan aku dengan dia! Bahkan dua orang kakek gurumu sekali pun, yaitu mendiang Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong, tidak akan mampu menandingi Pendekar Tangan Sakti Yo Han."
"Luar biasa sekali! Bukankah usia Sin-ciang Taihiap masih sangat muda, Suhu? Hanya beberapa tahun lebih tua dari teecu? Teecu masih ingat ketika masih kanak-kanak, dia tidak banyak lebih tua dari teecu."
"Benar, dia hanya beberapa tahun lebih tua darimu. Akan tetapi, dia telah mewarisi ilmu yang mukjijat dari kakek paman gurumu, mendiang supek Ciu Lam Hok di sumur bawah tanah."
"Maaf, Suhu. Teecu mendengar bahwa kakek itu buntung kaki dan tangannya. Dalam keadaan seperti itu, ilmu silat macam bagaimanakah yang dapat beliau ajarkan kepada Sin-ciang Taihiap?"

Lauw Kang Hui menghela napas panjang. "Ilmu yang mukjijat, ilmu yang luar biasa dan tidak ada keduanya di dunia ini. Ilmu itu disebut Bu-kek Hoat-keng dan hanya Sin-ciang Taihiap seorang saja yang menguasainya. Sukar dicari tandingannya."

"Suhu maksudkan bahwa kalau memiliki ilmu Bu-kek Hoat-keng itu, orang akan dapat menjadi jagoan nomor satu di dunia persilatan?"

Lauw Kang Hui mengangguk-angguk. "Mungkin saja. Namun, Yo Han Taihiap bukanlah orang semacam itu. Tidak, dia tidak mau menonjolkan diri, bahkan untuk menjadi ketua Thian-li-pang saja dia menolaknya. Karena dia maka Thian-li-pang harus menjaga diri menjadi perkumpulan yang gagah dan menegakkan kebenaran dan keadilan."

"Teecu sudah mengerti, Suhu. Bolehkah teecu mengundurkan diri sekarang untuk pergi mandi?"
"Nanti dulu, ada satu hal lagi ingin kubicarakan denganmu, Seng Bu."
"Urusan apakah itu, Suhu? Teecu siap mendengarkan."
"Engkau tentu tahu bahwa mengurus Thian-li-pang tidaklah mudah, selain harus ketat mengawasi sepak terjang para anak buah Thian-li-pang, juga harus dapat menghadapi ancaman dari luar. Aku sekarang sudah semakin tua dan lemah, kurang bersemangat. Coba katakan, siapakah di antara para anggota Thian-li-pang yang waktu ini memiliki ilmu kepandaian silat paling tinggi sesudah aku, Seng Bu?"

Siapa lagi kalau bukan aku, bisik hati pemuda itu. Bahkan suhunya sendiri pun tidak akan mampu menandinginya! Akan tetapi mulutnya menjawab tanpa ragu, "Tentu saja Lu-suci, Suhu."

"Tepat sekali Seng Bu. Dan oleh karena itu, kurasa engkau pun akan setuju kalau aku mengangkat suci-mu itu menjadi calon penggantiku, menjadi calon ketua Thian-li-pang, bukan?"
"Teecu setuju, Suhu," katanya sambil menunduk, karena dia harus menyembunyikan lagi tarikan sinis pada mulutnya.
"Melihat hubungan suci-mu dengan suheng-mu Lauw Kin, kurasa mereka akan menjadi pasangan yang akan mampu memimpin Thian-li-pang. Dan engkaulah yang kuharapkan akan dapat membantu mereka. Maukah engkau kini berjanji untuk membantu mereka sekuat tenagamu, Seng Bu? Karena engkaulah orang ke dua yang kupercaya setelah suci-mu."
"Teecu berjanji akan membantu Lu-suci, Suhu."
"Bagus! Kini legalah hatiku. Besok kita adakan upacara besar, mengumpukan seluruh anggota untuk mengumumkan pengangkatan Lu Sek menjadi calon ketua Thian-li-pang, Lauw Kin menjadi wakil ketua dan engkau menjadi pembantu utama. Nah, sekarang engkau boleh pergi."

Pada keesokan harinya, pagi-pagi seluruh anggota Thian-li-pang sudah berkumpul di ruangan besar yang biasa dipergunakan untuk rapat dan juga berlatih silat. Di bawah bimbingan Lauw Kang Hui, Thian-li-pang dalam lima tahun lebih ini sejak kematian Ouw Ban, sudah kembali ke jalan benar. Akan tetapi, banyak anggota yang dikeluarkan dan disaring sehingga kini hanya memiliki sedikit anggota saja. Namun, seluruh anggota itu merupakan orang-orang gagah yang berwatak pendekar dan juga yang berjiwa patriot.

Para anggota yang langsung menjadi murid-murid Lauw Kang Hui hanya ada belasan orang. Yang terutama di antara mereka tentu saja adalah Lu Sek, Lauw Kin, dan Seng Bu. Para murid lain memiliki tingkat yang lebih rendah dari tiga orang ini, walau pun tentu saja mereka jauh lebih lihai dari pada para anggota biasa yang hanya mempelajari ilmu silat Thian-li-pang dari para murid ini.

