Rajawali Emas Jilid 04


Seperti halnya dengan Li Cu, Beng San juga mengejar ke selatan, sama sekali dia tidak mengira bahwa Giam Kin yang menculik Lee Giok itu lari menuju ke utara. Mudah saja bagi Beng San untuk mengikuti jejak tiga orang wanita yang saling berkejaran itu karena di sepanjang perjalanan ia selalu bisa mendapat keterangan tentang mereka.

Akhirnya ia sampai juga di dusun kecil di pinggir Sungai Huang-ho di mana telah terjadi pertempuran antara Li Cu dan Ho-hai Sam-ong. Tentu saja ia segera mendengar dari para nelayan bahwa gadis baju merah yang dicarinya itu telah datang ke tempat itu pada dua hari yang lalu.

Malah ia juga mendengar cerita yang amat menarik akan tetapi mendebarkan jantungnya tentang peristiwa di perahu Ho-hai Sam-ong. Beng San sendiri belum pernah mendengar nama ini, akan tetapi mendengar penuturan para nelayan, dia tahu bahwa tiga orang itu adalah kepala-kepala bajak yang berkepandaian tinggi dan amat berpengaruh.

la pun mendengar bahwa Ho-hai Sam-ong mempunyai sarang di dekat kota Cin-an, yaitu di sebuah perkampungan bajak di pinggir Sungai Huang-ho tidak jauh dari kota itu, dan mendengar bahwa anak buah bajak laut dan bajak sungai yang menjadi anak buah tiga raja bajak itu ratusan orang jumlahnya, semua dipusatkan di perkampungan itu. Karena sama sekali tidak bisa mendapat keterangan tentang Giam Kin yang membawa Lee Giok, Beng San merasa ragu-ragu, akan tetapi ia melanjutkan perjalanan dengan maksud untuk menolong Li Cu yang jatuh ke dalam kekuasaan para bajak.

Tidak ada seorang pun nelayan yang berani ke sarang bajak di dekat Cin-an. Terpaksa Beng San melakukan perjalanan melalui darat mengikuti sepanjang pantai Huang-ho terus ke timur. Ia melakukan perjalanan cepat karena ia menguatirkan keselamatan Li Cu, juga ingin lekas-lekas bertemu dengan gadis itu untuk bertanya tentang nasib Lee Giok yang masih belum ia ketahui.

Sama sekali orang muda itu tidak tahu bahwa di dusun kecil itu, seperti juga di semua tempat di sepanjang Sungai Huang-ho, terdapat beberapa orang anggota bajak sungai yang bertugas sebagai penyelidik. Para penyelidik inilah yang selalu memberi tahu pada kawan-kawannya tentang perahu-perahu pedagang atau perahu-perahu pembesar yang hendak lewat, malah mereka bertugas pula untuk mencari keterangan perahu mana yang membawa barang berharga sehingga semua pekerjaan yang dilakukan Ho-hai Sam-ong selalu berhasil baik.

Beberapa orang penyelidik ini sudah diberi tahu tentang keadaan Beng San yang mereka dengar dari Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li. Maka begitu orang muda ini muncul, mereka segera mengenalnya dan cepat-cepat mereka mengirim berita ke tempat tinggal Ho-hai Sam-ong!

Inilah sebabnya mengapa Beng San menjadi terheran-heran dan kagum sekali ketika ia tiba di luar perkampungan bajak di tepi Sungai Huang-ho pada keesokan harinya di waktu senja, ia menghadapi barisan bajak di luar kampung yang sudah menanti kedatangannya!

Barisan bajak itu terdiri dari seratus orang, dibagi menjadi empat lapisan dan di tiap lapis dipimpin oleh seorang kepala bajak yang gagah. Lapis pertama adalah barisan bersenjata tombak, lapis ke dua barisan bersenjata golok, lapis ke tiga barisan ruyung dan ke empat barisan pedang.

"Orang muda, apakah engkau yang bernama Tan Beng San dan datang ke mari hendak membebaskan Nona Cia Li Cu?" demikian kepala bajak di barisan terdepan membentak dengan suaranya yang keras parau.

Beng San dalam keheranan dan kekagumannya hanya tersenyum tenang. "Memang betul dugaanmu, harap kau suka minta kepada Ho-hai Sam-ong supaya mau keluar dan bicara denganku."

Kepala bajak itu tertawa sombong. "Ho-hai Sam-ong sudah tahu akan kedatanganmu dan mempersilakan kau menerjang maju kalau kau memang gagah!"

Beng San mengukur dengan sudut matanya. Walau pun tidak mudah, agaknya dia masih sanggup menerjang masuk. Akan tetapi, di luar kampung saja penjagaan sudah begini ketat, apa lagi di dalam kampung, tentu lebih diperkuat dan kiranya tidak mudah baginya untuk menolong Li Cu.

"Hemmm, tadinya kusangka nama besar Ho-hai Sam-ong mewakili tiga orang yang gagah perkasa. Tak tahunya hanya pengecut-pengecut yang mengandalkan pengeroyokan anak buahnya untuk menakut-nakuti aku!"

Para bajak menjadi marah. "Orang muda, kau jangan lancang membuka mulut!" demikian kepala bajak membentak dan memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengeroyok Beng San. Tombak-tombak sudah bergerak mengerikan.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara keras bergema dari dalam kampung.

"Orang muda she Tan, Ho-hai Sam-ong tidak takut kepadamu. Anak buah menjaga di luar kampung dan melarang setiap orang asing masuk adalah menjadi kebiasaan kami. Kalau ada keberanian, malam ini kami menanti di ruangan rumah kami dan kau boleh coba-coba membebaskan Nona Cia dari tangan kami bertiga. Ha-ha-ha!"

Mendengar ini, barisan bajak yang mengenal suara Kiang Hun, tidak berani sembarangan bergerak. Beng San juga dapat mengetahui bahwa itu tentulah suara seorang di antara ketiga Sam-ong, maka diam-diam ia maklum bahwa orang itu memiliki khikang yang kuat dan merupakan lawan berat.

Ia pun lalu berkata perlahan, "Baik Ho-hai Sam-ong, malam nanti aku pasti datang untuk mengagumi kepandaian kalian."

Bagi barisan di depan Beng San, orang muda ini hanya terlihat menggerakkan bibir terus membalikkan tubuhnya dan pergi. Akan tetapi bagi Ho-hai Sam-ong di dalam kampung, mereka bertiga mendengar suara ini dengan jelas meski pun perlahan-lahan.

Diam-diam mereka kagum sekali karena khikang yang dipergunakan oleh orang muda itu untuk ‘mengirim suara’ merupakan kepandaian yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Maka mereka kemudian bersiap-siap untuk menghadapi kedatangan pemuda yang oleh Hek-hwa Kui-bo dipuji-puji kepandaiannya itu.

Malam itu gelap gulita. Hal ini amat menguntungkan Beng San karena biar pun penjagaan di luar kampung diperketat, namun berkat kepandaiannya ia dapat juga menerobos untuk dilindungi oleh kegelapan malam. Sebelum para penjaga mengetahui, ia sudah berada di atas genteng rumah terbesar di kampung itu.
Ketika ia melihat, ternyata pihak tuan rumah sudah siap sedia. Ruangan yang amat luas di situ sudah dipasangi lampu penerangan yang banyak dan terang sekali. Ia melihat pula Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li berpakaian indah sekali sehingga nampak cantik menarik. Wanita ini sedang bercakap-cakap dengan seorang laki-laki setengah tua yang tampan.

Dia tidak tahu bahwa laki-laki itu adalah Kiang Hun Si Naga Sungai yang selain lihai dan tampan, juga terkenal mata keranjang, maka tidak ingin membuang kesempatan untuk beramah tamah dengan Kim-thouw Thian-li yang juga ‘tua-tua kelapa’ itu. Di dekat Kiang Hun duduk Lui Cai Si Bajul Besi dan Thio Ek Sui Si Cucut Mata Merah. Di ujung kiri duduk seorang gadis tanggung berusia paling banyak lima belas tahun, mukanya cantik dan bentuk wajahnya seperti Kiang Hun.

Memang dia ini adalah puteri tunggal dari Kiang Hun yang bernama Kiang Bi Hwa. Semua orang yang duduk di sini agaknya sudah siap karena semua, kecuali gadis tanggung itu, membawa senjata masing-masing. Kiang Bi Hwa tidak bersenjata. Ia hanya memegang sebuah kipas yang bergagang gading dan tersulam indah sekali.

Semua tampak tenang, hanya gadis tanggung ini yang agaknya gelisah, ataukah memang dia merasa hawanya panas? Tiada hentinya dia mengebut-ngebutkan kipasnya di depan leher.

Yang membuat darah Beng San menjadi panas adalah pada waktu ia melihat ke tengah ruangan yang kosong itu. Di situ ia melihat Cia Li Cu duduk di atas sebuah kursi dengan kaki tangan terbelenggu!

Gadis itu tidak dapat bergerak sama sekali, namun duduknya masih kaku tegak, kepala dikedikkan dan sepasang matanya berapi-api. Sedikit pun tidak kelihatan takut, hanya kemarahan dan perlawanan yang tampak di muka yang cantik jelita namun kelihatan lesu dan lelah serta pucat itu.

Hal ini tidak mengherankan oleh karena gadis ini dalam kemarahannya yang meluap-luap karena dirinya dijadikan ‘umpan’ ini, telah menolak untuk makan dan tak dapat tidur sama sekali. Ia malah melakukan perlawanan sehingga terpaksa dia dikeroyok, ditotok hingga tidak berdaya kemudian dibelenggu! Pedang Liong-cu-kiam malam itu sengaja diletakkan di lantai, tepat di depan gadis tawanan itu.

Melihat Liong-cu-kiam yang pendek itu, Beng San mengilar sekali. Kalau saja pedang itu berada di tangannya, akan lebih mudah ia membebaskan Li Cu. Akan tetapi ia pun bukan orang bodoh. Kalau pihak lawan sudah sengaja menaruh pedang itu di sana, tentu di balik perbuatan ini ada maksud tersembunyi yang amat berbahaya. Dia tidak boleh gegabah, tidak boleh sembrono dan harus berlaku hati-hati serta bersikap waspada.

Tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar sesuatu dan matanya melihat bayangan orang berkelebat di sebelah depan. Cepat ia menyelinap ke belakang wuwungan dan mengintai. Hampir ia tidak dapat menahan ketawanya saat melihat ada tiga orang lain juga mengintai dari atas genteng ke bawah!

Hatinya berdebar. Siapakah mereka? Apakah mereka juga datang untuk membebaskan Li Cu? Mungkin sekali. Cia Li Cu adalah puteri tunggal dari Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan, maka sekali terkena bencana tentu akan menarik hati orang-orang gagah untuk turun tangan menolongnya.

Beng San bersikap menanti, hendak melihat apakah yang akan dilakukan oleh tiga orang itu yang melihat gerak-geriknya adalah ahli-ahli silat tingkat tinggi. Kalau tiga orang yang datang mengintai itu merupakan orang-orahg lihai, kiranya yang berada di bawah juga tidak kalah lihainya.

Tiba-tiba Lui Cai Si Bajul Besi berdongak ke arah tiga orang 'tamu malam’ itu dan berkata, suaranya keras, "Sudah berani datang kenapa tidak terus masuk? Ada maksud lebih baik dibicarakan di dalam, kami sudah lama menanti!"

Seorang di antara tiga tamu malam itu mengeluarkan suara tertawa, suara ketawanya halus dan ringan.
"Ha-ha-ha, Ho-hai Sam-ong benar-benar hebat. Kami turun!"

Dan melayanglah tiga sosok bayangan orang ke dalam ruangan itu. Kaki mereka sangat ringannya menyentuh lantai, tanda bahwa mereka adalah orang-orang yang mempunyai ginkang cukup tinggi.

Beng San terkejut dan berdebar hatinya ketika melihat bahwa seorang di antara mereka adalah kakak kandungnya, Tan Beng Kui! Pemuda itu kini agak kurus kalau dibandingkan dengan beberapa bulan yang lalu ketika bertemu dengannya di Puncak Thai-san. Pedang Liong-cu-kiam yang panjang tergantung di punggungnya.

Dua orang yang lain adalah seorang kakek berpakaian seperti tosu dan yang seorang lagi seorang laki-laki setengah tua yang gerak-geriknya gagah, dan angkuh. Juga mereka ini membawa pedang di punggung masing-masing.

Melihat tiga orang ini, Lui Cai Si Bajul Besi tertawa bergelak kemudian berkata, "Selain Tan-ciangkun, sudah datang pula Koai-sin-kiam (Pedang Sakti Aneh) Oh Tojin beserta Ji Lu-enghiong yang ternama. Ha-ha-ha-ha, benar-benar merupakan kehormatan besar bagi kami. Selamat datang... selamat datang...!"

Ada pun Beng Kui ketika melihat sumoi-nya (adik seperguruannya) duduk terbelenggu di tengah ruangan dalam keadaan tak berdaya, segera melompat hendak menolong.

"Ciangkun, awas perangkap!" tiba-tiba Koai-sin-kiam Oh Tojin berseru keras sambil ikut melompat pula ke tengah ruangan itu. Ada pun orang ke dua yang tadi disebut sebagai Ji Lu-enghiong (Pendekar ke dua she Lu) dengan tenang melompat pula, gerakannya ringan dan cepat mengejar Beng Kui.

Namun peringatan dari Oh Tojin itu terlambat karena Beng Kui sudah sampai di tengah ruangan. Sekali melompat saja ia tadi sudah sampai di dekat kursi yang diduduki Li Cu. 

Tiba-tiba terdengar bunyi berderit keras. Kursi yang diduduki Li Cu itu bergerak mundur sampai dua meter, lalu lantai di tengah ruangan itu terbuka dan meluncurkan anak-anak panah menuju ke tubuh Beng Kui!

Kalau saja Beng Kui bukan murid nomor satu dari Raja Pedang Cia Hui Gan, pasti ia akan roboh dan tewas oleh anak-anak panah yang setiap ujungnya sudah diberi racun jahat itu. Belasan batang anak panah itu menyambar cepat sekali.

Beng Kui berseru keras dan tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat ke kiri sejauh lima meter lebih dan terbebaslah ia dari ancaman anak-anak panah yang kini meluncur ke atas dan menancap ke langit-langit rumah itu! Dengan muka merah dan pedang Liong-cu-kiam di tangan, Beng Kui bersama dua orang temannya yang juga sudah mencabut pedang kini menghadapi tuan rumah.

Beng Kui berseru marah. "Ho-hai Sam-ong! Beginikah kalian menerima datangnya tamu yang kalian undang untuk berunding dan bersekutu? Beginikah sikap orang-orang gagah? Kalian menawan sumoi-ku. Apa artinya ini?"

