Kisah Para Pendekar Pulau Es Jilid 19


Suma Kian Bu, seperti yang sudah kita kenal, adalah seorang pendekar sakti, putera Pendekar Super Sakti yang selain memiliki ilmu kepandaian tinggi dan pengalaman yang matang, juga telah memiliki batin yang kuat. Demikian pula isterinya yang bernama Teng Siang In bukanlah wanita sembarangan, melainkan seorang pendekar wanita yang amat lihai dan pandai pula ilmu sihir. Apalagi setelah kini mereka berusia kurang lebih setengah abad, kematangan lahir batin mereka sebenarnya sudah sepatutnya mencapai tingkat yang tinggi.

Akan tetapi, biar pun mereka selalu dapat mengatasi segala macam masalah kehidupan yang timbul dalam rumah tangga mereka secara bijaksana, dengan kebesaran hati dan kematangan batin, mereka runtuh juga saat mereka kehilangan putera tunggal mereka, yaitu Suma Ceng Liong! Mereka, sebagai suami isteri pendekar, sudah berusaha ke sana-sini mencari jejak putera mereka, namun selalu gagal dan akhirnya mereka seperti orang yang putus asa dan terendam dalam kesedihan dan kekecewaan.

Anak mereka hanya Ceng Liong satu-satunya. Kini anak itu lenyap tanpa meninggalkan jejak, kalau hidup tidak diketahui di mana adanya, kalau mati tidak diketahui bagaimana matinya dan di mana makamnya. Mereka menjadi sedih dan seolah-olah merasa jemu akan kehidupan, selama bertahun-tahun mereka hanya bertapa di rumah mereka yang kini tidak terawat, yaitu di dusun Hong-cun di lembah Huang-ho.

Mempunyai tidak sama dengan memiliki. Mempunyai lahiriah adalah wajar, karena manusia hidup dalam masyarakat ramai yang dikuasai oleh hukum-hukum. Mempunyai isteri atau suami, mempunyai anak, keluarga, harta henda, kedudukan, kepandaian, semua itu memang perlu dan ada manfaatnya bagi kehidupan.

Akan tetapi, kalau batin sudah memiliki, akan terciptalah ikatan dan ikatan ini yang menjadi pangkal kesengsaraan! Kalau batin sudah memiliki, maka akan tumbuhlah akar yang memasuki hati sehingga setiap perpisahan dari yang kita miliki itu akan mencabut akar-akar dan hati kita akan terasa perih dan nyeri sekali. Yang memiliki tentu akan mempergunakan segala cara dan kekerasan untuk mempertahankan miliknya sehingga timbullah pertentangan dan permusuhan. Yang memiliki tentu akan bergantung karena dalam pemilikan itu terdapat kesenangan yang amat menghibur. Memiliki ini jelas timbul dari keinginan untuk senang, mengulang kesenangan itu, dan tidak mau kehilangan kesenangan itu. Kalau dari yang dimiliki itu tidak dapat lagi dinikmati kesenangan, tentu yang tadinya dimiliki dan dipertahankan itu akan dicampakkan begitu saja, dibuang karena dianggap tidak berguna lagi.

Cinta bukanlah memiliki. Yang memiliki adalah palsu. Tetapi kita manusia sedemikian lemahnya sehingga selalu ingin memiliki sesuatu, baik itu berupa manusia lain, berupa benda, atau pun hanya berupa gagasan. Kita takut dan bahkan merasa ngeri untuk membiarkan diri kosong tanpa memiliki ketergantungan, takut untuk berdiri bebas tanpa pegangan. Padahal, hanya dalam keadaan bebas ini sajalah kita akan dapat merasakan bagaimana hakekat hidup ini.

Dalam keadaan bersandar atau tergantung, kita hanya seperti robot saja yang bergerak di bawah pengaruh yang kita gantungi. Dan karena kita selalu ingin memiliki, timbullah kecondongan di dalam hati kita untuk dimiliki. Karena, di dalam memiliki dan dimiliki orang lain terdapat perasaan aman, perasaan bersandar yang teguh. Kita lupa sama sekali bahwa HANYA YANG MEMILIKI YANG AKAN KEHILANGAN, dan kehilangan ini mendatangkan duka dan sengsara.

Bukan berarti bahwa kita menjadi tidak peduli akan segala yang kita punyai. Bukan berarti bahwa kita lalu menjadi tidak peduli kepada isteri atau suami, kepada keluarga, dan anak-anak, kedudukan, kekayaan, kepandaian kita dan sebagainya. Mencinta bukan memiliki akan tetapi juga bukan acuh tak acuh. Mencinta berarti memberi kebebasan kepada yang dicintanya, tidak mengikat, tidak menginginkan agar yang dicintanya itu selalu mentaatinya dan melakukan segalanya sesuai dengan kehendak dan kesenangan hati sendiri. Mencinta berarti tanpa pamrih dan tanpa pamrih baru ada kalau si-aku yang ingin senang sendiri itu tidak ada.

Suma Kian Bu yang sudah berusia lima puluh satu tahun dan terkenal sebagai seorang pendekar sakti yang ditakuti kaum sesat dan disegani kaum pendekar, tetap saja kini membuktikan bahwa dia pun hanya seorang manusia biasa yang lemah saja. Dia merasa sangat kehilangan Ceng Liong dan menjadi berduka, hidup dalam penderitaan kesengsaraan batin yang membuat ia dan isterinya setiap hari lebih banyak bersemedhi dari pada melakukan pekerjaan lain. Tubuhnya dan tubuh isterinya yang sudah berusia hampir lima puluh tahun itu masih nampak segar dan sehat berkat semedhi dan latihan-latihan silat, akan tetapi wajah kedua suami isteri ini nampak berkeriput dan nampak tua karena setiap saat dibakar penderitaan hati yang berduka dan kecewa.

Pagi itu sangat cerah di sepanjang lembah Huang-ho. Matahari pagi bersinar terang, tanpa gangguan awan, dan dengan riangnya sinar matahari bermain-main mengejar pergi kabut pagi dari permukaan air sungai dan rumput.

Dan secerah itu pula wajah seorang pemuda yang berjalan memasuki dusun Liong-cun. Seorang pemuda berusia lima belas tahun, bertubuh tinggi tegap, wajahnya sedikit agak lonjong dengan dagu meruncing dan lekuk dagu yang membayangkan kekuatan batin. Mulutnya selalu tersenyum, membayangkan kenakalan anak-anak. Pemuda ini berjalan sambil memandang ke kanan kiri, mulutnya tersenyum dan matanya yang bersinar sinar membuat wajah itu nampak cerah sekali.

Pemuda itu adalah Suma Ceng Liong! Sudah lima tahun lebih dia meninggalkan dusun tempat tinggalnya ini. Sejak dia kecil berusia kurang dari sepuluh tahun. Kampung halaman atau tanah air di mana orang dilahirkan dan dibesarkan selalu mempunyai daya tarik mukjijat yang dirasakan oleh orang itu sendiri. Demikian pula dengan Ceng Liong.

Seluruh permukaan dusun ini amat dikenalnya, bagai seorang sahabat lama yang amat baik. Setiap batang pohon, padang rumput, batu besar dan gundukan tanah berbukit, dikenalnya dengan baik karena semua itu dahulu pernah menjadi tempat dia bermain. Baru sekarang setelah dia kembali dan melihat itu semua, terasa olehnya betapa dia amat mencinta tempat ini, jauh lebih besar dari pada tempat-tempat lain walau pun tempat ini sederhana sekali dan tidak sangat menonjol.

Beberapa orang penghuni dusun yang sedang bekerja di ladang hanya menoleh dan memandang kepada Ceng Liong dengan sinar mata penuh pertanyaan, akan tetapi dia tidak pernah ditegur orang. Agaknya semua orang sudah lupa kepadanya, karena ketika pergi dahulu dia masih seorang anak-anak dan kini telah menjadi seorang pemuda menjelang dewasa yang tingginya sudah melebihi orang-orang dewasa pada umumnya.

Ceng Liong masih mengenal wajah-wajah itu, tetapi dia hanya menahan senyum dan sengaja berdiam diri karena dia telah memilih orang-orang pertama untuk ditegurnya, yaitu ayah bundanya sendiri. Setelah berjumpa mereka, barulah dia akan menjumpai semua penghuni dusun dan memperkenalkan diri. Tentu mereka itu akan geger karena heran melihat dia sudah begini besar dan akan meledak tawa gembira di dusun itu. Dia amat dikenal sebelum pergi, bahkan seluruh penghuni dusun mengenalnya.

Teringat akan ayah bundanya, Ceng Liong lantas mempercepat langkahnya menuju ke rumah pondok yang dari jauh sudah amat dikenalnya dan mendatangkan debar pada jantungnya itu.

Dia merasa heran melihat betapa rumah keluarganya nampak sunyi dan agak kotor tak teratur, seperti rumah kosong atau terlantar saja. Daun-daun pohon memenuhi halaman depan dan meja kursi di serambi depan penuh debu, juga lantainya kotor tanda sudah lama tidak disentuh sapu. Dia merasa heran. Apakah orang tuanya tidak berada di rumah? Kalau mereka ada, tidak mungkin rumah sekotor ini. Apalagi ibunya adalah seorang wanita yang rapi dan rajin, tidak senang melihat tempat yang kotor.

Ahhh, jangan-jangan kedua orang tuanya tidak berada di rumah. Atau jangan-jangan malah mereka sudah pindah dari rumah lama ini. Akan tetapi kalau pindah, kenapa meja kursi lama itu masih ada?

Dengan hati gelisah Ceng Liong mendorong daun pintu yang ternyata mudah dibuka. Tiba-tiba terdengar suara halus dari dalam, suara yang halus tapi tidak ramah.

“Siapa di luar?”

Suara ibunya! Tidak mungkin dia salah dengar. Walau pun sudah bertahun-tahun tidak mendengar suara ibunya, akan tetapi selamanya dia tidak akan lupa kepada suara itu. Agaknya ibunya sedemikian lihainya sehingga ada sedikit suara saja di luar, dia sudah mendengar dan mengetahui adanya orang yang datang tanpa melihatnya. Jantungnya berdebar penuh haru dan gembira.

“Saya.... saya tamu....!” katanya dengan suara gemetar.

Hening agak lama, kemudian terdengar lagi suara ibunya, “Tamu siapa? Ada urusan apa? Jangan ganggu kami....!”

Ceng Liong terkejut mendengar ini. Biar pun suara itu suara ibunya, halus merdu, akan tetapi nada suaranya tidak seperti nada suara ibunya. Ibunya biasanya bicara ramah kepada siapa pun dan juga selalu menyambut tamu dengan ramah dan hormat, biar tamu orang desa sekali pun. Akan tetapi suara ibunya ini demikian ketus dan galak, seolah-olah ibunya merasa kesal dan merasa terganggu oleh datangnya seorang tamu walau pun belum diketahuinya siapa adanya tamu itu. Mengapa demikian? Benarkah wanita yang bicara dari dalam itu ibunya?

“Saya.... saya ingin bertemu dengan pendekar Suma Kian Bu dan pendekar wanita Teng Siang In!” jawabnya menahan getaran hati sehingga suaranya terdengar lantang.

Hening lagi setelah ucapan Ceng Liong itu. Suasana sedemikian heningnya sehingga Ceng Liong dapat menangkap suara air terjun yang berada tak jauh di belakang rumah. Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dari dalam dan seorang wanita cantik yang bermuka kurus dan agak pucat telah berada di situ, sikapnya seperti orang marah.

“Hemm, siapa engkau yang berani lancang mengganggu ketenteraman.... ehhh, siapa engkau....?” Kini sepasang mata itu terbelalak menatap wajah Ceng Liong, bibir wanita itu gemetar dan bergerak-gerak akan tetapi tidak mengeluarkan suara, tubuhnya tidak bergerak, hanya sinar matanya saja yang menjelajahi seluruh tubuh Ceng Liong.

Wanita itu adalah Teng Sian In, isteri pendekar Suma Kian Bu, ibu kandung Ceng Liong. Ketika Ceng Liong pergi ke Pulau Es, dia baru berusia kurang dari sepuluh tahun, masih kanak-kanak. Semenjak itu, dia berpisah dari ibunya dan kini, biar pun usianya baru sekitar enam belas tahun, namun tubuhnya tinggi besar seperti orang yang sudah dewasa benar. Tentu saja nyonya itu tidak dapat mengenalnya lagi, walau pun ia merasa tidak asing dengan pemuda yang kini berdiri di depannya itu.

