Suling Naga Jilid 21


Gu Hong Beng melakukan perjalanan seorang diri dengan cepat. Ia telah meninggalkan gurun pasir dan kini tiba di luar sebuah dusun yang letaknya di sebelah utara Tembok Besar. Tidak jauh dari tembok itu karena tadi, ketika dia menuruni sebuah bukit, dia telah melihat tembok itu melingkar-lingkar seperti seekor naga di antara pegunungan di selatan.

Melihat sebuah dusun yang berada di tempat terpencil ini, hati Hong Beng menjadi amat tertarik. Siapa tahu dia bisa mendapat arak atau makanan di dalam dusun itu, pikirnya. Amat menjemukan setiap hari makan bekal makanannya, yaitu roti kering dan daging kering. Juga dia ingin sekali minum arak setelah berpekan-pekan hanya minum air saja.

Selagi dia hendak memasuki dusun itu melalui pintu gerbangnya yang rusak tiba-tiba dia mendengar teriakan suara wanita. Hong Beng melihat seorang laki-laki bangsa Mongol sedang memondong tubuh seorang gadis Mongol dan agaknya gadis inilah yang tadi mengeluarkan teriakan.

Hanya teriakan pendek karena kini gadis itu tidak dapat berteriak lagi. Sebuah tangan pemondongnya menutup mulutnya dan biar pun gadis itu meronta-ronta, namun sama sekali ia tidak mampu melepaskan diri dari pelukan laki-laki yang bertubuh besar itu, bagaikan seekor kijang dicengkeram seekor harimau yang buas. Orang Mongol itu lari keluar dari dusun, langkahnya lebar dan agaknya dia telah menculik gadis itu tanpa ada yang mengetahuinya.

Biar pun Hong Beng tidak tahu apa yang telah terjadi, namun melihat seorang gadis dilarikan seorang pria secara paksa, jiwa pendekarnya bergejolak dan dia pun cepat meloncat dan menghadang.

"Berhenti!" bentaknya dalam Bahasa Mongol yang sudah dipelajarinya dengan baik.

Orang Mongol itu memandang dengan mata merah dan beringas. Apa lagi ketika dia melihat bahwa yang menghadangnya ialah seorang pemuda Bangsa Han, bangsa yang dianggapnya sebagai musuh besar semenjak bangsanya kehilangan kekuasaannya di selatan, setelah penjajahan Mongol berakhir.

"Keparat orang Han, minggir kau dan jangan mencampuri urusanku!" bentaknya dalam Bahasa Han yang cukup baik! Memang, Bangsa Mongol banyak yang pandai berbahasa Han, hal ini tidak mengherankan jika diingat bahwa mereka menjajah Tiongkok selama dua ratus tahun!
"Lepaskan gadis itu! Tak pantas seorang laki-laki memaksa seorang gadis yang lemah!" kata pula Hong Beng sambil mengamati orang Mongol itu.

Seorang pemuda yang usianya sekitar tiga puluh tahun, memiliki tubuh raksasa yang membayangkan kekuatan raksasa pula. Otot-otot menonjol keluar dan mengembang di bawah kulitnya yang kemerahan karena terbakar matahari. Dadanya bidang dan kedua lengannya yang berotot itu nampak mengandung tenaga luar biasa.

Hal ini mudah dilihat karena pemuda Mongol itu telah menanggalkan baju atasnya yang kini diikatkan di pinggangnya. Tubuhnya yang kokoh kuat itu penuh dengan keringat yang membuat kulit tubuhnya mengkilat. Wajahnya membayangkan kekerasan hati dan keberanian, namun matanya yang agak kemerahan itu memandang beringas dan liar, dan ada sesuatu yang tidak wajar pada pandang matanya itu.

Karena marah menghadapi Hong Beng, pemuda Mongol itu lupa akan gadis yang ada dalam pondongannya dan menjadi lengah. Tangannya yang menutup mulut gadis itu mengendur dan kesempatan ini dipergunakan oleh gadis itu untuk menggigit tangan itu.

"Ughhhh...!" Orang Mongol itu terkejut dan kesakitan.

Ia lalu melemparkan tubuh gadis itu ke atas tanah. Demikian kuat lemparannya hingga gadis itu terbanting dan bergulingan. Hong Beng cepat menangkap dan mengangkatnya bangun. Gadis itu sejenak merasa nanar, tetapi ketika melihat bahwa ia telah ditolong oleh seorang pemuda Han yang tampan, ia merasa lega dan berbisik.

"Dia... dia itu gila..." Setelah berkata demikian, gadis ini lalu melarikan diri secepatnya kembali ke dalam dusun.

Hong Beng melihat betapa gadis Mongol itu cantik dan manis sekali, akan tetapi dia pun terkejut mendengar bisikan itu. Kiranya orang Mongol seperti raksasa ini adalah seorang yang gila, dan hal ini memperbesar bahaya. Melawan seorang gila amat berbahaya, karena tentu saja seorang gila berada di luar kesadarannya, dapat menjadi kuat bukan main, dan juga nekat dan tidak mengenal takut.

Melihat gadis itu melarikan diri, orang Mongol itu berseru keras dan mengejar, akan tetapi Hong Beng sudah melompat di depannya dan menghadang.

"Engkau tidak boleh kejar gadis itu!" kata Hong Beng.

Orang itu berhenti, menatap wajah Hong Beng dengan matanya yang merah kemudian mengeluarkan suara gerengan dari kerongkongannya bagaikan suara binatang buas, lalu dia pun menubruk dengan kedua lengan dipentang lebar, jari-jari tangan terbuka.

Serangan itu datang dengan mendadak dan cepat sekali, akan tetapi Hong Beng sudah siap sejak tadi. Dengan mudah dia mengelak dan menyelinap dari bawah lengan kanan lawannya. Akan tetapi orang itu membalik dan dengan kecepatan luar biasa, kini tangan kirinya menyambar untuk mencengkeram ke arah kepala Hong Beng!

"Hemm...!" Pemuda ini terkejut juga, tidak mengira bahwa lawannya ini demikian cepat gerakannya dan agaknya memiliki ilmu berkelahi yang cukup kuat dan mahir. Kembali Hong Beng mengelak dan menyampok lengan yang menyambar itu dari samping.
"Plakk!" Hong Beng mendapat kenyataan betapa kuatnya tenaga yang bersembunyi di dalam lengan yang ditangkisnya itu.

Melihat betapa orang yang diserangnya itu dapat menghindarkan diri dari serangan-serangannya, orang Mongol itu menjadi semakin marah. Matanya melotot dan merah sekali, dan kini sambil mengeluarkan gerengan-gerengan menyeramkan, dia bergerak cepat menyerang Hong Beng membabi buta! Cepat dan kuat sekali serangannya, dan bertubi-tubi karena setiap kali dielakkan atau ditangkis, dia sudah kembali menerjang dengan lebih dahsyat.
Hong Beng tidak berniat memusuhi orang ini. Dia belum tahu apa yang telah terjadi dan siapa orang ini, siapa pula gadis tadi dan mengapa pula orang ini melarikan wanita itu. Siapa tahu kalau-kalau wanita itu masih keluarganya sendiri? Lagi pula, dia tidak ingin bermusuhan dengan orang-orang Mongol sebab ia pun tahu bahwa orang-orang Mongol merasa sakit hati kepada orang Han dan kini menganggap Bangsa Han sebagai musuh mereka. Dia tidak ingin mencari gara-gara di tempat ini dan kalau dia tadi turun tangan, semata-mata karena dia ingin membebaskan seorang wanita dari tangan seorang pria yang hendak memaksanya.

Akan tetapi karena orang itu menjadi semakin ganas, serangan-serangannya menjadi makin dahsyat, Hong Beng merasa khawatir juga. Bukan tidak berbahaya kalau sampai terkena cengkeraman karena agaknya orang ini adalah ahli gulat, ilmu berkelahi Bangsa Mongol yang terkenal itu. Dia harus dapat merobohkan orang ini tanpa membuat dia menderita luka berat, pikirnya. Ketika orang itu kembali menubruk, dia menyelinap ke samping dan kakinya menendang ke arah paha dengan maksud agar orang itu roboh dan dia akan melarikan diri.

"Bukkk!"

Hong Beng terkejut sekali karena merasa betapa sepatu kakinya bertemu dengan gumpalan daging paha yang kerasnya seperti besi saja! Kiranya orang ini selain kuat dan cepat, juga tubuhnya kebal! Dia mencoba lagi dengan memukul dan menampar ke arah pundak, dada dan bahu, namun hasilnya sama. Orang itu tidak roboh, jangankan roboh, tergoyang pun tidak oleh tamparan dan pukulannya yang dilakukan cukup keras tadi.

Pada saat itu, banyak orang berlari-lari keluar dari pintu dusun dan ternyata mereka adalah sekelompok orang Mongol. Di depan sendiri berjalan seorang laki-laki setengah tua bersama gadis yang ditolong oleh Hong Beng tadi dan sekarang mereka nonton perkelahian itu dengan wajah tegang.

Karena tidak nampak sikap marah dari mereka, hati Hong Beng menjadi lega. Jelas bahwa mereka itu tidak berpihak kepada si gila dan tidak akan mengeroyoknya karena kalau hal itu terjadi, tentu dia sudah melarikan diri. Akan tetapi, dia menjadi semakin bingung. Bagaimana dia harus mengalahkan orang gila ini tanpa melukainya? Orang itu demikian cepat dan kuat, dan tubuhnya kebal bukan main. Sudah dicobanya pula untuk menampar bahkan menotok, akan tetapi hasilnya sia-sia, agaknya jalan darah orang ini terlindung oleh otot-otot kuat dan daging-daging yang keras.

Karena bingungnya, Hong Beng menjadi sedikit lengah dan tiba-tiba saja orang Mongol itu sudah menubruk dan mencengkeram lehernya! Hong Beng terkejut, membuang diri ke samping akan tetapi biar pun leher dan pundaknya luput, lengan kanannya tetap saja kena disambar dan dipegang oleh tangan kiri orang Mongol itu yang menyusul pula dengan tangan kanannya. Dipegang oleh dua tangan yang demikian kuatnya, dengan jari-jari yang panjang dan besar, Hong Beng terkejut. Dia berusaha menarik tangannya, namun lengannya seperti dijepit oleh jepitan baja yang besar dan kuat.

Agaknya, biar pun dia menarik lengannya sampai copot dari pundaknya, cekalan orang Mongol itu takkan terlepas! Dan kini, orang itu mengerahkan tenaga. Hong Beng merasa betapa lengannya itu diremas dengan kekuatan raksasa. Kiut-miut rasanya, nyeri bukan main. Daging pada lengan itu bisa hancur lebur, tulangnya bisa remuk berkeping kalau dibiarkan!

Dia cepat mengerahkan sinkang-nya melindungi lengan itu, kemudian dia mencari akal untuk dapat merobohkan orang itu dan membebaskan diri dari cengkeraman. Biar pun lengannya sudah dilindungi sinkang, kalau dilanjutkan, lengan itu bisa rusak. Akhirnya dia mendapatkan akal.

"Haiiiittt!"
Hong Beng mengeluarkan seruan nyaring dan tangan kirinya dengan cepat bergerak menyambar.
"Dukkk!"

Dengan tangan miring, Hong Beng memukul ke arah belakang telinga kanan orang Mongol itu. Begitu kena pukulan, tiba-tiba tubuh orang Mongol itu terkulai lemas dan pegangannya pada lengan Hong Beng terlepas. Pemuda ini meloncat ke belakang dan tubuh lawannya roboh terkulai dalam keadaan pingsan.

Perhitungan Hong Beng memang tepat. Biar pun pukulannya tidak dapat melukai lawan, akan tetapi pukulan sinkang itu cukup kuat untuk mengguncangkan otak dan membuat lawannya roboh pingsan!

Terdengar seruan-seruan heran dan kagum di antara para penonton yang terdiri dari orang-orang Mongol itu. Agaknya mereka merasa heran bukan main melihat ada orang yang mampu merobohkan raksasa Mongol yang gila itu tanpa melukainya sama sekali, apa lagi membunuhnya.

Orang Mongol setengah tua yang tadi berjalan di depan bersama gadis itu sekarang melangkah maju. Bahasanya cukup baik ketika dia menegur Hong Beng dalam Bahasa Han, "Orang muda, terima kasih atas pertolanganmu kepada Mayani, anak perempuan kami yang tadi akan dilarikan oleh si gila ini. Dia itu adalah keponakanku sendiri, tetapi telah beberapa bulan menderita penyakit gila. Orang muda yang gagah, perkenalkan aku adalah Agakai, ketua dari kelompok suku yang kini berada di dusun itu. Siapakah namamu, orang muda yang gagah?"

Hong Beng memandang kepada kakek setengah tua itu penuh perhatian. Seorang pria yang bersikap anggun dan gagah, kedua matanya bersinar penuh kewibawaan. Bukan laki-laki sembarangan, pikirnya. Dan gadis bernama Mayani yang ternyata adalah anak perempuan kepala suku ini, memang manis sekali. Gadis itu sekarang memandang kepadanya dengan sinar mata tajam dan mulut tersenyum ramah dan manis.

"Nama saya Gu Hong Beng, dan saya adalah seorang perantau yang sedang dalam perjalanan. Kebetulan melihat nona ini dilarikan orang, maka dengan lancang saya turun tangan membantunya, harap dimaafkan."
Agakai tertawa. "Ha-ha, engkau sungguh pandai merendahkan diri, orang muda. Mari, kami persilakan engkau untuk singgah sebentar untuk mempererat perkenalan antara kita."

Hong Beng mengerutkan alisnya. Dia tadi memang ingin sekali mencari makanan atau arak, tetapi setelah terjadi keributan itu, dia merasa lebih senang jika dapat melanjutkan perjalanannya.

Agaknya kepala suku itu sudah melihat keraguannya, maka dia pun segera berkata, "Gu-taihiap, kami mengundangmu bukan hanya sekedar mempererat persahabatan, tapi kami juga ingin mengundang taihiap menghadiri pesta pertemuan antara kami dengan beberapa orang tokoh pejuang."

"Tokoh pejuang?" Hong Beng tertarik dan merasa heran. "Siapakah mereka itu?"
"Mereka adalah pendeta-pendeta dan pertapa-pertapa yang sakti. Mereka merupakan pejuang-pejuang rakyat yang melihat betapa rakyat menderita di bawah pemerintah Mancu, mereka bergerak dan berusaha menentang pemerintah Mancu. Mereka akan mengadakan pertemuan dengan kelompok kami karena mereka menawarkan kerja sama dengan kami. Kami harap engkau suka hadir, taihiap, karena kami percaya bahwa seorang pendekar sakti sepertimu tentu dapat membantu kami dalam menentukan sikap terhadap ajakan mereka."

Hati Hong Beng jadi semakin tertarik. Ingin dia melihat siapakah mereka yang disebut pejuang-pejuang itu. Mereka itu adalah pendeta-pendeta dan pertapa-pertapa! Memang amat menarik hati. Dia juga sudah mendengar tentang para pejuang yang menentang pemerintah Mancu dan diam-diam dia menaruh hati kagum terhadap mereka, meski dia sendiri tidak berminat untuk mencampuri perjuangan yang belum dimengertinya benar.

Hong Beng menerima undangan kepala suku yang bernama Agakai itu, setelah Mayani, gadis Mongol itu membujuk dengan mengatakan bahwa ia ingin mendapat kesempatan membalas pertolongan Hong Beng dengan suguhan arak dan daging. Kelompok orang Mongol itu kembali ke dusun dan si Mongol gila tadi kini dibelenggu kaki tangannya dan dibawa masuk pula ke dalam dusun.

"Kami baru sepekan berada di sini," kata Agakai kepada Hong Beng pada saat mereka memasuki dusun. "Kami memilih tempat ini, meminjam dari orang-orang Hui, untuk bisa mengadakan pertemuan dengan para pejuang seperti telah kami rencanakan."

Dusun itu sederhana saja. Agakai berada di tempat itu bersama puterinya yang berusia sembilan belas tahun itu. Dia sendiri seorang duda berusia empat puluh lima tahun, dan dia membanggakan diri sebagai keturunan Jenghis Khan, itu raja besar dari Kerajaan Mongol ketika menjajah di selatan.

Ayahnya, mendiang Tailu-cin, dulu selalu menyatakan sebagai keturunan Jenghis Khan. Betul tidaknya, Agakai sendiri tak tahu pasti. Memang banyak dahulu raja besar Jenghis Khan mempunyai anak, banyak di antaranya di luar nikah dan tidak diakuinya, bahkan mungkin tak diketahuinya, anak-anak yang lahir dari wanita-wanita yang pernah menjadi tawanan perang dan dijadikan isteri untuk beberapa malam saja!

