Muka Tanah Liat

MUKA TANAH LIAT

(Episode Keenam Belas Petualangan Wiro Sableng Di Latanahsilam)
SINOPSIS
"Luhcinta, mengenai peristiwa ditelaga itu. Aku bersumpah! Aku tidak punya niat dengan sengaja hendak mengintip kau mandi…"

Naga Kuning, Si Setan Ngompol dan Betina Bercula jadi saling pandang mendengar kata-kata si Penolong Budiman itu.
"Tidak disangka, jahil juga si muka comberan kering ini!" Kata Setan Ngompol keras-keras hingga si Penolong Budiman mendengar.
"Kalau saja dia mengintip diriku tentu aku persilahkan dengan dua tangan dan dua paha terbuka!" kata si Betina Bercula lalu tertawa cekikikan. "Rupanya dia tahu juga betis mulus dan jidat licin yang asli! Hik hik hik!"
"Kakimu berbulu, jidatmu atas bawah berambut! Siapa sudi mengintip monyet jantan mandi!" Kata Naga Kuning yang membuat Betina Bercula pelototkan mata dan hendak meremas bagian bawah perutnya.
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng Karya Bastian Tito
SATU
PENDEKAR 212 Wiro Sableng memandang seputar telaga lalu berpaling pada nenek muka kuning di sampingnya yang tegak setengah termenung dan unjukkan wajah muram.
"Nek, kau yakin memang di sini Hantu Langit Terjungkir berada sebelumnya?"

Si nenek muka kuning yang bukan lain adalah Hantu Selaksa Angin Alias Hantu Selaksa Kentut dan bernama asli Luhpingitan tidak segera menjawab. Sepasang matanya yang kuning menyapu seantero telaga. Sambil pandangi air telaga yang bening kebiruan dari mulutnya keluar suara mendesah.

"Lasedayu… Lasedayu, dimana kau…?" Nenek ini kemudian berpaling pada Pendekar 212 Wiro Sableng. "Aku tidak keliru. Walau dulu otakku mungkin tidak karuan tapi aku yakin. Di tempat ini Lasedayu dan Si Penolong Budiman berada sebelumnya. Kau lihat saja, di sebelah situ masih ada bekas-bekas kayu perapian. Lalu di seberang sana…" Si nenek menunjuk ke arah seberang telaga. "Itu pohon rimbun tempat aku mendekam bersembunyi mendengarkan pembicaraan mereka. Di situ aku mendengar Lasedayu berucap bahwa dia bersedia mengawini diriku… Sekarang mereka lenyap. Putus sudah harapanku…"

"Agaknya kita terlambat Nek. Mereka telah keduluan pergi, entah kemana…"

Luhpingitan tampak kecewa. "Puluhan tahun berpisah. Kemudian kami bertemu. Sayangnya saat itu jalan pikiranku masih tak karuan hingga aku tidak mengenali suami sendiri. Jangankan suami sendiri. Diriku sendiri aku tidak tahu siapa adanya! Kini setelah aku sadar, diamalah lenyap. Sudah di depan mata, tinggal sepejangkauan. Namun…"

"Kau jangan berputus asa Nek. Kita akan mencarinya. Pasti bertemu…"

Luhpingitan arahkan pandangan kesebuah pohon lalu melangkah mendekati. Sambil mengusap batang pohon itu dia berkata. "Dibatang pohon ini aku menempelkan tangannya yang patah. Beberapa hari setelah itu, ketika tulangnya bertaut kembali dan dagingnya yang luka menyembuh, selagi dia tertidur nyenyak dalam sirapanku, kusambungkan kembali tangannya. Saat itu kalau saja aku tahu dia adalah Lasedayu suamiku, tak akan kutinggalkan tempat ini..."

Si nenek geleng-gelengkan kepalanya. Dua bola matanya mulai berkaca-kaca. Setelah diam sejenak Luhpingitan lanjutkan kata-katanya. "Entah mengapa perasaanku mendadak khawatir…"

"Aku mengerti apa yang kau khawatirkan Nek," kata Wiro.

"Lasedayu selalu kesepian selama puluhan tahun. Kau khawatir kalau kalau ada perempuan lain yang merayunya lalu dikawininya…"

"Setahuku Lasedayu bukan lelaki mata keranjang…" membela Luhpingitan. "Kalau dia memang tidak berjodoh lagi dengan diriku, apa boleh buat…"

"Ah, jangan begitu Nek," kata Wiro sambil tertawa menggoda.

"Dengar Wiro. Aku khawatir satu hal karena aku ingat kata-kata guruku Datuk Tanpa Bentuk Tanpa Ujud. Dia mengatakan bakal terjadi satu peristiwa besar di Negeri Latanahsilam ini…"

"Satu peristiwa besar? Peristiwa apa Nek?" tanya Wiro.

"Sang Datuk tidak menerangkan. Malah dia mengatakan agar aku mencari Allah. Mencari Tuhan, Penguasa Tunggal Jagat Raya, Pencipta Langit dan Bumi serta makhluk yang ada di antaranya… terus terang, aku tidak tahu siapa Tuhan itu. Siapa Allah itu."

Wiro terkejut. "Gurumu bilang begitu?"

Luhpingitan mengangguk. "Seharusnya sudah kuberi tahu beberapa waktu lalu padamu. Tapi karena pikiran dan perhatianku terpusat pada bagaimana agar lekas bertemu Lasedayu, aku terlupa mengatakan padamu. Aku ingat kau dan dua kawanmu pernah menyebut-nyebut Tuhan. Gusti Allah. Mungkin kau bisa menolong memberi tahu siapa Tuhan atau Gusti Allah itu adanya. Di mana aku harus mencariNya?"

"Nek, kalau gurumu benar berkata begitu berarti dia dan kau sudah mendapatkan satu rahmat yang luar biasa besarnya. Kau tak usah mencari jauh-jauh. Karena Gusti Allah itu sebenarnya sangat dekat dengan diri manusia. Sedekat darah yang mengalir di dalam tubuh kita. Tuhan ada dalam diri kita, tergantung kadar iman yang ada di lubuk hati senubari kita…"

"Hai! Apa katamu Wiro? Gusti Allah ada dalam diriku? Aku tidak mengerti… Iman, apa pula itu?" Nenek muka kuning kerenyitkan kening.

"Nanti Nek, satu saat kau pasti akan mengerti…"

"Setahuku dalam diriku hanya ada butt prett! Kentut celaka itu! Kalau tidak kau yang menolong pasti sampai saat ini aku masih digerayangi penyakit itu!" Walau matanya masih berkaca-kaca tapi si nenek masih bisa tertawa cekikikan. Wiro ikut tertawa gelak-gelak, "Wiro, melihat air telaga yang jernih dan sejuk itu, timbul keinginanku untuk mandi…"

"Aku maklum saja Nek. Pasti sudah belasan hari kau tak pernah mandi…" kata Wiro pula.

"Jangan kau bicara tak karuan. Aku lebih sering mandi dari padamu! Makanya kepalamu banyak kutu. Buktinya kulihat kau sebentar-sebentar suka menggaruk. Hik hik hik! Dengar Wiro, aku mandi sekali ini selain ingin membersihkan diri juga punya satu maksud…"

"Maksud lain itu kau sengaja mau memberi kesempatan padaku untuk dapat melihatmu berbugil-bugil? Sama saja aku seperti kelilipan semut rangrang! Ha ha ha! Tak usahlah ya Nek!"

"Jangan kau bicara kurang ajar! Kau menganggap aku ini apa! Aku mau mandi membersihkan diri, menanggalkan semua lapisan kuning yang melekat di muka dan sekujur tubuhku. Kalau aku bertemu dengan Lasedayu dan aku masih dalam keadaan seperti ini, mana dia bisa mengenali diriku kalau aku adalah Luhpingitan. Istrinya yang terpisah sejak puluhan tahun silam…"

"Maksudmu memang bagus Nek. Tapi justru aku ingin kau bertemu dulu dengan dia sesuai bagaimana hatinya terhadapmu. Bukankah kau bilang mendengar dia berkata ingin mengawinimu?"

Luhpingitan menggaruk keningnya berulang kali. "Aku setuju. Baik, aku akan ikut apa yang kau katakan. Sekarang kemana kita harus mencari Lasedayu?"

"Kita harus mencari kemana-mana Nek. Menanyakan pada setiap orang yang kita temui. Sebaiknya kita pergi sekarang saja…"

Luhpingitan mengangguk. Ketika dia hendak bergerak, langkahnya tertahan. "Tunggu dulu, Wiro. Masih ada pesan guruku yang lain yang harus aku lakukan. Datuk mengatakan agar aku mengajarkan semua ilmu kepandaianku padamu…"

"Lupakan hal itu Nek. Bukankah aku sudah mendapatkan llmu Empat Penjuru Angin Menebar Suara dari gurumu? Itu sudah lebih dari cukup…"

"Tidak bisa. Aku harus mengikuti perintahnya. llmu yang dari dia ya dari dia. Yang dari aku ya dari aku!" kata Luhpingitan alias Hantu Selaksa Angin. Agar Wiro tidak bergerak dia sengaja cekal tangan pemuda itu.

"Dengar, aku punya beberapa ilmu kepandaian. Pertama llmu Menahan Darah Memindah Jazad. Kau sudah pernah menyaksikan kehebatannya. Dengan ilmu itu kau bisa memindahkan lalu mengembalikan kemana saja setiap bagian tubuh orang yang jahat terhadapmu…"

"Itu ilmu hebat luar biasa Nek. Tapi aku ngeri!" kata Wiro lalu memperagakan dirinya seperti orang menggigil ketakutan. "Aku tidak berminat memilikinya. Lagi pula bukankah sudah kukatakan kau tak perlu memberikan ilmu apapun padaku?"

"Kalau kau tak suka ilmu itu aku masih punya ilmu pukulan, disebut Tombak Kuning Pengantar Mayat" Habis berkata begitu Luhpingitan kebutkan lengan jubah sebelah kanannya.

"Wuuttt!" Selarik sinar kuning membentuk tombak melesat keluar dari balik lengan jubah lalu menembus sebuah batu besar tiga tombak di depan sana.

"Byaarrr!" Batu besar itu serta merta hancur berkeping-keping. Setiap kepingan yang seharusnya berwarna kelabu kehitaman berubah menjadi kuning gelap!

"Bagaimana?! Kau mau ilmu itu?!" tanya si nenek.

Wiro tersenyum sambil garuk-garuk kepalanya.

"Wahai, rupanya kau mau ilmu yang satu ini. Bersiaplah…" kata Luhpingitan mengira Wiro menyukaiIlmu Kuning Pengantar Mayat yang barusan diperagakannya itu. Tapi dia jadi terkejut ketika mendengar sang pendekar berkata.

"Nek, kau baik sekali. Tapi maafkan diriku. Aku tidak mau menjadi Pengantar Mayat. Aku sudah bilang aku tidak berani menerima ilmu apapun darimu."

Luhpingitan langsung garuk-garuk kepalanya yang berambut kuning. "Sialan, kini aku yang jadi garuk-garuk kepala sepertimu. Aku tidak yakin kau tidak mau ilmu kesaktian. Tunggu! Bagaimana dengan ilmu pukulan milikku yang disebut Salju Putih Latinggimeru. Ini lebih dahsyat dari Tombak Kuning Pengantar Mayat. Selama ini tidak ada musuh yang bisa luput dari pukulan itu!"

Wiro susun sepuluh jarinya dan rapatkan dua tangan di atas kepala. "Nek, aku tidak pernah bertemu orang sebaikmu. Aku mohon maaf Nek. Bukankah lebih baik kita berangkat saja sekarang ini mencari Lasedayu?"

"Hemmm…" Luhpingitan keluarkan suara bergumam. Mulutnya terpencong-pencong. "Ilmu Kepompong! Kau pasti mau ilmu itu! Tubuhmu bisa berubah menjadi kepompong dan kau…"

"Ampun Nek, yang aku ngeri bagaimana kalau aku tidak bisa merubah diriku kembali jadi manusia! Jadi kepompong terus seumur-umur!"

"Pemuda tolol! Memangnya kau kira aku tidak akan mengajarkan rapalan bagaimana caranya berubah diri jadi kepompong lalu kembali ke ujudmu semula?!"

"Sudah Nek, nanti saja kita bicarakan semua kehebatan ilmumu itu. Yang jelas aku sangat berterima kasih…" Dia memandang ke leher si nenek yang penuh digelantungi kalung lalu ingat pada kalung bermata sendok emas sakti. "Nek…"

"Apa yang ada dalam benakmu?" tanya Luhpingitan.

"Sebenarnya ada sesuatu yang aku ingin minta padamu…"

"Tunggu! Aku Ingat! Kau pasti meminta Sendok Pemasung Nasib yang pernah kujanjikan padamu! Janjiku akan kutepati. Kau sudah menyembuhkan penyakit kentutku walau sesekali aku masih kentut-kentut juga! Jangan khawatir! Saat ini juga akan kuberikan padamu sendok itu!"

"Sebentar Nek. Jangan kau menganggap aku memaksa menagih janji. Sebenarnya sendok emas sakti itu akan kuserahkan pada suamimu Lasedayu. Karena hanya dengan sendok itulah dia bisa disembuhkan dan kesaktiannya bisa dikembalikan."

Sepasang mata si nenek yang kuning terbelalak. "Apa katamu, Wiro?" Lalu nenek ini langsung saja hendak mengeluarkan dan menanggatkan kalung sendok emas sakti yang tergantung di lehernya. Tapi tangannya yang tadi bergerak ke leher mendadak berubah menyambar ke pinggang Pendekar 212. Sekali lagi dia menarik maka sosok Wiro terbetot keras. Keduanya terbanting ke tanah dan bergulingan ke balik serumpunan semak belukar lebat

"Hai Nek! Kau mau berbuat apa?!" tanya Wiro heran dan curiga.

Hantu Selaksa Angin cepat tekap mulut Wiro dengan tangan kirinya seraya berbisik, "Aku mendengar ada suara orang berkelebat ke arah sini…"

"Aneh, aku tidak mendengar suara apa-apa…" kata Wiro perlahan. Namun sesaat kemudian telinganya baru menangkap kelebatan seseorang yang bergerak cepat

"Kita lihat saja siapa yang datang!" jawab si nenek. Matanya yang kuning memandang ke arah kiri. Wiro ikuti pandangan nenek ini. Dadanya berdebar keras ketika melihat siapa yang muncul.

DUA
Yang muncul ternyata adalah seorang dara berpakaian serba biru. Walau wajahnya agak pucat dan sepasang matanya yang bagus tampak kemerahan namun tidak dapat menutupi kecantikan wajahnya. Hantu Selaksa Angin melirik ke arah Wiro lalu berbisik,

"Bukankah itu gadis yang bernama Luhcinta? Gadis tercantik di seluruh Negeri Latanahsilam?"

Wiro anggukkan kepala sambil terus memperhatikan. Di tepi telaga Luhcinta berdiri tak bergerak. Hanya dua bola matanya saja yang berputar memperhatikan kian kemari. Lalu gadis ini menarik nafas panjang dan duduk di atas satu batu besar. Di langit cahaya sang surya mulai redup karena sebentar lagi akan menggelincir masuk ke ufuk tenggelamnya. Hantu Selaksa Angin memegang lengan Wiro lalu kembali berbisik.

"Menurut kabar yang aku sirap, kau adalah satu-satunya pemuda yang dicintai gadis bernama Luhcinta itu."

Air muka murid Sinto Gendeng jadi berubah. Dia tersenyum sambil garuk-garuk kepala. "Kabar seperti itu mana bisa dipercaya Nek…"

"Kalau begitu harus kau tanyakan sendiri padanya!" ujar si nenek pula.

"Enak saja kau Nek. Jangan berani berbuat macam-macam…"

"Kau pemuda pengecut atau tolol! Biar aku yang bertanya padanya lalu sekaligus mengatakan bahwa kau sendiri juga mencintainya!"

"Nenek gila!" Wiro cekal erat-erat lengan Luhpingitan.

"Hemmm, jadi kau tidak mencintainya? Jangan kau berani dusta anak muda! Aku melihat dari air muka serta pancaran matamu! Kau mencintai gadis itu!"

"Dengar Nek, sebagai lelaki waras aku memang tertarik pada Luhcinta. Tapi bukan aku saja. Kurasa semua pemuda di Negeri Latanahsilam menyukai gadis itu. Tapi…"

"Tapi yang dicintainya cuma kau seorang! Apa kau mau berkilah…"

"Soal dia mencintaiku mana tahu Nek…"

"Kau tolol atau pura-pura dungu? Hik hik hik! Saat ini aku tahu bagaimana perasaanmu. Kau hendak keluar dari balik semak belukar ini, ingin menemui gadis itu!Aku dapat membaca isi hatimu di mukamu yang toiol! Hik hik hik!"

Di atas batu Luhcinta masih tampak duduk sambii pandangi air telaga yang kini seolah disepuh kuning akibat siraman cahaya sangsurya yang hendak tenggelam. Tiba-tiba gadis itu melangkah ke sederetan batu-batu setinggi pinggang di arah timur tepian telaga. Di sini dia memandang ke langit, lalu memperhatikan berkeliling. Merasa yakin tidak ada orang lain di tempat itu maka perlahan-lahan dia mulai membuka pakaian birunya.

Dua bola mata Pendekar 212 membesar menyaksikan pemandangan yang tidak terduga itu. Tapi mendadak ada dua telapak tangan menekap matanya.Lalu terdengar suara si nenek muka kuning.

"Dasar pemuda mata gatal! Tadi kau bilang tidak sudi melihat aku berbugil-bugil! Karena aku sudah tua bangka, tubuhku peot jelek dan keriputan! Tapi sekarang ada gadis yang mau mandi telanjang matamu seperti mau melompat keluar!"

"Nek, aku… Bukan maksudku mau memperhatikan. Tapi semua terjadi begitu mendadak… Kalau melihat sepintas kurasa tidak apa-apa Nek. Itu namanya rejeki kebetulan. Tapi kalau dipandang atau sengaja mengintip terus-terusan itu baru dosa!"

"Enaksaja kau bicara! Saat ini aku merasa sekujur tubuhmu sudah pada kencang!" kata si nenek.

"Nek, aku… Lepaskan tanganmu. Aku berjanji tidak akan memandang ke arah telaga. Aku…"

Wiro pegangi dua tangan si nenek. Lalu dia merasa bagaimana dua tangan itu menekannya ke bawah hingga dia jatuh berlutut Lalu sekali lagi dua tangan si nenek bergerak, sosok Wiro terpuntir membelakangi telaga dan terdudukjatuh menjelepok di tanah.

"Kalau kau berani memandang lagi ke arah telaga, kujitak kepalamu sampai benjol!"

Setelah mengancambegitu baru Luhpingitan lepaskan kedua tangannya yangmenekap menutupi mata pendekar 212. Wiro tertawa-tawa sambil garuk-garuk kepala. Dari telaga didengarnya suara orang mencebur masuk ke dalam air. Di sampingnya si nenek tegak memperhati-kan Luhcinta berenang di tepi telaga di sela-sela batu dan sesekali tubuhnya menyelam lenyap di bawah permukaan air.

Selagi Luhcinta menyelam untuk kesekian kalinya, tiba-tiba dari balik satu pohon besar berkelebat satu bayangan hitam. Dua kali melompat orang ini sampai dekat batu di atas mana Luhcinta meletakkan pakaian serta perbekalannya. Orang tak dikenal tersebut memeriksa pakaian Luhcinta seperti mencari-cari sesuatu. Dari permukaan air muncul kepala dan sosok setengah badan Luhcinta. Orang yang ada dekat batu tampak kaget, memandang terpana lalu cepat bergerak membungkuk ke balik sebuah batu.

"Kurang ajar! Ada yang datang! Berani dia mengintip anak gadis orang sedang mandi!"

"Nek, ada apa? Apa yang terjadi?!" tanya Wiro.

"Diam kau! Jangan berani membalik!" Membentak si nenek. Lalu sambil melesat keluar dari balik semak belukar lebal Luhpingitan berteriak. "Makhluk kurang ajar! Berani kau mengintai perempuan mandi!"

"Nek!" Wiro garuk kepalanya. "Siapa yang mengintai?!" Tapi si nenek sudah tak ada lagi di sampingnya.

Perlahan-lahan Wiro putar kepalanya. Sosok hitam di tepi telaga tersentak kaget Orang ini cepat memutar tubuh hendak melarikan diri. Tapi Hantu Selaksa Angin sudah menghadangnya dan langsung hantamkan tangan kanannya. Orang yang diserang dalam kagetnya masih bisa angkat tangan menangkis pukulan ganas Hantu Selaksa Angin.

"Bukkk!"

Dua tangan beradu keras di udara. Orang berpakaian serba hitam keluarkan seruan tertahan dan terpental sampai dua tombak. Sebaliknya si nenek terjajar tiga langkah dan mengeluh kesakitan lalu merutuk tak karuan. Di dalam air Luhcinta terpekik ketika mengetahui ada orang lain di tepi telaga, dekat sekali di tempatnya mandi. Lalu ada suara perempuan membentak dan memaki disusul suara gebrakan orang berkelahi. Gadis ini jadi bingung. Dia bergerak ke tepi telaga ke arah batu dimana pakaiannya berada. Tapi si nenek cepat berteriak.

"Luhcinta! Jangan keluar dari dalam air! Ada lelaki kurang ajar di tempat ini! Dia mengintip kau mandi! Biar kuberi pelajaran! Akan kukorek dua biji matanya!" Mendengar peringatan Hantu Selaksa Angin itu tentu saja Luhcinta tidak berani keluar dari dalam telaga Ingin sekali dia ikut menggebuk lelaki kurang ajar itu. Tapi dalam keadaan seperti itu mana mungkin dia melakukan. Seperti yang diberi tahu si nenek, mau tak mau dia terpaksa mendekam bertahan di dalam air.

"Tunggu! Tahan seranganmu!" berseru orang berjubah hitam yang kembali hendak diserang oleh Hantu Selaksa Angin. Kali ini tidak tanggung-tanggung si nenek akan menghantam dengan Pukulan Tombak Kuning Pengantar Mayat" Aku tidak bermaksud jahat! Aku sama sekali tidak mengintip gadis itu. Aku…"

"Makhluk jahanam! Kau sudah tertangkap basah! Masih mau berkilah!" Amarah Hantu Selaksa Angin tidak tertahankan lagi. Untuk kedua kalinya nenek ini menyerbu. Kali ini dia siap melepaskan pukulan mautnya yang bernama Salju Putih Latinggimeru. Dua tangan mengepal, diangkat setinggi dada lalu didorong sambil sepuluh jari membuka. Bau seharum setanggi dibakar menghampar menusuk penciuman. Udara mendadak menjadi dingin.

"Pukulan Salju Putih Latinggimeru" seru orang yang hendak diserang kaget luar biasa. Dia tidak menyangka si nenek akan keluarkan ilmu yang sangat dahsyat itu pertanda dirinya memang hendak dibikin lumat!

