Pendekar Buta Jilid 03


Perumahan itu ternyata luas sekali, terdiri dari sembilan buah bangunan gedung besar dan tinggi bertingkat. Dari jauh saja sudah kelihatan catnya yang beraneka warna. Dan hebatnya, perumahan itu dikelilingi oleh air sehingga merupakan pulau kecil di tengah danau yang besar dan luas.

Memang demikian halnya. Tadinya, di dalam hutan itu terdapat sebuah danau besar dan di tengah danau terdapat pulaunya. Sudah hampir tiga puluh tahun yang lalu danau itu dijadikan perumahan. Memang janggal kelihatannya di tempat sunyi itu, jauh dari kota, terdapat rumah-rumah gedung di tengah danau.

Penduduk dusun-dusun yang paling dekat terletak dua puluh li dari danau itu, mengenal tempat itu dengan nama Ching-coa-ouw (Danau Ular Hijau) dan pulau itu pun disebut Ching-coa-to (Pulau Ular Hijau). Mereka ini tidak tahu betul siapa penghuni perumahan mentereng itu, hanya tahu betul bahwa majikan daerah Ular Hijau ini mempunyai banyak pelayan yang galak-galak, aneh-aneh, dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi sehingga sekitar sepuluh li di sekeliling danau itu yang disebut ‘Daerah Ular Hijau’ seakan-akan berada di bawah kekuasaan majikan Ular Hijau.

Orang mencari kayu kering sekali pun tak akan berani mencari nafkahnya dalam daerah Ular Hijau! Memang terdapat sebuah jalan besar yang cukup rata menuju ke danau itu dan jalan ini merupakan jalan umum, akan tetapi setibanya di danau kecil itu, mereka akan mendapatkan jalan buntu.

Para pedagang sayur-sayuran serta kebutuhan sehari-hari lainnya banyak mendapatkan untung kalau menjual dagangan mereka di tempat itu. Akan tetapi tak ada seorang pun di antara mereka pernah berurusan sendiri dengan majikan Ular Hijau karena segala urusan tentu dibereskan oleh para pelayan. Para pelayan inilah yang kemudian menyeberang ke pulau dengan perahu-perahu yang memang banyak dimiliki oleh majikan Ular Hijau.

Ada desas-desus di antara penduduk dusun di sekitarnya, desas-desus yang merupakan dongeng bahwa majikan Ular Hijau bukanlah manusia biasa, melainkan seorang dewi dan seorang puteri yang secantik bidadari dan yang pandai ‘berlari di atas air’ dan pandai ‘terbang’! Sudah tentu saja hal ini merupakan dongeng dari mulut ke mulut karena kalau ditanya sungguh-sungguh, tak ada seorang pun yang pernah menyaksikan dengan mata sendiri.

"Hong-ko, keadaan mereka benar-benar aneh," di tengah jalan Loan Ki bercerita sambil menuntun Kun Hong. "Aku mendengar dari orang-orang dusun bahwa daerah Ching-coa itu merupakan daerah terlarang. Entah orang-orang macam apa yang menguasai daerah ini. Dari jauh kulihat rumah-rumah gedung di atas pulau kecil di tengah danau, sunyinya bukan main."
"Kalau begitu, bagaimana kau dapat pergi ke gedung itu?"
"Aku tidak pergi ke sana. Tadinya aku hendak mencari makanan, siapa kira tempat ini sepi sekali, tak kulihat sebuah dusun. Akhirnya aku bertemu dengan pedagang sayur yang hendak mengantarkan sayuran kepada Ching-coa-to, maka aku ikut dengan dia. Sampai di pinggir telaga, pedagang itu berurusan dengan pelayan tempat itu. Kebetulan sekali datang gerobak yang membawa masakan-masakan lezat itu, juga arak. Aku minta beli, tapi malah dimaki-maki. Aku hilang sabar, lalu menotok roboh empat orang pelayan dan merampas makanan dan arak.”

"Kau memang nakal."
"Kalau perut lapar orang jadi nekat, Hong-ko. Keadaan mereka benar-benar aneh dan mencurigakan. Kita tak mungkin dapat secara berterang mengunjungi mereka."
"Habis bagaimana?"
"Aku ada akal. Kulihat tadi ada sekumpulan perahu bercat hijau diikat di pinggir telaga. Kurasa perahu-perahu itu pun milik majikan Ching-coa-to. Kita pergunakan saja perahu itu, kita menyeberang dan melihat keadaan di sana."
"Sesukamulah, asal kau jangan menimbulkan onar," jawab Kun Hong yang juga mulai tertarik oleh penuturan tentang keadaan penuh rahasia itu.

Betul saja seperti diceritakan oleh Loan Ki tadi, jalan itu sunyi sekali dan sampai mereka tiba di pinggir telaga, keadaan tetap sunyi tak tampak seorang pun manusia. Dari tempat itu kelihatan tembok perumahan di atas pulau, tetapi juga tidak kelihatan ada manusia di sekitar telaga.

Hari sudah menjelang senja, matahari yang kemerahan membayangkan cahayanya di atas air telaga yang berkeriput seperti sutera biru kemerahan. Akan tetapi Loan Ki tidak memperhatikan keindahan alam di senja hari ini, sedangkan Kun Hong yang suka akan keindahan alam tidak dapat melihatnya. Gadis itu sedang mencari-cari dengan matanya dan akhirnya dia menarik Kun Hong ke dalam hutan kecil di sebelah kiri jalan, kemudian menyelinap di antara pohon-pohon.

"Hong-ko, aku melihat ada perahu di pinggir sana. Hayo lekas kita pergunakan perahu itu sebelum pemiliknya datang melihat kita."
"Huh, kau hendak mencuri lagi?"
"Ih, bukan mencuri, hanya pinjam sebentar untuk kita pakai menyeberang. Hatimu benar-benar terlalu suci, Hong-ko!" Loan Ki mengomel dan Kun Hong terpaksa tersenyum.
"Baiklah. Kalau tidak dituruti kehendakmu, aku takut kau menangis."

Loan Ki tertawa dan menarik tangan Kun Hong. Sambil bergandengan tangan mereka lari ke arah perahu kecil yang sedang terapung-apung di pinggir telaga, tersembunyi di antara pepohonan yang tumbuh menjulang ke pinggir telaga.

Perahu itu kecil mungil, bentuknya amat ramping dan ujungnya meruncing, terikat pada sebatang tonggak kayu yang sengaja dipasang di situ. Di dalam perahu terdapat sebatang dayung yang gagangnya terukir indah merupakan gambar ular melingkar pada dayung itu dan terdapat ukiran huruf 'CHING-COA' (ULAR HIJAUf).

"Wah, perahu ini pun milik Ching-coa-to, Hong-ko. Mari naik."

Kun Hong dituntun melangkah dan masuk ke dalam perahu, terus duduk. Dara itu pun masuk setelah melepaskan tali dan mendayung. Perahu kecil meluncur cepat ke tengah telaga.

"Perahu kecil tetapi bagus!" Kun Hong memuji. "Imbangannya tepat, kayunya kuat dan ringan, luncurannya laju. Ditambah tenaga dalammu yang kuat, ahh... terasa nikmat betul berperahu seperti ini. Hemmm... sayang tidak ada arak..."

Loan Ki tertawa. "Dasar pelamun dan pemalas. Sungguh tak pantas seorang lelaki duduk enak-enak membiarkan seorang wanita mendayung perahu."

"Eh, mana dayungnya. Tapi aku tidak tanggung perahu ini akan meluncur ke mana. Kalau kembali ke daratan sana jangan salahkan aku yang tak bermata!"
"Tidak usah, Hong-ko. Aku hanya berkelakar, masa sungguh-sungguh? Apa sih sukarnya berdayung begini, aku memang ahli dayung, semenjak kecil sudah biasa aku berlayar, malah di samudera besar bersama ayah."

Memang hawa di tengah telaga nyaman sekali. Angin bertiup perlahan-lahan membawa keharuman aneka macam bunga yang tumbuh di tepi telaga dan di pulau, hawanya sejuk dan sunyi. Suara air terkena dayung berirama amat menyedapkan pendengaran.

Suasana ini menimbulkan kegembiraan di dalam hati Kun Hong, dan otomatis pikirannya merangkai sebuah sajak yang segera dia senandungkan perlahan mempergunakan suara dayung menimpa air sebagai irama pengiring nyanyian.

Biduk kecil meluncur laju
menentang hembusan angin lalu
membawa harum seribu kembang
tambah nyaman ayunan gelombang
membikin si buta ingin bertembang
wahai kasih aku di sini!

Tiba-tiba suara dayung menimpa air terhenti, biduk berhenti melaju dan Loan Ki bertanya kaku, "Yang mana kasihmu itu, Hong-ko? Kau terkenang kepada si janda muda?"

Kun Hong tertawa. "Jangan membawa-bawa janda itu ke sini, semoga ia sudah berjumpa dengan pamannya dan hidup berbahagia bersama anaknya. Dunianya dan duniaku jauh berpisahan, Ki-moi."

Agaknya senang hati gadis itu mendengar jawaban ini, buktinya dia tidak lagi bertanya tentang kekasih Kun Hong, sebaliknya malah terdengar ia memuji.

"Kau pandai benar bersajak dan bertembang, Hong-ko. Kata-katamu muluk, lagunya pun sedap didengar, dan suaramu empuk benar."

Kun Hong tertawa lepas. "Kau lebih pandai lagi memuji orang, sebentar lagi bisa-bisa aku membubung tinggi ke awang-awang karena pujianmu. Heee, Ki-moi, sudah lama sekali perahu melaju, kenapa belum juga sampai di pulau? Kalau pulau itu tadi dapat kau lihat dari darat tentu tidak sejauh ini!"

"Aku sengaja memutar, Hong-ko. Masa aku begitu bodoh mendarat di pulau itu dari arah depan? Ingat, kunjungan kita ini bukan kunjungan terundang. Aku akan mengitari pulau, mencari tempat yang tepat untuk mendarat sehingga mereka yang di pulau tidak melihat kedatangan kita."

Kun Hong mengerutkan keningnya, "Sebetulnya aku tak suka bila mengunjungi tempat orang dengan sembunyi seperti pencuri saja. Adik Loan Ki, apakah tidak lebih baik kalau kita secara berterang mengunjungi mereka untuk menyatakan penyesalan dan permintaan maaf kita? Mungkin majikan pulau itu akan menghabiskan urusan kecil itu dan bersikap manis."

"Hemm, agaknya kau telah membayangkan siocia cantik jelita dan manis menyambutmu dengan senyum di bibir dan bintang di manik mata, ya? Dasar kau ini..."
"Bukan begitu, Ki-moi. Tapi kan lebih baik menjadi tamu terhormat dari pada tamu tak diundang?"
"Apa kau lupa bahwa kita sudah memakai perahu mereka tanpa ijin? Mana ada orang datang minta maaf dengan jalan mencuri perahu pula? Jangan-jangan begitu berjumpa kita akan dicaci maki. Tidak, aku tidak ingin bertemu dengan mereka, baik toanio atau siocia itu, baik si iblis betina tua mau pun si iblis betina muda. Aku hanya ingin sekali menyaksikan betapa lucunya koki dan jagal tadi menerima hukuman mereka, hi-hi-hik!"
"Kau memang nakal, Ki-moi... heeeiii, bukan main harumnya...!"

Loan Ki tiba-tiba memegang lengan Kun Hong, kemudian terdengar gadis ini berseru lirih, "Aduuhhh, hebat...! Bukan main...! Majikan pulau ini benar-benar telah menjadikan pulau ini sebagai taman surga...!"
"Ada apa, Ki-moi? Kau melihat apa?" Penuh gairah Kun Hong bertanya, kepalanya agak dimiringkan, hidungnya kembang kempis, kerut-merut antara kedua matanya yang buta. Telinga serta hidung, dua alat pengganti mata untuk mengetahui apakah sebenarnya di depan sana, sekarang dikerahkan.
"Taman yang amat indah, penuh kembang beraneka warna, menara-menara merah dan kuning, patung ukir-ukiran di sana-sini, kolam-kolam dengan air berwarna, buah-buahan tergantung rendah... ah, entah apa lagi di sana, sudah agak gelap, Hong-ko... wah, kulihat banyak kijang, ada kelinci... monyet-monyet di pohon... burung-burung beterbangan, juga merak... aduh indahnya..."

Wajah Kun Hong berseri gembira, kerut-merut di antara matanya tampak semakin jelas, senyumnya membayangkan kepahitan.

Agaknya Loan Ki menoleh dan menatap wajahnya. Gadis ini kembali memegang lengan Kun Hong dan kini suaranya telah kehilangan kegembiraan. "Ah, sebetulnya hanya taman biasa, Hong-ko. Masih tidak menang dengan taman ayahku. Tetapi, merupakan tempat pendaratan yang baik bagi kita."

Loan Ki mendayung perahunya ke pinggir. Tiba-tiba ia berseru kaget dan perahu berhenti melaju.

"Ada apa, Ki-moi?"

Dara itu menyumpah perlahan. "Gila benar! Banyak sekali teratai liar di sini, sambung-menyambung dan tebal. Perahu kita tak dapat lewat, celaka. Biar kucari jalan dari sana. Sebelah sana itu agaknya kelihatan bersih dari gangguan tanaman-tanaman ini."

Ia mendayung kembali perahunya mundur untuk melepaskan diri dari taman teratai di air ini. Agak lama ia mendayung mencari air bersih untuk meminggirkan perahunya. Akhirnya dapat juga ia minggir.

"Kita mendarat, Hong-ko."

Gadis itu memegang ujung tambang, lalu menggandeng tangan Kun Hong. Keduanya melompat ke darat dan Loan Ki mengikatkan tambang kepada sebatang pohon di pinggir telaga.

"Lho, di mana kita ini...?" Tiba-tiba dia mengeluh. Suaranya terdengar begitu kaget dan heran sehingga Kun Hong cepat memegang tangannya.
"Ada apa lagi, Ki-moi?"
"Aneh, Hong-ko. Benar-benar aku bingung dan tak mengerti. Ke mana lenyapnya taman surga tadi? Baru saja masih ada, aku tahu betul, malah perahu kudaratkan di pinggir taman, tampak jelas dari perahu tadi. Tapi setelah kita mendarat, kenapa kita di tempat yang buruk, liar merupakan hutan gelap begini?"
"Barang kali hutan ini merupakan bagian dari pada taman tadi, Ki-moi. Mari kita cari ke depan. Anehnya, ganda harum tadi juga lenyap dan sekarang... hemmm, baunya amat tidak enak, Ki-moi."
"Benar, Hong-ko. Aku pun merasa muak dan ingin muntah. Bau apa sih ini?" Pegangan tangan Kun Hong pada lengan gadis itu tiba-tiba menjadi lebih erat.
"Ki-moi, mari kita kembali saja. Kalau aku tidak salah duga, ini bau... amisnya ular-ular beracun! Agaknya pulau ini banyak rahasianya dan merupakan tempat amat berbahaya bagi seorang luar."
"Tidak, Hong-ko. Aku tidak takut! Aku malah makin ingin sekali menyelidiki tempat aneh ini berikut penghuni-penghuninya. Hayo kita maju, Hong-ko."