Hong Beng diterima sebagai tamu kehormatan, disuguhi minum susu dan arak, dan disuguhi pula makanan dari daging, yang biar pun aneh bagi lidahnya karena bumbunya berbeda dengan masakan yang biasa dimakannya, namun cukup lezat. Mayani sendiri lalu berdandan, bersama beberapa orang gadis lain lalu mengadakan pertunjukan tari dan nyanyi untuk menghormati pemuda Han yang tampan dan gagah perkasa, yang tadi telah menyelamatkannya dari tangan orang gila itu.

Ngeri ia membayangkan bagaimana akan menjadi nasibnya kalau saja ia tidak ditolong oleh Hong Beng tadi sebab si gila itu, sebulan yang lalu pernah pula melarikan seorang gadis dan tiga hari kemudian, dia ditangkap di dalam sebuah goa sedangkan gadis itu yang diperkosanya secara buas, telah menjadi mayat! Hanya karena raksasa gila itu masih keponakan kepala suku, maka dia tidak dibunuh melainkan dirantai dan disekap di belakang. Akan tetapi, pagi tadi dia dapat melepaskan diri dan hampir saja membuat korban baru atas diri Mayani, saudara misannya sendiri!

Malam hari itu datanglah tamu-tamu lain, yaitu para pejuang yang hendak mengadakan pertemuan rapat dengan Agakai dan anak buahnya. Hong Beng sebagai seorang tamu, tidak keluar menyambut, melainkan tinggal di dalam kamar yang disediakan untuknya. Setelah pertemuan dan pesta itu diadakan pada malam hari itu, barulah Hong Beng dipersilakan keluar dan menghadirinya.

Ternyata yang datang yaitu dua puluh lebih orang-orang yang berpakaian sebagai tosu, dipimpin oleh lima orang tosu tua. Mereka disambut oleh Agakai dan para pembantu ketua suku ini, dan pada malam hari itu, diadakanlah pesta pertemuan itu di pekarangan rumah besar di dalam dusun. Di tempat itu telah disediakan meja kursi dan penerangan lampu yang cukup banyak. Dusun itu sederhana, tidak ada rumah yang cukup besar di situ untuk menjadi tempat pertemuan, maka pesta pertemuan itu lalu diadakan di tempat terbuka.

Lima orang tosu itu duduk di meja besar, disambut oleh Agakai yang duduk pula di situ bersama lima orang pembantunya, yaitu mereka yang dianggap tokoh dalam kelompok mereka. Mayani duduk di barisan belakang ayahnya, tidak ikut dalam rapat, akan tetapi juga tidak menjadi pelayan, melainkan sebagai pendengar saja.

Ketika Hong Beng dipersilakan duduk, pemuda itu memandang kepada lima orang tosu tadi dengan penuh perhatian. Tiba-tiba dia terkejut karena dia mengenal bahwa dua di antara lima orang tosu itu pernah dilihatnya. Akan tetapi dia lupa lagi di mana dan kapan dia pernah berjumpa dengan dua orang tosu itu dan kedua orang tosu itu pun agaknya tidak memperlihatkan tanda bahwa mereka mengenalnya. Agakai lalu memperkenalkan Hong Beng kepada para tamunya.

"Tamu kehormatan kami yang kebetulan berada di sini adalah taihiap Gu Hong Beng ini yang tadi telah menyelamatkan puteri kami dari ancaman mala petaka. Gu-taihiap, para pendeta inilah pejuang-pejuang yang pernah kami ceritakan kepadamu."

Hong Beng memberi hormat kepada para pendeta itu yang dibalas oleh mereka, akan tetapi mereka bersikap acuh saja kepadanya. Ketika para pendeta itu bangkit membalas penghormatannya, barulah Hong Beng bisa melihat bahwa di jubah para pendeta itu, di bagian dada, terdapat lukisan-lukisannya. Tiga orang pendeta memiliki lukisan bunga teratai di dada jubah mereka, sedangkan yang dua lagi terdapat lukisan segi delapan.

Diam-diam ia terkejut. Kiranya para tosu ini adalah pendeta-pendeta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai! Memang dia tahu bahwa kedua perkumpulan ini merupakan pemberontak-pemberontak atau menurut istilah mereka adalah pejuang-pejuang, akan tetapi pejuang macam apa!

Mereka tidak segan-segan untuk mengelabui rakyat agar mendukung gerakan mereka, akan tetapi biar pun mereka memusuhi pemerintah Mancu, namun mereka pun terkenal sebagai golongan yang tidak segan melakukan segala macam kecabulan dan kejahatan demi mencapai tujuan mereka!

Orang-orang gagah dari dunia persilatan tidak suka kepada mereka dan selalu menjauhi mereka. Bahkan para pendekar yang berjiwa patriot dan turut berjuang pula menentang penjajah, merasa segan untuk bekerja sama dengan orang-orang dari Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai. Hatinya merasa tidak enak dan penuh curiga, akan tetapi Hong Beng hanya duduk diam saja memperhatikan percakapan antara mereka yang sekarang baru mulai berlangsung.

"Selamat datang dan selamat malam, para totiang yang terhormat," kata Agakai sebagai awal sambutan. "Seperti telah kita sepakati bersama, kami telah berhasil membujuk dan mengusir penghuni dusun ini, orang-orang Hui, untuk meminjamkan dusun ini kepada kami selama beberapa hari agar kita dapat mengadakan pertemuan di sini. Kami masih belum yakin benar akan cerita tentang perjuangan golongan kalian, maka kami minta agar kalian suka menjelaskan lagi supaya kami dapat mempertimbangkan apakah dapat menerima uluran tangan kalian untuk bekerja sama."

Tosu yang berjenggot panjang dan memegang tongkat berbentuk naga hitam itu, segera mengelus jenggotnya. Agaknya dialah yang menjadi juru bicara kawan-kawannya.

"Siancai…, kami hargai kejujuranmu ini, saudara Agakai. Pertama-tama pinto (aku) ingin menceritakan mengapa kami sengaja memilih saudara untuk bekerja sama. Kami tahu bahwa saudara Agakai adalah keturunan langsung dari Sang Maharaja Jenghis Khan yang maha besar di jaman lampau, karena itu kami merasa yakin bahwa tentu saudara memiliki semangat untuk mendirikan kembali Kerajaan Goan di mana bangsa saudara merajai seluruh Tiongkok. Nah, kami membutuhkan orang bersemangat seperti saudara Agakai untuk menggerakkan seluruh Bangsa Mongol yang jaya untuk menumbangkan kekuasaan Mancu."

Tentu saja Agakai menjadi bangga dan gembira sekali mendengar ini. Telah tersentuh kelemahannya! Dia memang selalu ingin menonjolkan bahwa dia adalah keturunan dari Jenghis Khan, maka kini ucapan tosu itu seperti mengelus perasaannya dan dia menjadi senang sekali kepada para tosu itu.

"Memang tidak kelirulah kalau totiang beranggapan demikian," katanya bangga. "Akulah satu-satunya orang di seluruh Mongol yang masih berdarah Jenghis Khan, dan akulah yang akan mampu menggerakkan seluruh bangsaku untuk bangkit lagi."

"Itulah harapan kami, saudara Agakai. Kami menganggap bahwa gerakan yang datang dari utara lebih banyak harapan untuk berhasil, karena selain dekat dengan kota raja, juga terdapat banyak gunung dari mana kita dapat bergerak secara sembunyi. Tembok Besar tidak merupakan penghalang yang terlalu berat, bahkan para prajurit pamerintah yang melakukan tugas berjaga di Tembok Besar, kebanyakan kurang semangat dan kurang kuat, jauh dari hiburan dan sudah merasa bosan tinggal di tempat yang tandus. Kami membutuhkan bantuan saudara untuk menghimpun tenaga yang kuat, yang setiap waktu dapat kami pergunakan untuk menyerbu ke selatan. Kami sendiri akan bergerak dari dalam Tembok Besar."

"Nanti dulu, totiang. Selain pemerintah Mancu memiliki pasukan yang amat besar dan kuat, juga Kaisar Kian Liong selalu dibantu oleh para pendekar yang setia dan mereka memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Mungkin saja menandingi pasukan dengan siasat perang, akan tetapi bagaimana akan dapat menandingi para pendekar yang mempunyai ilmu silat tinggi?"

"Ha-ha-ha, tidak perlu khawatir, saudara Agakai. Kami orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai memiliki banyak sekali tokoh yang berilmu tinggi, dan para pendekar itu tak ada artinya bagi kami."
"Tapi, di sana terdapat para pendekar yang lihai, seperti keluarga Pulau Es..."
"Siancai…!" Tosu berjenggot panjang itu berseru. "Keluarga Pulau Es hanyalah penjilat-penjilat kaisar, takut apa? Kalau ada yang muncul di sini, tentu kepalanya akan pinto hancurkan dengan tongkat ini, seperti kepala arca di sana itu!"

Mendadak kakek itu melemparkan tongkatnya dan sungguh aneh… tongkat berbentuk seekor naga hitam itu tiba-tiba saja seperti ‘hidup’, terbang melayang menyambar ke arah sebuah arca batu yang berdiri sejauh dua puluh meter lebih dari tempat kakek itu duduk. Terdengar suara keras pada saat tongkat menghantam kepala arca, dan pecah berantakanlah kepala arca itu, sedangkan tongkatnya kembali terbang ke arah tangan tosu tua itu!

Hong Beng terkejut dan maklum bahwa tosu Pek-lian-kauw ini menggunakan ilmu sihir bercampur ilmu silat yang amat tinggi!

Sementara itu, Agakai dan para pembantunya memandang dengan mata terbelalak dan mulut bengong. Kemudian terdengar sorak-sorai para anak buah Agakai yang berada di sekeliling tempat pesta itu. Mereka pun melihatnya dan memberi pujian.

Sementara itu perut Hong Beng tentu saja merasa panas mendengar betapa keluarga Pulau Es dimaki sebagai penjilat dan dipandang rendah. Dan pada saat itu, dia pun tiba tiba ingat siapa adanya dua orang tosu yang duduk di situ, yang tadi diingatnya sebagai orang-orang yang pernah dikenalnya.

Kini dia teringat bahwa dua orang itu bukan lain adalah dua orang pendeta yang pernah dijumpainya ketika ia mencarikan obat untuk suhu-nya yang terluka. Dua orang pendeta yang ditemukannya dalam keadaan luka dan menceritakan kepadanya bahwa mereka adalah dua orang yang menentang Bi-kwi, karena Bi-kwi menculiki pemuda-pemuda di dusun, namun mereka berdua kalah karena Bi-kwi dibantu oleh Bi Lan dan Sim Houw! Karena keterangan mereka itulah maka dia bersama suhu-nya lalu pergi mencari Bi Lan dan Sim Houw, bahkan lalu menyerang mereka. Kini timbul keraguan dalam hatinya!

Benarkah keterangan mereka tempo hari? Mungkinkah seorang tosu Pek-lian-kauw dan seorang tosu Pat-kwa-pai muncul sebagai pendekar, sedangkan Bi Lan dan Sim Houw sebaliknya menjadi pembela yang jahat? Pikiran ini membuat dia menjadi makin marah. Jangan-jangan kedua orang pendeta ini dahulu hanya melakukan fitnah saja sehingga berhasil mengadu domba antara dia dan gurunya melawan Bi Lan dan Sim Houw! Kalau benar, celakalah!

Pada saat itu, terdengar tosu tinggi besar perut gendut, seorang di antara dua pendeta yang pernah dijumpai Hong Beng, yaitu yang bernama Ok Cin Cu, tokoh Pat-kwa-pai, berkata kepada Agakai, "Saudara Agakai, sudah menjadi tugas kami masing-masing tosu dari perkumpulan kami untuk menyampaikan berkah dan pelajaran kepada seorang murid wanita baru. Pinto minta agar gadis yang duduk di belakangmu itu malam nanti menjadi murid pinto yang baru dan tinggal bersama pinto dalam kamar pinto."

Agaknya Agakai telah tahu akan kebiasaan para tosu cabul itu, maka mukanya menjadi merah karena yang dimintanya adalah puterinya! Dia tak peduli akan kebiasaan mereka. Dia bahkan menganggapnya wajar kalau tokoh-tokoh besar itu membutuhkan hiburan karena tugas mereka yang berat dalam perjuangan. Akan tetapi kalau puterinya yang diminta, tentu saja dia tidak dapat memaksa puterinya.

Agakai tertawa. "Totiang, agaknya engkau belum tahu bahwa dia ini adalah Mayani, puteriku sendiri. Aku tak pernah memaksa puteriku, tetapi kalau dia suka melayanimu dan menjadi muridmu malam ini secara suka rela, aku pun takkan dapat melarangnya."

Dengan ucapan ini, Agakai merasa yakin bahwa puterinya tentu akan menolak. Gadis mana yang suka melayani seorang kakek yang buruk rupa dan berperut gendut seperti tosu itu? Apa lagi puterinya, gadis yang amat pemilih dan selama ini belum pernah mau menerima pinangan pemuda-pemuda yang cukup tampan.

Tosu berjenggot panjang yang memimpin para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai itu mendadak berkata, "Aha! Tentu saja nona Mayani suka melayani dan menjadi murid saudara Ok Cin Cu!"

Begitu ucapan ini dikeluarkan, tiba-tiba Mayani lalu bangkit berdiri, lalu menghampiri Ok Cin Cu dan berkata, "Aku suka sekali melayanimu dan menjadi muridmu, totiang!"

Tentu saja Agakai terkejut setengah mati melihat puterinya demikian patuh dan dengan suka rela menghampiri tosu itu dan menyatakan pula suka melayani dan menjadi murid! Janjinya telah diucapkan, dan disaksikan orang banyak ternyata Mayani dengan suka sendiri mau melayani tosu gendut itu.

"Mayani...!" Dia berseru kaget dan heran.

Tiba-tiba Hong Beng yang sudah tidak mampu menahan kesabarannya lagi karena dia maklum apa artinya sikap Mayani yang aneh itu, ialah bahwa gadis itu tentu terkena pengaruh sihir kakek berjenggot panjang, lalu bangkit berdiri, menggebrak meja dan dari mulutnya keluar suara melengking tinggi yang membuyarkan pengaruh sihir atas diri Mayani karena teriakan melengking itu mengandung tenaga khikang yang amat kuat.

Mayani tersentak kaget, lalu menjadi bingung mengapa ia berdiri di depan tosu gendut. "Eh, apa yang telah terjadi... ayah...?" tanyanya dan ia pun cepat kembali ke belakang ayahnya.

"Para tosu jahat dan cabul!" bentak Hong Beng dengan marahnya sehingga sepasang matanya berkilat. "Kalian telah menyebar racun fitnah, bujukan dengan ilmu hitam yang amat keji! Saudara Agakai, jangan engkau terkena bujukan iblis mereka ini. Mereka adalah tosu-tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai yang amat jahat, berkedok perjuangan. Hampir saja puterimu terjebak dalam sihir dan menjadi korban mereka yang amat jahat!"

Para tosu itu bangkit berdiri dengan marah dan sekarang Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin, dua orang tosu yang berada di situ, juga mengenal Hong Beng.

"Siancai...! Dia ini adalah murid keluarga Pulau Es! Dia mata-mata musuh, dia mata mata pemerintah Mancu!" teriak Ok Cin Cu dengan marah, memutar tongkat hitamnya yang berbentuk ular itu ke atas kepala.

Jika tadinya Agakai terkejut mendengar kata-kata Hong Beng dan memandang kepada para tosu penuh kecurigaan dan kemarahan, kini dia terkejut dan menghadapi Hong Beng, "Gu-taihiap, benarkah engkau murid keluarga Pulau Es?"

Dengan sikap gagah Hong Beng menjawab, "Benar, aku adalah murid keluarga Pulau Es, dan seperti semua orang gagah di seluruh dunia, aku pun menentang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw yang melakukan kejahatan dengan kedok agama dan perjuangan! Harap saudara Agakai jangan sampai terkena bujukan mereka!"

Akan tetapi, mendengar bahwa pemuda ini murid keluarga Pulau Es, Agakai yang juga sudah terkena pengaruh sihir dari para tosu, segera merasa tidak senang dan curiga. Bagaimana pun juga, ia tahu bahwa keluarga Pulau Es condong membantu pemerintah Mancu karena mereka itu berdarah Mancu pula.

"Tangkap mata-mata ini!" teriaknya kepada orang-orangnya.