Selama ini, Lauw Kin yang mewakili pamannya, juga gurunya dan ketuanya, untuk membimbing para anggota dalam berlatih silat. Lu Sek mewakili ketua untuk urusan luar Thian-li-pang. Oleh karena itu, desas-desus tentang akan diangkatnya kedua orang ini menjadi ketua dan wakil ketua, diterima oleh para anggota Thian-li-pang dengan wajar dan gembira karena memang selama ini kedua tokoh itulah yang aktif mewakili sang ketua yang sudah lanjut usia itu mengurusi Thian-li-pang bagian luar dan bagian dalam.

Saat Lauw Kang Hui keluar dari dalam, seluruh anggota Thian-li-pang sudah berkumpul dan tiga belas orang murid ketua itu pun sudah berada di situ. Mereka duduk paling depan dan mereka semua segera bangkit berdiri ketika Lauw Pangcu muncul.

Setelah menerima penghormatan semua murid dan anggota Thian-li-pang, Lauw Kang Hui duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya. Setelah duduk, dia pun memberi isyarat kepada ketiga belas orang muridnya yang mengambil tempat duduk di bangku yang tempatnya lebih rendah. Sementara itu, para anggota Thian-li-pang lainnya tetap berdiri dengan rapi.

Suasana menjadi hening karena semua anggota tidak berani mengeluarkan suara, siap menanti untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh ketua mereka. Juga para murid duduk dengan sikap tenang dan patuh.

"Para murid dan anggota Thian-li-pang semua, dengarlah baik-baik apa yang kukatakan dan laksanakan dengan patuh. Seperti kalian ketahui, lebih lima tahun sejak Sin-ciang Taihiap Yo Han menyerahkan kepemimpinan Thian-li-pang padaku, telah terjadi banyak perubahan. Biar pun dalam hal perjuangan kita belum dapat berbuat banyak, namun kita telah bisa membelokkan arah kemudi dan kembali ke jalan benar sebagai perkumpulan yang membela kebenaran dan keadilan, sesuai dengan apa yang diinginkan Pendekar Tangan Sakti. Akan tetapi, sekarang aku telah semakin tua, usiaku sudah tujuh puluh empat tahun, sudah kekurangan semangat. Sudah lama kita menanti-nanti datangnya Yo Taihiap, akan tetapi dia belum kunjung datang. Oleh karena itu, sekarang aku akan menentukan pilihanku, untuk mengangkat calon-calon pimpinan Thian-li-pang sehingga kalau sewaktu-waktu aku mati, tidak akan terjadi kekacauan karena tidak ada pimpinan. Sementara itu, andai kata nanti Yo Taihiap datang dan tidak setuju dengan pilihanku, maka tentu saja calon yang kupilih ini dapat saja diganti sesuai dengan kehendak Yo Taihiap. Setujukah kalian semua?"

Serentak seratus orang lebih itu menyambut dengan suara yang penuh semangat, "Setujuuuuu...!!"

Sambil tersenyum gembira atas sambutan meriah itu, Lauw Pangcu mengangkat tangan minta supaya semua orang diam, lalu dia melanjutkan dengan suara gembira. "Bagus! Nah, kini hendak kuumumkan siapa yang kupilih menjadi calon pimpinan Thian-li-pang yang akan menggantikan aku sewaktu-waktu jika kukehendaki atau sewaktu-waktu aku meninggalkan dunia. Pertama, yang akan menjadi ketua adalah muridku Lu Sek. Biar pun ia seorang wanita, namun tingkat kepandaiannya adalah yang paling tinggi di antara kalian semua. Pula, dia sudah berpengalaman dan sudah biasa mewakili aku. Ada pun yang menjadi wakilnya kutetapkan murid dan juga keponakanku Lauw Kin. Sedangkan pembantu utama mereka adalah muridku Ouw Seng. Kalau memang kelak dibutuhkan, ketua boleh mengangkat para pembantu lainnya. Setujukah kalian? Kalau ada yang tak setuju, boleh mengajukan pendapatnya!"

Akan tetapi, tidak seorang pun yang menolak dan kembali mereka berseru menyatakan persetujuan mereka. Dan seperti yang telah menjadi kebiasaan perkumpulan itu, segera dilakukanlah upacara sembahyang untuk mengesahkan pengangkatan calon pimpinan Thian-li-pang.

Setelah upacara sembahyang dilakukan, para anggota dipersilakan bubar dan kembali ke tempat masing-masing melakukan tugas sehari-hari. Akan tetapi, tiga orang pimpinan baru itu masih ditahan oleh Lauw Kang Hui untuk diberikan pengarahan serta nasehat-nasehat. Dalam kesempatan ini, Lauw Kang Hui minta kepada tiga orang muridnya itu untuk mulai membawa Thian-li-pang pada cita-cita mereka semula, yaitu menggulingkan pemerintah penjajah Mancu.