Sebaliknya Hantu Selaksa Angin juga terkejut ketika belum lagi dia melepas pukulan maut orang berjubah hitam ternyata sudah mengetahui ilmu kesaktiannya itu. Untuk sekejapan gerakan dua tangannya hendak menghantam jadi tertahan. Walau sesaat namun kesempatan ini dipergunakan oleh orang berjubah hitam untuk dorongkan dua tangannya kedepan. Dua larik gelombang angin menderu.

Sosok nenek muka kuning terhuyung-huyung. Sambil imbangi diri dan kuatkan kuda-kuda kakinya Hantu Selaksa Angin pukulkan dua tangannya. Sepuluh kuku si nenek pancarkan sinar kuning, menderu menggidikkan ke arah lawan. Namun orang berjubah hitam dengan kecepatan luar biasa masih sempat berkelebat selamatkan diri. Sepuluh larik sinar kuning melabrak deretan batu-batu besar di tepi telaga. Akibatnya batu-batu itu hancur berantakan, bertabur di udara yang dingin dan berbau setanggi!

"Kurang ajar! Siapa adanya jahanam itu! Aku rasa-rasa bisa menduga! Hanya sedikit orang yang tahu ilmu pukulan yang hendak kulepaskan. Sayang udara telah gelap. Aku tidak dapat melihat jelas wajahnya! Ada keanehan pada muka orang itu. Jangan-jangan…"

Hantu Selaksa Angin lalu ingat pada Luhcinta. Dia segera melompat mendekati batu di atas mana terletak pakaian si gadis. Pakaian biru itu dilemparkannya ke dalam telaga.

"Gadis, lekas kau kenakan pakaianmu!"

Luhcinta cepat menangkap pakaiannya. Tak perduli berbasah-basah, dia kenakan pakaian lalu naik ke tepi telaga. Begitu berhadaphadapan, Luhcinta tidak menyangka kalau yang menolongnya itu adalah nenek muka kuning yang dikenalnya dengan julukan Hantu Selaksa Kentut.

"Hantu Selaksa Kentut… Aku tidak mengira. Aku sangat berterima kasih padamu. Kalau kautidak muncul tentu lelaki jahanam itu telah berbuat jauh lebih keji… Kau tahu siapa orangnya Nek?"

Sementara itu di balik semak belukar Pendekar 212 Wiro Sableng masih duduk menjelepok ditanah. Waktu tadi ditinggal si nenek dia ingin segera bangkit berdiri. Namun takut didamprat terpaksa dia menunggu. Lalu terdengar suara orang berkelahi. Ketika mendengar si nenek menyuruh Luhcinta mengenakan pakaian, murid Sinto Gendeng ini tidak tahan lagi.

Setelah menunggu sesaat akhirnya dia bangkit berdiri dan lari ke tepi telaga. Justru saat itu Luhcinta baru saja menanyakan siapa adanya orang yang telah berlaku keji mengintipnya mandi. Melihat kemunculan Wiro terjadilah salah sangka. Luhcinta mengira sang pendekarlah yang telah mengintipnya saat mandi di telaga. Pertemuan yang tidak diduga dan dalam suasana seperti itu membuat Luhcinta menjadi pucat. Suaranya bergetar.

"Kau… Kau ternyata yang berlaku keji mengintip diriku. Rupanya benar apa yang selama ini tersiar di luaran. Kau pemuda hidung belang. Bahkan setelah kawinpun kau masih melakukan perbuatan tidak terpuji. Apa kau tidak mendapat kepuasan dari istrimu hingga masih mau mengintip perempuan mandi…?"

Tadinya Wiro memang merasa bersalah karena secara tidak sengaja dia sempat melihat sosok Luhcinta sewaktu menanggalkan pakaian. Setelah ditegur Hantu Selaksa Angin dia tidak meneruskan perbuatannya itu. Namun yang mengejutkan dan membuat wajah Wiro ikut-ikutan pucat adalah ucapan Luhcinta.

"Bagaimana dia tahu aku sudah kawin…?" Wiro bertanya sendiri dalam hati dan mendadak dadanya terasa sesak.

"Luhcinta, maafkan aku. Aku tidak sengaja…"

"Bagaimana mungkin ada orang mengintip secara tidak sengaja?! Perbuatanmu sungguh keji memalukan…"

"Aku…" Wiro tak bisa meneruskan ucapannya.

Saat itu nenek muka kuning segera menengahi. "Luhcinta, yang tadi mengintip kau mandi bukan dia. Tapi orang lain…"

Luhcinta jadi terkejut mendengar keterangan si nenek. Hingga matanya terbelalak berganti-ganti memandang Wiro dan Hantu Selaksa Angin.

"Orang yang berbuat keji itu sudah kabur…" Hantu Selaksa Angin menambah keterangannya.

"Kau, kau sempat mengenali siapa adanya lelaki terkutuk itu, Nek?" tanya Luhcinta lalu memandang pada Wiro dengan air muka seperti menunjukkan penyesalan padahal hatinya masih perih karena mengetahui Wiro telah menikah dengan seorang gadis yang bernama Luhrembulan.
Baca Episode sebelumnya berjudul Rahasia Perkawinan Wiro

"Keadaan di tempat ini agak gelap. Aku tidak bisa melihat jelas wajah orang itu. Dia mengenakan jubah hitam dan mukanya juga hitam pekat… Aku menduga, jangan-jangan bukankah dia orang yang selama ini dikenal dengan julukan Si Penolong Budiman?"

Terkejutlah Luhcinta dan juga Wiro mendengar ucapan si nenek.

"Selama ini dia memang selalu mengikuti diriku," kata Luhcinta pula. "Walau aku curiga padanya tapi sebegitu jauh dia tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak baik. Tahu-tahu kali ini, tidak terduga dia melakukan perbuatan keji itu! Aku akan mencarinya sampai dapat. Kalau belum kuhajar habis-habisan belum puas hatiku…" kata Luhcinta.

Dia meraba-raba pakaiannya. Lalu berpaling ke arah batu besar tempat tadi dia meletakkan pakaiannya. Di situ terletak sehelai kantong kain miliknya. Luhcinta segera mengambil kantong itu dan memeriksa isinya. Dia mencari-cari, membalikkan kantong kain itu berulang kali, meraba kian kemari. Pucatlah wajah gadis ini untuk kesekian kalinya.

"Ada sesuatu barangmu yang hilang Luhcinta?" tanya Hantu Selaksa Angin.

Yang ditanya menjawab dengan anggukan. Wiro ingin menanyakan benda apa yang hilang tapi tak sanggup keluarkan ucapan. Akhirnya si nenek yang bertanya.

"Barang apa Luhcinta?"

"Sebuah ukiran bunga mawar. Terbuat dan batu berwarna merah. Bagiku benda itu sangat berharga sekali. Kuanggap seperti nyawa sendiri…"

"Tadi aku sempat melihat Si Penolong Budiman memeriksa pakaian dan barang-barangmu yang ada di atas batu…" kata Hantu Selaksa Angin pula.

"Kalau begitu jelas dia yang mencuri mawar dari batu merah itu!" kata Wiro. "Biar aku mengejarnya sekarang juga!"

"Perlu apa menyusahkan diri? Bukankah lebih baik bagimu menemani istri sendiri…?"

Wajah Pendekar 212 kembali memucat. Nenek muka kuning kerenyitkan wajahnya. "Luhcinta, kau ini bicara apa? Apa maksudmu dengan semuaucapan itu. Memangnya pemuda ini sudah kawin? Kawin dengan siapa…? Kawin di Negeri Latanahsilam ini?"

"Tanyakan sendiri padanya!" sahut Luhcinta lalu membuang muka, memandang ke arah telaga.

"Butt prett!"

"Gila! Kentutku sampai terpancar mendengar semua pembicaraan kalian! Wiro, aku tak pernah tahu. Memangnya benar kau sudah kawin? Dengan siapa?"

"Nek… aku…." Wiro menggaruk kepalanya. "Aku tak bisa menjelaskan…"

"Aku tidak suka orang berdusta! Antara kita saat ini sudah terjalin hubungan sangat erat Wiro. Ingat hal itu baik-baik. Aku tidak perduli kau sudah kawin dan dengan siapa. Aku hanya ingin tahu apa yang dikatakan gadis ini benar?"

"Benar dan tidak Nek," jawab Wiro.

"Wahai! Sialan amat jawabanmu!"

"Memang sialan Nek. Aku mengalami nasib sial yang aku tidak tahu mengapa jadi bisa begitu! Terserah orang mau mengatakan apa. Yang jelas semua terjadi diluar kemauanku…"

"Tidak bisa kumengerti. Mana ada pemuda kawin diluar kemauannya. Kalau gadis masih mungkin karena dipaksa…"

"Saat ini aku tak bisa menerangkan padamu. Ceritanya panjang. Aku kira lebih baik kita tinggalkan tempat ini…"

"Tidak! Kau harus memberi tahu lebih dulu!" jawab Hantu Selaksa Angin.

"Nanti akan kuceritakan padamu. Aku berjanji!"

"Baik, aku menurut. Kau menceritakan nanti. Tapi saat ini aku ingin tahu dulu, benar kau sudah kawin Wiro?"

"Kawin tidak syah! apa itu bisa dinamakan kawin?!" menukas Pendekar 212.

"Aku jadi tidak mengerti. Kawin tidak syah bagaimana?!"

"Nek, kalau kau keliwat menekan aku terpaksa meninggalkan kau! Aku tidak akan menemanimu mencari Lasedayu!"

Diancam seperti itu Hantu Selaksa Angin alias Luhpingitan jadi khawatir. Nenek ini segera berkata pada Luhcinta. "Maafkan aku wahai kerabat muda dan cantik. Aku tidak dapat memaksa pemuda ini. Aku terpaksa menanti sampai dia mau menceritakan. Kalau aku sudah tahu dan kita bisa bertemu, pasti akan kujelaskan padamu…"

"Aku tidak perlu segala cerita dan penjelasan Nek. Aku melihat sendiri upacara peresmian pernikahannya di Bukit Batu Kawin!" jawab Luhcinta.

Kagetlah si nenek muka kuning. Wiro tak kalah kejutnya. Sebelum pembicaraan jadi bertambah panjang murid Sinto Gendeng ini segera berkelebat tinggalkan tempat itu. Melihat Wiro pergi Luhpingitan jadi bingung sendiri. Dia harus mengambil keputusan.

"Luhcinta," si nenek akhirnya berkata. "Aku terpaksa meninggalkan kau. Aku ada urusan sangat penting dengan pemuda itu…"

"Dia bukan pemuda lagi Nek. Dia sudah kawin!" tukas Luhcinta.

"Ya… ya…!" Hantu Selaksa Angin garuk-garuk kepalanya. "Gila! Aku sudah ketularan penyakit si Wiro itu! sebentar-sebentar garuk kepala"

Dalam bingungnya akhirnya Luhpingitan berkelebat pula ke arah lenyapnya Pendekar 212.

********************
WWW.ZHERAF.COM
TIGA
Sosok berjubah hitam Itu berkelebat sebat laksana bayangan setan. Sesekali tubuhnya lenyap di balik deretan pepohonan atau semak belukar. Di satu tempat dia membelok ke kiri dan akhirnya masuk ke dalam sebuah goa. Dia langsung jatuhkan diri, duduk di lantai, bersandar ke dinding goa dengan nafas mengengah-engah.

"Untuk sementara aku aman berada di sini. Goa ini pernah didiami gadis itu dan Luhsantini. Dia pasti tidak akan mencariku sampai ke sini…"

Orang berjubah hitam berucap di antara engahan nafasnya. Dari mukanya yang hitam oleh lapisan tanah liat mudah diterka bahwa orang ini bukan lain adalah Si Penolong Budiman yang sejak beberapa waktu belakangan ini telah menggemparkan Negeri Latanahsilam dengan ilmu kesaktiannya yang disebut Pukulan Menebar Budi.

Sejak tadi tangan kanan Si Penolong Budiman berada dalam saku jubah hitamnya, memegang erat sebuah benda yang telah diambilnya dari kantong perbekalan milik Luhcinta. Dengan tangan gemetar dia keluarkan benda itu. Saat itu di luar malam sudah turun. Di dalam goa cukup gelap. Dia tak dapat melihat jelas benda yang dikeluarkannya dari dalam saku jubah.

"Aku harus menyalakan api. Aku harus meneliti benda ini. Untuk memastikan bahwa ini benar-benar-benda yang pernah dimiliki… Wahai para Dewa, tunjukkan aku kebesaranmu. Perlihatkan bukti dan kenyataan bahwa memang inilah adanya benda itu…"

Dari sisa-sisa kayu api yang ditinggalkan Luhcinta dan Luhsantini dan masih bertebaran didekat mulut goa, Si Penolong Budiman membuat api unggun. Begitu goa menjadi terang benderang dia kembali keluarkan benda di dalam sakunya. Agar lebih jelas benda itu didekatkannya ke api. Sepasang mata Si Penolong Budiman membeliak besar, memandang lekat tak berkesip. Dadanya berguncang keras.

"Asli… Aku yakin. Ini benar-benar batu merah berbentuk ukiran bunga mawar. Benda yang pernah menjadi hiasan rambutnya…" Si Penolong Budiman cium dalam-dalam batu merah berbentuk bunga mawar itu sambil pejamkan matanya. "Aku seperti merasakan harumnya bau rambutnya… Para Dewa besar nian berkah dan petunjukmu. Hiasan ini adalah milik mendiang. Berarti gadis bernama Luhcinta ini… Apa-kah dia…? bagaimana benda ini bisa berada ditangannya kalau dia tidak mempunyai hubungan tertentu dengan mendiang…? Wahai orang yang ada di alam roh. Kuharap kau bisa bersabar hati dan bertenang diri sampai aku mampu menyingkap semua rahasia kehidupan ini."

Ketika Si Penolong Budiman membuka dua matanya kembali, kelihatan mata itu berkaca-kaca. Sambil mendekap ukiran bunga mawar yang terbuat dari batu merah ke dadanya, hatinya berkata.

"Aku harus kembali ke telaga. Menemui gadis itu. Tapi apakah ini saatnya yang tepat? Dia telah mempunyai kesan yang tidak baik terhadapku. Si nenek muka kuning pasti sudah member! tahu ciri-ciriku pada gadis itu… Sulit bagiku mengelakkan tuduhan. Kecuali jika dia mau mendengar dan menerima semua penjelasanku… Demi masa silamku! Demi masa depan gadis itu, aku harus pergi menemuinya. Apapun yang terjadi! Bertahun-tahun aku berusaha keras untuk menyingkap tabir gelap kehidupan ini. Sekarang setelah hampir tersibak masakan aku harus tercampak dalam kebimbangan…?!"

Perlahan-lahan Si Penolong Budiman bangkt berdiri. Belum sempat dia melangkah ke pintu goa tiba-tiba menggelegar suara bentakan.

"Orang di dalam goa! Lekas keluar! Kembalikan benda yang kau curi dariku! Atau kau akan kukubur hidup-hidup di dalam goa itu!"

Si Penolong Budiman tersentak kaget. Kejutnya bukan alang kepalang. Dia mengenali suara itu. "Luhcinta," desisnya… Bagaimana dia tahu aku berada di dalam goa ini! Celaka! Tapi mungkin ini satu jalan pintas yang lebih baik… Namun aku harus mengambil sikap waspada hati-hati. Dalam keadaan seperti ini dimana dia penuh salah sangka terhadapku bukan mustahil dia langsung menghantam begitu melihatku!"

Dengan kakinya Si Penolong Budiman matikan nyala api unggun di mulut goa. Begitu keadaan gelapdengan cepat dia melesat keluar. Di luar goa dia langsung berhadapan dengan Luhcinta. Dan ternyata gadis ini tidak sendirian. Satu langkah dibelakangnya berjejer tiga sosok. Walaupun gelap namun Si Penolong Budiman masih mengenali.

Tiga orang dibelakang Luhcinta adalah bocah yang dikenalnya dengan nama Naga Kuning, lalu kakek berjuluk SiSetan Ngompol. Yang ke tiga adalah banci, berkepandaian tinggi yang biasa dipanggil dengan sebutan Betina Bercula! Bagaimana Luhcinta bisa muncul bersama ketiga orang itu? Mari kita ikuti apa yang terjadi beberapa waktu sebelumnya.

********************
Beberapa lama setelah Wiro dan Hantu Selaksa Angin meninggalkannya, Luhcinta masih tertegak di tepi telaga sementara hari mulai gelap karena keremangan senja telah digantikankepekatan malam. Dalam bingungnya dia tidak tahu mau melakukan apa. Mengejar Si Penolong Budiman yang telah mencuri barang berharga miliknya. Atau mengejar Wiro dan Hantu Selaksa Angin. Ketika akhirnya dia memutuskan untuk mengejar Si Penolong Budiman tiba-tiba kesunyian di tempat itu dirobek oleh suara bergemuruh seolah seantero tempat dihantam badai.

Lalu terdengar teriakan beberapa orang. Belum hilang kagetnya si gadis tiba-tiba tiga sosok mencelatdari dalam kegelapan dan jatuh terbanting di hadapannya. Orang biasa pasti tak akan mampu bergerak untuk beberapa lamanya. Paling tidak ada bagian tubuhnya yang cidera atau ada tulangnya yang patah. Namun ke tiga orang yang berkaparan di tanah itu walau kelihatan babak belur dengan cepat melompat bangkit, memasang kuda-kuda, sama-sama menghadap ke arah kegelapan.

"Kalian bertiga, apa yang terjadi?" tanya Luhcinta. Belum sempat ada yang menjawab tiba-tiba satu bayangan putih berkelebat Orang ini ternyata adalah Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab!

Seperti dituturkan sebelumnya dalam Episode (Hantu Selaksa Angin) Lawungu dan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab tidak mampu menghadapi Pendekar 212 Wiro Sableng yang dibantu oleh Sang Junjungan.

Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab untuk kesekian kalinya terpaksa meninggalkan arena pertempuran membawa Lawungu yang cidera berat akibat secara tidak sengaja terkena hantaman ilmu Membuhul Urat Mengikat Otot yang dilepaskan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

Dalam perjalanan menyelamatkan sahabatnya itu, tidak sengaja Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab melihat tiga sekawan Naga Kuning, Si Setan Ngompol dan Betina Bercula.

"Tiga jahanam itu!" rutuk Lawungu. "Mereka telah berbuat kurang ajar pada kita! Terutama kakek berjuluk Setan Ngompol itu! Dia mengencingi mulutku! Demi Dewa dan semua roh yang tergantung antara, langit dan bumi kita harus membalaskan sakit hati. Aku sudah bersumpah untuk membunuh ketiganya!

"Sumpahmu adalah sumpahku juga Lawungu. Tapi saat ini aku merasa lebih berkewajiban menyelamatkan dirimu…"

"Keadaanku sudah jauh lebih baik dari kemarin. Carikan aku tempat yang baik dan aman. Tinggalkan aku di sana. Kau harus mengejar mereka. Bunuh tiga makhluk celaka itu!"

"Aku akan penuhi permintaanmu Lawungu. Karena dendammu adalah dendamku juga!" kata Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

"Aku titip pukulan maut Badai Lima Penjuru padamu. Aku ingin kau membunuh mereka dengan ilmu ini!" kata Lawungu.

Lalu kakek ini lekatkan telapak tangan kanannya ke telapak tangan kanan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Bersamaan dengan itu dia kerahkan tenaga dalam. Dua tangan yang saling berlekatan itu memancarkan cahaya terang kebiruan. Dengan kesaktiannya Lawungu memindahkan ilmu Badai Lima Penjuru pada Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab!

Di satu kaki bukit kecil dekat sebuah mata air Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab tinggalkan sahabatnya lalu mengejar Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula.
Mengenai riwayat dendam kesumat Lawungu dan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab terhadap Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula harap baca Episode berjudul Badai Fitnah Latanahsilam

Saat itu Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula baru saja berpisah dengan Lakasipo danLuhrinjani setelah terjadi bentrokan dengan Peri Angsa Putih (baca Episode berjudul Rahasia Perkawinan Wiro) Mereka berusaha mencari Wiro karena PeriAngsa Putih telah melancarkan tuduhan bahwa Pendekar 212 WiroSableng telah melakukan perbuatan mesum dengan Peri Bunda yang menyebabkan Peri itu kini menjadi hamil!

Karena ketiganya berjalan sambil mengobrol dan sesekali tertawa haha-hihi, tidak terlalu sulit bagi Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab mengejar mereka. Begitu berhadapan dengan ketiga orang itu,tanpa banyak bicara si kakek langsung menghantam dengan serangan Badai Lima Penjuru yaitu pukulan sakti yang dititipkan Lawungu di tangan kanannya Lima gelombang angin mengeluarkan suara menggemuruh laksana badai menerpa ke arah Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula.

Karena diserang mendadak begitu rupa ketiga orang itu berseru kaget dan masing-masing selamatkan diri jungkir balik. Setan Ngompol merasa pinggangnya seperti patah akibat diserempet pukulan yang dilepaskan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Terbungkuk-bungkuk kakek ini kucurkan air kencing. Si Betina Bercula tertelentang di tanah sambil pegangi perutnya.

"Jebol ususku! Hancur perutku!" katanya lalu berguling di tanah.

Sambil menahan sakit dia berusaha bangkit berdiri. Di antara ketiga orang yang dihantam serangan mendadak itu Naga Kuning yang paling parah. Bahu kanannya serasa tanggal. Dia tak mampu menggerakkan tangan. Ketika pakaiannya sengaja dirobeknya terlihat daging bahunya memar merah seperti dipanggang!

"Kakek jahanam! Kau tidak habis-habisnya mencelakai kami!" teriak Naga Kuning. Bocah ini bangkit termiring-miring sambil bersandar ke sebatang pohon.

"Anak kurang ajar! Kau yang akan kubunuh lebih dulu! Aku tidak perduli siapapun kau adanya!"

"Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab!" tiba-tiba Luhcinta menegur.

"Kau adalah tokoh yang dituakan, tempat semua bertanya dan meminta pertolongan. Mengapa kau menyerang orang-orang ini secara ganas. Pertanda jeias kau ingin membunuh mereka!"

"Kau tidak tahu siapa mereka! Kau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan terhadapku! Jadi harap kau jangan campuri urusan kami!" bentak Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

"Wahai, apakah tidak ada lagi kasih di Negeri Latanahsilam ini? Hingga sesama makhluk hanya menginginkan kematian?!"

Seperti diketahui sebenarya baik Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab maupun Lawungu sama-sama merasa jerih terhadap bocah ini. Namun saat itu karena dia telah berhasil menghantam lebih dulu, si kakek merasa dia akan sanggup menghabisi Naga Kuning.

Maka sambil tertawa mengekeh dia angkat tangan kanannya, siap melancarkan pukulan Badai Lima Penjuru untuk kedua kalinya. Pukulan ini diarahkan pada Naga Kuning. Sementara itu tangan kirinya tak tinggai diam. Dia keluarkan ilmu yang disebut Memeluk Bumi Menghantam Matahari. Tangan kirinya itu berubah menjadi panjang, lalu menyambar ke arah Betina Berculadan Setan Ngompol!