Lui Cai tertawa bergelak. "Tan-ciang kun, kau benar-benar gagah perkasa, tidak kecewa menjadi murid utama Bu-tek Kiam-ong! Harap jangan kau salah duga dan mengira kami memperlakukan tamu-tamu kurang hormat. Sebenarnya adalah kau sendiri yang sebagai tamu kurang menghormati tuan rumah sehingga tanpa bertanya kau lancang hendak turun tangan. Ketahuilah, kami tidak mengganggu sumoi-mu dan seperti sudah disebut dalam surat kami, sumoi-mu hanya menjadi tamu sementara saja sampai kau datang. Akan tetapi tidak tahunya muncul pula seorang lainnya yang hendak membebaskan sumoi-mu, yaitu... ha-ha-ha, adik kandungmu sendiri yang bernama Tan Beng San dan kabarnya lihai bukan main. Karena dia itu akan datang malam ini untuk membebaskan sumoi-mu, maka kami sengaja mengatur demikian untuk menghadapinya. Sumoi-mu tidak apa-apa, kami tanggung! Nah, Sam-wi, silakan duduk! Mari kita berunding sambil menanti kedatangan adikmu yang lihai itu. Ehhh, benarkah berita yang sampai kepadaku bahwa adikmu itu sebenarnya adalah Raja Pedang yang tulen, yang lebih lihai dari pada gurumu?"

Merah muka Beng Kui ketika mendengar penjelasan panjang lebar ini, apa lagi saat dia mendengar ucapan pertanyaan terakhir itu. Beng San di sini? Dan hendak membebaskan Li Cu? Apa artinya ini? Di mana Li Cu bertemu dengan Beng San dan mengapa mereka bersama? Diam-diam timbul iri hati dan cemburu besar dalam hatinya.

Memang betul bahwa dia sudah menikah dengan putri Pangeran Lu, akan tetapi hatinya tidak puas mendengar Li Cu bergaul dengan Beng San! Juga tidak enak sekali hatinya melihat sumoi-nya terbelenggu di kursi itu, akan tetapi sekarang ia tidak berani bertindak sembrono.

Apa lagi pada saat itu Lu Khek Jin, yaitu orang tua yang datang bersamanya itu, berkata, "Betul sekali. Kedatangan kita untuk berunding. Soal yang lain boleh dibicarakan nanti. Sumoi-mu itu melakukan kesalahaan terhadap Ho-hai Sam-ong maka dia ditawan. Kalau urusan kita dengan Ho-hai Sam-ong selesai dan berakhir baik, apakah Ho-hai Sam-ong tak akan melepaskan sumoi-mu dan minta maaf kepada kita?" Ucapan ini ditujukan pada Beng Kui dan orang muda ini tidak berani membantah lagi.

Lu Khek Jin adalah kakak dari ayah mertuanya, yaitu Lu Siauw Ong. Ilmu silatnya tinggi sekali dan dia adalah seorang bekas jenderal, seperti juga Lu Siauw Ong. Lu Khek Jin juga sudah berjasa besar dalam menumbangkan pemerintah Mongol.

"Ha-ha-ha, betul sekali ucapan Ji Lu-enghiong yang mulia! Di antara teman sendiri mana perlu banyak menyembunyikan urusan? Mari, mari, silakan duduk!" berkata Lui Cai yang segera menyambung kepada adik seperguruannya, Thio Ek Sui Si Cucut Mata Merah.
"Kau bereskan lagi anak-anak panah itu untuk menyambut kedatangan Tan Beng San!"

Tanpa banyak cakap Thio Ek Sui Si Cucut Mata Merah menggerakkan tubuhnya. Sekali meloncat ia telah melayang ke atas dan kedua tangannya digerakkan. Dalam keadaan melayang itu sekaligus kedua tangannya sudah dapat menarik keluar belasan anak panah tadi dari langit-langit, kemudian ia berjumpalitan turun dengan kedua kaki sama sekali tak mengeluarkan bunyi ketika menginjak lantai! Dengan cepat ia lalu memasangkan kembali anak-anak panah itu, dan memulihkan pesawat rahasia yang menggerakkan kursi dan membuka lantai dengan peluncuran anak-anak panah itu.

Diam-diam Beng Kui kagum dan juga kaget sekali. Baiknya tadi ia tidak keburu nafsu ketika melihat sumoi-nya, tidak menurutkan panas hati dan tidak menyerang pihak tuan rumah. Kiranya nama besar Ho-hai Sam-ong bukan kosong belaka. Melihat cara orang termuda dari Ho-hai Sam-ong itu bergerak, terbukti bahwa mereka adalah lawan-lawan kuat.

Akan tetapi saat mereka mengambil tempat duduk dan Beng Kui melihat bahwa Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li hadir pula di situ, keningnya berkerut.

"Ho-hai Sam-ong, urusan yang akan kita rundingkan adalah urusan rahasia di antara kita. Kuharap jangan ada orang orang luar mendengarkan perundingan kita," katanya dengan kening masih berkerut dan mata mengerling ke arah Hek-hwa Kui-bo.

Lui Cai Si Bajul Besi tertawa bergelak, lalu berkata sambil memandang dua orang wanita yang menjadi tamunya itu. "Yang kau maksudkan Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li inikah? Ha-ha-ha, jangan salah kira, kawan. Mereka ini adalah pembantu-pembantu kami dan mereka itu seribu prosen boleh dipercaya!"

Suara Beng Kui dingin sekali ketika ia menjawab, "Ho-hai Sam-ong, terus terang saja biar pun Sam-wi (kalian bertiga) termasuk golongan hek-to (jalan hitam atau penjahat), namun aku masih menganggap Sam-wi setingkat karena aku tahu betul betapa hebat perjuangan Sam-wi pada waktu yang lalu. Sam-wi termasuk golongan orang-orang gagah perkasa, patriot-patriot sejati. Akan tetapi, siapakah dua orang wanita ini? Mereka dulu membantu penjajah Mongol, mereka adalah pengkhianat-pengkhianat yang tak patut duduk bersama dengan kita, apa lagi merundingkan urusan negara yang amat penting!"

Kim-thouw Thian-li hanya mesem saja, akan tetapi tangan kirinya yang menekan ujung meja membuat ujung meja itu hancur dalam genggamannya! Hal ini menandakan bahwa Ketua Ngo-lian-kauw ini sedang marah sekali.

Ada pun Hek-hwa Kui-bo tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang berderet putih dan rapi, lalu berkata halus, "Tan-ciangkun, apa sih bedanya antara kedudukan dan nama besar? Apa bedanya antara kemuliaan dan harta? Orang boleh saja berganti haluan demi cita-citanya. Kau dulu membantu Ciu Goan Ciang, sekarang kau berbalik memusuhinya. Sebaliknya semenjak dahulu sampai sekarang aku memusuhi Cu Goan Ciang, meski pun jalannya berbeda. Dahulu aku membantu Kerajaan Goan dan sekarang membantu Ho-hai Sam-ong, namun tetap aku memusuhi Ciu Goan Ciang. Nah, katakan siapa sebetulnya yang berkhianat?"

Menghadapi serangan ini Beng Kui menjadi bingung dan tak dapat menjawab. Sementara itu, Lu Khek Jin segera maju menegah dan berkata kepada Beng Kui.
"Soal bantuan Hek-hwa Kui-bo dan muridnya adalah urusan Ho-hai Sam-ong, kita tidak berhak ikut campur. Nah, Ho-hai Sam-ong, silakan kalian mengajukan usul-usulmu dalam usaha bersama menghadapi keserakahan Ciu Goan Cian yang sama-sama kita benci."

Mereka lalu berunding. Ruangan itu sunyi namun para penjaga dengan ketat menjaga di sekeliling rumah.

Cia Li Cu masih terbelenggu duduk di kursi. Diam-diam gadis ini mendengarkan semua percakapan mereka. Sayangnya urat gagunya telah tertotok sehingga dia sama sekali tak dapat mengeluarkan suara. Kalau dapat, tentu saja ia telah mendamprat mereka semua.

Hatinya gelisah, bingung dan juga kecewa. Sekali lagi hancur hatinya menyaksikan sikap suheng-nya, orang yang pernah mencuri hatinya, yang pernah dia jatuhi cinta kasihnya. Ternyata orang ini sekarang sedang mengadakan persekutuan dengan bajak laut untuk menggulingkan Ciu Goan Ciang!

Pihak tuan rumah ada lima orang yaitu Ho-hai Sam-ong dan Hek-hwa Kui bo bersama muridnya, Kiang Bi Hwa tidak ikut berunding, hanya duduk menyendiri sambil kipas-kipas tubuhnya. Pihak tamu ada tiga orang dan mereka bicara dengan asyik sekali.

Tidak hanya Cia Li Cu yang mendengarkan dengan teliti. Tanpa diketahui oleh mereka semua, Beng San ikut pula mendengarkan. Maka tahulah ia akan segala persoalan yang terjadi semenjak pemerintah Mongol dirobohkan oleh perjuangan rakyat.

Dari percakapan itu ternyata bahwa setelah berhasil mengusir bangsa Mongol, Ciu Goan Ciang kemudian mengangkat dirinya menjadi kaisar pertama dari Wangsa Beng dengan memakai gelar Thai Cu. Seperti biasa, lalu terjadilah perebutan kekuasaan di antara para penggerak pemberontakan, di antara para pimpinan yang tadinya berjuang bersama-sama menumbangkan kekuasaan penjajah.

Setelah musuh terusir pergi, kemuliaan membuat mereka yang tadinya merupakan patriot-patriot sejati itu menjadi mata gelap dan terjadilah perebutan kekuasaan. Kaisar Thai Cu atau Ciu Goan Ciang tentu saja tidak mau mengalah dan banyaklah bekas-bekas kawan seperjuangan dibunuh, para jenderal yang sudah berjasa dibunuh pula. Pendeknya Ciu Goan Ciang mulai mengadakan ‘pembersihan’ agar kedudukannya tidak terancam.

Ho-hai Sam-ong termasuk orang-orang yang tidak puas dengan sikap Ciu Goan Ciang, sebab permintaan mereka untuk menjadi ‘menteri negara’ ditolak oleh kaisar baru ini yang menganggap bahwa tidak pantas jika ia menggunakan bekas kepala bajak untuk menjadi menteri.

Juga Lu Siauw Ong dan kakaknya Lu Sin, diam-diam menaruh dendam karena mereka hanya diberi kedudukan rendahan saja, padahal dulu mereka telah berjuang mati-matian. Demikian pula Tan Beng Kui yang merasa iri hati dan tidak puas akhirnya dapat dibujuk oleh Lu Siauw Ong untuk menjadi pembantunya, malah sudah dikawinkan dengan puteri pangeran muda ini.

Karena kekuasaan Kaisar Thai Cu atau Ciu Goan Ciang itu makin lama makin besar dan kedudukannya makin kuat, maka Ho-hai Sam-ong mempunyai rencana untuk bersekutu dengan Lu Siauw Ong dan mereka akan mengadakan pergerakan dari luar dan dalam. Dari dalam, secara diam-diam Lu Siauw Ong akan bergerak sedangkan dari luar, Ho-hai Sam-ong akan mengumpuikan tenaga dan akan menggempur dari luar.

Untuk keperluan ini, secara kebetulan mereka bertemu dengan Cia Li Cu yang mereka gunakan untuk setengah memaksa Tan Beng Kui memenuhi undangan mereka. Mereka tahu belaka bahwa tangan kanan Lu Siauw Ong adalah Tang Beng Kui, mantu Pangeran itu sendiri, maka sengaja mereka hendak membujuk murid Bu-tek Kiam-ong ini.

"Banyak pembesar yang masih bertugas di utara dapat kita tarik di pihak kita,” demikian antara lain Ho-hai Sam-ong yang diwakili oleh Lu Cai berkata. "Kita akan mencari dan menanti kesempatan selagi Kaisar Thai Cu berkunjung ke utara. Kita akan menyergapnya dan kalian yang bekerja di kota raja harus pula mempergunakan kesempatan ini untuk bergerak di kota raja selagi kaisar tidak ada."

Tan Beng Kui dan dua orng temannya menyatakan persetujuannya.

Setelah perudingan berakhir, Kiang Hun berkata, "Tentang sumoi-mu itu, Tan-ciangkun, bagaimana baiknya? Dia adalah puteri Bu-tek Kiam-ong dan seperti kita tahu gurumu itu tidak bisa diajak berunding dalam urusan ini. Sudah pasti kita akan ditentangnya dan bila rahasia persekutuan kita ini bocor..."

"Hemm, amat berbahaya bagi kami yang bertugas di kota raja!" kata Lu Khek Jin sambil melirik ke arah Li Cu dengan kening dikerutkan. "Dia itu tidak boleh dibebaskan, sama sekali tidak boleh sebelum selesai rencana kita."
"Kiranya tidak enak terhadap Tan-ciangkun kalau kami terus menahannya," kata Lui Cai sambil mengerling ke arah Beng Kui.

Kim-thouw Thian-li tersenyum manis dan mengerling tajam sambil berkata, "Tadinya nona itu selain sumoi juga tunangan Tan-ciangkun. Sekarang Tan-ciangkun telah meninggalkan dia dan menikah dengan gadis lain. Sudah tentu ia sakit hati dan hendak menuntut balas. Hemm, gadis ini memang berbahaya sekali!"

"Habiskan saja dia, beres tidak perlu pusing-pusing lagi kita," kata Hek-hwa Kui-bo.
"Tidak bisa!" Beng Kui membantah. "Betapa pun dia adalah sumoi-ku..."
"Habis bagaimana?" Lu Khek Jin, paman isterinya bertanya sambil memandang tajam. "Bebaskan dia dan membiarkan dia mencelakai kita dengan membocorkan rahasia ini?"
"Bukan begitu maksudku... ehh, dia itu tetap sumoi-ku... bagaimana aku bisa melihat dia dicelakai orang? Aku... ehh, maksudku, bagaimana kalau Ho-hai Sam-ong sementara Ini menahan dia tetapi memperlakukan dengan baik-baik? Soal penahanan dia itu pun harus dirahasiakan, kalau sampai ayahnya tahu... bisa repot juga. Apa bila gerakan kita sudah berhasil, dia harus segera dibebaskan."

"Kita sedang menghadapi urusan negara, kenapa sibuk dengan urusan pribadi?" tiba-tiba Koai-sin-kiam Oh Tojin berkata dengan suaranya yang halus. "Nona ini adalah sumoi-mu, Tan-ciangkun. Apakah tidak bisa kau bujuk agar dia membantu gerakan kita, atau paling tidak jangan mencampuri dan jangan membocorkannya? Dia keturunan orang gagah, jika sudah mau bersumpah tidak akan membocorkan, pinto (aku) bisa percaya. Bukannya aku jeri terhadap ayahnya... hemmm," dia meraba gagang pedang di punggungnya, "Malah sudah lama pinto ingin menjajal kepandaian Si Raja Pedang."

