Pedang Awan Merah Jilid 06


Hek-bin Mo-ong terhuyung-huyung sambil tertawa-tawa. Ia telah terluka hebat, keracunan akibat pukulannya sendiri yang membalik ketika beradu tenaga dengan Han Lin. Kadang-kadang dia menggigil, dan napasnya sesak terengah-engah. Akan tetapi dia masih terus tertawa dan terkekeh. Luka di sebelah dalam yang mengandung racun itu agaknya sudah membuat Hek I Mo-ong menjadi gila!

Ketika dia mendaki bukit itu, setibanya di lereng bukit, akhirnya dia terhuyung lalu roboh pingsan. Ketika terjatuh dahinya menimpa batu sehingga berdarah, akan tetapi dia masih sempat mengeluarkan satu kali teriakan.

Pada saat itu pula dari puncak bukit turun seorang wanita. Wanita ini masih muda sekali, usianya delapan belas tahun lebih, cantik jelita dan lembut, langkahnya ringan dan seperti orang menari saja, pakaiannya serba putih terbuat dari sutera halus. Mengherankan sekali melihat wanita yang seperti puteri kerajaan itu berjalan seorang diri di tempat sunyi itu, di atas jalan yang tidak mudah dilalui.

Wanita itu bukan orang biasa, melainkan seorang ahli silat yang sangat lihai, juga seorang ahli obat yang sukar dicari bandingnya pada waktu itu. Ia adalah Lie Cin Mei yang berjuluk Kwan Im Sianli (Dewi Kwan Im). Ia dijuluki orang demikian karena sepak terjangnya yang suka mengulurkan tangan menolong siapa saja tanpa pilih bulu.

Ketika dia sedang menuruni bukit sambil membawa sebuah keranjang obat yang penuh dengan daun-daun dan akar-akar obat, dia mendengar teriakan yang parau menyeramkan itu. Cepat dia pun melangkah menuju ke arah suara itu dan dia mendapatkan Hek-bin Mo-ong menggeletak pingsan di situ.

Sekali pandang saja Kwan Im Sianli Lie Cin Mei telah mengenal Hek-bin Mo-ong sebagai seorang datuk, seorang dari Sam Mo-ong yang sangat terkenal. Akan tetapi, menghadapi orang yang sedang sakit, dia tidak memandang siapa orangnya. Yang penting ada orang sakit dan membutuhkan pertolongannya. Ini saja yang masuk dalam pikirannya.

Cepat dia meletakkan keranjangnya lalu berjongkok, memeriksa nadi dan dada orang itu. Dan dia terkejut bukan main. Laki-laki gendut pendek bermuka hitam itu sudah keracunan hebat! Di dalam tubuhnya terdapat hawa dingin sekali berputaran, mengancam nyawanya setiap saat. Kalau tidak segera ditolong, orang ini jelas akan mati dalam waktu beberapa jam saja.

Lie Cin Mei cepat duduk bersila, menggulung lengan bajunya sehingga nampak sepasang lengannya yang berkulit putih mulus. Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan tentang pengobatan, dara ini segera menyadari bahwa untuk mengusir racun itu tak cukup hanya dengan mengolesi obat luar dan memberinya minum obat dalam, namun harus dilakukan dengan pengerahan sinkang yang akan menguras tenaganya.

Akan tetapi, dalam saat-saat seperti itu, Cin Mei tidak memperhitungkan untung ruginya. Saat itu yang paling penting baginya hanyalah menyelamatkan nyawa seorang manusia, tanpa membedakan siapa manusia itu. Baik dia seorang pengemis atau pembesar, baik dia kaya atau miskin, jahat atau budiman, ia tetap seorang manusia yang terancam maut dan harus diselamatkan.

Cin Mei mengeluarkan buntalan obat-obatan dan dari buntalan itu dia mengambil dua butir obat pulung kecil. Sambil menggenggam obat ia membuka mulut Hek-bin Mo-ong dengan menekan kedua sisi rahangnya, lantas memasukkan dua butir obat pulung ke dalam mulut datuk itu sehingga dua butir obat itu memasuki perutnya, kemudian menggunakan sejenis minyak untuk mengolesi dadanya yang berubah menghitam.

Kemudian dia menelungkupkan tubuh Hek-bin Mo-ong, dan setelah duduk bersila di dekat kakek itu, dia pun menjulurkan kedua lengannya, menempelkan sepasang telapak tangan pada punggungnya. Dan mulailah dia melakukan pengobatan dengan penyaluran sinkang untuk mengusir hawa dingin beracun itu dari dalam tubuh Hek-bin Mo-ong.

Dia merasa betapa hawa yang dingin sekali menyambut sepasang telapak tangannya. Dia cepat mengerahkan seluruh tenaganya sehingga tak lama kemudian hawa dingin itu mulai berkurang. Akan tetapi segera peluh membasahi dahinya. Dia bekerja terus sampai tubuh Hek-bin Mo-ong mulai menggetar dan tubuhnya sendiri juga tergetar hebat.

Satu jam lebih Cin Mei menyalurkan tenaganya hingga akhirnya Hek-bin Mo-ong muntah-muntah, gumpalan darah menghitam keluar dari mulutnya. Akhirnya dia siuman kemudian bergerak bangkit duduk.

Cin Mei merasa lega dan gembira karena dia tahu bahwa nyawa orang itu sudah berhasil diselamatkan. Sekarang Hek-bin Mo-ong tidak terancam maut lagi. Akan tetapi tubuhnya sendiri bergoyang-goyang dan dia merasa lemas sekali, kehabisan tenaga sinkang.

Hek-bin Mo-ong sadar akan keadaannya. Dia cepat melompat berdiri sambil menyambar bajunya yang tadi dilepas oleh Cin Mei. Ketika dia melihat seorang gadis berpakaian putih yang cantik jelita duduk bersila memejamkan mata, dia terbelalak. Hek-bin Mo-ong adalah seorang kakek yang cabul dan mata keranjang. Melihat seorang gadis demikian cantiknya duduk bersila di situ, tentu saja gairahnya segera berkobar bagaikan api yang membakar tubuhnya.

“Aihh, nona, engkau cantik seperti bidadari!” katanya sambil mendekati, berlutut kemudian hendak merangkul.

Kwan In Sianli Lie Cin Mei membuka mata, lalu menangkis dengan tangannya yang lemah dan berkata, “Hek-bin Mo-ong, jangan biarkan nafsu kotor menguasaimu. Baru saja aku menghabiskan tenaga untuk menyelamatkan nyawamu.”

Hek-bin Mo-ong tidak jadi merangkul dan dia tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, kiranya engkau inikah yang berjuluk Kwan Im Sianli, si tukang mengobati yang amat lihai?”

“Memang orang-orang menyebutku Kwan Im Sianli. Aku tadi melihat engkau menggeletak di sini, pingsan akibat keracunan, maka aku lalu mengobatimu.”
“Bagus, bagus! Aku memang mendengar bahwa Kwan Im Sianli cantik bagaikan bidadari dan ternyata berita itu benar. Karena aku telah berhutang nyawa kepadamu, maka hanya ada satu jalan saja untuk membalas budimu ini, yaitu menjadikan engkau sebagai isteriku tercinta!” Kembali dia hendak merangkul.

Tentu saja Cin Mei terkejut bukan main. Tidak disangkanya di dunia ini ada orang sejahat dan sekotor itu jalan pikirannya. Meski pun tenaganya sudah habis, akan tetapi dia masih memiliki sisa tenaga untuk melompat bangun dan menghindarkan diri dari rangkulan Hek-bin Mo-ong.

“Hek-bin Mo-ong, sadarlah! Aku tidak minta balasan dari pertolonganku, akan tetapi tidak sepatutnya kalau engkau melakukan hal ini kepadaku. Biarkan aku pergi dari sini, Hek-bin Mo-ong, dan semoga Thian memberkahimu.” Dia langsung melangkah pergi, akan tetapi sambil tertawa bergelak Hek-bin Mo-oong menubruk dan berhasil menangkapnya.
“Hek-bin Mo-ong, lepaskan aku!” Lie Cin Mei meronta sambil membentak.
“Ha-ha-ha, engkau harus menjadi isteriku agar aku tidak takut lagi menderita luka seperti tadi. Ha-ha-ha!”
“Hek-bin Mo-ong, lepaskan atau aku akan membunuh diri!” kata lagi Cin Mei.

Akan tetapi ucapan ini seperti mengingatkan saja kepada Hek-bin Mo-ong, maka dia pun cepat menotok gadis itu sehingga menjadi lemas dan tidak berdaya.

Sambil tertawa-tawa Hek-bin Mo-ong membawa tubuh Cin Mei pergi dari situ. Tapi belum seratus langkah dia pergi, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
“Hek-bin Mo-ong, lepaskan gadis itu!” dan sebatang tongkat butut sudah menyambar ke arah kepalanya.
Image result for pedang awan merah
Demikian hebat serangan itu dan demikian kaget hati Hek-bin Mo-ong mengenal suara itu sehingga dia terpaksa melepaskan tubuh yang dipanggulnya, kemudian dia melempar diri ke belakang dengan menggelinding seperti sebuah bola ditendang. Setelah dia melompat bangkit kembali, dia lantas memandang kepada Han Lin dengan mata mencorong penuh kemarahan.

Pemuda inilah yang membuatnya terluka parah pada beberapa bulan yang lalu sehingga hampir saja dia tewas. Namun, mengeroyok bersama dua orang rekannya saja dia masih belum mampu menang malah terluka, apa lagi jika sekarang harus bertanding satu lawan satu. Namun karena marah sekali melihat gadis yang sudah berada di mulut dan tinggal menelan saja itu lepas lagi, dia lantas menerjang dengan pukulan dingin beracunnya yang dahsyat. Akan tetapi Han Lin cepat menghindar ke samping dan ketika kakinya mencuat, paha Hek-bin Mo-ong sudah kena ditendangnya.

Tubuh Hek-bin Mo-ong terjengkang ke belakang dan dia menjadi jeri. Dilihatnya gadis itu sudah bangkit dan agaknya, entah bagaimana, gadis itu sudah berhasil membebaskan diri dari totokannya. Dia sudah mendengar bahwa selain ahli dalam ilmu pengobatan, gadis itu lihai pula ilmu silatnya. Kalau gadis itu maju mengeroyoknya, habislah dia. Maka, sambil mengeluarkan teriakan panjang seperti lolong serigala, dia meloncat lalu melarikan diri.

“Hek-bin Mo-ong, sekali ini engkau tidak akan lolos dari tanganku!” Han Lin mengejar.
“Jangan kejar dia...!” Cin Mei berseru dan gadis ini berkelebat di depan Han Lin. Dia telah menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk melompat ke depan Han Lin. “Jangan... jangan kau membunuh orang...!”

Han Lin terbelalak, apa lagi ketika melihat gadis itu terkulai lalu roboh pingsan. Cepat dia melompat dan menahan agar tubuh itu tidak sampai terbanting, dan mendapat kenyataan bahwa nadi tangannya berdetik lemah sekali.

Han Lin merebahkan gadis itu di atas rumput lalu menjaganya. Dari pemeriksaannya dia tahu bahwa Cin Mei tidak terluka, hanya tubuhnya lemah bukan main. Dengan diam-diam dia mengamati wajah gadis itu dan seketika jantungnya berdebar kencang.

Bukan main cantik jelitanya gadis ini, bahkan tak kalah cantik dibandingkan dengan Yang Mei Li, adik misannya yang pernah dicintanya itu. Dan betapa lembutnya, nampak agung dalam pakaiannya yang serba putih bersih. Pantas dia berjuluk Kwan Im Sianli, pikirnya.

