Asmara Si Pedang Tumpul Jilid 06


Putera Mahkota atau Pangeran Chu Hui San sama sekali tidak mewarisi sifat-sifat baik dari ayahnya, yaitu Kaisar Thai-cu yang dahulu bernama Chu Goan Ciang. Kalau ayahnya seorang pejuang yang gigih, lalu mendirikan kerajaan Beng-tiauw dan menjadi kaisar yang bijaksana, sebaliknya pangeran yang merupakan putera mahkota yang sulung itu sejak mudanya adalah seorang yang lemah dan kurang bersemangat.

Pangeran Chu Hui San seperti mabok kemuliaan dan yang disukai hanyalah bersenang-senang saja. Biar pun dia sudah beristeri dan memiliki belasan orang selir, masih saja dia haus akan kecantikan wanita.

Puteranya yang baru berusia enam tahun lebih itulah yang agaknya mewarisi kecerdikan dan semangat kakeknya. Puteranya bernama Chu Hong dan karena semangatnya inilah maka Pangeran kecil Chu Hong menjadi kesayangan kakeknya. Bahkan kakeknya, Kaisar Thai-cu sendiri yang sering mendidik Chu Hong, menanamkan jiwa kepahlawanan melalui dongeng-dongeng. Tidak jarang kaisar ini membiarkan cucunya tercinta itu tidur di dalam kamarnya!

Biar pun usianya sudah empat puluh tahun, Pangeran Mahkota Chu Hui San masih suka berlagak seperti seorang pemuda remaja saja. Pakaiannya selalu mewah dan dia sering kali meloloskan diri dari istana, tidak mau dikawal sehingga dia dapat melancong dengan bebas seperti halnya para kongcu (tuan muda) bangsawan. Tentu saja dia pun banyak bergaul dengan para kongcu bangsawan lainnya yang memiliki kebiasaan dan kesukaan seperti dia, yaitu menghambur-hamburkan uang dan beroyal-royalan sepuas hati.....

Pada suatu hari, pagi-pagi pangeran Chu Hui San sudah berada di beranda loteng rumah pelesir Seruni, yaitu sebuah rumah pelesir yang terbesar di kota raja. Tentu saja pengurus rumah pelesir Seruni dan semua penghuninya, para gadis penghibur, menyambut dengan penuh kehormatan dan kegembiraan pada waktu pangeran mahkota bersama dua orang temannya, yakni dua orang kongcu bangsawan lain, muncul dan mereka seolah berebut menawarkan diri untuk menghibur tiga orang tamu itu terutama sang pangeran.

Siapa tahu pangeran mahkota terpikat olehku kemudian membawaku ke istana menjadi selirnya, dan apa bila kelak sang pangeran menjadi kaisar berarti dia akan menjadi selir kaisar! Demikian diharapkan oleh setiap orang gadis penghibur itu.

Akan tetapi sekali ini Pangeran Chu Hui San dan kedua orang kawannya agaknya sudah merasa jemu dengan mereka. Mereka bertiga hanya minta disediakan sarapan pagi yang mewah, dan setelah makan pagi mereka bertiga duduk di beranda loteng dan melihat-lihat mereka yang berlalu lalang di atas jalan raya di bawah depan loteng.

Pagi itu seperti biasa banyak wanita tua muda berlalu lalang di jalan raya, untuk pergi ke pasar dan pulangnya para wanita itu melewati jalan itu sebab pasar terletak dekat dengan rumah pelesir itu. Dan tiga orang lelaki bangsawan ini menjadi iseng. Mereka melempar-lemparkan kwaci dan kacang ke bawah setiap kali ada gadis atau wanita muda lewat di bawah sana. Wanita yang terkena lemparan kwaci atau kacang, kalau hendak marah pun tidak jadi, bahkan tersenyum malu dan bangga ketika mereka melihat siapa laki-laki yang mengganggunya itu. Wanita mana yang tak akan merasa senang diganggu oleh Pangeran Mahkota?

Dari jauh nampak seorang wanita muda melangkah gontai di atas jalan raya. Dia seorang wanita muda, usianya sekitar dua puluh tahun dan bentuk tubuhnya yang ramping sangat menggiurkan dan menggairahkan. Langkahnya dan lenggangnya amat memikat, dengan tubuh lentur lemas dan berlekuk lengkung sempurna. 

Pada waktu itu musim panas sudah tiba dan karena hawa udara panas, para wanitanya mengenakan pakaian yang lebih tipis dan longgar hingga keindahan bentuk tubuh mereka lebih dapat dikagumi dari pada kalau mereka mengenakan pakaian tebal di musim dingin. Wanita muda ini membawa keranjang gantung yang kosong sehingga mudah dimengerti bahwa dia tentu sedang menuju ke pasar untuk berbelanja. Bajunya yang biru muda itu nampak baru.

Pangeran Chu Hui San memandang kepada wanita itu lantas berkata kepada dua orang temannya.

"Tunggu! Yang baju biru muda itu untukku, biar aku yang menembaknya!"

Istilah menembak itu mereka gunakan untuk menyambitkan kwaci dan kacang ke bawah. Dua orang temannya adalah pemuda pemuda bangsawan yang selalu ingin memperoleh kesan baik dengan menjilat, maka mendengar permintaan ltu, segera mereka mentaati dan hanya menjadi penonton. Putera Mahkota itu mempersiapkan kacang yang besar dan ketika wanita itu berlenggang di bawah loteng, dia membidik dan menyambitkan kacang itu ke bawah.

"Tukk!"

Kacang itu tepat mengenai kepala wanita itu. Memang tidak mendatangkan rasa sakit, akan tetapi cukup mengagetkan dan wanita itu cepat mengangkat muka memandang ke atas. Dilihatnya tiga orang pria berpakaian mewah tertawa-tawa.

Akan tetapi Pangeran Chu Hui San terpesona. Ketika wanita itu memandang ke atas, dia melihat sebuah wajah yang cantik manis, dan tidak seperti wanita lain yang begitu melihat siapa penyambitnya lalu melempar senyum dan kerling memikat, wanita itu justru berani cemberut, mengerling marah lalu membuang muka! Akan tetapi semua tarikan muka yang lain dari pada yang lain itu, yang tidak bermanis-manis dan tidak menjual murah, bahkan nampak demikian memikat bagi Pangeran Chu Hui San.

"Cui-ma, cepat kejarlah perempuan itu. Aku menginginkannya, sekarang juga!” kata sang putera mahkota yang sejak kecil sudah terbiasa segala kehendaknya selalu terpenuhi. 

Mendengar perintah ini, nyonya kurus yang berada di belakang mereka lalu terbongkok-bongkok melayaninya kemudian bergegas turun dari loteng. Dari atas beranda loteng itu, Pangeran Chu Hui San dan dua orang temannya dapat melihat betapa mucikari itu berlari keluar diikuti dua orang laki-laki berewok tinggi besar dan mereka bertiga cepat mengejar wanita muda yang jalannya belum jauh itu. 

Mereka melihat betapa mucikari itu bersama dua orang jagoannya telah dapat menyusul. Wanita muda itu nampak menolak, menggeleng kepala dan kelihatan marah-marah, tidak dapat dibujuk oleh mucikari itu dengan omongan manis. Sang mucikari sendiri, bibi Cui atau dipanggil Cui-ma, merasa heran bukan kepalang melihat ada seorang wanita muda berani menolak ajakan putera mahkota! Tidak peduli dia telah menikah atau belum, rakyat jelata atau bangsawan, belum pernah ada wanita yang menolak ajakan yang seolah-olah merupakan bulan jatuh ke pangkuan itu. 

Karena wanita muda itu menolak, dua orang tukang pukul sudah menangkap dua lengan wanita itu dan tanpa kesulitan kedua orang jagoan yang kuat itu memaksa dan menarik wanita muda itu ikut ke dalam rumah pelesir. Tak seorang pun yang berani melerai ketika melihat ada seorang wanita muda dipaksa masuk ke rumah itu oleh seorang wanita tua dan dua orang jagoannya. 

Cui-ma memang disegani, bukan hanya karena dia mempunyai tukang pukul, melainkan terutama sekali karena di belakang mucikari ini berdiri bangsawan-bangsawan tinggi yang merupakan langganannya sehingga dia bisa mendapatkan pembelaan dari kalangan atas. Petugas rendahan biasa saja, mana ada yang berani menentangnya? Bahkan mungkin akan berhadapan dengan atasannya sendiri nanti!

Pangeran Chu Hui San sedang duduk menanti seorang diri di dalam kamar yang mewah ketika wanita muda itu masih bersama keranjangnya didorong masuk dari luar dan daun pintu segera ditutup kembali dari luar. Bagai seekor anak kelinci yang dilempar ke dalam kerangkeng harimau, wanita itu berdiri menggigil sambil menangis, tidak berani berkutik, hanya bersandar pada dinding memeluk keranjangnya.

"Ampun... ampunkan aku... lepaskan aku... aku telah bersuami, suamiku amat keras dan galak sekali..." ia meratap ketakutan tanpa berani mengangkat mukanya yang menunduk.

Akan tetapi, alasan bahwa wanita itu sudah bersuami tidak meredakan gelora gairah sang pangeran. Yang membuat dia terheran-heran adalah melihat sikap wanita itu. Kenapa dia begitu berani dan sama sekali tidak menghormatinya?

"Nyonya muda yang manis, pandanglah aku. Apakah engkau tidak tahu, siapa aku?” Dia memerintah.

Dengan ketakutan wanita itu mengangkat muka memandang, tetapi dia sama sekali tidak nampak terkejut, bahkan dia menggeleng kepalanya, "Aku tidak mengenal engkau siapa, akan tetapi mohon kau lepaskan aku, jangan ganggu aku...”

"Hemm, aku adalah pangeran, putera mahkota, tahu?"