Melihat ada orang membantu sumoi-nya, dengan girang Beng Kui segera berdiri sambil berkata, "Baik akan kucoba bicara dengan dia... Ho-hai Sam-ong, perkenankan aku bicara dengan sumoi-ku sekarang."
"Boleh, boleh..." kata Lui Cai.

Thio Ek Sui segera berdiri dan pergi mematikan pesawat-pesawatnya agar perangkap itu tidak bekerja. Dengan aman kini Beng Kui menghampiri Li Cu yang masih duduk dengan mata berapi-api memandang kepada Beng Kui.

Gemetar kedua kaki Beng Kui ketika pandang matanya bertemu dengan sinar mata yang berapi-api itu.....

Dengan membesarkan hati sendiri ia lalu melangkah maju dan menotok dua kali. Li Cu mengeluh perlahan, aliran darah di tubuhnya normal kembali.

"Sumoi, harap kau maafkan dan jangan kecil hati dengan adanya kejadian ini atas dirimu. Kau tahu, aku pun merasa menyesal sekali dan kelak apa bila segala berjalan beres, aku akan minta maaf sekali lagi kepadamu dan mohon ampun kepada Suhu. Tapi sekarang, kuharap kau suka bersumpah bahwa yang kau lihat dan dengar pada saat ini tidak akan kau bocorkan kepada siapa pun juga meski pun kepada ayahmu sendiri. Dan..."
"Cukup...!" Li Cu membentak dengan sinar mata berapi-api, akan tetapi dua butir air mata menuruni pipinya yang pucat. "Pengkhianat kau...! Aku bukan sumoi-mu lagi, aku pun tak sudi berjanji apa-apa, tidak sudi bersumpah, kau mau bunuh aku boleh bunuh sekarang juga!"

Air muka Beng Kui berubah dan dia mundur dua langkah. Dia mendengar suara ketawa kecil, yaitu Kim-thouw Thian-li, yang agaknya sengaja mentertawakannya. Dengan tubuh lemas ia kembali ke meja perundingan tadi dan berkata,

"Ho-hai Sam-ong, sumoi-ku keras wataknya. Tak ada jalan lain lagi agaknya kecuali kalian harus menahannya di sini dan memperlakukannya baik-baik sampai selesai pekerjaan kita bersama."
"Sukar untuk memenuhi permintaanmu ini, Ciangkun," berkata Lui Cai. "Kau sendiri tentu mengerti bahwa anak buah kami beribu orang banyaknya, terdiri dari laki-laki yang kasar. Sumoi-mu begitu muda dan cantik jelita. Bagaimana kami dapat berjanji bahwa dia tidak akan menderita apa-apa di sini?"

Kim-thouw Thian-li pun menambah panas suasana. "Baru pemimpinnya saja yang satu ini sudah memandang mengilar, apa lagi anak buahnya. Hi-hi-hik!" berkata demikian wanita ini melirik kepada Kiang Hun Si Naga Sungai yang juga tersenyum-senyum jenaka.

Merah telinga Beng Kui. "Kalau begitu, biarlah dia kubawa saja, untuk sementara menjadi tawananku!"

Kim-thouw Thian-li tertawa lagi dan berkata, "Tan-ciangkun kenapa malu-malu? Memang dia sumoi-mu sendiri, juga bekas kekasihmu, kalau tidak kau yang menahannya, siapa lagi? Kalau dari tadi kau berkata demikian kan sudah beres, tidak usah susah-susah..."

Semua orang tertawa dan wajah Beng Kui makin merah.

Akan tetapi paman isterinya, Lu Khek Jin, mengerutkan kening. "Beng Kui, jangan kau main-main. Urusan pribadi hendaknya jangan dicampur adukkan dengan urusan negara."

Sementara itu, Beng San yang sejak tadi mendengarkan ini semua, menjadi pucat dan kehilangan mukanya. Dia merasa kecewa dan malu bukan main menyaksikan sikap kakak kandungnya.

Dahulu ia memuja-muja kakak kandungnya itu sebagai seorang gagah perkasa, seorang pemuda tampan dan gagah yang berjiwa patriot, sudah berjasa besar bagi bangsa dan tanah air. Dia malah menganggap dirinya sendiri batu kali yang kasar kalau dibandingkan dengan kakaknya yang cemerlang seperti kumala tergosok.

Tapi apa yang ia hadapi sekarang? Kakaknya menjadi pengkhianat. Bukan itu saja, malah kakak kandungnya yang dia kagumi dan puja-puja itu ternyata telah berbuat tidak setia, telah memutuskan hubungan jodoh dengan Cia Li Cu. Telah menikah dengan puteri raja muda dan sekarang bersekongkol dengan orang-orang jahat untuk memberontak.

Dan Li Cu! Ahh, ia makin kagum kepada gadis jelita ini. Begitu gagah, begitu berani, juga begitu... buruk nasibnya.

"Aku harus menolongnya," demikian Beng San mengambil keputusan.

Tak boleh dia ditahan oleh para bajak ini, juga tidak akan baik nasibnya kalau ia dijadikan tawanan suheng-nya sendiri yang sudah tersesat itu. Kakak kandungnya tersesat? Pikiran ini mendatangkan kilatan halilintar dalam otaknya.

Kakak kandungnya tersesat dan dia juga demikian! Dua orang kakak beradik, keduanya bukan manusia baik-baik. Ahh, Ayah... Ibu... mengapa jadi begini kedua orang anakmu? Perih hati Beng San dan tanpa terasa lagi dia berlutut di atas genteng itu dan menangis! Menangis keras tanpa menahan suaranya.

Karuan saja semua orang di dalam ruangan itu melengak kaget dan heran. Malah Kiang Bi Hwa, yang tadinya kadang-kadang duduk berkipas badan kadang kala berdiri sambil melihat-lihat keluar, segera bangkit dari tempat duduknya dan bertanya kaget.

"Ehh, siapa yang menangis begitu sedihnya? Manusia atau setan?" Ucapan ini agaknya terlepas dari mulutnya tanpa disadarinya sehingga begitu mendengar suaranya sendiri, gadis tanggung ini dengan malu-malu lalu mempergunakan kipasnya yang indah untuk menutupi mukanya.

Agaknya suara gadis tanggung yang memecah kesunyian ini juga menyadarkan Beng San. Suara tangisan berhenti dan sesosok tubuh melayang turun ke dalam ruangan itu. Seorang pemuda dengan pakaian tidak karuan, rambutnya awut-awutan, kulit mukanya merah kehitaman dan pada muka yang mengerikan itu ada bekas-bekas air mata. Tapi sepasang matanya mencorong seperti mata harimau di dalam gelap!

Kebetulan sekali bahwa tadi Li Cu telah dibebaskan dari totokan oleh Beng Kui, maka kini meski terbelenggu, dengan pengerahan tenaganya gadis ini bisa menggerakkan kursinya sehingga memutar dan ia dapat melihat apa yang terjadi di ruangan itu. Kaget, heran, kasihan dan terharu ketika ia melihat Beng San dalam keadaan seperti itu.

Orang muda ini betul-betul seperti seorang yang telantar hidupnya, miskin dan rusak, jauh bedanya dengan Beng Kui yang ganteng dan gagah pakaiannya. Akan tetapi semenjak sikap bekas tunangannya itu berubah, hanya kebencian dan kekecewaan yang ada pada hatinya terhadap Beng Kui dan ia merasa kasihan kepada Beng San.

Ia tadi mendengar pula suara tangisan yang amat menyedihkan, suara tangisan dari hati yang hancur. Biar pun hanya sebentar tetapi tangisan itu menyuarakan keluhan hati yang remuk-redam, seperti hatinya sendiri.

"Ho-hai Sam-ong, aku datang memenuhi janji. Lekas kalian bebaskan Nona Cia Li Cu!"

Suaranya parau, masih terkandung sedikit isak di dalamnya, suara yang sama sekali tidak berpengaruh dan tidak menakutkan, akan tetapi sinar matanya benar-benar membuat tiga orang raja bajak itu berpikir panjang dahulu sebelum memandang rendah. Orang dengan mata seperti itu tak mungkin seorang lemah dan sudah pasti akan membuktikan semua omongannya!

Namun Lui Cai tidak mau memperlihatkan kegentaran di depan para tamunya. Betapa pun juga orang yang dikabarkan lihai luar biasa itu ternyata hanyalah seorang muda sekali dan seorang yang keadaannya setengah jembel, bahkan dari sikapnya dan warna mukanya terlihat tanda-tanda bahwa mungkin juga ia setengah gila!

"Orang muda, bukankah kau yang bernama Tan Beng San? Ha-ha-ha, kiranya begini saja. Dan kau adalah adik kandung Tan Beng Kui-ciangkun? Alangkah anehnya dunia ini. Ha-ha-ha!"

Ucapan ini sekaligus menyinggung perasaan Beng Kui, maka pemuda ini dengan marah lalu melompat maju menghadapi adik kandungnya. Telunjuknya ditudingkan dan suaranya gemas menegur,

"Beng San! Lagi-lagi kau hanya memalukan aku. Orang gila, setelah engkau melakukan perbuatan yang tidak patut tempo hari, masihkah kau ada muka untuk muncul lagi di sini? Jangan mencampuri urusan sumoi-ku, hayo kau cepat pergi kalau tidak ingin mendengar aku bicara terus!"

Wajah yang tadinya hitam itu tiba-tiba berubah menjadi putih lalu hijau, kemudian hitam kembali, sementara matanya tidak pernah lepas memandang orang yang barusan bicara di depannya. Beng Kui sampai merasa ngeri dan meremang bulu tengkuknya dipandang sedemikian rupa oleh Beng San.

Beng San cukup mengerti bahwa kakak kandungnya tadi memaksudkan perbuatannya dengan Kwa Hong tempo hari di markas tentara Mongol. Tentu saja karena luka di hatinya oleh pengakuan Kwa Hong yang sudah mengandung itu masih parah, ucapan ini seperti cuka disiramkan pada luka, perih sakit rasanya. Saking perihnya membuat Beng San tidak peduli lagi.

"Tan Beng Kui, kau boleh bicara sesuka hatimu. Kau boleh mengingkari sumoi sendiri dan tidak menolongnya. Tapi aku tetap akan menolong seorang yang terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat. Nona Cia Li Cu adalah seorang gagah, kalau pun aku tidak melihat dia, sedikitnya aku mengingat akan ayahnya. Mundurlah, aku tak berurusan dengan engkau."
"Bangsat keparat! Beng San, kau kira aku tak tahu apa maksudmu menolong Li Cu? Kau penjahat pemetik bunga, engkau mata keranjang, pelanggar susila, perusak wanita! Kau sudah menodai Nona Kwa Hong, lalu kau tinggalkan begitu saja untuk menikah dengan puteri Song-bun-kwi. Dan sekarang agaknya engkau sudah bosan dengan isterimu itu dan hendak mengganggu Li Cu dengan dalih menolongnya. Hemm..., keparat besar...!"

Beng San mengeluarkan suara gerengan sedemikian dahsyatnya sehingga bangunan di ruangan itu seakan-akan bergoyang. Matanya mendelik berapi-api sehingga saking kaget dan gentarnya Beng Kui sampai melangkah mundur tiga tindak.

Sekali lagi Beng San menggereng dan muka yang sudah hitam hangus saking marah hatinya itu kini perlahan-lahan menjadi agak putih. Ternyata ia sudah berhasil mengekang kemarahannya dan tak ingin menjatuhkan tangan maut kepada kakak kandungnya sendiri.

Beng San menoleh ke arah Lui Cai dan membentak, "Ho-hai Sam-ong, di mana kalian? Hayo jawab, maukah kalian membebaskan Nona Cia Li Cu? Kalau tidak mau, mari kita mengadu kepandaian. Apa bila aku kalah biarlah aku mampus di sini, akan tetapi kalau kalian kalah, kalian harus membebaskan dia. Ataukah kalian takut? Kalau kalian takut, boleh minta bantuan Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li atau siapa pun juga!"

Tiga orang bajak laut itu memang sudah bersiap sedia. Kini Lui Cai Si Bajul Besi sudah mengeluarkan senjatanya berupa dayung besar yang berat itu. Kiang Hun Si Naga Sungai sudah pula mengeluarkan senjatanya yang amat hebat, yaitu tambang besar dan panjang, sedangkan Thio Ek Sui juga sudah mengeluarkan ruyungnya yang runcing berduri. Tapi mereka tidak lantas menyerang.

Lui Cai yang melihat Beng San datang tanpa membekal senjata apa-apa itu lalu berkata, "Nona Cia sudah berada di sini, tinggal membebaskan saja. Jika kau mau membebaskan, silakan, boleh kau lakukan sendiri." Lui Cai tersenyum mengejek.

Beng San maklum bahwa tuan rumah hendak menjebaknya dengan perangkap seperti yang dia lihat hampir mencelakai Beng Kui tadi, akan tetapi ia tidak gentar dan dengan langkah tetap dia menghampiri Li Cu.

Pada saat itu pula, Kiang Bi Hwa puteri Kiang Hun berjalan menghampiri Beng San dan bertanya dengan suaranya yang masih seperti suara anak kecil.

"Kau kah tadi yang menangis? Mengapa kau menangis begitu sedih?"

Beng San terkejut dan heran, lalu ia memaksa diri tersenyum namun senyumnya ini malah mendatangkan tarikan muka yang amat menyedihkan.

"Nona cilik, agaknya kau masih belum kehilangan rasa peri kemanusiaan seperti keadaan orang-orang di sekelilingmu. Nona, bolehkah kau memberi pinjam kipasmu ini sebentar kepadaku?" Sambil berkata demikian Beng San menggerakkan tangan dan dengan halus sekali tahu-tahu kipas itu sudah berpindah tangan.

Kiang Bi Hwa kaget, tapi ia tersenyum dan berkata, "Boleh, boleh, kau ambillah kipas itu."

"Bi Hwa, mundur kau!" Ayahnya, Kiang Hun, membentak.
"Baik, Ayah. Tapi, jangan membunuh dia, ya? Kasihan sekali orang ini..." Setelah berkata demikian, setengah berlari Kiang Bi Hwa mengundurkan diri.

Sikap gadis ini berkesan dalam di hati Beng San dan ia mencatat di hatinya bahwa gadis ini adalah puteri Kiang Hun yang agaknya amat berbakti dan menyayang orang tuanya. Ia kemudian melanjutkan langkahnya menghampiri tempat Li Cu dengan kipas indah itu di tangan.