Cin Mei belum juga membuka matanya, namun mulutnya yang kecil mungil itu mengeluh, “Jangan bunuh orang...”

Han Lin terharu. Heran sekali dia. Jelas bahwa Hek-bin Mo-ong tadi menggangu gadis ini, jelas bahwa iblis itu memiliki niat keji terhadapnya, akan tetapi mengapa malah melarang dia membunuh datuk sesat itu?

Kini Cin Mei membuka matanya, agaknya baru teringat setelah melihat Han Lin duduk di dekatnya. Dia segera bangkit duduk lantas bertanya. “Di mana Hek-bin Mo-ong? Engkau tidak membunuhnya, bukan?”

Han Lin menggelengkan kepalanya. “Dia sudah melarikan diri. Akan tetapi, apa yang telah terjadi, nona? Kenapa engkau ditawannya?”

“Ahh, manusia itu dikuasai nafsu rendahnya. Aku mendapatkan dia rebah pingsan dalam keadaan terluka oleh hawa beracun dingin dan nyaris saja mati. Aku lantas mengobatinya dengan mengerahkan sinkang untuk mengusir hawa beracun itu. Aku berhasil, akan tetapi tenagaku terkuras habis. Setelah dia sadar dan sembuh, dia malah hendak memaksa aku menjadi isterinya.”
“Jahanam busuk! Keparat engkau, Hek-bin Mo-ong!” seru Han Lin marah. “Tetapi kenapa engkau melarangku ketika aku hendak mengejar dan membunuhnya?”
“Kejahatannya itu merupakan suatu penyakit. Orang yang sakit sepantasnya diobati dan disembuhkan, bukan dibunuh!” jawab Cin Mei.

Han Lin tertegun. “Akan tetapi, dia membalas kebaikanmu dengan kejahatan. Membalas madu yang kau berikan dengan racun. Orang seperti itu sudah pantas kalau seratus kali dibunuh. Akan tetapi mengapa engkau malah membelanya?”

“Aku tidak membelanya. Aku melarang engkau membunuhnya bukan demi dia, melainkan demi engkau sendiri.”
“Ehhh...? Apa maksudmu?”
“Engkau telah menolong aku dari tangan Hek-bin Mo-ong...”
“Akan tetapi engkau pun pernah menolongku dari tangan Jeng-i Sianli Cu Leng Si, bahkan juga mengobati lukaku.”
“Jangan bicarakan itu, aku sudah lupa lagi. Maksudku, engkau seorang yang baik dan aku tidak ingin melihat engkau menjadi seorang pembunuh.”

Kembali Han Lin tertegun. Selama hidupnya belum pernah dia berjumpa dengan seorang gadis seperti ini. Betapa mulia hatinya, betapa lembut, halus dan agung.

“Nona Lie Cin Mei, aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Sia Han Lin.”
“Engkau marga Sia? Aku teringat kepada seorang paman luarku yang juga bermarga Sia, bahkan dia pernah menjadi seorang yang amat terkenal di seluruh negeri.”
“Hemm, siapa nama pamanmu itu?”
“Sia Su Beng...”
“Ahhhh...!” Han Lin sampai melompat saking kagetnya.
“Kenapa engkau begitu terkejut?” Cin Mei bertanya heran.
“Karena... karena Sia Su Beng adalah mendiang ayah kandungku!” Setelah mengeluarkan kata-kata itu, barulah Han Lin teringat bahwa dia harus menyembunyikan keadaan dirinya. Entah mengapa, di depan gadis ini dia tidak dapat berbohong!
“Aihh, begitukah? Aku mendengar bahwa paman Sia Su Beng dan isterinya gugur ketika mempertahankan kota raja.”
“Benar, dan aku menjadi sebatang kara.”
“Kalau begitu kita masih ada hubungan keluarga, walau pun amat jauh karena mendiang Paman Sia Su Beng hanyalah saudara misan yang jauh dari ibuku. Bahkan mereka tidak pernah saling berhubungan, apa lagi sejak Paman Sia Su Beng menjadi penguasa di kota raja.”

“Siapakah nama ibumu?”
“Ibu adalah Wi Wi Siankouw, sejak muda sudah menjanda dan menjadi pendeta. Suci Cu Leng Si adalah murid ibu pula. Akan tetapi aku juga pernah menjadi murid Thian-te Yok-sian, dari siapa aku mempelajari ilmu pengobatan.”
“Wah, mereka adalah dua tokoh yang mempunyai nama besar di dunia persilatan. Sudah lama aku mendengar nama Wi Wi Siankouw disebut orang, juga nama Thian-te Yok-sian yang amat dikagumi kalangan kang-ouw.”
“Ya, mereka memang terkenal. Akan tetapi sayang, watak suci amat keras sehingga dulu itu hampir saja dia membunuhmu.”
“Tidak, sebetulnya dia seorang yang amat baik hati. Kau tahu, kini dia malah menjadi enci angkatku. Dia mengaku bahwa dahulu itu dia menyiksaku untuk mendapatkan Ang-in Po-kiam, karena dia sangat membutuhkan pedang itu untuk dihaturkan kepada kaisar supaya dapat membebaskan ayahnya dari tahanan kaisar karena fitnah.”

“Benarkah itu? Aku girang sekali engkau menjadi adik angkatnya. Memang suci seorang yang baik, akan tetapi hatinya sekeras baja. Aku juga mendengar tentang ayahnya itu dan bagaimana dengan pendang Ang-in Po-kiam?”
“Pedang itu tadinya dirampas oleh Sam Mo-ong, akan tetapi kini telah berada di tanganku lagi. Aku memang sedang mencari suci-mu, untuk kuajak bersama-sama menghaturkan pedang itu kepada kaisar, nona... ehh, sebaiknya kupanggil siauw-moi kepadamu karena engkau adalah keponakan luar mendiang ayahku.”
“Sebaiknya begitu, toako.”
“Aku hendak mencarinya ke Souw-ciu ketika di jalan aku melihat engkau sedang ditawan oleh Hek-bin Mo-ong.”
“Kalau begitu lanjutkanlah perjalananmu, toako, agar engkau dapat bertemu dengan suci kemudian mengajaknya bersamamu pergi ke kota raja. Aku ikut merasa gembira kalau dia berhasil membebaskan ayahnya. Sampai jumpa kembali, toako.”

“Tidak, tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu, siauw-moi!”
“Kenapa, toako?”
“Sekarang engkau sedang kehabisan tenaga sinkang, dan untuk memulihkannya kembali memerlukan waktu sedikitnya seminggu. Aku tak mau melepaskanmu begitu saja seorang diri melakukan perjalanan dalam keadaan tidak mampu membela diri.”

Gadis itu tersenyum, senyumnya demikian manis tetapi menyejukkan hati, bukan senyum yang menimbulkan gairah kepada yang memandangnya.

“Toako, selamanya aku tidak pernah memusuhi orang, siapa yang akan menggangguku?”
“Aih, aku percaya kepadamu, siauw-moi. Akan tetapi aku tidak percaya kepada orang lain. Buktinya baru saja tadi, sesudah engkau menyelamatkan nyawa Hek-bin Mo-ong, orang yang kau selamatkan itu malah berbalik hendak mencelakaimu.”
“Tetapi akhirnya aku terbebas, bukan? Aku percaya bahwa selama orang tidak membenci dan berpikiran buruk terhadap orang lain maka Thian akan selalu memberi perlindungan.”
“Akan tetapi aku akan menyesal selama hidupku kalau aku membiarkan engkau pergi dan kemudian terjadi sesuatu yang tak baik kepadamu. Tidak, siauw-moi, sebelum tenagamu pulih, aku tidak mau meninggalkanmu. Ke mana pun engkau pergi akan kutemani.”

Lin Cin Mei tertawa. “Wah, engkau pun memiliki kekerasan hati seperti suci. Pantas sekali engkau menjadi adik angkatnya. Baiklah, kalau begitu aku akan ikut denganmu ke Souw-ciu mencari suci.”

Bukan main girangnya hati Han Lin karena sesungguhnya bukan karena mengkhawatirkan keselamatan gadis itu saja yang membuat dia bersikeras menemani gadis itu, melainkan terutama sekali karena dia tidak ingin berpisah dari Cin Mei!

Mereka lalu melanjutkan perjalanan. Han Lin mengambil kudanya yang tadi dilepaskannya di luar hutan. Ia menyuruh Cin Mei menunggang kudanya, sedangkan dia sendiri berjalan sambil menuntun kuda itu. Cin Mei yang memang masih lemah, tidak menolak.

Dalam perjalanan bersama ini, yang dilakukan dengan santai, mereka saling menuturkan riwayat dan pengalamannya. Cin Mei bercerita bahwa dia tidak mengenal ayahnya karena menurut ibunya, sejak dia kecil ayahnya telah meninggal dunia. Dia hanya hidup bersama ibunya yang menjanda dan menjadi seorang tokouw (Pendeta Wanita To) berjuluk Wi Wi Siankouw. Bahkan ibunya tidak pernah memberi tahu siapa nama kecil ibunya dan siapa pula nama ayahnya.

Dia mendapat gemblengan ilmu silat dari ibunya bersama Cu Leng Si yang menjadi suci-nya, akan tetapi karena dia memiliki bakat yang sangat baik dalam ilmu pengobatan, oleh ibunya dia lalu diikutkan kepada Thian-te Yo-sian sahabat ibunya untuk digembleng dalam ilmu pengobatan selama tiga tahun.

“Sesudah menamatkan ilmu silat dan ilmu pengobatan, aku mulai pergi merantau supaya dapat menggunakan ilmuku untuk menolong orang yang membutuhkan,” kata Lie Cin Mei menutup ceritanya.

“Dan enci Leng Si juga ahli pengobatan?”
“Tidak, apakah dia tidak menceritakan kepadamu? Enci Leng Si lebih tekun mempelajari kitab dari ibu dibandingkan ilmu pengobatan.”
“Pantas dia amat pandai membaca sajak dari ayat-ayat suci. Akan tetapi engkau sungguh mengagumkan. Masih begini muda sudah pandai ilmu silat dan ilmu pengobatan.”
“Aihhh, sudahlah. Jangan terlalu banyak memuji, toako. Kini giliranmu untuk menceritakan riwayat dan pengalaman hidupmu,” kata Cin Mei sambil tersenyum.

Gadis ini memiliki kebiasaan untuk menutup kata-katanya dengan senyum. Heran sekali kenapa Hek-bin Mo-ong dapat begitu tega mengganggu seorang gadis seperti ini, padahal gadis ini telah menyelamatkan nyawanya.

Ditanya demikian, wajah Han Lin menjadi muram. “Aih, hanya kepahitan saja yang selama ini kualami, siauw-moi.”

“Pahit, getir dan manis adalah bumbu hidup, toako, tidak perlu disesalkan. Yang penting langkah yang kita ambil selalu benar dan tidak menyimpang dari kebenaran,” kata gadis itu bijaksana.
“Engkau benar. Sekarang dengarlah riwayatku yang penuh kepahitan itu. Ketika kota raja diserbu musuh, ayah dan ibu mempertahankan sampai titik darah terakhir. Pada saat itu aku baru berusia lima tahun. Ayah dan ibu menyuruh seorang inang pengasuh membawa aku mengungsi. Inang ini kemudian kuanggap sebagai pengganti ayah ibu sendiri karena kesetiaannya dan kasih sayangnya. Akan tetapi sungguh menyedihkan! Ketika Sam Mo-ong membuat kekacauan di dusun kami, dan melukai aku, inang pengasuhku itu akhirnya tewas karena hendak menolongku. Aku terjatuh ke jurang karena pukulan Hek-bin Mo-ong dan melihat aku terjatuh ke jurang, Liu Ma turut pula meloncat ke dalam jurang sehingga dia pun tewas.”

