Srigala Perak

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Serial Tiga Dalam Satu
Karya: Bastian Tito

SRIGALA PERAK

(Serial Ketiga Dari Rangkaian Kisah Tiga Dalam Satu)

SATU
KI TAWANG ALU
MELIHAT siapa yang berdiri di depannya, Pendekar 212 Wiro Sableng merasa tidak enak. Dia langsung membentak. " Kau datang menyelinap dalam kegelapan malam! Membokong secara pengecut! Apa tujuanmu Ki Tawang Alu?!"
Si kakek tertawa bergumam. Sambil pegangi lengan kanannya yang sakit akibat bentrokan dengan tangan Wiro tadi dia menjawab.
"Malam boleh gelap! Kau boleh saja menuduhku sebagai pembokong pengecut! Tapi satu hal jelas bagiku, seperti terangnya matahari di siang bolong!"
"Tua bangka sialan! Aku tidak begitu suka melihat tampangmu yang putih seperti poncong hidup! Jadi jangan berpantun mengumbar syair didepanku! Katakan terus terang apa maksudmu muncul di tempat ini?!"
"Kalung kepala srigala perak! Aku tahu patung itu ada padamu!"
"Sebelumnya kau sudah memeriksa menggeledah sendiri! Kau tidak menemukan kalung itu pada diriku! Kau ini gila atau tolol!"
"Aku tidak gila, tidak juga tolol! Aku terlalu cerdik untuk kau tipu, anak muda bau kencur! Mana kalung perak kepala srigala itu! Lekas serahkan padaku!"
Wiro tatap kakek bermuka putih. Sambil menyeringai dia membatin. "Aku ingat pembicaraan dengan empat gadis anggota Kelompok Bumi Hitam itu. Antara mereka dengan kakek jelek ini seperti ada ketidak cocokan…."
"Jangan cengangas-cengenges di hadapanku! Kalau kau tidak segera menyerahkan kalung kepala srigala itu, kau bakal menyesal sampai ke liang kubur!"
"Busetttt! Matipun aku belum! Bagaimana kau bisa bilang aku bakal menyesal sampai ke liang kubur!"
"Kalau begitu biar sekarang kubunuh saja kau!" Kakek bernama Ki Tawang Alu lalu angkat tangan kanannya. Dalam gelap murid Sinto Gendeng melihat tangan si kakek bergetar pertanda ada hawa sakti atau tenaga dalam yang dialirkan ke tangan itu.
Wiro tetap menyeringai. "Kau bunuhpun aku sampai tujuh kali kalung kepala srigala itu tak bakal kau dapatkan!"
Ki Tawang Alu turunkan tangan kanannya. "Apa maksudmu! Jangan berdusta kalung itu tidak ada padamu! Aku tahu, waktu aku memeriksa kalung itu kau sembunyikan di mulutmu!"
"Kalau kau benar tahu, mengapa kau tidak memaksa mengambil! Malah pada orang-orangmu kau katakan kalung itu tidak ada padaku! kau menipu mereka! Berarti ada keculasan dalam hatimu!"
Tampang si kakek sesaat berubah. Rahangnya menggembung. "Urusanku dengan orang-orangku apa perdulimu! Hatiku culas atau tidak juga apa perdulimu! Sekarang katakan saja! Kau mau menyerahkan kalung kepala srigala itu atau tidak?!"
"Kalung itu tidak ada padaku!" jawab Wiro. "Kakek muka putih, terus terang aku muak melihatmu!" Wiro putar tubuh hendak berlalu. Tapi si kakek cepat menghadang.
"Tunggu! Kalau kalung itu sekarang tidak ada padamu, dimana beradanya? Kau serahkan pada siapa?!"
"Empat gadis berkerudung hitam itu mencegatku di satu tempat. Mereka bilang kalung itu sangat mereka perlukan. Karena aku merasa kalung itu memang milik mereka. lalu kuserahkan pada salah seorang dari empat gadis itu…."
"Empat gadis! Bagaimana kau tahu mereka adalah empat orang gadis!" Ki Tawang Alu bertanya heran.
"Aku melihat sendiri wajah-wajah mereka. Cantik semua! Mereka yang memperlihatkan wajah padaku!"
Ki Tawang Alu kelihatan terkejut mendengar keterangan Wiro itu, alisnya yang putih sampai berjingkraj keatas. Rahangnya menggembung.
"Anak muda tolol! Kau sudah kena tipu! Empat gadis itu tidak berhak memiliki kalung itu! Kau ingat kepada siapa kalung itu kau serahkan?!"
"Gadis bernama Mentari Pagi!" jawab Wiro.
Kembali rahang Ki Tawang Alu menggembung.
"Kalau kau berdusta, kalau ternyata kalung itu tidak ada pada gadis bernama Mentari Pagi itu kau bakal tahu rasa. Gurumu si nenek bau pesing itu akan kubuat menemui ajal secara mengenaskan!"
Terkejutlah Pendekar 212 mendengar ucapan si kakek. "Jahanam keparat! Apa yang telah kau lakukan terhadap guruku?!" teriak Wiro. Sekali lompat saja dia ada di hadapan si kakek. Tangan kanannya menyambar. Lidah Ki Tawang Alu mencelat terjulur keluar begitu Wiro mencekik lehernya!
Megap-megap si kakek berkata. "Bunuh! Patahkan batang leherku! Kau tak bakal melihat gurumu seumur-umur!"
"Jahanam!" Wiro kembali merutuk. Tangannya bergerak.
"Braaakkkk!"
Ki Tawang Alu dibantingnya hingga jatuh punggung di tanah. Tapi sambil menyeringai kakek ini berusaha bangkit berdiri. "Gurumu berada di tanganku! Kusembunyikan di satu tempat. Saat ini masih dalam keadaan aman. Tapi jika keteranganmu dusta dan aku tidak menemukan kalung itu, kematian gurumu semudah aku membalikkan telapak tangan!"
"Kurang ajar! Telapak tanganmu yang mana? Yang kiri atau yang kanan?!" Wiro membentak.
Ki Tawang Alu mengekeh. "Kau lihat saja nanti…."
"Aku mau lihat sekarang!" kata Pendekar 212. Secepat kilat tangannya kanannya menyambar kedepan.
"Kraaakkk!"
Sekali remas saja patahlah tulang telapak tangan kanan Ki Tawang Alu. Kakek ini menjerit kesakitan setinggi langit. Walau Wiro berhasil mematahkan telapak tangan kanan si kakek tapi dia harus membayar cukup mahal. Karena tak kalah cepatnya tangan kiri Ki Tawang Alu menghantam ke depan. Murid Sinto Gendeng berusaha mengelak dengan jurus Kilat Menyambar Puncak Gunung uakni ilmu silat yang didapatnya dari Tua Gila, namun jotosan si kakek masih mampu mendarat telak di dada kirinya.
Murid Sinto Gendeng laksana digebuk dengan palu godam raksasa. Tubuhnya mencelat lalu jatuh terjengkang ke tanah. Dadanya serasa hancur dan mendenyut sakit. Sesaat dia sulit bernafas dan pandangannya menggelap. Ketika dia berusaha menarik nafas dalam dari mulutnya keluar darah. Wiro berteriak marah. Kerahkan tenaga dalam lalu melompat bangkit. Gerakannya terhuyung-huyung. Memandang ke depan Ki Tawang Alu tak kelihatan lagi.
"Jahanam bermuka putih itu menculik Eyang Sinto Gendeng! Kalau sampai guruku cidera aku bersumpah akan menguliti tubuhnya!" Sambil pegangi dadanya yang sakit Wiro melangkah ke jurusan timur di mana dia menduga kaburnya kakek bernama Ki Tawang Alu itu.