Li Cu memandang dengan mata terbelalak. Tadinya dia merasa kasihan sekali terhadap Beng San, akan tetapi ketika mendengar ucapan Beng Kui tentang perbuatan Beng San itu, dia pun kaget bukan main. Benarkah Beng San adalah seorang yang demikian rendah martabatnya?

Makin dipandang semakin mengerikan muka pemuda yang menghitam itu, dan matanya lebih-lebih mengerikan dan menyeramkan lagi. Kalau tidak betul apa yang diucapkan oleh Beng Kui, mengapa Beng San tidak membantah?

Karena kebimbangan hatinya ini maka dia urungkan niatnya untuk memperingatkan Beng San tentang perangkap di sekitar itu. Matanya yang indah bening itu hanya memandang dengan terbelalak lebar ketika Beng San melangkah secara sembrono, maju menghampiri kursinya untuk membebaskannya dari pada belenggu.

Tiba-tiba, seperti tadi, terdengar suara keras berderit, lantai berlubang dan belasan batang anak panah menyambar ke arah Beng San, sedangkan kursi yang diduduki Li Cu sudah bergerak sendiri ke pinggir. Beng San memang sudah siap sedia menghadapi ini.

Andai kata tadi dia tidak melihat bekerjanya pesawat itu sekali pun, belum tentu dia akan mudah menjadi korban. Apa lagi ia sudah tahu akan datangnya bahaya itu. Dengan kipas pinjamannya, ia menggerakkan tangan dan sekali mengibas, belasan batang anak panah itu runtuh dan menyambar kembali ke dalam lubang di lantai.

Terdengar pekik kesakitan di bawah lantai yang segera tertutup kembali. Kiranya belasan anak panah yang di ‘retour’ kembali itu tepat mengenai orang yang menjaga bekerjanya pesawat di bawah lantai!

Ketika Beng San menoleh ke arah Li Cu, ternyata kursi yang diduduki nona ini sudah berpindah lagi sampai berada di belakang tiga orang kepala bajak itu yang ternyata sudah menghadang di depannya. Malah pedang Liong-cu-kiam yang tadi menggeletak di dekat Li Cu juga sudah lenyap dan ternyata telah dipegang oleh Beng Kui.

Beng San menghadapi para lawannya dengan sikap tenang. Bibirnya seakan mengejek dan pandang matanya yang bersinar-sinar itu penuh teguran.

"Ehh, Ho-hai Sam-ong yang masyhur nama besarnya itu kiranya hanya penjahat-penjahat kecil yang curang. Hayo kalian bebaskan Nona Cia dan kembalikan pedangnya, baru aku suka memandang muka nona cilik yang baik hati itu dan menghabiskan urusan ini sampai di sini saja. Sebaliknya bila kalian masih tetap berkeras, jangan katakan bahwa aku orang muda tidak menghormati orang-orang tua yang menjadi tuan rumah.”

Kiang Hun tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Tambang yang panjang dan besar di tangannya itu digerakkan dan seperti seekor ular, tambang itu menyambar ke arah tubuh Beng San.

Pemuda ini dengan tenangnya melompat ke atas sehingga tambang itu lewat di sebelah bawah kakinya. Tapi tambang itu terayun, terus datang kembali menyapu dan demikianlah berulang-ulang tambang itu terayun-ayun berputaran di sekeliling tubuh Beng San.

Pemuda ini masih enak saja berloncatan sehingga kelihatan indah dan lucu, seperti anak bermain ‘loncat tali’ (uding). Kalau tambang itu terlalu tinggi lewatnya, ia tidak meloncat melainkan merendahkan diri sehingga tambang itu lewat di atas kepala, akan tetapi kalau menyambar agak rendah, ia meloncat dengan tenang dan enak. Benar-benar seperti anak sedang bermain-main.

Melihat adiknya sudah turun tangan, Lui Cai lalu berseru keras dan dayung bajanya juga menyambar-nyambar, diikuti oleh Thio Ek Sui yang tidak mau ketinggalan dan langsung menggerakkan ruyungnya yang amat dahsyat. Sekarang sekaligus Beng San menghadapi Ho-hai Sam-ong, dikeroyok tiga.

Cia Li Cu tadi sudah merasai kelihaian tiga orang kepala bajak ini, maka sekarang melihat Beng San yang bertangan kosong, hanya memegang kipas itu dlkeroyok tiga, diam-diam ia merasa ngeri juga.

Tetapi Beng San tetap enak-enak saja, malah menyindir, "Waduh, Ho-hai Sam-ong hebat benar. Senjatanya dahsyat dan sekaligus maju mengeroyok bertiga!"

Panas juga hati Lui Cai mendengar ini. Ho-hai Sam-ong terkenal sebagai tokoh-tokoh besar di dunia selatan, bahkan kalau dibandingkan dengan nama besar Hek-hwa Kui-bo, kiranya tidak kalah terkenal. Bagaimana boleh dipandang ringan begitu saja oleh seorang pemuda yang masih hijau?

"Keparat sombong! Kalau memang berkepandaian, keluarkan senjatamu dan cobalah kau lawan kami!" bentaknya.

Inilah maksud Beng San. Membakar-bakar agar hati lawannya panas. Ia menambahkan, "Senjata? Untuk melawan kalian mengapa ribut mencari senjata? Nona cilik yang baik hati sudah meminjamkan senjata untukku!" Ia mengangkat kipas itu tinggi sambil meloncat dan menghindarkan diri dari sabetan tambang dan sambaran ruyung.

Tentu saja perut ketiga orang itu semakin panas. Mereka hendak dilawan dengan senjata sebuah kipas permainan belaka? Benar-benar keterlaluan bocah ini.

"Sombong kau! Ji-sute dan Sam-sute, kita bunuh tikus sombong ini!" bentak Lui Cai.

Dua orang adiknya juga sudah sangat marah, terutama sekali Kiang Hun karena senjata tambangnya yang hebat dan setiap kali bergerak biasanya tentu mengalahkan lawan itu sekarang hanya dianggap sebagai tali permainan loncat-loncatan saja oleh pemuda itu!

"Mampuslah kau, keparat!" bentak Thio Ek Si Cucut Mata Merah, ruyungnya menyambar dahsyat sekali dan sekaligus melakukan empat kali serangan ke arah empat jalan darah yang membinasakan di tubuh Beng San.
"Tak-tak-tak-tak!" Dan empat kali ruyungnya ditangkis oleh kipas!

Terbelalak mata yang sipit merah itu. Bagaimana mungkin ini? Ruyungnya yang paling sedikitnya ada lima puluh kati beratnya, ditangkis dengan kipas? Biar pun gagangnya dari gading, kipas tetap kipas, hanya alat permainan yang kecil belaka. Tapi benar-benar dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, kipas itu sama sekali tidak robek dan patah, malah tulang tangan kanannya terasa sakit-sakit seakan-akan dia tadi telah menghantam benda baja dengan ruyungnya.

Pertempuran itu hebat bukan main. Tiga orang kepala bajak itu benar-benar mempunyai kepandaian tinggi dan hal ini harus diakui oleh Beng San. Pantas saja Li Cu tidak berdaya menghadapi tiga orang ini. Ternyata masing-masing memiliki kepandaian istimewa dan amat tinggi.

Baiknya di dalam dirinya terdapat dua aliran tenaga Im dan Yang, dan tenaga-tenaga ini telah mendarah daging di dalam tubuhnya maka ia dapat menghadapi tenaga lawan yang bagaimana pun juga. Mengenai tenaga, boleh dibilang ia berada di tingkat yang jauh lebih tinggi dari pada tiga orang lawannya.

Tapi ilmu serangan tiga orang itu benar-benar dahsyat sekali sehingga hanya dengan ilmu silatnya Im-yang Sin-kun saja ia mampu melindungi dirinya. Dan kipas kecil itu ternyata banyak sekali kegunaannya, karena kadang-kadang untuk membalas lawannya, ia dapat memakainya sebagai senjata pedang dengan gerakan Ilmu Silat Im-yang Sin-kiam-sut yang belum ada bandingnya di kolong langit ini.

Tiga orang itu mengeroyok dengan gerakan cepat dan tenaga dahsyat sehingga ruangan itu penuh dengan suara bersiutan dan angin pukulan menyambar ganas.
Tubuh ketiga orang itu sampai lenyap terbungkus gulungan senjata masing-masing. Akan tetapi anehnya, tubuh Beng San masih kelihatan, malah gerakannya terlihat amat lambat dan seenaknya. Dilihat oleh mata bukan ahli silat, pemuda ini seperti sedang menari kipas dengan dihiasi gulungan sinar yang tiga macam di sekeliling tubuhnya!

Cia Li Cu yang menonton pertandingan itu sampai terbelalak dan ternganga saking heran dan kagumnya. Dia memang pernah menyaksikan kelihaian Beng San, akan tetapi baru sekarang dia betul-betul tunduk dan harus mengakui bahwa apa yang dikatakan ayahnya dahulu itu betul adanya, yaitu bahwa pemuda ini benar-benar sangat hebat dan dalam hal kepandaian masih melebihi ayahnya sendiri.

Juga dua orang teman Beng Kui, Koai-sin-kiam Oh Tojin dan Lu Khek Jin, memandang dengan penuh kekaguman dan gatal-gatal tangan mereka hendak menguji kepandaian sendiri dengan pemuda yang lihai itu.

Hek-kwa Kui-bo dan muridnya yang sudah merasai kelihaian Beng San, duduk saja tidak berani turun tangan, hanya mengharapkan supaya pemuda itu roboh di tangan Ho-hai Sam-ong.

Di lain pihak, Beng Kui memandang dengan mata tajam. Hatinya mendongkol bukan main terhadap Beng San. Dia menganggap adiknya ini selalu merintangi perjuangannya serta merusak suasana.

Yang paling lucu sikapnya adalah Kiang Bi Hwa, puteri dari Kiang Hun. Semenjak kecil gadis cilik ini memang tidak boleh belajar silat oleh ayahnya, maka sekarang menyaksikan pertempuran itu ia bertepuk-tepuk tangan gembira.

"Bagus benar...! Lucu dan bagus tarianmu itu, kakak yang baik! Kau harus ajarkan aku tari kipas itu!"

Mau tidak mau Beng San tersenyum mendengar ini. Dikeroyok sedemikian hebatnya ia masih sempat tersenyum-senyum, malah menoleh ke arah Kiang Bi Hwa sambil berkata, "Nona cilik, kau benar-benar seperti bunga teratai di antara lumpur kotor!"

Memang Beng San kagum bukan main. Nona itu begitu polos, begitu jujur dan bersih seperti bunga teratai, namun terpaksa hidup di antara orang-orang jahat seperti lumpur itu.

Pertempuran berjalan makin lama semakin seru dan akhirnya setelah lewat seratus jurus lebih, saking seringnya bertemu dengan tenaga Beng San yang dahsyat, makin lama tiga orang itu makin lelah. Permainan mereka semakin kendor sehingga kini mulailah mereka kelihatan bayangannya dan pada muka masing-masing telah penuh dengan keringat.

Di lain pihak, Beng San masih enak-enak dan tenang-tenang saja memainkan kipasnya, menangkis sambil meloncat ke sana ke mari dan kadang-kadang membuat lawan repot dengan serangan-serangan balasannya dengan jurus Im-yang Sin-kiam-sut. Bila mana dia sudah menyerang begini, ujung gagang kipas dari gading itu bisa tahu-tahu sudah berada di depan tenggorokan, mata, pusar, ulu hati atau lambung seorang lawan yang tentu saja setelah berhasil menyelamatkan diri lantas mengeluarkan keringat dingin saking ngerinya. Serangan pemuda itu tidak dapat diketahui lebih dulu, benar-benar berbahaya sekali.

"Kupikir, kalau tidak sekarang kita memperlihatkan setia kawan kepada mereka, tunggu kapan lagi? Urusan dengan orang gila itu hanyalah urusan pribadi, sedangkan hubungan kita dengan mereka adalah urusan negara. Mana lebih penting? Bagaimanakah pendapat Ji-wi?"

Koai-sin-kiam Oh Tojin dan Lu Khek Jin memang sudah ‘gatal tangan’ sejak tadi melihat kehebatan Beng San mempermainkan tiga orang pengeroyoknya itu. Akan tetapi mereka masih ragu-ragu untuk membantu karena bukankah pemuda lihai itu adik kandung Beng Kui sendiri? Sekarang Beng Kui sudah mengeluarkan pernyataan begitu, maka lenyaplah keraguan mereka.

Bayangan yang gesit berkelebat didahului sinar terang, inilah gerakan Koai-sin-kiam Oh Tojin dengan memutar pedang yang entah kapan sudah dicabutnya. Lu Khek Jin dengan tenang juga mencabut pedang dan menghampiri pertempuran.

"Orang muda, kau sombong sekali berani mengacaukan tempat tinggal Ho-hai Sam-ong. Terimalah serangan Koai-sin-kiam!" bentak Oh Tojin.

Sekaligus pedangnya sudah melakukan lima kali serangan bertubi-tubi dengan gerakan yang aneh. Namun dengan heran dan penasaran sekali Oh Tojin hanya menusuk angin belaka, seolah-olah Beng San sudah tahu terlebih dahulu akan perubahan-perubahan dari jurus-jurus yang dimainkannya.

Sebaliknya Lu Khek Jin adalah seorang bekas jenderal perang. Ia memainkan pedangnya dengan gerakan-gerakan mematikan dan bertenaga, disertai bentakan-bentakan.

Diam-diam Beng San kagum akan sifat ilmu pedang yang dimainkan oleh Lu Khek Jin, karena biar pun tidak sangat tinggi, tapi gerakan-gerakannya jujur tanpa berisi gerak tipu, melainkan secara langsung menyerang mengandalkan tenaga dan kecepatan. Gerakan orang seperti ini berbahaya, maka segera dia mengelak dengan penggeseran kaki yang sekaligus merubah kedudukannya. Pada detik-detik selanjutnya Beng San telah dikeroyok lima orang!

Sungguh pun tingkat ilmu silat dua orang pengeroyok baru ini tidak berada di atas Ho-hai Sam-ong, namun mereka ini sudah merupakan tambahan tenaga yang lumayan. Betapa pun juga, benar-benar Beng San kali ini memperlihatkan dirinya yang sesungguhnya dan sekaligus memperlihatkan bahwa ilmu Silat Im-yang Sin-kiam-sut yang menjadi ciptaan mendiang Pendekar Sakti Bu Pun Su benar-benar adalah ilmu yang luar biasa di dunia ini.

Ilmu silat ini mendasarkan gerakan-gerakannya kepada dua puluh tujuh pow (gerak kaki) yang diiihami oleh kedudukan ji-cit-seng (dua puluh tujuh bintang), luar biasa banyaknya. Setelah mempunyai ilmu silat ini, dengan mudah orang akan menghadapi serangan lawan yang bagaimana lihai pun, karena dengan mengandalkan pergerakan langkah kaki tentu akan dapat menyelamatkan diri.

