Dewi Sungai Kuning Jilid 02

Sejak itu Thian Hwa tekun mempelajari ilmu silat tinggi bersama-sama Yan Bun sehingga tingkat kepandaian mereka saling susul dan tidak berbeda jauh. Yan Bun tumbuh menjadi seorang pemuda yang sabar, hati-hati dan sebelum bertindak selalu membuat perhitungan tepat dan cermat, sementara Thian Hwa menjadi seorang gadis yang sangat pemberani dan bebas.

Mungkin hal ini terjadi karena memang semenjak kecil ia hidup berdua dengan kakeknya, lepas bebas sebagai seekor burung di udara, dan dalam pada itu, segala macam bahaya dan kesulitan selalu dipecahkan sendiri karena hal ini memang disengaja oleh Thian Bong Sianjin untuk membiarkan gadis itu menghadapi segala kesukaran dengan tenaga sendiri, dan baru ditolongnya kalau memang perlu ditolong! Karena inilah maka watak Thian Hwa selain keras dan jujur, juga sangat pemberani dan percaya penuh akan kemampuannya sendiri.

Pada suatu hari, ketika seperti biasanya Thian Bong Sianjin dan Thian Hwa mengunjungi perkampungan Ui Hauw, mereka mendapatkan kampung itu sedang dalam persiapan dan Ui Hauw tampak berwajah muram. Thian Bong Sianjin merasa heran sekali dan baru saja dia dan cucunya mendarat, Ui Hauw menyambutnya dengan penuturan sebuah peristiwa yang membuat Thian Hwa menjadi marah sekali.

Semenjak Thian Bong Sianjin mengundurkan diri dan mencuci tangan dari pekerjaannya sebagai bajak tunggal, maka semua aturan yang dia tetapkan bagi para bajak di Sungai Huang-ho tetap diindahkan dan ditaati semua bajak besar kecil. Terutama karena mereka semua itu mendengar bahwa Si Ular Air Ui Hauw yang dianggap sebagai pengganti Thian Bong Sianjin dan dulu disebut Huang-ho Sui-mo atau Setan Air Sungai Huang-ho, terkenal sebagai seorang gagah yang mengutamakan keadilan dan kegagahan dan tetap mentaati peraturan yang ada.

Tetapi karena Ui Hauw makin jarang meninggalkan perkampungannya yang kini menjadi kampung tetap, dan boleh dikata kepala bajak itu tidak pernah lagi mendayung perahunya menjelajah sepanjang sungai, lambat laun kekuatan para bajak menjadi makin lemah dan di sana-sini terjadi pelanggaran-pelanggaran.

Memang sudah lama sekali Ui Hauw mengajarkan anak buahnya untuk memperoleh hasil dengan cara menangkap ikan dan bertani di pinggir sungai yang tanahnya amat subur itu, sehingga mereka sekarang boleh dibilang menjadi nelayan-nelayan dan petani-petani yang pandai dan hidup damai!

Namun sekarang ada kumpulan bajak yang sengaja mengganggu perahu-perahu nelayan dan merampas hasil-hasil yang didapatnya, bahkan ada yang merampok ikan-ikan yang didapat dengan bekerja keras sehari semalam oleh tukang-tukang ikan itu!

Baru beberapa bulan akhir-akhir ini di sepanjang Sungai Huang-ho timbul nama baru yang cukup menggemparkan sehingga seolah-olah mendesak ke samping nama Ui Hauw yang telah lama seakan-akan tidak aktif lagi itu.

Nama baru ini adalah Ma Tek San yang digelari orang Tiat-thou-kim-go atau Buaya Emas Kepala Besi! Orang she Ma ini tadinya adalah seorang perampok, tapi karena kekurangan hasil lalu menceburkan diri dalam kalangan pembajakan dan menjadi seorang bajak yang ganas. Karena kepandaian silatnya memang tinggi, ditambah pula dia pernah mempelajari ilmu di dalam air, maka sebentar saja dia berhasil mengangkat dirinya menjadi kepala dan pengikut-pengikutnya adalah orang-orang yang wataknya sesuai dengan dia, yakni kejam dan berani mati.

Karena baru saja muncul dari bidang pekerjaan lain, yakni merampok, maka Ma Tek San belum pernah bertemu muka dengan Ui Hauw dan karenanya dia tidak menaruh hormat sedikit pun juga. Dia membajak sesuka hatinya, bahkan berani melanggar wilayah atau daerah dari bajak-bajak lain sehingga terjadi pertempuran-pertempuran.

Selama ini belum pernah ada bajak lain yang sanggup mengalahkannya, maka sebentar saja namanya menjadi terkenal dan sangat ditakuti. Meski pun demikian Ma Tek San juga mendengar tentang nama besar Ui Hauw sehingga dia belum berani main-main atau coba-coba mengganggu wilayah orang she Ui itu.

Tapi pada dua hari yang lalu, mulailah Si Buaya Emas itu beraksi! Dan sekali ia beraksi, dia tidak mau kepalang tanggung lagi! Dia telah mengganggu dan merampas semua ikan dari empat orang nelayan yang bukan lain adalah anak buah Ui Hauw sendiri!

Ini masih belum hebat. Yang lebih menyakitkan hati ialah bahwa dua orang di antara yang empat itu sudah mati terbunuh, sedangkan yang dua lagi kalau tidak memiliki kepandaian berenang yang cukup tinggi tentu akan terbunuh pula. Mereka inilah yang datang memberi laporan kepada Ui Hauw sekalian menceritakan betapa Ma Tek San dengan sombongnya menantang.

“Kalau kalian memang betul anak buah bajak kecil Ui Hauw itu, katakan padanya bahwa kalau dia ingin tahu keberanian Tiat-thou-kim-go, biarlah kutunggu dia di Tikungan Maut!”

Kiranya rombongan bajak baru yang dipimpin oleh Ma Tek San ini telah menjelajah hingga di Tikungan Maut dan agaknya hendak menguasai dan merampas daerah yang subur di mana Ui Hauw dan anak buahnya tinggal. Tentu saja hal ini merupakan penghinaan besar sekali!

