Pendekar Bodoh Jilid 09


Ketika terjadi perkelahian bebas di atas perahu Pangeran Vayami, kemudian menerima tendangan di betisnya yang dilakukan oleh Pangeran Mongol itu sehingga dia terjatuh ke dalam sungai, Kwee An sudah mencoba tenaga dan kepandaiannya yang dipelajari dari Nelayan Cengeng untuk berenang ke pinggir. Akan tetapi, aliran air sungai itu amat deras dan kuatnya sehingga usahanya gagal, bahkan tubuhnya hanyut dengan cepatnya!

Baiknya Kwee An telah mendapat latihan dari Nelayan Cengeng, kalau tidak pasti ia akan tenggelam atau tubuhnya akan hancur terbentur pada batu-batu dan karang yang banyak menonjol di permukaan air. Dia lalu mengeluarkan kepandaiannya dan mempergunakan gerakan Ular Air Menyeberang Laut untuk berenang sambil mengikuti aliran air dengan cara berlenggang-lenggok bagaikan seekor ular hingga dia dapat menghindarkan diri dari pada tubrukan dengan batu-batu karang.

Dia masih dapat melihat betapa perahu di mana Cin Hai masih bertempur seru melawan Hai Kong Hosiang itu terbakar hebat, hingga diam-diam ia menjadi gelisah, menguatirkan keselamatan kawannya itu. Akan tetapi, sungai itu mengalir dalam sebuah tikungan yang tajam sekali sehingga ia harus segera mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menjaga keselamatan dirinya sendiri.

Setelah hanyut jauh sekali, sedikitnya terpisah lima li dari tempat di mana ia tadi terjatuh, aliran air mulai lemah dan dengan hati girang Kwee An lalu berenang ke pinggir dengan maksud setelah dapat mendarat akan segera lari kembali ke tempat tadi dan membantu Cin Hai. Akan tetapi tiba-tiba ia menjadi terkejut sekali oleh karena melihat beberapa ekor binatang aneh yang berenang cepat menuju ke arah dirinya.

Kwee An cepat berenang ke tepi. Akan tetapi, kembali dia terkejut oleh karena binatang-binatang seperti yang sedang berenang di tengah sungai itu, terdapat pula di darat dan memenuhi tepian sungai. Agaknya mereka sedang berjemur diri di pantai itu dan jumlah yang berada di pantai bahkan ada seratus lebih.

Binatang-binatang yang terlihat oleh Kwee An ini adalah binatang sebangsa buaya, akan tetapi lebih menyerupai cecak besar dan ada yang panjangnya sampai sepuluh kaki dan mulutnya terbuka lebar. Ketika Kwee An tiba di tepi, maka binatang-binatang yang berada di pantai itu pun lalu maju merangkak dan menyerbu.

Kwee An menjadi bingung. Untuk naik ke darat, puluhan ekor binatang buas ini telah siap menanti sedangkan untuk tinggal di dalam air, dari tengah telah berenang beberapa belas ekor yang menuju kepadanya. Ia pikir, lebih baik menghadapi puluhan ekor di darat dari pada belasan ekor di air oleh karena binatang itu dapat berenang cepat sekali sedangkan kepandaiannya di dalam air masih rendah.

Ia lalu terus berenang ke pinggir dan ketika air telah menjadi dangkal hingga sampai ke paha, dari tepi telah turun lima ekor yang terbesar dan cepat menyerbunya dengan mulut ternganga lebar. Kwee An lantas menggenjot tubuhnya melompat hingga kedua kakinya melewati permukaan air dan ketika dua ekor buaya itu menyambar dengan mulut mereka yang runcing, ia cepat-cepat menendangkan kaki kanan ke arah kepala binatang itu dan mempergunakan kepala itu sebagai batu lonpatan ke darat.

Akan tetapi jumlah binatang-binatang itu terlalu banyak sehingga ke arah mana saja dia melompat, dia langsung disambut oleh beberapa ekor buaya yang menyerbunya dengan dahsyat dan liar. Kwee An lalu mempergunakan kecepatan dan seluruh tenaganya untuk melawan. Ia menendang, memukul, menangkap ekor dan membanting, hingga sebentar saja puluhan ekor binatang kena dibinasakan.

Akan tetapi yang datang semakin banyak saja sehingga Kwee An kehabisan tenaga dan mulai menjadi ngeri dan jijik. Binatang-binatang yang masih hidup segera menerkam dan menyerang kawan-kawannya sendiri yang terluka dan makan daging mereka, sedangkan yang lain-lain masih saja menyerbu dengan hebat.

Oleh karena merasa ngeri melihat banyaknya binatang yang mengeroyoknya, dan oleh karena tenaganya tadi memang telah banyak dihabiskan untuk melawan air sehingga dia menjadi lelah sekali, maka Kwee An berlaku kurang cepat sehingga tiba-tiba dia merasa kaki kirinya sakit sekali. Dia menengok dan melihat bahwa seekor buaya sudah berhasil menggigit betis kaki kirinya. Cepat Kwee An berjongkok dan sekali tangannya bergerak, maka dua buah jari tangannya berhasil memasuki rongga mata buaya yang menggigit itu!

Binatang itu merasa kesakitan dan tak terasa pula mulut yang menggigit betis mengendor hingga dengan cepat Kwee An dapat melepaskan kakinya! Darah mengucur membasahi kaus kaki dan celananya. Dengan muka meringis kesakitan, pemuda itu menjadi begitu marah hingga ia lalu mengamuk hebat! Ia mencabut pedangnya dan dengan senjata ini ia menghajar semua buaya yang berani datang mendekat hingga mayat binatang itu sampai bertumpuk-tumpuk dan malang melintang di sekitarnya.

Mendadak terdengar suara suitan keras dan aneh! Buaya-buaya yang masih hidup dan belum terluka, lalu nampak terkejut dan buru-buru mereka lari ke sungai! Kwee An sudah terlalu lemah, maka kepalanya menjadi pening dan pemandangan matanya berkunang-kunang.

Kwee An melihat seorang gemuk tetapi pendek sekali berdiri di depannya dengan sebuah cambuk panjang pada tangannya, dan suara orang itu terdengar keras dan besar ketika menegur,

“Pemuda kurang ajar dari manakah yang berani mengganggu serta membunuh binatang ternakku?”

Kwee An yang sudah lelah dan pusing itu merasa bagaikan bertemu dengan iblis sungai, oleh karena kecuali iblis sungai, siapakah orangnya yang menganggap buaya-buaya itu sebagai binatang ternaknya? Pemuda itu tidak dapat menguasai dirinya lagi oleh karena lapar, lelah, dan lemas kehilangan banyak darah.

“Aku... aku... lelah...,” katanya dan ia lalu roboh terguling dan pingsan. Tubuhnya roboh di atas mayat-mayat binatang yang tadi diamuknya!

Ketika ia sadar kembali, Kwee An mendapatkan dirinya telah berbaring di atas balai-balai bambu dalam sebuah kamar yang terbuat dari pada bambu pula. Ia segera bangun dan mengeluh oleh karena kaki kirinya terasa sakit dan perih. Ketika ia teringat akan luka di kakinya oleh gigitan buaya itu, ia segera menengok ke arah betisnya dan ternyata bahwa kakinya telah dibalut erat-erat. Ia dapat menduga bahwa orang pendek yang disangkanya iblis sungai itu tentu yang telah menolongnya, maka ia merasa berterima kasih sekali.

Walau pun keluhan suaranya perlahan sekali, akan tetapi ternyata sudah didengar orang, oleh karena dari luar pintu kamar segera terdengar suara orang, “Ehh, anak muda, kau sudah bangun?”

Ketika Kwee An memandang, ternyata penolongnya yang pendek itu muncul dari pintu dengan sepiring masakan yang masih mengepul berada pada tangan kirinya. Si Kate itu memasuki bilik, lalu berkata sambil tertawa, “Nah, kau makanlah dulu. Kesehatanmu pasti akan pulih lagi seperti sedia kala!”

Ketika Kwee An hendak bangkit untuk menghaturkan terima kasih, mendadak dia merasa lehernya seolah-olah tercekik dan dadanya berdebar keras. Wajahnya tentu akan terlihat menjadi pucat sekali kalau saja kulit mukanya tidak memang sudah pucat sekali sehingga perubahan itu tidak terlalu nampak.

Pada saat itu dia telah mengenal orang pendek ini yang bukan lain adalah Hek Moko, Si Iblis Hitam yang sangat lihai dan yang dulu pernah bertempur dengan Cin Hai di depan rumahnya! Kwee An berpikir cepat dan ia segera memaksa mulutnya bersenyum. Sambil menerima piring itu ia berkata dengan pura-pura masih lemas tak bertenaga,

“Terima kasih, Lopek. Sungguh kau baik sekali dan atas pertolonganmu ini aku ucapkan banyak-banyak terima kasih.”

Kwee An sengaja berbuat seakan-akan ia tidak kenal kepada Si Iblis Hitam ini. Ia maklum bahwa iblis ini pun tidak tahu siapa adanya dia dan apa bila iblis ini tahu bahwa Cin Hai berada di dekat situ, tentu ia akan pergi mengejarnya!

“Kau makanlah yang enak. Aku hendak mengurus hewan ternakku lebih dulu! Kau gagah sekali dan telah berhasil membunuh dua puluh empat ekor hewanku hingga bukan sedikit aku menderita kerugian!” katanya lalu keluar dari pintu dengan langkah-langkahnya yang pendek tetapi cepat.

Kwee An menarik napas lega. Ternyata iblis itu tidak mengenal dan tidak mencurigainya sehingga untuk sementara waktu ia akan selamat. Dia maklum bahwa Iblis Hitam ini lihai sekali, apa lagi kalau di situ ada pula Iblis Putih yang tinggi besar oleh karena menurut penuturan Cin Hai, kedua Iblis Hitam Putih atau Hek Pek Moko ini jarang sekali berpisah.

Sambil memikirkan jalan untuk melarikan diri dari tempat berbahaya ini, Kwee An yang telah merasa lapar sekali lalu makan daging yang masih panas mengepul di atas piring itu. Dia tidak tahu masakan daging apakah ini, akan tetapi karena perutnya terasa lapar sekali, ia tidak peduli dan segera makan daging itu. Di luar dugaannya semula, daging ini rasanya manis dan harum serta gurih sekali hingga sebentar saja sepiring besar daging itu telah habis memasuki perutnya!

Kemudian ia turun dari pembaringan dan mencoba berjalan. Ia dapat berjalan, akan tetapi dengan pincang sehingga tidak mungkin untuk melarikan diri, oleh karena ia belum dapat mempergunakan ilmu lari cepat. Kwee An menjadi bingung dan dia sangat menguatirkan nasib Cin Hai yang masih bertempur di atas perahu melawan Hai Kong Hosiang yang lihai itu, karena perahunya telah dibakar oleh Pangeran Vayami!

Tak lama kemudian, Hek Moko masuk ke dalam kamar itu sambil tertawa-tawa. Jubahnya yang hitam itu melambai-lambai di belakangnya.

“Ha, kau sudah makan! Bagaimana, enakkah hidanganku itu?”
Kwee An tersenyum. “Enak sekali, entah daging apakah yang Lopek suguhkan tadi?”

Tiba-tiba Hek Moko tertawa bergelak-gelak dan suara ketawanya membuat bulu tengkuk Kwee An berdiri oleh karena memang suara ini amat menyeramkan. “Ha-ha, anak muda. Memang kau pantas merasakan masakan daging luar biasa itu. Ketahuilah, daging yang kau makan itu adalah daging hewan ternakku!”

Kwee An tercengang dan sama sekali tidak pernah menduga bahwa daging buaya yang liar itu demikian enaknya. Kini dia mengerti mengapa Iblis Hitam ini memelihara hewan ternak yang luar biasa ini.

“Apakah memang pekerjaan Lopek memelihara hewan ternak yang luar biasa ini?”

Hek Moko mengangguk-angguk. “Memang inilah pekerjaanku sejak dulu! Tadinya buaya ini hanya ada beberapa belas pasang saja, akan tetapi kini telah menjadi beratus-ratus pasang banyaknya! Dan hanya orang-orang gagah dan orang besar saja yang mendapat kesempatan merasakan kenikmatan daging hewan ternakku ini. Tahukah engkau bahwa untuk daging seekor saja kaisar berani membayar dengan tiga puluh potong uang emas? Ha-ha-ha!”

“Lopek, kau benar-benar orang luar biasa yang baik hati. Aku sudah berlancang tangan membunuh banyak hewan ternakmu, akan tetapi kau tidak marah kepadaku, sebaliknya kau telah menolong dan merawatku. Sungguh aku berhutang budi kepadamu!”
“Hush! Jangan kau berkata begitu. Di antara ayah dan anak tidak ada perhitungan budi!”

Kwee An merasa terkejut dan heran sekali, oleh karena dia benar-benar tidak mengerti akan maksud kata-kata Iblis Hitam ini. Di antara ayah dan anak? Apa maksudnya?

Kembali Si Iblis Hitam tertawa bergelak-gelak, “Ya, di antara ayah dan anak tidak ada perhitungan budi dan kau akan menjadi anakku yang baik!”

Bukan main terkejutnya Kwee An. Dia pikir bahwa Iblis Hitam ini telah menjadi gila dan mengaku dia sebagai anaknya. Akan tetapi dia maklum akan kelihaian iblis ini, maka dia pikir untuk sementara waktu baik dia tidak membantahnya dan tinggal diam saja.

“Eh, anak muda yang gagah. Kau bernama siapa dan mengapa kau bisa hanyut di sungai ini?” Sambil bertanya demikian, Iblis Hitam itu memandang Kwee An dengan mata tajam dan pandang mata menyelidiki.
“Namaku Kwee An,” jawab pemuda itu dan tiba-tiba ia mendapat sebuah pikiran baik.

Dia maklum bahwa iblis ini lihai sekali dan kepandaiannya mungkin sekali lebih tinggi dari pada kepandaian Hai Kong Hosiang, maka dia lalu melanjutkan, “Dan aku hanyut karena perbuatan seorang hwesio bernama Hai Kong Hosiang.”

Benar saja, disebutnya nama hwesio ini membuat Hek Moko memandang heran. “Hai Kong? Bagaimana kau bertemu dengan hwesio itu?”

“Aku adalah seorang perantau dan pada waktu aku hendak menyeberang sungai ini, aku bertemu dengan Hai Kong Hosiang. Kami berebut perahu dan kami berkelahi. Akan tetapi aku kalah dan dia melemparku ke dalam sungai.”
“Ha-ha-ha! Kau benar-benar patut menjadi puteraku! Kau sudah bertempur melawan Hai Kong tetapi kau tidak mendapat luka! Bagus, bagus! Aku tidak suka akan namamu dan mulai sekarang kau bernama Siauw Moko (Iblis Kecil).”

Kwee An merasa dongkol sekali, akan tetapi ia tidak begitu bodoh untuk memperlihatkan perasaan ini. Ia hanya berkata,
“Lopek, aku telah berhutang budi kepadamu maka tentu saja aku tidak berani membantah kehendakmu. Akan tetapi, nama yang kau berikan kepadaku itu kurang sedap didengar!”

Hek Moko memandang Kwee An dengan mata melotot. “Apa?! Kurang sedap didengar? Hai, anak muda, sampai di manakah kepandaianmu sehingga kau merasa kurang patut bernama Siauw Moko? Ketahuilah, aku yang bernama Hek Moko mempunyai kepandaian yang jauh lebih tinggi darimu. Engkau harus menurut segala kata-kataku oleh karena kau adalah anakku Siauw Moko yang dulu telah meninggal, akan tetapi sekarang kau hidup kembali. Anakku yang baik, jangan kau kuatir, aku akan melatihmu dan dalam beberapa bulan saja jangan kata baru seorang Hai Kong Hosiang, meski ada tiga orang Hai Kong, engkau tak usah merasa takut lagi!”

Sesudah berkata demikian, Hek Moko lalu maju memeluk dan menciumi muka Kwee An sebagai seorang ayah menciumi anaknya dengan penuh kasih sayang!

Kwee An merasa terkejut, takut, dan juga terharu sekali. Ia dapat menduga bahwa dulu tentu Iblis Hitam ini memiliki seorang putera dan putera itu meninggal dunia. Dan ketika melihatnya, iblis ini teringat kepada puteranya hingga tiba-tiba saja mengakui dia sebagai anaknya! Akan tetapi diam-diam Kwee An merasa girang juga karena ia akan menerima pelajaran silat dari kakek iblis yang berbahaya dan lihai ini!

Memang dugaan Kwee An itu tepat. Dulu, Hek Moko mempunyai seorang putera yang wajahnya hampir sama dengan wajah Kwee An. Dan puteranya ini telah meninggal dunia karena terserang sejenis penyakit berbahaya. Padahal ia telah menunangkan puteranya itu dengan puteri Pek Moko, yaitu Pek Bin Moli yang cantik jelita dan berotak miring.

Tentu saja kematian puteranya ini membuat Hek Moko menjadi sedih dan membuat dia menjadi semakin jahat, liar dan gila! Bersama Pek Moko yang menjadi sute-nya, dia lalu menjadi sepasang hantu yang menjagoi seluruh daerah Tibet dan mendengar namanya saja, semua orang telah ketakutan setengah mati.
Tempat tinggal Hek Pek Moko memang tidak tentu dan mereka ini merantau dari satu ke lain jurusan. Akan tetapi, kebanyakan mereka selalu berdua dan jarang nampak mereka berpisah. Kali ini Pek Moko tidak nampak bersama suheng-nya oleh karena Iblis Putih ini sedang pergi mencari anak perempuannya, yaitu Pek Bin Moli yang sudah lama minggat untuk mencari suaminya, yaitu Ong Hu Lin yang menjadi piauwsu dan telah mengadakan perhubungan dengan Giok-gan Kui-bo kakak seperguruan Ang I Niocu sehingga timbul perkelahian antara Giok-gan Kui-bo dan Pek Bin Moli dan akhirnya Pek Bin Moli dapat menemukan kembali suaminya itu yang dibawanya pergi!

