Si Pedang Tumpul Jilid 04


Setelah lewat tiga puluh jurus, mulailah Dewa Pedang terdesak hebat oleh lawannya. Dua kali sudah ujung ranting yang digunakan sebagai pedang itu terbabat putus ujungnya oleh pedang di tangan Bi-coa Sian-li Cu Sui In yang semakin lama semakin ganas mendesak lawannya itu.

Tiba-tiba Cu Sui In mengeluarkan suara mendesis seperti desis seekor ular cobra dan dia sudah mengubah gerakan pedangnya dan mulai memainkan ilmu pedang baru yang amat dahsyat, yaitu Hek-coa Kiam-sut! Begitu dia memainkan ilmu pedang ini, Dewa Pedang terkejut karena dia mengenal ilmu pedang orang amat aneh dan amat berbahaya! 

Gerakan pedang lawan itu seperti seekor ular cobra yang menyerang lawan. Dia berusaha untuk membentuk parisai dengan sinar ranting yang diputarnya cepat sekali, namun tetap saja pedang lawan dapat menerobos masuk dan biar pun dia sudah melempar tubuh ke belakang, tetap saja pundak kirinya tertusuk ujung pedang lawan. 

Kiam-sian Louw Sun tidak mengeluh, akan tetapi dia terhuyung ke depan dan ketika itu pula Dewi Ular Cantik sudah menerjang lagi ke depan, pedangnya berkelebat menyilaukan mata sehingga Dewa Pedang terpaksa meloncat jauh ke atas untuk menghindarkan diri dari ilmu pedang yang gerakannya seperti ular itu! Untuk melindungi diri dari ilmu pedang yang seperti ular itu, satu-satunya cara terbaik adalah berloncatan ke atas seperti seekor burung rajawali ketika menghadapi ular.

Akan tetapi Dewi Ular Cantik sudah bisa menduga taktik ini dan dia pun ikut meloncat ke atas. Ketika berlompatan mereka mengadu pedang dan ranting di udara, lantas keduanya turun lagi dan kembali ujung pedang Cu Sui In telah dapat mencium pangkal lengan kanan Dewa Pedang sehingga bajunya terobek dan kulitnya terluka berdarah.

Sekarang keduanya sudah sampai ke puncak pertandingan, saling mengerahkan tenaga sekuatnya dan mereka lalu meloncat lagi seperti terbang, saling terjang di udara. Namun tiba-tiba saja dari gagang pedang Cu Sui In meluncur jarum-jarum hitam. Serangan jarum-jarum ini merupakan rangkaian serangan pedangnya yang sangat ganas. 

Dewa Pedang sudah mencoba untuk memutar ranting melindungi dirinya, akan tetapi biar pun dia berhasil memukul runtuh semua jarum beracun, dia tidak mampu menghindarkan tusukan pedang lawan yang menghujam lambungnya. Kembali mereka berdua melompat turun dalam jarak yang cukup jauh. Dewa Pedang dapat turun dengan berdiri tegak, akan tetapi perlahan-lahan darah mengalir keluar dari celah-celah jari tangannya ketika tangan kirinya mendekap lambung yang terluka.

"Hyaaattt...!” Dia menggerakkan tangan kanan sambil membalik ke arah Dewi Ular Cantik. Ranting di tangannya itu meluncur seperti anak panah ke arah lawan.

Cu Sui In terkejut sekali, tidak mengira bahwa lawan yang sudah terluka parah itu masih mampu menyerangnya sehebat itu. Dia menggerakkan pedang menangkis dan ranting itu meluncur cepat ke arah pohon lalu menancap ke batang pohon seperti anak panah yang dilepas dari dekat! Akan tetapi itulah serangan balasan terakhir dari Kiam-sian Louw Sun karena dia sudah terkulai roboh.

Dewa Arak cepat menghampiri rekannya kemudian menotok beberapa jalan darah untuk menghentikan darah mengalir keluar. Akan tetapi sesudah memeriksanya, tahulah Dewa Arak bahwa luka yang diderita rekannya itu terlampau parah sehingga tak mungkin dapat disembuhkan lagi. Pedang Dewi Ular Cantik bukan hanya merobek kulit dan daging saja, melainkan telah melukai anggota badan sebelah dalam sehingga tidak mungkin lagi Dewa Pedang dapat ditolong dan diselamatkan.

Sementara itu, melihat rekannya roboh, Pek-mou-sian Thio Ki meloncat ke depan wanita cantik itu. "Siancai..., hatimu benar-benar ganas dan kejam sekali, Bi-coa Sian-li. Dahulu kami mengalahkanmu tanpa melukai, akan tetapi sekarang engkau berusaha membunuh kami.”
"Pek-mou-sian! Terluka atau pun tewas dalam pertandingan sudah menjadi resiko semua orang di dunia persilatan. Hal itu biasa dan wajar, kenapa banyak ribut lagi! Kalau tadi aku yang kalah, tentu aku yang terluka dan mungkin tewas. Nah, sekarang majulah, aku telah siap!" tantang wanita cantik itu.
"Suci, engkau sudah lelah. Biarkan aku maju mewakilimu menghadapi dia!" Tang Bwe Li melompat ke depan, akan tetapi, Cu Sui In mengerutkan alisnya dan membentak.
"Sumoi, mundurlah kau! Ingat, jangan mencampuri urusan ini. Ini adalah urusan pribadiku, kau tahu? Biar andai kata aku terdesak dan terancam maut sekali pun, engkau tidak boleh turun tangan!"

Lili mundur. Dia maklum akan watak kakak seperguruannya, bekas gurunya ini. Cu Sui In memiliki watak persis ayahnya, yaitu See-thian Coa-ong Cu Kiat. Watak yang keras dan gagah, juga tinggi hati dan pantang dianggap curang atau penakut. Karena itulah dia tidak menghendaki sumoi-nya turut mencampuri pertandingannya melawan Sam Sian, apa lagi setelah melihat betapa Tiga Dewa itu tidak mengeroyoknya. 

Kalau tadi Lili mencoba untuk mewakili suci-nya, hal itu adalah karena gadis ini tahu benar betapa suci-nya itu telah lelah karena tadi harus mengerahkan tenaga sepenuhnya ketika melawan Kiam-sian, biar pun suci-nya keluar sebagai pemenang. Dan dia dapat menduga bahwa tingkat kepandaian kakek berambut putih itu tentu setinggi tingkat Dewa Pedang pula. 

Dengan hati khawatir Lili melangkah mundur dan kembali menjadi penonton saja, tidak berani membantu karena kalau dia lancang melakukan hal ini, suci-nya tentu akan marah bukan main karena perbuatannya itu dapat dianggap menghina dan merendahkan harga diri sucinya itu!

Pek-mou-sian Thio Ki maklum akan kelihaian lawan. Tadi dia pun mengikuti pertandingan antara rekannya Dewa Pedang melawan wanita ini dengan teliti dan dia tahu bahwa yang sangat berbahaya adalah ilmu pedang yang gerakannya seperti gerakan ular cobra tadi. Bahkan rekannya yang dijuluki Dewa Pedang dan ahli dalam ilmu pedang saja masih tidak mampu menandingi ilmu pedang ular itu. 

Akan tetapi Dewa Rambut Putih tidak menjadi gentar sama sekali. Bagi dia hidup atau mati bukan hal yang paling penting. Yang terpenting adalah bagaimana dia dapat selalu mengambil jalan yang benar. Kalau sudah benar, mati atau hidup sama saja! Mati karena membela yang benar jauh lebih baik dari pada hidup mempertahankan kejahatan!

“Siancai..!” Ingat baik-kaik, Bi-coa Sian-li, engkau sendiri yang datang ke sini mencari dan menantang kami. Baik kalah atau menang akibatnya adalah tanggunganmu. Kami hanya melayani permintaanmu."
"Aku datang bukan hendak berdebat. Lekas keluarkan senjatamu kalau memang engkau tidak takut menyambut tantanganku!” bentak Cu Sui In.

Dewa Rambut Putih mengeluarkan kipas serta sulingnya. Kipas itu dipegangnya dengan tangan kiri, dan sulingnya dengan tangan kanan. Dia bersikap tenang walau pun waspada, karena dia maklum bahwa orang seperti wanita ini tidak segan menggunakan siasat yang betapa ganas pun, seperti tadi dia menyerang Dewa Pedang dengan jarum beracun yang keluar dari gagang pedangnya.

"Bi-coa Sian-li, aku sudah siap,” katanya.

Baru saja kata-katanya habis, pedang di tangan Cu Sui In sudah menerjangnya dengan dahsyat bukan kepalang. Dewa Rambut Putih mengebutkan kipasnya dan menggunakan sulingnya menangkis.

"Tranggg...!”

Suling menangkis pedang dan kipasnya mengebut ke arah muka lawan. Cu Sui In cepat mengelak dari sambaran angin kipas itu, akan tetapi tiba-tiba saja kipas itu menutup dan gagangnya menotok ke arah pundak Sui In. Totokan dengan gagang kipas itu nampaknya lemah saja, namun sebenarnya di balik gerakan yang lernbut itu terkandung tenaga yang dahsyat. Tahulah Cu Sui In bahwa lawannya amat lihai, sesuai dengan filsafah Agama To yang selalu menekankan bahwa yang kosong itu berisi, bahkan yang kosong itulah intinya karena segala hal baru dapat berarti kalau ada bagiannya yang kosong. 

Lo-cu, nabi Agama To, membuka kesadaran manusia untuk menghargai segala sesuatu yang kosong atau bahkan ‘yang tidak ada’ dengan mengatakan bahwa sebuah roda baru dapat digunakan karena ada bagian kosong di antara jerujinya. Sebuah cawan baru dapat berguna karena ada bagian kosong di dalamnya, dan sebuah rumah baru dapat berguna karena ada bagian yang kosong di dalamnya dan lubang-lubang di pintu dan jendelanya. 

Inilah inti dari ilmu silat yang kini dimainkan Dewa Rambut Putih, nampak lembut namun sesungguhnya sangat kuat!. Karena maklum bahwa lawannya ini tidak kalah berbahaya dibandingkan Dewa Pedang, Cu Sui In tidak mau membuang banyak tenaga. Dia sudah mulai merasa lelah karena tadi pada saat melawan Dewa Pedang dia sudah mengerahkan banyak tenaga sinkang.

“Sssshhh...!" terdengar dia mendesis dan gerakan pedangnya kini sudah berubah menjadi seperti gerakan ular cobra.

Pek-mau-sian Thio Ki sudah siap siaga. Begitu pedang lawan menusuk seperti gerakan ular mematuk, dia pun cepat menangkis dengan sulingnya sambil mengerahkan sinkang.

"Cringgg...!"

Pek-mau-sian terkejut karena tenaga yang terkandung dalam ilmu pedang ular itu bukan main hebatnya, mempunyai tenaga seperti membelit dan menempel sehingga pada waktu dia menarik sulingnya terlepas. Dia terhuyung, namun kipasnya cepat mengebut ke depan sehingga dia mampu menghalangi penyerangan susulan karena bagaimana pun juga, Cu Sui In tidak berani memandang ringan gerakan kipas itu.

Dewa Rambut Putih maklum bahwa ilmu pedang wanita itu mengandung tenaga sinkang yang dahsyat sekali, maka dia pun langsung mengerahkan tenaga sinkang yang biasa dia gunakan untuk ilmu sihirnya. Dalam adu kepandaian ini dia tidak mau menggunakan ilmu sihirnya karena selain belum tentu seorang yang sakti seperti Dewi Ular Cantik itu dapat terpengaruh sihir, juga dia tak mau berlaku curang dengan menggunakan sihir. Bukankah mereka sedang mengadu ilmu silat? Dia hanya membela diri, sama sekali tidak haus akan kemenangan, maka dia merasa malu kalau harus mempergunakan sihir. Akan tetapi dia mengerahkan tenaga sinkang Pek-in (Awan Putih) dari kedua telapak tangan, juga ubun-ubun kepalanya mulai mengepulkan uap putih!