***
DUA
PELANGI INDAH
MALAM gelap gulita. Udara dingin luar biasa seolah tubuh dibungkus es. Semakin tinggi ke puncak Gunung Merapi, semakin sengsara keadaan Pendekar 212. Kakinya terasa sakit dan berat, sukar diajak melangkah. Dadanya seperti diganduli batu berat. Setiap dia menarik nafas tenggorokannya terasa panas dan lehernya seperti di cekik. Hanya semangat baja dan niat untuk menyelamatkan Eyang Sinto Gendeng yang tidak diketahuinya dimana beradanya membuat Wiro akhirnya mampu sampai ke puncak timur gunung Merapi. Inipun ditempuhnya satu hari perjalanan. Jika dia tidak cidera dalam waktu setengah hari saja pasti dia sudah sampai di tempat itu.
Di satu pendakian berbatu-batu Pendekar 212 jatuhkan tubuhnya, duduk menjelepok di tanah.
"Lereng timur gunung ini luas sekali. Malam gelap begini. Dimana aku harus mencari! Kalau sampai tidak bertemu markasnya orang-orang kelompok Bumi hitam itu, bukan saja aku yang celaka, tapi Eyang Sinto Gendeng juga bakal sengsarasebelum menemui ajal! Bangsat Ki Tawang Alu! Apa yang telah kau lakukan terhadap guruku!" Wiro kepalkan tinju kiri kanan lalu sandarkan punggungnya ke sebuah batu di belakangnya. Menurut jalan pikiran Wiro, setelah tahu dimana beradanya kalung kepala srigala perak itum Ki Tawang Alu pasti menuju ke markasnya di puncak timur gunung Merapi. Itu sebabnya walau harus menyabung nyawa dan mungkin saja menemui ajal di tengah jalan, dia tetap bertekad naik puncak gunung itu untuk mencari si kakek. Kalau dia tidak sampai dapat mengorek keterangan dimana gurunya berada dan apa yang terjadi dengan nenek sakti itu, tekadnya sudah bulat untuk menyabung nyawa, memilih sama-sama mati dengan Ki Tawang Alu!
Dalam keadaan menderita sakit dan letih setengah mati serta lapar dan haus sepasang mata Wiro terasa berat. Sekejapan lagi matanya hendak terpejam tiba-tiba dia melihat nyala api, kecil dan jauh sekali.
"Nyala api itu…" desis Pendekar 212 sambil seka darah yang masih menetes di sela bibirnya. "Aku harus menyelidik. Mungkin itu tempat kediamannya orang-orang Bumi Hitam…." Wiro bangkit berdiri. Sosoknya terhuyung-huyung. Dia memandang berkeliling. Matanya membentur satu pohon kecil. Di patahkannya salah satu cabang kecil pohon ini. Lalu dipergunakannya sebagai tongkat untuk membantunya berjalan.
"Anah, pukulan apa yang dihantamkan kakek muka putih itu hingga aku sengsara setengah mati begini rupa. Kapak Naga Geni 212 tidak mampu menyembuhkan. Mungkin pukulan itu beracun dan kekuatannya sanggup menghancurkan gunung! Apalagi dadaku yang hanya terdiri dari tulang dan daging! Kurang ajar! Ki Tawang Alu kau tunggu pembalasanku!"
Tertatih-tatih Pendekar 212 melangkah dalam gelapnya malam dan dinginnya udara menuju nyala api di kejauhan.
***
EMPAT bayangan hitam berkelebat menuju lereng timur Gunung Merapi. Walau udara gelap dingin serta pohon dan semak belukar menghadang dimana-mana, namun ke empat orang itu mampu berlari secepat angin, pertanda mereka mengenal betul kawasan tersebut. Mereka bukan lain adalah Mentari Pagi dan Rembulan serta dua orang kawannya dari Kelompok Bumi Hitam.
Tak selang berapa lama ke empat gadis yang mengenakan jubah serta kerudung hitam itu sampai di sebuah bangunan besar terbuat dari kayu dan memiliki kolong di sebelah bawahnya. Bangunan-bangunan serupa dalam bentuk lebih kecil kelihatan di sekeliling bangunan besar. Karena seluruh bangunan mulai dari tiang sampai dinding dan atap dilapisi cat hitam maka dalam gelapnya malam bangunan itu tampak angker sekali dan tidak ada satu peneranganpun kelihatan.
"Lekas naik ke atas dan salah satu dari kalian nyalakan pelita!" Mentari Pagi berkata pada teman-temannya. Dua orang segera melompati tangga rumah panggung. Mentari Pagi dan Rembulan menunggu di bawah tangga. Ketika di atas sana mereka melihat ada nyala pelita, keduanya segera melompat ke tangga. Namun gerakan mereka tertahan. Dari samping melesat satu bayangan hitam bermuka putih.
"Ki Tawang Alu!" seru Mentari Pagi ketika mengenali siapa yang datang.
"Syukur kalian sudah sampai di sini. Tadinya aku merasa khawatir…." kata kakek muka putih seraya usap dagunya. Dua matanya sesaat jelalatan. Membuat Mentari Pagi dan Rembulan merasa tidak enak. Sebenarnya sudah sejak lama para gadis dalam kelompok Bumi Hitam tidak menyenangi kakek ini. Namun kedudukannya sebagai Wakil Pimpinan membuat mereka merasa sungkan dan tetap menaruh hormat.
Ketika Rembulan melihat tangan kanan si kakek dibalut gadis ini langsung bertanya. "Ki Tawang Alu, mengapa tanganmu?"
Si kakek tarik nafas dalam. "Inilah yang harus aku beritahu padamu. Dalam perjalanan kesini, aku dihadang oleh pemuda asing berambut gondrong…."
Mentari Pagi dan Rembulan saling berpandangan. "Maksudmu pemuda bernama Wiro Sableng berjuluk Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 itu…?"
Si kakek mengangguk.
"Pasal lantaran apa dia menghadang? Padahal…"
"Bukan cuma menghadang. Tapi malah menyerangku tanpa sebab-musabab! Dia membuat tangan kananku cidera. Tapi aku sendiri sempat menghajarnya hingga jatuh terjengkang. Mungkin saat ini dalam keadaan sekarat atau mungkin juga sudah menemui ajal!"
Mentari Pagi dan Rembulan sama-sama keluarkan seruan tertahan. Sementara itu di atas tangga bengunan besar, beberapa orang gadis berkerudung hitam yang telah membuka kerudung masing-masing memberi isyarat pada Mentari Pagi dan Rembulan. Dua gadis di bawah bangunan balas memberi isyarat.
"Ki Tawang Alu, pembicaraan kita lanjutkan nanti! Kami akan naik ke atas untuk mengobati Pimpinan…." berkata Mentari Pagi.
"Hai, rupanya kalian sudah mendapatkan kalung kepala srihgala itu?" tanya si kakek.
Ketika Mentari Pagi mengangguk, Ki Tawang Alu berkata gembira. "Jasa kalian besar sekali! Pimpinan dan aku pasti tidak melupakan!"
"Jasa kami tidak apa-apa. Kami hanya menjalankan tugas. Yang berjasa sebenarnya adalah pemuda bernama Wiro Sableng," kata Rembulan pula. "Dia yang menyerahkan secara sukarela kalung kepala srigala itu pada kami."
"Aneh, waktu kuperiksa benda itu tidak ada padanya. Tahu-tahu ada dan malah diberikan pada kalian. Kalau begitu, hemmm…. Perlihatkan dulu benda itu padaku. Biar kuperiksa…."
Mentari Pagi sebenarnya ingin cepat-cepat naik ke atas rumah. Tapi si kakek sengaja tegak di depan tangga seperti menghalangi dan ulurkan tangannya. Karena Ki Tawang Alu memang adalah pimpinan mereka juga maka Mentari Pagi mau tak mau keluarkan kalung kepala srigala yang terbuat dari perak dan menyerahkannya pada si kakek.
Ki Tawang Alu menerima benda itu dengan wajah gembira dan mata berkilat-kilat. Diperhatikannya sesaat kalung kepala srigala itu. Lalu dia berbalik membelakangi dua gadis dan memegang kalung itu kearah cahaya pelita yang memancar dari bangunan sebelah atas. Sambil anggukkan kepala kakek ini lalu balikkan tubuhnya kembali dan serahkan kalung kepala srigala yang terbuat dari perak itu kepada Mentari Pagi.