"Pemerintah penjajah Mancu sangat kuat, tentu saja dengan jumlah anggota kita yang hanya seratus orang lebih, tak mungkin kita akan mampu melawan bala tentara Mancu. Kita harus bisa menghimpun kekuatan dengan mengajak rakyat jelata untuk menentang penjajah, dan terutama sekali harus bersatu dengan para perkumpulan pejuang lain. Aku ingin sekali mendengar berita dari Thio Cu yang kuutus sebagai wakil Thian-li-pang mengunjungi pertemuan yang diadakan oleh Pao-beng-pai. Kalau benar Pao-beng-pai merupakan perkumpulan anti penjajah, tentu kita boleh bersekutu dengan mereka. Tapi jika Pao-beng-pai hanya merupakan perkumpulan penjahat yang berkedok perjuangan seperti Pek-lian-pai, Pat-kwa-pai, kita tidak perlu mendekati mereka."

Mendengar ucapan gurunya itu, Lu Sek dan Lauw Kin mengangguk-angguk setuju, tapi diam-diam Ouw Seng Bu tidak senang hatinya. Ia berpendapat bahwa itulah kekeliruan Thian-li-pang maka sampai sekarang tidak memperoleh kemajuan, seperti ketika masih dipegang pimpinannya oleh mendiang ayahnya.

Dahulu, Thian-li-pang terkenal dengan keberaniannya, bahkan beberapa kali mencoba untuk membunuh kaisar dan para pangeran Mancu sehingga dulu Thian-li-pang ditakuti dan terkenal sebagai perkumpulan pejuang yang gigih. Namun sekarang, Thian-li-pang hanya tinggal namanya saja.

Yang penting adalah menggulingkan pemerintah Mancu, dan untuk itu, semua kekuatan harus dikerahkan, tidak peduli dari golongan mana pun juga. Biar penjahat, maling dan perampok sekali pun, jika memang mau harus diajak untuk menentang penjajah, harus dianggap kawan seperjuangan.

Juga dia mempunyai pendapat bahwa sesungguhnya, dialah yang paling berhak untuk memimpin Thian-li-pang. Bukan saja karena dia memiliki kepandaian yang paling tinggi di antara mereka semua, melainkan terutama sekali karena dialah keturunan ketua yang dulu.

Kalau dia yang menjadi ketua, dia akan membuat Thian-li-pang menjadi perkumpulan pejuang yang paling hebat. Siapa tahu, justru di tangan dialah penjajah Mancu dapat digulingkan. Dan bukan mustahil pula, kalau dia sudah menjadi jagoan nomor satu di dunia, yang paling lihai di antara semua tokoh persilatan, memiliki pengikut yang paling besar, setelah penjajah roboh, dia yang akan diangkat menjadi kaisar baru! Cita-cita ini muncul dalam hati Ouw Seng Bu semenjak dia mempelajari ilmu rahasia di dalam goa bawah tanah.

Selagi empat orang pimpinan Thian-li-pang itu berbincang-bincang, muncullah Thio Cu yang baru pulang dari perjalanan mengunjungi Pao-beng-pai bersama beberapa orang saudaranya. Kedatangannya tentu saja disambut oleh para anggota Thian-li-pang.

Thio Cu sendiri, sesudah mendengar bahwa Lauw Pang-cu berada di ruangan besar bersama ketiga orang yang baru saja dipilih menjadi calon pimpinan baru, segera pergi menghadap. Sedangkan kawan-kawannya sibuk menceritakan apa yang mereka alami dalam pertemuan yang diadakan Pao-beng-pai.

Lauw Kang Hui gembira sekali ketika melihat Thio Cu datang menghadap. "Aih, baru saja aku membicarakan engkau, Thio Cu," kata kakek itu kepada Thio Cu yang menjadi seorang di antara murid-muridnya. "Cepat ceritakan bagaimana keadaan Pao-beng-pai. Siapa ketuanya dan bagaimana keadaannya. Kuatkah mereka? Apakah mereka adalah perkumpulan pejuang asli seperti kita? Dan apa yang terjadi dalam pertemuan itu?"

"Banyak hal menarik yang terjadi di sana, Suhu, juga ada hal yang aneh-aneh. Ketua Pao-beng-pai bernama Siangkoan Kok, kabarnya dia masih keturunan keluarga kaisar Kerajaan Beng-tiauw. Isterinya bernama Lauw Cu Si, nama keturunannya sama dengan Suhu, dan kabarnya ia adalah keturunan dari partai Beng-kauw yang telah hancur. Ilmu kepandaian mereka amat tinggi, Suhu. Teecu (murid) menyaksikan sendiri betapa ketua Pao-beng-pai itu dalam beberapa jurus saja mengalahkan Thian Ho Sianjin bersama tiga orang tokoh lain yang maju berbareng mengeroyoknya..."

"Wahhh...! Maksudmu Thian Ho Sianjin ketua Pat-kwa-pai itu?" tanya Lauw Kang Hui terkejut.

"Benar, Suhu!"

Lauw Kang Hui terbelalak. Dia sendiri tak akan mampu mengalahkan ketua Pat-kwa-pai itu, dan sekarang, Thian Ho Sianjin dibantu tiga orang kawannya kalah oleh Siangkoan Kok dalam beberapa jurus saja!