Dengan berhati-hati kedua orang muda itu berjalan maju. Belum ada sepuluh langkah mereka memasuki hutan liar itu, tiba-tiba Kun Hong menggerakkan tongkatnya ke kiri, cepat seperti kilat menyambar.

Loan Ki amat kaget dan menengok ke kiri dan... ia menahan jeritnya melihat seekor ular sebesar lengan tangan telah hancur kepalanya, berkelojotan dan menggeliat-geliat di atas tanah. Ular itu kulitnya berwarna hijau mengkilap, seluruh tubuhnya mengeluarkan lendir berminyak ketika dia berkelojotan itu. Bau amis makin memuakkan.

Dalam kengeriannya, Loan Ki diam-diam makin kagum dan heran sekali pada pemuda buta ini. Bagaimana seorang buta malah dapat lebih ‘awas’ dari pada dia yang selain berkepandaian tinggi, juga memiliki sepasang mata yang tajam?

"Ki-moi, daerah ini berbahaya sekali. Apakah warna kulit ular itu?"
"Hijau..." jawab Loan Ki, suaranya masih gemetar sedikit karena tegang. Dia maklum betapa berbahayanya ular itu, ular berbisa yang amat jahat.
"Hemm, ching-coa (ular hijau)... agaknya penghuni asli pulau ini... Ki-moi, kau keluarkan pedangmu, bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Aku khawatir kalau-kalau kita dikurung musuh."

Mendadak dari arah belakang mereka terdengar suara yang sayup sampai dibawa angin, "Haaiiiii! Anak-anak nakal, jangan tergesa-gesa mendarat...!"

Kun Hong dan Loan Ki terkejut, cepat membalikkan tubuh. Kun Hong memasang telinga memperhatikan tapi tidak mendengar suara apa-apa.

"Apa yang kau lihat, Ki-moi? Siapa yang datang dari telaga?" bisiknya.

Loan Ki membelalakkan mata memandang. Cuaca sudah mulai gelap, akan tetapi ia bisa melihat datangnya sebuah perahu besar berlayar kuning dengan cepat menuju pantai. Ia kaget sekali dan mengira bahwa suara tadi ditujukan kepada mereka. Mungkinkah dari jarak yang begitu jauh orang di dalam perahu itu mampu melihat mereka? Ia menarik tangan Kun Hong, diajak menyelinap bersembunyi di balik rumpun pohon kembang.

"Ki-moi, apakah ada perahu datang?"

Sekali lagi Loan Ki heran dan kagum. Jalan pikiran Kun Hong benar-benar tajam dan cerdik walau pun pemuda ini tidak dapat melihat lagi. Memang sesungguhnya Kun Hong cerdik. Kalau ada orang atau apa saja berada di darat di sekitar tempat itu yang terlihat oleh Loan Ki, tentu akan dapat ditangkap oleh telinga atau hidungnya. Terang bahwa Loan Ki melihat sesuatu, dan karena tidak mendengar apa-apa, maka dapat dia menduga bahwa suara orang tadi tentulah datang dari perahu.

"Perahu besar...," kata Loan Ki, "berlayar kuning... ada lima orang lelaki berpakaian hijau di atas perahu, memegang tongkat... eh, seperti suling. Perahu sudah minggir, Hong-ko... kulihat benda-benda panjang kecil meloncat ke air, ke darat, seperti ranting-ranting kayu panjang... heiii, benda-benda itu bergerak... ohh, Hong-ko. Ular! Ular-ular besar dan kecil, banyak sekali, puluhan... ahhh, ratusan mungkin juga ribuan. Dan lima orang itu berjalan di belakang mereka. Apa itu...? Ahh, mereka... mereka agaknya menggembala ular-ular itu!"

Kun Hong miringkan kepala, hidungnya mengembang-kempis. "Ki-moi, kau lihat baik-baik. Apakah di antara mereka terdapat seorang tua bongkok yang bercacat, telinga kiri dan lengan kiri buntung, mata kiri buta, dan mulutnya lebar seperti robek?"

"Tidak ada, Hong-ko. Tapi... tapi ular-ular itu menuju ke sini, Hong-ko. Celaka, mari kita lari menjauhi mereka!" Loan Ki memegang tangan kiri Kun Hong dan menariknya lari dari situ, memasuki hutan. Tangan gadis itu agak dingin, tanda bahwa ia merasa ngeri sekali.

Siapa tidak akan merasa ngeri kalau melihat ular-ular yang sangat banyak itu bergerak-gerak maju seperti mengejar, dengan baunya yang amis bukan main? Apa lagi tak lama kemudian terdengar seorang di antara lima ‘penggembala ular’ itu berteriak keras.

"Heeiii, seekor peliharaan kita mati dengan kepala hancur di sini! Wah, ini tentu perbuatan orang. Hayo kita cari!"
"Jangan-jangan perahu kecil tadi yang membawa orang asing datang ke sini," kata suara lain.
"Ular ini baru saja bertemu musuh, tubuhnya masih berkelojotan. Tentu pembunuhnya belum pergi jauh. Hayo kejar, pergunakan anak-anak kita!" kata suara pertama bernada memimpin. Lalu terdengar suara suling yang ditiup secara aneh sekali.

Mendengar ini, Kun Hong berkata perlahan. "Hemm, kiranya benar ular-ular terpelihara. Jangan-jangan dia di belakang ini semua."

"Dia siapa, Hong-ko?"

Kun Hong memegang lengan gadis itu dan berkata, suaranya sungguh-sungguh, "Ki-moi, kalau benar dugaanku, kita benar-benar sudah berada di tempat yang amat berbahaya. Terang bahwa suling itu bersuara untuk memberi aba-aba kepada ular-ular itu untuk mengejar kita. Heii, awas!"

Tiba-tiba Kun Hong menggerakkan tongkatnya ke kanan dua kali dan ketika Loan Ki menoleh... kiranya ada dua ekor ular sebesar paha sudah putus lehernya. Darahnya menyembur-nyembur dan tubuh ular yang empat lima meter panjangnya itu berkelojotan, saling belit! Dengan hati penuh ketegangan, Loan Ki lalu menarik tangan Kun Hong dan mengajak pemuda itu lari lebih cepat lagi.

"Wah, suara suling itu malah memberi perintah kepada semua ular yang berada di tempat ini," kata Kun Hong. "Hati-hati, Ki-moi!"

Benar saja dugaan Kun Hong, karena beberapa kali mereka diserang ular-ular besar kecil. Loan Ki menggunakan pedangnya membunuh beberapa ekor ular yang rnenghadang di depan, juga Kun Hong selalu menggunakan tongkatnya untuk membunuh ular-ular yang hendak mengganggu. Mereka tidak pernah berhenti, terus berlari ke depan dan akhirnya mereka keluar dari hutan itu.

Jalan mulai memburuk, penuh batu karang dan kiranya di situ terdapat pegunungan batu karang yang sukar dilalui. Karena tidak mengenal jalan kedua orang itu terpaksa maju terus dan sementara itu, cuaca sudah mulai gelap, senja telah lewat terganti datangnya malam.

Suara ular-ular yang mendesis-desis serta para penggembala yang tadi berteriak-teriak sudah tak terdengar lagi. Dua orang itu mendaki gunung kecil.

"Kita harus cepat mencari tempat sembunyi yang aman," kata Loan Ki. "Dengan adanya ular-ular itu, tak mungkin kita bergerak di waktu malam gelap."

Kun Hong menghela napas. Jalan itu benar sukar dan andai kata dia tidak dituntun oleh Loan Ki, tentu akan amat lambat dia dapat maju mencari jalan.

"Siapa kira, karena kau ingin melihat tontonan lucu, akhirnya menjadi tidak lucu. Kita menjadi buronan di pulau orang. Baiknya besok kita segera kembali saja ke daratan sana."
"Hong-ko, bukankah pengalaman kita tadi cukup hebat, menegangkan dan lucu? Mungkin besok kita bertemu dengan pengalaman yang lebih lucu dan hebat lagi, siapa tahu? Sementara ini, kita masih selamat. Nah, itu di depan kulihat banyak lubang-lubang besar di dinding karang, tentu ada gua yang dapat kita pakai tempat bersembunyi."

Mereka mempercepat pendakian yang sukar itu. Baiknya Loan Ki memiliki ginkang yang cukup tinggi sehingga Kun Hong bisa mengikutinya dengan baik, tanpa mengkhawatirkan keadaan temannya itu. Akhirnya mereka pun tiba di dekat dinding karang yang banyak berlubang dan merupakan goa-goa besar, jalannya menjadi rata.

Tiba-tiba terdengar bentakan dari depan, "Siapa berani masuk Ching-coa-to tanpa ijin? Benar-benar sudah bosan hidup!"

Dan muncullah seorang laki-laki pendek yang bersenjata ruyung baja. Tanpa banyak cakap lagi laki-laki itu segera menerjang maju sambil mengerahkan ruyungnya. Loan Ki marah dan dengan pedang di tangan ia memapaki. Ketika ruyung menyambar ke arah kepalanya, gadis itu meliukkan tubuh ke kiri tanpa menunda terjangannya.
Image result for pendekar buta
Sambil miring ke kiri pedangnya menyambar secepat kilat. Orang itu berteriak kaget, akan tetapi masih sempat membuang diri ke kiri sambil membabatkan ruyungnya. Dia terhindar dari bahaya, akan tetapi keringat dingin membasahi dahinya. Tak dia sangka bahwa gadis remaja itu demikian hebat ilmu pedangnya.

Gerakan Loan Ki yang dalam sekali gebrakan saja sudah hampir bisa merobohkan lawan, membuat lawannya ragu-ragu untuk menyerang lagi. Dia lalu bersuit keras dan terdengar suitan-suitan dari beberapa penjuru.

Loan Ki terkejut, maklum bahwa mereka berdua telah terkepung.....
Akan tetapi Kun Hong lebih cepat lagi. Sekali bergerak pemuda buta itu sudah melompat ke arah si pendek.

Dalam keadaan remang-remang itu si pemegang ruyung tak tahu bahwa yang melompati dirinya adalah seorang buta. Dia amat kaget dan menghantamkan ruyungnya, akan tetapi tiba-tiba saja dia jatuh lemas dan ruyungnya terlempar entah ke mana. Tanpa dia ketahui bagaimana caranya, dia sudah roboh tertotok dan lemas tidak mampu bergerak mau pun bersuara lagi!

"Ki-moi, lekas, cari tempat sembunyi...!" kata Kun Hong yang tak menghendaki terjadinya pertempuran di tempat itu. Dia benar-benar merasa tidak enak sekali sudah mengganggu tempat orang dan menimbulkan keonaran.

Loan Ki adalah seorang dara remaja yang tidak pernah mengenal artinya takut setiap kali menghadapi lawan dalam pertempuran, maka sekarang pun meski dia tahu telah dikurung musuh, dia tidak merasa gentar sedikit pun. Akan tetapi karena dia sudah mulai mengenal watak temannya yang buta dan aneh, kini dia maklum pula bahwa Kun Hong tidak suka menghadapi pertempuran dengan orang-orang yang sebetulnya memang tidak memiliki urusan apa-apa dengan mereka berdua.

Maka ia lalu menggandeng tangan Kun Hong, diajak lari kembali menuruni puncak. Akan tetapi tiba-tiba ia bergidik karena terdengar suara mendesis-desis dan dari bawah puncak merayap ular-ular tadi bersama penggembala-penggembalanya yang bersuit-suit. Lawan manusia biasa Loan Ki takkan undur, akan tetapi menghadapi ular-ular itu ia benar-benar merasa jijik dan ngeri.

Ia cepat mengajak Kun Hong naik ke puncak lagi dan sekarang di depan mereka sudah muncul dua orang laki-laki yang memegang golok. Tanpa banyak tanya dua orang laki-laki itu segera menerjang mereka karena baru saja mereka melihat seorang kawan mereka rebah tak bergerak dan mereka kira sudah tewas.

Juga kali ini Kun Hong yang cepat bergerak. Bagaikan seekor burung rajawali sakti dia pun melayang ke arah kedua orang itu. Dua buah golok berkelebat menyambar ke arah tubuhnya, akan tetapi golok-golok itu segera terlempar jauh dan dua orang itu memekik lemah terus roboh tak berkutik!

"Kau hebat, Hong-ko...!" Loan Ki memuji dengan kagum sekali.

Ia sendiri sudah mewarisi Ilmu Silat Sian-li-kun-hoat yang terkenal sangat indah gerakan-gerakannya, akan tetapi menyaksikan gerakan Kun Hong tadi ia sungguh merasa kagum sekali. Akan tetapi yang dipujinya sama sekali tidak mempedulikan, malah membentak,

"Hayo lekas cari tempat sembunyi, Ki-moi!"

Loan Ki kembali menarik tangan Kun Hong dan berlari ke arah dinding batu karang. Dari sebelah kanan dan kiri terdengar bentakan-bentakan orang, juga dari belakang. Gadis itu melihat banyak lubang-lubang pada dinding itu, lalu menarik Kun Hong masuk ke dalam sebuah lubang yang cukup besar untuk dimasuki orang sambil merangkak.

Karena didorong oleh Loan Ki, Kun Hong masuk lebih dahulu, merangkak seperti seekor tikus memasuki lubangnya, kemudian disusul oleh Loan Ki. Lubang itu kurang lebih lima meter dalamnya, terus masuk ke dalam, kemudian menukik ke bawah. Kun Hong berhenti merangkak ketika tangan dan kakinya meraba lubang yang menukik ke bawah.

"Terus, Hong-ko... terus. Mereka juga sudah sampai ke sini...," bisik Loan Ki di belakang pemuda buta itu.
"Tak dapat terus, lubangnya menukik ke bawah...," jawab Kun Hong.
"...kau mepetlah, Hong-ko, biarkan aku lewat dan memeriksa di depan..."

Karena merasa bahwa dia adalah seorang buta, dia lupa bahwa di dalam keadaan gelap pekat seperti itu sebetulnya dia tidak lebih buta dari pada Loan Ki sendiri. Kun Hong lalu berbaring mepet untuk memberi jalan kepada gadis itu yang hendak melewatinya.

Lubang itu tidak besar. Oleh karena itu, ketika Loan Ki merayap melewatinya, dua orang itu berhimpitan di dalam lubang. Kun Hong merasa tak enak sekali, jengah dan berdebar hatinya. Baiknya mereka berdua adalah orang-orang yang sudah mempunyai kepandaian tinggi sehingga dengan Ilmu Sia-kut-kang (ilmu Melemaskan Tulang) mereka pun berhasil bersimpang di lubang yang sempit itu.

Loan Ki agaknya juga merasakan apa yang dirasai oleh Kun Hong, buktinya gadis yang biasanya jenaka gembira itu kali ini tidak membuka suara kecuali "ah-uh" seperti orang kepanasan. Dengan hati-hati gadis itu merangkak ke depan sampai tiba di tempat yang menukik ke bawah.

"Agak lebar di bawah, Hong-ko. Seperti sumur..."
"Memang, karena kita tidak tahu bagaimana dasarnya, tak mungkin turun ke bawah..."