Melihat ini Cu Sui In mendesis-desis makin keras. Gerakannya cepat sekali, pedangnya bagaikan seekor ular cobra, mematuk-matuk dan mengirim serangan bertubi-tubi!

"Siancai...!" Dewa Rambut Putih berseru kagum dan dia harus cepat memutar suling dan mengibaskan kipasnya untuk melindungi dirinya.

Wanita cantik itu memang berbahaya sekali. Bukan saja pedangnya yang berbahaya, juga kuku-kuku jari tangan kiri ikut menyambar-nyambar dan dia maklum bahwa kuku yang kini berubah menghitam itu mengandung racun yang berbahaya, yaitu racun ular cobra hitam. Sekali saja kulitnya tergores kuku sampai robek dan berdarah, racunnya akan memasuki tubuh melalui jalan darah dan akibatnya sama saja dengan kalau orang digigit ular cobra hitam! 

Karena memang tingkat kepandaian Dewa Rambut Putih sama tingginya dengan tingkat Dewa Pedang, maka kembali terjadi pertandingan yang sangat seru dan hebat. Bahkan bagi Cu Sui In, lawannya yang kedua ini lebih tangguh. Hal ini karena tadi Dewa Pedang tidak memegang pedang, hanya menggunakan ranting pohon sebagai senjata, sebaliknya Dewa Rambut Putih memegang sepasang senjatanya sendiri yang pernah membantunya membuat nama besar selama puluhan tahun.

Karena tidak mungkin membela diri hanya dengan mengelak atau menangkis saja kalau berhadapan dengan lawan yang memiliki tingkat kepandaian tidak berselisih jauh dengan tingkatnya sendiri, maka Dewa Rambut Putih juga menggunakan cara membela diri yang paling baik, yaitu dengan cara balas menyerang.

Bagi Tiga Dewa, kalau tidak terpaksa, mereka tidak akan mau menyerang orang, apa lagi membunuh atau melukai. Kini, ketika berhadapan dengan Dewi Ular Cantik, terpaksa dia harus melawan dengan pengerahan seluruh kepandaian dan tenaganya, balas menyerang dengan dahsyat. Kalau saja tidak memiliki tenaga sakti Awan Putih, tentu Pek-mau-sian Thio Ki tidak akan mampu bertahan sampai puluhan jurus.

Sui In yang memang sudah lelah, sekarang dipaksa untuk menguras tenaganya. Wanita ini semakin lelah, leher dan dahinya sudah basah oleh keringat, napasnya agak memburu walau pun permainan pedangnya tidak berkurang ganasnya dan gerakan tubuhnya tidak berkurang gesitnya. Dibandingkan lawannya, seorang pertapa yang usianya sudah enam puluh dua tahun lebih, dia menang dalam beberapa hal. Pertama, dia lebih muda, ke dua dia lebih terlatih dan ke tiga dia lebih bersemangat dan nekat!

Ketika untuk ke sekian kalinya pedang bertemu suling dengan sangat kuatnya, membuat keduanya terdorong dan melangkah ke belakang, Sui In mengubah gerakan serangannya. Dia tidak lagi menyerang dengan gerakan yang lincah seperti tadi, rnelainkan menyerang dengan gerakan yang lambat dan berat.

Hal ini bukan berarti bahwa dia sudah kehabisan tenaga atau napas. Sama sekali tidak! Hanya, kalau tadi dia mengandalkan kecepatan untuk mencoba mengatasi lawan, kini dia mencurahkan seluruh daya serangnya dengan andalan tenaga sinkang dari Ilmu Pedang Ular Hitam. Pedangnya menyambar dengan gerakan lambat dan berat sekali, akan tetapi mengandung angin yang menyambar dengan dahsyat!

Dewa Rambut Putih maklum akan perubahan siasat lawan. Dia pun tidak berani lengah dari sambaran pedang itu, walau pun datangnya lambat, dia elakkan dengan loncatan jauh ke samping lantas dia pun membalas dengan serangan yang sama sifatnya, lambat dan berat. Sulingnya menotok ke arah pergelangan tangan yang kehitaman itu, didahului oleh sambaran kipasnya ke arah muka. Gerakannya mengandung sinkang yang kuat pula. 

Sui In juga mengelak dan mereka serang menyerang dengan gerakan lambat sehingga bagi orang yang tidak paham limu silat tinggi, tentu akan menganggap bahwa keduanya hanya main-main dan tidak berkelahi sungguh-sungguh. Akan tetapi Dewa Arak dan Lili maklum bahwa kini perkelahian itu telah tiba pada keadaan yang gawat dan mati-matian.

Ketika dalam pertemuan antara pedang dan suling yang mengandung tenaga sinkang sepenuhnya membuat Dewi Ular Cantik terhuyung ke belakang, Dewa Rambut Putih mendapatkan kesempatan untuk balas mendesak lawan. Dia tahu betapa berbahayanya wanita ini dan dia harus mampu mengalahkannya kalau ingin dia dan Dewa Arak, mungkin juga dua orang murid mereka, selamat. 

Melihat lawan terhuyung dalam posisi yang tidak menguntungkan, Pek-mau-sian langsung menerjang dengan suling dan kipasnya. Kedua senjata ampuh ini menyambar dari atas, kipasnya rnenotok pergelangan tangan yang memegang pedang sedangkan suling pada tangan kanannya menotok ke arah pundak untuk merobohkan lawan tanpa melukainya.

Namun pada saat itu tubuh Dewi Ular Cantik yang terhuyung itu tiba-tiba tegak kembali. Ketika dia menggerakkan kepalanya, rambut yang hitam panjang itu bagaikan seekor ular telah menyambar ke arah suling, menangkis dan terus melibatnya, sedangkan pedangnya bergerak menyambar arah kipas. Pedangnya merobek kipas dan terjepit di antara gagang kipas! 

Sekarang kedua senjata Dewa Rambut Putih tak dapat digerakkan lagi, dan pada saat itu pula Dewi Ular Cantik yang tadi membuat gerakan terhuyung hanya sebagai siasat saja, mendadak menggerakkan tangan kirinya yang membentuk cakar sehingga kuku-kuku jari tangannya menyambar ke arah tenggorokan Pek-mau-sian Thio Ki!

Tentu saja Dewa Rambut Putih terkejut sekali. Untuk menangkis sudah tidak mungkin lagi karena kedua senjatanya sudah melekat pada rambut dan pedang, dan untuk mengelak, jaraknya sudah terlampau dekat. Serangan itu sangat ganas dan licik, sama sekali tidak disangkanya, maka satu-satunya jalan baginya hanyalah menarik tubuh atas ke belakang dan untuk menyelamatkan diri, dia mengangkat kaki menendang. 

"Crokkk...! Desssss...!"

Cengkeraman tangan kiri dengan kuku hitam itu masuk ke dada Pek-mau-sian, pada detik yang sama dengan tendangan kaki Dewa Rambut Putih itu yang mengenai lambung Dewi Ular Cantik. Tubuh Pek-mau-sian Thio Ki terjengkang pada saat tubuh Bi-coa Sian-li Cu Sui In terlempar ke belakang sampai dua meter jauhnya.

Dewa Arak segera berlari menghampiri rekannya yang roboh terjengkang, sedangkan Lili meloncat menghampiri suci-nya yang tidak roboh, akan tetapi ketika tubuhnya turun, dia terhuyung dan muntahkan darah segar!

Sekali pandang saja Dewa Arak sudah tahu bahwa rekannya, Dewa Rambut Putih, telah tewas seketika. Dadanya menjadi hitam oleh pengaruh racun dari kuku tangan kiri lawan. Rekannya itu tewas tanpa menderita, lebih beruntung dibandingkan Dewa Pedang yang tewas setelah tadi sempat menderita beberapa lamanya. Dua rekannya telah tewas. 

Dewa Arak menarik napas panjang dan sambil meneguk araknya dia memandang ke arah wanita cantik itu. Wanita cantik itu mengibaskan tangan Lili yang hendak menolongnya, bahkan kini telah berdiri tegak walau pun wajah yang cantik itu kini terlihat pucat sekali. 

Dia hendak bicara kepada Dewa Arak, akan tetapi yang keluar dari mulutnya hanya darah lagi, maka dia pun cepat duduk bersila, mengatur pernapasan untuk mengumpulkan hawa murni dan mengobati luka di bagian dalam tubuhnya yang terguncang akibat tendangan Dewa Rambut Putih tadi. Tendangan itu mengandung hawa atau tenaga sakti Awan Putih, maka dapat mengguncang isi perut wanita itu.

"Suci, biar aku yang menghadapi tua bangka yang seorang lagi itu," kata Lili yang sudah siap untuk menyerang Dewa Arak yang masih enak-enak minum arak dari gucinya.

Wanita yang masih duduk bersila itu membuka matanya, memandang kepada sumoi-nya. Sejenak dia tidak bicara karena sedang mengatur pernapasan. Setelah agak reda dia pun berkata lirih. "Sumoi, sudah kukatakan supaya kau jangan ikut campur. Ini adalah urusan pribadiku. Sekarang tidak mungkin aku dapat menantang Dewa Arak, maka biarlah hari ini kubiarkan dia hidup. Lain hari akan kucari dia! Kecuali kalau dia ingin menuntut balas atas kematian dua orang rekannya!"

Mendengar ini, Dewa Arak tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, Dewi Ular, apakah engkau mulai merasa menyesal karena membunuh mereka? Ha-ha-ha-ha, engkau sudah begitu berjasa terhadap dua orang sahabatku, dan engkau menyuruh aku membalas dendam padamu? Ha-ha-ha-ha, sayang engkau terluka, nona. Bila tidak, tentu aku pun akan kau bebaskan dari pada kurungan hidup yang palsu ini. Masih untung ada arak, kalau tidak, alangkah menjemukan, apa lagi setelah dua orang sahabatku pergi."

Cu Sui In bangkit berdiri. Napasnya tidak terengah lagi walau pun mukanya masih pucat. "Jika engkau hendak membalas dendam, biar terluka aku akan melayanimu, Dewa Arak. Kalau tidak, jangan kira bahwa aku melarikan diri karena takut oleh pembalasanmu."

"Ha-ha-ha, engkau memang wanita gagah Dewi Ular. Agaknya engkau hendak menutupi semua kesengsaraan hatimu dengan sikap gagah dan tak mau kalah dengan mengangkat harga diri setinggi mungkin. Aihh, aku kasihan kepadamu, Dewi Ular!"

Mendengar ini Lili mengerutkan alisnya lalu menudingkan telunjuknya ke arah muka kakek itu, “Hei, tua bangka pemabok! Engkau jangan sembarangan berbicara! Katakan kepada muridmu si Kerbau-sapi-kuda-kucing itu bahwa sekali waktu aku akan mencarinya untuk membalas penghinaannya kepadaku sepuluh tahun yang lalu!”

"Sudahlah, sumoi. Dia pemabok akan tetapi ucapannya benar. Mari kita pergi!" kata Cu Sui In. Lili tidak berani membantah, dan kedua orang wanita itu lalu menuruni lembah itu, diikuti pandang mata Dewa Arak yang menggelengkan kepalanya.

Setelah matahari naik tinggi, dari lereng sebelah timur nampak dua orang muda mendaki ke puncak memasuki Lembah Awan Putih sambil membawa bermacam barang belanjaan. Mereka adalah Sin Wan dan Kui Siang yang baru saja pulang dari kota Yin-coan di mana mereka berbelanja bermacam barang untuk menyambut datangnya tahun baru seperti yang diusulkan guru-guru mereka. 

Dengan gembira mereka berlari mendaki tebing yang curam itu. Mereka membeli pakaian, bukan hanya untuk mereka berdua, tapi juga untuk tiga orang suhu mereka. Juga mereka membeli roti kering, daging kering, bumbu-bumbu masak, bahkan membeli pula lima ekor ayam dan telur asin.