"Bahkan kemudian, Kui Thiancu, tokoh Pek-lian-kauw yang terkenal pandai bermain pedang itu, dikalahkan dengan mudah oleh puteri ketua Pao-beng-pai yang bernama Siangkoan Eng. Beberapa orang tokoh lagi yang maju menguji kepandaian pimpinan Pao-beng-pai, semua juga dikalahkan dengan mudah."

"Bukan main!" seru Lu Sek yang juga tertegun seperti gurunya mendengar kehebatan pimpinan Pao-beng-pai.

Diam-diam Ouw Seng Bu juga kagum sekali. Timbul keinginan hatinya untuk mengenal lebih dekat keluarga Siangkoan yang amat lihai itu. Mampukah dia menandingi mereka?

"Bagaimana dengan para wakil perguruan-perguruan silat besar seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Go-bi-pai, Bu-tong-pai dan lain-lainnya?" tanya pula Lauw Pangcu semakin tertarik.
"Empat partai besar itu dianggap sebagai tamu kehormatan dan dipersilakan duduk di kursi-kursi kehormatan sejajar dengan ketua Pao-beng-pai. Perkumpulan itu mengajak semua aliran, baik dari partai bersih mau pun golongan sesat, untuk secara bersama-sama menggulingkan pemerintah penjajah Mancu..."
"Tepat sekali!" tiba-tiba Ouw Seng Bu berseru nyaring sehingga mengejutkan semua orang yang mengenalnya sebagai seorang pemuda yang biasanya pendiam.
"Apanya yang tepat, Seng Bu? Apa maksudmu?" tanya Lauw Kang Hui.

Wajah Seng Bu berubah merah. Dia menyesali diri sendiri kenapa tidak dapat menahan diri. Akan tetapi berkat kecerdikannya yang luar biasa, dia sudah mampu menguasai dirinya dan menyediakan jawaban yang tepat.
"Maksud teecu, perkumpulan yang amat kuat seperti Pao-beng-pai itu tepat sekali untuk dijadikan sekutu menentang penjajah, bukankah begitu Lu-suci dan Suheng?"

Lu Sek dan Lauw Kin mengangguk, akan tetapi Lauw Kang Hui menarik napas panjang. "Belum tentu. Kita harus mengenal benar keadaan mereka. Lalu apa pula yang terjadi di sana, Thio Cu?"

"Ada peristiwa yang pasti akan mengejutkan hati Suhu. Teecu melihat Sin-ciang Taihiap Yo Han berada pula di sana."
"Ahhh...!" Seruan ini keluar dari mulut keempat orang itu. Berita ini sungguh merupakan kejutan besar.
"Apa yang dilakukan Pendekar Tangan Sakti di sana? Ceritakan, Thio Cu, ceritakan!" kata Lauw Kang Hui, tertarik sekali.
"Yo Taihiap termasuk mereka yang ingin menguji kepandaian pimpinan Pao-beng-pai. Kui Thiancu dari Pek-lian-kauw mengenalnya dan memaki Yo Taihiap sebagai iblis dari Thian-li-pang. Teecu kemudian maju membelanya, mengatakan bahwa Yo Taihiap ialah pemimpin Thian-li-pang. Kemudian, Yo Taihiap memperkenalkan diri kepada pimpinan Pao-beng-pai dan bahwa dia memusuhi pemerintah Mancu, juga dia memusuhi ketiga keluarga para pendekar Pulau Es, Gurun Pasir dan Lembah Siluman. Juga dia mencela empat partai besar sebagai para pendekar yang tak bersemangat, tidak mau menentang penjajah. Celaannya memarahkan Ciong Tojin dari Kun-lun-pai dan Lo Kian Hwesio dari Siauw-lim-pai, akan tetapi Yo Taihiap menantang mereka. Dua orang pendeta itu lalu mengeroyoknya, tetapi mereka kalah! Kemudian Hoat Cinjin dari Go-pi-pai mengenal Yo Taihiap sebagai Sin-ciang Taihiap. Ketua Pao-beng-pai tertarik dan dia sendiri pun turun tangan menguji kepandaian Yo Taihiap. Mereka mengadu sinkang dan agaknya mereka sama-sama kuat, sehingga Siangkoan Kok menerima Yo Taihiap sebagai tamu agung dan sahabat yang akan bekerja sama."

Semua orang mendengarkan cerita itu dengan hati tertarik. Kalau tadi mereka kagum terhadap keluarga ketua Pao-beng-pai, kini mereka kagum dan bangga pula terhadap Yo Han yang mereka anggap sebagai pemimpin besar Thian-li-pang.....