Pada saat itu dari luar lubang terdengar suara mendesis-desis, lalu disusul suara seorang laki-laki yang parau, "Anak-anak, hayo masuk ke kandang, jangan berkeliaran lagi, besok kalian harus membantu mencari dua orang musuh itu."

Disusul lagi suara yang lebih tinggi, "Heran, ke mana larinya dua orang tadi? Mereka itu manusia atau setan? He, Lao Siong, apakah sudah dilaporkan kepada toanio?"

"Tentu sudah." Lalu mereka bercakap-cakap, akan tetapi sambil menjauhi mulut lubang sehingga Kun Hong dan Loan Ki tidak dapat mendengar lagi apa yang mereka bicarakan.

Akan tetapi betapa kaget hati dua orang itu ketika terdengar suara mendesis-desis dari arah belakang disusul bau yang amat amis. Kiranya lubang pada dinding batu itu adalah sarang-sarang ular atau dijadikan ‘kandang’ untuk ular-ular itu!

"Celaka, ular-ular itu justru masuk ke sini...!" Kun Hong yang berada di belakang berkata perlahan. Dia cukup tabah dan tenang, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, tentu saja dia merasa ngeri juga.
"Lekas, Hong-ko, di belakangmu ada batu yang kuseret masuk tadi. Kau pergunakan itu untuk menutup lubang yang paling sempit dan... hei, aduh, waahh... bungkusanku jatuh ke dalam sumur, Hong-ko."

Kun Hong mendengar suara barang berat jatuh. Dengan pendengarannya yang tajam dia mendapat kenyataan yang menggembirakan hatinya. Lubang itu ternyata dasarnya tidak keras, juga tidak begitu dalam. Hal ini tentu saja dapat dia ketahui ketika buntalan pakaian dan mahkota yang dibawa gadis itu terjatuh ke bawah.

Akan tetapi pada saat itu dia sibuk mendorong batu besar untuk menutupi lubang. Tentu saja tidak bisa tertutup rapat, akan tetapi lumayan untuk menahan membanjirnya ular-ular itu ke dalam. Setelah itu dia segera berkata,

"Ki-moi, mari kita masuk saja ke dalam sumur itu. Tempatnya tidak dalam dan dasarnya mungkin tanah yang tidak keras."
"Bagaimana kau bisa tahu?" bisik Loan Ki meragu.
"Buntalanmu tadi melayang ke bawah tidak terlalu lama, juga suaranya ketika menimpa dasar sumur menyatakan bahwa dasar itu tidak keras. Tetapi tunggu, biarkan aku yang melompat masuk lebih dulu. Kau mepetlah!"

Seperti tadi, kedua orang itu kembali berhimpitan untuk dapat bertukar tempat, kini Kun Hong yang di depan dan gadis itu di belakangnya. Akan tetapi karena perasaan mereka terlampau tegang, mereka tidak merasakan lagi kecanggungan seperti tadi.

"Ki-moi, membaliklah ke belakang dan siap dengan pedangmu kalau-kalau ada ular yang menerobos masuk. Aku akan meluncur ke bawah dulu!"

Loan Ki mendengar desir suara perlahan lalu disusul suara Kun Hong dari bawah, "Ki-moi, lekas kau turun. Tidak begitu dalam di sini dan aku akan membantumu, jangan takut!"

Loan Ki merangkak mundur. Saat kakinya menyentuh bibir sumur, hatinya berdebar juga. Siapa orangnya yang takkan merasa ngeri bila harus masuk ke dalam sumur yang begitu gelap? Akan tetapi adanya Kun Hong di dalam sumur itu membesarkan hatinya dan tanpa ragu-ragu lagi ia melorot turun sambil mengerahkan ginkang-nya saat tubuhnya melayang ke bawah.

Dia memegang pedangnya tinggi-tinggi dan kedua kakinya sudah siap untuk menyentuh tanah di dasar sumur. Akan tetapi tiba-tiba ada dua buah lengan yang kuat dan cekatan menerima tubuhnya, kemudian menurunkannya ke atas tanah. Kembali dia kagum akan kehebatan Kun Hong.

"Hong-ko, ternyata sumur ini dalam juga, sedikitnya tiga kali tinggi orang. Bagaimana kita akan dapat keluar dari sini?" Loan Ki dalam gelap meraba ke sana ke mari dan hatinya menjadi kecut ketika mendapat kenyataan bahwa sumur ini pun tidak lebar, hanya cukup untuk mereka berdua berdiri. Tak mungkin meloncat ke luar dari tempat sesempit ini.
"Jangan khawatir, aku akan dapat merayap naik," kata Kun Hong tenang. "Ini buntalanmu, baru kuingat bahwa kau membawa mahkota kuno itu. Ahh, jangan-jangan rusak mahkota itu ketika jatuh."

Loan Ki menerima buntalan itu dan mengikatnya di punggung. Untuk melakukan ini saja beberapa kali tangan serta sikunya menyentuh dada Kun Hong, begitu sempitnya tempat itu. Hawanya juga panas bukan main.

Sumur itu dindingnya adalah batu karang, hanya dasarnya saja tanah lunak. Karena tidak ada hawa, atau kalau ada pun amat sedikit masuk dari lubang yang kini hampir tertutup rapat oleh batu tadi, di situ amat panasnya. Apa lagi hawa yang masuk telah membawa bau amis dari ular-ular yang memenuhi lubang di sebelah luar, maka pernapasan mereka sesak dan sebentar saja Loan Ki menjadi pusing.

Makin lama hawa makin panas. Loan Ki dan Kun Hong biar pun memiliki hawa murni dan lweekang yang kuat, tetap saja menderita hebat dan tubuh mereka telah penuh keringat. Pakaian mereka sudah basah semua.

"Aduh... Hong-ko, napasku sesak, aku muak... tidak kuat bertahan. Kita harus keluar dari neraka ini..." keluh Loan Ki.

Kun Hong bingung. "Bagaimana mungkin, Ki-moi? Kalau kita naik, tentu akan bertemu ular-ular itu di dalam lubang jalan ke luar. Menghadapi ular-ular itu memang masih dapat kita tanggulangi, akan tetapi kau dalam kegelapan... ahh, dan siapa tahu orang-orang itu masih menjaga di luar. Kau harus dapat bertahan, mungkin besok pagi-pagi mereka dan ular-ular itu akan ke luar dari lubang dan kita dapat menerobos ke luar kalau memang tak ada jalan lain. Setidaknya kalau cuaca terang, kau bisa melihat. Bergerak di malam hari, kita sama-sama buta, tentu payah."

"Tapi... aduh, panas dan sesak, Hong-ko..." Gadis itu betul-betul payah dan sekarang dia menyandarkan kepalanya yang terasa pusing berputar-putar itu kepada tubuh Kun Hong.

Dahi gadis itu ternyata sudah basah semua oleh keringat dan tubuhnya panas luar biasa. Diam-diam Kun Hong terkejut. Kiranya lweekang gadis ini belum begitu tinggi tingkatnya dan terang tidak akan dapat menahan. Dia lalu berusaha untuk berkelakar.

"Wah, kita basah oleh keringat, Ki-moi. Celakanya, keringatku tentu berbau tak enak dan kuingat kau paling tidak kuat apa bila mencium bau keringat, seperti ketika kau dikeroyok tempo hari. Jangan-jangan keringatku yang membuat kau muak dan pusing."

Kun Hong sengaja berkelakar untuk membangkitkan kegembiraan dan kejenakaan gadis ini sehingga berkurang penderitaan itu. Akan tetapi dia gagal karena dengan lemah Loan Ki menjawab, "Tidak, keringatmu tidak bau, Hongko... tapi ular-ular itu... ah, ngeri aku..." dan gadis itu tiba-tiba saja menangis!

"Lho, kenapa menangis? Adik Loan Ki, jangan bilang bahwa kau takut...!"
"...tidak! Aku tidak takut... tapi kalau ular-ular itu masuk ke sini, kita akan dimakan habis... ihhh, dan semua ini kesalahanku yang membawamu ke sini."

Kun Hong mendekap kepala di dadanya sambil mengelus-elus rambut yang halus basah itu dengan sikap menghibur, malah dia memaksa diri tertawa. "Ahh, kau aneh-aneh saja. Ular-ular itu tidak akan berani menjatuhkan diri ke dalam lubang, juga tidak akan dapat merayap turun. Andai kata ada yang berani, sekali kau pukul juga akan remuk kepalanya. Takut apa? Tentang datang ke sini... ehhh, aku sendiri pun ingin melihat badut-badut itu dihukum!"

Meski pun lemah dan kepalanya pusing, bangkit juga kegembiraan Loan Ki mendengar ini dan ia berbisik, "...kau ingin... melihat?"

"Aha, sampai lupa aku bahwa aku sudah buta. Bukan melihat dengan mataku, tetapi aku kan dapat meminjam matamu. Kau yang melihat dan kau ceritakan kepadaku, bukankah sama saja...?"

Loan Ki dapat juga tertawa. "...Hong-ko, kau... baik sekali..."

Tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis di atas. Loan Ki merenggutkan kepalanya dan tubuhnya menegang.

"Celaka... mereka turun... ular-ular itu...," katanya dengan suara mengandung kengerian.

Bau amis semakin menghebat, hawa panas pun tak dapat tertahankan lagi oleh Loan Ki. Ia melepaskan buntalan pakaian dan mahkota yang membikin tubuhnya lebih panas lagi. Buntalan itu ia lemparkan begitu saja di atas tanah dan ia bersiap-siap untuk menghadapi perjuangan mati hidup melawan ular-ular itu.

Buntalan itu jatuh dan menggelinding di atas tanah, ikatannya terbuka dan tiba-tiba saja keadaan yang sangat gelap pekat itu berubah. Ada cahaya yang membuat kegelapan itu berubah remang-remang.

"Hong-ko! Aku dapat melihat! Ehh, sekarang tidak segelap tadi... heeiii, Hong-ko, kiranya mahkota itu yang mengeluarkan cahaya!" Suara Loan Ki bersemangat kembali, ia segera membungkuk, mengambil mahkota itu dan berseru, "Betul, Hong-ko, ada tiga butir batu permata di bagian depan mahkota ini yang mengeluarkan cahaya. Nah, begini baru enak hatiku, bisa melihat kalau ada ular menyerangku!" Suara gadis itu mulai gembira.

Kun Hong dengan pendengarannya dapat menangkap hal yang lebih menggembirakan hatinya lagi. Dia tahu sekarang bahwa kelemahan dan kepusingan gadis itu tadi sebagian besar adalah pengaruh dari rasa ngeri di dalam kegelapan sehingga mengakibatkan gadis itu pusing. Selain ini, dengan girang dia mendengar betapa suara mendesis-desis di atas tadi tiba-tiba saja lenyap dan bau amis tidak begitu hebat lagi, tanda bahwa ular-ular itu takut kepada batu-batu permata yang mengeluarkan cahaya.

Dia dahulu pernah mendengar dongeng kakek Song-bun-kwi di puncak Thai-san bahwa di dunia ini memang banyak terdapat benda-benda mujijat dan aneh, di antaranya batu-batu mutiara yang disebut Ya-beng-cu. Mutiara Ya-beng-cu ini mengeluarkan cahaya di tempat gelap dan selain itu, juga ditakuti oleh sebagian besar binatang-binatang buas.

"Wah, agaknya Thian Yang Maha Kuasa sengaja menolong kita, Ki-moi. Kalau aku tidak salah, batu permata di mahkota itu adalah mutiara-mutiara Ya-beng-cu dan aku pernah mendengar bahwa binatang-binatang takut pada sinarnya. Sekarang kau bersiaplah, kita harus keluar dari tempat ini!”
"Keluar?" Loan Ki kaget. "Bukankah amat berbahaya katamu tadi, Hong-ko? Menghadapi ular-ular itu dalam terowongan sempit, belum lagi para penjaga pulau ini..."

Kun Hong menggelengkan kepalanya. "Sekarang tidak perlu lagi, adikku. Tadi yang paling mengkhawatirkan hatiku adalah kalau melawan ular-ular itu, ular-ular berbisa yang sangat jahat, apa lagi kita harus menghadapi mereka dalam terowongan yang sempit. Akan tetapi sekarang, dengan Ya-beng-cu ada pada kita, ular-ular itu pasti takkan berani mengganggu kita. Kita keluar dan tentang para penjaga, yahhh, terpaksa kita menghadapi mereka. Kita jelaskan maksud kedatangan kita yang tidak mengandung niat buruk, kalau mereka tidak mau menerimanya, kita robohkan mereka dan melarikan diri!"

Loan Ki mengangguk-angguk, namun ketika melihat ke sekelilingnya adalah dinding batu yang licin, dia mengerutkan kening. "Hong-ko, bagaimana kita bisa naik? Meloncat begitu saja? Mungkin aku sanggup meloncat ke atas dan menangkap pinggiran sumur ini, akan tetapi, bagaimana kalau ada ular-ular di sana? Pula resikonya terlalu besar kalau sampai tidak berhasil menangkap pinggiran sumur, apa lagi kalau pada waktu meloncat kepalaku tertumbuk batu karang yang menonjol."

"Tak usah meloncat. Kau bawa buntalanmu, pakai mahkota itu di kepalamu."

Gadis itu terdiam, agaknya heran. Namun diambilnya buntalan pakaian dan diikatkan ke pundak. Tiba-tiba ia tertawa, tawa jenaka seperti yang sudah-sudah sehingga Kun Hong ikut tersenyum gembira. Agaknya di dunia ini amat sukar mencari orang yang takkan turut tersenyum mendengar suara yang mengandung kesegaran watak itu.

"Hi-hi-hik, Hong-ko... mahkota ini benar-benar pas dengan kepalaku. Menurut dongeng, permaisuri Kerajaan Tang yang memakai mahkota ini adalah seorang puteri cantik jelita yang terkenal dengan julukan Puteri Harum karena tubuhnya memiliki keharuman seribu bunga. Kiranya kepalanya hanya seukuran dengan kepalaku... hi-hi-hik...!"

Mendengar kegembiraan gadis itu yang berarti bahwa semangatnya sudah kembali, Kun Hong menjadi girang sekali. Perjalanan ke luar dari tempat itu, bahkan keluar dari Pulau Ching-coa-to, bukanlah hal yang mudah dan mungkin akan menghadapi bahaya-bahaya dan rintangan. Karena itu timbulnya semangat gadis ini kembali merupakan hal yang amat penting. Mengingat ini, dia segera terjun ke dalam kegembiraan itu dan berkata,

"Apa anehnya persamaan kepala itu, Ki-moi? Memang cocok dongeng itu, kalau kepala permaisuri Kerajaan Tang itu seperti kepalamu, maka sudah semestinya dia cantik jelita dan mempunyai ukuran kepala yang tepat."
"Ehh, Hong-ko kau mana bisa melihat kepalaku?"
"Melihat sih tidak, akan tetapi tadi... ehh, meraba saja sudah cukup jelas bagiku..."

Loan Ki teringat betapa dalam gelap tadi ia menangis dan bersandar di dada Kun Hong, malah kepalanya telah dielus-elus oleh pemuda buta itu. Hal ini mendebarkan jantungnya sungguh pun ia tidak mengerti mengapa dadanya berhal seperti itu, berdenyar-denyar.