"Lekas kau naik ke atas dan lakukan penyembuhan terhadap pimpinan kita!"
"Kau sendiri tidak turut menyaksikan Ki Tawang Alu?" tanya Mentari pagi seraya mengambil kalung yang diserahkan si kakek muka putih.
"Aku biar tetap berada di sini. Berjaga-jaga! Aku khawatir pemuda jahat itu bisa saja muncul melakukan sesuatu yang tidak kita ingini!"
Rembulan hendak mengatakan sesuatu membantah ucapan si kakek. Namun Mentari pagi cepat memberi isyarat. Dua gadis ini membuka kerudung yang menutupi kepala serta wajah masing-masing. Lalu melompati tangga naik ke atas bangunan kayu.
Di atas bangunan kayu ada satu ruangan luas diterangi sebuah pelita besar. Di salah satu sudut ruangan ada sebuah perasapan besar, mengepulkan asap menebar harumnya bau setanggi. Suasana di ruangan itu terasa mencekam dan sakral karena setiap dinding di hias dengan bunga-bunga aneh terbuat dari kain berwarna hitam.
Tujuh orang gadis berjubah hitam tanpa kerudung tegak mengelilingi sebuah pembaringan. Ada sesosok tubuh terbujur di atas pembaringan ini, tertutup dengan sehelai kain sutera tipis berwarna hitam. Salah seorang dari tujuh gadis itu memegang sebuah bokor terbuat dari kuningan. Bokor ini berisi air sangat jernih dan dingin karena berasal dari embun yang di kumpulkan. Tujuh bunga melati mengapung di permukaan air dalam bokor.
Ketika Mentari Pagi dan Rembulan masuk ke dalam ruangan, tujuh gadis segera menyibak memberi tempat. Mentari Pagi dan Rembulan mengambil tempat berdiri di dekat kepala sosok yang terbujur di atas pembaringan. Sesaat setelah menatap sosok yang ada di atas pembaringan itu, Mentari Pagi keluarkan kalung kepala srigala dari balik jubah hitamnya lalu dimasukkan ke dalam bokor kuningan.
Seorang gadis memberikan sebatang tongkat kecil terbuat dari bambu. Dengan tongkat ini Mentari lalu mengaduk cairan dalam bokor. Terdengar suara berkelentingan ketika kalung kepala srigala yang berputar-putar bersentuhan dengan dinding bokor. Setelah itu seorang gadis lain memberikan sebuah benda berbentuk koas terbuat dari benang sangat halus. Mentari celupkan koas ini kedalam bokor lalu memberi isyarat pada Rembulan.
Dengan tangan gemetar Rembulan pegang ujung kain sutera hitam di bagian kepala orang yang terbujur di atas pembaringan. Semua mata yang ada di ruangan itu memandang tak berkesip. Mereka menunggu dengan dada berdebar.
Perlahan-lahan dan sangat berhati-hati Rembulan menarik kain sutera hitam itu dari kepala ke arah kaki. Beberapa mata tampak seperti mau dipicingkan begitu mereka melihat wajah yang tersingkap, di susul bagian dada dan perut terus ke paha dan sampai di ujung kaki. Rata-rata para gadis yang ada di situ merasakan tengkuk mereka menjadi dingin.
Sosok di atas pembaringan ternyata adalah satu sosok seorang nenek berambut putih. Kulit diwajah maupun di sekujur tubuh sampai ke kaki hanya merupakan kulit keriput sangat hitam dan tak lebih sabagai pembalut tulang. Sosok itu tidak bergerak bahkan bernafas pun seperti tidak. Dua matanya terpejam.
Mentari Pagi memutar pandangan matanya berkeliling. Kecuali gadis yang memegang bokor dan dirinya sendiri, maka semua yang ada di tempat itu mengangkat tangan, menampungkan telapak tangan ke atas, sejajar dengan kepala. Mulut mereka berkomat-kamit. Lalu terdengar suara menggema perlahan seperti orang berdoa. Mentari memegang gagang koas di dalam bokor. Lalu perlahan-lahan koas itu di angkatnya. Bagian koas yang basah dengan hati-hati disapukannya ke wajah orang yang terbujur. Begitu air di permukaan koas mengering, koas di celupkannya ke dalam bokor lalu diangkat lagi dan kembali disapukan di seluruh permukaan wajah. Selesai membasahi wajah, koas berpindah disapukan ke bagian dada, perut, terus pada dua kaki. Tidak ada satu bagian tubuhpun, depan dan belakang yang tidak diusap dibasahi dengan air dalam bokor itu.
Setelah selesai melakukan hal itu Mentari Pagi usap-usap dua tangannya lalu seperti teman-temannya dia menampungkan dua tangan ke atas. Dari mulutnya perlahan-lahan keluar ucapan. Bersamaan dengan itu semua mata di pejamkan.
"Gusti Allah, Penguasa Yang Maha Kuasa. Kau Yang Maha Pengasih. Dengan KasihMu Kau menjadi Yang Maha Penyembuh. Dengan Kasih dan KuasaMu kami memohon, sembuhkanlah Pelangi Indah Pimpinan kami. Karena hanya kepada Engkaulah tempat kami meminta."
Setelah beberapa saat, diikuti oleh gadis-gadis lainnya Mentari Pagi buka ke dua matanya. Mereka memandang ke sosok tubuh di atas pembaringan. Lalu saling pandang satu dengan lainnya. Paras mereka jelas tampak berubah, pucat dan sangat khawatir.
"Tuhan tidak mendengar permintaan kita! Sosok pimpinan kita tidak berubah…." kata Mentari Pagi dengan suara gemetar.
Beberapa mata mulai tampak berkaca-kaca. Di antara para gadis ada yang tidak dapat membendung tetesan air mata mereka. Rembulan tundukkan kepala menahan sesenggukan. Ketika dia hendak menutup kain sutera hitam itu kembali, Mentari Pagi mencegah. Gadis ini memberi isyarat pada temannya yang memegang bokor kuningan. Yang di beri isyarat datang mendekat. Dengan agak gemetar Mentari Pagi lalu celupkan tangannya ke dalam bokor, mengambil kalung kepala srigala yang terbuat dari perak murni. Lalu dia melangkah mendekati pelita besar di sudut ruangan.
Di bawah penerangan pelita Mentari Pagi dan Rembulan serta beberapa gadis perhatikan dengan seksama kalung perak itu.
"Palsu!" kata Mentari pagi dengan suara keras tapi bergetar. "Kalung ini palsu!"
***
TIGA
MUSUH DALAM SELIMUT
RUANGAN di atas rumah panggung itu menjadi geger. "Kita tertipu!" ujar Rembulan dengan muka pucat.
"Pemuda bernama Wiro Sableng itu menipu kita! Memberikan kalung palsu mencuri yang asli!" kata Mentari Pagi penuh geram sambil kepalkan tangan.
"Rembulan! Pimpin enam orang kawanmu! Cari pemuda itu sampai dapat! Seret ke sini! Jika dia melawan bunuh di tempat!"
"Akan kulakukan!" jawab Rembulan. "Namun ada satu hal perlu aku tanyakan. Jika pemuda itu memang memalsukan kalung kepala srigala itu, kapan dan bagaimana dia bisa melakukannya? Membuat kalung tiruan tidak mudah. Perlu waktu dan perlu seorang juru tempa yang ahli! Sedang pemuda itu satu malam lalu kita temui. Mungkin kalung itu didapatnya sudah dalam keadaan palsu?"
"Maksudmu Lima Laknat Malam Kliwon yang memalsukan?"
"Aku menduga begitu," jawab Rembulan.
"Aku tidak sependapat denganmu. Lagi pula aku sangsikan kebenaran ucapanmu. Karena suara hatimu dipengaruhi oleh suara batin. Karena kau menyukai pemuda itu. Aku tetap yakin dia yang memalsukan kalung itu. Bukankah sejak dulu aku sudah mengatakan dia bukan saja memiliki kepandaian silat dan kesaktian tinggi tapi juga kecerdikan luar biasa seperti ular! Dengar, aku tahu hatimu meragu! Biar aku sendiri yang akan memimpin pencarian atas dirinya!"
