Kisah Si Pedang Terbang Jilid 01


Sungainya bagaikan pita sutera biru,
Gunungnya laksana tusuk sanggul kemala!

Demikianlah pujian yang ditulis dalam dua baris atau sebait sajak oleh Han Ji (768 824), seorang di antara para pujangga besar di jaman Dinasti Tang (618-907) itu. Sebait sajak yang amat sederhana, namun jelas menggambarkan keindahan alam dari lembah Sungai Li yang dilihat dari puncak Gunung Teratai Biru.

Kebesaran alam dengan segala keindahannya memang terbentang luas di sekitar Kuilin, Propinsi Kuangsi itu. Dan Sungai Li merupakan penunjang kuat untuk segala keindahan ini, juga kesuburan tanahnya dan kemakmuran rakyatnya.

Sungai Li ini dikenal pula dengan sebutan Sungai Kui atau Sungai Haijang, sebagai sungai yang bermata air dari Gunung Haijang. Gunung Haijang berdiri tegak menjulang di antara dua propinsi, yaitu di perbatasan Propinsi Kuangsi dengan Propinsi Hunan. Dari gunung ini mengalir dua batang sungai, yaitu Sungai Li yang mengalir masuk ke daerah Propinsi Kuangsi, sedangkan yang mengalir ke daerah Hunan adalah Sungai Siang.

Dari daerah Kuilin sampai ke daerah Yangsuo terbentang keindahan alam yang tidak ada habis-habisnya, yang satu lebih menarik dan lebih indah dari pada yang lain. Akan tetapi, seperti banyak ditulis para penyair dan dilukis oleh para pelukis, yang terindah di antara semuanya adalah pemandangan alam di Yangsuo.

Di daerah ini Gunung Teratai Biru mencakar langit, sering kali puncaknya terselimut kabut tipis, nampak seperti wajah jelita seorang puteri mengintai dari balik tirai putih yang tipis. Indah bukan main! Dari jauh gunung ini nampak seperti bentuk sekuntum bunga teratai yang menguncup, segar dan indah kebiruan.

Pada kaki gunung ini terdapat dusun-dusun yang tenang dan tenteram, dihuni para petani merangkap nelayan yang hidupnya tidak pernah kekurangan karena tanah di sana subur dan Sungai Li mengandung banyak ikan. Dan di lereng gunung itu, terpencil sunyi namun penuh kedamaian, berdiri sebuah kuil tua yang amat indah.

Itulah Kuil Cian yang seolah menjadi lambang ketenteraman, mengamati kehidupan rakyat pedusunan yang berada di bawah. Dari kuil ini kita dapat menikmati tamasya alam yang keindahannya selalu berubah-ubah dari pagi sampai senja. Bahkan di waktu malam, kalau bulan muncul bersih tidak terhalang awan, pemandangan di situ amat mempesonakan.

Kota Yangsuo seolah menjadi pusat dari semua keindahan itu, bagaikan sekuntum bunga teratai biru, dikitari berlapis-Iapis pegunungan yang hijau zamrud, seperti setangkai bunga yang terllndung dalam pelukan daun-daun bunga .

Di daerah itu kedua tepi Sungai Li terapit oleh pegunungan. Kalau kita menyusur ke hilir sungai, maka dari Gunung Teratai Biru akan nampak Gunung Pelayan Pelajar. Gunung ini memperoleh namanya dari bentuknya yang seperti seorang pelayan pelajar, tenang, diam dan patuh, duduk tegak lurus membantu si pelajar mendeklamasikan sajak-sajak buatan majikannya. Dari sisi lain dia nampak seperti sedang membungkuk, siap menerima tugas dari sang pelajar.

Di antara puncak-puncak pegunungan itu, yang terkenal adalah Puncak Singa Kembar di Gunung Besi. Memang puncak itu terlihat mirip sekali sepasang singa yang sedang duduk dengan tenangnya, nampak gagah dan jinak, tidak membayangkan keganasan.

Air Sungai Li amat jernih karena belum melalui kota-kota besar di mana penduduknya tak segan-segan mengotorinya. Airnya jernih sehingga tembus pandang sampai ke dasarnya yang terbentuk dari batu-batu cadas. Di kanan kiri sungai tampak pegunungan, jurang dan palung-palung buatan alam.