Bukan saja Ma Tek San telah melanggar pantangan merampok dan membunuh nelayan, tapi juga telah berani membunuh anak buah Ui Hauw dan mengeluarkan tantangan! Juga semua anak buah Ui Hauw marah sekali dan mereka sudah bersiap untuk menyerbu ke Tikungan Maut.

Mendengar berita ini, Thian Bong Sianjin yang sudah tua itu menggunakan tangan kanan mengusap-usap jenggotnya dan tersenyum getir.

“Aku orang tua sudah tiada guna, maka ada orang yang berani berlaku sewenang-wenang dan menjalankan kejahatan di hadapan mataku. Kalau hal ini kudiamkan saja, maka akan kotorlah Sungai Huang-ho dan percuma saja aku hidup puluhan tahun di permukaan air ini! Biarlah aku mewakili kalian menghajar buaya kecil itu.”

“Suhu, yang dihina oleh buaya itu adalah teecu, maka biarlah teecu sendiri yang mencoba sampai di mana keperkasaan buaya yang sombong itu. Suhu tidak usah mencapaikan diri turun tangan sendiri,” kata Ui Hauw yang merasa sangat sakit hati terhadap orang she Ma itu.

“Ayah, ada aku anakmu di sini, kenapa kau orang tua hendak turun tangan sendiri? Kalau hanya orang macam dia itu saja kurasa aku yang telah menerima pelajaran dari Ayah dan Sukong masih mampu melawannya,” kata Yan Bun dengan gagah. “Berilah aku beberapa orang saudara yang pandai dan gagah berani, maka akan kutangkap buaya itu kemudian menyeretnya ke sini.”

“Kongkong dan Ui Pehpeh. Memang betul kata Ui-twako tadi. Hal seremeh ini tidak perlu harus membuat Kongkong atau Pehpeh kesal hati. Untuk memukul anjing kecil tidak perlu memakai tongkat besar. Dan juga, kurasa tak perlu Ui-twako harus repot-repot membawa banyak kawan. Hal ini hanya akan merendahkan nama kita saja. Cukup Ui-twako dan aku yang pergi dan tanggung bereslah beberapa ekor buaya kecil itu!” demikianlah kata Thian Hwa yang sangat jumawa dan berani itu.

Ui Hauw maklum bahwa kepandaian Yan Bun dan Thian Hwa sudah melampaui dirinya sendiri dan jauh lebih tinggi, maka kalau kedua anak muda itu yang pergi, akan lebih kuat dari pada kalau dia sendiri yang pergi. Namun dia merasa tidak enak hati untuk melepas dua anak muda yang belum berpengalaman itu menghadapi seorang penjahat licin seperti Ma Tek San. Karena inilah maka dia merasa ragu-ragu.....

Tiba-tiba saja Thian Bong Sianjin tertawa besar. “Ha-ha-ha-ha! Sikap kalian ini membuat aku teringat akan masa mudaku pada saat kami beberapa hohan menjadi barisan gerilya mengacau pertahanan kubu-kubu pasukan Manchu. Setiap kali ada pekerjaan mengadu nyawa, kami selalu berebut untuk melakukannya! Sekarang kalian berebut untuk mencari pahala, ha-ha-ha! Memang beginilah seharusnya laku orang-orang gagah! Ui Hauw, biarlah kau lepaskan kedua anak muda ini, biar mereka mendapat pengalaman baru.”

“Tapi, Suhu. Mereka ini masih belum berpengalaman. Teecu merasa khawatir kalau-kalau mereka akan terjebak oleh tipu muslihat buaya itu.”
“Kau jangan cemas, aku sendiri akan mengamat-amati mereka, sekalian melihat siapakah sebenarnya orang kurang ajar itu.”

Mendengar bahwa orang tua itu sendiri hendak ikut pergi bersama kedua anak muda itu, tenanglah pikiran Ui Hauw. Tetapi biar pun dia dan anak buahnya tak berani membantah, namun di dalam hati mereka merasa kurang puas karena tidak dapat menghantam musuh yang dibenci itu dengan tangan sendiri.

Sementara itu Yan Bun dan Thian Hwa segera berangkat ke sungai bersama Thian Bong Sianjin. Mereka bertiga naik perahu kecil yang biasa dinaiki Thian Bong Sianjin dan Thian Hwa. Kakek tua itu duduk di tengah-tengah sambil berpeluk tangan dan memejamkan mata, sedangkan Yan Bun di belakang dan Thian Hwa di depan mengayuh biduk kecil itu dengan cepat sekali menuju ke Tikungan Maut.

Kedatangan biduk kecil yang ditumpangi oleh seorang kakek dan dua orang anak muda itu dengan cepat sekali diketahui oleh Ma Tek San yang telah menyebar mata-matanya di sepanjang sungai. Dia lalu bersiap-siap karena mendengar bahwa yang datang itu adalah utusan-utusan dari Ui Hauw, sehingga dia dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang yang memiliki kepandaian.

Akan tetapi Ma Tek San tidak takut sedikit pun, karena sesungguhnya yang membuat dia berani mengganggu anak buah Ui Hauw adalah karena kedatangan suheng-nya yang ikut menggabungkan diri padanya. Suheng-nya adalah seorang hwesio gundul bernama Lauw Keng Hwesio. Karena melakukan pekerjaan terkutuk, di antaranya mengganggu anak bini orang dan merampok, dia dimusuhi oleh orang-orang gagah di kotanya sehingga terpaksa dia melarikan diri.

Kemudian pendeta palsu ini mendengar tentang adik seperguruannya yang sekarang telah menjadi kepala bajak yang makmur, maka segera dia menyusul untuk bergabung dengan adik seperguruannya itu. Tentu saja Ma Tek San merasa sangat gembira karena dengan adanya suheng-nya ini maka kedudukannya semakin kuat sehingga dia tak perlu lagi takut kepada Ui Hauw.

