Ang I Niocu (Nona Baju Merah) Jilid 01

“ORANG she Kiang! Melihat usiamu yang masih muda, kami masih menaruh hati kasihan kepadamu. Kami nasihatkan supaya kau pergi dari sini dan jangan mencampuri urusan kami,” terdengar suara yang kecil dan nyaring.

“Kiang-enghiong, ucapan Hek-tung Beng-yu (Sahabat Tongkat Hitam) tadi memang amat tepat. Menilik gerak-gerikmu, kau adalah seorang ahli silat yang sudah pandai, mengapa kau tidak tahu akan aturan kang-ouw? Kami para ketua perkumpulan pengemis sedang mengurus persoalan kami sendiri, kenapa kau begitu tidak tahu malu untuk mencampuri urusan kami? Lebih baik lekaslah kau pergi sebelum terjadi hal-hal yang kurang baik bagi dirimu,” kata pula suara ke dua yang parau dan kasar.

Suara dua orang ini disusul oleh gumaman banyak mulut yang menyatakan persetujuan. Dua orang yang bicara tadi, juga mereka yang menyatakan persetujuan adalah kumpulan orang tua yang sangat aneh, baik dilihat dari bentuk tubuh, pakaian, mau pun gerak-gerik mereka.

Mereka ini sudah jelas merupakan sekumpulan pengemis-pengemis, karena baju mereka penuh tambalan dan di tangan mereka terlihat tongkat dan tempat sedekah, seperti panci butut, batok, kaleng dan lain-lain. Jumlah mereka ada empat belas orang.

Akan tetapi kalau orang tahu siapakah adanya mereka ini, dia tentu akan terkejut, karena mereka ini bukan lain adalah ketua-ketua dari seluruh kaipang (perkumpulan pengemis) yang tersebar di seluruh Tiongkok dan merupakan ketua-ketua dari semua perkumpulan terbesar. Jangan ditanya lagi tentang kepandaian mereka!

Baru orang pertama yang tadi berbicara dengan suara kecil nyaring saja, yang tubuhnya tinggi kurus dan matanya buta sebelah kiri, yang dijuluki orang It-gan Sin-kai (Pengemis Sakti Mata Satu), kelihaiannya hanya di bawah kepandaian raja pengemis puluhan tahun yang lalu, yakni Ang-bin Sin-kai (Pengemis Sakti Muka Merah) yang menggemparkan dunia kang-ouw. 

Seperti halnya Ang-bin Sin-kai yang sudah meninggal dunia, pengemis bermata satu ini juga beberapa kali pernah menggegerkan istana kaisar karena dia menyerbu dapur dan menyikat habis masakan-masakan yang paling lezat di dapur istana! 

Juga orang ke dua yang suaranya parau dan kasar, yang bertubuh kate dengan perutnya saja yang besar dan gendut seperti anak cacingan, bukanlah sembarangan orang. Dia ini disebut Pat-jiu Siauw-kai (Pengemis Kecil Tangan Delapan) dan kelihaiannya dalam ilmu silat tidak kalah oleh It-gan Sin-kai!

Demikian pula dua belas orang pengemis yang lain, masing-masing adalah ketua-ketua pengemis yang sudah amat terkenal di dunia kang-ouw, dan kesemuanya boleh dibilang merupakan orang-orang yang menjunjung tinggi Pengemis Sakti Muka Merah, mendiang Ang-bin Sin-kai. Sebab itu pula, maka mereka terkenal sebagai pemimpin-pemimpin yang menjaga keras semua peraturan sehingga para anggota perkumpulan mereka berdisiplin.

Biar pun hidup sebagai pengemis-pengemis, akan tetapi mereka merupakan sekumpulan orang-orang gagah yang selalu siap sedia menolong kaum lemah yang tertindas! Mereka adalah golongan pendekar-pendekar yang menyamar sebagai pengemis-pengemis, atau lebih tepat lagi, yang suka memilih hidup bebas bagaikan burung di udara. Dan menurut anggapan mereka, hanya pengemis-pengemis saja yang bisa hidup bebas seperi burung di udara.

Empat belas orang ketua pengemis itu sekarang nampak tidak senang. Mereka sedang menghadapi seorang laki-laki muda yang umurnya kurang lebih dua puluh lima tahun.

Pemuda ini amat gagah, pakaiannya bersih dan indah, wajahnya tampan sekali dengan alis tebal dan hidung mancung. Bibirnya merah seperti bibir wanita. Dadanya bidang dan menonjol ke depan, sepasang lengannya kekar serta dia nampak lebih tegap dan gagah karena pedang yang tergantung pada punggungnya. Pemuda itu mempunyai sepasang mata yang tajam dan selalu berseri gembira.

Kini menghadapi empat belas orang kakek pengemis yang marah-marah itu, dia hanya tersenyum-senyum mengejek, sama sekali tidak merasa takut sungguh pun dia sudah mengenal, atau setidaknya pernah mendengar nama semua ketua pengemis ini dan telah maklum pula akan kelihaian mereka.

“Hm, Cuwi Lo-kai (Para Tuan Pengemis Tua) bicara tentang pelajaran ilmu silat, tentang peraturan kang-ouw, dan tentang tahu malu? Pernah siauwte mendengar ujar-ujar Guru Besar Khong Cu yang berbunyi seperti berikut: Ho Hak Kin Houw Ti, Lek Heng Houw Jin, Ti Thi Kin Houw Yong! Tahukah Cuwi akan artinya? Kalau tak salah, maksudnya begini: Suka belajar berarti mendekati pengetahuan, menjalankan ilmu pengetahuan itu artinya mendekati welas asih dan tahu malu berarti mendekati kegagahan!”

Pat-jiu Siauw-kai yang terkenal paling berangasan, menjadi marah dan ia pun melangkah maju, lalu menudingkan telunjuknya ke arah hidung pemuda itu, “Kau ini anak kecil bau pupuk, mau berlagak menjadi guru ilmu batin? Kau kutip-kutip segala isi kitab Tiong-yong (kitab pelajaran Guru Besar Khong Hu Cu) dengan maksud apakah?”

“Sabarlah, Lo-kai. Kau yang punya terlalu banyak tangan harus bisa bersikap tenang dan sabar,” kata pemuda itu yang menyindir pengemis kate ini yang berjuluk Pengemis Kecil Berlengan Delapan. “Bukankah tadi kau yang menyatakan bahwa aku telah mempelajari ilmu silat akan tetapi tidak tahu akan peraturan dunia kang-ouw dan tidak tahu malu? Nah, jawabku ialah isi ujar-ujar yang tepat itu.”
“Apa maksudmu?” Pat-jiu Siauw-kai membentak.

“Maksudku? Segala tindakanku kusesuaikan dengan ujar-ujar indah itulah. Aku bersusah payah belajar silat untuk mengejar ilmu. Sesudah ilmu kudapatkan, aku menjalankannya untuk menolong sesama manusia, ini berarti mendekati pribudi baik atau welas asih. Ada pun hal tahu malu seperti kau singgung-singgung tadi, Guru Besar berkata bahwa kalau kita tahu malu, itu artinya kita mendekati sifat gagah. Akan tetapi kalian ini, empat belas orang ketua perkumpulan besar, orang-orang kang-ouw yang memiliki kepandaian tinggi, mengapa sekarang justru hendak menyiksa dan membunuh seorang kawan tua yang tak berdaya? Apakah itu namanya tahu malu? Kalianlah orang-orang yang tak tahu malu dan karenanya aku yang muda tidak dapat menganggap kalian ini orang-orang gagah!”

“Kiang Liat, kau sombong bukan main!” Seorang pengemis gemuk bundar yang berjuluk Tiat-tho Mo-kai (Pengemis Iblis Kepala Besi) melompat maju dan memaki marah, “Kau ini orang luar tahu apa? Dalam undang-undang partai pengemis nomor tujuh belas berbunyi begini: Segala keputusan rapat ketua tak boleh dicampuri oleh orang luar.”

Pemuda yang bernama Kiang Liat itu tersenyum. “Peraturan dan undang-undangmu itu hanya berlaku untuk kalian sendiri, aku peduli apa? Pendeknya, sebagai seorang yang pernah mempelajari ilmu silat, yang sudah bersumpah untuk hidup sebagai pendekar dan menolong si lemah yang tertindas, aku Kiang Liat tidak akan membiarkan kalian begitu saja menyiksa dan membunuh kakek itu. Habis perkara!”

“Kau menghina Cap-si Kaipangcu (Empat Belas Ketua Perkumpulan Pengemis)!” Tiat-tho Mo-kai membentak marah dan dengan cepat ia lalu menggerakkan tubuh.

Lucu dan mengagumkan sekali gerakannya ini. Walau pun tubuhnya gemuk dan bundar, namun gerakannya ternyata luar biasa cepatnya dan tahu-tahu tubuh itu telah meluncur seperti dilemparkan, dengan kepala di depan ia menyeruduk ke arah Kiang Liat!

Serangan ini lihai sekali dan jarang ada ahli silat berani menerima serangan kepala dari Tiat-tho Mo-kai ini. Sesuai dengan julukannya, yaitu Si Kepala Besi, kepala Si Pengemis yang botak kelimis ini luar biasa keras dan kuatnya, melebihi besi sehingga apa bila dia menyeruduk, seekor kerbau pun tak akan kuat menahan dengan kepalanya.

Para tokoh pengemis yang berada di situ menyangka bahwa pemuda itu tentunya akan mengelak dan kalau dia berbuat demikian, belum tentu dia akan mampu meluputkan diri, karena kedua tangan Tiat-tho Mo-kai tidak tinggal diam, melainkan dipentang dan siap untuk melakukan serangan dengan tangan apa bila lawan mengelak dari serudukannya.

Akan tetapi, apa yang mereka lihat? Benar-benar tak dapat dipercaya. Kiang Liat bukan mengelak, akan tetapi masih berdiri dengan tegak dan menerima serudukan itu dengan perutnya!

“Cappp!”

Kepala yang botak kelimis itu seakan-akan menancap pada perut pemuda itu, akan tetapi Kiang Liat hanya mundur selangkah, sama sekali tidak terlihat merasa sakit. Sebaliknya, Tiat-tho Mo-kai nampak lucu sekali, kepalanya tertanam di dalam perut berikut mulut dan hidung, ada pun kedua kakinya bergerak-gerak!

Dia mencoba untuk melepaskan diri dan mencabut kepalanya, akan tetapi sia-sia belaka sehingga hanya kedua kakinya saja yang terus bergerak-gerak ke atas dan ke bawah. Ia bermaksud mempergunakan kedua tangannya untuk menyerang, akan tetapi Kiang Liat sudah mendahuluinya dan secepat kilat dia menotok kedua lengannya menjadi lemas tak bertenaga lagi.

Setelah merasa cukup mempermainkan pengemis botak itu, tiba-tiba Kiang Liat berseru, “Pergilah!”

Bagaikan dilontarkan saja, tubuh pengemis botak itu terlempar sampai dua tombak lebih. Tiat-tho Mo-kai jatuh berdebuk, tetapi dia tidak merasa terluka dan setelah mengerahkan lweekang untuk membebaskan diri dari totokan pada pundaknya, ia lalu maju lagi dengan muka merah. Sikapnya kembali mengancam dan mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tidak begitu jelas bahwa ia hendak mengadu nyawa.

“Tiat-tho Mo-kai, kau sungguh tidak tahu diri. Kalau aku mau berlaku kejam, bukankah kau sudah menjadi pengemis iblis tak bernyawa lagi?” kata Kiang Liat.

Mendengar ucapan ini, Tiat-tho Mo-kai cepat menghentikan langkahnya dan dia nampak ragu-ragu. Memang, dia bukan tidak tahu bahwa kalau saja Kiang Liat mau, tadi ketika kepalanya tertanam pada perut, dengan lweekang-nya yang sangat tinggi itu, pemuda ini tentu akan dapat membunuhnya.

Tadi pun dia sudah merasa terheran mengapa dia dapat keluar dari keadaan itu dengan selamat dan tidak terluka, dan kini mendengar ucapan Kiang Liat, dia merasa malu untuk maju lagi. Sudah jelas bahwa kepandaiannya masih kalah jauh bila dibandingkan dengan pemuda luar biasa itu.

It-gan Sin-kai Si Mata Satu melangkah maju. Matanya yang tinggal satu sebelah kanan itu memancarkan sinar menakutkan.

“Kiang-enghiong, kau benar-benar lihai sekali dan tidak percuma kau berjulukan Jeng-jiu Sianjin (Manusia Dewa Tangan Seribu)! Akan tetapi kali ini kau menghina dan merusak peraturan dari Cap-si Kaipangcu, maka sekali lagi aku atas nama semua kawan berharap supaya kau sudi mengalah dan pergi meninggalkan kami mengurus dan menyelesaikan urusan kami sendiri. Lain kali kami tentu akan mengunjungimu menghaturkan maaf.”

“Tidak mungkin, It-gan Sin-kai! Bagiku, biar pun aku Kiang Liat masih muda, akan tetapi berlaku kata-kata It-gan-ki-jut Su-ma-lam-twi (sekali kata-kata dikeluarkan, empat ekor kuda tak dapat menarik kembali)! Kalau kalian tidak mau melepaskan kakek itu, aku pun tidak akan pergi dari sini dan akan menghalangi siapa pun juga yang akan membunuh orang yang tak berdaya!” kata Kiang Liat dengan gagah.
“Tetap begitukah pendirianmu, Kiang-enghiong?” tanya It-gan Sin-kai marah.
“Tetap begitu dan tidak akan dapat dirubah oleh siapa pun juga!” kata Kiang Liat dengan suara tetap pula.

Dia sendiri pun sudah marah melihat betapa para tokoh pengemis itu begitu tidak tahu akan peri kemanusiaan dan akan membunuh seorang kakek yang kelihatan begitu tidak berdaya. Ia telah sering kali mendengar tentang Cap-si Kaipangcu ini, mendengar bahwa mereka merupakan pendekar-pendekar yang mempunyai kepandaian tinggi, yang selalu menjunjung tinggi kegagahan dan peri kebajikan, tapi kenapa sekarang mereka berkeras hendak berlaku kejam terhadap seorang kakek yang tak berdaya? 

“Kalau begitu, terpaksa kami akan melakukan kekerasan dengan senjata, dan apa bila sekiranya semua orang kang-ouw berada di sini, pasti mereka akan membenarkan kami!” kata It-gan Sin-kai.
“Kalau mereka membenarkan kalian, mereka itu tidak pantas menyebut diri orang-orang kang-ouw, melainkan orang-orang berhati kejam yang tak mengenal peri kemanusiaan!” kata Kiang Liat.

Ketika melihat betapa empat belas orang ketua perkumpulan-perkumpulan pengemis itu mengeluarkan senjata mereka masing-masing, ia pun segera mencabut pedangnya yang mengeluarkan sinar gemerlapan.

Kedua pihak sudah bersiap-sedia untuk mempergunakan kekerasan, dan Kiang Liat yang maklum bahwa ia menghadapi orang-orang lihai, berlaku amat hati-hati. Ia pikir bahwa biar pun ia takkan menang dan sekali pun ia akan mati dikeroyok oleh Cap-si Kaipangcu ini, ia tidak akan merasa penasaran oleh karena ia membela kebenaran.

Dan benar saja seperti yang ia duga, empat belas orang pengemis itu bergerak serentak dan menyerang dari berbagai jurusan. Kiang Liat cepat memutar pedangnya menangkis dan terdengar suara berdentang-denting ketika pedangnya beradu dengan tongkat milik mereka.

Bukan main kagetnya Kiang Liat karena ternyata bahwa tenaga mereka itu rata-rata amat besar dan seimbang dengan tenaganya sendiri. Ia bergerak cepat, namun empat belas batang tongkat itu lebih cepat lagi dan dalam lima gebrakan saja pinggangnya sudah terkena pukulan tongkat!

