Si Pedang Tumpul Jilid 08


Sin Wan termenung. Pipinya berdenyut-denyut keras, nyerinya dapat mengalahkan rasa nyeri di pinggul. Betapa galaknya gadis itu dan dia pun membayangkan Lili. Aneh, yang terbayang olehnya bukan peri laku yang menyiksanya tadi. Terbayang olehnya saat gadis itu tertidur pulas di dadanya! Yang terngiang di telinganya bukan caci-makinya, melainkan ucapan gadis itu yang mengaku cinta padanya.

Malam pun tiba. Sinar rembulan yang menggantikan matahari tidak cukup kuat mengusir kegelapan malam, akan tetapi setidaknya mendatangkan cahaya yang menembus daun-daun pohon sehingga cuacanya tidak gelap benar, melainkan remang-remang. Dia belum mampu menggerakkan tubuhnya.

Totokan Lili ternyata lihai bukan kepalang. Agaknya dia harus menunggu satu dua jam lagi agar pengaruh totokan itu membuyar dan baru dia akan dapat mengerahkan tenaga untuk membikin putus tali sabuk yang mengikat kaki serta tangannya pada pohon. Sebelum dia mampu mengerahkan tenaga, dia tidak berdaya.

Terdengar suara gerengan di sana-sini.

"Harimau,” pikir Sin Wan, “atau sebangsa itu, binatang hutan yang liar!”

Kalau dia belum mampu menggunakan tenaga lantas ada binatang buas datang, tentu dia akan mati konyol! Dia akan menjadi mangsa binatang buas, kulit serta dagingnya akan digerogoti, dia akan dimakan hidup-hidup! Bukan main ngeri rasa hatinya membayangkan semua itu, akan tetapi perasaan ngeri dan takut itu langsung lenyap seketika sesudah dia teringat akan keyakinan hatinya terhadap kekuasaan Tuhan! 

Sebagai manusia dia hanya sekedar alat. Hidup dan matinya milik Tuhan! Mengapa harus takut? Dia menyerah penuh kesabaran, penuh ketawakalan, penuh keikhlasan! Apa bila Tuhan menghendaki dia mati, setiap saat pun dia siap dengan hati yang rela dan ikhlas. Bukan berarti-putus asa! Penyerahan dengan ikhlas tidak berarti putus asa.

Saat ini dia masih hidup dan selama dia masih hidup, dia akan menggunakan segala daya kemampuannya untuk bertahan hidup, untuk menjaga serta mempertahankan hidupnya. Akan tetapi kalau memang Tuhan menghendaki dia mati, dia tidak akan menyesal karena penyerahan seikhlasnya berarti ikhlas untuk hidup dan ikhlas pula untuk mati, menyerah kepada kekuasaan Tuhan! 

Keyakinan serta penyerahannya ini mengusir semua rasa takut, bahkan Sin Wan dapat menghadapi keadaannya saat itu dengan senyum di bibir. Betapa menariknya kehidupan dan segala liku-likunya ini, dan kini dia sudah siap untuk menjadi saksi, mengikuti setiap pengalaman hidup sampai akhir.

Tiba-tiba terdengar gerengan keras dan Sin Wan menengok ke kiri. Lehernya sudah dapat dia gerakkan, namun ketika dia berusaha menggerakkan tangan dan kaki, kedua pasang anggota tubuh itu masih lemas dan tidak dapat dia gerakkan!

Dan dia melihat ada sepasang mata mencorong di dalam cuaca yang remang-remang itu. Nampaknya bayangan itu seperti seekor anjing yang berindap-indap menghampirinya, tapi gerengan ini jelas bukan gonggong atau salak anjing, melainkan auman harimau!

Sin Wan merasa betapa bulu tengkuknya kini meremang. Bagaimana pun juga nalurinya untuk mempertahankan hidup sudah mendatangkan kecemasan ketika dia sadar bahwa di hadapannya hadir seekor harimau yang mengancamnya yang sedang tak berdaya itu. Kini dia benar-benar akan mati konyol! Tetapi kepasrahan yang mutlak kembali menenangkan hatinya dan dia pun memandang ke arah harimau itu dengan tajam. 

Dia pernah mendengar bahwa harimau takut beradu pandang mata dengan manusia dan kalah wibawa. Bahkan ada kemungkinan bahwa sesudah bertemu pandang, binatang itu akan merasa takut lantas pergi tanpa mengganggunya. Akan tetapi dia lupa bahwa ketika itu cuaca remang-remang dan mata manusia berbeda dengan mata harimau. Kekuasaan Tuhan adalah bijaksana dan adil, maka semua makhluk dan benda ciptaan Tuhan selalu dibekali sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh masing-masing. 

Harimau tidak berakal, tak pandai membuat alat penerangan, hidup di dalam hutan gelap, maka memiliki mata yang penglihatannya dapat menembus kegelapan sehingga matanya mencorong, sedangkan manusia dapat membuat alat penerangan untuk mengatasi gelap malam. Maka betapa pun tajam dia memandang, binatang itu tidak menjadi undur, bahkan menggereng semakin keras dan menghampiri semakin dekat.

Perlahan-lahan, dengan hati-hati binatang itu mendekati Sin Wan dan pemuda ini merasa betapa hidung binatang itu mengendus serta menyentuh kakinya. Dia memejamkan mata, menyerah kepada Tuhan, maklum bahwa kalau harimau itu menyerang maka dia tak akan mampu melindungi dirinya.

Harimau itu mengaum keras, kaki depan kiri bergerak cepat ke arah paha Sin Wan.

"Brettttt...!"

Celana Sin Wan terobek dengan mudah dan kulit pahanya ikut terkena cakaran sehingga terobek dan berdarah! Dia berusaha mengerahkan tenaga, namun tidak berhasil. Harimau itu kini undur, bukan untuk pergi, melainkan untuk mengambil ancang-ancang.

Darah yang mengalir dari paha Sin Wan yang tergores kuku itu membuat dia semakin liar. Kini binatang itu merendahkan tubuh, mengambil ancang-ancang untuk meloncat. Matilah aku sekarang, pikir Sin Wan. Binatang itu meloncat ke atas, menubruk ke arah Sin Wan.

"Cratttt...! Bukkk!"

Tubuh binatang itu terhenti di udara ketika sebatang pedang menyambutnya dengan satu tusukan memasuki perutnya, kemudian sebuah tendangan kilat membuat tubuh binatang itu terlempar.
Biar pun telah terluka parah dan dari perutnya bercucuran darah, harimau itu tidak roboh atau menjadi takut, bahkan menjadi semakin nekat. Kini dia menubruk ke arah orang yang menyakitinya, yang berdiri di depan Sin Wan.

"Srattt...!" Tubuh harimau terpelanting dan matilah dia dengan leher hampir putus terbabat pedang!