Thian Bong Sianjin dan kedua anak muda yang naik biduk kecil itu tahu bahwa meski pun tikungan itu tampak sunyi-sunyi saja, namun pada kedua tebing sungai yang curam itu, di atas batu-batu karang yang tinggi di kanan kiri, terlihat gerakan orang-orang bersembunyi di balik batu. Tetapi baik kakek tua itu dan kedua anak muda itu, mereka tenang-tenang saja seakan-akan tidak ada sesuatu yang mengancam keselamatan mereka.

Kalau dahulu Thian Hwa masih harus menggunakan seluruh kepandaian untuk membawa biduknya melalui Tikungan Maut itu dengan selamat, kini gadis itu sudah biasa lewat di situ dan dapat melalui segala bahaya tikungan itu dengan mudah. Apa lagi sekarang ada Yan Bun yang membantunya.

Maka ketika biduk kecil melewati tikungan itu, biar pun air datang menghantam dari depan sangat cepat dan kuatnya, namun keduanya dapat membawa biduk menerjang aliran air dan menikung dengan selamat. Bahkan putaran-putaran air itu tak berdaya mengganggu biduk yang didayung oleh dua orang muda yang mempunyai kepandaian dan tenaga yang terlatih hebat.

Melewati sungai yang penuh batu-batu karang itu, biduk ini sedikit pun tidak bergoncang hingga Thian Bong Sianjin yang tampak tidur sambil duduk di tengah-tengah perahu sama sekali tidak merasa apa-apa!

Puluhan pasang mata mengintai biduk kecil itu dari kedua tebing sungai, di atas batu-batu karang yang tinggi. Mereka kagum dan heran sekali mengapa ada biduk kecil yang dapat menerjang arus sungai dan mudik melalui tikungan yang demikian berbahaya, sedangkan untuk membawa perahu dengan selamat ke hilir saja sudah merupakan pekerjaan yang dapat mendatangkan maut!

Tiba-tiba dari kedua tebing tinggi jatuh batu-batu berhamburan menimpa biduk kecil itu. Ini adalah akal keji dari Ma Tek San yang hendak menghancurkan utusan musuhnya dengan sekali serang.

Memang keadaan mereka bertiga di dalam perahu itu sangat berbahaya. Batu-batu yang dilemparkan ke bawah datang bagai hujan! Tetapi jangan kata mereka mendapat bahaya, terkena batu saja pun tidak. Andai kata biduknya sampai terbalik, sukarlah menolong jiwa penumpangnya di tempat bahaya itu.

Meski keadaan demikian berbahaya tetapi Thian Bong Sianjin masih saja berpeluk tangan dan memejamkan mata. Ada pun kedua anak muda itu dengan tenang lalu menunjukkan kepandaiannya.

Thian Hwa melepaskan ikat pinggangnya yang panjang dan lebar, lantas mempergunakan sutera ini untuk diputar sedemikian rupa di atas kepala mereka bertiga, sehingga dari atas putaran sabuk itu merupakan perisai putih berbentuk bundar yang amat kuat sebab setiap batu yang jatuh menimpa putaran itu langsung saja terpental jauh!

Inilah tenaga lweekang yang amat tinggi, yang membuat sabuk sutera itu menjadi senjata penangkis yang amat kuat sehingga dapat menangkis setiap batu yang datang menimpa mereka. Dengan adanya payung sabuk ini, maka Yan Bun dapat bekerja dengan tenang. Dia dayung terus biduk kecil itu lewat di antara batu-batu karang yang menonjol.

Akhirnya anak-anak buah Ma Tek San yang menghujani batu itu menghentikan serangan mereka dan kini di depan biduk kecil itu mendadak muncul puluhan perahu cat hitam yang dipasang malang-melintang memenuhi permukaan sungai. Mereka muncul dari belakang rumput sungai yang tumbuh di kanan kiri sungai. Pada setiap perahu duduk empat orang yang semuanya berikat kepala hitam dan berbekal senjata tajam. Sikap mereka kelihatan ganas dan menakutkan.

Thian Bong Sianjin membuka kedua matanya dan memandang sambil tersenyum. Dia lalu berkata kepada Yan Bun dan Thian Hwa,

“Lebih baik tinggalkan aku sendiri di dalam perahu dan kalian boleh menyambut mereka.”

Sesudah berkata demikian Thian Bong Sianjin mengambil tombak pendek lantas diikatnya dengan tali yang kuat yang sudah tersedia di dalam biduk. Dengan menjepit tombak itu di antara dua jarinya, dia kemudian meluncurkan tombak itu ke bawah.

Tombak itu meluncur cepat ke dalam air lalu menancap di dasar sungai. Inilah cara Thian Bong Sianjin melepas jangkar perahu untuk menahan perahu itu agar tak hanyut terbawa air. Kemudian kakek itu duduk saja di situ dengan seenaknya, sambil memandang sepak terjang kedua muridnya.

Yan Bun dan Thian Hwa lantas mengeluarkan papan terompah air mereka, dan tidak lama kemudian semua anggota bajak berseru kaget dan terheran-heran ketika melihat betapa pemuda dan gadis yang tadi di dalam perahu itu kini berlari-lari cepat di atas air menuju ke tempat mereka! Memang dari kejauhan papan di bawah kaki kedua anak muda itu tidak tampak sehingga mereka seolah-olah berlari atau melayang di permukaan air.

Ketika sudah datang dekat, tahulah mereka bahwa kedua anak muda itu mempergunakan papan sehingga mereka menjadi takjub sekali. Dari dalam perahu bajak yang terbesar lalu berdirilah dua orang yang bertubuh tinggi besar.

Seorang di antara mereka adalah Ma Tek San yang berpakaian serba hitam dengan golok besar di tangan, sedangkan di sebelahnya berdiri seorang hwesio gundul yang matanya jelalatan ke sana kemari dan mulutnya tersenyum menyeringai. Biar pun kedua orang ini kagum juga melihat pertunjukan ginkang yang luar biasa ini, akan tetapi mereka tidak mau memperlihatkan kekagumannya seperti anak-anak buah mereka.