Bukan main sakitnya, dan baiknya dia mempunyai tenaga lweekang yang sudah tinggi sehingga dia tidak terluka berat. Namun pukulan ini sudah mengacaukan pikirannya dan untuk menyelamatkan diri, dia melompat jauh sambil memutar pedangnya yang berubah menjadi segunduk sinar yang menyelimuti seluruh tubuhnya.

Ketika keadaan Kiang Liat sangat terdesak karena kalau empat belas orang lawannya itu menyerang lagi pasti ia takkan dapat mempertahankan diri, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan hitam dan terdengar seruan orang yang suaranya amat berpengaruh,

“Tahan dulu semua senjata! Kawan-kawan yang hidup bebas mengapa mengikatkan diri dengan pertempuran?”

Kiang Liat dan semua pengemis itu menengok. Mereka melihat seorang pengemis yang bertubuh tegap, berusia kurang lebih empat puluh tahun tahu-tahu telah berdiri di sana. Pengemis ini berwajah tampan dan gagah, kulit muka dan tangannya bersih terpelihara, akan tetapi rambutnya awut-awutan ke sana ke mari, begitu pula jenggot dan kumisnya.

Bajunya penuh tambal-tambalan, akan tetapi juga bersih. Tangan kanannya memegang sebatang tongkat kecil, hanya sebesar ibu jari kaki, dan di pinggangnya nampak gagang sebatang pedang.

Baik Kiang Liat mau pun para tokoh pengemis itu tak mengenal siapa adanya pengemis ini. Bagi Kiang Liat, masih tidak mengherankan kalau ia tidak mengenal pengemis yang baru datang ini, akan tetapi empat belas orang ketua partai pengemis yang terbesar sampai tidak mengenalnya, benar-benar adalah hal yang amat mengherankan.

“Siapakah kawan yang baru datang?” tanya It-gan Sin-kai.

Suaranya jelas menyatakan betapa hatinya terguncang dan malu karena memang sangat memalukan bagi seorang ketua perkumpulan pengemis kalau sampai menanyakan siapa adanya seorang pengemis yang baru datang. Sambil bertanya demikian, ia memandang kepada semua kaipangcu yang berada di situ, akan tetapi seorang pun tidak ada yang tahu dan mereka ini pun memandang kepada pengemis yang baru tiba itu dengan mata penuh pertanyaan.

Pengemis itu tersenyum dan wajahnya nampak tampan ketika ia tersenyum.

“Tidak ada artinya siapa adanya aku seorang pengemis hina-dina ini yang tidak terkenal, hanya karena kebetulan sekali aku lewat di sini, aku merasa tertarik sekali melihat orang hendak mengadu nyawa. Demikian mengerikan! Kenapa untuk membereskan persoalan harus mempergunakan tongkat dan pedang? Apakah gerangan yang terjadi di sini?”

Kiang Liat memang masih muda, akan tetapi dia sudah banyak merantau dan namanya sudah amat terkenal di dunia kang-ouw. Pandangan matanya amat tajam dan tadi ketika pengemis yang baru tiba ini berkelebat datang, ia dapat menduga bahwa pengemis yang datang ini memiliki kepandaian tinggi. Karena ia maklum bahwa ia memang takkan dapat menang menghadapi empat belas orang ketua yang lihai itu, maka ia lalu berkata kepada pengemis yang baru datang itu,

“Sahabat yang baru datang ini tentulah seorang kang-ouw yang mengenal keadilan, oleh karena itu kebetulan sekali kau datang bertanya mengenai persoalan ini. Sesungguhnya, aku sendiri pun hanya seorang perantau yang tak mempunyai sangkut paut dengan para kaipangcu ini, akan tetapi ketika sampai di sini aku melihat empat belas orang kaipangcu yang berkepandaian tinggi ini hendak menyiksa serta menghukum mati kepada seorang kakek yang tak berdaya itu. Oleh karena inilah maka terpaksa aku melupakan kebodohan sendiri dan berusaha mencegah mereka melakukan hal yang amat kejam itu.”

Kiang Liat menunjuk kepada seorang kakek tua yang sejak tadi duduk bersandar pada sebatang pohon. Kakek ini kelihatan tak berdaya dan semenjak tadi hanya duduk sambil menundukkan mukanya yang pucat. Di dekatnya terdapat sebuah buntalan yang nampak berat, entah apa isinya.

Mendengar ucapan Kiang Liat ini, It-gan Sin-kai memandang pada kawan-kawannya dan berkata, “Apakah kami perlu memberi penjelasan kepada sahabat yang baru datang dan tidak mau memperkenalkan namanya ini?”
“Tentu saja,” kata Pat-jiu Siauw-kai, “kalau dia seorang kang-ouw tulen, tentu dia akan dapat membenarkan kami.”

It-gan Sin-kai menghadapi pengemis yang baru datang itu, kemudian berkata memberi penjelasan, “Begini, sobat. Kami empat belas orang ketua perkumpulan pengemis tengah berkumpul di sini untuk memberi hukuman terhadap seorang bekas ketua pengemis di daerah selatan yang sudah melanggar pantangan bagi kami semua. Dia sudah berlaku curang, mengumpulkan harta benda dan melepaskan diri dari tugas memimpin kawan-kawan, hendak hidup sebagai seorang kaya raya. Ini adalah kedosaan besar, melanggar peraturan kami nomor tujuh dan untuk kedosaan ini, harta bendanya harus disita, begitu pula nyawanya.”

“Bagus! Peraturan macam apakah itu? Merampas harta benda, merampas nyawa orang, benar-benar amat rendah!” Kiang Liat memotong marah.
“Kiang-enghiong, jangan kau membuka mulut sembarangan!” It-gan Sin-kai membentak marah pula, “Peraturan ini adalah buatan dari Locianpwe Ang-bin Sin-kai yang mulia, lalu bagaimana kau berani menyatakan rendah?”

Mendengar disebutnya nama Ang-bin Sin-kai, tiba-tiba saja pengemis yang baru datang itu berubah mukanya.

“Kawan-kawan sekalian, kalian tahu apakah mengenai Ang-bin Sin-kai?” tanyanya sambil memandang tajam.

Kini semua mata dari para pengemis itu ditujukan kepadanya dengan marah. “Locianpwe Ang-bin Sin-kai adalah pendiri dari partai-partai pengemis, mula-mula di selatan. Siapa yang tidak mengenalnya? Apa lagi orang yang hidup bebas sebagai pengemis, mereka harus mengenalnya. Kami memuliakan namanya, namun kau menyebut namanya begitu saja. Siapakah kau?”

“Kalian mau tahu? Aku bernama Han Le, dan Ang-bin Sin-kai adalah guruku!”

Kini semua mata memandang dengan terbelalak lebar dan mulut mereka bengong. Tidak hanya para tokoh pengemis yang menjadi terheran-heran, bahkan Kiang Liat sendiri pun memandang tak percaya. Dia tentu saja pernah mendengar nama besar Ang-bin Sin-kai, namun dia tidak pernah melihat orang tua sakti itu yang sudah meninggal dunia lama sekali. Maka kini ia hanya memandang saja.

“Benar-benarkah, kawan? Awas, jangan kau main-main. Sungguh pun kami tidak pernah mendapat kebahagiaan mengenal Locianpwe Ang-bin Sin-kai dari dekat, tetapi kami tahu betul bahwa muridnya hanyalah orang sakti yang disebut Bu Pun Su.”

Han Le tertawa lebar, “Bu Pun Su memang muridnya, akan tetapi kepandaiannya jauh lebih tinggi dari Suhu, dan aku yang rendah merasa mendapat kehormatan besar untuk mengaku bahwa Bu Pun Su adalah suheng (kakak seperguruan)-ku.”

Kembali semua orang menyatakan ketidak percayaannya. Akan tetapi It-gan Sin-kai lalu berkata, “Tak peduli apakah kau benar murid Locianpwe Ang-bin Sin-kai atau pun bukan, apakah kau benar-benar sute dari Bu Pun Su atau bukan, akan tetapi setelah kau tiba di sini, bagaimana anggapanmu tentang urusan kami dengan Kiang-enghiong ini?”
“Ya, bagaimana keputusanmu, murid dari Ang-bin Sin-kai?” tanya Kiang Liat, suaranya mengejek. Memang Kiang Liat tidak percaya akan keterangan Han Le tadi, dan memang sifat Kiang Liat amat pemberani dan jenaka.
“Menurut pemandanganku yang amat bodoh, kalau memang sudah ada peraturan bahwa orang yang melanggar harus dihukum, hal itu sukar untuk dirubah lagi. Namun, aku tidak setuju jika hukuman itu hukuman mati, paling baik dia dilepaskan dan tak diakui menjadi anggota lagi. Betapa pun juga, dalam perselisihan ini, Kiang-enghiong terang berada di pihak yang salah. Tidak baik mencampuri urusan rumah tangga lain orang.”

Jawaban ini terang sekali bercabang dua, di satu pihak menyalahkan Kiang Liat, di lain pihak tidak menyetujui hukuman yang akan dijatuhkan kepada kakek itu. Ada pun kakek itu ketika mendengar kata-kata ini, lalu berkata seperti kepada diri sendiri,

“Aku orang she Song memang sudah merasa bersalah, namun sekali-kali bukan karena terdorong oleh keinginanku hidup mewah, hanya demi kebahagiaan cucu perempuanku yang satu-satunya. Jika kalian mau bunuh boleh bunuh, asal saja kalian suka mengingat akan kehidupan cucuku Bi Li!”
“Tutup mulutmu, jahanam rendah!” It-gan Sin-kai berkata keras, kemudian ia menghadapi Han Le. “Orang she Han, kau datang-datang mengaku sebagai muridnya Ang-bin Sin-kai Locianpwe, datang-datang kau berani mencela undang-undang kami yang diturunkan oleh Ang-bin Sin-kai Locianpwe. Buktikanlah bahwa kau benar-benar murid beliau, baru kami akan suka mendengarkan omonganmu. Apa bila tanpa bukti, lebih baik kau jangan turut mencampuri urusan kami.”

Semua tokoh pengemis mengangguk-anggukkan kepala, tanda menyatakan persetujuan mereka. Han Le tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang gondrong, sungguh pun kepala itu tidak gatal.

“Bagaimana aku harus membuktikannya?” 

It-gan Sin-kai dan kawan-kawannya saling mendekati, lalu mereka bisik-bisik. Kemudian pengemis bermata satu itu berkata, “Kami pernah mendengar bahwa Locianpwe Ang-bin Sin-kai memiliki sebuah kiam-hoat (ilmu pedang) yang sangat lihai dan tiada keduanya di dunia ini, yang disebut sebagai Hun-khai Kiam-hoat. Kalau benar kau adalah muridnya, tentu kau dapat mainkan ilmu pedang itu.”

Han Le tertawa, “Sudahkah kalian melihat ilmu pedang itu?”

Mereka menggelengkan kepala.

“Kalau kalian belum pernah melihat ilmu pedang itu, bagaimana kalian bisa meminta aku memainkannya?”

Para pengemis itu saling pandang, kemudian It-gan Sin-kai berkata dengan suara keras, seakan-akan dia telah mendapatkan jalan yang terbaik untuk memecahkan hal ini.

“Kau boleh mainkan ilmu pedang itu dan kalau kau bisa menangkan kami seorang demi seorang, barulah kami akan percaya bahwa kau benar-benar murid Locianpwe Ang-bin Sin-kai.”

Kembali semua pengemis itu menyatakan persetujuannya. Han Le tersenyum lagi dan ia menggerak-gerakkan tongkatnya yang kecil itu.

“Baiklah, tetapi bukan aku yang minta. Nah, kalian majulah seorang demi seorang untuk berkenalan dengan Hun-khai Kiam-hoat dari Suhu Ang-bin Sin-kai.”

It-gan Sin-kai maju terlebih dulu. Pengemis ini terkenal lihai sekali ilmu ginkang-nya dan juga ilmunya memainkan ilmu pedang yang dimainkan dengan tongkatnya. Tongkat itu pendek saja dan sekali dia menekan, ternyata bahwa tongkat itu dapat dilepas dan kini berubah menjadi sepasang!

“Keluarkanlah pedangmu untuk kulihat apakah betul-betul kau dapat mainkan Hun-khai Kiam-hoat!” katanya menantang.
“Bukankah kau adalah It-gan Sin-kai yang pandai mainkan ilmu pedang pasangan yang disebut Siang-hong Kiam-hoat (Ilmu Pedang Sepasang Burung Hong)? Kau sendiri akan menggunakan tongkat sebagai pedang, maka biarlah aku pun menirumu. Memang bagi pengemis-pengemis seperti kita lebih pantas bertongkat dari pada berpedang.”
“Sesukamulah!” Jawab It-gan Sin-kai.

Pengemis mata tunggal ini segera menyerang dengan tongkat kirinya, menusuk ke arah leher Han Le, disusul oleh tongkat kanan yang menyerang ke arah lambung.

Han Le cepat menggerakkan tongkat kecilnya sambil berkata, “Nah, inilah ilmu pedang Hun-khai Kiam-hoat bagian khai (membuka)!” katanya.

Dan It-gan Sin-kai lantas mengalami hal yang sangat aneh dan baru sekali ini dia alami dalam pertempuran-pertempuran yang sudah banyak dia lakukan.

Kemana pun juga sepasang tongkatnya menyerang, selalu saja tongkatnya itu bertemu dengan senjata lawan yang terbuka atau terpalang hingga semua serangannya terpental dan membuka. Kalau lawannya yang jauh lebih muda itu mau, dengan mudah Han Le tentu akan dapat membalas dengan memasuki bagian-bagian yang terbuka itu.

Akan tetapi, terang sekali bahwa Han Le tidak mau melukai lawan. Ia bahkan tidak mau membalas dengan serangan. Kurang lebih dua puluh jurus kemudian, Han Le berkata sambil tertawa,

“Dan inilah bagian hun (memecah)!”

Tongkatnya bergerak semakin cepat, dengan gerakan-gerakan yang amat aneh. Kali ini It-gan Sin-kai mengeluarkan suara tertahan ketika sepasang tongkatnya menjadi kacau balau gerakannya, dan benar-benar semua jurus yang ia keluarkan terpecah-belah oleh gerakan tongkat lawan. Sepasang tangannya menjadi pedas sekali dan apa bila dia tidak lekas-lekas melompat mundur, tentu sepasang tongkatnya akan terlepas dari pegangan.

“Lihai sekali!” serunya sambil menjura, “Sungguh pun aku tak dapat memastikan apakah yang kau mainkan itu betul-betul Hun-khai Kiam-hoat, tetapi harus kuakui bahwa selama hidupku belum pernah aku menghadapi ilmu silat seaneh dan selihai itu.”

Pat-jiu Sin-kai pengemis kate berperut gendut itu kini maju menggantikan It-gan Sin-kai. Senjata pengemis itu adalah tongkat panjang yang dimainkan sebagai toya. Akan tetapi, seperti halnya It-gan Sin-kai, ia pun hanya dapat bertahan tidak lebih dari tiga puluh jurus saja, sungguh pun Han Le tidak pernah menyerangnya sejurus pun.

Menghadapi tangkisan-tangkisan saja dia telah merasa bingung dan kewalahan. Bahkan pada jurus terakhir, tongkatnya membalik sedemikian rupa sehingga tanpa dapat dicegah lagi, tongkat itu ujungnya menghantam kepalanya sendiri!

“Lihai benar, aku menyerah kalah!” katanya jujur.

Setelah dua orang ini yang dianggap kepandaiannya tertinggi dengan mudah menyerah kalah, semua pengemis mulai percaya.

“Kini kami mulai kehilangan keraguan bahwa kau benar-benar murid Locianpwe Ang-bin Sin-kai,” kata It-gan Sin-kai kepada Han Le. “Sekarang bagaimana menurut pendapatmu, sahabat muda yang lihai?”

