Asmara Si Pedang Tumpul Jilid 04


Bayangan merah muda itu meluncur cepat menuruni lembah gunung sebelah timur. Baru sesudah dia berhenti di tepi padang rumput kehijauan, nampak jelas bahwa dia seorang gadis yang mengenakan pakaian serba merah muda. Seorang gadis yang cantik manis, dengan wajah yang cerah, sepasang mata yang berkilat tajam, mulut yang mungil terhias senyum mengejek dan mulut itu dihias lesung pipi yang manis sekali.

Dia mengagumi pemandangan alam yang indah di pagi itu, menghirup udara yang sejuk hangat hingga cuping hidungnya yang tipis nampak kembang kempis. Tubuhnya ramping padat dengan lekuk liku sempurna karena dia adalah seorang gadis muda usia. 

Sebenarnya usianya telah dua puluh dua tahun, akan tetapi takkan ada orang menyangka begitu, tentu dia akan disangka berusia paling banyak delapan belas tahun. Begitu segar berseri, anggun bagaikan setangkai bunga yang baru merekah dihembus semilirnya angin gunung, bermandi embun dan sinar matahari pagi.

Pakaiannya ringkas, tetapi pakaian warna merah muda itu terbuat dari sutera yang mahal. Tubuhnya terbungkus ketat sehingga tonjolan dan lekukannya kelihatan jelas. Rambut di kepalanya digelung ke atas, kemudian diikat dengan pita berwarna hijau dan kuning, tusuk sanggulnya terbuat dari emas berbentuk burung merak yang indah. Kakinya yang kecil memakai sepatu dari kulit hitam mengkilap. Pada punggungnya terdapat buntalan pakaian dan sebatang pedang melintang di bawahnya dengan gagang di belakang pundak kanan.

Gadis itu adalah Tang Bwe Li atau yang biasa disebut Lili. Setelah menerima tugas dari suci-nya, ia meninggalkan Bukit Ular tempat tinggal suhu-nya, See-thian Coa-ong Cu Kiat, dan hatinya merasa riang gembira. Tidak saja dia merasa laksana seekor burung bebas lepas di angkasa, dapat melakukan apa saja sekehendak hatinya tanpa harus mentaati perintah siapa pun, menjadi majikan dirinya sendiri, tetapi juga dia merasa dirinya penting sekali. 

Suci-nya yang lihai dan yang semula malah menjadi gurunya itu, yang sudah merawat dan mendidiknya sejak dia masih kecil, suci-nya yang amat dihormati dan disayangnya, begitu percaya padanya untuk mewakili membalas dendam kepada seorang pria yang dianggap sudah menghancurkan kehidupan suci-nya! Dia akan menunaikan tugas itu dengan baik. Dia harus dapat melaksanakan balas dendam itu, demi suci-nya dia rela mempertaruhkan nyawanya.

Tidak aneh bila Lili merasa bebas dan gembira. Gadis ini penuh kepercayaan kepada diri sendiri dan pada saat itu dia memang merupakan seorang gadis yang telah memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dahulu, ketika dia belum digembleng langsung oleh See-thian Coa-ong sendiri yang ketika itu adalah kakek gurunya, dia sudah merupakan seorang gadis yang sukar dicari bandingnya dalam ilmu silat.

Apa lagi sekarang, setelah menerima gemblengan datuk itu, ilmu kepandaiannya sudah meningkat dengan cepatnya sehingga kini tingkatnya hampir sejajar dengan Bi-coa Sianli Cu Sui In, bekas gurunya yang kini menjadi suci-nya. Dengan ilmu kepandaian sehebat itu tentu saja Lili merasa kuat dan penuh kepercayaan pada diri sendiri, apa lagi memang pada dasarnya dia seorang gadis yang pemberani bahkan tidak mengenal artinya takut.

Sudah belasan hari dia meninggalkan Bukit Ular dan selama itu dia telah melewati banyak gunung, padang rumput, gurun dan lembah yang sangat sukar dilalui. Juga dia banyak melewati perkampungan bermacam suku bangsa, namun tidak pernah ada gangguan.

Pagi hari ini dengan gembira dia menuruni bukit menuju ke sebuah dusun yang tadi sudah dilihatnya dari puncak bukit itu. Perutnya terasa lapar pagi itu, dan perjalanan semenjak matahari terbit tadi menambah rasa laparnya. Di dusun bawah sana tentu dia akan dapat membeli sesuatu untuk sarapan.

Bekal makanan yang masih ada dalam buntalan di punggungnya hanya roti kering dan daging asin, untuk minum hanya ada air putih. Dia ingin sarapan makanan yang hangat seperti bubur, dan ingin minum air teh panas-panas.

Ketika dia menuruni lembah terakhir dan tiba di sebuah tikungan, dia mendengar suara banyak orang dan melihat bahwa di depan sana terdapat banyak orang sedang mengaso, duduk di bawah pohon-pohon dan batu-batu besar. Banyak di antara mereka berada di balik pohon dan rumpun semak belukar, karena itu dia tidak dapat melihat jelas berapa banyaknya orang yang berada di sana dan sedang apa mereka itu. Akan tetapi tiba-tiba dua orang laki-laki sudah meloncat dan berdiri di depannya.

Lili memperhatikan mereka. Dua orang ini bertubuh tinggi besar dan memakai topi bulu putih. Mereka terlihat kokoh kuat, dan keduanya memandang kepadanya seperti dua ekor srigala kelaparan melihat seekor kelinci gemuk. Mata mereka seperti hendak menelannya bulat-bulat, bahkan salah seorang di antara mereka, yang kumisnya panjang menjuntai ke bawah, terang-terangan menjulurkan lidah dan menjilati bibir sendiri seperti seekor anjing yang mengilar melihat sepotong tulang.

Orang ke dua, yang mukanya bopeng karena penyakit cacar, menyeringai dan nampak giginya yang besar-besar dan hitam. Agaknya orang ini pecandu rokok yang berat atau pengunyah tembakau.

Lili adalah seorang gadis cantik yang usianya dua puluh dua tahun. Dia sudah sering kali melakukan perjalanan dan mengalami banyak gangguan dari para lelaki mata keranjang. Sekilas pandang saja dara ini sudah tahu bahwa dia berhadapan dengan dua orang pria yang kurang ajar.

“Hemmm, kalian pringas-pringis seperti monyet, mau apa?" Lili bertanya, dan senyumnya tambah mengejek.
"Heh-heh, aku mau mencium kamu!" kata si kumis bergantung.
''Ha-ha-ha, dan aku mau memeluk kamu!" kata si muka bopeng.

Mulut itu masih tersenyum, mata itu masih bersinar-sinar, akan tetapi cuping hidung tipis itu kembang kempis. Dua orang itu menyangka bahwa gadis manis di hadapan mereka menyambut dengan gembira, tidak tahu bahwa kalau cuping hidungnya sudah kembang kempis, itu tandanya Lili mulai marah.

"Benarkah kalian hendak memeluk dan mencium?" tanya Lili suaranya masih ramah.
"Heh-heh, mari beri aku sebuah ciuman manis, sayang!" kata si kumis.
"Mari rebah dalam pelukanku yang hangat, manis!" kata si bopeng.

Tiba-tiba tubuh Lili bergerak dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti pandangan mata, hanya terdengar dia berkata, "Nah, ciumlah sepatuku ini dan peluklah tanah!" Ucapannya itu disusul gerakan kaki menendang mulut si kumis dan tangan kiri menampar tengkuk si bopeng.

"Dukk! Plakk...!"
Dua orang itu terpelanting. Si kumis terjengkang oleh sambaran kaki, dan mulutnya benar-benar mendapat ciuman sepatu yang keras sehingga bibirnya pecah-pecah berdarah, juga beberapa buah giginya rontok! Sedangkan si bopeng terpelanting dan jatuh menelungkup, memeluk dan mencium tanah dalam keadaan puyeng karena tiba-tiba saja bumi rasanya berputar, dadanya sesak dan sukar bernapas.

"Heiiii...! Gadis liar, apa yang kau lakukan itu?!" terdengar bentakan orang lantas nampak lima orang sudah berlari ke tempat itu. Mereka juga mengenakan topi bulu yang berwarna putih dan melihat dua orang rekan mereka roboh dan mengaduh-aduh, apa lagi melihat si kumis megap-megap dengan mulut remuk berdarah, mereka marah sekali.
"Kalian ingin seperti mereka?" Lili bertanya dengan sikap mengejek dan suaranya masih ramah dan lembut. Dia memang memiliki suara yang basah seperti orang berbisik mesra.

Tentu saja kelima orang itu menjadi marah sekali. "Gadis liar dan sombong, engkau patut dihajar!" teriak seorang di antara mereka dan mereka pun langsung menerjang ke depan dengan maksud untuk menangkap gadis yang telah merobohkan dan melukai dua orang rekan mereka itu.

Akan tetapi mereka disambut kilat yang menyambar-nyambar! Seperti kilat saja tubuh Lili bergerak, kedua tangan dan kakinya berkelebatan dan lima orang itu pun terpelanting satu demi satu, merintih kesakitan, ada yang mulutnya penyok, ada yang tulang pundaknya patah, ada yang perutnya mulas dicium sepatu, ada yang berjingkrak karena tulang kering kakinya retak. Dalam segebrakan saja Lili telah membuat lima orang lelaki yang bertubuh kuat itu tidak berdaya melanjutkan serangan mereka!

Setelah lima orang itu roboh, Lili mendapatkan dirinya dikepung oleh sedikitnya dua belas orang laki-laki dan mereka semua memegang senjata, ada pedang, golok atau ruyung! Lili bersikap tenang, mulutnya masih tersenyum mengejek dan matanya mengerling ke kanan kiri.

"Hemm, mereka tadi hanya layak dihajar, akan tetapi kalian ini memegang senjata tajam, apakah kalian sudah bosan hidup?" suaranya terdengar merdu dan ramah, sama sekali tidak membayangkan kemarahan. Lili memang tidak marah karena ia memandang rendah semua pengepungnya itu.