“Hai, anak-anak muda yang berada di depan, apakah kalian utusan dari Ui Hauw Si Ular Air?” terdengar Ma Tek San membentak dengan sombong.
“Kami memang utusannya,” jawab Yan Bun, tetapi Thian Hwa lalu menambahkan cepat-cepat.
“Kami datang mewakili Ui-pehpeh untuk menyeret buaya kecil yang mengotorkan perairan Huang-ho!”

Kata-kata ini disambut oleh luncuran enam batang tombak ke arah kedua anak muda itu dari kanan kiri!

“Bagus!” seru Thian Hwa dan Yan Bun berbareng.

Dan Yan Bun segera miringkan tubuh berkelit dari serangan sebatang tombak, kemudian menangkap tombak yang ke dua, sedangkan tombak yang ke tiga disampoknya dengan tangan kanan sehingga jatuh ke dalam air!

Akan tetapi Thian Hwa tidak mau berlaku sungkan. Gadis ini menggunakan kedua tangan menangkap dua batang tombak dan tombak ke tiga yang menyerang perutnya ia tendang hingga terpental ke atas dan ketika tombak itu meluncur turun, langsung dia sabet dengan tombak yang terpegang olehnya hingga meluncur cepat kembali ke tempat ia dilepas dan menancap ke sebuah perahu dengan kencangnya!

Tentu saja ketangkasan kedua anak muda itu tak tersangka-sangka oleh mereka semua, maka kembali dari mulut para anak buah bajak itu terdengar seruan kagum.

“Dan kau yang berbaju hitam apakah buaya kecil she Ma?” Thian Hwa balas bertanya.

Ma Tek San mengangkat dada lantas berkata, “Aku adalah Tiat-thou-kim-go Ma Tek San dan ini adalah suheng-ku Lauw Kang Hwesio!”

Kata-kata ini disambut oleh Yan Bun dan Thian Hwa dengan lontaran tombak di tangan mereka. Yan Bun melontarkan tombaknya ke arah perahu yang memuat pelontar tombak yang menyerangnya tadi, sedangkan Thian Hwa mempergunakan sebatang tombak untuk mengirim kembali kepada penyerangnya tadi.

Lemparan mereka jauh lebih cepat dan hebat dari pada tadi, juga gerakan mereka sangat cepat sehingga tidak terduga, maka segera terdengar teriakan-teriakan ngeri dari kedua perahu itu yang menyatakan bahwa serangan itu mendatangkan korban!

Bukan main marahnya Ma Tek San melihat hal ini. Dia perintahkan orangnya mendayung maju perahunya dan sambil menggunakan golok untuk menuding ia pun berseru, “Bangsat kecil tak tahu diri! Kalau belum mampus kalian kena golok ini aku belum akan puas!”

“Kau bangsat besar yang bermulut besar pula! Terimalah tombak ini!” dengan keras Thian Hwa melempar tombaknya ke arah orang she Ma itu.

Tapi Buaya Emas Kepala Besi itu ternyata tangkas dan kuat juga. Dengan goloknya yang berat dan besar dia tangkis tombak itu hingga meleset ke pinggir dan masuk ke dalam air. Melihat kepala mereka mulai beraksi, semua perahu bajak bergerak cepat dan mengurung kedua anak muda itu.

“Bangsat-bangsat kecil, sebelum darahmu mengalir bersama air Sungai Huang-ho, hayo beri-tahukan dulu nama kalian!” teriak Ma Tek San.

Yan Bun menjawab dengan sikap tenang, “Aku adalah Ui Yan Bun, putera dari Ui Hauw dan aku datang mewakili Ayahku. Dan ini...”

Tetapi Thian Hwa segera mendahuluinya. “Dan aku adalah Huang-ho Sian-li, Dewi Sungai Huang-ho yang datang hendak menangkap buaya kecil berkepala busuk!”

“Perempuan rendah, kau akan kubunuh lebih dahulu!” teriak Ma Tek San dengan marah sekali.

Dari sampokan ketika menangkis lontaran tombak Thian Hwa tadi, Yan Bun yang sifatnya lebih berhati-hati sudah tahu bahwa kepala bajak itu ternyata memiliki tenaga besar dan kepandaian yang luar biasa juga. Maka dia merasa bahwa mereka tak akan leluasa kalau harus melayani pengeroyokan itu di atas papan terompah air. Karena itu dia lalu berkata kepada Thian Hwa,

“Thian-moi, marilah kita mendarat saja.”

Sebenarnya gadis itu tidak jeri sama sekali walau pun harus melayani mereka semua di atas papan terompah air, tetapi karena ia maklum bahwa Yan Bun memang belum mahir seperti dia menggunakan kepandaian itu, dan untuk membantahnya ia takut kalau-kalau membikin malu Yan Bun, maka ia lalu berkata keras,

“Hei, bajak-bajak kecil, kalau mau tahu kegagahan kami, kalian naiklah ke darat!”

“Kalian sudah terkurung, bagaimana hendak mendarat?” Ma Tek San tertawa mengejek kemudian memberi isyarat untuk menyerbu. Maka perahu-perahu itu meluncur datang dan ujung-ujung senjata mereka digerakkan untuk menyerang Thian Hwa dan Yan Bun.

Kedua anak muda itu telah bersiap dan mereka sudah mencabut pedang masing-masing. Hanya dengan beberapa gerakan pedang saja, Yan Bun dan Thian Hwa sudah membuat empat orang bajak tercebur ke dalam air.
Maka kedua anak muda itu lalu menggerakkan tubuh dan melompati perahu yang sudah kosong itu untuk melepaskan diri dari kepungan, lalu dengan enak sekali mereka menuju ke tepi!

Dengan marah Ma Tek San mengejar ke tepian bersama suheng-nya. Ketika kepala bajak itu dan suheng-nya serta orang-orangnya telah berada di tepi sungai, mendadak seorang anak buah bajak menunjuk ke arah perahu Thian Bong Sianjin.