Ada dongeng rakyat setempat bahwa di sana pernah terjadi peristiwa hebat, yaitu ketika Sembilan Naga berlomba menyeberangi sungai! Dongeng ini timbul karena adanya garis-garis timbul yang berliku-liku di dasar sungai, sehingga nampak seolah ada sembilan ekor naga berlomba melintasi sungai.

Tidak jauh di sebelah depan nampak di kejauhan dua pegunungan yang berhadapan dan nampak seperti dua pasukan saling berhadapan dengan seragam putih dan merah. Itulah Pegunungan Tebing Putih dan Pegunungan Tebing Merah. Pemandangan pegunungan yang kehijauan bertahtakan tebing-tebing putih dan merah !

Maju sedikit Iagi, di daerah Singping di tepi Sungai Li, terdapat Pegunungan Lima Puncak dan Gunung Lukisan. Keindahan di daerah ini menggerakkan hati banyak penyair untuk datang berkunjung kemudian menuliskan pujian hati mereka lewat sajak-sajak indah, juga tiada habisnya para pelukis kenamaan mencoba untuk menggoreskan suara hati mereka mengutip semua keindahan itu.

Di daerah itu terdapat pula dongeng rakyat bahwa demikian indahnya pemandangan alam di situ sehingga seorang dewa pun tergerak hatinya, dan pada suatu hari sang dewa itu duduk di atas sepetak rumput menikmati keindahan sambil minum arak, lalu bersajaklah sang dewa itu. Hal ini sudah terjadi ribuan tahun yang silam (sajak dari abad ke dua belas sebelum Masehi).

Senja menjelang tiba
embun mulai menyelimuti rumput
penuhilah lagi cawan cakrawala
sebelum malam menghapus semua keindahan ini!
Sepanjang malam kabut menutupi
semua keindahan menakjubkan ini
namun itu pun takkan lama
kabut akan mengering, malam akan berakhir!

Hampir semua penyair di jaman itu, yaitu dalam dinasti Tang (618-907) pernah berkunjung kemudian mengagumi keindahan pemandangan alam di sepanjang Sungai Li, terutama di daerah Kuangsi ini. Di antara mereka adalah para penyair besar seperti Han Ji, Liu Cung Yuen, Huang Ting Ciang, Ji Fu, Fan Ceng Ta, Wang Wei dan terutama sekali Li Tai Po, Tu Fu dan masih banyak lagi.

Kabarnya Li Tai Po sendiri pada suatu malam terang bulan purnama pernah naik perahu seorang diri di Sungai Li. Sambil minum arak penyair ini menggambarkan pengalamannya dengan bersajak. Sajaknya itu sangat terkenal, terutama di daerah yang dialiri Sungai Li. Seperti kebanyakan sajaknya, penyair besar ini lebih suka menulis tentang perasaan dan kehidupan manusia melalui dirinya sendiri dari pada sekedar memuji keindahan alam.

Dengan cawan anggur di tangan dikelilingi bunga,
aku minum sendiri tanpa seorang pun menemaniku.
Kuangkat cawan anggurku kepada bulan
kuminta bulan mendatangkan bayanganku
dan membuat kami menjadi bertiga.
Namun bulan tidak dapat minum
dan bayanganku tertinggal. hampa;
betapa pun mereka adalah kawan-kawanku
menamaniku sepanjang musim semi
Aku bernyanyi. Bulan tersenyum padaku.
Aku berjoget.
Bayanganku mendampingiku.
Kutahu, kami adalah sahabat-sahabat baik,
ketika aku mabok, kami saling kehilangan.
Dapatkah kemauan baik bertahan?
Kutatap jalan panjang Sungai Bintang-bintang!

Pada kaki Bukit Ayam Emas yang termasuk daerah Yuangsuo, terdapat beberapa buah dusun yang bertebaran di sekitar bukit itu. Di antaranya adalah dusun Libun yang terletak di tepi Sungai Li. Dusun ini hanya berpenduduk sekitar lima puluh keluarga saja, agak jauh dari dusun lain, paling dekat sepuluh li dari dusun lain dan nampak tenang tenteram.