Lili membersihkan pedangnya dengan menggosoknya pada kulit bangkai harimau. Dalam cuaca yang remang-remang Sin Wan terbelalak ketika mengenal bahwa yang membunuh harimau itu dan yang menyelamatkan dirinya adalah Lili. Hatinya merasa senang bukan main, bukan saja senang karena dia tidak mati konyol menjadi mangsa harimau, namun karena ternyata gadis itu tidak sejahat seperti yang ingin diperlihatkannya. Ternyata gadis itu tidak pernah meninggalkannya seperti ancamannya tadi, melainkan bersembunyi dan menjaganya, bahkan menyelamatkannya.

"Terima kasih, Lili...," katanya lirih.

Lili menyimpan pedangnya, lalu membalik untuk menghadapi pemuda itu. Alisnya berkerut karena ucapan Sin Wan yang terdengar lembut itu, juga wajah pemuda yang tersenyum penuh syukur kepadanya itu, seolah menusuk jantungnya.

"Aku telah memukulimu, menghinamu, memakimu bahkan menyiksamu, dan engkau tidak mendendam kepadaku?" tanyanya penasaran.

Sin Wan sudah dapat menggoyang kepalanya. "Kenapa aku harus mendendam? Sebelas tahun yang lalu aku juga pernah memukuli pinggulmu, jadi sekarang aku hanya membayar hutangku. Dulu aku terlampau keras kepadamu Lili, maka sudah sepatutnya jika engkau membalas."

Sepasang mata itu tertegun, dan senyum sadis itu perlahan-lahan berubah seperti orang hendak menangis. Semua ini dapat dilihat Sin Wan karena kebetulan cahaya bulan dapat menerobos celah-celah daun sehingga menerangi mereka.

Lili memandang wajah pemuda itu, menatap ke arah pipi kiri Sin Wan yang membengkak. Dia menghampiri lebih dekat, lalu tangan kanannya diangkat ke atas. Sin Wan tidak siap menerima tamparan lagi, tapi sekali ini tangan itu tidak menampar, melainkan mengusap dan membelai pipi yang membengkak itu.

"Sin Wan... " suara itu terdengar seperti rintihan tangis dan mulut gadis itu mendekati pipi yang bengkak hingga menyentuh telinga, lalu terdengar dia berbisik, "Sin Wan aku cinta padamu... ahh, aku benci padamu...!"

Ia pun menggerakkan tangan menotok, membebaskan Sin Wan dari pengaruh totokannya tadi, kemudian sekali berkelebat dia pun lenyap dari situ.

Sekarang Sin Wan dapat menggerakkan kembali kaki tangannya. Sejenak dia diam saja, membiarkan jalan darahnya pulih kembali dan sikap Lili tadi masih membuat dia tertegun. Gadis itu cinta padanya dan juga benci padanya! Bagaimana ini? Bagaimana mungkin ada orang mencinta sekaligus membenci?

Ia menggeleng kepalanya, lalu mengerahkan tenaga sinkang dan dengan mudah saja dia melepaskan tali pengikat kaki dan tangannya. Dia memegangi potongan kain sabuk sutera itu, mengamatinya dan menggeleng-geleng kepala lagi.

"Lili..., Lili..., sungguh aku tidak mengerti."

Dia lalu meninggalkan tempat itu, keluar dari hutan dan memasuki kota Lok-yang. Kakek Bu Lee Ki sudah memberi tahu kepadanya bahwa kakek itu dan Kui Siang akan menyewa kamar di losmen Ho-peng yang berada di ujung barat kota itu.

Tidak sukar untuk menemukan losmen di bagian barat kota itu, dan ketika Sin Wan minta keterangan dari pelayan losmen tentang kakek Bu Lee Ki dan Kui Siang, ternyata pelayan itu telah mendapat pesan dari Bu Lee Ki dan segera mengantar pemuda itu ke kamarnya.

"ltulah dua kamar kakek dan nona itu," kata pelayan.

Sin Wan mengetuk pintu kamar Bu Lee Ki dan sejenak kemudian kakek itu membukakan pintu. Dia agak terkejut melihat celana Sin Wan yang robek, pahanya yang terluka berupa goresan memanjang, langkahnya yang sedikit terpincang-pincang serta pipi kirinya yang merah membengkak.

"Ehh? Apa yang terjadi?" tanyanya ketika mereka masuk kamar dan pintunya ditutupkan kembali oleh Bu Lee Ki.

Sin Wan merasa serba salah. Kalau dia bercerita tentang Lili, tentu dia harus menuturkan segalanya. Tetapi dia merasa malu, tidak ingin peristiwa di hutan tadi diketahui siapa pun. Akan tetapi bagaimana pula bila tidak diceritakan, karena keadaannya seperti itu. Dia pun teringat akan harimau itu, lalu berkata,

"Locianpwe, saya tersesat ke dalam hutan lalu diserang seekor harimau yang besar dan ganas. Saya berhasil membunuhnya, akan tetapi saya juga terluka, paha saya dicakarnya dan... begitulah." Dia tidak banyak bicara lagi, lalu membersihkan diri di kamar mandi dan bergantl pakaian.
"Di mana sumoi?" tanyanya setelah berganti pakaian.

Sesudah mendengar ceritanya, kakek itu nampak termenung. Jelas bahwa kakek itu tidak puas dan agaknya tahu bahwa ia menyembunyikan sesuatu dan tak mau berterus terang. Akan tetapi kakek itu tidak mendesak dan mendengar pertanyaan itu, dia pun tersenyum.

"Kalian orang-orang muda ini memang petualang-petualang yang sangat aneh. Tadi Kui Siang pulang dan tidak bicara apa-apa kepadaku. Dia langsung memasuki kamarnya dan aku mendengar betapa dia gelisah di kamarnya, malah aku seperti mendengar dia terisak menangis. Ahhh, sungguh lucu dan aneh. Dan engkau datang-datang seperti ini, baru saja berkelahi dengan harimau! Kalian orang-orang muda yang aneh…!"

Kakek itu tak mendesak dan Sin Wan lalu merebahkan diri di pembaringan kecil di sudut kamar yang mempunyai dua buah pembaringan itu. Dan tidak lama kemudian dia sudah tidur pulas karena dia memang merasa lelah, lemas dan terutama sekali pinggulnya masih berdenyut-denyut, berlomba dengan denyut jantungnya.

Pada keesokan harinya, setelah mandi pagi dan merasa tubuhnya lebih segar walau pun rasa nyeri pada pinggulnya masih terasa, Sin Wan yang tidak melihat Kui Siang bertanya kepada Bu Lee Ki di mana adanya gadis itu. 

Kakek itu mengerutkan alisnya, lalu menggelengkan kepala. "Entah apa yang telah terjadi dengan Kui Siang. Semalam dia pulang langsung ke kamarnya, dan sesudah tadi malam gelisah, pagi ini dia juga tidak keluar dari dalam kamarnya. Aku tadi sudah mengetuk daun pintu kamarnya dan bertanya. Dia membuka pintu dan mengeluh tidak enak badan, lantas rebah kembali. Pergilah engkau melihatnya. Sin Wan, aku khawatir ada apa-apa terjadi dengan sumoi-mu. Biasanya dia tidak seperti itu.”