Ma Tek San yang memang berwatak curang dan licin segera memberi perintah kepada orang-orangnya, “Tangkap orang tua itu dan bawa dia ke sini, tapi jangan lukai dia!”

Kepala bajak she Ma ini sudah bisa menduga bahwa sepasang anak muda utusan dari Ui Hauw itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian hebat, maka ia sudah mengambil keputusan akan mengeroyoknya jika dia dan suheng-nya kalah. Tetapi orang tua di dalam perahu itu mungkin akan kabur lantas memberi laporan kepada Ui Hauw sehingga datang bala-bantuan. Karena itu lebih baik orang tua itu ditawan lebih dulu!

Mendengar perintah Ma Tek San ini, beberapa orang bajak dalam tiga buah perahu kecil segera mendayung perahu ke arah perahu kecil di mana Thian Bong Sianjin masih duduk berpeluk tangan tak bergerak. Ui Yan Bun dan Thian Hwa melihat hal ini hanya tersenyum saja dan saling pandang.

Para bajak segera mengurung kedua anak muda itu dengan membentuk lingkaran besar, sedangkan kedua anak muda itu berdiri di tengah-tengah dengan sikap tenang sekali. Ma Tek San lalu maju dan membentak.

“Apakah kalian masih berkeras kepala dan ingin mampus di sini?!”

Ui Yan Bun pun maju dan berkata sabar, “Orang muda she Ma! Kau ini benar-benar tidak memakai peraturan dan kesopanan sesama kaum sungai telaga! Tanpa alasan dan sebab kau telah memusuhi ayahku, bahkan kau sudah membunuh dua orang kami yang sedang mencari ikan. Bukankah hal ini sangat merendahkan namamu?”

“Memang aku sengaja membunuh orangmu, lalu kau mau apa?!” kata Ma Tek San ketus, sedangkan suheng-nya dan para anak buahnya terkekeh menertawakan.
“Perbuatanmu itu berarti kau menantang pihak kami, maka sekarang aku mewakili ayahku datang ke sini hendak mencoba sampai di mana kekuatanmu sehingga kau berani berlaku sewenang-wenang. Apakah kau akan melakukan pengeroyokan atau kau berani melayani aku secara laki-laki?”

Marahlah Ma Tek San mendengar tantangan ini. “Eh, bocah sombong, jangan kau sangka kepandaianmu sudah tidak ada lawannya dengan hanya memiliki ginkang dan permainan kanak-kanak di atas air itu saja! Majulah kau kalau hendak berkenalan dengan Tiat-thou-kim-go!” Sesudah berkata demikian orang she Ma itu lalu mencabut golok besarnya yang berkilauan karena tajamnya.

Tetapi sebelum kedua musuh itu bertempur, mendadak terdengar suara ramai-ramai dari arah sungai. Mereka semua memandang dan terkejut melihat bahwa yang ramai-ramai itu adalah beberapa orang anak buah bajak yang datang sambil memikul biduk kecil di atas mana Thian Bong Sianjin masih saja duduk bersedakap tak bergerak sambil memejamkan mata!

“Eh, mengapa kalian berbuat segila ini?” Ma Tek San membentak kepada seorang bajak yang berjalan paling depan.

Bajak itu segera minta maaf kepada pemimpinnya kemudian menceritakan bahwa dia dan kawan-kawannya tak sanggup mengeluarkan kakek itu dari perahunya! Telah dicoba oleh banyak orang, akan tetapi tak seorang pun sanggup menggerakkan tubuh yang bagaikan membatu itu keluar dari perahu. Maka untuk mentaati perintah Ma Tek San, dia bersama kawan-kawannya lalu menggusur saja biduk itu ke tepi lalu mengangkat kakek itu dengan perahunya!

Yan Bun dan Thian Hwa tertawa geli, sementara Ma Tek San marah sekali lalu mendekati Thian Bong Sianjin di dalam perahunya yang sekarang telah diletakkan di atas tanah. “He, orang tua, siapakah engkau sebenarnya?”

Perlahan-lahan Thian Bong Sianjin membuka matanya dan menjawab dengan tak acuh, “Namaku Thian Bong, kalian hendak membawaku ke manakah?”

Thian Hwa dengan keras berkata, “Orang she Ma, ketahuilah, dahulu kakekku ini disebut orang Huang-ho Sui-mo!”

Kagetlah Ma Tek San mendengar ini, juga semua anak buah bajak. Lebih-lebih para bajak yang tadi memaksa Thian Bong Sianjin mendarat, mereka ini menggigil dan wajah mereka pucat sekali, bahkan tiga orang anak buah bajak yang telah lama menjalankan pekerjaan itu dan cukup kenal dengan nama Huang-ho Sui-mo, segera maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan Thian Bong Sianjin sambil mengangguk-anggukkan kepala minta ampun!

Melihat lagak tiga orang bajak itu Lauw Keng Hwesio menjadi sangat sebal dan dia yang belum pernah mendengar nama Huang-ho Sui-mo segera memajukan kaki lalu mendadak kedua tangannya memukul ke arah kepala Thian Bong Sianjin dari kanan kiri! Lauw Keng Hwesio hendak memamerkan kepandaiannya dan ingin sekali memukul mati kakek yang agaknya terkenal dan ditaati itu, maka datang-datang dia langsung mengirimkan serangan maut dalam gerak tipu Dewa Mabuk Menuangkan Arak!

Tetapi kakek tua yang tampak tenang-tenang saja itu tiba-tiba mengebutkan kedua lengan bajunya ke arah tangan Lauw Keng Hwesio yang meluncur maju dan tepat sekali ujung lengan bajunya menyambar ke arah jalan darah di pergelangan lengan hwesio itu!