Han Le tersenyum senang. “Sudah lama aku mendengar nama Cap-si Kaipangcu yang terkenal adil serta gagah, dan ternyata memang benar demikian. Perkara kakek yang melanggar larangan perkumpulan kaipang, memang dia harus dihukum. Harta bendanya boleh dirampas dan dia juga boleh dihukum, akan tetapi bukan hukuman mati, melainkan hukuman cambuk lima puluh kali.”

“Setuju!” serentak para pengemis itu berseru. It-gan Sin-kai sendiri segera maju dan di tangannya sudah kelihatan sebatang cambuk.

Akan tetapi tiba-tiba Kiang Liat melompat ke dekat It-gan Sin-kai dan sebelum pengemis mata satu itu dapat mengelak, cambuk itu sudah dirampas oleh Kiang Liat! 

“Aturan apa ini? Kau pengemis yang baru datang, betapa gagah pun kau tetap berjiwa pengemis dan berpikir bagai pengemis! Orang tua itu bosan hidup menjadi pengemis lalu menempuh hidup baru yang lebih pantas demi kebahagiaan cucunya, bukankah itu baik sekali? Kalian seharusnya meniru perbuatannya itu, benar-benar tak tahu malu! Apakah hukuman ini dilakukan karena kalian iri hati melihat dia kaya dan hidup bahagia ada pun kalian masih jadi jembel?”

Han Le memandang kepada Kiang Liat dengan mata bersinar-sinar gembira. Dia suka sekali melihat sikap pemuda itu, dan dia pun merasa kagum melihat caranya.

Kiang Liat merampas cambuk dari tangan It-gan Sin-kai. Gerakan yang dilakukan oleh pemuda itu ketika merampas cambuk, bukanlah gerakan ilmu silat yang aneh, melainkan gerakan biasa saja. Akan tetapi cara melakukannya demikian cepat dan hebat, ditambah dengan kembangan sendiri hingga It-gan Sin-kai sampai tak mengira bahwa cambuknya akan dirampas. Gerakan ini saja sudah membuktikan bahwa Kiang Liat memang memiliki bakat yang luar biasa sekali dalam ilmu silat.

Sebagian besar ahli silat, gerakan-gerakannya otomatis seperti pelajaran yang dipelajari dari guru masing-masing. Hanya orang yang berbakat tinggi saja dapat mengembangkan gerakan silat yang dipelajari dari gurunya menjadi gerakan yang sangat baik, disesuaikan dengan keadaan tubuh sendiri. Hal ini diketahui benar oleh Han Le, karena itu kini dia memandang dengan mata berseri.

“Orang muda, terhadap peraturan dan kehidupan orang-orang yang dianggap pengemis matamu seperti buta. Kau tidak tahu apa-apa, kenapa mau ikut campur? Pernahkah kau mendengar nama Ang-bin Sin-kai?” tanya Han Le.
“Tentu saja pernah,” jawab Kiang Liat mengedikkan kepala.
“Seperti apa kau mendengar tentang dia?”
“Ang-bin Sin-kai adalah seorang patriot sejati, seorang gagah yang berani membela si lemah yang tertindas sehingga ia berani menyerbu ke kota raja kemudian tewas sebagai seorang pahlawan,” jawab Kiang Liat.

Han Le makin gembira. “Apakah kau tidak mendengar bahwa dia juga seorang pengemis seperti telah disebutkan oleh julukannya?”

“Walau pun kau mengaku muridnya, akan tetapi aku tetap tidak percaya bahwa Ang-bin Sin-kai akan bersikap seperti kalian. Aku tidak dapat membayangkan bahwa pahlawan besar itu bisa direndengkan dengan orang-orang seperti kalian yang ingin menggunakan kekuatan dan jumlah banyak untuk menghina seorang kakek yang tidak berdosa, bahkan yang hendak menempuh jalan benar. Pendeknya kalian tidak boleh menyiksanya!”

“Kau lancang sekali, orang she Kiang, apakah kau juga berani menentangku?” Han Le menantang, akan tetapi mulutnya masih tersenyum dan matanya berseri.
“Kenapa tidak berani? Boleh jadi kau murid Ang-bin Sin-kai dan boleh jadi kau lihai, akan tetapi aku akan menentangmu apa bila kau hendak membantu pengemis-pengemis tua yang kejam ini.”
“Nah, kalau begitu mari kita bertaruh,” kata Han Le dengan wajah berseri. “Kita semua tidak mempunyai permusuhan sesuatu dan keributan ini pada hakekatnya hanya karena perbedaan paham belaka. Mari kau dan aku bertanding dan kita bertaruh.”
“Apa taruhannya?!” bentak Kiang Liat. “Untuk membela kaum lemah, aku pertaruhkan kepala dan nyawaku!”

Han Le menjadi kagum dan suka kepada pemuda tampan ini.

“Tak usah kepala dan nyawa. Mari kita bertanding dan kalau dalam dua puluh jurus aku tidak dapat merobohkanmu, aku boleh dianggap kalah.”

Semua pengemis terkejut mendengar ini. Betapa pun pandainya pengemis muda itu, tapi bagaimana dia bisa merobohkan Kiang Liat dalam dua puluh jurus? Mereka tadi sudah merasakan betapa lihainya Kiang Liat.

Kiang Liat menjadi panas perutnya. Itulah penghinaan namanya!

“Kau hendak bertaruh apa? Bagaimana kalau tidak mampu mengalahkan aku dalam dua puluh jurus?”

Han Le tersenyum. “Jika tidak mampu, berarti aku kalah dan kau boleh membunuh aku beserta semua ketua pengemis ini tanpa perlawanan sama sekali!”

Kembali semua pengemis itu terkejut sehingga ada yang pucat mukanya. Mereka tidak tahu bahwa Han Le memiliki pemandangan tajam dan sudah tahu akan kemuliaan hati Kiang Liat yang keras hati, akan tetapi dia sengaja memancing untuk melihat sampai di mana pribudi pemuda tampan ini.

“Siapa mau jiwa kalian? Apa bila aku yang menang dalam taruhan ini, cukup kalau kalian membebaskan kakek itu dan mengembalikan harta bendanya, untuk selanjutnya jangan mengganggunya lagi.” Dia berhenti sebentar lalu berkata, “Sebaliknya kalau aku kalah, kalau benar-benar dalam dua puluh jurus kau mampu merobohkanku, kau boleh berbuat sesuka hatimu kepadaku. Mau bunuh boleh bunuh!”

“Aha, enak saja kau bicara. Aku pun tak menghendaki nyawamu, orang muda. Kalau kau yang kalah, kau harus membiarkan kami menghukum pelanggar itu, ada pun kau sendiri, sebagai hukuman kau mesti menjalani kehidupan sebagai pengemis selama setahun dan ikut denganku ke mana pun aku pergi,” kata Han Le.

Merah muka Kiang Liat karena dia marah sekali. Dia membanting-banting kedua kakinya karena merasa terhina, akan tetapi mulutnya menjawab,

“Boleh, boleh! Aku tidak takut mati, mengapa takut menjadi pengemis? Bersiaplah kau!” Sambil berkata demikian, dia lalu mencabut pedangnya yang tadi sudah disarungkannya kembali.

Han Le memperlihatkan tongkatnya yang kecil. “Semenjak tadi aku sudah bersiap. Hayo majulah dengan jurus pertama!”

Melihat Han Le tersenyum-senyum seolah-olah memandang amat rendah, naiklah darah Kiang Liat. Dia telah dikenal sebagai Jeng-ciang-sian (Manusia Dewa Bertangan Seribu), kepandaiannya sudah amat tinggi sebab pemuda ini telah mewarisi seluruh ilmu silat dari ayahnya.

Ilmu silat keluarga Kiang merupakan turunan dari ilmu silat yang diciptakan oleh Jenderal Perang Kiang Bu Siong, yang ratusan tahun yang lampau pernah menggegerkan dunia karena kelihaiannya. Ilmu silat ini turun temurun dan akhirnya Kiang Liat adalah ahli waris terakhir, karena ayah bunda Kiang Liat telah meninggal dunia.

Selama beberapa tahun ini, setelah dewasa, Kiang Liat boleh dibilang telah mengangkat nama besar dengan ilmu silatnya. Tidak saja karena dia memang berkepandaian tinggi, juga orang-orang kang-ouw memandang tinggi pada keluarga Kiang ini sehingga mereka merasa segan untuk memusuhinya, karena memang mereka semua tahu belaka akan kelihaian ilmu silat keluarga Kiang.

Akan tetapi hari ini ia bertemu dengan seorang pengemis yang berambut gondrong, yang kelihatannya begitu lemah, akan tetapi begitu berani menghinanya dan menantang untuk merobohkannya dalam dua puluh jurus! Dan ini masih belum hebat. Yang lebih membikin hatinya mengkal adalah karena pengemis gondrong ini hendak menghadapi pedangnya hanya dengan sebatang tongkat kecil saja!

“Orang tua,” katanya sambil menekan hawa ke arah dadanya supaya kemarahannya tak memuncak. “Kau hendak merobohkan aku hanya dalam dua puluh jurus, itu saja sudah merupakan taruhan yang berat sebelah dan tidak adil, membikin aku merasa malu saja. Sekarang kau masih hendak menghadapiku dengan sebatang tongkat kecil, bukankah ini keterlaluan? Aku bukan seorang manusia yang hendak menang sendiri seperti itu. Kalau kau tidak mau mengeluarkan pedangmu, aku pun tidak akan menggunakan pedang dan aku melawan tongkatmu itu dengan tangan kosong.”

Han Le membelalakkan kedua matanya, kemudian tertawa terbahak, “Ha-ha-ha, Kiang Liat, kau memang patut menjadi muridku untuk setahun. Baiklah, kau lihat seranganku pertama dengan pedang!”

Kata-kata ini disusul dengan kejadian yang benar-benar hebat sekali sehingga Kiang Liat hampir berteriak kaget, dan buru-buru dia memutar pedang menangkis sambil melompat mundur. Ternyata bahwa begitu kata-katanya habis, tubuh Han Le segera bergerak dan tahu-tahu dia sudah memegang pedang yang langsung dipergunakan untuk menyerang pundak Kiang Liat. Ada pun tongkatnya yang tadi, entah dengan cara bagaimana dan kapan dilakukannya, tahu-tahu telah menancap di atas tanah!

Kiang Liat tidak mau berlaku lambat dan lemah. Begitu melihat bahwa dia sudah dapat mengelak dari serangan pertama, dia kemudian memasang kuda-kuda dan siap menanti serangan lebih lanjut. Hatinya mulai yakin bahwa ia kini menghadapi seorang lawan yang benar-benar amat lihai ilmu silatnya.

Han Le yang tidak mau membuang waktu sia-sia, segera maju lagi dan melakukan dua kali serangan beruntun. Serangannya ini begitu hebatnya serta cepatnya sehingga meski pun Kiang Liat berhasil menangkis namun dia sampai terhuyung-huyung ke belakang tiga langkah. Namun dengan pertahanan pedangnya yang amat kokoh kuat dari ilmu pedang keluarga Kiang, dia masih berhasil menggagalkan dua serangan itu sehingga kini ia telah melewati tiga jurus dengan selamat!

Kalau Kiang Liat amat terkejut melihat dua serangan yang amat aneh dan dahsyat itu, di lain pihak Han Le diam-diam harus memuji. Ia adalah murid Ang-bin Sin-kai dan ini masih belum hebat. Kepandaiannya menjadi luar biasa hebatnya karena dia telah mendapatkan Pulau Pek-hio-to (Pulau Daun Putih) ketika ia mencari suheng-nya, yakni Bu Pun Su Lu Kwan Cu, di mana ia melihat lukisan-lukisan di dinding goa kemudian melatih diri dengan ilmu-ilmu silat yang terukir di dinding itu. Selain ini, dalam beberapa belas tahun ini dia selalu merantau dan di dunia kang-ouw dia sudah melihat banyak sekali ilmu-ilmu silat yang tinggi, maka kepandaiannya makin matang.

Namun, melihat ilmu pedang dari keluarga Kiang yang pertahanannya demikian kokoh kuat, mau tidak mau dia harus memuji. Dari sifat pertahanan yang kuat sekali itu, secara diam-diam dia menduga bahwa tentu ilmu pedang keluarga Kiang yang dimainkan oleh pemuda ini masih satu sumber dengan Thian-san Kiam-hoat (Ilmu Pedang dari Gunung Thian-san), yang mendasarkan kepada pertahanan yang amat kuat.

“Orang tua, hayo teruskan seranganmu. Baru tiga jurus, masih kurang tujuh belas jurus lagi, akan kucoba mempertahankan diri!” Kiang Liat menantang dengan suara gembira.

Menghadapi seorang lawan yang benar-benar lihai ini, timbullah kegembiraan dalam hati pemuda yang tabah ini. Melihat wajah pengemis itu seperti ragu-ragu, dia menjadi besar hati dan timbul kesombongannya, maka ia lalu menantang.

Namun Han Le hanya tersenyum. Dalam hal taktik pertempuran, tentu saja ia jauh lebih menang dari pada Kiang Liat. Baru tiga jurus saja tahulah Han Le bahwa pemuda itu tentu akan mempertahankan diri secara mati-matian.

Dia sendiri tak bermaksud melukai atau membinasakan Kiang Liat, maka kiranya sampai dua puluh jurus belum tentu ia akan dapat merobohkan lawannya tanpa membinasakan dia. Jalan satu-satunya adalah membiarkan pemuda itu yang menyerangnya.

Ketika mempelajari ilmu silat yang aneh dari lukisan-lukisan pada dinding goa di Pulau Pek-hio-to dia mendapatkan ilmu silat yang sangat aneh gerakannya dan juga amat aneh tipu geraknya. Ilmu silat ini mendasarkan serangannya pada serangan lawan!

Memang agak aneh terdengarnya, namun memang demikianlah halnya. Ilmu silat yang ia pelajari itu sebenarnya merupakan pecahan atau sebagian kecil saja dari ilmu silat yang terdapat dalam kitab rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng. Sari pelajaran dari sedikit bagian ini adalah membuka mata pelajarannya akan kekosongan atau kelemahan yang terdapat atau terbuka dalam setiap serangan lawan.

Sudah menjadi hukum alam bahwa segala sesuatu itu tentu mempunyai dua sifat yang bertentangan. Demikian pula dalam gerakan ilmu silat. Dalam penyerangan, walau pun penyerangan itu tentu saja bersifat kuat dan mengancam lawan, tentu terdapat lowongan yang bersifat lemah dan terancam. Misalnya saja seorang yang memukul dengan tangan kanan, otomatis kedudukannya akan lemah karena kuda-kudanya hanya di atas sebelah kaki saja, demikian seterusnya.

Han Le yang amat cerdik itu hendak menggunakan ketabahan dan kekerasan hati Kiang Liat untuk mengalahkannya. Maka ia tersenyum-senyum ketika ditantang, lalu menjawab, “Anak muda, setelah melihat tiga gebrakan, aku yakin bahwa tanpa menyerangmu pun aku akan sanggup merobohkanmu. Apa lagi kalau aku serang, sedangkan dengan hanya mempertahankan diri saja, sebelum tujuh belas jurus lagi kau pun tentu akan terpelanting sendiri kelelahan!”

Mendengar ini, bukan main marahnya hati Kiang Liat. Dia benar-benar sudah dipandang rendah oleh pengemis ini. Kalau saja ia tidak begitu muda dan keras hati, boleh jadi ia tahu akan siasat pengemis yang lihai itu. Namun kemarahan hatinya membuat dia tidak mau berpikir panjang lagi. Sambil memutar pedangnya ia berseru,

“Pengemis sombong, rasakan kelihaian ilmu pedangku!”

Ia lalu menyerang bagaikan gelombang ombak. Serangannya datang bergulung-gulung, susul-menyusul dengan gerak tipu yang paling lihai dari ilmu pedangnya. Pedangnya lalu lenyap dan berubah menjadi segulung sinar yang berkilauan, bagaikan seekor naga yang berlagak di angkasa.