"Celaka! Dia seperti kesetanan!" ujar Naga Kuning.

"Makhluk yang otaknya di luar kepala ini benar-benar inginkan nyawa kita! Aduh kencingku tidak tertahankan!" kata Si Setan Ngompol.

Matanya mendelik ketika melihat tangan kiri Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab tahu-tahu sudah melesat ke bawah perutnya sementara sikunya mencuat mencari sasaran di dada Betina Bercula. Si Betina Bercula tak tinggai diam. Dia membuat gerakan mundur satu langkah. Begitu sikut si kakek lewat dua tangannya segera menyerbu daiam gerakan yang disebut Pelukan Mesra Pengantar Kematian.

Seperti pernah diceritakan ilmu ini konon hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang punya kelainan seperti Si Betina Bercula. Begitu bagian tubuh lawanberada dalam pegangan maka dia akan merangkul erat-erat penuh nafsu hingga dia mencapai puncak gairahnya. Sebaliknya orang yang masuk dalam pelukannya juga akan diselimuti rasa gairah lalu kelemasan sendiri dan roboh dengan tulang-tulang laksana hancur!

Sama seperti Betina Bercula, Si Setan Ngompol juga hadapi serangan lawan dengan jurus Setan Ngompol Mengencingi Pusara. Tubuhnya melesat ke udara setinggi dua tombak. Dua kakinya dibuka lebar-tebar menebar tendangan. Namun dari selangkangannya bermuncratan airkencing ke arah Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab!

Sementara Luhcinta masih menimbang-nimbang apakah dia perlu turun tangan membantu ketiga orang itu, tiba-tiba terjadilah sesuatu!
EMPAT
Kakek sakti yang otaknya ada di luar kepala ini berseru keras. Dia bukan kaget atau takut menghadapi serangan Si Setan Ngompol dan Betina Bercula, namun menjadi pucat sewaktu melihat bagaimana dari balik dada pakaian Naga Kuning saat itu menyembul sosok kuning kepala seekor binatang bermata merah. Bersamaan dengan itu wajah si bocah berubah menjadi wajah seorang kakek berusia lebih dari seratus tahun.

"Naga Hantu Langit Ke Tujuh!" teriak Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Walau rasa takut serta merta menjalari tubuhnya namun untuk berbalik dan ambil langkah seribu sudah kepalang tanggung. Maka kakek ini tarik serangan tangan kirinya ke arah Setan Ngompol dan Betina Bercula. Tangan itu kini dipergunakan untuk menggebuk sosok Naga Kuning. Sedang pukulan Badai Lima Penjuru tetap dihantamkannya pada si bocah setelah terlebih dulu melipat gandakan tenaga dalamnya.

Dibarengi suara menggelegar seolah hendak membelah bumi satu sosok menyerupai naga kuning bermata merah yang menyembul keluar dari dada Naga Kuning mendadak berubah besar. Dengan mulut terbuka makhluk aneh ini melesat ke arah Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Si kakek berteriak ngeri ketika melihat ada satu mulut raksasa sebesar mulut goa menyambar ke arahnya.

Luhcinta tercekat dan keluarkan Seruan tertahan. Betina Bercula terpekik. Setan Ngompol terkencing-kencing ketika melihat sosok ular luar biasa besarnya yang keluar dari dada Naga Kuning menelan kepala lalu tubuh Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab hingga amblas ludas tak bersisa lagi!

Naga Kuning seperti tidak percaya melihat apa yang terjadi. Dia hampir jatuh pingsan ketika menyaksikan bahwa naga besar itu keluar dari dalam tubunnya! Sekujur tubuhnya menggigil.

Tiba-tiba di udara tampak kabut putih berarak turun. Perlahan-lahan kabut itu berubah menjadi bentuk sosok seorang tua berselempang kain putih. Rambut, kumis dan janggut serta alisnya yang serba putih menjulai menyembunyikan wajahnya.

Namun Naga Kuning segera mengenali siapa adanya sosok itu. Anak ini cepat jatuhkan diri, duduk bersimpuh di tanah dan tundukkan tubuhnya ke depan. Mulutnya berucap menyebut satu nama.

"Kiai Gede Tapa Pamungkas, terima hormat saya…"

"Naga Kuning, salam hormatmu aku terima." Orang tua berselempang kain putih menjawab salam Naga Kuning. Suaranya halus seolah datang dari kejauhan tetapi cukup jelas terdengar. "Aku muncul bukan untuk menemuimu. Melainkan untuk menemui Naga Hantu Langit Ke Tujuh!"

Naga Kuning kembali merunduk. Makhluk berbentuk naga kuning bermata merah yang masih menggantung di udara keluarkan suara aneh lalu tundukkan kepala dihadapan orang tua berselempang kain putih yang mengapung di udara.

"Naga Hantu Langit Ke Tujuh. Aku berterima kasih kau telah melindungi anak itu sebagaimana menjadi tugas kewajibanmu sepanjang hidupnya. Namun aku tidak ingin kau membunuh kakek berjubah putih itu. Harap kau segera mengeluarkannya dari perutmu!"

Naga kuning besar kedipkan sepasang matanya yang merah lalu kembali rundukkan kepala dan keluarkan suara lirih panjang. Tiba-tiba makhluk ini buka mulutnya lebar-lebar dan keluarkan suara seperti muntah. Bersamaan dengan itu melesatlah sosok Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Wajah, sekujur tubuh dan seluruh jubah putihnya kini kelihatan berubah kuning dan basah! Kakek ini tergelimpang tak bergerak di tanah tapi urat besar di lehernya kelihatan berdenyut pertanda dia masih bernafas hidup.

"Naga Hantu Langit Ke Tujuh, aku senang kau mematuhi perintahku. Kembali ke tempat asalmu. Aku akan segera meninggalkan tempat ini, kembali ke dasar Telaga Gajahmungkur."

Naga Hantu kedipkan dua matanya lalu merunduk. Setelah itu perlahan-lahan ujudnya mengecil dan masuk lenyap ke dalam dada Naga Kuning!

Mengenai Kiai Gede Tapa Pamungkas harap baca serial Wiro Sableng berjudul Pedang Naga Suci 212 dan Liang Lahat Gajahmungkur

Setan Ngompol, Betina Bercula dan Luhcinta melompat mendekati Naga Kuning yang saat itu masih tegak terbingung-bingung.

Bocah geblek!" kata Si Setan Ngompol. "Aku tak menyangka kalau kau punya ilmu kesaktian yang bisa mengeluarkan naga besar dari dalam tubuhmu. Tapi apa benar itu naga sakti jejadian atau penjelmaan anumu yang bisa berubah menjadi besar…? "Hik hik hik…."

Si Betina Bercula tertawa cekikikan. "Kalau benar anu anak ini yang berubah besar, aku jadi ingin memeriksa ke balik celananya!"

Mendengar kata-kata Betina Bercula Naga Kuning langsung menjauh. Karena soal memeriksa bahkan meraba barang tertarang itu sudah merupakan hal biasa bagi Betina Bercula yang memang punya kelainan.

"Naga Kuning, siapa kakek yang tadi datang dan lenyap secara aneh itu?" bertanya Luhcinta.

"Dia… dia Kiai Gede Tapa Pamungkas, seorang sakti bermukim di telaga Gajahmungkur di tanah Jawa. Dia adalah guru dari nenek sakti bernama Sinto Gendeng. Sinto Gendeng ini adalah guru dari sahabat kami Pendekar 212 Wiro Sableng…"

"Luar biasa! Jika dia bisa muncul berarti dia memiliki kesaktian tinggi sekali hingga mampu menembus perbedaan waktu seribu dua ratus tahun dan muncul di tempat ini…"

"Astaga! Aku tidak memikir sampai ke situ!" kata Naga Kuning pula.

Si Setan Ngompol menyambungi. "Benar, kalau aku ingat tadi-tadi pasti aku minta petunjuk bagaimana caranya bisa kembali ketanah Jawa"

Luhcinta melirik tajam kearah si kakek. Diam-diam dia merasa bersyukur apa yang diucapkan Si Setan Ngompol itu tidak kejadian.

Setelah sama-sama berdiam diri dalam memandangi sosok Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab yang tergeletak di tanah, Naga Kuning memecah kesunyian dengan bertanya pada Luhcinta.

"Luhcinta, sejak beberapa waktu lalu kami terpisah dari sahabat kami Wiro. Mungkin kau mengetahui dimana dia berada?"

"Sebenarnya aku juga ingin menanyakan pada kalian," jawab Luhcinta.

"Sahabatku, apakah kau sudah mendengar kabar, entah benar entah tidak. Bahwa Wiro menghamili Peri Bunda?"

Wajah Luhcinta tampak menjadi merah mendengar pertanyaan itu. Gadis ini menggigit-gigit bibirnya sendiri menahan gelora perasaan hatinya.

"Aku mendengar banyak hal terjadi belakangan ini. Sulit rasanya mau mempercayai. Kecuali satu hal…"

"Hal apa?" tanya Naga Kuning.

"Sahabatmu itu telah melangsungkan perkawinan!"

Naga Kuning berseru kaget dan ternganga. Si Setan Ngompol langsung tersandar ke pohon dan pancarkan air kencing.

"Wahai, kawan kita ini tentunya bergurau," berkata Betina Bercula.

"Tidak masuk diakal!" kata Naga Kuning. "Kalau dia kawin, kawin dengan siapa? Kucing atau kodok?"

"istrinya bernama Luhrembulan. Aku menyaksikan sendiri upacara perkawinannya di Bukit Batu Kawin. Dilakukan oleh nenek juru kawin Lamahila…"

"Tapi kami mendengar kabar Lamahila mati dibunuh orang belum lama ini," kata Betina Bercula.

"Benar," jawab Luhcinta. "Tapi dia mati setelah upacara pernikahan itu…"

"Jangan-jangan… apakah ada sangkut paut kematiannya dengan perkawinan Wiro?" ujar Naga Kuning.

"Kalau tidak bertemu dengan anak setan itu dan dia bicara sendiri, aku belum mau percaya dia sudah kawin!" kata Si Setan Ngompol pula.

"Aku tidak ingin membicarakan hal itu lebih jauh," kata Luhcinta. "Saat ini aku tengah mencari orang bemama Si Penolong Budiman. Mungkin kalian mengetahui atau melihat dia berada di mana?"

"Orang itu! Bukankah dia si jubah hitam yang kita lihat tak jauh dari telaga sore tadi?" ujar Betina Bercula.

"Betul, sore tadi kami melihat seorang berjubah hitam yang mukanya juga hitam berlari cepat ke arah sebuah telaga."

"Kalian yakin, jubah hitam muka hitam?!" tanya Luhcinta ingin memastikan.

"Yakin sekali!" jawab Naga Kuning, Betina Bercula dan Setan Ngompol berbarengan.

Tanpa banyak cerita lagi Luhcinta langsung berkelebat tinggalkan ketiga orang itu.

"Hai!" seru Naga Kuning. "Agaknya ada sesuatu antara Luhcinta dengan manusia muka tanah liat itu. Bukankah selama ini diketahui Si Penolong Budiman selalu menguntit Luhcinta kemana-mana. Aku yakin lelaki itu naksir pada si gadis. Tapi malu karena mungkin mukanya jelek lalu sengaja ditutup dengan tanah liat!"

"Kalau mau tahu ceritanya mengapa tidak kita ikuti Luhcinta?!" ujar Setan Ngompol.

Naga Kuning dan Betina Bercula menyetujui. Ketiga orang itu segera lari ke arah lenyapnya si gadis.

LIMA
Begitu orang yang dicarinya muncul didepan goa, Luhcinta langsung menegur penolong Budiman, selama ini kau selalu mengikuti kemana aku pergi. Terus terang sejak lama aku menaruh curiga terhadapmu. Kecurigaanku hari ini menjadi kenyataan…"

"Luhcinta, aku akan jelaskan padamu…" kata orang bermuka tanah liat dengan suara bergetar.

"Ucapanku belum selesai wahai orang bermuka tanah liat" Memotong Luhcinta. "Hari ini kepercayaanku sirna terhadapmu. Seharusnya saat ini aku memberi pelajaran pahit padamu. Menurunkan hukuman atas dirimu. Tentunya kau sudah tahu dua kesalahan besar yang telah kau lakukan atas diriku!"

"Luhcinta, mengenai peristiwa di telaga itu. Aku bersumpah aku tidak punya niat dengan sengaja hendak mengintip kau mandi…"

Naga Kuning, Si Setan Ngompol danBetina Bercula jadi saling pandang mendengar kata-kata Si Penolong Budiman itu.

"Tidak disangka, jahil juga si muka comberan kering ini!" kata Si Setan Ngompol keras-keras hingga Si Penolong Budiman mendengar.

"Kalau saja dia mengintip diriku tentu aku persilakan dengan dua tangan dan dua paha terbuka," kata Si Betina Bercula lalu tertawa cekikikan. "Rupanya dia tahu juga betis mulus dan jidat licinyang asli! Hik hik hik!"

"Kakimu berbulu, jidatmu atas bawah berambut! Siapa sudi mengintip monyet jantan mandi!" kata Naga Kuning yang membuat Betina Bercula pelototkan mata dan hendak meremas bagian bawah perutnya.

"Kau sudah tertangkap basah berbuat kekejian yang sangat memalukan! Sungguh sikapmu tidak sejantan seperti yang kau perlihatkan selama ini!" Luhcinta kembali keluarkan ucapan.

"Aku mohon maaf dan tidak dapat menyalahkan dirimu jika sampai berprasangka demikian. Tapi ketahuilah…"

Luhcinta angkat tangannya memberi isyarat hingga Si Penolong Budiman terpaksa hentikan ucapannya.

"Kehidupan ini berlandaskan kasih. Namun manusia berperilaku aneh memilih-milihnya menjadi kenyataan pahit Selama ini aku bersikap baik terhadapmu. Namun kebaikan itu kau balas dengan keculasan keji. Adakah yang lebih keji dari pada mengintip perempuan mandi dan dilakukan oleh seorang lelaki berilmu kepandaian tinggi sepertimu?"

"Sekali lagi aku mohon maafmu Luhcinta. Izinkan aku memberi keterangan…" kata si muka tanah liat sambil rapatkan dua tangannya di depan dada dan membungkuk memohon.

Luhcinta tidak perdulikan sikap dan permintaan orang Dia melanjutkan."Hal ke dua, aku tidak pernah menyangka kalau Si Penolong Budiman ini ternyata adalah seorang pencuri busuk! Kau mencuri sebuah benda dari kantong perbekalanku. Benda itu sangat berharga bagiku, sama berharganya dengan nyawaku! Harap kau segera mengembalikan benda itu!"

"Tukang intip! Maling pula kiranya! Walah! Sungguh tidak bermalu!" kata Setan Ngompol.

"Pantas mukanya ditutupi tanah liat!" menyambung Naga Kuning.

"Penolong Budiman," kata Betina Bercula. "Barang apa yang kau ambil dari gadis sahabatku ini?! Kalau kau cuma mencuri celana dalam, mengapa tidak mengambil milikku saja? Langsung bisa kau tanggalkan dari badanku jika kau suka!"

Naga Kuning dan Si Setan Ngompol tertawa gelak-gelak sementara Betina Bercula manggut-manggut cekikikan. Luhcinta tampak berubah wajahnya sedang Si Penolong Budiman memandang dengan mata mendelik besar ke arah Betina Bercula. Dari dalam saku jubah hitamnya si muka tanah liat keluarkan sebuah batu merah berbentuk sekuntum bunga mawar.

"Ini barangmu yang kuambil. Aku kembalikan padamu. Jika kau mau percaya sebenarnya tidak ada niatku untuk mencuri. Aku hanya ingin memeriksa benda itu." Habis berkata begitu Si Penolong Budiman letakkan batu merah di atas patahan batang pohon di hadapannya lalu dia melangkah mundur ke tempatnya semula.

"Kalau mengambil barang orang tapi mengaku bukan mencuri, lalu namanya kira-kira apa ya?" menyeletuk Naga Kuning.

"Maling!" Yang menjawab Si Setan Ngompol.

"Tepat!" menimpali Betina Bercula.

Si Penolong Budiman tidak dapat menahan hatinya lagi. Dia pandangi ketiga orang itu dengan mata seperti menyala lalu berkata. "Selama ini aku menganggap kalian sebagai teman. Mengapa berlancang mulut mengeluarkan ucapan-ucapan seperti itu, mencampuri urusan kami?"

"Sstttt!" Naga Kuning silangkan jari telunjuknya di atas bibir. "Bapak Maling memerintahkan kita tidak boleh berlancang mulut. Tidak boleh mencampuri urusannya!"

"Sebaiknya kita patuhi!" ujar Si Setan Ngompol. "Kalau dia sampai memarahi kita, aku pasti akan terkencing-kencing!"

Si Penolong Budiman hampir tak dapat menahan amarahnya diejek terus-terusan. Setelah pelototkan mata pada ketiga orang itu dia berpaling pada Luhcinta. "Aku mengaku telah berbuat kesalahan. Aku bersedia menerima hukuman!"

"Hemm…" Naga Kuning tegak berkacak pinggang dengan tangan kiri sementara tangan kanannya mengusap-usap dagunya seperti orang tua mengusap jenggot. Lalu dia memandang pada Si Setan Ngompol dan Betina Bercula.

"Kira-kira hukuman apa yang pantas dijatuhkan pada seorang pencuri sekaligus tukang intip perempuan mandi?"

"Pelintir saja anunya!" jawab Setan Ngompol Seenaknya lalu tertawa mengekeh sambil pegangi bagian bawah perutnya.

"Kalau memelintir anu, serahkan saja tugas itu padaku!" kata Betina Bercula. Lalu sambil tertawa cekikikan dia melangkah mendekati Si Penolong Budiman dan tangan kanannya diulurkan ke bawah perut orang seperti benar-benar hendak melakukan apa yang diucapkannya.

Si Penolong Budiman tidak dapat lagi menahan diri. Amarahnya meledak menembus ubun-ubunnya,Tangan kanannya bergerak.

"Plaakkk!"

Tamparan keras melayang. Betina Bercula terpekik keras dan terbanting merintih di tanah. Darah mengucur dari sudut bibirnya yang pecah.

"Maling busuk, pengintip keji! Kau memang tidak punya hati kemanusiaan!" teriak Naga Kuning marah melihat Betina Bercula tergeletak mengenaskan begitu rupa. Anak ini menerjang dan hantamkan tangan kanannya melepas pukulan Naga Murka Merobek Langit.

Si Penolong Budiman berusaha mengelak untuk menghindari perkelahian. Namun serangan Naga Kuning demikian cepatnya hingga dia terpaksa pergunakan tangan kanan untuk menangkis. Dua tangan beradu keras. Naga Kuning bukanlah bocah sembarangan namun adu kekuatan dengan Si Penolong Budiman yang dikenal berkepandaian tinggi membuat anak ini terpental satu tombak.

Walau Naga Kuning mampu jatuh dengan kaki tetap menjejak tanahnamun tangan kanannya terasa sakit dan tak bisa digerakkan. Setelah terhuyung-huyung sesaat anak ini akhirnya terduduk bersimpuh di tanah merintih kesakitan.

Setan Ngompol berseru kaget melihat Naga Kuning kesakitan begitu rupa kakek ini jadi kalap. Sekali berkelebat dia kirimkan tendangan deras ke kepala Si Penolong Budiman. Tapi tendangannya dengan mudah dielakkan. Malah satu jotosan yang dilancarkan lawan sebagai balasan melanda dadanya, membuat si kakek ambruk muntah darah!

"Makhluk muka tanah liat! Apa yang kau lakukan terhadap tiga orang ini membuktikan kau sebenarnya memang bukan manusia baik-baik! Orang pandai bukan cuma mengandalkan ketinggian ilmu, tapi harus bisa menahan hati menindih hawa amarah! Orang pandai harus mengutamakan kasih di atas segala-galanya!" Luhcinta membentak marah. Tanpa dapat menahan diri lagi dia hantamkan dua tangannya ke arah Si Penolong Budiman.

Seolah sadar dan menyesal apa yang telah dilakukannya Si Penolong Budiman tidak berusaha menyingkir atau menangkis serangan si gadis. Padahal serangan yang dilancarkan oleh Luhcinta adalah Pukulan Tangan Dewa Merajam Bumi yang sangat berbahaya! Malah Si Penolong Budiman sengaja jatuhkan diri berlutut di tanah menunggu datangnya pukulan, menatap dengan sepasang mata yang memancarkan cahaya aneh.

"Aku mengaku salah! Aku siap menerima hukuman!"

Luhcinta terkesiap kaget. Dia tidak menyangka orang akan sepasrah itu. Padahal pukulan yang dilancarkannya jika terkena telak akan menyebabkan lawan terbanting rubuh dan bisa lumpuh seumur hidup. Hati Luhcinta yang penuh kasih jadi terguncang. Pukulannya yang sudah menghantam setengah jalan diputarnya demikian rupa agar tidak mengenai Si Penolong Budiman. Namun tetap saja serangan ganas itu menyambar sosok Si Penolong Budiman sebelah kiri malah tepat di bagian dada dan pinggang!

Sesaat lagi Pukulan Tangan Dewa Merajam Bumi akan menghantam makhluk bermuka tanah Hat itu, tiba-tiba dari kegelapan malam berkelebat seseorang sambil menyorongkan sebatang tongkat bambu berwarna kuning, berusaha menangis serangan Luhcinta.

"Kraakkk!"

Tongkat bambu patah. Pukulan Luhcinta melenceng ke kiri. Membongkar tanah dan bebatuan yang ada di tempat itu. Sosok Si Penolong Budiman walau selamat tapi terlempar sejauh dua tombak. Bahu kirinya seperti ditusuk puluhan jarum dan tak bisa digerakkan. Terhuyung-huyung dia bangkit berdiri Jika saja mukanya tidak dilapisi tanah liat jelas akan terlihat bagaimana wajahnya pucat seputih kain kafan!

Orang ini menatap sebentar ke arah Luhcinta, lalu tidak menunggu lebih lama dia putar tubuhnya dan lenyap dari tempat itu. Luhcinta hendak mengejar tapi satu suara berkata mencegahnya.

"Tak perlu kau kejar orang itu Luhcinta, saatnya kelak kalian akan bertemu kembali!"

Luhcinta terkejut. Dia seperti mengenali suara itu. Cepat gadis ini berpaiing ke samping kiri. Mulutnya keluarkan seruan tertahan. Naga Kuning, Si Setan Ngompol dan Betina Bercula yang ada di tempat itu juga sama-sama melengak kaget dan ngeri. Si kakek langsung terkencing-kencing.

"Ampun, makhluk apa ini…" kata Betina Bercula dengan tengkuk merinding. Saat itu dia masih terduduk di tanah sedang si kakek berdiri di sampingnya. Dalam ketakutan tangannya dipagutkan keselangkangan Si Setan Ngompol, membuat kakek ini tambah aur-auran kencingnya!