Yang marah dan penasaran adalah belasan orang yang mengepungnya. Gadis itu sudah merobohkan tujuh orang rekan mereka dan kini dalam keadaan terkepung bahkan masih dapat mengeluarkan kata-kata yang memandang rendah sekali terhadap mereka. Betapa pun cantik menariknya gadis itu, perasaan marah membuat mereka merasa gatal tangan untuk membunuhnya. Maka mereka mulai membuat gerakan mengelilingi dara itu dengan senjata di tangan.

Lili masih tersenyum. Ia berdiri tegak dan tenang seperti sikap seekor ular yang melingkar di tengah-tengah, dikepung dan dikelilingi oleh belasan ekor tikus yang mencoba hendak mengganggunya.

"Hemm, tikus-tikus ini memang sudah bosan hidup," kata Lili seperti kepada diri sendiri.
"Tahan!" tiba-tiba terdengar seruan.

Belasan orang itu dapat mengenali suara komandan mereka, maka mereka semua cepat menahan senjata dan mundur, membiarkan dua orang laki-laki berusia lima puluhan tahun maju menghadapi Lili.

Dua laki-laki itu juga memakai topi bulu putih, akan tetapi melihat pakaian mereka yang lebih mewah dan sikap mereka yang berwibawa, nampak jelas perbedaannya dan mereka tentu merupakan pimpinan, pikir Lili. Juga mereka tidak bersikap sombong seperti para anak buah mereka tadi.

Keduanya bertubuh tinggi besar, yang seorang berwajah bersih tanpa jenggot dan kumis, akan tetapi orang kedua bercambang bauk dengan kumis dan jenggot lebat. Di pinggang mereka tergantung pedang, dan sikap mereka sama menunjukkan bahwa mereka berdua adalah orang-orang yang ‘berisi’, bukan kaleng-kaleng kosong macam yang mengeroyok Lili tadi.

"Nona, siapakah nona dan mengapa nona menganiaya tujuh orang anak buah kami?" tanya yang bermuka bersih.

Lili tersenyum mengejek. "Siapa aku tak perlu kalian ketahui, dan kenapa aku menghajar anak buah kalian? Karena merekalah yang minta dihajar, bukan aku yang sengaja ingin menghajar."

"Tidak mungkin!" bentak yang berewok karena jawaban gadis itu dianggapnya tak masuk di akal. “Mana ada orang minta dihajar?"
"Hemm, kalau tidak percaya, tanya saja kepada mereka," kata pula Lili sambil menunjuk ke arah tujuh orang yang masih nampak kesakitan itu.

Mendengar ucapan Lili itu, tentu saja dua orang pemimpin itu menoleh ke arah tubuh anak buah mereka yang tadi kena dihajar. Sambil meringis kesakitan mereka menggelengkan kepala dan salah seorang di antara mereka, yang tulang keringnya retak, menudingkan telunjuknya ke arah Lili dan berseru,

"Toako (kakak tertua), Ji-ko (kakak ke dua), gadis itu sombong dan jahat sekali. Tolong balaskan penghinaan atas diri kami!"

Si berewok kini menghampiri Lili dan membentak, "Nona, engkau masih muda akan tetapi sudah bersikap sombong dan kejam. Sungguh engkau terlalu mengandalkan kepandaian sendiri!"

Lili tersenyum sambil matanya mengerling tajam. "Orang hutan, kalau begitu engkau mau apa?" tantangnya.

"Bocah sombong, engkau memang patut dihajar!" bentak si berewok sambil menyerang dengan tangannya yang besar, panjang dan kuat. Temannya, si muka bersih juga sudah siap untuk menyerang.

Pukulan tangan yang besar dan kuat itu cukup berbahaya, mendatangkan angin pukulan yang amat kuat. Lili maklum akan hal ini, namun dia tetap memandang rendah. Orang itu hanya memiliki tenaga otot yang kuat, tidak terlalu berbahaya baginya. Dengan gerakan ringan sekali, dia pun menggeser tubuh ke kiri, pinggangnya meliuk seperti tubuh ular saja dan pukulan si berewok yang amat kuat itu pun luput. 

Dari sebelah kirinya datang angin pukulan yang menyambar dahsyat. Ah, kiranya si muka bersih itu malah lebih kuat dari pada si berewok, pikir Lili dan kembali tubuhnya membuat gerakan meliuk dan pukulan itu pun luput.

Dua orang itu terkejut sekali. Mereka melihat gerakan tubuh gadis itu sangat aneh, tidak seperti orang bersilat melainkan lebih mirip gerakan seekor ular kalau mengelak, tubuhnya begitu lentur dan dengan mudah saja menghindarkan semua pukulan mereka. Tentu saja keduanya merasa penasaran bukan main dan menyerang lebih gencar.

Kini Lili memperlihatkan kepandaiannya. Memang dia sudah mewarisi ilmu silat dari See-thian Coa-ong (Raja Ular Dunia Barat) yang mempunyai ilmu silat aneh, ilmu silat yang mengandung gerakan ular. Tubuh Lili meliuk-liuk dengan cepatnya ketika menghindarkan semua serangan dan begitu dia membalas, kedua orang lawan itu pun terkejut dan cepat menghindar dengan loncatan seperti orang dipagut ular.

Kedua tangan gadis itu membentuk kepala ular dengan jari-jari disatukan. Ketika tangan itu meluncur dan menyerang, maka terdengar suara mendesis, seolah-olah kedua tangan itu benar-benar telah berubah menjadi dua ekor ular berbisa yang ganas!

Akan tetapi kedua orang itu tidak boleh disamakan dengan tujuh orang yang tadi sudah dikalahkan Lili. Kalau hanya seperti mereka, meski dia dikeroyok puluhan orang, dia tidak perlu bekerja keras untuk merobohkan mereka. Dua orang pengeroyoknya ini lain. Mereka ternyata adalah dua orang yang tangguh, memiliki gerakan silat yang baik, bertenaga dan mantap.

Jika Lili memang mau menurunkan tangan maut, kiranya tak akan terlalu lama dia dapat merobohkan mereka. Akan tetapi dia tidak ingin membunuh orang tanpa sebab yang kuat. Dia selalu tidak setuju dengan watak gurunya atau suci-nya yang mudah saja membunuh orang.

Di dasar hatinya, Lili bukan seorang yang jahat atau kejam. Dia hanya galak dan ganas karena sejak kecil dia hidup di dekat orang-orang yang biasa mengandalkan kepandaian untuk memaksakan kehendaknya.

Sampai belasan jurus kedua orang setengah tua itu belum juga mampu merobohkan Lili. Jangankan merobohkan, bahkan semua serangan mereka, baik dengan tangan atau pun kaki, tidak pernah mampu menyentuh tubuh gadis itu. 

Sebaliknya Lili yang memang suka bertanding mengadu ilmu itu sengaja mempermainkan mereka. Ia menanti saat baik dan memancing-mancing dengan membiarkan diri di tengah, diapit oleh kedua orang lawan dari kanan kiri. Ketika saat yang dinanti-nantinya tiba, yaitu ketika dua orang itu dengan hampir berbareng memukulnya dengan tangan mereka yang besar dan lengan yang panjang dari kanan agak ke depan, dia tidak bergerak mengelak, melainkan menyambut pukulan mereka itu dengan kedua tangannya. Akan tetapi dia tidak sekedar menangkis. Begitu pergelangan kedua tangannya bertemu dengan pergelangan tangan lawan yang memukulnya, dia meliuk maju, kedua tangannya itu bagaikan seekor ular membelit lengan lawan!

Dua orang lawan itu amat terkejut, berusaha untuk menarik kembali tangan mereka. Akan tetapi, seperti melekat dengan kedua lengan gadis itu yang bukan saja membelit, bahkan tangan dan lengan gadis itu merayap maju cepat sekali bagaikan dua ekor ular dan tahu-tahu kedua tangan yang membentuk kepala ular itu sudah mematuk dada mereka tanpa dapat mereka hindarkan lagi.

"Tukk! Tukk!"

Dua orang itu mengeluh dan roboh terjengkang. Untung bagi mereka bahwa Lili memang tidak berniat membunuh orang, maka dia membatasi tenaganya ketika kedua tangannya yang membentuk kepala ular itu mematuk. 

Dua orang itu tidak tewas, hanya merasa betapa mereka kehilangan tenaga dan dadanya terasa nyeri hingga napas mereka menjadi sesak. Akan tetapi karena mereka pun bukan orang lemah, sebentar saja mereka dapat memulihkan keadaan tubuh mereka. Keduanya berloncatan berdiri dan nampak sinar berkilauan ketika mereka berdua mencabut pedang.

Berkembang kempis cuping hidung Lili, tanda dia telah marah. Jika lawan menyerangnya dengan tangan kosong, dia menganggap mereka itu hanya menguji ilmu, maka dia tidak mau membunuh orang. Akan tetapi kalau lawan sudah mencabut senjata, berarti bahwa lawan menginginkan kematiannya, maka dia menganggap sudah sepantasnya kalau dia pun berusaha membunuhnya!

Dalam keadaan yang sangat menegangkan ini, kedua orang itu dengan pedang di tangan berhadapan dengan Lili yang masih berdiri tenang dengan mulut tersenyum. Akan tetapi tangan kanannya sudah siap untuk mencabut pedang di punggungnya, dan sekali pedang itu tercabut, akan celakalah kedua orang lawan itu. Pedang Pek-coa-kiam (Pedang Ular Putih) jarang dicabut dari sarungnya, akan tetapi biasanya, sekali dicabut tentu akan jatuh korban!

"Tahan senjata!" tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan mendengar bentakan ini, dua orang yang memegang pedang itu cepat menengok kemudian menjatuhkan diri setengah berlutut, menyimpan pedang dan memberi hormat kepada pria yang muncul di situ.
"Kongcu...!" kata mereka dengan sikap merendah sekali.

Melihat ini Lili merasa heran dan dia pun memandang kepada orang yang baru muncul itu penuh perhatian. Ia seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh lima tahun, bertubuh tinggi kokoh namun pembawaannya lembut dan sopan seperti pembawaan seorang bangsawan terpelajar.