Para tokoh pengemis yang berada di sana diam-diam kagum sekali, tidak hanya kagum melihat kehebatan ilmu pedang itu, terutama sekali kagum melihat keindahan gerakan-gerakan dari pemuda tampan itu.

Memang, ilmu pedang keluarga Kiang kuat pertahanannya seperti Thian-san Kiam-hoat, akan tetapi indah sekali gerak-geriknya, bahkan lebih indah dari pada gerakan-gerakan ilmu pedang Bu-tong-pai. Han Le sendiri diam-diam memuji dan kalau ia dahulu di waktu muda tidak mewarisi ilmu kepandaian dari lukisan pada dinding goa di Pulau Pek-hio-to, agaknya dengan Hun-khai Kiam-hoat saja ia tidak mungkin dapat mengalahkan pemuda ini tanpa melukainya dalam dua puluh jurus!

Sepuluh jurus lewat dan Kiang Liat merasa pening. Matanya kabur dan pedas karena lawan yang diserangnya itu seolah-olah bukan manusia, melainkan bayang-bayang atau asap saja. Ke mana pun juga ia menyerang, selalu mengenai angin saja dan bayangan lawannya berpindah tempat. Namun ia mendesak makin hebat. Sebelas jurus lewat, dua belas, tiga belas, lima belas jurus! Dengan tiga jurus yang pertama, delapan belas jurus telah lewat!

Para ketua perkumpulan pengemis berdebar-debar hatinya. Apa bila dalam dua jurus lagi pemuda itu tidak roboh, berarti mereka kalah bertaruh! Dan agaknya tidak mungkin akan roboh, karena Kiang Liat masih berada di pihak penyerang. Akan tetapi, bagi Kiang Liat sendiri, ia kaget setengah mati ketika kehilangan lawannya yang lenyap entah berada di mana.

Sebelum ia dapat mencari lawannya kembali, tahu-tahu punggungnya telah tertotok oleh jari tangan yang amat lunak dan kuat. Seluruh tubuhnya lemas dan sekali renggut saja Han Le dapat merampas pedangnya. Kiang Liat berusaha hendak mempertahankan diri agar jangan roboh, namun dengan enaknya Han Le mendorong dadanya dan Kiang Liat tak dapat menahan, roboh terjengkang! Tepat sembilan belas jurus ia benar-benar kena dirobohkan tanpa terluka sedikit pun.

Cap-si Kaipangcu bersorak sorai, tidak saja karena girang mendapat kemenangan dalam taruhan, akan tetapi terutama sekali karena merasa terkejut dan kagum. Tanpa ada yang perintah, mereka otomatis menjatuhkan diri berlutut di depan Han Le, dan It-gan Sin-kai berkata mewakili kawan-kawannya.

“Mohon Han-taihiap sudi memaafkan kami sekalian yang bermata buta sehingga sempat tidak percaya bahwa Taihiap adalah murid dari Locianpwe Ang-bin Sin-kai.”

Han Le menghadapi mereka dan mukanya bersungguh-sungguh.

“Cuwi Kai-yu yang baik. Suhu dahulu memang seorang pengemis seperti aku pula, dan memang dalam setiap perkumpulan, orang-orang harus mentaati peraturan. Akan tetapi segala macam hukuman itu harus disesuaikan dengan kedosaan orang yang melanggar aturan. Menurut yang kudengar tadi, Song-lokai (Pengemis Tua she Song) itu meski pun telah melakukan pelanggaran terhadap undang-undang perkumpulan, tetapi pelanggaran itu bukan karena dia jahat. Dia ingin keluar dari keanggotaan pengemis karena dia ingin mengangkat derajat cucunya perempuan. Dan hal ini harus kita maklumi bersama karena tidak dapat disangkal lagi bahwa derajat seorang gadis cucu pengemis memang sangat rendah!” Setelah berkata demikian, Han Le mengerling tajam ke arah Song Lo-kai.

Kakek itu cepat menghampiri Han Le, kemudian berkata, “Bukan demikian, Han-taihiap. Memang aku telah bersalah, dan untuk kesalahan itu, biar pun dihukum mati, aku Si Tua Bangka takkan penasaran. Hanya saja, cucuku hidup sebatang kara, tiada orang tuanya lagi dan kepada siapakah dia mengandalkan hidupnya kalau tidak kepadaku, kakeknya? Karena inilah, maka sebelum mati aku ingin meninggalkan sedikit kekayaan kepadanya, agar kelak dia tak akan hidup terlantar. Untuk kebenaran omonganku, aku Si Tua Bangka she Song bersedia bersumpah.”

Han Le mengangguk-angguk, kemudian berkata pada It-gan Sin-kai, “Kalian mendengar sendiri, maka bagaimana sekarang keputusan kalian?”

“Terserah kepada Han-taihiap. Dengan adanya Taihiap di sini dan tadi sudah memberi peringatan kepada kami, kami anggap bahwa Han-taihiap mewakili Locianpwe Ang-bin Sin-kai, dan kami menerima segala keputusan Taihiap.”
“Keputusanku, dia boleh dihukum cambuk lima puluh kali akan tetapi tidak boleh sampai mati. Hartanya boleh dia bawa pulang untuk cucunya.”
“Baik, Taihiap, kami akan menjalankan keputusan itu,” kata It-gan Sin-kai.
“Bagus, dan aku percaya bahwa di kemudian hari kalian akan memutuskan sesuatu lebih bijaksana lagi agar tidak terjadi hal-hal seperti sekarang. Sediakan seperangkat pakaian pengemis untuk muridku ini dan ganti pakaiannya yang terlalu bagus itu.”

Memang aneh sekali, di antara semua ketua perkumpulan pengemis itu hampir semua membawa pengganti pakaian, biar pun pakaian itu adalah pakaian tambal-tambalan yang buruk! Tidak heran apa bila pakaian mereka biar pun buruk dan penuh tambalan, namun selalu kelihatan bersih.....

Seorang ketua yang mempunyai potongan tubuh hampir sama dengan Kiang Liat segera memberikan pakaiannya, lalu beramai-ramai sambil tertawa-tawa mereka menanggalkan semua pakaian Kiang Liat dan menggantikan pakaian butut itu kepada tubuh pemuda ini.

Kiang Liat tidak bisa berbuat sesuatu, oleh karena dia sudah tertotok dan lemas semua tubuhnya. Andai kata ia tidak tertotok, ia pun tentu takkan melawan, karena memang ia sudah merasa kalah bertaruh yang berarti bahwa dia harus menjalankan hidup seperti pengemis setahun lamanya, merantau ikut dengan Han Le yang sudah menjadi gurunya!

Sesudah Kiang Liat kini memakai pakaian pengemis, Han Le memandang dan tertawa, “Bagus, bagus! Kau sekarang kelihatan tampan, patut menjadi muridku!” Setelah berkata demikian, ia menyambar tubuh Kiang Liat dan sekali berkelebat saja ia lenyap bersama muridnya itu.

Cap-si Kaipangcu tidak berani mencegah, tapi pada saat itu kakek tua she Song berseru keras, “Han-taihiap, tunggu sebentar, lohu ada permohonan penting!”

Dalam sekejap mata saja, Han Le sudah kembali kelihatan di tempat itu dan tangannya masih mengempit tubuh Kiang Liat.

“Song Lo-kai, kau mau bicara apakah? Apa kau masih penasaran dengan keputusanku tadi?”

Song Lo-kai menjatuhkan diri berlutut di depan Han Le. “Sungguh mati, Han-taihiap, lohu mana berani penasaran? Keputusan itu bahkan terlampau murah bagi lohu. Hanya ada permohonan lohu mengenai cucu lohu yang bersama Song Bi Li.”

Han Le memandang heran. “Apa maksudmu? Apa yang dapat kulakukan untuk seorang gadis yang menjadi cucumu itu?”

Song Lo-kai memandang kepada Kiang Liat yang masih lemas dan sedang dikempit oleh Han Le seperti seorang anak kecil, lalu berkata, “Nyawa lohu yang tidak berharga sudah diselamatkan oleh Kiang-enghiong dan kiranya sampai mati pun lohu yang sudah tua bangka ini tak akan dapat membalas budinya. Cucuku Bi Li hidup sebatang kara dan kini usianya sudah delapan belas tahun. Hanya seorang pemuda gagah perkasa dan berjiwa budiman seperti Kiang-enghiong ini saja yang kiranya akan dapat menjamin kesentosaan hidup cucuku itu. Oleh karena ini, lohu ingin menyerahkan cucuku yang bodoh itu kepada Kiang-enghiong.”

Han Le tertawa bergelak dan Kiang Liat biar pun tidak berdaya akan tetapi masih dapat mendengar semua ucapan ini sehingga mukanya menjadi merah sekali.

“Ha-ha-ha, maksudmu ini baik sekali, Song-lokai. Akan tetapi aku tak berkuasa dalam hal ini, hanya saja aku berjanji bahwa sesudah Kiang Liat menghabiskan pelajarannya yang setahun lamanya, aku akan menyuruhnya mencarimu agar kalian berdua bisa berunding sendiri.” Setelah berkata demikian, kembali ia berkelebat dan kali ini ia tidak kembali lagi.

Song-lokai girang sekali, dan sambil tertawa-tawa dia lalu berkata, “Cuwi-pangcu, silakan menjalankan hukuman cambuk kepadaku.”

Hukuman lantas dilakukan dan disesuaikan dengan keputusan Han Le. Pencambukan itu dilakukan hanya untuk memenuhi bunyi hukuman saja, dan Song-lokai hanya menderita lecet-lecet pada kulit punggungnya…..
********************
Kiang Liat sebetulnya adalah seorang pemuda yang kaya raya. Pada waktu orang tuanya meninggal dunia, mereka mewariskan sebuah rumah gedung yang megah dan dipenuhi dengan perabot rumah yang indah, selain ini masih banyak sawah ladang dan uang yang ditinggalkan.

Oleh karena Kiang Liat hidup seorang diri, hanya bersama seorang pelayan wanita tua yang menjadi inang pengasuhnya semenjak dia dilahirkan, maka kebutuhan hidupnya tak seberapa besar dan tentu saja hasil sawah ladangnya sudah lebih dari cukup baginya.

Hidupnya tidak mewah karena dia memang suka akan kesederhanaan, namun dia tidak sayang mengeluarkan uang, apa lagi untuk menolong orang dan untuk menjamu kawan-kawannya. Biasanya dia hidup senang, berpesiar atau merantau ke sana ke mari sampai bekal uangnya habis baru dia ingat untuk pulang ke rumahnya di kota Siankoan. 

Kini sesudah dia bertemu dengan Han Le dan menerima hukuman selama setahun hidup sebagai pengemis, tentu saja pada mulanya dia merasa terhina dan bisa membayangkan bahwa dia akan sengsara sekali. Akan tetapi, alangkah girangnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa hidup seperti ini benar-benar bebas seperti burung di udara. Apa lagi ketika gurunya itu mulai menurunkan ilmu silat yang luar biasa sekali, dia girang bukan main.

Ia merasa amat berbahagia dapat bertemu dengan Han Le, dan tidak saja ia menerima latihan ilmu silat, tetapi dia juga mendapatkan banyak pelajaran tentang kebatinan yang membuka matanya. Kini dia tidak berani memandang rendah kepada para pengemis itu, yang sesungguhnya menjadi pengemis bukan karena malas, akan tetapi sengaja hidup sebagai pengemis untuk menyatakan bela sungkawa akan keadaan rakyat yang banyak menderita.

Mereka adalah pengemis-pengemis, namun sekali-kali bukan tukang minta-minta belaka. Mereka minta-minta seolah-olah hanya untuk menguji apakah manusia-manusia di waktu itu masih ingat akan nasib sesama manusia. Dan di balik semua sandiwara ini, ternyata mereka adalah pendekar-pendekar yang tidak saja selalu siap sedia dengan tenaga dan kepandaian untuk menolong mereka yang sengsara, bahkan mereka selalu siap sedia pula untuk mengulurkan tangan menolong dengan sumbangan uang yang ternyata cukup banyak disimpan di dalam perkumpulan-perkumpulan pengemis itu!

Sesudah menjadi murid Han Le, kepandaian Kiang Liat semakin maju dan matang. Kini seperti gurunya, jarang sekali ia mau mencabut pedangnya dan cukup dengan sebatang ranting kecil saja ia sudah mampu menjaga diri dan kalau perlu merobohkan tokoh-tokoh kang-ouw yang lihai.

Kini terbukalah matanya betapa jauh perbedaan hidup antara orang-orang kaya raya dan orang-orang miskin, laksana bumi dengan langit. Terbuka pula matanya bahwa di dalam kemiskinan, ia bahkan banyak melihat orang-orang jujur dan berhati mulia.

Han Le adalah seorang yang berilmu tinggi. Melihat gerak-gerik ilmu pedang Kiang Liat, dia tidak ingin merusak kepandaian pemuda itu dengan memberi pelajaran ilmu pedang lain. Sebaliknya, ia hanya memberi pelajaran dari lukisan-lukisan pada dinding goa Pulau Pek-hio-to, mengajar gerakan-gerakan yang disesuaikan dengan ilmu pedang Kiang Liat sehingga kini ilmu pedang pemuda itu menjadi makin indah dan makin kuat.

Bahkan, dengan bantuan gurunya ini, akhirnya Kiang Liat bisa menciptakan ilmu pedang yang halus gerak-geriknya, tidak beda bagaikan orang menari-nari saja, akan tetapi di dalamnya terkandung kekuatan yang maha hebat.

Han Le membawa Kiang Liat merantau jauh dan selama satu tahun itu, banyak hal yang dilakukan oleh guru dan murid itu sehingga nama mereka makin meningkat tinggi dan menjadi terkenal di dunia kang-ouw. Kini nama Jeng-ciang-sian Kiang Liat amat disegani orang-orang kang-ouw, dan banyak orang tahu bahwa Kiang Liat sudah menjadi murid Han Le.

Setahun kemudian, Han Le dan muridnya berada di lembah Sungai Huang-ho, di dataran tinggi yang hijau segar, penuh tetumbuhan.

“Kiang Liat, waktumu telah lewat dan kau kini bebas. Kau boleh pulang dan agaknya kau sekarang sudah mengerti akan keadaan di dunia sehingga kelak kau tak akan melakukan kesalahan-kesalahan dalam tindakanmu.”
“Suhu, teecu masih ingin terus belajar kepada Suhu, kalau boleh, biar sepuluh tahun lagi teecu sanggup hidup seperti sekarang ini asal boleh menjadi murid Suhu,” jawab Kiang Liat.

Han Le tersenyum, “Kiang Liat, ketahuilah bahwa hanya karena aku suka kepadamu dan melihat bakatmu yang amat baik saja maka kau kuberi pelajaran ilmu silat itu. Namun sesungguhnya aku tidak berhak, karena ilmu silat yang kuajarkan kepadamu merupakan pecahan kecil dari isi Im-yang Bu-tek Cin-keng yang menjadi milik suheng-ku. Kau amat beruntung dapat bertemu dengan aku dan kini agaknya ilmu pedangmu sukar mendapat tandingan di dunia kang-ouw. Seorang laki-laki harus dapat memegang janji. Dahulu kita berjanji akan berkumpul selama satu tahun dan sekarang waktunya telah habis. Dan kau ingatlah, dulu aku berjanji kepada Kakek Song agar kau menemuinya untuk bicara soal perjodohan yang dia usulkan. Aku tidak mau berlaku lancang, soal perjodohan terserah padamu, hanya menurut pendapatku, Kakek Song itu adalah seorang tua yang memiliki semangat dan pribadi cukup baik. Kiranya cucunya tak akan mengecewakan. Akan tetapi semua keputusan terserah kepadamu sendiri, hanya kuminta supaya kau suka bertemu dengan dia agar janjiku terpenuhi.”

“Baiklah, Suhu. Terima kasih banyak atas segala pelajaran dan nasehat yang selama ini teecu terima dari Suhu. Setahun dekat dengan Suhu bagi teecu lebih berharga dari pada sepuluh tahun yang sudah-sudah.”