Selain memiliki ilmu yang amat tinggi, juga Beng San adalah seorang yang pada dasarnya memang cerdik luar biasa. Hanya sekali melihat saja dia sudah dapat mencatat apa yang dilihatnya di dalam otak.

Meski ilmu silat pedang yang dimainkan oleh Koai-sin-kiam Oh Tojin adalah ilmu pedang selatan yang tidak dikenalnya, apa lagi ilmu pedang yang dimainkan Lu Khek Jin juga ilmu pedang untuk peperangan yang asing baginya, akan tetapi sekali melihat dia sudah dapat menangkap intisari pergerakannya sehingga selanjutnya, walau pun dikeroyok lima, Beng San masih sempat membalas dengan serangan-serangan yang luar biasa menggunakan kipasnya!

Setelah mendapat kesempatan baik, ia lalu mendesak Ho-hai Sam-ong yang pandangan matanya sudah berkunang-kunang itu. Secepat kilat kipasnya mengebut disusul menotok dengan ujung gagang gading itu dua kali.

Sekali tepat mengenai tulang lengan kanan Lui Cai Si Bajul Besi sehingga orang tertua dari Ho-hai Sam-ong ini memekik kesakitan dan dayungnya terlepas dari pegangan, lalu sambil menyumpah-nyumpah karena kesakitan dia berputar-putar menggunakan tangan kiri menggosok-gosok tempat yang tadi tertotok gagang kipas. Sakitnya bukan kepalang, kiut-miut rasanya seperti ribuan jarum menusuk-nusuk tulangnya.

Gerakan Beng San yang ke dua tepat menyerempet ruyung Thio Ek Sui Si Cucut Mata Merah, lalu melejit dan menotok tulang kering di kaki kiri Si Cucut ini.

"Aduh... aduh... kakiku...!"

Thio Ek Sui adalah seorang yang sudah biasa bertempur dan terluka baginya bukanlah apa-apa. Akan tetapi rasa nyeri yang sekarang menyerangnya membuat ia berkaok-kaok kesakitan, berjingkrak-jingkrak seperti monyet sedang belajar menari sambil memegangi kaki kirinya yang diangkat ke atas.

Pada saat itu, tambang di tangan Kiang Hun meluncur dan tahu-tahu sudah melibat tubuh Beng San! Terdengar jerit tertahan. Yang menjerit ini adalah Li Cu karena merasa ngeri melihat betapa pemuda yang hendak menolongnya itu akhirnya tertawan oleh tambang yang lihai dari Kiang Hun Si Naga Sungai, seperti juga yang sudah dia alami ketika dia dikeroyok Ho-hai Sam-ong ini.

Kiang Hun nampak girang, mengedut tambangnya dengan maksud mempererat libatan. Tetapi mendadak Beng San mengeluarkan suara aneh dan... makin ditarik tambang itu makin terlepas. Akhirnya terlihat oleh pemiliknya bahwa tambang itu sudah terputus-putus menjadi beberapa potong

Agaknya karena mengingat akan kebaikan gadis yang mukanya sama dengan Kiang Hun ini, maka Beng San mengampuni Kiang Hun dan tidak melukainya. Ia dapat menduga bahwa antara gadis cilik pemilik kipas itu dengan Kiang Hun pasti ada hubungan keluarga.

"Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li, kalau kalian tidak membantu sekarang, tunggu kapan lagi?" tiba-tiba Beng Kui berseru kepada dua orang wanita itu. "Bukankah kalian menjadi pembantu-pembantu Ho-hai Sam-ong?"

Sebetulnya Hek-hwa Kui-bo, apa lagi Kim-thouw Thian-li, merasa enggan untuk bertempur melawan Beng San yang begitu lihai. Akan tetapi seruan ini mendesak mereka ke pojok. Tentu Ho-hai Sam-ong akan mendapat kesan buruk apa bila mereka tinggal diam saja. Sambil melotot ke arah Beng Kui kedua orang ini mencabut senjata masing-masing dan meloncat ke gelanggang pertempuran, mengeroyok Beng San, yang disambut oleh orang muda ini dengan tenang saja.

"Kau hanya bisa menyuruh orang lain saja maju, apa kau sendiri takut terhadap adikmu ini?" sambil menyerang Beng San, dengan suara keras Hek-hwa Kui-bo berseru kepada Beng Kui dengan maksud agar semua orang mendengarnya.

Memang Beng Kui sudah bertekad bulat untuk membunuh saja adik kandungnya yang ia anggap selalu membikin malu dan membikin kacau rencana. Adiknya itu telah merusak kehidupan seorang gadis, yaitu Kwa Hong.

Sekarang setelah mengacau Thai-san kemudian menikah dengan puteri seorang penjahat seperti Song-bun-kwi, tahu-tahu muncul di sini dan mencampuri urusannya, malah hendak membela Li Cu. Tentu dengan maksud rendah pula. Dari pada mempunyai adik kandung seperti ini, bukankah lebih aman dan baik kalau dibinasakan saja?

Setelah berpikir demikian, Beng Kui lalu mencabut pedang Liong-cu-kiam yang panjang dengan tangan kanan, sedangkan Liong-cu-kiam pendek milik Li Cu memang sudah dia pegang di tangan kiri. Dengan sepasang pedang ampuh ini dia lantas menyerbu sambil berseru nyaring,

"Beng San, kau tidak mentaati perintahku untuk pergi, agaknya memang sudah bosan hidup!"

Serbuannya hebat sekali, apa lagi dia segera memainkan Sian-li Kiam-sut yang lihai dan lebih-lebih hebat lagi karena senjata yang ia pergunakan adalah sepasang Liong-cu-kiam. Sepasang pedang itu berubah rnenjadi dua gulung sinar yang berkeredepan menyambar-nyambar ke arah Beng San dan menyerang dari segala jurusan!

Beng San terkejut dan diam-diam mengakui kelihaian kakak kandungnya ini, akan tetapi berbareng hatinya perih dan juga marah. Ia dahulu amat merindukan kakak kandungnya, lalu setelah bertemu ia merasa kagum sekali melihat kakak kandungnya sebagai seorang patriot yang gagah. Namun... sekarang kakaknya itu dengan sepasang pedang pusaka menerjang untuk membunuhnya!

Dari perih hati ia menjadi marah dan cepat ia menghadapi serbuan ini. Sekarang Beng San dikeroyok lima orang lagi setelah Ho-hai Sam-ong mengundurkan diri untuk mengatur napas dan memulihkan tenaga. Akan tetapi, di antara lima orang itu, yang paling hebat serangannya adalah Beng Kui.

Andai kata hanya menghadapi Beng Kui seorang, walau pun pemuda ini menggunakan sepasang Liong-cu-kiam dan dia sendiri hanya bersenjata kipas, kiranya Beng San takkan dapat terdesak. Akan tetapi sekarang di situ ada Hek-hwa Kui-bo yang memainkan Im-sin Kiam-sut bersama muridnya yang juga cukup lihai, ditambah pula dengan Koai-sin-kiam Oh Tojin dan Lu Khek Jin, maka penyerbuan Beng Kui benar-benar telah mendesak Beng San serta membuat dia meloncat ke sana ke mari dan sibuk menggerakkan kipas untuk melindungi dirinya.

Pedang pendek di tangan kiri Beng Kui bergerak setengah lingkaran ke arah leher, lalu disusul dengan tusukan pedang panjang dari bawah ke atas. Gerakan ini selain aneh juga tidak terduga, cepat bukan main mengejutkan Beng San. Cepat pemuda ini menangkis dengan kipasnya dan...

"Brettt…!" kipas itu terobek oleh ujung pedang panjang.

Baiknya Beng San cepat-cepat melompat sambil berjungkir balik, tangan kirinya dari jauh memukul ke arah dada kakaknya itu. Beng Kui merasai adanya sambaran angin yang mengandung hawa panas sekali, membuat ia terkejut dan menarik kembali pedangnya sambil mundur dua langkah.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Beng San untuk melompat turun lagi dan mainkan kipasnya yang sudah robek untuk melindungi tubuh dari datangnya banyak senjata yang menyerangnya. Akan tetapi sekarang ia mulai tampak terdesak. Sayangnya bahwa yang berada di tangannya bukanlah pedang, melainkan sebuah kipas mainan yang kecil, maka ilmu pedangnya Im-yang Sin-kiam-sut tidak dapat dimainkan sehebat-hebatnya.

Hal terdesaknya Beng San ini memang tidak aneh. Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut adalah ilmu pedang ajaib yang dulu menjadi milik pendekar wanita Ang I Niocu, hebatnya bukan kepalang dan tidak dapat diketahui rahasianya oleh orang luar.

Ada pun Beng San sendiri, biar pun dia telah memiliki tenaga ajaib dan mempunyai ilmu pedang yang lebih tinggi tingkatnya, akan tetapi dia masih muda dan kurang pengalaman. Kini menghadapi Beng Kui yang dibantu oleh empat orang lain yang semuanya adalah ahli-ahli tingkat tinggi, tentu saja dia merasa repot juga.

"Brettttt!" kembali kipasnya pecah, kali ini terkena tusukan pedang pendek di tangan kiri Beng Kui.

Beng San marah bukan main. Ccepat ia menggerakkan kipas dengan tangan kanannya, diputar setengah lingkaran sedangkan tangan kirinya tiba-tiba menyelonong ke belakang, tepat menghantam pundak kiri Koai-sin-kiam Oh Tojin yang sedang lengah.

"Aduhhh...!" Oh Tojin menjerit kesakitan, tulang pundak kirinya terlepas sambungannya. Akan tetapi dengan marah ia malah makin maju menerjang ganas dengan pedangnya.

Sementara itu, pada saat Beng San memusatkan perhatian menyerang Oh Tojin dengan maksud merobohkan seorang lawannya, tiba-tiba sinar pedang di tangan Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li meluncur, satu ke arah kepala dan yang ke dua ke arah perutnya.

Baiknya pemuda ini sudah mahir sekali akan gerakan-gerakan Im-sin Kiam-sut, maka dia cepat menggeser kakinya ke kiri sekali dua kali sehingga terhindarlah ia dari ancaman ini. Tidak disangkanya sama sekali bahwa pada saat ia terdesak itu, Beng Kui sudah kembali menerjangnya dengan sepasang pedangnya yang dahsyat dan pada saat yang hampir berbareng, dari kanan kiri Oh Tojin dan Lu Khek Jin menerjang pula!

‘Digunting’ serentak oleh empat buah pedang yang hebat ini benar-benar keadaan Beng San kepepet sekali. Gerakan pedang Oh Tojin dan Lu Khek Jin ia ikuti dan dapat ia duga ke mana arahnya, maka dengan mudah ia segera bisa mengambil keputusan bagaimana harus mengelak.

Akan tetapi serangan sepasang pedang Beng Kui yang gerakan-gerakannya belum dia kenal betul, membuat dia benar-benar menjadi bingung. Dua kali menggerakkan pundak dan kaki ia dapat menghindarkan diri dari serangan Oh Tojin dan Lu Khek Jin, akan tetapi terjangan Beng Kui sulit ia hindarkan karena tidak tahu bagaimana perkembangannya. Ia hanya menggunakan kipasnya menangkis.

"Brettt!"

Sekarang bajunya di bagian pundak terbabat, berikut sedikit kulit serta dagingnya. Darah mengucur banyak sekali membasahi bajunya. Baiknya dia tadi masih berlaku cepat dan menggerakkan pundak, apa bila tidak tentu sebelah pundak berikut lengan kirinya akan terbabat putus! Keringat dingin keluar dari jidat pemuda ini, bukan karena sakitnya, tapi saking kaget melihat kehebatan ilmu pedang lawannya ini.

Sementara itu, saking girangnya melihat hasil serangan tadi, Beng Kui menyerang makin hebat, dibantu oleh empat orang kawannya. Malah sekarang Ho-hai Sam-ong juga sudah siap untuk mengeroyok pula. Sayangnya senjata mereka adalah senjata-senjata panjang dan berat, sehingga untuk pengeroyokan begitu banyak orang kurang praktis dan mereka hanya melihat-lihat untuk mencari lowongan baik.

Sepasang pedang Beng Kui menyambar-nyambar, berkilauan dan amat ganas. Sedang Beng San masih terus dalam keadaan terdesak sambil mulai menaruh perhatian untuk memecahkan gerakan penyerangan kakak kandungnya yang menghendaki kematiannya ini.

"Awas, Beng San! Pedang pendek dari kiri berbalik ke kanan, pedang panjang menyerang ke atas. Kemudian yang pendek mengancam lambung kanan, yang panjang berbalik ke bawah membabat kaki!"

Suara ini mengagetkan Beng Kui, tapi menggirangkan hati Beng San. Itulah suara Li Cu yang masih terbelenggu di kursi.

Gadis ini yang tentu saja mengenal baik pergerakan ilmu pedang yang dimainkan Beng Kui, kini memberi petunjuk kepada Beng San! Tadinya Li Cu memang tak mempedulikan Beng San karena pengaruh ucapan Beng Kui yang menjelek-jelekkan Beng San sebagai perusak wanita.

Tapi melihat kegagahan Beng San yang dikeroyok terus-menerus oleh sekian banyaknya musuh tangguh, kemudian melihat Beng San yang terluka oleh pedang Beng Kui tanpa bersambat, timbul perasaan kasihan dalam dada Li Cu.

Betapa pun juga, sudah pasti bahwa Beng San datang untuk menolongnya. Sedangkan berita tentang ‘kebusukan’ Beng San masih belum terbukti. Mana bisa dia membiarkan Beng San tewas? Lagi pula, kalau Beng San tewas, nasibnya sendiri sudah pasti akan celaka di tangan kakak seperguruan atau bekas tunangannya itu. Kalau Beng San dapat menolongnya keluar dari situ, kiranya belum tentu ia celaka di tangan Beng San.

"Li Cu, tutup mulutmu!" Beng Kui membentak marah dan tentu saja ia segera merubah gerakan penyerangannya yang sudah ‘didahului’ oleh teriakan Li Cu tadi.

Kembali Beng San bingung menghadapi perkembangan jurus-jurus penyerangan baru ini, sementara dia sedang sibuk menghadapi pengeroyokan empat orang yang lainnya.

“Yang pendek hanya pura-pura mengancam kepala, yang bergerak yang panjang. Awas ujung siku kiri yang hendak dibabat pedang panjang. Kemudian pendek dan panjang akan menyerang dari atas bawah bergantian, itu pun jebakan saja, yang harus dijaga babatan pedang pendek ke leher dibarengi babatan pedang panjang ke pinggang!”
"Li Cu, apa kau hendak mengkhianati suheng-mu sendiri?" Beng Kui membentak marah sekali.
"Aku tidak punya suheng semacam kau!" Li Cu berteriak kembali sambil terus memberi petunjuk-petunjuk.