"Tapi, Hong-ko, mana kau tahu aku... cantik jelita?"

Kun Hong tertawa, geli juga dia mendengar ucapan kekanak-kanakan ini. "Apa susahnya? Mendengar suaramu saja sudah cukup bagiku."

Hening sejenak, lalu gadis itu berkata perlahan, "Orang bilang aku cantik, tapi belum tentu secantik puteri pemakai mahkota ini. Lagi pula, dia terkenal sebagai Puteri Harum, mana aku bisa sama? Ihhh, tadi keringatku tentu membasahi bajumu, Hong-ko..."

"Aku pun berkeringat sampai basah semua pakaianku, Ki-moi, dan tentang keharuman itu, hemmm... kurasa keringatmu pun... sedap..." Kun Hong setengah berbohong.

Mana ada keringat sedap di dunia ini? Akan tetapi memang baginya, keringat Loan Ki tidak berbau tak enak. Dia sengaja melebih-lebihkan dan mengatakan sedap hanya untuk menambah kegembiraan hati gadis kekanak-kanakan ini agar semangatnya tak menurun.

Gadis itu tidak berkata apa-apa, malah suara ketawanya terhenti dan ia diam saja sampai agak lama setelah ucapan Kun Hong terakhir ini. Kun Hong heran, miringkan kepala dan bertanya,

"Ki-moi, kenapa kau diam saja?" Ia mengulur tangan ke depan, menyentuh tangan gadis itu dan memegangnya.

Akan tetapi Loan Ki cepat merenggutnya terlepas dan terdengar suaranya agak gemetar. "Buntalan pakaian sudah kubawa, mahkota sudah kupakai. Bagaimana kita akan naik?"

Sama sekali Kun Hong tak pernah menduga di dalam hatinya bahwa ucapan-ucapan yang bersifat kelakar baginya itu ternyata mendatangkan kesan luar biasa bagi Loan Ki, sangat dalam membekas di hatinya.

"Kau duduklah di pundak kananku, siapkan pedangmu menghalau perintang di atas. Aku akan merayap naik." Kun Hong segera berjongkok untuk memudahkan Loan Ki duduk di pundaknya.

Akan tetapi gadis itu tidak segera duduk. Dengan mata terbelalak penuh kagum gadis itu memandang Kun Hong. Ia tahu bahwa agaknya si buta ini hendak mempergunakan Ilmu Pek-houw Yu-chong yang mengandalkan ginkang dan lweekang yang amat tinggi hingga membuat orang dapat merayap seperti seekor cecak pada dinding yang terjal. Kalau si buta ini sudah dapat melakukan ilmu ini, berarti bahwa tingkat kepandaian si buta ini jauh melampauinya, malah jauh lebih lihai dari pada ayahnya sendiri, Sin-kiam-eng!

Di samping kekaguman ini, juga jantungnya berdebar-debar mengingat bahwa ia harus duduk di atas pundak orang, suatu perasaan yang belum pernah ia rasai sebelumnya dan hal ini tanpa ia sadari disebabkan oleh kelakar pujian tadi.

Ia pun maklum mengapa pemuda buta itu menyuruh ia duduk di atas pundaknya. Memang hanya itulah jalan satu-satunya yang paling baik. Dengan duduk di pundak, selain ia dapat ikut ‘membonceng’ naik, juga ia bertugas sebagai mata pemuda itu, dengan mahkota di atas kepala itu sebagai pengganti obor penerangan. Memang begini lebih aman dari pada si buta itu harus merayap naik seorang diri, sungguh pun harus diakui bahwa untuk dapat mempergunakan Ilmu Pek-houw Yu-chong dengan diboncengi pundaknya, benar-benar merupakan hal yang luar biasa sekali.

"Hayo, lekas kau duduk, tunggu apa lagi?" Kun Hong bertanya heran ketika belum juga Loan Ki duduk di pundaknya.

Tanpa berkata apa-apa gadis itu lalu duduk di atas pundak kanan Kun Hong yang segera bangkit berdiri.

"Hati-hati jangan banyak bergerak, tapi awas melihat rintangan di atas."

Mulailah Kun Hong merayap ke atas. Memang hebat tenaga dalam pemuda buta ini. Dengan punggungnya menempel dinding, ia menggunakan tangan kanan dan kedua kaki untuk merayap naik. Dua kakinya bergantian mendorong dinding sebelah depan, tangan kanannya mencari pegangan batu menonjol untuk menarik tubuhnya ke atas, sedangkan punggungnya digunakan sebagai alat penahan tubuhnya supaya tidak kembali merosot ke bawah! Tangan kiri yang memegangi tongkat tetap siap siaga menjaga datangnya bahaya serangan.

Loan Ki kagum sekali. Sedikit demi sedikit mereka naik sehingga akhirnya sampai juga ke pinggiran sumur. Dengan girang Loan Ki melihat bahwa di sana tidak ada ular. Dia lalu meloncat ke luar, dan menarik tangan Kun Hong untuk membantu pemuda ini ke luar pula, bantuan yang sebetulnya tidak perlu bagi pemuda lihai itu.

"Tidak ada ular di sini...," bisik Loan Ki. "Entah ke mana mereka pergi."
"Agaknya ular-ular itu takut kepada cahaya mutiara Ya-beng-cu, Ki-moi. Bagus sekali, dan dengan mahkota ini kita akan ke luar tanpa khawatir diganggu ular-ular berbisa itu."
"Kalau begitu mari kita ke luar sekarang juga, Hong-ko. Kita mencari tempat istirahat lain, tadi kita telah tersesat memasuki tempat ini."

Mereka lalu merangkak ke luar, Loan Ki yang mengenakan mahkota merangkak di depan. Batu penutup lubang disingkirkan dan benar saja, tidak ada ular yang berani menghadang mereka. Agaknya ular-ular itu menjadi ketakutan melihat cahaya mutiara itu dan mereka pergi meninggalkan lubang.

Setelah tiba di luar, Loan Ki meloncat turun, diikuti oleh Kun Hong. Girang hati mereka mendapat kenyataan bahwa di situ sunyi sekali, tak nampak seorang pun manusia. Dan lebih girang lagi hati Loan Ki melihat adanya bulan yang cukup terang di angkasa. Begitu menginjak tanah dan berada di udara terbuka, kedua orang muda ini merasa nyaman sekali sehingga berkali-kali mereka menarik napas panjang, menyedot hawa seperti orang kehausan mendapat minum air segar!

"Hong-ko, bulan bersinar, aku dapat melihat jalan. Lebih baik kita tinggalkan daerah ini."

Kun Hong tak membantah dan demikianlah, di bawah sinar bulan yang tiga perempat itu kedua orang muda ini dengan hati lapang meninggalkan tempat yang penuh pengalaman mengerikan tadi. Mereka langsung menuruni puncak yang penuh batu karang.

“Kurasa tak baik kita berkeliaran di malam hari, apa lagi tempat ini agaknya mengandung banyak rahasia. Lebih baik kita mengaso malam ini dan besok pagi kita berusaha keluar dan kembali ke daratan.”
"Mana ada tempat bermalam yang baik di tempat ular ini, Hong-ko?"
"Paling baik di atas pohon besar, bahaya satu-satunya hanyalah ular. Akan tetapi dengan adanya mahkota pusaka itu, kita tak usah khawatir."

Demikianlah, dua orang muda itu meloncat ke atas pohon besar, memilih cabang besar yang enak diduduki dan beristirahat melewatkan malam. Kun Hong duduk bersila di atas cabang pohon, tak bergerak seperti patung.

Tahu bahwa orang muda yang sakti itu sekarang duduk bersemedhi, Loan Ki tidak mau mengganggunya, hanya memandang bayangan orang buta itu dengan penuh kekaguman. Berkali-kali ia mendengar bisikan hatinya sendiri, "...sayang matanya buta... sayang dia buta... sayang..."

Ia merasa jengkel akan bisikan perasaan ini karena ia benar-benar tak mengerti mengapa ia merasa sayang akan kebutaan Kun Hong.

"Orang seperti dia tidak seharusnya dikasihani," dia menghibur diri, "walau pun buta, dia melebihi sepuluh orang pendekar melek (dapat melihat)..."

Akhirnya ia tertidur juga di atas cabang pohon. Seorang ahli silat tinggi seperti Loan Ki memang tidak perlu khawatir akan terjatuh di waktu tidur, karena ia sudah terlatih akan kebiasaan ini dan sudah banyak ia merantau dan sering kali tidur di dalam hutan seorang diri…..

********************
"Hong-ko... bangun, Hong-ko... tuh di sana aku melihat air telaga!" pagi-pagi sekali Loan Ki sudah berteriak-teriak membangunkan Kun Hong yang sebetulnya memang telah sadar atau terjaga dari pada tidur dan semedhinya.

Beberapa ekor burung sampai kaget oleh teriakan Loan Ki. Mereka beterbangan sambil berbunyi keras. Gadis itu tertawa geli menyaksikan tingkah burung-burung itu, akan tetapi Kun Hong sebaliknya geli mendengar suara Loan Ki.

"Bagus, kalau begitu kita tinggal menuju ke sana, mencari perahu untuk menyeberang." jawab Kun Hong sambil meluncur turun dari batang pohon itu.

Loan Ki juga meloncat turun, lalu tertawa. "Wah, kelihatan sekarang betapa kotor pakaian kita, Hong-ko. Penuh tanah lempung!"

"Tidak apa, pakaian kotor dapat dicuci, Ki-moi."
"Ah, malu kalau bertemu orang. Aku hendak menukar pakaian dulu, Hong-ko. Kan padaku ada bekal pakaian bersih. Wah, di mana ya bisa bertukar pakaian?"

Gadis itu berjalan ke sana ke mari, agaknya mencari gerombolan tanaman yang dapat ia pergunakan untuk sembunyi dan bertukar pakaian.

"Hong-ko," terdengar suaranya dari depan agak jauh, "kau menghadaplah ke sana dulu, membelakangi aku!"

Hampir-hampir tidak dapat Kun Hong menahan ketawanya. Dia tersenyum lebar sambil mengacungkan tangannya seperti hendak menampar kepala temannya itu. "Bocah nakal, apakah aku kurang buta sehingga kau suruh menghadap ke lain jurusan? Andai kata kau bertukar pakaian di depan mataku, aku pun tidak dapat melihatmu, Ki-moi." Akan tetapi tetap saja dia memutar tubuhnya menghadap ke lain jurusan.

Setelah selesai berpakaian, Loan Ki menghampiri Kun Hong dan berkata, "Hong-ko, kau selalu mengajak aku untuk kembali ke daratan, seakan-akan kau takut berada di pulau ini. Bahkan kau kemarin menyebut apakah aku melihat seorang kakek yang buntung lengan dan telinga kiri, mata kiri buta, siapakah orang itu?"

"Sebetulnya orang itu sudah mati, Ki-moi. Yang kumaksudkan itu adalah seorang tokoh jahat bernama Siauw-coa-ong Giam Kin. Karena kemarin aku mendengar suara suling dan berkumpulnya ular-ular itu, aku jadi teringat kepada tokoh ini yang juga seorang ahli memelihara ular."
"Kau aneh, Hong-ko. Kalau dia sudah mati, kenapa kau takut?"
"Aku hanya terheran-heran mendengar ada ular-ular yang digembalakan orang, Ki-moi, dan aku dapat menduga bahwa pemilik-pemilik pulau ini pasti adalah orang-orang pandai seperti Giam Kin itu. Kalau kita berdua membikin onar di sini, alangkah tidak baiknya. Inilah sebabnya maka aku mengusulkan agar kita kembali saja dan jangan menimbulkan keonaran di tempat orang."
"Baiklah, malam tadi pun aku sudah merasa menyesal datang ke pulau iblis ini. Mari kita pergi ke pantai telaga yang kulihat dari atas pohon tadi, Hong-ko."

Loan Ki menggandeng tangan Kun Hong dan mengajak pemuda itu berlari cepat ke arah pantai telaga yang dia lihat tadi, yaitu ke sebelah timur, dari arah mana cahaya matahari memerah membakar angkasa raya. Mahkota yang semalam telah menyelamatkan mereka itu kini telah aman berada dalam buntalan pakaian yang tergantung di punggung Loan Ki lagi.

Biar pun yang seorang adalah orang buta, namun mereka lari cepat sekali. Memang inilah cara satu-satunya untuk mengajak Kun Hong berlari cepat, yaitu dengan menggandeng tangannya. Tanpa dituntun, biar pun pemuda itu memiliki kesaktian, tak mungkin dia akan dapat berlari cepat, tentu akan menabrak-nabrak.

"He, Ki-moi, kenapa belum juga sampai dan kenapa kau bawa aku menikung-nikung tidak karuan begini?"

Loan Ki berhenti, lalu menghela napas panjang. "Pulau ini benar-benar aneh, Hong-ko. Pulau iblis! Terdapat jalan yang rata, akan tetapi heran sekali, mengikuti jalan ini agaknya akan membawa kita terputar-putar tidak karuan. Kulihat seakan-akan keadaan tempat di mana kita berdiri ini serupa benar dengan tempat di mana kita berangkat tadi..." Ia berseru kaget, lari ke depan meninggalkan Kun Hong, lalu kembali lagi sambil berkata, "Wahh, benar-benar ini tempat yang tadi, Hong-ko! Tuh, di situ ada gerombolan pohon kembang di mana aku bertukar pakaian tadi, pengikat rambutku yang terjatuh di sana masih ada."

Kun Hong mengangguk-anggukkan kepala, kulit di antara kedua matanya berkerut.

"Kurasa pemilik pulau ini adalah seorang ahli dalam alat-alat rahasia dan sengaja sudah mengatur pulaunya penuh rahasia agar menyukarkan orang asing memasukinya, seperti keadaan di Thai-san. Ki-moi, coba kau lihat dari atas pohon tadi, pantai berada di jurusan manakah?"
"Di timur karena kulihat cahaya matahari di sana pula."
"Nah, kalau begitu, sekarang kita harus langsung menuju ke timur, jangan menggunakan jalan yang sengaja dibuat untuk menyesatkan kita. Kita ambil jalan liar saja, kalau perlu menerabas hutan, asal terus ke timur. Pasti akan sampai di pantai itu."

Akan tetapi hal itu ternyata lebih mudah diucapkan dari pada dilakukan. Jalan menuju ke timur ini ternyata harus melalui hutan-hutan liar yang penuh alang-alang, melalui rawa dan malah melalui hutan kecil penuh duri. Jalannya menanjak dan pada akhirnya mereka tiba di tebing yang curam. Ketika Loan Ki menjenguk ke bawah, memang tampak air telaga di bawah sana, namun dalamnya dari tebing itu tidak kurang dari seratus meter!

Loan Ki melepaskan tangan Kun Hong, berjalan ke sana ke mari mencari jalan untuk menuruni tebing curam itu.

"Wah, sampai di sini buntu, Hong-ko. Biar kucari jalan untuk turun. Tuh, di bawah sudah kelihatan telaganya, dan jauh ke depan itu menyeberangi telaga akan sampai di darat kembali. Agaknya jalan menurun di alang-alang itu... heeii, aduhhh... Hong-ko... tolong...!"