Han Lin berhenti sebentar, sedih mengenang peristiwa itu.

“Mati hidup sudah ditentukan Thian, toako. Tak ada yang perlu disesalkan dan disedihkan. Thian Maha Tahu, tahu apa yang terbaik untuk setiap orang.”

Han Lin memandang kagum. Heran sekali, ada gadis berusia delapan belas tahun sudah memiliki pandangan hidup seperti seorang pendeta saja.

“Aku berguru kepada Kong Hwi Hosiang, akan tetapi suhu juga tewas di tangan Sam Mo-ong. Sungguh, apa bila aku menuruti suara hati, maka dendamku terhadap Sam Mo-ong sudah setinggi gunung!”
“Dendam hanya meracuni hati, toako. Engkau boleh saja menentang kejahatan Sam Mo-ong, akan tetapi bukan karena benci atau dendam.”
“Aku tahu siauw-moi, kedua orang guruku sudah sering kali berkata seperti itu. Meski pun kadang amat sukar membendung suara hati yang meneriakkan dendam.”
“Dua orang gurumu, toako?”
“Ya, aku berguru lagi kepada seorang kakek yang luar biasa, yang tak mau mengenalkan namanya sehingga hanya kukenal dengan sebutan Lo-jin (orang tua) saja. Dari beliau aku memperdalam ilmu selama lima tahun. Kemudian beliau memisahkan diri, menyuruh aku untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang pernah kupelajari.”
“Luar biasa sekali!” seru Cin Mei kagum. “Engkau beruntung sekali dapat berguru kepada dua orang yang bijaksana, toako. Lalu bagaimana pengalaman hidupmu selanjutnya?”

Sungguh aneh. Selama ini belum pernah Han Lin bercerita mengenai Lo-jin kepada orang lain, akan tetapi sekali ini dia sudah menceritakan segalanya. Terhadap Cin Mei agaknya tak mungkin dia menyembunyikan sesuatu, dan dia pun tidak ingin merahasiakan sesuatu kepada gadis yang baru dikenalnya ini. Dia menceritakan semua pengalamannya, bahkan tentang Yang Mei Li yang pernah dicintanya akan tetapi gadis itu mencinta dan menikah dengan orang lain. Tentang bagaimana dia bisa mendapatkan Ang-in Po-kiam ketika ikut membasmi Hoat-kauw yang menyeleweng, mengambil pedang yang tadinya digunakan oleh Hoat-kauw Sian-su itu.

Cin Mei mendengarkan dengan tertarik sekali, tidak pernah memotong cerita Han Lin dan dia adalah seorang pendengar yang baik. Ketika Han Lin berhenti sebentar, dia pun lantas berkata, “Aku pernah mendengar tentang keributan mengenai Ang-in Po-kiam itu. Bahkan kabarnya Cin-ling-pai juga ikut terbawa-bawa. Bagaimana sebetulnya, toako?”

Han Lin lalu menceritakan semua yang diketahui dan dialaminya.

“Dan pedang itu terlepas dari tanganmu, toako? Siapa yang mengambilnya?”

Lalu diceritakannya bagaimana dia kehilangan Ang-in Po-kiam yang kemudian telah dicuri oleh Sam Mo-ong pula.

“Lalu bagaimana sekarang sudah berada di tanganmu kembali? Bukankah engkau hendak mengajak suci mengembalikan pedang itu kepada kaisar?”

Ditanya demikian, Han Lin menarik napas panjang. Dia pun teringat akan pengalamannya. Sungguh tidak enak menceritakan pengalamannya dengan Mulani kepada gadis ini, akan tetapi entah mengapa dia tidak dapat merahasiakannya.

“Telah terjadi sesuatu yang aneh tetapi merupakan suatu mala petaka bagiku, siauw-moi. Sampai sekarang pun aku masih merasa bingung dan sedih.”
“Aihh, aku tidak percaya orang seperti engkau ini dapat bingung dan bersedih, toako. Apa sih yang telah terjadi? Tentu hebat sekali kejadian itu.”

Dengan suara penuh duka lalu diceritakannya pertemuannya dengan Mulani. “Entah apa yang terjadi. Kami hanya mendengar bunyi ledakan kemudian kami tak ingat apa-apa lagi. Setelah kami sadar, kami berdua... telah... dalam keadaan telanjang bulat di hutan itu...”

“Hemm, aneh sekali, tentu ada yang sengaja melakukan hal itu.”
“Entahlah, tetapi yang paling hebat, Mulani mengatakan bahwa selagi dia dalam keadaan pingsan, dia telah digauli orang dan tentu saja dia menuduh aku yang melakukannya.”

“Hemm, dan engkau tidak melakukannya, toako?” Gadis ini memang sungguh luar biasa. Mungkin karena kedudukannya sebagai ahli pengobatan, membicarakan soal begituan dia merasa biasa saja, tidak canggung sama sekali.
“Bagaimana aku tahu, siauw-moi? Aku pun dalam keadaan pingsan dan ketika terbangun atau siuman, tahu-tahu kami berdua sudah dalam keadaan telanjang bulat.”
“Lalu bagaimana?”
“Dia menuntutku untuk mengawininya.”
“Dan engkau menerima?”
“Apa lagi yang dapat kulakukan, siauw-moi? Untuk menuduh orang lain, siapa yang harus kutuduh dan apa buktinya? Yang jelas, ketika siuman kami dalam keadaan telanjang bulat dan Mulani telah ternoda. Dengan bukti keadaan seperti itu, aku jadi tersudut dan sebagai seorang laki-laki aku harus bertanggung-jawab. Ahh, sungguh nasibku amat buruk, siauw-moi.”

“Kenapa? Bukankah Mulani itu seorang gadis yang baik dan cantik pula?”
“Memang demikian, aku kagum dan suka kepadanya, akan tetapi aku tidak mencintanya. Kami lalu menikah akan tetapi aku tak pernah menjamahnya. Aku memberi alasan bahwa aku hendak bersembahyang dahulu di hadapan makan orang tuaku sambil mengantarkan kembali pedang Awan Merah kepada kaisar. Hanya namanya saja kami suami isteri, akan tetapi sebenarnya tidak pernah ada hubungan apa pun di antara kami. Yang lebih celaka lagi, Mulani telah mengandung.”

“Mengandung?”
“Ya, agaknya sekali ternoda, dia langsung mengandung dan tentu saja aku yang dianggap menjadi ayah kandung anak itu.”
“Apakah bukan?”
“Mana aku tahu, siauw-moi? Sudah kukatakan bahwa aku tidak tahu apakah yang terjadi selagi kami pingsan itu, dan semenjak itu aku belum pernah menyentuh Mulani. Ahh, aku bingung sekali, siauw-moi, dan aku harus dapat memecahkan rahasia ini. Aku yakin ada seseorang yang melempar bahan peledak yang membius orang itu, kemudian ada yang menggunakan kesempatan selagi Mulani pingsan, menodainya, kemudian menelanjangiku agar aku yang dituduh melakukannya.”
“Hemm, agaknya begitu, toako. Aku sendiri tidak percaya kalau engkau dapat melakukan perbuatan keji itu.”

Bukan main girangnya hati Han Lin mendengar ini, wajahnya berseri dan kedua matanya bercahaya. Orang sejagat boleh menuduhnya, tetapi selama gadis ini percaya kepadanya, itu sudah lebih dari cukup.

“Terima kasih, siauw-moi...terima kasih. Engkau melegakan hatiku!” katanya girang.
“Toako, selama ini yang memusuhimu adalah Sam Mo-ong. Apakah bukan mereka, atau seorang di antara mereka yang melakukannya? Kurasa seorang seperti Hek-bin Mo-ong tidak akan segan melakukan kekejian seperti itu.”
“Tidak mungkin. Sam Mo-ong adalah pembantu-pembantu setia dari Ku Ma Khan, kepala suku Mongol yang menjadi ayah Mulani. Mereka amat menghormati Mulani. Bukan, bukan mereka, akan tetapi entah siapa.”

“Sudahlah, toako. Seperti yang kukatakan tadi, segala sesuatu yang telah terjadi tak perlu disesalkan lagi, yang terpenting engkau tidak melakukan kekejian itu.”
“Akan tetapi, siauw-moi. Aku terpaksa mengawini Mulani, padahal aku tidak suka...”
”Sudahlah, serahkan saja kepada Thian. Jika orang tidak bersalah, tentu suatu saat nanti akan terbukti juga. Dan kurasa Mulani tidak begitu bodoh untuk memaksa orang yang tak bersalah menjadi suaminya seperti yang dilakukan kepadamu sekarang.”
“Akan tetapi bukan hanya karena itu dia mengawini aku, siauw-moi. Pertama, karena dia mencintaku, kedua, karena terjadinya peristiwa terkutuk itu, dan ketiga, memang dia dan ayahnya hendak menggunakan aku sebagai mata-mata Mongol di istana Kaisar Kerajaan Tang.”
“Ahhh…! Ini gawat sekali!”

Han Lin lalu menceritakan pesan Ku Ma Khan pada saat mengembalikan Ang-in Po-kiam kepadanya.

“Aku menjadi serba salah, siauw-moi. Tentu saja aku tidak mungkin dapat mengkhianati kaisar, tetapi mereka bisa saja mencelakakan aku dengan menyiarkan bahwa aku adalah mantu Ku Ma Khan. Tentu kaisar akan mencurigaiku, bahkan mungkin menangkap aku.”
“Jangan khawatir, toako. Aku akan membela nama baikmu kalau sampai terjadi demikian. Mari kita mencari suci di Souw-ciu.”

Mereka melanjutkan perjalanan. Cin Mei menunggang kuda, sedangkan Han Lin berjalan di belakangnya. Ketika mereka tiba di sebuah hutan, tiba-tiba saja mereka dikepung oleh banyak sekali orang yang nampaknya galak dan garang. Jumlah mereka tidak kurang dari empat puluh orang, semua bersenjata pedang atau golok dan tombak!

Han Lin cepat melompat ke depan kuda yang ditunggangi Cin Mei, kemudian membentak kepada mereka, “Heii, siapa kalian yang menghadang perjalanan kami dan ada keperluan apakah?”

Semua orang itu tertawa bergelak. Seorang yang berkumis tebal, agaknya menjadi kepala mereka, lalu berkata, “Ha-ha-ha, kawan. Kami kebetulan lewat di sini dan bertemu kalian. Kami tidak minta apa-apa, hanya tinggalkan saja kuda bersama penunggangnya itu untuk kami. Engkau boleh melanjutkan perjalanan sendiri, tidak akan kami ganggu, ha-ha-ha!”

“Sobat, nona ini sedang sakit dan perlu menunggang kuda. Harap kalian mau berbaik hati dan jangan mengganggu kami.”
“Banyak cerewet! Tinggalkan nona ini berikut kudanya, atau kau ingin lebih dulu mampus di tangan kami?!” bentak si kumis tebal itu.

Han Lin menjadi marah. Dia memegang tongkatnya erat-erat. “Keparat, kalian ini sungguh tidak tahu aturan!” bentaknya.