Sekarang Beng San tidak terdesak lagi. Ia tidak begitu menguatirkan penyerangan Beng Kui setelah mendapat penjelasan dari Li Cu, malah sebelum serangan datang dia sudah tahu lebih dulu ke mana serangan musuh akan dilancarkan. Oleh karena ini, perhatiannya lebih banyak ditujukan kepada empat orang lawannya yang lain.

Begitu mendapat kesempatan, gagang kipasnya lantas berhasil menotok roboh Kim-thouw Thian-li yang tepat tertotok jalan darah di pundaknya, kemudian sebuah tendangan kilat berhasil merobohkan Oh Tojin yang terlempar sampai tiga meter lebih dan tidak mampu bangun kembali karena tulang lututnya patah! Tosu yang terlepas sambungan tulang pundak dan patah tulang lututnya itu hanya mengeluh dan menangis seperti anak kecil.

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan ini, Ho-hai Sam-ong segera menyerbu lagi. Beng San juga sudah lelah, terutama sekali darah yang mengucur dari pundaknya mulai mengering dan mendatangkan rasa nyeri dan perih. Akan tetapi dia mengamuk terus dengan nekat karena robohnya dua orang itu malah mendatangkan tambahan tiga tenaga lagi, yaitu Ho-hai Sam-ong yang malah lebih lihai.

Sementara itu, melihat keadaan yang tidak menguntungkan bagi pihaknya, padahal tadinya sudah berhasil baik sekali, Beng Kui menjadi marah. Semua gara-gara Li Cu yang sengaja memecahkan jurus-jurusnya dan membantu Beng San.

Beng Kui adalah seorang pemuda yang mempunyai ambisi (cita-cita) besar sekali. Dahulu di masa perjuangan, dia rela berkorban apa saja untuk bisa mencapai cita-citanya, yaitu menduduki tempat yang tinggi dalam pemerintahan baru. Siapa kira, kedudukan tinggi itu tidak bisa ia dapatkan karena ia kurang mendapat penghargaan dari Ciu Goan Ciang.

Oleh karena inilah ia terpaksa bersekutu dengan Raja Muda Lu, menjadi mantunya dan hendak mengadakan pemberontakan. Ini pun dldasari ambisinya yang besar. Dan yang paling dia benci adalah orang yang hendak menghalang-halangi ambisinya ini, atau yang hendak mempersukar perjalanan ke arah tercapainya cita-citanya.

Dia menganggap Beng San adalah seorang yang demikian itu, maka dia tidak ragu-ragu untuk mencoba membinasakannya. Sekarang melihat sikap Li Cu, timbul marahnya.

Pada waktu mendapat kesempatan, sekali meloncat ia sudah berada di dekat kursi yang diduduki Li Cu. Pedangnya berkelebat.

Li Cu sudah meramkan mata menerima kematian. Akan tetapi melihat wajah Li Cu yang cantik jelita, agaknya timbul kembali cinta dan nafsunya. Beng Kui tidak jadi membunuh Li Cu, melainkan gadis ini malah ia lepaskan dari kursi, kemudian ia pondong dan ia bawa lari keluar dari tempat itu!

Bukan main kagetnya hati Li Cu. Tadi ketika ia melihat Beng Kui menghampirinya dengan pedang diangkat, dia hanya meramkan mata menanti maut tanpa mengeluarkan suara, sedikit pun tak gentar. Akan tetapi sekarang pada saat merasa dirinya dipondong pergi dalam keadaan masih terbelenggu, wajahnya lantas berubah pucat sekali dan jantungnya berdebar-debar ketakutan.

"Beng San... tolong...!" teriaknya berulang-ulang dengan sekuat tenaga jeritnya.

Beng San bukanlah seorang pemuda yang suka berkelahi atau suka menang. Ia pun tidak suka menaruh hati dendam. Maka begitu mendengar jerit suara Li Cu, ia cepat menengok. Alangkah terkejut dan marahnya ketika dia melihat Li Cu dipondong oleh Beng Kui dan dibawa lari.

Kedatangan dirinya ke tempat itu sama sekali bukan untuk bertanding melawan Ho-hai Sam-ong, dengan Hek-hwa Kui-bo atau dengan yang lain-lainnya. Kedatangannya khusus untuk menolong Li Cu. Sekarang Li Cu dibawa lari oleh Beng Kui dan hal ini terang sekali terjadi di luar kehendak Li Cu yang menjerit-jerit minta tolong kepadanya. Bagaimana ia bisa tinggal diam saja?

Sekali dia menggerakkan tangan dan kaki, dia telah memukul runtuh pedang dari tangan Hek-hwa Kui-bo, kemudian tubuhnya berkelebat dan dia sudah meloncat untuk mengejar Beng Kui.

Matanya terasa sakit ketika dari ruangan yang terang itu ia kini tiba di luar rumah yang amat gelap. Tidak kelihatan bayangan Beng Kui, tapi ia melihat beberapa orang penjaga dengan tombak di tangan menjaga ternpat itu.

Bagaikan seekor burung saja ia melayang dan setelah dekat, sekaligus ia menotok roboh dua orang penjaga dan mengempit seorang di antaranya dibawa pergi ke tempat gelap. Gegerlah para penjaga ketika melihat seorang kawan roboh dan yang seorang lagi lenyap tak berbekas.

"Katakan ke mana perginya Tan Beng Kui ciangkun yang membawa wanita tawanan tadi!" Dengan suara ditekan Beng San memaksa tawanannya sambil meraba jalan darah yang menimbulkan rasa nyeri tak tertahankan.

Bibir penjaga itu meringis-ringis, lalu dengan suara yang terputus-putus memberi tahukan bahwa orang yang dimaksudkan itu telah pergi dengan menunggang seekor kuda menuju ke arah selatan.

Beng San melepaskan korbannya. Cepat ia berlari dalam gelap mengejar ke selatan.....

Ia maklum bahwa kakak kandungnya itu tentulah bertempat tinggal di Nan King, di kota raja yang baru bersama ayah mertuanya, raja muda she Lu itu. Maka ia mengambil jalan ini dan mengerahkan seluruh tenaga serta kepandaian ginkang-nya untuk berlari cepat, tanpa mempedulikan tubuhnya yang amat lelah dan darah segar yang mengucur keluar lagi dari luka di pundaknya karena gerakan-gerakannya ini.

Usaha mati-matian ini ternyata tidak sia-sia. Menjelang pagi dia sudah mendengar suara kaki kuda di sebelah depan, mulai memasuki hutan terakhir dalam perjalanan jauh ke kota raja itu. Hatinya masih ragu-ragu. Benarkah suara kaki kuda itu berasal dari kuda yang ditunggangi oleh Beng Kui?

Tiba-tiba semangatnya bangkit ketika lapat-lapat ia mendengar jeritan.

"Beng San...!!"

Beng San mempercepat larinya dan tak lama kemudian benar saja dia melihat Beng Kui membalapkan kudanya sambil memangku Li Cu yang masih tak berdaya karena kaki dan tangannya terbelenggu. Sambil meringankan langkah kakinya sehingga suara larinya tidak terdengar, Beng San makin mendekati dan akhirnya ia mendengar suara Beng Kui yang sedang mentertawakan, bahkan menghina.

"Li Cu, kau sekarang tergila-gila kepada Beng San? Heh-heh, benar-benar lucu. Tadinya kau marah-marah melihat aku kawin dengan puteri Raja Muda Lu dengan dasar politik, karena kelak aku ingin merebut kedudukan tinggi. Tapi cintaku masih kepada dirimu, Li Cu. Kalau kelak aku menjadi kaisar, atau setidaknya menjadi raja muda, apa salahnya kalau aku beristeri dua? Kau tetap akan menjadi isteriku yang tercinta. Kenapa kau tidak sabar dan tidak mau mengerti, lalu marah-marah? Kenapa kau sekarang malah kelihatan lebih mencinta adikku yang gila itu?"
"Dia seribu kali lebih baik dari padamu, kau laki-laki palsu, kau pengkhianat. Awas kau, Ayah pasti akan membalaskan sakit hatiku!" Li Cu berteriak-teriak.

Beng Kui tertawa mengejek, "Kau bilang Beng San lebih baik dari padaku? Ha-ha-ha, Li Cu, kau tidak mengerti. Dia adalah seorang iblis perusak wanita. Tak tahukah kau betapa murid Hoa-san-pai yang bernama Kwa Hong itu sudah dirusaknya, lantas ditinggalkannya pergi, malah dia menikah dengan anak seorang penjahat yang terkenal Song-bun-kwi? Tentang ayahmu... hemm, suhu tentu akan memaklumi pendirianku..."

Mendadak suaranya berhenti karena pada saat itu kuda yang ditungganginya terjungkal sehingga dua orang itu terlempar dari atas punggung kuda! Beng Kui terkejut sekali dan cepat melompat bangun sambil mencabut sepasang pedangnya, membalikkan tubuh dan dia sudah berhadapan dengan Beng San!

"Kau... lagi...?! Seperti iblis saja kau, mengapa selalu mengikuti aku?" Beng Kui berteriak marah.

Beng San tersenyum mengejek. "Bukan aku yang mengikuti kau, tapi kejahatanmu yang memaksa aku datang. Tidak boleh kau menculik seorang gadis, biar pun dia itu sumoi-mu sendiri." Sambil berkata demikian, Beng San lalu melangkahkan kaki menghampiri Li Cu yang rebah di atas tanah.

Pada saat terjatuh dari punggung kuda tadi, gadis ini masih dalam keadaan terbelenggu, maka jatuhnya lebih parah sehingga pakaiannya sampai robek-robek. Ia kini benar-benar dalam keadaan setengah pingsan, akan tetapi masih cukup sadar untuk bisa menangkap percakapan antara kakak beradik itu.

Selagi Beng San melangkah menghampiri Li Cu, Beng Kui yang sudah tak kuat menahan kemarahannya itu serentak menerjang dari belakang, menggerakkan sepasang pedang Liong-cu-kiam secepat kilat.

"Awas... Beng San... belakang...!" Li Cu yang melihat ini menjerit.

Akan tetapi gerakan Beng San bahkan mendahului jeritannya, karena pemuda ini sudah membalik, kedua tangannya bergerak, kakinya bergeser dengan langkah-langkah aneh. Secara otomatis tubuhnya menyelinap di antara sambaran dua pedang, tahu-tahu kedua tangannya sudah ‘memasuki’ ruang kosong di celah-celah kilatan pedang dan mendorong ke arah sepasang pundak lawan.

Terdengar Beng Kui mengeluh sebelum tangan Beng San sempat menyentuh pundaknya, sepasang pedangnya hampir terlepas dan di lain saat kedua pedang itu sudah berpindah ke tangan Beng San! Bukan main hebatnya gerakan ini dan dari kedua tangan Beng San itu samar-samar tampak mengebulnya uap putih.

Inilah sebuah gerakan dari ilmu silat mukjijat yang dahulu di jamannya Pendekar Sakti Bu Pun Su disebut Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih)! Karena kemahirannya dalam Im-yang Sin-kun, otomatis Beng San dapat mewarisi sebuah gerakan dari ilmu itu dan ternyata hasilnya hebat luar biasa.

Beng Kui memandang dengan muka pucat dan mata melotot. Beng San untuk sesaat juga memandang dengan muka marah dan mata berkilat, tetapi dia lalu menyerahkan pedang yang panjang itu kembali sambil berkata, "Aku sudah berjanji meminjamkan Liong-cu-kiam sepasang ini kepada kau dan Nona Cia Li Cu selama tiga tahun. Janji itu tetap berlaku. Tiga tahun setelah janjiku aku pasti akan mengambil kembali Liong-cu-kiam jantan ini dari
tanganmu."

Masih tertegun oleh kehebatan adik kandungnya yang secara mukjijat mampu merampas sepasang pedangnya, Beng Kui mengeluarkan tangan dan menerima pedangnya kembali. Kemudian setelah memandang, dengan mata melotot beberapa saat lamanya, ia menoleh ke arah Li Cu sejenak lalu membalikkan tubuh dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Beng San menarik napas panjang dan menghampiri Li Cu. Sekali pedang Liong-cu-kiam pendek itu bergerak di tangannya, nampak kilat menyambar dan sekaligus belenggu yang mengikat kaki dan tangan Li Cu putus semua tanpa terasa sedikit pun oleh gadis itu.

Li Cu meloncat bangun, mengeluh dan terhuyung-huyung ke belakang. Baiknya Beng San cepat mengejarnya dan menyambar pundaknya. Alangkah kagetnya pemuda ini pada saat melihat Li Cu sudah meramkan mata, tak ingat orang lagi, pingsan dalam pelukannya.

Beng San bingung. Ia pun meraba pergelangan lengan gadis itu dan maklumlah ia bahwa gadis ini tidak apa-apa. Hanya karena sudah banyak mengalami ketegangan, kemarahan dan kekuatiran, ditambah lagi tadi terlalu lama ia tertotok dan terbelenggu, maka begitu ia dibebaskan, di dalam batin dan pikirannya terjadi pukulan yang tak kuat ia menahannya sehingga membuatnya pingsan.

Terpaksa Beng San memondong dan membawanya lari keluar dari hutan itu. Dia merasa kuatir kalau-kalau Beng Kui tiba-tiba datang bersama kawan-kawannya. Akan payah juga kalau dia kembali dikeroyok orang-orang pandai sementara Li Cu masih pingsan. Lebih baik cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

Belum juga dia berlari, dia melihat kuda yang tadi ditunggangi Beng Kui, sekarang sudah sembuh dan sedang makan rumput. Memang tadi ketika merobohkan kuda itu, Beng San tidak mempergunakan serangan mematikan, melainkan menotok dengan lemparan kerikil ke arah lutut kuda sehingga kuda itu terjungkal saja.

Dengan girang kini Beng San menghampiri kuda yang masih lengkap dengan pelana dan kendali itu, lalu ia melompat ke atasnya sambil merangkul Li Cu. Dengan perlahan ia lalu menjalankan kudanya ke arah utara.

Matahari telah naik tinggi ketika kuda yang ditunggangi Beng San sampai di tepi Sungai Huang-ho sebelah barat. Beng San membelokkan kudanya ke barat, menyusur sepanjang pantai sungai memasuki sebuah hutan yang segar kehijauan dan teduh.

Hari itu panasnya bukan kepalang. Walau pun tidak dibalapkan, kudanya sudah berpeluh dan napasnya terengah-engah. Beng San merasa kasihan dan menghentikan kuda itu di bawah sebatang pohon besar di mana air Sungai Huang-ho tampak indah kehijauan.