Wanita itu kembali memandang dengan kedua mata terbelalak, lalu keranjangnya jatuh mengelinding dan dia pun menjatuhkan diri berlutut menyernbah-nyembah. “Ahh... ampun hamba... hamba tidak tahu, hamba baru sebulan berada di kota raja, hamba dari dusun, setelah menikah baru di sini... mohon paduka suka mengampuni hamba dan membiarkan hamba pergi...”

Pangeran itu semakin heran. "Aku suka padamu, manis. Kesinilah dan jangan takut. Aku akan memberi hadiah besar kepadamu.“

"Tidak... tidak... mohon paduka mengampuni hamba... hamba baru satu bulan menikah, hamba tidak berani, suami hamba galak..."
"Aihh, pengantin baru, ya? Heh-heh, aku suka pengantin baru. Tentang suamimu, jangan takut. Dia tak akan berani memarahimu kalau tahu bahwa pangeran putera mahkota yang mengajakmu. Kesinilah!" 

Pangeran Chu Hui San semakin bergairah karena selama ini belum pernah dia bertemu dengan wanita yang tidak segera lari ke dalam pelukannya. Malah dia yang kini turun dari pembaringan dan menghampiri wanita yang menggigil ketakutan itu. Akan tetapi baru saja dia memegang lengan wanita itu untuk ditariknya, dia mendengar suara gedebukan di luar kamar, suara orang berkelahi. 

Dia terkejut dan heran, kemudian dia membuka daun pintu untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata dua orang tukang pukul berewokan itu sedang mengeroyok seorang lelaki muka bopeng yang juga tinggi besar. Akan tetapi laki-laki bopeng itu lihai sekali, dan ketika sang pangeran membuka daun pintu, tepat dia melihat betapa kedua orang tukang pukul itu sedang dihantam roboh!

"Cang-ko (kakak Cang),...!" Wanita cantik yang berada di dalam kamar Pangeran Chu Hui San menjerit ketika dia melihat laki-laki bopeng itu. 
“Kim-moi (adik Kim)!" Laki-laki itu berteriak lalu dia pun cepat menerjang masuk ke dalam kamar. "Aku tahu engkau berada di sini!” bentaknya, dan dengan mata melotot dia pun memandang kepada isterinya, lalu kepada sang pangeran. Ketika dia memandang kepada pangeran itu, Pangeran Chu Hui San berkata dengan sikap gagah dan marah.
"Orang kasar, butakah matamu? Aku adalah Pangeran Chu Hui San! Hayo cepat engkau pergi dari sini atau akan kusuruh orang menangkap dan menghukum siksa sampai mati!"

Akan tetapi si muka bopeng itu menyeringai, "Aku tahu engkau pangeran putera mahkota yang mata keranjang itu. Engkau berani menghina isteriku! Biar aku akan dihukum mati, akan tetapi sekarang engkau yang akan kusiksa sampai mati lebih dulu!" 

Si muka bopeng menghampiri sang pangeran dengan langkah lambat tapi sikapnya amat menyeramkan. Pangeran yang satu ini memang berwatak lemah. Melihat gertakannya tak berhasil, dia pun melangkah mundur dan mukanya mulai membayangkan ketakutan.

"Jangan... maafkan aku dan engkau akan kuganjar hadiah yang besar...”
"Tidak ada hadiah besar dari pada membunuh orang yang telah berani menghina isteriku tercinta!" bentak orang itu dengan geram dan dia sudah siap untuk menubruk.

Tiba-tiba seseorang muncul di ambang pintu kamar itu. Akan tetapi kemunculannya tidak membesarkan harapan sang pangeran, karena dia hanyalah seorang laki-laki berusia tiga puluh lima tahun yang berpakaian seperti seorang sastrawan muda, mungkin sastrawan kaya karena pakaiannya nampak mewah. Apa artinya seorang sastrawan lemah terhadap si muka bopeng yang tangguh ini? Dua orang jagoan tukang pukul di rumah pelesir itu pun sudah dia pukul roboh.

"Muka bopeng, jangan kurang ajar kau!" sastrawan itu membentak dan biar pun suaranya lembut tetapi mengandung getaran berwibawa sehingga tiba-tiba si bopeng menghentikan langkahnya lantas memutar tubuh menghadapi sastrawan itu, nampaknya terkejut. Akan tetapi ketika dia melihat bahwa yang menegur dan mencelanya hanya seorang sastrawan yang terlihat lemah, dia menjadi semakin berang. Dengan langkah lebar dia menghampiri sastrawan itu dengan sikap mengancam.
"Jahanam, siapakah engkau yang berani mencampuri urusanku?" Dia mengepal tinju dan siap menerjang.
"Engkaulah yang jahanam! Alangkah beraninya engkau mengancam yang mulia pangeran putera mahkota yang sepatutnya kau sembah. Hayo cepat berlutut minta ampun!"

Akan tetapi si muka bopeng menjawabnya dengan gerengan kemudian dia pun menerjang dengan ganas ke arah sastrawan itu. Pangeran Chui Hui San menyangka penolongnya itu tentu roboh dengan sekali pukul dan dia sudah siap untuk melarikan diri. Akan tetapi dia terbelalak.

Pada saat si muka bopeng yang tinggi besar itu menerjang, sastrawan itu mengelebatkan kipas yang berada di tangannya dan entah bagaimana, tiba-tiba saja si muka bopeng itu yang terpelanting ke atas lantai!

Dia merangkak bangun, meloncat lantas menerjang lagi, akan tetapi disambut tendangan yang mengenai dadanya hingga membuat dia terjengkang dan terbanting keras. Si muka bopeng terengah-engah dan sepasang matanya terbelalak ketakutan, lalu dia bangkit dan membalikkan diri, cepat lari keluar dari dalam kamar itu.
Sastrawan itu membiarkan si muka bopeng lari kemudian dia pun membalik, menghadapi Pangeran Chu Hui San dan menjatuhkan diri berlutut dengan sikap hormat dan sopan sekali. "Hamba kira akan jauh lebih baik dan aman kalau paduka selalu ditemani seorang pengawal yang boleh dipercaya. Akhir-akhir ini banyak sekali terdapat penjahat dan para pemberontak yang tentu akan berbuat yang tidak baik terhadap paduka."

Tentu saja pangeran itu merasa berterima kasih karena tanpa munculnya sastrawan itu, tentu sekarang dia telah tewas dibunuh si muka bopeng tadi. Dia segera melangkah maju dan dengan kedua tangan menyentuh pundak sastrawan itu, dia berkata. "Terima kasih, engkau telah menyelamatkan aku. Kami akan merasa senang sekali kalau saat ini engkau suka menemani dan menjaga keselamatanku."

"Hamba suka sekali, dan hamba siap mengorbankan nyawa demi keselamatan paduka, pangeran!" kata sastrawan itu.
"Siapa namamu?"
"Hamba she (bernama keturunan) Yauw, nama hamba Lu Ta."

Pada saat itu pula wanita muda yang semenjak tadi berdiri ketakutan mempergunakan kesempatan itu untuk melarikan diri keluar dari dalam kamar. Tetapi Yauw Lu Ta segera meloncat dan sekali tangannya bergerak, dia telah menotok wanita itu pada pundaknya, membuat wanita itu menjadi lemas dan tentu akan jatuh ke atas lantai kalau Yauw Lu Ta tidak segera menyambutnya, memegang lengannya lantas mendudukkannya di atas lantai bersandar dinding. Wanita muda itu tak mampu bergerak, hanya sepasang matanya yang memandang dengan ketakutan.

"Yauw Siucai (Sastrawan Yauw), kalau dia tidak mau, suruh dia pergi. Kami tidak mau memperkosanya!" kata Pangeran Chui Hui San dengan suara mengandung kekecewaan. Wanita itu bukan saja menolak cintanya, bahkan suaminya hampir saja membunuhnya!

Yauw Lu Ta membungkuk sambil tersenyum. "Harap paduka jangan kecewa. Dalam satu menit dia akan berubah sama sekali dan akan melayani paduka dengan seluruh tubuh dan hatinya."

Dia mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam saku bajunya. Ketika dibukanya, dalam bungkusan terisi bubuk merah. Melihat di atas meja dalam kamar itu terdapat cawan dan guci arak, ia menuangkan sedikit arak ke dalam cawan itu, dimasukkannya sedikit bubuk merah ke dalam cawan kemudian dia menghampiri wanita muda itu, tangan kiri menekan kanan-kiri mulut sehingga mulut itu terbuka, ditengadahkan, lalu isi cawan dia tuangkan ke dalam mulut. Di luar kehendaknya, wanita itu terpaksa menelan anggur dari cawan dan setelah itu barulah Yauw Lu Ta melepaskannya.

Pangeran Chu Hui San terus memandang penuh perhatian. Satu menit kemudian terjadi perubahan pada wajah wanita itu. Kedua pipinya kemerahan dan pandang matanya tidak lagi ketakutan, akan tetapi seperti orang yang mengantuk. 

Yauw Lu Ta membebaskan totokannya dan dia pun berkata. "Kini paduka dapat berbuat apa pun terhadap dirinya. Dia pasti akan menyerahkan diri dengan suka rela dan penuh semangat. Hamba akan menjaga keamanan paduka di luar kamar." Yauw Lu Ta segera melangkah keluar dan menutupkan daun pintu kamar itu dari luar.

Sebenarnya, peristiwa tadi sudah mengusir semua gairah nafsu dari pikiran pangeran ini. Akan tetapi dia tertarik dan ingin sekali tahu apakah ucapan pengawal barunya itu benar. Dia lalu memandang wanita muda yang sudah dibebaskan dari totokan itu.

Sekarang wanita itu berlutut menghadap kepadanya, hanya menundukkan muka dan tidak berani memandangnya, juga tak mengeluarkan kata-kata, tidak pula menangis ketakutan lagi.

“Angkat mukamu!" kata pangeran itu dengan suara memerintah.

Wanita muda itu mengangkat muka memandangnya. Dan alangkah jauh bedanya dengan tadi. Wanita itu kini memandangnya dengan sikap malu-malu, dengan mata sayu sambil mulut mengulum senyum.