“Toako, jangan membunuh orang!” kata Cin Mei lirih.
“Jangan khawatir, siauw-moi, akan tetapi orang-orang ini perlu diberi hajaran agar maklum bahwa mereka tidak boleh bertindak seenak hati sendiri. Akan tetapi engkau masih belum sembuh...”

Han Lin khawatir sekali. Jumlah musuh terlalu banyak dan bagaimana mungkin dia dapat melawan mereka sambil melindungi Cin Mei?

“Aku dapat menjaga diri, toako,” kata gadis itu tenang sekali.
“Bocah lancang mulut, engkaulah yang pantas diberi hajaran!” bentak si kumis tebal yang sudah menggerakkan goloknya menyerang, diikuti oleh puluhan orang anak buahnya.

Han Lin cepat memutar tongkatnya. Pedang dan golok lantas beterbangan ketika bertemu dengan tongkat bututnya. Melihat ini para pengeroyoknya menjadi penasaran, dan seperti samudera bergelombang mereka menyerang Han Lin, ada pula yang menubruk ke arah Cing Mei yang masih duduk di atas punggung kudanya.....
Akan tetapi orang itu hanya menubruk punggung kuda sehingga hampir saja disepak oleh kuda yang terkejut itu, sebab gadis yang ditubruknya itu tahu-tahu sudah hilang melompat dan menyingkir. Walau pun sudah kehabisan tenaga sinkang namun Cin Mei masih dapat bergerak dengan ringan sekali sehingga tidaklah mudah untuk menangkapnya.

Akan tetapi jumlah lawan terlalu banyak. Kini belasan orang telah mengepung dan hendak menangkap Cin Mei sehingga gadis itu terpaksa berloncatan ke sana sini, maka sebentar saja dia yang masih lemah itu menjadi terengah-engah.

Han Lin juga mengamuk, namun karena dia selalu ingat akan pesan Cin Mei agar jangan membunuh orang, dia pun membatasi tenaganya dan karenanya, jumlah pengeroyok tidak pernah berkurang. Karena tidak terluka parah, yang sudah roboh mampu bangkit kembali sehingga dia pun diserang seperti seekor jangkerik dikeroyok banyak semut!

Pada saat yang gawat bagi Cin Mei yang sudah kelelahan itu, mendadak terdengar bunyi ledakan keras kemudian nampaklah asap mengepul tebal sekali. Han Lin terkejut, teringat akan asap pembius yang pernah membuatnya roboh pingsan bersama Mulani. Dia segera menahan napas, lantas cepat menyambar tubuh Cin Mei yang dibawanya meloncat keluar dari asap.

Banyak pengeroyok yang roboh bergelimpangan menjadi korban asap pembius, ada pun yang lain melarikan diri ketakutan. Han Lin dan Cin Mei selamat dari pengaruh asap dan ketika mereka memandang, Han Lin menjadi heran dan terkejut setelah mengenal bahwa yang melempar peledak berasap pembius itu adalah Can Bi Lan, gadis puteri ketua Pek-eng Bu-koan itu, gadis cantik jelita yang selalu berpakaian serba merah muda.

“Lan-moi...!” Han Lin berseru gembira, segera menghampiri sambil menggandeng tangan Cin Mei.
“Syukurlah engkau selamat, Lin-ko. Siapa sih begitu banyak orang yang mengeroyokmu?”
“Mereka hanya perampok biasa, Lan-moi. O ya, perkenalkan, ini adalah nona Lie Cin Mei yang berjuluk Kwan Im Sianli dan inilah nona Can Bi Lan, puteri ketua Pek-eng Bu-koan.”

Dua orang gadis yang sama cantiknya itu saling memberi hormat dan Bi Lan memandang heran. “Kwan Im Sianli yang terkenal ahli pengobatan dan ahli silat itu? Tetapi tadi kulihat engkau terkepung dan terancam orang-orang tak berguna itu!”
“Lan-moi, saat ini adik Cin Mei sedang kehilangan tenaganya, kehabisan sinkang karena dipakai untuk mengobati orang, maka untuk sementara dia menjadi lemah.”
“Ahh... aku girang sekali kebetulan lewat di sini dan melihat engkau dikeroyok, Lin-ko.”
“Lan-moi, ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu. Engkau tadi menggunakan obat peledak yang mengandung bius, dari manakah engkau mendapatkan bahan peledak yang ampuh itu?”
“Ini buatan ayahku sendiri,” kata gadis itu bangga sambil memperlihatkan sebuah benda sebesar kepalan tangan yang tergantung di pinggangnya.
“Dahulu pada saat engkau dan kakakmu diserang Thian-te Siang-kui, kenapa tidak kalian menggunakannya?”
“Sebenarnya kami dilarang oleh ayah untuk sering menggunakan obat peledak ini, karena itu dahulu kami tidak membawanya. Akan tetapi sesudah pengalaman pahit itu, setiap kali pergi aku pasti membawa beberapa butir untuk persediaan kalau-kalau terancam bahaya.”
“Jadi orang yang memiliki dan pandai menggunakan peledak itu hanya engkau, kakakmu dan ayahmu?”
“Benar sekali, koko. Bahkan para murid ayah tidak ada yang diberi senjata ini.”
“Ahhh...!”

Han Lin berpikir keras. Tak salah lagi, Kok Han kakak gadis ini amat membencinya sejak pertama kali berjumpa. Mungkinkah Kok Han pelaku peledakan dan pemerkosaan itu?

“Kenapa, Lin-ko?”
“Tidak apa-apa, Lan-moi. Apakah kakakmu tidak melakukan perjalanan bersamamu?”
“Justru ayah menyuruhku pergi mencari Han-koko. Dia disuruh pulang oleh ayah. Apakah engkau tidak melihatnya, Lin-ko?”
“Tidak, aku tidak melihatnya, tetapi mungkin saja dia melakukan perjalanan ke utara.”
“Kenapa engkau menyangka demikian, Lin-ko?”
“Karena aku pernah melihat bekas ledakan seperti ini. Dia juga membawa bahan peledak seperti yang kau miliki itu, bukan?”
“Tentu saja.”
“Nah, kalau begitu carilah dia di utara, Lan-moi. Kami sendiri akan meneruskan perjalanan ke Souw-ciu untuk suatu keperluan.”
“Tapi, Lin-koko...”
“Ada apakah, Lan-moi?”

Bi Lan mengerling ke arah Cin Mei yang segera mengerti dan berkata, “Aku mau mencari kudaku yang tadi melarikan diri ketika terjadi ledakan.” Tanpa menunggu jawaban dia lalu pergi meninggalkan mereka berdua.

“Ada apa, Lan Moi?” tanya Han Lin yang melihat gadis ini seperti hendak menyampaikan sesuatu akan tetapi tadi meragu karena ada Cin Mei di dekat mereka.
“Lin-ko, aku belum sempat menghaturkan terima kasih atas pertolonganmu mengobatiku ketika itu.”
“Ahh, bukankah engkau juga menolongku ketika aku dikeroyok Sam Mo-ong?”
“Akan tetapi bantuanku tidak ada gunanya, malah aku terluka dan merepotkanmu.”
“Sama sekali tidak, Lan Moi. Jangan bicara tentang terima kasih karena kita sudah saling bantu.”
“Tetapi sikap kakakku sungguh menjemukan. Aku mohon maaf atas sikapnya yang tidak baik terhadapmu, koko.”
“Tidak mengapa, Lan-moi. Dia hanya salah paham saja.” Han Lin membayangkan tentang ledakan dan tentang perkosaan atas diri Mulani.
“Koko... kalau engkau ada waktu atau kebetulan lewat, kupersilakan singgah di rumahku, aku... aku ingin memperkenalkan engkau kepada ayah dan ibuku, koko...!” Wajah gadis itu kemerahan dan suaranya gemetar. Ucapan hendak memperkenalkan seorang pemuda kepada ayah bunda seorang gadis dapat mengandung makna yang mendalam, karena hal itu dapat diartikan bahwa si gadis menaruh hati atau menaksir si pemuda!
“Ahhh... baiklah, Lan-moi. Itu adik Cin Mei sudah mendapatkan kembali kudanya. Terima kasih atas pertolonganmu tadi, Lan-moi. Kita berpisah di sini dan selamat berpisah.”
“Lin-ko, tadi kau bilang di antara kita tidak perlu berterima kasih!”
“Oh, ya, maafkan aku lupa. Nah, selamat jalan dan selamat berpisah, Lan-moi yang baik.”
“Selamat berpisah, Lin-koko.”
“Ehh, engkau sudah hendak pergi, adik Bi Lan?” tanya Cin Mei yang sudah tiba di siitu.
“Aku hendak mengejar kakakku, enci Cin Mei. Engkau... engkau sangat beruntung dapat melakukan perjalanan bersama Lin-ko. Kalau saja aku tidak harus mencari kakakku, aku pun ingin melakukan perjalanan bersama kalian. Selamat jalan dan selamat berpisah.”
“Selamat berpisah, adik Bi Lan. Semoga engkau dapat segera menemukan kakakmu.”

Mereka kemudian berpisah dan sesudah melakukan perjalanan berdua, Cin Mei berkata, “Kasihan sekali adik Can Bi Lan itu.”

“Ehh, mengapa engkau mengatakan demikian, siauw-moi?”
“Ternyata dia telah jatuh cinta kepada suami orang.”
“Hemm, kau maksudkan aku? Aku belum menjadi suami yang sesungguhnya.”
“Dia amat mencintamu, Lin-ko.”
“Bagaimana engkau tahu?”
“Dari pandang matanya, caranya bicara kepadamu, sikapnya. Ah, semuanya begitu jelas, seperti sebuah kitab yang terbuka, tinggal membacanya saja.”
“Hemmm, engkau dapat membaca isi hati seorang wanita seperti membaca kitab terbuka. Apakah engkau juga bisa membaca hati seorang pria seperti sebuah kitab terbuka pula?”

Gadis itu tertawa. “Mengapa tidak? Pria justru lebih muda dibaca. Akan tetapi, mengenai bahan peledak itu, aku jadi teringat akan pengalamanmu saat menjadi korban pembiusan bahan peledak pula. Apakah ada hubungannya, toako?”

Karena pembicaraan dibelokkan kepada urusan yang menjadi bahan permikirannya, maka Han Lin menanggapinya dengan serius dan sudah melupakan lagi akan kemampuan Cin Mei membaca hati pria seperti kitab terbuka.

“Aku juga merasa curiga, Mei-moi. Ledakan itu persis yang kualami bersama Mulani dulu. Aku juga menjadi pingsan seperti beberapa orang perampok itu. Dan menurut keterangan Bi Lan tadi, kakaknya juga membawa bahan peledak seperti itu.”
“Jadi engkau menyangka kakaknya yang menjadi pelakunya?”
“Begitulah. Jika ada kemungkinan orang lain yang melakukan itu, maka kakaknya menjadi orang pertama yang kucurigai melakukannya.”
“Akan tetapi gadis itu amat baik dan mencintamu. Dia seorang gadis yang gagah, apakah kakaknya juga bukan seorang pendekar?”
“Memang orang-orang Pek-eng Bu-koan adalah kaum pendekar, akan tetapi pada waktu bertemu dengan aku lantas melihat bahwa aku membawa Ang-in Po-kiam, kakaknya yang bernama Can Kok Han itu sejak semula sudah merasa tidak suka padaku dan menuduh aku sebagai pencuri pedang di kota raja. Agaknya dia... dia memang membenciku, Mei-moi.”

Lalu Han Lin menceritakan segala sikap Kok Han yang pernah dilakukan terhadap dirinya. Bahkan ketika dia mengobati Bi Lan, Kok Han justru menyerangnya dan menganggapnya bermain gila terhadap adiknya.