Pakaiannya rapi, pakaian seorang sastrawan dan dia pun memakai sebuah topi bulu yang amat indah. Wajahnya tampan dan cerah sehingga dia nampak jauh lebih muda dari pada usianya, wajah yang halus, tidak berkumis atau berjenggot karena agaknya selalu dicukur bersih. Matanya tajam berwibawa dan mata itu jelas menunjukkan kecerdikan. 

Diam-diam Lili merasa heran bagaimana dua orang yang tangguh itu bersikap demikian merendah terhadap seorang kongcu yang nampak lemah. Mereka yang tadi mengepung dirinya, sekarang juga bersikap hormat dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang mencabut senjata lagi.....
Lelaki itu menyapu mereka dengan pandangan matanya, lalu terdengar dia bicara dengan suara lantang namun nadanya lembut. "Apa yang telah terjadi di sini dan mengapa kalian mengepung siocia (nona) ini?"

Karena pertanyaan itu ditujukan kepada dua orang yang tadi mengeroyok Lili, maka dua orang itu saling pandang. Si muka bersih memberi hormat lalu menjawab. "Maaf, kongcu. Kami berdua menyerangnya karena nona ini menghajar dan merobohkan lima orang anak buah kami."

Laki-laki itu mengangguk, lalu menengok ke arah mereka yang masih meringis kesakitan. Kemudian dia menghadapi Lili dan mengangkat kedua tangannya ke depan dada sebagai penghormatan.

"Nona, kalau boleh aku bertanya, mengapa nona menghajar lima orang anak buah kami? Kesalahan apakah yang mereka lakukan terhadap diri nona?"

Melihat sikap yang sopan dari pria itu, Lili juga bersikap baik. Maka sambil tersenyum dia menjawab, "Ah, kiranya mereka itu anak-anak buahmu? Jadi engkau ini majikan mereka? Tanya saja kepada mereka mengapa mereka menyerangku. Karena mereka mengeroyok dan menyerangku maka kurobohkan mereka."

Laki-laki itu mengerutkan sepasang alisnya, kemudian menoleh kepada lima orang yang masih kesakitan itu. "Hei kalian berlima. Benarkah kalian mengeroyok nona ini, dan kalau benar kenapa?" Dalam suaranya yang lembut itu terkandung teguran keras.

Sambil menahan rasa nyeri kelima orang itu menjatuhkan diri berlutut menghadap pria itu dan seorang di antara mereka mewakili teman-teman menjawab, "Maafkan kami, kongcu. Karena melihat nona itu memukul roboh dan melukai dua orang rekan, maka kami berlima turun tangan mengeroyoknya."

Kini lelaki itu kembali menghadapi Lili, sepasang matanya mengamati penuh selidik dan terbayang kekaguman di dalam pandang matanya. Gadis yang begini muda, cantik manis dan nampak lembut, sudah memiliki kepandaian yang demikian tinggi sehingga dua orang pembantunya yang dia tahu cukup lihai, tadi nampaknya tidak berdaya melawan nona ini.

"Nona, agaknya terpaksa aku harus kembali kepada nona, dan bertanya mengapa nona melukai dua orang anak buah kami."

Senyum dibibir Lili melebar. Ia merasa tertarik. Pria ini demikian lembut dan tenang, tetapi dalam menyelidiki urusan dan mengajukan pertanyaan bersikap cukup adil dan tidak berat sebelah, tidak memihak seperti seorang hakim yang jujur.

"Engkau ingin tahu kenapa tadi aku menghajar mereka? Yang seorang ingin menciumku, dan orang ke dua ingin memelukku, maka aku lalu membiarkan yang seorang mencium sepatuku, dan orang ke dua memeluk tanah!"

Wajah pria itu berubah kemerahan dan dengan suara yang meninggi dia lalu menoleh dan berseru. "Siapakah dua orang yang dimaksudkan nona ini? Maju ke sini!"

Dua orang yang tadi mencari gara-gara dengan Lili merangkak maju, berlutut menghadap pria itu. Karena si kumis mulutnya remuk dan dia tidak dapat bicara, maka si bopeng yang mewakili. "Kongcu, ampunkan kami...”
"Jawab, benarkah kalian berdua hendak memeluk dan mencium nona ini? Ceritakan apa yang terjadi?" 
"Ampun, kongcu. Kami berdua melihat nona ini lewat... melihat dia begitu cantik, kami... kami hanya ingin main-main...”
"Cukup! Kalian tahu bahwa satu di antara larangan keras kita adalah mengganggu kaum wanita?" 
"Kami... kami tahu, kongcu."
"Dan kalian tahu apa hukumannya kalau melanggar larangan itu?'

Dua orang itu menjadi ketakutan. Mereka membenturkan dahi di tanah dan merintih minta ampun, akan tetapi karena amat ketakutan, si bopeng masih dapat berkata dengan suara menggigil, "Kami... kami siap menerima hukuman...”

"Bagus! Setidaknya kalian mati sebagai laki-laki yang bertanggung jawab!" kata pria itu dan tiba-tiba saja tubuhnya bergerak, lantas nampak sinar berkelebat dan dua tubuh yang berlutut itu terpelanting dengan kepala terpisah dari badan.

Lili memandang kagum. Gerakan lelaki itu sungguh cepat bukan main. Bagi mata biasa, gerakan itu tidak dapat diikuti, akan tetapi Lili tadi dapat melihat betapa cepatnya lelaki itu bergerak mencabut pedang yang berada di pinggangnya dan tertutup jubah panjang, lalu mengelebatkan pedangnya memancung kepala dua orang itu dan menyarungkan kembali pedangnya yang tidak ternoda darah! Demikian cepatnya gerakan itu, menunjukkan ilmu pedang dahsyat seorang ahli!

"Kuburkan mayat mereka," kata pria itu kepada para anak buahnya. Mayat dua orang itu lalu digotong pergi dan pria itu memberi hormat kepada Lili.
"Kami harap nona memaafkan kami dan puas dengan pelaksanaan hukuman bagi anak buah kami yang telah menghina nona."

Lili masih tertegun karena kagum. Orang ini terang bukan orang sembarangan, pikirnya. Kelihatan lemah lembut dan seperti seorang bangsawan terpelajar, tetapi mempunyai ilmu pedang yang dahsyat! Selain itu, juga sangat berwibawa dan sikapnya mengingatkan dia akan gurunya, See-thian Coa-ong yang juga dapat bertindak tegas berwibawa terhadap anak buahnya. Apa lagi dia menghukum mati dua orang anak buahnya yang mengganggu wanita, hal ini saja sudah mendatangkan rasa kagum dan suka di hati Lili.

"Kiamsut (ilmu pedang) yang hebat!" katanya memuji.
"Aihh, aku bukan apa-apa kalau dibandingkan nona," pria itu merendah. "Kalau nona tidak menganggap aku terlalu rendah untuk menjadi kenalanmu, perkenalkanlah. Namaku Lu Ta dan semua orangku menyebut aku Ya-kongcu. Bolehkah aku mengetahui nama nona?"

Karena sikap orang ini sangat baik dan cukup berharga untuk dijadikan teman, setidaknya kenalan, Lili menjawab sederhana. "Namaku Tang Bwe Li dan orang biasa memanggilku Lili."

Ya Lu Ta atau Ya-kongcu kembali memberi hormat, kemudian dia menoleh ke belakang, kepada anak buahnya dan berteriak, "Heiii, kalian lihat baik-baik. Ini adalah Tang Siocia, mulai sekarang menjadi sahabatku. Kalian harus bersikap hormat kepadanya!" Kemudian ia berkata kepada Lili kembali, "Tang Siocia, kami persilakan engkau untuk menjadi tamu kehormatan kami dan sudi makan minum bersama kami."

Memang perut Lili sedang lapar. Menghadapi sikap yang demikian hormat dan baik, dan penawaran itu pun dilakukan dengan sikap hormat dan jujur, dia pun tertawa lepas. "Heh-heh, memang aku sedang lapar dan sedang bingung bertanya-tanya dalam hati ke mana harus mencari sarapan. Terima kasih, aku akan suka sekali makan minum denganmu, Ya-kongcu."

Laki-laki itu nampak gembira sekali. Lili memang seorang gadis yang berwatak polos dan bebas, tidak terikat oleh sikap malu-malu seperti para wanita lainnya. Namun Ya-kongcu maklum sepenuhnya bahwa walau pun gadis itu bersikap bebas, jangan dikira bahwa dia ini boleh dipermainkan begitu saja! Buktinya, anak buahnya sempat dihajar habis-habisan oleh gadis ini. Dia lalu mengajak Lili ke tempat peristirahatannya yang tak jauh dari situ, di bawah pohon-pohon rindang dan ternyata di sana terdapat banyak kuda pilihan dan anak buah kongcu itu tidak kurang dari tiga puluh orang!

Di bawah pohon itu segera diatur makanan dan minuman yang cukup lezat. Lili semakin kagum. Tampaknya kongcu ini bersama rombongannya membawa peralatan masak pula karena masakan itu masih mengepul panas dan tak jauh dari situ nampak dapur darurat. Ya-kongcu dengan gembira mempersilakan Lili untuk duduk menghadapi meja sederhana yang dibuat secara darurat pula, duduk di atas bangku.

Lili pun makan minum dengan lahapnya, senang karena tuan rumah tidak banyak cakap, hanya bicara kalau mempersilakan ia mengambil hidangan dan menambah minuman yang terdiri dari dua macam. Ada anggur dan ada pula teh harum.

Setelah selesai makan minum dan meja sudah dibersihkan, Ya-kongcu lalu berkata. "Tadi kulihat gerakanmu yang mirip gerakan seekor ular. Mungkin masih ada hubungan antara nona dengan See-thian Coa-ong, yaitu locianpwe (orang tua gagah) Cu Kiat?"

Kembali Lili dibuat kagum. Semakin jelaslah bahwa orang ini memang lihai dan bermata tajam, tentu luas pengetahuannya tentang ilmu silat sehingga melihat gerakannya sedikit saja sudah dapat mengenal ilmu silatnya.

"Dia adalah guruku" katanya.