Ketika mereka tiba di lembah, mereka melihat suasana di situ sunyi sekali. Biasanya pada tengah hari seperti itu tiga orang guru mereka itu berada di luar pondok dan ada saja yang mereka kerjakan. Namun sekarang suasana di luar pondok sangat sunyi. Ketika mereka menghampiri pondok, mereka mendengar suara Dewa Arak bicara dengan suara lantang.

"Aihh, Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih, sungguh aku merasa iri kepadamu! Kalian mendapat kesempatan untuk lebih dahulu pergi meninggalkan dunia yang sudah menjadi tempat kotor karena ulah para manusia, terbebas dari sengsara badan dan batin. Kalian tewas sebagai orang-orang gagah dan mendapat kehormatan tewas di tangan lawan yang berilmu tinggi. Kalian tidak akan kecewa, akan tetapi aku? Aihh, siapa tahu kelak aku mati digerogoti kuman-kuman kecil. Ahh, sungguh aku iri sekali terhadap kalian!”

Mendengar ucapan itu, tentu saja Sin Wan dan Kui Siang menjadi heran, akan tetapi juga terkejut sekali. Mereka lalu berlari masuk seperti berlomba dan sejenak mereka terpukau, berdiri saja memandang tubuh dua orang kakek yang terbujur kaku di atas pembaringan masing-masing! Dua orang guru mereka itu telah menjadi jenazah!

"Suhuuu...!" Kui Siang menjerit dan melompat, secara bergantian menubruk dua jenazah itu sambil menangis dan memanggil-manggil.

Gadis ini memang sangat sayang kepada tiga orang guru mereka, yang seakan menjadi pengganti orang tuanya. Dan kini ia mendapatkan dua orang di antara tiga gurunya tewas begitu saja. pada hal ketika pagi tadi dia berangkat ke kota Yin-coan bersama Sin Wan dua orang gurunya itu masih dalam keadaan sehat, tidak sakit apa pun.

Sin Wan berdiri sambil menundukkan wajahnya, memejamkan matanya kemudian dengan suara lirih dia pun berdoa. "Ya Allah, mereka berasal dariMu dan kini Engkau berkenan memanggil mereka kembali kepadaMu. Semoga Allah Maha Kasih menerima mereka dan memberi tempat yang penuh bahagia abadi."

Kemudian dia menghampiri Kui Siang yang masih sesenggukan menangisi kematian dua orang gurunya, menyentuh pundaknya dan berkata, "Sumoi, sangat tidak baik menangisi dua orang guru kita yang sudah meninggal dunia. Tidak baik untuk mereka. Hentikanlah tangismu sumoi."

Kui Siang mengangkat mukanya yang basah oleh air mata. "Aduh, suheng... bagaimana aku tak boleh menangis? Hatiku hancur melihat dua orang suhu meninggal dunia dengan mendadak...” Tiba-tiba gadis itu meloncat berdiri dan membalik, memandang Dewa Arak yang masih menghadapi guci arak dan masih tersenyum-senyum itu.

"Aku harus membalas kematian mereka! Suhu, siapa yang membunuh mereka? Katakan, siapa yang membunuh mereka?"

Dewa Arak tersenyum memandang kepada muridnya itu. "Kui Siang, kalau engkau tahu siapa yang membunuh mereka, lalu engkau mau apa?"

"Teecu (murid) akan membalas dendam atas kematian suhu berdua! Teecu akan mencari pembunuh itu dan kubunuh dia!" kata gadis itu sambil mengepal tinju dan meraba gagang pedang Jit-kong-kiam yang tergantung di pinggangnya.
"Kau mau tahu yang membunuh mereka? Yang membunuh adalah Tuhan."

Kui Siang memandang kepada gurunya dengan dua mata terbelalak "Tuhan? Suhu, apa maksud suhu? Teecu tidak mengerti...!”

"Ha-ha-ha-ha!" Dewi Arak meneguk lagi arak dari gucinya, Sin Wan mendekati sumoi-nya.
"Sumoi, suhu berkata benar. Kematian kedua orang suhu, atau kematian siapa pun juga di dunia ini, baru dapat terjadi kalau memang dikehendaki Tuhan! Tanpa kehendak Tuhan, siapa yang akan mampu membunuh siapa? Segala kehendak Tuhan pun jadilah, sumoi!"
"Ha-ha-ha, suheng-mu benar, Kui Siang. Nah, kalau yang membunuh dua orang gurumu ini Tuhan, apakah engkau juga mendendam kepada Tuhan dan hendak membunuh Tuhan untuk membalas dendam?"

Kui Siang tertegun dan menjadi bingung. "Tetapi... tetapi... bagaimana Tuhan membunuh kedua guruku ini? Teecu bingung, suhu, tidak mengerti dan mohon penjelasan. Apa yang telah terjadi sampai kedua orang suhu ini meninggal dunia?"

"Duduklah dengan tenang, Kui Siang. Hentikan tangismu dan marilah kita antar kematian Kiam-sian dan Pek-mau-sian dengan percakapan tentang kematian agar engkau mengerti. Sin Wan, apa bila ada yang terlewat, kau lengkapi keteranganku kepada sumoi-mu. Nah, Kui Siang. Setiap manusia dilahirkan dan kemudian mengalami kematian. Kelahiran dan kematian setiap orang berada di tangan Tuhan, telah dikehendaki oleh Tuhan! Tentu saja, seperti juga segala peristiwa di dunia ini, kelahiran dan kematian pun ada penyebabnya yang hanya menjadi jalan atau lantaran saja. Tentu saja Tuhan tidak mengulurkan tangan seperti kita untuk mencabut nyawa seseorang, tetapi melalui suatu sebab. Ada kematian karena penyakit, ada kematian karena bencana alam, ada pula kematian karena bunuh membunuh, baik dalam perang atau pun dalam perkelahian. Kita harus menghadapi setiap kematian sebagai satu hal yang wajar, sebagai bukti bahwa hidup di dunia ini tidak abadi, dan bukti bahwa Tuhan Maha Kuasa dan tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang akan mampu menghindarkan kita dari kematian apa bila Tuhan sudah menghendakinya. Sebaliknya, tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang dapat membunuh kita apa bila Tuhan tidak menghendaki kita mati! Nah, kalau kematian itu ditentukan oleh Tuhan, maka setiap kematian, kalau ditanya pembunuhnya, maka pembunuhnya adalah Tuhan! Kalau kita hendak mendendam, maka kepada Tuhanlah dendam itu ditujukan dan itu merupakan dosa yang teramat besar!"

"Tapi, suhu! Yang melakukan pembunuhan adalah manusia lain, walau pun kematian itu di tangan Tuhan!" bantah Kui Siang, "Kalau ada orang membunuh orang lain yang tidak berdosa, maka si pembunuh itulah yang bertanggung jawab dan dia harus dihukum!"

"Ha-ha-ha-ha, tentu saja! Dan kau bicara tentang hukum. Setiap dosa tidak akan dapat bebas dari hukuman Tuhan, dan ada pula hukuman manusia, yaitu hukum yang diadakan oleh negara, oleh masyarakat, oleh agama. Tetapi membalas dendam tidak termasuk di dalam hukum apa pun, kecuali hukum nafsu setan, hukum kebencian, Andai kata kedua orang gurumu ini mati karena suatu penyakit, karena kuman, apakah engkau juga akan membalas dendam kepada kuman, kepada penyakit? Andai kata kedua orang gurumu ini mati karena banjir, apakah engkau juga akan mendendam kepada air? Kalau mati karena terbakar, apakah engkau akan mendendam kepada api? Dan masih banyak lagi penyebab kematian yang banyak menjadi lantaran saja."

Kui Siang tertegun sehingga sejenak dia bengong saja. Dia merasa bulu-bulu tengkuknya meremang, melihat kenyataan yang sama sekali tak pernah dipikirkan sebelumnya.....

"Tapi... tapi... bila dua orang suhu dibunuh orang jahat, apakah teecu harus mendiamkan saja orang jahat itu membunuh dua orang suhuku? Apakah teecu harus mendiamkan pula penjahat itu merajalela menyebar maut, membunuhi orang-orang yang tidak berdosa?"
"Sumoi, bukan begitu maksud suhu. Tentu saja kita harus menentang setiap perbuatan jahat. Kalau kebetulan kita melihat penjahat yang sudah membunuh dua orang guru kita, atau membunuh siapa pun juga, atau penjahat lain yang mana pun juga, bila kita melihat dia melakukan kejahatan, sudah menjadi kewajiban kita untuk mencegah perbuatan jahat itu dilakukan. Akan tetapi kita menentang dan memberantas kejahatan hanya didasarkan membela kebenaran dan keadilan, bukan demi membalas dendam karena kebencian atau sakit hati."

Kui Siang mengangguk-angguk. Setelah mendengarkan penjelasan suheng-nya tadi, baru sekarang dia teringat akan ajaran-ajaran dari kedua orang gurunya yang kini sudah rebah telentang tanpa nyawa itu.

"Nah, engkau mulai mengerti agaknya, Kui Siang. Kita harus mengetahui bahwa budi dan dendam, kedua-duanya merupakan belenggu pengikat kita kepada hukum karma. Hukum karma merupakan mata rantai yang tiada berkeputusan selama kita terikat oleh belenggu tadi.”
"Suhu, mohon dijelaskan tentang karma."

"Hukum karma adalah hukum sebab akibat, Kui Siang. Ada akibat tentu ada sebabnya, dan akibat itu dapat menjadi sebab baru lagi sehingga mata rantai itu menjadi sambung menyambung tiada berkeputusan. Sama halnya jika engkau menendang sebuah batu dari puncak bukit, batu itu menjadi sebab tergelincirnya batu ke dua. Akibat ini menjadi sebab lain lagi karena batu ke dua menimpa batu ke tiga dari selanjutnya."
"Kalau begitu kita tidak berdaya, suhu. Kita menjadi permainan karma, menjadi permainan hukum sebab dan akibat."

"Jika kita membiarkan diri terikat, memang demikian, Kui Siang. Akan tetapi Tuhan Maha Kasih kepada kita. Tuhan sudah memberi alat yang serba lengkap kepada kita manusia, yaitu dengan nafsu-nafsu untuk mempertahankan hidup, dengan hati dan akal pikiran, juga menyertakan pula kesadaran jiwa. Kekuasaan Tuhan akan membimbing kita, Kui Siang, menyadarkan kita sehingga kita bisa mematahkan ikatan belenggu sebab akibat dan tidak terseret oleh berputarnya roda karma."

"Mohon penjelasan, suhu, berilah contohnya."
"Sin Wan, aku ingin mendengar apakah engkau sudah mengerti benar. Coba engkau saja yang menerangkan kepada sumoi-mu."
“Baik, suhu. Akan tetapi bila ada kekeliruan harap suhu suka membetulkan dan memberi penjelasan. Sebelumnya teecu harap suhu suka memberi tahu, bagaimana kedua orang suhu ini sampai tewas agar dapat teecu gunakan sebagai contoh tentang ikatan belenggu karma."

Dewa Arak menarik napas panjang. "Pada waktu kalian turun dari lembah tadi, dan kami bertiga sedang duduk di luar pondok menikmati cahaya matahari pagi, muncullah Bi-coa Sian-li Cu Sui In bersama seorang gadis yang disebutnya sumoi.''

"Siapakah Bi-coa Sian-li Cu Sui In itu?” Kui Siang bertanya.
"Sumoi, dia adalah seorang tokoh kang-ouw wanita yang pada sepuluh tahun yang silam pernah mencoba untuk merampas pusaka-pusaka istana dari tangan guru-guru kita," kata Sin Wan yang masih ingat kepada wanita galak itu, juga ingat kepada anak perempuan yang ketika itu mengaku sebagai murid Dewi Ular Cantik. 