"Aku tetap ikut bersamamu!" kata Rembulan. Begitu Mentari Pagi dan enam kawannya keluar dari kamar Rembulan segera mengikuti. Semua gadis ini kembali mengenakan kerudung masing-masing.
Di bawah tangga Ki Tawang Alu menunggu dengan muka menunjukkan kekhawatiran.
"Aku mendengar suara ribut-ribut di atas sana. Ada apa?" si kakek bertanya.
Mentari Pagi acungkan kalung kepala srigala sambil berkata. "Kalung yang diberikan pemuda bernama Wiro Sableng itu ternyata kalung palsu! Sama sekali tidak mempunyai kekuatan dan berkah kesaktian untuk menyembuhkan pimpinan kita Pelangi Indah!"
Muka putih Ki Tawang Alu menjadi merah saking marahnya. "Sedari semula aku sudah tahu kalau pemuda itu licik! Saat ini dia pasti sudah meregang nyawa akibat hantamanku!"
"Kita harus memastikan! Aku dan kawan-kawan akan mencarinya! Menggebuknya sampai setengah mati sebelum dia mengaku dimana beradanya kalung yang asli!"
"Mentari Pagi, sebaiknya kau tetap berada di sini menjaga pimpinan" kita. Biar aku yang mencari pemuda laknat itu!" kata kakek muka putih pula.
"Kalian tak usah bersusah payah! Aku sudah ada disini!" Tiba-tiba satu suara menyeruak dari kegelapan. Sesaat kemudian seorang berpakaian putih muncul dengan langkah terhuyung-huyung. Tak berapa jauh dari tangga, orang ini tergelimpang jatuh menelungkup.
"Pendekar 212 Wiro Sableng! Dia yang menipu kita!" teriak Ki Tawang Alu lalu melompat dan injakkan kaki kanannya ke tengkuk orang yang bergelimpang di tanah.
"Ki Tawang Alu, kau pasti telah menganiaya guruku! Kalau kau tidak memberitahu dimana kau sembunyikan guruku, kubunuh kau saat ini juga!"
"Pemuda ular! Orang bicara lain kau bicara lain!" bentak Mentari Pagi. "Mana kalung kepala srigala yang asli!"
Wiro melirik ke atas. "Kau tentu Mentari Pagi. Bukankah aku sudah menyerahkan benda itu malam kemarin?!"Betul! Tapi yang kau berikan padanya adalah kalung kepala srigala palsu" kata Ki Tawang Alu sambil pindahkan injakannya dari tengkuk ke kepala Pendekar 212. Kau binatang cerdik! Penipu keparat!"
"Kakek muka putih! jaga mulutmu! Bukan aku binatang cerdik tapi kau yang jahanam busuk! Malam lalu kau sengaja menghadangku menanyakan kalung kepala srigala itu. Karena kau tahu aku menyembunyikan kalung itu dalam mulutku! Kau kecewa begitu mengetahui kalung itu telah kuserahkan pada Mentari Pagi. Tapi dasar kau manusia jahat busuk! Sebelumnya kau telah menganiaya dan menculik guruku!"
Kakek muka putih tertawa mengekeh. "Kau pandai bersilat lidah menutupi kekejianmu sendiri! Buat apa bicara panjang lebar denganmu! Mampus lebih baik bagimu!"
"Tunggu! Jangan bunuh dia sebelum dia memberitahu dimana kalung asli itu berada !" berseru Mentari Pagi.
"Mentari Pagi, kau pernah bersumpah atas nama Gusti Allah bahwa kalung itu adalah milik pimpinanmu! Saat ini aku juga bersumpah demi Gusti Allah, kalung yang kuserahkan padamu adalah satu-satunya kalung yang ada padaku….."
Mentari Pagi dan Rembulan serta semua gadis berkerudung di tempat itu menjadi terkesima mendengar ucapan Wiro itu. Namun Ki Tawang Alu cepat memotong dengan hardikan.
"Siapa percaya sumpah manusia bejat sepertimu!"
Wiro tidak perdulikan hardikan si kakek. Dia tetap menatap ke arah Mentari Pagi dan lanjutkan ucapannya. "Kalau sekarang kalian cerita segala macam kalung palsu pasti salah satu di antara kalian di sini yang telah melakukan keculasan!"
Mendengar kata-kata Wiro itu Rembulan bergerak mendekati Mentari Pagi dan membisiki sesuatu.
"Mulutmu berbisa! Otakmu kotor! Kau memang layak mampus saat ini juga!" teriak Ki Tawang Alu marah. Kaki kanannya diinjakkan keras-keras ke kepala Wiro. Bila hal itu sampai terjadi niscaya kepala murid Sinto Gendeng ini akan pecah berantakan. Karena Ki Tawang Alu pergunakan kesaktian yang di sebut Injakan Seribu Kati. Jangankan batok kepala manusia, batu besarpun akan hancur lebur!
Sesaat sebelum kaki Ki Tawang Alu bergerak menginjak, Wiro selinapkan tangan kirinya ke pinggang. Lalu tahu-tahu berkiblat sinar putih dalam gelapnya malam. Udara menjadi panas dan suara seolah ada seribu tawon menyerbu mengaungi tempat itu.
Semua orang berseru kaget sambil bersurut mundur. Ki Tawang Alu melompat sampai satu tombak. Sedikit saja dia terlambat kaki kanannya yang tadi dipakai menginjak kepala Wiro akan terbabat putus.
Pendekar 212 tegak agak terhuyung. Di tangan kanannya tergenggam Kapak Maut Naga Geni 212. Pengerahan tenaga dalam waktu membabatkan senjata mustikanya tadi membuat darah kembali mengucur di sela-sela bibirnya.
"Berani mencari mati! Makan tanganku!" teriak Ki Tawang Alu. Tangannya melesat ke depan. Tangan itu telah berubah menjadi kaki srigala. Kuku-kuku runcing mencuat ke depan, membeset ke arah batang leher Wiro. Wiro kembali kiblatkan kapak saktinya. Lawan bertindak cepat dan cerdik. Sambil tundukan kepala dan mengelak ke samping si kakek kembali menyerang. Kali ini dengan tangan kirinya.
"Breeeetttt!"
Pakaian Wiro robek besar di bahu sebelah kiri. Murid Sinto Gendeng cepat bertindak mundur. Merasa di atas angin Ki Tawang Alu kembali menggempur. Dia pergunakan dua tangannya yang berbentuk kaki-kaki srigala itu. Yang kiri menyambar ke muka sedangkan yang kanan membeset ke perut Pendekar 212. Kali ini si kakek terlalu menganggap enteng senjata di tangan lawan.
Wiro tekuk salah satu lututnya seraya mundurkan kaki yang lain. Kapak Naga Geni 212 yang sudah dipindah ke tangan kanan melesat ke depan. Sinar putih menyambung dikegelapan malam disertai suara mengaung dan hamparan hawa panas. Lalu craaassss!
Ki Tawang Alu menjerit setinggi langit. Darah muncrat dari tangan kirinya yang buntung karena tidak sempat ditarik selamatkan diri. Mukanya yang putih berubah merah mengelam. Terhuyung-huyung dia mundur menjauhi lawan. Susah payah dengan tangan kanannya dia menotok urat besar di pangkal leher serta lipatan siku. Darah serta merta berhenti tapi rasa sakit dan hawa panas menjalari sekujur tubuhnya. Tangan kirinya terkulai tidak bisa di gerakkan lagi. Kalau saja tadi dia tidak menotok lengannya niscaya racun Kapak Maut Naga Geni 212 akan menjalar sampai ke dalam jantungnya dan nyawanya tidak tertolong lagi. Melihat gelagat yang tidak menguntungkan itu si kakek segera berteriak pada gadis-gadis berkerudung hitam.
"Orang telah mencelakai diriku! Jangan diam saja! Lekas bunuh pemuda jahanam itu!"