Sejahat-jahatnya manusia, dia masih mempunyai perasaan kasih sayang yang bersifat suci murni terhadap anaknya. Demikian pula Hek Moko. Meski manusia ini telah terkenal sebagai iblis yang jahat serta kejam, akan tetapi kini sesudah bertemu kembali dengan puteranya, dia memperlakukan Kwee An dengan baik sekali sehingga diam-diam Kwee An menjadi terharu dan timbul rasa kasihan di dalam hatinya terhadap iblis tua ini.

Kwee An memang telah kehilangan ayahnya, dan dulu ia pernah meninggalkan ayahnya untuk waktu yang cukup lama, yaitu ketika merantau mempelajari ilmu. Maka kini biar pun maklum akan kejahatan dan kekejaman Hek Moko, akan tetapi mendapat perlakuan yang demikian penuh perhatian dan baik, serta menerima latihan-latihan silat dengan penuh keikhlasan, timbul juga rasa sayang dalam hatinya terhadap Iblis Hitam ini!

Atas paksaan Hek Moko, Kwee An menyebut ayah kepada iblis pendek yang luar biasa ini, sedangkan Hek Moko memanggilnya Siauw-mo atau Setan Kecil. Kwee An belajar dengan tekun dan rajin dan biar pun dia merasa girang menerima latihan ilmu silat yang amat tinggi dan lihai dari ayah angkatnya ini, namun diam-diam ia bergidik menyaksikan betapa ilmu silat yang dipelajarinya ini benar-benar keji dan ganas!

Akan tetapi baru satu bulan saja dia sudah mendapat kemajuan pesat sekali, oleh karena memang ia telah mempunyai dasar ilmu silat tinggi hingga tambahan pelajaran ini mudah saja diterima olehnya dan tentu saja Moko menjadi girang sekali. Ketika merasa bahwa ilmu silat yang diajarkan sudah cukup, Hek Moko lalu berkata,
“Siauw-mo anakku, sekarang kau tak akan kalah bila menghadapi Hai Kong!”

Kwee An menghaturkan rasa terima kasih dengan sepenuh hatinya. “Ayah, sekarang juga anakmu akan pergi mencari Hai Kong untuk membalas dendam karena kekalahan yang lalu!”
“Bagus, bagus! Di dunia ini tidak ada orang yang boleh menghina anakku! Aku akan pergi bersamamu dan menghajar hwesio gundul itu!”

Kwee An terkejut, karena dia ingin mencari Cin Hai, bagaimana dia bisa membawa serta ayah angkatnya ini? Dia lalu mencari akal dan berkata,
“Ayah, apakah Ayah mau membikin aku menjadi malu? Kalau Ayah ikut, Hai Kong akan menganggap bahwa aku takut kepadanya dan sengaja mengajak kau orang tua! Untuk menghadapi Hai Kong saja, aku yang telah menerima kepandaian darimu, sudah cukup. Untuk apa Ayah harus mencapaikan diri dan mengotorkan tangan untuk menghukum dia. Dan pula, bagaimana dengan hewan ternak di sini kalau Ayah ikut pergi?”

Hek Moko terdiam dan tak dapat menjawab. Dia berpikir bahwa anaknya ini benar juga dan alasan-alasannya pun pantas, maka dia lalu mengurungkan maksudnya hendak ikut. “Baiklah, kau pergi dan hajarlah hwesio itu. Aku menunggumu di sini! Tetapi kau harus lekas kembali dan jangan meninggalkan Ayahmu lama-lama, Siauw-mo. Ingat, aku sudah tua sekali dan mungkin hidupku di dunia ini takkan lama lagi!”

Ucapan ini menusuk perasaan Kwee An dan menyentuh hati sanubarinya. Dia kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan Iblis Hitam itu dan berkata,
“Ayah, aku takkan melupakan kau selama hidupku!” Setelah berkata demikian, Kwee An lalu meninggalkan tempat itu.

Ia segera menuju ke tempat di mana dulu dia dan Cin Hai bertemu dengan Pangeran Vayami, akan tetapi di situ telah sunyi dan tidak terlihat sedikit pun bekas-bekas adanya Cin Hai. Kwee An berdiri termenung di tepi sungai dengan hati bingung dan sedih.

Tiba-tiba terdengar gerakan perlahan di belakangnya dan dia tahu bahwa itu adalah Hek Moko yang datang! Benar saja, sebab segera terdengar suara Hek Moko dan Iblis Hitam itu telah berada di belakangnya.

Kwee An segera menengok dan melihat bahwa ayah angkatnya itu telah datang beserta Pek Moko yang kelihatan menyeramkan sekali oleh karena wajahnya yang buruk itu kini nampak muram dan marah, sedangkan rambutnya telah putih semua yang membuat dia nampak tua sekali! Iblis putih ini memandang kepada Kwee An dengan tajam dan ia pun mengangguk-angguk sambil berkata,

“Anak pungutmu ini terlalu cakap, Suheng, tapi dia cukup baik menjadi anakmu!”

Hek Moko tertawa senang dan berkata kepada Kwee An, “Anakku, ini adalah Susiok-mu yang bernama Pek Moko. Kau cukup menyebutnya Pek-susiok saja!”

Kwee An berpura-pura belum pernah melihat Pek Moko dan dia lalu berlutut memberi hormat, “Pek-susiok, terimalah hormat teecu.”

Pek Moko mengeluarkan suara jengekan dari hidungnya. “Jangan terlalu menghormat, Siauw-mo, aku tidak biasa dihormati orang seperti ini!”

Kwee An terkejut, akan tetapi Hek Moko hanya tertawa senang.

“Siauw-mo, kau tidak akan dapat mencari Hai Kong oleh karena hwesio itu sedang pergi mencari Pulau Emas! Malah aku dan Susiok-mu ini pun hendak pergi ke sana pula. Hayo kau ikut kami dan tentu di sana kau akan dapat bertemu dengan Hai Kong Hosiang!”

Kwee An menjadi girang, akan tetapi sebenarnya dia tidak senang harus pergi bersama sepasang iblis ini. “Bagaimana Ayah bisa tahu bahwa dia pergi ke Pulau Emas dan di manakah letak pulau itu?” tanyanya.

Hek Moko lalu menceritakan pengalaman Pek Moko. Ternyata bahwa pada saat mencari anak perempuannya, yaitu Pek Bin Moli, Pek Moko sebetulnya telah berhasil menemukan anak perempuannya itu, tetapi dalam keadaan mati!

Ong Hu Lin, menantunya yang menjadi suami Pek Bin Moli dalam keadaan terpaksa itu, setelah dibawa pergi oleh isterinya yang gila, di tengah jalan kemudian mencari akal dan akhirnya pada suatu malam, ketika isterinya yang berotak miring itu sedang tidur pulas, ia dengan kejam telah membunuh isterinya ini!

Pada saat Pek Moko mendengar tentang hal ini, ia lalu mencari Ong Hu Lin dan setelah bertemu, ia lalu menyiksa dan membunuh Ong Hu Lin dengan penuh kemarahan hingga tubuh Ong Hu Lin dihancurkan sampai tak karuan macamnya lagi! Peristiwa ini membuat Pek Moko sangat berduka sehingga seluruh rambutnya memutih dan wajahnya menjadi kejam dan muram selalu.

Kemudian secara kebetulan Iblis Putih ini mendengar tentang adanya Pulau Emas yang kini sedang dicari-cari dan agaknya hendak dijadikan rebutan antara orang-orang Turki, suku bangsa Mongol, serta oleh Pemerintah Kaisar sendiri! Dia segera mencari kakak seperguruannya, yaitu Hek Moko dan setelah dia menceritakan semua ini, Hek Moko lalu mengajak menyusul Kwee An yang baru saja pergi dari situ untuk diajak bersama-sama pergi mencari Pulau Emas.

Kwee An yang mendengar semua cerita ini, lalu berpikir pula bahwa besar kemungkinan Hai Kong Hosiang juga pergi mencari pulau itu dan apa bila Hai Kong pergi ke sana, maka jika Cin Hai masih hidup, tentu pemuda itu mengejar juga ke sana! Oleh karena ini, tanpa ragu-ragu pula dia lalu menyatakan kesediaannya untuk ikut dengan Hek Moko ini. Berbeda dengan rombongan Nelayan Cengeng, Hek Pek Moko menuju ke laut melalui jalan darat dan mengikuti sepanjang tepi sungai…..

********************
Cin Hai yang tertolong oleh Bu Pun Su dan sudah sembuh dari pengaruh madu merah yang mukjijat, dan sesudah pikirannya pulih kembali seperti biasa dan dapat mengingat semua kejadian yang telah lalu, merasa berduka sekali oleh karena tidak tahu bagaimana keadaan Kwee An dan Lin Lin.

Terutama sekali dia merasa gelisah dan bingung kalau teringat akan nasib Lin Lin yang tertawan oleh perwira Boan Sip! Ingin sekali dia segera bertemu dengan Boan Sip untuk membuat perhitungan dan menumpahkan rasa dendam serta amarahnya, akan tetapi ke mana harus mencari orang she Boan itu?

Ang I Niocu maklum akan kesedihan Cin Hai ini, akan tetapi ia sendiri pun tidak berdaya dan hanya mengucapkan kata-kata hiburan di sepanjang perjalanan. Untuk menghibur hati pemuda yang gelisah ini, Ang I Niocu lalu bertanya dan minta agar dia mengutarakan tentang pertempuran dengan Hai Kong Hosiang.

“Hwesio itu benar-benar telah mendapat kemajuan dalam ilmu silatnya,” berkata Cin Hai. “Sukar sekali bagiku untuk merobohkannya, walau pun aku mampu mengimbangi semua serangannya. Agaknya dia telah mengenal baik serangan-seranganku yang berdasarkan Liong-san Kun-hoat dan Ngo-lian-hoat sehingga sanggup berjaga diri dengan baik. Juga dalam ilmu kepandaian lweekang, hwesio itu kini amat kuat dan jauh lebih kuat dari pada dulu.”

Ang I Niocu mendengarkan dengan penuh perhatian ketika Cin Hai menuturkan jalannya pertempuran. Kemudian Gadis Baju Merah yang sudah banyak mengalami pertempuran-pertempuran ini, lalu berkata,
“Hai-ji, cabutlah pedangmu dan mari coba kuuji sampai di mana kepandaianmu!”

Cin Hai terkejut, akan tetapi ketika ia melihat sinar mata Ang I Niocu, ia maklum bahwa Dara Baju Merah ini hendak memberi petunjuk-petunjuk padanya, maka tanpa ragu-ragu lagi dia lalu mencabut pedangnya Liong-coan-kiam, sedangkan Ang I Niocu juga sudah mencabut keluar pedangnya.

“Awas serangan!” kata Ang I Niocu yang lalu menyerang dengan pedangnya.

Sebagaimana biasa, sekali pandang saja secara otomatis Cin Hai dapat mengenal dasar gerakan serangan ini, maka dengan mudah ia pun lalu mengelak dan balas menyerang. Ang I Niocu terus menyerang dan mengeluarkan ilmu pedangnya yang paling lihai, yakni Sian-li Kiam-sut yang mempunyai gerakan indah dan daya serang luar biasa dahsyatnya. Akan tetapi dengan amat mudahnya Cin Hai mengelak dan menangkis semua serangan ini secara tepat dan sempurna.

“Kau balaslah menyerang, jangan menahan diri saja,” teriak Ang I Niocu sambil mengirim tusukan.

Cin Hai lalu balas menyerang dan oleh karena dia tidak mengenal ilmu pedang lain maka dia pun lalu menyerang dengan Sian-li Kiam-sut yang ditirunya dari Ang I Niocu.

Tentu saja perubahan atau perkembangan semua serangan ini amat mudah dikenal dan diketahui oleh Ang I Niocu sehingga gadis ini mudah saja mengelak atau menangkis.

“Jangan menyerang dengan Sian-li Kiam-sut, itu tak ada gunanya! Pakailah ilmu pedang lain!” Ang I Niocu berseru lagi sambil terus menyerang lagi.

Cin Hai tahu kekeliruannya, oleh karena dalam menghadapi gadis yang menjadi ahli Silat Bidadari itu, sungguh bodoh kalau mempergunakan ilmu pedangnya. Kini dia memainkan Ilmu Pedang Liong-san Kiam-hoat yang dipelajarinya dari Kanglam Sam-lojin.

Sekarang dia sudah memiliki ilmu ginkang dan lweekang yang sangat tinggi oleh karena menerima latihan dari Bu Pun Su secara istimewa, yakni mempelajari dasar-dasarnya hingga boleh dibilang Cin Hai telah memiliki kepandaian pokok yang mutlak. Akan tetapi oleh karena pengetahuannya tentang ilmu silat hanya dangkal saja, yaitu terbatas pada ilmu silat dari Liong-san-pai dan ilmu silat yang dia pelajari dari An I Niocu, maka daya tempurnya amat lemah.

Memang apa bila menghadapi orang yang belum matang betul dalam hal ilmu silat tinggi, dengan mudah saja Cin Hai akan dapat mengalahkannya. Akan tetapi bila menghadapi tokoh persilatan yang tinggi dan sudah matang ilmu pedangnya, pemuda ini hanya dapat bertahan saja dengan luar biasa uletnya, tetapi juga sukar untuk melancarkan serangan-serangan lain kecuali dua macam ilmu silat yang dulu pernah dipelajarinya itu.

Maka, ketika menghadapi tokoh-tokoh tinggi seperti Hek Pek Moko atau pun Hai Kong Hosiang, juga menghadapi Ang I Niocu, pemuda ini menjadi pihak yang selalu didesak dan diserang, sungguh pun harus diakui bahwa semua serangan itu dapat ditangkis atau dielakkannya dengan sangat mudah oleh karena dia telah tahu betul akan perkembangan selanjutnya dari tiap serangan!

Ang I Niocu menghabiskan seluruh kepandaiannya untuk dipergunakan menyerang anak muda itu, akan tetapi tak sedikit pun ia dapat mempengaruhi atau mengacaukan Cin Hai yang istimewa. Diam-diam gadis ini merasa kagum sekali, oleh karena boleh dibilang bila dicari di dunia ini tidak ada keduanya orang yang dapat mempertahankan diri sedemikian baiknya terhadap semua serangan-serangan yang dia lakukan sampai seluruh jurus Sianli Kiam-sut habis dimainkan tanpa nampak terdesak sedikit pun!

Akan tetapi biar pun serangan-serangan Cin Hai luar biasa dahsyatnya, namun baginya serangan-serangan itu kurang berbahaya, dan kelihaiannya hanya terdorong oleh tenaga lweekang dan gerakan yang hebat dari anak muda itu dan sama sekali bukan karena ilmu pedangnya yang hebat.

“Benar seperti yang kuduga!” Ang I Niocu berseru sambil melompat mundur.

Cin Hai juga segera menahan pedangnya.

“Memang benar, Susiok-couw hanya memberikan pokok-pokok dasar ilmu silat padamu, tanpa memberi pelajaran penting untuk melakukan penyerangan. Mengapa engkau dulu tidak mau minta supaya orang tua yang aneh itu menurunkan satu atau dua macam ilmu silat agar dapat kau gunakan untuk menyerang lawan?”

Sambil tersenyum Cin Hai pun berkata, “Niocu, apakah kau masih belum kenal adat Suhu yang kukoai (aneh)? Kalau dia sendiri tak menghendaki, meski diminta sampai menangis pun tak akan dia berikan!”

Ang I Niocu memang sungguh-sungguh merasa sayang kepada Cin Hai, maka pada saat itu gadis ini memutar-mutar otaknya demi kebaikan anak muda itu. Ia tahu bahwa dengan kepandaiannya yang sekarang ini, Cin Hai tak usah merasa takut kepada seorang lawan yang mana pun juga. Akan tetapi, tanpa memiliki daya serang yang lihai, bagaimana ia akan dapat menjatuhkan musuh-musuhnya?

Apa lagi sekarang masih ada seorang musuh yang tangguh bukan main, yaitu Hai Kong Hosiang yang agaknya dibantu oleh pendeta tua renta yang gagu dan lihai sekali itu. Bila pemuda ini tidak mempunyai ilmu serangan yang dahsyat, banyak kemungkinan dia akan mendapat celaka dari tangan Hai Kong Hosiang.

Cin Hai yang melihat betapa Ang I Niocu termenung, lalu meninggalkan gadis itu untuk mengumpulkan kayu kering. Mereka telah tiba dalam sebuah hutan dan hari sudah mulai gelap, sedangkan di tempat itu banyak nyamuk dan hawanya terasa dingin.

Tiba-tiba Ang I Niocu melompat ke atas dan berkata dengan girang. “Benar, benar! Kau harus melakukan itu,” katanya kepada Cin Hai sehingga tentu saja pemuda ini menjadi terheran-heran oleh karena tidak mengerti apakah yang dimaksudkan oleh gadis itu yang nampak demikian gembira.

“Hai-ji, kau harus menciptakan ilmu pedang sendiri!” katanya kepada Cin Hai.

Cin Hai terkejut dan mukanya menjadi merah. “Ah, Niocu, kau ini ada-ada saja! Aku yang bodoh dan tolol ini mana mampu menciptakan ilmu pedang? Jangan mentertawakan aku, Niocu!”