“Hemmm, agaknya dia itu keras kepala dan pemarah. Orang semacam itu sangat mudah membenci dan mendendam, toako. Aku juga curiga bahwa dia yang melakukannya.”
“Hemm, kalau memang benar demikian, keadaan malah menjadi lebih sulit lagi. Aku tidak mau membuat hati Bi Lan menjadi hancur akibat perbuatan kakaknya.”
“Sudahlah, soal itu kita pikirkan nanti saja. Sebaiknya sekarang kita temukan dulu suci, kemudian kalian mengembalikan pedang kepada kaisar. Setelah itu baru kau pikirkan lagi urusanmu.”
“Baiklah, siauw-moi.”

Mereka melanjutkan perjalanan dan menjelang senja mereka memasuki kota Souw-ciu. Setelah menyewa dua buah kamar di rumah penginapan, Cin Mei lalu bersemedhi untuk memulihkan tenaga sinkang-nya. Ada pun Han Lin lalu meninggalkan rumah penginapan untuk mencari Jeng-i Sianli Cu Leng Si. Dia pergi berkunjung ke taman utama di kota itu dan benar saja, dari jauh dia sudah melihat wanita itu duduk seorang diri sambil melamun.

“Enci Leng Si..!” Han Lin menghampiri dan berseru memanggil dengan girang.
“Ahh, engkau, Han Lin!” kata wanita itu dengan wajah gembira bukan kepalang. “Alangkah lamanya aku menunggu di sini. Sudah sepekan lebih setiap hari aku datang ke taman ini untuk menantimu.”
“Maafkan aku enci. Maafkan aku telah membuat enci menunggu begitu lama. Aku sudah mengalami banyak hal yang amat pahit.”
“Nanti dulu, apakah engkau sudah mendapatkan pedang itu?”

Han Lin menepuk pedang yang tergantung di pinggangnya, pedang Ang-in Po-kiam yang memakai sarung pedang biasa agar tidak menarik perhatian orang.

“Itukah Ang-in Po-kiam?”
“Benar, enci.”
“Aihh, syukurlah, Han Lin. Kalau begitu dapat segera kita bawa ke kota raja!” kata Leng Si girang.
“Sabar, enci. Kita harus menanti beberapa hari lagi sampai sumoi-mu sembuh benar.”
“Apa? Sumoi...? Dia kenapa?”
“Panjang ceritanya, enci. Dengarkan dulu ceritaku bagaimana aku mendapatkan pedang ini.” Dia lalu menceritakan kepada Leng Si tentang pertemuannya dengan Mulani, tentang pernikahannya dengan Mulani yang membuatnya berduka.
“Aihh, goblok benar engkau! Apakah engkau telah menodai gadis itu?”
“Menurut keyakinanku, tentu saja tidak, enci. Walau pun ketika itu aku pingsan sehingga mana aku tahu pasti apa yang telah terjadi?”

“Goblok, adikku yang tolol! Bila aku berada di sana tentu gadis Mongol itu sudah kuhajar. Bagaimana dia boleh memaksa orang menjadi suaminya atas dasar peristiwa yang belum tentu siapa pelakunya itu! Kurang ajar benar dia berani memaksa adikku supaya menikah dengannya!”
“Aihh, enci. Bagaimana pun juga Mulani sudah menjadi korban perkosaan...”
“Korban perkosaan katamu? Kalau menurut aku, semua ini adalah siasatnya saja. Tidak ada siapa-siapa yang memperkosanya, dia memang sengaja memasang jebakan supaya engkau mau menikahinya. Tidak tahu malu. Biar pun dia mencintamu, kalau engkau tidak membalasnya, tidak semestinya dia menggunakan akal busuk seperti itu!”
“Tapi, enci, kenyataannya dia telah ternoda.”
“Ehh, bagaimana engkau bisa tahu dengan pasti?”
“Karena sebulan setelah kami menikah, walau pun aku tidak pernah menyentuhnya, tetapi dia telah... mengandung satu bulan. Peristiwa itu memang benar terjadi, karena buktinya dia mengandung.”

“Hemm, kalau begitu, tentu ada pelakunya. Tapi harus diselidiki, harus! Tidak semestinya engkau menikah begitu saja dengan gadis Mongol tak tahu malu itu!”
“Memang aku pun sedang melakukan penyelidikan, enci. Akan tetapi yang terpenting aku harus menyerahkan pedang ini dulu kepada kaisar.”
“Ahh, benar. Dan tentang sumoi itu...?”

Han Lin lantas menceritakan mengenai Cin Mei. Betapa Cin Mei menolong dan mengobati Hek-bin Mo-ong karena terluka parah, kemudian malah berbalik hendak dipaksa Hek-bin Mo-ong menjadi isterinya. Betapa dia menolongnya dan sampai kini Cin Mei masih harus memulihkan tenaganya yang terkuras ketika dia menyelamatkan Hek-bin Mo-ong.

“Huhh, babi macam apa itu mengapa tidak kau bunuh saja? Dia jahat, keji dan kalau aku bertemu dengannya, tentu kuajak bertanding sampai seorang dari kami menggeletak tak bernyawa lagi! Di mana sumoi sekarang?”
“Di rumah penginapan. Mari, enci, kita temui dia.”

Mereka lalu meninggalkan taman bunga umum dan kembali ke rumah penginapan. Ketika Leng Si memasuki kamar itu, dia mendapatkan adiknya sedang bersila dan bersemedhi, mengumpulkan hawa murni untuk mengembalikan tenaganya.

“Sumoi...!” Cu Leng Si memanggil sambil memasuki kamar.
“Suci...!” Cin Mei membuka matanya, segera turun dari pembaringan menyambut. “Suci, aku...”
“Sssttt, aku sudah tahu semuanya dari Han Lin. Bagaimana keadaanmu? Mari kuperiksa!” Cin Mei tersenyum dan membiarkan dirinya diperiksa oleh Cu Leng Si, nadinya, dadanya, dan perutnya.
“Syukur engkau tidak terluka, hanya kehilangan tenaga saja. Kukira dalam beberapa hari ini tenagamu sudah akan pulih kembali. Aihh, sumoi. Sejak dulu engkau terlalu baik hati.”

Cin Mei tersenyum. “Apakah jeleknya berbaik hati, suci?”

“Jelek, jelek sekali! Bahkan rugi jika engkau tidak memakai perhitungan. Buktinya engkau telah bersikap baik, menolong dan mengobati binatang macam Hek-bin Mo-ong itu. Tetapi bukan kebaikan dibalas dengan kebaikan, malah dibalas dengan kejahatan! Jika bertemu orang semacam dia sepantasnya bukan diobati, malah dibunuh saja!”
“Aihh, suci!”
“Aih-aih apa lagi! Dia seperti seekor ular berbisa, kalau engkau mencoba untuk mengobati ular berbisa yang sedang sakit, bukan kebaikan yang kau dapat, malah engkau digigitnya sampai mati. Huhh, kalau bertemu dengan binatang itu, pasti akan kubunuh dia!”
“Sudahlah, suci. Kalau semua orang bersikap seperti engkau, akan habislah semua orang di dunia ini, tinggal engkau seorang!” kelakar Cin Mei. “Semua orang di dunia ini tentu ada cacatnya, ada sifat buruknya. Kalau yang buruk dibunuh, tidak ada sisanya lagi. Tahukah engkau bahwa kita berdua ini pun memiliki sifat buruk?”

“Ehh? Kau mau bilang bahwa engkau dan aku ini jahat? Jangan ngaco engkau!”
“Aku tidak bilang jahat, melainkan memiliki sifat buruk. Lihat, engkau sendiri seorang yang keras hati dan terlampau mudah marah, mudah mengamuk. Tidak burukkah itu? Ingatkah engkau betapa dulu engkau hampir saja membunuh Lin-koko karena kekerasan hatimu?”
“Lin-koko...? Aha! Kau maksudkan adikku Han Lin? Bagus, bagimu dia adalah Lin-koko, ya? Sudah begitu akrabkah antara kalian?”
“Ihh, suci. Kami hanya bersahabat biasa. Dia telah menolongiku!”

“Ehm, aku hanya berkelakar, sumoi. Tapi apa salahnya bila kalian menjadi sahabat karib yang akrab? Dan sekarang coba katakan, orang macam engkau ini, mana sifat buruknya? Kalau aku memang keras dan pemarah.”
“Engkau tadi sudah menyebutkan bahwa aku terlalu lemah, terlalu baik hati, bukankah itu juga sifat yang buruk bagimu?”
“Memang buruk. Buruk bukan main! Orang berbuat baik haruslah melihat terhadap siapa kita berbuat baik. Kalau kita berbuat baik kepada penjahat, sama saja dengan membunuh diri. Kalau aku, setiap ada penjahat, apa lagi yang terlampau keji seperti Hek-bin Mo-ong, maka tanpa ragu-ragu lagi akan kucabut nyawanya!”

Cin Mei tertawa. Dia sudah mengenal betul suci-nya ini. Memang hatinya amat keras dan dapat berbuat ganas terhadap orang jahat, akan tetapi tidaklah begitu kejamnya.

“Suci, engkau sudah bertemu dengan Lin-koko?”
“Sudah, dia berada di kamarnya dan aku alan menginap di sini bersamamu. Dia memang benar. Kami tidak akan berangkat ke kota raja sebelum engkau sembuh.”
“Aku tidak sakit, suci.”
“Maksudku, sebelum tenaga sinkang-mu pulih kembali. Dalam keadaan seperti ini, kalau ada bahaya mengancam, bagaimana engkau akan mampu membela diri?”
“Suci, di sini ada pembelaku yang paling dapat dipercaya dan diandalkan, karena itu tidak perlu khawatir...”
“Aku tahu! Pembelamu itu tentu adikku Han Lin, bukan?”
“Ihhh, suci! Bukan dia yang kumaksudkan. Bukankah dia akan pergi bersama suci? Yang kumaksudkan, pembelaku yang paling bisa diandalkan adalah Thian! Siapa pun tidak ada yang dapat menggangguku selama Thian melindungiku.”

“Aihh, sejak dulu engkau selalu berpendapat begitu. Selalu mengandalkan Thian! Hemm, ketika engkau nyaris diperlakukan keji oleh Hek-bin Mo-ong, siapakah yang menolongmu? Apakah Thian?”
“Tentu saja, suci. Thian yang menolongku.”
“Tetapi tadi kau bilang ditolong oleh Lin-kokomu itu!”
“Memang benar, Lin-koko yang menolongku. Akan tetapi justru dia yang digerakkan oleh Thian untuk menolongku sehingga kebetulan sekali dia melihat aku dilarikan oleh Hek-bin Mo-ong.”
“Ahh, sudahlah. Engkau memang pandai sekali berdebat. Jika kita tidak berusaha sendiri, apakah Thian akan menolong kita? Bila kita lapar, tidak mau mencari nasi sendiri, apakah Thian akan menyuapi kita dengan nasi? Bila kita kehausan, tidak mau mencari minuman sendiri, apakah Thian yang akan menolong kita? Apa bila kita diserang penjahat dan tidak melawan dengan kekuatan sendiri, apakah Thian akan menolong kita?”

“Aduh, suci. Sudah berapa kali aku ingatkan kepadamu. Bukankah suci hafal akan semua ujar-ujar dalam berbagai kitab suci? Kenapa suci berkata demikian?”
“Karena pengalaman, sumoi. Segala macam ujar-ujar dalam kitab suci itu hanya dihafal, menjadi permainan kata-kata dan untuk pemanis bibir saja. Tapi yang jelas, tanpa usaha sendiri kita tidak akan dapat hidup!”