Beberapa orang gadis siap bergerak. Namun mereka menunggu isyarat dari Mentari Pagi yang saat itu tampak ragu. Apalagi gadis bernama Rembulan. Sejak tadi dia tidak percaya pada semua ucapan kakek muka putih. Selain itu semua gadis merasa ngeri melihat kedahsyatan kapak bermata dua di tangan Wiro.
"Kalian boleh membunuhku!" kata Wiro seraya sisipkan senjata mustikanya ke pinggang. Lututnya tertekuk. Luka dalam akibat pukulan Ki Tawang Alu malam lalu cukup parah. Dalam keadaan jatuh berlutut dia teruskan ucapannya. "Tapi sebelum menghabisiku, geladah dulu tua bangka muka putih itu. Bagaimana caranya aku tidak tahu! Tapi aku merasa yakin kalung srigala yang asli itu ada padanya!"
"Aku pimpinan di sini! Aku yang memberi perintah pada kalian! Jangan dengarkan ucapannya yang beracun! Lekas bunuh pemuda itu!" teriak Ki Tawang Alu. Tubuhnya terasa semakin panas dan jalan darahnya tidak karuan.
Rembulan berbisik pada Mentari Pagi. "Apa yang di katakan pemuda itu mungkin betul. Aku ingat sewaktu Ki Tawang Alu memegang kalung kepala srigala yang kau serahkan padanya. Saat itu dia membalikkan badan, mengarahkan kalung ke cahaya pelita di atas rumah. Kita semua tahu dia memiliki kepandaian Secepat Kilat Membalik Tangan. Bukan mustahil dia menukar kalung itu dengan yang palsu…."
"Beri isyarat pada teman-teman untuk mengurung…." balas berbisik Mentari Pagi. Lalu dia maju mendekati si kakek.
"Ki Tawang Alu, kau terluka parah. Perlu mendapat rawatan. Sebaiknya kau lekas naik ke atas rumah. Tapi sebelumnya aku ingin mengatakan sesuatu dulu. Jika sekiranya kecurigaan kami keliru harap dimaafkan. Menurut pemuda itu kau kembali menemuinya untuk meminta kalung kepala srigala itu. Padahal sebelumnya di depan kami kau telah menggeledah dan menyatakan kalung itu tidak ada padanya. Mana yang benar. Kalung yang di berikan pemuda itu padaku aku yakin itu adalah kalung yang asli. Bagaimana tiba-tiba berubah menjadi kalung palsu yang tidak ada khasiatnya, apakah kau bisa menerangkan?"
"Mentari Pagi!" kata Ki Tawang Alu dengan suara bergetar dan rahang menggembung. "Kau tidak layak menanyai diriku. Jika kau memaksa kau akan kupecat sebagai anggota Kelompok Bumi Hitam dan kuusir dari tempat ini! Kau dengar?!"
"Aku mendengar dan mohon maafmu. Tapi jika kau tidak mau menjawab pertanyaanku tadi, terpaksa kami menggeledah dirimu!"
"Gadis kurang ajar! Berani kau berkata begitu! Kau dan kawan-kawanmu telah termakan ucapan pemuda sinting itu!" Ki Tawang Alu bicara setengah berteriak. Selain itu diam-diam dia memperhatikan keadaan sekelilingnya. Ternyata para gadis yang berjumlah lebih setengah lusin itu telah mengurungnya. "Kalian semua lekas naik ke atas rumah! Biar aku menghabisi pemuda itu!"
Mentari Pagi dan Rembulan cepat menghadang gerakan si kakek ketika Ki Tawang Alu hendak mendekati Pendekar 212 Wiro Sableng. Habislah kesabaran Wakil Pimpinan Kelompok Bumi Hitam ini. Didahului teriakan garang dia menyerang Mentari Pagi dengan tangan kanannya yang cidera dan saat itu telah berubah menjadi kaki srigala. Mentari Pagi dan kawan-kawannya tak tinggal diam. perkelahian delapan lawan satu segera berkecamuk sementara Pendekar 212 yang terduduk di tanah hanya bisa memperhatikan.
Sebagai Wakil Pimpinan Kelompok Bumi Hitam tentu saja Ki Tawang Alu memiliki kepandaian tinggi. Namun dikeroyok lawan begitu banyak yang rata-rata memiliki kepandaian hanya satu atau dua tingkat saja dibawahnya, apalagi dia dalam keadaan luka dan cuma punya satu tangan, setelah bertempur empat jurus si kakek muka putih segera terdesak hebat.
Mentari Pagi dan kawan-kawannya sebanarnya tidak bermaksud menurunkan tangan jahat terhadap Ki Tawang Alu yang bagaimanapun tetap mereka hormati sebagai pimpinan mereka. Karenanya mereka hanya berusaha merobek pakaian si kakek di beberapa bagian tertentu. Mengira dirinya hendak di telanjangi orang Ki Tawang Alu jadi naik pitam dan mengamuk. Tapi gerakannya yang sembrawutan membuat keadaannya malah tambah terdesak.
"Breeetttt!"
Tangan kanan Mentari Pagi yang berubah bentuk seperti kaki srigala berhasil merobek pakaian Ki Tawang Alu di pinggang kiri. Sebuah kantong kain yang tergantung di balik pakaiannya ikut robek dan terpental ke udara. Dari robekan kantong melesat keluar sebuah benda putih perak. Ki Tawang Alu cepat melompat, berusaha menjangkau benda itu. Namun satu sambaran angin dengan keras melabrak tubuhnya hingga dia terpental dan jatuh terbanting di tanah. Ternyata dalam keadaan luka di dalam yang cukup parah Pendekar 212 Wiro Sableng masih mampu lancarkan pukulan Kunyuk Melempar Buah. Untuk sesaat si kakek terhenyak tak berkutik di tanah. Dari mulutnya meleleh darah kental!
Benda yang melesat ke udara jatuh ke bawah. Sebelum menyentuh tanah Wiro cepat ulurkan tangan kanannya menyambuti benda itu, yang ternyata adalah kalung kepala srigala terbuat dari perak putih. Begitu kalung berada dalam genggamannya satu hawa aneh mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Rasa sakit di dadanya agak berkurang walau sekujur badannya masih teras lemas.
Mentari Pagi, Rembulan dan semua gadis yang berada di tempat itu cepat mendatangi Wiro. Mereka memperhatikan tangan kanan si pemuda yang menggenggam. Perlahan-lahan murid Sinto Gendeng buka genggaman tangannya. Terlihatlah kalung kepala srigala putih bermata merah. Wiro angkat tangannya ke arah Mentari Pagi.
"Ambillah! Aku yakin ini kalung asli. Aku merasakan ada hawa aneh masuk ke tubuhku begitu benda ini berada dalam genggamanku…" kata Pendekar 212 pula.
***
EMPAT
SANTET SERATUS TAHUN
REMBULAN dan tiga orang gadis anggota kelompok yang menamakan diri Kelompok Bumi Hitam membawa murid Sinto Gendeng ke dalam sebuah kamar. Kamar ini bersebelahan dengan kamar besar di mana Pelangi Indah, pimpinan Kelompok Bumi Hitam berada. Wiro di baringkan di atas sebuah ranjang kayu. Seseorang masuk membawa sebuah pelita kecil. Empat Gadis membuka kerudung hitam masing-masing hingga Wiro dapat melihat wajah mereka yang cantik-cantik.
"Kalian hendak melakukan apa?" tanya Pendekar 212. Matanya menatap ke arah Rembulan.
"Kau dalam keadaan terluka parah. Kakek muka putih itu telah memukul dadamu di arah jantung dengan pukulan Seribu Kati. Jika tidak diobati nyawamu mungkin tidak tertolong. Tapi saat ini ada hal lain yang harus kami dahulukan. Yaitu menolong Pelangi Indah pimpinan kami. Kami akan kembali kesini. Kalau kami kembali harap kau sudah membuka bajumu! Harap kau berbaring dan jangan banyak bergerak. Jangan sekali-kali turun dari atas ranjang. Apapun yang kelak kau dengar tidak usah mejadi perhatianmu apalagi kau pikirkan."