“Anak tolol! Merendahkan diri di depan orang lain memang baik, akan tetapi memandang rendah kesanggupan sendiri hanya dilakukan oleh orang malas dan kurang bersemangat. Kau dapat melihat dasar-dasar segala ilmu silat, maka kalau kau memang mau, mengapa kau tidak bisa menggabungkan semua ilmu silat itu menjadi satu dan menciptakan sendiri gerakan-gerakan serangan yang kau anggap tepat dan lihai?”

Cin Hai memandang dengan sinar mata bodoh oleh karena dia memang belum mengerti. “Niocu, tolong kau beri tahu kepadaku, bagaimana caranya?”

Ang I Niocu lalu memberi penjelasan dengan sabar dan telaten. “Hai-ji, terus terang saja kuberitahukan padamu bahwa Sianli Utauw atau Tarian Bidadari itu pun aku sendiri yang menciptakan. Maka jika kau memang tekun, kau pun pasti akan dapat menciptakan ilmu pedang yang tidak ada keduanya di dunia ini. Caranya begini. Kau perhatikan dan ingat semua ilmu silat yang telah kau lihat dan lalu kau pilih gerakan-gerakan serangan musuh yang dilancarkan kepadamu. Mana yang kau anggap lihai dan baik, boleh kau pilih. Lalu gerakan-gerakan ini kau rangkai menjadi semacam ilmu pedang yang sangat lihai. Tentu saja kau harus merubahnya sedikit supaya tidak sama dengan aslinya lagi, dan bahkan harus diperbaiki mana yang kurang tepat. Hanya kau dan Susiok-couw yang mempunyai kemampuan seperti ini.”

Mendengar ucapan Ang I Niocu, diam-diam Cin Hai lalu tertarik hatinya. Mengapa tidak ia coba? Memang tak enak kalau selalu mempertahankan diri dari serangan orang, dan pula memang memalukan kalau menghadapi seorang lawan lalu menyerang lawan itu dengan ilmu silat yang ditirunya dari lawan itu sendiri. Alangkah senangnya kalau ia memiliki ilmu pedang sendiri yang dapat dibanggakan.

Cin Hai lalu duduk termenung dan dia lalu bersemedhi mengumpulkan seluruh perhatian dan perasaannya. Ia bayangkan semua ilmu-ilmu silat yang telah dilihatnya. Oleh karena ia telah mempunyai dasar batin yang kuat dan pikirannya telah jernih oleh latihan-latihan napas dan semedhi, maka sebentar saja di dalam otaknya terlintas semua gerakan ilmu silat yang pernah dilihatnya.

Di antara semua ilmu silat, gerakan-gerakan Hek Pek Moko adalah yang paling dahsyat dan kejam, sedangkan ilmu silat dan gerakan-gerakan Ang I Niocu yang ia anggap paling indah dan baik. Dia lalu mengumpulkan ingatannya dan mencatat di dalam hati gerakan-gerakan yang dianggapnya paling lihai, kemudian dengan mata masih meram dan sambil membayangkan gerakan-gerakan itu, tubuhnya lalu berdiri dan bergerak-gerak menurut gambaran gerakan yang masih tampak di dalam matanya yang meram itu.

Ang I Niocu mengikuti gerakan pemuda ini dengan heran dan kagum. Dia melihat betapa Cin Hai memainkan ilmu-ilmu silat yang aneh-aneh dan bermacam-macam, malah di situ dia melihat pula Cin Hai memainkan Sianli Utauw, dan juga Liong-san Kun-hoat. Ia tahu bahwa pemuda itu sedang memilih-milih, maka ia tidak mau mengganggu, hanya mencari tambahan kayu kering dan menjaga agar api unggun itu tidak padam.

Setengah malam lebih Cin Hai tanpa henti bergerak ke sana ke mari sambil memejamkan mata. Dia tidak merasa bahwa ia telah bersilat selama itu, sedangkan Ang I Niocu masih tetap duduk di dekat api dengan setia. Ia sedikit pun tidak mau mengganggu Cin Hai dan hanya memandang pemuda yang disayanginya itu dengan penuh harapan.....

Setelah lewat tengah malam, mendadak Cin Hai menghentikan gerakan-gerakannya dan mukanya menjadi agak pucat. Dia memandang kepada Ang I Niocu dan berkata,
“Niocu, terima kasih atas petunjuk dan nasehatmu tadi. Agaknya aku telah mendapatkan semacam ilmu silat ciptaanku sendiri.”

Ang I Niocu girang sekali dan berkata, “Coba kau sempurnakan ilmu itu dengan pedang, Hai-ji!”

Cin Hai lalu mencabut pedangnya dan berkata lagi,
“Ketika aku bersilat dan mengumpulkan tipu-tipu gerakan semua cabang persilatan yang pernah kulihat, tiba-tiba aku melihat bahwa memang selama ini aku terlalu lemah dan tak pernah mempunyai pikiran untuk membalas menyerang lawan. Aku tidak ingat bahwa aku tak perlu mengerahkan seluruh perhatian untuk pertahanan, karena sebetulnya aku telah memiliki daya tahan yang otomatis hingga tak perlu menggunakan seluruh perhatian lagi. Karena kesalahan itu, maka dulu aku tidak melihat lowongan-lowongan dan kesempatan-kesempatan yang sebenarnya dapat kumasuki untuk merobohkan lawan.”

Setelah berkata demikian, dia menghampiri serumpun bambu dan tetumbuhan lain yang tumbuh dengan suburnya di dekat situ. Tetumbuhan itu penuh dengan daun-daun hingga batang-batangnya yang kecil hampir tidak tampak dari luar dan oleh karena angin malam pada saat itu bertiup kencang, maka semua daun-daun yang berbentuk runcing itu bagai ratusan senjata menyerang ke depan dan melindungi batang-batang mereka yang kecil.

Cin Hai lalu membayangkan bahwa ratusan daun itu adalah senjata-senjata musuh yang melindungi tubuh musuh, dan bahwa ia harus berusaha menyerang tubuh-tubuh musuh yang kini dilindungi oleh ratusan pisau yang bergerak-gerak itu.

Dia lantas menggerakkan Liong-coan-kiam di tangan kanannya dan mulai bersilat dengan gerakan aneh. Gerakannya mula-mula lambat seakan mengintai rumpun itu, akan tetapi makin lama semakin cepat. Ia berusaha untuk melukai tubuh-tubuh yang bersembunyi di balik ratusan senjata itu tanpa mengadu pedangnya dengan senjata itu!

Hal ini tentu saja sukar bukan main oleh karena ratusan daun itu bergerak-gerak cepat dan tidak menentu karena tertiup angin hingga tubuh-tubuh atau batang-batang itu hanya nampak sekelebat dan sekilat saja! Akan tetapi, Cin Hai berlaku cepat dan hati-hati dan setiap kali daun-daun itu bergerak hingga sebatang pohon kecil nampak, biar pun hanya sekilas, namun dengan pedangnya sudah memasuki lowongan itu dan ujung pedangnya tepat menusuk batang itu tanpa mematahkannya!

Gerakan-gerakan pedangnya ini luar biasa sekali hingga Ang I Niocu yang masih duduk di dekat api, ketika melihat ini menjadi kagum sekali. Ia merasa begitu gembira sehingga diam-diam dia pun menggerakkan kedua tangannya, kemudian bersilat meniru-niru dan mengimbangi gerakan pedang Cin Hai!

Ia melihat betapa gerakan-gerakan anak muda itu masih nampak kaku, karena itu sambil menggerakkan kedua tangannya, dia berkali-kali menyerukan bahwa tangan kiri pemuda itu harus begini dan sikap tubuhnya harus begitu! Pendek kata, pada waktu itu Cin Hai bersama dengan Ang I Niocu sedang menciptakan semacam ilmu pedang. Cin Hai yang mencipta ilmu pedangnya, sedangkan Gadis Baju Merah itu memperbaiki gerak gayanya!

Setelah Cin Hai selesai bersilat, Ang I Niocu lalu menghampiri rumpun bambu dan ketika dia menyibakkan daun-daun yang menutupnya, ternyata batang-batang yang jumlahnya puluhan itu semua sudah berlubang bekas tusukan ujung pedang Ci Hai! Ang I Niocu bersorak girang dan menari-nari bagaikan anak kecil!

Cin Hai juga merasa girang sekali dan ia tidak menolak ketika Ang I Niocu mengajak dia sekali lagi bertanding dan dia diharuskan menggunakan ilmu pedangnya yang baru saja diciptakannya itu! Dan hasilnya benar-benar hebat!

Setiap jurus bila mana Cin Hai menyerang, selalu serangannya ini membingungkan Ang I Niocu. Dan kalau saja pemuda itu menyerang dengan sungguh-sungguh, dalam sepuluh jurus saja Pendekar Wanita Baju Merah ini pasti akan roboh!

Ternyata bahwa Cin Hai sudah menciptakan sebuah ilmu pedang yang benar-benar luar biasa, sebab ilmu pedangnya ini didasarkan atas kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan ilmu silat lain yang telah dilihatnya. Ia pergunakan kesempatan untuk mengisi lowongan-lowongan serta menyerbu bagian-bagian yang lemah dengan gerakan-gerakan aneh, bahkan kadang-kadang kedudukan kaki atau tangannya berbalik dan merupakan kebalikan dari pada gerakan ilmu silat biasa!

Ang I Niocu merasa gembira sekali dan minta Cin Hai bersilat pedang lagi seorang diri. Pada gerakan yang kaku, gadis yang memang ahli tari dan memiliki gerak gaya indah ini lalu memperbaiki tanpa merusak gerakan asli.

Sampai fajar menyingsing, kedua orang ini tiada hentinya berlatih, atau lebih tepat lagi Cin Hai melatih diri dan Ang I Niocu membantunya dengan nasehat-nasehat mengenai keindahan gerakannya. Semalam suntuk mereka tidak beristirahat.

Pada keesokan harinya mereka hanya beristirahat sebentar, kemudian Cin Hai kembali melatih diri dengan ilmu silat pedangnya yang baru itu. Ang I Niocu melihat dari samping memberi petunjuk di bagian yang masih kaku gerakannya.

Walau pun ilmu pedang ini dapat dilihat dan ditirukan oleh Ang I Niocu, akan tetapi oleh karena untuk menggunakan ilmu pedang ini sebelumnya harus memiliki kepandaian dan pengertian pokok tentang segala gerakan ilmu silat sebagaimana yang sudah dimiliki Cin Hai, maka ilmu pedang ini tidak akan ada gunanya bagi Ang I Niocu. Pendeknya, tanpa pengetahuan dasar yang diajarkan oleh Pun Su, orang lain tidak mungkin menggunakan ilmu ini dalam menghadapi lawan!

Demikianlah, setelah berlatih terus-menerus selama tiga hari tiga malam, akhirnya ilmu pedang ini mampu dimainkan secara baik sekali oleh Cin Hai hingga Ang I Niocu menjadi puas dan girang. Pada waktu dia mencoba untuk melawan ilmu pedang ini dengan ilmu pedangnya, maka dalam tiga jurus saja pedangnya telah dapat dirampas oleh Cin Hai.

“Aduh Hai-ji! Ilmu pedangmu ini benar-benar luar biasa dan jangankan Hai Kong Hosiang, biar Hek Pek Moko sendiri tentu akan roboh di tanganmu! Kionghi, kionghi! (Selamat).”

Tiba-tiba saja terdengar suara orang berkata dengan suara nyaring, “Ya, kionghi, kionghi! Akan tetapi berhati-hatilah kau, Cin Hai, agar ilmu jahat ini tidak merusak hatimu menjadi jahat dan kejam pula!”

Cin Hai dan Ang I Niocu terkejut sekali dan tahu-tahu Bu Pun Su sudah berdiri di dekat mereka!

“Cin Hai, ilmu pedang tadi memang baik sekali dan tak kusangka bahwa kau yang bodoh ini mampu mencipta ilmu pedang seperti itu! Akan tetapi oleh karena kau melatih dengan melukai batang-batang bambu dengan ujung pedangmu, maka ketika menghadapi lawan, kau baru akan dapat merobohkan dia dengan tusukan yang melukainya pula! Ini jahat sekali, muridku!”

Cin Hai merasa bingung dan terkejut sekali oleh karena kata-kata gurunya tadi memang betul semua. Tadi dia berhasil merampas pedang Ang Niocu oleh karena gadis pendekar itu terlalu terdesak oleh ilmu pedangnya sehingga memungkinkan dia menyambar lantas merampas pedang gadis itu. Sedangkan apa bila bertempur dengan lawan yang melawan dengan mati-matian, maka untuk merobohkannya dia harus mempergunakan pedangnya yang mengirim serangan-serangan maut itu!

“Mohon ampun, Suhu, dan sudi memberi petunjuk-petunjuk kepada teecu,” katanya.

Bu Pun Su tersenyum dan tiba-tiba dengan suara sungguh-sungguh dia berkata, “Coba cabutlah pedangmu itu dan seranglah aku!”

Cin Hai tidak ragu-ragu untuk melakukan hal ini oleh karena ia mempunyai kepercayaan penuh akan kesaktian suhu-nya. Karena itu, sesudah memberi hormat sekali lagi, dia lalu mencabut Liong-coan-kiam dan lantas menyerang dengan hebat. Pedangnya berkelebat merupakan sinar yang melenggang-lenggok dan dia sudah mempergunakan jurus ke lima yang dianggapnya cukup berbahaya.

Ia maklum bahwa suhu-nya memiliki mata tajam sekali dan telah hafal sekali akan segala gerakan pundak yang mendahului semua gerakan pukulan tangan dan juga sudah tahu akan pergerakan lutut yang mendahului semua gerakan kaki, maka ia lalu mengeluarkan serangan jurus ke lima ini.

Memang dalam menciptakan ilmu pedangnya, Cin Hai juga memikirkan kemungkinan apa bila menghadapi orang yang telah mempunyai kepandaian melihat gerakan orang seperti yang sudah dipelajarinya dari Bu Pun Su. Karena itu dalam beberapa gerakan ia sengaja membuat ilmu serangan yang dilakukan dengan gerakan-gerakan terbalik!

Menurut gerakan ilmu silat biasa, jika pundaknya bergerak itu tentu menjadi tanda bahwa pedang di tangan kanannya akan ditusukkan ke depan, akan tetapi sebelum pedangnya menusuk, secepat kilat gerakan itu sudah dibalik dan menjadi sabetan pada kedua kaki lawan dan sebelum sabetan ini diteruskan, kembali telah dibalikkan pula menjadi sebuah serangan memutar ke arah leher!

“Ganas sekali!” Bu Pun Su berseru sambil meloncat ke belakang oleh karena guru yang lihai ini benar-benar tercengang dan terkejut melihat kehebatan serangan muridnya. “Ayo kau serang terus dan keluarkan semua ilmu pedangmu yang liar ini!” katanya.

Cin Hai tak berani membantah dan segera maju menyerang terus.

Akan tetapi, ilmu meringankan tubuh dari Bu Pun Su sudah sampai pada tingkat tertinggi sehingga boleh dibilang tubuhnya seperti sehelai bulu yang dapat bergerak pergi tiap kali angin pedang menyambar hingga biar pun pedang Cin Hai hampir menyerempet pakaian kakek itu, namun tetap pedang itu tak dapat melukainya!

Akan tetapi kali ini Bu Pun Su benar-benar menghadapi semacam ilmu pedang yang luar biasa dan hanya dengan mengerahkan seluruh ginkang-nya saja maka ia bisa mengelak bagaikan seekor burung beterbangan di antara sambaran pedang!

Ang I Niocu memandang demonstrasi yang dilakukan oleh guru dan murid ini dengan mata terbelalak saking kagum dan herannya. Selama hidupnya belum pernah dia melihat kelihaian seperti ini dan hatinya diam-diam girang sekali memikirkan bahwa Cin Hai kini telah menjadi seorang jago pedang tingkat tinggi!

Ilmu pedang Cin Hai seluruhnya ada tiga puluh sembilan jurus dan sesudah semuanya dia mainkan, akhirnya pemuda ini meloncat ke belakang sambil berkata dengan napas terengah-engah, “Sudahlah, Suhu, teecu tidak kuat lagi!”

Dia lalu berlutut dengan muka merah karena hatinya kecewa betapa dengan mudahnya kakek itu dapat mengelak dari serangannya. Ia anggap ilmu pedangnya ini tiada gunanya sama sekali dan bahwa ia telah menyia-nyiakan waktu tiga hari tiga malam!

“Ha-ha-ha-ha!” Bu Pun Su tertawa terkekeh-kekeh karena kakek ini maklum dan dapat membaca isi hati Cin Hai dari muka pemuda itu, “Jangan kecewa, Cin Hai. Ketahuilah, bahwa ilmu pedang yang baru saja kau mainkan ini kelihaiannya jauh melebihi dugaanku semula!”
“Mohon Suhu jangan mentertawakan kebodohan teecu,” kata Cin Hai.
“Siapa yang mentertawakan kau? Anak bodoh, dengan ilmu pedangmu tadi, kau boleh menjelajah ke seluruh negeri dan mengharapkan kemenangan dari setiap pertempuran! Akan tetapi, jangan kira bahwa aku merasa senang atau bangga melihat ilmu pedangmu ini! Mungkin kau kira aku tidak percaya atau tidak suka kepadamu maka aku tidak pernah menurunkan ilmu kepandaian menyerang kepadamu? Ketahuilah, dan kau juga Im Giok, aku memang sengaja tidak mengajarkan ilmu serangan kepadamu, oleh karena apakah baiknya menyerang orang? Akan tetapi, memang segala apa sudah ditentukan oleh takdir sehingga kau yang tidak mempelajari ilmu menyerang, ternyata kini menghadapi banyak musuh yang lihai. Namun jangan kau anggap bahwa ilmu pedangmu ini saja akan cukup kuat untuk menghadapi Si Rangka Hidup Kam Ki Sianjin, supek dari Hai Kong Hosiang itu! Ahh, kau terlalu mengunggulkan diri kalau kau mempunyai pikiran demikian! Di dunia ini banyak sekali terdapat orang-orang pandai dan mungkin kelak sewaktu-waktu engkau akan menemui musuh yang lebih lihai lagi! Sekarang engkau telah berhasil menciptakan semacam ilmu menyerang, maka biarlah supaya jangan kepalang tanggung, kau pelajari juga Ilmu Silat Tangan Kosong Kong-ciak Sin-na beserta Ilmu Pek-in Hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih).”