Bukan main terkejutnya Lauw Keng Hwesio sehingga ia buru-buru menarik kembali kedua tangannya, karena kalau diteruskan, belum sampai kepalannya mendarat di kepala lawan, dia akan tertotok lebih dulu. Dia tahu betapa hebat ujung lengan baju itu, karena anginnya telah terasa kuat dan membuat urat tangannya kesemutan. Diam-diam dia mengeluarkan keringat dingin karena maklum bahwa kakek itu benar-benar berilmu tinggi sekali.

Thian Bong Sianjin tersenyum sabar dan berkata perlahan, “Eh, hwesio, kau mau apa?”

Lauw Keng Hwesio meloncat mundur dengan malu. Pada saat itu pula Thian Hwa sudah maju dan memakinya. “Bangsat gundul, jangan kau berani mengganggu kakekku!”

Kepala gundul itu menjadi marah. Dia segera melepaskan sabuknya yang ternyata terbuat dari pada baja lemas dan merupakan joan-pian yang kuat. Tanpa banyak kata lagi dia lalu menyerang Thian Hwa yang sudah siap dengan pedang di tangan. Dan pada saat itu juga, Ma Tek San juga sudah mulai bertempur dengan Ui Yan Bun.

Ma Tek San dan Lauw Keng Hwesio memang memiliki kepandaian yang tinggi dan ganas, ditambah lagi tenaga mereka amat besar. Tapi kini mereka menghadapi dua orang muda gemblengan Thian Bong Sianjin yang sudah menurunkan ilmu silat tinggi kepada kedua muridnya itu, maka baru bertempur beberapa puluh jurus saja keduanya sudah terdesak hebat oleh pedang Thian Hwa dan Yan Bun!

Ketika mendapat kenyataan bahwa kedua lawannya itu betul-betul lihai, Ma Tek San yang selalu berpikir jahat segera berseru kepada anak buahnya yang masih berdiri mengelilingi lapangan pertempuran itu.

“Hayo kamu semua lekas bantu menangkap dua setan ini!”

Suara Ma Tek San yang keras terdengar berpengaruh dan tidak seorang pun di antara anak buahnya yang berani menentang atau pun mengabaikan perintah ini, karena mereka telah mengenal kekejaman Ma Tek San. Dengan senjata-senjata tajam di tangan, mereka bergerak maju untuk mengeroyok.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras sekali. “Kalian semua mundur!”

Inilah bentakan Thian Bong Sianjin yang masih duduk di dalam perahunya. Suaranya lebih keras dan nyaring dibanding suara Ma Tek San sehingga para bajak menjadi terkejut dan sebagian besar mundur. Tapi sebagian lagi tetap maju karena mereka lebih takut kepada pimpinan mereka yang kejam.

“Mundur kalian! Kalau tidak, tangan Huang-ho Sui-mo akan ikut berbicara!”

Ancaman ini berhasil juga, karena lebih dua puluh orang yang pernah mendengar nama ini segera mundur dan melihat ke arah orang tua itu dengan hormat, tetapi masih ada juga yang berani maju dengan maksud mengeroyok Thian Hwa dan Yan Bun. Tapi Thian Bong Sianjin cepat mengangkat tangan dan mengayunkan tangannya ke arah mereka dan pada saat itu juga beberapa orang bajak berteriak-teriak sambil melepaskan senjata mereka.

Ternyata sambil duduk di perahunya kakek itu sudah meraup segenggam pasir kasar lalu mempergunakan pasir itu sebagai senjata rahasia! Dan ternyata pasir kasar yang hampir menyerupai kerikil itu sudah memecahkan kulit tubuh mereka yang tersambit sehingga mengeluarkan darah dan rasanya perih sekali! Melihat kelihaian orang tua itu, para bajak menjadi ketakutan dan tidak berani maju lagi.

Sementara itu Thian Hwa yang memainkan pedangnya secara cepat sekali telah berhasil mengurung Lauw Keng Hwesio sehingga hwesio itu hanya mampu menangkis saja tanpa dapat membalas sedikit pun juga.

“Thian Hwa, jangan membunuhnya!” Thian Bong Sianjin berteriak.

Thian Hwa lantas mengubah gerakan pedangnya dengan secepat kilat! Dia menggunakan ujung pedang untuk menusuk ke arah jalan darah di tenggorokan lawan dengan gerak tipu Burung Kepinis Mematuk Ikan.

Karena gerakan ini cepat bukan main, maka Lauw Keng Hwesio hampir saja tidak dapat mengelakkan diri. Akan tetapi dia masih ingat untuk melempar diri ke belakang sehingga dia terjengkang namun terhindar dari maut.

Ketika dia belum dapat memperbaiki kedudukannya, sepasang kaki Thian Hwa bergerak cepat dan joan-pian-nya segera terlempar oleh tendangan kaki kiri Thian Hwa, sedangkan ujung sepatu kanan gadis itu mampir di pundaknya menendang jalan darahnya sehingga dia berteriak keras dan merasa betapa pundaknya sakit sekali sampai meresap ke ulu hati!

Masih untung bagi Lauw Keng Hwesio bahwa Thian Bong Sianjin dalam saat yang tepat telah mencegah cucunya untuk menghabiskan nyawa hwesio itu sehingga gadis itu tidak menggunakan ujung sepatu untuk menendang tempat kematian, maka hwesio itu hanya menderita luka dalam dan patah tulang pundak saja. Tapi rasa sakit itu cukup membuat dia roboh pingsan!

Sementara itu, Ui Yan Bun juga berhasil merobohkan lawannya. Pemuda ini merasa sakit hati dan marah sekali kepada Ma Tek San yang telah berlaku kejam membunuh dua orang anak buah ayahnya, maka dia tidak mau memberi hati sedikit pun. Dia mengeluarkan ilmu pedangnya yang hebat dan mendesak terus sehingga lawannya bertempur sambil mundur berputar-putar.

Napas Ma Tek San telah terengah-engah dan wajahnya sudah menjadi pucat. Pada saat yang tepat, Yan Bun memutar pedangnya sedemikian rupa dalam gerak tipu Air Ombak Menampar Karang dan serangan yang dahsyat serta ganas ini datang bergulung-gulung bagaikan ombak samudera sehingga tidak dapat ditangkis lagi oleh Thiat-thou-kim-go Ma Tek San.