"Kesinilah," kata pula pangeran itu.

Wanita itu tampak tersipu, kemudian bangkit dan dengan malu-malu berjalan menghampiri Pangeran Chu Hui San. Ketika pangeran merangkulnya, dia pun mengeluarkan suara lirih dan menyandarkan mukanya ke dada pangeran itu.

“Siapa namamu, manis?"
"Nama hamba Bi Kim...” suaranya berbisik.

Sekarang bangkitlah kembali gairah di hati pangeran itu. Dia pun menuntun wanita itu ke pembaringan dan benarlah seperti yang dikatakan Yauw Lu Ta tadi, kini wanita itu sama sekali tidak menolaknya, bahkan melayaninya dengan suka rela dan penuh gairah.

Tentu saja semua itu merupakan siasat yang sudah diatur oleh Yauw Lu Ta atau Yaluta, pangeran Mongol itu! Ketika Kerajaan Mongol belum jatuh, dia masih kecil, baru belasan tahun usianya dan tidak dikenal. Karena itu tanpa ragu-ragu dia berani mempergunakan namanya, hanya diubah sedikit menjadi nama pribumi agar tidak ada yang tahu bahwa dia adalah bekas pangeran Mongol!

Sejak peristiwa di rumah pelesir itu, Pangeran Chu Hui San menerima Yauw Lu Ta yang disebutnya Yauw Siucai menjadi pengawal pribadinya, juga temannya berfoya-foya. Yauw Siucai amat pandai mengambil hatinya. Dengan adanya Yauw Siucai, putera mahkota ini dapat menikmati bermacam kesenangan yang tadinya tidak dikenalnya sama sekali.

Dengan bantuan Yauw Siucai, wanita yang bagaimana keras pun akan menjadi lunak dan jinak. Bahkan saking percayanya pada Yauw Siucai, putera mahlota itu telah mengangkat sastrawan ini menjadi guru sastra dari puteranya yang bernama Chu Hong. Maka kuatlah kedudukan Yauw Siucai di istana putera mahkota.

Dengan cerdik sekali Yauw Lu Ta yang memang mendekati pangeran putera mahkota ini untuk tujuan yang lebih besar, menuntun Pangeran Chu Hui San yang lemah itu sehingga keadaan pangeran itu menjadi semakin rusak. Bukan saja bujukan Yauw Siucai membuat dia menjadi semakin menggila dalam mengejar kesenangan sehingga lupa diri, juga Yauw Siucai dengan cerdik menjerumuskan pangeran yang menjadi calon pengganti kaisar itu menjadi seorang pecandu madat!

Yauw Siucai ingin agar kelak yang menjadi kaisar adalah orang yang lemah, tidak mampu dan yang berada di bawah pengaruhnya sehingga kalau dia mendapatkan kesempatan baik melakukan gerakan, maka pemerintahan di bawah kaisar semacam itu akan mudah dia robohkan dan dia dapat membangun kembali Kerajaan Goan (Mongol) yang pernah jaya…..!

********************
Sore itu udara cerah sekali. Langit tidak ternoda awan, dan walau pun matahari sudah condong jauh ke barat, namun sinarnya masih kuat dan hawa udara cukup gerah karena tidak ada angin bertiup.

Dengan langkah lebar dan tegap Panglima Bhok Cun Ki berjalan mendaki bukit Bambu Naga di luar kota raja. Dia sengaja berjalan kaki, tidak menunggang kuda. Pertama, agar tidak ada orang yang memperhatikannya, dan ke dua supaya lebih mudah baginya untuk melihat bahwa tidak ada orang yang membayanginya. Dia tidak ingin anak-anaknya turut mencampuri urusan pribadinya.

Tentu saja cerita putera dan puterinya tentang gadis yang memiliki pedang Ular Putih itu seketika mengingatkan dia akan riwayat hidupnya dahulu, ketika dia belum menikah. Dia pernah saling berkenalan dan bersahabat dengan seorang pendekar wanita yang cantik jelita dan lihai dan akhirnya dia dan wanita itu yang bernama Cu Sui In saling jatuh cinta.

Waktu itu dia sendiri adalah seorang pendekar muda Butong-pai, dan gadis itu memang cantik dan pandai, sehingga mereka berdua merupakan pasangan yang serasi dan cocok sekali. Hubungan di antara mereka sudah amat intim dan mesra, bahkan keduanya sudah demikian saling percaya bahwa mereka akan menjadi suami isteri sehingga mereka saling menyerahkan diri. 

Namun beberapa hari kemudian dia memperoleh kenyataan bahwa kekasihnya itu adalah puteri See-thian Coa-ong! Malah di dunia kangouw kekasihnya itu dikenal dengan julukan Bi-coa Sianli (Dewi Ular Cantik) yang terkenal ganas dan kejam! Melihat kenyataan pahit ini, seketika dia mengambil keputusan untuk memisahkan diri dan meninggalkan Cu Sui In.

Sebagai seorang pendekar penentang golongan sesat, tidak mungkin dia menikah dengan seorang puteri datuk sesat! Tentu saja seluruh dunia kangouw akan mentertawakannya, dan bagaimana dia akan tetap dapat menentang kejahatan kalau beristeri seorang tokoh jahat?

"Ahh, Sui In..." Dia menghela napas panjang dan mengeluh dalam hati, "kenapa sampai sekarang engkau masih mendendam? Dan mengapa pula tidak datang sendiri mencariku, akan tetapi menyuruh muridmu?"

Sesudah tiba di puncak bukit yang amat sunyi itu, dia berdiri di puncak yang datar, yang dikelilingi hutan bambu yang lebat. Di situ banyak terdapat bambu yang batangnya seperti tubuh ular naga, maka disebut bambu naga. Meski pun dia tidak melihat bayangan orang, akan tetapi dia merasa bahwa ada orang yang mengintai dan mengamatinya. Oleh karena itu dia berdiri dengan tegak, kedua kaki terpentang, lalu dia berkata dengan suara yang lantang.

"Nona berpedang Ular Putih, aku Bhok Cun Ki telah datang memenuhi undanganmu!"

Memang sejak tadi Lili telah mengintai dari balik semak belukar. Sejak lelaki itu mendaki lereng dekat puncak, dia sudah tahu dan ketika pria itu telah mendekat, dia memandang kagum. 

Jadi inikah kekasih suci-nya yang telah meninggalkan suci-nya hingga membuatnya hidup merana? Pantas kalau suci-nya tergila-gila. Memang pria ini seorang laki-laki yang gagah perkasa dan ganteng. Sekarang pun dalam usia yang mendekati lima puluh tahun pria itu masih nampak tegap dan ganteng, dengan penampilan seorang pendekar tulen. Sebatang pedang tergantung di pinggangnya dan langkahnya ketika mendaki puncak tadi bagaikan langkah seekor harimau. Dari atas puncak itu dia terus mengamati dan melihat bahwa pria ini memang datang seorang diri, dan ini pun menunjukkan bahwa dia memang gagah dan berani, dan tidak curang.

"Bagus, kiranya engkau yang bernama Bhok Cun Ki!"

Bhok Cun Ki membalikkan tubuh dan melihat bayangan berkelebat, tahu-tahu di depannya sudah berdiri seorang gadis yang cantik. Dia mengamati penuh perhatian. Seorang gadis berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun yang cantik manis, dengan sikap yang dingin dan galak, namun matanya bersinar tajam. Dia tahu bahwa gadis itu memiliki keringanan tubuh dan kecepatan yang tak boleh dipandang ringan. Dia memberi hormat sepantasnya dengan merangkap kedua tangan di depan dada.

"Apakah hubunganmu dengan Cu Sui In, nona? Apakah engkau muridnya?" Bhok Cun Ki langsung bertanya karena dia sudah yakin bahwa inilah gadis yang telah mencarinya dan mengalahkan putera dan puterinya.
"Cu Sui In adalah suci-ku. Hemmm…, agaknya engkau sudah dapat menduga bahwa aku datang diutus oleh suci untuk membunuhmu?"

Bhok Cun Ki menghela napas panjang dan mengangguk. "Aku sudah dapat menduganya. Kiranya engkau adalah sumoi-nya, dan engkau murid See-thian Coa-ong. Pantas engkau lihai. Akan tetapi, terima kasih bahwa engkau tidak membunuh kedua orang anakku. Hal ini saja sudah mengherankan karena biasanya orang-orang dari Bukit Ular tidak pernah membiarkan lawannya hidup."

Lili mengerutkan sepasang alisnya. "Aku bukan pembunuh! Aku hanya ditugaskan untuk membunuhmu, bukan membunuh anak-anakmu. Nah, bersiaplah untuk mengadu nyawa. Engkau atau aku yang akan mati hari ini!" Lili mencabut pedangnya dan nampaklah sinar putih menyilaukan mata tertimpa sinar matahari senja.

Bhok Cun Ki mengeluh dalam hatinya. Tak disangkanya bahwa urusan pribadinya dengan Cu Sui In akan menimbulkan peristiwa yang dihadapinya sekarang ini. Dia ditantang oleh seorang gadis muda!

"Nona, siapakah namamu?" tanyanya dengan suara lembut karena begitu melihat gadis itu, walau pun dia nampak galak dan dingin, menimbulkan perasaan suka dalam hatinya. Dia merasa berhadapan dengan anak sendiri atau keponakan sendiri.

Bagaimana dia, seorang pendekar Butong-pai, seorang panglima, dapat merasa enak hati menyambut tantangan mengadu nyawa seorang gadis yang lebih pantas menjadi anaknya atau keponakannya?

"Namaku tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan adu nyawa ini, Bhok Cun Ki!" kata Lili dengan tegas.
"Memang benar sekali, akan tetapi kalau engkau kalah dan mati, engkau akan tahu siapa yang membunuhmu, sebaliknya kalau aku yang kalah dan mati, arwahku bisa penasaran karena aku tidak tahu siapa yang membunuhku." Bhok Cun Ki bicara dengan nada suara serius, akan tetapi juga mengandung kelakar. 