Kun Hong terkejut sekali, cepat dia bergerak maju dengan didahului tongkatnya, ke arah suara Loan Ki. Dia mendengar banyak sekali batu-batu menggelinding dan lenyaplah suara Loan Ki.

Kagetnya bukan kepalang ketika dia tiba di tempat dari mana suara gadis itu terdengar, tongkatnya meraba tempat kosong! Kiranya dia berdiri di tepi tebing yang entah berapa dalamnya dan tongkatnya yang meraba gugusan batu yang pecah, agaknya Loan Ki yang tadi berdiri di situ sudah terperosok dan jatuh ke bawah bersama pecahan tanah beserta batu-batu.

Kun Hong mengerahkan khikang-nya dan berteriak ke bawah, "Ki-moi...!"

Hanya gema suaranya yang menjawab.

"Loan Ki...!"

Kembali suaranya yang menjawab.

"Celaka... apa yang terjadi dengan dia?" Kun Hong bingung dan menyesal sekali.

Selama dia buta, baru kali ini dia menyesal akan kebutaan matanya sehingga dia tidak dapat melihat apa yang terjadi dengan gadis itu dan tak dapat menolongnya. Dia segera mengambil sebuah batu kecil dan melepaskannya ke bawah. Kepalanya dimiringkan dan bibirnya berkemak-kemik menghitung waktu.

Tujuh belas kali dia menghitung, baru batu itu menyentuh air! Kun Hong bergidik. Tidak mungkin dia mengikuti gadis itu terjun ke bawah. Hal ini berarti kematian baginya.

Akan tetapi dia masih mempunyai harapan yang menghibur hatinya. Bukankah Loan Ki pernah bilang bahwa gadis itu pandai berenang? Kalau dasar di bawah tebing itu adalah air, belum tentu gadis itu tewas. Akan tetapi, kalau selamat, kenapa dia tidak menjawab panggilannya?

Kembali pemuda buta ini menjenguk ke depan dan memanggil. Suaranya nyaring sekali dan bergema, mengejutkan burung-burung yang sedang beterbangan di sekeliling tempat itu. Beberapa kali dia memanggil namun tak pernah terjawab kecuali oleh gema suaranya sendiri.

Kun Hong menjadi sedih sekali, pelupuk matanya gemetar, kulit di antara kedua matanya berkerut dalam, wajahnya agak pucat. Lalu dia meraba-raba dengan tongkatnya mencari jalan turun. Dia hendak menuruni tebing itu dan mencari Loan Ki di bawah sana.

Akhirnya dapat juga dia turun melalui celah-celah batu karang. Sukar sekali perjalanan menurun ini, merayap seperti seekor monyet, hanya berpegang pada batu-batu karang yang menonjol. Kadang-kadang Kun Hong yang meraba sana meraba sini kehabisan batu pegangan, maka terpaksa ia menggunakan tongkatnya yang ditancapkan kepada dinding karang.

Demikianlah, sambil meraba-raba dia merayap turun terus, tidak tahu ke mana akhirnya dia akan sampai. Dia tahu bahwa jalan yang ditempuhnya ini membelok ke sana ke mari karena memang sering kali dia bertemu dengan jalan buntu yang mengharuskan dia mencari jalan memutar.

Dia merasa heran sekali karena ternyata dia tidak sampai di pinggir telaga, malah tiba-tiba alat penggandanya mencium keharuman bunga-bunga yang beraneka warna dan kakinya menginjak tanah berumput yang halus. Ketika dia meraba dengan tangannya, kiranya dia sudah sampai di tengah-tengah rumput yang segar gemuk dan di sana-sini semerbak harum bunga.

"Heran sekali seakan-akan aku berada di dalam taman bunga yang sangat luas penuh bermacam-macam bunga...," pikirnya dan teringatlah dia akan seruan Loan Ki pada saat kedatangan mereka di tempat itu. Gadis itu telah melihat sebuah taman bunga yang indah. Inikah taman bunga itu?

Angin semilir sejuk dan pendengarannya yang tajam menangkap suara orang bercakap-cakap, suara wanita yang halus terbawa angin. Kun Hong girang sekali, mengira bahwa tentu Loan Ki yang sedang bercakap-cakap itu. Tetapi dia tidak berani berlaku sembrono memanggil gadis itu karena dia belum tahu dengan siapa gadis itu bercakap-cakap dan dalam keadaan bagaimana.

Dengan hati-hati dia bergerak maju ke arah suara. Setelah agak dekat dan mulai dapat mendengar jelas, dia menyelinap di balik sebuah pohon buah yang besar, bersembunyi dan mendengarkan penuh perhatian. Besar kekecewaan hatinya ketika mendengar bahwa yang bercakap-cakap itu sama sekali bukanlah Loan Ki seperti yang diharapkannya, akan tetapi suara wanita-wanita yang lain, suara wanita yang dingin dan tajam mendatangkan perasaan ngeri kepadanya karena dari suara ini dia dapat menilai orang yang mempunyai watak yang aneh dan dapat kejam melebihi iblis sendiri.

Akan tetapi suara ke dua membuat dia berdebar dan kagum. Suara ini halus lunak, merdu dan kiranya hanya patut dimiliki oleh bidadari, bukan wanita biasa. Suara pertama adalah suara seorang wanita yang sukar ditaksir usianya, akan tetapi takkan kurang dari empat puluhan. Ada pun suara ‘bidadari’ itu adalah suara seorang gadis remaja.

Bukan main suara itu, bagaikan nyanyian dewi malam, mengelus-elus perasaan hatinya sungguh pun dia menangkap getaran-getaran aneh pula dalam suara merdu merayu ini. Getaran yang mengandung sesuatu yang rahasia dan yang menyembunyikan watak dari pada si pemilik suara.

"Hui Kauw, cukup sudah semua alasanmu itu!" terdengar suara dingin dengan nada kesal. "Jodohmu adalah Pangeran Souw Bu Lai dan kau tidak boleh membantah lagi. Kau tahu, setelah sekarang kaisar muda yang tak becus menduduki tahta, pangeran itu mempunyai banyak harapan menjadi kaisar lalu membangun lagi Kerajaan Goan, dan kau mempunyai harapan menjadi permaisuri kaisar! Orang apa itu si pemuda she Bun? Huh, hanya anak ketua Kun-lun-pai, biar tampan dan gagah, tetapi hanya orang biasa. Mana boleh anakku tergila-gila kepada orang macam itu?"

"Ibu, aku tidak tergila-gila... aku hanya bertemu satu kali dengan Bun-enghiong, aku hanya bilang bahwa dia seorang pendekar perkasa. Bukan karena dia aku tidak sudi menjadi calon jodoh Pangeran Mongol itu, melainkan karena... karena aku tidak suka menikah. Aku lebih senang tinggal di sini..."

"Huh, alasan kosong. Siapa yang tidak tahu hati muda? Melihat wajah tampan dan watak pendekar lalu jatuh hati, hemmm. Sudahlah, tak mau aku berpanjang debat, aku harus menyambut para tamu kita yang akan membicarakan soal membantu usaha Pangeran Souw Bu Lai. Dan kau harus tahu, dalam hal kegagahan, kiraku orang she Bun itu takkan dapat menandingi Pangeran Souw."
"Ibu..."

Kun Hong mendengar betapa wanita bersuara dingin itu berkelebat pergi dan terkejutlah dia ketika menangkap desir angin yang amat cepat ketika wanita ini pergi. Wah, kiranya si suara dingin ini memiliki kepandaian yang hebat. Ginkang-nya terang tidak di sebelah bawah kepandaian Loan Ki!

Selain dua orang wanita yang bercakap-cakap ini, Kun Hong tahu bahwa di situ terdapat sedikitnya tiga orang wanita lain yang lemah lembut gerakan-gerakannya, mungkin para dayang-dayang yang melayani nona bersuara bidadari ini. Diam-diam Kun Hong merasa terharu dan juga tercengang.

Tak mungkin salah lagi, yang disebut-sebut sebagai pemuda she Bun dalam percakapan tadi, tentu bukan lain adalah Bun Wan, putera dari ketua Kun-lun-pai! Bun Wan, bekas tunangan kekasihnya, mendiang Cui Bi.

Hatinya berdebar dan telinganya serasa mengiang-ngiang. Sungguh suatu hal yang amat kebetulan sekali, urusan yang sangat cocok dengan pengalamannya dahulu. Seperti juga Cui Bi yang mencintanya dan sudah ditunangkan dengan Bun Wan, juga si suara bidadari ini hendak dipaksa ibunya untuk berjodoh dengan seorang Pangeran Mongol, padahal si bidadari ini agaknya condong hatinya kepada Bun Wan! Benar-benar hal yang terbalik.

Kalau dulu, Bun Wan merupakan tunangan yang tidak dipilih dan tidak disukai oleh calon jodohnya, sekarang rupanya dia malah terbalik memegang peranan sebagai orang yang menjadi penyebab terhalangnya perjodohan orang lain! Bun Wan kini memegang peranan yang dipegangnya dahulu, peranan yang berakhir dengan pengorbanan kedua matanya untuk mengimbangi pengorbanan Cui Bi yang menyerahkan nyawanya!

Dia memperhatikan terus. Beberapa kali terdengar si bidadari itu menarik napas panjang. Dasar suara bidadari. Tarikan napas panjangnya saja terdengar begitu halus seolah-olah helaan napas itu menambah keharuman bunga-bunga di taman!

Perasaan Kun Hong menggetar, penuh iba kasihan. Teringat dia akan Cui Bi. Serupa benar nasib dara bidadari ini dengan mendiang Cui Bi.

Apakah ia akan mengalami nasib seperti Cui Bi pula? Gagal dalam berkasih asmara, dan berakhir mengorbankan nyawa? Tidak! Tidak boleh! Peristiwa mengenaskan itu tak boleh terulang lagi. Apa pula terhadap diri seorang dara yang bersuara bidadari ini. Dia akan berusaha menghalau bahaya itu.

Langkah-langkah kecil dan ringan terdengar, disusul suara bening. "Siocia, ini minuman susu madu yang kau pesan, dan ini pengganti sapu tangan sutera..."

"A Man, kau letakkan saja di atas meja itu, lalu kau pergilah bersama semua temanmu dan tinggalkan aku di sini..."
"Tapi Siocia (nona), toanio (nyonya besar) akan marah jika saya dan teman-teman tidak menjaga dan melayani Nona di sini..."
"A Man, aku bukan anak kecil lagi yang harus dijaga setiap waktu. Sekarang aku mau berlatih pedang, apakah kau bermaksud hendak mencuri lihat?"
"Ahh... mana berani... mana berani, Nona."
"Nah, lebih baik kau cepat-cepat pergi keluar dari taman ini. Lebih berguna kalau kau dan teman-temanmu ikut mencari dua orang asing yang katanya sudah memasuki pulau dan membunuh banyak ular. Apa bila bertemu dengan mereka yang tentu saja lihai, kau dan teman-temanmu dapat mencoba semua kepandaian kalian. Apakah percuma saja kalian selama ini dilatih ilmu silat? Hayo, keluarlah dari sini, lekas!"

Terdengar para pelayan itu pergi sambil tertawa-tawa. Ternyata ada lima orang pelayan wanita dan agaknya yang bernama A Man itu adalah pelayan kepala atau yang paling disayang oleh nona bidadari yang bernama Hui Kauw ini.

Kun Hong mendengarkan semua itu dengan kagum. Makin indah suara nona ini ketika bercakap-cakap dengan para pelayan. Malah ucapan paling akhir itu mengandung senda gurau yang halus. Alangkah jauh bedanya dengan Loan Ki atau Cui Bi.

Loan Ki dan mendiang Cui Bi, adalah gadis-gadis yang lincah jenaka, gembira dan bebas, andai kata kembang adalah kembang mawar hutan yang tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan tidak takut akan angin ribut dan selalu berseri namun siap melukai siapa pun yang ingin merabanya dengan duri-duri meruncing.

Ada pun dara bersuara bidadari ini, yang tadi oleh ibunya disebut Hui Kauw, merupakan seorang dara yang lemah lembut, halus gerak-geriknya, halus pula tutur sapanya, seperti setangkai bunga seruni yang indah jelita, kecantikannya menenteramkan hati, suaranya bagai musik surga mengamankan jiwa.

Kemudian Kun Hong mendengar desir angin permainan pedang. Pada mulanya angin sambaran itu lambat-lambat dan juga perlahan saja, tanda bahwa pemainnya belum mahir benar dan tenaganya kecil. Kun Hong mengerutkan keningnya.

Gadis bersuara bidadari ini kalau dalam hal ilmu pedang jauh di bawah tingkat Loan Ki, apa lagi tingkat Cui Bi. Akan tetapi hawa pukulan pedangnya betul-betul aneh merupakan garis lingkaran-lingkaran. Permainan pedang dengan cara membentuk lingkaran-lingkaran seperti itu memang banyak dalam kalangan ilmu pedang tinggi, akan tetapi lingkaran ini biasanya terus menjurus ke arah lingkaran lainnya yang sejalan atau berubah menjadi tusukan, bacokan miring, bacokan lurus dan lain cara penyerangan lagi.

Anehnya, gerakan pedang dara bersuara bidadari ini lingkarannya berubah-ubah menjadi lingkaran yang bertentangan, kadang-kadang berputar dari kanan, kadang kala dari kiri. Cara bermain pedang seperti ini, mana bisa digunakan untuk bertempur, pikir Kun Hong heran.

Tiba-tiba Kun Hong miringkan kepalanya dan wajahnya sampai berkerut-merut karena dia mencurahkan seluruh perhatiannya menggunakan pendengarannya yang mengikuti desir angin pedang.....
Makin lama mukanya berubah makin merah ketika dia mengikuti terus permainan pedang itu. Gerakan yang tadinya membayangkan kecanggungan, kekakuan dan kelemahan itu lambat laun berubah, bagaikan gelombang samudera yang sedang pasang, tidak kentara perubahannya makin lama semakin sigap, semakin licin, makin kuat. Lingkaran-lingkaran membesar, meluas, dan masih saja mengandung pertentangan, yaitu lingkaran-lingkaran yang membalik gerakannya.

Kun Hong menjadi bingung dan malu kepada diri sendiri. Kiranya dia tadi salah duga dan baru kali ini pendengarannya menipunya, baru kali ini pendengarannya kalah ‘awas’ oleh sepasang mata. Kiranya dara bersuara bidadari ini memiliki ilmu pedang yang benar-benar luar biasa dan juga tinggi sekali tingkatnya, malah kini dia dapat mendengar betapa tenaga lweekang yang terkandung dalam gerakan-gerakan itu amat dalam, sukar diukur dan ilmu pedang itu sendiri memiliki gerakan lingkaran yang penuh rahasia!

"Siuuuttt... cratt!"

Sebatang pedang menancap pada batang pohon di depan Kun Hong, batang pohon yang menutupi dan menyembunyikan tubuh pemuda buta ini. Kun Hong kaget sekali. Apakah nona itu melihatnya dan sengaja menakut-nakutinya dengan melemparkan pedang pada batang pohon itu?