Pada saat itu, mendadak wajah Han Le berubah dan tiba-tiba pengemis sakti ini berseru keras sekali. Wajahnya nampak berseri girang dan juga kedua matanya terheran-heran. “Suheng…! Kau di sini…?”

Kiang Liat memandang ke arah gurunya memandang, namun dia tidak melihat sesuatu. Tiba-tiba dari jurusan itu, yang tidak kelihatan ada apa-apa, terdengar suara yang halus sekali, akan tetapi menusuk telinga karena mengandung tenaga luar biasa dan pengaruh besar.

“Sute, siapa anak muda itu?”
“Dia adalah Kiang Liat, muridku!”

Tiba-tiba saja debu mengebul dan tahu-tahu seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, sedikit lebih tua dari pada Han Le, berpakaian kusut sederhana akan tetapi tidak menyembunyikan kegagahan dan ketampanannya, telah berdiri di situ.

Kiang Liat memandang dengan mulut ternganga. Dia yang telah mempunyai kepandaian tinggi, bagaimana sampai tidak mampu melihat dan mengikuti gerakan orang ini? Ibliskah dia? 

Ketika laki-laki itu memandangnya, Kiang Liat hampir menundukkan mukanya. Demikian tajam pandangan mata itu menusuk matanya sendiri.

“Sute, kau kan tidak menurunkan Im-yang Bu-tek Cin-keng?” tanya orang itu.

Muka Han Le berubah dan kelihatan gugup. “Hanya sedikit, Suheng, bagian permainan pedang dan lweekang untuk memperkuat ilmu pedangnya sendiri, yakni ilmu pedang dari keluarga Kiang yang tersohor.”

“Hm, sute Han Le, betapa pun juga, kau telah berlaku sembrono sekali. Kau harus tahu bahwa ilmu kita itu sangat berbahaya kalau digunakan oleh orang yang beriman lemah. Sekarang kau sudah terlanjur menurunkan padanya, biar pun sedikit hal itu sudah berarti bahwa selamanya engkau dan aku harus selalu menyelidiki dan menjaga jangan sampai orang mempergunakannya tidak pada tempatnya!”

Han Le memandang kepada suheng-nya dengan mata penuh keheranan, apa lagi ketika ia kini melihat wajah suheng-nya amat kusut, matanya sayu dan kerut-merut pada wajah suheng-nya itu menunjukkan jelas bahwa suheng-nya telah mengalami penderitaan batin hebat selama ini. Sudah belasan tahun ia tidak bertemu dengan suheng-nya ini dan kini suheng-nya benar-benar telah berubah. Adatnya menjadi keras dan aneh. Akan tetapi, ia merasakan kebenaran ucapan suheng-nya itu dan ia pun mengangguk-angguk.

Orang itu lalu menghadapi Kiang Liat yang memandang kepadanya dengan perasaan tak senang. Sebelum orang itu bicara, Kiang Liat mendahului, bertanya kepada Han Le,

“Suhu, mohon memberi penerangan kepada teecu, siapakah adanya Lo-enghiong yang baru datang ini.”
“Bocah bodoh, dia inilah supek-mu. Dia suheng-ku bernama Lu Kwan Cu, berjuluk Bu Pun Su, ahli silat nomor satu di dunia ini!”

Kiang Liat terkejut bukan main. Tadi ia sudah menduga-duga ketika mendengar suhu-nya menyebut suheng kepada orang ini, akan tetapi dia masih penasaran dan sangsi, karena melihat orangnya, Bu Pun Su ini tidak begitu mengesankan sungguh pun kedatangannya tadi seperti siluman saja.

“Kiang Liat, berapa lama kau belajar kepada suhu-mu?”


Kiang Liat sudah menjatuhkan diri berlutut dan kini menjawab,

“Hanya satu tahun, Supek, karena menurut perjanjian memang teecu hanya boleh belajar satu tahun.”
“Perjanjian?” Lu Kwan Cu atau Bu Pun Su menoleh kepada Han Le.

Han Le tertawa dan menceritakan mengenai pertaruhan setahun yang lalu. Bu Pun Su mengerutkan keningnya yang tebal dan sudah mulai memutih.

“Tidak baik bagi seorang pemuda memiliki kesombongan dan terlalu keras. Orang-orang muda sering kali mendatangkan keributan di dunia, didorong oleh nafsunya sendiri tanpa mengingat akibat dari perbuatan yang ditunggangi oleh nafsu. Berdirilah kau!”

Kiang Liat berdiri, hatinya tidak enak.

“Cabut pedangmu!”

Kiang Liat ragu-ragu dan melirik ke arah Han Le, akan tetapi gurunya memberi isyarat dengan matanya agar pemuda itu menurut saja. Maka ia pun kemudian mencabut keluar pedangnya, pedang pusaka keturunan keluarga Kiang, memegang pedang itu lurus ke atas menempel jidat, tanda menghormat dan tidak mempunyai maksud buruk terhadap orang di depannya.

Akan tetapi Bu Pun Su tidak peduli kepadanya dan memerintah terus,

“Serang aku dengan pedangmu!”

Inilah keterlaluan, pikir Kiang Liat. Dia tidak mau berlaku kurang ajar dan lancang, maka bagaimana ia berani menyerang orang yang baru saja diperkenalkan kepadanya sebagai supek-nya?

“Hayo serang, bodoh!” Bu Pun Su membentak lagi dan bentakannya begitu berpengaruh sehingga di dalam tubuh Kiang Liat seakan-akan timbul aliran tenaga yang membuat dia otomatis bergerak!

Pedangnya menyambar, menusuk ke arah muka supek-nya itu. Namun dia segera ingat bahwa dia terlalu kurang ajar jika menyerang dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu selanjutnya ia mengendurkan gerakannya dan hanya memperlihatkan tipu-tipu serangan yang indah untuk membuktikan kepada supek-nya bahwa gurunya tidak memiliki murid secara sembarangan dan bahwa ia sebetulnya juga ‘berisi’!

Akan tetapi dia melihat Bu Pun Su sama sekali tidak menggerakkan kedua kaki, setapak pun tidak pindah dari tempat berdirinya semula. Kedua ujung lengan baju orang sakti itu bergerak-gerak ke depan dan bukan main hebatnya!

Dari sepasang tangan yang bersembunyi di dalam lengan baju itu lantas keluar tenaga luar biasa kuatnya sehingga angin tangkisannya saja selalu dapat menahan pedangnya. Pedangnya selalu terpental kembali seakan-akan terbentur pada benda yang amat keras.

“Jangan sungkan-sungkan, serang sungguh-sungguh!” Kembali Bu Pun Su membentak.

Kali ini Kiang Liat langsung menyerang dengan sungguh-sungguh. Bukan saja karena dia mendengar perintah ini, juga karena hatinya merasa penasaran sekali. Bagaimana orang dapat membikin semua serangan pedangnya tak berdaya hanya dengan hawa tangkisan belaka? Inilah aneh, seperti sihir atau dalam mimpi saja.

Ia mengerahkan seluruh lweekang-nya dan mengeluarkan tipu-tipu silat yang paling lihai. Ia mainkan pedangnya dengan ilmu pedang keluarga Kiang, ditambah dengan gerakan-gerakan halus dari ilmu silat yang ia pelajari dari Han Le.

Betul saja bahwa ilmu pedangnya memang hebat. Buktinya, Bu Pun Su kini tidak dapat menghadapinya dengan hawa tangkisan belaka, akan tetapi orang sakti itu bergerak ke sana ke mari dengan sangat lambat. Namun, betapa pun lambatnya gerakan kaki orang sakti itu, pedang di tangan Kiang Liat tak pernah mengenai sasaran, bahkan menyentuh baju Bu Pun Su saja tidak dapat!

Setelah Kiang Liat menyerang sampai tiga puluh jurus lebih, tiba-tiba pemuda ini merasa telapak tangan yang memegang pedang sakit sekali sehingga dia terpaksa melepaskan pedangnya. Ketika dia memandang, pedangnya itu sudah terampas oleh gulungan ujung lengan baju Bu Pun Su!

Bu Pun Su sekarang tersenyum dan mengembalikan pedang yang diterima oleh Kiang Liat dengan muka merah.

“Harap Supek tidak mentertawakan kebodohan teecu dan mohon petunjuk,” kata Kiang Liat merendah. Kini dia merasa tunduk dan takut sekali kepada orang sakti ini yang ilmu kepandaiannya benar-benar luar biasa sekali ini.

Bu Pun Su sekarang tertawa lantas berpaling kepada Han Le, “Ahh, Sute. Benar-benar matamu awas sekali. Dalam setahun telah dapat menggerakkan pedang seperti itu, ahh, kalau dia mempelajari semua ilmu dari Im-yang Bu-tek Cin-keng, bahkan aku sendiri tak akan mampu melawannya. Kiang Liat, kulihat walau pun kau mempergunakan pedang seluruhnya atas dasar ilmu silat pedang dari keluarga Kiang, namun isinya mengandung tenaga rahasia dari Im-yang Bu-tek Cin-keng. Oleh sebab itu, kau memang telah menjadi murid kami. Hal ini tidak boleh kau anggap main-main. Sekali saja kau menyeleweng dan mempergunakan ilmu untuk melakukan kejahatan, meski pun kau berada di tempat yang selaksa li jauhnya, aku sendiri akan mencarimu dan mencabut nyawamu agar ilmu dari kami tidak dipergunakan untuk kejahatan. Mengerti?”

“Teecu bersumpah takkan tunduk terhadap godaan iblis dan nafsu jahat!” kata Kiang Liat sambil mengedikkan kepalanya. Ia benar-benar merasa marah karena ketidak percayaan supek-nya terhadap dirinya ini.

“Bagus, akan kita lihat bersama. Apa bila benar-benar kau tidak mengecewakan menjadi murid kami, kelak kalau ada jodoh aku sendiri akan menambah satu dua ilmu pukulan kepadamu. Sute, mari kita pergi dari sini, aku punya urusan yang penting sekali untuk dibicarakan!” Setelah berkata demikian, dengan sekali berkelebat Bu Pun Su lenyap dari pemandangan mata Kiang Liat.

“Muridku, berhati-hatilah dan kau cari Song Lo-kai. Sampai bertemu kembali kalau ada jodoh!” Han Le juga berkata kemudian melompat dan lenyap untuk menyusul suheng-nya yang luar biasa itu.

Seperginya kedua orang sakti itu, Kiang Liat lalu berlutut ke arah mereka menghilang. Kemudian ia berdiri dan menarik napas berulang-ulang.

“Hebat… tadinya kukira bahwa kepandaian Suhu sudah tidak ada taranya di muka bumi ini. Tidak tahunya kepandaian Supek Bu Pun Su bahkan jauh lebih tinggi lagi! Ah, sayang sekali aku hanya mendapat kesempatan satu tahun. Kalau saja aku bisa menjadi murid Supek, alangkah senangnya…”

Kemudian, sesudah menyimpan pedangnya, sambil membawa sebatang ranting seperti suhu-nya, Kiang Liat pergi meninggalkan tempat itu dan menuju ke dusun Sui-chun di mana tinggal Song Lo-kai. Diam-diam ia merasa tidak enak dan sungkan-sungkan, sebab kepergiannya ini adalah untuk menghadapi Song Lo-kai yang mengusulkan pernikahan, padahal ia sama sekali belum memikirkan persoalan pelik ini.

Namun, ada juga sedikit keinginan tahu melihat macamnya cucu perempuan dari Song Lo-kai! Sedikit kok…..
********************
Song Lo-kai tinggal di Sui-chun, kini sudah menjadi seorang hartawan yang hidup berdua dengan cucunya, yakni Song Bi Li. Dahulunya Song Lo-kai sesuai dengan sebutannya, yakni lo-kai atau pengemis tua, adalah seorang pemimpin perkumpulan pengemis yang menjadi cabang atau anak buah dari Cap-si Kaipangcu.

Sejak cucunya kehilangan kedua orang tuanya yang meninggal karena penyakit menular, kakek she Song ini sudah berubah pendiriannya. Tadinya dia memang tidak mempunyai tanggungan, hidup seorang diri dan senang hidup bebas sebagai pengemis. Akan tetapi, setelah anak dan mantunya meninggal dunia, dan Bi Li hidup seorang diri, ia memikirkan nasib cucunya itu.

Sungguh kebetulan sekali, Kakek Song mendapatkan sebuah surat wasiat tentang harta terpendam di sebuah goa rahasia. Dia pergi dan berhasil mendapatkan harta ini, maka ia lalu membeli rumah gedung dan sawah ladang, hidup sebagai hartawan besar. Kejadian inilah yang membuat dia ditangkap oleh Cap-si Kaipang dan hampir dibunuh kalau tidak tertolong oleh Kiang Liat.

Song Bi Li ternyata seorang gadis yang sangat cantik, berwajah ayu manis dan bertubuh langsing. Kulitnya putih halus dan pipinya kemerahan. Selain cantik jelita, juga dia sangat cerdas sehingga dengan mudah dia dapat menguasai kepandaian tulis dan baca, bahkan pandai sekali membuat sajak-sajak indah.

Di samping ini, dia pun sangat terkenal di kotanya dengan hasil sulamannya yang halus. Pendeknya di dalam kota Sui-chun, tidak ada gadis melebihi Bi Li cantik atau pandainya sehingga dia pun terkenal sebagai kembang kota Sui-chun. Lebih lagi sesudah kakeknya menjadi kaya raya, pakaiannya bagus-bagus, menambahkan kecantikannya.

Dua tahun yang lalu, ketika dia dan kakeknya baru pindah ke dalam gedung besar yang dibeli oleh kakek Song, terjadilah hal yang membuat hati Bi Li terguncang. Untuk pertama kalinya gadis yang pada waktu itu umurnya baru tujuh belas tahun, mengalami godaan asmara.

Waktu itu masih pagi sekali dan Bi Li berjalan-jalan di dalam kebun di belakang gedung kakeknya. Kebun ini masih kosong dan belum terpelihara, masih banyak pohon-pohon yang tidak berguna lagi bagi sebuah kebun yang seharusnya ditanami bunga-bunga yang indah.

Bi Li memang sedang memeriksa kebun ini untuk mengatur sendiri secara bagaimana kebun itu akan ditanami bunga-bunga, di mana harus membuat kolam dan sebagainya. Kakek Song memang sudah menyerahkan hal ini kepada cucunya.

Bi Li dikawani oleh Ceng Si, seorang gadis yang menjadi pelayan di rumah gedung itu. Kakek Song sengaja membeli gadis ini dari keluarga miskin di dusun, tidak saja untuk menolong orang tua gadis ini, juga karena ia ingin supaya cucunya mempunyai seorang kawan bermain yang sebaya. Ceng Si seorang gadis yang cantik juga, sederhana dan amat penurut, lagi cinta kepada Bi Li yang semenjak itu menjadi majikannya.

“Ceng Si, di ujung barat itu harus didirikan satu bangunan kecil untuk dapat beristirahat, di depannya digali empang yang dipasangi jembatan melengkung. Di ujung timur harus digali empang ikan emas dan juga diisi tanaman bunga teratai. Kembang botan ditanam di sebelah sini dan kembang cilan di sebelah sana. Kau nanti jelaskan semua ini kepada tukang kebun yang memborong pekerjaan ini, dan kalau ada yang belum jelas, biar aku sendiri yang akan menerangkan kepadanya,” kata Bi Li sambil menunjuk ke sana ke mari dengan telunjuknya yang kecil terpelihara.