Lili merasa sukar sekali untuk mempertahankan kekakuannya, juga di dalam hatinya tidak mempunyai masalah pribadi dengan pria ini, karena itu dia pun tidak dapat merasa benci. Bahkan dia merasa kagum karena dia berhadapan dengan seorang laki-laki jantan yang bersikap begitu tenang.

"Baik, namaku biasa disebut orang Lili.”
"Nona Lili, nama yang bagus. Akan tetapi kenapa suci-mu Cu Sui In tidak datang sendiri membunuhku, melainkan menyuruh engkau yang tidak mempunyai sangkut paut dengan urusan kami?"
"Aku hanya menunaikan tugas. Jangan tanya kepadaku, tanyakan saja kepada suci, akan tetapi tidak ada kesempatan lagi bagimu karena engkau akan mati ditanganku."

Bhok Cun Ki tersenyum. "Nona Lili, engkau masih begini muda tetapi sudah mempunyai kepandaian tinggi dan sangat pemberani. Sungguh sayang seorang muda seperti nona ini melakukan pertandingan mengadu nyawa. Aku sendiri sudah cukup tua, dan mati bagiku bukan apa-apa. Akan tetapi engkau masih begini muda dan berhak untuk hidup lebih lama dan menikmati hidupmu. Tahukah engkau mengapa suci-mu itu menyuruhmu mencariku dan membunuhku?"

"Bhok Cun Ki, mengapa engkau begini cerewet, sih? Agaknya dahulu suci terpikat oleh kapandaianmu merayu dengan kata-kata. Tentu saja aku tahu kenapa suci ingin agar aku membunuhmu. Engkau telah menghancurkan kebahagiaan hidupnya, sebab engkau telah membuat dia merana sehingga sampai sekarang suci-ku tidak berumah tangga. Engkau merayunya dengan ketampananmu, kepandaianmu merayu, dengan semua janji palsumu. Sudahlah, aku pun tidak peduli. Yang penting aku harus membunuhmu. Cepat keluarkan pedangmu, atau aku akan membuat engkau mati konyol!" Gadis itu lalu menggerakkan pedangnya sehingga berkelebatan dan mengeluarkan sinar putih yang menyilaukan mata.

“Tunggu sebentar, nona. Aku tidak percaya bahwa seorang gadis seperti engkau ini mau membunuh orang yang belum siap melawan. Dengarlah dahulu, baru kita bertanding agar engkau mengetahui urusan antara aku dan suci-mu itu, agar kita berdua dapat bertanding dengan penuh kesadaran. Memang kuakui bahwa ketika aku masih muda, di antara aku dan suci-mu Cu Sui In terjalin hubungan cinta kasih yang mendalam, bahkan kami berdua telah saling berjanji dan bersepakat untuk menjadi suami isteri. Aku mencintai dia dengan sepenuh hatiku, bahkan sampai sekarang pun aku masih mencintanya. Akan tetapi dia menipuku. Tadinya dia tidak berterus terang mengenai dirinya. Sesudah aku mengetahui bahwa dia adalah puteri See-thian Coa-Ong dan dia berjuluk Bi-coa Sianli, seorang tokoh sesat, juga puteri seorang datuk sesat yang melakukan banyak kekejaman dan kejahatan, bagaimana mungkin aku berjodoh dengannya? Tentu seluruh pimpinan Butong-pai akan mengutuk aku, karena sebagai seorang pendekar aku harus menentang golongan sesat, bukan mengawini puteri seorang di antara para datuknya, yaitu See-thian Coa-ong. Nah, itulah sebabnya aku memisahkan diri walau pun aku selalu mencintanya."

"Omong kosong! Cinta macam apa kalau memakai persyaratan? Cinta macam apa yang bisa dibeli dengan keadaan seseorang? Yang kau cinta itu orangnya, pribadinya, ataukah kedudukannya dan namanya? Ingat, aku pun murid See-thian Coa-ong pula, dan bagiku, suhu jauh lebih jantan dari pada engkau yang mengaku pendekar! Setidaknya, suhu tidak pernah menjual omong kosong dan rayuan gombal kepada seorang wanita!"

Wajah Bhok Cun Ki berkerut-kerut dan berubah agak pucat, matanya terlihat bingung dan gelisah! Selama hidupnya, baru sekali inilah dia merasa menyesal bukan main. Memang dia tidak pernah dapat melupakan Cu Sui In, akan tetapi selama ini dia selalu menghibur perasaannya, menghibur batinnya bahwa dia meninggalkan Sui In karena melihat bahwa dia dan Sui In tidak akan dapat menjadi suami isteri yang rukun. Namun semua itu hanya hiburan belaka bagi perbuatan mengkhianati kasih di antara mereka.

Di dalam hati kecilnya dia sudah merasa menyesal mengapa dia tergesa-gesa mengambil keputusan memutuskan cintanya itu. Padahal dia tahu betapa Sui In sangat mencintanya, dan demi cinta kasih mereka itu, bukan tidak mungkin dia akan dapat menuntun Sui In kembali ke jalan benar! Kini, dari mulut gadis itu dia seperti mendengarkan suara hatinya sendiri yang setiap kali membuatnya menyesal.....

"Sudahlah, memang aku merasa bersalah kepada Sui In. Akan tetapi, nona muda, jangan harap orang lain akan dapat membunuhku. Kalau Cu Sui In sendiri yang datang, aku akan menyerahkan nyawaku tanpa melawan. Tapi kalau dia mewakilkannya kepada orang lain, jangankan engkau, biar pun andai kata See-thian Coa-ong sendiri yang datang, aku akan melawan dan membela diri."

"Bagus, aku pun bukan orang yang suka membunuh lawan yang tidak mau membela diri. Hayo, cabut senjatamu karena sudah cukup banyak kita bicara!" bentak Lili dengan sikap garang.

Bhok Cun Ki tersenyum, kemudian ia pun mencabut pedangnya. Nampak sinar kehijauan berkelebat pada waktu dia mencabut pedang Ceng-kong-kiam (Pedang Sinar Hijau) yang merupakan sebatang pedang pusaka dari Butong-pai. Hanya murid yang sudah berjasa mengangkat nama baik Butong-pai saja yang berhak menerima hadiah sebatang senjata pusaka Butong-pai, dan Bhok-ciangkun ini seorang di antara para pendekar Butong-pai yang tangguh.

"Aku sudah siap, nona Lili!" katanya.
"Lihat pedang!" Lili membentak.

Dan dia pun sudah menggerakkan pedangnya yang berbentuk ular putih itu, mulai dengan serangannya. Karena dia telah tahu bahwa lawannya adalah seorang ahli pedang Butong-pai yang berjuluk Sin-kiam-eng (Pendekar Pedang Sakti) dan menurut suci-nya amat lihai, begitu menyerang dia sudah menggunakan jurus yang amat dahsyat. Pedangnya berubah menjadi sinar putih, meluncur cepat bagaikan anak panah menusuk ke arah tenggorokan lawan.

"Wirrrr...! Singgg...!”

Pedang itu berdesing ketika luput dari sasarannya karena Bhok Cun Ki sudah mengelak dengan cepat, lantas dari samping pedangnya berubah menjadi sinar hijau menyambar ke arah mata kiri Lili! Serangan balasan ini pun sungguh dahsyat, cepat serta mengandung tenaga sehingga pedangnya berdesing nyaring. 

Tetapi Lili telah mengelak dengan merendahkan tubuhnya, kemudian kaki kirinya mencuat ke arah pusar lawan, disusul pedangnya menyambar dari kanan ke kiri membabat leher!

"Wuuuutttt...!"

Kembali Bhok-ciangkun menghindarkan diri dari serangan dahsyat itu dengan meloncat ke belakang. Dengan amat cepatnya Lili sudah meloncat ke depan, menyusulkan serangan lanjutan yang makin hebat. Pedangnya bagaikan seekor ular meluncur dibarengi tubuhnya yang merendah, dan pedang itu menusuk ke arah kedua lutut kaki lawan secara bertubi! Seolah-olah ada banyak sekali ular yang menyerang dan mematuk ke arah lutut dan kalau sekali saja lutut itu terkena patukan pedang ular, tentu Bhok-ciangkun akan roboh!

Namun Bhok-ciangkun adalah seorang pendekar pedang yang sudah mempunyai banyak pengalaman dalam bertanding dengan pedang. Sebagai seorang pendekar pedang, sudah banyak dia bertanding melawan orang-orang dari berbagai golongan. Tentu saja dia tidak mudah dikalahkan begitu saja dan dia sudah melihat bahayanya serangan yang dilakukan gadis itu ke arah kedua lututnya.

Dengan ringan sekali tubuhnya meloncat ke atas, berjungkir balik lantas turun di belakang Lili dan membalas dengan serangan pedangnya yang diputar dengan cepatnya. Dia mulai memainkan jurus-jurus ilmu pedang Butong-pai yang terkenal indah dan kuat, juga sangat cepat sehingga pedangnya lenyap berubah menjadi sinar hijau yang bergulung-gulung!

Lili terkejut juga melihat kehebatan ilmu pedang lawan. Dia pun tak mau kalah, maka dia memainkan pedangnya dengan gerakan yang sangat cepat sehingga pedangnya lenyap bentuknya, berubah menjadi cahaya putih yang bergulung-gulung.

Kadang-kadang dua gulungan putih dan hijau itu retak dan putus ketika sepasang pedang beradu di udara, menimbulkan percikan bunga api dan mengeluarkan bunyi berkerontang nyaring. Keduanya merasa tangan kanan masing-masing tergetar, maka tahulah mereka bahwa lawan memiliki tenaga yang tangguh dan keadaan mereka berimbang.