“Suci, justru usaha sendiri itu juga merupakan anugerah dan berkah dari Thian. Kita dapat melihat karena Thian memberi kita sepasang mata. Kita dapat mendengar karena Thian memberi kita sepasang telinga. Kita bekerja dengan tangan, membela diri dengan tangan kaki karena Thian memberi kita tangan kaki dan hati akan pikiran. Berkah dan pertolongan Thian sudah diberikan kepada kita sejak kita lahir, akan tetapi kita kadang melupakannya, mengira bahwa semua ini merupakan usaha kita sendiri. Suci, siapakah yang mengatur pernapasan suci ketika sedang tidur sekali pun? Apakah suci pernah mengatur jalannya darah yang dipompa dari jantung? Masih banyak lagi kenyataan-kenyataan yang tak bisa dibantah. Tanpa kekuasaan Thian yang melindungi kita, bagaimana kita dapat hidup?”

“Wah, wah, wah! Kalau sudah begitu tentu saja aku tidak dapat membantah lagi, sumoi. Akan tetapi bagaimana pun juga aku tidak mau pergi sebelum tenagamu pulih kembali, dan engkau tidak akan dapat memaksaku pergi!”
“Hei, suci. Kapankah engkau akan menanggalkan kekerasan hatimu itu?”
“Dan kapan engkau menanggalkan kelemahan hatimu? Sebaiknya engkau memberikan sedikit kelemahanmu kepadaku dan aku memberikan sedikit kekerasan hatiku kepadamu. Dengan demikian kita menjadi sama-sama sedang-sedang saja, bukan? Hi-hik-hik, tunggu aku akan mencarikan obat penguat darah kepadamu, agar tenagamu cepat pulih.”

“Baiklah, suci. Tadinya aku pun hendak membuat obat itu, sebab sebenarnya aku sudah punya semua kecuali tinggal satu bahan lagi, yaitu jin-som. Tolong belikan sepersepuluh kati saja, suci.”
“Baiklah, aku pergi. Engkau boleh bercakap-cakap dengan Lin-kokomu itu, hi-hik.”
“Ihh, suci ada-ada saja!” Cin Mei tersipu dan hal ini membuat Leng Si tertawa-tawa terus sampai di luar kamar.

Akan tetapi begitu keluar dari rumah penginapan untuk pergi membeli akar obat jin-som, Leng Si menghapus dua titik air mata yang membasahi pipinya. Dia menangis, akan tetapi mulutnya tersenyum!

“Biarlah... kalau aku gagal dengan cintaku, sumoi tidak boleh gagal. Biar pun dia beristeri, akan tetapi isterinya itu memaksanya, dan ini tidak sah! Aku harus menggagalkan suami isteri buatan itu. Dia harus menjadi suami sumoi-ku!”

Dengan tekun Leng Si merawat adik seperguruannya penuh kasih sayang, memasakkan obat penguat dan terus menemaninya. Sebenarnya enci dan adik seperguruan itu saling menyayang, hanya karena watak mereka jauh berbeda, malah berlawanan, maka kadang kala mereka kelihatan seperti bertentangan.

Lewat lima hari tenaga Cin Mei sudah pulih kembali. Selama lima hari itu kelihatan benar oleh Leng Si bahwa Han Lin mencinta adik seperguruannya. Malam itu, seorang diri dia menemui Han Lin. Cin Mei yang telah tidur ditinggalkannya dan dia mengetuk pintu kamar Han Lin.

“Han Lin, bukalah pintu,” dia memanggil perlahan.
“Ehh, enci Leng Si, ada apakah?”
“Mari ke taman di belakang, aku ingin bicara.”

Tentu saja Han Lin merasa heran melihat sikap gadis itu yang penuh rahasia, akan tetapi dia tidak membantah dan sesudah menutupkan daun pintu kamarnya, dia pun mengikuti Leng Si pergi ke taman di belakang penginapan itu, di mana terdapat penerangan lampu merah dan terdapat pula beberapa buah bangku. Leng Si mengajaknya duduk di situ dan setelah mereka duduk saling berhadapan, Leng Si langsung saja bertanya, nada suaranya menyerang.

“Han Lin, engkau seorang laki-laki yang seharusnya bersikap jantan, sebab itu tidak layak kalau engkau tidak berterus terang dan tidak jujur kepadaku.”
“Enci, apa kesalahanku...?”
“Tidak salah apa-apa, akan tetapi jawablah pertanyaanku ini sejujurnya. Apakah engkau mencinta sumoi?”

Ditanya seperti itu, Han Lin merasa seolah-olah dia ditodong dengan pedang yang runcing dan dia terbelalak sambil bangkit berdiri.

“Tidak usah terkejut, jawab saja yang sebenarnya kalau engkau tidak ingin kukatakan laki-laki pengecut dan palsu. Hayo jawab yang sejujurnya. Engkau adalah adik angkatku, dan dia adalah sumoi-ku. Dua-duanya kuberatkan maka engkau tidak boleh main-main, harus menjawab dengan jujur. Sekali lagi, apakah engkau mencinta sumoi Lie Cin Mei?”
“Wah, ini... ini...”
“Jawab, jangan mencla-mencle plintat-plintut!”
“Ampun, enci Leng Si. Bagaimana aku harus menjawab? Aku sama sekali tidak berhak! Engkau sudah tahu bahwa aku telah mempunyai isteri, telah menikah dan terikat...”
“Menikah macam apa itu? Mana ada ikatan yang dipaksakan? Itu sama saja dengan akal bulus. Aku bertanya tentang isi hatimu, tentang perasaanmu, tidak ada urusannya dengan berhak atau tidak berhak. Katakan, apakah engkau mencinta sumoi? Hayo jawab, jangan membikin aku hilang sabar sehingga berteriak-teriak membangunkan semua orang.”

Han Lin merasa ngeri akan ancaman ini. Kalau gadis ini sudah berteriak-teriak dan semua orang mendengar, apa lagi terdengar oleh Cin Mei, mau ditaruh ke mana mukanya?

“Ssstt, enci, jangan ribut-ribut. Aihh, enci telah mendesak dan menghimpitku, betapa tega hatimu, enci.”
“Hush, siapa menghimpitmu. Aku hanya ingin pengakuan jujur seorang jantan. Dan adikku haruslah berjiwa jantan, tidak plin-plan. Nah, lepas dari engkau telah menikah atau belum, katakanlah, apakah engkau mencinta Cin Mei?”

“Baiklah, aku akan mengaku terus terang, enci. Aku berani bersumpah bahwa selama ini aku tidak pernah jatuh cinta kepada wanita lain, sejak cintaku kepada adik misanku Yang Mei Li ditolak dan dia memilih untuk menikah dengan pria lain. Aku tak pernah jatuh cinta lagi, bahkan tadinya aku mengira tidak akan dapat jatuh cinta lagi kepada seorang wanita. Akan tetapi, semenjak Kwan Im Sianli Lie Cin Mei muncul, yaitu ketika dia membebaskan aku dari tanganmu, aku telah jatuh cinta kepadanya, enci. Aku tergila-gila padanya, tetapi ternyata nasib menghendaki lain. Secara tidak terduga-duga, terpaksa sekali aku menjadi suami Mulani dan tentu saja aku tidak berani mengharapkan sumoi-mu untuk...”

“Hushh, siapa bicara tentang nasib? Nasibmu berada di tanganmu sendiri, Han Lin. Thian tidak akan mengubah nasibmu bila engkau tidak berusaha mengubahnya. Kalau memang benar engkau mencinta sumoi, engkau adalah orang yang berbahagia karena sebenarnya sumoi juga mencintamu.”
“Ohhhh...!” terdengar jerit tertahan dan ketika menengok, Han Lin masih sempat melihat berkelebatnya bayangan putih yang melarikan diri pergi meninggalkan taman itu.
“Mei-moi...!” Han Lin cepat melompat mengejar, terkejut bukan main karena tidak mengira bahwa Cin Mei telah mengintai mereka, mendengarkan semua percakapan mereka.

Meski pun dia tersipu malu dan khawatir sekali, tetapi melihat gadis itu melarikan diri, dia menjadi amat gelisah dan segera mengejarnya untuk mohon ampun atas kelancangannya karena dia tahu bahwa percakapannya dengan Leng Si tadi tentu terdengar oleh Cin Mei dan betapa percakapan tentang diri Cin Mei itu tentu sangat menyinggung perasaan gadis itu.

Akan tetapi Cin Mei yang kekuatannya telah pulih kembali itu dapat berlari amat cepatnya sehingga Han Lin terpaksa harus mengerahkan tenaga sekuatnya untuk dapat menyusul gadis itu.

“Mei-moi, tunggu...!”

Akhirnya Cin Mei berhenti di tepi jalan yang sunyi itu. Malam itu bulan muncul sepotong, namun cukup memberi penerangan yang remang-remang.

“Mei-moi, maafkan aku...!” Han Lin menundukkan muka berdiri di depan Cin Mei.
“Tidak ada yang harus dimaafkan, toako.”
“Siauw-moi, aku memang bersalah. Aku sudah menyinggung perasaanmu yang suci, aku sudah merendahkanmu. Siauw-moi, kau ampunkan aku..., aku siap meneriima hukuman.” Dan saking gelisah dan terharunya Han Lin tidak segan-segan untuk menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Cin Mei!
“Aih, toako, jangan begitu. Bangitlah, toako, aku mohon kepadamu, bangkitlah dan jangan berlutut kepadaku,” suara itu terdengar sedih dan gemetar.
“Katakan dahulu bahwa engkau mengampuni semua ucapanku mengenai dirimu, baru aku mau bangkit berdiri.”
“Hanya Thian yang berhak mengampuni kesalahan manusia. Aku tidak berhak, apa lagi aku tidak merasa bahwa engkau bersalah kepadaku. Akan tetapi kalau engkau memaksa, baiklah. Aku maafkan engkau. Nah, bangkitlah.”

Han Lin bangkit dengan hati lega. “Terima kasih, siauw-moi. Alangkah bijaksana hatimu. Siauw-moi, tentu engkau telah mendengarkan semua percakapanku dengan enci Leng Si tadi, bukan?”

Gadis itu mengangguk. Biar pun sinar bulan hanya remang namun Han Lin dapat melihat betapa pucat wajah gadis itu.

“Aku tidak seharusnya bicara begitu. Aku yang bersalah, aku tidak berhak...”
“Tidak berhak apa, toako? Katakanlah.”
“Tidak berhak menyatakan cinta kepadamu. Ahhh...biarlah aku mengakui saja kepadamu. Aku cinta padamu, siauw-moi, sejak pertemuan kita yang pertama kali. Aku cinta padamu, walau pun sesungguhnya aku tidak berhak.”
“Toako, jangan berkata demikian, toako. Begitu banyak wanita yang mencintamu, engkau tinggal memilih saja. Di antara mereka adalah Mulani yang berkeras memaksamu menjadi suaminya, dan di sana masih ada Can Bi Lan yang sungguh mencintamu.”
“Siauw-moi, apakah ucapanmu itu berarti engkau ingin mengatakan bahwa engkau tidak cinta kepadaku?”
“Ahh, bukan begitu... tapi engkau sudah terikat dengan isterimu, toako. Jangan hancurkan hati wanita-wanita itu. Aku akan merasa berdosa terhadap mereka.”