Dengan diiringi teriakan menyeramkan kepala bajak yang jahat itu roboh terguling setelah dadanya tertembus pedang Yan Bun! Maka binasalah orang she Ma ini.....!

Para anak buah bajak laut melihat betapa kedua kepala mereka dengan mudah terbunuh oleh Thian Hwa dan Yan Bun segera mengangkat senjata hendak mengeroyok, tapi lagi-lagi Thian Bong Sianjin membentak keras.

“Kalian masih belum takluk? Siapa yang melawan berarti mati!” setelah berkata demikian, kakek itu berdiri dan tubuhnya yang tinggi tampak angker menakutkan.

Memang nama Huang-ho Sui-mo sudah merupakan sesuatu yang menakutkan mereka, apa lagi melihat betapa kepandaian tiga orang itu hebat sekali, maka para bajak itu segera menjatuhkan diri berlutut meminta ampun!

“Kalian dengarkan baik-baik! Berpuluh tahun yang lalu aku telah adakan aturan-aturan dan larangan-larangan bagi semua bajak di Huang-ho untuk bekerja dengan mengenal aturan dan memilih orang yang patut dijadikan korban! Tapi orang she Ma ini telah melanggarnya dan lihat, apa yang menjadi akibatnya saat ini! Harus kalian ketahui bahwa jika ada yang tidak mentaati aturan dan bertindak sewenang-wenang, tak usah aku sendiri turun tangan, pasti ada saja yang akan mewakili aku memberi hajaran kepada pelanggar itu! Ketahuilah bahwa di dunia ini banyak sekali terdapat orang-orang gagah yang semuanya siap sedia membasmi kejahatan! Nah, kalian sekarang boleh memilih kepala baru, tapi awas, jangan sekali-kali kalian ulangi pelanggaran seperti yang telah dilakukan orang she Ma ini!”

Sesudah memberi nasehat-nasehat kepada para bajak, Thian Bong Sianjin lalu mengajak Thian Hwa dan Yan Bun kembali ke perkampungan. Mereka disambut oleh Ui Hauw yang mendengarkan cerita puteranya dengan girang dan bangga sekali.

Sesudah bermalam di situ beberapa hari lagi, Thian Bong Sianjin lalu mengajak cucunya pergi meninggalkan perkampungan itu. Mereka berdua memang tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, berpindah-pindah dan sebagian besar dari waktu mereka dipergunakan untuk mendayung perahu, menangkap ikan sambil mengunjungi kawan-kawan dan orang-orang kampung yang tinggal di sepanjang Sungai Huang-ho yang panjang itu.

Beberapa bulan kemudian, ketika Thian Bong Sianjin dan Thian Hwa sedang menjalankan biduk mereka perlahan di sepanjang tepi sungai yang airnya tenang dan hawa udara pada pagi hari itu sangat baiknya, Thian Hwa kembali mengulangi pertanyaannya yang sudah berkali-kali diajukan kepada kakeknya itu.

“Kongkong, kuharap kali ini Kongkong menaruh kasihan padaku. Dulu Kongkong berjanji akan membuka rahasia ini kepadaku setelah aku dewasa dan memiliki kepandaian. Nah, sekarang aku sudah berusia tujuh belas tahun, dan tentang kepandaian, kiranya tidak sia-sia Kongkong mengajar padaku. Kongkong, beri-tahukanlah kepadaku siapa sebenarnya Ayah dan Ibuku...”

Pada kalimat terakhir ini suara Thian Hwa menjadi perlahan dan mengharukan sehingga Thian Bong Sianjin menghela napas sedih, karena dia merasa bingung sekali. Bagaimana dia harus menceritakan kalau dia sendiri pun tidak mengenal dan tidak tahu siapa orang tua gadis itu? Dia pun teringat betapa dahulu pernah bertemu dengan wanita cantik dalam mimpi, dan karena tiada jawaban lain maka dia lalu menjawab,

“Thian Hwa, cucuku! Sebetulnya kalau menurut kehendakku, tak usah kau pergi mencari orang tuamu karena aku merasa sangat ragu apakah kau akan berhasil. Tetapi kalau aku melarang kau melakukan hal ini, berarti bahwa aku adalah seorang yang tidak berbudi dan hanya mementingkan diri sendiri saja.” Kakek itu menghela napas lagi lantas melanjutkan kata-katanya sambil menatap wajah cucunya yang sangat dikasihinya itu.
“Thian Hwa, terus terang saja aku ulangi, bahwa selama hidup aku belum pernah bertemu muka dengan kedua orang tuamu. Tapi aku pernah bermimpi dan melihat ibumu...”

Sepasang mata gadis itu berkilat dan wajahnya berseri. “Ibuku...!” kata-kata ‘ibu’ ini amat asing baginya tapi sekaligus terasa sangat mesra. “Bagaimana rupanya dan di mana dia, Kongkong?” tanyanya cepat.

“Ibumu adalah seorang wanita yang cantik sekali dan di atas bibirnya sebelah kiri terdapat sebuah tanda tahi lalat hitam yang kecil. Wajah ibumu itu seperti... seperti... kau sendiri, Thian Hwa. Dan melihat dari pakaian yang dipakainya, ia adalah seorang bangsawan.”
“Kongkong, ke manakah aku harus mencarinya?” tanya Thian Hwa.
“Thian Hwa, inilah yang amat menyusahkan hatiku. Kalau aku sendiri mengetahui di mana adanya orang tuamu, agaknya sudah dulu-dulu kucari mereka. Tetapi aku hanya bertemu dengan ibumu dalam mimpi, dan aku tidak tahu di mana tempat tinggal mereka.”

Kakek tua ini lalu menundukkan muka dan tidak berani menentang wajah cucunya karena dia maklum betapa kata-katanya ini sangat menusuk hati dan menghancurkan harapan gadis itu. Ia hanya mendengar isak tangis Thian Hwa yang berusaha sekuat tenaga untuk menekan perasaan dan menahan tangisnya.