Bukan main girang rasa hati Cin Hai dan segera mengangguk-anggukkan kepala untuk menghaturkan terima kasih.

“Juga kau yang telah banyak membuat jasa boleh mempelajari ilmu ini, Im Giok.” Ang I Niocu lalu berlutut dan mengucapkan terima kasih pula.

Demikianlah, selama dua pekan, Bu Pun Su memberi pelajaran dua macam ilmu silat itu kepada Cin Hai dan Ang I Niocu yang dipelajari dengan penuh perhatian oleh dua orang pendekar muda itu.

Pek-in Hoat-sut adalah ilmu sihir yang sebetulnya hanya sebutannya saja ilmu sihir, oleh karena ilmu ini merupakan gerakan ilmu silat yang sepenuhnya digerakkan oleh tenaga khikang sehingga dari kedua kepalan tangan yang memainkannya keluar uap putih bagai awan yang dapat menolak setiap hawa serangan dari lawan yang bagaimana jahat pun!

Uap putih ini terjadi dari keringat yang berubah menjadi uap sebagai akibat dari dorongan tenaga khikang yang panas dan disalurkan ke arah kedua lengan dalam setiap serangan. Meski lawan menggunakan ilmu hitam atau pukulan keji seperti Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah) dan lain-lain, apa bila bertemu dengan orang yang mempergunakan Pek-in Hoat-sut ini akan mati kutunya, tenaga serangan mereka yang buyar dengan sendirinya. Oleh karena tenaga hebat inilah maka ilmu ini disebut ilmu sihir!

Ilmu ke dua adalah Ilmu Silat Tangan Kosong Kong-ciak Sin-na atau Ilmu Silat Tangan Kosong Burung Merak. Gerakan-gerakan ilmu silat ini selain memukul juga menggunakan jari-jari tangan untuk mencengkeram dan merampas senjata musuh sehingga tepat sekali digunakan dengan tangan kosong apa bila menghadapi lawan yang bersenjata.

Setelah kedua orang itu mempelajari dua macam ilmu silat itu dengan sempurna, Bu Pun Su lalu berkata,
“Cin Hai dan Im Giok! Walau pun kalian tidak bertanya, akan tetapi aku maklum bahwa kalian ingin sekali mendengarkan tentang nasib Lin Lin.”

Cin Hai mendengarkan dengan wajah tiba-tiba berubah pucat, sedang Ang I Niocu juga mendengarkan dengan hati berdebar khawatir.

“Kalian jangan khawatir, menurut dugaanku Lin Lin telah selamat dan kalau tidak keliru ia sedang melakukan perjalanan bersama kawan-kawan baik. Sekarang ada hal yang lebih penting lagi. Orang-orang Turki dan orang-orang Mongol sedang berlomba untuk merebut sebuah pulau di laut timur dan apa bila pulau ini sampai jatuh ke dalam tangan mereka, maka bahaya besar mengancam seluruh negeri! Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa ratusan orang-orang Turki dan Mongol dengan diam-diam dipimpin oleh orang-orang berilmu dari kedua bangsa itu dan secara bersembunyi mereka menyerbu ke daerah timur untuk berlomba menemukan pulau itu. Oleh karena ini, kalian berdua segera berangkatlah ke laut timur melalui sungai yang mengalir di sebelah utara ini, oleh karena hanya di sana saja, maka kalian akan dapat bertemu dengan Lin Lin, bahkan mungkin dapat bertemu pula dengan musuh besarmu yang bernama Hai Kong Hosiang itu. Nah, sekarang aku hendak pergi!”

Cin Hai dan Ang I Niocu maklum akan sikap aneh dari orang tua ini yang bicaranya selalu mengandung rahasia. Mereka maklum pula bahwa secara membuta mereka juga harus menurut petunjuk ini, oleh karena petunjuk ini pasti betul dan biar pun tidak jelas, namun kalau tidak nyata tentu tak akan dikeluarkan dari mulut kakek luar biasa itu.

Tanpa menunda lagi, Cin Hai serta Ang I Niocu berlari cepat ke utara dan tidak lama kemudian mereka bertemu dengan sungai yang melintang dan mengalir ke arah timur itu. Di tempat itu tidak terlihat perahu dan keadaannya sunyi sekali, maka keduanya segera mempergunakan ilmu lari cepat dan mengikuti aliran sungai menuju ke timur. Akan tetapi, jalan di tepi sungai itu sukar sekali, penuh rawa dan hutan-hutan berbahaya, juga amat sukar dilalui.

Setelah mereka berlari selama dua hari, akhirnya mereka melihat sebuah dusun kecil dan mereka menjadi girang sekali saat melihat beberapa buah perahu diikat di pinggir sungai. Segera Cin Hai mencari pemilik perahu untuk disewa atau dibelinya.

Dua orang menghampiri mereka dan bertanya, “Jiwi membutuhkan perahu?”
“Betul,” kata Cin Hai dengan girang. “Kami berdua ingin menyewa atau membeli sebuah perahu.”
“Membeli?” kedua orang itu saling pandang “Ahh, Kongcu. Di sini tidak ada yang mau menjual perahunya. Pernah kau mendengar ada orang menjual isterinya?”
“Apa katamu?” Cin Hai bertanya heran dan tak senang, oleh karena menyangka bahwa nelayan itu hendak mempermainkannya.
“Kongcu ingin membeli perahu, sedangkan bagi seorang nelayan sebuah perahu adalah sama dengan seorang isteri. Siapakah yang mau menjual perahu atau isterinya? Tidak, Kongcu, kalau kalian berdua hendak menyewa, boleh kalian pakai perahuku ini. Biar pun kecil, tetapi kuat dan laju!”

Cin Hai tersenyum geli. “Boleh, aku hendak menyewa perahumu ini.”
“Jiwi hendak ke manakah?” tanya nelayan yang seorang lagi.

Ang i Niocu tidak senang melihat ada orang lain turut bicara, bahkan bertanya tentang maksud kepergian mereka.
“Apa perlunya kau ikut campur dan bertanya ke mana kami hendak pergi?” tanyanya tak senang.

Orang itu berkata sambil mengangkat dadanya, “Aku berhak penuh untuk turut campur, oleh karena perahu ini adalah milik kami berdua!”
Cin Hai tertawa. “Aha, kalau begitu isterimu ini mempunyai dua orang suami?”

Kedua orang nelayan itu tertawa. “Kongcu, kami adalah orang-orang miskin sehingga dua orang memiliki sebuah perahu saja.”
“Kami berdua hendak menuju ke laut dan hendak mencari sebuah pulau.”

Kedua orang itu nampak terkejut sekali. “Apa? Hendak mencari pulau? Apakah itu Pulau Emas?”

Cin Hai dan Ang I Niocu tercengang, akan tetapi mereka memang hendak menyelidiki pulau yang belum pernah meraka ketahui ini sedangkan Bu Pun Su juga tidak memberi penjelasan, maka Cin Hai lalu tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ya, kami mencari Pulau Emas!”

Tiba-tiba salah seorang di antara kedua nelayan itu menjadi pucat dan berkata kepada kawannya, “Twako, marilah kita pergi dan jangan melayani mereka ini. Agaknya mereka ini pun sudah kegilaan emas dan mungkin akan timbul mala petaka kembali apa bila kita membawa mereka seperti hal kita tempo hari itu!”

Cin Hai menjadi tertarik, dan Ang I Niocu segera membentak,
“Apakah yang terjadi? Apa ada orang lain yang juga mencari Pulau Emas itu?”

Kedua nelayan itu saling pandang dan keduanya kemudian berdiri hendak meninggalkan tempat itu, sama sekali tidak berani menjawab. Ang I Niocu cepat meloncat dan sekali tangannya bergerak, maka pedang yang tajam telah dicabutnya dan pedang itu sekarang menempel di leher seorang nelayan.

“Ke mana engkau hendak pergi? Jangan main-main, sebelum kalian menceritakan hal itu kepada kami, jangan harap akan dapat pergi dengan kepala menempel di lehermu!”

Nelayan itu menghela napas. “Apa kataku, Twako? Pulau Emas itu benar-benar pulau berhantu dan hanya setan-setan saja yang berani mengunjungi pulau itu! Toanio, harap kau berlaku murah dan jangan begini galak. Kami hanya nelayan-nelayan biasa saja dan kalau Toanio menghendaki, baiklah kami tuturkan pengalaman kami. Beberapa hari yang lalu, kami kedatangan seorang asing yang sangat murah hati dan royal dengan hadiah-hadiahnya. Ia minta kami suka mendayung perahunya yang besar, oleh karena ia berkata bahwa ia tidak kenal daerah sini. Ia hendak pergi ke laut dan mencari Pulau Emas seperti kalian pula. Tetapi pada suatu malam perahu orang asing bangsa Turki ini kedatangan seorang perwira yang galak dan gagah, sedangkan perwira ini ketika datangnya saja sudah sangat aneh dan menakutkan, yaitu ia mengempit tubuh seorang gadis muda yang cantik jelita!”

Berdebarlah hati Cin Hai dan Ang I Niocu. Bukankah gadis yang dimaksudkan ini Lin Lin adanya? Akan tetapi Cin Hai lalu mendesak, “Teruskan, teruskan ceritamu!”

“Setelah perwira galak ini naik ke dalam perahu kami, maka kami berdua lalu mendapat perintah untuk mendayung perahu dan sepanjang yang kami dengar, perwira itu tadinya hendak membunuh gadis yang ditawannya, akan tetapi maksudnya dihalangi oleh orang asing itu, dan agaknya Si Perwira takut dan tunduk kepadanya. Gadis itu lalu ditahan di dalam kamar perahu dan tidak diganggu. Akan tetapi, memang setan berkeliaran di atas sungai ini! Tiba-tiba perahu yang kami dayung itu bertumbuk dengan sebuah perahu lain yang biar pun kecil, akan tetapi maju dengan kuat hingga perahu kami terhalang. Dan yang lebih hebat lagi, ketika kami menegur nelayan tua yang berada di perahu kecil itu, ia menjadi marah dan sekali memukulkan dayungnya yang besar, perahu yang kami dayung menjadi pecah dan bocor hingga tenggelam!”

“Nelayan Cengeng!” tak terasa lagi Cin Hai berseru.

Nelayan yang bercerita itu menjadi terkejut karena menyangka bahwa dialah yang dimaki cengeng. Akan tetapi sebelum ia sempat bertanya, Cin Hai sudah kembali mendesaknya. “Teruskanlah, teruskanlah!”

“Penumpang-penumpang kami orang Turki yang aneh dan perwira yang galak itu menjadi marah kemudian melompat ke darat, sedangkan gadis cantik yang ditawan itu pun tak tersangka-sangka lihai juga dan dapat pula melompat ke darat! Kami berdua tak dapat melompat sejauh itu maka kami lalu menceburkan diri ke dalam air dan berenang ke tepi. Ternyata di tepi itu terjadi pertempuran hebat! Orang Turki bertempur melawan nelayan tua yang memegang dayung dan yang sudah memecahkan perahu kami, sedangkan Si Perwira dikeroyok oleh gadis tawanannya dan seorang pemuda tampan kawan nelayan tua itu.”

“Ma Hoa!” kata Ang I Niocu dan kembali nelayan itu memandang heran karena tidak tahu maksud Dara Baju Merah yang berseru karena amat tertarik mendengar penuturan ini.
“Dan bagaimana hasil pertempuran itu?” Cin Hai mendesak dengan tak sabar, karena ia telah merasa pasti bahwa yang mengeroyok perwira itu tentu Lin Lin dan Ma Hoa dan yang bertempur melawan orang Turki tentu Si Nelayan Cengeng.
“Kesudahannya mengerikan sekali...” nelayan yang pandai bercerita itu sengaja berhenti sebentar untuk membikin pendengar-pendengarnya makin bernafsu dan ceritanya makin menarik, “perwira yang galak dan gagah itu tewas. Kepalanya remuk dipukul oleh dayung yang dipegang gadis tawanannya, sedangkan dadanya bolong-bolong tertembus pedang Si Pemuda tampan!”

Baik Cin Hai mau pun Ang I Niocu menghela napas lega. “Mampuslah si keparat!” seru Cin Hai dengan gembira, kemudian ia menegaskan, “Bukankah perwira itu masih muda, kira-kira tiga puluh tahun, dan bibirnya tebal?”

Nelayan itu memandangnya heran, “Betul sekali, apakah Kongcu kenal padanya?”

Akan tetapi Cin Hai tidak menjawab pertanyaan ini, hanya bertanya lagi, “Dan bagaimana hasil pertempuran orang Turki melawan nelayan tua itu?”

“Mereka bertempur secara luar biasa sekali hingga kami berdua tidak dapat melihat siapa menang siapa kalah. Mendadak mereka berhenti bertempur dan agaknya lalu mengikat persahabatan. Si Nelayan Tua itu benar-benar setan air! Ia menyelam ke dalam air dan berhasil mencari dan mengambil perahu yang sudah tenggelam itu. Bukan main! Selama hidupku belum pernah aku melihat orang dapat melakukan hal semacam itu. Tentu ia iblis air sungai itu!”

“Hush! Jangan membuka mulut sembarangan saja. Sekali lagi kau memaki dia, kutampar mulutmu!” kata Cin Hai sambil mendelikkan matanya sehingga nelayan itu terkejut dan merasa ketakutan. “Teruskan ceritamu, bagaimana selanjutnya dengan mereka itu?”

“Selanjutnya? Tak ada apa-apa lagi. Setelah memperbaiki perahu, mereka berempat lalu berangkat pergi dan kami ditinggalkan dengan perahu kecil ini dan hadiah uang!”

“Jadi perahu kecil ini adalah perahu kepunyaan nelayan tua itu?” tanya Cin Hai dengan girang. Kedua nelayan itu menjadi pucat karena mereka telah kelepasan omong.
“Kalau begitu kami hendak memakai perahu ini,” kata Ang I Niocu yang merogoh keluar dua potong uang perak dari sakunya. “Nih, kalian ambillah seorang satu! Perahu ini kami ambil!”

Melihat bahwa perahu itu hanya diganti dengan dua potong uang perak, kedua nelayan itu menjadi bingung, “Ehh, Siocia, ehhh... Toanio, nanti dulu, perahu... perahu kami ini harganya lebih dari lima potong uang perak!”

Ang I Niocu mengangkat tangan mengancam. “Perahu ini bukan perahu kalian! Memberi dua potong perak sudah terlalu banyak untukmu dan itu pun bukan untuk membeli perahu ini, akan tetapi sebagai upah kalian bercerita tadi!”

Cin Hai dan Ang I Niocu lalu melompat ke dalam perahu dan mendayung perahu itu ke tengah sungai. Kedua nelayan itu tidak berani berbuat sesuatu, hanya melihat perahu itu pergi makin jauh dengan hati memaki-maki kalang kabut, akan tetapi mulut tidak berani bersuara!

Dua hari kemudian, saat perahu melalui sebuah hutan, Ang I Niocu melihat pohon-pohon buah lenci di dekat pantai. Melihat buah yang bergantungan dan sudah masak itu, timbul seleranya dan dia mengusulkan untuk berhenti dan beristirahat sebentar sambil mencari dan makan buah. Cin Hai setuju, oleh karena dia pun merasa ingin makan buah yang segar nampaknya itu.

Mereka kemudian mendayung perahu ke pinggir dan menarik perahu kecil itu ke darat. Kemudian, oleh karena melihat tempat itu sunyi dan indah sekali, timbullah kegembiraan mereka dan keduanya lalu melompat ke atas cabang pohon dan memilih buah sesuka hati mereka.

Akan tetapi tiba-tiba Cin Hai berseru kaget dan cepat melompat turun dan ketika Ang I Niocu memandang ke arah perahu mereka, ia pun terkejut sekali. Seorang tosu (pendeta penganut Agama Tao) sedang menarik perahu mereka ke arah air, dan agaknya tosu ini ingin menggunakan kesempatan itu untuk mencuri perahu mereka! Ang I Niocu menjadi marah sekali dan ia pun cepat melompat turun dari atas pohon.

Ketika Cin Hai dan Ang I Niocu berlari ke arah perahu mereka, tiba-tiba dari balik batang pohon besar melompat keluar seorang hwesio (pendeta penganut Agama Buddha) yang bertubuh pendek namun gemuk sekali. Hwesio ini kelihatan lucu sekali, mukanya seperti muka anak kecil yang gemuk, dan jika dilihat, ia persis seperti boneka besar atau Jilaihud yang berwajah baik dan peramah.

Mukanya yang bulat itu selalu tersenyum ramah. Tubuhnya bagian atas yang serba bulat dan gemuk dililit kain yang hanya menutupi kedua pundak dan lengannya saja, ada pun tubuh atas bagian depan terbuka sama sekali! Dadanya yang bergajih dan pusarnya yang besar kelihatan menambah kelucuannya.

Ia menghadang Cin Hai dan Ang I Niocu sambil tertawa-tawa dan berkata, “Ai, aih, kalian sepasang burung dara yang bahagia! Kenapa melayang turun dari pohon dan berlari-lari. Bukankah lebih senang bermain-main di atas pohon?”