"Membuka baju? Aku… Hai tunggu!" Wiro berseru.
Rembulan berpaling. "Tetaplah tenang di atas ranjang. Jangan banyak bertanya, jangan bergerak. Kami harus menolong pimpinan kami. Jika dia bisa diselamatkan maka kau juga akan dapat diselamatkan. Tapi jika dia tidak bisa diselamatkan berarti nyawamupun tidak mungkin ditolong!"
Paras Pendekar 212 berubah. "Rembulan tunggu dulu. Ada yang hendak aku tanyakan…" kata Wiro.
Tapi gadis-gadis itu sudah meninggalkan kamar dan menutup pintu. Pendekar 212 memandang seputar kamar. Dia mencium bau wangi setanggi. Tapi di kamar itu tak ada perasaan pertanda bau itu datang dari ruangan lain. "Aneh, bangunan dan juga kamar ini berwarna hitam pekat. Di dinding ada bunga-bunga hiasan terbuat dari kain. Juga berwarna hitam. Tempat apa ini? Siapa gadis-gadis itu sebenarnya? Hal apa yang menimpa diri pimpinan mereka? Lalu kalau mau mengobati mangapa aku harus berbaring begini rupa. Aku di suruh membuka baju! Aneh! Jangan-jangan mereka bukan mau mengobati diriku. Tapi hendak menepati janji yang mereka ucapkan malam itu! Mau menyerahkan diri padaku…."
Selagi Wiro berpikir-pikir sperti itu tiba-tiba dari ruangan sebelah dia mendengar suara orang banyak seperti tengah membaca doa. "Gadis-gadis itu…" desis Wiro. "Mereka menyebut-nyebut nama Gusti Allah, menyebut Tuhan. Berarti mereka memang bukan orang-orang persilatan golongan sesat. Biar kuintip apa yang terjadi di ruangan sebelah."
Mendadak sang pendekar menjadi tercekat. Telinganya menangkap suara sesuatu. "Suara mengereng. Walau halus tapi aku yakin itu suara binatang…."
Perlahan-lahan Wiro turun dari atas ranjang. Tanpa suara dia melangkah mendekati dinding kamar dari balik mana dia mendengar suara orang-orang berdoa. Mula-mula dia hanya menempelkan telinganya kedinding. Lalu memperhatikan dinding itu dengan teliti sambil meraba-raba. "Ini satu keanehan lagi. Dinding ini jelas terbuat dari kayu. Dari papan yang disambung satu dengan lain. Tapi mengapa tidak ada sedikit celahpun? Aku tak bisa mengintip…." Wiro memandang ke arah pintu di sebelah kanan. Dia dekati pintu ini dan pergunakan tangannya untuk membuka. Tidak bisa. Pintu tak dapat terbuka. Dicobanya mencongkel juga tak berhasil. Akhirnya dikeluarkannya Kapak Maut Naga Geni 212. namun baru tangannya meraba senjata mustika itu, di ruang sebelah terdengar suara riuh, diseling suara seperti isak tangis. Lalu ada suara kaki-kaki melangkah. Wiro batalkan niatnya membuka pintu dengan kapak lalu kembali naik ke atas tempat tidur.
***
Di kamar sebelah tempat pimpinan Kelompok Bumi Hitam terbaring dalam tubuh tak bergerak, mata terpejam dan sekujur kulit berwarna hitam keriput. Mentari Pagi masukkan kalung kepala srigala yang asli ke dalam bokor kuningan. Saat itu juga air di dalam bokor mengepulkan asap putih. Hawa sejuk membungkus seluruh ruangan. Pelita besar menyala lebih terang dan bau setanggi di sudut ruangan menebar lebih wangi.
Seperti yang dilakukan sebelumnya, para gadis lalu memanjatkan doa meminta kesembuhan atas diri pimpinan mereka kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Lalu dengan koas halus Mentari Pagi sapukan air di dalam bokor ke seluruh permukaan kulit wajah dan tubuh orang yang terbaring di atas ranjang dalam ujud nenek-nenek. Juga seperti sebelumnya semua gadis itu menunggu dengan perasaan cemas khawatir. Namun perasaan itu serta merta lenyap. Di balik harapan yang muncul menyeruak rasa ngeri melihat apa yang kemudian terjadi, walau mereka telah pernah menyaksikan hal itu sebelumnya sampai dua kali.
Wajah dan sosok tubuh yang di poles dengan air kembang dari dalam bokor kuningan mengeluarkan hawa seperti kabut tipis yang memancarkan tujuh warna pelangi. Kabut ini kemudian bergulung menjadi satu lalu perlahan-lahan bergerak ke arah bokor kuningan. Bokor yang di pegang salah seorang gadis itu tiba-tiba bergerak keras dan memancarkan cahaya terang.
Lalu terjadilah satu hal luar biasa. Dari dalam bokor melayang keluar kalung perak berbentuk kepala srigala bermata merah. Sedikit demi sedikit kalung itu membesar. Sepasang matanya yang merah menyorotkan cahaya merah muda, lalu berubah menjadi merah pekat. Perubahan ukuran kepala srigala itu semakin besar hingga kini mencapai dua kali kepala srigala sungguhan. Sorotan dua sinar merah yang keluar dari mata semakin terang dan angker seperti sambaran nyala api. Tapi sebaliknya sinar itu tidak mengeluarkan hawa panas melainkan sejuk luar biasa.
Kepala srigala julurkan lidahnya beberapa kali lalu bergerak melayang ke tengah ruangan. Setelah berputar-putar sebanyak tujuh kali di atas pembaringan, kepala ini bergerak menukik. Dua sinar merah yang keluar dari matanya menyapu wajah, dada, perut terus ke paha dan samping ke ujung kaki orang yang terbujur di atas ranjang. Hal ini terjadi sampai tujuh kali berturut-turut.
Hal luar biasa kembali terjadi. Sosok wajah dan tubuh yang tadi keriput hitam itu perlahan-lahan membentuk daging yang dilapisi kulit segar berwarna putih. Rambut panjang tergerai yang tadinya berwarna putih kini telah berubah menjadi subur hitam berkilat. Sepasang mata yang sejak tadi terpejam perlahan-lahan terbuka. Dan seulas senyum merekah di bibir yang sebelumnya selalu terkatup. Kini kelihatanlah satu sosok tubuh seorang gadis berambut hitam, berwajah luar biasa cantiknya. Inilah Pelangi Indah, pimpinan Kelompok Bumi Hitam. Wajah dan sosok tubuhnya yang bagus mulus sesuai dengan namanya.
Semua gadis yang ada di sekeliling pembaringan menyerukan rasa syukur, berulang kali menyebut nama Tuhan bahkan ada yang setengah berlutut dan keluarkan isak tangis.
Di udara dalam ruangan, kepala srigala raksasa perlahan-lahan menyusut menjadi kecil kembali hingga akhirnya kembali ke bentuknya semula berupa kalung perak. Kalung kepala srigala ini kemudian melayang tujuh kali lalu masuk kembali ke dalam bokor berisi air kembang melati.
Mentari Pagi cepat ambil kalung di dalam bokor sementara di atas pembaringan sosok Pelangi Indah bergerak bangkit dan duduk. Rembulan cepat menutupi tubuh yang tidak terlindungi itu dengan sehelai jubah tipis berwarna itam. Mentari Pagi mengikatkan sehelai ikat kepala ke kening sang pemimpin. Ikat kepala ini terbuat dari kain sutera hitam yang di bagian tengahnya melekat satu batu permata berwarna hitam tapi memancarkan cahaya seperti pelangi. Dengan sutera barbatu permata itu terikat di keningnya, Pelangi Indah bukan saja tambah cantik jelita tapi juga gagah sekali, penuh wibawa. Mentari Pagi ulurkan tangannya menyerahkan kalung kepala srigala yang terbuat dari perak kepada sang pemimpin. Pelangi Indah ambil benda itu lalu menciumnya penuh takzim, kemudian memasukkannya ke dalam satu kantong di sebelah dalam pakaian sutera hitamnya. Setelah itu dia memandang pada gadis-gadis yang mengelilinginya di seputar ranjang.