ENAM
Orang yang berdiri di hadapan Luhcinta saat itu adalah seorang perempuan yang sekujur tubuhnya mulai dari kepala sampai ke kaki dilengketi oleh ratusan kodok hijau berbagai ukuran! Dari wajahnya yang kelihatan cuma dua mata serta lobang hidung dan sedikit bibir. Di tangan kanannya dia memegang sebatang tongkat bambu kuning yang telah patah yang kemudian ditancapkannya ke tanah hingga amblas sampai dua pertiganya.

"Makhluk aneh…" bisik Naga Kuning pada Si Setan Ngompol. "Kodok yang bergelantungan di kepala, muka dan badannya itu apakah peliharaannya, binatang mainannya atau anak-anaknya!"

"Gila kau! Mana ada orang beranak kodok!" tukas si Setan Ngompol sambil pegangi dadanya yang masih mendenyut sakit akibat jotosan Si Penolong Budiman tadi.

Tiba-tiba Luhcinta jatuhkan diri berlutut di hadapan orang aneh itu seraya memanggil. "Guru Luhmasigi… Untung kau muncul. Kalau tidak mungkin tadi saya telah kesalahan tangan…"

"Ah, gurunya rupanya…" bisik Si Setan Ngompol pada Naga Kuning lalu menepis tangan Betina Bercula yang kembali hendak memegangi pahanya.

"Untung sang murid tidak dilengketi kodok seperti gurunya!" kata Betina Bercula pula.

Si nenek bernama Luhmasigi usap kepala Luhcinta lalu berkata. "Semua sudah diatur oleh Yang Kuasa. Kalau saja aku terlambat menemui dirimu di tempat ini, di malam begini gelap mungkin akan terjadi hal yang lebih buruk. Selama ini aku banyak menyirap kabar atas segala kejadian di Negeri Latanahsilam ini. Beberapa diantaranya menyangkut dirimu. itu sebabnya aku perlukan meninggalkan Lembah Laekatakhijau mencarimu…"

Baru saja si nenek habis berucap belasan katak hijau yang menempel di tubuhnya mengeluarkan suara riuh lalu berloncatan ke tubuh Luhcinta. Tanpa ada rasa takut ataupun jijik si gadis usap katak-katak itu satu persatu.

"Katak sahabatku, aku gembira kalian masih mengenali diriku…" kata Luhcinta.

Sementara itu Luhmasigi yang dalam rimba persilatan Negeri Latanahsilam dikenal dengan julukan Hantu atau Nenek Lembah Laekatakhijau memandang ke arah Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula. Lalu pandangannya membentur batu merah berbentuk bunga mawar yang terletak di atas patahan batang kayu. Dengan cepat si nenek mengambil benda itu, memperhatikannya beberapa saat lalu berkata,

"Luhcinta, bukankah bunga mawar batu merah ini milikmu? Mengapa berada di atas patahan batang kayu?"

"Ada orang berusaha mencurinya Nek. Ketika didesak benda itu dikembalikannya, diletakkannya di atas pohon itu…"

"Orang yang katamu mencuri benda ini, apakah dia yang tadi hendak kau habisi?" tanya si nenek.

"Sebetulnya walau hati saya sangat marah dan kecewa, saya tidak berniat sungguhan membunuhnya. Saya hanya ingin memberi pelajaran…"

"Aku gembira mendengar kata-katamu itu Luhcinta. Pertanda pelajaran kasih sayang yang aku tanamkan padamu masih ada di lubuk hatimu."

"Saya selalu berusaha menempatkan kasih dalam setiap jalan kehidupan saya. Walau terkadang mengalami kesulitan, menghadapi kenyataan yang tidak terduga…"

"Itulah hidup. Semua tidak mungkin sejalan dengan keinginan kita… Kita menginginkan kebaikan, yang datang angkara murka. Muridku, kau masih ingat riwayat batu ini seperti yang diceritakan nenekmu Hantu Penjunjung Roh"

"Saya masih ingat Guru. Bukankah batu ini diberikan oleh nenek kepada ibu saya untuk hiasan rambutnya ketika dia masih gadis remaja seperti saya?" ujar Luhcinta. "Karena sangat berharganya batu bunga mawar inilah maka saya sampai hendak menurunkan tangan jahat pada orang bermuka tanah liat itu. Karena dia hendak mencuri batu mawar merah itu."

"Makhluk berjubah hitam. Mukanya dilapisi dengan tanah liat. Diberi jelaga hitam! Mengapa dia melakukan hal itu? Mengapa dia mencuri mawar batu merah ini dari tanganmu. Adakah kau sempat memikir dan menyelidiki wahai muridku?"

"Maafkan saya Nek. Hal itu memang belum saya lakukan. Yang saya tahu mawar dari batu merah itu sangat berharga bagi saya, tapi tidak bagi orang lain…"

"Belum tentu. Jika batu mawar merah ini tidak berharga bagi orang lain, makhluk bermuka tanah liat itu tidak akan mencurinya dari tanganmu. Lalu jika dia benar-benar berniat jahat hendak menguasai batu ini, mengapa kemudian dia mengembalikannya padamu? Agaknya ada sesuatu dibalik semua perbuatannya itu…"

"Saya tidak tahu Nek…"

"Muridku Luhcinta, apa menurutmu tiga orang aneh ini pantas mendengar semua percakapan kita?" Si nenek goyangkan kepalanya ke arah Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula.

Luhcinta pandangi ketiga orang itu."Mereka sahabat-sahabat saya Nek. Tidak jadi apa kalau mereka mendengar pembicaraan kita. Malah sebagian riwayat saya mereka sudah mengetahui…"

"Begitu…?" si nenek manggut-manggut.

Naga Kuning yang suka bicara usil tiba-tiba membuka mulut. "Nenek yang kepala dan muka serta tubuhnya ketutupan kodok, kau menyebut kami bertiga aneh. Apa anehnya dari kami ini?"

Hantu Lembah Laekatakhijau berpaling pada Naga Kuning. Dia pandangi bocah itu sesaat lalu sambil tersenyum dia menjawab. "Aku mulai dengan kakek kawanmu itu." Si nenek menunjuk ke arah Setan Ngompol. "Kukatakan aneh karena telinganya sebelah kanan kulihat terbalik! Hik hik hik! Bagiku itu aneh, entah bagi orang lain. Lalu, dari sini saja aku bisa mencium bau pesing ditubuhnya! Bayi kencing aku tidak heran, kalau sudah tua bangka masih ngompol apa tidak aneh? Hik hik hik!"

Setan Ngompol delikkan mata. Tapi dia tidak marah malah tertawa gelak-gelak menimpali cekikikan si nenek.

"Itu keanehan sahabatmu si kakek mata lebar dan juling itu? Sekarang sobatmu yang ke dua. Jelas dia laki-laki asli. Tapi mengapa berpakaian dan berdandan serta bersikap seperti perempuan? Padahal otaknya tidak miring! Apa itu tidak aneh namanya?"

Kini giliran Betina Bercula yang beliakkan mata. Tapi dia juga tidak marah malah sambil senyum-senyum dia berkata. "Kau memang tidak tahu Nek! Di mata manusia wajar lelaki berdandan adalah lebih menarik dari pada perempuan ditempeli katak hijau sepertimu. Hik hik hik…. Apa kau punya suami Nek?"

"Wahai! Apa maksudmu menanyakan aku punya suami atau tidak?" tanya Hantu Lembah Laekatakhijau heran tapi juga jengkel penasaran. "Apa kau mau mencarikan laki untukku?!"

"Kalau kau punya suami, waktu bercumbu dan tidur bersamanya apa katak-katak itu masih terus nangkring di kepala, muka dan sekujur tubuhmu…"

"Mungkin juga ada kodok yang menempel di anunya!" bisik Setan Ngompol kurang ajar lalu tertawa terkekeh-kekeh.

Naga Kuning dan Betina Bercula tergelak-gelak. Untung si nenek tidak mendengar kata-kata si kakek tadi hingga dia hanya memandang terheran-heran pada ketiga orang itu sambil bertanya-tanya dalam hati apa yang ditertawakan mereka.

Sementara itu Luhcinta sendiri walau tidak senang gurunya dipermainkan tapi gadis ini juga tak dapat menahan gelinya.

Betina Bercula meneruskan kata-katanya. "Kalau benar kau punya suami, walah! Pasti suamimu kerepotan dan mungkin marah karena keasyikannya terganggu! Ha ha ha! Bayangkan, waktu dia memegang tubuhmu, yang terpegang katak hijau! Ketika dia mau mencium pipimu, yang menempel di hidungnya kodok hijau! Itu maksud pertanyaanku Nek! Jangan mengira aku mau mencarikan suami untukmu! Ha ha ha!"

"Makhluk salah ujud! Bukan hanya sifatmu yang lain, tapi otak dan mulutmu juga aneh!" mendamprat Hantu Lembah Laekatakhijau.

"Dua temanku sudah kau katakan aneh. Aku sendiri bagaimana Nek?" Naga Kuning tiba-tiba bertanya.

Si nenek kedap-kedipkan matanya berulang kali lalu mulutnya terpencong-pencong menahan senyum. "Sosok dan wajahmu memang seperti yang terlihat. Kau adalah seorang anak lelaki. Tapi kalau aku duga-duga, umurmu belum tentu berada dibawahku! Apa itu tidak aneh?"

Terkejutlah Naga Kuning dan Setan Ngompol mendengar ucapan Hantu Lembah Laekatakhijau itu. Keduanya saling berpandangan.

"Aneh, bagaimana dia bisa menduga siapa diriku?" bisik Naga Kuning. Seperti diketahui Naga Kuning sebenarnya memang adalah seorang kakek berusia sekitar seratus dua puluh tahun.

"Hei! Kau merasa dirimu aneh atau tidak?!" Si nenek bertanya.

Naga Kuning tersentak. Sambil tersenyum anak ini menjawab. "Terserah padamu Nek. Kau mau bilang aneh aku menurut saja…"

Luhmasigi alias Hantu Lembah Laekatakhijau tertawa mengekeh. Lalu dia berpaling kembali pada muridnya, memegang lengan si gadis dan menggandengnya ke satu tempat, sengaja menjauhi yang lain-lain. Dengan suara perlahan dia kemudian berkata.

"Luhcinta, sahabat-sahabatmu yang tiga ini walau aneh kurasa hatinya baik-baik. Tapi menurut kabar yang kusirap ada seorang pemuda. Yang juga berasal dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang. Aku lupa siapa namanya. Pemuda itu konon telah jatuh cinta padamu, atau sebaliknya kau yang jatuh hati padanya? Padahal dikabarkan pula pemuda itu telah menebar kekejian dan berbuat mesum dimana-mana. Sampai-sampai aku mendengar dia telah menghamili Peri Bunda! Bagaimana ini, harap kau mau memberi penjelasan!"

Paras Luhcinta langsung berubah. Tapi dia cepat menguasai diri. Sambil tersenyum dia berkata. "Nenek Luhmasigi, kiranya kau jangan lekas percaya pada segala kabar yang kau sirap."

"Baiklah. Aku setuju ucapanmu. Tapi ada satu hal yang ingin aku ketahui. Ingin kutanyakan…" Si nenek memandang tajam-tajam kemata cucunya itu membuat hati si gadis berdebar.

"Katakan saja apa yang ingin kau tanyakan itu Nek…"

"Apakah benar pemuda itu mencintaimu?"

Wajah Luhcinta serta merta menjadi merah. Dia tampak gugup. "Saya… saya tidak tahu Nek… Mengapa kau bertanya begitu?"

"Kau sendiri, apakah kau mencintainya?!" sang guru bukan menjawab malah batik bertanya.

Luhcinta semakin gugup. Si nenek tersenyum lalu berkata. "Ketahuilah wahai muridku. Bagi seorang gadis lebih baik kawin dengan lelaki yang mencintainya dari pada yang dicintainya…"

"Saya tidak mengerti Nek…"

Luhmasigi usap kepala muridnya. "Kelak kau akan mengerti, Luhcinta."

"Saya rasa tidak mungkin Nek…"

"Eh, apa yang tidak mungkin?"

"Pemuda dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang itu. Namanya Wiro Sableng…"

"Nama aneh…" ujar si nenek.

"Pemuda itu… dia…" Sepasang mata Luhcinta berkaca-kaca. Bahunya turun naik menahan isak.

"Kau menangis! Apa yang telah dilakukan pemuda itu terhadapmu? Katakan! Jika dia berlaku jahat akan kucari dan kupesiangi tubuhnya!"

"Dia telah nikah Nek… dia sudah kawin…" Luhcinta tak sanggup meneruskan ucapannya. Gadis ini tundukkan kepala dan tutup wajahnya dengan dua tangannya.

"Dari mana kau tahu? Aku sendiri belum menyirap kabar itu."

"Aku menyaksikan sendiri upacara pernikahannya. Nenek Lamahila yang menikahkan mereka. Di Bukit Batu Kawin!"

"Tapi nenek itu sendiri bukankah dia dikabarkan telah menemui ajal? Pembantunya bernama Laduliu lenyap entah kemana. Di pondoknya ditemui mayat seseorang…"

"Saya tahu Nek. Kematian orang-orang itu setelah terjadi pernikahan…"

"Siapa kira-kira yang membunuh mereka?" tanya Luhmasigi.

"Tidak bisa saya menduga…"

Si nenek terdiam lalu mendongak ke langit hitam sambil kepalkan dua tinju kanannya. "Wiro Sableng pemuda dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang. Jika benar rupanya kabar yang aku sirap. Kau laki-laki yang suka mempermainkan perempuan. Aku tidak perduli kau mempermainkan perempuan lain, menghamili Peri! Tapi jangan berani mempermainkan muridku!"

"Guru…!" Suara Luhcinta tersendat dan wajahnya pucat.

"Aku tahu kau mencintai pemuda itu. Tadinya aku ingin mencarinya untuk mengatur hari perkawinanmu. Kini aku akan mencarinya untuk mengatur hari kematiannya!"

"Nek, jangan kau lakukan itu. Dia tidak punya salah apa-apa!"

"Apa katamu Luhcinta? Aku tahu rahasia kasih sangat mendalam di hatimu. Tapi jangan rasa hati itu menutupi jalan pikiran sehatmu! Kurasa pemuda itu sudah keterlaluan. Dia berbuat keji dimana-mana dan kini menghancurkan masa depanmu."

"Saya… mungkin itu sudah suratan takdir jalan hidup saya Nek. Saya pasrah… Saya rela…"

"Takdir yang sebenarnya datang dari Yang Maha Kuasai. Tapi manusia-manusia kurang ajar di atas bumi ini membuat takdir sendiri sendiri!"

Si nenek geleng-gelengkan kepalanya. Lalu diusapnya kepala Luhcinta seraya berkata. "Tadinya harapanku sangat besar terhadap pemuda itu. Karena aku mendengar kabar rahasia yang tersebar di kalangan tertentu. Bahwa hanya pemuda itu yang bakal sanggup menghancurkan angkara murka yang terjadi di atas Negeri Latanahsilam ini. Dia yang konon akan bisa menghabisi Hantu Muka Dua. Tapi kini… Bahkan kabarnya Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab tadinya berharap besar pada pemuda itu. Kini diapun sudah menganggap pemuda itu sebagai musuh besar yang harus disingkirkan!"

Lama murid dan guru itu terdiam. Akhirnya Luhcinta berkata. "Guru, bukankah saat ini lebih baik kita membicarakan perihal makhluk bermuka tanah liat yang sempat mencuri batu bunga mawar merah itu."

Si nenek anggukkan kepalanya. "Selama ini, apakah kau telah berhasil mencari tahu seluk beluk kehidupanmu di masa lalu…"

"Belum Nek. Tadinya saya berhara pada sesuatu yang bisa saya dapat dari orang bermuka tanah liat jtu. Namun saat ini saya seperti kehilangan kepercayaan padanya…"

Luhcinta lalu menceritakan kejadian dirinya diintai selagi mandi serta peristiwa dicurinya bunga mawar dari batu merah itu. Tak lupa pula dia menuturkan bagaimana selama ini si muka tanah liat selalu mengikuti gerak geriknya kemana dia pergi.

Mendengar cerita sang murid tampang si nenek yang tertimbun puluhan katak hijau jadi mengkeret kaku. "Laki-laki memang jahanam semua!"katanya dengan suara bergetar.

"Kau betul Nek, laki-laki memang kurang ajar semua!" menimpali Betina Bercula.

"Aku tersinggung! Tidak semua laki-laki jahanam. Tidak semua laki-laki kurang ajar! Buktinya diriku!" kata Si Setan Ngompol pula.

"Ooo… Kalau orang sepertimu memang sudah kurang ajar sejak lahirnya!" tukas si nenek.

Saking kesalnya mendengar ucapan si nenek Setan Ngompol pelintir telinganya sendiri lalu serrr! dia kencing di celahanya!

Luhmasigi berpaling pada muridnya. "Luhcinta, aku akan mencari makhluk bermuka tanah liat Juga pemuda bernama Wiro itu…"

Si nenek kemudian melangkah mendekati Naga Kuning dan teman-temannya kembali. Luhcinta mengikuti. Sambil melangkah si nenek serahkan batu bunga mawar merah pada muridnya.

"Simpan benda ini baik-baik. Pada saatnya dia akan menjadi barang bukti yang tiada bernilai. Aku akan mencari nenekmu Hantu Penjunjung Roh. Puluhan tahun dia menghilang entah kemana. Jika terjadi sesuatu kau harus lekas menemui diriku di lembah."

"Akan saya lakukan Nek," jawab Luhcinta.

Belasan katak hijau yang sejak tadi bergayutan di tubuh Luhcinta keluarkan pekikan-pekikan kecil lalu melompat kembali ke tubuh si nenek. Si nenek hendak bergerak pergi namun dia hentikan langkahnya dan memandang pada Naga Kuning,Setan Ngompol dan Betina Bercula.

"Jadi kalian bertiga sempat digebuk si muka tanah liat itu?!" si nenek bertanya. Tiga orang yang ditanya sama menjawab dengan anggukan kepala.

"Bagaimana rasanya sekarang. Masih sakit?"

"Lumayan Nek,!" yang menjawab Naga Kuning.

"Kalau begitu biar aku coba mengobati cidera kalian!" Habis berkata begitu Hantu Lembah Laekatakhijau ini tepukkan tangannya tiga kali lalu berseru. "Anak-anakku! Periksa keadaan ketiga manusia-manusia aneh itu! Obati jika kalian mampu!"

Baru saja ucapan si nenek selesai, puluhan katak hijau yang menyelimuti kepala dan tubunnya keluarkan suara riuh seperti mau merobek telinga. Sepuluh katak kemudian melompat ke pipi kanan Betina Bercula yang luka cidera akibat tamparan keras Si Penolong Budiman. Tentu saja orang ini menjerit kaget, juga ketakutan.

"Celaka! Rusak dandananku!"

Hanya sebentar, sepuluh katak hijau tadi melompat berbalik ke tubuh si nenek. Betina usap-usap pipinya dan jadi terheran-heran. Rasa sakit lenyap, darah yang mengucur di sudut bibirnya yang pecah berhenti!

"Ah…" Betina Bercula tersipu-sipu. "Terima kasih Nek. Katak-katakmu itu rupanya bukan binatang sembarangan."

Tiba-tiba belasan katak melesat kearah Naga Kuning, menempel mulai dari bahu kanan sampai ke ujung-ujung jari tangannya. Seperti diketahui tangan bocah itu cidera cukup parah akibat beradu pukulan dengan Si Penolong Budiman yang berkepandaian tinggi. Akibatnya tangannya terasa sakit dan sulit digerakkan.

Karena jijik dan ngeri Naga Kuning mengerenyit termonyong-monyong. Belasan katak hijau julurkan lidah. Ada yang menjilati tangan si bocah,ada juga yang menggigit-gigit Sesaat kemudian binatang-binatang itu melompat kembali ke tubuh si nenek.

"Coba periksa tanganmu. Apa masih sakit?" Nenek Luhmasigi bertanya.

Naga Kuning seperti tidak percaya. Rasa sakit di tangannya bukan saja lenyap tapi kini dia juga bisa menggerakkan tangan itu kembali! Langsung saja bocah ini membungkuk memberi penghormatan seraya mengucap terima kasih berulang kali. Si nenek menyeringai. Dia berpaling pada Setan Ngompol. Yang dipandang langsung beser terkencing! Karena dia tahu kini giliran dirinya yang akan dilompati katak-katak hijau itu!

"Nek, kuharap kau…" Setan Ngompol yang paling parah cideranya ketakutan dan kencingnya mulai mengucur. Dia bergerak mundur beberapa langkah. Si nenek tertawa mengekeh.

"Anak-anak, lekas kalian kerjain kakek aneh itu!"

Belasan katak hijau keluarkan suara nyaring lalu berlompatan ke arah Si Setan Ngompol, bertempelan di bagian bawah perutnya sampai ke celah paha!

"Serrrr!" Setan Ngompol pancarkan air kencingnya. Tubuhnya berjingkrakan. "Edan! Kurang ajar! Katak-katak celaka! Kenapa menempel di selangkanganku?! Bukan di bagian itu tubuhku yang cidera. Tapi didada!"

"Waduh celaka! Kalau sampai anu sikakek digigit katak pasti geroak! Bisa-bisa putus!" berteriak Naga Kuning tapi sambil mesem-mesem! Hantu Lembah Laekatakhijau tertawa terpingkal-pingkal.

"Anak-anak! Jangan mempermainkan orang!" si nenek berseru.

Belasan katak yang menempel di bawah perut Setan Ngompol keluarkan suara riuh lalu melompat, berpindah ke dada si kakek. Karena memang di bagian itu sebelumnya jotosan Si Penolong Budiman menghantamnya dengan telak hingga dia muntahkan darah segar! Ketika katak-katak itu mulai menjilat dan menggigit, si kakek tersentak-sentak dan terkencing-kencing.

"Hai! Aduh! Hentikan! Jangan..."

Tak berapa lama kemudian seperti tadi katak-katak itu kembali melompat ke tubuh setan si nenek. Si Setan Ngompol sendiri saat itu sudah jatuh terduduk di tanah. Dia luruskan tubuhnya lalu menghela nafas panjang. Sebelumnya dadanya terasa sakit jika dia menarik nafas begitu. Tapi kini rasa sakit itu lenyap. Dipegangnya dadanya yang bekas kena jotosan. Ditekan-tekannya.

"Aneh…" kata si kakek sambil pandangi Luhmasigi dengan matanya yang besar jereng. "Luka dalamku seperti sembuh! Aku tidakmerasa apa-apa lagi…"

Perlahan-lahan Setan Ngompol bangkit berdiri. Dia hendak membungkuk, maksudnya mau menghormat sambil mengucapkan terima kasih. Tapi kakinya terpeleset di tanah licin bekas guyuran air kencingnya sendiri. Tak ampun tubuhnya terjatuh ke depan, ke arah Luhmasigi. Agar tidak terjerembab Setan Ngompol berusaha mengganduli pinggang si nenek.

"Makhluk kurang ajar! Kau mau berbuat apa padaku?!" teriak guru Luhcinta itu.