Hong Beng terkejut dan tak sempat untuk membela diri dengan kata-kata, maka sekali meloncat dia telah berada di luar tempat pesta itu. Akan tetapi, lima orang tosu itu sudah berloncatan dan mengepungnya.

"Ha-ha-ha, orang muda mata-mata musuh, hendak lari ke mana engkau?" teriak Thian Kek Sengjin yang sudah menggerakkan tongkatnya yang berbentuk naga hitam pula, seperti tongkat tosu berjenggot panjang yang menjadi pemimpin rombongan itu.
"Wuuuttt...!"

Hong Beng mengelak, akan tetapi dia segera dikeroyok dan karena tingkat kepandaian para tosu itu sangat tinggi, yang paling rendah seimbang dengan tingkatnya, tentu saja dia menjadi repot sekali menghadapi pengeroyokan mereka. Apa lagi, di luar kepungan ini masih terdapat para anggota Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, juga orang-orang Mongol.

Pada saat tongkat hitam berbentuk ular di tangan Ok Cin Cu menyambar lehernya dan sebatang pedang menusuk lambungnya, dia cepat mengelak dan pada saat itu, tosu berjenggot panjang telah mengebutkan sapu tangan hitam di depan muka Hong Beng. Karena dalam keadaan mengelak dan terkepung, Hong Beng tidak mampu mengelak lagi dan begitu sapu tangan itu dikebutkan dan mengeluarkan debu, dia pun mencium bau keras dan roboh pingsan! Kelenger.....

Kiranya para tosu itu tidak mau langsung membunuh Hong Beng karena mereka ingin memanfaatkan pemuda ini. Sebagai seorang pemuda murid keluarga Pulau Es, tentu saja dia merupakan orang penting. Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin sudah pernah mempermainkannya dan mereka tahu bahwa Hong Beng merupakan seorang pemuda yang berwatak keras dan mudah ditipu. Tidak ada gunanya membunuh pemuda ini, akan tetapi mungkin dalam keadaan hidup mereka akan dapat memanfaatkan pemuda ini, setidaknya sebagai sandera karena siapa tahu kalau-kalau di belakang pemuda ini masih terdapat keluarga Pulau Es yang hendak menyerbu mereka.

Setelah Gu Hong Beng dibikin tak berdaya dengan dibelenggu kaki tangannya, dan para tosu itu menyerahkannya kepada anak buah Agakai untuk dimasukkan sebuah kamar dan dijaga ketat, dibantu penjagaannya oleh para tosu anggota Pek-lian-kauw, para tosu lalu mengajak Agakai melanjutkan percakapan mereka.

Mayani tidak nampak di situ karena tadi begitu sadar bahwa ia telah bertindak aneh dan bahkan menyerahkan diri untuk melayani tosu gendut, gadis ini menjadi ngeri dan cepat meninggalkan tempat itu. Dia menangis di dalam kamarnya, teringat akan Hong Beng yang pingsan dan ditawan. Dia tidak mengerti mengapa ayahnya berbalik memusuhi penolongnya itu dan dia merasa penasaran sekali!

Sementara itu, kakek jenggot panjang yang merupakan seorang tokoh Pek-lian-kauw berkata kepada Agakai, "Saudara Agakai, mengingat bahwa engkau agaknya kurang setuju kalau puterimu menjadi murid seorang di antara kami, biarlah pinto membatalkan saja dan puterimu tidak akan menjadi murid kami. Tentu saja engkau tahu bahwa sebagai pengganti puterimu, engkau sepatutnya menyediakan gadis-gadis lain untuk menjadi murid-murid kami berlima malam ini."

Wajah kepala suku itu menjadi berseri. "Tentu saja! Jangan khawatir, kalau gadis-gadis suku kami tidak berbakat menjadi murid kalian, masih ada gadis-gadis Hui yang dapat kami minta untuk menjadi murid kalian."

"Sekarang dengarkan rencana kami selanjutnya, saudara Agakai. Seperti kami katakan tadi, untuk daerah utara ini kami mempercayakan kepada saudara untuk menghimpun kakuatan dan mempersiapkan diri. Kalau pasukanmu dibutuhkan, sewaktu-waktu kami akan memberi kabar. Di bagian timur, kami sudah menghubungi para bajak laut Bangsa Korea dan Jepang, dan di barat kami sedang mencoba untuk menghubungi Sin-kiam Mo-li."
"Sin-kiam Mo-li? Siapakah ia?" tanya Agakai yang tentu saja belum mengenal tokoh-tokoh di dunia kang-ouw.

"Dia seorang wanita yang sakti, jauh lebih pandai dari pada kami semua!" kata tosu berjenggot panjang. "Ia adalah anak angkat dari mendiang Kim Hwa Nionio yang tewas di tangan para pendekar, terutama keluarga Pulau Es. Karena itu, ia tentu mendendam kepada keluarga Pulau Es dan kami yakin ia akan suka menggabungkan diri dengan kita. Untuk daerah barat, kami akan menyerahkan kepada Sin-kiam Mo-li, tentu saja bila ia suka bergabung seperti yang kami rencanakan. Ia tinggal di tepi Sungai Cin-sa, di kaki Pegunungan Heng-tuan-san. Ia lihai dan cantik jelita biar pun usianya sudah empat puluh tahun, seperti seorang gadis remaja saja!" Para tosu lalu memuji-muji Sin-kiam Mo-li sebagai ahli slat dan juga ahli sihir yang amat pandai.

Tentu saja Agakai menjadi kagum bukan main. Dia telah melihat kelihaian Hong Beng yang dengan mudah merobohkan keponakannya yang gila dan yang memiliki tenaga luar biasa kuatnya itu. Kemudian dia melihat betapa Hong Beng yang lihai itu pun roboh dengan mudah oleh para tosu ini.

Maka, mendengar betapa wanita yang berjuluk Sin-kiam Mo-li itu memiliki ilmu silat dan ilmu sihir yang amat tinggi, lebih lihai dari pada para tosu itu, tentu saja sukar bagi dia untuk membayangkan kesaktian seperti itu. Diam-diam dia merasa girang dapat bekerja sama dengan orang-orang yang demikian pandainya. Agaknya dia akan dapat berhasil membangun kembali Kerajaan Goan-tiauw yang telah jatuh dari bangsanya yang jaya!

Para tosu itu dan para tokoh Mongol yang menjadi tuan rumah, sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi percakapan mereka didengarkan oleh dua orang yang mengintai tak jauh dari tempat itu. Dua orang yang memiliki gerakan amat ringan dan cepat sehingga mereka mampu mendekati tempat pesta pertemuan itu tanpa diketahui orang, bahkan turut mendengarkan percakapan antara para tosu dan Agakai dengan menggunakan pendengaran mereka yang amat peka.

Dua orang ini bukan lain adalah Sim Houw dan Can Bi Lan. Seperti kita ketahui, dua orang ini kembali dari gurun pasir dan melakukan perjalanan cepat sehingga mereka dapat menyusul Hong Beng yang melakukan perjalanan terlebih dahulu. Akan tetapi karena Hong Beng pernah salah jalan sehingga membuang waktu beberapa hari maka akhirnya dia tersusul.

Sim Houw dan Bi Lan sama sekali tidak menyangka di situ akan bertemu dengan Hong Beng. Mereka kebetulan lewat di dusun itu dan tadi mereka mendengar ribut-ribut di dalam dusun. Ketika mereka melihat Hong Beng dirobohkan dan tertawan, mereka tidak segera turun tangan, melainkan melakukan pengintaian untuk melihat apa yang terjadi dan mengapa pula Hong Beng dikeroyok para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw di tempat itu.

Mereka berdua mengintai dan mendengarkan percakapan antara para tosu dan Agakai, kepala suku Mongol itu. Ketika mendengar disebutnya nama Sin-kiam Mo-li anak angkat Kim Hwa Nionio yang mendendam kepada keluarga Pulau Es, diam-diam mereka lalu mencatat dalam hati nama wanita itu dan alamatnya. Kemudian, melihat bahwa yang dibicarakan oleh para tosu dan kepala suku itu adalah urusan pemberontakan, yang mereka namakan perjuangan, maka Sim Houw memberi isyarat kepada Bi Lan untuk meninggalkan tempat persembunyian mereka di atas pohon besar itu.

Baik buruk atau benar salahnya suatu perbuatan tidak terletak di dalam perbuatan itu sendiri, tetapi terletak di dalam pandangan seseorang terhadap perbuatan itu. Kalau si pemandang merasa bahwa perbuatan itu menguntungkan atau menyenangkan hatinya, tentu saja dia akan mengatakan bahwa perbuatan itu baik dan benar. Sebaliknya kalau si pemandang menganggap perbuatan itu merugikan dan tidak menyerangkan hatinya, dia akan tanpa ragu mengatakan bahwa perbuatan itu buruk dan salah.

Inilah sebabnya mengapa orang-orang yang menentang pemerintah Mancu, dinamakan pemberontak jahat oleh pemerintah Mancu dan orang-orang yang tak setuju terhadap perbuatan itu, dan sebaliknya disebut pejuang perkasa oleh mereka yang menganggap bahwa kepentingannya diwakili.

Karena itu, apa yang dinamakan baik oleh seseorang, belum tentu baik bagi orang lain, juga yang dinamakan buruk atau jahat belum tentu demikian bagi pihak lain. Untuk bisa membebaskan diri dari ikatan ini, seyogianya jika kita menghadapi segala sesuatu tanpa penilaian, melainkan membuka mata memandang dengan pengamatan yang penuh kewaspadaan dan penuh perhatian. Pengamatan yang waspada ini membebaskan kita dari penilaian dan pendapat, tidak terpengaruhi perhitungan untung rugi dalam segala hal yang kita hadapi dan dari pengamatan penuh kewaspadaan ini lahirlah perbuatan-perbuatan yang sehat dan bijak.

"Kita harus bebaskan Hong Beng," kata Sim Houw setelah mereka keluar dari tempat itu dan berada di belakang sebuah rumah kosong yang sunyi dan gelap.
"Untuk apa bebaskan orang seperti dia?" Bi Lan membantah.
"Ah, jangan berpikir demikian, moi-moi. Ia terjatuh ke tangan para tosu Pek-lian-kauw. Jangankan Hong Beng yang sudah kita kenal sebagai seorang pendekar gagah dan murid keluarga Pulau Es, biar orang lain sekali pun kalau terjatuh ke tangan para tosu yang jahat itu, sudah sepatutnya kalau kita tolong dia."

Tanpa memberi kesempatan kepada kekasihnya untuk kembali membantah, Sim Houw telah menggandeng tangan Bi Lan kemudian mengajaknya menyelinap di antara rumah-rumah dan menuju ke rumah di mana tadi mereka melihat Hong Beng dibawa masuk dalam keadaan kaki tangan terbelenggu.

Dengan kepandaian mereka yang tinggi, Sim Houw dan Bi Lan berhasil meloncat naik ke atas wuwungan rumah itu, membuka genteng dan mengintai ke dalam. Mereka bisa melihat betapa Hong Beng diikat pada sebuah tiang di dalam rumah itu, dan di situ terdapat belasan orang Mongol dan anak buah Pek-lian-kauw, juga berjaga dengan rapatnya. Dua orang anggota Pat-kwa-pai juga nampak berjalan hilir-mudik mengelilingi rumah tahanan itu.

Sebelum Sim Houw dan Bi Lan mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu, tiba-tiba Sim Houw menyentuh lengan Bi Lan. Keduanya memandang dengan penuh perhatian ke bawah. Seorang gadis bangsa Mongol memasuki pintu rumah itu dan para penjaga memberi jalan kepadanya, bahkan orang-orang Mongol itu bersikap hormat.

Gadis itu cantik manis dalam pakaiannya yang berwarna merah dan hitam, dan kini ia memasuki kamar di mana Hong Beng diikat pada tiang besar. Lima orang Mongol yang berjaga di situ nampak terkejut melihat masuknya gadis ini, akan tetapi ketika gadis itu menyuruh mereka keluar, lima orang itu tak berani membantah. Setelah saling pandang mereka lalu keluar dari dalam kamar itu.

Gadis itu bukan lain adalah Mayani, puteri Agakai. Setelah sekian lamanya gelisah di dalam kamarnya, akhirnya gadis itu tidak tahan lagi dan nekat mengunjungi Hong Beng dalam kamar tahanannya. Para penjaga tidak ada yang berani melarangnya, juga para anggota Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw tidak mencegah setelah mereka mendengar bahwa gadis itu adalah puteri kepala suku.

Setelah Mayani berada seorang diri dengan Hong Beng, gadis itu mendekati dan air matanya menetes ketika ia melihat betapa pemuda itu terbelenggu kaki tangannya, dan pipi dan lehernya lecet-lecet, juga pakaiannya robek-robek.

Hong Beng sudah siuman, akan tetapi ia masih belum mampu mengerahkan tenaganya karena selain obat bius itu masih memusingkan kepalanya, juga tadi tosu Pek-lian-kauw menotok jalan darahnya sehingga dia tidak mampu mengerahkan sinkang-nya. Andai kata dia sudah mampu sekali pun, belum tentu dia akan dapat membikin putus tali belenggu kaki tangannya yang terbuat dari pada kulit binatang yang amat kuat itu. Kini dia memandang kepada Mayani.

"Nona, kenapa engkau datang ke sini?" tanyanya lirih.
"Aihhh, Gu-taihiap, betapa hancur rasa hatiku melihat engkau dikeroyok dan ditangkap tadi. Akan tetapi, jangan khawatir, taihiap, aku datang untuk menolongmu, lihat aku sudah membawa pisau yang tajam untuk membikin putus tali belenggumu." Gadis itu mengeluarkan sebuah pisau yang mengkilat saking tajamnya.

Hong Beng tidak kelihatan girang. Walau pun belenggu kaki tangannya putus, dia tetap saja tidak berdaya karena belum mampu mengerahkan sinkang-nya. Dengan tenaga utuh saja dia tidak mampu menandingi para tosu itu, apa lagi setelah jalan darahnya tertotok. Apa artinya belenggunya terlepas kalau dia tidak mampu melarikan diri?

"Aku akan membebaskan dan melindungimu, taihiap. Jika aku mengancam akan bunuh diri, tentu ayah akan membiarkan kita pergi berdua tanpa diganggu. Akan tetapi, lebih dulu aku minta engkau berjanji."

Hong Beng melihat kemungkinan baru untuk keselamatannya. Mungkin saja gadis ini dapat memaksa ayahnya, dan sebagai kepala suku, ayahnya tentu memiliki kekuasaan untuk membebaskan dia dan Mayani!

"Janji apa, nona?"
"Janji bahwa setelah kubebaskan, engkau akan suka menerima aku menjadi isterimu dan mengajak aku ke mana pun engkau pergi!"

Ucapan ini keluar demikian terbuka dan jujur tanpa malu-malu lagi dari mulut Mayani. Sebaliknya, Hong Beng yang mendengar ucapan ini menjadi tersipu-sipu dan mukanya berubah merah.

"Kenapa harus begitu, nona?" tanyanya, agak heran dengan permintaan tiba-tiba yang dianggapnya aneh ini.
"Sebab aku cinta padamu, taihiap. Nah, kau berjanjilah dan aku akan membebaskanmu, mengajakmu menghadap ayah agar kita berdua diperbolehkan pergi dari sini dengan aman."

Tentu mudah bagi Hong Beng untuk berjanji dan kemudian meninggalkan gadis ini. Namun dia adalah seorang gagah. Dia tidak mau menipu Mayani, tidak ingin melanggar janjinya sendiri. Maka dia menggelengkan kepalanya.

"Aku... aku tidak bisa berjanji, Mayani," katanya, diam-diam merasa kasihan kepada gadis ini.

Jatuh cinta dan tidak terbalas! Dia juga sudah merasakan betapa sakitnya hal ini kalau menimpa seseorang! Mayani jatuh cinta padanya, namun dia tidak dapat membalasnya.

"Kenapa tidak bisa, taihiap?"
"Karena aku tidak ingin kelak melanggar janjiku, tidak ingin berbohong kepadamu hanya supaya aku dapat kau tolong. Karena aku... terus terang saja, aku tidak... cinta padamu, Mayani. Aku suka padamu, aku kasihan padamu, akan tetapi aku tidak cinta padamu."
"Ahhh!" Mayani nampak kaget. "Akan tetapi, bukankah engkau telah menyelamatkan aku dari bencana, dari cengkeraman orang gila itu?”
"Aku menolongmu bukan karena cinta padamu. Gadis mana pun akan kuselamatkan dari cengkeraman orang gila itu, Mayani."
"Ahhh...!"