Para penghuni dusun bekerja sebagai petani dan juga nelayan, dan di tepi sungai nampak tertambat banyak perahu dan rakit yang terbuat dari bambu. Mereka yang keadaannya agak mampu mempunyai sebuah perahu, yang lebih sederhana cukup dengan rakit yang mereka buat sendiri dari bambu. Pada umumnya penghuni dusun Libun merasa cukup.

Memang sesungguhnya kaya atau miskin tidak bisa diukur dari isi saku atau harta milik. Betapa pun besar dan banyak harta yang dimiliki seseorang, apa bila dia masih merasa kurang atau belum cukup, sama saja artinya dengan seorang yang miskin dan dia tidak akan dapat menikmati apa yang sudah dimilikinya. Sebaliknya, biar pun seseorang hidup sederhana, tetapi kalau dia sudah merasa cukup, sama saja halnya dengan seorang kaya raya dan dia dapat menikmati apa yang telah dimilikinya. Jadi letak ukurannya bukan di saku atau di gudang harta, melainkan di dalam hatinya.

Demikian pula dengan para penduduk dusun Libun. Karena mereka tinggal di dusun yang sederhana, maka kebutuhan hidup mereka pun tidak banyak, cukuplah sekedar sandang, pangan dan papan yang sederhana. Mereka tidak menghadapi banyak godaan seperti di dalam kota, di mana terdapat toko-toko yang menjual barang-barang mewah dan indah, rumah-rumah makan dengan masakan mahal, rumah-rumah indah dan tontonan-tontonan yang kesemuanya itu membutuhkan uang banyak sehingga tentu saja kehidupan di kota akan mendatangkan banyak keinginan dan kebutuhan.

Berbahagialah manusia yang dapat menikmati apa yang ada, bersyukur atas apa yang dimilikinya. Akan tetapi, selama kita masih dicengkeram nafsu, kita takkan pernah dapat menikmati apa yang kita miliki sebab kita selalu menjangkau yang belum kita miliki, yang kita anggap akan lebih indah dari pada apa yang telah kita miliki. Sifat nafsu adalah selalu mencari yang lebih dan hanya sejenak saja menikmati apa yang kita dapatkan, lalu terganti kebosanan karena kita sudah mengejar yang kita anggap lebih menyenangkan lagi.

Untuk dapat menjadi manusia berbahagia seperti itu, satu-satunya jalan keluar hanyalah dengan penyerahan kepada Tuhan Yang Maha Kasih. Jika kita menyerahkan diri kepada Tuhan maka kita tidak akan mengeluh dan selalu akan bersyukur kepada Tuhan, dalam keadaan apa pun kita berada.

Kalau segala peristiwa kita sambut sebagai sesuatu yang sudah dikehendaki Tuhan, kita takkan mengeluh lagi, karena kita yakin bahwa semua kehendak Tuhan pasti terjadi, dan apa pun yang ditimpakan kepada kita pasti memillki hikmah karena Tuhan mengetahui apa yang terbaik untuk kita.

Kewajiban kita di dalam hidup ini hanyalah mempergunakan atau memanfaatkan semua anggota tubuh ini, termasuk hati akal pikiran kita untuk kesejahteraan hidup ini, mulai diri pribadi hingga lingkungan yang makin meluas, keluarga masyarakat, bangsa, dan seluruh manusia.

Semua usaha itu didasari penyerahan dan keyakinan bahwa semua hasil usaha kita, baik yang bagi kita menyenangkan mau pun menyusahkan, semua terjadi atas kehendak dan bimbingan Tuhan. Karena itu, hanya puji syukurlah yang keluar dari hati serta mulut kita kepada Tuhan Maha Pengasih.

Pagi itu amat cerah. Sinar matahari pagi seolah-olah menggugah semua yang terlelap di malam yang baru lewat, memberi kehidupan kepada setiap tumbuh-tumbuhan, besar mau pun kecil, memberi kehidupan kepada semua makhluk, merupakan satu di antara berkah Tuhan yang berlimpahan kepada ciptaanNya, alam beserta segenap isinya.