Dorongan Setan Ngompol membuat dia kehilangan keseimbangan. Akibatnya dua kakek nenek ini sama-sama jatuh di tanah. Si nenek tertelentang sementara si kakek tepat menindih dari atas. Wajah mereka saling beradu. Bibir Setan Ngompol melekat tepat di bibir si nenek. Luhcinta, Naga Kuning dan Betina Bercula tak dapat menahan tawa.

"Benar-benar kurang ajar!" Luhmasigi marah besar. Tangan kirinya mengusap-usap bibirnya. Tangan kanannya tiba-tiba digerakkan ke arah Setan Ngompol. Si kakek terpelanting ke samping. Sebelum kakek itu bangkit berdiri, si nenek sudah menghambur tinggalkan tempat itu!

"Kau memang kakek kurang ajar!" kata Betina Bercula.

"Kau mempergunakan kesempatan dalam kenikmatan!" ujar Naga Kuning. "Bagaimana rasanya mengecup bibir nenek tadi Kek? Hik hik hik!"

"Kalian setan semua! Jangan menyangka yang tidak-tidak. Aku tidak mengecup bibirnya!" kata Setan Ngompol, matanya yang lebar bertambah besar.

"Ah, nenek itu pasti tidak akan melupakan kecupanmu tadi Kek. Mungkin itu ciuman pertama dalam kehidupannya!" kata Betina Berculapula lalu tertawa panjang.

"Betina sialan…" rutuk Setan Ngompol sambil usap bibirnya. Dia merasa ada cairan hangat Ketika tangannya diperhatikan ada noda merah.

"Astaga! Bibirmu berdarah Kek!" seru Naga Kuning.

"Pasti tadi digigit si nenek! Wahai, rupanya besar juga hasrat nenek itu terhadapmu sampai menggigit segala!" kata Betina Bercula pula.

"Mending kalau si nenek yang bernafsu menggigit. Jangan-jangan katak-katak hijau itu yang menggigit!" kata Naga Kuning lalu tertawa gelak-gelak!

********************
WWW.ZHERAF.COM
TUJUH
Sosok Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab yang tergeletak tak jauh dari tepian telaga tampak bergerak. Dari mulutnya keluar suara mengerang Saat itu memasuki dini hari. Keadaan sekitar telaga gelap pekat dan udara dingin mencucuk sekujur tubuhnya. Perlahan-lahan orang tua yang otaknya berada di luar batok kepala ini membuka sepasang matanya. Mula-mula dia hanya melihat kegelapan menghitam. Kemudian dia mulai mengenali apa yang ada di atasnya. Langit kelam.

"Dimana aku ini… apa yang terjadi dengan diriku?" Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab gerakkan tubuhnya, berusaha bangkit Sesaat dia terduduk di tanah, memandang berkeliling. "Ada telaga di sebelah sana… ada batu-batu hancur…"

Lalu pandangannnya ditujukan pada dirinya sendiri. Dia menjadi kaget ketika melihat jubahputihnya berubah kuning. Bukan cuma jubah, tangan dan kakinya juga berwarna kuning. Kakek ini mengusap wajahnya berulang kali.

"Walau tidak melihat, tapi aku yakin wajahku saat ini pasti juga berwarna kuning. Apa yang terjadi?!"

Dia coba mengingat-ingat. Selagi kesadarannya belum pulih keseluruhan tiba-tiba ada satu bayangan putih dilihatnya di seberang telaga sebelah timur. Bayangan itu bergerak cepat sekali seolah melayang di atas air telaga.

"Makhluk apa gerangan…" pikir Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

Dia berusaha bangkit berdiri namun sosok putih tadi tahu-tahu sudah berada di hadapannya. Kagetnya si kakek bukan kepalang. Karena ternyata yang tegak di hadapannya adalah seorang gadis cantik luar biasa. Wajahnya yang bulat berseri-seri laksana bulan purnama empat belas hari. Rambutnya panjang tergerai hitam lepas sampai ke pinggang. Tubuhnya yang tinggi langsing mengenakan sehelai pakaian putih panjang menjela tanah. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab usap dua matanya berulang kali lalu bertanya gagap.

"Kau… siapa? Peri atau…?"

"Orang tua bernama Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Dengar baik-baik apa yang akan aku ucapkan. Aku hanya akan bicara satu kali! Jika kau mau mengerti maka kau akan selamat Jika kau tidak mau mengerti maka kelak melapetaka akan jatuh atas dirimu seperti yang terjadi atas diri dua cucumu!"

"Malapetaka?! Seperti yang terjadi atas diri dua cucuku? Apa maksudmu?! Siapa kau?!" teriak Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab lalu dengan satu gerakan kilat dia melompat berdiri. Namun belum sempat dua kakinya menginjak tanah tiba-tiba gadis jelita berpakaian serba putih gerakkan tangan kanannya.

"Wutttt!"

Serangkum angin menghantam dahsyat Sosok Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab terpelanting lalu jatuh duduk di tanah! Seperti diketahui kakek merupakan salah seorang tokoh paling disegani di Negeri Latanahsilam dan memiliki kepandaian luar biasa. Namun jika si gadis sanggup merobohkannya dengan satu kali bergerak saja jelas bahwa gadis cantik itu juga bukan orang sembarangan. Si kakek terhenyak di tanah dengan muka pucat!

"Dua cucumu. Luhkemboja dan Luhkenanga ditimpa melapetaka dan aib besar. Seseorang telah mencelakainya sehingga dua gadis itu mempunyai kelainan. Tidak suka pada laki-laki. hanya senang dan bergairah pada sesama jenis! Tidak mengherankan kalau kemudian mereka gentayangan kian kemari, menculik gadis dan perempuan-perempuan muda untukmelampiaskan nafsu bejat dan sesat mereka! Salah satu korbannya adalah seorang dara bernama Luhjelita. Namun kemudian mereka memfitnah bahwa pemuda asing bernama Wiro Sablenglah yang telah merusak kehormatan Luhjelita! Kejahatan dua cucumu yang mengalami kelainan lahir dan batin itu tidak sampai di sana. Mereka juga yang mencuri Tongkat Bahagia Biru tapi memfitnah pemuda bernama Wiro Sableng itulah yang telah mencurinya!"

"Aku tidak percaya pada semua ucapanmu!" bentak Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

"Saat ini kau tak perlu percaya! Kau cuma perlu mendengar apa yang aku ucapkan!" menghardik gadis berpakaian putih panjang. "Justru Wiro Sableng itulah yang telah berbuat biadab! Memperkosa dua cucuku!"

"Wiro Sableng tidak melakukan kekejian itu! Dia menjadi korban fitnah semata! Di balik semua ini Hantu Muka Dualah yang mengatur dan punya keperluan. Dia marah besar dan menanam dendam karena kau merampas Sendok Pemasang Nasib dari tangannya! Dia yang telah merusak kehormatan dua cucumu lalu menyuruh orang-orang mengirimkan dua gadis itu dalam keadaan sekarat ke tempatmu!"

Sepasang mata Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab membesar memandang tajam ke wajah gadis jelita yang tegak di hadapannya. Tubuhnya bergetar. Dua tangannya terkepal. Kepalanya digelengkan. "Aku tidak bisa mempercayai begitu saja semua ucapanmu! Aku tidak tahu kau ini siapa sebenarnya. Jangan-jangan Hantu Muka Dua yang sengaja bersalin rupa untuk menipu dan menghasutku!"

Gadis jelita berpakaian putih yang bukan lain adalah Luhrembulan, penjelmaan Hantu Santet Laknat goyangkan kepalanya. Rambutnya yang panjang melesat kesamping membuat gerakan melingkar, menebar bau harum semerbak. Sambaran angin yang keluar dari rambut ini membuat rontok daun-daun pepohonan di sekitar situ! Lalu si gadis mendongak ke langit dan tertawa panjang.

"Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab, sebelum aku pergi dengar baik-baik apa yang akan aku katakan. Jangan sekali-kali kau berani mengganggu pemuda asing bernama Wiro Sableng itu. Bahkan jangan sampai ada perasaan atau pikiran jahat terhadapnya! Jika kau melanggar apa yang aku ucapkan saat dinihari ini, kelak kau akan mendapat malapetaka dan menyesal sampai ke liang kubur!"

"Begitu...? Hemm… Apa hubunganmu dengan pemuda itu. Kau seperti melindunginya sekaligus mengancamku!" si kakek bangkit berdiri.

Namun gadis jelita itu telah berkelebat pergi tanpa berikan jawaban. "Hah!" Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab memandang berkeliling. Mengusap mukanya berulang kali. Menggosok matanya sampai dia merasa kepedasan sendiri. "Kemana lenyapnya makhluk tadi… jangan-jangan aku barusan hanya bermimpi…" Orang tua ini menghela nafas dalam lalu sambil geleng-gelengkan kepaia dia melangkah menuju telaga. "Aku perlu mandi mendinginkan tubuh dan kepalaku! Aku bermimpi… Hanya mimpi perlu apa dipikirkan…"

Di tepi telaga Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab siap menanggalkan jubah putihnya. Tapi tiba-tiba ada suara sesuatu seperti sayap besar mengepak di udara. Dia cepat membalik. Saat itu sebuah benda besar kecoklatan melayang rendah di antara pepohonan lalu mendarat di tanah dihadapan si kakek.

Ternyata benda ini adalah kura kura raksasa bersayap lebar. Dan di atas punggung kura-kura terbang ini melompat turun seorang dara berpakaian ungu, berambut digulung ke atas dan berwajah cantik menawan. Sikapnya anggun ketika tegak berdiri berkacak pinggang memandang pada Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab yang sudah kenal siapa gadis ini memandang dengan wajah sinis karena dia tahu, sesuai kabar yang disirapnya di masa lalu, gadis ini adalah kekasih Hantu Muka Dua Hanya dalam hati si kakek bertanya-tanya sudah sejak berapa lama gadis itu berada di sekitar telaga. Mungkin juga telah melihat kemunculan gadis berpakaian putih panjang tadi.

"Aku mau membersihkan diri di telaga. Harap kau yang perempuan segera meninggalkan tempat ini!" Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab berkata.

"Wahai! Masih gelap gulita dan sedingin ini! Kau hendak menceburkan diri mandi di dalam telaga. Pasti tubuh dan pikiranmu diselimuti hawa panas. Apakah ucapan gadis berpakaian putih itu yang membuatmu panas kelangsangan?!"

"Luhjelita! Sudah berapa lama kau berada di sekitar sini?!" tanya si kakek.

"Cukup lama! Aku sempat mendengar semua pembicaraan kalian…" jawab si gadis.

Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab terkejut. "Berarti aku tadi tidak mimpi. Gadis ini ikut melihat kehadiran gadis berpakaian putih itu!" kata Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab dalam hati. "Setahuku kau adalah kekasih Hantu Muka dua. Kehadiranmu di sini pasti tengah memata-matai diriku!"

Luhjelita tertawa gelak-gelak, "Sebagai orang yang jauh lebih tua dariku seharusnya kau tahu! Dalam hidup seseorang bergaul dengan yang baik dan yang jahat adalah satu kewajaran selama orang itu bisa membatasi diri…"

"Aku mengerti, kau memang bisa membatasi diri. Hingga dalam hubunganmu dengan Hantu Muka Dua tidak sampai hamil! Seperti yang dialami Peri Bunda yang hamil akibat hubungan gelapnya dengan Wiro Sableng!"

Berubah paras Luhjelita mendengar kata-kata si kakek. "Aku tidak percaya mendengar orang sepertimu bisa berucap seperti itu! Rupanya benar kabar yang aku sirap. Kemampuan dan kesaktianmu telah mulai pudar akibat kau terlalu jauh menuruti perasaan hati daripada pikiran sehat!"

"Jangan berani bicara kurang ajar padaku!" bentak Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

"Orang tua, aku tidak bicara kurang ajar! Aku hanya mengucapkan kenyataan! Jika selama ini tidak banyak berbuat menyimpang, kau tidak bakal sengsara seperti yang kau alami saat ini!"

"Gadis celaka! Katakan apa maumu mendatangi aku di tempat ini!"

"Gadis berpakaian serba putih tadi! Apakah kau mengenal siapa dirinya?!" tanya Luhjelita.

"Aku tidak tahu siapa dia! Tidak pernah kenal sebelumnya! Dan aku tidak memikirkan dirinya lagi. Persetan!"

"Apa kau juga tidak memikirkan apa yang diucapkannya?!"

"Kau yang harus memikirkan!" sentak si kakek "Bukankah kau juga telah berselingkuh berbuat mesum dengan pemuda asing itu? Jangan kau berdusta! Karena kedua cucuku sendiri yang menceritakan padaku. Mereka melihat apa yang kau lakukan di sebuah goa!"

"Hemmm… begitu?! Jadi mereka rupanya yang jadi biang racun penyebar fitnah! Padahal tadinya aku menyangka Wiro yang jadi biang racun! Bagus Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab! Kau ikut membantu aku! Memberi kesaksian atas perbuatan dua cucumu sendiri! Aku akan mencari dua cucumu itu! Jika bertemu akan kuajari adat istiadat bagaimana bicara yang baik dan tidak memfitnah orang sembarangan!"

"Kalau kau berani mengganggu dua cucuku. Jika terjadi apa-apa dengan Luhkemboja dan Luhkenanga, aku akan menghajarmu mulai dari ubun-ubun sampai ke telapak kaki!"

"Hebat benar kaulmu! Kuharap saja kau benar-benar bisa melakukannya. Kecuali jika Pendekar 212 Wiro Sableng menghabisimu terlebih dulu! Selamat tinggal orang tua yang mulai pikun!"

"Gadis jahanam! Kau berlancang mulut berani memutar balik kenyataan! Kau rasakan dulu bekas tanganku!" teriak Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

Selagi Luhjelita melompat ke atas punggung kura-kuranya, kakek ini lepaskan satu pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi.

"Tua bangka tak tahu diri! Sambut balasanku ini!" teriak Luhjelita.

Lalu sambil mendarat duduk di punggung kura-kura raksasa dia dorongkan dua tangannya. Dua larik sinar ungu menyambar ke arah si kakek.

"Wuttt! Wusss! Wusss! Bummm!"

Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab terpental masuk ke dalam telaga. Luhjelita sendiri mencelat dari atas punggung Laecoklat si kura-kura raksasa. Setelah mengatur jalan darahnya yang terasa bergejolak gadis ini cepat melompat kembali ke atas kura-kura lalu melesat terbang ke udara.

"Tua bangka tolol! Dia sendiri yang membuka rahasia kejahatan dua cucunya! Ha ha ha! Luhkemboja! Luhkenanga! Kalian tunggu pembalasanku!" dendam Luhjelita terhadap dua gadis itu memang bukan olah-olah. Merekalah yang telah berbuat keji terhadapnya di dalam goa.
Baca serial Wiro Sableng berjudul Hantu Langit Terjungkir

Sementara Laecoklat melesat dalam kegelapan dan dinginnya udara menjelang dinihari, Luhjelita kembali berpikir-pikir. "Gadis berpakaian putih yang muncul menemui Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab di telaga, siapa gerangan dia adanya. Agaknya dia banyak tahu perihal Wiro Sableng. Jangan-jangan dia adalah kaki tangan Hantu Muka Dua seperti yang dikatakan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Aku perlu menyelidik." Lalu Luhjelita teringat pada satu hal lain. "Aku menyirap kabar Wiro telah melangsungkan perkawinan di Bukit Batu Kawin. Tak lama setelah itu si juru kawin Lamahila mati terbunuh! Apa hubungan semua ini? Siapa gadis yang menjadi istri Wiro…? Banyak sekali teka-teki yang harus aku pecahkan!"
********************
WWW.ZHERAF.COM
DELAPAN
Makhluk yang mukanya tertutup tanah liat kering hitam itu sampai di puncak bukit kecil berbatu-batu. Dengan nafas mengengah dia tegak bersandar ke satu batu besar. Di sini dia membuka bagian atas jubah hitamnya. Begitu dadanya telanjang kelihatan bahu kirinya bengkak kemerahan. Sejak beberapa waktu lalu dia tidak sanggup menggerakkan sekujur tangan kirinya mulai dari bahu sampai ke ujung-ujung jari. Rasa sakit mendera hampir tak tertahankan. Itulah bekas dan akibat pukulan Tangan Dewa Merajam Bumi yang dilepaskan Luhcinta sewaktu terjadi perkelahian di tepi telaga

"Gadis secantik itu, tidak disangka memiliki pukulan begini ganas. Berkali-kali aku mengerahkan tenaga dalam dan mengatur jalan darah. Tapi cidera ini seperti tak mau sembuh. Sekarang tubuhku terasa panas. Mungkin sekali pukulan ini mengandung racun jahat! Kalau saja pukulannya lebih ke sebelah tengah, mungkin jantungku sudah ambruk dan saat ini aku sudah berada di alam roh. Aku tak takut mati. Tapi kalau aku sampai menemui ajal sebelum dapat menyingkap rahasia hidup ini, aku akan mati penasaran dan tidak tenteram di liang kubur!"

Si Penolong Budiman menghela nafas panjang. Dia kembali kerahkan tenaga dalamnya ke bahu kiri. Dari puncak bukit batu itu dia memandang ke bawah. "Nenek sakti itu. Gerakannya cepat luar biasa. Aku kehilangan jejak. Bagaimana mencarinya…?"

Seperti diceritakan sebelumnya setelah terkena hantaman pukulanTangan Dewa Merajam Bumi, Si Penolong Budiman melarikan diri. Namun setengah jalan satu pikiran muncul dalam benaknya. Dari berbagai penyelidikan yang dilakukannya terhadap Luhcinta, satu diantaranya dia mengetahui bahwa gadis itu mempunyai seorang guru, yakni seorang nenek sakti bernama Hantu Lembah Laekatakhijau.

Tadi sebelum lari, sekilas dia melihat sosok orang yang menolongnya itu ditutupi ratusan katak hijau. Bukan mustahil nenek ini adalah guru si gadis. Dalam keadaan cidera begitu rupa Si Penolong Budiman akhirnya memutuskan untuk kembali ke telaga. Dia bermaksud menyelidik. Siapa tahu kali ini jerih payahnya mendatangkan hasil tak terduga.

Gelapnya malam sangat menolong Si Penolong Budiman hingga tanpa diketahui orang-orang yang ada ditepi telaga dia berhasil menyelinap. Dia bersembunyi di balik serumpun semak belukar lebat. Hanya sayangnya Si Penolong Budiman sampai di telaga kembali ketika Luhmasigi menolong Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula.

Jadi dia tidak sempat mendengar pembicaraan-pembicaraan sangat penting antara Luhcinta dan gurunya itu. Begitu Luhmasigi alias Hantu Lembah Laekatakhijau berkelebat pergi, sesaat Si Penolong Budiman menjadi bimbang. Apakah dia akan menguntit Luhmasigi atau mengikuti Luhcinta.

Akhirnya orang ini memutuskan mengikuti si nenek.Namun gerakan lari si nenek ternyata sebat luar biasa. Apalagi Si Penolong Budiman berada dalam keadaan cidera bahu kirinya. Setelah menguntit cukup jauh di kaki bukit batu Si Penolong Budiman kehilangan jejak si nenek.

"Setahuku nenek itu tinggal di sebuah lembah. Ada banyak lembah di kaki bukit itu. Dulu aku pernah mendatangi kawasan ini, tapi selalu tersesat"

Selagi berada dalam kebingungan seperti itu tiba-tiba makhluk muka tanah liat ini melihat satu bayangan bergerak di depannya. Cepat dia mendekam merapatkan diri ke batu. Dalam jarak lima tombak, di gelapnya malam Si Penolong Budiman melihat satu sosok aneh berlari tak terlalu cepat ke arah kiri.

Ketika dalam jarak lima tombak dia melihat jelas ujud orang yang lewat itu kejut Si Penolong Budiman bukan alang kepalang. Jika ada halilintar menyambar dihadapannya atau saat itu ada setan kepala tujuh tangan dua belas muncul hendak mencekiknya, mungkin tidak sedemikian kagetnya makhluk bermuka tanah liat ini!

Sekujur badannya menggigil bergeletar. Dua matanya terbeliak. Dadanya mendadak menyesak. Dia seperti hendak berteriak, tapi mulutnya seolah mendadak kaku. Yang lewat ternyata seorang nenek yang di atas kepalanya ada segulung asap merah berbentuk kerucut terbalik. Dua bola matanya menjorok keluar, juga berbentuk kerucut merah yang bisa memendek bisa memanjang.

"Wahai Yang Maha Kuasa! Terima sujud terima kasihku! Kau temukan juga aku akhirnya dengan dia. Bunda…"

Makhluk aneh itu lewat di samping batu dimana Si Penolong Budiman mendekam.

"Bunda…!" Si Penolong Budiman merasa sepertinya dia telah berteriak keras. Tapi tak sedikitpun suara keluar dari mulutnya. Ketika nenek tadi mulai samar-samar di kejauhan dalam kegelapan malam, makhluk muka tanah liat segera bergerak mengejar. Namun aneh, bagaimanapun kencangnya dia berlari, dia tak sanggup mendekati si nenek. Jarak mereka senantiasa terpisah sejauh sepuluh sampai dua belas tombak. Air mata mengucur di pipi berlapis tanah liat hitam. Si Penolong Budiman berlari mengikuti nenek di sebelah depannya sambil menangis!

"Bunda, Bunda Luhniknik, berbilang hari berbilang minggu, belasan pumama dan tahun berganti tahun aku mencarimu. Kau seolah-olah raib dari Negeri Latanahsilam ini. Aku sampai menduga yang tidak baik. Mengira kau sengaja melenyapkan diri karena tak sanggup menahan malu akibat apa yang terjadi dengan diriku dan Luhpiranti. Bunda, maafkan diriku ini. Aku menyusun sepuluh jari di atas kepala. Mohon ampun padamu wahai Bunda…" Si Penolong Budiman terus saja mengikuti orang di depannya.

Ternyata si nenek lari ke kaki bukit batu sebelah selatan. Ketika di kejauhan langit di sebelah timur tampak terang tanda fajar mulai menyingsing si nenek sampai disebuah lembah dimana mengalir satu sungai kecil.

"Sungai kecil di lembah… Astaga, keadaan ini sesuai dengan petunjuk tempat kediaman Hantu Lembah Laekatakhijau! Jangan- jangan…"

Si Penolong Budiman memandang berkeliling. Di mana-mana dia melihat ratusan, bahkan ribuan katak hijau mendekam. Di tanah, di batu, pada daun-daun dan pepohonan. Saat itu ingin sekali dia mendatangi nenek yang di kepalanya ada asapmerah berbentuk kerucut ingin memeluk dan meratapinya. Namun di saat-saat begitu menegangkan bagi dirinya, dia masih kuasa menahan diri dalam ketabahan yang sulit bisa dipercayanya sendiri.

Di depan sebuah goa nenek aneh itu tegak berkacak pinggang lalu berseru. "Luhmasigi! Aku datang! Hari sudah mau siang! Apa kau masih enak-enakan melingkar tidur di dalam sana?!"