"Kalau begitu, Yo Taihiap hendak membawa Thian-li-pang supaya bekerja sama dengan Pao-beng-pai?" tanya Lauw Kang Hui.
"Teecu tidak mengerti, Suhu. Ada yang aneh dalam sikap Yo Taihiap. Pada saat semua tamu berpamitan, ketika teecu bertanya kepadanya kalau teecu bisa membantunya, dia bahkan menyuruh teecu cepat-cepat pergi dan mengatakan agar teecu tak mencampuri urusan pribadinya di sana."
"Urusan pribadi?" Lauw Kang Hui bertanya heran.
"Suhu, kalau benar begitu, tentunya Yo Taihiap tak bermaksud untuk bergabung dengan Pao-beng-pai untuk urusan perjuangan. Mungkin ia hendak minta bantuan Pao-beng-pai untuk menghadapi musuh-musuhnya. Kalau teecu tidak salah dengar, tadi Thio-suheng mengatakan bahwa dia memusuhi para pendekar dari tiga keluarga besar," kata Seng Bu.
"Hemmm, mungkin pendapatmu itu benar, Seng Bu. Bagaimana pendapatmu, Thio Cu? Engkau melihat semua peristiwa di sana, tentu lebih tahu."
"Teecu kira pendapat sute Seng Bu tadi benar. Ketika memperkenalkan diri, Yo Taihiap juga menyatakan bahwa dia amat membenci dan memusuhi dua orang, yaitu Pendekar Suling Naga Sim Houw dan isterinya yang bernama Can Bi Lan, masih bibi guru sendiri dari Yo Taihiap. Dia mengatakan bahwa ayah ibunya tewas karena kedua orang itu dan dia mendendam kepada mereka."
"Jelas bahwa Yo Taihiap memang hendak mengurus persoalan pribadi, maka kita pun tidak boleh tergesa-gesa bekerja sama dengan Pao-beng-pai," kata Lauw Kang Hui.
"Akan tetapi, Suhu, bukankah kalau kita bekerja sama dengan perkumpulan yang kuat itu, maka perjuangan kita akan menjadi lebih berhasil?" Seng Bu bertanya dengan nada memprotes.
"Sute, engkau tahu apa? Kita harus mentaati Suhu dan juga menunggu isyarat dari Yo Taihiap," Lu Sek menegur sute-nya dengan alis berkerut.

Seng Bu menghela napas. "Baik, maafkan aku, Suci. Oya, Suci, kemarin Suhu memberi petunjuk agar aku mengajak Suci untuk menjadi lawan berlatih supaya ilmu-ilmu yang sedang kulatih dapat memperoleh kemajuan." Dia mengalihkan perhatian.

"Aihhh, Sute. Sekarang Thio-suheng sedang bercerita tentang pengalamannya, engkau malah membicarakan urusan latihan."
"Maaf, aku takut lupa..."

Lauw Kang Hui tertawa. "Ha-ha-ha, memang benar, Lu Sek. Aku sudah terlalu tua untuk menjadi pasangannya berlatih. Dan hanya engkau yang dapat melayaninya."

Lu Sek mengangguk dan mengerti. Dia tahu apa yang dimaksudkan oleh sute-nya dan suhu-nya. Memang, ada dua macam ilmu silat guru mereka, yaitu Tok-jiuaw-kang dan Kiam-ciang, hanya diajarkan kepada dia dan sute-nya saja. Selain guru mereka, hanya mereka berdua yang dapat memainkan ilmu itu, maka tentu saja hanya mereka berdua yang dapat menjadi pasangan berlatih.

"Baik, kita bicarakan soal latihan itu lain hari saja, Sute," katanya kepada Seng Bu yang mengangguk sambil tersenyum.

Thio Cu melanjutkan ceritanya mengenai pengalamannya di pertemuan yang diadakan Pao-beng-pai itu. Akan tetapi tak ada yang menarik lagi bagi para pendengarnya karena yang menarik bagi mereka hanyalah tentang Yo Han dan tentang keluarga Siangkoan.

Tentu saja Thio Cu sama sekali tidak tahu bahwa pemuda bernama Cia Ceng Sun yang dia ceritakan itu sesungguhnya adalah seorang pangeran Mancu! Jika saja dia tahu dan menceritakan hal itu, sudah pasti peristiwa dan kenyataan ini akan menarik perhatian para pendengarnya.

Demikianlah, mulai hari ini, walau pun mereka belum ditunjuk sebagai ketua dan wakil ketua secara resmi, baru dicalonkan, namun Lu Sek dan Lauw Kin makin berkuasa di Thian-li-pang, sedangkan Lauw Kang Hui hanya menjadi penasehat saja, walau pun dia masih disebut dan dianggap sebagai ketua.....
********************
Ouw Seng Bu menyelinap ke dalam hutan di kaki Bukit Naga itu, lalu dia duduk di atas batu besar. Belum sepuluh menit dia duduk, terdengar gerakan orang dan dia pun cepat menoleh ke arah suara itu. Muncul seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan yang bertubuh tinggi kurus dan mukanya penuh brewok.

"Paman Su, engkau sudah datang? Bagaimana kabarnya?" tanya Seng Bu tanpa turun dari batu besar.

Laki-laki itu adalah seorang anggota Thian-li-pang, dan dia pun cepat maju menghampiri kemudian memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada.