“Siauw-moi, hatimu terlalu baik dan engkau selalu mengalah dalam segala hal. Aku tidak menuntut jawaban sekarang. Tetapi janganlah engkau pergi seperti ini. Mari kita kembali ke penginapan. Enci Leng Si tentu akan merasa bersalah kepadamu kalau engkau pergi meninggalkannya begitu saja, mengira engkau tentu marah kepada kami. Marilah, siauw-moi.”
“Aku mau kembali, akan tetapi dengan satu syarat bahwa engkau tidak akan bicara lagi tentang cinta.”
“Baiklah, aku tak akan bicara lagi tentang cinta yang hanya akan menimbulkan penasaran dan kedukaan di hatiku.”

Mereka kemudian berjalan perlahan kembali ke rumah penginapan. Karena tadi keduanya menggunakan ilmu berlari cepat, maka letak rumah penginapan itu sudah cukup jauh.....
Akan tetapi setelah mereka tiba di sana, tidak nampak Leng Si. Cin Mei cepat memasuki kamarnya dan menemukan sepucuk surat yang ditinggalkan Leng Si.

Sumoi dan Han Lin,

Karena suatu urusan penting, terpaksa aku tidak bisa ikut. Pergilah ke kota raja, sumoi, engkau mewakili aku. Pergilah dengan Han Lin ke kota raja untuk menyerahkan pedang itu kepada kaisar, dan mohonlah kepada kaisar agar ayahku dibebaskan. Aku berterima kasih sekali kepada kalian.

Dari: Cu Leng Si

“Siauw-moi, apakah enci Leng Si berada di kamarmu?” tanya Han Lin dari luar kamar.

Cin Mei keluar dan tanpa berkata apa-apa dia pun menyerahkan surat itu kepada Han Lin. Pemuda ini membacanya dengan alis berkerut, di dalam hatinya merasa sangat gembira akan tetapi tentu saja hal ini tidak diperlihatkan kepada Cin Mei walau pun dia tidak dapat menyembunyikan perasaan gembira itu dari suaranya yang terdengar mantap.

“Bagaimana pendapatmu dengan ini, siauw-moi?”
“Maksudmu?”
“Sudikah engkau pergi denganku ke kota raja untuk menyerahkan Ang-in Po-kiam kepada kaisar dan mohon pengampunan bagi ayah enci Leng Si?”
“Apa boleh buat, suci menghendaki demikian dan aku harus menghormati permintaannya itu. Kapan kita berangkat?”
“Besok pagi-pagi sekali.”
“Baiklah, toako. Sekarang, selamat tidur.”
“Selamat tidur, siauw-moi.”

Malam itu Han Lin tidur dengan nyenyak sekali. Bibirnya tersenyum, agaknya mimpi yang indah-indah menjadi bunga tidur malam itu. Berbeda dengan Cin Mei yang tidur gelisah di atas pembaringannya. Terjadi pertentangan dalam batinnya.

Dia harus mengakui diri sendiri bahwa dia juga mencinta pemuda itu, akan tetapi dia pun merasa iba kepada Mulani, juga kepada Bi Lan. Dia akan mengalah kepada wanita mana pun juga dalam hal cinta. Baginya cinta tidak harus menjadi suami-isteri. Dia masih dapat mencinta Han Lin, walau pun tidak menjadi isterinya atau kekasihnya.

“Toako, kita singgah dulu di Nan-yang. Aku ingin menengok guruku,” kata Cin Mei kepada Han Lin.

Kini mereka menunggang dua ekor kuda karena Han Lin membeli seekor kuda lagi untuk gadis itu dan mereka telah melakukan perjalanan jauh. Hari itu mereka sampai di luar kota Nan-yang dan Cin Mei mengusulkan untuk singgah di situ.

“Tentu saja, siauw-moi, kita tidak sedang tergesa-gesa. Ahh..., jadi gurumu, Thian-te Yok-sian, tinggal di kota ini?” jawab Han Lin senang.

Dia merasa alangkah bahagia hidupnya melakukan perjalanan bersama Cin Mei. Seolah-olah pemandangan alam menjadi jauh lebih cantik menarik dari pada biasanya. Matahari bersinar lebih cerah, kicau burung di pagi hari lebih merdu, bahkan ketika mereka makan bersama, makanan apa pun yang dimakannya terasa lebih nikmat.

Dia tahu bahwa semua itu terjadi karena cintanya kepada Cin Mei dan berdekatan dengan orang yang dicinta memang merupakan kenikmatan yang tiada taranya. Meski pun sikap Cin Mei biasa saja dan tidak pernah memperlihatkan perasaannya, akan tetapi dia dapat merasakan pula bahwa Cin Mei merasa tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakannya, yaitu berbahagia dan gembira sekali.

Cin Mei yang menunggang kuda berwarna coklat, memasuki kota lebih dulu karena Han Lin mengikuti di belakangnya. Gadis itu langsung saja menuju ke rumah gurunya, sebuah rumah yang pintunya selalu terbuka karena setiap hari ada saja orang mencarinya untuk berobat.

Akan tetapi Dewa Obat ini mempunyai suatu kebiasaan. Kalau yang datang itu menderita penyakit biasa saja, maka dia tidak mau mengobati bahkan mengusirnya untuk pergi saja ke tabib lain. Tetapi jika ada orang sakit yang amat parah, yang tidak dapat disembuhkan oleh tabib-tabib biasa, barulah dia mau mengobatinya dan kalau sudah mengobatinya, dia tidak pernah minta bayaran.

Mereka yang disembuhkan itu dengan suka rela kemudian mengirim bahan makanan atau pakaian kepada Dewa Obat ini, dan kalau demikian halnya, dia pun tidak menolak. Akan tetapi jangan ditanya berapa biayanya, karena dia akan marah sekali dan mengusir orang itu. Baginya, perjuangan yang berbahaya dan berat, serta kemenangannya atas penyakit yang berat itulah yang merupakan sumber kebahagiaannya. Kini usianya telah tujuh puluh tahun, namun dia masih nampak sehat dan cekatan ketika memeriksa pasien.

Ketika dua orang penunggang kuda itu sampai di depan rumah Yok-sian, mereka merasa heran melihat pintu rumah itu masih dalam keadaan tertutup. Padahal hari sudah cukup siang sehingga tidak mungkin kalau Dewa Obat itu masih tidur. Selagi mereka termangu, seorang anak-anak berusia dua belas tahun menghampiri dan melihat Cin Mei, dia segera berseru girang.

“Suci...!”
“Ahh, engkau ini, Kun Tek? Di mana suhu dan kenapa pintu rumahnya ditutup?” Cin Mei melompat turun dari kudanya diikuti oleh Han Lin.
“Aihh, panjang ceritanya, suci. Mari silakan masuk, kita bicara di dalam saja.”

Han Lin melihat bahwa biar pun masih kecil namun anak itu sudah nampak cerdik. Anak itu membuka daun pintu dengan kunci yang diambilnya dari saku bajunya, lantas mereka bertiga memasuki rumah itu setelah mengikat kendali kuda pada pohon di depan rumah.

Setelah duduk di ruangan dalam, tiba-tiba saja Kun Tek menjatuhkan diri di depan Cin Mei sambil menangis. Sekarang barulah benar-benar nampak bahwa dia masih kanak-kanak.

“Hushh, Kun Tek. Jangan menangis, ceritakan yang jelas apa yang telah terjadi,” kata Cin Mei menghibur sambil mengangkat anak itu disuruh bangkit dan duduk kembali di kursi.

Kun Tek menyusut air matanya, lantas mulai bercerita. “Baru lima hari ini terjadinya, suci. Tadinya ada lima orang prajurit utusan Panglima Kwan dari Lok yang minta agar suhu ikut mereka untuk mengobati keluarga Panglima Kwan. Tentu saja suhu menolak karena suhu tidak pernah pergi mengunjungi pasien, harus pasien yang datang untuk berobat dan bagi suhu, peraturan ini berlaku untuk semua orang. Bahkan suhu pernah berkata bahwa biar kaisar sendiri, kalau membutuhkan pertolongannya tetap harus datang ke sini. Maka dia menolak keras dan menuntut bahwa apa bila pasien keluarga Panglima Kwan itu benar-benar sakit keras dan membutuhkan pertolongannya, harus dibawa ke sini. Lima orang itu lalu pergi dengan penasaran.”

“Lalu bagaimana?” tanya Cin Mei dengan suara tenang.
“Kemudian kemarin datang sebuah kereta dan Panglima Kwan sendiri datang. Dia marah-marah dan memaki-maki suhu, lalu memaksa suhu untuk ikut dengannya. Suhu menolak, tetapi para pengawal Panglima Kwan itu lalu menggunakan kekerasan, mereka menyeret suhu ke dalam kereta yang kemudian meninggalkan kota ini dan sampai sekarang belum ada kabarnya. Ahh, suci, tolonglah suhu, aku khawatir suhu mendapat celaka di sana.”

“Tenanglah, Kun Tek. Biar aku yang mengurus suhu. Engkau jaga saja rumah ini, rawat baik-baik agar kalau suhu pulang keadaannya tetap bersih.”
“Baik, suci.”
“Toako, mari kita menyusul suhu ke Lok-yang!” kata gadis itu dan Han Lin mengangguk. Mereka lalu keluar lagi, menunggang kuda dan keluar dari kota Nan-yang menuju ke Lok-yang dengan cepat.
“Panglima itu sudah bertindak sewenang-wenang terhadap suhu-mu, siauw-moi. Biar kita beri hajaran kepadanya!”
“Ahh, jangan begitu, toako. Pertama, dia adalah seorang panglima yang tentu mempunyai pasukan yang berjumlah puluhan ribu orang. Kedua, semua perbuatan pasti ada sebabnya dan sebelum mengetahui kenapa dia memaksa suhu, tidak baik kalau kita bertindak, apa lagi dengan kekerasan. Biarkan aku yang menangani persoalan ini, toako.”

Pada keesokan harinya barulah mereka memasuki kota Lok-yang yang besar karena kota Lok-yang merupakan kota raja kedua sesudah Tiang-an. Tidaklah sukar bagi kedua orang muda itu untuk mencari tahu di mana tempat tinggal Panglima Kwan. Dia adalah seorang di antara beberapa panglima di Lok-yang dan rumahnya merupakan gedung besar yang di luarnya dijaga oleh pasukan pengawal.

Cin Mei dan Han Lin merasa agak lega bahwa panglima itu tidak tinggal di dalam benteng, karena kalau demikian halnya tentu akan lebih sukar bagi mereka untuk menemuinya dan berusaha membebaskan Yok-sian yang dipaksa mengobati keluarga panglima itu.

“Berhenti! Siapakah kalian dan ada keperluan apakah kalian datang ke sini?!” bentak opsir penjaga yang bertugas jaga di depan gedung megah itu.

Walau pun pertanyaan itu diajukan kepada Han Lin, namun karena Cin Mei yang hendak menangani persoalan itu, Han Lin tidak menjawab melainkan menoleh kepada Cin Mei.

”Kami datang hendak menghadap Kwan-ciangkun. Saya adalah seorang ahli pengobatan bernama Lie Cin Mei dan kawanku ini bernama Sia Han Lin. Kami mendengar bahwa ada keluarga Kwan-ciangkun yang menderita sakit keras, maka saya hendak mencoba untuk mengobatinya.”

Mendengar ucapan itu, berubahlah sikap opsir itu. “Ahh, kalau begitu akan kami laporkan kepada ciangkun. Harap ji-wi (kalian berdua) menanti sebentar.”