Baru saja si nenek berteriak begitu tiba-tiba ratusan ekor katak berbagai ukuran keluarkan suara mengorek riuh dan melesat menempel di kepala, muka serta tubuhnya sampai ke kaki.

"Katak-katak sialan!" maki si nenek walau kuduknya jadi merinding. "Luhmasigi! Kalau kau tidak segera keluar jangan menyesal ratusan katakmu akan kujadikan bangkai untuk santapan pagimu?"

Dari dalam goa terdengar suara tawa mengekeh. Sesaat kemudian muncullah sosok Luhmasigi alias Hantu Lembah Laekatakhijau. Dia tegak di mulut goa sambil kucak-kucak matanya.

"Tua bangka kurang ajar berjuluk Hantu Penjunjung Ron alias Luhniknik! Puluhan tahun kau menghilang! Di lobang semut mana kau sembunyi selama ini? Kini muncul untung masih kukenal! Tapi kurang ajarnya begitu datang ke tempat orang berteriak tidak karuan! Aku baru saja kembali dari perjalanan jauh! Kau mengganggu ketenteramanku! Benar-benar makhluk tidak tahu adat! Luhniknik! Ada apa kau pagi-pagi buta datang ke tempatku?!"

"Aku baru mau bicara kalau kau memerintahkan katak-katakmu angkat kaki dari kepala dan tubuhku!"

Luhmasigi tertawa panjang. Lalu dia bertepuk tiga kali. Ratusan katak yang menempel di kepala, muka dan tubuh Hantu Penjunjung Roh melompat kembali ke tempatnya masing-masing.

"Ratusan katakku sudah pergi. Sekarang katakan apa keperluanmu wahai Luhniknik!"

"Ada tiga hal. Pertama menyangkut diri muridmu Luhcinta…"

"Tunggu, kau mau bicara di dalam atau…"

"Aku lebih suka bicara di sini dari pada di dalam goamu yang pengap bau itu!" jawab si nenek yang ditanya.

"Bagus! Katakan ada apa dengan muridku Luhcinta? Kau tahu, belum lama ini aku bertemu dengan dia…"

"Wahai, apakah keadaan cucuku itu baik-baik saja?" tanya Luhniknik alias Hantu Penjunjung Roh yang memang adalah nenek kandung Luhcinta.

"Kau masih menyebutnya sebagai cucu! Tapi selama ini kau berbuat apa! Padahal begitu banyak kabar tersiar menyangkut gadis itu! Kau malah melenyapkan diri. Jangan pula berharap kau mau mencari tahu mencari jejak anakmu yang lelaki!"

"Justru kehadiranku di tempatmu ini untuk membicarakan masalah itu, jadi jangan kau mengumpat tidak karuan! Kau tahu kalau Luhcinta menjalin cinta dengan seorang pemuda asing bernama Wiro Sableng?!"

"Anak itu tidak mengaku kalau dia mencintai pemuda itu. Juga tidak memberi tahu kalau pemuda itu mencintainya. Tapi saat ini dia berada dalam satu kecewa besar. Aku khawatir kalau dia sampai patah hati dan memilih hidup sebatang kara sampai mati!"

"Apa maksudmu Luhmasigi?"

"Pemuda yang dicintainya itu kabarnya telah kawin dengan gadis lain!"

"Kurang ajar! Berarti dia mempermainkan cucuku!"

"Itulah yang ada di benakku! Aku bermaksud mencarinya dan menghajarnya sampai dia tahu rasa. Sebelumnya aku juga ada niat untuk pergi ke tempatmu. Ternyata kau datang lebih dulu! Ada satu hal perlu kuceritakan padamu. Kau pernah mendengar seorang berjuluk Si Penolong Budiman?"

Luhniknik alias Hantu Penjunjung roh anggukkan kepalanya. Di tempat gelap Si Penolong Budiman pasang telinganya baik-baik.

Luhmasigi lanjutkan ucapannya. "Si Penolong Budiman diketahui telah sejak lama menguntit muridku. Kemana-mana dia menanyakan tentang riwayat gadis itu. Namun terakhir kali dia berusaha mencuri bunga mawar merah dari batu milik Luhcinta…"

"Maksudmu bunga mawar batu hiasan rambut yang dulunya adalah milikku kemudian kuberikan pada Luhpiranti ibu gadis itu…?" tanya Hantu Penjunjung Roh.

"Benar," jawab Luhmasigi. Di tempat persembunyiannya, di dalam gelap mendadak Si Penolong Budiman merasakan dadanya berdebar keras ketika mendengar kata-kata Hantu Penjunjung Roh. Kalau saja wajahnya tidak tertutup tanah liat maka akan terlihat bagaimana air mukanya berubah seputih kain kafan!

"Benda itu memang telah dikembalikan Si Penolong Budiman. Namun masih ada hal lain…"

"Tunggu dulu!" memotong Hantu Penjunjung Roh. "Apakah kau dan Luhcinta ada menyelidik, mengapa Si Penolong Budiman mencuri bunga mawar dari batu itu? Benda itu tidak ada gunanya baginya…"

"Itulah! Wahai! Aku sudah memerintahkan Luhcinta untuk mencari Si Penolong Budiman dan menyelidik. Tapi seperti kataku tadi ada satu hal lain yang membuat cucumu sangat marah terhadap Si Penolong Budiman. Ketika gadis itu sedang mandi di telaga, makhluk bermuka tanah liat itu diam-diam mengintipnya…"

"Kurang ajar! Aku akan cari makhluk kurang ajar itu! Aku akan hancurkan kepalanya sampai otaknya bertaburan! Dan kau harus perintahkan ratusan katakmu menyiangi tubuhnya hingga tinggal tulang belulang tak berguna!" Hantu Penjunjung Roh marah sekali. Kemudian dengan suara perlahan dan bernada haru dia berkata. "Heran, nasib anak itu. Sejak lahir sampai dewasa begitu rupa tak kunjung hentinya dilanda kesulitan. Sampai saat ini ayahnya sendiri tidak diketahui dimana beradanya! Kalaupun kelak dia bisa bertemu apakah gadis itu akan cukup tabah menerima kenyataan bahwa ayahnya adalah kakak kandung ibunya sendiri?!"

Di tempat persembunyiannya, Si Penolong Budiman tidak mampu lagi menahan gelora di dadanya yang seolah hendak meledakkan dirinya. Bibirnya digigitnya sampai berdarah. Lalu dia jatuhkan diri bersujud di tanah.

"Wahai Yang Kuasa! Kuatkan hatiku! Rupanya benar semua dugaanku! Dugaan selama ini kini menjadi kenyataan! Wahai Yang Kuasa! Tolong diriku! Tolong diri anakku! Beri aku petunjuk sekarang juga! Apa yang harus aku lakukan!" Suara hati yang tidak dapat dikeluarkannya dari rongga dadanya itu akhirnya membersit dalam bentuk semburan isak tangistak tertahankan lagi!

Ketika Luhmasigi hendak bicara, Luhniknik alias Hantu Penjunjung Roh angkat tangan kanannya memberi isyarat. "Telingaku menangkap ada suara seperti orang mengisak!"

Sepasang mata Luhmasigi bergerak berputar. Lalu nenek ini mengangguk. Dia menunjuk ke balikpohon besar dikelilingi semak belukar rendah. "Datangnya dari arah pohon itu. Aku…"

Belum habis Luhmasigi alias Hantu Lembah Laekatakhijau berucap, Hantu Penjunjung Roh telah melesat, berkelebat ke balik pohonbesar. Tak selang berapa lama sesosok tubuh berjubah hitam terlempar dan jatuh terbanting di depan goa, di hadapan Luhmasigi. Si nenek delikkan matanya.

"Penolong Budiman! Kau!"

"Benar, memang dial" kata Hantu Penjunjung Roh yang kembali telahberada di depan goa dan memandang garang pada sosok yang tergelimpang di tanah.

SEMBILAN
Sosok yang terkapar di tanah itu memang adalah makhluk bermuka tanah Hat Si Penolong Budiman. Ketika dia mencoba bangun, Hantu Penjunjung Roh yang tadi mencekalnya di balik pohon lalu melemparkannya kedepan goa, segera injak dadanya hingga Si Penolong Budiman kembali terhantar tertelentang di tanah.

"Biarkan dia bangkit dan duduk di tanah! Aku ingin menanyainya!" kata Hantu Lembah Laekatakhijau.

"Aku yakin dia sengaja menguntit aku sampai ke tempat ini! Pasti diamembekal maksud jahat! Bukankah lebih baik kita pecahkan saja kepalanya saat ini?" kata Hantu Penjunjung Roh. Tangan kanannya diangkat sementara sepasang kerucut merah yang merupakan bola matanya bergerak mundur maju.

"Biarkan dia duduk. Kita tanyai dulu! Kalau dia tidak mau menjawab baru dihabisi!"

Hantu Penjunjung Roh angkat kakinya dari dada Si Penolong Budiman. Sekali jambak saja makhluk bermuka tanah liat ini dibuatnya bangkit berlutut di hadapan Luhmasigi.

"Makhluk bermuka tanah liat, benar kau telah mengikuti kerabatku sampai ke tempat ini?"

"Mohon maafmu Nek. Saya… saya memang mengikutinya. Tapi tidak ada maksud jahat…"

"Tidak ada maksud jahat! Kurang ajar! Pintarnya kau berkelit! Kalau kau punya maksud baik mengapa menguntit secara diam-diam lalu sembunyi di balik pohon sana mendengarkan pembicaraan kami?!" bentak Hantu Penjunjung Roh.

"Maafkan saya Nek. Semua saya lakukan karena saya khawatir kalau-kalau saya sampai kesalahan menyelidik…"

"Menyelidik? Penyelidikan apa yang tengah kau lakukan? Selama ini aku mendengar kabar kau selalu menguntit muridku Luhcinta!"

"Dan kau mencuri barang miliknya! Juga mengintipnya mandi!" menyambung Hantu Penjunjung Roh.

"Saya tidak ada niat jahat! Tidak bermaksud mencuri. Apa lagi berbuat keji mengintip gadis itu mandi. Saya…"

"Plaaakk!" Tamparan Hantu Penjunjung Roh membuat Si Penolong Budiman roboh pada sisi kirinya yang cidera hingga dia mengeluh kesakitan. Dengan susah payah dia berusaha bangkit dan kembali berlutut.

"Maafkan saya Nek…" kata Si Penolong Budiman sambil mengangkat tangan kanan ke atas kening dan mendukkan kepala.

Luhmasigi memperhatikan gerak-gerik si muka tanah liat ini. "Ada yang tidak beres dengan tangan kiri orang ini…" Dia maju mendekat lalu "brettt!" Dia jubah hitam si Penolong Budiman di bagian bahu kiri hingga robek tersingkap. Si nenek perhatikan cidera bengkak kemerahan di bahu itu. "Pukulan Tangan Dewa Merajam Bumi!" ujar si nenek denan kening mengernyit. "Ternyata muridku sudah memberikan pelajaran baik padamu hah?!"

"Saya menerima semua hukuman apapun yang dijatuhkan atas diri saya. Saya tidak takabur. Bahkan matipun saya tidak takut. Asal saja semua apa yang saya selidiki bisa terjawab. Beban rahasia hidup ini sangat berat bagi saya. Saya tak kuasa menanggungnya lebih lama…"

"Katakan! Apa yang tengah kau selidiki sebenarnya!" membentak Hantu Penjunjung Roh.

"Rahasia kehidupan diriku sendiri Nek…"

"Kalau kau menyelidiki rahasia kehidupan dirimu sendiri. mengapa menguntit muridku kemana-mana! Kau mencuri bunga mawar batu merah! Kau mengintipnya mandi…"

"Nek, batu merah hiasan rambut berbentuk bunga mawar itu adalah salah satu benda yang dapat menyingkap tabir gelap yang menyungkup diri saya selama ini… Saya merasa mempunyai kaitan dengan murid atau cucu kalian. Tapi sulit bagi saya untuk membuktikan. Penyelidikan yang saya lakukan selama ini selalu terbentur di jalan buntu. Itu sebabnya saya memberanikan diri memeriksa kantong perbekalan Luhcinta. Hanya saja saya berlaku ceroboh. Itu saya lakukan ketika dia sedang mandi. Tapi jika tidak saya lakukan saya mungkin tidak akan pernah punya kesempatan lagi untuk menyelidikinya…"

"Makhluk muka tanah liat! Jangan berani macam-macam mengatakan punya kaitan dengan cucuku! Siapa kau sebenarnya?!" Membentak Hantu Penjunjung Roh.

"Kami tadi mendengar kau menangis di tempat persembunyianmu! Apa yang kau tangiskan?!" bertanya Luhmasigi.

"Nek, dada ini rasanya mau meledak karena tidak dapat mengeluarkan sejuta ucapan yang terpendam sejak belasan tahun silam. Terus terang, diri saya telah hancur dalam duka berkepanjangan. Saya ingin menerangkan siapa diri saya. Namun mungkin kalian tidak percaya. Karenanya saya meminta agar kalian sudi melihat wajah yang selama ini selalu saya sembunyikan. Saya berharap wajah saya ini bisa menjadi sejuta kata yang bisa memberi kejelasan pada kalian."

Habis berkata begitu Si Penolong Budiman mencongkel tapisan tanah liat hitam kering yang melapisi permukaan wajahnya. Saat itu hari mulai terang karena di timur fajar telah menyingsing. Begitu lapisan tanah liat kering lepas dari wajahnya, Si Penolong Budiman memandang ke arah Hantu Penjunjung Roh.

"Nenek, apakah kau mengenali wajah saya…?"

Wajah tua keriputan Hantu Penjunjung Roh kelihatan mengerenyit. Lalu perlahan-lahan berubah pucat. Dua bola matanya yang berbentuk kerucut merah memberojol keluar. Dari kepalanya mengepul asap merah sedang asap berbentuk kerucut yang ada di atas batok kepalanya bergerak turun naik! Sekujur tubuh si nenek menggigil seperti orang diserang demam panas tinggi. Badannya menghuyung. Dia cepat bersandar ke pohon di belakangnya.

"Luhniknik, kau kenapa?! Apa kau mendadak sakit…?!" bertanya Luhmasigi.

"Demi seribu Dewa seribu Peri! Demi semua roh yang tergantung antara langit dan bumi…!"

"Nenek Luhniknik, apakah kau mengenali diri saya?"

"An… anakku Latampi…" suara Hantu Penjunjung Roh bergetar hebat. "Benar, benarkah kau yang berlutut di hadapanku ini? Wahai Yang Maha Kuasa! Kau kembalikan anakku… Latampi…."

Sepasang matasi nenek tak kuasa menahan jatuhnya air mata yang meluncur ke pipinya. Si Penolong Budiman sendiri tampak berkaca-kaca dua matanya. Hantu Lembah Laekatakhijau mulai sesenggukan.

"Kalau… kalau kau memang Latampi anakku, di punggungmu pasti ada tanda kehijauan…"

Mendengar kata-kata Hantu Penjunjung Roh itu Si Penolong Budiman gerakkan tangan kanan untuk menurunkan jubahnya sampai sebatas pinggang. Lalu dia memutar tubuh, mengarahkan punggungnya pada Hantu Penjunjung Roh.

Si nenek terdengar memekik keras ketika dia melihat pada punggung Si Penolong Budiman ada tanda kehijauan sebesar telapak tangan. Si penolong Budiman tarik jubahnya ke atas kembali. Masih dalam keadaan berlutut dia memutar tubuh, berhadap-hadapan lagi dengan si nenek.

"Nenek, apakah kau bisa memberikan satu kepastian siapa adanya diri saya sebenarnya?"

Hantu Penjunjung Roh menggerung keras. "Kau… kau jangan panggil aku Nenek. Kau adalah anakku! Latampi! Kau adalah anakku! Aku ini ibumu!"

Tak dapat menahan hatinya lagi Luhniknik alias Hantu Penjunjung Roh memeluk Si Penolong Budiman erat-erat sambil meratap panjang. Luhmasigi alias Hantu Lembah Laekatakhijau ikut merangkul kedua orang itu dan tak dapat pula menahan tangisnya. Setelah puas berangkulan dan bertangisan, ketiga orang itu terduduk diam, tak bisa berucap, hanya bersaling pandang satu sama lain. Akhirnya Hantu Lembah Laekatakhijau berkata,

"Latampi, mari aku obati cidera di bahu kirimu. Aku bersyukur pukulan yang dilepaskan Luhcinta tidak menghantam telak dirimu. Kalau sampai anak itu membunuhmu, lalu kemudian dia tahu siapa dirimu sebenarnya. Aku tak dapat membayangkan apa yang bakal terjadi…"

"Nek, justru saat ini saya masih merasakan ada ganjalan berat dalam hati ini…" menjawab Si Penolong Budiman yang sebenarnya adalah Latampi, ayah Luhcinta.

"Ganjalan apa maksudmu?" tanya si nenek.

"Selama ini saya selalu ingin bertemu dengan Luhcinta. Namun kini ada kebimbangan kehadiran saya akan memmbulkan duka lara dalam dirinya. Sekalipun saya memang ayahnya, tetapi bukankah saya ini kakak kandung dari Luhpiranti, ibunya? Kenyataan ini bukankah satu hal yang sangat pahit baginya? Apalagi dia juga tahu kalau dia anak yang terlahir di luar nikah. Anak haram…"

Hantu Penjunjung Roh tundukkan kepala lalu memandang ke jurusan lain. Matanya kembali berkaca-kaca. sementara Hantu Lembah Laekatakhijau pegang bahu Latampi dan berucap.

"Mengenai sebutan anak haram yang barusan kau ucapkan. Di dunia ini tidak ada yang disebut anak haram wahai cucuku! Semua anak yang lahir ke dunla adalah anak anak suci. Luhcinta sama sucinya dengan bayi-bayi lain yang pernah dilahirkan seorang ibu. Dia tidak akan pernah menanggung segala dosa atau kekeliruan yang dibuat kedua orang tuanya…"

"Ucapanmu itu menguatkan hati saya Nek. Saya sangat berterima kasih. Tapi saya tidak bisa menduga bagaimana perasaan hati Luhcinta sendiri. Paling tidak dia akan merasa malu berayahkan seorang lelaki seperti saya. Yang kawin dengan adik kandungnya sendiri…"

"Kuatkan hatimu Latampi," berkata Hantu Penjunjung Roh.

"Jangan mengharapkan sesuatu yang tidak baik. Tabahkan hatimu! Kuatkan jiwamu sambil meminta berkat dan perlindungan dari Yang Kuasa…"

"Luhniknik, pertama kali kau datang tadi, kau mengatakan ada tiga hal yang hendak kau bicarakan. Kita sudah membicarakan mengenai Luhcinta. Apa hal ke dua dan ke tiga?"

"Beberapa waktu lalu seorang perempuan tua bernama Luhmundinglaya pernah menyiar kabar kalau dia ingin sekali menemui salah satu dari kita sebelum dia menemui ajal. Waktu itu dia sedang dilanda sakit berat…"

"Luhmundinglaya… Hantu Lembah Laekatakhijau mengulang menyebut nama itu. "Bukankah dia perempuan yang pernah diam di rimba belantara tempat ditemukannya mayat Luhpiranti tergantung? Ada apa dengan nenek itu dan mengapa mencari kita?"

"Katanya ada satu hal teramat penting yang hendak disampaikannya pada kita sebelum dia mati…" jawab Hantu Penjunjung Roh.

"Hal apa?" tanya Hantu Lembah Laekatakhijau.

"Dia tidak memberi tahu pada siapapun. Kecuali pada kita berdua. Aku punya firasat apa yang hendak dikatakannya punya hubungan tertentu dengan kematian Luhpiranti di dalam rimba belantara…"

"Kalau begitu kita harus mencari Luhmundinglaya!" kata Hantu Lembah Laekatakhijau pula. "Tetapi yang lebih penting adalah agar Latampi segera menemui Luhcinta lebih dulu!"

"Dengan izin kalian berdua saya akan mencarinya sekarang juga…" kata Si Penolong Budiman alias Latampi.

"Itu memang harus kau lakukan anakku," kata Hantu Penjunjung Roh. "Hal ketiga yang aku ingin sampaikan padamu ialah, apakah kau sudah mendengar kabar tentang tersebar luasnya udangan yang datang dari Istana Hantu Muka Dua, Istana Kebahagiaan?"

Luhmasigi gelengkan kepala. "Undangan apa?" si nenek bertanya.

"Hantu Muka Dua menyebar undangan dari mulut ke mulut. Pada hari ke lima belas bulan dua belas akan diadakan satu pertemuan akbar dari semua tokoh dunia persilatan di Negeri Latanahsilam ini."

"Dulu kudengar kabar dia hendak mendirikan semacam Kerajaan di negeri ini. Kerajaan Kebahagiaan. Dia telah mulai dengan mendirikan Istana Kebahagiaan…" Kata Luhmasigi pula.

"Kurasa dia belum siap untuk melakukan hal itu. Selain banyak tantangan dia juga tidak mempunyai cukup banyak orang-orang tangguh yang mampu membantunya…"

"Dengan Hantu Muka Dua kita tidak bisa menilai sembarangan wahai kerabatku. "Otaknya cerdik, akalnya panjang, tipu dayanya banyak. Kita harus menyelidik. Untuk itu kita harus memenuhi undangan tersebut! Jika dia berani berbuat macam-macam tak ada salahnya semua kita yang menentang bersatu untuk menghancurkannya…"

"Aku memang sudah memutuskan untuk menghadiri undangan itu. Sebelum pergi ada gunanya kita para kerabat sehaluan menyusun rencana. Bagaimana harus bertindak jika ternyata undangan itu hanya satu perangkap atau jebakan keji belaka!"

Luhmasigi mengangguk. "Rasanya sudah saatnya untuk menghancurkan makhluk penyebar angkara murka itu. Bukankah dia juga yang dulu berusaha hendak merusak kehormatan Luhpiranti, lalu juga berbuat yang sama terhadap Luhcinta?" Habis berkata begitu Luhmasigi buka jubah Latampi sampai sebatas pinggang.

"Cidera di bahu kirimu harus kuobati dulu." Lalu nenek itu berseru. "Anak-anak! Lekas kau periksa dan obati cidera di tubuh cucuku ini!" Si nenek bertepuk tiga kali. Belasan katak hijau mengeluarkan suara riuh dan melesat ke arah Latampi.

********************
WWW.ZHERAF.COM
SEPULUH
Di ujung pedataran berumput, pada bagian ketinggian, di bawah sebatang pohon besar Luhcinta hentikan larinya. Dia memandang pada ketiga orang yang sejak beberapa lama ini selalu bersama-sama dengan dia. Mereka, adalah Naga Kuning, Betina Bercula dan Setan Ngompol.

"Berhari-hari kita menyelidik, tapi orang yang dicari tak bisa ditemukan. Aku khawatir orang itu sudah menemui ajal. Menyusul si nenek bernama Lamahila. Berarti sia-sia semua perjalanan ini!"