Sin Wan merasa khawatir. Dia segera menghampiri kamar sumoi-nya lalu mengetuk daun pintu kamarnya. Beberapa kali dia mengetuk, tetapi tidak ada jawaban.

"Sumoi, harap buka pintu. Ini aku, Sin Wan ingin menjengukmu," katanya. 

Juga tidak ada jawaban, akan tetapi pendengarannya yang tajam dapat menangkap isak tangis tertahan. Tentu saja dia menjadi semakin khawatir! Maka didorongnya daun pintu itu perlahan, dan ternyata pintu itu tidak dikunci dari dalam dan dia pun memasuki kamar itu. Dilihatnya sumoi-nya duduk di pembaringan sambil menutupi mukanya dan menangis menyembunyikan tangisnya di balik bantal yang ditutupkan pada mukanya.

"Sumoi...! Engkau kenapakah?" tanya Sin Wan dengan kaget dan dia cepat menghampiri gadis itu, berdiri di depannya dan dengan lembut tangannya menyentuh pundak gadis itu.

Mendengar ucapan itu dan merasa pundaknya disentuh tangan Sin Wan, tangis Kui Siang semakin mengguguk sampai pundaknya bergoyang-goyang. Tentu saja Sin Wan menjadi semakin khawatir.

"Sumoi, katakan kepadaku. Apa yang sudah terjadi denganmu?" Perlahan-lahan Sin Wan menurunkan bantal itu dari muka sumoi-nya dan dia terkejut melihat muka yang pucat dan basah air mata, sepasang mata yang menjadi merah dan agak bengkak karena terlampau banyak menangis itu.
"Engkau kenapakah, sumoi? Kenapa engkau berduka seperti ini?” tanya pula pemuda itu dengan suara yang penuh kegelisahan, tangan kiri masih memegang pundak, jari tangan kanan menyingkap rambut yang menutupi sebagian muka yang basah itu.
"Suheng...!" Kui Siang mengeluh kemudian dia pun menjatuhkan diri ke depan, merangkui pinggang suheng-nya dan menjatuhkan kepalanya di dada pemuda itu. 

Sin Wan semakin terkejut. Dia merangkul sumoi-nya yang kini menangis di dadanya, dan sejenak dia membiarkan sumoi-nya menumpahkan kedukaannya, membiarkan sumoi-nya menangis pada dadanya. Perlahan-lahan terasa olehnya air mata yang hangat menembus bajunya dan membasahi kulit dadanya,.

"Tenangkan hatimu, sumoi dan katakanlah apa yang telah terjadi, yang membuatmu sedih seperti ini?"

Sesudah tangisnya terhenti, hanya tinggal sesenggukan jarang, sisa isak yang melepas sisa ganjalan di hatinya, akhirnya dengan muka masih disembunyikan di dada Sin Wan, Kui Siang berkata lirih,

"Suheng, betapa teganya hatimu menghancurkan kebahagiaanku, memusnahkan semua harapanku..."
"Ehh? Apa maksudmu, sumoi? Aku tidak mengerti...!"
"Tak kusangka bahwa engkau mempunyai seorang kekasih, suheng, mempunyai seorang pacar..." Suara itu bercampur isak.

Sin Wan membelalakkan matanya. "Heiiii! Apa pula ini, sumoi? Aku tidak punya pacar!"

Kui Siang mengangkat mukanya dari dada Sin Wan, sepasang matanya yang merah dan membendul itu mengamati wajah Sin Wan, dan mulutnya cemberut.

"Tidak ada gunanya menyangkal lagi, suheng. Tadi malam engkau berpacaran dengan seorang gadis cantik! Siapa gadis yang tertidur di pangkuanmu itu?”

Sin Wan kaget bukan main. "Kau... kau tahu itu? Bagaimana engkau bisa tahu, sumoi?" Akan tetapi dia segera menyadari bahwa pertanyaannya ini sama saja dengan pengakuan bahwa dia benar-benar berpacaran dengan seorang gadis, maka cepat disambungnya, "Aku tidak berpacaran, sumoi. Dia bukan kekasihku, bukan pacarku."

Mata yang kemerahan itu mengeluarkan sinar marah. "Suheng, selama ini aku mengenal engkau sebagai seorang laki-laki sejati, seorang jantan yang tidak berwatak pengecut dan berani mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Akan tetapi mengapa sekarang engkau menyangkal? Suheng, dengan mataku sendiri aku melihat gadis cantik itu tertidur di pangkuanmu, bersandar pada dadamu dan engkau memeluknya, dan sekarang engkau masih berani menyangkal...?”

Mengertilah Sin Wan bahwa semalam sumoi-nya telah menyaksikan peristiwa yang terjadi antara dia dan Lili, akan tetapi sayangnya, sumoi-nya hanya melihat ketika Lili tertidur di pangkuannya, tidak melihat yang lain, tidak melihat ketika Lili menyiksanya bahkan hampir membunuhnya.

"Sumoi, aku tidak menyangkal semua itu, yang kusangkal adalah bahwa dia itu pacarku. Sama sekali tidak, sumoi. Dengarlah ceritaku ini. Sebelas tahun yang lampau, ketika tiga orang suhu kita mengantarkan pusaka-pusaka istana bersama aku dengan kereta menuju ke kota raja, di tengah perjalanan kami bertemu Bi-coa Sian-li dengan seorang muridnya. Bi-coa Sian-li hendak merampas pusaka, akan tetapi gagal dan dia dikalahkan oleh tiga orang guru kita. Anak perempuan itu, murid Bi-coa Sian-li yang berusia sembilan tahun itu, lalu berkelahi denganku dan aku menghajarnya, kuhukum seperti anak kecil dengan tamparan pada pinggulnya sampai sepuluh kali."

Kui Siang mengerutkan alisnya. "Apa hubungannya cerita itu dengan kemesraan di hutan itu?" suaranya jelas mengandung kemarahan. 

Diam-diam Sin Wan merasa heran. Kenapa sumoi-nya kelihatan marah sekali melihat Lili tertidur di pangkuannya dan kelihatan seolah dia dan Lili bermesraan dan berpacaran?

“Hubungannya erat sekali, sumoi. Dengarlah ceritaku selanjutnya. Sore tadi aku melihat seorang gadis dikeroyok oleh orang-orang lihai sebanyak enam orang. Gadis itu juga lihai, akan tetapi enam orang lawannya itu selain lihai juga sangat licik dan akhirnya gadis itu tertawan dalam sehelai jala yang ada kaitan beracun. Melihat gadis itu dalam ancaman bahaya, aku lalu menolongnya sehingga enam orang penjahat itu melarikan diri. Gadis itu keracunan, maka aku segera mengobatinya dan mengusir racun dari tubuhnya. Mungkin karena kepayahan, gadis itu lalu bersandar dan tertidur, dan agaknya saat itulah engkau melihat kami dan menyangka bahwa kami bermesraan dan berpacaran. Padahal tidaklah demikian. Bahkan sayang sekali engkau tidak melihat kelanjutannya, karena kalau engkau melihatnya, tentu akan lain sekali sikapmu."