“Kongkong... bukankah para bangsawan... bertempat tinggal di kota raja saja?” akhirnya gadis itu bertanya setelah mereka diam untuk beberapa lama.

Kini barulah kakek itu berani mengangkat muka memandang wajah cucunya dan hatinya seperti dikerat pisau ketika melihat betapa wajah cucunya tampak pucat dan pada kedua pipinya mengalir air mata yang bening.

“Thian Hwa, memang di kota raja banyak sekali terdapat bangsawan tinggi, tapi di antara ribuan para bangsawan itu, yang manakah keluarga yang kita maksudkan? Ahh, seakan-akan mencari setitik air di dalam Sungai Huang-ho!”

Semenjak terjadinya percakapan ini, wajah Thian Hwa kelihatan suram muram dan tidak bergembira sedikit pun seperti biasanya, sehingga diam-diam Thian Bong Sianjin merasa khawatir sekali. Malam hari itu mereka bermalam dalam sebuah bio rusak yang telah lama kosong, dan yang berdiri di pinggir sungai di dalam sebuah hutan yang sunyi.

Karena hatinya amat sedih dan terharu melihat cucunya, maka Thian Bong Sianjin tekun bersemedhi untuk menenteramkan hati dan pikiran sehingga seakan-akan mati duduk dan tak bergerak bagaikan sebuah patung batu. Ketika pada keesokan harinya dia sadar, dia merasa tidak enak hati seakan-akan ada sesuatu yang terjadi.

Dan benar saja, ternyata Thian Hwa, cucunya yang semenjak berusia tiga hari tak pernah terpisah darinya itu telah pergi secara diam-diam! Gadis yang dikasihinya itu pergi dengan nekad hendak mencari orang tuanya, dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang kini dipegangnya di dalam kedua tangannya yang gemetar dan keriputan, sambil dibacanya dengan terharu.

Kongkong,

Mohon beribu ampun bahwa aku terpaksa pergi karena tak tahan melawan desakan hati untuk mencari Ibu dan Ayahku. Aku pergi ke kota raja dan tidak akan kembali sebelum bertemu dengan mereka!

Cucumu Thian Hwa

Thian Bong Sianjin menghela napas dalam-dalam. Menurut hasrat hatinya hendak segera menyusul, tetapi dia menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak menyetujui kehendak hati sendiri ini. Kalau dia menyusul, maka gadis itu tentu akan kecewa dan menganggap dia menghalang-halangi maksudnya.

Lagi pula Thian Hwa telah memiliki kepandaian tinggi dan dia tak perlu mengkhawatirkan keselamatannya. Yang dia cemaskan adalah bahwa gadis itu tidak akan mungkin bertemu dengan kedua orang tuanya, karena dia sendiri tak percaya bahwa wanita yang dilihatnya di dalam mimpi itu benar-benar ibu Thian Hwa! Gadis itu tentu takkan dapat menemukan orang tuanya di kota raja dan akan kecewa hati. Inilah yang dikhawatirkan!

Sekarang Thian Bong Sianjin merasa sunyi. Sunyi sepi yang biasanya menyamankan hati menyedapkan perasaan itu kini tiba-tiba berubah menjadi kesunyian yang menyayat hati dan menimbulkan kenangan-kenangan sedih, kesunyian orang yang kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat dikasihaninya!

Kakek tua yang gagah perkasa itu akhirnya menundukkan kepala dan memejamkan mata sambil menahan napas agar dapat melawan gelora yang mengamuk di dalam dirinya dan membuatnya lemas.

Kira-kira setengah bulan kemudian, Thian Bong Sianjin mengunjungi Ui Hauw dan kepala bajak ini kaget sekali mendengar tentang perginya Thian Hwa.

“Ahh, mengapa Suhu tidak menahannya? Ke manakah anak itu pergi? Ahh... bagaimana kalau terjadi sesuatu?”

Thian Bong Sianjin hanya tersenyum. Setelah beberapa hari lewat, akhirnya orang tua ini berhasil juga menetapkan hatinya dan melenyapkan rasa sedih yang menyerangnya. “Dia akan selamat. Kepandaiannya sudah cukup tinggi untuk menjaga diri.”

Sementara itu, ketika mendengar mengenai kepergian Thian Hwa ke kota raja, Yan Bun merasa terkejut bukan main. Ia merasa seakan-akan hatinya terbawa pergi oleh gadis itu. Dengan lemas ia meninggalkan Thian Bong Sianjin dan ayahnya, tanpa berkata sesuatu dia masuk ke kamarnya. Tiba-tiba saja dia merasa bahwa gadis itu sungguh mempunyai arti yang besar sekali baginya.

Dan pada keesokan harinya, semua orang kaget dan bingung karena Yan Bun tahu-tahu sudah pergi dengan sebuah biduk tanpa memberi-tahukan sesuatu kepada semua orang. Tetapi Ui Hauw dan Thian Bong Sianjin saling pandang dengan penuh pengertian. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun mereka telah dapat menduga bahwa Yan Bun tentu pergi menyusul Thian Hwa, dan mereka tahu pula apa artinya perbuatan pemuda itu. Ui Hauw diam-diam menarik napas kemudian dia berkata kepada Thian Bong Sianjin.

“Alangkah baiknya kalau dulu-dulu kita jodohkan kedua anak itu!”

Thian Bong Sianjin hanya tersenyum dan berkata perlahan. “Ui Hauw, jodoh tidak dapat dipaksakan. Sebaiknya kita orang-orang tua menunggu saja dan melihat perkembangan terlebih jauh. Sementara itu biarlah kita doakan agar mereka dapat bertemu dan dijauhkan dari segala bencana.”

Keduanya menghela napas panjang dengan pandang mata kosong…..

********************
Selanjutnya baca
DEWI SUNGAI KUNING : JILID-03
LihatTutupKomentar