Sekarang Ya-kongcu yang terkejut dan memandang dengan mata terbelalak, akan tetapi wajahnya berseri. "Pantas kalau begitu! Biar seluruh anak buahku maju mengeroyok kau, tentu mereka semua akan bisa kau robohkan! Kiranya nona adalah murid See-thian Coa-ong, datuk wilayah barat yang terkenal itu." Dia cepat bangkit berdiri. "Maafkan kalau aku tadi bersikap kurang hormat, Tang Siocia (nona Tang)."

Lili cepat membalas penghormatan itu. "Aih, jangan terlalu merendah, Ya-kongcu. Engkau sendiri memiliki ilmu pedang yang amat dahsyat."

"Aku mendengar bahwa See-thian Coa-ong adalah salah seorang di antara calon bengcu dalam pemilihan yang akan diadakan oleh para tokoh dan datuk persilatan di puncak Thai-san. Benarkah itu, Siocia?"

Kembali Lili kagum. Memang orang ini mempunyai pengetahuan yang amat luas. Dia pun mengangguk membenarkan.

"Kalau begitu perjalanan nona ini tentu ada hubungannya dengan pemilihan bengcu yang akan diadakan satu bulan sesudah sin-cia tahun depan, bukan?"
"Tidak, Ya-kongcu. Urusan pemilihan bengcu itu adalah urusan suhu dan suci, sedangkan aku mempunyai tugas lain."
"Ahh, begitukah? Kalau engkau hendak mengurus pemilihan bengcu, katakan saja terus terang, nona. Karena sebenarnya sejak semula kami sudah siap untuk memilih locianpwe See-thian Coa-ong sebagai bengcu."
"Ehh, kenapa begitu?" Lili tertarik. "Apakah engkau sudah mengenal suhu?"

Laki-laki itu menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Mengenal secara pribadi memang belum, akan tetapi aku telah lama mendengar nama besar gurumu itu dan merasa yakin bahwa hanya dia yang pantas untuk menjadi bengcu. Kami siap untuk membantunya agar dia yang kelak terpilih. Kami mempunyai banyak anak buah yang tersebar di seluruh kota besar, juga di kota raja, maka kalau kami membantu, pasti gurumu akan mendapat suara dukungan terbanyak."

“Aku tidak tahu apakah suhu memerlukan bantuan itu, akan tetapi mungkin saja engkau dapat membantuku dengan keterangan, kongcu. Aku sedang mencari seseorang...," kata Lili.

Sekarang timbul harapannya untuk dapat segera menemukan orang yang dicarinya ketika mendengar bahwa Ya-kongcu memiliki banyak anak buah di kota besar dan di kota raja. Apa lagi sikap dan pernyataan Ya-kongcu yang hendak membantu dan mendukung suhu-nya itu menimbulkan rasa suka dan percaya, maka dia tidak ragu untuk minta bantuan.

Wajah itu berseri dan sepasang mata itu bersinar-sinar. "Katakanlah, siapa orang yang sedang kau cari itu, nona? Kami akan membantumu sekuat tenaga dan kami yakin dalam waktu singkat kami akan dapat memberi tahu kepadamu di mana adanya orang yang kau cari itu. Siapa dia?"

"Dia adalah seorang tokoh Butong-pai berjuluk Sin-kiam-eng (Pendekar Pedang Sakti) dan namanya Bhok Cun Ki," kata Lili sambil menatap tajam wajah itu untuk melihat reaksinya.

Ya-kongcu terbelalak. "Sin-kiam-eng Bhok Cun Ki? Ahh, tentu saja aku mengenal siapa dia, nona! Akan tetapi, sebelum kuberi tahu kepadamu di mana dia, aku ingin tahu lebih dulu, apa hubunganmu dengan Sin-kiam-eng?"

Tentu saja hati Lili merasa gembira sekali mendengar bahwa Ya-kongcu mengenal orang yang sedand dicarinya. Tak disangkanya akan demikian mudahnya dia dapat menemukan musuh besar suci-nya. Karena dia seorang yang jujur dan terbuka, apa lagi jika dia sudah percaya kepada seseorang, maka mendengar pertanyaan Ya-kongcu dia pun mengaku terus terang. "Aku mencari Sin-kiam-eng Bhok Cun Ki untuk membunuhnya."

"Ahhh...!" Ya-kongcu berseru, terbelalak.
"Mengapa, kongcu?" tanya Lili dan alisnya berkerut ketika dia teringat sesuatu. "Apakah dia sahabat baikmu atau keluargamu?"

Pria itu tertawa sambil menggeleng kepala. "Sama sekali bukan, nona. Malah sebaliknya, dia juga musuh besarku, maka tentu saja aku suka sekali membantumu menentangnya. Akan tetapi aku hanya terkejut mendengar engkau hendak membunuh Sin-kiam-eng Bhok Cun Ki. Dia seorang pendekar ahli pedang yang sangat tangguh, nona. Bahkan namanya paling terkenal di antara para tokoh Bu-tong-pai!"

"Hem, boleh jadi dia lihai, akan tetapi aku tidak takut," jawab Lili gagah dan dingin, penuh kepercayaan kepada kemampuannya sendiri.
"Tang Siocia, kalau boleh kami mengetahui, ada permusuhan apa antara engkau dengan dia?"
"Ini merupakan urusan pribadi yang tak dapat kuceritakan kepada siapa pun juga, kongcu. Cukup kau ketahui saja bahwa aku mencari dia untuk mengajaknya bertanding dan kalau mungkin membunuhnya." Di dalam suara gadis itu terkandung ketegasan yang membuat Ya-kongcu berhati-hati dan tidak berani mendesak.
"Aku mengerti, nona, dan aku tidak berani mencampuri urusan pribadi nona. Akan tetapi kurasa tidaklah mudah untuk melaksanakan keinginanmu itu, sungguh tidak mudah sama sekali.”

Dengan alis masih berkerut Lili berkata, "Katakan saja di mana aku dapat menemukan Sin-kiam-eng Bhok Cun Ki dan selanjutnya aku tidak berani merepotkanmu, kongcu."

"Nona Tang, dalam hal ini akan lebih baik jika kita bekerja sama. Aku akan membantumu menemukan dan menghadapi Sin-kiam-eng, dan aku akan mengerahkan kawan-kawanku untuk membantu suhu-mu agar terpilih sebagai bengcu."

Lili adalah seorang gadis yang cukup cerdik. Mendengar janji kesanggupan ini, dia lalu menatap tajam. "Dan sebaliknya? Apa yang harus kulakukan untukmu?"

Lelaki itu tersenyum. "Tidak apa-apa, nona. Cukup kalau nona menganggap kami sebagai sahabat baik, cukuplah. Di antara sahabat baik tentu saja saling membantu tanpa pamrih, bukan?"

"Ya-kongcu, aku akan berterima kasih sekali apa bila engkau suka membantuku memberi tahu di mana musuh besarku itu. Dan engkau akan kuanggap seorang sahabat baik kalau keteranganmu itu betul sehingga aku dapat menemukan musuh itu. Nah, katakan di mana dia?"
"Tang Siocia, Sin-kiam-eng Bhok Cun Ki telah berjasa besar terhadap Kerajaan Beng dan karena jasa-jasanya membantu para petani memberontak dan menggulingkan pemerintah Goan, maka kini dia diangkat menjadi seorang jenderal yang berkuasa dan berkedudukan tinggi di kota raja."
"Hemmm…, jadi dia tinggal di kota raja?" tanya Lili. Kedudukan tinggi itu sama sekali tidak berkesan baginya. Yang penting dia dapat menemukan orang itu!
"Dia tinggal di kota raja, nona. Akan tetapi, sebagai seorang jenderal dia tinggal di dalam benteng di mana terdapat ribuan orang tentara. Agaknya tidak mungkin bagi nona untuk mencari dia di dalam tempat tinggalnya."

Mendengar ini barulah Lili tertegun. Betapa tinggi pun ilmu kepandaiannya, jika dia harus mencari musuh besarnya ke dalam benteng pasukan yang ribuan orang banyaknya, sama saja dengan bunuh diri. Tidak mungkin dia akan berhasil.

"Hemm, begitukah? Lalu bagaimana aku akan bisa berhadapan dengan dia?" gumamnya seperti pada diri sendiri.
"Itulah sebabnya mengapa tadi aku menawarkan bantuan kepadamu, nona. Kita harus bekerja sama dan aku akan mendapatkan jalan agar engkau dapat bertemu muka dengan jenderal itu. Kalau engkau mau bekerja sama, marilah kita melakukan perjalanan bersama karena kami pun ingin pergi ke kota raja."

Tentu saja Lili menyetujuinya. Biar pun dia seorang gadis dan akan melakukan perjalanan yang jauh bersama seorang pria yang mempunyai banyak anak buah dan semuanya pria, dia sama sekali tidak merasa canggung. Dia seorang gadis yang bebas dan yakin akan kemampuan diri sendiri sehingga dia tidak khawatir akan gangguan pria.

Apa lagi semua anak buah Ya-kongcu sudah mengenal siapa gadis itu dan tentu tidak ada seorang pun yang akan berani mengusiknya lagi. Hajaran yang diberikan Lili kepada tujuh orang itu sudah cukup keras, apa lagi dua orang pengganggu pertama dihukum pancung kepala oleh Ya-kongcu.

Lili juga tidak ingin tahu siapa sebenarnya pria itu. Andai kata dia tahu akan keadaan Ya-kongcu yang sesungguhnya, agaknya dia tidak akan peduli. Yang penting baginya adalah menemukan Sin-kiam-eng supaya dia dapat melaksanakan tugas yang diberikan suci-nya kepadanya.

Siapakah sebetulnya Ya Lu Ta yang disebut Ya-kongcu itu? Dia bukan sembarang orang, karena dia adalah Pangeran Yaluta, seorang di antara para pangeran dari Kerajaan Goan, yaitu Kerajaan Mongol yang telah runtuh.

Bersama sisa keluarga kerajaan, Pangeran Yaluta juga terpaksa melarikan diri mengungsi ke utara, kembali ke tanah air bangsa Mongolia di utara karena seluruh usaha sisa-sisa pasukan Mongol untuk melawan pasukan Kerajaan Beng gagal. Semua pasukan Mongol dihancurkan, banyak yang tewas dan yang masih bisa menyelamatkan diri lalu melarikan diri ke Mongolia. 