“Baik, Siocia. Menurut Lo-ya (Tuan Tua, maksudnya Kakek Song), tukang kebun akan datang siang nanti dan akan mulai dengan menebangi pohon-pohon yang berada di sini.”
“Jangan ditebang semua. Pohon yang di kanan itu, yang berjajar tiga, tebang tengahnya saja, tetapi biarkan yang dua tumbuh terus. Dan sekumpulan yang-liu (cemara) itu jangan ditebang, hanya buangi cabang-cabang yang sudah kerig. Yang lain boleh dibuang. Dan jangan lupa, taman ini harus dikelilingi dinding tembok yang cukup tinggi sehingga tidak kelihatan dari luar. Sekarang ini hanya dikelilingi pagar, malah banyak yang sudah bobol. Kalau penuh tanaman kembang tentu akan habis dicabuti anak-anak nakal dan dimakan ayam dan kerbauku.”
“Memang benar, Siocia (Nona). Belum lagi kalau ada maling masuk,” kata Ceng Si.

Ceng Si menutupi mulutnya dengan ujung lengan baju, tertawa. Akan tetapi ketawanya segera terhenti dan ia berkata perlahan, agak ketakutan. “Aduh, dia benar-benar datang, Siocia…”

Bi Li terkejut dan bertanya, “Kau bilang ada maling…?” Sambil berkata demikian, ia cepat membalikkan tubuh menengok ke arah pelayannya itu memandang.

Ternyata benar ada seorang laki-laki yang menerobos masuk ke dalam kebun itu melalui pagar yang telah rusak. Mula-mula Bi Li terkejut sekali sehingga mukanya berubah, akan tetapi ia segera dapat menetapkan hatinya setelah melihat bahwa lelaki yang menerobos ke dalam kebun itu tidak kelihatan seperti orang jahat.

“Dia tidak kelihatan jahat, Ceng Si, apakah bukan tukang kebun yang hendak bekerja di sini?”
“Ssttt, kau terlalu. Mana orang seperti itu dianggap tukang kebun? Dia bukan maling dan bukan pula tukang kebun, lihat saja pakaiannya seperti seorang kongcu (tuan muda) dan orangnya begitu… begitu tampan!”
“Hush, genit kau…!” Bi Li mencela, akan tetapi diam-diam ia harus mengakui bahwa yang datang itu memang seorang pemuda yang tampan dan ganteng, yang berpakaian seperti seorang siucai (pelajar), yang sikapnya halus dan sopan.

Bi Li dahulu tinggal bersama orang tuanya di kampung, maka ia tidak seperti nona-nona hartawan dan bangsawan yang selalu bersembunyi di dalam gedung dan jarang bertemu dengan laki-laki asing, maka kini ia tidak merasa terlalu kikuk. Juga ia tidak takut karena waktu itu matahari sudah naik tinggi dan ia berada di situ dengan pelayannya, sungguh pun mereka merasa curiga ketika memandang kepada pemuda ini. Dia merasa seperti pernah melihat pemuda ini, hanya dia lupa lagi bila mana dan di mana. 

Pemuda itu menghampiri mereka dan memandang kepada Bi Li dengan senyum manis. Dia nampak ramah-tamah dan matanya berseri-seri ketika dia memandang kepada Bi Li, sungguh pun alisnya berkerut seakan-akan ada sesuatu yang menyusahkan hatinya.

“Kau siapakah dan mengapa berani lancang memasuki kebun orang?” Bi Li menegur, suaranya ketus dan matanya bersinar marah.

Pemuda itu nampak kecewa sekali mendengar teguran gadis ini. Ia pun menjura dengan hormat, lalu berkata, suaranya seperti orang penasaran,

“Song-siocia, benar-benarkah kau sudah lupa padaku? Benar-benarkah, setelah kini kau menjadi kaya-raya, kau lupa akan kampung halamanmu dan sekalian orang miskin yang menjadi penghuninya?”

Bi Li semakin marah. “Aku tidak kenal padamu, lekaslah pergi dari sini, kalau Kongkong (Kakek) tahu kau menerobos ke sini, kau tentu akan dipukul!”

Pemuda itu berdiri tegak dan tersenyum duka. “Jangankan dipukul, dibunuh pun aku rela. Kongkong-mu yang kaya-raya, yang merampas kau dari dusun kami, sudah begitu tinggi hati untuk menghinaku, dan sekarang aku hanya ingin menyaksikan, apakah Nona Song Bi Li juga begitu tinggi hati seperti kongkong-nya?”

“Siapakah kau? Mengapa kau begini kurang ajar?” Bi Li memandang pemuda itu dengan alis dikerutkan.
“Nona, lupakah kau kepada orang yang pernah menuliskan sajak di dinding kuil di dusun kita?” pemuda itu berkata.

Bi Li memandang makin tajam dan kini berubahlah mukanya menjadi kemerahan.

“Ahh, kau... kau Cia-siucai...,” katanya gagap.

Terbayanglah semua pengalamannya pada saat ia masih tinggal di dusunnya. Ketika itu, kedua orang tuanya secara berturut-turut sudah meninggal dunia karena penyakit yang merajalela di dusun itu. Banyak orang dusun datang pada waktu jenazah ayah bundanya dirawat di dalam kuil, yaitu satu-satunya kuil di dusun itu, tempat di mana sebagian besar orang-orang yang meninggal diurus dan disembahyangi.

Di antara mereka yang datang ini, terdapat seorang pemuda sasterawan yang baru saja pulang kembali ke dusun setelah bertahun-tahun menempuh pelajaran dan ujian di kota raja. Pemuda ini adalah Cia Sun atau yang segera terkenal dengan sebutan Cia-siucai.

Bi Li tahu bahwa hampir semua gadis dusun itu merindukan Cia-siucai, memuji-mujinya karena bukan saja ia merupakan pemuda yang paling tampan di dusun itu, juga ia sangat pandai membuat sajak. Semua tulisan pada lian yang digantung di kuil, tulisan yang amat indah itu, seluruhnya adalah buatan Cia Sun.

Pada saat itu Cia Sun baru pertama kali melihat Bi Li dan pemuda ini menjadi tergila-gila. Tiada bosannya ia melirik ke arah gadis itu yang tengah menjalani upacara sembahyang. Seorang gadis yang rambutnya awut-awutan, mukanya pucat penuh air mata, seorang gadis yang patah hati dan putus harapan karena ditinggal mati oleh ayah bundanya, yang tentu akan jatuh pingsan dan sakit kala tidak dihibur oleh seorang kakek tua yakni Song Lo-kai, Kongkong-nya.

Cia Sun demikian tergila-gila sehingga ketika ia sudah terlalu banyak minum arak, tanpa peduli apa-apa ia lalu mengambil pit dan menuliskan beberapa baris sajak di atas tembok kuil, dilihat dan dikagumi oleh semua tamu yang datang melayat.

Bi Li sampai sekarang masih ingat bunyi sajak itu, karena pada waktu itu ketika melihat ribut-ribut ia pun lalu ikut membaca tulisan itu yang berbunyi demikian:

Layu pucat Teratai Putih,
Kehilangan sinar matahari.
Mengembang di empang tanpa kawan
Hati siapa takkan rawan? 
Nona suci hidup seorang diri
Hati siapa takkan perih? 
Kasihan kumelihatnya.
Hancur pilu hati dibuatnya.
Apakah dayaku, si bodoh hina ini
Untuk menghibur Teratai suci?

Sajak itu tentu saja dengan sangat mudah dapat diterka maksudnya. Semua orang yang berada di situ memang merasa kasihan kepada Bi Li, gadis yang menjadi yatim piatu dan bunyi sajak itu otomatis merupakan pengakuan dari Cia Sun bahwa begitu bertemu dengan Bi Li, ia telah jatuh cinta.

Akan tetapi, Song Lo-kai tidak senang membaca sajak itu, dan dengan muka masam ia menarik tangan Bi Li masuk ke dalam. Semenjak saat itu mereka tidak pernah bertemu muka kembali. Peristiwa yang terjadi sewaktu Bi Li berada di puncak kesedihan itu tentu saja tidak terlalu membekas pada hatinya dan ia pun sudah lupa akan peristiwa itu. Akan tetapi siapa kira, sekarang tiba-tiba saja pemuda itu muncul di hadapannya, dengan jalan menerobos kebun!

Sementara itu, ketika Cia Sun melihat Bi Li mengenalnya, dia menjadi girang sekali dan wajahnya yang tampan berseri-seri.

“Aduh, terima kasih kepada Kwan Im Pousat, ternyata kau juga memikirkan diriku yang hina ini, Nona Song...”
“Siapa bilang?” Bi Li membentak marah. “Cia-siucai, kau lancang sekali! Kau masuk ke sini tanpa permisi dan kau sudah mengeluarkan kata-kata yang tidak pada tempatnya. Apa sebenarnya kehendakmu?”
“Kedatanganku hanya untuk mengulangi pernyataanku dahulu, Nona, yakni bahwa aku cinta kepadamu...”
“Tidak! Kurang ajar, pergi kau dari sini!” Bi Li membelalakkan matanya yang indah dan mukanya berubah-ubah, sebentar merah, dadanya berombak menahan gelora hatinya.

Cia Sun menjatuhkan diri berlutut di depan Bi Li.

“Song-siocia, kakekmu telah menghinaku, telah menolak pinanganku, dan kini kau masih mengusirku pula?” Suara ini terdengar demikian lemah mengharukan sehingga Ceng Si yang mendengar ini menjadi pucat dan dua titik air mata membasahi pipinya.

Ada pun Bi Li ketika melihat pemuda itu tiba-tiba berlutut di depannya dan mengeluarkan kata-kata itu, menjadi makin bingung.

“Cia-siucai, jangan kau begini! Apa sih yang kau kehendaki?”
“Nona, Kongkong-mu dulu menolak pinanganku dengan alasan bahwa kau telah menjadi tunangan dengan orang lain. Aku bukan seorang yang tidak kenal aturan, aku tidak mau menjadi seorang yang tak kenal malu dan kurang ajar, katakanlah kepadaku secara terus terang, Nona, apakah betul kau sudah menjadi tunangan orang lain? Betulkah kau sudah bertunangan?”
“Kau peduli apakah dengan itu? Hal itu bukan urusanmu, Cia-siucai. Sudahlah, lebih baik kau lekas-lekas pergi dari sini.”
“Jawab dulu, Nona. Benar-benarkah kau sudah bertunangan dengan orang lain? Apa bila benar demikian, aku Cia Sun bersumpah tidak akan mau mengganggumu lagi.”

Bi Li tidak mampu menjawab. Dia memang belum bertunangan, hal ini dia ketahui benar, karena memang dahulu orang tuanya belum mengikat perjanjian dengan siapa pun juga. Namun, menjawab pertanyaan seorang pemuda asing begitu saja tentang pertunangan, bukanlah hal yang patut dilakukan oleh seorang gadis sopan. 

Ceng Si melihat keraguan nonanya, maka ia yang mewakili Bi Li menjawab, “Sebenarnya Siocia belum bertunangan Cia-siucai. Sudahlah, harap kau sudi meninggalkan tempat ini, kalau diketahui oleh orang lain, bukankah hal ini buruk sekali bagi Siocia?”

Mendengar ini, Cia Sun lalu membanting-bantingkan jidatnya pada tanah dan dia masih tetap berlutut.

“Penasaran! Penasaran! Nona Song, mengapa kakekmu begitu membenciku? Memang ia membohong dan menolak pinanganku? Ketahuilah, tanpa kau di sampingku, aku tidak akan dapat hidup lebih lama lagi! Lebih baik aku mati saja di sini, Song-siocia...”

Mendengar ini, muka Bi Li menjadi pucat sekali dan ia menahan mulutnya yang hendak berteriak. Kemudian ia membalikkan tubuh dan berlari pergi meninggalkan pemuda yang masih berlutut itu, berlari kembali ke dalam gedung.

Bi Li tiba di kamarnya dengan terengah-engah, mukanya pucat. Baiknya kongkong-nya tidak ada. Di rumah gedung itu baru ada dia dan Ceng Si saja, karena memang belum memanggil pelayan-pelayan lain.

Hatinya berdebar, tidak karuan rasanya. Ada rasa takut, bingung dan juga girang. Entah kenapa, mengingat betapa pemuda tampan dan pandai yang menjadi kebanggaan dusun dan menjadi rebutan serta impian para gadis dusun itu kini bertekuk lutut kepadanya, menyatakan cinta kasih yang demikian besar, benar-benar menggirangkan hatinya. Akan tetapi dia sendiri tidak mengerti perasaan apakah ini yang membuat dia menjadi merasa kebingungan.

Tak lama kemudian, Ceng Si menyusul masuk ke dalam kamar.

“Siocia, bagaimana ini baiknya?” pelayan muda dan cantik itu langsung berkata sambil meremas-remas tangan. “Dia tidak mau pergi…”
“Dia tidak mau pergi…? Habis bagaimana baiknya…?” Bi Li memandang kepada Ceng Si dengan bingung dan air matanya sudah mulai memenuhi pelupuk matanya.
“Siocia, dia harus dikasihani. Dia benar-benar mencinta kepada Siocia dengan sepenuh hati dan nyawanya. Dia bilang bahwa dia akan tetap berlutut di sana sampai mati kalau Siocia tidak mau menyatakan sesuatu untuk menjawab cintanya. Demikian yang ia bilang kepadaku, Siocia.”

Sekarang air mata menitik turun ke atas pipi Bi Li. Ia menjadi terharu dan juga bingung, ditambah rasa takut. Kalau sampai kongkong-nya atau ada orang lain tahu akan halnya pemuda itu, bukankah akan terjadi geger? Bukankah orang lain akan menyangka yang tidak-tidak terhadap dirinya? Sampai lama ia tidak menjawab.

Ahh, Bi Li memang seorang gadis yang masih hijau dan bodoh, yang selamanya belum pernah mengalami perasaan seperti itu. Kalau saja ia tahu apa yang baru saja terjadi ketika ia pergi meninggalkan Cia Sun, tentu akan lain sikapnya.

Begitu dia pergi, Ceng Si yang begitu melihat Cia Sun menyatakan cinta kasih terhadap nonanya, segera memegang pundak pemuda itu dengan lemah-lembut, berkata seperti bisikan mesra,

“Siucai, kenapa kau begitu lemah? Bangunlah, urusan ini bisa diatur bagaimana baiknya. Hatiku tidak kuat melihat kau begini sengsara, Kongcu...”

Mula-mula Cia Sun terheran, ia mengangkat muka dan memandang wajah pelayan yang cantik itu, kemudian sesudah dua pasang mata bertemu, tahulah pemuda ini akan suara hati Ceng Si. Dia menjadi sangat girang dan memeluk pundak Nona pelayan itu sambil berkata,

“Nona manis yang baik, benar-benarkah kau menaruh hati kasihan terhadap diriku yang malang ini?”

Ceng Si pura-pura melepaskan diri dan berkata dengan sikap genit,

“Cih, tak tahu malu! Baru saja Siocia pergi, hatinya telah berubah dan hendak membujuk aku, benar-benar lelaki tidak setia!”

Cia Sun segera menjura dan berkata dengan suara memohon, “Nona yang baik, siapa orangnya tidak akan mencinta kau yang begini manis? Kasihanilah aku, aku benar-benar lebih baik mati kalau Siocia-mu tidak mempedulikan aku. Bantulah aku, bujuk siocia-mu supaya dia sudi sedikit menaruh perhatian kepadaku, dan aku berjanji, kelak kalau aku berhasil menjadi suami siocia-mu, engkaulah orang pertama yang akan menjadi Ji-hujin (Nyonya Ke Dua)!”

Ceng Si mengerling, tersenyum-senyum dan berkata genit, “Benar-benarkah janjimu ini? Atau hanya bujukan kosong belaka?”

“Demi langit dan bumi, aku bersumpah bahwa kelak apa bila aku berhasil menjadi suami Nona Song Bi Li, aku segera akan mengambil Nona... ehh, siapa namamu?”

Ceng Si mengerling, tersenyum-senyum dan berkata genit, “Benarkah itu? Namaku, ehh, Ceng Si,” jawabnya cepat-cepat.