Kini sinar mata itu mulai terang dan tertarik, karena bagaimana pun juga Kui Siang amat menghormati dan percaya kepada suheng-nya itu. "Lanjutannya bagaimana?” tanyanya, suaranya masih parau karena tangis semalam suntuk, akan tetapi matanya tidak sesayu tadi.

“Setelah gadis itu sembuh dan terbangun, kami bicara dan setelah aku mengaku sebagai murid Sam-sian, gadis itu terkejut kemudian tiba-tiba dia menotokku sehingga aku tidak dapat bergerak lagi. Kiranya dia adalah anak perempuan yang sebelas tahun lalu pernah kuhajar itu!"
"Murid Bi-coa Sian-li, pembunuh kedua orang guru kita?"

Sin Wan mengangguk. "Benar, dia bernama Lili dan dia amat lihai. Aku ditotoknya hingga aku menjadi lumpuh."

"Lili...?"

Sin Wan teringat. "Ehh, nama lengkapnya Tang Bwe Li."

"Engkau sudah memanggilnya dengan demikian akrab, suheng? Teruskanlah, bagaimana selanjutnya," kata pula Kui Siang dan kini suaranya terdengar kaku.
"Dia membalas dendamnya sebelas tahun yang silam. Dia membalas memukuli pinggulku sampai puluhan kali. Kemudian dia mengikatku pada batang pohon dan meninggalkan aku agar dimakan binatang buas."

Gadis itu membelalakkan matanya. "Betapa kejamnya! Gadis keparat!"

"Setelah dia pergi dan aku belum dapat menggerakkan kaki tanganku, muncullah seekor harimau besar, sumoi. Binatang itu menghampiri aku, mengendus dan sempat mencakar robek celanaku dan melukai paha. Kemudian dia menerkam dan aku telah pasrah karena tidak mampu bergerak melawan...”
“Lalu bagaimana, suheng? Lalu bagaimana?" Sekarang Kui Siang sudah bangkit berdiri dan memegang kedua lengan suheng-nya, nampak khawatir bukan main.
"Pada saat harimau menerkam aku, ketika tubuhnya meloncat di udara, dia disambut oleh tusukan pedang dan tewas seketika, sumoi. Aku telah ditolong dan diselamatkan...”
"Siapa yang menolongmu itu, suheng?" tanya Kui Siang, ingin sekali tahu siapa penolong yang telah merenggut nyawa suheng-nya dari ancaman maut.
"Gadis itu, sumoi. Lili yang menyelamatkan aku."
"Ahhhh...!" Sepasang tangan yang tadi memegang lengan Sin Wan dengan kuat, tiba-tiba menjadi lemas dan terlepas. Jelas bahwa Kui Siang nampak terpukul dan kecewa bukan main mendengar bahwa yang menyelamatkan suheng-nya adalah gadis itu pula.
"Aku sendiri terheran-heran, sumoi. Tadinya dia demikian kejam dan ganas, menyiksaku bahkan hampir membunuhku, sengaja mengikatku supaya dimakan binatang buas, akan tetapi ketika aku nyaris dimakan harimau, ternyata dia pula yang menolongku."
"Itu hanya berarti... ahhh, suheng. Apakah engkau cinta kepadanya?" tiba-tiba gadis itu kembali menatap tajam wajah suheng-nya.

Sin Wan menggelengkan kepala. "Tidak, sumoi. Kami baru bertemu beberapa jam saja, bagaimana aku bisa mencintanya? Apa lagi hampir saja ia membunuhku. Ia menyiksaku, bahkan sampai sekarang pun rasa nyeri di pinggulku masih berdenyut-denyut. Tidak, aku tidak dapat cinta kepadanya, sumoi."

Aneh sekali! Sumoi-nya, yang matanya masih merah, sekarang memandang kepadanya dengan senyum tipis.....!

"Benarkah, suheng?" sumoi-nya bertanya.

Sin Wan memegang kedua pundak sumoi-nya, "Aku tak pernah bohong, sumoi. Sekarang aku ingin bertanya dan harap engkau tidak berbohong pula. Aku bersumpah bahwa aku tadi tidak berpacaran dengan Lili, tetapi andai kata benar demikian, lalu mengapa engkau menjadi begitu bersedih? Mengapa?”

Wajah itu berubah merah dan sampai sejenak lamanya Kui Siang tak mampu menjawab. Dengan muka ditundukkan kemudian dia pun berkata lirih, "Suheng, aku tahu bahwa aku tidak berhak mencampuri urusan pribadimu, aku juga tahu bahwa tidak sepantasnya aku menjadi marah dan bersedih melihat engkau dan gadis itu di hutan...," suaranya menjadi gemetar dan dia menangis lagi.

"Sumoi, kenapa? Katakan, kenapa?" Sin Wan mengguncang kedua pundak sumoi-nya. 
"Karena... karena hatiku dibakar dan ditusuk-tusuk oleh rasa cemburu yang sangat hebat, Suheng. Maafkan aku..."
"Sumoi...!” Sin Wan terkejut dan Kui Siang menangis sambil merangkul pinggang pemuda itu, menangis di dadanya seperti tadi.
"Maafkan aku, suheng... karena aku tidak ingin kehilangan engkau, aku takut kehilangan engkau, aku tidak ingin berpisah darimu selama hidupku, suheng... aku cinta padamu...," dan dia pun menangis tersedu-sedu. 

Sin Wan tertegun lalu dia pun merangkul. Sejenak dia bengong. Dalam waktu satu malam saja ada dua orang gadis yang mengaku cinta kepadanya. Lili mengaku benci akan tetapi cinta. Kui Siang mengaku cemburu akan tetapi cinta!

Apakah cinta seorang wanita harus disertai cemburu dan dapat berubah menjadi benci? Apakah cinta itu mengandung cemburu dan benci? Dia merasa bingung. Akan tetapi tidak bingung kalau harus memilih di antara keduanya.

Kui Siang sudah bergaul dengan dia selama sepuluh tahun lebih dan dia sudah mengenal benar watak yang baik dari sumoi-nya ini. Kui Siang cantik, gagah perkasa, berbudi serta lembut, pasti akan menjadi seorang isteri dan seorang ibu yang baik.

Lili juga sama cantiknya, sama gagah perkasanya, akan tetapi gadis itu terlampau liar dan ganas, berhati keras bahkan bisa menjadi kejam. Karena itu mudah saja memilih di antara keduanya.

Tentu saja dia memilih Kui Siang! Jauh sebelum dia berjumpa dengan Lili, memang dia sudah merasa amat sayang kepada sumoi-nya, rasa sayang merupakan tunas cinta. Kini sumoi-nya berterus terang menyatakan cinta kepadanya!

"Sumoi, aku pun cinta kepadamu," bisiknya sambil merangkul dan sejenak mereka saling peluk dengan ketatnya seolah tidak ingin melepaskan lagi. 
Suara batuk-batuk di luar kamar membuat mereka berdua terkejut dan cepat-cepat saling melepaskan rangkulan. Setelah daun pintu terbuka, muncullah kakek itu dan nampak dia tersenyum lebar.