Akan tetapi, setelah lewat lima puluh jurus mulailah sinar putih itu terkurung tertekan oleh sinar hijau. Bagaimana pun juga ilmu pedang yang dimainkan Bhok Cun Ki memang hebat sekali. Lagi pula dia mempunyai banyak pengalaman bertanding, jauh lebih banyak kalau dibandingkan lawannya. 

Kini Lili mulai terdesak! Gadis yang keras hati dan pemberani ini maklum bahwa kalau dia hanya mainkan ilmu pedang biasa saja, hanya mengandalkan kecepatan dan kekuatan, ia tak akan menang melawan ilmu pedang lawan yang demikian hebatnya.

Tiba-tiba dia mengeluarkan suara mendesis nyaring lantas gerakan pedangnya berubah. Bukan hanya gerakan pedangnya yang berubah, melainkan juga gerakan tubuhnya. Kini tubuh gadis itu, kedua lengannya serta gerakan pedang itu, mengandung gerakan seekor ular! Berlenggang lenggok dan menyerang dari bawah dengan tusukan, bacokan, seperti ular memagut, disertai desis mengerikan seperti seekor ular cobra yang marah!

Bhok Cun Ki terkejut juga menghadapi serangan aneh yang amat berbahaya itu. Tahulah dia bahwa gadis itu mengeluarkan inti dari ilmu silatnya yang bersumber dari gerakan ular dan ilmu ini yang membuat nama besar See-thian Coa-ong sangat ditakuti orang.

Gadis itu memang sangat lihai dan berbahaya sekali. Bukan hanya pedang putih itu yang berbahaya, menyambar-nyambar dari bawah seperti seekor ular beracun pembawa maut, akan tetapi juga tangan kirinya membantu dengan serangan yang tidak kalah ampuhnya. Tangan itu menotok, mencengkeram dan gerakannya seperti seekor ular pula.

Dihujani serangan dari bawah seperti itu, keadaannya menjadi berbalik. Kalau tadi Bhok Cun Ki berhasil mendesak lawan, sekarang dia lebih banyak mengelak atau menangkis, dan segera terdesak sebab dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk melindungi dirinya. Dia merasa seolah-olah dikeroyok banyak ular beracun.

Akan tetapi, setelah belasan jurus lewat dan dia terdesak semakin hebat, teringatlah dia akan pertandingan ujian dalam permainan pedang melawan Sin Wan pagi tadi. Pemuda itu berkata bahwa lawan ular yang tangguh adalah burung! Kini mengertilah Bhok Cun Ki bahwa secara tidak langsung pemuda itu telah memberi petunjuk kepadanya bagaimana harus melayani gadis ini! Dia pun mengerahkan tenaga, mengeluarkan bentakan nyaring dan mendadak tubuhnya meloncat ke atas, lantas menukik turun dan menyerang dari atas dengan pedangnya! 

Lili yang kini terkejut dan cepat menangkis, akan tetapi Bhok Cun Ki sudah melanjutkan serangkaian serangannya yang membuat gadis itu repot. Ketika Lili melempar diri ke atas tanah bergulingan kemudian membentuk serangan baru dari bawah, kembali tubuh Bhok-ciangkun melompat tinggi ke atas. Sekarang dia tidak mau menangkis atau mengelak ke samping, namun menghadapi serangan gadis itu dengan loncatan tinggi kemudian ketika tubuhnya turun dia menyambar bagaikan seekor rajawali menyerang seekor ular.

Kembali keadaan menjadi berbalik, sekarang Lili yang terdesak karena seperti seekor ular menghadapi burung yang dapat terbang, dia tidak diberi kesempatan menyerang lawan, sebaliknya lawan menghujankan serangan yang dimulai dari atas.

Hal ini membuat Lili menjadi penasaran dan marah sekali. Ketika untuk kesekian kalinya Bhok Cun Ki mendesaknya dengan serangan bertubi, dia mengeluarkan teriakan nyaring, pedangnya diputar cepat melindungi tubuhnya sambil tangan kirinya mendorong dengan pengerahan tenaga dari ilmu Tok-coa-kun (silat ular beracun). Dorongan ini hebat sekali sebab dari telapak tangan kiri itu keluar uap kehitaman. Itulah pukulan beracun yang amat ganas!

"Haiiiitttt…!" Bhok Cun Ki yang mengenal pukulan maut segera meloncat lagi ke atas, lalu menukik bagaikan seekor burung garuda. 

Pada saat itu pula dari arah kiri dia melihat ada sinar hitam meluncur ke arah dadanya. Ia tahu bahwa dia diserang oleh senjata rahasia yang berbahaya. Karena tubuhnya sedang berada di udara dan tidak dapat mengelak, dia mengerahkan tenaga pada pedangnya dan menangkis senjata rahasia yang hanya berupa sinar hitam itu.

"Cringgg…!" Dan sinar hitam itu tertangkis, meluncur ke bawah mengarah ke Lili.
"Awas...!" Bhok Cun Ki berseru memperingatkan, namun terlambat.

Lili sama sekali tidak menyangka bahwa akan ada senjata rahasia meluncur sedemikian cepatnya oleh tangkisan pedang lawan yang berada di atas sehingga sebelum tahu apa yang terjadi, tiba-tiba dia merasa nyeri pada pundak kirinya dan senjata rahasia itu telah menancap di pundaknya. Tubuhnya seketika menjadi lemas dan matanya berkunang, lalu gelap! Lili roboh pingsan.

"Pengecut curang!" teriak Bhok Cun Ki dan tubuhnya sudah melayang ke arah dari mana datangnya senjata rahasia tadi. Tapi dia tidak menemukan orangnya. Agaknya penyerang gelap itu telah melarikan diri dengan cepat.

Karena cuaca mulai remang-remang, Bhok Cun Ki cepat menghampiri Lili. Gadis itu rebah miring dan ketika dia memeriksanya, dia pun terkejut. Sebatang paku hitam menancap di pundak itu. Paku itu masuk semua ke dalam daging pundak, dan panjang paku itu sama dengan jari kelingkingnya.

Paku beracun! Hal ini dapat dilihatnya dengan seketika sesudah merobek baju gadis itu dan melihat betapa di sekitar luka itu nampak tanda hitam kebiruan. Segera dia menotok beberapa bagian dari pundak itu, menghentikan jalan darah supaya racun paku itu tidak menyebar luas, lantas dicabutnya paku itu. Karena dia tidak membawa obat, maka tubuh gadis yang masih pingsan itu dipanggulnya dan dibawanya lari cepat kembali ke kota raja.

Tentu saja para penjaga menjadi terkejut melihat panglima itu memanggul seorang gadis yang pingsan dan mereka pun cepat memberi pertolongan, menyediakan kereta sehingga Bhok-ciangkun dapat membawa Lili pulang tanpa menarik banyak perhatian.

Kedatangan Bhok-ciangkun disambut dengan girang oleh Ci Han dan Ci Hwa. Akan tetapi mereka juga amat terheran-heran saat melihat ayahnya memondong tubuh seorang gadis yang bukan lain adalah Lili, gadis yang hendak membunuhnya!

"Ayah, kenapa ayah membawa siluman ini ke sini?" tanya Ci Hwa.
"Apa yang terjadi, ayah," tanya Ci Han.

Sin Wan yang juga berada di situ tidak bertanya karena dia sudah mengetahui segalanya. Dia sudah berjanji kepada Ci Hwa untuk melindungi Bhok-ciangkun supaya tidak sampai celaka di tangan Lili. Karena itu, sebelum Bhok-ciangkun berangkat, dia telah mendahului naik mendaki bukit Bambu Naga dengan mengambil jalan memutar sambil bersembunyi, kemudian dia menyembunyikan diri di balik semak belukar di puncak. 

Karena itu dia melihat pertemuan antara Bhok Cun Ki dengan Lili, bahkan mendengarkan semua percakapan di antara mereka. Kemudian tahulah dia urusan pribadi apa yang ada antara Bhok Cun Ki dan Bi-coa Sianli Cu Sui In.

Diam-diam dia merasa terharu dan kasihan kepada mereka berdua. Cinta antara pria dan wanita merupakan perpaduan dari sorga dan neraka. Kalau berkembang dan berhasil baik membuat keduanya merasa seperti di sorga, sebaliknya kegagalan cinta membuat orang merana seperti tersiksa di neraka!

Kemudian, tanpa berani memperlihatkan diri Sin Wan melihat mereka berdua bertanding. Dia hanya bersiap untuk melindungi Bhok-ciangkun kalau sampai panglima itu terancam bahaya, namun diam-diam dia pun mengambil keputusan untuk mencegah seandainya Lili yang kalah dan terancam maut.

Kemudian, pada saat Bhok-ciangkun menggunakan siasat seperti yang dimaksudkannya ketika dia dan panglima itu bertanding pedang, yaitu dengan cara berlompatan mengambil contoh seekor burung menghadapi ular, dan ketika panglima itu sudah dapat mendesak lawan, dia melihat senjata rahasia yang meluncur ke arah Bhok-ciangkun itu.

Akan tetapi dari tempat dia bersembunyi tidak mungkin dia menolong panglima itu karena senjata rahasia itu meluncur dari arah yang berlawanan dari tempat dia bersembunyi! Dia melihat betapa Bhok-ciangkun berhasil menangkis senjata kecil itu dengan pedang, dan senjata rahasia itu bahkan melukai Lili! Dengan cepat, melalui jalan memutar, Sin Wan lari ke tempat dari mana senjata itu datang. Akan tetapi karena dia harus mengambil jalan memutar, dia pun terlambat dan tidak dapat menemukan penyerang gelap itu.

Ketika dia melihat Bhok-ciangkun menolong Lili dan memondong gadis yang pingsan itu menuju ke kota raja, dia cepat mendahului lantas kepada Ci Hwa dan Ci Han dia hanya menceritakan bahwa Bhok-ciangkun dalam keadaan selamat dan dapat mengalahkan Lili.

"Cepat, ambilkan peti obat!" kata Bhok-ciangkun kepada dua orang anaknya sambil terus memondong tubuh Lili yang masih pingsan ke dalam kamar.