“Ceng Si nama yang manis.” Kemudian ia berdongak ke arah langit dan melanjutkan lagi sumpahnya, “Aku akan mengambil Nona Ceng Si yang manis sebagai ji-hujin! Nah, langit dan bumi menjadi saksi atas sumpahku. Lekaslah kau datangi siocia-mu dan bujuk agar supaya dia suka menaruh sedikit perhatian kepadaku dan suka memberi sedikit tanda mata.”

“Baiklah, akan tetapi awas, kalau kau membohongiku, jangan kira Ceng Si takkan dapat menuntut balas!” Pelayan itu segera pergi berjalan-jalan dan menuju ke kamar Bi Li. 

Demikianlah, semua ini tentu saja Bi Li tidak tahu sama sekali. la mendengar dari Ceng Si bahwa Cia Sun masih berlutut dan tidak mau pergi, hatinya menjadi sangat terharu. Demikian besarnya kasih sayangnya kepadaku sehingga dia rela mengorbankan nyawa, pikir gadis ini.

“Habis, apa yang harus kulakukan, Ceng Si?” kemudian ia bertanya, minta nasehat pada pelayannya yang ia anggap lebih mengerti dalam urusan seperti ini.

Berbeda dengan Bi Li, di dalam hal ini Ceng Si lebih cerdik dan gadis pelayan ini lebih mengenal watak laki-laki seperti Cia Sun. Dia sudah dapat menduga ke mana maksud tujuan Cia Sun, bukan karena oleh kecantikan siocia-nya yang memang amat cantik itu, akan tetapi di samping ini mengandung maksud yang lebih besar, yakni hendak menjadi suami Bi Li yang menjadi ahli waris tunggal dari Song-loya yang kaya-raya!

Aku harus berlaku cerdik, pikir Ceng Si. Kalau kubujuk sehingga siocia menerimanya dan kemudian sebelum mereka menjadi suami isteri, Cia Sun menyia-nyiakannya, maka akan gagallah semua niatnya. Aku harus berusaha agar Siocia menjadi isterinya agar Cia Sun bisa diterima menjadi suami Bi Li dan kelak akan menjadi nyonya ke dua, akan menjadi Ji-hujin (Nyonya Ke Dua).

Kedudukan nyonya kedua di masa itu memang cukup tinggi, jauh lebih tinggi dari pada kedudukan nyonya ke tiga, ke empat atau seterusnya. Apa lagi bila dibandingkan dengan kedudukan pelayan biasa, tentu saja jauh lebih tinggi!

“Siocia, apakah… apakah Siocia juga… suka kepadanya?”

Wajah Bi Li menjadi merah sekali dan ia memandang kepada pelayannya dengan mata terbuka lebar. Maksudnya hendak marah, namun dia tidak dapat, karena wajah Ceng Si memperlihatkan sikap sungguh-sungguh, ada pun ia sedang bingung dan membutuhkan pertolongan pelayan ini.

“Aku tidak tahu, Ceng Si, aku... tidak tahu...”
“Siocia, Cia-kongcu itu benar-benar cinta kepada Siocia dan kalau ia dibiarkan saja, tentu ia akan berkeras tidak mau pergi!”
“Aduh, bagaimana kalau Kongkong datang dan melihat dia di sana?” Bi Li ketakutan.
“Apa lagi kalau ada orang luar melihatnya, tentu timbul persangkaan yang bukan-bukan.” Ceng Si menambah kebingungan siocia-nya dengan maksud agar nona majikannya itu terdesak betul-betut dan akhirnya akan menurut apa yang ia nasehatkan.

Benar saja, mendengar kata-kata pelayannya ini, Bi Li lalu menangis karena bingung dan cemas. “Ceng Si, apakah yang harus kulakukan? Tolonglah aku, Ceng Si!”

Pelayan muda yang cantik itu tersenyum di dalam hatinya. Baik Cia Sun mau pun Bi Li sudah minta tolong kepadanya, sudah dapat dipastikan bahwa kelak cita-citanya pasti tercapai, menjadi Ji-hujin yang kaya dan terhormat!

“Siocia, tak baik menemui padanya di kebun, akan tetapi tidak baik pula membiarkan dia begitu saja sehingga dia tidak mau pergi. Lebih baik Siocia menghibur hatinya dengan jalan memberi sesuatu agar ia puas dan mau pergi!”
“Memberi apa, Ceng Si? Apa yang dapat kuberikan agar ia mau pergi?”

Ceng Si berpikir-pikir. Memang akan lebih sempurna apa bila memberikan barang yang berharga, yang menjadi tanda atau bukti seperti misalnya hiasan rambut dari batu giok itu yang menghias rambut Bi Li yang hitam dan halus, akan tetapi hal itu terlalu berbahaya untuk pertama kalinya. Dia masih belum tahu akan isi hati Cia Sun, belum tahu apakah pemuda itu bersungguh-sungguh atau tidak.

“Lebih baik Siocia memberikan sapu tangan Siocia itu, supaya ia merasa bahwa Siocia menaruh kasihan kepadanya dan akulah yang akan membujuk-bujuknya agar dia mau pergi dari kebun.”

Bi Li tentu saja ragu-ragu dan mukanya menjadi merah sekali. Ia melihat sapu tangannya yang tersulam indah dan yang basah dengan air matanya. Akan tetapi tidak ada jalan lain yang lebih baik. Kalau pemuda itu nekat tidak mau pergi, lebih celaka lagi!

“Baiklah, kau berikan ini dan bujuk agar dia jangan berlaku nekad dan tidak mau pergi.”

Ceng Si dengan girang menerima sapu tangan itu dan membawa benda itu ke kebun, di mana Cia Sun telah menantinya. Untuk beberapa lama dua orang ini berunding, akhirnya Cia Sun pergi keluar melalui pagar kebun yang rusak.

Demikianlah. Ceng Si menjalankan siasatnya secara licin sekali. Sampai kebun itu sudah berubah menjadi taman yang indah dan dikelilingi pagar tembok, selalu pelayan ini yang mengadakan hubungan dengan Cia Sun.

Dengan amat cerdiknya Ceng Si menjaga sedemikian rupa sehingga Bi Li mau memberi benda-benda tanda mata, membalas surat-surat dan sajak-sajak pemuda itu, bahkan Bi Li yang bagaikan seekor lalat terjebak dalam sarang laba-laba berani bersumpah bahwa dia hanya akan bersuamikan Cia Sun!

Sampai dua tahun perhubungan ini berjalan diam-diam. Memang betul bahwa Bi Li tidak pernah melakukan sesuatu yang melanggar kesusilaan, karena memang gadis ini teguh menjaga kesopanan, dan ini sesuai pula dengan rencana Ceng Si, akan tetapi di dalam hatinya, gadis ini sudah membalas cinta kasih Cia Sun.

Tentu saja Cia Sun menjadi besar hati, karena meski pun dia pernah ditolak lamarannya oleh Kakek Song, namun kalau Bi Li tidak mau dinikahkan dengan orang lain dan kelak kakek itu meninggal dunia, akhirnya tetap dialah yang akan menjadi suami Bi Li dan bisa menguasai semua harta benda yang besar itu! 

Akan tetapi, setelah Bi Li berusia sembilan belas tahun, pada suatu hari tiba-tiba Kakek Song pulang bersama seorang pemuda yang amat tampan dan gagah, yang berpakaian sebagai seorang pengemis, tambal-tambalan dan butut. Dan hebatnya, Bi Li dikenalkan kepada pemuda ini sebagai calon suaminya.....

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, sesudah berpisah dari suhu-nya, Kiang Liat langsung menuju ke dusun Sui-chun. Ia sengaja tidak mau pulang dulu ke kotanya di Sian-koan dan sengaja memakai pakaian seperti pengemis untuk melihat apakah Kakek Song dan cucunya masih tidak berubah pendiriannya melihat dia sudah menjadi seorang pengemis.

Tidak tahunya, baru saja dia tiba di luar dusun Sui-chun, dia sudah disambut oleh Kakek Song dengan segala kehormatan! Memang sudah berhari-hari kakek ini menunggu dari pagi sampai petang di luar kampung, ingat bahwa hari kedatangan pemuda yang pernah menolongnya itu sudah tiba.

Oleh karena itu, begitu melihat Kiang Liat, dia segera berlari menghampiri bersama para pelayannya, dan menyambut Kiang Liat dengan segala kehormatan.

“Kiang Taihiap, sudah tiga hari ini lohu selalu menanti di sini. Bagus sekali, kau kelihatan sehat-sehat saja dan lebih gagah!”
“Akan tetapi, aku telah menjadi pengemis yang miskin, Lopek.”
“Ha-ha-ha, dahulu pun aku seorang pengemis yang lebih miskin dari padamu, Taihiap. Sudah lupa lagikah kau akan hal itu? Marilah, kita bicara di rumah.”

Diam-diam Kiang Liat memuji kakek ini yang ternyata sikapnya tak berubah sama sekali. Memang dia suka mempunyai seorang mertua atau seorang kakek sebaik ini, akan tetapi dia masih belum melihat bagaimana macamnya cucu perempuan kakek ini yang hendak dijodohkan dengan dia.

Rumah gedung tempat tinggal kakek itu, sungguh pun untuk di Sui-chun termasuk paling baik, namun masih tidak sebesar dan sebaik rumah Kiang Liat sendiri di kota Sian-koan, maka pemuda ini sama sekali tidak merasa kagum atau kikuk ketika memasuki gedung ini.

“Suruh Siocia keluar menyambut tuan penolongku yang mulia!” kata Song Lo-kai dengan girang kepada seorang pelayan perempuan.

Berdebar hati Kiang Liat ketika ia mendengar suara tindakan kaki yang halus dari dalam, kemudian mulut pintu tersingkap dan segera muncul seorang bidadari dalam pandangan pemuda ini. Dia cepat bangun dari bangkunya dan merahlah muka Kiang Liat ketika dia teringat bahwa pakaiannya amat tidak baik.

Dia memandang wajah yang cantik jelita itu, yang mulutnya tersenyum manis dengan ramah tamah, yang wajah ayunya berseri-seri dengan sepasang matanya bersinar-sinar. Memang Bi Li sudah pernah diceritakan oleh kongkong-nya bahwa ketika menghadapi bencana maut kongkong-nya telah ditolong oleh seorang pendekar muda.

Tentu saja kini mendengar bahwa tuan penolong itu datang, sebagai cucu kongkong-nya dia harus menyatakan terima kasihnya. Hanya tak disangkanya bahwa tuan penolong itu ternyata adalah seorang yang masih muda dan luar biasa tampan serta gagahnya.

Kiang Liat menjura dan mengangkat kedua tangan di depan dada, memandang bagaikan dalam mimpi, tak kuasa mengeluarkan kata-kata. Melihat betapa pemuda itu amat kikuk, maka timbullah rasa sungkan dan malu pada Bi Li sehingga gadis ini pun hanya menjura memberi hormat.

“Bi Li, mengapa kau diam saja terhadap tuan penolongku? Tidak saja Tuan penolong, dia pun calon suamimu, Nak!”

Sesudah berkata demikian, kakek ini mengejap-ngejapkan kedua matanya yang terasa panas hendak menitikkan air mata saking terharu dan girangnya.

Mendengar ucapan itu, Bi Li merasa seakan-akan dua kakinya terjeblos ke dalam jurang. Kagetnya setengah mati dan seketika itu wajahnya menjadi pucat sekali. Akan tetapi dia buru-buru menundukkan muka dan membalikkan tubuh, terus berlari ke dalam kamarnya, diikuti oleh Ceng Si yang tadi juga mengikuti nona majikannya keluar.

Bagi anggapan Kiang Liat dan kakek Song, nona itu tentu lari karena jengah dan malu, maka kakek Song tertawa bergelak-gelak saking senang hatinya.

“Lopek, sungguh pun aku sebatang kara dan sudah yatim-piatu, namun aku mempunyai rumah di Sian-koan. Biarlah aku pulang lebih dahulu, baru kemudian aku akan mengirim wakil untuk membicarakan urusan perjodohan ini.”

Kakek Song mengerutkan keningnya dengan rasa khawatir. “Akan tetapi kau… kau telah setuju, bukan?”

Muka Kiang Liat menjadi merah, tak dapat menjawab, maka dia hanya menganggukkan kepalanya dengan pasti! Kakek Song tertawa bergelak, kemudian dengan suara keras ia memberi perintah kepada para pelayannya untuk menyediakan jamuan yang hebat bagi calon mantunya.

Sesudah minum arak serta menikmati hidangan-hidangan yang disuguhkan oleh Kakek Song, Kiang Liat lalu berpamitan dan sebagai tanda mata, ia meninggalkan pedangnya. Dengan hati gembira pemuda ini lalu melakukan perjalanan cepat sekali ke kota tempat tinggalnya.

Ia disambut dengan girang oleh inang pengasuhnya, ia memang sudah seperti neneknya sendiri saja. Kiang Liat gembira karena melihat rumahnya tidak berubah dan tidak terjadi sesuatu atas diri inang pengasuhnya.

Dia lalu menceritakan pengalamannya secara singkat, dan terutama sekali dia bercerita tentang maksudnya hendak menikah dengan Nona Song di Sui-chun. Inang pengasuh itu girang bukan main, sambil berlinang air mata inang pengasuh ini lalu mengurus hal itu, mencarikan seorang wakil untuk menyampaikan warta ke Sui-chun mengenai ketetapan hari pernikahan…..

********************
Sementara itu, di rumah Kakek Song terjadi keributan. Bi Li menangis dan menyatakan tidak mau menikah.

“Anak bodoh, usiamu sudah sembilan belas tahun mau menunggu apa lagi? Apakah kau mau menunggu kakekmu mati?” akhirnya Kakek Song berkata lemas.

Bi Li menubruk kakeknya. “Tidak demikian Kongkong, akan tetapi aku… aku belum suka menikah...”

“Bi Li, jangan kau membikin bingung dan susah hati kongkong-mu. Perjodohan ini sudah kujanjikan kepada Kiang-taihiap setahun yang lalu. Sebentar lagi kalau utusannya datang mewartakan tentang hari pernikahan, kita harus menerima dengan baik. Kau tidak boleh berkeras kepala lagi, kecuali jika kau suka melihat kongkong-mu mampus saking jengkel dan susah.”

Bi Li tidak dapat menjawab, hanya menjatuhkan diri di atas pembaringan dan menangis terisak-isak.

Pada saat itu, Ceng Si turun tangan. Gadis pelayan ini memberi isyarat kepada Kakek Song untuk keluar. Kakek ini heran akan tetapi dia menurut saja. Akhirnya mereka bicara di dalam ruangan belakang dan tak seorang pun pelayan lain boleh mendekati mereka.

“Ceng Si, ada apakah? Agaknya ada sesuatu yang dirahasiakan kepadaku!” Kakek Song berkata kurang senang.

Ceng Si berlutut. “Mohon beribu ampun Lo-ya. Sebetulnya saya sudah banyak berusaha untuk mencegah hal ini terjadi, akan tetapi apa hendak dikata, sebelum saya menjadi pelayan di sini, hal itu sudah terjadi.”

“Hal ini, hal itu, apa maksudmu? Bicaralah yang jelas!” Kakek Song membentak dengan hati kurang enak.
“Siocia tidak mau menikah karena sesungguhnya Siocia sudah mempunyai pilihan hati sendiri.”
“Apa? Kau tahu akan hal ini tetapi tidak memberi tahukan kepadaku? Berani benar kau membiarkan Siocia merusak nama baik keluarganya sendiri? Jahanam benar...” Wajah Kakek Song menjadi pucat sekali.
“Tidak demikian, Loya, harap jangan salah sangka. Walau pun Siocia sudah mempunyai pilihan hati, namun Siocia tidak pernah bertemu dengan dia, hanya berkirim-kiriman saja dan sebagainya.”
“Bedebah…!”