Kini Mayani mengusap air mata dengan tangannya. Sungguh tak disangkanya jawaban seperti ini yang akan didengarnya. "Kalau begitu... bagaimana aku dapat menolongmu? Apa yang harus kupakai sebagai alasan menolongmu?"

Hong Beng menarik napas panjang. "Sudahlah, tak perlu engkau menolongku, Mayani. Kembalilah sebelum ada orang mengetahui niatmu dan engkau akan mendapat susah karena ini. Pergilah."

Sejenak gadis itu bengong, seperti tidak percaya akan pendengarannya sendiri. Orang ini berada dalam bahaya besar, akan tetapi menolak uluran tangannya untuk menolong dan menyelamatkannya. Kemudian, dengan dua mata masih basah dan merah terpaksa Mayani keluar pula dari kamar itu.

Begitu ia keluar, lima orang Mongol itu cepat menyerbu ke dalam dan mereka nampak lega melihat bahwa tawanan itu masih terbelenggu pada tiang. Mereka tadi sudah merasa khawatir kalau-kalau Mayani melakukan kebodohan dan hendak membebaskan tawanan.

Sementara itu, Sim Houw dan Bi Lan melihat semua peristiwa yang terjadi di dalam kamar itu. Sim Houw lalu memberi isarat kepada Bi Lan. Keduanya lalu melayang ke dalam kamar. Sim Houw lebih dulu, diikuti oleh Bi Lan.

Melihat ada dua orang melayang turun bagaikan dua ekor burung garuda, lima orang Mongol itu terkejut bukan main. Mereka hendak menerjang, tetapi beberapa tamparan dan tendangan dari dua orang itu langsung merobohkan mereka.

Sim Houw cepat membikin putus belenggu pada kaki tangan Hong Beng. Melihat tubuh Hong Beng lemas, Sim Houw maklum. Yang penting melarikan pemuda ini, pikirnya. Totokan orang Pek-lian-kauw mungkin berbeda dan harus dicari dulu bagaimana untuk membebaskannya. Maka setelah dua kali mencoba dan gagal membebaskan totokan, dia lalu menyambar tubuh Hong Beng, memanggulnya dan meloncat keluar dari kamar itu, didahului oleh Bi Lan.

Sesuai dengan rencana mereka tadi, yang sudah diatur oleh Sim Houw ketika mereka mendekam di atas wuwungan, Bi Lan membuka jalan keluar. Beberapa orang penjaga yang terkejut melihat keluarnya gadis yang tak dikenal ini, segera roboh oleh tamparan Bi Lan.

Keadaan menjadi gempar. Para penjaga berteriak-teriak saat dua orang yang melarikan tawanan itu mengamuk dan merobohkan banyak penjaga. Mendengar teriakan-teriakan ini, para pimpinan tosu cepat mendatangi tempat itu bersama Agakai, akan tetapi dua orang penculik tawanan itu telah menghilang di dalam gelap, meninggalkan belasan orang penjaga yang tadi mereka robohkan.

Tentu saja para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw menjadi amat marah. Ada orang berani membebaskan tawanan di depan hidung mereka! Hal ini sungguh membuat mereka merasa malu dan penasaran, maka mereka lalu melakukan pencarian dan pengejaran.

Karena Sim Houw juga menyadari betapa lihainya para tosu yang mampu menawan seorang pemuda seperti Hong Beng, maka dia mengajak Bi Lan berlari terus sampai jauh meninggalkan dusun itu dan akhirnya, pada pagi hari, mereka berhenti di bawah Tembok Besar. Begitu berhenti, Sim Houw lalu mencoba beberapa totokan untuk membebaskan Hong Beng dan akhirnya dia berhasil.

Hong Beng terbebas dari totokan dan setelah melemaskan otot-ototnya yang menjadi kaku, dia berdiri berhadapan dengan Sim Houw dan Bi Lan. Dia merasa canggung sekali, tidak tahu harus berkata apa. Dia pernah memusuhi kedua orang ini, bahkan sampai sekarang pun masih ada perasaan tidak suka.

Bagaimana pun juga, dia dan gurunya pernah berkelahi melawan mereka ini yang pada waktu itu membela Bi-kwi. Kenyataan bahwa dia telah dikelabui oleh dua orang tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw itu belum melenyapkan sama sekali keraguannya dan dia masih tetap menganggap bahwa dua orang ini setidaknya pernah menyeleweng dan membela Bi-kwi yang jahat, hanya karena Bi-kwi adalah suci dari Bi Lan.

"Sim Houw," katanya kaku, "aku tak pernah minta pertolongan kalian, akan tetapi biarlah aku mengucapkan terima kasih atas pertolongan kalian ini, walau pun jangan mengira bahwa terima kasih ini sudah melenyapkan ketidak cocokan di antara kita."

Sejak tadi Bi Lan memang sudah tidak senang diajak oleh Sim Houw menyelamatkan Hong Beng. Kini mendengar ucapan yang dirasakannya sangat menyakitkan hati itu, bangkitlah kemarahannya.

Sambil bertolak pinggang dengan tangan kanan, telunjuk kirinya lalu menuding ke arah hidung Hong Beng dan suaranya terdengar lantang dan galak, "Gu Hong Beng manusia sombong! Siapa yang sudi menerima terima kasihmu? Ketahuilah, kalau aku akhirnya menyetujui Sim-koko untuk menolongmu, adalah karena aku tidak ingin melihat engkau mampus di sana. Aku ingin menghajarmu dengan kedua kaki tanganku sendiri. Engkau lancang dan banyak mulut, suka mengadu dan melancarkan fitnah, memburuk-burukkan nama kami di depan suhu dan subo di Istana Gurun Pasir!"

Hong Beng mengerutkan alisnya. Tak dapat disangkal lagi, dia mencinta gadis ini. Akan tetapi Bi Lan tidak membalas cintanya, bahkan agaknya gadis itu bermain cinta dengan Sim Houw dan mengejeknya, menghinanya. Di samping rasa cintanya, timbul perasaan penasaran dan juga kemarahan.

Mungkinkah orang mencinta dan sekaligus membenci orang yang sama? Hal ini tidak mungkin sama sekali. Benci timbul dari perasaan tidak suka, dari perasaan dirugikan dan tidak tercapai apa yang diinginkan. Cinta tidak mungkin menimbulkan benci. Yang menimbulkan benci bukan cinta, melainkan nafsu.

Nafsu ini ingin memiliki, ingin disenangkan, dan kalau semua keinginan itu gagal, maka muncullah kecewa dan benci. Baik nafsu mau pun benci adalah penonjolan diri pribadi, adalah pakaian badan, adalah pementingan kesenangan dan kepuasan badan. Cinta kasih tidaklah sedangkal segala macam keinginan badan, cinta kasih bukanlah sekedar kesenangan dan kepuasan jasmani.

"Aku tidak memburukkan atau menyebar fitnah, melainkan menceritakan keadaan yang sebenarnya tanpa dibuat-buat. Bagaimana pun juga, Bi Lan, engkau telah melakukan penyelewengan, membela dan melindungi perempuan jahat Bi-kwi, bahkan engkau juga memusuhi kami orang-orang Pulau Es!"
"Sombong! Orang macam engkau ini mengaku orang Pulau Es? Dan engkau menuduh yang bukan-bukan tanpa menyelidiki kenyataannya. Huh, suci Ciong Siu Kwi jauh lebih baik dari pada engkau. Orang macam engkau ini perlu dihajar!" Berkata demikian, Bi Lan sudah menerjang dan menyerang Hong Beng.

Pemuda yang juga sudah marah ini cepat mengelak dan balas menyerang. Sim Houw memandang bingung. Tadi dia sudah membujuk Bi Lan untuk bersabar, tapi gadis yang sedang marah itu tidak mempedulikannya. Dan melihat sikap Hong Beng, diam-diam Sim Houw juga merasa penasaran. Kenapa pemuda itu juga bersikap demikian kasar? Dia mengerti bahwa di antara mereka itu hanya terdapat kesalah pahaman belaka, dan tetutama karena sama-sama tidak mau mengalah!

Selagi Sim Houw merasa bingung apa yang harus dilakukan menghadapi dua orang yang kini sudah berkelahi dengan seru itu, tiba-tiba terdengar suara orang membentak, "Kalian ini sungguh tidak tahu diri!"

Lenyapnya suara itu dibarengi munculnya seorang laki-laki setengah tua yang gagah dan begitu tiba, laki-laki itu telah menerjang dan menyerang Sim Houw!

Tentu saja Sim Houw terkejut dan cepat melompat ke samping, apa lagi ketika dia mengenal orang ini sebagai Suma Ciang Bun, seorang tokoh keluarga Pulau Es yang pernah pula menyerangnya bersama Hong Beng! Kiranya guru dan murid ini sekarang kembali menyerang dia dan Bi Lan, seolah-olah melanjutkan perkelahian antara mereka yang pernah terjadi tempo hari!

Bagaimana Suma Ciang Bun dapat muncul secara tiba-tiba di tempat itu? Seperti kita ketahui, Suma Ciang Bun meninggalkan rumah enci-nya, Suma Hui atau nyonya Kao Cin Liong, untuk menyusul muridnya yang pergi ke utara, mengunjungi gurun pasir unuk menghadap orang tua Kao Cih Liong, melaporkan tentang hilangnya Kao Hong Li.

Ketika tiba di Tembok Besar itu, kebetulan saja dia melihat muridnya berkelahi melawan Bi Lan dan tentu saja kemarahannya timbul seketika ketika dia mengenal Bi Lan dan Sim Houw. Biar pun dulu dia pernah meragukan apakah kedua orang itu bersalah, kini melihat betapa muridnya kembali sudah berkelahi melawan gadis itu, tentu saja hatinya condong untuk membela muridnya dan karena khawatir kalau-kalau muridnya celaka di tangan Pendekar Suling Naga yang lihai itu, dia mendahului dan menyerang Sim Houw.

“Locianpwe, perlahan dulu...!" Sim Houw kembali mengelak ketika pukulan yang amat dingin menyambar. Dia bergidik. Pukulan ini tentu yang mengandung Swat-im Sinkang, pikirnya, yang dapat membuat darah lawan menjadi beku kalau terkena pukulan dingin ini.
"Mari kita bicara!" ajaknya, dan kembali dia mengelak karena sebuah tendangan kilat menyambar ke arah lututnya.
"Suhu, mereka ini hendak menghajar teecu karena teecu melaporkan tentang mereka ke Istana Gurun Pasir!" teriak Hong Beng yang sudah marah dan yang kini menjadi besar hatinya melihat kemunculan gurunya.
"Hemmm, dua orang muda yang besar kepala!" Suma Ciang Bun mendengus dan dia sudah kembali menyerang.

Seperti juga dalam perkelahian yang pertama melawan guru Hong Beng ini, Sim Houw hanya mengelak dan menangkis, belum pernah membalas karena memang dia tidak ingin bermusuhan dengan pendekar ini tanpa sebab yang jelas.

Hong Beng sudah terdesak oleh Bi Lan, sedangkan Suma Ciang Bun sebagai seorang pendekar maklum pula bahwa kalau Pendekar Suling Naga itu membalas, belum tentu dia akan mampu mengalahkan orang muda yang perkasa ini. Maka, setelah lewat lima puluh jurus, guru dan murid ini mulai merasa sibuk. Hong Beng sibuk oleh desakan-desakan Bi Lan yang marah, sedangkan gurunya sibuk karena sebegitu jauh, belum sebuah pun dari serangannya dapat menyentuh tubuh Sim Houw!

Tiba-tiba terdengar suara ramai dan bermunculan tosu-tosu di tempat itu. Mereka adalah para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw. Tanpa banyak cakap lagi, para tosu itu kini menyerbu dan menyerang Hong Beng dan Suma Ciang Bun yang mereka kenal sebagai seorang pendekar keluarga Pulau Es! Tentu saja Hong Beng dan Suma Ciang Bun terkejut, dan Hong Beng berseru kepada suhu-nya,

"Suhu, mereka ini pernah menawan teecu!"

Sementara itu, melihat betapa para tosu yang lihai itu, yaitu lima orang pimpinan disertai belasan anak buah, telah mengepung dan menyerang Suma Ciang Bun dan Hong Beng, Sim Houw lantas memberi isyarat kekasihnya, dan mereka berdua pun segera terjun ke dalam pertempuran, menyerang para tosu!

Sikap mereka ini tentu saja membuat Suma Ciang Bun terkejut akan tetapi juga girang. Dia tadi telah beradu lengan dengan tosu jenggot panjang dan dengan kaget mendapat kenyataan betapa kuatnya lawan. Tosu-tosu itu lihai bukan main dan agaknya dia dan muridnya belum tentu akan mampu mengalahkan mereka. Akan tetapi kini Pendekar Suling Naga dan gadis yang galak itu telah membantu mereka menghadapi para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw!

Bi Lan yang berkelahi melawan Hong Beng mengamuk dengan sangat hebat. Ia masih membatasi serangannya karena ia hanya ingin menghajar pemuda itu, bukan berniat membunuhnya atau melukainya secara berat. Ia pun tahu bahwa sikap pemuda itu yang berbalik tidak suka kepadanya karena cintanya ditolak dan karena cemburu, demikian pendapatnya.

Akan tetapi kini, melihat betapa mereka dikepung oleh tosu-tosu yang lihai, Bi Lan lalu mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Biar pun ia tidak memegang Ban-tok-kiam lagi, namun ketika ia mainkan Ban-tok Ciang-hoat yang dipelajarinya dari subo-nya, diseling dengan Sin-liong Ciang-hoat yang didapat dari suhu-nya Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, maka hebatnya bukan kepalang.

Seorang tosu Pat-kwa-pai yang menjadi lawannya ialah Ok Cin Cu. Tosu ini memegang sebatang tongkat hitam berbentuk ular. Tosu yang mata keranjang dan cabul ini tadi sudah menyerang Bi Lan karena dia tidak dapat melewatkan gadis secantik ini dari pandang matanya. Maksudnya tentu saja agar dia puas dapat mempermainkan gadis ini.

Akan tetapi, kalau pada mulanya dia maju dengan tangan kanan saja sambil tertawa-tawa dan tersenyum-senyum, sekarang dia terkejut dan memainkan tongkatnya untuk melindungi tubuhnya. Tak disangkanya bahwa gadis muda itu lihai bukan main, memiliki serangan pukulan-pukulan yang sangat aneh!

Tosu ini harus berloncatan ke sana-sini. Rambutnya yang putih riap-riapan itu berkibar-kibar. Tongkat hitamnya menyambar-nyambar, akan tetapi tetap saja dia kewalahan dan terdesak oleh gerakan Bi Lan yang tidak dikenalnya.

Suma Ciang Bun diserang oleh tosu berjenggot panjang yang bersenjata tongkat naga hitam dan merupakan pemimpin para tosu. Pendekar ini mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu siang-kiam (sepasang pedang) dan memainkan Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) dan dengan ilmu pedang yang hebat ini barulah dia dapat mengimbangi serangan lawan. Tetapi harus diakui bahwa untuk mendesak dia pun tidak mampu karena kakek berjenggot panjang itu memang lihai bukan main. Di samping itu, Suma Ciang Bun juga harus melindungi muridnya.

Hong Beng juga memainkan pedangnya melawan Thian Kek Sengjin, tokoh sakti dari Pek-lian-kauw yang juga bersenjata tongkat naga hitam. Kakek ini bersama Ok Cin Cu pernah menipunya dan mengadunya dengan Bi Lan ketika kedua kakek itu terluka dan menyembunyikan keadaan mereka yang sebenarnya. Dalam perkelahian ini Hong Beng terdesak oleh tongkat naga hitam. Akan tetapi, karena kadang-kadang suhu-nya datang membantu, dia dapat pula bertahan dan perkelahian ini menjadi perkelahian keroyokan antara guru dan murid itu melawan dua orang tosu.

Sim Houw sendiri melayani dua orang tosu Pek-lian-kauw yang tingkat kepandaiannya sama dengan yang lain. Sim Houw sudah mencabut sulingnya. Melihat senjata ini, para tosu itu terkejut.

"Pendekar Suling Naga...!" seru salah seorang di antara dua tosu yang mengeroyoknya sambil memutar pedangnya dengan cepat.

Temannya yang juga berpedang, menghujankan serangannya kepada Sim Houw. Tapi dengan tenangnya Sim Houw memutar sulingnya. Terdengar suara suling melengking-lengking dibarengi sinar berkelebatan dan dua orang itu segera terdesak hebat! Bukan main kuatnya gerakan pedang suling itu.