Bukan main marahnya Cin Hai mendengar ini, ada pun Ang I Niocu dengan muka merah lalu membentak, “Bangsat gundul kurang ajar! Tutup mulutmu dan minggirlah!”

Akan tetapi hwesio tadi memandang heran dan tertawa lagi, “Ehh, ehh, mengapa kalian malah marah-marah? Apakah aku mengganggu kalian?”

“Hwesio gemuk, jangan kau menghadang di depan kami!” kata Cin Hai yang lebih sabar, “Kami akan mengejar pencuri perahu itu!”

Si Hwesio tertawa terus dan berkata, “Pencuri perahu? Kau maksudkan tosu itu? Ahh, dia adalah saudaraku! Kami hanya ingin pinjam sebentar perahumu itu!”

“Bagus, hwesio maling!” kata Ang I Niocu yang segera melompat maju sambil mengayun kepalan tangannya menghantam dada hwesio yang gemuk itu. Akan tetapi Ang I Niocu terkejut sekali karena tidak menyangka bahwa hwesio segemuk ini dapat bergerak gesit sekali ketika ia mengelak dari pukulan Ang I Niocu.
“Waduh, ganas... ganas...!” seru hwesio gendut itu yang masih saja tertawa-tawa meski pun Ang I Niocu menyerang bertubi-tubi dengan pukulan cepat hingga ia harus mengelak ke sana ke mari dengan repot sekali.

Sementara itu, tosu yang hendak mencuri perahu tadi, ketika melihat betapa saudaranya diserang oleh Ang I Niocu dan terdesak sekali, cepat-cepat menarik kembali perahu itu ke darat dan berlari-lari ke arah tempat pertempuran.

“Jangan kau memukul Adikku!” teriaknya dan segera menyerang Ang I Niocu.

Melihat serangan ini hebat juga datangnya, Cin Hai lalu maju menangkis dan keduanya lalu bertempur ramai! Keadaan tosu ini sama sekali berbeda dengan hwesio itu. Kalau hwesio itu gemuk dan pendek bermuka ramah dan mulutnya selalu tersenyum, adalah Si Tosu ini mukanya seperti orang sedang mewek dan menangis. Matanya yang sangat sipit itu seakan-akan memandang dengan sedih sehingga membikin sedih pula kepada orang yang melihatnya.

Walau pun Ang I Niocu sedang marah, akan tetapi melihat betapa hwesio itu biar pun terdesak sekali masih saja tertawa-tawa dengan muka sama sekali tidak memperlihatkan ketakutan, menjadi tidak tega hati untuk melukainya, dan hanya mendesak dengan ilmu silat yang baru dipelajarinya dari Bu Pun Su, yaitu ilmu Silat Kong-ciak Sin-na sehingga hwesio itu tak dapat membalas menyerang dan dipermainkan oleh Ang I Niocu bagaikan seekor kucing. Ang I Niocu memang sengaja menggunakan hwesio itu sebagai ujian bagi ilmu silatnya yang baru dan ia merasa girang sekali mendapat kenyataan bahwa ilmu silat yang dipelajarinya dari Bu Pun Su ini memang betul-betul luar biasa.

Sebaliknya, dengan mudahnya Cin Hai pun dapat mendesak Si Tosu. Kemudian, sebelah kakinya berhasil menggaet kaki tosu itu yang segera jatuh terguling-guling dan mengeluh kesakitan.

“Nah, biar kau kapok mendapat hajaran sedikit!” kata Cin Hai. “Dan supaya lain kali tidak berani mencoba untuk mencuri perahu lain orang.”

Dengan muka seperti orang menangis, Si Tosu itu menoleh ke arah hwesio yang masih diserang kalang-kabut oleh Ang I Niocu. Ia mengeluh lagi dan berseru.

“Ceng Tek, sudahlah baik kita menyerah. Mereka ini bukan makanan kita!”

Mendengar kata-kata ini, hwesio gemuk itu cepat melompat mundur dan berkata sambil tertawa, “Sudahlah Nona, pinceng mengaku kalah!”

Ang I Niocu menjadi geli hatinya dan ia pun tidak tega untuk menyerbu terus.

“Siapakah kalian dua orang tua ini, dan mengapa kalian hendak mencuri perahu kami?” tanyanya.

Kedua pendeta itu saling pandang dan sambil menjura, tosu itu berkata. “Kami dua kakak beradik adalah pendeta-pendeta perantau. Adikku ini bernama Ceng Tek Hwesio ada pun pinto sendiri bernama Ceng To Tosu. Tadinya kami mengira bahwa kalian berdua adalah sepasang orang muda yang hendak berpelesir di sini, maka kami berani mengganggu dan hendak meminjam perahu kalian. Tidak tahunya, melihat pakaian serta kepandaian Nona ini, kami tidak akan heran apa bila kau mengaku wanita yang berjuluk Ang I Niocu!”

Ang I Niocu tersenyum. “Memang dugaanmu tepat sekali, Totiang. Memang aku adalah Ang I Niocu dan saudaraku ini adalah Pendekar Bodoh!”

Kedua mata Ceng To Tosu yang sipit itu dipentang lebar. “Apa? Dengan kepandaiannya seperti itu, ia masih disebut Pendekar Bodoh? Ah, kalau yang bodoh saja kepandaiannya setinggi ini, apa lagi yang pintar?”

Biar pun tosu ini mengucapkan kata-kata yang mengandung kelakar, namun tetap saja mukanya mewek seperti mau menangis! Dan hwesio pendek gemuk itu tetap tersenyum dengan muka sesenang-senangnya!

Cin Hai tertarik sekali melihat dua saudara yang aneh ini, maka ia lalu bertanya. “Harap kau dua orang suci suka berkata terus terang saja. Sebenarnya mau meminjam perahu kami hendak pergi ke manakah?”

Kini hwesio gemuk itu yang menjawab dan ucapannya penuh kejujuran. “Kami hendak pergi ke laut dan mencari sebuah pulau.”

“Pulau Emas?” Cin Hai cepat menyambung dan kedua pendeta itu tercengang.
“Kau... sudah tahu?”
“Tentu saja! Kami hendak pergi ke sana!”
“Aha! Sungguh kebetulan sekali. Sudahkah kalian dua anak muda tahu di mana letaknya Kim-san-to (Pulau Gunung Emas)?”

Secara terus terang saja Cin Hai menyatakan belum tahu. Kedua pendeta itu lalu saling pandang dan akhirnya Si Tosu berkata,
“Baiklah, sekarang diatur begini saja. Perahu ini cukup lebar untuk ditumpangi oleh empat orang. Kami berdua membonceng kalian dan sekaligus menjadi penunjuk jalan. Kalian mempunyai perahu akan tetapi tidak mengenal jalan, sedangkan kami berdua yang kenal jalan tidak mempunyai perahu! Bukankah kita dapat saling menolong?”

Cin Hai dan Ang I Niocu kini saling berpandangan dan akhirnya Cin Hai mengangguk dan berkata,
“Kata-katamu ini pantas juga. Biarlah kita bersama-sama mencari pulau itu dan kalian berdua menjadi penunjuk jalan!”
“Akan tetapi perahu kita kecil dan hwesio gemuk ini tentu berat sekali! Asal saja kau tidak banyak bergerak hingga jangan-jangan perahu kita akan terguling dan tenggelam!” kata Ang I Niocu sambil tertawa sehingga mereka berempat sama-sama tertawa gembira.

Cin Hai dan Ang I Niocu merasa suka pada dua orang aneh itu. Mereka dapat menduga bahwa kedua orang ini tentulah orang-orang kang-ouw yang berwatak baik.

Beberapa hari kemudian, empat orang dalam perahu kecil itu sudah sampai di samudera dan mulai dengan usaha mereka untuk mencari Pulau Kim-san-tho. Atas petunjuk kedua pendeta itu, perahu lalu didayung ke kiri melalui pantai yang curam dan batu-batu karang yang tinggi.

Ketika perahu mereka bergerak perlahan di tepi batu karang yang tinggi dan hitam, dari atas tiba-tiba saja menyambar turun bayangan yang gerakannya cepat sekali! Bayangan ini menyambar ke arah dada dan perut Ceng Tek Hwesio yang telanjang.

Empat orang di dalam perahu itu terkejut sekali ketika melihat bahwa yang menyambar adalah seekor burung rajawali yang besar dan buas sekali! Agaknya burung ini tertarik oleh kegemukan dada dan perut Ceng Tek Hwesio yang bergajih dan montok itu, hingga ia menyambar turun dan hendak mencengkeram daging gemuk itu!

Ceng Tek Hwesio merasa kaget dan hendak berkelit, namun berat badannya membuat perahu itu berguncang!

“Hai, jangan bergerak!” Ang I Niocu mencegah.

Gadis ini dengan cepat lalu menendang ke arah burung yang menyambar turun itu dan alangkah kagetnya ketika burung itu dengan cepat mampu mengelak dari tendangannya dan melayang ke atas lagi!

Cin Hai yang berdiri di kepala perahu dan memandang tajam, juga merasa kagum melihat ketangkasan dan kecepatan burung yang besar itu. Sedangkan hwesio pendek gemuk itu melihat bahwa dirinya diserang oleh burung rajawali, hanya tersenyum-senyum dan tertawa ha-ha hi-hi saja, dan biar pun hatinya berdebar ngeri, akan tetapi mukanya tetap tersenyum. Sebaliknya, muka Ceng To Tosu makin nampak sedih dan mewek bagaikan betul-betul hendak menangis tersedu-sedu oleh karena ia merasa kuatir dan juga marah kepada burung pemakan manusia itu.

Sekarang burung rajawali itu dengan cepatnya menyambar turun dari atas. Ang I Niocu yang merasa mendongkol melihat tendangannya tadi dapat dikelit oleh burung besar itu, berkata kepada kawan-kawannya,

“Jangan bergerak dan biarkan aku bikin mampus burung celaka itu!”

Ketika burung itu mengulur cakarnya dan kembali hendak menyerang hwesio gendut itu, Ang I Niocu cepat menghantam sekerasnya dengan tangan kanannya! Namun kembali ia tertegun oleh karena burung itu dapat miringkan tubuh dan mengibas dengan sayapnya seakan-akan menangkis pukulan Ang I Niocu!

Akan tetapi pukulan itu bukanlah pukulan biasa dan dilakukan dengan tenaga lweekang sehingga biar pun burung itu menangkis dengan sayap, tetapi tubuh burung itu terlempar jauh dan oleh karena sakitnya, tiba-tiba sambil memekik keras burung yang terlempar ke atas itu mengeluarkan kotoran yang jatuh berhamburan menimpa ke arah perahu seperti hujan. Kebetulan sekali kotoran itu jatuh tepat ke arah Ceng Tek Hosiang dan Ceng To Tosu sehingga muka dan baju kedua pendeta itu menjadi kotor kena kotoran burung itu.

Ang I Niocu makin gemas dan marah karena burung itu agaknya tidak terluka dan hanya terpental serta kaget saja. Juga burung itu kini terbang berputaran di atas perahu sambil mengeluarkan suara nyaring. Ang I Niocu mencabut keluar pedangnya dan dengan muka merah karena gemas ia berkata,
“Burung keparat, turunlah kalau kau berani!”

Seakan-akan mengerti dan dapat mendengar tantangan gadis itu, burung rajawali yang berbulu kuning emas dan berparuh merah itu memekik panjang dan kembali menyerang turun. Kini dia bukan menyerang kepada hwesio gendut, akan tetapi langsung menyerang Ang I Niocu, oleh karena agaknya dia marah sekali kepada Dara Baju Merah yang telah dua kali menyerangnya itu.

Burung ini adalah sejenis Kim-tiauw atau Rajawali Emas yang jarang terdapat dan yang disebut raja segala burung. Ketika dia menyerang Ang I Niocu, gerak tubuhnya cepat dan tak terduga oleh karena ia bukan menyerang langsung dari atas, akan tetapi turun sambil bergerak-gerak ke kanan kiri dengan cepatnya.

Ang I Niocu bukanlah sembarang gadis yang takut akan segala macam burung. Dengan seruan keras, sebelum burung itu menyambar, Ang I Niocu sudah mendahului melompat ke atas sambil menyambar dengan pedangnya.

Kembali burung Kim-tiauw itu secara aneh mampu mengelak dan mumbul lagi ke atas, kemudian berkali-kali dia menyerang turun. Terjadilah pertempuran yang hebat dan indah dipandang antara Ang I Niocu di atas perahu dengan burung rajawali yang menyambar-nyambar dari atas.

Beberapa kali pedang Ang I Niocu yang hampir saja dapat memenggal leher burung itu, tiba-tiba dapat disampok dengan sayap atau cakar dengan kuku burung itu, hingga Ang I Niocu menjadi semakin marah dan penasaran saja. Biar pun Ang I Niocu belum berhasil membunuh Kim-tiauw, akan tetapi banyak bulu burung itu sudah rontok ketika sayapnya menyampok pedang, sedangkan burung itu sama sekali tak mendapat kesempatan untuk menyerang gadis perkasa itu.

Sebenarnya, apa bila dia berada di atas tanah keras, tentu Ang I Niocu sudah berhasil membunuh Kim-tiauw itu. Akan tetapi kini dia berada di atas perahu yang bergerak-gerak sehingga membuat gerakannya tidak leluasa sekali.

Sesudah berkali-kali serangannya gagal, bahkan hampir saja pedang tajam menembus dadanya dan memenggal leher, akhirnya Kim-tiauw itu agaknya mengakui kelihaian Ang I Niocu dan sambil mengibaskan sayapnya yang lebar dan kuat serta mengeluarkan bunyi seperti orang mengeluh panjang, ia kemudian terbang pergi dengan cepat sekali hingga sebentar saja tubuhnya hanya merupakan titik kuning emas di langit biru.

Ang I Niocu menyimpan kembali pedangnya dan duduk dengan muka merengut. Hatinya tidak puas sekali karena kegagalannya membunuh burung besar itu, akan tetapi Ceng To Tosu lalu berkata sambil menghela napas panjang,

“Baiknya kau tidak membunuhnya Lihiap.”
“Ehh, mengapa kau berkata baik sedangkan hatiku kecewa sekali karena tidak berhasil membunuhnya?” kata Ang I Niocu sambil memandang heran.
“Burung itu adalah burung Kim-sin-tiauw atau Rajawali Sakti Berbulu Emas, dan burung itu di daerah ini terkenal sebagai burung pembawa rezeki dan kebahagiaan. Kita sudah bertemu dengan dia dan memusuhi kita, hal ini tidak baik sekali, apa lagi kalau kau tadi sampai salah tangan dan membunuhnya!”

Diam-diam Cin Hai terkejut sekali mendengar ini, akan tetapi Ang I Niocu lantas berkata, “Burung jahat itu mana bisa membawa kebahagiaan?”

Biar pun Cin Hai tidak setuju mendengar ucapan gadis ini akan tetapi oleh karena ia telah maklum bahwa gadis ini tidak takut apa pun juga, ia diam saja dan tidak menyatakan kekuatirannya, hanya berkata memuji,

“Kim-sin-tiauw itu lihai sekali dan gerakannya tangkas dan cepat.”
“Kalau di darat ada harimau menjadi raja dan di laut ada naga, maka Kim-sin-tiauw boleh dibilang menjadi raja di angkasa!” kata Ceng Tek Hwesio yang masih tersenyum-senyum seakan-akan kejadian tadi adalah hal yang menyenangkan hatinya!
“Dan raja angkasa itu hampir saja berpesta pora menikmati kelezatan dagingmu yang gemuk!” kata Cin Hai.

Semua orang tertawa geli, kecuali Ceng To Tosu yang agaknya selama hidup tak pernah tertawa. Dia hanya mengutarakan kegelian hatinya dengan mewek makin menyedihkan!

Kita tinggalkan dulu perahu kecil yang dinaiki empat orang yang sedang mencari Pulau Emas itu, pulau yang aneh dan mengandung rahasia dan yang pada waktu itu menjadi sebab terjadinya hal-hal yang hebat karena ada tiga bangsa sedang berusaha merampas pulau itu…..

********************
Pada waktu itu, Kerajaan Turki yang telah mendengar tentang adanya Pulau Emas di laut timur Negara Tiongkok sudah mengirim dan menyebar para penyelidiknya, di antaranya Yousuf yang cerdik dan yang menjadi orang pertama mendapatkan pulau itu. Di samping menyebar mata-mata, Kerajaan Turki lalu mengirim pula sejumlah besar tentaranya untuk menyerbu ke daerah ini.

Mereka tak berani melalui daratan Tiongkok, oleh karena maklum bahwa apa bila mereka melalui daratan pedalaman Tiongkok mereka pasti akan menghadapi rintangan-rintangan besar yang memungkinkan gagalnya usaha mereka, oleh karena selain memiliki daerah luas yang berbahaya, Tiongkok juga mempunyai banyak orang pandai yang tentu akan melawan tentara Turki yang menjelajah negaranya.

Oleh karena ini, barisan Turki itu mengambil jalan memutar dari utara, bergerak ke timur melalui sepanjang perbatasan Negara Tiongkok dan masuk di daerah Mongol. Mereka ini pun tidak tinggal diam dan melawan barisan asing yang memasuki tanahnya. Akan tetapi oleh karena pada waktu itu bangsa Mongol masih belum kuat dan hidupnya berkelompok-kelompok ini, dengan mudah dapat dihalau oleh barisan Turki yang kuat.