"Wah, engkau sudah tersenyum lagi, Kui Siang? Ha-ha-ha, peristiwa ini patut dirayakan dengan makan enak. Mari keluarlah kalian, kita makan pagi yang istimewa, heh-heh-heh!"

Wajah Kui Siang menjadi merah sekali. Hatinya penuh kebahagiaan karena bukankah di telinganya tadi suara Sin Wan berbisik menyatakan cinta? la telah menyatakan perasaan cintanya dan ternyata dibalas oleh suheng-nya! Peristiwa tadi malam dengan Lili seketika sudah lenyap dari ingatannya.

"Nanti dulu, locianpwe, saya ingin mandi dan bertukar pakaian lebih dulu."
"Heh-heh, baiklah. Kita tunggu di luar, Sin Wan."

Dua orang pria itu keluar dan Kui Siang segera mandi dan bertukar pakaian. Sekali ini dia berdandan dan menyisir rambutnya agak lebih teliti dari pada biasanya. Dia harus selalu nampak rapi dan cantik di depan kekasihnya!

Sementara itu, ketika mereka duduk menanti Kui Siang, kakek Bu Lee Ki berkata kepada pemuda itu. "Sin Wan, engkau dan Kui Siang memang cocok sekali menjadi suami isteri. Kalian berjodoh, kenapa setelah saling mencinta tidak segera menikah saja? Kulihat usia kalian sudah cukup dewasa."

Wajah Sin Wan berubah kemerahan dan dia pun tersenyum. “Aihh, locianpwe, bagaimana mungkin kami menikah! Saya hanya seorang yatim piatu yang miskin dan tidak ada yang mewakili saya, sedangkan Kui Siang, biar pun yatim piatu pula, dia bangsawan dan kaya raya, juga masih mempunyai banyak keluarga di kota raja."

"Hemmm, apa salahnya itu? Yang penting kalian saling mencinta. Tentang wakilmu, biar aku yang mewakilimu, mengajukan pinangan kepada keluarga Kui Siang di kota raja kelak setelah urusan pemilihan pemimpin kai-pang di sini selesai. Bagaimana pendapatmu?"
"Terima kasih atas kebaikan hati locianpwe. Biarlah nanti saja hal itu kita bicarakan sebab selain urusan di sini belum beres, saya sendiri juga masih ragu untuk membangun rumah tangga. Keadaan saya masih begini, locianpwe, kehidupan diri sendiri saja masih belum menentu, tiada pekerjaan dan tidak memiliki rumah tinggal, bagaimana dapat memikirkan pernikahan?"

"Heh-heh, justru pernikahan yang akan memaksamu untuk mendapatkan tempat tinggal dan mata pencaharian yang tetap. Tanpa adanya kebutuhan itu, tentu akan selalu hidup bebas seperti seekor burung di udara." Kakek itu terkekeh, lalu melanjutkan. "Bila kalian sudah saling mencinta, hal itu menunjukkan bahwa kalian sudah siap untuk membangun keluarga, hidup bersama sebagai suami isteri. Cinta asmara merupakan tali pengikat yang paling kuat dalam hubungan itu dan kalian sudah saling mencinta. Mau tunggu apa lagi? Cinta berarti hidup bersama dalam keadaan apa pun juga, dalam suka dan duka, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, suka sama dinikmati, duka sama ditanggung."

"Tapi... tapi saya sendiri masih belum mengerti benar mengenai cinta, locianpwe. Mohon petunjuk, apakah cinta itu harus disertai dengan cemburu? Apakah cinta itu bisa berubah menjadi benci?"

Kakek itu tersenyum. "Cinta adalah suatu keadaan yang mulia dan suci, Sin Wan. Cinta adalah sifat dari Tuhan Yang Maha Kasih. Akan tetapi kita manusia merupakan makhluk yang lemah terhadap nafsu-nafsu kita sendiri. Cinta kita selalu diboncengi oleh nafsu, dan nafsu inilah yang mendatangkan perasaan cemburu, benci dan sebagainya. Nafsu bersifat selalu mementingkan diri sendiri, menyenangkan diri sendiri. Karena cinta kita diboncengi nafsu, maka cinta bisa saja berubah menjadi benci dan dapat pula menimbulkan cemburu bila orang yang kita cinta melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan atau merugikan kita. Nafsu membuat kita ingin memiliki dan menguasai orang yang kita cinta seluruhnya, sehingga sekali saja terdapat kecenderungan kekasih kita kepada orang lain, timbullah cemburu. Nafsu membuat kita ingin memperalat orang yang kita cinta itu sebagai sumber kesenangan bagi diri kita sendiri."

"Kalau begitu, locianpwe, nafsu merupakan biang keladi sehingga cinta menjadi kotor dan buruk, dapat mendatangkan kejahatan dan mala petaka. Kalau begitu, antara suami isteri seharusnya ada cinta tanpa nafsu...”
"Ha-ha-ha, tidak mungkin, Sin Wan. Nafsu memang berbahaya kalau dia menguasai kita, kalau dia menjadi majikan yang kejam, kalau dia memperalat kita. Akan tetapi sebaliknya tanpa nafsu kita tidak mungkin dapat hidup. Nafsu yang membonceng dalam cinta antara pria dan wanita merupakan suatu keharusan, karena nafsu yang menimbulkan daya tarik antar kelamin, nafsu pula yang memungkinkan manusia berkembang biak. Kalau sebuah pernikahan dilakukan tanpa adanya nafsu birahi, suami isteri akan hidup bersama seperti kakak beradik sehingga tidak akan ada anak terlahir, dan perkembangan biakan manusia akan terhenti."

Sin Wan menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. Dia sudah banyak membaca kitab tentang kehidupan, tapi baru sekarang dia mendengar tentang hubungan antara pria dan wanita, tentang bekerjanya nafsu birahi dalam cinta kasih!

"Lalu bagaimana baiknya, locianpwe? Nafsu sangat berbahaya bagi kehidupan batin kita, akan tetapi sebaliknya juga teramat penting bagi kehidupan bahkan tak mungkin bisa kita lenyapkan."
"Segala macam nafsu yang ada pada kita merupakan anugerah pula dari Tuhan kepada kita, Sin Wan. Nafsu-nafsu itulah peserta jiwa dalam badan, untuk kepentingan kehidupan di dunia. Nafsu merupakan alat, merupakan pelengkap, merupakan pembantu yang amat penting. Dalam hal perjodohan, nafsu bekerja sebagai birahi yang menimbulkan perasaan saling suka dan saling tertarik. mungkin melalui keindahan bentuk wajah dan tubuh yang menyenangkan dan cocok, mungkin lewat sikap dan peri laku yang sesuai dengan selera. Pendeknya nafsu birahi selalu ada di dalam cinta antara pria dan wanita yang ingin hidup bersama. Namun karena nafsu mendatangkan pula cemburu yang mungkin menimbulkan kebencian, maka kita harus ingat bahwa sekali nafsu birahi yang menjadi majikan, yang menguasai kita, maka keutuhan perjodohan dapat saja terancam retak. Nafsu birahi juga mendatangkan bosan."