Kedua orang tosu itu sampai terhuyung ke belakang dan mereka mengeluarkan seruan kaget. Belum pernah mereka bertemu lawan sehebat ini dan jika mereka tadinya hanya mendengar saja nama besar Pendekar Suling Naga yang dianggap berlebihan, maka baru sekarang mereka menyaksikan bahkan mengalami sendiri kehebatan senjata aneh itu!

Bi Lan juga mengamuk hebat dan lawannya sudah dua kali terkena pukulannya. Karena pukulan itu mempergunakan jurus dari Ilmu Silat Sin-liong Ciang-hoat, maka tenaganya membuat lawan itu terpelanting, sedangkan pukulan ke dua yang memakai Ilmu Silat Ban-tok Ciang-hoat membuat pundak lawannya yang terpukul terasa bagaikan terbakar, terasa gatal-gatal dan nyeri bukan main. Itulah pukulan beracun yang amat ampuh.

Ok Cin Cu menjadi gentar. Dia pun cepat melompat jauh ke belakang, hampir berbareng dengan dua orang tosu yang mengeroyok Sim Houw yang juga sudah berlompatan ke belakang. Keduanya terluka sedikit pada bahu mereka terkena sambaran angin pedang suling itu!

Melihat ini, gentarlah hati lima orang tosu itu dan mereka berteriak mengerahkan anak buah mereka, sedangkan dari jauh datang pula rombongan orang Mongol yang akan membantu.

"Moi-moi, mari kita pergi saja!" Sim Houw berseru dengan nyaring dan kepada Suma Ciang Bun dia menjura sambil berkata, "Locianpwe, maafkan kami. Semua ini hanya merupakan salah paham belaka!" Dan dia pun bersama Bi Lan cepat meloncat jauh dan berlari cepat meninggalkan tempat itu, melewati Tembok Besar menuju ke selatan.

Melihat ini, Suma Ciang Bun juga mengajak muridnya untuk segera pergi saja, melewati Tembok Besar pula dan menuju ke selatan, tak ingin menghadapi pengeroyokan banyak orang itu.

Biar pun mereka berempat telah bekerja sama menghadapi orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw, namun di dalam hatinya, Hong Beng masih belum merasa puas. Dia belum yakin akan kebersihan Bi Lan dan Sim Houw, sedangkan Suma Ciang Bun diam diam kagum bukan main akan kelihaian Pendekar Suling Naga.....

********************

"Aihh, tenangkanlah hatimu, enci Hui. Kami sudah pernah merasakan betapa bingung dan susahnya kehilangan seorang anak. Akan tetapi berduka saja tidak ada gunanya, bahkan kedukaan itu akan mengeruhkan pikiran, melemahkan semangat sehingga kita tak dapat bertindak bijaksana dan tepat. Tenangkan hatimu, dan kita bicarakan urusan ini dengan teliti," demikian Suma Ceng Liong, pendekar sakti keturunan keluarga Pulau Es itu menghibur Suma Hui yang datang bersama suaminya, Kao Cin Liong, dan sambil menangis bercerita akan mala petaka yang menimpa keluarganya dengan lenyapnya Kao Hong Li diculik orang.

"Benar sekali apa yang dikatakan suamiku, enci Hui. Kami dahulu juga merasa amat berduka dan gelisah, apa lagi karena hilangnya anak kami Suma Lian dibarengi dengan tewasnya ibu mertuaku dibunuh orang. Akan tetapi, orang yang benar selalu dilindungi Thian, enci. Aku yakin bahwa keponakanku Hong Li pasti akan dapat ditemukan kembali dalam keadaan selamat dan sehat," berkata pula Kam Bi Eng, isteri Suma Ceng Liong sambil merangkul kakak iparnya.

Suma Hui menghapus air matanya dan ia memaksa diri tersenyum. "Maafkan aku atas kelemahanku. Akan tetapi, kami berdua sudah mencari sampai jauh ke Tibet, akan tetapi tidak berhasil, bahkan tidak dapat menemukan jejak anak kami. Bagaimana hatiku tidak akan gelisah?”

"Ceng Liong," kata Cin Liong yang memang akrab dengan ipar-iparnya. "Kami sengaja datang ke sini mengunjungimu, bukan hanya sekedar menghibur diri, akan tetapi juga kami membutuhkan pendapatmu dan bantuanmu agar anak kami itu dapat segera kami temukan kembali."

Ceng Liong mengangguk-angguk. Dia dan isterinya adalah suami isteri yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia sendiri adalah cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es sedangkan isterinya adalah murid pewaris Ilmu Suling Emas. Kini Suma Lian, puteri mereka, dibawa oleh Bu Beng Lokai, yang masih terhitung pamannya sendiri karena Bu Beng Lokai yang dulu bernama Gak Bun Beng adalah mantu dari kakeknya, Suma Han. Suma Lian dibawa Bu Beng Lokai untuk digembleng.

Kini mereka berdua hidup di rumah mereka yang nampak sunyi, maka kunjungan Suma Hui dan suaminya itu menggembirakan, dan Ceng Liong menganggap sudah menjadi tugasnya untuk bantu memikirkan kehilangan keponakannya, Kao Hong Li itu.

Mereka lalu bercakap-cakap. Suami isteri yang kehilangan puterinya itu menceritakan dengan sejelasnya asal mula terjadinya penculikan terhadap puteri mereka.

"Gambaran tentang penculik itu telah kami dapatkan dengan jelas, bahkan teman-teman Hong Li menceritakan dengan jelas si penculik mengaku bernama Ang I Lama, bertubuh tinggi kurus, pandai silat dan pandai sihir. Akan tetapi ketika kami berhadapan dengan Ang I Lama, ternyata bukan dia penculiknya. Jelas bahwa penculik itu mempergunakan nama Ang I Lama. Akan tetapi siapa dia? Dan ke mana kami harus mencarinya?" Kao Cin Liong menutup penuturannya sambil menarik napas panjang.

Ceng Liong juga menghela napas. "Hemmm, penculik itu selain lihai, pandai ilmu silat dan sihir, juga cerdik sekali. Dia menyamar sebagai Ang I Lama untuk mengelabuimu dan melenyapkan jejaknya. Untuk itu, kita harus menggunakan akal, Kao-cihu (kakak ipar Kao)."

"Akal bagaimana, adikku?" tanya Suma Hui dengan penuh harapan dan gairah. Timbul kembali semangatnya mendengar percakapan itu.

"Cihu harus dapat mengumpulkan orang-orang kang-ouw terkemuka dengan alasan tertentu yang masuk akal. Cihu mengirim undangan agar mereka itu dapat datang dan lebih baik lagi jika mengirim undangan secara terbuka. Siapa saja yang merasa dirinya orang kang-ouw, orang-orang di dunia persilatan, dipersilakan datang. Nah, kalau sudah banyak orang kang-ouw berkumpul, cihu dapat mengumumkan tentang lenyapnya Hong Li diculik orang. Dengan demikian, tentu peristiwa itu akan tersebar luas dan kalau di antara mereka ada yang mengetahui tentang siapa penculik Hong Li dan di mana anak kita itu sekarang, tentu dia akan memberi tahu kepada cihu. Kalau pun tidak, tentu mereka akan membuka mata lebih lebar. Dengan demikian, harapan untuk menemukan kembali Hong Li lebih besar."

"Ahh, bagus sekali usul itu!" Cin Liong berseru dan wajahnya berseri, matanya berkilat membayangkan kegirangan. "Tidak sampai dua bulan lagi adalah hari kelahiranku yang ke lima puluh! Hal ini tentu merupakan alasan yang baik sekali dan tak dicari-cari untuk mengumpulkan orang-orang kang-ouw."
"Tepat sekali, cihu! Kita membuat undangan dan juga undangan terbuka yang ditujukan kepada seluruh orang kang-ouw. Aku akan membantu penyebaran surat undangan itu ke seluruh dunia kang-ouw, cihu!"

Gembira hati Cin Liong dan isterinya. Mereka segera kembali ke Pao-teng dan membuat persiapan. Pesta ulang tahun itu tentu makan banyak biaya, apa lagi kalau yang datang berkunjung nanti banyak sekali orang. Tetapi mereka berdua siap untuk menghabiskan semua harta simpanan mereka untuk keperluan itu, karena apa artinya semua harta itu kalau anak mereka tidak dapat ditemukan kembali? Setelah kehilangan Hong Li, barulah suami isteri ini merasa betapa pentingnya anak itu bagi mereka, dan betapa hal-hal lainnya tidak ada artinya lagi!

Hidup merupakan gabungan dari segala macam hal yang multi kompleks. Kebutuhan hidup bermacam-macam yang bergabung menjadi satu. Ada kebutuhan harta, sandang, pangan, kesehatan, kerukunan keluarga, dan seterusnya. Tidak mungkin mementingkan yang satu saja dan meremehkan yang lain. Karena kekurangan satu saja di antaranya, hidup akan menjadi pincang.

Apa artinya mempunyai segala itu kalau anaknya hilang seperti halnya suami isteri itu? Sama saja susahnya kalau yang ditiadakan itu satu di antara kebutuhan-kebutuhan itu. Apa artinya semua ada, keluarga lengkap, kalau badan selalu menderita penyakit? Apa pula artinya kalau sehat, berharta, cukup segala kebutuhan, tetapi tidak rukun dengan keluarganya? Masih banyak contoh-contoh lain lagi, namun kesemuanya itu merupakan akibat kepincangan yang serupa.

Karena suami isteri di Pao-teng itu kehilangan anak mereka, tentu saja hanya hal itu saja yang terasa. Mereka mau mengorbankan milik mereka yang lain asal anak mereka dapat ditemukan kembali.

Dengan cepat, undangan pun disebar dan dalam hal ini, Suma Ceng Liong membantu dengan sekuat tenaga. Tentu saja tak mungkin mengundang semua orang, tetapi yang penting, demikian keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir itu berpendapat, dari delapan penjuru harus ada tokoh-tokoh yang mewakili daerah masing-masing.

Juga disebar undangan terbuka, tidak untuk nama tertentu, melainkan ditujukan kepada semua orang kang-ouw yang suka datang, dipersilakan untuk datang pula meramaikan pesta hari ulang tahun bekas panglima yang sangat terkenal itu, bukan saja terkenal sebagai bekas panglima besar, juga terkenal sebagai seorang pendekar sakti bersama isterinya yang juga pendekar keturunan keluarga Pulau Es.

Beberapa hari sebelum pesta ulang tahun itu tiba, Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng telah berada di rumah Cin Liong di Pao-teng. Ayah bunda Kam Bi Eng yang merupakan suami isteri terkenal sekali dan pernah menggemparkan dunia persilatan dengan ilmu ilmu dari Suling Emas dan merupakan tokoh ke tiga sesudah keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir yang terkenal, hadir pula atas undangan puteri mereka, Kam Bi Eng. Mereka itu bukan lain adalah pendekar sakti Kam Hong yang kini sudah berusia enam puluh tiga tahun, sedangkan isterinya, Bu Ci Sian kini telah berusia empat puluh delapan tahun.

Mereka berdua ini tinggal tak begitu jauh dari kota Pao-teng, di puncak Bukit Nelayan, yaitu salah sebuah puncak di antara puncak-puncak Pegunungan Tai-hang-san. Mereka berdua ikut merasa prihatin ketika mendengar cerita tentang hilangnya Kao Hong Li yang diculik orang yang masih belum diketahui jelas siapa adanya.

Selain keluarga Suma Ceng Liong dan keluarga Kam Hong ini, juga telah hadir di rumah itu Suma Ciang Bun dan muridnya, Gu Hong Beng. Pemuda ini sudah mendengar banyak tentang suami isteri pendekar dari istana Khong-sim Kai-pang, yaitu Kam Hong, akan tetapi baru sekarang sempat bertemu. Hatinya merasa kagum dan dengan girang dia memperkenalkan diri.

Karena para keluarga berkumpul, suasana sudah meriah sekali dan banyak hal mereka percakapkan, dan tentu saja terutama sekali tentang hilangnya Kao Hong Li yang diculik orang. Oleh karena Hong Beng merupakan murid dari Suma Ciang Bun, maka dia pun diterima oleh keluarga Kao sebagai anggota keluarga sendiri.

Selagi tokoh-tokoh keturunan keluarga Pulau Es, keluarga Gurun Pasir beserta keluarga Suling Emas ini saling berbincang sebagai sekelompok keluarga, tiba-tiba pembantu memberi tahukan bahwa di luar datang dua orang tamu laki-laki dan perempuan yang masih muda. Kao Cin Liong dan isterinya tidak menanyakan siapa dua orang tamu itu, tetapi karena mereka berada dalam suasana berpesta, sehingga mereka mengharapkan munculnya banyak tamu, segera mereka menyuruh pembantu itu untuk mempersilakan dua orang tamu itu masuk saja ke ruangan besar di mana mereka tadi bercakap-cakap.

Ketika dua orang itu masuk, semua orang memandang, ingin tahu siapakah tamu yang datang agak terlalu pagi itu. Biasanya, yang datang lebih pagi dari hari pesta yang ditentukan, hanyalah anggota keluarga sendiri yang datang dengan maksud membantu tuan rumah mempersiapkan pesta ulang tahun itu.

Ketika melihat munculnya Sim Houw dan Bi Lan, sebagian besar dari mereka yang hadir di situ mengerutkan alisnya, terutama sekali Hong Beng dan gurunya, Suma Ciang Bun. Mereka berdua sudah bangkit berdiri dan mengepal tinju, akan tetapi ketika teringat bahwa di situ terdapat orang-orang tingkatan lebih tua seperti Kam Hong dan isterinya, guru dan murid ini menahan diri dan duduk kembali.

Juga Kao Cin Liong dan Suma Hui memandang marah. Mereka sudah mendengar dari Hong Beng dan gurunya betapa Bi Lan yang diambil murid oleh suami isteri dari Istana Gurun Pasir, telah menyeleweng, membela iblis betina Bi-kwi dan bahkan menentang Suma Ciang Bun dan muridnya.

Perasaan tidak senang membayang di wajah tuan rumah dan nyonya rumah. Baru satu kali Kao Cin Liong dan isterinya bertemu dengan Sim Houw dan Bi Lan, yaitu ketika mereka semua di bawah pimpinan Tiong Khi Hwesio menentang dan membasmi Sai-cu Lama dan kawan-kawannya. Demikian pula Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng yang juga membantu dalam pertempuran hebat itu.

Sim Houw juga merasa girang sekali dapat bertemu dengan sekalian orang gagah itu. Kini dia dapat memandang Kam Bi Eng yang telah menjadi nyonya Suma Ceng Liong dengan wajah cerah dan ternyata setelah ada pertalian cinta antara dia dan Bi Lan, kini tidak terjadi sesuatu di dalam hatinya ketika dia bertemu dengan Kam Bi Eng, wanita yang pernah dikasihinya itu.

Akan tetapi, yang membuat Sim Houw menjadi semakin girang dan terharu adalah ketika dia melihat Kam Hong dan Bu Ci Sian di tempat itu. Sebelum memberi hormat kepada yang lain, Sim Houw mengajak Bi Lan untuk menjatuhkan diri berlutut di depan suami isteri ini.

"Suhu dan subo... telah bertahun-tahun teecu tidak pernah menghadap ji-wi, harap ji-wi sudi memaafkan teecu. Teecu harap selama ini suhu dan subo selalu dalam keadaan sehat dan dilimpahi berkah oleh Thian."

Melihat muridnya, diam-diam Kam Hong dan Bu Ci Sian merasa kasihan akan tetapi juga girang. Mereka masih merasa kasihan mengingat betapa murid yang baik ini, yang tadinya mereka jodohkan dengan puteri mereka, Kam Bi Eng, kemudian ternyata ditolak oleh Bi Eng yang jatuh cinta kepada Suma Ceng Liong. Akan tetapi dengan jiwa besar murid mereka itu dengan suka rela mengundurkan diri dan memberi kebebasan kepada Kam Bi Eng untuk berjodoh dengan pria yang dipilihnya, sedangkan dia sendiri lalu merantau dan baru sekarang guru itu bertemu dengan murid yang pernah menjadi calon mantu itu.

Yang membuat suami isteri pendekar ini prihatin adalah karena mereka mendengar bahwa sampai sekarang murid mereka itu belum juga menikah. Hal ini bagi mereka menjadi tanda bahwa hati murid mereka itu telah terluka karena kegagalan cinta dan pernikahannya dengan Kam Bi Eng, dan mereka berdua turut merasa berdosa atas penderitaan pemuda itu.

"Sim Houw, selama ini engkau ke mana sajakah maka tidak pernah datang menjenguk kami? Dan kami mendengar bahwa engkau mendapat julukan Pendekar Suling Naga! Sungguh kami ikut merasa bangga dan... ehhh, siapakah nona ini?" Kam Hong baru memandang kepada Bi Lan yang berlutut di dekat Sim Houw.