Dia bersikap waspada, akan tetapi tidak bergerak ke luar dari tempat sembunyinya. Dia merasa malu sekali dan sedang memutar otaknya bagaimana dia akan menjawab nanti apa bila ditanya tentang kehadirannya di taman orang dan ‘mengintai’ dengan telinganya tanpa ijin pemilik taman.

Langkah kaki yang ringan dan lesu mendekati pohon. Hidung Kun Hong kembang-kempis. Keharuman yang sedap dan aneh mengalir memasuki lubang hidungnya, bau yang luar biasa harumnya seperti... seperti apakah gerangan?

Tiada bunga yang seharum ini, harum yang tidak memuakkan, tidak keras, seperti harum bunga mawar? Tidak, lain lagi. Seperti harum minyak wangi dan dupa? Juga bukan, biar pun memiliki daya penenteram rasa seperti keharuman dupa. Apakah bau cendana? Juga bukan, cendana terlalu wangi sehingga memusingkan kepala.

Mendadak wajah Kun Hong tersenyum berseri. Inikah bau sedap seperti bau anak kecil? Ya, pernah dalam perantauannya dia dimintai tolong orang supaya mengobati anak-anak dan seperti inilah anak bayi itu baunya. Sedap dan mengamankan hati!

Kun Hong berdebar hatinya. Nona ini amat dekat dengannya, hanya terpisah oleh batang pohon. Pernapasannya saja dapat terdengar jelas olehnya, napas yang panjang-panjang dan halus sungguh pun desir napas itu menyatakan bahwa orangnya sedang mengalami kelelahan. Tidak aneh setelah bermain pedang mempergunakan tenaga lweekang seperti itu.

Nona itu mencabut pedang yang tadi dilontarkan dan menancap pada pohon. Dari suara cabutan ini dengan kagum sekali Kun Hong mendapat kenyataan bahwa pedang itu telah menancap setengahnya lebih ke dalam batang pohon, hal yang sekali lagi membuktikan akan hebatnya tenaga lweekang nona ini.

Dengan langkah gontai, seperti langkah orang yang baru sembuh dari pada penyakit yang lama diderita, lemas dan lesu, dengan kaki diseret nona itu meninggalkan pohon, kembali ke tempat tadi. Lalu terdengar oleh Kun Hong betapa dara itu duduk menggerak-gerakkan tangan, agaknya menyusut peluh dengan sapu tangan sutera yang ia dengar tadi di antar datang oleh A Man, Setelah itu gadis itu minum lambat-lambat, dengan teguk-teguk kecil, agaknya susu madu tadi.

Tak terasa lagi Kun Hong menelan ludah dan tiba-tiba saja terasa betapa lapar perutnya dan haus kerongkongannya. Sejak kemarin sore dia tidak makan atau minum lagi, yaitu sesudah menyikat habis makanan dan minuman hasil curian Loan Ki.

Loan Ki juga tentunya lapar dan haus seperti aku pula pikirnya. Ahh, di mana Loan Ki? Seakan-akan baru sadar dari pada sebuah mimpi indah, Kun Hong teringat akan Loan Ki dan hatinya terbuka, penuh kekhawatiran. Masih hidupkah Loan Ki? Dan di mana ia?

"Benar-benar aku tiada guna..." Kun Hong memaki diri sendiri. "Loan Ki terjerumus dan hilang, belum tahu mati atau masih hidup dan... dan aku...aku terlongong saja di sini mau apa?"

Hampir marah Kun Hong terhadap dirinya sendiri. Baru sekarang dia merasa betapa dia sudah seperti tergila-gila kepada nona bersuara bidadari itu. Mukanya ditengadahkan ke arah angkasa, bibirnya bergerak-gerak dalam bisikan.

"Cui Bi... kau tentu suka memaafkan aku... nona yang di depan ini memang terlalu luar biasa..."

Setelah berbisik seperti itu, dia sudah hendak menggerakkan kaki sambil mengerahkan ginkang-nya agar dapat pergi dari tempat itu tanpa terdengar orang. Akan tetapi baru saja kakinya diangkat sambil dia membalikkan tubuh hendak pergi, kaki itu berhenti seperti tertahan oleh suara senandung di belakangnya. Suara bidadari itu bersenandung?

Biar pun hanya bersenandung, tidak bernyanyi nyaring, tetapi suara itu bagi pendengaran Kun Hong sedemikian merdunya. Dia menahan napas dan miringkan kepala untuk dapat menangkap kata-kata nyanyian dalam senandung itu.

Daun labu belum layu
anak sungai masih berlagu
kutunggu, tuanku.
Air sungai melimpah ruah
kuda betina menjerit resah
kutunggu, kekasihku.
Bahtera menanti kita
mengantar ke pantai kita
kutunggu, sahabatku!

Lemas kedua lutut Kun Hong. Tanpa terasa pula dia berlutut lalu duduk bersimpuh di atas tanah. Kulit mukanya tergetar-getar, bergerak-gerak, apa lagi di sekitar dua lubang bekas mata yang tertutup kelopak (pelupuk mata).

Bukan main suara itu! Tadi baru mendengar suara itu bicara saja dia sudah kagum bukan main, suara yang dapat menggetarkan dan menyinggung tali halus hatinya. Kini suara itu bersenandung, bukan main! Dada Kun Hong serasa hendak meledak oleh nikmat yang didatangkan oleh senandung itu.

Dia sendiri adalah seorang ahli sastera, seorang penggemar bacaan, baik filsafat mau pun sanjak-sanjak kuno. Dan kata-kata nyanyian yang keluar bagaikan tetesan-tetesan embun mutiara di ujung daun hijau di waktu subuh itu, dia pun pernah membacanya.

Sanjak lama, amat kuno akan tetapi masih saja mempunyai makna yang membayangkan keadaan hati seseorang. Jelas, kini dara bersuara bidadari ini sedang dirundung malang, dibuai sedih oleh kesepian, dimabuk khayal lamunan. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan percakapan tentang jodoh dengan ibunya tadi?

Masih terngiang jelas di telinga Kun Hong suara yang nikmat tadi. Dia masih juga duduk bersimpuh ketika dia mendengar betapa nona itu pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah-langkah gontai.

Setelah langkah itu tak terdengar lagi dan keadaan di situ benar-benar sunyi tiada orang, Kun Hong melangkah ke luar dari tempat sembunyinya. Bagaikan didorong oleh tangan tak tampak, atau ditarik oleh besi sembrani, kedua kakinya melangkah ke arah tempat di mana dara tadi bernyanyi.

Tongkatnya tertumbuk pada sebuah meja batu yang dikelilingi tiga buah bangku batu yang halus dan dingin. Bau harum yang tadi masih mengambang di udara di sekitar tempat itu, kini lebih terasa. Kun Hong meraba bangku dingin halus, lalu duduk menghadapi meja, termenung.

Tanpa disengaja tangannya yang meraba meja menyentuh sesuatu yang halus di atas meja. Sapu tangan sutera! Agak basah dan hangat. Air mata? Keringat? Seperti dalam mimpi Kun Hong meremas sapu tangan sutera itu, lalu mengendurkan tangannya, hatinya merasa khawatir kalau-kalau remasannya akan merusakkan benda halus lemas berbau harum itu. Kemudian, dengan tangan gemetar sapu tangan itu dia dekatkan ke mukanya, bau harum mengeras, tapi dia menahan tangannya. Wajah Cui Bi terbayang dan muka Kun Hong menjadi merah sekali.

"Maaf, Cui Bi... dia… dia terlalu luar biasa..." setelah berkata demikian ia membenamkan mukanya ke dalam sapu tangan itu.

Ganda harum semerbak sapu tangan sutera itu membuat Kun Hong mabuk kemudian tenggelam di alam lamunan. Wajah Cui Bi terbayang, maka keras dia mendekap sapu tangan itu pada mukanya, seakan-akan yang didekap dan dibelainya itu adalah wajah Cui Bi kekasihnya. Terluaplah segenap rindu birahi yang selama bertahun-tahun dia kekang, dia bendung, dia tahan.

"Cui Bi... Bi-moi... dewi pujaan... di mana kau...?" Kun Hong mengeluh, menciumi sapu tangan dan beberapa butir air mata menetes dari sepasang mata yang tak berbiji lagi itu.

Sedih perih membuat dia merasa nelangsa sekali ketika sadar bahwa kekasih yang amat dirindukannya itu telah tiada dan tak tertahankan lagi Kun Hong menitikkan air mata yang membasahi sapu tangan sutera berganda harum itu.

Betapa pun kuat batin Kun Hong, dia tetap seorang manusia biasa. Sekali waktu tentu akan tunduk dan kalah oleh arus perasaannya yang mencengkeram hati, mencengkam pikiran. Apa lagi perasaan rindu dendam bagi seorang muda amatlah berat dilawan.

Kun Hong pemuda gemblengan itu, yang biar pun sudah buta namun masih mempunyai kegagahan dan kesaktian yang melebihi orang-orang melek, kini bagaikan dilolosi seluruh otot di tubuhnya, lemas dan berlutut menciumi sapu tangan sambil menitikkan air mata seperti lakunya seorang wanita berhati lemah!

Saking hebat dia dipengaruhi perasaan sendiri, dia menjadi lengah dan pendengarannya tidak dapat menangkap suara halus dari langkah kaki yang mendekati tempat itu, bahkan yang kini datang menghampiri dirinya. Langkah halus dan ringan dari sepasang kaki yang bersepatu merah, dan yang menghampirinya dari belakang.

"Pencuri busuk, berani kau memasuki tamanku? Hayo berlutut di depan nonamu!" Suara ini nyaring dan merdu, namun mengandung getaran galak dan tinggi hati.

Kun Hong terkejut setengah mati, seakan-akan disendal dari dunia lamunannya. Dengan gugup dia mencengkeram sapu tangan itu dan membalikkan tubuhnya dengan siap siaga karena ia mendengar suara pedang dicabut oleh wanita yang memakinya ini. Tongkatnya dipegang erat karena biar pun dari suaranya dia dapat mengenal seorang gadis remaja yang amat galak, akan tetapi gadis ini dapat datang tanpa dia ketahui, tanda bahwa ilmu kepandaiannya juga tinggi, maka dia harus siap menghadapi bahaya serangannya.

Akan tetapi gadis itu mengeluarkan seruan tertahan pada saat melihat bahwa orang yang dibentaknya itu kiranya hanya seorang buta. Ia mendengus penuh ejekan lalu menyimpan kembali pedangnya.

"Hah, kiranya hanya seorang jembel buta! Sungguh tidak punya guna para penjaga itu. Orang macam ini dikatakan menimbulkan onar? Hee, jembel buta, apakah kau bersama seorang gadis yang datang ke pulau kami secara menggelap? Hayo berlutut dan jawab baik-baik kalau tidak ingin nonamu turun tangan sendiri memberi hajaran kepadamu!"

Mengkal sekali rasa hati Kun Hong mendengar suara seorang dara muda begini galak memaki-maki dan menghinanya, akan tetapi dia tetap tersenyum sabar, bangkit berdiri dan menjura.

"Maaf, Nona. Aku seorang buta yang tidak mengenal jalan tanpa disengaja telah tersesat sampai di sini, harap Nona sudi memberi maaf."
"Maaf ? Enak saja bicara! Orang luar yang berani memasuki pulauku ini tak boleh keluar dalam keadaan hidup lagi. Kau jembel buta berani masuk ke sini dan seperti orang mabuk menangis menciumi sapu tangan. Hemmm, kiranya kau selain buta juga gila. Kau terlalu kotor untuk mampus di tanganku. Heeiii, A Man...!" Suara memanggil ini amat nyaring, mengandung tenaga khikang yang kuat sekali sehingga diam-diam Kun Hong kagum.

Kiranya gadis galak ini mempunyai kepandaian yang hebat juga, terang tidak di sebelah bawah tingkat Loan Ki! Dia makin terheran-heran mendapat kenyataan bahwa di pulau ini terdapat dua orang gadis yang suaranya jauh berbeda seperti bumi dan langit, namun yang keduanya memiliki kepandaian tinggi dalam ilmu silat!

Suara seruan seperti itu tadi tentu dapat mencapai jarak yang jauh. Benar saja, tak lama kemudian terdengar suara orang menjawab berulang-ulang dan terdengar bunyi langkah-langkah kaki berlari-larian ke tempat itu, langkah-langkah ringan beberapa orang wanita. Kiranya pelayan-pelayan tadi, lima orang banyaknya dengan A Man di depan, telah lari datang mendengar panggilan itu.

"Ah, kiranya Siocia telah berada di sini...," terdengar gadis pelayan yang bernama A Man berkata.

Dengan pendengarannya yang tajam Kun Hong dapat menangkap betapa dalam ucapan gadis pelayan ini terkandung rasa takut dan tunduk, berbeda dengan ketika gadis pelayan ini tadi bicara terhadap dara bersuara bidadari.

"A Man! Apa saja kerjamu dan para pelayan ini di sini? Sampai dalam taman kemasukan jembel buta gila kalian tidak ada yang tahu! Hemm, benar-benar kalian ini masing-masing patut dihukum sepuluh kali cambukan."
"Ampun, Siocia... hamba berlima tadi disuruh pergi oleh nona Hui Kauw... dan pada waktu hamba pergi, di sini ada nona Hui Kauw sedang berlatih silat, tidak ada... jembel ini... eh, itu adalah sapu tangan nona Hui Kauw! He pengemis buta, kau telah mencuri sapu tangan nona Hui Kauw?"

Tiba-tiba nona yang galak itu tertawa, dan suara ketawanya ini merdu sekali sungguh pun bagi Kun Hong tetap saja mengandung sifat yang liar dan kejam.

"Wah, kiranya enci Hui Kauw malah memberi sedekah sapu tangannya kepada pengemis buta ini? Hi-hik, A Man, kau lihat, biar pun buta dan pakaiannya kotor, pengemis ini masih muda dan wajahnya tampan juga, ya? Dan enci Hui Kauw memberikan sapu tangannya kepada pengemis ini. Pemberian sedekah yang aneh, hi-hi-hik!"

Merah wajah Kun Hong, apa lagi ketika mendengar betapa kelima orang pelayan itu pun sama-sama turut tertawa mengejek. Timbul kemarahan dalam hatinya karena dia merasa betapa gadis galak ini bersama pelayan-pelayan penjilat itu menghina dan mentertawai Hui Kauw, dara bersuara bidadari itu. Dengan suara kereng Kun Hong berkata,

"Kalian jangan lancang mulut! Nona itu tidak memberi hadiah sapu tangan padaku. Sapu tangan ini kutemukan di sini, tertinggal oleh nona itu tanpa disengaja. Alangkah jahatnya kalian menyangka yang bukan-bukan dan menjatuhkan fitnah keji kepada seorang gadis yang putih bersih!"
"Heee! Kau membela enci Hui Kauw? Bagus, bagus... memang cocok kau dan ia. A Man, hayo kau dan teman-temanmu mewakili aku memberi hajaran kepada pengemis buta ini, pukul sampai dia minta-minta ampun dan suka mengaku bahwa dia adalah pacar dari enci Hui Kauw!"

Kun Hong mendengar suara langkah seorang di antara para pelayan itu maju dan disusul bentakan suara pelayan ini yang tinggi melengking, "Pengemis buta, hayo kau berlutut mentaati perintah siocia!"