Di lain pihak, Ceng Liong juga memandang bengong. Hatinya seperti disayat rasanya. Seperti suaranya tadi, kini dia pun dapat mengenal ibunya walau pun jauh bedanya dengan wajah ibunya yang sering dijumpainya dalam mimpi atau jika dia merenungkan dan membayangkan wajah ibunya. Wanita ini jauh lebih tua dan lebih kurus.
Biar pun demikian, tidak mungkin dia dapat melupakan sepasang mata indah tajam mencorong itu, mata ibunya, mata yang mengandung sinar aneh dan penuh kekuatan, yang dahulu sering kali memandangnya dengan penuh kemesraan seperti yang belum pernah ditemuinya dalam pandang mata siapa pun. Dan mulut itu! Biar pun kini mulut itu membayangkan kekerasan dan kedukaan, namun dia masih ingat akan mulut yang dahulu sering tersenyum lembut kepadanya, yang mengeluarkan kata-kata indah dan penuh kasih sayang kepadanya. Inilah ibunya, tak salah lagi!

Dan tiba-tiba pemuda itu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki wanita itu.

“Ibu....!” Seruan ini keluar dari lubuk hatinya. Panggilan yang telah sering kali disuarakan hatinya selama bertahun-tahun ini. Panggilan penuh kerinduan, penuh kasih sayang, penuh keharuan.

Wajah itu menjadi semakin pucat. Mata itu terbelalak semakin lebar dan memandang seperti orang tidak percaya akan apa yang dilihatnya, seperti orang melihat setan di siang hari.

“Siapa.... siapakah.... anda....?” tanyanya gagap dan merasa seperti dalam mimpi.

Ia ingat wajah ini, ingat pandang mata ini, tetapi hatinya tidak berani mengharapkan bahwa pemuda tinggi besar ini benar-benar Ceng Liong puteranya. Ia takut kalau-kalau akan kecelik dan mengalami lagi kekecewaan yang sudah terlalu sering dirasakannya. Setiap kali melihat pemuda jantungnya bagaikan disentakkan, penuh harapan bahwa pemuda itu adalah puteranya yang pulang, akan tetapi selalu ia kecewa. Kini ia tidak mau kecewa lagi.

“Ibu.... ibu.... aku anakmu, Ceng Liong, ibu....!”
“Ceng.... Ceng Liong....?” Bibir itu berbisik lemah dan seluruh tubuhnya gemetar, kedua kakinya menggigil. Lalu kedua tangannya menangkap pundak Ceng Liong, ditariknya pemuda itu berdiri. Sepasang mata itu memandangi lagi penuh selidik, harus berdongak ia kalau memandang wajah pemuda itu karena jauh lebih tinggi dari padanya.

“Ceng Liong....? Ya.... ya.... engkau Ceng Liong, anakku....!” Dan wanita itu terkulai hampir pingsan, cepat dipeluk oleh Ceng Liong yang tak dapat menahan mengalirnya air matanya saking terharu.
“Ceng Liong.... ohhh.... anakku....!” Kini wanita itu dapat menangis, menangis tersedu-sedu di atas dada yang bidang itu, membasahi baju Ceng Liong yang merangkul ibunya.
“Kau.... kau diculik Hek-i Mo-ong....?” Akhirnya, di antara sedu sedannya, Teng Siang In dapat bertanya.

Wanita yang biasanya berhati baja ini akhirnya bisa menekan keharuan dan kegirangan hatinya, memandang wajah puteranya melalui genangan air mata. “Apa yang telah dilakukan iblis itu kepadamu?”

Ceng Liong mengusap air mata yang membasahi pipinya, lalu tersenyum. “Dia.... dia mengajarku, ibu. Dia menjadi guruku.”

Siang In melapaskan rangkulannya, surut ke belakang dan terbelalak. “Selama ini, selama bertahun-tahun ini, engkau menjadi murid Hek-i Mo-ong....?”

“Benar, ibu. Dia sudah menolongku, menyelamatkanku, dan mewariskan semua ilmunya kepadaku. Dia bukan iblis, ibu, dia amat baik kepadaku....”
“Haiiiittttt....!”

Tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu bayangan itu menyerang Ceng Liong dengan dahsyatnya. Suara pukulannya mengandung angin yang kuat sehingga Ceng Liong terkejut bukan main. Pemuda ini menggunakan kelincahan tubuhnya, mendorong ibunya ke samping dan dia pun meloncat ke belakang. Serangan pukulan itu luput dan dia memperoleh kesempatan untuk memandang. Yang menyerangnya adalah seorang laki-laki yang mengenakan topeng hitam sehingga mukanya tak dapat dikenal.

“Ehhh, kenapa kau menyerangku? Siapa engkau?” tanyanya heran dan penasaran.

Akan tetapi orang itu sudah kembali menerjang, bahkan dengan serangan yang lebih dahsyat. Biar pun tangan itu sendiri belum menyentuhnya, namun dia sudah merasakan hawa pukulan yang amat hebat. Ceng Liong terkejut, maklum bahwa lawannya ini seorang sakti dan mempergunakan pukulan jarak jauh yang mengandung sinkang amat kuat. Maka dia pun cepat bergerak, menangkis sambil mengerahkan tenaga.

“Dukkkk....!”

Kedua pihak merasa betapa mereka barusan didorong oleh tenaga yang kuat sehingga keduanya terpental ke belakang. Ceng Liong merasa semakin penasaran.

“Siapa engkau dan kenapa menyerangku? Ibu, siapakah dia ini?”

Namun ibunya sudah berdiri di sudut dan hanya memandang dengan mata terbelalak. Dan karena orang itu sudah menyerangnya lagi, Ceng Liong tidak mempunyai banyak kesempatan untuk bertanya. Dia hanya tahu bahwa ibunya tidak berdaya dan tidak pula berniat membantunya atau melerai, maka dia pun cepat mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk menghadapi lawan yang dia tahu amat tangguh dan berbahaya ini.

Ia melihat datangnya serangan yang ke tiga kalinya. Ia mengerti pula bahwa lawannya tidak main-main melainkan menyerangnya dengan hebat, dengan serangan maut yang amat berbahaya. Dia pun mengelak dan balas menyerang! Terjadilah perkelahian yang amat seru dan baru sekarang Ceng Liong menemui lawan yang demikian lihai.

Akan tetapi dia pun merasa heran ketika lambat laun mengenal dasar ilmu silat yang digunakan lawan ini. Walau pun lawan agaknya hendak merubah dan menyembunyikan ilmu silatnya agar jangan dikenal, namun akhirnya dia mendapat kenyataan bahwa lawannya mempergunakan ilmu silat keluarga Pulau Es! Jantungnya berdebar tegang dan penuh keheranan.

“Hyaaaaatt....!”

Untuk ke sekian kalinya, orang itu menyerangnya, kini dari kedua tangan orang itu keluar dua macam hawa pukulan yang berlainan, yang kiri mengeluarkan hawa dingin luar biasa, akan tetapi yang kanan mengeluarkan hawa panas sampai mengepulkan uap panas.

Mata Ceng Liong terbelalak. Itulah pukulan-pukulan Swat-im Sin-ciang dan Hwi-yang Sin-ciang yang dilakukan serentak. Yang dapat menggunakan dua pukulan ini sekaligus dengan kedua tangan hanyalah tokoh-tokoh tertinggi dari Pulau Es saja, termasuk ayahnya! Ayahnyakah orang ini? Ataukah pamannya, ataukah seorang di antara murid mendiang Pendekar Super Sakti? Tak peduli siapa adanya orang bertopeng ini, yang jelas serangan gabungan itu adalah serangan maut yang sukar ditahan oleh lawan yang bagaimana kuat pun juga.

Melihat bahaya maut mengancam dirinya, Ceng Liong lalu mempergunakan ilmu yang dipelajarinya dari Hek-i Mo-ong, yaitu Coan-kut-ci. Jari-jarinya terbuka menyambut dua tangan lawan dan dia mengerahkan tenaga sinkang-nya yang kini sudah sangat kuat, tenaga yang berdasar tenaga yang diterimanya dari mendiang kakeknya. Tusukan-tusukan jari tangannya dengan ilmu Coan-kut-ci ini dimaksudkan untuk membuyarkan dan mengancam telapak tangan lawan.

“Blarrrr....!”

Dua tenaga yang amat dahsyat bertemu dan akibatnya, tubuh Ceng Liong terlempar ke belakang, akan tetapi dia dapat berjungkir balik dan tidak sampai terbanting jatuh. Sebaliknya, lawan yang bertopeng itu terpelanting. Ceng Liong menjadi terkejut bukan main saat melihat ibunya lari menghampiri orang itu dan merangkulnya, membantunya bangkit berdiri.

“Ha-ha-ha, bagus, kiranya belum ada hawa sesat memasuki tubuhmu....!” Kata orang bertopeng itu sambil merenggut lepas topengnya.
“Ayah....!” Ceng Liong terkejut mengenal wajah ayahnya yang juga kurus seperti wajah ibunya. “Ayah.... maafkan aku....!” Dia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki ayahnya.

Yang dimaksudkau dengan maaf itu bukan karena perlawanannya tadi karena dia tahu bahwa ayahnya sengaja hendak mengujinya, akan tetapi dia minta maaf karena melihat betapa ayah bundanya menjadi kurus, tentu banyak berduka karena ditinggalkannya selama ini. Dia kini merasakan, betapa dia telah menyusahkan dan menggelisahkan hati mereka, dengan kepergiannya mengikuti Hek-i Mo-ong tanpa memberi tahu orang tua.

Tentu saja hati Suma Kian Bu tidak kalah terharunya melihat puteranya yang tadinya sudah tak diharapkan akan dapat bertemu kembali dengannya itu tiba-tiba saja pulang! Di samping keharuan dan kegirangan, juga terdapat rasa penasaran dan kemarahan di hati ayah ini.

Apalagi ketika tadi dia mendengar percakapan antara puteranya dan isterinya, bahwa puteranya itu selama ini menjadi murid Hek-i Mo-ong, hatinya merasa panas dan marah. Hek-i Mo-ong adalah orang yang membawa tokoh-tokoh sesat menyerbu Pulau Es, mengakibatkan tewasnya ayah dan kedua ibunya, juga mengakibatkan Pulau Es menjadi musnah, dan kini puteranya mengaku malah selama ini menjadi murid musuh besar itu! Hati siapa yang tidak akan marah? Yang paling tidak menyenangkan hatinya adalah membayangkan betapa puteranya menjadi pewaris ilmu-ilmu hitam, ilmu kotor dan keji dan jahat.

Maka dia lalu cepat mengenakan topeng dan sengaja dia menyerang puteranya itu dengan pukulan-pukulan maut dengan maksud untuk memancing dan mencoba kepandaian puteranya, ingin melihat apakah puteranya benar-benar telah mewarisi ilmu jahat dari Hek-i Mo-ong. Lebih baik melihat puteranya mati dari pada melihatnya hidup menjadi seorang calon datuk sesat! Akan tetapi, girang hatinya mendapat kenyataan bahwa ketika mereka beradu tenaga, dasar tenaga yang dipergunakan Ceng Liong adalah tenaga Pulau Es! Walau pun harus diakuinya bahwa ilmu terakhir yang dipergunakan puteranya dengan jari-jari tangan terbuka tadi amat mengerikan dan mengandung hawa iblis!

Kini dia melangkah maju dan meraba kepala puteranya dengan jari-jari tangannya, membelai rambut di kepala itu sebentar. “Bangkitlah, Ceng Liong, ingin kulihat berapa tinggimu sekarang!”

Dengan hati terharu karena dalam rabaan tangan ayahnya pada kepalanya tadi dia merasakan sentuhan kasih sayang yang mesra, Ceng Liong bangkit berdiri di depan ayahnya. Dua orang laki-laki ayah dan anak itu saling berhadapan dan berpandangan, dengan sinar mata berseri dan mulut tersenyum dan ternyata bahwa Ceng Liong kini sedikit lebih tinggi dari pada ayahnya!

“Ha-ha-ha, engkau sudah lebih tinggi dari pada aku! Mari kita duduk di dalam. Mari kita bicara. In-moi, mana arak....? Aih, sudah lama sekali aku tidak minum arak. Mana arak dan mana masakan?”

Siang In menghampiri mereka dan memeluk keduanya. Kedua lengannya melingkar di pinggang suami dan puteranya. Suasana menjadi gembira bukan main.

“Arak? Ahhh, ada kusimpan di gudang. Tentu kini sudah menjadi tua dan harum. Dan masih ada beberapa ekor ayam kita. Tunggu, akan kumasak untuk kalian....!”
“Nanti saja, ibu. Nanti kubantu. Aku sekarang pun sudah pandai masak setelah banyak merantau,” kata Ceng Liong gembira.
“Engkau benar. Nanti saja. Mari kita bicara dulu. Mari kita dengarkan dulu apa yang selama ini dialami Ceng Liong, baru kita merayakan pulangnya dengan makan minum,” kata Suma Kian Bu.