"Locianpwe, nama saya Can Bi Lan...," jawab Bi Lan dengan sikap hormat.

Ia sudah sering kali mendengar penuturan Sim Houw tentang suami isteri yang sakti ini, yang agaknya hanya boleh disejajarkan dengan suhu dan subo-nya di Istana Gurun Pasir, atau dengan para pendekar Pulau Es.....

"Suhu dan subo, adik Can Bi Lan adalah... tunangan teecu dan ia adalah murid dari Kao-locianpwe di Istana Gurun Pasir dan isterinya..."
"Juga murid dari mendiang Sam Kwi!" Tiba-tiba terdengar suara Hong Beng memotong kata-kata yang diucapkan oleh Sim Houw itu.

Semua orang terkejut dan diam-diam Suma Ciang Bun menyesalkan ucapan muridnya yang lancang itu, namun dia maklum bahwa perasaan dongkol di dalam hati muridnya yang membuat muridnya bersikap lancang seperti itu. Sejenak keadaan menjadi kaku dan tegang, akan tetapi Kam Hong yang menoleh kepada Hong Beng, kini tersenyum.

"Aihh, seorang yang sakti dan bijaksana seperti Kao-locianpwe, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya, tidak mungkin salah memilih murid. Dan ia sekarang menjadi tunanganmu, Sim Houw. Selamat! Sungguh kami ikut merasa gembira sekali."
"Tunanganmu ini cantik dan gagah, Sim Houw. Selamat!" kata pula Bu Ci Sian, lega hatinya karena dengan adanya pertunangan ini, berarti ia pun terlepas dari beban batin yang merasa bersalah terhadap Sim Houw yang patah hati.
"Terima kasih, suhu dan subo," kata Sim Houw. Barulah dia dan Bi Lan menghadap takoh-tokoh lain dan memberi hormat.

Saat memberi hormat kepada Kao Cin Liong, tanpa ragu-ragu lagi Bi Lan menyebutnya ‘suheng’ (kakak seperguruan). Mendengar sebutan ini, wajah Cin Liong menjadi merah dan hatinya tidak senang sekali.

"Can Bi Lan," katanya halus namun mengandung kemarahan, "engkau telah menyebut suheng kepadaku, maka aku berhak untuk menegurmu. Aku banyak mendengar hal-hal yang tidak baik tentang dirimu, dan kalau memang benar, maka berarti aku sebagai suheng-mu akan terkena lumpur dan noda pula. Benarkah engkau pernah bersekongkol dengan wanita jahat Bi-kwi dan para pemberontak Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw, bahkan engkau dibantu oleh Pendekar Suling Naga sudah memusuhi keluarga Pulau Es?"

Bi Lan mengerling ke arah Hong Beng. Ingin rasanya ia pada saat itu juga menyerang pemuda itu. Ia dapat menduga bahwa tentu pemuda itulah yang menyebar fitnah, yang memburukkan namanya di depan semua orang. Tapi sentuhan tangan Sim Houw pada lengannya membuat ia menyadari bahwa di hadapan para locianpwe, tidak sepantasnya kalau ia memperlihatkan sikap kasar. Maka ia pun memberi hormat kepada Kao Cin Liong.

"Kao-suheng, tidak akan kusangkal bahwa aku dan Sim-koko pernah membantu dan membela suci Ciong Siu Kwi, akan tetapi untuk urusan itu terdapat alasan-alasannya yang kuat. Sama sekali kami tidak pernah membantu kejahatannya. Ia telah mengubah hidupnya, bertobat dan ia hanya diperalat oleh para tosu jahat yang telah menyandera calon suaminya. Akan tetapi semua hal itu akan kuceritakan lain kali saja, sekarang yang penting, aku hendak menyampaikan kepada suheng sekeluarga bahwa aku dan Sim-koko datang ke sini sebagai utusan suhu dan subo di Istana Gurun Pasir."

Mendengar ini, Kao Cin Liong tertegun. Kalau gadis ini sudah diterima orang tuanya, bahkan dijadikan utusan, itu tentu hanya berarti bahwa gadis ini tidak jahat. Sambil mengerutkan alisnya, dia bertanya, "Apakah kalian berdua mengunjungi orang tuaku?"

"Benar, suheng. Kami baru saja datang dari sana dan kami mendapat tugas dari suhu dan subo untuk memberi tahu kepada suheng berdua bahwa kalian telah kejatuhan fitnah yang amat keji, dituduh menjadi pembunuh-pembunuh dari Ang I Lama."
Bukan main kagetnya hati Kao Cin Liong mendengar ini. "Apa?! Apa maksudmu? Coba ceritakan yang jelas!"

"Suheng, ketika kami berada di istana, muncul seorang hwesio yang telah kita kenal baik karena dia adalah Tiong Khi Hwesio. Locianpwe inilah yang mengabarkan kepada suhu dan subo bahwa Ang I Lama tewas dibunuh orang, dan para pembunuhnya adalah suheng berdua..."

"Gila! Kami tidak melakukan hal itu!" Kao Cin Liong berseru keras.
"Itu fitnah keji!" Suma Hui juga berseru marah.
"Locianpwe Tiong Khi Hwesio sudah menjadi utusan para pendeta Lama di Tibet untuk menyampaikan protes kepada suhu dan subo karena mereka semua merasa yakin bahwa suheng berdua pembunuhnya. Menurut cerita locianpwe itu, sebelum tewas, dalam keadaan terluka parah dan di depan para pendeta Lama, Ang I Lama sempat menyebut nama suheng berdua."

"Ahhh...!" Wajah Kao Cin Liong berubah. Urusan ini bukanlah urusan kecil dan dia mengerutkan alisnya. "Anak kami hilang belum juga ditemukan jejaknya, dan sekarang muncul lagi fitnah keji yang menuduh kami membunuh Ang I Lama!"

"Ahh… aku mengerti sekarang!" Tiba-tiba Suma Ceng Liong yang terkenal cerdik itu berseru. "Pasti ada hubungan antara kedua peristiwa itu, cihu (kakak ipar)! Si penculik Hong Li mengaku bernama Ang I Lama dan kemudian setelah kalian datang ke barat, ternyata bukan Ang I Lama yang menculiknya. Kemudian, Ang I Lama dibunuh orang dan pendeta itu meninggalkan pesan yang menuduh kalian menjadi pembunuhnya. Bukankah jelas bahwa ada pihak ketiga yang sengaja hendak mengadu domba antara kalian dengan para pendeta Lama? Mula-mula Ang I Lama difitnah menculik Hong Li, kemudian karena tidak melihat kalian bermusuhan dengan Ang I Lama, maka fitnahnya dibalik. Pendeta itu dibunuh dan nama kalian yang kini difitnah."

"Benar! Tentu ada orang yang mengatur semua ini. Akan tetapi siapa?" Kao Cin Liong berseru, penuh rasa penasaran.
"Hemm, setelah mendengar semua laporan tentang hilangnya Kao Hong Li, aku rasa ada kemungkinan lain," tiba-tiba kakek Kam Hong berkata dengan suaranya yang halus tetapi penuh wibawa sehingga semua orang menengok dan memandang kepada orang tua ini. "Mungkin Ang I Lama yang merasa tidak berdosa, setelah dituduh menculik Kao Hong Li, lalu turun tangan sendiri mencari penculiknya, bertemu akan tetapi dia kalah dan tewas."

"Akan tetapi mengapa dia meninggalkan pesan, yaitu menyebut nama cihu Kao Cin Liong berdua, ayah." Kam Bi Eng membantah pendapat ayahnya.
"Hal itu memang aneh, akan tetapi bisa juga dia bermaksud meninggalkan pesan untuk Kao Cin Liong berdua, tentang anak mereka itu, akan tetapi tidak sempat karena keburu tewas," sambung Kam Hong.

Kao Cin Liong mengangguk-angguk. "Kemungkinan itu besar sekali, Kam-locianpwe. Akan tetapi tetap saja tidak dapat menemukan jejak pembunuh Ang I Lama dan penculik anak kami."

"Suheng, aku dan Sim-koko sudah ditunjuk oleh suhu dan subo untuk menemukan kembali Hong Li, dan juga membikin terang perkara fitnah atas diri suheng mengenai kematian Ang I Lama."

Mendengar ini, Kao Cin Liong dan Suma Hui menatap wajah gadis itu dan wajah Sim Houw bergantian.

"Kalian...?" Cin Liong berkata, seperti pada diri sendiri, penuh kesangsian apakah dua orang muda ini akan berhasil, sedangkan dia bersama isterinya telah gagal, bahkan Suma Ciang Bun dan muridnya juga gagal, dan tokoh-tokoh lainnya tidak tahu ke mana harus mencari Hong Li. Pesta ulang tahun itu pun bahkan menjadi cara untuk mencari keterangan, sesuai dengan yang diusulkan Suma Ceng Liong.
"Suheng, kami berdua telah berjanji akan mencari Hong Li sampai dapat, kami tidak akan kembali sebelum berhasil, bahkan juga kami tak akan menikah sebelum berhasil," kata pula Bi Lan dan suaranya terdengar begitu tegas dan penuh keyakinan bahwa mereka berdua akan berhasil.

Mendengar tekad ini, diam-diam Kam Hong dan isterinya, Bu Ci Sian, menjadi terharu. Juga Kao Cin Liong dan Suma Hui merasa bersyukur dan berterima kasih mendengar dua orang itu rela mengorbankan diri sampai sedemikian besarnya untuk mencari puteri mereka yang hilang.

Kini pandang mereka terhadap Sim Houw dan Bi Lan berubah, menjadi ramah dan lenyap sudah prasangka buruk dari hati mereka. Mereka yakin bahwa kalau orang tua mereka di Istana Gurun Pasir mempercayai dua orang muda ini, tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk meragukan Sim Houw dan Bi Lan. Sebagai tuan rumah, Kao Cin Liong dan isterinya lalu membujuk agar Sim Houw dan Bi Lan suka tinggal di rumah itu sebelum pesta dimulai tiga hari lagi.

Meski merasa agak sungkan dan tidak enak karena mereka berdua bukan keluarga, dan walau pun Sim Houw melihat suhu dan subo-nya juga tinggal di situ, akan tetapi untuk menolak mereka merasa tidak berani. Maka mereka pun menerima dan mendapatkan dua buah kamar di sebelah belakang.

Hong Beng merasa tidak puas sama sekali dengan kemunculan Sim Houw dan Bi Lan di ruangan tadi. Dia menjadi gelisah di dalam kamarnya, tidak dapat mengaso pada malam hari itu. Hatinya masih panas dan penuh kemarahan kepada Sim Houw dan Bi Lan.

Jelaslah bahwa Bi Lan telah melakukan penyelewengan, berpihak kepada wanita jalang dan jahat seperti Bi-kwi, dengan alasan apa pun juga, dan sudah dua kali malah Bi Lan dan Sim Houw berkelahi melawan dia dan gurunya. Mereka berdua itu jelas bukan golongan sahabat, melainkan musuh. Akan tetapi mereka sekarang disambut sebagai tamu-tamu terhormat, bahkan diberi kamar.

Dan yang lebih menyakitkan hatinya adalah pengakuan Bi Lan bahwa gadis itu sudah bertunangan dengan Sim Houw! Nah, jelaslah bahwa apa yang dilihatnya tempo hari bukan hanya khayal belaka, pikirnya. Di antara mereka tentu terjalin tali perjinahan yang memalukan sekali! Dan mereka itu mengaku bertunangan begitu saja. Kapan resminya dan siapa pula yang menjodohkan antara mereka?

Hong Beng sudah tidak lagi mengharapkan balasan cinta dari Bi Lan, akan tetapi, melihat kenyataan betapa gadis yang menolak cintanya itu telah mendapatkan seorang kekasih, sedangkan dia masih menderita kesepian dan belum ada pengganti Bi Lan, membuat dia tanpa disadarinya merasa iri hati! Terlalu enak rasanya bagi gadis yang telah mengecewakan hatinya itu, yang selain menolak cintanya juga telah melakukan penyelewengan, jelas memihak Bi-kwi dan mewarisi watak jahat dari Sam Kwi, kini diterima pula secara terhormat seperti itu!

Selagi dia gelisah, masuklah Suma Ciang Bun ke dalam kamarnya. Hong Beng cepat bangkit duduk dan memberi hormat kepada suhu-nya.

"Engkau belum tidur?" tanya Suma Ciang Bun sambil duduk di atas kursi, sedangkan muridnya sudah turun dari atas pembaringan dan duduk pula di depan gurunya.
"Belum, suhu. Hati teecu gelisah."
"Engkau gelisah memikirkan diri Can Bi Lan itu, bukan?"

Hong Beng terkejut, namun suhu-nya yang sudah seperti ayahnya sendiri ini boleh saja mengetahui semua isi hatinya. "Benar, suhu. Teecu merasa penasaran sekali. Gadis yang melakukan penyelewengan itu, bersama Sim Houw yang sombong dan memusuhi kita, mengapa sekarang diterima dengan segala kehormatan di tempat terhormat ini? Apakah hal ini tidak akan membuat para tokoh sesat mentertawakan kita?"

Suma Ciang Bun tersenyum. "Memang, keadaan mereka cukup aneh dan meragukan, apa lagi mengingat bahwa gadis itu murid Sam Kwi dan memihak Bi-kwi. Akan tetapi engkau sudah mendengarkan semua cerita mereka. Mereka mendapatkan kepercayaan dan tugas dari locianpwe Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, bahkan menjadi utusan locianpwe itu. Tentu saja Kao-cihu menerima mereka dengan baik. Hong Beng, engkau agaknya terlalu dibakar hati yang panas. Maklumlah, karena engkau pernah mencinta gadis itu dan ditolak, lalu kini gadis itu muncul dan mengumumkan pertunangannya dengan Sim Houw! Aku tidak terlalu menyalahkan kalau engkau berpanas hati. Akan tetapi engkau harus bersikap gagah dan bijaksana. Lihat contohnya sikap Pendekar Suling Naga itu dan sikap nyonya Suma-Ceng Liong."

Hong Beng memandang wajah gurunya dengan heran. "Apa maksud suhu? Ada apa dengan Sim Houw dan isteri susiok (paman guru) Suma Ceng Liong?"

"Persis seperti keadaanmu dengan nona Can Bi Lan itulah! Dahulu, isteri adikku Suma Ceng Liong bernama Kam Bi Eng dan ia oleh orang tuanya telah dijodohkan dengan Sim Houw! Mereka telah ditunangkan secara resmi atas pilihan dan kehendak orang tua. Akan tetapi, Kam Bi Eng kemudian menolak Sim Houw dan memilih Suma Ceng Liong! Dan lihat sikap mereka kini. Tidak ada apa-apa, bukan? Seharusnya demikian pula sikapmu terhadap Sim Houw dan Can Bi Lan. Jodoh hanya dapat berlangsung melalui jembatan cinta kasih, dan cinta kasih haruslah datang dari kedua pihak. Tak mungkin bertepuk tangan sebelah, muridku, dan engkau sepatutnya bergembira bahwa orang yang kau cinta itu kini berjodoh dengan seorang yang berkepandaian tinggi."

Hong Beng termangu mendengarkan keterangan suhu-nya ini. Tak disangkanya bahwa Sim Houw pun pernah menderita kasih tak sampai seperti dia! Bahkan lebih hebat lagi karena Sim Houw telah ditunangkan dengan bibi gurunya itu, pertunangan yang diikat oleh guru Sim Houw sendiri, tapi kemudian dibatalkan karena bibi gurunya itu mencinta paman gurunya, Suma Ceng Liong!

"Tetapi, biar pun pandai, apa gunanya berilmu tinggi kalau melakukan penyelewengan, suhu?"
"Jangan tergesa menduga demikian, Hong Beng. Lihat saja, kalau memang Sim Houw menyeleweng ke jalan sesat, apakah gurunya, pendekar sakti Kam Hong locianpwe akan tinggal diam saja? Pula, kalau benar Bi Lan dan Sim Houw berkelakuan buruk, kukira seorang sakti seperti Kao-locianpwe di Istana Gurun Pasir tidak akan menaruh kepercayaan kepada mereka."
"Akan tetapi jelas bahwa mereka memihak dan membela siluman betina Bi-kwi sehingga menentang kita, suhu!" bantah Hong Beng penasaran.
"Menurut mereka, siluman betina itu kini telah bertobat dan mereka membelanya karena ia sekarang telah kembali ke jalan benar."