"Lalu bagaimana kita dapat menguasai nafsu kita sendiri, locianpwe? Dapatkah dikuasai dengan semedhi, dengan latihan pernapasan, atau dengan bertapa?"

Kakek itu tersenyum dan menggeleng kepala. "Semua usaha itu juga masih berada dalam lingkungan atau ruang pekerjaan akal budi, padahal akal budi kita telah dicengkeram oleh nafsu. Karena itu usaha ini juga terbimbing oleh nafsu. Karena kita melihat kerugian yang diakibatkan oleh pengaruh nafsu, maka kita ingin menguasai nafsu. Siapa yang rugi? Kita si akal budi! Dan siapa yang ingin menguasai nafsu? Juga kita sendiri, si akal budi yang sudah bergelimang nafsu. Jadi nafsu menguasai nafsu, maka hasilnya tentu masih nafsu pula, hanya namanya yang berbeda, akan tetapi pada hakekatnya sama, yaitu nafsu yang ingin menyenangkan diri sendiri, ingin menjauhkan diri dari kesusahan, ingin ini dan ingin itu yang pamrihnya pementingan diri. Usaha itu hanya akan mendatangkan hal-hal yang nampaknya berhasil, namun pada luarnya saja. Kalau sekali waktu kebutuhan mendesak, nafsu yang nampaknya dapat ‘ditidurkan’ melalui semua usaha itu akan bangun kembali, malah lebih kuat dari pada yang sebelumnya! Satu-satunya kekuasaan yang akan mampu mengatur nafsu dan mendudukkan kembali nafsu pada tempat yang sebenarnya sebagai abdi-abdi jiwa dalam kehidupan manusia hanyalah kekuasaan Sang Pencipta yang sudah menciptakan nafsu itu. Oleh karena itu kita hanya dapat menyerahkan diri kepada Tuhan yang Maha Kasih, penyerahan total yang penuh kesabaran, ketawakalan dan keikhlasan. Kekuasaan Tuhan yang akan bekerja dalam diri kita. Nafsu-nafsu, termasuk nafsu birahi, akan tetap bekerja, namun sebagai pembantu yang setia, bukan sebagai majikan yang kejam."

Sin Wan mengangguk-angguk. "Kalau sudah begitu maka perjodohan akan menjadi indah dan penuh kebahagiaan, locianpwe?"

"Ho-ho-heh-heh, nanti dulu, orang muda! Perjodohan adalah suatu segi kehidupan yang paling rumit! Bercampurnya dua orang manusia yang berbeda watak dan selera, berbeda keturunan, untuk hidup bersama selamanya, di dalam sebuah pernikahan, dimaksudkan untuk bersama-sama membangun keluarga, terutama sekali bersama-sama merawat dan mendidik anak-anak yang lahir dari pernikahan itu. Dan mempertahankan kebersamaan selama puluhan tahun antara kedua orang manusia ini membutuhkan kepribadian yang luhur dan kesadaran serta kebijaksanaan yang tinggi. Apakah cukup dengan cinta kasih saja? Memang itulah dasarnya, akan tetapi tidak cukup dengan itu, Sin Wan. Di samping kasih sayang harus terdapat kebijaksanaan pula, kesetiaan, bertanggung jawab dan harus memenuhi kewajiban masing-masing, baik kewajiban sebagai seorang suami atau isteri, kemudian kewajiban sebagai seorang ayah atau ibu. Semua itu baru akan berjalan mulus kalau didasari penyerahan kepada Tuhan sehingga kekuasaan Tuhan yang akan menjadi penuntun dan pembimbing."

Percakapan terhenti karena munculnya Kui Siang. Gadis itu kelihatan segar sungguh pun kedua matanya masih kemerahan. Wajahnya tidak pucat lagi dan kini bibirnya tersenyum manis, wajahnya cerah. Gadis itu membelalakkan mata karena terkejut gembira melihat meja penuh hidangan yang masih panas.

"Aihhh, locianpwe benar-benar mengadakan pesta!" serunya sambil duduk di sebelah Sin Wan seperti biasanya menghadapi meja makan.
"Tentu saja! Peristiwa menggembirakan harus disambut dan dirayakan!"
"Peristiwa menggembirakan yang manakah locianpwe?"
"Heh-heh, Kui Siang, masih pura-purakah engkau? Tentu saja peristiwa menggembirakan antara kalian, pertunangan kalian!"

Wajah gadis itu berubah merah sekali dan dia menundukkan muka sambil mengerling ke arah Sin Wan.

"Sumoi, locianpwe sudah mengetahui apa yang terjadi antara kita. Beliau seperti guru kita sendiri, tidak perlu lagi kita bersungkan kepadanya."
"Heh-heh, benar sekali, Kui Siang. Bahkan kelak aku ingin mewakili Sin Wan mengajukan pinangan atas dirimu kepada keluargamu di kota raja."

Kui Siang bangkit lantas memberi hormat kepada kakek itu. "Terima kasih atas kebaikan budimu, locianpwe. Akan tetapi, sebaiknya hal itu tidak usah kita bicarakan sekarang."

Gadis yang bijaksana, pikir Sin Wan bangga. "Ha, engkau benar. Mari kita makan minum dan bergembira."

Mereka makan minum dan saling memberi selamat melalui cawan arak. 

Setelah selesai makan, mereka bercakap-cakap dan Sin Wan berkata, "Locianpwe, saya kira pertemuan yang hendak diadakan untuk memilih pimpinan kai-pang ini akan menjadi ramai. Apakah locianpwe telah mendapatkan keterangan tentang tempat dan waktunya?” tanya Sin Wan.

"Sudah, akan diadakan lewat tengah hari nanti. Tempatnya di gedung milik pemerintah, yaitu di gedung pertemuan bagian dari bangunan gedung kepala daerah Lok-yang."

Sin Wan memandang heran. "Di gedung pemerintah?"

"Tentu saja, dan aku girang sekali dengan itu, Sin Wan. Agaknya pemerintah mencampuri dan pemerintah betul-betul ingin melihat para kai-pang menggalang persatuan. Tentu hal ini membangkitkan semangatku, karena dengan adanya bantuan dan kerja sama dengan pemerintah, maka persatuan itu akan lebih mudah dipulihkan seperti di jaman perjuangan melawan penjajah Mongol."
"Akan tetapi saya kira tidak akan semudah itu, locianpwe," kata Sin Wan. "Saya kira Bi-coa Sian-li akan ikut hadir, dan saya melihat pula seorang muda, mungkin berkebangsaan Jepang, yang mempunyai kepandaian amat lihai. Anak buahnya pandai menggunakan jala sebagai senjata."
"Ahh? Bi-coa Sian-li muncul, mungkin dia mewakili ayahnya, yaitu See-thian Coa-ong, dan kalau muncul pemuda Jepang lihai dan orang-orang yang pandai menggunakan jala, tentu mereka itu mewakli golongan bajak yang dikepalai oleh datuk timur Tung-hai-liong! Wah, akan ramai kalau datuk barat dan datuk timur itu muncul. Kita harus bersiap-siap dan mari engkau matangkan latihan ilmu-ilmu yang sudah kuajarkan kepadamu, Sin Wan." 