Suami isteri itu kini berseri wajahnya, bersinar-sinar matanya, bagaikan hidup kembali setelah bertahun-tahun tenggelam dalam kecewa dan duka nestapa. Dan tidak lama kemudian, mereka telah membersihkan meja di ruangan dalam, juga kursi-kursinya mereka bersihkan dengan sapu bulu ayam. Maka duduklah ketiga orang itu saling berhadapan dan Ceng Liong pun mulai menceritakan semua pengalamannya, sejak Pulau Es diserbu dan dia dilarikan Hek-i Mo-ong. Diceritakan betapa raja iblis itu telah berkali-kali menyelamatkan nyawanya sehingga akhirnya dia diambil murid.

“Mula-mula aku hanya ingin membalas budinya sebab telah dua kali dia menyelamatkan nyawaku. Akan tetapi lambat-laun, ilmu-ilmunya menarik hatiku dan selain itu, juga dia amat baik kepadaku, amat menyayangku sehingga timbul rasa kasihan dan suka di dalam hatiku terhadap orang tua itu.”

Ceng Liong melanjutkan ceritanya, tentang petualangannya bersama gurunya itu ke barat, bahkan sampai di Bhutan. Betapa dia bertemu dengan bibi Syanti Dewi dan suaminya, pendekar sakti Ang Tek Hoat dan puteri mereka yang bernama Gangga Dewi atau Wan Hong Bwee.

Suma Kian Bu dan isterinya mendengarkan penuturan putera mereka dengan penuh perhatian. Mereka merasa amat heran, kadang-kadang terkejut, penasaran, kagum dan bermacam perasaan mengaduk hati mereka. Mereka tidak dapat menilai lagi apakah mereka harus menyalahkan atau membenarkan putera mereka. Begitu banyaknya pengalaman aneh dan hebat dialami putera mereka.

Ceng Liong menceritakan semuanya sampai matinya Hek-i Mo-ong. Betapa dia pernah bertemu dan bertempur melawan pendekar sakti Kam Hong. Hanya di bagian dia dijodohkan kepada Kam Bi Eng oleh mendiang Hek-i Mo-ong tidak dia ceritakan kepada orang tuanya. Hal ini terlalu memalukan, dan dia dapat mengerti bahwa ayah bundanya tentu tidak akan cocok dan tidak akan menerima begitu saja putera mereka dijodohkan oleh Hek-i Mo-ong tanpa setahu mereka.

Setelah pemuda itu menceritakan semua pengalamannya, Suma Kian Bu lalu menarik napas panjang. Teng Siang In lalu pergi mengambil arak dan mempersiapkan makanan, memotong ayam peliharaan mereka dan mengambil sayur-sayuran dari kebun mereka di belakang rumah.

“Ceng Liong, tahukah engkau mengapa aku tadi menyerangmu sambil mengenakan topeng?” Kian Bu bertanya kepada puteranya.

Ceng Liong tersenyum. “Tadinya aku tidak tahu bahwa yang bertopeng adalah ayah. Baru setelah aku mengenal dasar gerakan ayah, aku menduga tentu ayah atau paman lain dari keluarga Pulau Es dan kalau benar ayah, tentu untuk mengujiku.”

Kian Bu menggelengkan kepala. “Bukan sekedar menguji, anakku. Dari dalam aku mendengar percakapanmu dengan ibumu. Mendengar bahwa selama bertahun-tahun ini engkau menjadi murid Hek-i Mo-ong, aku terkejut bukan main, juga marah dan kecewa. Kalau menjadi murid Hek-i Mo-ong selama bertahun-tahun, tentu engkau sudah memperoleh warisan ilmu sesat dan hawa yang kotor. Dari pada melihat engkau menjadi seorang calon datuk sesat lebih baik melihat engkau mati. Maka aku lalu keluar dan selain mencobamu, juga untuk melihat apakah engkau benar-benar mewarisi ilmu kotor.”

“Kalau benar demikian?”
“Aku akan berusaha memukulmu roboh.”
“Ayah hendak membunuhku?”

“Bukan, tetapi hendak melenyapkan ilmu-ilmumu yang kotor. Kalau dalam penyerangan itu engkau roboh dan tewas.... yah, lebih baik mati dari pada menjadi orang jahat. Akan tetapi, ternyata engkau memiliki dasar sinkang keluarga kita, bahkan teramat kuat sehingga terus terang saja, kalau engkau mengerahkan semua, belum tentu aku akan kuat melawannya. Sungguh aneh, engkau menjadi murid Hek-i Mo-ong akan tetapi engkau memiliki sinkang keluarga kita yang amat kuat. Bagaimana ini, anakku?”

“Ayah, tenaga itu bukan kudapat dari mendiang suhu Hek-i Mo-ong, melainkan kuwarisi dari mendiang kakek Suma Han....”
“Ahhh....?”

Ceng Liong lalu menceritakan tentang pengoperan tenaga sinkang dari kakeknya, sebelum terjadi mala petaka menimpa keluarga Pulau Es itu. Mendengar cerita ini, bukan main girang rasa hati Suma Kian Bu. Wajahnya berseri gembira dan matanya bercahaya.

“Ah, jadi kakekmu telah mengoperkan tenaga sinkang kepadamu? Bukan main! Kepada putera-puteranya sendiri beliau tidak melakukan hal ini! Engkau menerima pengoperan sumber tenaga yang amat hebat, anakku, dan kalau engkau mampu menghimpun dan menggunakannya, sungguh tenaga itu amat dahsyat. Sumber tenaga itu mengandung tenaga Swat-im Sinkang dan Hwi-yang Sinkang yang sudah tergabung. Akan tetapi.... sayang, engkau telah mempelajari ilmu-ilmu kotor dari Hek-i Mo-ong....”

“Maaf, ayah. Akan tetapi apakah ayah lupa akan nasehat-nasehat ayah dahulu yang pernah kuterima dan masih kuingat? Ayah, kita harus melihat kenyataan. Ilmu apakah yang kotor dan bersih? Bukankah segala ilmu, segala benda, hanya dapat ditentukan bersih kotornya tergantung dari pada si pemakai?”

Ucapan pemuda itu memang tepat sekali. Kita ini sudah biasa menilai-nilai, sudah biasa menentukan pendapat akan sesuatu, memisah-misahkan menjadi yang baik dan yang tidak baik. Padahal, segala ilmu, segala benda di dunia ini baru mempunyai predikat baik atau buruk kalau sudah dipergunakan manusia. Penggunaannya itulah yang mengandung baik atau buruk, bukan si ilmu atau si benda itu sendiri.

Sebatang pisau umpamanya, apakah pisau itu benda baik atau buruk? Tentu saja pisau ya pisau, sebuah benda mati, tidak baik tidak buruk. Baru disebut buruk kalau orang mempergunakan pisau itu untuk menusuk perut orang lain, untuk membunuh atau melukai, benda itu menjadi bernoda dan menjadi buruk. Akan tetapi sebaliknya, kalau pisau itu dipergunakan untuk merajang bumbu masak, untuk membuat kerajinan tangan, untuk keperluan pembedahan dan banyak lagi kegunaan yang baik, benda itu pun menjadi benda baik. Demikian pula dengan ilmu. Apa pun macamnya ilmu itu, kalau dipergunakan untuk kejahatan, menjadilah ia ilmu jahat, kalau untuk kebaikan, menjadi ilmu baik. Jadi, baik buruk hanya terdapat dalam penilaian yang timbul karena adanya penggunaan.

Suma Kian Bu menarik napas panjang. “Engkau benar, akan tetapi jangan keliru. Di dalam ilmu silat terdapat ajaran-ajaran yang mengandung kekejian dan kecurangan, dan hal-hal semacam itu tidak akan dipergunakan oleh seorang pendekar.”

Pemuda itu mengangguk. “Aku mengerti, ayah. Keji dan curang hanya terdapat dalam batin seorang yang menyeleweng dari kebenaran, yang batinnya dilanda kebencian. Walau pun mendiang suhu mengajarkan banyak pukulan beracun dan kecurangan-kecurangan lain dalam ilmu silat, aku tidak akan mempergunakannya untuk mencelakai orang. Betapa pun juga, ilmu-ilmu itu tetap masih berguna, misalnya untuk melindungi diri dari mala petaka.”

Kembali pendekar itu mengangguk-anguk. Dia merasa gembira sekali melihat betapa puteranya yang baru berusia enam belas tahun itu telah memiliki pandangan yang luas dan matang.

“Ceng Liong, engkau adalah keturunan keluarga Pulau Es. Karena itu, engkau harus mewarisi ilmu-ilmu keluarga kita. Engkau dipilih oleh mendiang kakekmu untuk mewarisi tenaga yang mukjijat, sumber tenaga sinkang itu. Akan tetapi ilmu-ilmu keluarga kita belum kau kuasai sepenuhnya, baru kau ketahui dasar-dasarnya dan teori-teorinya belaka. Maka, mulai sekarang, engkau harus menerima latihan-latihan dariku secara tekun agar kelak tidak akan mengecewakan menjadi keturunan kakekmu di Pulau Es.”

Demikianlah, mulai hari itu juga, Suma Ceng Liong kembali menerima gemblengan-gemblengan, sekali ini dari ayahnya sendiri yang menurunkan semua ilmu-ilmu Pulau Es kepada puteranya. Ceng Liong sudah memiliki dasar yang kuat, juga sudah mewarisi tenaga sakti kakeknya, maka tidaklah terlalu sukar baginya untuk memahami ilmu-ilmu keluarganya.

Bahkan diam-diam pemuda yang cerdik ini lalu dapat menciptakan ilmu-ilmu gabungan antara ilmu keluarga Pulau Es dan ilmu-ilmu yang dulu dipelajarinya dari Hek-i Mo-ong. Tentu saja penggabungan dua ilmu yang amat tinggi itu hasilnya hebat sekali dan semua ini dilakukan secara diam-diam oleh Ceng Liong, bahkan ayahnya sendiri pun tidak diberi tahu. Selama beberapa tahun Ceng Liong digembleng oleh ayahnya, bahkan ibunya juga mengajarkan semua ilmunya, termasuk ilmu sihirnya.....
********************
Sang waktu meluncur dengan pasti, tak terelakkan oleh siapa pun juga, menerkam dan menelan segala sesuatu di jagad raya ini. Kalau lepas dari perhatian, waktu meluncur dengan sangat cepatnya, seakan-akan baru kita memejamkan mata sebentar saja, bertahun-tahun telah lewat tanpa terasa. Sebaliknya kalau diperhatikan, sang waktu merayap dengan amat lambatnya, kadang-kadang tak tertahankan oleh kesabaran kita. Nampak jelas betapa cepatnya waktu meluncur lewat kalau kita menengok ke belakang. Seolah-olah masa kanak-kanak kita baru terjadi kemarin dulu!

Waktu meluncur amat cepatnya sehingga kehidupan normal seorang manusia antara enam puluh sampai delapan puluh tahun itu nampak pendek sekali. Hal ini membuat kita termenung memikirkan. Apakah yang telah kita lakukan di dalam waktu sesingkat itu sebagai manusia hidup? Apakah kita mengisi penuh waktu singkat dalam hidup itu hanya dengan mengejar kesenangan? Hanya untuk diombang-ambingkan oleh suka dan duka? Dihimpit bermacam penderitaan, kekecewaan, kegelisahan, kebencian dan lebih banyak sengsara dari pada bahagia? Pernahkah kita mengisi waktu yang sesempit itu dengan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri mau pun bagi orang lain?

Kalau tidak atau belum, mengapa tak kita lakukan mulai saat ini juga sebelum terlambat, sebelum kita kembali ke dalam tiada? Dan perbuatan yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri mau pun bagi orang lain dan bagi dunia, hanyalah perbuatan yang lahir dan batin yang penuh cinta kasih. Perbuatan apa pun juga, tanpa dasar cinta kasih, adalah palsu dan hanya akan menimbulkan pertentangan batin.

Sungguh amat menyedihkan melihat betapa kita sudah hampir kehilangan sinar cinta kasih itu, sehingga hampir semua perbuatan di sekitar kita adalah perbuatan pura-pura, tidak wajar, kesemuanya didasari perhitungan rugi untung, dan kebaikan-kebaikan yang dilakukan hanyalah kebaikan rugi untung, bahkan apa yang kita namakan cinta kita juga adalah cinta berdasarkan rugi untung. Si-aku yang selalu mengejar-ngejar kesenangan itu tak pernah lepas dari pada perhitungan rugi untung ini, baik keuntungan lahir mau pun keuntungan batin yang dicarinya. Karena itu, setiap gerak perbuatan adalah palsu.