"Ah, siapa dapat percaya keterangan itu suhu? Harap suhu bayangkan, seorang wanita yang sudah demikian bejat akhlaknya, sudah demikian jahatnya seperti Bi-kwi, yang sepak terjangnya mengerikan dan jauh lebih jahat dari pada Sam Kwi sendiri, mana mungkin iblis betina macam ia itu dapat kembali ke jalan benar? Alasan yang dicari-cari saja! Keterangan itu harus dibuktikan dulu sebelum kita menerimanya dan menelannya mentah-mentah begitu saja. Teecu tetap masih belum mau percaya!"

"Engkau percaya atau tidak itu hakmu, akan tetapi aku memperingatkan agar engkau tidak membuat gara-gara dengan panasnya hatimu itu di sini, Hong Beng! Tadi, ketika engkau memotong keterangan Bi Lan dan mengumumkan bahwa Bi Lan murid Sam Kwi, aku sudah merasa sangat malu. Engkau tidak boleh mencari keributan dengan mereka lagi, baik di sini atau pun di lain tempat!"
"Suhu...!" Hong Beng terkejut dan menjatuhkan diri berlutut, menundukkan mukanya. Tidak disangkanya bahwa kini gurunya marah kepadanya dan agaknya gurunya bahkan memihak Bi Lan!

Melihat keadaan muridnya, Suma Ciang Bun menarik napas panjang. Dia merasa iba kepada muridnya ini. Semenjak kecil, muridnya ini telah bernasib malang. Ayah ibunya dibunuh orang dan hidup sebatang kara. Dia amat sayang kepada muridnya, seorang murid yang baik, patuh, rajin dan berbakat, bahkan muridnya telah membuktikan dirinya sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa. Kini, dia tahu bahwa muridnya ini rusak batinnya karena cintanya yang gagal! Muridnya menjadi pendendam, iri hati, dan iba dirinya membengkak.

"Hong Beng, apakah engkau tidak dapat melupakan kegagalanmu dalam cinta? Masih banyak wanita di dunia ini yang bahkan lebih baik dari pada Bi Lan, yang kelak dapat menjadi jodohmu..."
"Suhu...!"

Dan pendekar itu kaget sekali melihat betapa muridnya menitikkan air mata! Hong Beng, muridnya yang gagah perkasa itu, yang tidak gentar menghadapi ancaman maut, kini menangis!

"Hong Beng, ada apakah? Engkau... menangis?"

Pertanyaan ini memperbanyak keluarnya air mata dari kedua mata Hong Beng. Pemuda ini cepat menekan perasaannya, menghapus semua air mata dari mata dan pipinya, menggunakan punggung tangan. Setelah semua air mata terhapus, dia pun memberi hormat sambil berlutut.

"Ampunkan kelemahan hati teecu, suhu. Akan tetapi perkataan suhu tadi mengingatkan teecu bahwa teecu selamanya tak akan mungkin dapat menikah... agaknya... teecu... akan terpaksa mengikuti jejak suhu, tidak akan menikah selamanya."

Wajah Suma Ciang Bun berubah dan alisnya berkerut, pandang matanya penuh selidik ditujukan kepada wajah muridnya. Selama menjadi muridnya, Hong Beng tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengerti akan keadaan dirinya yang tidak normal.

Dia telah berjaga diri, dan muridnya itu tidak pernah tahu bahwa dia tidak menikah bukan karena tidak ada wanita yang mau menjadi isterinya, melainkan dia sendiri yang tidak mau menikah karena dia tak suka berdekatan dengan wanita! Ucapan Hong Beng itu tentu saja mengejutkan hatinya. Apakah Hong Beng kini tahu akan ketidak wajaran dirinya?

"Apa maksudmu, Hong Beng? Kenapa engkau terpaksa tak akan menikah selamanya?" pancingnya dengan hati tegang.
"Karena cinta pertama teecu (murid) telah gagal, dan untuk menikah dengan wanita lain, tidak mungkin! Teecu telah terikat janji dengan seseorang bahwa teecu harus menikah dengan seorang gadis. Padahal, perjodohan ini tidak akan mungkin terjadi, dan untuk melanggar janji kepada orang yang teecu hormati dan yang sudah tidak ada di dunia ini, teecu juga tidak berani."

Lega rasa hati Suma Ciang Bun, perasaan lega yang timbul karena dengan jawaban itu terbukti bahwa Hong Beng tidak tahu akan keadaan dirinya yang tidak wajar. Namun dia juga merasa heran sekali.

"Sungguh aneh! Kepada siapakah engkau berjanji, dan siapa pula gadis yang harus kau jadikan calon isteri itu dan kenapa pula hal itu tak mungkin terjadi?"

Hong Beng menundukkan mukanya, merasa bingung sebab ia tidak berani melanjutkan bicaranya. Gurunya menjadi makin heran melihat muridnya yang hanya menundukkan muka dan tidak menjawab itu.

"Hong Beng, jawablah pertanyaanku tadi!" dia mendesak, penasaran.
"Teecu... teecu tidak berani, suhu."
"Hong Beng, bukankah aku telah menjadi gurumu dan pengganti orang tuamu? Siapa lagi yang akan mengurus dan membela dirimu kalau bukan aku? Akulah yang akan melamarkan gadis yang kau pilih, dan akulah yang akan menikahkan engkau. Katakan, kepada siapa engkau berjanji dan siapa pula gadis itu!"

Hong Beng tadi tidak sengaja hendak membongkar rahasia hatinya itu. Dia tadi bicara karena dilanda duka, dan kini sudah terlanjur. Dia harus membuka rahasia itu kepada suhu-nya. Pula, kalau diingat benar, siapa lagi kalau bukan suhu-nya yang akan dapat membereskan persoalan itu?

"Harap suhu maafkan teecu. Sesungguhnya, teecu telah berjanji kepada... mendiang locianpwe Teng Siang In."
"Bibi Teng Siang In? Ibu kandung Ceng Liong?" Suma Ciang Bun berseru kaget. "Dan siapa gadis yang akan kau jadikan jodohmu itu?"
"Teecu sudah berjanji kepada mendiang locianpwe itu untuk kelak... menjadi suami nona Suma Lian..."
"Ehhh...?" Suma Ciang pun menjadi semakin heran dan memandang wajah muridnya dengan mata terbelalak.

Dia takkan ragu akan kebenaran pengakuan muridnya sebab selama menjadi muridnya, dia sudah mengenal benar watak Hong Beng yang tidak akan suka berbohong. Karena kepercayaan dan keyakinan inilah maka dia membela Hong Beng ketika bentrok dengan Bi Lan dan Sim Houw. Dia tidak dapat membayangkan muridnya itu berbohong dan membuat keterangan palsu.

"Bagaimana pula ini? Coba ceritakan, bagaimana asal mulanya maka engkau berjanji kepada mendiang bibi Teng Siang In untuk kelak berjodoh dengan Suma Lian."

Dengan panjang lebar dan jelas Hong Beng lalu bercerita kepada suhu-nya tentang pengalamannya pada waktu dia berkunjung ke dusun Hong-cun untuk pertama kalinya, di mana dia melihat Suma Lian diculik oleh Sai-cu Lama yang berkelahi melawan nenek Teng Siang In. Betapa dia membantunya sampai Sai-cu Lama melarikan diri.

Akan tetapi Suma Lian dibawa oleh Lama yang jahat itu, sedangkan nenek Teng Siang In menderita luka yang amat parah. Betapa kemudian Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng melakukan pengejaran terhadap penculik anak perempuan itu dan dia merawat nenek Teng Siang In yang terluka parah di pahanya oleh pedang Ban-tok-kiam, pedang yang dirampas dari tangan Bi Lan oleh Sai-cu Lama.

"Ketika itulah, suhu, locianpwe Teng Siang In yang siuman dan menghadapi kematian, minta kepada teecu untuk mencari nona Suma Lian dan minta teecu berjanji agar kelak teecu suka berjodoh dengan nona Suma Lian. Melihat keadaan locianpwe itu, yang dalam sekarat menghadapi maut, bagaimana teecu tega untuk menolak permintaannya yang terakhir itu? Sayang bahwa ketika itu, susiok Suma Ceng Liong dan isterinya tidak ada. Kalau mereka ada, tentu dengan mudah teecu menyerahkan persoalannya kepada mereka. Melihat betapa locianpwe itu menghadapi saat terakhir, terpaksa teecu penuhi permintaannya dan teecu mengucap janji itu. Baru kemudian teecu menyesal. Orang seperti teecu ini, mana mungkin menjadi jodoh nona Suma Lian? Teecu tidak berani..., memikirkan pun tidak berani, dan teecu juga tidak berani melanggar janji teecu sendiri, apa lagi janji terhadap seorang locianpwe yang sudah meninggal dunia..."

Suma Ciang Bun termenung, lalu mengangguk-angguk. "Muridku, aku sendiri tidak tahu bagaimana sikap adikku Ceng Liong dan isterinya mengenai persoalan ini. Akan tetapi, menghadapi setiap masalah, kita harus bersikap jujur dan berani, dalam arti kata, berani menghadapi segala akibatnya. Diterima atau ditolaknya oleh mereka jika urusan ini kita ajukan, hanya merupakan akibat saja dan andai kata ditolak, berarti bukan engkau yang melanggar janjimu terhadap bibi Teng Siang In, melainkan pesan itu tidak terlaksana karena pihak orang tua Suma Lian tidak setuju. Nah, tenangkan hatimu. Setelah pesta ulang tahun cihu selesai, aku akan bicara dengan Ceng Liong dan isterinya tentang pesan terakhir bibi Teng Siang In itu."

"Akan tetapi, suhu, teecu takut..."
"Takut apa? Hong Beng, jangan engkau terlalu merendahkan diri. Engkau muridku, tahu? Engkau cukup gagah dan tampan, cukup berharga untuk menjadi jodoh gadis mana pun juga, termasuk Suma Lian! Nah, sekarang mengasolah dan sedapat mungkin hapuskan rasa tidak sukamu kepada Bi Lan dan Sim Houw. Aku pun ingin beristirahat. Ceritamu sungguh membuat hatiku menjadi tegang dan kaget tadi."

Setelah percakapan dengan gurunya ini, hati Hong Beng menjadi tenang kembali dan dia dapat tidur nyenyak. Juga perasaan tidak suka dalam hatinya terhadap Bi Lan dan Sim Houw seolah olah menjadi padam atau setidaknya berkurang banyak…..

********************
Semenjak membuka rahasia itu kepada gurunya, Hong Beng merasa lebih tenang dan selama beberapa hari ini, dia bahkan selalu menghindarkan pertemuan dengan Sim Houw dan Bi Lan, walau pun mereka tinggal serumah. Mereka hanya saling bertemu pada waktu tuan rumah dan para tamunya makan siang atau malam saja, dan dalam kesempatan itu pun Hong Beng tidak pernah bicara dengan Sim Houw atau Bi Lan.

Seperti telah diduga semula, banyak tamu datang membanjiri tempat pesta ketika hari yang ditentukan tiba. Nama besar Kao Cin Liong cukup terkenal, baik sebagai bekas panglima mau pun sebagai pendekar, dan semua orang tahu bahwa selain pendekar ini putera tunggal Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, juga isterinya adalah keluarga Pulau Es.

Maka, banyaklah tokoh-tokoh kang-ouw datang membanjiri tempat pesta itu. Orang tua Kao Cin Liong sendiri tidak nampak. Memang Cin Liong tidak mengabari, ia tidak ingin membuat orang tuanya yang sudah tua sekali itu melakukan perjalanan yang demikian jauhnya. Pula, ulang tahunnya itu sendiri tidak penting, yang penting adalah maksud yang tersembunyi di balik pesta ulang tahun itu. Maka, Kao Cin Liong sama sekali tidak mengharapkan kunjungan ayah ibunya.

Di antara para tamu, terdapat pula tokoh-tokoh yang membawa bingkisan sebagai hadiah ulang tahun. Bungkusan-bungkusan besar kecil diterima oleh pihak tuan rumah dan diatur rapi di atas meja di tengah ruangan yang luas itu, di mana para tamu telah berkumpul.

Setelah matahari naik tinggi, tidak kurang dari lima ratus orang tamu hadir di tempat itu. Mereka datang dari tempat-tempat yang jauh, mewakili daerah-daerah terpencil. Biar pun tokoh-tokoh sesat, asal tidak mempunyai permusuhan dengan keluarga Kao Cin Liong, memerlukan datang untuk menghormati tuan rumah, juga untuk mempergunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk bertemu dengan tokoh-tokoh dunia persilatan yang lain.

Bahkan banyak pula pembesar-pembesar yang memiliki kedudukan penting, baik dari daerah mana pun dari kota raja, memerlukan hadir dalam pesta ini. Tentu saja mereka bukan hanya mengingat bahwa Kao Cin Liong adalah bekas panglima yang sudah banyak jasanya terhadap kerajaan, melainkan juga diam-diam mengintai apa yang akan dilakukan bekas panglima ini dengan mengadakan pesta besar mengundang banyak tokoh kang-ouw.

Yang menarik perhatian banyak tamu, juga menggembirakan hati keluarga Pulau Es adalah hadirnya sepasang pendekar yang terkenal dengan julukan Beng-san Siang-eng (Sepasang Garuda dari Beng-san), yaitu Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong, sepasang saudara kembar putera-putera dari pendekar sakti Gak Bun Beng yang kini berjulukan Bu-beng Lokai.

Seperti kita ketahui, Gak Bun Beng adalah mantu pertama dari Pendekar Super Sakti, suami dari mendiang Puteri Milana. Seperti telah diceritakan di bagian depan, sepasang pendekar kembar yang usianya sudah hampir lima puluh tahun ini sekaligus menjadi suami dari murid mereka sendiri yang bernama Souw Hui Lan, yang kini hadir pula.

Souw Hui Lan merupakan seorang wanita muda berusia hampir tiga puluh tahun, yang cantik manis dan gagah, juga mencinta dua orang suaminya yang baginya merupakan satu tokoh saja, biar pun memiliki dua tubuh. Setelah menjadi isteri dari saudara kembar ini selama tiga tahun, kini Souw Hui Lan telah mempunyai seorang anak laki-laki berusia dua tahun. Anak ini mereka ajak pula dan pertemuan antara keluarga Pulau Es itu mendatangkan kegembiraan besar.

Sayang bahwa kakek Gak Bun Beng atau Bu-beng Lo-kai tidak hadir, padahal Suma Ceng Liong dan isterinya sudah merasa rindu kepada puteri mereka, Suma Lian, yang dibawa pergi oleh paman mereka itu untuk digembleng dengan ilmu-ilmu yang tinggi. Sudah setahun mereka ditinggalkan puteri mereka yang ikut bersama kakeknya itu ke puncak Telaga Warna di Pegunungan Beng-san.

Pihak tuan rumah sibuk menyambut tamu-tamu yang berdatangan dan setelah tidak ada lagi yang datang, tempat itu sudah hampir penuh. Para pembantu sibuk mengeluarkan hidangan dan suasana di situ amat meriah. Keluarga tuan rumah berkelompok di bagian tengah ruangan itu, menghadap ke luar, sedangkan para tamu memilih teman sendiri-sendiri, berkelompok dengan kelompok masing-masing.

Seperti biasa, para tamu yang baru datang tentu mencari-cari teman yang cocok lalu dihampirinya. Ada pula tamu yang datang lebih dahulu memanggil tamu yang baru tiba untuk bergabung satu meja dengan mereka. Kawan-kawan lama yang sudah lama tak pernah saling berjumpa, kini bertemu dalam pesta itu, maka suasana menjadi semakin riuh dan gembira.

Ketika para tamu sudah disuguhi arak beberapa cawan, Kao Cin Liong lalu bangkit berdiri di atas panggung yang telah disediakan, sehingga semua tamu dapat melihatnya dari tempat duduk masing-masing.

"Cu-wi sekalian, kami sekeluarga menghaturkan terima kasih atas kedatangan cu-wi, juga atas semua hadiah yang diberikan kepada saya. Semoga Thian membalas semua kebaikan cu-wi itu. Setelah cu-wi hadir di sini, kami ingin mohon bantuan cu-wi, untuk membantu kami yang sedang prihatin menghadapi peristiwa yang sudah membuat kami bingung. Hendaknya cuwi ketahui bahwa puteri kami yang bernama Kao Hong Li, anak tunggal kami, telah beberapa bulan yang lalu lenyap diculik orang..."

Suasana menjadi gaduh ketika para tamu mendengar pengumuman ini. Kao Cin Liong membiarkan keadaan gaduh itu berlangsung sebentar, kemudian ia mengangkat kedua tangan memberi hormat dan minta agar suasana menjadi tenang kembali. Setelah para tamu diam, dia melanjutkan.