Permukaan Sungai Li sangat tenang dan jernih. Air itu selalu jernih, kecuali apa bila hujan turun membawa banyak tanah dan daun kering mengotori air sungai. Pada pagi hari yang cerah itu, air sungai nampak jernih seperti kaca dan matahari pagi membuat garis-garis perak pada permukaannya.

Sebuah rakit kecil yang hanya terbuat dari beberapa batang bambu, meluncur perlahan menyeberang sungai. Rakit itu membawa seorang anak laki-laki yang dengan gerakan kuat karena sudah terbiasa, mendorong rakit meluncur dengan sebatang dayung. Setelah tiba di seberang, anak laki-laki itu menempelkan rakitnya di tepi sungai, lalu meloncat ke darat dan mengikatkan tali rakitnya pada sebatang pohon bambu yang besar.

Tepian sungai di mana dia mendarat itu memang merupakan sebuah kebun bambu yang lebat, di mana terdapat banyak sekali rumpun bambu yang bermacam-macam bentuknya. Dia pun meninggalkan rakitnya, memasuki hutan bambu sambil membawa sebuah golok dalam sarung kulit yang dia selipkan pada pinggangnya.

Anak itu berpakaian sederhana, seperti pakaian anak-anak dusun di daerah itu, bercelana tanggung sampai ke bawah lutut, sepatunya dari kulit kasar, bajunya berlengan pendek, berwarna hitam seperti yang biasa dipakai semua anak di sana karena warna hitam ini awet tidak cepat kotor.

Biar pun pakaiannya sederhana tak berbeda dengan pakaian anak-anak lain di dusun itu, namun wajahnya memiliki sesuatu yang tidak biasa didapatkan pada wajah anak-anak di situ. Wajahnya sangat tampan, dengan kulit yang bersih dan segar kemerahan. Wajah itu berbentuk keras, memperlihatkan kejantanan pada rahang dan dagunya, namun matanya lebar dan bersinar tajam, hidungnya dan mulutnya mengandung wibawa hingga membuat dia nampak anggun. Rambut yang hitam dan subur itu dipotong pendek.

Tubuhnya tinggi tegap, melebihi bentuk tubuh anak-anak yang berusia tujuh tahun, namun wajah dan tubuh yang membayangkan kegagahan itu diperlembut oleh senyumnya yang selalu menghias mulut dan matanya.

Apa bila orang mengetahui latar belakang yang amat mengejutkan dari anak laki-laki itu, maka tidaklah terlalu mengherankan kalau melihat anak laki-laki yang demlkian tampan dan gagah walau pun berpakaian seperti anak dusun.

Ibu kandungnya adalah puteri seorang Menteri Utama Kerajaan Tang, sedangkan ayah kandungnya bahkan pernah menjadi kaisar, biar pun hanya untuk waktu selama sembilan tahun! Ibunya bernama Yang Kui Bi, puteri mendiang Yang Kok Tiong, Menteri Utama Kerajaan Tang ketika dipimpin Kaisar Hsuan Tsung (Beng Ong, 712-755). Ada pun ayah kandungnya adalah Sia Su Beng, yaitu seorang panglima dari pasukan yang dipimpin oleh pemberontak An Lu Shan.

Seperti dapat diketahui dalam catatan sejarah, pada tahun 755 An Lu Shan memberontak dan berhasil merebut tahta kerajaan dari tangan Kaisar Hsuan Tsung yang melarikan diri ke Se-cuan. An Lu Shan yang mengangkat diri menjadi kaisar kemudian saling berebut kekuasaan dengan puteranya sendiri yang bernama An Kong dan akhirnya An Lu Shan dibunuh oleh puteranya sendiri.

Dalam keadaan yang kacau itu, Sia Su Beng dibantu oleh kekasihnya, yaitu Yang Kui Bi, berhasil menyingkirkan An Kong kemudian Sia Su Beng mengangkat diri menjadi kaisar Kerajaan Tang! Tetapi Kaisar Hsuan Tsung yang lari ke barat lalu menghimpun kekuatan, kemudian dilanjutkan oleh penggantinya, yaitu puteranya yang kemudian menjadi Kaisar Su Tsung, dan pasukan gabungan dari barat itu menyerbu untuk merebut tahta kerajaan yang kini telah berada di tangan Sia Su Beng.