Tak terasa tiga tahun telah lewat. Tiga tahun yang merupakan waktu penggemblengan bagi para tokoh muda kita dalam cerita ini. Dan sudah terlalu lama kita meninggalkan Suma Hui dan Suma Ciang Bun, enci adik yang bernasib malang itu.

Seperti telah kita ketahui, enci adik ini pun menerima gemblengan yang amat keras dan tekun dari ayah mereka sendiri, yaitu pendekar sakti Suma Kian Lee dan ibu mereka, pendekar wanita Kim Hwee Li. Karena ayah bunda mereka khawatir kalau-kalau kedua orang anak mereka itu tidak akan dapat mengalahkan Louw Tek Ciang musuh besar mereka, maka keduanya menurunkan semua ilmu mereka. Kedua orang muda itu mewarisi semua ilmu keluarga Pulau Es dari ayah mereka, bahkan ibu mereka turut pula menurunkan ilmu-ilmunya termasuk ilmu menaklukkan ular.

Dengan bekal banyak ilmu, Suma Hui dan Suma Ciang Bun meninggalkan Thian-cin, pergi mencari musuh besar mereka, yaitu Louw Tek Ciang. Bukan hanya mencari murid ayah mereka yang jahat dan murtad itu, tetapi juga hendak mencari musuh-musuh yang telah menimbulkan mala petaka di Pulau Es, yaitu Hek-i Mo-ong, Jai-hwa Siauw-ok dan kawan-kawan mereka.

Tentu saja mereka tidak tahu bahwa para tokoh yang pernah melakukan penyerbuan ke Pulau Es itu telah meninggal dunia. Dan mereka tidak tahu pula bahwa musuh besar mereka, Louw Tek Ciang, telah berada di tempat yang amat sukar untuk didatangi karena pemuda itu beruntung sekali terpilih oleh keluarga Cu untuk menjadi murid keluarga sakti itu dan berada di Lembah Naga Siluman, digembleng oleh Cu Han Bu dan Cu Seng Bu, bersama Pouw Kui Lok pemuda murid Kun-lun-pai itu.

Tentu saja semua usaha enci dan adik itu untuk mencari musuh-musuh mereka tak kunjung berhasil. Akan tetapi mereka tidak mau pulang ke Thian-cin sebelum berhasil, terutama sebelum berhasil mencari Louw Tek Ciang. Dan untuk lebih mudah mencari, akhirnya mereka berpencar dan berpisah, dengan perjanjian bahwa enam bulan kemudian, sebulan sebelum tiba hari raya Sin-cia (Hari Raya Musim Semi), mereka akan saling jumpa di kota raja untuk kemudian bersama-sama pulang terlebih dahulu ke Thian-cin, berhasil mau pun tidak.

Selama melakukan perjalanan bersama enci-nya, Suma Ciang Bun juga melakukan segala usaha untuk mengatasi masalah dirinya sendiri. Dibantu oleh enci-nya, dia berusaha untuk menyelidiki keadaan dirinya yang mempunyai kelainan di bidang sex, tidak seperti pria pada umumnya. Dia melakukan penyelidikan mengapa dirinya memiliki kelainan seperti itu agar dia dapat mengobatinya kalau hal itu merupakan penyakit, dan merubahnya kalau memang seharusnya demikian. Dengan latihan pernapasan dia mencoba untuk mengatasi masalah tubuhnya.

Dari penyelidikan bersama Suma Hui, dia dapat menemukan kesimpulan. Ada berbagai kemungkinan yang mungkin dapat menimbulkan kelainan itu. Pertama adalah pengaruh sekeliling. Kalau seorang anak laki-laki semenjak kecil lebih dekat dengan ibunya, lebih banyak bergaul dengan anak perempuan, maka kebiasaan-kebiasaan dan selera-selera wanita dapat mempengaruhinya dan menular kepada anak laki-laki itu yang lambat laun bisa saja memberinya selera wanita sehingga dia lebih menyenangi apa yang disukai wanita dari pada laki-laki biasa. Dan hal ini pun dapat saja membuat dia lebih condong merasa peka dalam soal sex terhadap seorang pria dari pada terhadap seorang wanita.

Ke dua, terjadinya suatu peristiwa yang hebat dan mengguncangkan batin, misalnya kekecewaan berulang kali dengan wanita, mungkin saja dapat membuat hati seorang pria menjadi hambar terhadap wanita dan dia mengalihkan perhatian untuk melepaskan gairah sexnya kepada pria lain, atau karena di samping kekecewaan terhadap wanita itu kebetulan dia bertemu dengan seorang sahabat pria yang amat menyenangkan dan disayangnya.

Ke tiga, seorang pria yang bertemu dengan seorang pria lain yang memiliki kelainan seperti itu, dapat saja terpengaruh dan ketularan. Dan ke empat, kelainan pada tubuh, pada kelenjar-kelenjar dan mungkin syaraf, dapat pula mendatangkan kelainan selera di bidang sex seperti yang dialaminya itu.

Dari penyelidikan dia dan enci-nya, dia menarik kesimpulan bahwa sebab-sebab lain itu tidak pernah terjadi pada dirinya sehingga satu-satunya kemungkinan adalah bahwa memang terdapat kelainan di dalam tubuhnya. Dan hal ini tentu saja hanya dapat diatasi dengan pengobatan jasmani. Akan tetapi, siapakah yang akan mampu memberi obat? Pula, berkali-kali Ciang Bun bertanya kepada batin sendiri. Adakah dia menghendaki dirinya berubah? Dan jawabannya adalah : Tidak!

Dia suka berdekatan dengan pria, dan hal ini sama sekali bukan hal yang aneh baginya, bahkan terasa wajar. Kalau pun dia menjadi prihatin adalah karena dia melihat betapa pria pada umumnya tidak demikian, sehingga dia seolah-olah merasa dirinya ganjil dan terasing.

“Bun-te,” kata Suma Hui setelah mereka berdua berbincang-bincang tentang hal dirinya. “Engkau adalah seorang gagah, keturunan keluarga Pulau Es. Bagaimana pun juga beratnya, engkau tentu kuat untuk melawan dorongan yang tidak wajar itu. Kalau perlu, kita tidak usah berurusan dengan cinta birahi pun kita akan kuat! Pergunakanlah tenaga dalam untuk melawan dorongan-dorongan tidak wajar itu, dan jika engkau belum dapat menemukan obatnya, lawan saja dengan tenaga sakti. Pendeknya, engkau jangan menurutkan dorongan hasrat hati sehingga melakukan perbuatan yang ganjil. Apa sih sukarnya melawan dorongan birahi? Kita kan sudah terlatih.”

Suma Ciang Bun mengangguk dan menarik napas panjang. “Benar, enci. Memang hal ini tidak perlu dipersoalkan, tidak perlu dijadikan masalah. Ternyata yang paling berat adalah karena adanya pertentangan dalam batinku. Jika kudiamkan saja dan kuanggap sebagai sesuatu yang wajar, dan aku tidak menurutkan dorongan hasrat nafsu, maka sebetulnya juga tidak ada apa-apa.”

Demikianlah, setelah berpisah dari enci-nya, Ciang Bun mulai dapat menguasai diri sepenuhnya. Dia tidak lagi mau memaksa diri untuk menjauhi pria atau pun berusaha mendekati wanita, melainkan memandang dan mengikuti saja hasrat yang tenggelam timbul di batinnya sebagai dorongan naluri jasmaninya. Dan dia mengerti bahwa satu-satunya jalan terbaik untuk penyaluran hasratnya tanpa menyinggung orang lain adalah kalau dia dapat bertemu dengan seorang pria yang mempunyai masalah yang sama dengan dirinya!

Akan tetapi, hal ini pun merupakan suatu kesukaran tersendiri. Pria yang tidak diganggu kelainan akan dapat memilih di antara laksaan wanita dan tentu akan bertemu dengan seorang yang disukainya. Akan tetapi, berapa banyak adanya pria seperti dia? Andai kata ada pun tentu tidak akan terang-terangan mengaku dan sukar dikenal dari keadaan lahirnya saja. Tentu hanya ada beberapa orang saja dan andai kata bertemu dengan satu dua orang yang sama keadaannya dengan dia, belum tentu dia menyukai orang itu. Maka, Ciang Bun kemudian mengambil keputusan untuk berdiam diri saja dan melihat perkembangan hidupnya tanpa banyak mengeluh dan tanpa banyak menentang.

Keadaan jasmaninyalah yang membuatnya seperti itu, bukan keadaan batinnya. Tetapi, untuk sementara waktu, kekuatan batinnya dapat menundukkan jasmaninya, sehingga dia tidaklah menderita lagi.

Suma Ciang Bun kini sudah dewasa. Usianya sudah dua puluh tiga tahun. Kumis tipis mulai tumbuh bersama jenggot tipis. Mukanya yang bulat dengan kulit yang agak gelap membuat dia nampak gagah, dan keadaan dirinya membuat wataknya yang memang pendiam itu menjadi semakin serius. Pakaiannya selalu rapi dan indah karena dia memang suka akan pakaian yang halus dan indah. Kesukaan akan pakaian yang merupakan satu di antara kecondongannya seperti wanita ini tidak ditekannya dan Ciang Bun selalu mengenakan pakaian yang rapi dan rambutnya selalu disisir dan dikuncir dengan rapi pula. Pemuda ini selalu nampak bersih dan tampan sekali.

Kalau pun ada nampak sifat kewanitaannya mungkin hanya pada kerling matanya. Biji matanya bergerak tanpa mukanya ikut bergerak, seperti kebiasaan wanita mengerling ke kanan kiri. Akan tetapi kebiasaan ini pun tidak akan mudah diketahui orang kalau tidak amat memperhatikannya. Sepasang siang-kiam yang tergantung di punggungnya juga bergagang indah, dengan ronce-ronce merah. Bahkan untuk memilih senjata rahasia pun dia memilih jarum-jarum halus yang berbau harum! Senjata rahasia ini dia peroleh dan dia pelajari dari ibunya. Dandanan dan sikapnya yang halus pendiam itu tentu akan membuat dia disangka seorang pelajar dari pada seorang pendekar, kalau saja tidak nampak sepasang pedang di punggungnya.

Pada waktu itu, untuk mengurangi terjadinya kekerasan, pemerintah melarang orang berlalu-lalang membawa senjata tajam. Akan tetapi, para pendekar tidak mengabaikan larangan ini dan memang bagi para pendekar, bukan penjahat, larangan itu tidak begitu menekan. Apalagi seorang pendekar seperti Suma Ciang Bun, keturunan keluarga Pulau Es yang amat dikenal oleh para pejabat tinggi. Bagaimana pun juga, keluarga Pulau Es masih mempunyai hubungan keluarga dengan keluarga kaisar.

Hari masih pagi ketika dia memasuki taman umum di kota raja itu. Sejak kemarin dia berada di kota raja, sesuai dengan janji yang telah diadakan dengan enci-nya, enam bulan yang lalu. Selama ini dia merantau dan mencari jejak musuh-musuhnya tanpa hasil. Dia telah berpencar dengan enci-nya, enci-nya mengambil jalan barat dan dia mengambil jalan timur.

Dia telah merantau memasuki Propinsi An-hwi, Ce-kiang, Kian-su dan Shan-tung. Banyak pengalaman dirasakan dan perjalanan berbulan-bulan sendirian itu membuat pemuda ini menjadi semakin matang. Banyak pertemuan dengan penjahat-penjahat dan di mana pun dia berada, dia selalu menentang para penjahat. Akan tetapi belum pernah dia bertemu dengan Louw Tek Ciang atau musuh-musuh lain, bahkan menemukan jejak mereka pun tidak pernah.

Janji pertemuannya dengan Suma Hui di kota raja, di dalam taman umum itu, masih beberapa hari lagi. Dia datang terlampau pagi dan memang dia ingin melihat-lihat dan berjalan-jalan di kota raja yang indah. Dan pagi hari itu dia memasuki taman, bukan untuk bertemu dengan enci-nya karena memang belum waktunya, melainkan untuk pelesir. Dia mengenakan pakaian serba biru sehingga wajahnya yang memang tampan nampak semakin gagah.

Taman itu sudah mulai dibanjiri tamu. Di situ terdapat kolam-kolam ikan dengan bunga teratainya. Juga banyak terdapat kedai-kedai arak yang diatur indah menarik. Ada pula beberapa pondok yang menjulang ke kolam teratai di mana orang dapat bersembunyi diri menikmati ikan-ikan di kolam, atau termenung sendirian melihat bunga-bunga teratai yang beraneka warna. Sebuah telaga buatan yang cukup lebar berada di ujung taman dan di situ para pelancong dapat berperahu sambil minum arak.