"Sepuluh tahun yang silam wanita itu gagal merampas pusaka dari kami, dan kekalahan sepuluh tahun yang lalu itu membuat dia menaruh dendam. Dia datang mencari kami dan menantang kami untuk bertanding satu lawan satu untuk menebus kekalahannya sepuluh tahun yang lalu. Tentu saja kami tidak menanggapi, akan tetapi dia memaksa dan akan membunuh kami apa bila kami tak mau menyambut tantangannya. Tentu saja kami tidak mau dibunuh begitu saja sehingga mati konyol. Maka Kiam-sian kemudian menyambut tantangannya."

"Tapi Louw-suhu (guru Louw) sudah mengatakan tidak akan bertanding lagi, dan beliau telah menyerahkan Jit-kong-kiam kepada teecu dan Pedang Tumpul kepada suheng!" seru Kui Siang, lalu dia menoleh dan memandang ke arah wajah jenazah Kiam-sian Louw Sun.

Dewa Arak tersenyum. "Bagi seorang ahli pedang seperti Kiam-sian, setiap benda yang berbentuk pedang dapat saja menjadi senjata pengganti pedang. Dia melawan Dewi Ular itu dengan sebatang ranting pohon."

"Ahhh...! Dan Louw-suhu melawannya dengan ranting, sedangkan lawan mempergunakan pedang pusaka?” teriak Kui Siang.
"Bukan hanya karena itu. Akan tetapi memang harus kami akui bahwa ilmu kepandaian Dewi Ular Cantik tidak dapat disamakan dengan tingkatnya sepuluh tahun yang lalu. Dia lihai bukan main dan akhirnya, sesudah melalui pertandingan yang seru dan hebat, guru kalian Kiam-sian Louw Sun tewas di tangan Dewi Ular Cantik."

Wajah Kui Siang menjadi merah, akan tetapi dia masih menahan kemarahannya. "Apakah Thio-suhu (guru Thio) juga tewas oleh iblis betina itu, suhu?”

Dewa Arak mengangguk. "Setelah Dewa Pedang roboh. Dewa Rambut Putih lantas maju melawan Dewi Ular Cantik. Pertandingan antara mereka lebih seru dan sebenarnya Dewi Ular telah kehabisan tenaga. Akan tetapi ia memang lihai dan mempunyai banyak siasat. Akhirnya, dengan memakai rambutnya sebagai senjata. Dewi Ular berhasil merobohkan dan menewaskan Dewa Rambut Putih walau pun dia sendiri terkena tendangan Pek-mau-sian dan menderita luka dalam yang cukup parah. Dalam keadaan terluka dia dan sumoi-nya lalu pergi."

"Iblis betina keparat!" Kui Siang bangkit lagi kemarahannya yang sejak tadi ditahannya.
"Hemm, mau apa engkau, Kui Siang?!" bentak Dewa Arak, sekali ini tidak tertawa lagi.

Kui Siang sadar, lalu membalik dan menjatuhkan diri berlutut di hadapan gurunya sambil menangis. "Suhu, ampunkan teecu...,“ katanya di antara isaknya.

"Suhu, Maafkan sumoi," kata Sin Wan. "Teecu sendiri juga merasa panas di hati. Suhu. Teecu dan sumoi hanyalah manusia-manusia biasa yang tidak mungkin dapat begitu saja membebaskan diri dari pada nafsu perasaan. Teecu berdua amat menyayang Louw-suhu dan Thio-suhu, tentu hati ini sakit sekali mendengar ada orang membunuh mereka. Teecu sendiri mengerti bahwa perasaan ini hanya permainan nafsu dan tidak benar kalau teecu menurutkannya, akan tetapi mungkin sumoi belum mengerti benar."
"Heh-heh-heh, karena itu kau jelaskan padanya tentang karma tadi, Sin Wan."

"Begini sumoi. Jika kita mau menelusuri secara teliti, maka kematian dua orang guru kita yang tercinta hanya merupakan akibat dari pada sebab-sebab yang lalu. Bila kita telusuri, maka sebab-sebab itu kait-mengait seperti mata rantai. Mereka tewas sebagai akibat dari pembalasan dendam Dewi Ular Cantik yang pernah mereka kalahkan dalam perkelahian pertama. Perkelahian pertama itu menjadi sebab perkelahian ke dua ini. Dan perkelahian pertama itu pun adalah akibat dari sebab yang lain, yaitu karena guru-guru kita bertugas merampas kembali pusaka dari istana. Tugas itu pun ada sebabnya, yaitu karena guru-guru kita adalah tokoh-tokoh dunia persilatan yang dimintai tolong oleh kaisar dan ketua perkumpulan persilatan. Nah, bila ditelusuri terus, maka sebab-sebab yang menjadi mata rantai itu tidak akan ada habisnya, sumoi."
"Ha-ha-ha-ha, mungkin yang menjadi sebab pertama adalah karena... dahulu kami bertiga dilahirkan di dunia ini! Kalau kami tidak dilahirkan, mana mungkin akan terjadi semua itu? Ha-ha-ha!"

"Demikianlah, sumoi. Sebab akibat yang disebut karma ini merupakan mata rantai yang tiada putusnya, dan masih akan berkepanjangan kalau kita tidak menghentikannya agar mata rantai itu putus. Contohnya begini. Kematian kedua orang guru kita menjadi akibat yang dapat menjadi sebab lain, yaitu apa bila kita menaruh dendam sakit hati. Mungkin kita lantas mencari Dew Ular Cantik dan kita berusaha membunuhnya untuk membalas dendam atas kematian kedua orang guru kita. Katakanlah kita berhasil sehingga dia mati di tangan kita, mata rantai itu tidak akan habis. Mungkin ada saudaranya, gurunya, atau muridnya yang merasa sakit hati dan mendendam kemudian mencari kita untuk menuntut balas, demikian seterusnya."

"He-he-heh, kemudian muridnya atau anaknya saling mendendam dan saling membalas, saling bermusuhan, maka timbullah perang! Nafsu itu seperti api, bila dibiarkan merajalela maka dari sepercik bunga api dapat menjadi lautan api yang membakar dunia ha-ha-ha!"
"Begitulah, sumoi. Walau pun hati kita panas, namun pengertian ini harus kita laksanakan di dalam kehidupan. Kita hentikan rangkaian karma ini sampai di sini saja. Kita patahkan mata rantai ini supaya kita tidak terikat belenggu karma. Tidak seharusnya kita menaruh dendam kebencian kepada Dewi Ular Cantik."
"Aku mengerti, suheng," kata Kui Siang dan kini suaranya terdengar tenang. "Akan tetapi apakah kita harus mendiamkan saja orang-orang jahat dan kejam seperti Dewi Ular Cantik itu berkeliaran begitu saja menyebar maut di antara orang-orang yang tidak berdosa? Kita berpeluk tangan begitu saja?”

"Ha-ha-ha-ha, anak manis. Tentu saja tidak! Kalau kalian diam saja, lalu untuk apa kalian menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari Ilmu dari Sam Sian? Kalian harus turun tangan menegakkan kebenaran dan keadilan, membela yang benar dan yang lemah tertindas, menentang yang jahat dan yang lalim. Akan tetapi ingat. yang kalian tentang bukanlah pribadinya, melainkan perbuatannya. Kalian menentang orang jahat berdasarkan jiwa pendekar, bukan karena sakit hati, bukan karena dendam, dan sama sekali bukan karena membenci seseorang. Perbuatan yang berdasarkan kebencian adalah perbuatan yang terdorong oleh nafsu, dan semua perbuatan yang terdorong oleh nafsu tentu akan menjadi mata rantai hukum karma."

"Terima kasih, suhu, teecu mulai mengerti. Teecu juga masih ingat akan semua ajaran budi pekerti yang pernah teecu terima dari mendiang Louw-suhu dan Thio-suhu. Teecu harus menjadi seorang pendekar yang selalu mengambil jalan benar, taat kepada perintah Tuhan yang diperuntukkan manusia lewat agama dan ajaran-ajaran para budiman, teecu harus berperikemanusiaan, harus menjunjung keadilan, menolong sesamanya, berpribudi baik dan hidup rukun dan saling bantu, harus..."

"Kui Siang, dan kau juga Sin Wan. Segala ajaran memang baik, akan tetapi kalian ingat baik-baik. Pokok dari pada semua ajaran itu adalah bahwa kita harus. Ber-TUHAN! Ber- Tuhan bukan hanya di mulut, melainkan ber-Tuhan dengan seluruh jiwa raga, tercermin di dalam hati akal pikiran, dalam kata-kata dan dalam perbuatan. Ber-Tuhan bukan berarti munafik, melainkan kita menyembah dan berbakti kepada Tuhan setiap saat, setiap detik ingat kepada Tuhan sehingga segala apa yang kita pikir, kita katakan, kita lakukan selalu dibimbing oleh kekuasaan Tuhan Yang Maha Kasih. Orang yang ber-Tuhan, benar-benar ber-Tuhan, sudah pasti dia itu berperikemanusiaan, sudah pasti dia itu adil dan berpribudi baik, tolong-menolong dan hidup rukun dengan sesama, sudah pasti dia itu tidak kejam. Pendeknya, orang yang ber-Tuhan sudah pasti hatinya bersih dan baik! Sebaliknya, orang yang berbuat baik, yang mengaku berperikemanusiaan, mengaku adil, belum tentu dia itu ber-Tuhan. Bila demikian keadaannya, maka semua kebaikannya itu berdasarkan nafsu, semua kebaikannya itu munafik dan palsu, karena tentu didasari pamrih demi keuntungan dan kepentingan diri pribadi! Tapi orang yang ber-Tuhan akan melakukan segala sesuatu demi baktinya terhadap Tuhan, sebagai dharma sehingga semua perbuatannya itu tanpa dikotori pamrih demi keuntungan diri pribadi. Mengertikah kalian?"

"Teecu mengerti, suhu," kata Sin Wan.

Kui Siang hanya mengangguk karena pengertiannya belum mendalam, bahkan dia masih agak bingung. Sejak kecil dia telah banyak menderita, yaitu semenjak dia berusia sepuluh tahun. Ayahnya dibunuh penjahat yang mencuri pusaka istana, tak lama kemudian ibunya meninggal pula karena duka dan jatuh sakit. Para paman dan bibinya adalah orang-orang yang berambisi untuk mengambil bagian dari harta warisan orang tuanya. Sejak kecil dia sudah banyak menderita dan kecewa. 

Dan kini, sesudah selama sepuluh tahun hidup bersama tiga orang gurunya, menyayangi mereka seperti orang tua sendiri, dua di antara tiga orang gurunya kembali dibunuh orang! Dan kalau dia menderita sakit hati dan mendendam, hal itu tidaklah benar! Terjadi perang dalam batinnya yang membuat dia merasa ragu dan bingung.

Tiba-tiba Dewa Arak tertawa. "Ha-ha-ha-ha, sudah cukup kita berbicara seperti pendeta-pendeta tua perenung! Kita harus membuat persiapan. Kita kubur jenazah Kiam-sian dan Pek-mau-sian di lembah ini, kemudian kalian ikut dengan aku pergi meninggalkan Pek-in-kok."

"Meninggalkan Pek-in-kok? Kita akan pergi ke mana suhu?" tanya Sin Wan yang merasa heran.
"Kita pergi ke tempat lain yang tidak diketahui orang, supaya Dewi Ular Cantik tidak akan dapat menemukan kita."
"Tapi, suhu!" Kui Siang berkata dengan penasaran sekali. "Mengapa kita harus melarikan diri dari iblis betina itu? Memang kita tidak perlu mendendam kepadanya, akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa kita takut padanya sehingga kita harus lari dan menyembunyikan diri!" 

Sekali ini Sin Wan juga berpihak sumoi-nya. Walau pun dia tidak berkata sesuatu, namun pandang matanya terhadap Dewa Arak juga menuntut penjelasan.