Perang itu berlangsung selama sembilan tahun. Sementara itu, Sia Su Beng yang sudah menjadi kaisar lalu menikah dengan kekasihnya, Yang Kui Bi, kemudian mereka memiliki seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Sia Han Lin. Akhirnya, ketika Sia Han Lin berusia lima tahun, pasukan Tang yang menyerbu dari barat itu berhasil merebut kota raja Tiang-an, dan dalam pertempuran yang hebat itu, Sia Su Beng dan isterinya, Yang Kui Bi, bertempur sampai tewas.

Akan tetapi, sebelum mereka maju bertempur, lebih dahulu mereka menyerahkan putera mereka kepada seorang pengasuh, yaitu seorang wanita setengah baya yang setia, yang sudah menjadi pengasuh Sia Han Lin sejak bayi. Mereka minta kepada wanita itu untuk membawa lari Sia Han Lin mengungsi keluar dari kota raja bersama rakyat.

Demikianlah, bocah laki-laki berusia tujuh tahun itu adalah Sia Han Lin, putera dari suami isteri mendiang Sia Su Beng dan Yang Kui Bi, pasangan suami isteri berdarah bangsawan yang tewas gugur dalam perang ketika usia mereka masih muda.

Sebetulnya mereka adalah suami isteri yang memiliki ilmu silat tinggi dan gagah perkasa. Sayang bahwa ambisi yang berlebihan, pengejaran kekuasaan, membuat mereka tewas dalam pertempuran.

Wanita yang menjadi pelayan pengasuh keluarga Sia Su Beng itu bernama Liu Ma. Dia adalah seorang janda yang telah menjadi pelayan pengasuh sejak Han Lin dilahirkan, dan dia amat setia dan amat sayang kepada Han Lin karena janda ini sendiri tidak mempunyai anak. Kini dia berusia empat puluh tujuh tahun.

Dua tahun yang lalu, ketika dia menerima tugas yang berat, dia segera membawa Han Lin yang ketika itu berusia lima tahun, melarikan diri mengungsi ke luar kota raja. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa anak laki-laki yang mengenakan pakaian biasa dan ditarik-tarik tangannya oleh Liu Ma, berbaur dengan para pengungsi itu adalah putera Sia Su Beng yang menjadi kaisar!

Liu Ma harus pandai-pandai membujuk karena Han Lin selalu rewel dan tadinya berkeras tidak mau meninggalkan ayah ibunya. Tapi dia sudah cukup besar untuk mengerti bahwa kota raja diserbu musuh dan dia terancam bahaya maut kalau tidak mau diajak melarikan diri.

"Akan tetapi ayah dan ibu tidak pergi!" Dia membantah ketika ditarik-tarik Liu Ma keluar dari kota raja.
"Ayah ibumu tidak takut karena mereka berjuang, mereka melawan musuh," kata Liu Ma yang terpaksa harus menggunakan kalimat biasa, tidak seperti biasa ketika dia bersikap sebagai seorang pelayan terhadap seorang pangeran! Sekarang dia harus memperlakukan Han Lin seperti anak biasa, dan mengakuinya sebagai anaknya. Itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan anak yang dikasihinya itu.

"Aku pun tidak takut!" kata Han Lin, berusaha melepaskan pegangan tangan Liu Ma pada pergelangan tangannya. "Aku pun ingin membantu ayah dan ibu melawan musuh!"
"Sssttt…!" Liu Ma memondong anak itu sambil mendekap mulutnya, lalu berbisik di dekat telinganya,
"Pangeran, lupakah paduka akan pesan Sribaginda dan Permaisuri? Paduka harus patuh kepada hamba dan jangan menentang, ini semua merupakan perintah beliau yang tidak boleh kita bantah. Ingatkah paduka?"