Barisan Turki ini dipimpin oleh orang-orang pandai, bahkan di dalam barisan ini terdapat seorang pemimpin aneh yang merupakan seorang pendeta bertubuh besar sekali seperti seorang raksasa akan tetapi agak pendek. Pendeta ini berkepala botak, berjenggot hitam dan kaku bagaikan kawat dan yang menyongot ke sana ke mari tidak terawat.

Tubuhnya yang gemuk besar itu mengenakan pakaian yang amat aneh pula, oleh karena pakaian ini terbuat dari banyak macam kain kembang yang ditambal-tambal. Dilihat dari keadaan pakaiannya, pendeta ini lebih pantas disebut seorang pengemis jembel!

Pendeta ini lihai dan sakti sekali dan ia adalah jago nomor satu di seluruh Kerajaan Turki. Namanya di Turki terkenal sebagai Balutin, sedangkan pendeta yang sudah sering kali merantau di pedalaman Tiongkok ini disebut dalam bahasa Tiongkok sebagai Pouw Lojin. Oleh karena sering masuk di daerah Tiongkok, maka Balutin pandai bicara dalam bahasa Tionghoa.

Dengan adanya pendeta ini, maka ekspedisi Turki ini tidak mengalami banyak rintangan, oleh karena setiap penghalang yang kuat selalu hancur kalau saja berhadapan dengan Balutin yang lihai. Selain ilmu silatnya yang tinggi, Balutin juga mahir dalam ilmu sihir, dan lweekang serta khikang-nya sudah mencapai tingkat tinggi sekali.

Gerakan tentara Turki ini membuat bangsa Mongol merasa gelisah sekali. Mereka ini pun akhirnya bisa juga mencari tahu akan rahasia Kerajaan Turki dan dapat pula mengetahui bahwa bangsa Turki ini hendak mencari sebuah Pulau Emas di Laut Tiongkok.

Karena itu, bangsa Mongol lalu menguasakan kepada Pangeran Vayami yang cerdik dan mempunyai kepandaian tinggi untuk menghubungi Kaisar Tiongkok. Ini pulalah sebabnya maka Hai Kong Hosiang diutus oleh kaisar untuk mengundang Pangeran Vayami datang ke istana kaisar.

Setelah Vayami bertemu dengan kaisar, secara cerdik sekali Vayami lalu menghasut dan memberi tahu bahwa tentara Turki bermaksud mengurung ibu kota Tiongkok dan merebut sebuah pulau di Laut Tiongkok yang mengandung banyak emas! Dengan cerdik sekali Pangeran Vayami menghasut dan hendak mengadu dombakan tentara Turki dan tentara Tiongkok, sedangkan diam-diam pangeran yang cerdik dan licin ini telah menyiapkan kaki tangannya untuk secara mendadak menyerbu pulau itu. Ia memakai siasat ‘Membiarkan Dua Ekor Anjing Berebut Tulang’ dan kemudian diam-diam membawa tulang itu berlari sementara kedua anjing itu masih bergumul!

Akan tetapi, Kaisar Tiongkok pun bukan orang bodoh, dan seandainya dia sendiri bodoh, akan tetapi para penasehatnya adalah orang-orang cendekiawan yang berpemandangan luas. Memang kaisar sudah masuk dalam perangkapnya dan mengirimkan barisan besar yang bergerak menuju ke pantai laut di sebelah utara dekat tapal batas negeri Tiongkok, di mana menurut keterangan Pangeran Vayami tentara Turki itu berkumpul.

Barian besar ini dikepalai oleh Beng Kong Hosiang beserta beberapa orang perwira yang tertinggi kepandaiannya. Bahkan kepala bayangkari, yaitu seorang perwira kekasih kaisar yang amat tinggi kepandaiannya dan bernama Lui Siok In, mendapat tugas khusus untuk memimpin barisan itu bersama-sama Beng Kong Hosiang dan lain-lain perwira.

Sementara itu, kaisar memerintahkan Hai Kong Hosiang untuk tetap menemani Pangeran Vayami dengan alasan melindungi keselamatan tamu agung itu dalam perjalanan kembali ke negerinya. Akan tetapi sebetulnya kaisar ini bukan ingin menjaga keselamatan orang, namun bahkan hendak mengawasi dan mengikuti gerak-geriknya, dan membatasi segala usaha kecurangan yang mungkin akan dilakukan oleh Pangeran Vayami yang cerdik itu. Oleh karena ini, Hai Kong Hosiang mendapat tugas istimewa dan hwesio ini pun lantas mengajak supek-nya, yaitu Kiam Ki Sianjin yang telah pikun dan gagu, akan tetapi masih lihai sekali itu.

Pangeran Vayami lalu keluar dari istana bersama Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianjin, dan pangeran ini langsung menuju ke utara pula dan memberi tahukan kepada Hai Kong Hosiang tentang adanya Pulau Emas itu.

Walau pun Hai Kong Hosiang seorang pendeta, namun hatinya tertarik dan ingin sekali mendapatkan gunung emas itu, maka ia pun segera menyetujui ajakan Pangeran Vayami untuk menyaksikan pulau itu dari dekat dan apa bila mungkin mendarat di pulau itu. Hal ini menurut Hai Kong Hosiang tak ada salahnya, oleh karena tugasnya yang didapat dari kaisar hanya mengawasi dan menjaga agar pangeran ini jangan melakukan sesuatu yang akan merugikan. Pendeknya, kaisar mencurigai Pangeran Vayami dan Hai Kong Hosiang bertugas mengawasinya.

Ketika tentara Turki yang dipimpin dan dilindungi oleh Balutin itu tiba di tepi pantai laut, mereka berhenti dan memasang kemah. Sementara itu, bagian perlengkapan lalu sibuk membuat perahu-perahu untuk keperluan menyeberang. Biar pun mereka telah lebih dulu menyiapkan segala keperluan untuk membuat perahu-perahu ini, akan tetapi oleh karena jumlah tentara yang hendak diseberangkan ini tak kurang dari seribu orang, maka proses pembuatan perahu itu makan waktu berhari-hari.

Dan pada saat mereka sedang sibuk membuat persiapan untuk menyeberang, datanglah tentara Kerajaan Tiongkok yang dipimpin oleh Lui Siok In, Beng Kong Hosiang dan para perwira lainnya! Tentara Tiongkok lebih banyak jumlahnya, dan karena mereka datang di waktu hari sudah menjadi gelap, maka tentara Tiongkok di bawah pimpinan Lui Siok In yang pandai ini lalu diam-diam mengurung perkemahan tentara Turki. Kemudian, tentara Tiongkok yang telah mengurung ini serentak memasang obor sehingga keadaan menjadi terang sekali bagaikan siang hari!

Tentu saja tentara Turki menjadi panik ketika tiba-tiba melihat ribuan obor menyala yang mengelilingi tempat mereka. Namun, dengan senyumnya yang selalu menghias mukanya yang bulat dan gemuk, Balutin berhasil menyuruh anak buahnya berlaku tenang. Mereka diperintahkan untuk memasang serta memegang obor pula, kemudian dia lalu berdiri di depan barisannya menanti kedatangan musuh.

Dengan tindakan gagah, pedang di pinggang dan bulu sayap garuda menghias topinya, tanda bahwa ia adalah seorang perwira Sayap Garuda tingkat tertinggi, Lui Siok In diikuti oleh perwira-perwira lain dan Beng Kong Hosiang, maju menghampiri Balutin dan berkata dengan suara lantang,

“Hai, tentara Turki! Kalian telah melanggar wilayah kami dan karena sekarang kamu telah dikurung dan tak berdaya lagi, maka lebih baik kamu menyerah saja agar supaya menjadi orang-orang tawanan yang akan kami perlakukan dengan baik-baik!”

Di bawah penerangan obor di sekeliling mereka yang dipegang oleh tentara kedua belah fihak, Balutin kelihatan seperti seorang raksasa pendek. Pendeta Turki ini lalu melangkah maju dan sambil tertawa ia menuding ke arah Lui Siok In dan berkata,
“Hai, Perwira muda! Siapakah yang menjadi pemimpin besar barisanmu ini? Suruhlah dia sendiri maju, dan jangan majukan segala perwira hijau untuk bicara dengan aku!”

Mendengar bahwa dirinya disebut ‘perwira hijau’ oleh pengemis jembel yang amat gemuk ini, tentu saja Lui Siok In menjadi marah.

“Bangsat jembel, siapakah kamu?”

Balutin tertawa bergelak sambil memegangi perutnya. “Kau mau tahu aku siapa? Akulah pemimpin besar barisan Turki! Akulah Balutin atau bisa juga kau sebut Pouw Lojin! Anak muda, panggillah keluar pemimpin besarmu agar dapat bicara dengan aku!”

Lui Siok In terkejut mendengar bahwa yang berdiri di depannya seperti seorang pengemis jembel ini adalah Balutin sendiri, tokoh yang amat terkenal sejak tentara Turki menyerbu melalui Mongol. Nama Balutin ini pernah disebut-sebut oleh kaisar sendiri ketika memberi perintah kepadanya untuk memimpin barisan, karena kaisar pun sudah mendengar dari Pangeran Vayami yang sangat memuji-muji Balutin sebagai orang gagah dan pemimpin besar.

Lui Siok In tidak sudi memperlihatkan kelemahan dan kejeriannya, maka sambil tertawa ia pun berkata,

“Aha, pemimpin besar tentara Turki yang bernama Balutin dan yang disohorkan sangat gagah perkasa itu tak tahunya hanya seorang pengemis jembel yang terlantar. Ha-ha-ha! Ketahuilah, Jembel gemuk, akulah pemimpin barisan ini dan namaku adalah Lui Siok In. Lebih baik kau menyerah saja agar kau dapat diberi makan enak dan tidak usah mampus di ujung senjata!”

Balutin memandang dengan rasa heran dan hampir tidak percaya bahwa panglima besar tentara Tiongkok hanyalah seorang perwira muda ini. Ia lalu berkata menghina,
“Agaknya Tiongkok telah kehabisan orang gagah maka terpaksa memajukan kau sebagai panglima. Mari, hendak kulihat sampai di mana kepandaianmu!'

Sambil berkata demikian, Balutin menengok ke arah pohon yang tumbuh di dekat sana. Daun-daun pohon itu bergantungan di atasnya dan dia kemudian menggerakkan kedua tangannya menampar ke arah daun-daun pohon itu.

Angin besar keluar dari kedua lengannya yang dipenuhi tenaga khikang itu dan beberapa helai daun di pohon itu lantas rontok dan melayang ke bawah! Balutin masih menggerak-gerakkan kedua tangannya dan daun-daun pohon yang melayang ke bawah itu kelihatan bergerak-gerak di udara akan tetapi tak dapat melayang turun, seakan-akan tertahan oleh tiupan dari bawah dan kini bermain-main di udara bagaikan hidup!

Lui Siok In merasa terkejut sekali dan ia mengerti bahwa Balutin sedang mempergunakan kepandaian khikang yang disebut Mempermainkan Daun Rontok! Ia juga maklum bahwa daun-daun ini biar pun ringan, akan tetapi dapat digerakkan dengan tenaga khikang dan dapat dipakai menyerang lawan seperti senjata-senjata rahasia hebat! Di Tiongkok juga terdapat ilmu ini yang dipelajari sambil menggunakan tenaga khikang dan angin gerakan tangan dapat diarahkan kepada daun-daun itu sehingga daun-daun itu dapat digerakkan ke mana saja menurut kehendak orang.

Benar saja sebagaimana dugaan Lui Siok In. Tiba-tiba saja Balutin lalu membuat gerakan dengan kedua telapak tangannya dan daun-daun itu dari atas langsung menyambar turun hendak menyerang tubuh Lui Siok In. Perwira muda ini bukan orang sembarangan dan ia juga memiliki kepandaian tinggi. Kalau ia tidak lihai, mana ia bisa diterima menjadi kepala pengawal pribadi kaisar.

Dia kemudian berseru keras dan membuat gerakan pula dengan jari-jari tangannya yang ditelentangkan. Dari kedua telapak tangannya ini keluarlah tenaga khikang yang hebat pula dan aneh. Daun-daun yang tadinya meluncur dari atas kini melayang naik kembali, dan kemudian terapung-apung di tengah udara.

Pertempuran dahsyat dan adu tenaga khikang ini berlangsung lama serta menegangkan sehingga semua tentara yang memegang obor dan menyaksikan pertandingan hebat ini menahan napas. Kedua panglima itu berhadapan dengan mata saling memandang dan dua tangan bergerak-gerak serta diulur ke depan seakan-akan dua orang pengemis yang sedang minta sedekah, sedangkan daun-daun itu terus melayang-layang di tengah udara, sebentar menyambar turun, sebentar melayang naik kembali.

Akan tetapi, akhirnya ternyata bahwa Lui Siok In kalah tinggi kepandaiannya dan tenaga khikang-nya masih kalah setingkat oleh Balutin yang lihai itu. Beberapa kali kedua orang itu berseru mengerahkan tenaga, dan perlahan tapi tentu, kedua tangan Lui Siok In mulai gemetar, sedangkan pada mukanya yang pucat itu mengucur peluh membasahi jidat dan pipinya. Daun-daun yang bergerak-gerak di udara itu mulai mendesak turun dan semakin mendekati kepala Lui Sok In.

Perwira she Lui itu maklum bahwa apa bila adu khikang ini diteruskan, keadaannya akan berbahaya sekali. Maka secepat kilat dia lantas membuat gerakan Ikan Gabus Melompat Tinggi, menjatuhkan diri ke belakang sambil membuat gerakan berjungkir balik, lalu cepat menjatuhkan diri pula sambil bergulingan di atas tanah.

Dia memang harus menggunakan gerakan ini, karena kalau tidak dia akan terpukul oleh tenaga khikang yang telah menekan dan mendesaknya. Dengan cara bergulingan itu dia memulihkan aliran darahnya kembali dan membebaskan dia dari serangan daun-daun itu yang lalu meluncur dan jatuh ke atas tanah.

Balutin tertawa bekakakan sambil bertolak pinggang. “Ha-ha-ha-ha! Hanya begitu sajakah kepandaianmu, Perwira muda? Dan tadi kau berani bersombong hendak menawan aku? Ha-ha-ha!”

“Balutin jembel busuk, jangan sombong!” teriak Lui Siok In dengan marah sekali dan dia lalu mencabut pedang dan menyerang Balutin dengan hebat.

Balutin hanya tertawa dan dia memberi tanda ke belakang sambil mengelak ke samping. Salah seorang pembantunya segera melompat dan melemparkan sebatang tongkat yang panjang dan besar kepada Balutin. Setelah Balutin menerima senjatanya ini ternyata oleh Lui Siok In bahwa senjata itu adalah sebatang tongkat yang nampaknya berat sekali dan entah terbuat dari apa, karena kekuning-kuningan dan berkilau bagaikan emas.

Maka keduanya kemudian bertanding hebat sekali dan para tentara yang tadinya hanya bersorak sorai saja menyaksikan pertandingan ini, lalu bergerak maju semakin mendekat! Perwira-perwira kedua belah fihak sudah melompat maju dan pertandingan semakin seru hingga akhirnya kedua barisan maju saling gempur menimbulkan suara hiruk-pikuk!

Ujung pedang, golok dan lain-lain senjata berkelebat dan berkilauan di bawah sinar obor, dan lantas terdengar pekik jerit kemenangan tercampur keluh kesakitan. Darah mengucur keluar bersama peluh kemudian membasahi tanah yang terpaksa harus menerima segala kengerian yang dilakukan oleh manusia-manusia tu!

Balutin benar-benar tangguh sekali. Baru bertempur beberapa puluh jurus saja Lui Siok In maklum bahwa ia tak akan dapat mengalahkan pendeta gemuk ini, maka ia lalu berteriak memberi perintah sehingga beberapa orang perwira maju mengeroyok. Juga Beng Kong Hosiang tidak ketinggalan mengeroyok Balutin.

Kepandaian Beng Kong Hosiang setingkat dengan kepandaian Lui-ciangkun, maka tentu saja Balutin mulai terdesak ketika dia pun turut menyerbu bersama perwira-perwira lain. Akan tetapi, dua orang perwira Turki maju dengan ilmu silat mereka yang aneh dan cepat sehingga kembali pihak Balutin dan kawan-kawannya yang mendesak hebat!

Beng Kong Hosiang yang melihat betapa pihaknya terdesak hebat, menjadi marah sekali. Ia lalu memutar-mutar senjatanya yang istimewa, yaitu pacul yang bergagang bengkok itu dan menyerang Balutin dengan sepenuh tenaga. Memang sejak tadi yang diperhatikan oleh Balutin hanya Beng Kong Hosiang yang kini menyerangnya dengan ganas, maka dia pun cepat menangkis dan kedua orang ini bertempur seru sekali.

Pada suatu saat, ketika Beng Kong Hosiang menyerampang kaki Balutin dengan senjata paculnya, Balutin lalu menangkis sekuat tenaga hingga terdengar bunyi keras sekali dan gagang pacul Beng Kong Hosiang telah patah! Akan tetapi, tongkat di tangan Balutin juga terlepas dari pegangan. Demikian hebat dan keras benturan tenaga itu!

Melihat betapa senjatanya telah patah, Beng Kong Hosiang lantas berseru keras dan dia menyambitkan sisa senjatanya ke arah Balutin yang mengelak cepat. Gagang pacul yang disambitkan itu meluncur cepat bagaikan sebatang anak panah terlepas dari busurnya dan dengan jitu menancap di dada seorang Turki yang bertempur di belakang Balutin!

Beng Kong Hosiang masih marah dan bagaikan seekor banteng terluka, ia lalu menubruk maju ke arah Balutin dengan Eng-jiauw-kang atau Cengkeraman Kuku Garuda! Tangan kirinya mencengkeram ke arah dada dan tangan kanannya ke arah leher lawan!