"Heh-heh, kau kira aku takut menghadapi Dewi Ular Cantik? Sama sekali tidak takut, juga aku tidak suka melihat kalian takut kepadanya atau kepada siapa pun juga. Rasa takut kita harus kita tujukan hanya kepada Tuhan saja, takut kalau sampai kita terseret nafsu melakukan hal yang tidak benar dan tidak berkenan kepada Tuhan! Tidak, aku mengajak kalian pergi dari sini supaya kalian dapat melatih ilmu kami secara tekun dan tenang tanpa ada gangguan selama satu tahun. Setelah kalian menguasai Sam-sian Sin ciang (Tangan Sakti Tiga Dewa), baru hatiku tenteram dan kalian boleh turun gunung."

"Sam-sian Sin-ciang?" tanya Kui Siang. "Teecu belum pernah mendengarnya dari suhu bertiga."
"Itulah hasil ketekunanku selama beberapa tahun ini. Sayang sekali Kiam-sian dan Pek-mau-sian sudah terlalu malas untuk mempelajari dan melatih ilmu ini. Andai kata mereka mengusainya, bagaimana mungkin Dewi Ular Cantik mampu mengalahkan mereka!"

Dewa Arak bersama dua orang muridnya lalu mengubur dua jenazah itu di Lembah Awan Putih, kemudian menyembahyangi dua makam itu dengan hormat walau pun sederhana. 

Setelah tiga hari jenazah itu dikuburkan, pada hari ke empat mereka meninggalkan Pek-in-kok, menuju ke sebuah tempat yang hanya diketahui oleh Dewa Arak sendiri. Di situ dia menggembleng dua orang muridnya, mengajarkan ilmu baru yang selama bertahun-tahun disusunnya dari inti sari ilmu Tiga Dewa. 

Dalam Sam-sian Sin-ciang ini termasuk unsur-unsur dari llmunya sendiri seperti Ciu-sian Pek-ciang (Tangan Putih Dewa Arak), Thian-te Sinkang (Tenaga Sakti Langit Bumi) dan Hui-nio Poan-soan (Langkah Berputaran Burung Terbang). Dari ilmu silat milik Kiam-sian dia mengambil inti sari dari Jit-kong Kiam-sut (Ilmu Pedang Cahaya Matahari) serta ilmu menotok jalan darah Kiam-ci (Jari Pedang), dan dari Pek-mau-sian dia mengambil inti sari Pek-in Hoat-sut (Sihir Awan Putih) dan Sin-siauw Kun-hoat (Silat Suling Sakti). 

Dari semua ilmu ini yang sudah diambil inti sarinya, dia menciptakan Sam-sian Sin-ciang dan ilmu inilah yang dia ajarkan kepada Sin Wan dan Kui Siang. Kalau yang mempelajari ilmu Sam-sian Sin-ciang ini orang lain, betapa pun pandainya dia, tentu akan memerlukan waktu bertahun-tahun saking sulitnya. Tetapi karena dua orang muda itu sudah mengenal semua ilmu yang digabungkan menjadi ilmu silat sakti itu, tentu saja mereka lebih mudah mempelajarinya dan dalam waktu setahun, setelah berlatih dengan tekun, mereka dapat menguasai ilmu itu dengan sebaiknya…..

********************
Harus diakui oleh sejarah bahwa semenjak kekuasaan penjajah Mongol dienyahkan oleh pasukan rakyat yang dipimpin pemuda petani Cu Goan Ciang yang kemudian mendirikan Dinasti Beng dan menjadi Kaisar Thai-cu, Tiongkok dapat dipersatukan kembali. Di bawah pimpinan Jenderal Shu Ta, tangan kanan Kaisar Thai-cu, sisa-sisa pasukan Mongol yang masih berada di wilayah Cina berhasil dipukul mundur sampai mereka kembali ke tempat asal mereka di utara, yaitu daerah Mongol. 

Setelah sampai di daerahnya sendiri barulah orang-orang Mongol dapat mempertahankan diri. Daerah yang sangat keras dan sukar itu menyulitkan pasukan yang dipimpin Jenderat Shu Ta sehingga dia hanya dapat membersihkan daerah kekuasaannya dari orang-orang Mongol, namun tidak mampu menumpas Bangsa Mongol di daerah mereka sendiri.

Biar pun berasal dari keluarga petani, akan tetapi sesudah menjadi kaisar ternyata Kaisar Thai-cu mempunyai kemampuan memimpin yang mengagumkan. Hal ini karena dia amat pandai mempergunakan tenaga orang-orang yang ahli dalam bidang masing-masing dan menghargai para cerdik pandai sehingga dengan bantuan orang-orang yang ahli, dia pun mampu mengendalikan pemerinlahan dengan baik. 

Kedudukan kaisar ini sangat kuat karena dia adalah orang yang telah mampu dan berhasil meruntuhkan kekuasaan penjajah Mongol sehingga sudah mengembalikan harga diri dan kedaulatan bangsa. Jasa ini saja sudah membuat dia dikagumi dan dihormati oleh seluruh rakyat, tidak peduli dari golongan mau pun suku bangsa apa saja, karena bukankah dia yang sudah membebaskan rakyat semua suku dan golongan itu dari penindasan penjajah Mongol?

Juga Kaisar Thai-cu yang dahulunya bernama Cu Goan Ciang ini memanfaatkan akar dari pohon pemerintahannya, yaitu bala tentara dan rakyat jelata. Ia merangkul keduanya. Dia menghargai jasa bala tentaranya, menjamin kehidupan keluarga mereka, menambah daya kekuatan mereka dengan menggembleng seluruh prajurit dengan ilmu-ilmu perang, tidak pelit membagi-bagi hadiah, dan pandai menghargai jasa setiap orang prajurit. Juga kaisar ini merangkul rakyat, memperhatikan kehidupan rakyat jelata, menyuburkan perdagangan dengan membuka pintu selebar-lebarnya. 

Dia membangkitkan semangat membangun dalam segala bidang karena semangat rakyat harus disalurkan dan penyaluran yang paling sehat dan menguntungkan bangsa hanyalah semangat membangun! Di samping itu, Kaisar Thai-cu juga mempergunakan tangan besi untuk menertibkan keamanan, menjaga ketenteraman kehidupan rakyat serta menumpas semua golongan yang sifatnya hanya menjadi perusak dan penghalang pembangunan.

Pada masa itu, gangguan yang terbesar bagi kerajaan baru Beng-tiauw adalah rongrongan dari orang-orang Mongol yang tentu saja masih merasa penasaran dan ingin menegakkan kembali kekuasaan mereka yang telah hancur. Mereka melakukan gangguan di sepanjang perbatasan barat dan utara. 

Di samping gangguan dari orang-orang Mongol ini, yang tidak segan-segan menggunakan segala daya untuk bersekutu dan membujuk pejabat-pejabat daerah untuk memberontak, juga pemerintah sedang menghadapi rongrongan dari para bajak laut yang merajalela di lautan timur. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Jepang yang terkenal sebagai bajak laut yang tangguh. 

Karena sulit sekali untuk membasmi bajak laut ini yang mempunyai daerah pelarian yang sangat luas di lautan apa bila dikejar, maka Kaisar Thai-cu bersama para penasehatnya memberikan perhatian yang serius terhadap keadaan rakyat di pantai-pantai yang menjadi sasaran para bajak laut. Para penduduk pantai itu ditampung dan dlpindahkan ke daerah pedalaman sehingga menyulitkan para bajak laut untuk mengganggu mereka.

Demikianlah, di bawah pimpinan Kaisar Thai-cu yang bijaksana, tentu saja sebagian besar rakyat mendukungnya dan Kerajaan Beng (Terang) menjadi benar-benar gemilang. Tetapi di dunia yang dwimuka ini tentu saja tidak ada yang sempurna. Demikian pula dengan keberhasilan yang dicapai Kaisar Thal-cu. Ada saja golongan yang merasa tidak puas.

Mereka ini sebagian besar adalah mereka yang di waktu pemerintahan penjajah berhasil menduduki pangkat yang tinggi dan kehidupan yang mewah dan mulia. Setelah Kerajaan Goan-tiauw, yaitu kerajaan penjajah Mongol runtuh, maka runtuh pula kedudukan mereka, bahkan banyak juga di antara mereka yang menjadi korban perang, sebagai pihak yang membela kerajaan penjajah yang kalah. 

Ada pula golongan yang tidak puas kerena merasa tidak mendapatkan bagian dari hasil kemenangan pemerintah Beng-tiauw. Ada pula golongan hitam dan kalangan sesat yang merasa tersudut karena pemerintah menggunakan tangan besi menentang kejahatan dan memberi hukuman berat kepada para pengacau. Ada pula pejabat daerah yang merasa bahwa jasanya lebih besar dari pada kedudukan yang mereka peroleh sehingga mereka ini condong untuk merasa tak puas dan mudah dihasut golongan yang tidak suka kepada pemerintah baru.

Golongan-golongan itu adalah orang-orang yang lebih mementingkan diri sendiri dari pada kepentingan negara dan bangsa, yang mudah saja dibujuk oleh orang-orang Mongol untuk mengadakan persekutuan! Akan tetapi golongan rakyat yang menentang pemerintahan ini diimbangi pula dengan golongan para pendekar yang mendukung pemerintah! 

Maka pada saat itu bermunculanlah perkumpulan-perkumpulan yang saling bertentangan. Di satu pihak muncul perkumpulan-perkumpulan golongan sesat atau para penjahat yang dipergunakan oleh para pembesar yang berniat memberontak, dan di pihak lain golongan para pendekar yang membantu pemerintah untuk menjaga ketertiban dan keamanan.

Tentu saja golongan para pendekar ini mendapatkan dukungan dari rakyat jelata yang tak ingin melihat kehidupan mereka dirusak kembali oleh para pengacau. Juga mereka baru saja terbebas dari perang yang amat mengerikan dan menjatuhkan banyak korban, maka mereka tidak menghendaki timbul perang baru yang hanya akan menyengsarakan rakyat jelata belaka…..

********************
Pada suatu pagi, dua orang wanita cantik mendayung perahu mereka yang kecil mungil ke darat sungai Kuning di sebelah utara kota besar Lok-yang. Mereka menarik perahu ke darat, lalu memanggil seorang di antara para nelayan yang berada di pantai.

"Paman, maukah engkau menyimpan perahu ini untuk kami? Boleh paman pakai untuk keperluan paman, akan tetapi jika sewaktu-waktu kami datang membutuhkannya, paman harus mengembalikan kepada kami," kata wanita yang muda.

Nelayan itu memandang heran, akan tetapi karena perahu itu biar pun kecil cukup kokoh dan indah, dia pun mengangguk. "Baiklah, nona. Biar anakku yang merawatnya dan dia pula yang menggunakan untuk sekadar mencari ikan, Namaku A Liok, nona. Kelak kalau nona hendak mengambilnya kembali, tanyakan saja kepada orang di sini."

Gadis itu mengangguk, kemudian dua orang wanita cantik itu pergi meninggalkan pantai sungai, menuju ke barat, melalui jalan raya yang menuju ke kota Lok-yang.

Dua orang wanita itu adalah Bi-coa Sian-li Cu Sui In dan Tang Bwe Li! Setahun lebih yang lalu mereka datang ke Pek-in-kok dan Si Dewi Ular itu sudah berhasil membunuh Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih, walau pun dia sendlri juga terluka parah. Namun kini dia telah sembuh sama sekali dan meski pun usianya kini sudah empat puluh tahun lebih, Cu Sui In masih nampak cantik jelita seperti belum ada tiga puluh tahun usianya.

Rambutnya masih digelung tinggi, dan rambut itu masih hitam panjang, gelungnya model sanggul para puteri bangsawan dengan dihias emas permata berbentuk burung Hong dan bunga teratai. Pakaiannya juga indah, terbuat dari sutera mahal berkembang. Wajahnya yang cantik jelita itu bertambah cantik dengan olesan bedak tipis serta pemerah bibir dan pipi. Alisnya kecil melengkung dan hitam karena ditata dengan cukuran dan penghitam alis. Sepasang matanya tajam dan mengandung sesuatu yang dingin dan menyeramkan. 