Ciang Bun merasa perutnya lapar karena ketika meninggalkan kamar hotel di pagi hari itu dia belum sarapan. Dimasukinya sebuah di antara kedai-kedai arak itu. Ketika dia masuk, di ruangan itu sudah terdapat beberapa orang pelancong dan ada pula beberapa orang gadis dari keluarga hartawan yang duduk di situ. Mereka ini segera mengangkat muka memandang kagum kepada Ciang Bun.....

Pemuda ini tidak merasa aneh dengan pandangan ini. Di mana pun berada banyak dia menerima pandang mata seperti itu dari para wanita. Ia pun bersikap wajar, tersenyum sedikit lalu memilih tempat duduk di sudut. Seorang pelayan menghampirinya dan dia pun memesan beberapa butir bak-pauw dan air teh panas. Dia tidak biasa minum arak di pagi hari.

Bukan hanya para wanita yang memandang kagum melihat kegagahan pemuda yang baru masuk ini, akan tetapi juga para tamu pria memandang, tertarik melihat sepasang pedang yang tergantung di punggung itu. Ciang Bun tidak mempedulikan semua perhatian yang ditujukan kepadanya dan dia segera makan bak-pauw dan minum teh panas sambil memandang lurus ke depan.

Akan tetapi, di sebelah depannya, di meja yang berdekatan, terdapat seorang pemuda lain yang juga sedang duduk sendirian, agaknya sudah selesai makan minum karena ada mangkok bubur kosong di depannya, juga cangkir teh. Dan kini pemuda itu sedang mencoret-coret menggunakan pencil buhr di atas sehelai kertas putih, nampaknya asyik sekali.

Berdebar rasa jantung dalam dada Ciang Bun, akan tetapi segera ditekannya perasaan itu. Kambuh kembali penyakitnya, pikirnya tak enak. Kenapa baru melihat saja seorang pemuda yang amat tampan ini lalu jantungnya berdebar-debar? Benarkah dia semata keranjang ini? Apakah seorang wanita juga akan berdebar seperti ini kalau melihat seorang pemuda tampan? Apakah wanita-wanita yang duduk di sana itu pun berdebar ketika melihat dia masuk dan mereka tadi memandang kepadanya?

Tanpa menggerakkan mukanya yang kini dimiringkan agar tidak lurus memandang ke depan, Ciang Bun mengerling ke arah pemuda itu. Seorang pemuda yang masih amat muda, paling-paling baru tujuh belas atau delapan belas tahun usianya. Pakaiannya sederhana, berwarna hijau. Tubuhnya agak kecil kurus, akan tetapi wajahnya sungguh amat menarik hati.

Wajah itu berbentuk tampan bukan main, dengan hidung kecil mancung, mulut kecil yang mengarah senyum, sepasang mata yang hidup dan tajam menatap kertas yang dicoretinya. Rambutnya dikuncir besar karena rambut itu hitam gemuk dan panjang. Alisnya hitam dan agak terlalu tebal, akan tetapi bulu matanya lentik panjang. Seorang pemuda yang amat tampan, terlalu tampan malah, seperti seorang wanita saja. Akan tetapi bulu alis tebal itu jelas bukan alis wanita.

Agaknya pemuda remaja itu sudah selesai menulis. Kini dia menyimpan alat tulisnya di dalam buntalan pakaian yang berada di atas meja. Sambil tersenyum-senyum sendiri dia mengambil kertas itu dan diangkatnya untuk dibaca. Karena Ciang Bun duduk arah belakangnya, tentu saja Ciang Bun dapat ikut pula membaca tulisan itu yang ditulis dengan huruf besar dan indah. Tulisan indah bersajak! Ciang Bun membacanya cepat.

Pergi merantau seorang diri
Berkelana menjelajah negeri
Pamer senjata menimbulkan ngeri
Apakah hanya untuk menakuti?

Wajah Ciang Bun berubah merah. Biar pun tidak secara langsung, bukankah isi sajak itu menyindir, bahkan mengejeknya? Dia menoleh ke kanan kiri dan melihat bahwa semua tamu yang berada di situ tidak ada yang membawa senjata. Dialah satu-satunya orang yang membawa pedang dan karena pedangnya itu tergantung di punggung, maka disebut pamer oleh si penulis sajak. Akan tetapi penulis itu mengejeknya, mengatakan bahwa senjatanya itu hanya untuk menakut-nakuti! Sungguh pemuda remaja ini usil, lancang, akan tetapi jenaka dan tulisannya halus indah, dengan goresan-goresan aneh seperti yang biasa terdapat pada tulisan seorang asing.

Ciang Bun semakin tertarik dan memperhatikan. Hatinya tidak marah oleh sindiran dan ejekan itu, bahkan dia pun merasa geli dan lucu. Pemuda bengal, pikirnya, akan tetapi menarik hati. Ingin dia berkenalan dengannya. Sekedar berkenalan karena selama ini dia malah menjauhkan diri dari para pemuda. Kini dia tidak perlu khawatir. Dia sudah dapat menguasai hatinya, lagi pula pemuda itu masih remaja dan dia pun hanya ingin bersahabat, tidak lebih…..

Akan tetapi, tiba-tiba pemuda itu memanggil pelayan dengan suaranya yang lantang dan benar dugaannya, pemuda remaja itu mempunyai suara yang nadanya asing. Setelah membayar harga makanan, pemuda remaja itu bangkit berdiri, menyandang buntalannya yang cukup panjang, lalu melangkah ke luar. Akan tetapi ketika lewat di dekat Ciang Bun, pemuda remaja itu mengerling dan tersenyum, kerling dan senyum yang mengejek.

Ciang Bun membalas senyuman itu, senyuman yang mengandung kesabaran dan menawarkan persahabatan. Akan tetapi pemuda remaja itu malah membuang muka dan melangkah lebar keluar dari kedai arak.

Ciang Bun menarik napas panjang dan menenteramkan hatinya. Terasa benar olehnya bahwa penyakit pada dirinya itu belum sembuh. Kalau selama ini dia tidak merasakan getaran seperti ini, getaran yang pertama kali dirasakan ketika dia berada di Pulau Nelayan bersama Liu Lee Siang, adalah karena memang hatinya tidak pernah tertarik kepada seorang pemuda seperti halnya Lee Siang atau pemuda remaja ini. Biar pun dia lebih condong menyukai pria, akan tetapi tidak sembarang pria membuatnya berdebar seperti ini.

Setelah membayar harga makanan, Ciang Bun bangkit berdiri dan dengan keputusan hati untuk segera melupakan pemuda tampan tadi, dia pun melangkah keluar dari kedai arak. Dia berjalan-jalan di taman itu. Karena tertarik oleh keadaan telaga buatan, dia menyewa sebuah perahu dan membeli seguci arak, karena akan nikmat sekali naik perahu sambil minum arak nanti kalau matahari sudah naik agak tinggi.

Taman ini indah sekali. Dahulu merupakan taman pribadi milik kaisar. Tapi sejak kaisar Kian Liong bertahta, kaisar yang mencinta atau lebih dekat dengan rakyat dibandingkan kaisar-kaisar terdahulu, kemudian membuka taman itu menjadi taman umum yang boleh dikunjungi rakyat. Kaisar Kian Liong memang bijaksana dan pandai menyenangkan hati rakyatnya, maka di jaman pemerintahannyalah rakyat merasa lebih tenteram hidupnya.

Ciang Bun mendayung perahunya berputar-putar di telaga buatan itu. Semua orang yang berada di sekitar tempat itu, tidak ada yang tidak berseri wajahnya tanda bahwa mereka semua bergembira. Ketika Ciang Bun mendayung perahunya sampai di dekat sebuah pondok kecil yang berada di atas permukaan air di tepi telaga, tiba-tiba dia mendengar suara lantang disertai ketawa mengejek.

“Ha-ha-ha, Siang-kiam taihiap (Pendekar Besar Sepasang Pedang) nongol lagi untuk memamerkan pedangnya!”

Ciang Bun menghentikan dayungnya dan mengangkat muka. Kiranya pemuda remaja yang tadi sedang nongkrong di pondok itu menjenguk keluar dari sebuah jendela kecil dan tersenyum mengejek. Mendongkol juga rasa hati Ciang Bun. Pemuda itu sungguh bengal, suka menggoda orang. Akan tetapi dia masih dapat menahan rasa marahnya dan sambil tersenyum ramah dia pun berkata.

Bersama pedang menjelajah negeri
bukan pamer bukan menakuti
sekedar alat pembela diri
harap adik jangan salah mengerti!

Sepasang mata yang lebar dan jeli itu terbelalak. “Aihh, kiranya engkau adalah seorang terpelajar, pandai bersajak, bukan tukang pukul yang suka menakut-nakuti orang!”

Ciang Bun tersenyum. “Aku seorang biasa saja yang suka bersahahat. Kalau adik suka, kita boleh berkenalan dan menunggang perahu bersama.”

Sepasang mata itu bersinar-sinar. “Benarkah? Engkau tidak marah kepadaku karena aku telah mengganggumu tadi?”

Ciang Bun tersenyum dan menggeleng kepalanya. Hatinya merasa semakin tertarik dan suka kepada pemuda remaja itu yang walau pun bengal akan tetapi ternyata pandai membawa diri dan juga jujur, mau mengakui kesalahannya. Buktinya, dia kini mengaku terus terang bahwa tadi telah mengganggunya.

“Engkau gembira dan jenaka, bukan mengganggu melainkan bicara sebenarnya. Di jaman sekarang memang banyak orang berlagak, dan engkau tadi menganggap aku tukang menjual lagak, jadi sajakmu tadi wajar saja.”

Pemuda remaja itu nampak semakin gembira. “Ahh, begitukah? Kalau begitu, biar aku ikut naik perahu bersamamu.”

Gembira sekali rasa hati Ciang Bun. “Tunggu, akan kudaratkan perahu ini....”

“Tidak usah. Awas, aku melompat turun!” Dan tiba-tiba saja pemuda remaja itu sudah meloncat keluar dari jendela itu, meluncur turun ke atas perahu yang jaraknya masih cukup jauh.

Ciang Bun terkejut bukan main, akan tetapi dia memandang kagum ketika pemuda itu sudah tiba di dalam perahu dan perahu itu sama sekali tidak terguncang seolah-olah yang tiba di dalam perahu dari atas itu hanya sehelai daun kering saja. Dia terkejut dan kagum, tahu bahwa pemuda remaja ini memiliki ginkang yang amat hebat.

“Aihhh, kiranya engkaulah sebenarnya seorang taihiap!” katanya jujur. “Sungguh malu sekali aku yang tidak bisa apa-apa ini berani membawa-bawa pedang di depan seorang pendekar lihai sepertimu ini.”

Pemuda remaja itu tertawa. Wajahnya nampak semakin muda dan tampan. “Sudahlah, toako, tak perlu merendahkan diri. Dari sikapmu menanggapi gangguanku dan pujianmu tadi, menunjukkan bahwa engkau berhati lapang dan juga berwatak rendah hati. Dan sikap ini hanya dimiliki oleh orang yang sudah patut disebut pendekar. Pula, siapa lagi kalau bukan pendekar yang lihai yang berani membawa-bawa pedang secara berterang, di kota raja pula?”

Seorang pemuda yang ahli ginkang dan juga cerdik, pikir Ciang Bun. Juga dari nada suaranya jelas menunjukkan lidah asing, walau pun bicaranya cukup lancar. Tentu seorang pemuda asing yang sudah lama berada di sini atau yang mempelajari Bahasa Han dengan baik.

“Siauw-te, tak perlu engkau memuji. Akan tetapi sungguh ginkang yang kau perlihatkan tadi mengagumkan hatiku. Dan mendengar suaramu, agaknya engkau adalah seorang yang datang dari jauh. Kalau boleh aku bertanya, siapakah namamu dan dari mana engkau datang?”

“Aku pun seorang pengembara seperti engkau, toako, hanya saja aku datang jauh dari luar negeri, dari barat. Dan karena orang tuaku kagum akan kebesaran Sungai Gangga, aku diberi nama Ganggananda (Putera Sungai Gangga).”

“Ahh....! Kalau begitu engkau tentu datang dari See-thian (Negara Barat). Akan tetapi kulitmu putih dan mukamu, biar pun agak asing, tidak jauh bedanya dengan muka bangsa kami. Dan semuda ini engkau sudah berani merantau sejauh itu. Bukan main! Padahal, usiamu tentu baru lima belas atau enam belas tahun, masih belum dewasa benar.”

“Siapa bilang? Aku telah berusia delapan belas tahun! Dan aku sudah merantau selama satu tahun lebih. Girang sekali hari ini di kota raja dapat bertemu dengan seorang pendekar seperti engkau, toako. Siapakah namamu?”