Serangan ini hebat sekali. Balutin berseru keras, menundukkan kepala untuk menghindari serangan leher dan serangan tangan pada dadanya ia tangkis dengan tangan kiri. Akan tetapi, gerakan Beng Kong Hosiang cepat dan ganas sekali sehingga ketika lengan kiri Balutin menangkis, maka tangan kirinya itu berhasil pula mencengkeram lengan tangan Balutin yang menangkis! Balutin berseru kesakitan dan tangan kanannya lalu memukul ke dada lawan.

“Bukkk!”

Terdengar suara keras ketika pukulan tangan ini dengan tepat menghantam dada Beng Kong Hosiang. Pukulan ini keras sekali datangnya hingga dari mulut Beng Kong Hosiang keluar darah segar dan tubuh hwesio itu langsung terpental ke belakang dalam keadaan tidak bernyawa lagi! Akan tetapi, cengkeraman tangannya pada lengan kiri Balutin masih belum terlepas sehingga tubuh Balutin terbawa maju.

Balutin cepat sekali menggunakan dua jarinya mengetuk sambungan siku lawannya yang telah mati itu. Ketika kena totokan ini, urat lengan Beng Kong Hosiang yang telah kaku itu menjadi mengendur dan pegangan atau cengkeramannya terlepas hingga tubuhnya lalu menggelinding ke bawah.

Balutin lalu memandang ke arah lengan kirinya yang sudah menjadi matang biru karena cengkeraman lawan tadi! Dia menggeleng-geleng kepala dan kagum akan ketangguhan Beng Kong Hosiang. Luka pada lengan kirinya tidak berbahaya, maka dia lalu mengambil senjatanya lagi dan kembali mengamuk hebat. Banyak perwira roboh di bawah pukulan tongkatnya.

Sementara itu, tentara Tiongkok yang kurang terlatih oleh karena kaisar dan para perwira selama ini hanya ingat bersenang-senang saja, tak kuat pula menghadapi tentara musuh. Apa lagi mereka baru habis melakukan perjalanan sehingga keadaan mereka masih lelah sekali, sedangkan pihak musuh sudah berhari-hari beristirahat di sana, maka meski pun jumlah mereka lebih besar, namun korban yang jatuh di pihak mereka juga lebih banyak.

Melihat kerugian yang diderita oleh pihaknya dan melihat pula kelihaian Balutin, Lui Siok In segera memberi perintah mundur, sedangkan dia sendiri pun lalu melompat mundur. Tentara Tiongkok menarik diri dan mundur. Beberapa orang perwira segera diutus untuk mencari bala bantuan!

Tentara Turki sengaja tidak mau mengejar oleh karena mereka mempunyai tugas yang lebih penting, yakni menyelesaikan pembuatan perahu untuk dipakai menyeberang dan mengurus korban-korban yang roboh di pihak mereka. Mereka hanya berjaga-jaga saja kalau-kalau pihak musuh datang menyerbu lagi.

Akan tetapi, oleh karena bala bantuan yang diharapkan masih jauh dan belum tentu akan dapat segera datang, maka pihak Turki mendapat kesempatan pula untuk menyelesaikan pembuatan perahu dan mereka lalu beramai-ramai menurunkan perahu-perahu itu ke air dan mulai berlayar! Beberapa orang kawan Yousuf yang dahulu bersama-sama pergi dan mendapatkan Pulau Emas itu, menjadi penunjuk jalan.

Ketika bala bantuan yang diharapkan datang dari daerah yang jauh letaknya dari tempat itu, pihak tentara kerajaan pun langsung mempergunakan perahu-perahu untuk mengejar sehingga terjadilah pengejaran ramai di atas laut. Akan tetapi perahu-perahu Tiongkok ini terlambat dua hari sehingga telah tertinggal jauh…..
********************
Dengan mempergunakan sebuah perahu besar dan mewah, Pangeran Vayami, pangeran bangsa Mongol yang menjadi pemimpin Agama Sakya Buddha itu berlayar ditemani oleh Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianjin. Di atas perahu besar ini juga sudah disediakan dua buah perahu-perahu kecil untuk keperluan khusus dan perahu ini berlayar cepat ke tengah samudera.

Ketika terjadi pertempuran pada malam hari itu, Pangeran Vayami dan Hai Kong Hosiang bisa melihat dari atas perahu mereka. Akan tetapi mereka hanya melihat obor menerangi seluruh pantai dan mendengar suara teriakan mereka yang berperang. Secara diam-diam Pangeran Vayami bersorak girang di dalam hatinya oleh karena tipu dayanya berhasil baik. DIa sudah memberi perintah kepada anak buahnya, yaitu pendeta-pendeta Sakya Buddha untuk dengan diam-diam menuju ke Pulau Emas yang diperebutkan itu.

Tipu daya Pangeran Vayami amat jahat dan licin. Ia memerintahkan para pengikutnya itu untuk mengangkut harta benda berupa emas yang berada di pulau itu. Sesudah berhasil mencari dan mengangkutnya ke perahu, para pendeta itu diharuskan membakar sebuah telaga yang mengandung minyak bakar agar pulau itu terbakar habis!

Sebetulnya, pada saat mendengar akan adanya Pulau Emas itu, Pangeran Vayami sudah pernah pergi menyelidiki dan dia mendapat kenyataan bahwa pada malam hari pulau itu mengeluarkan cahaya berkilauan dan terang sekali, seakan-akan sekujur gunung di pulau itu terbuat dari pada emas yang bersinar gemilang.

Akan tetapi, ketika ia mendarat di pulau itu, ia tidak bisa mendapatkan di mana adanya emas yang bercahaya pada waktu malam itu, bahkan yang didapatkannya hanya sebuah telaga kecil yang airnya berkilauan dan berwarna kehitam-hitaman. Untuk penyelidikan, ia mengambil sebotol air dan ketika pada malam harinya dia membuat penerangan, hampir saja tangannya terbakar. Tangan yang masih basah terkena benda cair itu tercium api, lalu bernyala hebat!

Ia tidak tahu bahwa pulau itu mengandung minyak tanah dan hanya menduga benda cair di telaga itu adalah air mukjijat yang mudah terbakar. Ia lalu menyulut air di dalam botol itu yang segera berkobar dan terbakar dengan sangat mudahnya. Oleh karena inilah, dia menggunakan tipu daya untuk membakar telaga itu apa bila emas sudah didapatkan oleh kaki tangannya, agar semua orang yang berada di pulau itu dan hendak mencari emas, termakan habis oleh api yang membakar pulau dan anak buahnya dapat melarikan emas itu dengan aman!

Tentu saja tipu dayanya ini tidak diberi tahukan kepada Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianjin, oleh karena ia pun maklum bahwa kedua orang tua luar biasa ini mendapat tugas untuk menjaga dirinya, dan ia dapat menduga pula bahwa kaisar telah mencurigainya!

Pangeran Vayami sengaja memutar-mutar perahunya dan tidak mau membawa Hai Kong Hosiang menuju ke pulau itu untuk memberikan kesempatan kepada para anak buahnya. Demikianlah, perahunya hanya berputaran melewati pulau-pulau yang sangat banyak itu.

Ketika rombongan perahu Turki menyeberang ke lautan, Pangeran Vayami merasa kuatir sekali. Anak buahnya belum kelihatan kembali dan sekarang perahu-perahu Turki sudah menyeberang ke pulau itu! Hatinya menjadi gelisah sekali, terutama ketika melihat betapa rombongan perahu tentara kerajaan mengejar pula.

Celaka, pikirnya, pulau itu tentunya akan penuh dengan tentara kedua pihak dan mungkin sekali akan terjadi perang hebat di pulau itu. Lalu bagaimana anak buahnya akan dapat bekerja dengan baik?

Ia ingin sekali pergi ke pulau itu untuk memimpin sendiri pekerjaan anak buahnya, akan tetapi ia tidak berdaya oleh karena selalu ditemani oleh Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianjin. Tiba-tiba Pangeran Vayami yang cerdik ini mendapatkan akal baik.

Pada saat itu, Hai Kong Hosiang juga sedang berdiri di kepala perahu dan melihat betapa perahu-perahu Turki telah mendahului berlayar dan kemudian dikejar oleh perahu-perahu tentara kerajaan. Hwesio ini memandang dengan penuh rasa khawatir. Ia dapat menduga bahwa peperangan semalam tentu dimenangkan oleh pihak musuh, kalau tidak demikian tentu musuh tak akan dapat menyeberang!

”Hai Kong Bengyu…,” Pangeran Vayami berkata. ”Apakah kau dapat menduga apa yang menjadikan kegelisahan hatiku?”

Hai Kong Hosiang sebenarnya dapat menduga bahwa Pangeran Mongol ini tentu menjadi gelisah dan kuatir melihat pergerakan barisan Turki itu, akan tetapi ia pura-pura tidak tahu dan menggelengkan kepala.

“Hai Kong Bengyu, tidakkah kau melihat betapa barisan Turki sudah mempergunakan perahu-perahu dan menyeberang ke pulau-pulau? Ini berarti bahwa barisan kerajaanmu itu telah kalah perang! Dan apakah kau tega melihat hal itu terjadi begitu saja? Kurasa di pihak barisan Turki terdapat orang-orang pandai, maka memang sebaiknya kau bersama supek-mu tinggal saja di sini.”

Di samping mencela, Pangeran Vayami juga sengaja membakar panas hati pendeta itu. Akan tetapi Hai Kong Hosiang hanya diam saja, seolah-olah tidak mengerti akan maksud sindiran Pangeran Vayami.

”Untung sekali kau berada di sini, Hai Kong Bengyu, kalau kau ikut menyerbu tentu kau berada dalam bahaya. Aku mendengar bahwa panglima Turki yang bernama Balutin atau Pouw Lojin itu sangat sakti dan lihai hingga kurasa tidak ada orang Han (Tionghoa) yang mampu mengalahkannya!”

Hai Kong Hosiang tak dapat menahan sabarnya lagi dan dia memandang kepada Vayami dengan mata mendelik. Akan tetapi Vayami sama sekali tidak mempedulikannya, bahkan berlaku seakan-akan tidak melihat kemarahan Hai Kong Hosiang, dan ia lalu menambah omongannya seperti berikut,

“Sungguh celaka! Aku mendengar bahwa seheng-mu yang bernama Beng Kong Hosiang juga ikut dalam barisan kerajaan! Jangan-jangan Seheng-mu terkena celaka, oleh karena aku merasa ragu-ragu apakah dia sanggup menghadapi Balutin yang sakti itu?”
“Vayami! Kau sungguh-sungguh memandang rendah kekuatan kami! Kau kira aku takut kepada segala macam orang seperti Balutin itu? Baik! Aku dan Suhu-ku akan menyusul dan menghancurkan mereka itu, anjing-anjing bangsa asing yang kurang ajar!” Di dalam makian ini, otomatis Vayami terkena dimaki juga, karena bukankah ia pun di hadapan Hai Kong Hosiang merupakan orang asing pula?

Hai Kong Hosiang segera memberi tahu kepada supek-nya yang gagu itu, dan Kiam Ki Sianjin mengangguk-angguk menyatakan setuju untuk menggempur barisan Turki itu. Hai Kong Hosiang kemudian menurunkan sebuah dari pada perahu kecil yang berada di situ, kemudian ia menghampiri Vayami dan berkata,
“Pangeran Vayami, aku dan Supek akan pergi dulu, dan kau...” Setelah berkata demikian, secepat kilat Hai Kong Hosiang mengulurkan tangan menotok.

Vayami terkejut sekali, akan tetapi terlambat, oleh karena jari tangan Hai Kong Hosiang sudah menotok jalan darahnya dengan tepat hingga pangeran itu roboh terduduk dengan tubuh lemas dan tak mampu bergerak lagi.

“Maaf, Pangeran Vayami. Aku terpaksa melakukan ini untuk menjaga agar kau tidak bisa sembarangan bergerak.” Hai Kong Hosiang lalu tertawa bergelak-gelak dengan girangnya dan Vayami terpaksa tak dapat berdaya sesuatu dan hanya memandang keberangkatan dua orang itu dengan hati gemas dan mendongkol sekali.

Sambil tertawa-tawa puas melihat hasil kecerdikannya, Hai Kong Hosiang serta Kam Ki Sianjin lalu mendayung perahu kecilnya menuju ke arah pulau di mana kedua barisan itu menuju. Di atas pulau itu telah terjadi kembali pertempuran hebat antara barisan kerajaan yang telah mendapat bala bantuan dengan pasukan Turki.

Akan tetapi, kembali Balutin mengamuk sehingga puluhan prajurit kerajaan tewas dalam tangannya. Banyak perwira mengeroyoknya, akan tetapi tak ada seorang pun yang dapat menandingi kelihaian pendeta gemuk ini.

Ketika sampai di tempat pertempuran, Hai Kong Hosiang mendengar mengenai kematian suheng-nya di tangan Balutin, maka bukan kepalang marahnya. Sambil mencabut keluar tongkat ularnya, ia melompat dan menerjang Balutin sambil berteriak,
“Balutin bangsat besar! Akulah lawanmu!” Ia lalu menyerang dengan hebat sekali.

Balutin terkejut melihat sepak terjang pendeta ini dan melawan dengan hati-hati. Mereka berdua ternyata merupakan tandingan yang sangat setimpal dan seimbang, baik dalam kepandaian mau pun dalam kehebatan tenaga mereka.

Tak seorang perwira dari kedua pihak berani maju mendekat oleh karena beberapa orang perwira yang mencoba untuk membantu kawan, ternyata baru beberapa gebrakan saja telah roboh dan tewas oleh amukan kedua orang yang sedang bertempur sengit ini.

Keduanya mengeluarkan seluruh kepandaian serta tenaganya. Ada pun Kiam Ki Sianjin yang telah tua itu hanya memandang dan menonton dari pinggir saja, akan tetapi dengan penuh perhatian dan siap menolong apa bila Hai Kong Hosiang berada dalam bahaya…..

********************
Perahu besar Vayami yang ditinggal seorang diri terapung-apung di atas laut, terdampar ombak dan kebetulan sekali mendekati pulau itu. Mendadak kelihatan perahu kecil yang cepat sekali majunya dan perahu ini bukan lain adalah perahu yang ditumpangi oleh Cin Hai, Ang I Niocu, Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu.

Melihat perahu besar yang sedang terombang-ambing seakan-akan tidak ada orang yang mengemudikannya itu, Cin Hai dan Ang I Niocu segera melompat ke atas perahu itu dan meninggalkan tosu serta hwesio itu di dalam perahu kecil.

Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Vayami duduk tak bergerak bagaikan patung batu. Juga Vayami sangat terkejut melihat kedua orang ini, akan tetapi dia hanya dapat duduk tanpa mengeluarkan suara apa-apa. Cin Hai maklum bahwa pangeran ini berada di bawah pengaruh totokan, maka dia lalu mengulurkan tangan memulihkan totokan yang mempengaruhi tubuh Pangeran Vayami.

Pangeran Vayami cepat berdiri menjura dengan hormat sekali kepada Cin Hai dan Ang I Niocu.

“Terima kasih, Taihiap. Syukurlah engkau datang menolong, kalau tidak entah bagaimana dengan nasibku yang buruk ini.” Sambil berkata demikian, dia mengerling kepada Ang I Niocu dengan bibir tersenyum, akan tetapi hatinya berdebar khawatir dan takut!

Cin Hai dan Ang I Niocu merasa amat sebal dan benci melihat pangeran ini, akan tetapi mereka berdua tertarik untuk mengetahui apakah yang sedang dilakukan oleh pangeran aneh dan licin ini di atas perahu di dekat Pulau Emas itu.

“Bagaimana kau bisa berada di sini seorang diri dan mengapa dalam keadaan tertotok orang? Siapakah yang melakukan itu dan apa pula maksudmu berada di sini?” tanya Cin Hai tanpa memakai banyak peradatan lagi.

Pangeran Vayami menghela napas dan dia mengebut-ngebutkan pakaiannya yang indah model bangsawan Han itu. “Dasar Hai Kong Hosiang yang jahat dan berhati palsu!”

Cin Hai girang sekali mendengar nama itu disebut-sebut. “Eh, apakah bangsat Hai Kong Hosiang berada di sini? Katakanlah di mana dia!”

Vayami menghela napas dan memutar otaknya yang licin dan cerdik. Ia maklum bahwa di antara Hai Kong dengan anak muda ini tentu terdapat permusuhan besar sekali sehingga pemuda ini selalu berusaha membunuhnya, dan dia teringat pula bahwa dulu Cin Hai di perahunya pernah memberitahu bahwa Hai Kong Hosiang adalah musuh besarnya. Maka ia segera mengarang sebuah alasan untuk mengadu domba lagi demi keuntungan dirinya sendiri.

“Sebagaimana kau ketahui, Hai Kong Hosiang membawaku untuk menemui kaisar. Akan tetapi hwesio itu mendengar bahwa aku mengetahui tentang Pulau Emas di laut ini, lalu timbul hati jahatnya dan bersama Supek-nya yang gila dan gagu itu, dia memaksa aku mengantarkan mereka berdua ke sini! Akan tetapi setelah sampai di sini dan mengetahui tempat itu, dia lantas menotokku dan mencuri perahu kecilku, kemudian bersama dengan Supek-nya dia lalu menuju ke sana!”

Mendengar tentang Pulau Emas ini tiba-tiba saja Ang I Niocu dan Cin Hai teringat kepada si tosu dan si hwesio yang tidak kelihatan lagi, dan ketika mereka memandang ternyata perahu kecil itu telah bergerak maju dan telah jauh meninggalkan tempat itu!

”Hai...!” Ang I Niocu berteriak marah ”Kembalilah kalian!”