Tentu saja banyak anggota keluarga, terutama para pangeran Mongol, yang belum mau menerima nasib dan masih sangat penasaran. Bagaimana mungkin keluarga yang tadinya merajai seluruh daratan Cina, yang berada di puncak kekuasaan, hidup mulia, terhormat dan kaya raya, kini harus kembali ke daerah tandus di utara dan hidup sebagai bangsa pengembara lagi?

Tidak, mereka akan tetap berusaha untuk mencoba menguasai kembali daratan selatan! Di antara para pangeran yang paling gigih adalah Pangeran Yaluta yang memang memiliki kemampuan besar itu. Dia mempunyai ilmu silat tinggi, pandai memimpin pasukan dan dia juga seorang ahli sastera. 

Selama hampir seabad menjajah daratan Cina, orang-orang Mongol, terutama sekali kaum bangsawannya, telah meleburkan diri menjadi pribumi, berusaha mempelajari kebudayaan dan peradaban bangsa Cina yang lebih tinggi. Maka tak sulit bagi Pangeran Yaluta untuk mengaku bernama Ya Lu Ta seperti orang pribumi dan kalau saja dia berpakaian pribumi, takkan ada seorang pun menyangka dia seorang pangeran Mongol. Tidak ada sedikit pun pada dirinya yang berbekas Mongol.

Semenjak jatuhnya Kerajaan Mongol, Pangeran Yaluta atau yang kini dikenal sebagai Ya-kongcu itu telah berusaha keras untuk merebut kembali tahta kerajaan yang telah terjatuh ke tangan orang-orang Han sendiri yang kini mendirikan Kerajaan Beng yang baru. Akan tetapi usahanya dengan menggunakan kekerasan selalu gagal, selalu pasukannya dipukul hancur oleh pasukan Beng yang sangat kuat. Oleh karena itu selama beberapa tahun ini Ya-kongcu mempergunakan siasat lain. 

Dia tidak lagi mempergunakan kekuatan pasukan untuk mencoba menyerang ke selatan, melainkan mempergunakan siasat halus. Dia mengirim para pembantunya yang lihai dan cerdik, menyebar banyak sekali mata-mata ke selatan. Bahkan orang-orangnya yang lihai itu sudah beberapa kali berusaha melakukan pembunuhan-pembunuhan rahasia terhadap orang-orang penting dari pemerintah Kerajaan Beng, ada yang berhasil tetapi banyak pula yang gagal. Kemudian dia memberi perintah baru kepada orang-orang yang merupakan anggota jaringan mata-mata di Kerajaan Beng. Usaha kekerasan agar dihentikan, dan dia menggunakan siasat lain. 

Jabatan bengcu dunia persilatan harus dikuasai oleh orang yang dapat mereka pengaruhi, dan persaingan antara pangeran-pangeran Kerajaan Beng harus dimanfaatkan agar dapat menimbulkan pertikaian di antara mereka dan memperlemah kedudukan Kerajaan Beng. Untuk tugas yang penting ini, Ya-kongcu bertekad hendak turun tangan sendiri, memimpin langsung di tempat lawan, yaitu di kota raja!

Oleh seorang ahli pengobatan di negerinya, Ya Lu Ta telah membiarkan wajahnya diubah dengan pembedahan dan pengobatan sehingga bentuk mata, hidung dan mulutnya sudah berubah. Tidak akan ada seorang pun di kota raja yang akan mengenal wajahnya sebagai wajah pangeran Mongol yang terkenal. Di kota raja sendiri dia telah mempunyai wakil atau tangan kanan yang selama ini memimpin jaringan mata-mata, seseorang yang memegang kedudukan penting di Kerajaan Beng, yang sudah bisa dia pengaruhi dan dia manfaatkan tenaganya.

Demi tercapainya cita-citanya itulah maka Ya-kongcu bersikap ramah kepada Lili, setelah dia mengetahui bahwa gadis itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, apa lagi setelah mereka berkenalan dan dia tahu bahwa gadis itu adalah murid See-thian Coa-ong. Dia harus bisa merangkul orang-orang yang pandai, apa lagi para datuk yang selain lihai juga mempunyai kekuasaan besar, memiliki banyak pengikut. Kalau kelak bengcu menjadi sekutunya, dan dia bisa merangkul banyak perkumpulan besar, juga mempengaruhi pejabat-pejabat tinggi, kiranya cita-citanya bukan merupakan mimpi belaka…..

********************
Ya-kongcu selalu menerima laporan dari para kaki tangannya maka bekas pangeran ini mengetahui dengan baik segala peristiwa yang terjadi di kota raja, bahkan dia mengenal nama mereka yang mempunyai kedudukan penting, mana yang dianggap berbahaya bagi pergerakannya, dan pejabat mana yang kiranya dapat ditarik menjadi sekutu. Oleh karena itu, keterangannya tentang Bhok Cun Ki kepada Lili bukanlah keterangan bohong.

Memang Bhok Cun Ki kini sudah menjadi seorang jenderal yang dipercaya di kota raja. Semenjak terjadinya perjuangan menumbangkan kekuasaan Mongol yang dipimpin oleh Chu Goan Ciang yang kemudian menjadi Kaisar Thai-cu, kaisar pertama Kerajaan Beng (1368-1398), Bhok Cun Ki sudah ikut dalam perjuangan sebagai seorang tokoh pemimpin yang gagah perkasa. Dia memang seorang pendekar, murid Butong-pai yang lihai sekali. Oleh karena itu, setelah perjuangan berhasil dan Chu Goan Ciang menjadi kaisar, maka pemimpin pejuang ini tidak melupakan rekan-rekannya. 

Di samping dua orang panglima besar seperti Jenderal Shu Ta dan Jenderal Yauw Ti yang memperoleh kedudukan panglima pertama dan ke dua, masih banyak tokoh pejuang yang menerima kedudukan sesuai dengan kecakapan dan kemampuan mereka. Di antaranya adalah Bhok Cun Ki yang diberi kedudukan jenderal dan menjadi salah seorang di antara para pembantu Jenderal Shu Ta.

Hanya ada sedikit saja kekeliruan keterangan yang diberikan Ya-kongcu kepada Lili, yaitu mengenai tempat tinggal Bhok-Goanswe (Jenderal Bhok). Dia beserta keluarganya tidak tinggal di dalam benteng, melainkan di sebuah gedung yang cukup besar dan megah.

Sebagai seorang panglima tentu saja siang malam rumahnya selalu dijaga oleh pengawal yang biar pun hanya belasan orang banyaknya, namun mereka merupakan prajurit-prajurit kepercayaan Jenderal Bhok dan merupakan orang-orang pilihan yang selain sangat setia juga memiliki ilmu silat yang cukup tangguh.

Di dalam gedungnya Bhok Cun Ki tinggal bersama keluarganya. Dia kini berusia empat puluh lima tahun, dan dalam usia yang setengah tua ini dia masih tampak gagah perkasa. Wajahnya ganteng dengan kumis dan jenggot tipis, matanya lebar berwibawa, hidungnya mancung dan mulutnya membayangkan kelembutan hati walau pun dagunya milik orang yang keras dan teguh hati. 

Sebelum menjadi panglima dia telah terkenal di dunia persilatan dengan julukan Sin-kiam-eng (Pendekar Pedang Sakti) karena dengan ilmu pedang dari Butong-pai yang indah dan cepat, dia memang merupakan seorang ahli pedang yang sukar dicari bandingnya.

Sebelum Kerajaan Mongol jatuh, Bhok Cun Ki telah menikah dengan seorang wanita yang masih berdarah bangsawan karena isterinya adalah puteri dari seorang pembesar bagian kebudayaan, seorang Han yang ketika terjadi perjuangan, juga berpihak kepada pejuang, meninggalkan kedudukannya dan meninggalkan kota raja bersama keluarganya.

Bersama isterinya dia mempunyai dua orang anak, yaitu seorang pemuda yang kini sudah berusia dua puluh tahun dan seorang gadis yang sekarang berusia delapan belas tahun. Pemuda itu bernama Bhok Ci Han, tampan dan tegap, pendiam dan gagah perkasa, ada pun adiknya bernama Bhok Ci Hwa, cantik manis, lincah jenaka tidak seperti kakaknya yang pendiam.

Semenjak kecil kedua kakak beradik ini sudah digembleng oleh ayahnya sendiri sehingga setelah kini mereka dewasa, keduanya selain memiliki ilmu sastera yang cukup baik, juga mereka mewarisi ilmu silat Butong-pai yang tangguh. Biar pun diluarnya mereka nampak seperti seorang kongcu (tuan muda) dan seorang siocia (nona) yang lemah lembut, juga pandai membaca kitab, pandai bersajak dan kesenian lain, akan tetapi sebetulnya mereka berdua adalah pendekar-pendekar Butong-pai yang lihai.

Bhok Cun Ki tinggal bersama isteri dan dua orang anaknya di gedung yang selalu terjaga prajurit pengawal. Gardu penjagaan berada di dekat pintu gerbang, akan tetapi sering kali, terutama pada waktu malam, serombongan pengawal melakukan perondaan mengelilingi gedung, bahkan ada pula yang memeriksa keamanan dari atap gedung.

Pada suatu sore Panglima Bhok menerima surat undangan yang bersifat panggilan dari atasannya, yaitu Jenderal Shu Ta yang menjadi panglima besar kepercayaan kaisar yang utama. Tentu saja Bhok Cun Ki merasa heran karena biasanya atasannya tidak pernah memanggilnya di waktu hari telah sore. Kalau hal ini terjadi, berarti atasannya itu memiliki alasan yang kuat dan tentu ada urusan yang teramat penting sehingga Jenderal Shu Ta tidak segan-segan mengganggu waktunya beristirahat. Dia segera berangkat, naik kereta dan dikawal selusin orang prajurit pengawal, menuju ke perbentengan karena dia dipanggil menghadap ke sana.