"Untuk ke tiga kalinya kalian telah berbuat jasa besar. Menyembuhkan aku dari penyakit yang selama ini kuderita dan tak pernah bisa disembuhkan kalau tidak dengan kalung sakti kepala srigala yang terbuat dari perak murni itu. Beberapa waktu lalu kalung yang juga merupakan lambang kepemimpinan Kelompok Bumi Hitam itu telah lenyap di curi orang. Kalian berhasil mendapatkannya kembali dan menyembuhkan aku dari santet Seratus Tahun yang membuat aku berubah menjadi seorang nenek-nenek buruk mengerikan. Tidak tahu aku bagaimana harus membalas budi jasa kalian…."
Semua gadis yang ada di seputar ranjang jatuhkan diri berlutut. Mentari Pagi mewakili mereka bicara.
"Kami adalah anggota Kelompok Bumi Hitam. Kami adalah anak buahmu dan kau adalah pimpinan kami! Semua apa yang kami lakukan merupakan satu kewajiban. Labih dari itu kami menganggapnya sebagai tugas suci. Jadi kami mohon pimpinan jangan bicara segala budi dan jasa."
Pelangi Indah tersenyum dan pegangi pundak Mentari Pagi. "Ada dua hal yang tidak biasanya kulihat dan kurasakan saat ini. Pertama, aku tidak melihat Ki Tawang Alu, kakek yang menjadi Wakilku. Kedua aku merasa ada tarikan nafas berat seseorang dibalik ruangan sebelah kiri. Dapatkah kalian menerangkan?"
"Pimpinan kami Pelangi Indah," berkata Mentari Pagi. "Sebenarnya kesembuhan itu sangat berkait dengan pertolongan seorang pemuda. Berminggu-minggu kami mencari kalung yang hilang. Ternyata kalung mustika itu ditemukan oleh sipemuda. Dengan sukarela dia menyerahkan kalung itu pada kami. Mengenai Ki Tawang Alu, kakek muka putih itu ternyata memang ular kepala dua, musuh dalam selimut. Rembulan, harap kau menuturkan apa yang telah terjadi…"
Rembulan lalu menceritakan riwayat pengkhianatan Ki Tawang Alu. Pelangi Indah gelengkan kepalanya. Wajahnya tampak merah pertanda marah.
"Aku memang sudah lama menaruh curiga pada manusia satu itu. Kalau saja tidak mengingat pesan Eyang Palopo, sejak dulu dia sudah kuusir dari sini. Tapi sudahlah, buat apa memikirkan si pengkhianat itu. Dia seudah menerima balasan. Menjadi cacat seumur hidup. Tapi kita harus berwaspada. Dia pasti akan mendekam dendam kesumat dan sewaktu-waktu muncul lagi membalaskan sakit hati."
"Kami siap siaga dan selalu waspada menjaga segala kemungkinan," kata Mentari Pagi.
Lalu Pelangi Indah bertanya. "Mengenai pemuda yang telah menolong dan menyerahkan kalung mustika sakti, bahkan sampai mempertaruhkan jiwanya itu, siapakah namanya dan dimana beradanya sekarang?"
"Namanya Wiro Sableng. Konon dia yang berjuluk Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212…." jawab Mentari Pagi.
Terkejutlah Pelangi Indah sampai gadis ini bergerak turun dari atas ranjang dan menatap lekat-lekat pada Mentari Pagi, lalu memandang berkeliling pada anak buahnya.
"Tidak salahkah telingaku mendengar?!"
"Tidak, yang aku ucapkan memang nama itu. Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 dari Gunung Gede," mengulang Mentari Pagi.
Lalu Rembulan menambahkan. "Pemuda itu sekarang ada dikamar sebelah. Dia berada dalam keadaan…."
Belum selesai ucapan Rembulan, Pelangi Indah telah keluar dari pintu ruangan.
***
LIMA
KECUPAN DALAM GELAP
BEGITU mendengar pintu terbuka, murid Eyang Sinto Gendeng segera pejamkan mata, berpura-pura tidak sadarkan diri. Tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Diam-diam dia alirkan hawa sakti dingin hingga sekujur permukaan kulitnya menjadi dingin.
Berdiri di depan tempat tidur, didampingi oleh para anak buahnya, Pelangi Indah pandangi wajah dan sosok Pendekar 212. Dari mulutnya meluncur perlahan kata-kata. "Sepuluh tahun lebih aku menunggu, akhirnya dapat juga aku bertemu muka dengan pendekar ini…."
Dua tangan Pelangi Indah bergerak ke depan lalu breeettt! Dia robek dada pakaian Wiro. Seorang anak buahnya disuruh mengambil pelita dalam ruangan lalu didekatkan ke tepi tempat tidur.
"Pukulan Seribu Kati!" kata Pelangi Indah agak tercekat ketika melihat tanda biru pada bagian dada kiri Wiro yang menggembung bengkak. "Ki Tawang Alu benar-benar berniat jahat hendak membunuhnya dengan pukulan beracun itu…"
"Setahu kami senjata berbentuk kapak yang terselip di pinggang Pendekar 212 adalah senjata yang sangat ampuh melindungi diri dari racun. Juga bisa di pakai untuk menyedot racun. Bagaimana mungkin sekarang dia tidak mampu melakukan sesuatu….?"
Pelangi Indah menjawab. "Setiap senjata mustika sakti bukanlah segala-galanya. Apa kau tidak pernah mendengar ujar-ujar bahwa di atas langit masih ada langit lagi? Keadaannya cukup parah. Kalau tidak lekas di tangani nyawanya tak bakal tertolong…"
Mentari Pagi ulurkan tangan memegang lengan Wiro. "Dingin…. Aliran darahnya mungkin sudah mulai menyendat…."
Pelangi Indah cabut Kapak Naga Geni 212 dari pinggang Wiro lalu menyerahkannya pada Rembulan. Ketika dia memeriksa lagi bagian lain dari pinggang murid Sinto Gendeng itu dan menemukan batu hitam pasangan Kapak Maut Naga Geni 212 terkejutlah pimpinan Kelompok Bumi Hitam ini. Tubuhnya bergetar dan perlahan-lahan dia jatuhkan diri, membungkuk dengan satu lutut bersitekan ke lantai kayu. Tentu saja hal ini membuat heran semua gadis yang ada di situ. Dia adalah pimpinan tertinggi dalam Kelompok Bumi Hitam. Sementara Wiro walaupun punya nama besar di rimba persilatan tetapi adalah orang luar. Mengapa kini pimpinan mereka jatuhkan diri berlutut sambil pegang batu hitam dan menekapkannya ke dada?
"Eyang Palopo…" suara Pelangi Indah bergetar perlahan. "Batu mustika sakti yang kau katakan itu telah kutemukan. Hanya sayang sudah menjadi milik orang lain. Aku tidak dapat mengikuti pesanmu. Aku tidak mau mengambil benda yang bukan milikku walau menurutmu asal usul batu ini adalah milik nenek moyang kita…."
Pelangi Indah cium batu hitam itu dengan khidmat lalu diserahkannya pada Mentari Pagi. "Rembulan dan Mentari Pagi, jaga baik-baik dua senjata sakti milik pemuda ini. Kembalikan padanya jika dia sudah sembuh kelak. Sekarang kalian semua keluarlah dari kamar ini. Aku akan mengobatinya. Semoga Tuhan menolong diriku dan dirinya…."
"Pimpinan kami Pelangi Indah, jika kau tidak berkeberatan, aku sanggup membebaskannya dari racun Pukulan Seribu Kati." berkata Mentari Pagi.
"Dia telah menyelamatkan diriku dengan menyerahkan kalung kepala srigala. Kini giliranku untuk meyelamatkan jiwanya," jawab Pelangi Indah pula.
Mendengar ucapan sang Pemimpin walaupun diam-diam merasa kecewa Mentari Pagi, Rembulan dan yang lain-lain sama membungkuk lalu tinggalkan kamar itu. Setelah hanya tinggal berdua, Pelangi Indah sentuh kening Wiro dengan telapak tangan kirinya. Terasa dingin. Dia tersenyum lalu berkata.