Li Cu baru saja siuman dari pingsan. Gadis ini merasa kepalanya pening sekali, matanya berputar-putar. Dia mulai membuka sedikit kedua matanya, lalu memejamkannya kembali karena sinar matahari yang menerobos dari celah-celah daun memasuki matanya.

Lalu ia teringat betapa indahnya daun-daun pohon di atas tadi, maka dibukanya kembali matanya. Memang indah! Daun-daun pohon yang kecil dengan bentuk sempurna ditimpa matahari, bersusun-susun menimbulkan warna hijau yang dihias sinar kuning emas dan bayangan kehitaman. Bagai benang-benang sutera kuning emas sinar matahari meluncur turun di antara celah-celah daun, kadang-kadang berubah kedudukan karena daun-daun itu bergerak oleh angin.

Sampai lama Li Cu terpesona dengan keindahan pemandangan yang belum pernah dia perhatikan sebelumnya. Kemudian terasa olehnya pergerakan napas dan bunyi berdetik di pinggir telinganya. Makin lebar matanya dibuka.

Yang mula-mula tampak adalah sebuah hidung dan sebuah mulut dari muka yang putih. Yang paling jelas adalah bentuk dagu yang keras. Ia pun makin mengerahkan perhatian, memandang kepada muka itu. Tahulah ia sekarang bahwa yang berdetik-detik itu adalah bunyi jantung dalam dada di mana ia bersandar. Ia dipangku orang, di atas sebuah pelana kuda! Dan muka itu... muka Beng Kui!

"Bedebah kurang ajar kau!"

Li Cu seketika timbul tenaganya. Kedua tangannya meraih ke atas lalu dipukulkan dua kali ke muka itu, muka yang dibencinya, muka yang dahulu pernah dicintainya. Muka Beng Kui!

Li Cu sudah berhasil memukul. Sambil terus meloncat dia menjatuhkan diri ke pinggir, lalu berjungkir balik dan di lain saat dia sudah berdiri tegak di depan kuda, siap sedia untuk menyerang lagi. Ia melihat orang yang dipukul mukanya tadi meloncat turun, terus duduk di atas akar pohon sambil menutupi mukanya.

Beng San tak dapat mengelak ketika tadi secara mendadak Li Cu memukulnya. Memang dia pun seperti Li Cu, terpesona oleh cahaya matahari yang secara indah menghias hutan itu dengan sinar benang emas, akan tetapi warna kuning emas itu mengingatkan ia akan burung rajawali emas dan sekaligus mengingatkan ia kembali kepada Kwa Hong.

Terngiang di telinganya kata-kata tuduhan Beng Kui bahwa dia sudah merusak kehidupan Kwa Hong. Beng Kui tidak tahu keadaan yang sebenarnya, akan tetapi memang tuduhan itu tak dapat disangkalnya pula. Memang ia telah merusak kehidupan Kwa Hong. Ia telah berdosa besar, besar sekali.

Pada saat itulah Li Cu memaki dan memukul mukanya dua kali, yang pertama mengenai pinggir jidatnya dan yang ke dua mengenai pinggir mulutnya. Darah mengucur dari kedua tempat itu, sakit rasanya. Akan tetapi hati Beng San lebih sakit oleh makian tadi.

Dia dapat menahan pukulan itu, lalu meloncat turun dan menjatuhkan diri duduk di atas akar pohon, menutupi mukanya dengan kedua tangan untuk menyembunyikan dua butir air mata yang berloncatan keluar. Akan tetapi tanpa disengaja kedua tangannya itu pun menyembunyikan jidat dan bibir yang mengucurkan darah.

Setelah kini agak reda peningnya, pandang mata Li Cu makin terang. Dia memandang terbelalak kepada orang yang duduk menutupi muka di bawah pohon itu. Sejenak Li Cu bingung. Ia teringat betul bahwa yang dipukulnya tadi adalah Beng Kui. Tapi orang itu... pakaian itu dan... dan pundak yang terluka itu...!

"Beng San...!” Li Cu menahan jeritnya, tangan kirinya menutupi mulut, lalu ia melangkah maju tiga tindak mendekat.

Beng San menurunkan kedua tangannya yang menutupi muka. Darah mengucur deras dari luka di jidatnya. Memang bagian tubuh yang teratas ini paling banyak rnengeluarkan darah apa bila terluka. Pandang mata Beng San kabur dan dia melihat seakan-akan Kwa Hong yang berdiri di depannya sekarang ini.

"Kau... kau boleh pukul aku lagi kalau kau suka... bunuh pun boleh...," katanya perlahan.

Meremang bulu tengkuk Li Cu saat melihat muka yang berlumuran darah dan mendengar suara yang tak berirama ini, seperti suara dari balik kubur. Dia merasa menyesal bukan main. Kenapa dia malah memukul Beng San yang telah menolongnya dari bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut? Timbul penyesalan dan kasihannya.

"Ahhh, jadi kaukah yang kupukul tadi?" tanyanya dengan penuh sesal sambil cepat maju menghampiri.

Setelah dekat barulah Beng San ingat kembali bahwa gadis ini sama sekali bukan Kwa Hong biar pun pakaiannya serba merah, melainkan Cia Li Cu.

"Nona Cia, ini pedangmu... ambil... ambil... ambillah sendiri..." katanya lemah.

Pedang Liong-cu-kiam pendek itu telah ia selipkan di belakang punggungnya.

"Siapa bicara tentang pedang? Mukamu itu... harus diurus dulu," kata Li Cu.

Dengan cepat gadis ini sudah berlutut di depan Beng San, kemudian dengan cekatan ia membersihkan darah dari luka di bibir dan jidat itu.Tanpa ragu-ragu lagi dan sama sekali tidak jijik Li Cu mempergunakan sapu tangannya dari sutera yang harum untuk mengusap darah. Sapu tangan itu sudah penuh darah, dan luka di kening masih terus mengucurkan darah.

"Tunggu sebentar, aku mencari air dulu," kata Li Cu.

Cepat gadis ini lari ke tepi sungai dan mengambil air dengan mempergunakan daun yang lebar. Kemudian ia datang lagi dan dicucinya luka-luka itu. Cekatan sekali ia bekerja tanpa ragu-ragu dan jari-jari tangannya dengan mesra membersihkan luka yang diakibatkan oleh pukulannya sendiri tadi.

"Wah, darahnya mengucur terus. Jidatmu ini harus dibungkus," bisik Li Cu perlahan dan agak bingung karena tidak ada obat penghenti darah di situ.

Dia mencuci sapu tangannya dan mempergunakannya untuk membalut jidat Beng San. Tentu saja untuk pekerjaan ini ia harus mengangkat kedua lengannya dan seakan-akan memeluk kepala Beng San.

Selama itu, jantung Beng San berdebar tidak karuan. Lenyaplah bayangan Kwa Hong yang selama ini mengikutinya dan membuat ia merasa berdosa hebat. Malah bayangan isterinya, Kwee Bi Goat, isterinya yang tercinta yang selama ini dirindukannya, juga tak nampak pada saat itu.

Bukan main cantik jelitanya gadis ini, demikian ia mendengar bisikan-bisikan di belakang telinganya, seakan-akan batang pohon yang dia sandari itulah yang berbisik-bisik. Cantik bagai bidadari.

Mata yang bening redup itu, mulut kecil mungil dengan hidung yang mancung. Rambut yang panjang hitam awut-awutan, kadang-kadang memperlihatkan kulit leher yang putih kekuningan.

Ketika gadis itu membalutkan sapu tangan ke belakang lehernya ia merasa seakan-akan dipeluk dan Beng San meramkan matanya. Ganda sedap mengharum membuat ia seperti mabok dan ketika ia membuka matanya, ternyata pekerjaan gadis itu sudah selesai.

Li Cu masih berlutut di depannya, mukanya sangat dekat, terlalu dekat seakan-akan dia dapat merasai tiupan napas gadis itu. Dua pasang mata bertemu, saling pandang, saling terkam dan sukar terlepas lagi. Mulut Li Cu agak terbuka, matanya redup dan bulu mata yang panjang itu bergerak-gerak.

Bisikan di belakang telinga Beng San semakin mendesak. “Dia cantik bukan main. Dan agaknya suka kepadamu. Hemmm... tunggu apa lagi? Hajar!”

Li Cu menjerit kecil sambil melompat mundur. Hampir berbareng di saat itu juga Beng San sambil duduk membalikkan tubuhnya. Tangan kanannya yang terkepal lantas memukul batang pohon besar di belakangnya.

“Blukkk!”

Saking kerasnya dia menghantam, kepalan tangan itu melesak masuk ke dalam batang pohon sampai ke pergelangan tangannya!

"Ehh... ahh... kenapa...? Kenapa kau memukul pohon...?" Li Cu yang kini sudah berdiri, memandang dengan mata terbelalak terheran-heran.

Beng San perlahan-lahan bangkit berdiri, menarik napas berkali-kali. Dia masih sempat mendengar suara yang berbisik-bisik tadi seperti mentertawakannya dari jauh. Setelah dia mendengarkan betul-betul, itu sebenarnya adalah suara daun-daun pohon tertiup angin. Ia bergidik.

Betapa bahayanya bisikan-bisikan tadi. Bisikan iblis yang setiap saat menggoda manusia. Untung dia dapat mengalahkannya tadi dan biar pun kepalan tangannya terasa sakit, dia merasa lega hatinya. Kini tanpa ragu-ragu ia dapat mengangkat muka memandang wajah Li Cu.

"Beng San... kenapa kau memukul pohon...?" tanyanya sekali lagi.
"Ahh, tidak... tidak apa-apa, Nona."
"Mukamu tadi menakutkan sekali..."
"Bukan salahku. Mukaku memang buruk..."
"Sekarang tidak lagi," buru-buru Li Cu memotong. "Tadi, sedetik sebelum kau memukul pohon. Aku sampai kaget dan menjerit. Beng San, kenapa mukamu bisa berubah-ubah?"
"Sudah nasibku, Nona. Ketika kecil aku dipaksa makan racun. Apakah sekarang mukaku masih menakutkanmu?"

Li Cu memaksa senyum, matanya bersinar-sinar lagi. "Tidak lagi. Sekarang tidak. Hanya tadi sebentar... ahh, membikin aku teringat akan kata-kata Beng Kui tadi. Kau disebut iblis perusak wanita."

"Memang aku iblis... bukan hanya iblis, bahkan kau tadi pun menyebutku bedebah dan kurang ajar... memang demikianlah aku..."

Beng San menunduk dan menarik napas, merasa betapa memang ia tepat sekali disebut demikian setelah apa yang dia akibatkan pada diri Kwa Hong. Dia berdosa kepada Kwa Hong dan lebih-lebih lagi kepada Bi Goat.

"Aku tadi mengira kau Beng Kui, maka aku memaki demikian."

Kembali Beng San menarik napas panjang. "Memang tidak banyak selisihnya, Nona Cia. Kami berdua... ahh, kami bukan orang baik..."

Li Cu memandang dan menjadi terharu. Muka itu kurus benar, tapi kulitnya sekarang putih dan... hemmm, tampan sekali. Apa lagi alis yang berbentuk golok itu, dan sepasang mata yang tajam luar biasa. Rambutnya tidak terpelihara, pakaiannya pun hampir menyerupai pakaian jembel. Memang jika telihat lahirnya saja jauh bedanya dengan Beng Kui yang mentereng dan rapi. Tapi hatinya… jauh nian bedanya.

"Beng San...," katanya setelah mereka berdua tercekam oleh suasana hening.
"Malam tadi di atas genteng, kenapa kau menangis?"
"Apakah aku menangis? Aku sudah lupa...”
"Sebelum kau muncul untuk menolongku, kau menangis. Tangismu memilukan sekali biar pun hanya terdengar sebentar."
"Bisa jadi. Aku menangisi keadaanku, juga keadaan dia yang dulu kuagungkan, kukagumi sebagai kakakku yang mulia dan perkasa. Kiranya dia sama saja dengan aku..."
"Kau kenapa? Kau... kau baik sekali, Beng San." Ucapan ini terdengar lantang dan terus terang.

Ketika Beng San mengangkat muka memandang, kembali dua pasang mata bertemu dan Beng San melihat pandang mata yang jujur dan tahu bahwa pernyataan nona ini keluar dari hatinya. Ia menarik napas.

"Bukan, sayang sekali. Benar seperti yang dikatakan olehnya, aku seorang jahat, perusak hati wanita, aku seorang penuh dosa..."
“Tak percaya! Aku tidak percaya!" Suara Li Cu makin keras penuh kesungguhan.

Gadis ini diam-diam merasa aneh. Sesuatu yang aneh terjadi dalam dirinya. Meski pun sudah lama sekali ia bertunangan secara resmi dengan Beng Kui, namun hubungannya sama saja dengan hubungan kakak beradik, seorang suheng dan sumoi. Belum pernah jantungnya menggetar, seperti tadi ketika ia membalut kepala Beng San. Malah belum pernah berdekatan seperti tadi dengan Beng San. Apakah artinya semua ini? Dan ia sama sekali tidak mau percaya kalau Beng San seorang jahat, seorang perusak wanita.

Beng San memandang dengan melongo. Tiba-tiba dia merasa jantungnya berdebar keras. Penuh keharuan dan kengerian dia memandang pada wajah jelita itu. Sudah terlalu sering dia melihat wajah gadis-gadis yang mencintanya, terutama sekali wajah Kwa Hong dan isterinya Kwee Bi Goat. Sinar mata dan wajah mereka itu seperti wajah Li Cu sekarang ini, demikian mesra, demikian jelas cinta kasih terbayang pada sepasang mata yang bening itu.

Tak boleh ini! Sekali-kali tidak boleh! Ia tidak mau berlaku sembrono seperti dulu. Dia tak mau melukai hati gadis, apa lagi gadis seperti Li Cu. Dulu sudah banyak gadis-gadis yang hatinya terluka olehnya.

"Nona Cia, aku harus berterus terang kepadamu. Memang aku seorang laki-laki penuh dosa dan apa yang dikatakan suheng-mu tadi, semuanya betul belaka."

Kemudian dengan suara tegas jelas, sama sekali tidak ragu-ragu dengan pengakuannya itu, sebab ia hendak meringankan tekanan dosanya yang menindih isi dada, ia kemudian menceritakan kepada Li Cu telah melakukan perhubungan dengan Kwa Hong, kemudian meninggalkannya karena ia sudah jatuh cinta dengan Kwee Bi Goat dan kemudian ia ikut bersama Bi Goat ke Min-san dan menjadi suami isteri di sana. Diceritakannya pula betapa Kwa Hong menjadi rusak hatinya dan jadi seperti gila, apa lagi setelah ternyata bahwa hubungan mereka itu telah mengakibatkan Kwa Hong mengandung.