Kun Hong menggeleng kepala, bersandar kepada tongkatnya dan menggumam, "Kalian jahat... aku tidak sudi mencemarkan nama seorang yang tak berdosa..."

"Keparat, hayo lekas berlutut!" Sambaran angin sebuah tongkat mengarah kaki Kun Hong. Pemuda buta itu tidak mengelak.
"Krakk!" tongkat patah menjadi tiga potong.

Pelayan wanita itu menjerit kesakitan, kemudian meloncat mundur dengan muka pucat. Tongkatnya patah sedangkan telapak tangannya merah-merah dan terasa sakit.

Nona galak itu mendengus mengejek. A Man berteriak marah, "Jembel busuk, kau tidak mau berlutut? Kuhancurkan kepalamu!"

Kini pelayan kepala ini yang mengayunkan sebatang tongkat ke arah kepala Kun Hong. Kali ini Kun Hong hanya menggerakkan kepalanya ke samping dan sambaran tongkat itu tidak mengenai sasaran. A Man semakin marah, sampai lima kali tongkatnya menyambar kepala, namun selalu memukul angin!

Kembali nona galak itu mendengus, lalu disusul suaranya penuh kemarahan, "A Man, kau memalukan sekali. Kau yang memiliki dua buah mata tidak mampu mengalahkan seorang yang tak bermata? Percuma saja kau memiliki dua buah mata yang melirik ke sana-sini. Kalau ibu mendengar tentang hal ini, hemmm, kurasa kedua biji matamu akan dicokel ke luar!"

"...ampun, Siocia... biarlah kuhajar pengemis busuk ini."
"Nah, keluarkan ngo-coa-tin (barisan lima ular)," berkata pula si nona galak dengan nada memerintah. "Agaknya jembel buta ini berani masuk mengandalkan kepandaian, hemmm, dia harus mampus."
"Srattttt!" Lima batang pedang tercabut dari sarungnya hampir berbarengan.

Kemudian Kun Hong mendengar langkah-langkah kaki lima orang mengurungnya, gerak langkah yang teratur sekali dan langkah-langkah itu tidak pernah berhenti, terus mengitari dirinya, malah di antara derap langkah ini terdengar suara mendesis.

Kun Hong mengerutkan keningnya. Ia dapat menduga bahwa lima orang pelayan wanita ini mengurungnya dengan pedang di tangan kanan dan agaknya seekor ular di tangan kiri. Dugaannya ini memang benar. Setiap orang pelayan memegang sebatang pedang dan di tangan kiri mereka terdapat seekor ular hijau yang mendesis-desis sedang lidahnya yang kehijauan itu menjilat-jilat ke luar.

Lima batang pedang menyambar cepat dari lima jurusan dan merupakan lima macam serangan yang berbeda-beda. Ada yang menusuk, membacok, membabat, dan lain-lain. Kun Hong terhuyung-huyung lima kali, akan tetapi semua serangan itu mengenai angin belaka.

Akan tetapi pedang itu secara berantai susul-menyusul mengirim serangan cepat, malah kini diselingi serangan dengan ular di tangan kiri yang menyambar ke depan dan gigi-gigi meruncing mengandung bisa itu menggigit-gigit mencari korban! Sementara itu, mereka masih terus melangkah berputar-putar di sekeliling Kun Hong.

Diam-diam pemuda buta ini merasa kagum. Barisan lima orang wanita ini benar-benar kuat dan seorang ahli silat yang belum memiliki kesaktian, kiranya akan roboh binasa biar pun agaknya mampu membalas dan merobohkan dua tiga orang pengeroyok. Gerakan mereka amat teratur dan otomatis sehingga mereka akan merupakan satu orang dengan lima batang pedang dan lima ekor ular!

Kun Hong tahu bahwa terhadap serbuan pedang-pedang itu, dengan mudah dia akan bisa menghindarkan diri, akan tetapi menghadapi lima ekor ular hidup itu amatlah sukar. Ular tidak dapat disamakan dengan pedang, karena ular adalah makhluk hidup yang memiliki gerakan sendiri dan sama sekali tidak menurut cara ilmu silat.

Tentu saja dia tidak mau terancam bahaya. Begitu serangan lima orang pengeroyoknya makin menghebat, dia berseru panjang, tubuhnya lenyap terganti segulungan sinar merah dan... lima orang pengeroyoknya itu riuh rendah menjerit dan berloncatan mundur sambil terbelalak memandang kedua tangan mereka. Yang kanan memegang gagang pedang, yang kiri memegang ekor ular berdarah.

Ternyata pedang-pedang dan kepala-kepala ular sudah putus dan menggeletak di atas tanah di depan kaki mereka!

"Aha, kiranya ada kepandaian juga si buta gila ini. Pantas saja begitu berani memasuki Ching-coa-to. Minggirlah kalian budak-budak tak berguna, biar kuhabiskan nyawa si buta sombong ini. Lihat bagaimana pedangku menembus jantungnya.”

Kun Hong hanya mendengar suara halus, disusul tiupan angin ke arah hatinya. Dia kaget sekali dan cepat mengelak selangkah ke kiri. Cara gadis ini mencabut pedang saja sudah membuktikan bahwa gadis galak ini benar-benar amat lihai, malah serangan pertamanya juga luar biasa cepatnya, hampir sukar ditangkap angin sambarannya.

Kun Hong tidak berani memandang rendah dan dia bersiap mempergunakan tongkatnya yang berisi pedang Ang-hong-kiam. Seperti juga menjadi penyakit watak para ahli silat lainnya, Kun Hong ingin pula mengetahui sampai di mana kepandaian gadis ini dan ilmu silat apakah yang dimainkannya. Oleh karena ini maka dia bersikap mempertahankan diri, terhuyung-huyung ke sana ke mari dalam langkah-langkah ajaib untuk menghindarkan diri dari sambaran pedang lawan yang amat lihai dan cepat.

Dia makin kagum. Gerakan-gerakan gadis ini halus dan lemas, mungkin kelihatan indah pula seperti Ilmu Silat Bidadari yang dimiliki Cui Bi dan juga Loan Ki. Tetapi sebenarnya terdapat perbedaan yang amat jauh karena ilmu pedang yang dimainkan gadis galak ini mengandung unsur-unsur gerakan penyerangan seekor ular yang sangat ganas dan liar. Gerakan berlenggang-lenggok, menggeliat geliat, menyerang secara tiba-tiba dan kadang kala berdiam diri seperti ular melingkar, benar-benar merupakan sifat-sifat seekor ular.

Memang dugaan Kun Hong ini tidak keliru. Gadis itu sesungguhnya mempunyai ilmu silat yang berasal dari ciptaan Si Raja Ular Giam Kin! Ilmu pedangnya sangat ganas, keji dan juga curang sekali sehingga belum pernah dia mengalami kegagalan dalam pertempuran. Akan tetapi kali ini dia bertemu gurunya!

Seperti yang kita ketahui, di samping ilmu kesaktian yang dia terima dari Raja Pedang Tan Beng San, yaitu Ilmu Silat Im-yang-sin-hoat, pada dasarnya Kun Hong mempunyai ilmu silat yang pertama kali dilatihnya, yaitu Kim-tiauw-kun (Ilmu Silat Rajawali Emas). Tentu saja gerakan-gerakan seekor burung rajawali jauh lebih hebat, bahkan mampu mengatasi gerakan seekor ular karena dalam kenyataannya juga selalu seekor ular menjadi ‘mati kutunya’ kalau bertemu dengan seekor burung rajawali.

Kalau Kun Hong menghendaki, kiranya tidak sulit baginya untuk mengalahkan gadis galak ini. Diam-diam dia pun girang karena mendapat kenyataan bahwa biar pun gadis ini juga amat lihai, malah lebih lihai dari pada Loan Ki, namun kiranya tidak selihai gadis bersuara bidadari. Dia girang karena dia menyukai gadis bidadari itu.

Dia mengerti bahwa kalau dia mengalahkan gadis sombong dan galak ini, sudah tentu gadis ini akan menjadi makin sakit hati. Padahal dia adalah seorang tamu tak diundang. Dan apa bila dia membikin malu dan sakit hati, tentu seluruh isi pulau, termasuk gadis bersuara bidadari akan marah dan memusuhinya.

Apa lagi kalau mendengar dari kata-kata gadis ini tadi, agaknya gadis ini masih keluarga dengan gadis yang bernama Hui Kauw, buktinya selain gadis galak itu menyebut ‘enci’, juga gadis ini menyebut ibu kepada nyonya yang oleh para pelayan dipanggil toanio. Hui Kauw juga menyebut ibu kepada nyonya itu, apakah kalau begitu gadis ini masih adik dari Hui Kauw? Sangat boleh jadi. Akan tetapi jika betul adiknya, kenapa mengeluarkan fitnah keji dan malah agaknya gadis ini membenci Hui Kauw?

"Nona, sudahlah. Aku datang ke sini bukan mencari permusuhan, semata-mata karena salah jalan...," Kun Hong mencoba untuk membujuk lawannya.
"Pengemis buta banyak cerewet! Lekas berlutut minta ampun dan mengaku bahwa kau adalah pacar enci Hui Kauw atau... kau mampus di ujung pedangku!" Gadis itu berseru karena ia merasa berada di atas angin.

Memang semenjak tadi Kun Hong hanya mengelak, malah jarang menangkis, tak pernah balas menyerang sama sekali sehingga menurut pikirannya, juga dalam pandangan lima orang pelayan tadi, pemuda buta itu repot menyelamatkan diri dan tidak mampu balas menyerang.

"Keji...! Dara remaja berwatak keji...!" Kun Hong berseru marah dan tiba-tiba sinar pedang merah bergulung-gulung menyelimuti diri gadis galak itu.

Hawa dingin menyambar-nyambar dan terdengar gadis itu beberapa kali menjerit karena merasa betapa hawa pedang dingin menyambar di dekat leher, kepala, dada dan muka, seakan-akan pedang yang tajam mengancam untuk mengulitinya! Ia heran, kaget, takut, dan merasa seram.

Barulah ia mengaku dalam hati bahwa orang buta ini kiranya mempunyai kesaktian yang begini hebatnya. Dia berusaha mempertahankan diri, namun karena tangannya gemetar, gerakannya lemah dan akhirnya dia menyerah saja sambil berloncatan karena ngeri dan takut.

Pada saat itu terdengar suara halus, "Hui Siang moi-moi (adik), kau bertempur dengan siapa dan kenapa bertempur?"

Begitu mendengar suara ini, tiba-tiba Kun Hong melompat jauh ke belakang, cepat-cepat menghentikan gerakannya.

Gadis galak bernama Hui Siang itu kini berdiri dengan muka pucat, badan gemetar dan keringat dingin membasahi tubuhnya. Ngeri hatinya jika membayangkan keadaannya tadi dan ia pun memandang kepada si buta dengan terbelalak. Karena jelas baginya sekarang bahwa orang buta ini benar-benar lihai luar biasa, ia tidak berani lagi bersikap seperti tadi.

"Enci Hui Kauw... jembel buta inilah yang dikabarkan mengacau di pulau kita bersama seorang temannya yang entah ke mana. Dia amat kurang ajar, tadi mengaku bahwa dia adalah pacarmu, malah dia sudah memperlihatkan sehelai sapu tangan sutera, katanya pemberianmu. Tentu saja aku menjadi marah dan lantas menyerangnya, tetapi kiranya dia lihai... pantas dia begitu kurang ajar."

Berubah wajah Kun Hong, berdebar hatinya dan dia menekan perasaannya yang hendak terbakar oleh nafsu amarah. Gadis cilik ini benar-benar luar biasa jahatnya, amat pandai memutar balikkan fakta dan melakukan fitnah keji ke kanan kiri tanpa mengenal malu lagi. Sebelum dia membuka mulut, terdengar suara A Man.

"Betul, nona Hui Kauw, apa yang diucapkan oleh siocia tadi. Si jembel buta ini kurang ajar sekali, menghina Nona dan kalau tidak salah, sapu tangan Nona masih berada di saku bajunya..." Suara A Man ini disusul suara empat orang pelayan lain yang membetulkan omongan ini.

Makin mendidih darah di dalam dada Kun Hong, Hemmm, kiranya para pelayan ini amat menjilat-jilat nona muda yang bernama Hui Siang. Dan mereka ini merupakan sekutu yang diam-diam memusuhi Hui Kauw, si gadis bersuara bidadari. Diam-diam dia merasa amat kasihan kepada nona bidadari yang suaranya sudah menggores kulit dada menembus kalbunya itu.

Tiba-tiba terdengar olehnya desir angin lembut dan tercium ganda harum semerbak yang amat dikenalnya. Diam-diam dia kagum. Nona bidadari itu sekali menggerakkan tubuh telah berada di depannya!

Dia mendengar sambaran tangan diayun ke arah mukanya. Otaknya bekerja cepat. Tentu nona yang bernama Hui Kauw ini marah dan merasa terhina, maka kini mengayun tangan menamparnya. Hal yang wajar. Dia hanya mengerahkan tenaga menjaga tulang muka karena maklum akan kelihaian nona bidadari ini. Sengaja dia tidak menjaga kulit.

"Plakk!"

Kun Hong merasa pipi kirinya panas-panas, telinganya mendengar bunyi mengiang, lalu bibirnya merasa sesuatu yang asin, tentu darah yang keluar dari luka di belakang pipi dan mengalir keluar dari mulutnya, merembet ke pinggir bibir. Dia tersenyum, sama sekali tak merasa sakit hati atau marah karena dia yakin benar bahwa nona itu memukulnya karena merasa terhina. Penghinaan yang paling berat dan paling besar bagi seorang gadis.

Kun Hong mendengar betapa gadis itu melangkah mundur empat langkah, lalu terdengar suaranya marah dan menyesal, namun bagi Kun Hong tetap saja mengandung getaran halus yang mencerminkan budi luhur.

"Orang buta, Thian (Tuhan) sudah menciptakan kau menjadi buta. Bukankah itu cukup untuk mengingatkan kau bahwa orang tidak boleh berbuat dosa? Masih kurang beratkah hukuman yang jatuh kepada dirimu itu sehingga kau tidak segan-segan untuk menambah dosa-dosamu dengan mengucapkan penghinaan terhadap diriku? Apa salahku kepadamu dan mengapa pula kau yang baru sekali ini berjumpa denganku datang-datang melakukan fitnah keji? Kau memiliki kepandaian, biar buta tentu bukan seorang bodoh, jawablah!"

Tiba-tiba saja Kun Hong tertawa, tertawa bergelak-gelak saking senangnya. Ucapan nona bidadari itu betul-betul membuka hatinya untuk menjadi gembira karena dia merasa amat berbahagia dapat bertemu dengan orang seperti nona bidadari ini. Dugaannya tak salah, tidak keliru pula dia menjadi seperti tergila-gila. Memang sesungguhnya nona ini seorang bidadari yang menjelma di permukaan bumi.