Mendengar ini Han Lin menangis di atas pundak Liu Ma. Memang sejak kecil dia sangat dekat dengan pengasuhnya ini dan sekarang, diingatkan perintah dan pesan terakhir ayah ibunya, dia pun merasa sedih kemudian menangis.

"Liu Ma, mengapa ayah dan ibu menyuruh aku pergi...? Kenapa aku harus berpisah dari mereka?" isaknya.
"Stttt..., pesan mereka sudah jelas, bukan? Mulai saat ini kita harus merahasiakan bahwa paduka adalah seorang pangeran. Mulai sekarang Paduka harus mengaku sebagai anak hamba, dan maafkan, hamba tak akan bersikap dan berbicara seperti biasa lagi. Maafkan pula bila mulai sekarang hamba akan menyebut paduka dengan nama paduka saja. Ingat, paduka adalah anak hamba."

Han Lin mengangguk. Dia pun tidak meronta lagi ketika diturunkan kemudian tangannya digandeng oleh Liu Ma.

Demikianlah, Liu Ma lalu mengajak Sia Han Lin mengungsi ke daerah selatan, kembali ke dusun yang menjadi tempat kelahirannya. Sejak lahir dan ketika masih kecil Liu Ma tinggal di dusun Libun, termasuk wilayah Kuilin propinsi Kuangsi.

Karena ketika pergi meninggalkan istana dia dibekali emas permata yang cukup banyak, maka dia dapat membeli rumah sederhana, sawah ladang dan ternak sehingga dia hidup tanpa kekurangan bersama Han Lin yang diterima semua orang sebagai putera Liu Ma.

Liu Ma menaati pesan Sia Su Beng dan Yang Kui Bi. Dengan uangnya dia lalu membayar seorang penduduk dusun yang cukup berpendidikan untuk mengajarkan ilmu menulis dan membaca kepada Han Lin.

Ternyata anak itu amat cerdas. Selama kurang dari dua tahun mempelajari sastra, kini dia sudah pandai membaca dan menulis sehingga membuat anak-anak di dusun itu merasa kagum karena sebagian besar anak-anak dusun itu buta huruf.

Han Lin memang tidak pernah bertanya kepada Liu Ma tentang ayah bundanya lagi sejak dia mendengar dari Liu Ma bahwa menurut berita yang sampai di dusun itu, Sia Su Beng dan Yang Kui Bi sudah tewas, gugur dalam pertempuran. Semalam suntuk Han Lin tidak tidur, merenung dan menangis, akan tetapi sejak hari itu, dia tidak pernah lagi bertanya tentang mereka kepada Liu Ma, membuat bekas pelayan yang sekarang menjadi ibunya itu merasa lega hatinya.

Akan tetapi janda ini sama sekali tidak tahu bahwa Han Lin tidak pernah melupakan ayah ibunya, tak pernah lupa bahwa ayah dan ibunya tewas sebagai orang-orang gagah, gugur dalam pertempuran. Dia tidak pernah dan tidak akan pernah melupakan kenyataan itu!

Seperti anak-anak lain di dusun Libun, Han Lin juga turut bekerja membantu ibunya yang menggunakan dua orang tenaga kerja. Dia membantu bertani, menggembala ternak, juga mencari ikan sehingga dalam usianya yang tujuh tahun itu dia telah pandai sekali menjala atau mengail ikan. Karena hidup dekat sungai, bersama anak-anak lain dia suka mandi di sungai sehingga dia pun pandai berenang dan gagah pula mendayung perahu atau rakit.

Pada hari yang cerah itu, seorang diri Han Lin pergi berakit mencari bambu yang terbaik untuk dibuat menjadi joran pancingnya. Joran pancing yang baik adalah yang tidak berat, panjang, lentur dan tidak mudah patah, juga sekecil mungkin. Tidak mudah untuk mencari bambu yang baik seperti itu, dan kalau hendak mencari bambu, ke mana lagi kalau bukan ke hutan bambu di seberang sungai itu?