“Jika Loya benar-benar sayang kepada Siocia, saya harap Loya sudi mempertimbangkan keadaan Siocia yang patut dikasihani. Dan harap Loya suka mendengar penuturan saya dengan hati sabar. Loya, sebelum Loya membawa Siocia pindah ke sini, di antara Siocia dan pemuda itu memang telah ada pertalian batin yang erat. Mereka saling mencinta dan saling bersumpah tidak akan menikah dengan orang lain. Ada pun menurut penglihatan saya, pemuda itu adalah seorang pemuda terpelajar yang amat sopan-santun dan baik, tulisannya indah dan juga orangnya tak kalah oleh Kiang-taihiap. Siocia pasti akan hidup bahagia selama hidupnya kalau Loya membatalkan pertalian jodoh dengan Kiang-taihiap dan sebaliknya menjodohkan Siocia dengan pilihan hatinya sendiri.”

“Cukup, tutup mulutmu, kau seorang pelayan tahu apa? Siapakah adanya jahanam yang berani menggoda cucuku itu? Hayo katakan siapa dia?”
“Dia adalah seorang Siucai dan namanya Cia Sun dari dusun Lee-hiang.”

Kakek Song termenung dan mengangguk-angguk sambil mengelus-elus jenggotnya. Dia lalu menyuruh Ceng Si pergi dan menghibur siocia-nya.

“Katakan kepada Siocia-mu bahwa aku akan memikirkan hal ini baik-baik,” katanya.

Kakek ini teringat akan pemuda she Cia yang dahulu pernah melamar Bi Li, dan menurut penglihatannya, memang pemuda itu cukup baik dan terpelajar. Akan tetapi, dulu ia telah menolak pinangan itu karena ia ingin menjodohkan Bi Li kepada seorang gagah supaya kelak dapat melindungi cucunya itu. Kakek Song sendiri adalah seorang ahli silat dan biar pun kepandaiannya tidak tinggi namun ia cukup tahu akan manfaat kegagahan pada jaman itu.

Apa lagi sekarang dia sudah menjodohkan cucunya kepada Kiang Liat, seorang pemuda gagah perkasa yang pernah menolongnya dan yang amat dikaguminya. Apa lagi karena pemuda itu kini menjadi murid dari seorang sakti.

“Sungguh menjemukan sekali, pinangannya sudah kutolak bagaimana dia masih berani mengganggu Bi Li? Sebenarnya apakah maksud pemuda she Cia itu?” Demikian Kakek Song berpikir-pikir.

Kemudian dia mendapatkan akal. Dia maklum akan keadaan keluarga Cia yang miskin, maka didatangilah rumah keluarga Cia di dusun Lee-hiang. Dia disambut oleh Janda Cia, yakni ibu dari Cia Sun dengan ramah-tamah dan penuh penghormatan, seperti biasanya seorang kaya-raya disambut oleh seorang dusun yang miskin.

Kakek Song minta kepada nyonya janda itu untuk memanggil puteranya dan Cia Sun lalu menghadap dengan muka pucat. Pemuda ini takut sekali karena ia telah dapat menduga bahwa kedatangan Kakek Song tentulah ada hubungannya dengan Bi Li, sedangkan dia selama beberapa hari ini belum mendapat berita apa pun dari Ceng Si. Hatinya gelisah sekali, akan tetapi dia menghadap Kakek Song dengan sikap sopan dan memberi hormat sebagaimana mestinya.

“Kedatanganku ini untuk membereskan persoalan yang ada antara Cia Sun dan cucuku,” kata Kakek Song kepada nyonya janda ibu Cia Sun. Tentu saja Nyonya Cia tidak tahu akan kelakuan puteranya, maka ia memandang dengan mata penuh pertanyaan.

“Cia-hujin, seperti kau tentu masih ingat, dulu pinangan puteramu terhadap cucuku sudah kutolak karena memang cucuku itu sudah mempunyai tunangan. Akan tetapi akhir-akhir ini ternyata puteramu selalu mendesak dan bahkan berani mencoba untuk berhubungan dengan cucuku. Yang sudah lewat sudahlah, akan tetapi mulai sekarang, kuperingatkan agar puteramu ini jangan sekali-kali berani menghubunginya. Ingat bahwa cucuku sudah bertunangan.”
“Hal itu tidak betul,” Cia Sun memotong, “Aku mendengar bahwa Song-siocia sama sekali belum bertunangan.” 

“Hemm, begitukah?” Kakek Song tersenyum, hatinya mendongkol bukan main. “Itu hanya dugaanmu belaka. Dia sudah tunangan dengan seorang she Kiang di kota Sian-koan dan dalam beberapa pekan ini pun pernikahannya segera akan dilangsungkan. Oleh karena itu, sekali lagi kuperingatkan bahwa apa bila kau mencoba untuk berlaku tidak patut dan mendekati rumah kami, aku akan turun tangan dengan jalan kekerasan atau aku akan menyuruh yang berwajib menangkap dan menahanmu. Sebaliknya, kalau kau berjanji tak mengganggu dan mendekatinya lagi, orang she Song akan berterima kasih sekali dan tidak akan melupakan kebaikan ini. Nah, biarlah sedikit bekal ini untuk keperluan kalian sehingga tak perlu keluar rumah.” Kakek Song meninggalkan sekantong uang perak dan meletakkan itu di atas meja yang reot di depan Nyonya Cia.

Nyonya janda Cia merasa terkejut dan juga girang. Ia buru-buru berlutut menghaturkan terima kasih dan berkata kepada Kakek Song,

“Song-loya, harap suka mengampunkan puteraku yang masih belum tahu aturan hingga mengganggu Loya. Percayalah, aku yang akan melarangnya pergi ke sana. Terima kasih banyak atas kemurahan hati Song-loya. Sun-ji (Anak Sun), hayo lekas ucapkan terima kasih kepada Song-loya.”

Cia Sun menjadi pucat dan hanya karena takut kepada ibunya maka ia terpaksa menjura dan mengucapkan terima kasih dengan suara perlahan. Kakek Song menjadi puas dan segera pergi dari situ, pulang ke gedungnya.

Cia Sun menjatuhkan diri di atas kursi, dua titik air mata turun membasahi pipinya. Kini hancurlah cita-citanya untuk menjadi suami Bi Li, untuk mewarisi seluruh harta benda itu!

“Anakku, bagaimana sih kau ini? Song-siocia tentu saja bukan jodohmu, bagaimana bisa katak mencapai bulan? Kau betul-betul amat lancang dan sembrono berani mengganggu gadis dari keluarga demikian hartawan. Masih untung bagi kita bahwa Song-loya berhati pemurah dan sabar sehingga sebaliknya dari pada marah kepada kita, ia hanya memberi peringatan secara halus dan malah memberi uang begini banyak.”

Namun Cia Sun masih terbenam di dalam lamunannya yang sedih. Apakah artinya uang sekantung ini bila dibandingkan dengan diri Bi Li berikut harta benda dan rumah gedung ditambah sawah ladang yang demikian banyaknya? Ia memutar-mutar otak mencari jalan yang baik, akhirnya ia berkata seorang diri,

“Hanya Ceng Si yang akan dapat memecahkan hal ini! Ceng Si manisku... kekasihku... sebenarnya engkaulah yang patut menjadi isteriku. Tanpa kau yang cerdik aku merasa tak berdaya...”

Ada pun Kakek Song yang pulang ke rumah gedungnya, diam-diam menyuruh beberapa orang pelayan untuk mengamat-amati dan menjaga agar jangan sampai ada orang luar yang dapat masuk ke dalam taman dan agar supaya mengusir setiap orang muda yang mendekati tembok sekitar gedung dan pekarangannya. Dengan penjagaan ini, maka baik Cia Sun mau pun Ceng Si sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk saling bertemu atau menyampaikan berita.

Sementara itu, sepekan kemudian datanglah utusan dari Sian-koan. Kakek Song terkejut bercampur gembira bukan main, juga dia merasa heran sekali. Utusan yang datang itu adalah seorang setengah tua yang berpakaian mewah, datang membawa sebuah kereta yang penuh dengan barang-barang berharga. Tadinya Kakek Song mengira bahwa yang datang ini tentulah seorang saudagar kaya, akan tetapi dia menjadi melongo ketika tamu ini memperkenalkan diri sebagai utusan dari keluarga Kiang di Sian-koan!

“Saya datang atas perintah dari Kiang-kongcu sambil membawa sekedar hadiah untuk Song-siocia, dan juga untuk membicarakan tentang hari pernikahan,” kata utusan itu.

Pada saat barang-barang hadiah itu dibongkar, semua orang terheran-heran dan kagum bukan main. Lima belas kayu kain sutera yang paling halus dan mahal dan yang jarang sekali dilihat oleh orang-orang seisi rumah itu, lima buah barang ukiran dari perak yang amat indahnya, untuk hiasan dinding kamar, empat peti besar terisi kain-kain untuk muili, kelambu, dan lain-lain keperluan rumah tangga, sekantung uang emas dan sekantung pula uang perak, kemudian yang terakhir, sebuah hiasan rambut terbuat dari emas dan dihiasi batu kemala yang amat indahnya, berbentuk seekor kupu-kupu yang hinggap di atas setangkai bunga Cilan.

Jangankan para pelayan yang memandang semua itu dengan mata terbelalak sambil menahan napas, bahkan Kakek Song sendiri sampai melongo. Hanya orang yang kaya raya, bahkan jauh lebih kaya dari pada dirinya sendiri, yang akan sanggup mengirimkan hadiah kepada calon pengantin seroyal ini.

Kakek Song segera menjamu tamu itu dan dari tamu ini ia mendapat keterangan bahwa Kiang-kongcu merupakan ahli waris satu-satunya dari keluarga Kiang yang amat terkenal kekayaannya. Juga ia mendengar bahwa nenek moyang Kiang Liat adalah orang-orang ternama belaka, bangsawan-bangsawan tinggi yang bernama besar. Maka bukan main girangnya hati Kakek Song mendengar ini.

Mereka terus mengobrol sambil minum arak dan makan hidangan yang mahal. Kemudian utusan itu menyampaikan pesan dari Kiang-kongcu mengenai hari pernikahan yang akan dilangsungkan dalam bulan itu juga.

Sementara itu, Ceng Si yang cerdik segera mendengar bahwa pemuda she Kiang yang dahulu berpakaian sebagai seorang pengemis itu, ternyata adalah seorang pemuda yang kaya raya, bahkan lebih kaya dari pada keluarga Song sendiri! Apa lagi setelah ia melihat barang-barang hadiah yang dibawa oleh utusan keluarga Kiang, hatinya lantas berdebar dan matanya yang indah itu berseri-seri.

Diam-diam dia meremas-remas tangan sendiri dan mengatur siasat. Kemudian dia berlari menuju ke kamar Bi Li, diikuti oleh para pelayan yang memanggul barang-barang hadiah itu, sebab Kakek Song memberi perintah supaya barang-barang itu langsung dibawa ke kamar Bi Li.

“Siocia, kionghi!” Ceng Si berseru sambil memeluk nona majikannya.
“Ceng Si, apakah kau gila? Aku lagi berduka, kau datang-datang memberi selamat.”
“Kionghi, Siocia! Tidak tahunya, pemuda she Kiang yang kelihatan seperti pengemis itu, ternyata adalah seorang pangeran!”
“Apa katamu? Seorang pangeran?” Bu Li menggerakkan alis karena terheran-heran.
“Lihat saja, lihat saja semua barang-barang hadiahnya!”

Pintu terbuka dan mengalirlah barang-barang itu memasuki kamar.

Bi Li juga merasa kagum sekali melihat benda-benda mahal itu, apa lagi melihat hiasan rambut yang luar biasa indah itu, dia benar-benar amat suka, hanya merasa malu untuk menjamahnya. Ia hanya duduk dan melihat satu demi satu semua benda itu yang diambil dari tempatnya oleh Ceng Si. Gadis pelayan ini sambil memamerkan benda-benda itu, tiada hentinya bercakap-cakap.

“Siocia, sungguh kau gadis yang beruntung sekali. Memang orang baik selalu mendapat perlindungan dari Thian. Siapa sangka pemuda berpakaian tambalan itu ternyata adalah seorang yang kaya raya, bahkan jauh lebih kaya dari pada Song-loya sendiri? Lihatlah, begini indah dan mahalnya barang-barang ini.

“Ceng Si, aku bukan seorang yang haus akan benda-benda indah dan mahal.”
“Akan tetapi orangnya pun sangat gagah dan tampan! Siocia, terus terang saja, apa bila diingat-ingat, Kiang-kongcu itu malah lebih tampan dari pada... pemuda she Cia itu. Dan tentu saja jauh lebih gagah, ingat saja, ia pernah menolong nyawa Song-loya!”
“Ceng Si!” Bi Li membentak dan mukanya menjadi pucat. “Aku bukan orang yang begitu mudah lupa akan sumpah sendiri!”

“Siocia, dalam hal ini kita tak boleh menurutkan perasaan dan nafsu sendiri. Ingatlah dan pertimbangkan masak-masak. Memang betul Siocia sudah bersumpah, namun semua itu dilakukan dalam keadaan melamun dan tak sadar. Siocia juga tidak bersumpah di depan Cia-kongcu dan hubungan kalian juga hanya dengan surat-surat sajak saja. Sebaliknya, coba pikir baik-baik. Pemuda hartawan dan gagah perkasa she Kiang itu, pertama-tama dia telah menolong nyawa kongkong-mu, kedua kalinya dia memang patut menjadi suami Siocia karena ia memang tampan dan gagah sekali, ketiga kalinya, ia seorang hartawan besar, jadi seribu kali lebih cocok dari pada Cia-siucai yang miskin itu.”
“Ceng Si...! Aku... aku kasihan kepadanya, juga karena ia tidak berdaya dan miskin.”

Berseri wajah Ceng Si, memang inilah yang dinanti-nantinya. “Jika begitu, Siocia, mudah saja untuk menolongnya! Dia miskin, membutuhkan uang. Kalau Siocia selalu memberi sesuatu yang berharga kepadanya, bukankah itu berarti sudah menolongnya?” 

“Ceng Si, bagaimana kau bisa bilang begitu? Kalau aku sudah menjadi isteri orang lain, bagaimana aku sudi dan berani mengadakan hubungan dengan laki-laki lain?” 
“Mudah saja Siocia. Jika aku Ceng Si yang bodoh selalu menjadi pelayan pribadi Siocia, selalu berada di samping Siocia, apa sih sukarnya? Kalau Siocia masih selalu menolong pemuda she Cia itu, pendeknya mencukupi kebutuhan hidupnya, bahkan kalau perlu membiayai dia melanjutkan pelajarannya, di kota raja, bukankah itu berarti bahwa Siocia mempunyai pribudi yang tinggi?”

Bi Li berpikir dan ia berkali-kali menarik napas panjang. “Akan tetapi aku khawatir sekali, Ceng Si. Surat-suratku banyak yang berada di tangannya! Kalau kelak... orang yang menjadi suamiku mengetahui akan hal ini, bukankah ini akan mendatangkan mala petaka hebat!”

Dalam hatinya, Ceng Si tersenyum laksana iblis. Akan tetapi pada wajahnya yang manis itu tersungging senyuman manis yang penuh hiburan. “Jangan khawatir, Siocia. Akulah yang akan minta kembali semua tulisan-tulisan itu.”

Akhirnya Bi Li dapat dibujuk dan dihibur. Gadis ini mengeluarkan surat-surat dari Cia Sun yang tadinya disimpannya, lalu menyerahkan semua surat itu kepada Ceng Si dengan perintah agar semua surat ini dibakar.

Ceng Si memang melakukan perintah ini, akan tetapi tidak semua surat dibakarnya, ada beberapa helai yang diam-diam ia sembunyikan dan simpan. Dua helai surat dari Cia Sun ini merupakan senjataku yang paling ampuh terhadap Song-siocia, pikirnya.

Kita tunda dulu dan membiarkan nona Song Bi Li melamun tentang pernikahannya yang dihadapi, dan mari kita mengikuti peristiwa lain yang amat hebat…..

********************
Selanjutnya baca
ANG-I NIOCU (DARA BAJU MERAH) : JILID-02
LihatTutupKomentar