"Anak kami baru berusia dua belas tahun lebih, dan kami tidak tahu siapa penculiknya. Selagi kami kebingungan dan belum berhasil menemukan anak kami, kembali terjadi hal yang semakin membingungkan. Locianpwe Ang I Lama di Tibet sudah dibunuh orang, dan kami suami isteri yang tidak berdosa dituduh sebagai pembunuhnya."

Kembali suasana menjadi riuh. Setelah semua orang diam, Kao Cin Liong melanjutkan kata-katanya, "Karena kami kebingungan, tak menemukan jejak puteri kami, maka kami mohon dengan hormat kepada cuwi, apabila ada yang mengetahui atau mendengar di mana adanya puteri kami itu, sukalah memberi kabar kepada kami. Atas kebaikan itu, sebelumnya kami menghaturkan banyak terima kasih kepada cuwi."

Setelah Cin Liong menyelesaikan pengumumannya, para tamu menjadi semakin gaduh, bercakap-cakap di antara kelompok sendiri. Ada pula yang cuma diam termangu-mangu dan menduga-duga siapa adanya orang yang demikian nekat dan berani mengganggu keluarga Kao ini dengan menculik puterinya.

Kao Cin Liong adalah seorang bekas panglima yang terkenal dan gagah perkasa, juga dia adalah putera tunggal Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Isterinya juga bukan orang sembarangan, melainkan cucu dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es. Dan kini ada orang berani menculik puteri mereka, bahkan menjatuhkan fitnah kepada keluarga ini yang dituduh membunuh Ang I Lama. Apakah peristiwa ini menjadi tanda bahwa nama besar Pulau Es dan Gurun Pasir akan berakhir atau menjadi suram?

Pesta dilanjutkan dengan cukup meriah dan kini percakapan para tamu adalah tentang pengumuman tuan rumah. Mereka saling bertanya, akan tetapi agaknya tiada seorang pun di antara mereka yang tahu di mana adanya anak perempuan yang diculik itu.

Selagi pihak tuan rumah dan keluarganya melayani para tamu makan minum, tiba-tiba penjaga pintu memberi tahu kepada Kao Cin Liong bahwa telah datang lagi tamu baru, sepasang suami isteri she Yo. Karena tidak mengenal siapa suami isteri she Yo ini, Kao Cin Liong dan isterinya bangkit menyambut, sedangkan keluarganya ikut memandang dengan penuh perhatian untuk melihat siapa adanya tamu yang datang agak terlambat itu.

Pada saat Bi Lan yang juga ikut menengok melihat bahwa yang muncul sebagai tamu terlambat itu adalah Bi-kwi dan Yo Jin, jantungnya berdebar tegang penuh kegirangan, akan tetapi juga penuh kekhawatiran. Tidak disangkanya bahwa suci-nya itu berani datang pula ke pesta ulang tahun ini! Akan tetapi hal ini bahkan membuktikan bahwa suci-nya memang benar telah mengubah cara hidupnya dan tentu suci-nya datang karena menaruh perasaan hormat terhadap keluarga Kao yang gagah perkasa.

Keluarga para pendekar Pulau Es dan Gurun Pasir yang berada di situ, banyak yang mengenal Bi-kwi dan mereka semua memandang dengan alis berkerut. Terutama sekali Gu Hong Beng dan Suma Ciang Bun yang pernah bertempur melawan wanita yang mereka anggap sebagai wanita iblis yang amat jahat itu.

Juga Kao Cin Liong sendiri dan isterinya, Suma Hui, ketika terjadi pertempuran antara para pendekar melawan Sai-cu Lama dan gerombolannya, telah pula mengenal Bi-kwi sebagai murid Sam Kwi. Demikian pula Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Mereka tidak mengira bahwa wanita ini berani muncul sebagai tamu, dan mereka teringat akan pembelaan Bi Lan terhadap suci-nya yang pernah menjadi seorang wanita iblis itu.

Bagaimana pun juga, mereka berdua itu datang sebagai tamu, apa lagi melihat sikap Yo Jin yang demikian sopan dan jujur, juga sikap Bi-kwi yang melihatkan sikap hormat terhadap pihak tuan rumah, Kao Cin Liong dan isterinya terpaksa menyambut. Mereka datang sebagai tamu, dan memang undangan itu ditujukan kepada semua tokoh dunia persilatan tanpa memilih bulu, baik dari golongan putih mau pun dari golongan hitam.

Setelah memberi hormat dan menghaturkan selamat kepada pihak tuan rumah, yang disambut oleh Kao Cin Liong dan isterinya dengan hormat pula, Bi-kwi dan Yo Jin yang menjadi suaminya, menyerahkan sebuah bingkisan yang berupa bungkusan kecil dari sutera merah. Bungkusan itu diterima oleh Suma Hui dan diletakkan di atas tumpukan barang-barang hadiah lain dalam bungkusan-bungkusan besar kecil.

Mereka berdua lalu dipersilakan duduk, tapi karena tempat duduk di bagian depan telah penuh tamu, Bi-kwi dan Yo Jin mencari tempat duduk kosong agak di sudut belakang. Ketika Bi-kwi melihat Bi Lan bersama Sim Houw, ia hanya mengangguk dan tersenyum, sedangkan Bi Lan dan Sim Houw juga tersenyum kepada mereka.

Semua ini dilihat oleh Hong Beng dengan hati yang tidak puas. Jelaslah bahwa ada hubungan baik antara kedua orang itu, pikirnya dan walau pun kini Bi-kwi datang untuk menghormati Kao Cin Liong dan datang sebagai tamu, akan tetapi ketika memandang wanita itu, sinar mata Hong Beng penuh rasa tidak senang. Juga Suma Ciang Bun yang pernah berkelahi melawan Bi-kwi, memandang dengan alis berkerut. Bi-kwi tahu akan sikap mereka itu, akan tetapi pura-pura tidak tahu saja.

Sebelum berangkat mengunjungi pesta perayaan itu, Bi-kwi memang sudah menduga bahwa di tempat pesta itu tentu akan menghadapi banyak orang yang mengambil sikap memusuhinya. Namun ia tak peduli akan hal itu. Suaminya, Yo Jin yang telah membuka kehidupan baru di suatu dusun terpencil, tadinya merasa tidak setuju ketika Bi-kwi yang mendengar tentang undangan yang disebar Kao Cin Liong itu menyatakan hendak ikut datang bertamu.

"Isteriku yang baik, apakah perlunya mengunjungi tempat ramai itu? Aku khawatir hanya akan mengundang datangnya urusan dan keributan belaka," demikian antara lain suami yang jujur ini berkata.

"Tidak, suamiku, aku tahu benar bahwa urusan dan keributan hanya timbul karena diri sendiri. Dan aku telah berjanji kepada diri sendiri tidak akan mencari keributan, seperti telah kuputuskan untuk merubah cara hidupku. Bukankah selama berbulan-bulan ini kita hidup aman dan tenteram di sini tanpa pernah terjadi sesuatu seolah-olah aku hanyalah isterimu yang sederhana, seorang wanita tani yang tidak mengerti ilmu silat?"

"Kuharap engkau akan begini seterusnya, isteriku sayang. Akan tetapi kenapa engkau mengajak aku untuk pergi ke Pao-teng untuk menghadiri pesta ulang tahun seorang pendekar? Biar pun engkau tidak mencari keributan, bagaimana kalau orang lain yang mencari keributan terhadap dirimu? Engkau tahu bahwa aku tidak memiliki kepandaian untuk melindungi dirimu."

Bi-kwi tersenyum, merangkul suaminya dan merebahkan kepalanya di dada suaminya yang bidang. Biar pun Yo Jin tidak pandai ilmu silat, namun suaminya mempunyai jiwa pendekar yang gagah perkasa dan ia selalu merasa aman tenteram hidup di samping suaminya.

"Jangan khawatir, suamiku. Bentrokan hanya mungkin terjadi kalau kedua belah pihak menghendakinya. Api tidak akan membakar sesuatu yang basah kuyup. Walau pun ada orang mencari gara-gara, jika tidak kita layani, bagaikan api dia akan kehabisan bahan bakar dan pasti akan padam sendiri. Aku ingin bertamu ke sana bukan untuk mencari perkara, melainkan untuk menghormati pendekar Kao Cin Liong yang merayakan hari ulang tahun. Dia mengundang para ahli silat pada umumnya tanpa pandang bulu, tanpa melihat golongan, dan aku ingin datang mengingat bahwa dia adalah putera Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, masih terhitung suheng dari adik Bi Lan. Bi Lan pasti datang dan hadir pula. Karena aku pun sudah rindu padanya, dan ingin melihat perkembangan dunia sekarang. Sekali lagi jangan khawatir, bentrokan hanya dapat terjadi kalau kedua pihak maju, seperti sepasang tangan yang bertepuk. Tak mungkin sebelah tangan saja bertepuk menimbulkan panas dan bunyi kalau tidak menemukan lawan."

Demikianlah, akhirnya Yo Jin mengalah dan menemani isterinya melakukan perjalanan ke Pao-teng. Mereka datang agak terlambat, setelah pesta dimulai sehingga kehadiran mereka menarik perhatian banyak orang. Akan tetapi ketika suami isteri ini memilih tempat duduk di sudut belakang dan tenggelam di antara para tamu yang memenuhi tempat itu, suasana menjadi meriah kembali.

Banyak di antara para tamu mendekati dan merubung meja, agaknya ingin tahu sekali macamnya barang-barang sumbangan yang bertumpuk itu. Melihat ini, Suma Hui yang menjadi gembira karena belum pernah semenjak menikah dia mengadakan pesta, dan ternyata pesta ulang tahun suaminya yang hanya diadakan untuk mengumpulkan orang dunia persilatan dan mengumumkan tentang hilangnya anaknya itu dikunjungi demikian banyak orang dan menerima banyak sumbangan, segera mengusulkan pada suaminya untuk membukai bungkusan-bangkusan itu di depan para tamu.

Suaminya setuju dan ketika mereka berdua, dibantu oleh para anggota keluarga, mulai membukai bungkusan dan mengumumkan nama penyumbangnya sambil mengangkat tinggi setiap buah benda sumbangan, para tamu menjadi gembira sekali. Tiada hentinya para tamu menyatakan kekaguman mereka setiap kali melihat barang sumbangan yang amat berharga dan beraneka warna itu.

Memang bermacam-macam benda sumbangan para tamu, dan rata-rata merupakan benda berharga. Ada perhiasan-perhiasan, senjata yang baik, guci-guci berukir, cawan perak, dan banyak lagi macamnya. Ketika tiba giliran bungkusan sutera merah kecil pemberian Bi-kwi dan Yo Jin hendak dibuka, pembukanya kebetulan adalah Suma Hui sendiri.

Dan di antara para anggota keluarga, yang paling memperhatikan ketika bungkusan ini dibuka adalah Gu Hong Beng dan gurunya, Suma Ciang Bun. Mereka berdua yang masih merasa penasaran kepada Bi-kwi, ingin sekali melihat barang macam apa yang dibawa oleh tamu yang mereka anggap sebagai siluman betina yang amat jahat itu. Bungkusan itu kecil saja, entah apa isinya. Ketika jari-jari tangan Suma Hui membuka bungkusan itu, guru dan murid ini mendekat dan melihat dengan hati tegang.

Suma Hui sendiri tadi tidak memperhatikan dari siapa pemberian sumbangan dalam bungkusan merah yang kecil ini, maka ketika ia membukanya, ia tersenyum dan tidak merasakan ketegangan seperti yang dirasakan adiknya dan murid adiknya itu. Ketika bungkusan itu dibuka dan Suma Hui mengamatinya, tiba-tiba wajahnya berubah pucat dan wanita perkasa ini menahan jeritnya, tetapi tetap saja masih terdengar seruannya.

"Aihhh...!"

Kao Cin Liong terkejut, cepat mendekati isterinya dan dengan kedua tangan gemetar Suma Hui memperlihatkan benda yang terbungkus sutera merah itu. Sebuah perhiasan rambut dari emas yang diikat dengan segumpal rambut hitam.

Benda itu sendiri adalah merupakan perhiasan rambut yang biasa saja bagi orang lain, akan tetapi suami isteri itu terbelalak memandang karena mereka mengenal perhiasan rambut yang biasanya menghias rambut Kao Hong Li, puteri mereka yang lenyap diculik orang. Dan rambut itu... rambut siapa lagi kalau bukan rambut Hong Li?

"Enci Hui, ada apakah?" Suma Ciang Bun yang melihat perubahan muka enci-nya dan kakak iparnya segera bertanya.
"Ini... ini... perhiasan rambut milik Hong Li..." Suma Hui berkata dengan masih gemetar dan gugup.
"Hemmm, siapakah tadi pengirim sumbangan ini?" Kao Cin Liong juga berkata dengan suara geram dan memandang ke sekeliling.

Mendengar keterangan nyonya rumah bahwa isi bungkusan itu ialah perhiasan rambut yang biasa dipakai anak perempuan yang hilang diculik orang, tentu saja para tamu yang merubung meja sumbangan itu menjadi gempar. Mereka yang duduk di belakang segera mendengar dari mereka yang duduk di depan dan sebentar saja seluruh tamu mengetahui bahwa telah terjadi hal yang aneh, yaitu bahwa seorang di antara para tamu menyumbang perhiasan milik anak tuan rumah yang tadi dikabarkan telah hilang diculik orang. Tentu saja suasana menjadi gempar seketika.

"Iblis betina itulah yang tadi menyumbangkan bungkusan merah!" Tiba-tiba Gu Hong Beng berseru dan dia pun sudah melompat dan lari menghampiri Bi-kwi dan Yo Jin yang masih ikut bingung dan bertanya-tanya mendengar peristiwa yang meributkan itu.

Begitu berhadapan dengan Bi-kwi, Gu Hong Beng menudingkan telunjuknya ke arah muka Bi-kwi dan berkata dengan suara lantang, "Iblis betina, sungguh engkau jahat dan keterlaluan sekali, berani menghina kami! Engkaulah yang menculik adik Kao Hong Li, kemudian engkau berani mati datang untuk membawa perhiasan dan rambut adik Hong Li sebagai barang sumbangan!"

"Apa... apa maksudmu? Harap jangan sembarang menuduh. Bukan kami yang memberi barang seperti itu. Kami menyumbangkan sebuah benda lain!" kata Bi-kwi dengan sikap masih sabar walau pun pemuda itu memandang dengan mata melotot dan sikap bengis, siap hendak menerjangnya.
"Iblis betina, siapa tidak mengenalmu? Bi-kwi terkenal sebagai seorang wanita iblis yang jahat dan keji. Kiranya engkaulah yang menculik adik Hong Li dan kini datang sengaja hendak membikin kacau!"

Berkata demikian, pemuda ini menyerang. Serangannya sangat hebat sehingga Bi-kwi yang tidak ingin membalas, dan tidak ingin melayani, ketika mengelak ke kiri masih saja tersentuh pundaknya oleh serangan itu dan wanita ini pun terhuyung menabrak meja sehingga semua mangkok dan panci di atas meja itu terlempar dan jatuh berantakan.

Tentu saja para tamu cepat berloncatan menjauhi perkelahian itu. Dan melihat isterinya diserang, Yo Jin segera melangkah maju. Dengan sikap sabar dia menghadapi Hong Beng.

"Saudara yang gagah, harap bersabar dulu. Sesungguhnya, apa yang dikatakan isteriku tadi benar belaka. Kami datang dengan iktikad baik, demi penghormatan kami terhadap tuan rumah yang masih terhitung suheng dari adik Can Bi Lan, dan kami berdua tadi memang memberi bingkisan sutera merah, isinya sebuah bros dari emas permata. Aku sendiri yang memilihkan di antara perhiasan milik isteriku, maka harap saudara suka bersabar dan jangan salah sangka..."

Mendengar bahwa laki-laki ini suami Bi-kwi, tentu saja Hong Beng tidak mau menerima keterangannya. Seorang suami tentu saja membela isterinya, pikirnya dan dia pun lalu mendorong tubuh laki-laki itu ke samping sambil berkata, "Minggirlah kau!"

Dorongan Hong Beng adalah dorongan seorang ahli silat yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tenaga sinkang yang hebat, maka tentu saja Yo Jin yang tidak pandai ilmu silat itu, sekali tersentuh dorongan itu, tubuhnya lantas terlempar menabrak beberapa buah kursi kosong dan jatuh terbanting dengan kerasnya.....

Selanjutnya baca
SULING NAGA : JILID-22
LihatTutupKomentar