Setelah tiba di dalam benteng dan dipersilakan memasuki ruangan yang biasa digunakan untuk rapat, di situ telah menanti Jenderal Shu Ta dan pembantu utamanya, yaitu Jenderal Yauw Ti, serta beberapa orang panglima muda lainnya dan seorang pemuda berpakaian sederhana, pakaian rakyat biasa. Kiranya Jenderal Shu Ta akan mengadakan rapat yang lengkap dengan para panglima, pikir Bhok Cun Ki, kemudian dia pun memandang sejenak kepada pemuda tinggi tegap berkulit gelap itu.

Jenderal Shu Ta berusia kurang lebih lima puluh tiga tahun, tubuhnya agak gemuk namun kokoh kuat, mukanya kemerahan dan sikapnya tegas berwibawa. Sedangkan wakil atau pembantu utamanya, Jenderal Yauw Ti, bertubuh tinggi besar dengan pinggang ramping, usianya sekitar lima puluh tahun akan tetapi dia masih nampak muda dan tegap. 

Di samping menjadi pembantu utama panglima besar, Jenderal Yauw Ti ini juga menjadi penasehat kaisar di bagian kemiliteran. Dan karena dia terkenal pandai dalam ilmu silat dan ilmu perang, dia pun dijadikan guru bagi para panglima muda dalam hal ilmu perang.

Kedua orang jenderal ini sudah banyak jasanya di waktu perjuangan, karena itu mereka merupakan dua orang yang paling tinggi kedudukannya di bagian kemiliteran, walau pun Jenderal Yauw Ti lebih dipercaya dan lebih dekat dengan kaisar yang merupakan sahabat karibnya di waktu perjuangan dan mereka masih menjadi pemuda-pemuda dari kalangan rakyat kecil biasa. 

Sebaliknya Jenderal Yauw Ti semenjak muda sudah menjadi seorang perwira walau pun dahulu dia seorang perwira pasukan Mongol. Ketika terjadi pemberontakan rakyat, dia pun meninggalkan pasukannya dan berpihak kepada rakyat, maka jasanya besar dan kini dia memperoleh kedudukan tinggi yang hanya kalah oleh Jenderal Shu Ta saja.

Ada belasan panglima yang hadir, dan kesemuanya adalah orang-orang yang menduduki jabatan penting di bagian ketentaraan dan keamanan. Maka tentu saja mengherankan hati Bhok Cun Ki saat melihat bahwa di situ hadir pula seorang pemuda asing, bukan anggota pasukan, apa lagi panglima atau perwira.

"Bhok-ciangkun telah datang, kini lengkap sudah, kita boleh mulai bicara," kata Jenderal Shu Ta yang memimpin pertemuan itu. "Pertama-tama kami perkenalkan dahulu kepada ciangkun (perwira tinggi) sekalian, saudara ini adalah murid yang mewakili locianpwe Ciu-sian (Dewa Arak) Tong Kui. Namanya adalah Sin Wan dan dia datang sebagai utusan dan wakil dari locianpwe Ciu-sian."

Bhok Cun Ki mengamati pemuda yang berdiri dan sekarang memberi hormat ke sekeliling itu. Nampaknya tidak mengesankan, akan tetapi dia bisa menduga bahwa murid Ciu-sian tentulah lihai, apa lagi sudah menjadi wakil tokoh besar dunia persilatan itu. Dan walau pun dalam sikap yang sopan dan pendiam itu tidak dapat dilihat kelihaiannya, tetapi sinar matanya yang bersinar-sinar itu menunjukkan bahwa dia bukan pemuda sembarangan. 

“Maaf, Shu-goanswe (jenderal Shu), saya telah mengenal locianpwe Ciu-sian, akan tetapi bagaimana kita dapat yakin bahwa pemuda ini murid dan datang mewakilinya? Kita harus yakin benar mengenai hal ini, mengingat akan bahayanya kalau ada orang luar yang tidak berhak menyelundup," kata Bhok Cun Ki dan para rekannya mengangguk setuju.

Jenderal Shu Ta tersenyum senang dan menoleh pada Sin Wan setelah mempersilakan pemuda itu duduk kembali. "Nah, engkau sudah mendengar dan melihat sendiri, taihiap, betapa teliti dan berhati-hati para rekan panglima di sini. Tentu engkau maklum betapa besar bahayanya kalau sampai ada mata-mata musuh datang menyusup. Rahasia kami akan diketahui musuh dan hal itu amat berbahaya. Karena itu maafkan sikap mereka jika meragukan keaslianmu sebagai murid dan wakil locianpwe Ciu-sian."

Sin Wan mengangguk. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, bahkan saya merasa kagum sekali. Nah, sebaiknya cu-wi ciangkun (para panglima sekalian) memeriksa tanda kuasa yang diberikan suhu kepada saya ini, dan juga surat keterangan yang ditulis suhu seperti yang tadi telah saya perlihatkan kepada Shu-goanswe.”

Sin Wan mengeluarkan sehelai leng-ki, yaitu sebuah bendera kecil sebagai tanda bahwa pemegangnya merupakan utusan kaisar yang akan menerima sambutan penghormatan dan bantuan dari setiap orang pejabat, dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi kedudukannya.

Kaisar pernah memanggil Ciu-sian dan kaisar sendiri yang menyerahkan sehelai leng-ki kepada Ciu-sian dan memberi tugas kepada Dewa Arak itu untuk membantu pemerintah, melakukan penyelidikan dan menentang jaringan mata-mata Mongol yang berbahaya bagi keamanan negara.

Di samping leng-ki itu, Sin Wan juga mengeluarkan segulung surat tulisan Dewa Arak yang menerangkan bahwa karena dia sudah terlalu tua, maka dia menyerahkan tugas dari kaisar kepada muridnya bernama Sin Wan yang akan bertindak mewakilinya di dalam segala hal, dan bahwa dialah yang bertanggung jawab akan sepak terjang Sin Wan.
Membaca surat keterangan dan melihat leng-ki itu, belasan orang panglima itu langsung memberi hormat secara militer, berdiri tegak lantas berlutut sebelah kaki. Bendera kecil (leng-ki) itu adalah tanda kuasa dari kaisar yang diberikan kepada seorang utusan, maka bukan utusan itu yang dihormati, melainkan leng-ki yang merupakan lambang kehadiran kaisar.....


"Hari ini Sin Wan taihiap (pendekar besar) datang berkunjung dengan maksud untuk minta keterangan dan penjelasan mengenai jaringan mata-mata musuh seperti yang kita ketahui supaya dia bisa memulai dengan penyelidikannya. Karena melihat pentingnya tugas yang dilakukannya, dan kita semua mengharapkan bantuannya, maka kami mengundang cu-wi (anda sekalian) untuk membicarakan urusan ini."

"Nanti dulu, tai-ciangkun," kata Jenderal Yauw Ti. "Sejak dahulu kita semua telah bekerja untuk menentang musuh, dan kita selalu menyelidiki jaringan mata-mata Mongol. Namun kita tak pernah menemukan jaringan mata-mata itu, kecuali ditangkapnya beberapa orang yang kita curigai. Itu pun tidak ada hasilnya karena tidak ada yang mengaku, dan mungkin mereka hanya terkena fitnah belaka. Dengan kekuatan seluruh pasukan, kita pasti dapat menanggulangi segala ancaman musuh. Lalu apa artinya Saudara Sin Wan yang hanya seorang diri ini untuk menghadapi jaringan mata-mata, kalau memang ada?"

Mendengar ini, beberapa orang panglima mengangguk menyetujui. Bagaimana pun juga mereka merasa diremehkan. Mereka adalah panglima-panglima yang memimpin pasukan dan selama ini mereka berhasil menghalau semua musuh Kerajaan Beng. Kalau sekarang ada seorang pemuda yang hendak bertugas menyelidiki jaringan mata-mata, bukankah hal itu sama saja dengan meremehkan kekuatan dan kemampuan mereka? Apa artinya seorang pemuda saja, betapa pun pandainya?

Jenderal Shu Ta yang dahulunya juga seorang rakyat biasa, namun sejak muda sudah berkecimpung di dunia kangouw, mengerutkan alisnya. "Harap cu-wi tidak berpendapat sepicik itu. Cu-wi agaknya lupa bahwa orang-orang dari dunia persilatan seperti locianpwe Ciu-sian atau muridnya ini dapat bergerak lebih bebas dari pada kita. Mereka akan dapat menghubungi orang-orang kangouw, dan mereka juga bisa melakukan penyelidikan tanpa diketahui pihak lawan. Kita sudah dikenali, maka kalau kita bergerak, tentu musuh sudah mengetahuinya. Jika musuh yang datang itu pasukan yang menyerang dengan berterang, tentu saja kita dengan pasukan kita yang maju, bukan perorangan seperti taihiap ini. Akan tetapi pihak lawan bergerak dengan cara sembunyi, maka kita pun harus mempercayakan kepada para pendekar seperti taihiap ini. Lupakah cu-wi ketika benda-benda pusaka milik Sribaginda dicuri orang? Kita sudah mengerahkan pasukan untuk mencari, tetapi hasilnya sia-sia saja. Kemudian, sesudah Sribaginda mengutus Sam-sian untuk mencarinya, maka para locianpwe itu berhasil membawa kembali benda-benda pusaka. Nah, apa yang dapat cu-wi katakan lagi?"

Jenderal Yauw Ti mengangguk-angguk. "Kini kami mengerti dan kami menanti perintah ciangkun," katanya mengalah.

Jenderal Shu Ta lalu menceritakan keadaan keamanan pada waktu itu, terutama sekali kepada Sin Wan, dan juga berita baru tentang perubahan gerakan orang-orang Mongol.