Hidungnya mancung, akan tetapi yang paling menggairahkan hati pria adalah mulutnya. Mulut itu memang indah bentuknya, bahkan tanpa pemerah bibir pun sepasang bibir itu sebetulnya sudah merah membasah karena sehat, sepasang bibir yang hidup dan dapat bergerak-gerak pada ujungnya, penuh dan tipis lembut. 

Akan tetapi semua kecantikan itu menjadi kereng dengan adanya sebatang pedang yang bergagang dan bersarung indah tergantung pada punggungnya, tertutup buntalan pakaian dan sutera kuning.

Tang Bwe Li yang kini berusia dua puluh tahun tidaklah secantik dan seanggun gurunya yang kini menjadi suci-nya itu. Namun dara ini jauh lebih manis! Lesung di pipinya, kerling tajam pada matanya, senyum sinis pada mulutnya, hidung yang dapat kembang kempis itu, ditambah gayanya yang lincah jenaka dan galak, membuat hati setiap orang pria yang melihatnya menjadi gemas-gemas sayang.

Beberapa bulan yang lalu Tang Bwe Li atau yang biasa dipanggil Lili, pulang ke Bukit Ular di Pegunungan Himalaya di mana suhu-nya, See-thian Coa-ong Cu Kiat dan suci-nya, Bi-coa Sian-li Cu Sui In, tinggal. Dia telah melakukan perjalanan seorang diri untuk mencari Dewa Arak dan muridnya, anak laki-laki yang dulu pernah menampari pinggulnya sampai panas dan merah, yang tidak diketahui namanya akan tetapi amat dibencinya itu. 

Dia hendak mewakili suci-nya yang sedang mengobati luka dalam karena tendangan Pek-mau-sian. Akan tetapi Lili tidak berhasil menemukan Dewa Arak di Pek-in-kok. Dia hanya melihat dua buah makam, yaitu makam Kiam-san dan Pek-mau-sian. Dia sudah mencari ke sekitar lembah itu, namun sia-sia sehingga dengan marah-marah terpaksa dia kembali ke rumah suhu-nya dan melapor kepada suci-nya.....

Dewi Ular juga menjadi kecewa sekali, maka setelah dia sembuh sama sekali, dia segera mengajak sumoi-nya turun gunung. Selain hendak mencari Dewa Arak dan muridnya, juga mereka berdua ingin memenuhi pesan See-thian Coa-ong Cu Kiat.

Datuk ini sudah mendengar akan perubahan besar yang terjadi semenjak penjajah Mongol diusir dari daratan Cina. Dia merasa sudah tua dan tidak semestinya terus mengasingkan diri di Pegunungan Himalaya.

"Sekarang tibalah waktunya bagi kita untuk mencari kedudukan, karena kaisarnya adalah bangsa sendiri," katanya.
"Apakah ayah bercita-cita untuk menjadi seorang pembesar?” tanya Dewi Ular heran.
"Ha-ha-ha, siapa ingin menjadi pejabat? Kalau menjadi pejabat, aku harus menjadi kaisar! Ahh, tidak, Sui In. Kita adalah orang-orang dunia persilatan. Aku mendengar bahwa kini para orang gagah di dunia kang-ouw mendapat angin baik dari pemerintah yang baru. Aku ingin menjadi beng-cu (pemimpin) dari rimba persilatan!"
"Suhu, di dalam perjalananku mencari Dewa Arak, aku pun mendengar bahwa tahun ini, yaitu pada akhir tahun, akan ada pertemuan besar antara para pimpinan partai persilatan dan mungkin dalam pertemuan itu akan dilakukan pemilihan ketua atau pemimpin baru," kata Lili.

"Bagus! Akhir tahun masih cukup lama, masih sembilan bulan lagi. Kalian berangkatlah lebih dahulu, menyusun kekuatan dan sedapat mungkin membentuk sebuah perkumpulan yang kuat untuk menjadi anak buah kita. Kelak pada saatnya aku akan muncul di tempat pertemuan puncak itu. Bwe Li, di mana pertemuan itu diadakan? Biasanya pertemuan semacam itu diadakan di Thai-san "
"Menurut yang kudengar memang akan diadakan di puncak Thai-san, suhu," kata gadis itu.

"Nah, kalau begitu, kalian berangkatlah. Menurut sejarah, dahulu perkumpulan pengemis merupakan perkumpulan yang amat kuat dan memiliki anak buah paling banyak di antara semua perkumpulan. Bahkan partai pengemis di utara dahulu pernah menjadi penghalang bagi penjajah Mongol pada saat hendak menyerbu ke selatan. Akan tetapi, karena adanya pengkhianatan di antara para pimpinan, partai pengemis dapat dikuasai oleh orang-orang Mongol dan akhirnya diadu domba hingga pecah belah. Bahkan ketika jaman penjajahan Mongol, partai itu dilarang sehingga anak buahnya cerai berai. Sekarang, setelah penjajah lenyap, kurasa mereka tentu membangun kembali partai pengemis. Apa bila kalian dapat menguasai mereka, bila kalian dapat menjadi pimpinan kai-pang (partai pengemis), tentu kedudukan kita akan menjadi kuat dan disegani."

Demikianlah, dua orang wanita itu melakukan perjalanan dan pada pagi hari itu mereka turun dari perahu dan menuju ke Lok-yang. Mereka mendengar dalam perjalanan mereka bahwa memang sekarang kai-pang mulai nampak kuat kembali, di mana-mana diadakan persatuan pengemis dan pusatnya berada di tiga tempat. 

Pengemis utara berpusat di Pe-king, pengemis barat berpusat di Lok-yang dan pengemis timur dan selatan berpusat di Nan-king, kota raja. Itulah sebabnya kini dua orang wanita itu menuju ke Lok-yang. Kalau saja mereka bisa menguasai cabang barat di Lok-yang ini, maka akan memudahkan mereka menuju pada kedudukan puncak yang berpusat di kota Nan-king.

Ketika mereka memasuki Lok-yang, Lili yang jarang melihat kota besar, menjadi kagum. Lok-yang adalah bekas kota raja, maka selain besar dan ramai, kota ini juga amat indah. Di sana terdapat banyak bangunan indah bekas istana, juga gedung-gedung besar yang dulunya menjadi tempat tinggal para pembesar tinggi. Nampak berderet toko-toko besar penuh barang dagangan, juga terdapat banyak rumah penginapan dan rumah makan yang besar.

Sesudah berjalan-jalan di kota itu, Sui In yang tidak heran melihat keramaian kota karena dia sudah sering berkunjung ke kota-kota besar, berkata, "Sungguh luar biasa!"

"Apanya yang luar biasa, suci? Memang kota ini ramai dan indah..."
"Bukan itu maksudku. Coba kau lihat, sumoi, tidak ada seorang pun pengemis nampak di kota ini. Padahal menurut keterangan kota Lok-yang merupakan pusat dari para pengemis daerah barat."
"Ahh, benar juga, suci. Tentu telah terjadi sesuatu, atau mungkin mereka itu sudah pindah ke kota lain?"
"Andai kata benar mereka pindah pun, mengapa di kota besar seperti ini tidak kelihatan seorang pun pengemis? Ini sungguh aneh!" kata Dewi Ular.

Mereka lantas mencari kamar di rumah penginapan. Karena baru saja mereka melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, siang itu mereka beristirahat dan setelah mandi sore, Dewi Ular mengajak sumoi-nya untuk keluar mencari makanan sambil berjalan-jalan untuk melihat keadaan dan menyelidiki tentang para pengemis.

Kota Lok-yang di malam hari memang makin semarak. Toko-toko dibuka dengan lampu-lampu gantung yang terang, juga jalan raya diterangi lampu-lampu. Banyak orang berlalu lalang, berjalan-jalan atau berbelanja di toko, di warung-warung, bahkan di dalam taman kota yang indah, yang pada waktu jaman penjajahan hanya untuk kaum bangsawan atau pembesar saja tetapi kini dibuka untuk umum dan ramai sekali.

Dua orang wanita itu turut merasa gembira dengan ramainya suasana. Langit cerah dan bulan mulai muncul, membuat suasana semakin gembira. Sui In dan Bwe Li kini duduk di sebuah kedai nasi, duduk pada meja paling luar sambil menonton keramaian di jalan raya, juga memesan makanan dan air teh.

Selagi mereka makan, tiba-tiba Bwe Li menyentuh lengan suci-nya dan dengan pandang mata dia memberi isyarat ke sebelah kanan. Sui In menengok dan dia melihat seorang pengemis datang rnenghampiri kedai itu. Seorang pengemis yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun, tubuhnya tegap dan sehat, pakaiannya serba hitam, bahkan rambutnya yang panjang juga diikat dengan pita hitam.

Bila melihat perawakannya, sungguh tak pantas seorang pria muda yang masih kuat dan tidak cacat itu menjadi pengemis! Juga gerak-geriknya tidak menunjukkan seperti seorang pemalas, melainkan sigap dan langkahnya lebar. Akan tetapi wajahnya membayangkan kekerasan dan matanya liar.

Dua orang wanita itu kini menunda makan dan mengikuti gerak gerik pengemis itu dengan pandang mata mereka. Pengemis muda itu kini menghampiri sebuah meja paling depan dekat pintu kedai, di mana duduk tiga orang laki-laki yang sedang makan bakmi.

"Tuan-tuan, bagilah sedikit rejeki untukku dan beri sedekah untukku," kata pengemis itu, sikap dan suaranya angkuh seperti orang menagih hutang saja.

Tiga orang yang sedang makan itu nampak terganggu, akan tetapi yang tertua di antara mereka agaknya tidak ingin ribut-ribut, mengambil sepotong uang kecil dari saku bajunya dan menyerahkannya kepada si pengemis. Pengemis baju hitam itu menerima uang kecil, mengamatinya kemudian dia pun mengerutkan alisnya, memandang kepada tiga orang itu dengan marah.

"Kalian hanya memberi sekeping tembaga ini? Untuk membeli semangkok bakmi juga tak cukup! Kalian berani menghinaku, ya?" Pengemis itu membanting uang kecil itu ke atas meja. Uang itu menancap di meja depan tiga orang itu yang menjadi terkejut sekali.

Pria yang tertua itu lantas berkata, "Engkau tidak mau diberi sebegitu? Lalu, berapa yang kau minta?"

Pengemis itu menggapai ke arah pelayan yang kebetulan sedang berada di dekat sana, lalu dia bertanya, "Coba hitung, berapa harga semua hidangan tiga orang ini."

Pelayan itu memandang heran. Benarkah pengemis ini hendak membayar makanan tiga orang itu maka menanyakan harganya? Dia menghitung-hitungkan lalu berkata, "Semua sekeping uang perak," jawabnya.

Pengemis itu lalu menjulurkan tangan ke arah tiga orang tamu itu. "Nah, berikan sekeping perak kepadaku!"

Tiga orang itu saling pandang dengan mata terbelalak. Mana ada pengemis yang minta sedekah sebanyak harga makanan mereka bertiga? Dengan paksaan pula! Dan pelayan itu pun kini mengerti bahwa pengemis baju hitam ini mencari gara-gara. Pada waktu itu keadaan kota Lok-yang aman dan hampir tidak pernah ada gangguan kejahatan. Hal ini membuat pelayan itu berani menentang, merasa bahwa ada pasukan keamanan di Lok-yang.

"Bung, harap jangan memaksa dan membuat ribut di kedai ini, jangan mengganggu tamu kami," bujuknya.

Pengemis baju hitam itu menoleh, memandang kepada pelayan itu, lalu tangannya meraih ujung meja, mencengkeramnya dan ujung meja dari kayu keras itu segera remuk di dalam cengkeraman si pengemis!

"Apakah kepalamu lebih keras dari pada kayu meja ini?” katanya lirih akan tetapi sangat menyeramkan. 