Biasanya, Suma Ciang Bun segan memperkenalkan nama, apalagi nama keturunannya, karena she Suma akan mendatangkan daya tarik dan kecurigaan, membuka rahasia bahwa dia masih keturunan keluarga Suma dari Pulau Es. Memang tidak semua orang she Suma keluarga Pulau Es, akan tetapi she ini jarang terdapat sehingga menarik perhatian. Akan tetapi terhadap pemuda remaja yang jujur ini, yang amat menarik hatinya, dia tidak mau berbohong.

“Namaku Suma Ciang Bun....”
“Wah....! Kau tentu cucu Pendekar Super Sakti Suma Han dari Pulau Es!”

Kini wajah Ciang Bun berubah agak pucat. Tak disangkanya bahwa pemuda remaja yang asing ini begitu mendengar namanya langsung saja menebak dengan demikian tepatnya. Biar pun tokoh kang-ouw kenamaan tentu masih akan meragu.

“Pantas saja begitu bertemu aku tertarik untuk menggoda agar dapat berkenalan denganmu!” kata lagi pemuda yang bernama Ganggananda itu.
“Eh, Ganggananda, bagaimana engkau bisa tahu?”
Pemuda itu tertawa. “Dan engkau tentu masih saudara dari Suma Ceng Liong, bukan?”

Sekarang Ciang Bun yang terbelalak, memegang lengan pemuda remaja itu. “Engkau mengenalnya? Engkau bertemu dengan Ceng Liong? Dia masih hidupkah?”

Ganggananda tersenyum. “Tentu saja dia masih hidup, setidaknya enam tujuh tahun yang lalu dia masih hidup. Aku bertemu dan kenal dengannya ketika dia pergi ke barat.” Tiba-tiba wajah pemuda ini menjadi muram. “Heran sekali mengapa engkau tidak tahu dan mukamu berubah ketika mendengar namanya?”

“Dengar, Nanda, aku berterus terang saja. Kami semua mengira bahwa Ceng Liong sudah tewas kurang lebih sembilan tahun yang lalu. Dan sekarang, bertemu denganmu mendengar bahwa dia masih hidup, sungguh amat mengejutkan dan menggembirakan.”

“Memang dia masih hidup, akan tetapi ada hal aneh sekali yang tentu akan membuatmu menjadi semakin terkejut.”
“Apa itu?”
“Katakanlah dahulu. Betulkah engkau dan Ceng Liong cucu-cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es? Kalian adalah keluarga para pendekar Pulau Es?”
“Benar, ayahku dan ayahnya adalah kakak beradik, dan Pendekar Super Sakti adalah kakek kami.”
“Nah, itulah yang aneh. Ceng Liong cucu Pendekar Super Sakti, akan tetapi dia juga menjadi murid seorang raja iblis.”
“Apa? Siapa?”
“Hek-i Mo-ong!”
“Ahhh....!” Tentu saja Ciang Bun kaget setengah mati mendengar berita ini, lebih kaget dari pada berita bahwa adiknya itu masih hidup.

Hek-i Mo-ong adalah raja iblis yang memimpin penyerbuan ke Pulau Es. Dialah musuh besar nomor satu. Bagaimana mungkin kini Ceng Liong malah menjadi muridnya? Dia begitu terkejut sehingga memandang ke depan, jauh ke depan dan tiba-tiba wajahnya berubah pucat pada saat dia melihat dua orang pria berada di dalam sebuah perahu meluncur datang dan sudah dekat.

“Kau.... kau kenapa....?” Ganggananda memegang lengan Ciang Bun melihat pemuda itu wajahnya menjadi pucat sekali dan matanya mengeluarkan sinar berapi.
“Diamlah,” bisik Ciang Bun, “Dan jangan mencampuri kalau aku nanti berkelahi. Aku bertemu dengan musuh besarku!”

Perahu di depan itu kini mendekat dan yang membuat hati Ciang Bun terkejut adalah ketika dia mengenal bahwa seorang di antara dua pria yang berada di dalam perahu itu adalah Louw Tek Ciang! Dia tidak mungkin pangling. Pria itu biar pun kini sudah lebih tua, masih seperti dahulu. Pakaiannya mewah dan bibirnya masih tersenyum-senyum mengejek, pandang matanya membayangkan kecerdikan dan kelicikan. Biar pun dia belum bertemu dengan enci-nya, akan tetapi setelah kini melihat musuh besar itu, dia harus turun tangan membunuh orang yang telah merusak kehidupan enci-nya!

Akan tetapi, agaknya Tek Ciang juga bermata tajam. Mula-mula dia tidak mengenal Ciang Bun, tetapi begitu Ciang Bun berdiri di dalam perahunya dan dia memandang penuh perhatian, Tek Ciang segera mengenalnya. Dengan sikap congkak dan manis dibuat-buat penuh ejekan, dia melambaikan tangan.

“Aha, kiranya bertemu dengan adikku Ciang Bun di sini! Apa kabar, adikku?”

Akan tetapi Ciang Bun membentak sambil mencabut sepasang pedangnya. “Louw Tek Ciang keparat busuk! Bersiaplah untuk mampus!”

“Aihh, anak kurang ajar. Lupakah engkau bahwa aku ini kakak iparmu, juga suheng-mu sendiri? Keturunan keluarga Suma memang kurang ajar semua!” Louw Tek Ciang juga membentak.

Kawannya, pemuda yang berpakaian serba hijau, memandang dengan alis berkerut. Pemuda ini adalah Pouw Kui Lok, murid Kun-lun-pai yang kini menjadi sute dari Tek Ciang itu. Seperti kita ketahui, dua orang ini beruntung sekali diangkat menjadi murid-murid oleh kedua orang tokoh Lembah Naga Siluman, yaitu Kim-kong-sian Cu Han Bu dan Bu-eng-sian Cu Seng Bu. Mereka diajak ke Lembah Naga Siluman di Pegunungan Himalaya dan selama kurang lebih tiga tahun mereka menerima gemblengan dari dua orang tokoh sakti itu.

Karena Louw Tek Ciang adalah murid Suma Kian Lee yang sudah mewarisi ilmu-ilmu silat tinggi dari pendekar Pulau Es itu, juga murid Jai-hwa Siauw-ok yang lihai, sedangkan Pouw Kui Lok adalah murid utama Kun-lun-pai, keduanya memiliki dasar yang kuat. Karena itulah, dalam waktu tiga tahun saja mereka mampu menguasai ilmu-ilmu tertinggi ciptaan Cu Han Bu dan Cu Seng Bu. Juga kedua orang muda itu oleh guru mereka diberi masing-masing sebuah suling emas dan mereka mahir menggunakannya sebagai senjata.

Setelah turun gunung, kedua orang muda itu lalu kembali ke timur dan untuk bersenang-senang setelah mereka bertapa selama tiga tahun itu, mereka pergi ke kota raja untuk bersantai. Secara kebetulan sekali, ketika mereka berdua sedang berpesiar di dalam taman itu, Tek Ciang melihat Ciang Bun yang segera dikenalnya. Tentu saja Tek Ciang merasa terkejut sekali, akan tetapi dia tidak merasa takut, malah mengejek. Selain ilmunya sendiri sudah memperoleh kemajuan pesat, juga di sebelahnya terdapat Pouw Kui Lok, seorang sute-nya dan juga sahabat baiknya yang tentu akan membelanya kalau ada bahaya mengancam dirinya. Apa yang ditakutkan lagi?

Pouw Kui Lok telah menjadi saudara seperguruan Tek Ciang dan hubungan di antara mereka akrab sekali. Tek Ciang memang seorang yang amat cerdik. Seperti ketika dia mengelabui Suma Kian Lee sehingga pendekar itu amat percaya kepadanya, ketika berada di Lembah Naga Siluman pun dia dapat membawa diri sehingga tidak nampak sama sekali sifat jahatnya.

Kedua orang sakti she Cu itu menganggapnya seorang murid yang baik dan yang berwatak gagah perkasa, pantas menjadi seorang pendekar yang akan menjunjung tinggi nama dan kehormatan keluarga Cu di Lembah Naga Siluman. Juga Kui Lok, murid Kun-lun-pai yang berwatak pendekar itu merasa suka kepada Tek Ciang dan menganggap suheng-nya ini benar-benar seorang gagah sejati. Apalagi suheng-nya pernah menjadi murid, bahkan mantu pendekar sakti Suma Kian Lee keluarga Pulau Es itu.

Dengan cerdik Tek Ciang pernah menceritakan riwayatnya kepada Kui Lok. Ia bercerita bahwa dia sebagai murid Suma Kian Lee lalu diambil mantu. Akan tetapi akhirnya keluarga Suma yang tinggi hati itu merasa menyesal karena dia hanya anak seorang guru silat yang tak ternama. Dan keluarga itu hendak memisahkan dia dari isterinya.

Pouw Kui Lok tadinya merasa terkejut dan heran mendengar cerita itu. Sukar untuk dapat dipercaya. Akan tetapi, ketika dia menyebut nama Suma Ceng Liong sebagai murid Hek-i Mo-ong yang merupakan musuh besarnya, dia mendengar dari suheng-nya bahwa Suma Ceng Liong juga cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, masih adik sepupu isterinya.

Barulah timbul semacam perasaan tidak suka di hati Kui Lok dan dia percaya bahwa keluarga Suma dari Pulau Es memang congkak, tinggi hati dan condong ke arah penyelewengan, seperti dibuktikan dengan kenyataan bahwa Suma Ceng Liong menjadi murid Hek-i Mo-ong, dan keluarga Suma Kian Lee bersikap tidak adil terhadap Tek Ciang. Bukan hanya Kui Lok yang terpengaruh. Saking pandainya Tek Ciang bersikap dan bicara, kedua orang gurunya, Cu Han Bu dan Cu Seng Bu yang tadinya kagum kepada keluarga Pulau Es, kini pun merasa tidak senang.

“Engkau atau aku yang mati!” bentak Ciang Bun yang sudah mencabut sepasang pedangnya dan pemuda ini meloncat ke arah perahu di depan.

Ganggananda menjadi bingung dan menahan agar perahu yang terguncang itu tidak sampai terguling, kemudian dia cepat mendayung perahu agak menjauh sambil memandang dengan alis berkerut dan hati khawatir. Dia tidak tahu harus berbuat apa karena sahabat barunya itu tidak bercerita tentang musuh besarnya. Dia tidak tahu bagaimana urusannya. Apalagi ketika mendengar betapa orang yang diserang Ciang Bun tadi bicara seperti kakak ipar Ciang Bun sendiri, dia menjadi semakin bingung dan tidak berani sembarangan mencampuri.

“Trang.... trangg....!”

Bunga api berpijar ketika sepasang pedang di tangan Ciang Bun yang menyerang itu ditangkis oleh suling di tangan Tek Ciang.

Pemuda yang baru saja turun dari Lembah Naga Siluman ini terkejut ketika menangkis sepasang pedang Ciang Bun. Tadinya dia mengira bahwa tingkat kepandaian Ciang Bun tentu tidak banyak bedanya dengan dahulu. Maka dia tadi mengerahkan tenaga untuk menangkis dengan keyakinan bahwa tangkisan itu akan membuat sepasang pedang lawan terpental. Tetapi ternyata ketika sulingnya bertemu dengan sepasang pedang, dia merasa lengannya tergetar dan tenaga bekas adik iparnya itu bukan main kuatnya.

Di lain pihak, Ciang Bun juga kaget sekali karena selain tiba-tiba saja musuh besar itu memiliki senjata aneh, yaitu sebatang suling emas yang digerakkan menangkis dengan tenaga dahsyat, juga suling itu dapat mengeluarkan suara melengking yang seolah-olah menusuk telinganya. Akan tetapi karena hati Ciang Bun sudah penuh kemarahan dan dendam, dia tak peduli akan kenyataan itu dan dia pun sudah menggerakkan sepasang pedangnya lagi, menyerang dengan dahsyat. Dan terjadilah perkelahian sengit di atas perahu kecil itu.

Pouw Kui Lok yang masih duduk di ujung perahu sambil memegang dayung, menjadi bingung melihat perkelahian seru di atas perahu kecil itu. Seperti juga Ganggananda, dia pun tak tahu harus berbuat apa. Bedanya, jika Ganggananda tidak tahu urusannya, dia sendiri sudah tahu dan karenanya tidak berani lancang mencampuri. Bukankah urusan antara suheng-nya dan keluarga Suma adalah urusan pribadi mereka? Perahu itu terguncang hebat dan dengan susah payah Kui Lok berusaha menahan dengan dayungnya agar perahu tidak sampai terguling.

Tingkat kepandaian Ciang Bun pada waktu itu sungguh tak dapat dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Semenjak ayahnya sadar akan kekeliruannya, pendekar itu menggembleng Suma Hui dan Ciang Bun dengan tekun sehingga kedua orang anaknya itu memperoleh kemajuan pesat sekali.