Han Lin berjalan perlahan, memandang ke kanan kiri mencari bambu yang dibutuhkannya. Dia sangat mengenal hutan ini karena sering dia bersama teman-teman atau seorang diri berkeliaran di sini. Juga dia mengenal banyak macam bambu yang tumbuh di hutan itu. Guru sastranya adalah seorang yang ahli tentang bambu, mengenal nama-nama dan sifat berbagai jenis bambu sehingga dia pun mengenal banyak bambu yang beraneka bentuk dan tumbuh di situ.

Ada bambu yang disebut Bambu Dawai Kecapi, batangnya lurus dan ruas-ruasnya agak berjauhan, tidak bermiang dan warna dasarnya kuning dengan garis-garis lurus berwarna kehijauan. Bambu ini yang biasanya disebut pula Bambu Kuning. Akan tetapi jenis ini ada yang dasarnya berwarna hijau muda dengan garis-garis hijau tua kehitaman.

Ada pula bambu yang disebut Bambu Berbintik, juga ada yang menamakannya Bambu Selir Siang! Tentang nama yang yang ke dua ini ada dongengnya. Pada jaman purba ada seorang kaisar yang meninggal karena sakit ketika dia sedang melakukan perjalanan ke selatan.

Selirnya yang terkasih demikian sedihnya dan putus asa karena kematian kaisar ini, lalu selir itu pun terjun ke dalam sungai dan kabarnya menjelma menjadi dewi sungai. Batang bambu itu menjadi berbintik-bintik terkena air mata selir itu. Karena sungai di mana selir itu membunuh diri adalah Sungai Siang, maka bambu itu dinamakan Bambu Selir Siang. Pada ruasnya sering kali tumbuh cabang berkelompok, dasar warnanya abu-abu kuning dan bintik-bintiknya yang tidak rata dan lebih tebal di dekat ruas itu berwarna coklat.

Ada pula bambu yang disebut bambu Muka Manusia karena bentuk ruasnya yang mirip sekali muka manusia, ada juga bambu Tak Berlubang yang batangnya hanya sebesar jari. Bambu Persegi adalah bambu yang aneh, tidak bundar dan kuIit batangnya keras sekali. Ada lagi Bambu Manis yang daunnya sangat lebar, menjadi kebalikan dari Bambu Cina yang daunnya kecil-kecil sehingga perbandingan daun antara kedua jenis bambu ini sama dengan lima puluh berbanding satu! Ada bambu yang dapat berbunga semerbak harum, di antaranya adalah Bambu Pahit dan Bambu Hitam Berduri.

Bambu yang terakhir ini tidak terlalu hitam, akan tetapi pada buku-bukunya di antara ruas terdapat duri-duri hitam mengeliliinginya, seolah buku-buku itu dipasangi roda bergigi. Ada pula Bambu Bermiang, ketika mudanya penuh dengan miang yang dapat membuat kulit manusia gatal-gatal.

Di antara semua bambu itu, Han Lin paling mengagumi bambu yang dinamakan Bambu Sisik Naga! Bambu ini memang luar biasa sekali. Batangnya bulat dan gemuk, kokoh dan berliku-liku bagaikan tubuh naga. Dan ruasnya juga aneh sekali, berselang-seling dengan buku-buku menyerong seperti sisik ular atau sisik naga.

Han Lin menghampiri rumpun bambu yang dicarinya, yaitu Bambu Tak Berlubang. Bambu jenis ini yang paling cocok untuk dijadikan joran pancingnya. Hanya sebesar ibu jari, tidak berlubang dan lentur sekali. Dengan mempergunakan goloknya, Han Lin menebang lima batang yang dipilihnya, tidak terlalu tua agar tidak kaku dan cukup lentur, dan tidak terlalu muda agar tidak getas.

Dia membersihkan cabang dan daun-daun kelima batang bambu itu, kemudian membawa lima batangnya keluar dari dalam hutan bambu. Seperti biasa kalau bermain di tempat itu, dia duduk di luar hutan, di pinggir sungai di mana rakitnya ditambatkan, dan dia menikmati pemandangan yang amat disenanginya.

Memang luar biasa sekali suasana di tempat yang sangat sunyi itu. Seluruh panca indera kita seperti dibelai dan dimanjakan kalau kita berada di situ. Hidung mencium keharuman yang khas dari tanah, daun dan kembang. Telinga menikmati gemersik daun-daun bambu yang dihembus angin semilir, bagaikan musik dan nyanyian sorga, dan mata yang paling banyak mendapat limpahan keindahan.