Pelayan itu mundur dengan muka pucat, dan tiga orang tamu juga menjadi pucat. Tamu tertua cepat-cepat mengambil sekeping perak dan menyerahkannya kepada pengemis itu. Tanpa bicara lagi pengemis itu menerima uang sekeping perak, lalu meninggalkan meja itu. Ketika dia memandang kepada Sui In dan Bwe Li, matanya terbelalak dan mulut yang tadinya kaku dan kejam itu menyeringai, matanya bersinar secara kurang ajar. Sekarang dia menghampiri meja Sui In dan Bwe Li.

Agaknya sikap pengemis muda itu semakin berani ketika dia melihat wanita cantik yang lebih tua memandang kepadanya dengan tenang dan tidak malu-malu, sedangkan gadis yang manis itu bahkan memandang kepadanya sambil tersenyum-senyum!

"Aihh, nona-nona yang cantik manis seperti bidadari kahyangan, berilah sedekah padaku, kudoakan semoga kalian semakin cantik dan makin menggairahkan!" kata pengemis itu. Sikap dan suaranya sama sekali bukan lagi seperti seorang pengemis yang minta-minta, melainkan seperti seorang laki-laki mata keranjang menggoda wanita.

Sui In tidak sudi melayani orang itu. Dia melanjutkan makan dan seolah-olah pengemis itu hanya seekor lalat saja. Namun Bwe Li yang diam-diam menjadi marah karena pengemis itu berani mengeluarkan ucapan kurang ajar terhadap dia dan suci-nya, bertanya.

"Hemm apa yang kau minta, pengemis?" 

Ketika pengemis itu tadi memperlihatkan kekerasan dan paksaan saat meminta sedekah kepada tiga orang tamu, Sui In dan Bwe Li hanya memandang saja dan sama sekali tidak peduli. Mereka tidak ingin mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Akan tetapi sekarang pengemis itu langsung mengganggu mereka!

Pengemis itu tersenyum semakin lebar dan matanya bermain dengan kedipan penuh arti. "Perhiasan di rambut enci itu indah sekali, berikan kepadaku sebagai sedekah," katanya sambil memandang pada perhiasan burung hong dan teratai terbuat dari emas permata di rambut Sui In. 

Bwe Li mendongkol bukan main. Perhiasan suci-nya itu adalah sebuah benda yang amat mahal harganya, apa lagi itu pemberian suhu-nya dan menurut suci-nya, benda itu dahulu pernah menjadi perhiasan rambut salah seorang puteri kaisar Jenghis Khan dari Kerajaan Mongol. Maka, selain mahal, juga benda itu merupakan benda pusaka yang tidak ternilai harganya, dan kini seorang jembel minta benda ini begitu saja sebagai sedekah! 

Ingin Bwe Li tertawa karena menganggap hal ini lucu sekali. Dia melirik kepada suci-nya yang masih tenang dan enak-enak makan saja, maka dia tahu bahwa suci-nya tidak sudi melayani pengemis itu.

"Kalau tidak kami berikan, lalu kau mau apa?" tanya Bwe Li, mengira bahwa pengemis itu tentu akan menjual lagak lagi dengan memamerkan kekuatan tangannya mencengkeram hancur ujung meja. Akan tetapi sekali ini pengemis itu agaknya tidak ingin menunjukkan kehebatannya. Dia mendekatkan mukanya kepada Bwe Li dan berkata lirih,
"Kalau tidak kalian berikan, sebagai gantinya boleh engkau ikut denganku dan melayaniku semalam ini, nona manis."

Bwe Li terbelalak. Mukanya langsung berubah merah dan terasa panas bukan main. Akan tetapi hanya sebentar. Dia telah menerima gemblengan seorang datuk besar seperti See-thian Coa-ong, maka tentu saja dia sudah dapat menguasai perasaannya.

"Haiiii, kalian lihat ada monyet menari-nari!" teriaknya dan tiba-tiba saja tangannya sudah menggerakkan sisa kuah yang berada di mangkoknya. Kuah itu mengandung saos tomat dan bubuk merica yang pedas. 

Demikian cepatnya gerakan tangan Bwe Li dan sama sekali tak terduga oleh si pengemis sehingga dia tidak sempat untuk mengelak. Kuah dengan sambalnya itu tepat mengenai mukanya, memasuki hidung dan matanya.

Seketika itu pula pengemis baju hitam itu berjingkrak-jingkrak seperti monyet menari-nari, persis seperti yang diteriakkan Bwe Li atau Lili tadi! Semua orang segera menengok dan terdengar ada yang tertawa, terutama sekali tiga orang yang tadi kena diperas sekeping perak oleh si pengemis.

Hanya orang-orang yang pernah terkena merica pada mata dan hidungnya saja yang bisa menceritakan bagaimana rasanya. Pengemis itu berjingkrak-jingkrak sambil menggosok mata dan hidungnya, megap-megap bagai ikan dilempar ke darat, lalu berbangkis-bangkis dengan air mata bercucuran. Makin digosok, makin pedas rasa matanya dan makin hebat ‘tangisnya’. 

Saking nyeri, pedih dan panasnya, ia membuat gerakan seperti monyet yang menari-nari, berlenggang-lenggok dengan kaki naik turun, tubuh berputar-putar dan kedua lengannya membuat gerakan yang lucu dan aneh-aneh. Akhirnya, di bawah riuh rendah suara tawa para penonton, pengemis itu dapat membuka matanya yang menjadi merah, juga semua merica agaknya sudah keluar melalui bangkis-bangkis tadi, akan tetapi alr matanya masih bercucuran dari kedua matanya yang masih terasa panas dan pedas! Dia memandang kepada Lili dengan mata mendelik, walau pun harus sering berkedip menahan pedas!.

Lili dan Sui In masih melanjutkan makan, bahkan Sui In sudah selesai dan Lili juga sudah hampir selesai. Pengemis itu mengeluarkan suara menggereng bagaikan seekor harimau marah sehingga para penonton sudah tak berani tertawa lagi dan kini hanya memandang dengan hati tegang. Apa lagi mereka yang tadi melihat betapa kuatnya tangan pengemis itu menghancurkan ujung meja. Mereka mengkhawatirkan nasib dua orang wanita cantik itu.

Mendengar suara gerengan itu, Lili menoleh memandang, "Ihh, anjing geladak ini sungguh tidak tahu aturanl" kata Lili sambil tersenyum mengejek. "Sudah diberi kuah tetapi masih belum puas dan menggereng-gereng minta lagi. Cepat pergilah dari sini, memualkan perut dan mengurangi selera makan saja. Kau bau!”

Dapat dibayangkan betapa marahnya pengemis baju hitam itu. Dia menggereng lagi dan dengan kedua lengan dikembangkan, kedua tangan terbuka, dia lantas menubruk ke arah Lili, hendak menangkap wanita itu. Lili tidak bangkit dari duduknya, hanya kakinya segera mencuat dengan kecepatan kilat ketika tubuh orang itu sudah dekat dan kedua tangan itu sudah hampir menyentuh pundaknya.

"Ngekkk…!"

Ujung sepatu itu tepat memasuki perut di bawah ulu hati membuat tubuh si pengemis baju hitam terjengkang sehingga pantatnya terbanting keras ke atas tanah. Sejenak dia hanya mampu bangkit duduk, tangan kiri menekan perut yang seketika terasa mulas dan tangan kanan meraba-raba pantat yang nyeri karena ketika terbanting tadi, pantatnya menjatuhi sebuah batu sebesar kepalan tangan. 

Dia menyeringai, akan tetapi seringainya tidak seperti tadi ketika dia menggoda dua orang wanita itu. Kini dia menyeringai kesakitan, akan tetapi juga bercampur kemarahan. Orang yang biasa mengagulkan diri sendirl memang tak tahu diri, selalu meremehkan orang lain sehingga pelajaran yang diterimanya tadi tidak cukup membuat dia menjadi sadar, bahkan membuat dia semakin marah dan penasaran.

"Keparat, kubunuh kau...!" bentaknya dan sekarang tangannya telah memegang sebatang golok kecil yang tadi disembunyikan di bawah bajunya. Akan tetapi pada saat itu nampak sinar menyambar dari samping, ke arah muka pengemis itu.
"Crottttt...!
“Aughhhh...!"
Pengemis itu terpelanting, goloknya terlepas dan sepasang tangannya meraba mukanya dengan mata terbelalak. Sebatang sumpit bambu sudah menembus muka, dari pipi kanan ke pipi kiri! Sumpit itu memasuki kulit pipi, menembus geraham kanan sampai keluar dari kulit pipi yang lain sehingga muka itu seperti disate!

"Suci...!" kata Lili memandang suci-nya.
"Aku mendahului, agar engkau tidak membunuhnya. Kita butuh keterangan darinya..."

Tiba-tiba saja dua orang wanita itu terkejut mendengar pengemis itu mengeluarkan suara aneh. Ketika mereka memandang, tubuh pengemis itu berkelojotan dalam sekarat. Tentu saja Sui In kaget bukan main. Tadi dia menyerang dengan sambitan sumpit tidak dengan niat membunuh dan dia yakin bahwa orang itu hanya terluka dan tidak akan mati. Kenapa kini tahu-tahu orang itu berkelojotan sekarat? Tentu ada penyerang lain, pikirnya.

Pada saat itu muncul dua orang pengemis berpakaian hitam. Mereka adalah orang-orang yang berusia kurang lebih lima puluh tahun, sikap mereka berwibawa dan gerakan mereka ringan karena tahu-tahu mereka telah berkelebat dan muncul di situ. Mereka memandang ke arah tubuh pengemis yang berkelonjotan, lalu mereka menghadapi Cu Sui In dan Tang Bwe Li, sejenak mengamati wajah dua orang wanita itu, kemudian mereka menghampiri meja dua orang wanita itu.

"Siapakah di antara ji-wi (anda berdua) yang merobohkan dia?" tanya seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi kurus sambil menuding ke arah tubuh pengemis yang masih berkelonjotan.
"Aku yang melukainya dengan sumpit," kata Sui In tenang dan suaranya acuh saja seolah tidak ada sesuatu yang perlu diributkan.

Lili yang berwatak galak segera berkata pula. "Anjing geladak ini memang pantas dihajar. Apakah kalian pemeliharanya? Kenapa tidak kalian ajar adat kepadanya?”

Dua orang pengemis tua itu saling pandang, kemudian serentak mereka melangkah maju mendekat. Si tinggi kurus mengangkat dua tangannya ke depan dada, sedangkan orang ke dua yang bertubuh gemuk pendek juga mengangkat kedua tangannya ke depan dada. Mereka lalu memberi hormat kepada Sui In dan Lili.

"Kami dari Hek I Kai-pang (Partai Pengemis Baju Hitam) mohon maaf kepada nona," kata si tinggi kurus.
"Kami berterima kasih atas pelajaran yang sudah diberikan kepada anggota kami," kata si gemuk pendek. Dua orang pengemis tua itu lalu memberi hormat.

Sui In dan Bwe Li tersenyum mengejek. Tanpa berdiri, masih sambil duduk, mereka pun mengangkat kedua tangan ke depan dada, membalas penghormatan itu. 

Tadi dua orang pengemis itu bukan sembarang menghormat saja, namun mengerahkan tenaga sakti yang disalurkan melalui lengan mereka ketika mereka menggerakkan tangan memberi hormat. Sebetulnya mereka telah melakukan serangan jarak jauh untuk menguji kepandaian dua orang wanita yang sudah merobohkan anak buah mereka itu. Akan tetapi betapa kaget hati mereka ketika dari gerakan tangan kedua orang wanita itu pun tiba-tiba menyambar tenaga dahsyat yang menyambut tenaga mereka sehingga membuat tenaga mereka membalik dan mereka pun terhuyung!

Pada saat itu pula terdengar suara orang. "Ciangkun lihat saja, di mana-mana anggota pengemis Baju Hitam selalu membikin kekacauan!"