Tidak lama kemudian opsir itu datang lagi lalu mempersilakan dua orang muda itu masuk. Mereka diterima oleh seorang panglima yang bertubuh tinggi besar dan bermuka merah. Sesudah dipersilakan duduk, panglima itu mengamati Cin Mei dan bertanya dengan suara meragu,

“Apakah nona yang mengatakan pandai mengobati orang sakit?”
“Benar, ciangkun. Saya mendengar bahwa ada keluarga ciangkun yang sedang menderita sakit, maka kalau boleh, saya hendak mencoba untuk memeriksa dan mengobatinya.”
“Apakah engkau berani tanggung bahwa engkau akan sanggup menyembuhkan puteraku yang menderita sakit itu, nona?”
“Ciangkun, bagaimana saya dapat menentukan sebelum memeriksanya?”
“Baik, mari kau periksa dia, kemudian beri dia obat sampai sembuh. Kalau engkau dapat menyembuhkannya, nanti akan besar hadiahnya untukmu.”

Sambil dikawal oleh selosin prajurit, panglima itu kemudian mengajak Cin Mei dan Han Lin masuk ke kamar di bagian belakang gedung yang besar itu. Baru tiba di depan kamar saja sudah tercium bau yang tidak enak sekali dari dalam kamar. Seperti bau bangkai.

“Nah, yang sakit adalah puteraku dan dia berada di dalam kamar ini. Silakan periksa dia, nona,” kata panglima itu.

Agaknya perhatian panglima itu tercurah kepada puteranya yang sakit sehingga dia tidak lagi menanyakan siapa nama kedua orang tamunya, walau pun tadi sudah dilaporkan oleh opsir penjaga.

Dengan menahan kemuakan oleh bau yang busuk itu, Cin Mei menghampiri pembaringan di mana rebah seorang pemuda yang berusia sekitar dua puluh tahun, akan tetapi seluruh tubuh pemuda itu timbul bisul kecil-kecil yang mengeluarkan bau busuk. Melihat Cin Mei, pemuda itu hendak bangkit dan menjulurkan kedua lengannya.

“Aduh, cantik manis! Marilah, manis, tidur bersamaku...!” suaranya lemah, akan tetapi dia berusaha bangkit untuk merangkul Cin Mei.

Han Lin cepat menggunakan tongkatnya menotok jalan darah pemuda itu sehingga rebah kembali dengan tubuh lemas.

Cin Mei lalu memeriksa nadinya. Tidak lama kemudian dia menggelengkan kepala sambil memberi isyarat kepada Han Lin agar keluar dari kamar. Han Lin menotokkan tongkatnya membebaskan pemuda itu, kemudian mereka keluar dari kamar itu. Di belakang mereka, pemuda yang sakit itu memanggil-manggil Cin Mei.

“Ke sinilah, manis. Jangan tinggalkan aku, sayang...!”

Gila, pikir Han Lin. Sudah sakit begitu hebat namun masih saja bersikap mata keranjang. Orang semacam itu pantasnya mati saja.

Sesudah gadis itu keluar dari dalam kamar si sakit, panglima itu kemudian mengajaknya ke ruangan tadi dan setelah duduk, dia bertanya, “Bagaimana, nona. Bagaimana keadaan anakku dan dapatkah engkau menyembuhkan?”

Han Lin melihat bahwa ruangan itu sudah dijaga oleh belasan orang pengawal, dan ketika dia memandang panglima itu, dia melihat wajah yang merah itu diliputi penuh kegelisahan.

“Ciangkun, puteramu itu terkena penyakit berat. Mungkin timbul karena dia terlalu banyak bergaul dengan pelacur-pelacur sehingga darahnya telah keracunan. Bahkan saya melihat racun itu sudah menjalar sampai ke otaknya.”
“Hemm, cocok dengan ucapan tabib itu!” kata Kwan-ciangkun.
“Saya juga melihat bahwa dia sudah mendapat obat penahan dan pengurang rasa nyeri. Kalau tidak mendapat obat itu, tentu dia tidak akan mampu menahan rasa sakit dan akan berteriak-teriak terus sepanjang waktu.”
“Kembali cocok, nona. Engkau memang pandai dan kuharap engkau dapat mengobatinya sampai sembuh betul, tidak seperti tabib itu yang hanya bisa memberi obat penahan rasa nyeri saja.”
“Ciangkun, sebelum saya menjawab dan memberi obat, saya ingin bertanya di mana tabib yang sudah memeriksa dan memberinya obat itu?”
“Di kamar tahanan! Dia mengaku sebagai Dewa Obat, akan tetapi dia mengatakan bahwa dia tidak bisa menyembuhkan anakku. Maka dia kumasukkan tahanan dan kalau sampai anakku mati, maka dia juga akan ikut mati!” kata panglima itu dengan gemas.
“Harap ciangkun suka suruh panggil dia ke sini, karena saya perlu bertukar pikiran dengan dia untuk dapat mengobati puteramu.”
“Ah, benarkah engkau dapat menyembuhkan puteraku?” tanya panglima itu penuh harap.
“Mudah-mudahan saja, akan tetapi saya perlu bertukar pikiran dan pendapat dengan tabib itu.”
“Baik!” Panglima Kwan memanggil kepala pengawal, lalu memerintahkan agar membawa tabib tawanan itu datang ke situ.

Tak lama kemudian pengawal itu datang kembali sambil menggiring seorang kakek tinggi kurus. Melihat suhu-nya, Cin Mei lalu memberi hormat dan berkata,
“Saya mohon mendapat locianpwe untuk menentukan obat bagi putera Kwan-ciangkun.”

Tentu saja Thian-te Yok-sian mengenal muridnya. Dia tahu bahwa tidak seperti dia yang hanya tahu ilmu pengobatan, muridnya itu mempunyai ilmu silat tinggi dan tentu gadis ini datang untuk menolongnya. Dia khawatir sekali akan keselamatan muridnya itu, maka dia berkata,

“Mau tanya apa lagi? Penyakit Kwan-kongcu sudah sangat berat. Semua karena ulahnya sendiri bermain-main dengan para pelacur. Kini penyakit itu sudah menjalar ke otak.”
“Kalian harus dapat menyembuhkannya. Kalau tidak maka kalian bertiga takkan kuijinkan meninggalkan tempat ini!” bentak Kwan-ciangkun.

Han Lin yang sejak tadi diam saja lalu berkata, “Kami tahu kenapa ciangkun menghendaki begitu. Tentu ciangkun khawatir kalau di luaran kami akan menceritakan tentang keadaan penyakit Kwan-kongcu, bukan?”

“Tutup mulutmu, orang muda!” panglima itu membentak marah. “Pendeknya kalian harus dapat menyembuhkannya!”

Sekarang dengan suara tenang penuh kesabaran Cin Mei berkata, “Ciangkun, kami bukan Tuhan melankan manusia biasa. Yang menentukan mati hidup hanyalah Thian. Saya kira penyakit putera ciangkun sudah terlampau parah. Walau pun andai kata obat kami dapat menyelamatkan nyawanya, tetapi tidak mungkin dapat menyelamatkan otaknya. Dia bisa sembuh, akan tetapi akan menjadi... maaf, gila.”

“Apa...?!” bentak Kwan-ciangkun sambil berdiri dari tempat duduknya, mukanya pucat dan matanya terbelalak.
“Ohh, sebetulnya saya sudah tahu mengenai hal itu, akan tetapi tidak berani mengatakan kepada ciangkun. Menurut saya keadaan Kwan-kongcu sudah demikian parah, hidup pun akan menderita hebat. Maka hanya ada satu jalan yang terbaik baginya, yaitu kematian yang akan membebaskan dia dari semua rasa nyeri dan ancaman gila.”
“Tidak! Tidak! Kalian harus menyembuhkannya sama sekali atau kalau tidak, maka kalian akan kutahan dan kalau dia mati, kalian juga akan ikut mati!”

Mendadak Han Lin meloncat dan meski pun panglima itu menyambutnya dengan pukulan, tetap saja dia sudah dapat menotok panglima itu sehingga panglima itu menjadi lumpuh.

“Kwan-ciangkun, engkau keterlaluan,” bisik Han Lin.

Sementara itu belasan orang pengawal yang melihat ini telah menyerbu dengan golok dan tombak di tangan. Tapi begitu mereka menyerang ke arah Cin Mei dan Yok-sian, tiba-tiba nampak bayangan putih berkelebat kemudian berturut-turut mereka roboh tertotok diiringi suara golok dan tombak yang terlempar berkerontangan. Melihat lima orang prajurit roboh oleh wanita berpakaian putuh itu, para pengawal lain menjadi tertegun dan jeri.

Sementara itu Han Lin telah menekan leher Kwan-ciangkun. “Ciangkun, cepat perintahkan pengawalmu untuk mundur, kalau tidak terpaksa aku akan membunuhmu sekarang juga.”

Karena tak berdaya dan nyawanya berada di tangan orang, Kwan-ciangkun lalu berteriak, “Kalian semua mundur!” dan para pengawal itu pun tidak ada yang berani bergerak.

“Biarkan kami pergi dari sini dengan aman, ciangkun.”
“Buka jalan dan biarkan mereka pergi!” bentak pula Kwan-ciangkun.

Cin Mei menghampiri meja dan menuliskan resep obat dengan cepat, lalu berkata kepada panglima itu. “Ciang-kun, ini adalah resep obat untuk membuat puteramu merasa tenang dan tidak menderita nyeri, akan tetapi sama sekali bukan untuk menyembuhkan. Hanya kalau Thian menghendaki maka puteramu dapat sembuh. Mudah-mudahan saja.”

Mereka bertiga lalu melangkah keluar. Han Lin masih tetap memegangi lengan panglima itu yang dibawanya keluar sehingga tidak ada seorang pun pengawal berani mengganggu mereka.

“Siauw-moi, kau pergi dulu bersama suhu-mu, tunggu di luar kota,” bisik Han Lin kepada Cin Mei.

Gadis itu mengangguk. Sebenarnya dia tidak menyukai jalan kekerasan yang diambil oleh Han Lin, akan tetapi dia maklum bahwa inilah satu-satunya jalan untuk dapat lolos dengan selamat. Dengan cepat dia lalu membawa suhu-nya keluar dari situ, sambil menunggang kedua ekor kuda keluar dari kota kemudian menanti Han Lin.

Setelah menanti hingga beberapa saat barulah Han Lin melepaskan panglima itu. “Jangan mengejar kami, ciangkun. Kami telah bersikap baik padamu, bahkan meninggalkan resep obat untuk puteramu. Ingat, jika engkau mengirim pasukan mengejar, dengan mudah saja aku akan datang lagi untuk mencabut nyawamu.” Setelah berkata demikian, dia pun pergi dengan cepat. Sekali berkelebat dia pun lenyap dari situ.

Karena sibuk dengan puteranya panglima itu pun tidak melakukan pengejaran, melainkan menyuruh orang membeli obat dengan resep yang ditinggalkan oleh Cin Mei.

Cin Mei lalu mengajak Thian-te Yok-sian dan Kun Tek untuk mengungsi ke sebuah dusun yang menjadi kampung halaman Thian-te Yok-sian, sebuah dusun nelayan di tepi Huang-ho, di mana Thian-te Yok-sian masih mempunyai sebuah rumah dan selanjutnya dia hidup di situ, dilayani oleh Kun Tek dan kehidupannya ditunjang oleh keluarga nelayan di dusun itu karena mereka pun membutuhkan pertolongan Yok-sian untuk mengobati mereka yang menderita sakit…..

********************
Selanjutnya baca
PEDANG AWAN MERAH : JILID-07
LihatTutupKomentar