"Aku telah berdosa besar kepada Kwa Hong, aku telah merusak hidupnya. Dan aku lebih berdosa lagi kepada isteriku yang belum tahu akan hal itu. Seharusnya dulu aku mengaku di depan Bi Goat, tetapi aku pengecut... aku takut kehilangan dia, jadi aku seakan-akan menipunya. Ahhh, dosaku bertumpuk-tumpuk, Nona Cia. Sudah sepatutnya kalau orang semulia engkau membenciku, menganggap rendah kepadaku seperti yang dikatakan oleh suheng-mu itu..." Demikian Beng San menutup ceritanya.

Li Cu sejak tadi mendengarkan dengan mata terbelalak dan muka yang sebentar pucat sebentar merah. Entah mengapa dia sendiri tidak tahu, mendengar akan penuturan Beng San tentang pengalaman dengan beberapa orang gadis cantik ini, dadanya terasa panas dan ingin sekali ia marah-marah! Ingin sekali ia menampar muka Beng San. Tetapi juga ingin sekali ia menangis!

"Kau... kau... laki-laki mata keranjang!" makinya dengan suara serak sambil berdiri dan berlari pergi dari tempat itu.
"Nona Cia...! Ini pedangmu, bawalah...!”

Beng San juga berdiri dan sekali ia meloncat, ia sudah berada di depan Li Cu, pedang pendek Liong-cu-kiam telah ia cabut dan ia angsurkan kepada gadis itu. Herannya bukan main ketika ia melihat muka yang jelita itu basah oleh air mata yang bercucuran.

Li Cu menggunakan tangan kiri mengusapi air matanya. Tanpa mengeluarkan kata-kata dan tanpa memandangi muka Beng San ia menyambar pedang itu lalu berlari pergi lagi. Isaknya terdengar memilukan ketika tubuhnya berkelebat di depan Beng San.

Pemuda ini berdiri bengong memandang ke arah tubuh berpakaian merah yang berlari cepat itu. Berkali-kali dia menarik napas panjang dan seperti patung dia memandang ke depan sampai bayangan merah itu lenyap ditelan kejauhan.

"Ha-ha-ha-ha, puteri Bu-tek Kiam-ong itu cinta kepadamu, Adikku!” mendadak suara itu terdengar di belakang.

Beng San terkejut sekali, cepat berputar dan... dia berhadapan dengan seorang laki-laki bertubuh raksasa yang gagah sekali dan yang berdiri sambil tersenyum lebar dan bertolak pinggang.

"Twako...!" Beng San berseru girang dan maju merangkul laki-laki gagah perkasa itu.
"Ha-ha-ha, Beng San adikku. Di mana-mana kau selalu menghadapi keruwetan dengan wanita. Ahh, kau bikin aku mengiri saja."
"Tan-twako, jangan menggoda aku. Bagaimana keadaanmu? Ke mana saja selama ini kau pergi?" Beng San menjadi gembira kembali sesudah bertemu dengan laki-laki tinggi besar itu.

Siapakah dia? Bukan seorang biasa, melainkan seorang bekas pejuang yang sudah terkenal namanya sebagai pemimpin dari perkumpulan Pek-lian-pai yang banyak jasanya dalam perjuangan menumbangkan kekuasaan pemerintah Mongol. Namanya adalah Tan Hok dan semenjak dahulu menjadi sahabat baik Beng San, malah Tan Hok menganggap Beng San sebagai adik angkatnya sendiri.

Tan Hok juga seorang gagah yang memiliki ilmu silat tinggi. Sebetulnya yang membuat ia amat dikagumi Beng San bukanlah ilmu silatnya, melainkan jiwa kepatriotannya yang luar biasa besarnya. Dalam hal perjuangan, Tan Hok sama sekali tak bisa disamakan dengan orang seperti Beng Kui yang berjuang karena ada pamrih untuk memetik buah dari hasil perjuangannya itu untuk keperluan dan kesenangan diri pribadi.

Perjuangan yang dilakukan Tan Hok dengan perkumpulan rahasianya adalah perjuangan suci tanpa pamrih. Kalau pun ada pamrih, maka pamrih itu hanya ingin melihat rakyatnya terbebas dari pada belenggu penjajahan. Jadi pamrihnya bukan untuk kepentingan diri pribadi, tetapi demi kesejahteraan rakyat. Oleh karena inilah setelah pemerintah Mongol tumbang, Tan Hok dan teman-temannya tidak termasuk bekas-bekas pejuang yang ikut gontok-gontokan untuk memperebutkan kedudukan dan kemuliaan di kota raja!

"Tan-twako, kau hendak pergi ke manakah?" Kembali Beng San bertanya, untuk sejenak ia lupa akan penderitaan batin yang sedang mengamuk di hatinya ketika bertemu dengan orang yang amat disayangnya ini.
"San-te (Adik San), sebetulnya tidak sengaja aku dapat bertemu dengan kau di sini. Pagi tadi aku melihat kau naik kuda sambil memangku seorang nona yang tampaknya sakit atau pingsan. Tadinya aku curiga melihat keadaan Nona itu maka aku tidak menegurmu dan diam-diam mengikutimu. Maafkan kecurigaanku ini. Kemudian aku melihat bahwa dia adalah Nona Cia Li Cu puteri Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan." Tan Hok berhenti sebentar, kemudian dengan muka sungguh-sungguh ia berkata lagi, "San-te, sebetulnya pertemuan ini sangat menggembirakan hatiku dan kebetulan sekali. Andai kata kita tidak bertemu di sini, agaknya aku pun akan mencarimu di Min-san untuk minta bantuanmu."

Girang hati Beng San bahwa teman baiknya ini tidak melanjutkan bicaranya tentang Li Cu. Ia sudah merasa malu sekali kalau ada orang berbicara tentang gadis-gadis yang pernah membuat hidupnya kacau-balau. Dengan penuh gairah ia lalu berkata,

"Katakanlah, Twako. Apakah urusan yang mengganggumu? Tentu adikmu ini dengan hati lapang siap sedia membantumu."
"Kalau hanya menghadapi urusan pribadi, mana aku berani mengganggumu, Adik Beng San? Hanya ada satu macam urusan yang memaksaku minta bantuan siapa pun juga."
"Urusan negara?" Beng San menduga. Dia tahu akan watak laki-laki raksasa itu.

Tan Hok mengangguk. "Patriot-patriot palsu itu benar-benar menjemukan. Mereka kini mengacau dan berusaha merampas kedudukan Kaisar Thai Cu, merasa bahwa mereka lebih berhak dari pada bekas pahlawan Giu Goan Ciang. Hemmm, benar-benar tidak ubahnya dengan anjing-anjing yang memperebutkan bangkai srigala yang tadinya mereka keroyok!"

"Aku sudah mendengar juga tentang itu, Twako, bahkan sudah bertemu dengan Ho-hai Sam-ong yang bersekongkol dengan Raja Muda Lu Siauw Ong. Aku mendengar tentang rencana mereka yang akan bergerak dari luar dan dari dalam."
"Bagus!" Tan Hok melompat bangun, lalu duduk kembali di atas akar pohon. "Jadi mereka sudah bersekongkol pula? Kalau begitu lebih mudah untuk sekaligus menghancurkan mereka. Adikku, karena inilah maka aku minta bantuanmu. Aku dan teman-temanku dari Pek-lian-pai sudah siap dan malah Kaisar sudah pula memberi bantuan pasukan untuk menumpas para pemberontak tak tahu malu itu. San-te, dengan kau di sampingku, aku akan merasa kuat untuk menghadapi mereka yang tak boleh dipandang ringan itu. Dan... perlu kuberi tahukan kepadamu, yang kau sebut Lu Siauw Ong tadi, dia itu adalah mertua dari kakak kandungmu Tang Beng Kui. Jadi... kalau kau membantuku, kau tentu akan berhadapan dengan Tan Beng Kui sebagai musuh!"

Beng San mengangguk. "Hal itu pun aku sudah tahu, Twako." Kemudian secara singkat Beng San menuturkan pertemuannya dengan kakak kandungnya itu di rumah Ho-hai Sam-ong. Hanya soal Li Cu tidak ia ceritakan.

Tan Hok amat senang mendengar ini. "Kalau begitu, mari kau ikut denganku. Kita akan bergerak dari utara, membersihkan pemberontak-pemberontak yang datang dari sana. Ho-hai Sam-ong tidak akan berani sembarangan bergerak kalau komplotan-komplotannya dari utara belum kuat benar membantunya."

"Aku bersedia membantumu, Twako. Hanya saja... aku masih belum tahu pasti, belum yakin akan tujuan pergerakanmu sekarang ini. Orang-orang itu saling memperebutkan kedudukan dan semua yang kudengar menyatakan bahwa Kaisar sekarang ini, bekas pemimpin pejuang Ciu Goan Ciang adalah seorang yang tidak adil. Sekarang ternyata kau membantu Kaisar. Apakah menurut pendapatmu Kaisar Thai Cu yang betul dan mereka yang tidak puas itu salah?"

"Adikku Beng San, kau tidak mengerti tentang keadaan negara, memang hal ini tidak aneh karena kau tidak mempedulikannya. Tetapi aku yang selalu mengikuti perkembangannya, dapat melihat dengan nyata. Dengarlah kata-kataku ini, Adikku. Sudah jelas bahwa dalam perjuangan menumbangkan kekuasaan Mongol, pemimpin besar Ciu Goan Ciang sudah membuktikan bahwa dialah seorang pemimpin yang pandai dan hanya dia yang akan mampu memimpin rakyat dan memajukan negara yang baru saja terbebas dari belenggu penjajahan. Andai kata bukan Ciu Goan Ciang yang dalam perjuangan dapat menyatukan semua unsur kekuatan rakyat, mana perjuangan melawan Mongol bisa tercapai?"

Tan Hok berhenti sebentar untuk meredakan gelora dalam dadanya, lalu disambungnya perlahan dan tenang,

"Bahaya yang mengancam keadaan negara masih belum lenyap. Bangsa Mongol yang melarikan diri ke utara setiap waktu tentu hendak mencoba merampas kembali tanah jajahannya. Belum lagi bangsa-bangsa lainnya yang hendak mengambil keuntungan dari keadaan kacau-balau sehabis perang. Kita semua membutuhkan bimbingan seorang yang kuat lahir batin, sedangkan perjuangan membuktikan bahwa hanya Ciu Goan Ciang yang mempunyai kemampuan untuk tugas berat itu. Pengangkatan dirinya sebagai Kaisar telah disetujui oleh semua pemimpin para pejuang." Kembali ia berhenti.

Akan tetapi Beng San mengemukakan pendapatnya. "Kalau begitu, kenapa masih banyak orang yang merasa kurang puas dan menganggap dia kurang adil karena tidak memberi kedudukan kepada para bekas pejuang?"

"Kalau menurutkan pendapat setiap orang yang selalu mementingkan dirinya sendiri, di dunia ini memang tak akan pernah ada keadilan. Mana bisa timbul keadilan kalau semua orang menghendaki bahwa yang enak-enak dan yang baik-baik itu seyogianya diberikan kepadanya saja? Soal kedudukan bukan hal yang semudah orang bicarakan. Tentu saja Kaisar harus memilih orang dengan amat hati-hati untuk didudukkan pada suatu pangkat, disesuaikan dengan kecakapan orang itu. Bagaimana nanti jadinya kalau seorang bekas kepala rampok diangkat menjadi menteri yang mengurus kekayaan negara? Bagaimana akan jadinya kalau seorang yang hampir tidak pandai menulis diangkat menjadi menteri kebudayaan? Seorang yang buta akan urusan pemerintahan diangkat menjadi menteri urusan negara? Tentu akan menjadi makin kacau kalau hal-hal semacam itu dilakukan hanya untuk memenuhi pamrih bekas-bekas pejuang yang menganggap diri sendiri paling berjasa itu." Kembali Tan Hok bicara penuh semangat.

"Kalau begitu, menurut anggapan Twako, Kaisar Thai Cu atau bekas pejuang Ciu Goan Ciang itu adalah seorang yang sempurna dan semua rakyat harus mentaati saja apa yang ia kehendaki?"

Tan Hok tertawa. "Adikku. Tidak ada seorang manusia yang sempurna sama sekali di dunia ini! Para dewa sekali pun masih belum sempurna karena masih tidak luput dari kesalahan. Tentu saja Kaisar tak terkecuali. Aku takkan membantah jika ada orang yang dapat mengemukakan kesalahan-kesalahan, cacad-cacad atau kekurangan-kekurangan Kaisar. Setiap manusia sudah pasti memiliki kekurangan-kekurangan dan cacat-cacatnya. Akan tetapi dalam hal kenegaraan, adalah keliru kalau menilai kedudukan seseorang dari tabiat pribadinya. Seharusnya dilihat pelaksanaan dari tugasnya, hasil dari pekerjaannya, dan kemampuan pada dirinya. Kiraku tidak ada orang lainnya yang lebih pandai dan lebih bijaksana dan lebih tepat untuk menduduki singgasana dari pada Kaisar yang sekarang ini. Oleh karena mengingat bahwa dia adalah pusat dari kekuatan kerajaan yang baru, pusat dari pemerintahan sesudah kaum penjajah jatuh, maka sudah seharusnyalah kalau kita mendukung dan membantunya. Bukan semata-mata membela pribadi Ciu Goan Ciang yang sekarang sudah menjadi Kaisar Thai Cu, melainkan mendukung dan membela pemimpin dari bangsa kita. Kalau tidak kita bela, lalu pimpinan terjatuh ke dalam tangan orang yang tidak bijaksana, tidak mampu, apa lagi yang jahat seperti bekas-bekas kepala rampok macam Ho-hai Sam-ong, ahhh, akan bagaimanakah jadinya dengan negara kita?"

Setelah mendengar penjelasan dan penuturan Tan Hok secara panjang lebar, akhirnya Tan Beng San menyatakan suka ikut dan membantu Tan Hok untuk menggempur dan menghalau para pemberontak yang hendak mendatangkan kekacauan itu. Hal ini bukan semata-mata karena semangat Beng San bangkit oleh uraian Tan Hok, akan tetapi untuk melupakan atau menghibur kehancuran hatinya.

Tiba-tiba dia merasa malu untuk pulang ke Min-san, untuk berhadapan muka dengan Bi Goat, isterinya yang tercinta itu. Untuk sementara waktu dia ingin menjauh dulu. Memang kadang kala hatinya penuh rindu, perasaannya juga hancur kalau ia teringat betapa Bi Goat sudah mengandung ketika ia tinggalkan ke Hoa-san. Sudah mengandung beberapa bulan. Inilah sebabnya kenapa ia melarang ketika Bi Goat menyatakan keinginan hatinya hendak ikut pergi dengan suaminya itu ke Hoa-san…..

********************
Selanjutnya baca
RAJAWALI EMAS : JILID-05
LihatTutupKomentar