"Pendekar dari Gunung Gede, aku kagum dengan kekuatanmu, mampu bertahan terhadap pukulan beracun pukulan Seribu Kati. Orang lain mungkin sudah menemui ajal. Tapi bagaimanapun juga racun dalam tubuhmu harus dikeluarkan. Hanya satu hal yang aku heran. Mengapa kau berpura-pura pingsan dan alirkan hawa dingin ke permukaan kulitmu? Aku mendengar selain berkepandaian tinggi kau adalah seorang pemuda konyol yang suka menggoda orang. Mungkin hal itu benar adanya…."
Menyadari orang sudah mengetahui perbuatannya berpura-pura, sambil menahan tawa murid Sinto Gendeng segera buka matanya. Begitu dia melihat wajah di atasnya langsung saja dia terkesima. Dia telah menyaksikan kecantikan wajah Mentari Pagi yang anggun penuh wibawa. Dia juga telah melihat kejelitaan paras Rembulan yang sulit di cari bandingnya. Namun ternyata wajah gadis bernama Pelangi Indah yang jadi pimpinan Kelompok Bumi Hitam itu melebihi kedua gadis itu. Selain cantik dan berkulit putih mulus, dengan ikatan kain sutera hitam di kepalanya Pelangi Indah benar-benar tampak gagah. Selain itu dia juga memiliki sepasang mata yang tajam tapi bisa berubah lembut dan jika memandang seolah menyentuh sampai ke lubuk hati.
"Pimpinan Kelompok Bumi Hitam…."
"Kau boleh memanggil namaku…."
"Hemmm…. Pelangi Indah, jangan menduga salah. Aku tidak tahu apa yang hendak dilakukan orang-orangmu terhadapku. Ternyata kini aku mendapat kehormatan besar. Kau sendiri yang hendak menolongku. Sejak satu hari ini dadaku sakit bukan kepalang dan darah masih mengalir dari mulutku. Belum pernah aku mengalami cidera seperti ini. Apa benar keadaanku gawat….?"
"Memang gawat. Aku berusaha mengobati. Kau harap berdoa memohon pertolongan Tuhan…." kata Pelangi Indah lalu keluarkan kalung kepala srigala perak dari balik pakaiannya. Saat itulah Wiro menyadari betapa tipisnya jubah hitam yang dikenakan si gadis hingga walau cahaya pelita dalam kamar tidak terlalu terang namun dia dapat melihat jelas lekuk-lekuk tubuh Pelangi Indah mulai dari dada sampai ke pinggang.
"Aku mau kencing…." kata Pendekar 212 tiba-tiba.
"Jangan berbuat macam-macam. Terlalu banyak kau bergerak racun dalam tubuhmu akan menyebar kemana-mana…."
"Aku tidak bergurau. Tapi biar sekali ini aku mengikuti ucapanmu. Akan kucoba menahan kencing!" kata Wiro sambil menyeringai dan hendak menggaruk kepala. Tapi lengannya cepat ditahan oleh Pelangi Indah. Kalung kepala srigala yang di keluarkannya dari balik pakaian diletakkannya di dada kiri Pendekar 212, tepat pada bagian yang bengkak membiru akibat jotosan Seribu Kati. Satu hawa sejuk masuk menembus permukaan kulit Wiro.
"Kau sudah siap….?" Pelangi Indah bertanya.
"Aku… ya aku siap," jawab Wior walau dia tidak tahu apa yang akan dilakukan si gadis.
Pelangi Indah menatap ke arah pelita di sudut ruangan. Perlahan-lahan nyala api pelita menjadi kecil meredup tapi tidak sampai padam. Ruangan yang tidak seberapa besar itu menjadi temaram. Si gadis dekap pipi Pendekar 212 dengan ke dua tangannya. Kepalanya lalu di turunkan mendekati wajah sang Pendekar. Lalu tiba-tiba saja bibirnya sudah menyentuh bibir Wiro. Wiro merasakan satu kecupan sangat keras hingga bukan saja lidahnya tertarik keluar tapi isi perutnya juga seolah tersedot. Dari dadanya yang cidera dan dari perut keluar suara seperti air menggelegak. Suara aneh ini berpindah ke tenggorokannya lalu dia merasa ada cairan banyak sekali memenuhi mulutnya. Pelangi Indah menyedot. Cairan di dalam mulut Wiro berpindah ke mulutnya. Lalu dia menyemburkan cairan dalam mulutnya itu ke dinding. Dinding yang tadinya hitam berubah menjadi biru pekat. Pelangi indah seka mulutnya yang basah. Bengkak membiru di dada kiri Wiro serta merta lenyap. Rasa sakit hilang dan kekuatannya pulih kembali.
"Racun jahat…." ujar Wiro seraya memperhatikan cairan biru yang menutupi dinding.
"Kau selamat…" bisik Pelangi Indah.
Wiro berpaling. Dilihatnya gadis cantik itu tegak berpegangan ke tepi ranjang. Tubuhnya mandi keringat. Wjahnya kemerahan. Dia tertegak limbung. Wiro cepat memegang pinggang gadis itu agar tidak jatuh. Untuk menyedot racun pukulan yang ada dalam tubuh Wiro, si gadis telah mengerahkan tenaga luar dan dalam habis-habisan. Itu sebabnya tubuhnya mandi keringat dan menjadi lemah. Dalam keadaan terkulai letih tubuh si gadis jatuh di atas dada Pendekar 212. Kening mereka saling bertindihan.
"Pendekar 212, sepuluh tahun aku menunggu kedatanganmu. Kau muncul membawa keselamatan bagi diriku! Kau datang membawa batu hitam mustika sakti pelambang kepada siapa aku harus tunduk dan menyerahkan diri. Wiro, kau tidak boleh meningglkan tempat ini untuk selama-lamanya…"
Tentu saja Wiro terkejut mendengar ucapan si gadis. "Aku berhutang nyawa padanya. Kalau dia sampai memaksa urusan bisa jadi tidak karuan…" ujar Wiro dalam hati. Lalu dia berkata.
"Pelangi Indah, kau telah menyelamatkan jiwaku. Aku mengucapkan terima kasih. Tapi aku tidak mengerti arti….."
Wiro tidak dapat melanjutkan ucapannya. Karena bibir si gadis telah menempel di bibirnya. Kembali dia merasakan satu kecupan keras.
"Astaga, apakah ini masih merupakan kecupan untuk mengobati diriku atau kecupan lain…." kata Wiro dalam hati. Tangan kanannya menggaruk kepala. Namun kemudian perlahan-lahan tangan itu bergerak merangkul tubuh lembut Pelangi Indah. Dalam keadaan seperti itu Pendekar 212 ingat akan niatnya untuk medapatkan ilmu kesaktian yang bernama Sepasang Sinar Inti Roh. Dia harus menunggu 49 tahun karena Sinto Gendeng menganggap dirinya belum mampu menerima ilmu kesaktian itu mengingat dia merupakan seorang pemuda yang masih suka pada wajah cantik dan tubuh mulus. Dalam hati Wiro membatin. "Nenek itu benar. Dalam keadaan seperti ini bagaimana mungkin aku menolak. Siapa mau menyia-nyiakan kesempatan! Walah! Biar tidak aku pikirkan dulu ilmu itu! Kalau memang aku harus menunggu sekian lama apa boleh buat! Benar juga kata orang. Sehabis sengsara biasanya datang bahagia tak terduga."
"Wiro, apakah kau masih kepingin kencing?" tiba-tiba Pelangi Indah berbisik.
"Hemm…. Apa? Tadi aku cuma bergurau. Jangan khawatir, aku tidak bakalan ngompol di celana!" Wiro menyeringai lalu tertawa tertahan-tahan.
Pelangi Indah sendiri tak kuasa menahan tawanya. Untung saja Wiro cepat merangkul tubuhnya hingga suara tawanya tenggelam di atas dada bidang sang pendekar.
***
TAMAT
Serial Selanjutnya:
LihatTutupKomentar