"Kami sudah menerima laporan dari para komandan pasukan, juga dari Raja Muda Yung Lo bahwa kini orang-orang Mongol telah mengundurkan diri, tidak lagi melakukan tekanan di perbatasan. Belum diketahui dengan pasti sebab-sebabnya mengapa mereka tiba-tiba saja mengendurkan tekanan sehingga jarang terjadi serangan terhadap para penjaga di perbatasan. Hal ini hanya ada dua kemungkinan. Pertama, mereka sengaja mundur untuk membuat kita lengah, sementara mereka memperkuat kedudukan dengan memperbesar pasukan. Kemungkinan kedua, mereka akhirnya sadar bahwa penyerangan mereka untuk menembus perbatasan selalu gagal dan tidak mungkin dilanjutkan, maka mereka mungkin akan menyerang dari jurusan lain, bisa dari barat dan mungkin juga mereka membonceng keadaan yang dibikin kacau oleh para bajak, menyerang dari timur menggunakan perahu, biar pun kemungkinan ini kecil sekali. Betapa pun juga kita harus memperkuat penjagaan di barat, juga mengamati dengan ketat pantai timur." Jenderal Shu Ta berhenti sebentar dan memandang kepada semua pembantunya. "Bagaimana pendapat cuwi?"

"Ciangkun, saya melihat kemungkinan lain," tiba-tiba Bhok Cun Ki berkata.

Semua orang memandang kepada panglima yang tampan dan gagah itu. 

"Bhok-ciangkun, katakan apa pendapatmu."
"Sudah berulang kali orang-orang Mongol kita pukul mundur. Bahkan sejak Shu-goanswe memimpin pasukan besar ke utara belasan tahun yang lampau, kita menyeberangi gurun Gobi, kita menggempur kemudian membakar kota lama Karakorum, malah terus ke utara sampai ke Pegunungan Yablonoi dan menghancurkan setiap pasukan Mongol. Semenjak itu boleh dibilang kekuatan pasukan Mongol telah hancur dan agaknya tidak mungkin bagi mereka untuk bangkit kembali. Jika sekarang mereka menghentikan penyerangan, hal itu wajar saja dan ada kemungkinan yang cukup membahayakan kita, yaitu bahwa mungkin mereka akan mengganti siasat, tidak menyerang dengan kekerasan lagi."
"Tidak menyerang dengan kekerasan lagi? Kalau begitu, kenapa kau katakan berbahaya, Bhok-ciangkun?" tanya Jenderal Shu Ta.

Memang dulu, ketika dia memimpin pasukan besar mengejar bangsa Mongol sampai jauh ke utara, Bhok Cun Ki merupakan seorang di antara pembantunya yang gagah perkasa dan berjasa besar.

“Mungkin mereka sedang menggunakan siasat halus, antara lain penyebaran mata-mata yang lebih tekun, memasang jaringan mata-mata untuk mendatangkan kekacauan di kota raja dan kota-kata besar lainnya. Mungkin mereka hendak merangkul dan mempengaruhi para pejabat yang memang tidak suka kepada Kerajaan Beng, atau mereka itu bersekutu dengan para pengkhianat, memanfaatkan perkumpulan-perkumpulan dari golongan sesat untuk membuat kekacauan agar kehidupan rakyat menjadi tidak aman. Bisa saja mereka melakukan usaha pembunuhan terhadap tokoh-tokoh penting pemerintahan kita."

Suasana menjadi hening sesudah Bhok Cun Ki berbicara karena semua orang tenggelam dalam lamunannya masing-masing, membayangkan kemungkinan itu dengan hati merasa ngeri. Bagi orang-orang yang biasa menghadapi pertempuran ini, mereka malah merasa ngeri menghadapi musuh yang bekerja secara sembunyi. Melakukan kekacauan dengan cara apa saja, cara yang bagi mereka amatlah hina dan curang, dan mereka tidak biasa menghadapi cara-cara seperti itu.

"Benar apa yang diucapkan Bhok-ciangkun," kata Jenderal Shu Ta. "Oleh karena itulah maka usaha untuk menanggulangi jaringan mata-mata ini perlu digalakkan, dan lebih-lebih kita sangat membutuhkan bantuan para pendekar. Dalam hal inilah tenaga para pendekar seperti Sin Wan taihiap ini amat kita butuhkan. Nah, siapa lagi yang mempunyai pendapat yang kiranya berguna bagi kita untuk kita bicarakan?"

Seorang panglima yang bertubuh tinggi kurus berkata dengan suaranya yang lantang dan mantap. "Shu-goanswe, saya setuju sekali dengan keterangan Bhok-ciangkun tadi bahwa mungkin sekali pihak musuh akan mendekati dan memanfaatkan perkumpulan golongan sesat. Saya teringat bahwa beberapa bulan lagi akan diadakan pemilihan bengcu di dunia persilatan. Kalau sampai kedudukan bengcu itu berada di tangan seorang datuk sesat, kemudian bengcu itu dapat dipengaruhi oleh orang Mongol dan dijadikan sekutu, maka hal itu akan berbahaya sekali. Maka sebaiknya kalau kita memperhatikan pemilihan bengcu itu."

"Benar sekali!" kata Jenderal Shu Ta. "Memang hal itu sudah kami bicarakan dengan Sin Wan taihiap ketika dia datang kepada kami, bahkan kami telah merencanakan pembagian tugas. Sebaiknya Sin Wan taihiap yang bertugas untuk mengamati pemilihan bengcu itu dan sedapat mungkin mencegah agar kedudukan bengcu jangan sampai jatuh ke tangan orang sesat. Dalam hal ini kami menunjuk Bhok-ciangkun untuk bekerja sama dengan Sin Wan taihiap, mengingat bahwa Bhok-ciangkun memiliki hubungan yang luas dengan para tokoh dunia kang-ouw."

Semua panglima dapat menyetujui dan Bhok Cun Ki mengangguk-angguk. Memang lebih baik begitu, pikirnya. Dia belum tahu sampai di mana kemampuan pemuda itu. Sungguh berbahaya kalau tugas yang sepenting itu diserahkan kepada pemuda itu seorang. Kalau bekerja sama dengan dia, maka dia akan dapat menguji pemuda itu, dan dia sendiri yang akan turun tangan kalau dalam pemilihan itu pihak golongan sesat akan menguasainya.

"Maaf, Shu tai-ciangkun!" kata Jenderal Yauw Ti. "Kami memiliki pendapat yang penting, akan tetapi agar dimaafkan kalau menyinggung karena pendapat ini hanya terdorong oleh keinginan menjaga keamanan bagi pihak kita sendiri."
"Silakan bicara, Yauw-ciangkun," kata Jenderal Shu Ta. Semua orang lantas memandang kepada Jenderal yang bertubuh tinggi besar namun ramping itu.

"Sebelumnya sekali lagi saya minta maaf kalau pendapat saya ini menyinggung, terutama kepada taihiap Sin Wan. Memang taihiap ini telah membawa leng-ki dan surat kuasa dari locianpwe Ciu-sian, tetapi terus terang saja, kita sama sekali belum pernah mengenalnya. Dan kalau mata saya yang tua ini belum berkurang kemampuannya, saya melihat bahwa taihiap ini seperti bukan orang Han! Dan siapakah keturunannya? Mengapa namanya Sin Wan begitu saja tanpa nama keluarga?"

Semua orang terdiam dan kini mereka memandang kepada Sin Wan, diam-diam mereka terkejut akan keberanian Jenderal Yauw Ti, karena bagaimana pun juga, ucapannya itu amat menyinggung dan jelas membayangkan ketidak kepercayaannya. Pada hal pemuda itu membawa surat kuasa Ciu-sian dan bahkan membawa leng-ki dari kaisar. 

Jenderal Shu Ta juga terkejut sekali, dan kini dia memandang kepada Sin Wan. Memang, di dalam hati kecilnya sesungguhnya juga ada pertanyaan ini, akan tetapi dia tidak berani mengeluarkannya karena dia melihat leng-ki dan surat dari Ciu-sian. Kini ada yang berani menanyakan, hal itu sungguh baik sekali dan dia mengharapkan jawaban sejujurnya dari Sin Wan.

Akan tetapi kekhawatiran para panglima itu sia-sia belaka. Pemuda itu sama sekali tidak nampak tersinggung. Memang Sin Wan tidak merasa tersinggung, bahkan dia pun hanya tersenyum. Dia tahu bahwa kini dia sedang berhadapan dengan orang-orang peperangan yang berwatak terbuka, keras dan jujur. Jika pertanyaan tadi diajukan oleh Jenderal Yauw Ti, jelas bahwa pertanyaan itu keluar dari hati yang jujur dan sama sekali tidak bermaksud menyinggung atau menghina. Dan memang dia tidak malu untuk mengakui keadaannya.

Dia menyapu wajah para panglima itu dengan pandang matanya. Dia melihat wajah-wajah yang gagah dan sinar mata yang tajam berwibawa. Semuanya membayangkan kekerasan dan ketegasan.

"Tidak apa-apa. Saya tidak merasa tersinggung sedikit pun sebab pertanyaan itu memang sudah sewajarnya. Memang sebaiknya kalau cu-wi (anda sekalian) mengenal siapa saya sesungguhnya. Nama saya Sin Wan, tanpa nama keluarga karena saya memang bukan orang Han. Ayah dan ibu saya sudah meninggal dunia dan mereka berdua adalah orang-orang yang bersuku bangsa Uighur. Akan tetapi sejak kecil saya terdidik sebagai orang Han, dan menjadi murid ketiga suhu Sam-sian, maka saya merasa diri saya tidak berbeda dengan orang-orang Han yang merupakan pribumi asli."
"Suku bangsa Uighur?!" Terdengar Jenderal Yauw Ti berseru dan matanya terbuka lebar, lalu alisnya berkerut dan matanya mengamati wajah Sin Wan dengan penuh selidik. "Akan tetapi banyak orang Uighur yang berpihak kepada Mongol!"

Suasana menjadi hening dan seluruh mata memandang kepada Sin Wan penuh selidik. Suasana yang tegang itu dipecahkan oleh suara tawa Jenderal Shu Ta.

"Ha-ha-ha, tidak ada jeleknya kalau Yauw-ciangkun bersikap hati-hati. Namun ketahuilah bahwa kita sama sekali tidak menaruh curiga kepada taihiap ini, sebab tidak semua orang Uighur berpihak kepada Mongol. Selain taihiap ini adalah murid Sam-sian, telah dipercaya oleh locianpwe Ciu-sian yang memberi leng-ki kepadanya serta mengangkatnya sebagai wakil dalam melaksanakan perintah Sribaginda, juga taihiap Sin Wan ini pernah bersama Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki diundang sebagai tamu oleh Pangeran Yen atau Raja Muda Yung Lo, dan dijamu oleh beliau. Bukan itu saja, bahkan taihiap ini akan diangkat menjadi panglima oleh beliau akan tetapi taihiap Sin Wan menolaknya."
"Ehh? Kenapa menolak anugerah pangkat panglima yang akan diberikan Pangeran Yen?" tanya Jenderal Yauw penasaran.