Selama ini memang hampir setiap kesempatan dipergunakan oleh kakek Bu Lee Ki untuk mengajarkan ilmu-ilmu simpanannya kepada pemuda yang sudah lihai itu…..

********************
Ruangan yang luas itu telah penuh orang yang pakaiannya aneh-aneh. Begitu banyaknya orang yang hadir, tidak kurang dari lima puluh orang, dan mereka semua mengenakan pakaian yang pasti ada tambalannya! Ada pakaian kembang-kembang, juga ada pakaian warna-warni yang kainnya masih baru, akan tetapi tetap saja ada tambalan pada pakaian itu. Inilah tandanya bahwa mereka adalah orang-orang kai-pang (perkumpulan pengemis). 

Tentu saja yang hadir hanyalah para pimpinan, maka mereka yang berada di ruangan itu adalah orang-orang yang lihai. Di antara semua kai-pang yang diwakili pimpinan masing-masing, yang menonjol penampilannya hanya empat rombongan, yaitu rombongan Ang-kin Kai-pang yang menjadi pimpinan seluruh kai-pang di daerah utara dan dipimpin oleh Thio Sam Ki dan Ciok An, Lam-kiang Kai-pang perkumpulan terbesar dari selatan yang dipimpin oleh ketuanya yang bernama Kwee Cin, lalu perkumpulan terbesar di timur Hwa I Kai-pang yang dipimpin oleh ketuanya yang bernama Siok Cu dan diikuti beberapa orang, di antaranya seorang pemuda Jepang yang pakaiannya menyolok karena berbeda dengan pakaian para pimpinan kai-pang, kemudian dari barat Hek I Kai-pang yang dipimpin oleh ketuanya, Souw Kiat yang ditemani oleh dua orang wanita yang tentu saja amat menarik perhatian semua orang karena selain cantik jelita, juga pakaian kedua orang wanita itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka berasal dari golongan pengemis!

Selain para pimpinan empat kai-pang itu, semuanya adalah pimpinan para kai-pang yang lebih kecil dan yang di dalam banyak hal selalu mengekor saja kepada empat kai-pang besar itu.

Karena rapat besar itu diadakan di kota Lok-yang, di mana yang berkuasa adalah Hwa I Kai-pang, maka perkumpulan inilah yang bertindak sebagai tuan rumah, bahkan kepala daerah Lok-yang sudah berkenan meminjamkan gedung pertemuan itu kepada Hwa I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang).

Siok-Pangcu (Ketua Siok) yang bertubuh pendek gemuk, yaitu Siok Cu ketua Hwa I Kai-pang, duduk pada bagian tuan rumah, ditemani lima orang pembantu ketua dan pemuda Jepang yang menjadi tamu kehormatan. Pemuda itu bukan lain adalah Maniyoko, murid Tung-hai-liong yang mewakili gurunya untuk merebut pimpinan para kai-pang agar kelak dalam pemilihan Bengcu (pemimpin rakyat) Tung-hai-liong Ouwyang Cin bisa memperoleh dukungan dari para kai-pang.

Menghadapi datuk timur itu, Siok Cu beserta para pimpinan Hwa I Kai-pang tidak mampu melawan sehingga terpaksa dia pun menyerah, walau dalam hati para pimpinan kai-pang tentu saja tidak senang melihat para kai-pang dipimpin oleh seorang yang bukan berasal dari golongan pengemis, apa lagi seorang Jepang!

Mereka setuju sesudah mendengar bahwa Tung-hai-liong dan muridnya sama sekali tidak menginginkan pimpinan kai-pang, melainkan hanya memerlukan dukungan kai-pang agar kelak dapat menjadi calon bengcu yang memimpin seluruh dunia persilatan seperti yang dikehendaki pemerintah. Kalau kedudukan bengcu sudah diperoleh, tentu saja Tung-hai-liong dan muridnya tidak suka menjadi pemimpin para pengemis!

Sebagai tuan rumah Siok Cu bangkit berdiri, lantas dia memperkenalkan dua orang yang berpakaian perwira tinggi dan yang duduk di tempat kehormatan di dekat rombongannya. "Kedua orang ciang-kun ini adalah wakil dari pemerintah, dikirim oleh kepala daerah untuk menyaksikan pemilihan pimpinan para kai-pang supaya berjalan dengan tertib. Sekarang kami harap saudara sekalian suka mengajukan calon masing-masing, dan setelah semua calon diajukan, baru kita akan mengadakan pemilihan dan pemungutan suara."

Souw Kiat, ketua Hek I Kai-pang yang mewakili para kai-pang dari daerah barat, bangkit berdiri. "Kami mengajukan usul supaya pemilihan pemimpin besar kai-pang bukan hanya berdasarkan banyaknya suara pemilih karena hal itu dapat saja diatur lebih dulu. Seorang pemimpin baru dapat kita hormati dan taati kalau dia berwibawa dan memiliki kepandaian tinggi, oleh karena itu dia harus lebih lihai dari para calon lainnya. Jadi harus diadakan adu kepandaian untuk menentukan pemenangnya!"

Siok Cu yang sudah mendapat perintah dari Maniyoko, langsung bangkit dan menyatakan persetujuan. "Kami dari Hwa I Kai-pang dan para kai-pang di daerah timur setuju dengan usul dari Hek I Kai-pang. Bagaimana dengan para saudara dari selatan dan utara?"

Kwee Cin, ketua Lam-kiang Kai-pang dari selatan, bangkit. "Sebelum dilakukan pemilihan kami ingin bertanya lebih dahulu. Mengapa diadakan pemilihan lagi kalau dulu kita sudah mempunyai seorang pimpinan? Bukankah semua kai-pang sudah memiliki pimpinan, yaitu locianpwe Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki? Bukankah beliau yang dahulu memimpin kita semua membantu perjuangan mengenyahkan penjajah Mongol? Meski pun sudah bertahun-tahun beliau tidak aktip, akan tetapi beliau belum berhenti atau diberhentikan sebagai pimpinan, kenapa sekarang kita melakukan pemilihan pimpinan baru?"

Mendengar ini Thio Sam Ki bangkit berdiri pula dan mengacungkan tangan.

"Kami dari utara juga setuju dengan pendapat ketua Lam-kiang Kai-pang tadi. Kami tetap mempertahankan locianpwe Pek-sim Lo-kai sebagal pimpinan para kai-pang!"

Ucapan kedua orang ketua itu disambut meriah dan ternyata sebagian besar para pangcu yang hadir dapat menyetujui pendapat itu. Souw Kiat yang telah ditekan oleh Bi-coa Sian-li cepat membantah.

"Sudah bertahun-tahun sejak penjajah kalah, Pek-sim Lo-kai menghilang. Sampai saat ini tidak ada yang tahu apakah beliau masih hidup ataukah sudah mati. Bagaimana kita bisa bersatu tanpa pimpinan? Kita harus mengadakan pemilihan pimpinan baru."