Akan tetapi dari jauh kedua pendeta hanya melambaikan tangan saja, si hwesio tetap tertawa dan si tosu tetap mewek! Ang I Niocu marah sekali dan hendak menggunakan perahu kecil yang berada di perahu besar Vayami itu untuk mengejar, akan tetapi Vayami mengangkat kedua tanganya dan berkata mencegah,

“Lihiap, jangan mengejar. Mereka akan pergi ke Kim-san-to, biarlah mereka ikut dibakar hidup-hidup!”

Ang I Niocu dan Cin Hai terkejut, cepat memandang kepada pangeran yang tersenyum-senyum girang itu dengan heran. Pada waktu itu, hari telah mulai gelap dan angin bertiup kencang.

“Pangeran Vayami, apa maksudmu dengan ucapan tadi?” tanya Cin Hai dan Ang I Niocu yang tidak jadi mengejar kedua pendeta itu oleh karena dia pun tidak mempunyai urusan dengan mereka. Tadi ia hendak mengejar hanya karena merasa marah saja dan kini dua orang pendeta itu telah lenyap dan tak tampak lagi pula.

Vayami tersenyum dan berkata, “Sebelum aku menceritakan kepada kalian, lebih dahulu bantulah aku memasang layar ini sebab aku hendak menunjukkan sebuah pemandangan indah kepada kalian!”

Cin Hai lalu membantunya memasang layar dan sebentar saja perahu besar itu bergerak laju ke kanan. Ternyata Vayami yang juga pandai mengemudikan perahu, telah memutar perahunya mengelilingi Pulau Kim-san-to. Dan sesudah melakukan pelayaran lebih dari dua jam, kini perahu itu berada di belakang pulau.

“Nah, kalian lihat itu!” kata Pangeran Vayami menunjuk ke pulau.

Ang I Niocu dan Cin Hai cepat memandang dan mereka berdua menjadi amat tercengang melihat pemandangan yang mereka lihat di depan mereka. Di atas Pulau Kim-san-to itu kelihatan sebuah bukit yang menjulang tinggi dan berujung runcing. Kini di dalam gelap senja, bukit itu nampak bercahaya dan seakan-akan mengeluarkan sinar yang berkilauan! Puncak bukit itu nampak nyata berwarna putih kuning kemerah-merahan bagaikan emas murni, dan di bawah bukit membentang pohon-pohon yang gelap dan hitam.

Ang I Niocu berdiri di pinggir perahu dengan penuh takjub sehingga untuk beberapa lama gadis itu berdiri tak bergerak laksana patung! Sementara itu Cin Hai yang dapat menekan perasaan heran dan kagetnya, segera minta keterangan dari Vayami!

“Ketahuilah, Taihiap, inilah Bukit Emas yang dicari-cari oleh mereka semua! Tentu kau juga sudah melihat bahwa tentara-tentara Turki dan tentara kerajaan telah saling gempur dan kini pun sedang bertempur mati-matian di atas pulau itu untuk memperebutkan Bukit Emas itu. Semua orang yang berjumlah ribuan itu, mereka berebut mati-matian untuk memiliki Bukit Emas. Akan tetapi mereka tidak tahu bahwa mereka sudah berada di tepi neraka. Ha-ha! Juga Hai Kong yang jahat itu sebentar lagi takkan dapat menyombongkan kepandaiannya karena ia pun akan mati terpanggang api, di pulau itu, ha-ha-ha!”

Mendengar keterangan ini, Cin Hai merasa heran sekali. Dia lalu membentak, “Pangeran Vayami! Kau jelaskanlah semua ini kepadaku! Apakah maksudmu?”

Sesudah berusaha keras untuk menekan kegirangan dan kegelian hatinya yang hendak tertawa saja, Vayami lalu berkata lagi,

“Dengarlah, Taihiap dan kau juga, Lihiap. Kami orang-orang Mongol tidaklah segoblok orang-orang Turki atau orang-orang dari kaisarmu itu. Aku tidak sudi harus bersusah payah mengerahkan barisan tentara untuk memperebutkan pulau ini. Sebentar lagi, pulau ini akan menjadi lautan api dan semua emas akan berada di tanganku. Ya, semua emas akan berada di tangan Pangeran Vayami!”

Cin Hai makin heran dan ia memandang Pangeran Pemuka Agama Sakya Buddha yang muda dan tampan ini. Ia melihat bahwa pakaiannya pemberian kaisar sebagai hadiah dan tanda perhahabatan, akan tetapi tetap saja mukanya masih jelas bahwa dia adalah orang Mongol.

Cin Hai sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Pangeran Vayami yang cerdik ini sengaja membawa perahunya ke tempat itu oleh karena memang ia telah berjanji kepada anak buahnya untuk menanti dengan perahu besar di tempat itu untuk menerima mereka setelah selesai mengerjakan tugas mereka.

Pangeran Vayami memang mempunyai pikiran yang cerdik sekali. Ia maklum bahwa Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianli lihai sekali, maka sesudah melihat munculnya Cin Hai dan Ang I Niocu, ia berniat menarik kedua orang ini untuk menjadi pembela-pembelanya dan untuk menghadapkan dua orang gagah ini kepada Hai Kong Hosiang apa bila hwesio itu muncul untuk mengganggunya.

Oleh karena ia menganggap bahwa kedua orang muda gagah ini tidak memiliki hubungan sesuatu dengan Turki mau pun dengan tentara kerajaan, maka tanpa ragu-ragu lagi dia segera melanjutkan ceriteranya dengan suara yang jelas menyatakan kebanggaan akan kecerdikannya.

“Orang-orang Turki dan barisan kerajaan kaisar sedang memperebutkan harta di pulau itu, dan oleh karena mereka sedang bertempur mati-matian, mereka sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mencari emas itu yang belum dapat diketahui secara pasti di mana tempatnya. Dan diam-diam aku telah menyuruh anak buahku yang tiga puluh enam orang banyaknya untuk mencarinya semenjak tiga hari sebelum tentara-tentara kedua pihak itu tiba dan telah memerintahkan apa bila mereka telah dapat mengangkut harta itu, mereka segera harus membakar sebuah danau di pulau itu yang airnya dapat terbakar seperti minyak domba! Bahkan aku memerintahkan supaya seluruh hutan di situ dibakar semua sampai habis, baru mereka mengangkat kaki dan mengangkut semua emas itu ke sini!”

Cin Hai dan Ang I Niocu bergidik memikirkan kekejian orang ini, dan Cin Hai yang teringat kepada Lin Lin tiba-tiba menjadi pucat wajahnya dan saling pandang dengan Ang I Niocu. Juga Ang I Niocu teringat bahwa Lin Lin diduga pergi ke pulau itu, maka cepat bertanya,

“Bilakah kiranya perintahmu yang kejam itu dilakukan?”

Vayami memandang dengan muka berseri. “Malam ini, tepat tengah malam, jadi tak lama lagi!” katanya sambil memandang ke arah pulau.

Diam-diam pangeran ini juga merasa sangat khawatir oleh karena orang-orangnya yang sedang ditunggu-tunggu belum kelihatan muncul seorang pun.

Ang I Niocu dan Cin Hai merasa makin terkejut. “Vayami, tahukah kau di mana adanya seorang Turki yang bernama Yousuf?” tanya Cin Hai yang teringat bahwa Lin Lin, Ma Hoa, dan Nelayan Cengeng berlayar dengan orang Turki ini dan nama ini dia dengar dari dua orang nelayan yang menceritakan pengalaman mereka dulu.

Vayami berubah air mukanya mendengar nama ini. Dia pernah bertemu dengan Yousuf dan tahu akan kelihaian orang Turki ini yang sebenarnya menjadi penemu pertama dari Kim-san-to.

“Kau mencari setan itu? Ha-ha-ha-ha! Tentu dia juga berada di pulau itu. Ya, setan yang bernama Yousuf itu pun berada di atas pulau dan sebentar lagi ia pun akan musnah!”
“Dan kawan-kawannya yang berlayar bersama dia?” tanya pula Cin Hai dengan suara gemetar.
“Kawan-kawannya?” kata Vayami yang mengira bahwa ‘kawan-kawan’ yang dimaksudkan oleh Cin Hai ini tentulah orang-orang Turki lainnya. “Ha-ha-ha-ha! Semua kawan-kawan Yousuf juga akan terpanggang mampus di pulau itu.”
“Bangsat besar!” Tiba-tiba Cin Hai memaki dan ketika tangannya menampar, pipi Vayami kena ditampar hingga giginya rontok dan tubuhnya terguling ke atas papan perahu.

Pangeran ini mengeluh dan merintih-rintih sambil mengusap-usap pipinya yang menjadi matang biru dan memandang kepada Cin Hai dengan heran.

“Niocu, jaga bangsat ini! Aku hendak menyusul Lin Lin!”
“Jangan, Hai-ji! Pulau itu sebentar lagi akan terbakar dan siapa tahu, danau berminyak itu bisa meledak'!' kata Ang I Niocu dengan wajah pucat.
“Lin Lin berada di sana, karena itu bahaya besar apakah yang dapat mencegah aku pergi menolongnya?” tanya Cin Hai dengan napas memburu dan ia lalu pergi ke perahu kecil dan hendak melemparnya ke air untuk dipakai menyusul ke Pulau Kim-san-to.

Akan tetapi, pada saat itu pula dia melihat bahwa perahu itu telah dikelilingi oleh banyak perahu-perahu kecil dan mendadak dari perahu-perahu kecil itu berlompatan naik tubuh orang-orang tinggi besar yang berjubah merah. Kiranya orang-orang ini adalah anak buah Pangeran Vayami, pendeta-pendeta Sakya Buddha yang memiliki ilmu tinggi dan yang kini berlompatan ke atas perahu besar dengan senjata di tangan. Jumlah mereka banyak sekali sehingga terpaksa Cin Hai melompat mundur ke dekat Ang I Niocu, bersiap sedia menghadapi keroyokan.

Ketika melihat bahwa tiba-tiba anak buahnya muncul, Pangeran Vayami menjadi girang sekali dan ia lalu timbul pikiran jahat. Memang hatinya amat tertarik oleh kecantikan Ang I Niocu dan kalau saja kepandaiannya lebih tinggi dari Gadis Baju Merah yang cantik jelita itu, tentu dia telah memaksa Ang I Niocu untuk menjadi isterinya. Kini melihat datangnya semua anak buahnya yang dia percaya akan dapat menundukkan kedua anak muda itu dengan keroyokan, lalu ia memerintah,

“Tangkap pemuda itu dan lempar dia ke laut! Tetapi jangan ganggu gadis itu dan tawan dia.”

Bagaikan serombongan anjing pemburu yang terlatih dan mendengar perintah tuannya, tiga puluh enam orang pendeta Sakya Buddha itu lalu menyerbu dengan mengeluarkan seruan-seruan menyeramkan. Cin Hai dan Ang I Niocu mencabut pedang masing-masing dan melakukan perlawanan dengan gagah.

Semua pendeta itu adalah orang-orang pilihan yang sengaja dibawa oleh Vayami untuk melakukan tugas pekerjaan penting, maka mereka ini rata-rata memiliki kepandaian yang tidak rendah, bahkan ilmu silat mereka yang bercorak ragam itu membuat Ang I Niocu dan Cin Hai menjadi bingung juga.

Akan tetapi kedua orang muda ini memiliki ilmu kepandaian sempurna, terutama Cin Hai. Maka, baru beberapa jurus saja mereka bertempur, dua orang pengeroyok sudah dapat dirobohkan.

Meski pun demikian, kesetiaan anak buah Pangeran Vayami terhadap pangeran itu besar sekali. Mereka tidak mundur, malah makin mendesak maju. Jangankan baru menghadapi dua orang anak muda yang lihai, biar pun harus menyerbu ke lautan api, mereka takkan segan-segan buat mentaatinya asal perintah itu keluar dari mulut Pangeran Vayami, oleh karena mereka menaruh kepercayaan penuh bahwa kesetiaan mereka ini akan diganjar hadiah Sorga ke tujuh oleh pemimpin agama itu.

Cin Hai dan Ang I Niocu menjadi serba salah. Untuk membinasakan semua pengeroyok ini bukanlah hal yang terlalu sulit bagi mereka berdua, akan tetapi hati mereka tidak tega untuk membunuh sekian banyak orang yang hanya menjalankan perintah. Dan keduanya masih merasa gelisah memikirkan nasib Lin Lin yang berada di pulau itu!

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan hebat dan tahu-tahu tiga bayangan orang meloncat ke atas perahu dan langsung mengamuk dengan hebatnya disertai suara tertawa menyeramkan! Pada saat Cin Hai memandang, ternyata bahwa yang naik adalah Hek Mo-ko, Pek Mo-ko, dan Kwee An! Ia merasa girang sekali akan tetapi berbareng juga terkejut dan heran oleh karena bagaimana pemuda itu dapat datang bersama kedua iblis ini?

Ketika melihat Pek Hek Mo-ko dan Kwee An mengamuk dan membabat semua pendeta Sakya Buddha, Cin Hai lalu melompat ke pinggir perahu dengan maksud hendak segera menyusul Lin Lin.....
Akan tetapi, ketika ia memandang, ia menjadi terkejut sekali oleh karena dalam kekalutan itu, Ang I Niocu sudah mendahuluinya dan telah melempar perahu kecil yang tadi berada di atas perahu kemudian mendayungnya sekuat tenaga menuju ke pulau yang bukitnya bersinar-sinar itu!

“Niocu, tunggu!” teriak Cin Hai.

Akan tetapi Ang I Niocu melambaikan tangan padanya sambil menjawab, “Jangan, Hai-ji. Biar aku saja yang menyusul, jangan kita berdua terancam bahaya bersama. Kau tunggu saja, aku pasti akan membawa Lin Lin kepadamu!” Setelah berkata demikian Ang I Niocu mendayung makin cepat!

Cin Hai bingung sekali dan ia cepat melihat ke bawah oleh karena teringat bahwa semua pendeta Sakya Buddha tadi datang dengan perahu-perahu kecil. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa kini tak sebuah pun perahu kecil nampak di situ, dan perahu-perahu ini sudah dipukul hancur dan tenggelam oleh Hek Pek Mo-ko dan Kwee An ketika ketiganya datang dan melompat ke atas!

Dalam kebingungannya, dan karena keadaan di situ makin gelap sehingga sukar mencari perahu kecil yang dapat membawanya ke Pulau Kim-san-to, Cin Hai lalu berlaku nekad dan mengayun dirinya ke laut! Ia mengambil keputusan bendak berenang ke arah pulau yang tak seberapa jauh itu! Ia tidak rela kalau sampai Ang I Niocu berkorban seorang diri dalam usaha menolong Lin Lin, sedangkan dia sendiri harus enak-enak menunggu!

Sementara itu, di dalam kegembiraan mereka mengamuk serta membasmi para pendeta Sakya Buddha itu, Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko tidak mempedulikan lagi hal-hal lain dan sama sekali tidak melihat Cin Hai dan Ang I Niocu. Sedangkan Kwee An yang melihat mereka, tak mengerti maksud mereka itu dan ia pun sedang dikeroyok oleh banyak lawan sehingga tidak mendapat kesempatan bertanya lagi.

Amukan Hek Mo-ko serta Pek Mo-ko hebat sekali, bagaikan sepasang naga yang haus darah. Terutama sekali Pek Mo-ko yang masih menderita duka akibat kematian puterinya, kini mengamuk dan merupakan seorang iblis tulen! Baik Hek Mo-ko mau pun Pek Mo-ko tak memiliki alasan untuk memusuhi pendeta-pendeta baju merah ini. Mereka bertempur hanya atas permintaan Kwee An yang melihat Cin Hai dan Ang I Niocu dikeroyok!

Kedua iblis ini memang suka sekali bertempur, dan asalkan mereka bisa bertempur serta membunuh banyak orang, tidak peduli lagi apa alasannya, mereka sudah cukup merasa senang dan puas! Inilah sifat aneh yang membuat kedua orang ini disebut Iblis Putih dan Iblis Hitam!

Sedangkan Kwee An yang juga tak mengerti sebab-sebab pertempuran, hanya bertindak untuk menolong kedua orang kawannya itu. Kini melihat kedua orang itu lari ke laut, dia menjadi menyesal akan tetapi tidak berdaya untuk mencegah kedua iblis itu mengamuk dan melakukan pembunuhan besar-besaran.

Tak lama kemudian, habislah ketiga puluh enam orang pendeta Sakya Buddha ini berikut Pangeran Vayami terbunuh mati semua oleh Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko! Sambil tertawa bergelak-gelak kedua iblis ini lalu menendangi mayat-mayat itu ke dalam laut.

Pangeran Vayami yang bernasib malang itu sampai tidak mengetahui bagaimana hasil dari perintahnya kepada anak buahnya untuk mencari emas itu! Kalau saja ia tahu bahwa anak buahnya tidak mendapatkan emas sepotong pun, jika dia masih hidup pun tentu dia akan jatuh binasa karena kecewa dan menyesal!

Anak buahnya ternyata tak berhasil mendapatkan sedikit pun emas di pulau itu, biar pun sudah berhari-hari mereka mencari-cari, karena di pulau itu tidak terdapat emas sepotong kecil pun! Akan tetapi, mereka mentaati perintah Pangeran Vayami dan ketika melihat peperangan hebat yang terjadi antara barisan Turki melawan barisan dari kaisar, mereka lalu membakar minyak yang memenuhi danau kecil di atas bukit itu! Danau itu kini mulai terbakar dan bernyala-nyala hebat, akan tetapi hal ini masih belum diketahui oleh kedua fihak yang mabok perang…..

********************
Selanjutnya baca
PENDEKAR BODOH : JILID-10
LihatTutupKomentar