"Ouw Kongcu (Tuan Muda Ouw), aku ada membawa kabar baik. Pek Sim Siansu sendiri yang mengirim salam untuk Kongcu dan sebagai tanda persahabatan beliau mengirim benda ini kepada Kongcu, dengan harapan agar pertengahan bulan depan Kongcu suka memenuhi undangannya. Kunjungan Kongcu akan disambut dengan gembira."

Tiba-tiba Seng Bu melirik ke arah kanan. Dia mendengar gerakan orang, meski gerakan itu hampir tak bersuara. Dia tahu bahwa ada orang yang mengintai dan mendengarkan percakapannya dengan orang itu. Jantungnya berdebar tegang. Celaka, pikirnya.

Su Kian adalah bekas kepercayaan mendiang ayahnya yang sampai sekarang masih tetap setia kepada ayahnya, walau pun ia telah menjadi anggota Thian-li-pang yang ikut bersumpah untuk kembali ke jalan yang benar dan taat kepada ketua Lauw. Su Kian merupakan satu-satunya orang yang dipercayanya dan siap membantu supaya ia dapat menguasai Thian-li-pang dan memimpin perkumpulan ini seperti mendiang ayahnya dulu, melanjutkan perjuangan ayahnya menentang kerajaan Mancu secara kekerasan. Dan dia telah mengutus Su Kian untuk menghubungi Pek-lian-kauw dan menceritakan kepada pimpinan Pek-lian-kauw akan niatnya untuk bekerja sama setelah dia dapat menguasai Thian-li-pang seluruhnya.

Walau pun dia tahu bahwa ada orang mempunyai kepandaian tinggi yang mengintai dan menyaksikan pertemuannya dengan Su Kian, juga mendengar percakapan mereka tadi, namun Seng Bu bersikap tenang dan mendengarkan laporan Su Kian sampai habis, bahkan ia menerima benda pemberian ketua Pek-lian-kauw kepadanya. Ketika buntalan kain kuning itu dibuka isinya adalah sebuah mainan berbentuk seekor naga yang terbuat dari batu giok! Indah sekali dan tentu berharga mahal bukan main.

Tiba-tiba Seng Bu melemparkan benda indah dan mahal itu ke atas tanah dan dia lalu menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Su Kian sambil memaki-maki dengan suara nyaring dan marah.

"Su Kian, berani engkau membujuk aku untuk menerima uluran tangan Pek-lian-kauw? Engkau pengkhianat, sepantasnya engkau dibunuh!"

Tangannya bergerak cepat sekali dan Su Kian yang terbelalak matanya dan ternganga mulutnya itu tidak sempat mengelak, menangkis atau bahkan mengeluarkan suara apa pun. Totokan itu cepat datangnya dan dia pun terpelanting lemas.

Pada saat itu, muncul sesosok bayangan berkelebat dan Lu Sek sudah berdiri di sana, diikuti Lauw Kin dan di belakang mereka masih nampak bayangan beberapa orang yang berkelebat. Seng Bu hanya mengerling saja, dan pada saat melihat bahwa yang muncul adalah belasan orang saudara seperguruannya yang dipimpin oleh Lu Sek, tangannya kembali bergerak ke depan, mencengkeram ke arah kepala Su Kian dan orang itu pun tewas seketika terkena cengkeraman Tok-jiauw-kang. Mukanya membiru.

"Sute, kenapa engkau membunuhnya?" Lu Sek melompat dekat dan menegur Seng Bu.

Seng Bu mengerutkan alisnya, dia nampak marah sekali. "Pengkhianat ini layak dibunuh seratus kali!" katanya. "Suci, dia mengkhianati kita. Dia mengadakan hubungan dengan Pek-lian-kauw, bahkan membujuk aku untuk bekerja sama dengan Pek-lian-kauw. Lihat, dia hendak menyampaikan pemberian ketua Pek-lian-kauw kepadaku!"

Dia membungkuk dan mengambil mainan berbentuk naga dari batu giok tadi dan sekali mengerahkan tenaga menjempit benda itu di antara kedua tangannya, benda itu pun remuk berkeping-keping dan dilemparkan ke atas tanah dengan pandang mata muak.

Lu Sek masih mengerutkan alisnya dan kini semua murid ketua Thian-lipang sudah berada di situ, menghadapi Seng Bu dengan setengah lingkaran.

"Aku telah mendengarnya. Akan tetapi, kenapa engkau membunuhnya padahal engkau tadi sudah merobohkannya dengan totokan?" bertanya pula Lu Sek dengan sinar mata penuh selidik, sedangkan para tokoh Thian-li-pang lainnya memandang kepada pemuda itu.

Seng Bu memandang ke arah mayat Su Kian dengan alis berkerut. Dia amat marah dan kecewa sekali harus membunuh pembantunya yang paling dipercayanya itu. Terpaksa dia membunuhnya karena yang menyaksikan pertemuannya dengan Su Kian terlalu banyak. Tak mungkin dia membunuh belasan orang ini untuk menutupi rahasianya.

Tadi pun dia sudah sengaja menotoknya, untuk lebih dahulu melihat siapa yang muncul setelah melakukan pengintaian. Kalau hanya satu dua orang saja yang mengintai, tentu dia akan membunuh mereka dan memulihkan pembantunya. Akan tetapi yang muncul belasan orang sehingga dengan hati berat dia terpaksa cepat membunuh Su Kian untuk membungkamnya dan menyimpan rahasianya.