"Kami setuju! Andai kata Pek-sim Lo-kai masih hidup pun, jelas dia sudah meninggalkan kewajibannya, telah mengacuhkan kita semua. Tidak pantas dia dipertahankan," kata Siok Cu dari Hwa I Kai-pang yang sudah terpengaruh oleh Maniyoko.

Diam-diam Thio Sam Ki dan wakilnya, Ciok An, memandang ke sekeliling dengan gelisah. Mengapa orang yang mereka tunggu-tunggu belum muncul? Bagaimana mungkin mereka dapat mempertahankan dan menjagoi Pek-sim Lo-kai kalau orangnya tidak hadir?

Akan tetapi, ketika semua pangcu dipersilakan mengajukan nama calon masing-masing, Ang-kin Kai-pang tetap mengajukan nama Pek-sim Lo-kai sebagai calon. Juga Kwee Cin ketua Lam-kiang Kai-pang berkeras menjagoi dan mempertahankan Pek-sim Lo-kai.

Sebagai tuan rumah dan penyelenggara rapat, Siok Cu lalu mengumumkan dengan suara lantang bahwa yang diajukan oleh para peserta rapat ada enam calon. Pertama adalah Pek-sim Lo-kai yang tidak hadir akan tetapi saat nama ini diumumkan, lebih dari separuh jumlah yang hadir menyambut dengan tepuk tangan. Calon kedua adalah Maniyoko murid dari Tung-hai-liong Ouwyang Cin, datuk timur yang namanya telah dikenal semua orang.

"Kami tidak setuju!" seru Thio Sam Ki. "Bukan kami hendak memandang remeh terhadap locianpwe Tung-hai-liong Ouwyang Cin, akan tetapi beliau dan muridnya bukan golongan pengemis, bagaimana mungkin menjadi pemimpin kita?"

"Thio-pangcu, pengemis atau bukan hanya ditandai oleh pakaiannya, apa sukarnya bagi calon kami untuk mengenakan pakaian pengemis? Yang penting bukan pakaiannya, akan tetapi kepandaiannya dan kemampuannya! Sekarang kami lanjutkan dengan calon-calon yang lain," kata Siok Cu dengan suara lantang, "Calon ke tiga adalah Bi-coa Sian-li Cu Sui In puteri dari locianpwe See-thian Coa-ong Cu Kiat."
"Wah, kami keberatan!” kata Kwee Cin ketua Lam-kiang Kai-pang, "Bagaimana mungkin kita akan dipimpin oleh seorang wanita? Kami semua telah mengenal nama Bi-coa Sian-li, apa lagi See-thian Coa-ong, akan tetapi mereka adalah golongan lain, tidak ada sangkut-pautnya dengan para kai-pang!"

Souw Kiat cepat bangkit dan membela calonnya, tentu saja karena dia ditekan oleh Sui In. “Seperti juga calon yang kedua tadi, calon ketiga pun pantas menjadi pemimpin karena kemampuannya. Untuk apa dipimpin seorang berpakaian pengemis jika dia tidak mampu? Siok Pangcu, lanjutkan dengan nama para calon lainnya!"

Ada tiga orang calon lainnya yang diajukan oleh para kai-pang. Mereka adalah tiga orang pengemis yang berusia enam puluhan tahun dan merupakan tokoh-tokoh di dalam dunia pengemis, dihormati karena mereka adalah orang-orang yang gagah walau pun mereka tidak pernah mau menjabat kedudukan ketua. 

Mereka adalah orang-orang yang hanya dikenal julukannya saja di dunia para pengemis, yakni Koai-tung Lo-kai (Pengemis Tua Tongkat Aneh), Ta-kau Sin-kai (Pengemis Sakti Pemukul Anjing) dan Hek-bin Lo-kai (Pengemis Tua Muka Hitam). Ketiga orang ini adalah pengemis-pengemis petualang yang tidak tergabung di dalam salah satu kai-pang, namun nama mereka sudah dikenal dan amat dihormati oleh semua pengemis.

Seluruh calon dipersilakan naik ke panggung yang sudah dipersiapkan di ruangan itu dan begitu mereka berdiri berjajar, segera nampaklah perbedaan yang menyolok. Tiga orang calon yang berpakaian butut adalah kakek-kakek tua yang nampak buruk sekali diapit dua orang muda yang elok.

Walau pun agak pendek, Maniyoko yang berdiri di ujung kiri kelihatan tampan dan gagah dengan cambang tebal sampai ke dagunya serta pedang samurai tergantung di belakang punggung. Sedangkan di ujung kanan berdiri seorang gadis yang amat cantik, yang bukan lain adalah Lili! Begitu maju, dia lantas berkata dengan suara lantang kepada semua yang hadir.

"Aku Tang Bwe Li yang mewakili suci (kakak seperguruan) Cu Sui In untuk mengalahkan semua calon!" Sambil berkata demikian dia memandang kepada Maniyoko dengan sinar mata mencorong penuh kebencian, dan sinar mata itu jelas menyatakan betapa Lili ingin membalas dendam karena dia pernah dicurangi, dikeroyok dan ditangkap oleh pemuda Jepang itu! Pemuda itu tersenyum saja, senyum tenang mengejek karena dia sama sekali tidak gentar menghadapi gadis cantik itu.

Melihat ini Thio Sam Ki langsung bangkit dan berteriak, "Ini sudah menyalahi peraturan! Calonnya sendiri yang harus maju, tidak boleh diwakili orang lain!"

Lili memandang kepada ketua Ang-kin Kai-pang itu sambil tersenyum manis, lalu berkata lantang. "Pangcu, engkau sendiri mengajukan Pek-sim Lo-kai sebagai calon, tetapi mana orangnya? Suci terlampau tangguh untuk dihadapi calon-calon ini. Aku pun sudah cukup. Nanti kalau Pek-sim Lo-kai sendiri muncul, barulah ada harganya untuk menandingi suci-ku!"

Siok-Pangcu segera menengahi dan mengijinkan Lili mewakill suci-nya, dengan catatan bahwa kalau Lili kalah, berarti suci-nya dinyatakan gagal. Kemudian dia membuat undian dan seperti yang telah diaturnya, yang keluar sebagai orang-orang yang harus bertanding pertama kali adalah Maniyoko melawan Koai-tung Lo-kai. 

Sebelum pertandingan pertama dimulai, dia mengumumkan. "Karena seorang calon tidak hadir, maka namanya dicoret dari daftar calon terpilih!"

"Nanti dulu, kami tidak setuju!” teriak Thio Sam Ki. “Kami yang menanggung bahwa Pek-sim Lo-kal pasti akan hadir. Kalau pertandingan ini selesai dan beliau belum hadir, maka boleh saja beliau dinyatakan gagal!" 

Para pendukung Pek-sim Lo-kai memberikan suara setuju mereka dan terpaksa Siok Cu mengalah dan menerima usul itu.....

Selanjutnya baca
SI PEDANG TUMPUL : JILID-09
LihatTutupKomentar