Sin Wan tidak ikut masuk, melainkan masuk ke dalam kamarnya sendiri dan termenung. Dia ikut terharu dengan peristiwa itu dan tidak ingin mencampuri. 

Betapa pun juga dia semakin kagum terhadap Bhok Cun Ki. Sungguh seorang pendekar yang bijaksana, pikirnya. Gadis itu jelas datang untuk membunuhnya dan sekarang gadis itu pingsan karena senjata rahasia orang lain. Namun Bhok Cun Ki bahkan menolongnya dan membawanya pulang untuk mengobatinya! Jarang terdapat orang yang bijaksana dan budiman seperti panglima itu.

Bhok Cun Ki sibuk sekali mengobati Lili. Dua orang anaknya hanya menonton dengan alis berkerut. Mereka merasa penasaran bukan main. Gadis liar itu sudah menghina mereka, mengalahkan mereka, bahkan mengancam hendak membunuh ayah mereka. Akan tetapi kini ayah mereka malah membawa gadis yang terluka itu pulang untuk diobati!

Bhok Cun Ki mencuci bersih luka itu, kemudian mengurut bagian pundak dan memaksa darah menghitam keluar dari luka di pundak. Sesudah itu ditempelkannya obat penghisap racun berupa koyok (obat tempel) putih yang tebal, dan dibalutnya pundak itu. Semua ini dia kerjakan sendiri karena kedua orang anaknya segan untuk membantu.

Lili mengeluh dan membuka kedua matanya. Sejenak dia seperti nanar dan bingung, akan tetapi dia cepat bangkit duduk sambil menggigit bibir ketika terasa nyeri pada pundaknya. Ia memandang ke arah pundak kirinya, alisnya berkerut melihat betapa baju di pundaknya robek dan nampak kulit pundaknya telanjang tetapi kini sudah terbalut kain putih.

Dia menoleh dan melihat Bhok Cun Ki duduk di depannya, juga dua orang anak panglima itu berada di kamar. Melihat dia duduk di atas pembaringan di sebuah kamar, Lili segera teringat. Ia terkena serangan senjata rahasia di pundaknya dan dia roboh di puncak bukit itu, tapi kenapa tahu-tahu dia berada di kamar ini? Melihat obat berserakan di atas meja, dia pun tahu bahwa tentu dia telah diobati oleh Bhok Cun Ki!

"Engkau... manusia curang! Pengecut! Engkau menyerangku dengan senjata rahasia! Dan engkau membawaku ke sini! Sungguh engkau telah menghinaku!"
"Tenanglah dulu, nona Lili. Bukan aku yang menyerangmu dengan senjata rahasia. Lihat, benda inilah yang mengenai pundakmu!" Dia mengeluarkan paku hitam dari dalam saku bajunya, menyerahkannya kepada Lili. Gadis itu menerimanya, menyimpan dalam lipatan bajunya.
"Kelak pasti akan aku ketahui siapa pemilik paku ini. Tentu komplotanmu yang sengaja menyerangku secara curang."
"Nona Lili, engkau terlalu memandang rendah kepadaku!" kata Bhok Cun Ki dengan alis berkerut. "Engkau tahu benar bahwa di dalam pertandingan tadi aku tidak berada di pihak yang kalah atau pun terdesak. Paku itu ditujukan kepadaku, untuk menyerangku. Dan aku yang sedang berada di atas lalu menangkisnya dengan pedang sehingga paku itu meleset dan mengenai pundakmu."

"Bhok Cun Ki, kalau begitu mengapa engkau membawaku ke sini? Jangan kau kira kalau perbuatanmu ini akan membuat aku berhutang budi kepadamu. Sesudah lukaku sembuh, aku tetap akan menantangmu mengadu nyawa lagi!" Lili berkeras.
"Nona, jangan pergi dulu, lukamu belum sembuh. Atau, kalau kau tetap berkeras hendak pergi, bawalah obat ini untuk menggantikan koyok yang menyedot racun dari lukamu itu," kata Bhok-ciangkun ketika melihat gadis itu hendak melangkah pergi. "Dan jangan lupa, ini pedangmu!" Dia menyodorkan pedang dan buntalan obat.

Lili cemberut, tangan kanannya menyambar pedang ular putih dan diselipkan di pinggang, kemudian direnggutnya balutan pundaknya dengan kasar hingga balutan itu terlepas dan obat koyok itu pun jatuh dari pundaknya.

"Aku tidak membutuhkan pertolonganmu. Aku juga tidak minta kau obati!" katanya sambil menahan rasa nyeri karena luka itu berdarah lagi setelah koyok dan balutannya direnggut lepas dan dia buang. 
"Kelak aku akan mencarimu lagi untuk melanjutkan pertandingan sampai salah seorang di antara kita menjadi mayat!" Setelah berkata demikian Lili lalu membalikkan tubuhnya, dan sambil menahan rasa nyeri dia pun melarikan diri meninggalkan gedung keluarga Bhok.

Bhok-ciangkun tidak mengejar, kemudian dia menjatuhkan diri duduk di atas kursi dengan wajah yang muram sekali. Isterinya masuk dari ruang belakang dan segera menghampiri suaminya. "Apakah yang terjadi? Aku mendengar dari para pelayan bahwa engkau pulang memondong seorang gadis yang terluka dan pingsan."

Bhok Cun Ki menggelengkan kepala. “Tidak ada apa-apa. Dia seorang gadis yang terkena paku beracun dan tadi aku menolongnya."

"Gadis itu sombong sekali ibu," kata Ci Hwa. "Dia ditolong tetapi malah marah-marah dan pergi."
"Siapa sih dia?" tanya Nyonya Bhok Cun Ki yang berwajah cantik dan berwatak lembut itu.

Ci Hwa dan Ci Han memandang kepada ayah mereka, dan Bhok Cun Ki berkata, "Kami tidak mengenalnya. Sudahlah, jangan pikirkan gadis itu lagi." 

Dengan isyarat pandangan matanya Bhok Cun Ki menyuruh kedua orang anaknya pergi. Dua orang muda itu pun segera keluar dari kamar meninggalkan ayah ibu mereka. Ci Hwa mencari Sin Wan di kamarnya, namun pemuda itu tidak berada di sana, juga tidak berada di mana pun dalam gedung itu…..
********************
Untung bagi Lili bahwa malam itu cuaca sangat gelap dan udara yang mendung membuat orang segan keluar rumah. Jalan-jalan amat sunyi sehingga Lili yang bajunya robek pada bagian pundak, hanya ditutupi dengan sapu tangan lebar dan tangan kanan, tidak menarik perhatian banyak orang. Juga ketika dia memasuki rumah penginapan besar melalui pintu samping, para penjaga tidak begitu memperhatikannya sehingga dengan aman dia dapat memasuki kamarnya di rumah penginapan terbesar di kota raja itu.

Setibanya di dalam kamar, Lili tidak menahan-nahan lagi rasa nyeri di pundaknya dan dia pun merintih kesakitan. Kemudian dia menyalakan lampu penerangan, ditambah beberapa batang lilin, dan memeriksa luka di pundaknya di depan sebuah cermin.

Hemm, luka beracun, pikirnya. Sebagai murid See-thian Coa-ong yang tentu mempelajari penggunaan berbagai macam racun, terutama racun ular dan binatang berbisa lainnya, ia segera mengetahui bahwa luka di pundaknya itu mengandung racun bunga yang cukup berbahaya. Untung bahwa racun itu tidak menjalar ke dalam, juga sebagian besar racun telah disedot oleh koyok yang dipasangkan Bhok Cun Ki dan yang tadi dibuangnya.

Selagi dia hendak mengobati lukanya dengan obat yang berada dalam bekalnya, tiba-tiba saja terdengar suara di luar daun jendela kamarnya. "Lili, bukalah jendela ini, biarkan aku masuk. Aku ingin bicara denganmu."

Tangan kanan Lili segera meraba gagang pedangnya dan matanya terbelalak. Suaranya terdengar agak gemetar, bukan karena takut melainkan karena tegang ketika ia bertanya, "Siapa...? Siapa di luar jendela itu?"

"Aku yang berada di sini, Lili. Aku Sin Wan...”
"Sin Wan...?" Wajah itu berubah menjadi berseri, pandang mata yang tadinya berharap-harap cemas itu menjadi bersinar-sinar dan dengan tangan kanan yang agak menggigil Lili lalu membuka daun jendela yang lebar itu. Sesosok bayangan berkelebat masuk melalui jendela ke dalam kamar dan Sin Wan menutupkan kembali daun jendela itu.
"Sin Wan...! Akhirnya kita jumpa juga... aihh, alangkah rinduku kepadamu..." Lili berseru perlahan dan dia pun merangkul leher pemuda itu dengan lengan kanannya karena lengan kirinya akan membuat pundaknya nyeri sekali kalau dia gerakkan.
Sin Wan terkejut. Tak disangkanya dia akan disambut begini mesra dan penuh suka cita, juga penuh keharuan oleh gadis liar ini. Akan tetapi dia pun teringat akan pertemuannya dahulu dengan Lili.

Gadis ini pernah dengan terus terang mengaku cinta kepadanya, akan tetapi juga benci. Bahkan ketika Kui Siang meninggalkannya, Lili muncul lagi dan mengajaknya untuk hidup bersamanya. Dan sekarang, melihat sikapnya, tahulah dia bahwa gadis liar ini tak pernah melupakannya dan masih mencintanya.

Untuk sejenak Sin Wan membiarkan Lili melepas kerinduannya dengan merangkul sambil menyandarkan muka pada dadanya. Kemudian perlahan-lahan dia melepaskan rangkulan gadis itu dan berkata, "Lili, aku datang untuk bicara denganmu."