"Aku memang kecewa," kata Luhcinta menanggapi ucapan Naga Kuning tadi. "Tapi aku belum berputus asa! Bukankah kita semua ingin tahu mengapa Lamahila mati terbunuh. Siapa pembunuhnya. Lalu yang paling penting keterangan dari Laduliu yang saat ini tengah kita cari. Dan ingat wahai kawan-kawanku. Bukankah kalian yang mendesak untuk mencari bukti bahwa Wiro benar-benar telah menikah dengan seorang dara bernama Luhrembulan. Sebenarnya aku punya kepentingan lain yakni mencari makhluk bermuka tanah liat Si Penolong Budiman."

"Mungkin si Laduliu itu sudah kabur meninggalkan Negeri Latanahsilam ini. Takut dibunuh…"

"Atau masih di negeri ini tapi bersembunyi di suatu tempat," kata Betina Bercula.

"Wahai! Siapakah kalian yang tengah mencari orang bernama Laduliu?"

Tiba-tiba satu suara bertanya dari balik pohon besar, membuat terkejut Luhcinta dan kawan-kawannya. Keempat orang itu sama-sama melangkah ke balik pohon. Di situ tampak seorang tua berdestar hitam, berpakaian dan bercelana gombrong hitam, duduk di rumput sambil memegang sebuah joran pengail. Sikapnya seperti orang tengah mengail padahal di tempat itu tidak ada tambak atau kolam memancing.

Naga Kuning, Betina Bercula dan Setan Ngompol jadi saling pandang. Si bocah berbisik. "Ada orang gila ditempat ini. Masakan duduk mengail di pedataran rumput!"

Luhcinta juga menyadari keanehan itu, tapi dia tidak mau bertindak sembarangan. Orang-orang aneh biasanya adalah mereka yang memiliki kepandaian tinggi dan menyembunyikan ilmu mereka dibalik keanehan itu.

"Orang tua berdestar hitam. Kau siapa? Apakah kau kenal dengan Laduliu?" bertanya Luhcinta.

"Aku kenal beberapa orang bernama Laduliu, Ada yang pendek, ada yang jangkung. Ada juga yang gemuk tapi ada pula yang ceking kurus. Hik hik hik! Laduliu yang mana yang kau cari wahai gadis cantik berbaju biru?"

Sambil bicara sepasang mata orangtua itu memandang liar, memperhatikan Luhcinta mulai dari ujung rambut sampai ke kaki. "Yang kami cari Laduliu pembantu nenek juru nikah bernama Lamahila," menjawab Naga Kuning.

"Ooo… Laduliu yang itu?" ujar si destar hitam. Dia menatap Naga Kuning sesaat lalu beralih pada Setan Ngompol, terakhir sekali memandang Betina Bercula agak lama baru kembali berpaling pada Luhcinta. "Mengapa kalian mencari orang itu?"

"Kami punya kepentingan. Ingin bertanyakan sesuatu padanya," jawab Luhcinta.

"Kalau cuma bertanyakan sesuatu katakan saja padaku, nanti aku sampaikan padanya…"

"Lalu kapan kami mendapat jawabnya?!" tanya Betina Bercula yang menganggap orang tak dikenal itu bicara seenaknya.

Si orang tua kembali memandang pada Betina Bercula lalu tersenyum sambil kedip-kedipkan matanya. Betina Bercula yang memang nakal balas mengedipkan mata dan unjukkan sikap genit.

"Wajahmu sebenarnya cantik tapi dandananmu kacau tak karuan! Hik hik hik!" kata orang tua berdestar hitam.

"Terima kasih atas pujianmu," menyahuti Betina Bercula. "Kau baru melihat luarnya saja, kalau sampai melihat sebelah dalam pasti kau akan terangsang kelagapan! Hik hik hik!"

"Makhluk tak tahu diri. Memuji diri sendiri!" kata Naga Kuning. "Aku yakin begitu melihat dirimu sebelah dalam, orang tua itu bukannya terangsang tapi malah larikan diri ketakutan! Aku…"

Luhcinta memberi isyarat agar Naga Kuning tidak meneruskan ucapannya. Lalu berkata pada si orang tua. "Orang tua jika kau tidak keberatan, maukah kau menunjukkan tempat kediaman Laduliu? Antarkan kami ke sana."

"Yang meminta seorang gadis cantik! Mana aku berani menolak! Ah… Tentu saja aku tidak keberatan. Dari kemarin memancing, tak seekorpun ikan memakan mata kailku. Tapi jika aku mengantarkan kalian ke tempat kediaman Laduliu, kalian mau memberi aku hadiah apa?"

"Aku akan sangat berterima kasih. Tapi aku tidak punya barang berharga yang dapat kuberikan padamu…"

Mendengar jawaban Luhcinta orang berdestar tertawa mengekeh, Sambil tertawa kembali matanya jelalatan memperhatikan Luhcinta dari kepala sampai ke kaki. Lidahnya beberapa kaii dijuiurkan dan tenggorokannya tampak turun naik seolah saat itu dia tengah memandangi satu makanan yang sangat lezat. Orang berdestar hitam itu kembali tertawa mengekeh.

"Sudahlah, kau tak usah memikirkan soal hadiah. Aku akan beri tahu dimana beradanya Laduliu." Perlahan-lahan orang tua itu bangkit berdiri. Sambil matanya terus menatap Luhcinta, orang ini gulung tali kailnya seputar joran. "Ikuti aku!" katanya kemudian pada Luhcinta. Dia mulai melangkah.

Ketika Luhcinta dan yang lain-lainnya mengikuti tiba-tiba orang tua itu hentikan langkahnya dan berpaling. "Yang boleh mengikutiku hanya satu orang yaitu kau!" Si destar hitam berkata pada Luhcinta. "Yang tiga ini harap menunggu di sini!"

Sambil berkata orang tua itu gerakkan tangan kanannya yang memegang joran. Tangan kirinya ikut bergerak.

"Sssttt… ssttt!"

Tali kail yang tadinya melilit di kayujoran tiba-tiba melesat di udara dan tahu-tahu telah melibat Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula. Ketiga orang ini berteriak kaget. Mereka coba lepaskan diri dari lilitan tali kail. Tapi ternyata mereka tidak mampu lagi menggerakkan anggota badan masing-masing.

Di saat yang bersamaan dengan melesatnya tali kail, dari tangan kiri orang tua berdestar menderu selarik angin dingin, mengarah pada Luhcinta. Untung gadis ini berlaku waspada. Dengan cepat dia melompat jauh hingga terhindar dari serangan. Wajahnya serta merta menujukkan kegusaran.

"Astaga! Apa yang terjadi?! Aku tak bisa menggerakkan tangan!" Naga Kuning berseru kalang kabut

"Tanganku juga! Kakiku kaku berat!" berkata Betina Bercula dengan muka pucat "Aih! Pinggulku juga tak bisa digoyangkan!"

"Sekujur tubuhku lumpuh! Tapi aku masih bisa kencing!" bersuara Si Setan Ngompol.

"Kerahkan tenaga dalam!" berseru Betina Bercula.

Tapi begitu mereka menghimpun tenaga dalam mendadak Naga Kuning dan Setan Ngompol merasakan tubuh mereka menjadi lemas. Dalam keadaan terikat begitu rupa ketiganya jatuh ke tanah. Naga Kuning di samping kiri, Betina Bercula tertelentang di sebelah kanan. Celakanya Setan Ngompol jatuh menelungkup tepat menindih sosok Betina Bercula!

"Kakek bau pesing! Awas kalau kau berani ngompol!" teriak Betina Bercula.

Baru saja dia berteriak begitu justru si kakek mata jereng itu malah pancarkan air kencingnya.

"Gila kau! Tua bangka sinting! Kau kencingi diriku!" meraung Betina Bercula seperti mau menangis. Tapi lelaki yang ada kelainan ini tak bisa berbuat apa-apa.

"Jangan ribut saja! Apa tidak sadar kalau kita berada dalam bahaya?!" Menghardik Naga Kuning.

"Bocah geblek! Lekas keluarkan naga kuning bermata merah yang ada di dadamu!" kata Setan Ngompol.

"Aku tidak tahu bagaimana caranya! Naga jejadian itu hanya muncul kalau keselamatanku benar-benar terancam…"

"Bocah tolol! Punya ilmu kesaktian tapi tidak tahu bagaimana menggunakan! Apa saat ini kau kira keselamatan kita tidak terancam? Aku punya firasat orang tua berdestar hitam itu hendak membunuh kita semua!" merutuk Betina Bercula.

"Ala… kau diam sajalah. Kau kan lagi keenakan ditindih kakek tukang ngompol itu!"

"Sialan kau!" maki Betina Bercula.

"Anak setan! Dasar geblek!" ikut memaki Setan Ngompol.

Luhcinta terkejut sekali melihat apa yang terjadi dengan ketiga sahabatnya itu. Sekali memperhatikan gadis berkepandaian tinggi ini segera mengetahui bahwa bukan tali kail yang melibat itu yang melumpuhkan kawan-kawannya. Ada satu ilmu kesaktian lain yang dikeluarkan bersamaan dengan libatan tali kail. Juga yang tadi dihantamkan kepadanya lewat tangan kiri oleh orang berdestar hitam. Sekali lagi

Luhcinta memperhatikan.Seperti diketahui gadis ini memiliki satu ilmu dimana dia sanggup melihat benda di kejauhan seolah satu jengkal di depan matanya. Ketika dia mengeluarkan ilmu itu dan meneliti keadaan ketiga kawannya, dia dapat melihat bagaimana otot dan urat Naga Kuning, Setan Ngompol serta Betina Bercula seolah terbuhul di beberapa tempat! Paras si gadis berubah merah. Dia berpaling padaorang tua berdestar hitam.

"Tiada permusuhan tiada perseteruan. Kami datang dengan baik-baik. Tapi kau mencelakai tiga kawanku! Kau melumpuhkan mereka dengan ilmu Membuhul Urat Mengikat Otot! Katakan siapa kau sebenarnya?!"

Orang tua berdestar hitam tertawa gelak-gelak. "Matamu sungguh tajam Luhcinta!"

"Hai! Bagaimana kau tahu namaku?!" seru Luhcinta heran dan tambah kaget

"Delapan penjuru angin Negeri Siapa yang tidak tahu gadis cantikbernama Luhcinta? Yang saat ini sedang patah hati karena ditinggal kawin sang kekasih! Ha ha ha ha!"

Luhcinta tersurut sampai dua langkah. Mukanya yang tadi merah mendadak berubah pucat. Dia. memandang lekat-lekat ke wajah orang tua itu. Tapi dia tak bisa mengenali siapa orang ini adanya. Dia melirik ke arah tiga kawannya, memperhatikan sekali lagi.

"Membuhul Urat Mengikat Otot adalah ilmu kepandaian kepunyaan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab! Bagaimana kau bisa memilikinya! Siapa kau sebenarnya?!"

"Siapa diriku sebenarnya? Ha ha ha! Apakah sungguhan kau ingin mengetahui diriku yang asli wahai Luhcinta?!"

"Kalau kau memang berhati jantan lekas unjukkan ujudmu sebenarnya!" menantang Luhcinta.

Tawa orang berdestar kembali meledak. "Untukmu aku akan melakukan segalanya! Luhcinta, lihat siapa diriku ini!" Habis berkata begitu orang tua berdestar hitam usapkan tangan kanannya ke wajahnya sementara tangan kiri dipergunakan untuk menanggalkan destar hitam. Sesaat kemudian terjadilah hal yang tidak tersangka-sangka.

Kepala orang tua itu berubah. Kini dia tidak hanya memiliki satu wajah tapi ada dua wajah di satu kepala! Wajah sebelah depan berupa ujud seorang lelaki separuh baya berkulit putih. Lalu wajah ke dua yang ada di sebelah belakang rupanya sama dengan yang di depan hanya bedanya kulitnya berwarna hitam pekat dan berkilat.

"Hantu Muka Dua!" seru Luhcinta.

Betina Bercula yang juga mengenalidua wajah Itu ikut menjerit. Naga Kuning diam tercekat dengan matamelotot. Setan Ngompol jangan ditanya. Saat itu juga dia sudah terkencing-kencing membuat Betina Bercula yang ada di bawahnya memaki habis-habisan!

"Wahai, ternyata kau tidak melupakan dua wajahku! Luhcinta, aku sendiri juga tidak pernah melupakan dirimu. Wajahmu selalu terbayang sejak peristiwa di tempat kediamanku duiu. Di bawah Telaga Lasituhitam… Betapa hasratku yang menyala-nyala dirusak oleh kehadiran nenek keparat berjuluk Hantu Penjunjung Roh! Hari ini agaknya tidak ada yang akan mengganggu kita. Luhcinta kekasihku, apa kau mau ikut secara baik-baik atau aku terpaksa memaksamu?"

WajahLuhcinta menjadi merah seperti saga. Rahangnya menggembung. Dia ingat bagaimana dulu Hantu Muka Dua menipunya dan menculiknya. Dia dilarikan ke satu tempat dan hampir menjadi korban kebejatan makhluk jahanam itu kalau tidak diselamatkan oleh Hantu Penjunjung Roh yang kemudian diketahui ternyata adalah nenek kandungnya sendiri.
Baca serial Wiro Sableng di Negeri Latanahsilam berjudul Rahasia Bayi Tergantung

"Hantu Muka Dua! Hati dan otakmu rupanya telah membeku jadi batu! Bertahun-tahun telah berlalu, ternyata kau tidak bisa merubah diri! Kapan kau mau bertobat?!"

Hantu Muka Dua tertawa gelak-gelak mendengar ucapan Luhcinta itu. "Gadis cantik kekasih hatiku! Aku tidak perlu merubah diri karena akulah yang merubah segala sesuatunya di Negeri Latanahsilam ini. Dalam waktu dekat aku akan menjadi ponguasa tunggal di negeri ini. Raja Diraja Hantu Negeri Latanahsilam! Dan aku sudah memutuskan bahwa kau adalah orang yang tepat bersanding dengan diriku! Menjadi permaisuriku di Istana Kebahagiaan!"

"Makhluk edan tak tahu diri!" memaki Naga Kuning. Suaranya sengaja dikeraskan agar tordongar oteh Hantu Muka Dua."Menyebut Luhcinta kekasihnya, Mau menjadikan gadis itu sebagai permaisuri di Istana Kebahagiaan! Huh! Kalau saja Hantu Selaksa Angin ada di tempat ini akan kusuruh dia memindahkan salah satu muka si keparat itu ke pantatnya!"

Dua wajah Hantu Muka Dua sekilas berubah menjadi wajah-wajah raksasa mengerikan. Ini pertanda dia sedang marah besar. Kemudian dua wajah ini kembali kebentuknya semula dan berpaling pada Luhcinta tepat pada saat gadis itu berucap.

"Penguasa Tunggal? Kau bermimpi Hantu Muka Dua...!"

"Bisa saja betul ucapanmu itu! Aku bermimpi! Tapi mimpi yang akan jadi kenyataan! Ha ha ha!"

Habis berkata begitu Hantu Muka Dua keluarkan suitan keras. Belum lenyap suara gema suitan itu di pedataran berumput, tiba-tiba dari arah kiri berkelebat muncul dua orang berjubah. Yang pertama seorang kakek berambut putih awut-awutan. Sebagian kepalanya tampak sulah dan ada bekas luka yang belum kering. Dia mengenakan sehelai jubah kuning gelap. Mukanya dan bagian tubuhnya yang tersembul dari balik jubah dipenuhi cacat mengerikan. Dagingnya seolah terbakar melepuh mengerikan!

Ini semua adalah akibat pukulan Menebar Budi Hari Pertama yang dilancarkan Si Penolong Budiman ketika terjadi pertempuran beberapa waktu lalu (Baca Episode berjudul Hantu Selaksa Angin)

Tidak mengherankan kalau orang ini yang dikenal dengan nama Lajahilio memendam dendam hebat terhadap Si Penolong Budiman. Orang ke dua bukan lain si nenek pasangan Lajahilio yakni Luhjahilio. Cacat akibat pukulan Kasih Mendorong Bumi yang pernah dihantamkan Luhcinta pada nenek jahat ini membuat tubuhnya mengerikan luar biasa. Hidungnya gerumpung, dagingnya di bagian muka, dada dan perut bertanggatan.

Lalu ketika dia berhadapan dengan Hantu Langit Terjungkir, dia dipaksa menerima hantaman keras yang membuat mata kanannya mencelat lepas. Kini mata itu hanya merupakan rongga besar menggidikkan. Keadaan si nenek lebih mengerikan lagi karena di kepalanya menempel tangan kanannya sendiri yang ditanggalkan oleh Hantu Selaksa Angin dan ditempelkan di jidatnya!

"Luhcinta!" seru Hantu Muka Dua. "Lihat siapa yang datang! Kau tentunya kenal baik dengan sepasang kakek nenek ini! Ha ha ha! Mereka datang membekal dendam setinggi langit sedalam lautan! Tapi mereka tidak akan melakukan apapun terhadapmu jika kau mau ikut aku secara baik-baik ke Istana Kebahagiaan! Kau akan kujadikan permaisuriku! Wahai! Tidak ada gadis yang seberuntung dirimu!"

Luhcinta sengaja tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan dua kakek nenek yang dikenal dengan julukan Sepasang Hantu Bercinta itu. Malah dengan tersenyum dia berkata. "Hantu Muka Dua, aku kagum akan kecerdikanmu. Hanya sayangnya kecerdikan itu kau pergunakan untuk berbuat jahat. Aku akan mempertimbangkan mau mengikutimu atau tidak. Tapi harap kau bebaskan tiga kawanku lebih dulu! Perihal sepasang kakek nenek ini biar para roh yang akan menentukan nasibnya! Mereka sudah beberapa kali diselamatkan para Dewa tapi masih tetap munculmenebar kejahatan! Nyatanya mereka telah menjadi kaki tanganmu! Perihal kau mau menjadikan diriku sebagai permaisuri kukira ada gadis lain yang paling cocok. Lagi pula kudengar kabar kau sudah lama bercinta dengannya…"

Wajah Hantu Muka Dua depan belakang mengerenyit. "Heh… gadis mana maksudmu? Siapa namanya?!"

"Luhjelita…" jawab Luhcinta pula.

Mendengar jawaban Luhcinta itu Hantu Muka Dua tertawa gelak-gelak. "Luhjelita tidak ada apa-apanya dibanding dengan dirimu. Lagi pula aku mendengar dia telah berbuat serong dengan pemuda asing bernama Wiro Sableng dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang itu! Dia tidak pantas jadi permaisuriku!"

"Kalau begitu dari sekarang lebih baik kau segera mencari calon permaisuri yang lain…" kata Luhcinta sambil rangkapkan sepasang tangan di depan dada.

"Luhcinta, kau cantik jelita. Tapi keras kepala!"

Hantu Muka Dua mulai jengkel karena Luhcinta tidak mengikuti kemauannya. Dia mendongak ke langit. Sekali lagi makhluk bermuka dua ini keluarkan suitan keras. Dari arah kanan berkelebat satu bayangan putih. Tahu-tahu sosok tubuh tinggi besar berjubah putih berdiri di hadapan Luhcinta, Menyeringai memandang pada si gadis. Luhcinta sampai tersurut dua langkah saking kagetnya.

"Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab!" seru Luhcinta. Naga Kuning dan dua kawannya yang masih berada dalam keadaan tak berdaya tak kalah kejutnya.

"Celaka! Habis kita hari ini!" kata Setan Ngompol sambil menahan kencingnya. "Ingat apa yang kita lakukan padanya dulu?!"

"Aku takut," kata Betina Bercula pula. Kalau saja tangan atau kakinya bisa digerakkan pasti saat itu dia sudah merangkul Setan Ngompol yang ada di atasnya.

Dalam Episode berjudul (Badai Fitnah Latanahsilam) diceritakan bagaimana Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab dibuat tak berdaya oleh Hantu Santet Laknat. Sedang Lawungu berada dalam keadaan kaku akibat ditotok oleh Setan Ngompol. Dalam keadaan seperti itulah dua tokoh silat itu kena dikerjai oleh Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula.

Lawungu dikencingi mulutnya oleh Setan Ngompol. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab sendiri kemudian mereka siksa dengan semut rangrang, cacing tanah, kalajengking, kadal dan kodok. Binatang-binatang itu mereka masukkan ke balik jubah si kakek, tepat di bagian bawah perutnya! Tidak salah kalau Lawungu dan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab menimbun dendam luar biasa terhadap Naga Kuning dan kawan-kawannya.

SEBELAS
Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab bertolak pinggang di hadapan Luhcinta lalu keluarkan tawa bergelak. "Kau terkejut melihat kehadiranku di tempat ini?!" berucap kakek yang otaknya ada di atas kepala itu.

"Aku tidak menyangka kalau kau rupanya telah jadi kaki tangan Hantu Muka Dua pula! Malang nian nasibmu…" kata Luhcinta sambil geleng-geleng kepala. "Kini terungkap teka-teki mengapa Hantu Muka Dua memiliki ilmu Membuhul Urat Mengikat Otot. Pasti kau yang memberi padanya!"

Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab menyeringai. "Aku memberikan bukan secara cuma-cuma! Hantu Muka Dua cukup adil dengan menjanjikan satu jabatan penting di Istana Kebahagiaan!"

"Hantu celaka!" memaki Naga Kuning. "Aku menyesal mengapa Kiai Gede Tapa Pamungkas menyuruh Naga Hantu memuntahkan kakek keparat itu kembali. Kalau dia mampus dulu-dulu tidak akan menimbulkan bencana baru lagi seperti saat ini!"

"Jabatan tinggi telah menyilaukan matamu walau itu baru sebuah janji. Padahal kasih dari Yang Maha Kuasa menjanjikan sesuatu yang abadi!" kata Luhcinta pula yang segera disambuti oleh Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab dengan ucapan keras.

"Kalian mengaku orang-orang berbudi luhur, menggembar gemborkan hidup berdasarkan kasih sayang! Apa yang aku dapat dari kalian?! Dua cucuku dirusak kehormatannya. Tak ada satupun yang perduli! Semua orang memusuhi diriku! Tak ada satupun di antara kalian yang mau membela! Kalau aku memang tidak mendapat tempat dalam barisan kalian, apa salahnya aku bergabung dengan kerabatku Hantu Muka Dua!"

"Kau terjebak dalam kesesatan! Kesengsaraan yang menimpa dirimu akibat ulahmu sendiri. Kasih yang kau maksudkan bukan kasih yang murni, tapi bercampur dengan hasut fitnah, dengki khianat, berlapis dengan ketamakan! Kelak kau bakal terpuruk lebih dalam di jurang kehinaan!"

"Para kerabatku! Jangan biarkan kekasihku itu bicara terlalu banyak! Kalian tahu apa tugas masing!" Hantu Muka Dua berteriak.

Mendengar itu dua kakek nenek berjuluk Sepasang Hantu Bercinta dan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab menjura memberi hormat. Mereka berkelebat saling menyebar. Lajahilio dan Luhjahilio menggebrak ke arah Luhcinta sedang Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab melompat ke tempat dimana Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula terikat lumpuh tak berdaya dan tergelimpang di tanah!