Nampaklah serombongan orang datang ke tempat itu. Pasukan yang terdiri dari belasan orang dikepalai seorang perwira datang bersama seorang laki-laki setengah tua yang juga mengenakan pakaian tambal-tambalan. Namun pakaiannya bukan berwarna hitam seperti pengemis yang lain, melainkan berkembang-kembang! Dialah yang tadi berbicara dengan suara lantang kepada komandan pasukan kecil itu.

Melihat yang datang rombongan penjaga keamanan, dua orang pengemis baju hitam yang telah dapat menguasai diri mereka karena terkejut mendapat sambutan dua orang wanita itu, lalu memberi hormat kepada komandan pasukan dan pengemis baju kembang.

"Sobat dari Hwa I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang), mengapa menuduh yang bukan-bukan terhadap kami orang-orang segolongan?" kata pengemis baju hitam yang tinggi kurus.

Pengemis baju kembang yang tinggi besar dan bermuka hitam itu tersenyum mengejek. "Sobat-sobat dari Hek I Kai-pang, bukannya aku menuduh yang tidak-tidak kepada orang segolongan. Akan tetapi semua orang di kedai ini pun tahu belaka betapa anggota kalian ini tadi memaksa ketika minta sedekah, kemudian bahkan menggoda dua orang nona ini. Bukankah itu berarti bahwa para pengemis Hek I Kai-pang adalah orang-orang yang suka membuat kekacauan?”

Dua orang pengemis baju hitam memandang ke sekeliling. Ketika melihat betapa semua orang mengangguk dan membenarkan ucapan pengemis baju kembang, mereka menarik napas dan pengemis tinggi kurus berkata,

"Anggota perkumpulan kami sudah membuat kesalahan. Akan tetapi dia sudah menebus dengan nyawanya, sudah terhukum. Biarlah ini menjadi peringatan bagi kami supaya kami lebih ketat mengawasi anak buah kami. Ciangkun, maafkan, kami akan membawa pergi mayat anggota kami.” 

Setelah berkata demikian, si gemuk pendek memondong tubuh pengemis yang telah mati itu, dan sesudah keduanya memandang sejenak kepada Sui In dan Bwe Li, mereka lalu pergi dari situ dengan cepat.

"Ciangkun, seharusnya mereka berdua tadi ditangkap saja untuk dibawa ke pengadilan," kata pengemis baju kembang kepada perwira yang menjadi pemimpin pasukan penjaga keamanan itu.

Perwira itu menggelengkan kepala. "Yang bersalah sudah mati. Dua orang pengemis baju hitam itu tidak melakukan kesalahan apa pun, bagaimana kami bisa menangkap mereka? Sudahlah, selama ini tidak ada pengemis baju hitam yang membuat kekacauan."

Sui In segera membayar harga makanan, lantas memberi isyarat kepada sumoi-nya untuk cepat meninggalkan tempat itu. Ketika suci-nya mengajak dia berlari menyelinap di dalam kegelapan, Bwe Li bertanya lirih, "Ada apakah, suci?"

"Ssttt, kita membayangi para pengemis baju hitam itu," kata Sui In.

Mereka berdua mempergunakan ilmu kepandaian mereka dan sebentar saja mereka telah dapat menyusul dua orang pengemis baju hitam yang berjalan cepat sambil memondong tubuh anak buah mereka yang telah menjadi mayat itu.

Dua orang baju hitam itu keluar dari kota melalui pintu gerbang sebelah barat dan kurang lebih tiga li dari kota, mereka memasuki sebuah perkampungan di mana terdapat rumah-rumah yang cukup besar. Kiranya Hek I Kai-pang memiliki perkampungan para pengemis baju hitam di situ, dan di tengah perkampungan berdiri sebuah gedung yang cukup besar dan cukup megah, dikelilingi rumah-rumah yang lebih kecil.

Ketika dua orang pengemis itu masuk sambil memondong mayat seorang pengemis baju hitam, maka gegerlah perkampungan itu. Mereka semua mengikuti dua orang pengemis itu menuju ke gedung besar dan memasuki ruangan yang luas di mana telah menunggu ketua mereka yang sudah lebih dulu dlberi tahu. 

Karena mereka semua hanya mencurahkan perhatian kepada dua orang pengemis yang memondong mayat seorang kawan mereka, maka para pengemis baju hitam itu menjadi lengah. Hal ini tentu saja memudahkan Sui In dan Lili yang mempergunakan kepandaian mereka menyelinap memasuki perkampungan itu dan mereka sudah mengintai ke dalam ruangan dari atas atap.

Di ruangan itu terdapat lebih dari dua puluh orang. Tentu mereka adalah tokoh-tokoh Hek I Kai-pang, pikir Sui In, karena dia melihat betapa lebih banyak lagi pengemis yang berada di luar ruangan itu.

Di sebuah kursi yang agak tinggi duduk seorang kakek pengemis yang usianya kurang lebih enam puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan wajahnya membayangkan kegagahan. Mukanya berbentuk persegi dan matanya lebar, kumis dan jenggotnya teratur rapi walau pun pakaiannya sederhana sekali, yaitu dari kain berwarna hitam. Kalau ada perbedaan dengan para anak buahnya, perbedaan itu hanya karena pada ikat pinggangnya terselip sebatang tongkat hitam yang panjangnya tiga kaki dan besarnya seibu jari kaki.

"Lekas ceritakan apa yang terjadi," kata ketua itu kepada dua orang pengemis yang tadi membawa mayat pengemis muda berbaju hitam ke dalam ruangan itu. Sekarang mayat itu rebah telentang di depan mereka.

Si pengemis tinggi kurus bercerita singkat. "Ketika kami berdua lewat di depan kedai nasi itu, kami melihat anak buah kita ini dirobohkan seorang di antara dua wanita yang sedang makan di kedai. Kami segera mendekat dan ternyata dia ini sudah berkelojotan sekarat, dengan kedua pipi ditembusi sebatang sumpit. Dengan hati-hati kami menguji kepandaian mereka dan ternyata mereka itu amat lihai. Dalam menguji dengan sinkang (tenaga sakti), kami bukanlah tandingan dua orang wanita itu. Pada saat itu pula, sebelum kami bergerak lebih jauh, muncul Lui-pangcu (ketua Lui), yaitu seorang di antara tokoh Hwa I Kai-pang. Dia datang bersama pasukan penjaga keamanan dan dia menuduh kita sebagai kai-pang yang suka membikin kacau. Bahkan kemudian dia mengatakan bahwa anak buah kita ini sudah melakukan pemerasan di kedai itu dan mengganggu kedua orang tamu wanita itu. Karena semua orang yang berada di sana membenarkan keterangan itu, maka kami pun segera minta maaf kemudian membawa jenazah ini ke sini untuk menerima petunjuk dari pangcu (ketua)."

Pengemis tinggi besar itu adalah ketua umum dari Hek I Kai-pang. Namanya Souw Kiat dan dialah ketua umum yang menguasai seluruh anggota Hek I Kai-pang di daerah barat dan merupakan seorang di antara empat pemimpin kai-pang terbesar di empat penjuru. Sikapnya tenang dan berwibawa, dan mendengar laporan itu tidak timbul emosinya. Dia tetap tenang, lalu memandang ke arah mayat yang rebah di atas lantai.

"Hemmm, sumpit yang menembus kedua pipi itu tidak mungkin membunuhnya. Ji-pangcu (ketua Ji), coba periksa, apakah yang menyebabkan dia mati," perintah ketua umum itu kepada seorang di antara ketua cabang yang dia tahu ahli dalam hal pengobatan.

Seorang pengemis tua bertubuh kurus kering segera berjongkok dan memeriksa jenazah itu. Diperiksanya muka yang ditembusi sumpit dari pipi yang satu ke pipi yang lain itu dan dia membenarkan pendapat ketua umumnya bahwa bukan sumpit itu yang menyebabkan kematian. Dia lalu merobek baju pada bagian dada untuk memeriksa. Dan tepat di bawah tenggorokan, di dada bagian atas, nampak tanda seperti tiga bintik kecil yang warnanya biru menghitam.

"Pangcu, kematiannya disebabkan tiga batang jarum yang menembus bajunya kemudian memasuki dadanya," Ji-pangcu melapor kepada atasannya.
"Hemm, melihat sumpit itu, jelas bahwa penyambitnya seorang yang berilmu tinggi, akan tetapi kenapa dia menggunakan jarum beracun pula untuk membunuhnya? Jika sambitan itu dinaikkan sedikit saja, tentu orang ini juga akan tewas seketika!" kata Souw-pangcu dengan alis berkerut.

Tiba-tiba saja nampak dua bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu dl tengah ruangan itu sudah berdiri dua orang wanita cantik. Melihat Sui In dan Bwe Li, dua orang pengemis yang tadi membawa jenazah itu pulang, terkejut bukan main.

"Kami tidak menggunakan jarum beracun!" kata Sui In dengan suara lantang tapi lembut. 
"Pangcu... mereka... mereka inilah dua orang tamu di kedai itu...," kata si pengemis tinggi kurus.

Sejenak Souw Kiat memandang kepada dua orang wanita itu penuh perhatian dan diam-diam dia merasa kagum dan terkejut. Dua wanita ini memasuki ruangan seperti siluman saja. Dia sendiri yang biasanya sangat peka dan hati-hati, sama sekali tidak tahu akan kedatangan mereka. Dan mereka ini masih muda, wanita pula, akan tetapi telah memiliki kepandaian yang demikian luar biasa.

Dia lalu membentak para pembantunya yang nampak siap siaga dengan sikap menantang sesudah mendengar bahwa dua orang wanita ini adalah pembunuh anak buah mereka, "Kalian semua mundur dan sediakan tempat duduk untuk kedua lihiap (pendekar wanita) ini!"

Setelah berkata demikian, Souw Kiat segera memberi hormat kepada Sui In dan Bwe Li, memberi hormat dengan sungguh-sungguh, bukan seperti dua orang pembantunya yang tadi memberi hormat untuk menguji kekuatan.

"Selamat datang di tempat tinggal kami, ji-wi li-hiap (pendekar wanita berdua). Saya Souw Kiat ketua Hek I Kai-pang, merasa girang sekali bahwa ji-wi sudi datang berkunjung ke sini. Tentu ji-wi akan memberi penjelasan tentang peristiwa yang terjadi di kedai nasi itu, bukan?”

Melihat sikap gagah dan sopan dari ketua itu, baik Sui In mau pun Bwe Li merasa senang dan tidak jadi marah yang tadi timbul ketika melihat sikap para pimpinan pengemis di situ yang memandang marah dan siap mepgeroyok itu. Sui In mengangguk.

"Bukan hanya memberi penjelasan, juga kami minta penjelasan mengenai kai-pang pada umumnya." suara Sui In tenang, lembut namun penuh wlbawa.
"Silakan duduk, ji-wi li-hiap," kata Souw Kiat yang disambungnya setelah mereka duduk. "Bolehkah kami mengetahui siapa nama ji wi dan dari partai mana?"
"Cukup kau ketahui bahwa aku she Cu dan ini sumoi-ku she Tang. Souw-pangcu, seperti diceritakan dua orang pembantumu tadi, pengemis ini tadi mengganggu kami di kedai nasi ketika kami sedang makan. Karena dia sangat kurang ajar, maka aku sudah melukainya dengan sumpit. Akan tetapi bukan aku yang membunuhnya dengan jarum beracun walau pun aku juga memiliki jarum beracun. Dan untuk membuktikan, jarum yang membunuh itu dapat dibandingkan dengan jarumku." 

Tiba-tiba nampak tangan kiri Sui In bergerak. Tidak terlihat dia melemparkan jarum, akan tetapi ketika semua orang memandang, pada dada mayat yang bajunya masih terbuka itu nampak pula tiga titik baru di dekat tiga titik yang lama.....

Selanjutnya baca
SI PEDANG TUMPUL : JILID-05
LihatTutupKomentar