Lili melepaskan diri dan kini dia menatap wajah pemuda itu dengan sinar mata bercahaya dan sepasang pipi kemerahan. Wajahnya berubah menjadi segar dan berseri walau pun pundaknya masih terasa nyeri. Sin Wan kini baru melihat bahwa pundak kiri gadis itu tidak tertutup baju dan ada luka kehitaman di situ.

"Ahh, engkau terluka? Luka beracun pula itu, Lili. Mari kubantu engkau mengobatinya."

Lili tersenyum dan senyumnya masih semanis dahulu. "Aku tahu engkau memang baik sekali kepadaku, Sin Wan. Tak pernah kulupakan betapa engkau dahulu juga menolongku dan mengobati luka keracunan di punggung dan pundakku."

Sin Wan memeriksa luka itu. Memang hanya luka kecil saja, bekas tusukan paku. Akan tetapi racun yang dibawa paku itu kini jauh lebih hebat dan berbahaya.

"Aku membawa bekal obat penawar racun, Sin Wan. Biar kuambil dari buntalan itu."
"Nanti dulu Lili. Kulihat racun dalarn lukamu ini amat berbahaya. Semua sisa racun harus dikeluarkan dulu, baru diberi obat agar engkau tidak terancam bahaya yang mungkin akan timbul kelak karena pengaruh sisa racun," kata Sin Wan. "Engkau duduklah bersila di atas pembaringan itu.”

Bagaikan seorang anak yang amat penurut, dengan senyum penuh kegembiraan, Lili lalu duduk di atas pembaringan dan bersila. Sin Wan juga duduk bersila di belakangnya dan pemuda ini lalu menempelkan tangan kirinya pada punggung bawah pundak kiri gadis itu, mengerahkan tenaga sakti dan menyalurkannya melalui lengan kirinya.

Dari mendiang Pek-mau-sian (Dewa Rambut Putih), salah seorang di antara Tiga Dewa gurunya, Sin Wan telah mewarisi ilmu pengobatan dan di dalam ilmu Sam-sian Sin-ciang (Tangan Sakti Tiga Dewa) terdapat penggunaan sinkang menyedot yang amat kuat. Kini dia mengerahkan tenaga itu untuk menyedot keluar hawa beracun yang masih tersisa di sekitar pundak kiri.

Lili merasakan getaran hawa yang kuat dan hangat memasuki pundaknya lewat telapak tangan Sin Wan. Dia tersenyum, lantas memejamkan kedua matanya dan merasa suatu kebahagiaan yang sangat dia rindukan menyelinap di dalam hatinya. Semenjak dahulu dia kagum sekali kepada pemuda ini, sejak masih kanak-kanak.

Ketika mereka masih kanak-kanak pun mereka pernah bertemu dan berkelahi. Suci-nya, Cu Sui In yang ketika itu masih menjadi gurunya, sedang bertanding melawan Sam-sian, dan dia bertanding melawan Sin Wan. 

Akan tetapi dia kalah dan Sin Wan menangkapnya, menelungkupkannya pada pangkuan Sin Wan lalu anak laki-laki itu menghukumnya dengan tamparan pada pinggulnya sampai sepuluh kali! Teringat akan semua itu, timbul kemesraan yang mendalam di hati Lili.

Teringat pula dia pada waktu mereka sudah dewasa dan bertemu kembali, Sin Wan juga menolongnya seperti ini, bahkan pemuda itu mempergunakan mulutnya untuk menghisap luka-luka di punggungnya dan pundaknya untuk mengeluarkan racun, dan betapa selama setengah hari dia tertidur di dalam rangkulan Sin Wan, bersandar pada dadanya. Betapa mesranya! 

Kemudian dia ingat betapa dia pernah membalas hukuman tamparan pada pinggulnya itu dengan penuh kemarahan, karena kekalahannya pada waktu dia masih kecil itu memang tidak pernah dapat dia lupakan. Dia menangkap Sin Wan, menyiksanya, lalu mengikatnya di hutan sehingga pemuda itu nyaris diterkam harimau. 

Akan tetapi dia mencintanya! Dia mencinta Sin Wan maka dia tidak membiarkan pemuda itu mati diterkam harimau. Dia menyelamatkannya dan membebaskannya. Dan sekarang pemuda yang dahulu pernah disiksanya dan hampir dibunuhnya itu kembali menolongnya, mengobati dan mengusir racun keluar dari lukanya.

Sebenarnya dia sendiri mampu menyembuhkan luka itu. Akan tetapi dia membiarkan Sin Wan yang mengobatinya dan dia merasa betapa kemesraan menyusup di hatinya.

Tidak lama kemudian luka di pundak itu mengeluarkan cairan menghitam. Sin Wan terus mendorong dengan getaran hawa saktinya sampai semua cairan menghitam habis keluar. Setelah yang keluar darah merah, barulah dia menghentikan pengerahan sinkang-nya dan dia menaruh obat bubuk putih milik Lili, ditaburkannya pada luka itu. Obat bubuk putih itu manjur bukan main karena seketika luka kecil itu tertutup dan kering. Tidak perlu dibalut lagi.

"Sekarang bahaya yang mengancam sudah lewat," kata Sin Wan sambil meloncat turun dari atas pembaringan.

Lili juga turun dan dia mengeluarkan sehelai baju baru, lalu menyelinap masuk ke dalam kamar mandi yang terdapat di kamar besar itu. Tak lama kemudian Sin Wan melihat gadis itu keluar, bukan saja telah mengenakan pakaian bersih, bahkan jelas bahwa dia sempat mempergunakan kesempatan itu untuk membereskan gelung rambutnya serta menambah bedak pada wajahnya yang cantik!

Lili tersenyum kepadanya. "Duduklah, Sin Wan, sekarang mari kita bicara. Bagaimana engkau tahu aku berada di sini dan apa yang akan kau bicarakan dengan aku?"

"Lili, aku melihat engkau bertanding dengan Bhok-ciangkun di puncak bukit Bambu Naga tadi." 
"Ehh?!" Lili terkejut dan mengamati wajah pemuda itu penuh selidik. "Dan engkau melihat siapa yang telah menyerang dengan paku beracun itu?"

Sin Wan menggeleng kepala. "Sudah kucoba untuk mengejar, akan tetapi tidak berhasil. Aku tidak tahu siapa yang melakukan kecurangan itu."

"Siapa lagi kalau bukan kawan Bhok Cun Ki sendiri yang hendak berlaku curang?"
"Jangan engkau menuduh seperti itu, Lili. Aku amat mengenal siapa Bhok Cun Ki itu dan dia adalah seorang gagah yang tidak akan sudi berbuat curang."
"Huh, kau tidak tahu. Dia adalah seorang yang palsu, perayu dan... sudahlah, untuk apa kita membicarakan dia? Tentu engkau datang mengunjungiku untuk bicara tentang kita, bukan? Apakah engkau telah bersedia untuk bertualang berdua denganku, Sin Wan? Aku selalu merindukanmu. Aku akan merasa bahagia sekali kalau engkau dapat selalu berada di sampingiku."

Sin Wan menarik napas panjang. Dia merasa iba sekali kepada Lili. Seorang gadis yang sebetulnya memiliki dasar watak yang baik dan gagah. Sayang, karena lingkungan maka dia menjadi seorang gadis kang-ouw yang ganas dan seperti liar tak terkendali.

Dia pun tahu bahwa di dalam lubuk hatinya dia merasa sayang dan kagum kepada gadis ini. Oleh karena itulah maka dia mencari Lili, untuk menyadarkannya agar gadis itu tidak melanjutkan niatnya memusuhi dan mengadu nyawa dengan Bhok Cun Ki.

"Lili, aku suka dan kagum kepadamu. Aku tahu bahwa engkau seorang gadis yang gagah perkasa dan baik hati. Akan tetapi aku masih terikat oleh banyak tugas penting sehingga belum sempat mengunjungimu. Malam ini aku sengaja mencarimu justru untuk berbicara tentang Bhok-ciangkun."

Lili mengerutkan alisnya. Sepasang matanya yang indah itu mengerling tajam dan cuping hidungnya agak kembang kempis menunjukkan bahwa hatinya terasa tegang.

"Hemm, apa lagi yang dapat dibicarakan mengenai laki-laki itu?" katanya dengan suara ketus.
"Lili, aku sungguh-sungguh berharap agar engkau menghentikan permusuhanmu dengan dia. Hentikanlah memusuhinya karena dia bukanlah laki-laki seperti yang kau sangka. Dia seorang pendekar dan panglima yang bijaksana dan baik budi. Engkau keliru sekali kalau memusuhinya, apa lagi berniat hendak membunuhnya."

Makin dalam kerutan di antara alis mata gadis itu. "Sin Wan, apamu sih Bhok Cun Ki itu maka engkau hendak melindunginya sedemikian rupa?"

"Bukan apa-apa, hanya kenalan saja."
"Kalau begitu engkau belum mengenal benar siapa dia! Terus terang saja, aku hendak membunuhnya karena melaksanakan perintah dari suci-ku, untuk membalaskan dendam sakit hati suci. Engkau tidak tahu apa yang pernah dilakukannya terhadap suci. Dia telah menghancurkan kebahagiaan hidup suci-ku, tahu?"

"Aku tahu, aku telah mendengarnya dan aku dapat mengerti dan menduga apa yang telah terjadi. Akan tetapi dia bukan seorang laki-laki yang sengaja hendak merusak kehidupan suci-mu. Aku tahu bahwa mereka tadinya saling mencinta dan sudah berjanji akan hidup bersama sebagai suami isteri. Tapi kemudian Bhok Cun Ki mendengar bahwa kekasihnya adalah seorang tokoh sesat, oleh karena itu sebagai seorang pendekar dia merasa tidak berjodoh dan tidak mungkin menjadi suami isteri dengan suci-mu. Jadi dia memisahkan diri bukan karena bosan atau tidak mencinta lagi. Aku yakin dia masih mencinta suci-mu dan hanya karena keadaan maka dia terpaksa meninggalkannya."