Namun lawannya sekarang adalah Louw Tek Ciang yang bukan saja telah mengenal semua ilmu keluarga Pulau Es, akan tetapi di samping itu juga telah mewarisi ilmu-ilmu silat dari para datuk Ngo-ok melalui gurunya yang lain, yaitu Jai-hwa Siauw-ok. Apalagi setelah selama tiga tahun dia digembleng oleh orang-orang sakti she Cu dari Lembah Naga Siluman, tentu saja tingkat kepandaiannya masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Ciang Bun.

Maka, meski Ciang Bun menggerakkan siang-kiamnya dan menyerang dengan sengit, tetap saja Tek Ciang dapat menguasai keadaan. Dia mengenal jurus-jurus gerakan Siang-mo Kiam-hoat yang dimainkan Ciang Bun. Sebaliknya Ciang Bun sama sekali tidak mengenal ilmu serangan yang dimainkan dengan suling itu, yang penuh dengan totokan-totokan amat berbahaya. Ciang Bun terdesak hebat dan menjadi bingung.

Betapa pun juga, karena mereka berkelahi di atas perahu kecil yang terombang-ambing, tentu saja gerakan mereka tidak sempurna benar. Sebagian dari perhatian mereka dikerahkan untuk menjaga agar tubuh mereka jangan sampai terjungkal jatuh keluar perahu. Inilah sebabnya mengapa sampai sekian lamanya Tek Ciang yang lebih unggul belum juga mampu merobohkan Ciang Bun yang melawan dengan gigih.

Karena maklum akan kelihaian lawan yang ternyata memiliki tenaga amat kuat dan dapat memainkan suling itu sedemikian aneh dan berbahaya, Ciang Bun memutar sepasang pedangnya untuk melindungi dirinya. Dua gulung sinar menyelimuti tubuhnya, merupakan perisai yang kokoh kuat dun sukar ditembus.

Tek Ciang menjadi penasaran sekali. Dia tahu bahwa kalau mereka berkelahi di darat, tentu tidak akan begitu sukar baginya untuk merobohkan pemuda ini. Perahu yang terombang-ambing dan miring ke sana-sini itu sungguh membuat gerakannya amat sukar dan tidak leluasa, bahkan besar bahayanya dia akan terkena senjata lawan yang selain lebih panjang juga berjumlah dua itu. Maka tiba-tiba dia lalu merendahkan tubuhnya, mengerahkan tenaga sakti Hoa-mo-kang, yaitu ilmu pukulan Katak Buduk yang dipelajarinya dari Jai-hwa Siauw-ok sebagai ilmu peninggalan mendiang Su-ok, orang ke empat dari Im-kan Ngo-ok.

“Arrghhh....!” Suara yang menyerupai katak berkokok keluar dari perutnya dan tangan kirinya sudah mendorong ke depan, ke arah Ciang Bun.

Serangkum angin pukulan dahsyat yang mengandung bau amis sekali menyambar. Ciang Bun terkejut bukan main. Dia maklum akan datangnya pukulan jahat. Cepat dia miringkan tubuh untuk mengelak sambil meloncat, akan tetapi karena perahu miring, dia terpeleset. Sebelum dia mampu mengatur keseimbangan tubuhnya, suling di tangan Tek Ciang meluncur. Ciang Bun masih dapat melihat sinar kuning emas menyambar pusarnya dan dalam keadaan miring hampir jatuh itu dia merendahkan tubuhnya agar suling tidak mengenai tempat berbahaya. Dia mengerahkan sinkang untuk menerima suling yang kini menyambar ke arah perutnya.

“Dukkk!”

Sinkang dari Pulau Es memang hebat, membuat tubuhnya kebal, akan tetapi, totokan suling itu pun dahsyat sekali sehingga biar pun kulit perutnya tidak terluka, namun hawa pukulan kuat menembus dan mengguncangkan isi perut, membuat Ciang Bun menahan keluhannya karena rasa nyeri dan kepalanya pun pening. Sementara itu, kaki Tek Ciang masih menyusulkan tendangan.

“Bukk.... byuurrr....!” Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh Ciang Bun terlempar keluar dari perahu dan menimpa air telaga.
“Ha-ha-ha-ha, mampus engkau sekarang!” Tek Ciang tertawa bergelak. Da baru sadar bahwa dia telah membiarkan perasaannya meliar ketika melihat pandang mata Kui Lok terbelalak ditujukan kepadanya.

Memang pemuda Kun-lun-pai itu terkejut dan ngeri melihat sikap Tek Ciang. Dia pun mengenal pukulan keji tadi dan kini melihat sikap Tek Ciang demikian kejam tertawa-tawa buas, dia terheran sampai terbelalak!

Tek Ciang sudah cepat menguasai dirinya, maklum bahwa dia telah tanpa disengaja memperlihatkan perasaannya yang sesungguhnya. Dia pun menghentikan tawanya, dan menarik napas panjang.

“Aihhh.... betapa tega hatiku melihat dia roboh. Pemuda itu lihai sekali dan tadi dia bersungguh-sungguh hendak membunuhku.” Ucapan ini agaknya untuk membela diri mengapa dia tadi kelihatan kejam.

Tiba-tiba dua orang itu terkejut bukan main. Perahu mereka tiba-tiba terguncang hebat dan miring, seperti ada yang membalikkannya dari bawah! Tentu saja Tek Ciang sama sekali tidak tahu bahwa biar pun sudah terkena pukulan dan tendangannya, namun Ciang Bun belum tewas dan begitu tubuhnya terlempar ke dalam air, pemuda ini bahkan menjadi semakin berbahaya! Dia tidak tahu bahwa Ciang Bun telah memiliki ilmu dalam air yang jarang tandingannya, berkat latihan yang diperolehnya dari keluarga di Pulau Nelayan.

Bagaikan seekor ikan, walau pun dirinya sudah terluka, Ciang Bun dapat menyelam, menyimpan sepasang pedangnya dan kini dia berusaha menggulingkan perahu yang ditumpangi Tek Ciang dan kawannya. Kalau sampai Tek Ciang dapat terlempar ke air, dia yakin akan dapat membunuh musuh besar itu!

“Hei, apa ini....?” Tek Ciang berseru kaget dan mengatur keseimbangan tubuhnya.
“Ada yang hendak menggulingkan perahu!” Kui Lok juga berseru kaget.

Mereka melongok ke bawah dan melihat kepala Ciang Bun nongol. Dengan marah Tek Ciang lalu memukul ke arah kepala itu, akan tetapi kepala itu menyelam dan lenyap. Kemudian perahu terguncang lagi dan tiba-tiba ada pedang menembus dasar perahu yang tentu saja menjadi bocor! Air memasuki perahu dari bawah!

“Celaka! Perahu bocor....!” seru Tek Ciang.

Tiba-tiba dia tersentak kaget ketika ada pedang menyambar dari luar perahu. Kiranya, dengan kecepatan seperti ikan berenang Ciang Bun sudah muncul lagi dan langsung menyerangnya dari luar perahu. Tek Ciang cepat mengelak dan siap untuk melawan, namun tubuh Ciang Bun sudah lenyap menyelam lagi. Kini kembali terasa guncangan-guncangan dan perahu itu pun berlubang-lubang karena ditusuki dari bawah oleh Ciang Bun!

“Ahh, iblis itu pandai bermain di air!” kata pula Tek Ciang terbelalak kaget dan khawatir.
“Berbahaya! Kita harus pergi dari sini!” Pouw Kui Lok juga berseru kaget melihat betapa dengan cepat air memasuki perahu yang hampir tenggelam.
“Byarrrr....!”

Kembali perahu yang hampir tenggelam itu terguncang hebat, membuat kedua orang muda itu terhuyung dan pada saat itu, sinar pedang menyambar pula, membabat ke arah kaki Tek Ciang. Pemuda ini cepat meloncat, akan tetapi pedang ke dua menusuk dan walau pun dia mengelak pula, tetap saja ujung pedang menyerempet pahanya. Celananya robek berikut kulit paha dan darahpun mengucur deras.

Pouw Kui Lok yang melihat bahaya mendadak menyambar tubuh suheng-nya yang pahanya terluka itu, membawanya melompat ke arah sebuah perahu lain yang datang mendekat. Perahu itu ditumpangi dua orang yang agaknya melihat keributan di situ menjadi tertarik. Terkejutlah mereka melihat betapa pemuda berpakaian hijau sambil memondong seorang pemuda lain yang terluka, tiba-tiba melompat ke perahu mereka. Bukan main hebatnya lompatan pemuda itu dan mereka mengeluarkan teriakan kaget ketika Kui Lok berhasil hinggap di atas perahu bersama suheng-nya.

Akan tetapi dengan mata terbelalak Tek Ciang dan Kui Lok melihat betapa Ciang Bun berenang dengan amat cepatnya menuju ke perahu itu. Bukan main cepatnya pemuda itu bergerak dalam air. Seperti seekor ikan saja.

“Ikan besar....!” Dua orang penumpang perahu yang masih belum hilang kagetnya itu pun kini melihat Ciang Bun dan mengira bahwa ada ikan besar hendak menyerang perahu mereka.

Kini Pouw Kui Lok merasa khawatir dan dengan sendirinya dia pun harus melindungi dirinya. Kalau perahu terbalik, tentu dia pun menjadi korban. Dia merasa ngeri ketika menyaksikan kehebatan gerakan pemuda tampan di dalam air itu sehingga dia tahu bahwa sekali mereka terjatuh ke air, tentu nyawa suheng-nya tidak akan tertolong lagi. Maka dia lalu menyambar sebatang dayung dalam perahu itu dan secepat kilat dia menggerakkan dayungnya menyerang ketika pemuda yang berenang seperti ikan itu mendekati perahu.

Ciang Bun sudah terluka. Perutnya terasa nyeri. Juga pahanya biru terkena tendangan Tek Ciang tadi. Akan tetapi dengan gigih dia menyerang terus, karena dia melihat satu-satunya kesempatan baginya untuk membalas semua sakit hati keluarganya terhadap iblis itu. Kalau dia mampu membuat Tek Ciang terlempar ke air, dia pasti akan dapat membunuhnya.

Maka, ketika melihat betapa pemuda teman Tek Ciang membawa Tek Ciang meloncat ke perahu lain, dia pun mengejar. Tak disangkanya pemuda teman iblis itu pun memiliki ginkang sedemikian baiknya sehingga dapat menolong Tek Ciang yang sudah terobek sedikit pahanya oleh pedangnya. Dan kini, tiba-tiba saja ada dayung menyambutnya dari atas perahu. Ciang Bun terpaksa mengangkat pedangnya menangkis.

“Tranggg....!”

Tubuh Ciang Bun tenggelam dan dia terkejut sekali. Tenaga hantaman dayung itu kuat bukan main! Kiranya teman Tek Ciang itu pun memiliki kepandaian tinggi. Ciang Bun diam-diam mengeluh. Makin tipis harapannya kalau teman iblis itu kini membantu Tek Ciang.

Dia muncul kembali dan kini bukan hanya sebuah dayung, melainkan ada dua buah dayung panjang menyambutnya sehingga terpaksa dia menyelam kembali. Kiranya kini Tek Ciang juga memegang sebatang dayung panjang dan bersama dengan Kui Lok berjaga di kedua ujung perahu.

“Lekas dayung perahu ke tepi!” Tek Ciang berkata kepada dua orang penumpang perahu yang masih ketakutan itu. Mereka tidak membantah dan mendayung dengan dayung pendek.

Sementara itu, Ciang Bun masih penasaran. Dia menyelam dan mencoba untuk menggulingkan perahu dari bawah. Akan tetapi selagi dia mengerahkan tenaga untuk menggulingkan perahu, dayung Tek Ciang menghantam punggungnya dengan cara diluncurkan. Ternyata Tek Ciang dapat melihat bayangan tubuhnya dalam air dan dari atas, iblis itu menusuknya dengan dayung yang mengenai punggungnya.

“Bukkk....!”

Hantaman itu tidak terlalu kuat karena tenaga hantaman sudah dilawan air, akan tetapi karena tenaga Tek Ciang memang besar, tetap saja Ciang Bun merasa nyeri sekali pada punggungnya. Kembali ada rasa muak dan bau amis membuat kepalanya terasa pening.

Dia tidak tahu bahwa yang paling hebat dideritanya adalah pukulan Hoa-mo-kang yang dilakukan Tek Ciang di atas perahu tadi. Pukulan itu tidak mengenai dengan tepat, tapi karena perut Ciang Bun terkena sodokan suling, membuat isi perutnya terguncang sehingga hawa beracun pukulan Hoa-mo-kang yang hanya menyerempet itu pun dapat menerjang dan meracuninya.