"Suci, tadinya aku ingin menangkapnya dan menyeretnya ke depan Suci. Akan tetapi melihat Suci sudah datang, aku tak dapat menahan kemarahanku dan membunuhnya!"
"Hemmm, memang dia pantas dibunuh, akan tetapi kenapa harus begitu tergesa-gesa? Semestinya engkau membiarkan dia hidup agar dia dapat membuat pengakuan dan kita akan dapat membongkar semua rahasianya, sudah sampai seberapa jauh ia melakukan pengkhianatan dan hubungan dengan Pek-lian-kauw. Sekarang dia telah mati, tentu kita tidak dapat memperoleh keterangan yang berharga."

Melihat suci-nya menegurnya, Seng Bu menundukkan mukanya. "Maafkan aku, Suci, dalam kemarahanku, aku tidak ingat lagi akan hal yang penting itu. Akan tetapi, sebelum aku membunuhnya, dia tadi sudah menceritakan betapa dia mengadakan hubungan dengan pimpinan Pek-lian-kauw dan betapa Pek-lian-kauw ingin menyambung kembali hubungannya dengan kita seperti dulu, mengajak kita bekerja sama untuk menghadapi penjajah. Bahkan dia membujukku dengan hadiah naga kemala yang katanya diberikan kepadaku oleh Pek Sim Siansu ketua Pek-lian-kauw."

"Sudahlah, Sute. Kalau kita bekerja sama dengan Pek-lian-kauw, mereka hanya akan menyeret para anggota kita ke dalam jalan yang sesat, dan melakukan kejahatan demi keuntungan diri sendiri dengan kedok perjuangan. Su Kian sudah menjadi pengkhianat, dan dia sudah terhukum mati. Akan tetapi, satu hal yang membuat aku tidak senang, kenapa engkau melupakan pesan Suhu, Ouw-sute? Lupakah engkau akan pesan Suhu tentang penggunaan Tok-jiauw-kang? Mengapa engkau mempergunakan ilmu itu untuk membunuhnya? Dengan pukulan biasa pun engkau akan sanggup membunuhnya."

Sikap dan ketegasan serta suara suci-nya membuat Seng Bu diam-diam merasa sangat tersinggung. Hemmm, baru saja diangkat menjadi calon ketua, sudah begini tinggi hati dan angkuh, pikirnya. Akan tetapi dia menunduk menyembunyikan pandang matanya, mengambil sikap mengalah dan mengaku salah.

"Maaf, Suci. Karena marah aku menjadi mata gelap dan tanpa sadar mempergunakan ilmu itu. Karena belum menguasai ilmu itu dengan sempurna maka tadi aku kelepasan tangan."

Tentu saja ucapan ini sama sekali bohong, akan tetapi menyenangkan hati Lu Sek yang merasa bahwa tingkat kepandaian sute-nya yang merupakan orang nomor dua di antara para murid suhu-nya, masih jauh di bawah tingkatnya sendiri.

"Harap Suci tidak melapor kepada Suhu agar aku tidak mendapat teguran. Cukup Suci yang menegurku dan aku sudah menyadari kesalahanku."
"Sudahlah, lupakan hal itu. Sekarang ceritakan, bagaimana engkau dapat berada di sini dan mengadakan pertemuan dengan Su Kian. Tadi kami melihat gerakan Su Kian yang mencurigakan, maka diam-diam kami membayanginya karena memang sudah lama aku memperhatikan gerak-geriknya yang mencurigakan."

"Begini, Suci. Malam tadi dia menemuiku dan mengatakan bahwa pagi hari ini dia ingin membicarakan sesuatu yang teramat penting, yang katanya masih menyangkut urusan Thian-li-pang. Tadinya aku merasa heran mengapa dia tidak bicara secara terbuka saja, akan tetapi dia mengatakan bahwa hanya aku yang dia percaya, maka dia minta agar aku datang ke sini sekarang dan dia akan menceritakan kepentingannya itu. Dapat Suci bayangkan betapa kaget hatiku mendengar pelaporannya tentang hubungannya dengan Pek-lian-kauw, dan saat ia membujukku untuk mau bekerja sama dengan Pek-lian-kauw dan memberikan benda itu, aku menjadi marah sekali. Selanjutnya, Suci mungkin telah mendengar dan melihat sendiri."

Lu Sek mengangguk-angguk. "Pengalaman ini agar bisa menjadi peringatan kepadamu, Sute, bahkan kita sama sekali tidak boleh menyimpang dari jalan yang sekarang diambil Thian-li-pang, sesuai dengan pengarahan Yo Taihiap dan bimbingan Suhu selama ini."

Yo Taihiap lagi, Yo Taihiap lagi, demikian Seng Bu mengomel di dalam hatinya. Macam apakah Yo Han itu sehingga semua orang seolah-olah tunduk dan amat taat padanya? Bertahun-tahun tak pernah muncul, tidak melakukan sesuatu untuk Thian-li-pang, akan tetapi semua pimpinan Thian-li-pang selalu menyebut-nyebut namanya penuh hormat!