"Hemm, memang enak saja engkau memiliki pendapat seperti itu, Sin Wan. Engkau tidak merasakan penderitaan yang dialami suci selama bertahun-tahun, bahkan engkau tidak pernah melihat dia menderita. Akan tetapi sejak masih kecil aku sudah hidup di dekat suci yang dahulu menjadi guruku. Setiap hari aku melihat keadaannya, kedukaannya dan penderitaan batinnya. Dia bahkan tak mau lagi berdekatan dengan pria, apa lagi menikah. Padahal dia adalah seorang wanita yang cantik, pandai dan memiliki segalanya. Maka sudah sepatutnya kalau dia mendendam kepada Bhok Cun Ki dan mengutus aku untuk membunuh laki-laki yang jahat itu!"

"Lili, engkau hanya diracuni dendam yang dikandung suci-mu. Bhok Cun Ki sama sekali bukan orang jahat dan hal itu sudah terbukti jelas ketika dia bertanding denganmu. Kalau dia jahat, tentu engkau akan dianggap musuhnya yang berbahaya karena engkau hendak membunuhnya. Akan tetapi, seperti yang telah kulihat, dalam pertandingan itu dia selalu mengalah, bahkan ketika engkau terluka oleh senjata rahasia gelap itu, dia membawamu pulang dan berusaha mengobatinya. Kalau dia jahat, tentu dia mendapatkan kesempatan yang amat baik untuk membunuhmu, bukan malah menolongmu. Kenyataan itu saja telah membuktikan bahwa Bhok Cun Ki adalah seorang pendekar."

Lili tersenyum mengejek, hatinya merasa tidak senang melihat sikap dan mendengar kata-kata Sin Wan yang memuji-muji musuh besarnya.

"Boleh jadi Bhok Cun Ki seorang pendekar, akan tetapi di dalam pandanganku dia adalah seorang yang sudah melakukan perbuatan jahat sekali terhadap suci. Sudah sepatutnya kalau suci menaruh dendam, dan karena suci sudah mewakilkannya kepadaku, maka aku harus berusaha membunuhnya!"
"Tapi dia bukan lawanmu, Lili. Dia masih terlalu lihai bagimu dan engkau akan kalah."
"Aku tidak takut! Aku akan mengadu nyawa dengannya. Dia atau aku harus mati dalam pertandingan kami nanti!" kata Lili dengan suara yang tegas dan nekat.

Sin Wan mengerutkan alisnya. Sedikit banyak dia sudah mengenal watak gadis yang liar dan ganas ini. Lili bukan sekedar menggertak, akan tetapi semua ucapannya itu akan dia lakukan. Diam diam dia merasa khawatir bukan main. Dia tidak menghendaki Bhok Cun Ki terbunuh oleh gadis liar ini, akan tetapi dia juga tidak ingin melihat Lili tewas.....

"Lili, kenapa engkau demikian keras kepala dan bodoh? Bagaimana engkau akan mampu menandinginya tanpa memperdalam silatmu,? Engkau telah kalah dan kalau hanya nekat maju lagi lantas kalah lagi, bukankah hal itu sangat memalukan? Sungguh tidak tahu malu kalau setelah berulang-ulang dikalahkan, masih nekat maju lagi dan dikalahkan lagi."

Akal Sin Wan memanaskan hati gadis itu berhasil. Sepasang pipi itu menjadi kemerahan dan sinar mata itu mencorong marah. "Kalau aku melawannya lagi, aku tak akan berhenti sebelum dia atau aku yang menggeletak mati menjadi mayat. Salah satu antara dia atau aku harus mati!"

"Hemmm, itu namanya konyol! Kalau kita sudah tahu tidak akan menang dan akan mati tetapi kita tetap nekat, itu berarti suatu kebodohan dan kematian ini adalah kematian yang konyol dan tiada artinya sama sekali. Lili, ingatlah, kalau engkau mati dalam pertandingan itu, lalu apa artinya? Engkau mati konyol tetapi tetap saja dendam suci-mu tidak terbalas. Kematianmu itu hanya akan menambah kedukaan suci-mu saja, juga kekecewaan bahwa engkau yang dipercaya ternyata tidak mampu melaksanakan tugas dengan baik."

Mendengar ucapan ini Lili termenung, menundukkan mukanya dan alisnya berkerut tanda bahwa dia berpikir. Lalu dia mengangkat mukanya memandang kepada Sin Wan.

"Sin Wan, jika bukan engkau yang bicara tadi, tentu aku telah membunuh pembicaranya. Akan tetapi kupikir engkau benar juga dan sekarang aku menjadi bingung. Kalau menurut pendapatmu, lalu apa yang harus kulakukan?"

Agak lega rasa hati Sin Wan melihat perubahan sikap gadis itu. "Lili, urusan antara Bhok Cun Ki dan suci-mu itu adalah urusan yang amat pribadi, maka sebaiknya kalau suci-mu sendiri yang maju membuat perhitungan dengan Bhok Cun Ki. Kalau begini keadaannya, maka orang luar tak berhak mencampuri, siapa pun dia! Lagi pula suci-mu tentu memiliki kepandaian yang lebih tinggi darimu, maka kiranya dialah yang akan mampu menandingi Bhok Cun Ki. Andai kata engkau yang tetap diutus olehnya untuk mewakilinya, sebelum engkau menantang Bhok Cun Ki, sebaiknya kalau engkau lebih dulu memperdalam ilmu kepandaianmu agar jangan mati konyol begitu saja. Nah, bukankah usulku ini sehat dan dapat diterima? Dalam hal pertandingan mengadu ilmu dan mungkin mengadu nyawa, kita tidak boleh terdorong oleh hati panas. Hati boleh panas, akan tetapi kepala harus tetap dingin agar engkau dapat memikirkan siasat yang baik."

Lili mengangguk-angguk. "Agaknya engkau benar, Sin Wan. Meski aku tidak takut mati, akan tetapi tentu saja tidak benar kalau aku nekat sehingga kematianku tidak ada artinya. Baiklah, ucapanmu telah menyadarkan aku akan kebodohanku, karena itu aku tidak akan menantang Bhok Cun Ki sebelum aku memperdalam ilmu-ilmuku. Aku bersedia menuruti permintaanmu, Sin Wan. Tetapi sebaliknya engkau pun harus menuruti permintaanku."

"Permintaan apakah itu?"
"Pertama, engkau tak boleh mencampiri urusan antara suci dengan Bhok Cun Ki, jangan melindungi Bhok Cun Ki...”
"Tentu saja aku tidak akan mencampuri. Sudah kukatakan, urusan itu sangat pribadi dan Bhok-ciangkun sendiri pun tidak mau dicampuri orang lain. Engkau melihat sendiri, ketika dia memenuhi tantanganmu, tidak ada seorang pun bersama dia. Aku sendiri hanya dapat mengintai dengan sembunyi dan di luar tahunya."

"Bagus, dan kini permintaan ke dua. Kalau memang benar engkau tidak berpihak kepada Bhok Cun Ki, marilah engkau menemani aku bertualang di dunia persilatan. Engkau harus membimbingku agar aku dapat memperdalam ilmu silatku. Sin Wan, sejak dulu aku cinta padamu dan hidupku akan berbahagia sepenuhnya kalau engkau mau mendampingi aku selamanya."

Sin Wan terkejut. Gadis ini sungguh terbuka dan jujur bukan main. Kiranya sukar mencari seorang gadis yang begini berterus terang mengatakan isi hatinya. Ucapan itu tentu saja membuat dia merasa kikuk dan mukanya menjadi kemerahan.

"Aihh, Lili, kenapa engkau kembali berbicara soal itu? Sudah kukatakan bahwa aku masih memiliki banyak tugas yang harus kuselesaikan, dan aku sama sekali belum memikirkan perjodohan.”
"Sin Wan, bukankah itu hanya alasan saja? Kalau memang engkau tidak suka kepadaku, katakan saja terus terang agar aku tidak selalu mengharapkanmu!"
"Aku kagum dan suka padamu, Lili. Akan tetapi untuk berjodoh diperlukan perasaan yang lebih mendalam, lebih dari pada hanya kagum dan suka. Dan aku belum memikirkan hal itu, aku masih terikat oleh banyak kewajiban. Bukankah engkau sendiri pun masih terikat oleh tugas-tugasmu?"
"Aku siap untuk meninggalkan suhu dan suci apa bila engkau mau hidup bersamaku, Sin Wan."

Sin Wan menggelengkan kepalanya. "Lili, kelahiran, perjodohan dan kematian berada di tangan Tuhan. Kalau kita memaksakannya maka hal itu akan tidak baik akibatnya. Kalau memang kita berjodoh, kelak tentu Tuhan akan mempertemukan kita.”

Gadis itu tiba-tiba bangkit berdiri, matanya bersinar-sinar marah. "Bagus, kiranya engkau hanya bermain mulut saja! Kalau memang tidak mau, katakan saja tidak mau! Aku tahu, engkau berpihak kepada Bhok Cun Ki, dan siapa tahu, engkau mungkin sudah jatuh cinta kepada puterinya yang cantik itu. Hemm, tentu saja engkau akan terjamin kalau menjadi mantu seorang panglima!"

"Lili, aku tidak...”
"Cukup! Engkau memualkan perutku. Pergi! Pergilah dari sini dan jangan memperlihatkan mukamu lagi!" Gadis itu menunjuk ke jendela, mengusirnya. 

Sin Wan menarik napas panjang, tidak merasa terhina oleh pengusiran itu sebab dia telah mengenal watak Lili yang keras dan agak aneh. Tanpa banyak cakap lagi dia pun segera menghampiri jendela, membuka daun jendela kemudian melompat keluar dengan gerakan ringan tanpa menimbulkan suara.

Lili berdiri termenung memandang jendela yang kosong, dan tanpa disadarinya dua titik air mata keluar dari pelupuk matanya, jatuh ke atas sepasang pipinya…..

********************
Selanjutnya baca
ASMARA SI PEDANG TUMPUL : JILID-07
LihatTutupKomentar