"Celaka! Culcul, riwayat kita benar-benar akan tamat hari ini!" kata Naga Kuning yang memanggil Betina Bercula dengan sebutan Culcul. Suaranya bergetar. Betina Bercula sendiri saat itu sudah menggigil seperti diserang demam panas sementara Setan Ngompol mancur habis-habisan air kencingnya!

Sekali Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab membetot tali kail yang melibat tubuh ketiga orang itu maka tali itupun putuslah! Dengan tangan kirinya Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab kemudian menjambak rambut Setan Ngompol. Kakek ini mendelik ketakutan, kencingnya muncrat.

"Tua bangka jahanam! Kau yang dulu mengencingi mulut temanku, Lawungu! Hari ini kau terima pembalasan dariku!" Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab mengangkat si kakek tinggi-tinggi. Ketika dia hendak menghantam muka Setan Ngompol dengan jotosan tangan kanannya, Naga Kuning berteriak.

"Hantu pengecut! Kakek itu dalam keadaan lumpuh tak berdaya! Kau mau apakan dia?!"

Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab menyeringai. Dia melirik ke arah Naga Kuning lalu melangkah mendekati anak ini. Tiba-tiba kaki kanannya bergerak.

"Bukkk!"

Naga Kuning menjerit keras. Tubuhnya mencelat sampai dua tombak ketika tendangan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab mendarat di sisinya. Dari mulutnya keluar suara mengerang. Rusuknya sakit bukan main. Mungkin ada tulang iganya yang patah atau remuk.

"Seerrr…!"

Air kencing Setan Ngompol mancur deras. karena berbarengan yang itu Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab menjambak dan mengangkat tubuh si kakek tinggi-tinggi, akibatnya air kencing mengguyur jatuh membasahi jubah putihnya. Amarah Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab jadi tambah meledak. Tangan kanannya segera dihantamkan.

Setan Ngompol menjerit keras ketika jotosan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab mendarat di mulutnya. Tubuhnya terlempar sampai dua tombak. Melingkar di tanah, mengerang kesakitan. Bibirnya pecah. Beberapa giginya yang masih ada rontok. Darah mengucur.

"Hantu pengecut!" Betina Bercula berteriak memaki. "Beraninya pada kawanku yang tidak berdaya!"

"Makhluk salah ujud! Sekarang giliranmu menerima pembalasanku!" Sekali lompat saja Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab sudah beradadi samping Betina Bercula. Lalu "breettt!" Kakek ini robek pakaian Betina Bercula

"Kurang ajar! Kau mau berbuat apa?!" teriak Betina Bercula.

"Aku akan telanjangi dirimu! Biar kelihatan ujudmu yang asli!"

Betina Bercula meraung panjang."Jangan! Kau boleh lakukan apa saja! Tapi jangan telanjangi diriku!"

"Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab!" Hantu Muka Dua berteriak. "Lekas kau telanjangi makhluk celaka itu! Aku juga ingin melihat ujudnya sebenarnya! Ha ha ha!"

"Breettt!"

Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab kembali menggerakkan tangannya. Pakaian Betina Bercula robek sampai ke perut.

"Jangan! Jangan permalukan diriku! Aku mohon! Aku minta ampun! Jangan…!"

Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab kini pergunakan tangannya untuk merobek habis pakaian Betina Bercula dari perut sampai ke sebelah bawah.

Melihat kejadian itu Luhcinta marah besar. Dia berteriak keras dan berkelebat cepat untuk menolong Betina Bercula. Tapi saat itu Sepasang Hantu Bercinta telah melompat menghadang gerakannya! Akibatnya Luhcinta lampiaskan semua kemarahannya pada dua kakek nenek ini.

Tubuhnya bergerai gemulai seperti seorang penari. Dua tangannya digerakkan perlahan, melepas pukulan Kasih Mendorong Bumi. Seperti diketahui pukulan inilah dulu yang telah mencelakai Luhjahilio. Si nenek segera berteriak memberi ingat kekasihnya. Lajahilio cepat menyingkir. Dua kakek ini melesat ke atas sampai setinggi dua tombak. Selagi melayang di udara keduanya saling memberi isyarat. Lalu sambil keluarkan suitan-suitan nyaring menusuk gendang-gendang telinga, begitu melayang turun kakek nenek ini kebutkan lengan jubah masing-masing.

Di ujung lengan jubah kiri sebelah dalam Luhjahilio dan lengan jubah kanan Lajahilio ternyata ada sebuah kantung merah. Begitu lengan jubah dikebutkan maka daridalam kantong melesat sejenis bubuk merah yang demikian halusnya hingga menyerupai kepulan asap.

Luhcinta mencium bau yang tidak enak. Dia segera maklum kalau bubuk merah yang dihamburkan dua lawan itu sangat berbahaya. Cepat gadis ini melompat menjauhi seraya teruskan serangannya tadi. Namun ketika Luhjahilio dan Lajahilio sama-sama meniup, laksana topan, bubuk-bubuk merah di udara menderu to arah Luhcinta, membungkus sosok gadis ini dari Kepala sampai ke pinggang! Terdengar satu pekikan halus. Lalu sosok Luhcinta terhuyung limbung dan roboh!

Sebelum gadis ini jatuh terbanting ke tanah, didahului sambaran sinar hitam berbentuk kipas disertai percikan-percikan bunga api, satu bayangan hitam berkelebat menyambar tubuh Luhcinta.

"Pukulan Menebar Budi!" teriak Sepasang Hantu Bercinta.

Mendadak sontak wajah mereka menjadi pucat Sebelumnya mereka telah mengetahui sendiri kehebatan ilmu pukulan yang telah menggemparkan rimba persilatan Negeri Latanahsilam itu. Bahkan hampir celaka! Dua kakek ini terjungkir balik setengah mati selamatkan nyawa. Begitu turun ke tanah mereka berhadap-hadapan dengan orang yang barusan menolong dan kini mendukung Luhcinta.

"Sosoknya sama, jubahnya sama, pukulannya sama. Tapi wajahnya lain…" berbisik Luhjahilio pada Lajahilio.

Sementara itu antara sadar dan tiada Luhcinta pandangi wajah orang yang mendukungnya. "Aku… aku seperti pernah melihat wajahmu sebelumnya. Kau… kau siapa…?"

Orang yang mendukung si gadis yang bukan lain antara lain Latampi alias Si Penolong Budiman menahan debaran dadanya. Hati kecilnya saat itu ingin menjawab, ingin mengatakan siapa dirinya sebenarnya. Namun sebelum mulutnya berucap, Luhcinta telah jatuh pingsan lebih dahulu. Bibir dan kelopak matanya tampak kebiru-biruan.

"Racun jahat! Nyawanya terancam. Aku harus cepat menolong…"

Si Penolong Budiman yang sebelumnya telah menanggalkan lapisan tanah liat yang selama ini menutup wajahnya segera hendak meninggalkan tempat itu. Namun Sepasang Hantu Bercinta serta merta menghadangnya. Tak ada jalan lain. Sosok Luhcinta dipindahkannya ke bahu kiri. Lalu dengan tangan kanan dia menghantam ke arah dua kakek nenek. Kalau tadi dia hanya melepas Pukulan Menebar Budi Hari Pertama maka kali ini tidak tanggung-tanggung dia melabrak dengan Pukulan Menebar Budi HariKe Empat!

"Wussss!"

Tempat itu laksana berubah menjadi malam begitu larikan sinar hitam pekat ditaburi percikan-percikan menyala seperti bunga api menerpa ganas ke arah Luhjahilio dan Lajahilio. Dua kakek nenek ini berseru tegang dan menyingkir selamatkan diri dengan bergulingan di tanah. Sebenarnya mereka tidak akan mampu menyelamatkan nyawa masing-masing. Kalau saja dari samping mendadak tidak ada dua rangkum gelombang angin dahsyat menangkis, niscaya Sepasang Hantu Bercinta saat itu sudah menemui ajal!

Hantu Muka Dua merasakan dadanya bergetar hebat dan lututnya bergoyang keras sedang dua tangannya seperti kesemutan begitu pukulan Mengelupas Puncak Langit Mengeruk Kerak Bumi dan pukulan Hantu Hijau Penjungkir Roh yang dilepaskannya untuk menyelamatkan Sepasang Hantu Bercinta bentrokan dengan pukulan Menebar Budi Hari Ke Empat.

Dengan mata berkilat-kilat dan wajah serta merta berubah menjadi wajah-wajah raksasa, Hantu Muka Dua memandang ke depan. Tapi saat itu Si Penolong Budiman telah melesat beberapa tombak sambil mendukung sosok Luhcinta di bahu kirinya.

"Sepasang Hantu Bercinta! Kalian tolol semual Lekas kejar orang itu! Kau harus dapatkan Luhcinta! Kalau gagal jangan harap jabatan tinggi di Istana Kebahagiaan! Dan ilmu Bubuk Penjungkir Syaraf akan kuambil kembali!"

Saat itu dalam keadaan masih terbaring menelungkup di tanah, Lajahilio berbisik pada kekasihnya. "Makhluk yang melarikan gadis itu luar biasa ilmunya. Kita bisa celaka di tangannya…"

"Saat ini kita tak ada pilihan lain!" jawab Luhjahilio. "Ikuti perintah Hantu Muka Dua. Bagaimana jadinya nanti biar kita pikirkan nanti!"

Sepasang Hantu Bercinta segera melompat bangkit "Kami siap menjalankan perintahmu!" berucap Luhjahilio. Lalu tanpa banyak bicara lagi dua kakek nenek ini segera berkelebat tinggalkan tempat itu.

Sementara itu pada saat Si Penolong Budiman pertama kali muncul lepaskan pukulan Menebar Budi Hari Pertama untuk menolong Luhcinta, dari jurusan lain berkelebat pula dua bayangan. Satu putih satunya lagi kuning. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab menjadi kaget bukan kepalang ketika dia hendak merobek bagian bawah pakaian Betina Bercula mendadak ada satu tangan mencekal lengan kanannya. Sebelum dia sempat melihat siapa yang melakukan tiba-tiba tubuhnya terlempar ke atas. Walau dia berusaha mengimbangi diri namun begitu jatuh tetap saja kakek ini terhenyak di tanah pantat duluan!

"Kekasihku, terima kasih kau telah menolong diriku!" Betina Bercula berseru ketika mengenali siapa tuan penolongnya.

Di tempatnya berdiri Hantu Muka Dua keluarkan suara menggembor begitu melihat siapa yang ada di hadapannya!

"Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Kau yang jadi sesepuh di Negeri Latanahsilam ini ternyata masih saja melakukan perbuatan memalukan!" satu suara keras menegur.

"Malah kini jadi kaki tangan Hantu Muka Dua!" kawan orang yang barusan menegur ikut menimpali lalu "butt prett!"

Terdengar suara kentut terpancar keras. Dari suara kentut itu jelas sudah yang barusan bicara ini bukan lain si nenek hantu berjuluk Hantu Selaksa Angin alias Luhpingitan. Sedang yang tadi melempar dan membanting Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab adalah Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Pemuda asing keparat! Lagi-lagi kau!" Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab mendidih amarahnya. "Dosa perbuatan mesummu terhadap dua cucuku belum terampunkan! Dosa perbuatan kejimu mencuri tongkat saktiku belum bisa kau tebus! Sekarang malah beraninya kau mencampuri urusanku!"

"Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab!" berteriak Hantu Muka Dua.

"Tidak perlu berbanyak bicara dengan pemuda keparat itu! Lekas kau habisi dia!"

"Butt preett!"

Hantu Selaksa Angin tertawa cekikikan lalu maju satu langkah mendekati Hantu Muka Dua yang memandang mendelik seperti mau melumat nenek itu. "Apa kau mengenali diriku, hingga kau memandang seperti itu padaku? Hik hik hik!"

"Siapa tidak tahu dirimu! Kau nenek penyebar kentut busuk yang sudah lama mencari mati!" Sepasang mata Hantu Muka Dua memandang begitu rupa seolah mau menembus dada pakaian si nenek, untuk mengetahui apakah sendok emas Pemasung Nasib yang dijadikan kalung masih tergantung di lehernya. "Tua bangka muka kuning! Kalau kau memang mau mencari mati, datanglah ke Istana Kebahagiaan pada hari ke lima belas bulan dua belas!"

"Begitu…? Hik hik hik!"

Butt prett!

"Aku khawatir kau yang mati lebih dulu dari aku Hantu Muka Dua!"

"Nenek keparat! Kalau begitu biar aku membunuhmu sekarang juga!" teriak Hantu Muka Dua marah hingga dua wajah di kepalanya langsung berubah menjadi wajah-wajah raksasa.

"Aku siap mati di tanganmu!" kata Hantu Selaksa Angin sambil sodorkan kepalanya siap minta digebuk. "Tapi apakah kau sudah tidak berpantang lagi membunuh perempuan?!"

Hantu Muka Dua jadi terkesiap mendengar ucapan si nenek. Gerakan tangannya tertahan. Langkahnya tersurut. Dia sadar kalau dirinya seumur hidup memang mempunyai pantangan membunuh perempuan. Otak cerdiknya segera diputar. Dari pada mencari urusan saat ini padahal dia tengah menghadapi satu urusan besar dan lebih penting pada hari lima belas bulan dua belas, Hantu Muka Dua akhirnya berkata.

"Nenek muka kuning, untung kau memberi tahu pantanganku hingga nyawamu selamat! Memang sebenarnya aku tidak layak menghadapi makhluk tak karuan rupa dan hina dina sepertimu!"

"Sombongnya bicaramu! Kau tidak tahu siapa diriku sebenarnya!"

"Perlu apa aku mencari tahu siapa dirimu sebenarnya!" tukas Hantu Muka Dua.

"Dengar baik-baik makhluk laknat bermuka dua! Aku adalah istri Hantu Langit Terjungkir alias Lasedayu! Puluhan tahun silam kau mencelakai suamiku itu. Menguras semua ilmu kesaktiannya lalu mempergunakan ilmu itu untuk berbuat kejahatan di mana-mana. Kau berpantang membunuh perempuan. Tapi aku tidak berpantang membunuh laki-laki. Apakah kau sudah siap mati, Hantu Muka Dua?!"

Walau sebenarnya terkejut mendengar ucapan si nenek tapi Hantu Muka Dua pandai berpura-pura. Dia keluarkan tawa bergelak lalu berkata. "Pantangan tinggal pantangan! Kalau kau keliwat memaksa, mengapa aku tidak bisa berlaku nekad? Kupecahkan kepalamu lebih dulu! Urusan pantangan biar aku pikirkan kemudian!"

Habis berkata begitu Hantu Muka Dua keluarkan bentakan keras. Dua wajahnya berubah menjadi muka-muka raksasa. Tubuhnya melesat ke depan. Tangannya sebelah kanan melepas pukulan Menghancur Karang Membentuk Debu. Kehebatan pukulan sakti ini sanggup membuat batu besar hancur berubah menjadi debu. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya kalau yang kena hantam adalah sosok tubuh manusia!

Hantu Selaksa Angin tertawa panjang lalu berkelebat dan siapa menghadapi serangan lawan. Tapi tiba-tiba tangan Hantu Muka Dua membuat gerakan aneh. Lalu..."desss… desss!"

Terdengar dua kali letusan kecil. Tempat itu serta merta diselubungi asap hijau. Ketika asap lenyap, sosok Hantu Muka Dua ikut menghilang!

"Pengecut kurang ajar! Kabur dia rupanya!" teriak Hantu Selaksa Angin lalu pancarkan kentutnya. "butt prett!"

Sementara itu antara Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab dengan Pendekar 212 Wiro Sableng telah terjadi perkelahian seru. Si kakek yang dipenuhi dendam kesumat ini jadi terkejut ketika menyadari dirinya jurus demi jurus mulai terdesak. Karenanya dia segera keluarkan ilmu kesaktiannya. Pertama dia coba melumpuhkan Wiro dengan ilmu Membeku Jazad Membungkam Suara. Ini adalah semacam ilmu menotok tanpa menyentuh. Tapi maksud ini gagal. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab kerahkan ilmu Membuhul Urat Mengikat Otot.

Sebelumnya Wiro pernah celaka dan dibuat tak berdaya dengan ilmu ini. Namun sekali ini Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab bukan saja tidak berhasil melumpuhkan lawannya malah ketika Wiro mulai menabur serangan balasan dengan jurus-jurus ilmu silat Delapan Sabda Dewa sambil sesekali menyeling dengan pukulan-pukulan sakti Dewa Topan Menggusur Gunung, Kilat Menyambar Puncak Gunung dan Tameng Sakti Menerpa Hujan. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab terdesak hebat.

Kakek ini segera keluarkan ilmu-ilmu andalannya. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab membuat gerakan melompat-lompat. Tubuhnya seolah bola karet membal kian kemari. Setiap kali berada di atas tanah, kakinya melesat mengirimkan Tendangan Hantu Racun Tujuh. Tendangan ini sangat berbahaya karena mengandung racun jahat.

Namun sebelumnya Wiro telah pernah menghadapi kakek ini dan bahkan sempat terkena hantaman tendangan berbahaya itu. Jadi dia tahu seluk gerak serangan orang hingga bisa berlaku waspada dan menghindar.

Tidak mampu menghajar lawan dengan tendangan mautnya Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab keluarkan pukulan Menara Mayat Meminta Nyawa. Segulung sinar kuning sebesar batang kelapa yang kemudian memecah menjadi tujuh melanda murid Sinto Gendeng laksana topan prahara.

Untuk selamatkan diri Wiro melesat ke udara berjungkir balik sambil lindungi diri dengan pukulan Benteng Topan Melanda Samudera yang dilepas dengan tangan kiri, lalu tangan kanan menghantam dengan pukulan dahsyat yaitu Pukulan Sinar Matahari. Cahaya putih dan panas berkiblat di udara.

Tujuh larik sinar kuning laksana dirobek-robek, hancur bertaburan di udara. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab jatuh berlutut. Mukanya seputih kertas. Mulutnya komat kamit. Otaknya yang terselubung lapisan bening mendenyut keras. Dia merasa ada cairan panas dan asin di mulutnya. Darah!

"Aku terluka di dalam…" Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab membatin menyadari apa yang terjadi dengan dirinya. "Apa yang aku duga tentang pemuda ini ternyata betul. Firasatku tentang kemunculannya puluhan tahun silam menjadi kenyataan. Sayang, mengapa aku kini jadi bermusuhan dengannya…"

Perlahan-lahan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab bangkit berdiri. Matanya memandang tajam mengawasi Wiro. Mulutnya berucap. "Anak muda, sayang aku ada urusan lebih penting! Jika saat ini aku meninggalkan tempat ini jangan menduga aku sengaja mengalah! Apalagi menyangka aku menaruh takut padamu! Bagaimanapun juga kelak dendam kesumat sakit hatiku akan kulampiaskan terhadapmu! Aku tunggu kau di Istana Kebahagiaan pada hari lima betas buian dua betas!"

Habis berkata begitu Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab meludah ke tanah. Ludahnya tampak merah karena bercampur darah. Saat itu akibat bentrokan pukulan sakti mengandung tenaga dalam Wiro sendiri merasa tubuhnya bergetar hebat. Jalan darahnya seolah tersendat. Dadanya sesak dan dia sulit bernafas. Keningnya mendenyut Kalau lawan kembali menggempurnya, cukup sulit baginya untuk menghadapi.

Murid Eyang Sinto Gendeng ini cepat berusaha memulihkan keadaannya dengan mengerahkan hawa sakti dari pertengahan perut lalu dialirkan ke dada. Di depannya Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab tiba-tiba berkelebat hendak meninggalkan tempat Itu.

"Orang tua! Tunggu dulu!" teriak Pendekar 212. Sekali lompat saja dia sudah melesat dan menghadang larinya si kakek.

"Kau masih belum puas?! Mau mencari kematianmu lebih cepat?!" gertak Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

Wiro menyeringai. Tangan kanannya menyelinap ke balik pakaiannya. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab kerenyitkan kening dan sipitkan mata ketika pantulan sinar matahari yang menyentuh mata kapak sakti berbalik menyambar wajahnya.

"Tadi kau hendak mempermalukan sahabatku Betina Bercula. Kini biar aku balas melakukannya terhadapmu. Biar kau tahu bagaimana rasanya dipermalukan orang!"

"Apa maksudmu?!" hardik Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

"Maksudku begini!" jawab murid Sinto Gendeng. Tangan kanannya bergerak. Kapak Maut Naga Geni 212 berkelebat. Didahului suara menggaung seperti ada ribuan tawon mengamuk cahaya putih berkiblat seputar pinggang Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab!

Si kakek menjerit keras ketika jubahnya sebatas pinggang ke bawah telah dibabat putus. Kini bagian jubah sebelah bawah yang putus itu jatuh ke tanah, membuat si kakek kalang kabut menutupi auratnya yang tersingkap!

"Sekarang kau boleh pergi!" kata Wiro lalu dengan kakinya dia dorong pantat Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

Dalam marah dan malu luar biasa si kakek tidak ingat lagi untuk mengambil kutungan jubahnya yang tergeletak di tanah. Dia langsung tancap diri lari tinggalkan tempat itu diikuti gelak tawa sorak sorai semua orang yang ada di tempat itu.

"Aku tidak menyangka!" berseru Betina Bercula yang tadi hampir ditelanjangi Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. "Kakek gatal itu ternyata tidak pakai celana dalam! Sayang dia menghadap ke jurusan sana! Padahal aku ingin juga melihat potongan perabotannya! Hai! Bukan begitu istilah kalian untuk barang lelaki yang ada di bawah perut? Hik hik hik!"

Semua yang ada di situ tertawa gelak-gelak. Tawa mereka semakin riuh setelah Naga Kuning ikut menimpali. "Pasti perabotan kakek itu sudah kuncul seperti terong kecil direbus!"

"Sudah! jangan tertawa saja! kita masih dalam keadaan kaku tak bisa bergerak!" Si Setan Ngompol berseru. "Wiro, lekas kau tolong kami bertiga!"

"Kek!" kata Betina Bercula. "Aku tahu mengapa kau tidak mau membicarakan perabotannya Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Agaknya perabotanmu tidak banyak beda dengan punya kakek itu! Hik hik hik!"

"Bisa-bisa lebih jelek!" kata Naga Kuning pula.

"Jangan kau berani menghina!" Setan Ngompol marah. "Biar tua dan suka ngompol begini anuku masih mantap dan mengkilap!"

"Hebat! Mengkilap ada sternya Kek?!" tanya Naga Kuning lalu tertawa memingkal.

"Sobat tua kita ini bohong!" ujar Betina Bercula. "Aku pernah melihat punyamu Kek. Aku mengintip waktu kau mandi di sungai. Bentuknya ya kira-kira seperti kata Naga Kuning tadi itu. Kuncup macam terong kecil direbus! Hik hik hik!"

"Tinggal dicocol dengan sambal!" Wiro ikut menggoda Si Setan Ngompol hingga kakek ini memaki panjang pendek.

T A M A T
Episode Selanjutnya:
LihatTutupKomentar