Mereka lalu kembali ke markas Thian-li-pang setelah Lu Sek menyuruh para sute-nya menguburkan jenazah Su Kian sebagaimana mestinya, di tempat itu juga. Bagi seorang pengkhianat, tidak ada tempat peristirahatan di makam keluarga Thian-li-pang!

Seng Bu ikut pulang dengan wajah biasa, akan tetapi hatinya mengalami tekanan yang berat. Dia terpaksa harus membunuh Su Kian, satu-satunya orang kepercayaannya di Thian-li-pang. Bahkan hanya Su Kian yang tahu bahwa dia telah mewarisi ilmu Bu-kek Hoat-keng. Su Kian pula yang selama ini menjadi perantara baginya untuk berhubungan dengan para pimpinan Pek-lian-kauw.

Dia telah mengambil keputusan untuk mengambil alih pimpinan Thian-li-pang, kemudian bergabung dengan Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, seperti dulu ketika ayahnya masih menjadi ketua Thian-li-pang. Dan sudah cukup lama, melalui Su Kian, dia mengadakan hubungan rahasia dengan para pimpinan Pek-lian-kauw.

Ketika mereka berjalan pulang, Seng Bu melangkah mendekati Lu Sek yang berjalan berdampingan dengan Lauw Kin, yang bukan rahasia lagi kini menjadi sahabat baik dan bahkan kedua orang itu telah merencanakan pernikahan dalam waktu dekat. Hubungan antara janda dan duda yang tidak mempunyai anak dan masih bersaudara seperguruan ini direstui oleh Lauw Kang Hui.

"Suci, aku merasa menyesal sekali atas kejadian tadi...," Seng Bu berkata.

Lu Seng mengerutkan alisnya dan menoleh, memandang kepada sute-nya itu dengan sinar mata heran dan penuh selidik. "Sute, apa sih yang mendatangkan perubahan pada dirimu? Biasanya engkau pendiam, akan tetapi hari ini engkau banyak bicara. Bukankah urusan itu sudah selesai?"

"Aku tetap merasa menyesal sekali telah kelepasan tangan, Suci. Hal itu terjadi karena aku belum menguasai Tok-jiauw-kang sepenuhnya. Aku teringat akan pesan Suhu agar aku mengajak engkau untuk memberi petunjuk dalam latihan. Maukah engkau memberi petunjuk kepadaku, Suci?"
"Hemmm, baiklah. Nanti akan kusediakan waktu untuk itu."
"Bagaimana kalau besok pagi-pagi sekali, Suci? Aku biasa berlatih di dekat sumur tua yang ditutup itu. Di sana amat sunyi dan kurasa latihan ini tidak baik bila sampai terlihat murid lain."
"Baiklah, besok pagi kusediakan waktu."
"Aku akan menunggumu pada saat matahari mulai menyingsing, Suci." Tanpa menanti jawaban suci-nya, Seng Bu kembali menjauhkan diri dan berjalan bersama para murid Thian-li-pang lainnya.

Setelah Seng Bu menjauhkan diri, Lauw Kin berkata kepada Lu Sek, "Kulihat Ouw-sute itu setia kepada Thian-li-pang. Dia tegas dan semangatnya untuk maju besar sekali. Kita beruntung mendapatkan seorang pembantu seperti dia. Kelak ia boleh diharapkan untuk membawa Thian-li-pang maju."

Lu Sek menghela napas. "Tadinya aku juga mengira bahwa Suhu akan mengangkat dia menjadi calon ketua. Dia memang berbakat dan ilmu silatnya maju pesat, hanya di bawah tingkatku saja. Akan tetapi, agaknya Suhu melihat bahwa dia masih terlalu muda dan kadang-kadang wataknya amat aneh. Seperti yang tadi ia lakukan, ia menggunakan Tok-jiauw-kang untuk membunuh Su Kian, padahal ilmu itu merupakan ilmu simpanan yang hanya boleh dipergunakan kalau terpaksa menghadapi lawan berat dan nyawanya terancam saja. Dan dia bahkan mempergunakannya untuk membunuh seorang anggota Thian-li-pang sendiri begitu saja!"

"Akan tetapi, pengkhianat itu memang sudah sepatutnya dibunuh."
"Itu memang benar, akan tetapi dia tak perlu mempergunakan Tok-jiauw-kang. Mungkin karena ia memang belum menguasai ilmu itu dengan sempurna. Ilmu itu memang amat sulit, sama sulitnya dengan ilmu Kiam-ciang. Biarlah besok kuberi petunjuk kepadanya, sesuai dengan perintah Suhu."

Lauw Kin tidak bicara lagi, namun hatinya mengandung kekhawatiran. Tadi dia seperti melihat sinar mata yang aneh dari pandang mata Seng Bu terhadap suci-nya, seperti kilatan mata yang tajam dan dingin.....


********************
Selanjutnya baca
SI TANGAN SAKTI : JILID-07
LihatTutupKomentar