Bukan main indah dan bersihnya ucapan itu. Kun Hong mendongak ke atas dan tertawa terbahak-bahak, hal yang baru kali ini dia rasakan dan lakukan semenjak dia menjadi buta. Kemudian dia ingat bahwa mungkin sekali sikapnya ini menambah perih hati nona bidadari itu, maka dia segera menahan diri menghentikan tawanya, lalu menjura ke depan mengangkat kedua tangan ke arah dada sebagai penghormatan seorang terpelajar, lalu katanya,

"Nona, maafkan kelakuanku tadi, Ucapanmu benar-benar menggugah kegembiraan hatiku dan menyadarkanku bahwa di dunia ternyata masih ada seorang yang bijaksana seperti Nona. Tamparanmu kuterima dengan senang hati, Nona, karena sesungguhnya, fitnah keji itu jauh lebih menyakitkan hatimu dari pada rasa nyeri pada mukaku. Kemarahanmu tidak berlebihan, malah andai kata betul fitnah keji tadi, aku rela dan patut dihukum mati." Kun Hong lalu tersenyum dan menyambung, "Tentu Nona tahu akan pendapat para arif bijaksana jaman dahulu bahwa khianat dan fitnah hanya datang dari orang-orang yang dekat. Aku sama sekali tidak mengenal Nona, bagaimana dapat melakukan fitnah?"

Agaknya ucapan ini berpengaruh besar, mengingatkan Hui Kauw akan kelancangannya menjatuhkan marah terhadap seorang asing tanpa menyelidik terlebih dahulu. Dia segera berkata kepada nona galak tadi, suaranya mengandung sesalan besar.

"Adik Hui Siang, kulihat sahabat buta ini bicara keluar dari hati tulus, bagaimana mungkin dia mengeluarkan fitnah keji seperti yang kau nyatakan tadi?"
"Enci Hui Kauw, kau malah membela dia? Uhh, benar-benar aneh apa bila kau malah membenarkan dia menyalahkan aku. Itu buktinya, dia membawa sapu tanganmu, dari mana dia dapatkan itu?" Kata-kata ini mengandung sindiran tajam, seakan-akan gadis cilik yang galak itu berbalik menyerang Hui Kauw dengan tuduhan yang bukan-bukan.

Wajah Hui Kauw merah, akan tetapi dengan tenang dia menjawab, "Tadi aku berlatih seorang diri di sini dan sapu tangan itu kugunakan untuk menghapus keringat, kemudian aku pergi dan sapu tangan itu tertinggal di sini. Boleh jadi dia lalu datang dan menemukan sapu tanganku di atas meja, apanya yang aneh dalam hal ini?"

"Tentu saja aneh. Aneh sekali! Bukankah aneh kalau kukatakan kepadamu bahwa tadi aku melihat dia menciumi sapu tanganmu sambil menangis? Hi-hik, bukankah amat aneh kelakuannya itu, Enci yang baik? Dia mengaku pacarmu, dan melihat sapu tangan itu... diciuminya... hemmm, hampir tadi aku percaya akan pengakuannya."
"Bohong! Bocah bermulut keji, kau bohong mengeluarkan ucapan fitnah kepada enci-mu sendiri. Kiranya kau perlu dihajar oleh orang tuamu!" Kun Hong berteriak marah.
"Jembel buta, berani kau kurang ajar kepadaku?" Hui Siang menyerbu, lantas memukul kepala Kun Hong.

Akan tetapi hanya dengan gerakan mudah saja Kun Hong membuat pukulan itu mengenai angin. Beberapa kali Hui Siang memukul, namun tak pernah mengenai sasaran.

"Hui Siang, jangan sembarangan menerjang orang tanpa diketahui dosanya lebih dahulu. Aku sudah lancang tangan tadi, jangan kau memperbesar keonaran!" kata Hui Kauw yang melihat penuh kekagetan betapa gerakan pemuda buta itu aneh dan luar biasa sekali. 

Diam-diam ia pun terheran-heran mengapa tadi ketika ia yang menampar, sekali tampar saja mengenai pipi si buta dan malah sampai ada darah mengalir dari bibir orang buta itu. Tetapi sekarang Hui Siang yang menyerang dengan sungguh-sungguh, dengan pukulan yang akan dapat menewaskan orang itu, dengan amat mudahnya dielakkan oleh si buta!

Hui Siang membanting-banting kakinya dengan gemas dan mendongkol. "Lagi-lagi kau membelanya, enci Hui Kauw. Bagus! Hal ini harus kulaporkan kepada ibu, biar ibu datang mengadili perkara ini dan membunuh mampus jembel buta busuk yang kurang ajar ini. A Man, hayo semua ikut aku melapor kepada ibu, kalian berlima menjadi saksi!"

Maka pergilah gadis galak itu diikuti oleh lima orang pelayan yang terhadap gadis ini amat penurut dan takut, malah sikap mereka amat menjilat-jilat. Kun Hong mendengar langkah mereka cepat-cepat pergi meninggalkan tempat itu, dan dia hanya menundukkan kepala, gelisah memikirkan nona bidadari yang masih berdiri di depannya tanpa bergerak seperti patung.

Hening sejenak. Nona itu tidak bergerak, juga tidak bicara, demikian pula dengan Kun Hong. Terdengar oleh pemuda ini betapa nona itu beberapa kali menarik napas panjang, tetapi dia sama sekali tidak tahu betapa nona itu menatap wajahnya dan memandangnya penuh perhatian dan penuh selidik, mulai dari kepala sampai ke pakaiannya yang kotor berlumpur serta sepatunya yang sudah bolong-bolong.

Helaan napas panjang itu terdengar menusuk perasaan Kun Hong. Seakan-akan nona ini berduka dan kedukaan itu timbul karena dia, karena perbuatannya tanpa dia sadari tadi. Mengapa dia tadi begitu bodoh sehingga tidak mendengar kedatangan Hui Siang, gadis galak itu? Kenapa dia begitu lemah, menurutkan getaran hati sehingga dia berlaku seperti orang gila, menangis dan menciumi sapu tangan seorang nona yang asing baginya?

Dengan hati berdebar dia merogoh saku, mengeluarkan sapu tangan sutera yang harum itu, lalu melangkah setindak ke depan dan dengan tangan gemetar dia mengangsurkan sapu tangan itu kepada pemiliknya sambil berkata lirih,
"Ini sapu tanganmu, Nona... maafkan aku... telah menimbulkan hal tidak enak bagimu..."

Hui Kauw menerima sapu tangan itu tanpa berkata apa-apa, menyimpannya dan kembali dia menghela napas. Kemudian terdengar dia berkata, lirih dan seperti bicara kepada diri sendiri, "Malang tak boleh ditolak, mujur tak boleh diraih. Hidup memang derita, banyak duka dari pada suka, sepanjang hidup pahit dan hampa, manis suka hanya sekejap mata.”

Kun Hong tetap tunduk. Kerut merut di antara matanya amat dalam, membuat ia nampak lebih tua. Hatinya seperti ditusuk-tusuk jarum rasanya. Dia seakan-akan dapat merasakan derita batin yang ditanggung nona muda ini.

Semuda itu, sedemikian nelangsanya. Ingin dia menghibur, ingin dia menyanjung, namun tak kuasa membuka mulut. Untuk menghalau tindihan berat pada perasaannya, Kun Hong mengeluarkan suara keluhan dibarengi helaan napas berat dan panjang.

Agaknya suara ini menyadarkan Hui Kauw. "Sahabat buta, pulau ini adalah tempat yang terlarang bagi orang luar untuk masuk tanpa seijin ibu. Kenapa kau masuk ke sini dan membuat keributan? Apa kehendakmu sebetulnya?"

Kun Hong dapat menangkap perasaan di balik kata-kata ini yang merupakan teguran dan penyesalan karena perbuatan itu hanya akan menimbulkan kesulitan bagi dirinya sendiri. Nona yang bersuara dan berwatak bidadari ini tidak menaruh sesal bahwa perbuatannya itu akan menjerumuskan si nona dalam kesulitan. Kembali dia menarik napas dan menjadi makin kagum.

"Sesungguhnya, tiada seujung rambut pun maksud hatiku membuat keonaran, Nona. Aku dan nona Loan Ki berani mengunjungi pulau ini dengan maksud untuk minta maaf kepada penghuni Pulau Ching-coa-to ini atas kelancangan dan kenakalan nona Loan Ki yang telah merampas makanan dan minuman. Siapa kira perbuatan ini malah akan berakibat panjang..."

Dengan singkat dia lalu menuturkan tentang kenakalan Loan Ki mencuri makanan, juga penyerangan koki dan jagal, lalu keputusan mereka untuk datang ke pulau minta maaf. Memang inilah sebetulnya isi hatinya dan tentu saja dia tidak menceritakan maksud hati si nakal Loan Ki yang ingin melihat nenek koki itu ditenggelamkan ke dalam air dan si jagal dipukuli kepalanya!

Mendengar penuturan ini, Hui Kauw tersenyum, lalu menghela napas.

"Alangkah senangnya dapat hidup bebas merdeka seperti nona cilik itu! Juga alangkah gembiranya sekali waktu dapat menurutkan dorongan darah muda yang selalu penuh oleh petualangan, dapat meliar dan melakukan yang tidak berlebihan. Apamukah nona Loan Ki itu?"
"Bukan apa-apa, hanya bertemu di perjalanan. Kami baru sehari dua berkenalan, dan dia adalah seorang gadis berjiwa pendekar."
"Ahh, baru bertemu sudah menaruh belas kasihan bagi seorang buta, suka mencarikan makanan walau pun dengan jalan merampas. Ia seorang anak yang liar dan nakal, akan tetapi berdasarkan pribudi yang mengandung welas asih. Ia tentu bukan orang jahat."

Kembali Kun Hong menjadi kagum mendengar ini. Bukan main! Suaranya sehalus suara bidadari, ucapan-ucapannya bijaksana laksana seorang ahli filsafat. Rasa kekagumannya membuat dia lancang berkata, "Kau bijaksana dan berbudi mulia, Nona. Alangkah jauh bedanya dengan adikmu, seperti bumi dan langit..."

Hui Kauw tersenyum, ini dapat dirasai oleh Kun Hong, akan tetapi dia tidak dapat melihat betapa senyum itu adalah senyum yang pahit. "Tentu saja jauh bedanya seperti bumi dan langit. Adikku Hui Siang adalah seorang dara yang luar biasa cantik jelitanya, sedangkan aku... aku seorang buruk rupa..."

"Nona, meski pun aku seorang buta, kau tidak mungkin dapat mengelabui aku. Kau seribu kali lebih cantik jelita dari pada adikmu..." Kembali ucapan ini terlontar keluar dari bibirnya tanpa pengendalian, akan tetapi setelah sadar Kun Hong tidak menyesal karena memang ingin dia memuji nona ini.

"Pandangan seorang buta... ah, andai kata kedua matamu bisa melihat, mungkin berbeda ucapanmu... ahhh, alangkah besar inginku melihat engkau tidak buta untuk sebentar saja sehingga aku dapat mendengarkan pendapatmu lagi..." Nona itu menarik napas panjang lagi dan kali ini Kun Hong mendengarkan penyesalan dan kekecewaan yang besar.

"Sahabat buta, siapakah namamu?"
"Aku Kwa Kun Hong, nama yang tidak ada artinya bagi seorang seperti Nona."
"Hemmm, kau pandai merendah. Kulihat tadi ilmu kepandaianmu amat tinggi, aku sendiri belum tentu dapat melawanmu. Heran aku bagaimana seorang seperti kau ini bisa buta... dan adikku tadi bilang bahwa ia melihat kau... eh, menangis dan menciumi sapu tanganku. Betulkah itu?"

Jantung Kun Hong berdebar. Bagaimana dia harus menjawab? Dia tidak akan keberatan untuk berbohong kalau saja itu tidak akan merugikan siapa pun juga. Akan tetapi kalau kali ini dia membohong, berarti dia seolah-olah melontarkan fitnah kepada Hui Siang gadis galak itu. Dengan muka berubah merah dia mengangguk tanpa menjawab. Hening lagi sejenak.

"Kalau begitu... ucapan adikku tadi benar semua, bahwa... bahwa kau mengatakan aku ini pacarmu?"
"Tidak...! Sungguh mati dan demi Tuhan tidak! Memang aku tadi lupa diri... dengarkanlah baik-baik Nona. Tadi aku telah berada di sini ketika kau bercakap-cakap dengan ibumu, aku mendengarnya semua. Aku mendengar pula kau berlatih ilmu pedang, dan aku juga mendengar kau bersajak. Aku kagum sekali, aku kasihan kepadamu. Lalu kau pergi... dan seperti dalam mimpi aku melangkah ke sini, menemukan sapu tangan itu di atas meja... dan aku... ahhh, mungkin aku sudah gila... aku teringat akan seorang yang telah tiada di dunia ini, aku terharu... dan mungkin aku menangis sambil menciumi sapu tangan itu. Kau maafkan aku, Nona, dan semoga Thian menghukumku kalau aku mengandung maksud tidak senonoh terhadap dirimu, maafkan aku."

Hening lagi sejenak. "Lagi-lagi korban hidup, dalam hal ini agaknya... asmara yang telah menyeretmu. Kau seorang terpelajar pandai yang berilmu tinggi, sampai menjadi begini tentu akibat penderitaan batin. Hemmm, saudara Kwa, silahkan duduk."

"Terima kasih, Nona. Tak berani aku mengganggu lebih lama lagi dan kalau kau suka aku mohon pertolonganmu supaya sahabatku Loan Ki itu dapat terbebas dari pada bahaya. Aku masih belum tahu bagaimana keadaan dan nasibnya."

Pada saat itu terdengar suara gaduh dan banyak orang memasuki taman itu. Kun Hong memiringkan kepala dan tahulah dia bahwa orang-orang yang memasuki taman kali ini bukanlah para pelayan, melainkan orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring yang membuat Kun Hong menjadi kaget, girang dan juga heran karena suara itu adalah suara Loan Ki yang datang-datang menegurnya,

"Heii, Hong-ko! Benarkah kata orang bahwa kau berpacaran dengan nona muka hitam ini? Kau benar-benar mata keranjang tapi kali ini kau salah pilih!"

Terdengar suara ketawa geli menyambut teguran Loan Ki kini. Agaknya yang membuat orang tertawa adalah sebutan mata keranjang, sebutan yang lucu dan aneh bagi seorang yang tidak bermata!

Akan tetapi Kun Hong sama sekali tidak memperhatikan atau mempedulikan ini karena hatinya diliputi keheranan bagaimana Loan Ki bisa datang bersama-sama orang-orang itu dan siapa adanya mereka? Tentu saja dia sama sekali tidak tahu bahwa kedatangan Loan Ki tidak sewajarnya karena gadis ini kedua tangannya ditelikung ke belakang dan diikat dengan sehelai tali panjang yang dipegangi ujungnya oleh seorang laki-laki tinggi besar muka hitam yang tertawa-tawa.

Pembaca tentu heran pula bagaimana Loan Ki si dara lincah itu bisa tiba-tiba muncul dan menjadi tawanan? Baiklah kita mengikuti pengalamannya dan sebelum itu lebih baik kita berkenalan terlebih dahulu dengan penghuni Pulau Ching-coa-to dan para tamunya yang sekarang menggiring Loan Ki memasuki taman.

Selanjutnya baca
PENDEKAR BUTA : JILID-04
LihatTutupKomentar