Menerima pukulan dengan dayung yang mengenai punggungnya itu membuat Ciang Bun merasa pening. Sejenak pandang matanya menjadi gelap. Antara sadar dan tidak sadar dia menggerakkan kaki tangannya menjauhi perahu karena kalau sampai dalam keadaan seperti itu dia diserang lagi, tentu dia akan celaka.

Dia masih dalam keadaan setengah pingsan terapung ketika tiba-tiba ada dua tangan yang kuat mencengkeram leher bajunya dan menariknya ke atas perahu. Dengan terengah-engah karena terlalu lama bertahan dalam air, Ciang Bun terguling ke dalam sebuah perahu kecil dan dengan pandang mata masih berkunang-kunang dia melihat wajah Ganggananda, sahabat barunya. Lega hatinya melihat sahabatnya ini dan kini dia pun dapat melepaskan pertahanannya untuk jatuh tak sadarkan diri lagi. Hanya dalam keadaan seperti itu saja semua rasa nyeri dan kecewa lenyap dari dirinya.

Ganggananda sejak tadi nonton perkelahian itu dan hatinya merasa amat khawatir ketika melihat Ciang Bun terlempar ke dalam air. Akan tetapi, dia pun terbelalak kagum melihat betapa Ciang Bun masih mampu membuat dua orang lawan dalam perahu itu kebingungan dengan cara menyerang perahu dari bawah. Pemuda keturunan penghuni Pulau Es itu sungguh hebat sekali! Kiranya memiliki ilmu di dalam air yang hebat pula.

Akan tetapi dia pun melihat betapa dua orang dalam perahu yang menjadi musuh besar Ciang Bun itu bukan orang-orang sembarangan. Mereka dapat menyelamatkan diri ke lain perahu, bahkan dapat memukul Ciang Bun dengan dayung. Tadinya dia merasa terkejut karena perahu itu didayung pergi dan tidak lagi nampak gerakan Ciang Bun dalam air. Celaka, pikirnya, agaknya Ciang Bun terkena pukulan dayung dan tenggelam ke dasar telaga!

Ganggananda mendayung perahunya mendekat dan akhirnya dia melihat tubuh Ciang Bun bergerak-gerak lemah di bawah permukaan air. Cepat dia lalu mendekatinya dan meraihnya, berhasil menangkapnya dan menariknya ke dalam perahu. Kini Ciang Bun rebah di dalam perahu, tidak nampak dari jauh dan dia pun dengan pengerahan tenaga sinkang, cepat mendayung perahu ke tepi yang berlawanan dengan tempat di mana dua orang musuh besar Ciang Bun tadi mendarat.

Begitu mendarat, Ganggananda cepat memondong tubuh Ciang Bun dan meloncat ke darat. Dia sengaja mendarat di bagian yang sunyi, di mana tidak terdapat pelancong karena bagian itu penuh dengan batu-batu koral dan semak-semak belukar. Pemuda remaja ini pun bukan seorang bodoh, sebaliknya, dia cerdik sekali.

Dia dapat menduga bahwa tentu dua orang musuh besar Ciang Bun itu tidak akan tinggal diam dan tentu mencurigai perahunya karena tadi mereka melihat Ciang Bun berperahu bersamanya. Maka dia pun mendarat di bagian yang berlawanan dan sunyi, dan begitu dia mendarat, dia memondong tubuh Ciang Bun yang masih pingsan itu dan melarikan diri.

Ketika dia menoleh, benar saja dugaannya. Dua bayangan orang mengejarnya dan biar pun mereka masih jauh dan tidak dapat melihat wajah mereka, namun dia yakin bahwa mereka itu tentulah dua orang musuh besar tadi. Hal ini dapat diketahui betapa seorang di antara mereka terpincang-pincang.

Memang dugaan Ganggananda itu benar. Begitu mendarat, Tek Ciang lalu mengobati lukanya sambil memperhatikan ke tengah telaga. Dia melihat perahu kecil di mana terdapat seorang pemuda remaja yang menjadi teman berperahu Ciang Bun tadi. Kini perahu itu meluncur cepat ke daratan yang berlawanan.

“Hemm, mencurigakan. Agaknya perahu itu membawa Ciang Bun. Mari kita mengejar mereka.” Dan tanpa mempedulikan pahanya yang terluka, Tek Ciang lalu lari memutari telaga untuk mengejar, dibayangi oleh Pouw Kui Lok yang mengerutkan alisnya karena hatinya sungguh merasa kurang enak melihat bahwa dia terlibat dalam permusuhan itu.
“Lihat, benar saja! Itu pemuda cilik memondong dan melarikannya. Mari cepat!” teriak Tek Ciang saat melihat perahu itu mendarat dan Ganggananda meloncat keluar sambil memondong tubuh Ciang Bun.

Akan tetapi sekali ini, dua orang murid Lembah Naga Siluman itu kecelik. Pemuda remaja itu ternyata dapat berlari luar biasa cepatnya sehingga biar pun mereka sudah mengerahkan tenaga, pemuda remaja yang memondong Ciang Bun itu sebentar saja sudah berlari jauh seperti terbang cepatnya.

Tek Ciang membanting-banting kakinya yang tidak sakit ketika melihat pemuda itu lenyap. “Ahhh, kalau saja kakiku tidak terluka, tentu aku akan dapat menyusulnya!”

Akan tetapi Pouw Kui Lok menggelengkan kepalanya. “Suheng, apakah engkau tidak melihat kehebatan itu? Pemuda remaja itu memiliki ginkang yang amat luar biasa, dan aku hampir percaya bahwa kepandaiannya dalam hal ginkang dan berlari cepat, lebih lihai dari pada suhu Cu Seng Bu sendiri!”

Tek Ciang cemberut, walau pun diam-diam dia juga terkejut menyaksikan kehebatan pemuda remaja itu yang ternyata dapat berlari sedemikian cepatnya walau pun sambil memondong tubuh orang yang jelas lebih berat dari pada tubuh pemuda itu sendiri. Dengan uring-uringan Tek Ciang terpaksa kembali ke rumah penginapan bersama sahabat atau sute-nya itu, untuk mengobati luka di pahanya yang pecah kembali karena dipakai berlari cepat tadi.

“Hemmm, kalau kakiku sudah sembuh, aku harus dapat mencari keparat itu untuk membuat perhitungan!” Dia mengomel di dalam kamar ketika mengobati lukanya.

Sejak tadi Pouw Kui Lok mengerutkan alisnya. “Suheng, aku tidak ingin mencampuri urusan pribadimu, dan aku pun tidak ingin memberi pendapat karena sesungguhnya hal itu sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan diriku. Mungkin saja keluarga Pulau Es memang congkak dan tinggi hati, akan tetapi hal itu pun tidak ada sangkut-pautnya dengan aku. Kepada mereka aku tidak mempunyai dendam, tidak ada urusan apa-apa antara aku dan mereka. Maka, aku tidak ingin terbawa-bawa dalam urusan pribadimu, suheng.”

“Sute, lupakah engkau bahwa Suma Ceng Liong adalah murid Hek-i Mo-ong, seperti yang pernah kau ceritakan itu? Tidakkah sepatutnya engkau memusuhi keluarga Suma mengingat bahwa Ceng Liong juga musuhmu?”

Kui Lok menggelengkan kepalanya. “Seperti sudah kuceritakan kepadamu, suheng. Mendiang guruku, Yang I Cin-jin, tewas di tangan Hek-i Mo-ong dan kepada raja iblis itu sajalah aku mendendam dan aku bersumpah di depan mayat suhu untuk membalas kematiannya. Dan aku telah berhasil membunuh Hek-i Mo-ong. Suma Ceng Liong, biar pun murid iblis itu, tidak ada sangkut-pautnya dengan aku. Kecuali kalau dia hendak membalaskan kematian Hek-i Mo-ong kepadaku, tentu saja akan kulawan. Sementara ini, aku menganggap urusanku dengan Hek-i Mo-ong sudah habis dan aku tidak ingin bermusuhan dengan Suma Ceng Liong.”

“Akan tetapi, selama keluarga itu masih ada, mereka akan selalu memusuhiku.”
“Hem, mengapa begitu, suheng?”
“Seperti sudah kuceritakan, Suma Kian Lee merasa menyesal telah mengambil aku sebagai mantu. Dia tentu hendak menjodohkan puterinya dengan orang lain, kabarnya dia telah memilih calon mantu yang dianggapnya sederajat, yaitu Jenderal Muda Kao Cin Liong di kota raja....”
“Ahh, jenderal gagah perkasa yang terkenal itu, putera Pendekar Naga Gurun Pasir?” seru Kui Lok terbelalak karena pemuda ini pernah mendengar akan kebebatan jenderal muda ini.

Tek Ciang mengangguk dan tersenyum kecut. “Benar, keluarga itu menganggap bahwa Suma Hui, isteriku itu, lebih cocok menjadi isteri jenderal muda itu yang juga jatuh cinta kepada isteriku. Akan tetapi, karena perkawinan antara kami sudah disaksikan oleh banyak tokoh kang-ouw, mana mungkin Suma Hui menikah dengan orang lain kalau aku masih hidup? Karena itulah, keluarga Suma menginginkan aku mati. Engkau sudah melihat sendiri betapa ganasnya adik isteriku tadi menyerangku.”

“Begitu jahatkah mereka?” Kui Lok mengerutkan alisnya dan hatinya merasa amat ragu. Keluarga Suma dari Pulau Es terkenal sebagai keluarga sakti yang berjiwa besar, bahkan siapakah tidak mengenal nama-nama hebat seperti Puteri Nirahai, Puteri Milana, Pendekar Siluman Kecil Suma Kian Bu dan lain-lainnya itu?

“Sute, kalau tidak mengalaminya sendiri tentu tidak percaya. Akan tetapi, kalau orang sudah tergila-gila akan kedudukan dan derajat, tentu mampu berbuat kejam. Aku dianggap penghalang kebahagiaan mereka, tentu saja mereka berdaya upaya agar aku lenyap dari muka bumi. Tidak, aku tidak mau mati konyol. Aku harus cepat mendahului mereka, dan pertama-tama Suma Ciang Bun yang sudah menyerangku tadi akan kucari dan kubunuh.”

“Aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu, suheng, akan tetapi harap kau ingat pesan suhu. Kita bertugas untuk pergi ke Puncak Bukit Nelayan, mencari kemudian menantang Kam Hong sebagai wakil suhu, wakil Lembah Naga Siluman untuk mengadu ilmu dengan keluarga Suling Emas.”
“Hem, itu pun bukan urusan pribadi kita, sute.”

Kui Lok memandang suheng-nya dengan mata terbelalak. “Ehhh, bagaimana engkau dapat berkata demikian, suheng? Kita tahu bahwa para suhu di Lembah Naga Siluman mengambil kita sebagai murid, bukan hanya untuk mewarisi ilmu keluarga Cu, akan tetapi juga untuk mewakili Lembah Naga Siluman dalam menghadapi satu-satunya musuh atau saingan keluarga Cu, yaitu Pendekar Suling Emas Kam Hong di Puncak Bukit Nelayan!”

Melihat ketegasan sikap Kui Lok, Tek Ciang merasa tidak enak kalau mengingkari hal itu. Memang para suhu di Lembah Naga Siluman sudah menekankan hal itu dan kini pun mereka diserahi tugas mewakili para suhu itu untuk menghadapi Kam Hong. Mengingkarinya berarti akan merupakan kemurtadan dan dia tentu akan dihadapi oleh Kui Lok dan keluarga Cu sebagai musuh pula. Sungguh tidak enak. Musuh-musuhnya sudah terlalu banyak dan mereka semua sakti, kalau ditambah lagi dengan keluarga Cu, sungguh berbahaya.

“Baiklah, sute. Aku terpaksa membiarkan Ciang Bun pergi. Mari kuturuti kehendakmu, kita pergi ke Puncak Bukit Nelayan. Akan tetapi setelah itu, maukah engkau berjanji untuk membantuku?”
“Suheng, urusan pribadimu seharusnya kau hadapi sendiri. Jangan kau melibatkan aku dalam urusan pribadimu. Akan tetapi kalau aku melihat engkau terancam bahaya, tentu aku akan turun tangan melindungi dan membantumu. Hal itu wajar, bukan?”

Tek Ciang tidak berani terlalu banyak cakap lagi. Dia khawatir kalau sute-nya ini mencurigainya dan dapat melihat rahasia di balik semua sikapnya. Dia tidak tahu bahwa memang Kui Lok sudah menjadi heran dan mulai menaruh curiga. Hari itu juga mereka meninggalkan kota raja, melanjutkan perjalanan menuju ke pegunungan Tai-hang-san untuk mencari Pendekar Kam Hong sebagai wakil keluarga Cu di Lembah Naga Siluman.....

********************
Selanjutnya baca
KISAH PARA PENDEKAR PULAU ES : JILID-20
LihatTutupKomentar