Sin Wan tersenyum. Tentu saja dia tidak dapat mengatakan bahwa dia tidak menerima kedudukan itu karena di sana ada Lim Kui Siang, sumoi-nya yang dari cinta berbalik benci kepadanya. "Saya tidak dapat menerima anugerah itu karena terus terang saja, saya tidak betah tinggal di utara yang dingin. Saya lebih senang tinggal di selatan."

Alasan ini memang masuk di akal. Bagi orang yang biasa hidup di selatan, tinggal di utara memang tidak menyenangkan. Apa lagi kalau tiba musim salju, dinginnya bukan main.

"Nah, sekarang kita kembali lagi kepada pembagian tugas. Bhok-ciangkun kami tugaskan untuk menjaga agar kedudukan bengcu tidak sampai terjatuh ke tangan datuk sesat yang dapat dimanfaatkan oleh orang Mongol, sedangkan taihiap Sin Wan membantunya dalam pelaksanaan tugas itu. Sementara itu, engkau pun dapat melakukan penyelidikan di kota raja, taihiap, sebelum waktu pemilihan bengcu tiba. Untuk ini engkau boleh bekerja sama dengan Bhok-ciangkun, dan tentu akan kami bantu kalau sewaktu-waktu dibutuhkan."

"Terima kasih, mudah-mudahan saya dapat melaksanakan tugas dengan baik. Saya kira keadaan akan menjadi baik kalau Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki yang kelak menjadi bengcu. Dia seorang datuk besar yang tentu akan membawa semua orang kang-ouw mendukung pemerintah. Jika dunia kang-ouw telah bersikap demikian, menentang para pemberontak, maka tugas pemerintah akan lebih ringan. Menurut suhu Ciu-sian, yang paling berbahaya datangnya dari utara, dari orang-orang Mongol. Selain mereka mempunyai banyak orang pandai, juga mengenal baik seluruh keadaan di semua kota, juga di kota raja, terutama sekali mereka itu tentu berusaha mati-matian untuk dapat mendirikan kembali kerajaan mereka yang telah hancur, atau setidaknya akan berusaha membikin kacau.

Jenderal Shu Ta mengangguk-angguk sambil mengelus jenggotnya yang pendek dan rapi. "Engkau benar, taihiap. Orang-orang Mongol itu agaknya sudah maklum bahwa mereka tak mungkin membangun kembali kerajaan mereka melalui kekerasan, karena setiap kali bergerak, pasukan mereka dapat kita hancurkan. Mereka tentu akan menggunakan siasat busuk, oleh karena itu senang dan legalah hati kami kalau sekarang Bhok-ciangkun dapat memperoleh bantuanmu. Kami yakin bahwa kalian berdua akan mampu menghancurkan setiap usaha jaringan mata-mata yang berbahaya, dimulai dari pemilihan Bengcu. Nah, kami semua mengharapkan kalian akan dapat melaksanakan tugas dengan baik, Bhok-ciangkun dan Sin Wan taihiap!"

Jenderal itu mengangkat cawan arak yang disambut dengan gembira oleh Sin Wan dan Bhok Cun Ki. Juga Jenderal Yauw Ti mengucapkan selamat dan menyampaikan harapan baiknya dengan secawan arak.

Sesudah pertemuan rahasia antara para panglima itu dibubarkan, panglima Bhok Cun Ki segera mengajak Sin Wan turut bersamanya. Karena pemuda itu sudah ditunjuk sebagai pembantunya, bekerja sama dengan dia, maka tentu saja mulai saat itu pendekar muda ini harus selalu dekat dengannya dan dia pun mengusulkan agar Sin Wan tinggal saja di rumahnya sehingga mereka dapat bekerja sama lebih baik.

Sin Wan rnenerima tawaran ini kemudian dia pun segera mengikuti Bhok Cun Ki ketika panglima itu mengajaknya pulang untuk membuat persiapan dan perundingan lebih lanjut mengenai tugas mereka berdua…..
********************
Dua orang muda itu sedang berlatih silat, saling serang dengan gerakan cepat dan kuat. Dari gerakan tangan mereka terdengar angin menyambar-nyambar, tanda bahwa mereka bukanlah ahli-ahli silat biasa, melainkan sudah memiliki tingkat kepandaian yang sangat hebat. Sambaran angin yang mengiuk-ngiuk itu saja membuktikan bahwa mereka berdua telah memiliki sinkang (tenaga sakti) yang kuat.

Mereka adalah seorang gadis berusia delapan belas tahun dan seorang pemuda berusia dua puluh tahun. Mereka kakak beradik, putera dan puteri Bhok Cun Ki. Pemuda itu anak pertama bernama Bhok Ci Han, bertubuh sedang tegap dan wajahnya tampan dan gagah seperti ayahnya. Gadis itu adiknya bernama Bhok Ci Hwa, cantik jelita, lincah jenaka dan bertubuh ramping. Sebagai putera puteri panglima Bhok, tentu saja sejak kecil mereka digembleng ayah mereka sendiri sehingga kini mereka sudah menjadi dua orang muda yang memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi.

Biasanya ayahnya selalu mengamati latihan mereka kalau mereka berlatih silat pada sore hari. Akan tetapi sore ini mereka berdua berlatih tanpa pengamatan ayahnya, bermain silat di kebun mereka yang luas, di dalam lingkungan pagar tembok yang tinggi. Sore ini ayah mereka menerima panggilan dari atasannya, yaitu Jenderal Shu Ta, maka dua orang kakak beradik itu berlatih berdua saja.

Ayah mereka, Bhok Cun Ki adalah seorang pendekar Butong-pai dan pernah membuat nama besar di dunia kang-ouw sampai dia menjabat pangkat panglima sesudah kerajaan Beng menggantikan kerajaan Mongol. Ibu mereka adalah seorang wanita cantik berdarah bangsawan yang lemah lembut, seorang ahli seni dan sastra yang tentu saja sama sekali tidak pandai silat. Dari ibu mereka, kedua orang muda ini pun mewarisi kelembutan serta kepandaian dalam hal seni dan sastra.

Ketika mereka berdua sedang berlatih dan gerakan mereka semakin cepat sehingga mata biasa akan sulit mengikuti gerakan mereka, bahkan tubuh mereka hanya kelihatan seperti dua sosok bayangan yang berkelebatan, tiba-tiba saja muncul seorang prajurit yang biasa berjaga di pintu gerbang depan.

"Kongcu (tuan muda) dan Siocia (nona muda), harap berhenti dulu!" teriak prajurit itu.

Kakak beradik itu lalu menghentikan latihan mereka. Dengan leher dan muka berkeringat mereka memandang kepada prajurit itu. Bhok Ci Hwa menghapus keringat pada lehernya dengan sehelai kain handuk, kemudian mengomel.

"Ada apa sih? Engkau mengganggu latihan kami!"

Prajurit itu memberi hormat. “Maafkan saya. Akan tetapi di luar ada seorang tamu yang bersikeras hendak bertemu dengan Bhok-ciangkun. Ketika saya beri tahu bahwa ciangkun tidak berada di rumah, dia berkeras mengatakan hendak bertemu dengan keluarganya."

"Berkeras? Hemmm, mengapa tidak kau katakan saja bahwa dia boleh kembali lagi kalau ayah telah pulang?" tegur Bhok Ci Han yang juga merasa tidak senang dengan gangguan itu.

"Maaf, kongcu. Saya dan kawan-kawan telah mengatakan demikian, akan tetapi dia tetap berkeras hendak bertemu dengan Bhok-ciangkun atau dengan keluarganya."
"Siapa sih orang itu? Dan apa keperluannya? Ci Hwa menjadi tertarik.
"Dia seorang gadis yang cantik dan galak sekali, siocia. Dan ketika kami bertanya tentang keperluannya, dia mengatakan bahwa dia membawa berita yang amat penting bagi Bhok-ciangkun atau keluarganya."
"Apakah dia tidak memberi tahukan siapa namanya dan dari mana dia datang?" tanya Ci Han.
"Tadi sudah kami tanyakan, akan tetapi dia tidak mau mengaku...”
"Namaku Lili…!"

Ci Han dan Ci Hwa, juga prajurit itu terkejut sekali. Mereka segera memutar tubuh dan di situ telah berdiri seorang gadis yang cantik manis, matanya mencorong tajam dan bibirnya yang manis itu tersenyum sinis.

"Itu... itu dia orangnya, kongcu...,” kata prajurit itu, lantas melangkah maju dengan sikap galak.
"Heiii, nona! Mengapa engkau lancang masuk ke dalam tanpa ijin? Bukankah tadi sudah kusuruh menanti di luar sementara aku melapor ke dalam?" Prajurit itu mengambil sikap hendak menyerang, dan Lili hanya berdiri santai sambil tersenyum mengejek.

Bhok Ci Han menyentuh lengan prajurit itu kemudian berkata, "Keluarlah, biar kami bicara dengan nona ini!"

Prajurit itu memberi hormat, lalu keluar dari dalam taman itu dengan langkah lebar sambil bersungut-sungut. Agaknya dia masih merasa penasaran sekali bagaimana tamu itu tahu-tahu bisa berada di taman. Bukankah di luar masih ada lima orang kawannya? Bagaimana mereka membiarkan gadis lancang itu masuk begitu saja? Dia akan menegur lima orang kawan itu.

Akan tetapi, ketika dia sampai di gardu penjagaan pintu gerbang depan, dia disambut oleh lima orang kawannya yang babak belur dan matang biru karena dihajar oleh gadis tamu itu ketika mereka berlima hendak menghalanginya memasuki pekarangan….!

********************
Selanjutnya baca
ASMARA SI PEDANG TUMPUL : JILID-05
LihatTutupKomentar