Tidak mengherankan kalau para penyair memuji-muji keindahan daun-daun bambu yang selalu menari-nari dengan pucuk batangnya yang meliuk-liuk, juga para pelukis tak pernah bosan melukis daun-daun bambu yang nampak kacau namun indah serasi itu. Kacau tapi serasi, itulah keadaan daun-daun bambu. Andai kata diatur oleh tangan manusia dan tidak kacau mencuat ke sana sini, malah menjadi tidak serasi dan tidak indah.

Seperti biasa, kalau berada seorang diri di situ, mendengar dendang merdu gemercik air di tepi sungai dan gemersik daun-daun bambu, disentuh lembutnya semilir angin, Han Lin kemudian tenggelam dalam lamunan. Seperti terbayang semua peristiwa yang telah lalu, mengingatkan dia bahwa dia pernah hidup sebagai seorang pangeran! Hidup dalam istana yang megah di mana setiap orang menghormati dan memuliakannya, dibelai kasih sayang ayah ibunya.

Dan sekarang? Semua itu telah musnah. Kini dia menjadi seorang anak yatim piatu yang terpaksa mengakui Liu Ma sebagai ibunya. Dia telah mendengar bahwa ayah ibunya telah gugur di dalam pertempuran. Dia telah kehilangan segala-galanya!

Akan tetapi tidak! Dia membantah renungannya sendiri. Dia tidak kehilangan segalanya. Dia masih memiliki dirinya! Kalimat ini seperti sudah menjadi dasar untuk menghidupkan gairah dan semangatnya.

Ibunya menyertakan sehelai surat untuknya dan surat itu selalu disimpan baik-baik oleh Liu Ma. Setelah dia pandai membaca, beberapa bulan yang lalu surat itu diberikan Liu Ma kepadanya. Dan kalimat pertama dalam surat ibunya kepada berbunyi:

‘Jangan putus asa, Han Lin puteraku. Engkau masih memiliki dirimu!’

Kalimat itulah yang selama ini menjadi pegangannya dan selalu berdengung di telinganya setiap kali dia termenung dan kedukaan mulai menyelinap di hatinya. Kemudian, di dalam surat itu ibunya memesan kepadanya supaya kelak dia mencari anggota keluarga ibunya, yaitu kakak ibunya yang bernama Yang Cin Han, dan enci ibunya bernama Yang Kui Lan. Ibunya tidak tahu mereka berada di mana, dan dia sendiri belum pernah bertemu mereka. Akan tetapi kedua nama itu telah terukir dalam hatinya dan dia berjanji kepada diri sendiri bahwa sekali waktu, dia pasti akan pergi mencari mereka, paman dan bibinya itu.

Sampai lama Han Lin melamun di situ, tidak tahu bahwa sebuah perahu meluncur ke tepi sungai, dekat rakitnya. Dua orang yang tadi duduk di dalam perahu, sekarang melompat ke darat kemudian sekali tarik, perahu itu telah terseret ke daratan pula.

Agaknya dua orang itu kini mulai bercekcok dan barulah Han Lin sadar dari lamunannya ketika mendengar mereka berdua bicara dengan suara nyaring karena marah. Dia cepat menoleh dan dia terbelalak memandang kepada dua orang yang sedang ribut mulut itu.

Yang seorang bertubuh pendek gendut, mukanya hitam arang, matanya besar lebar dan mulutnya selalu tersenyum mengarah tawa. Bajunya terbuka pada bagian dada sehingga memperlihatkan dadanya yang penuh gajih.

Ada pun orang ke dua juga tak kalah anehnya, bahkan agaknya merupakan kebalikan dari orang pertama karena orang ke dua ini bertubuh tinggi kurus, mukanya pucat bagai kapur, matanya sipit hampir terpejam dan mulutnya selalu mewek seperti orang menangis. Usia dua orang aneh ini sekitar lima puluh tahun dan kini mereka bertengkar, didengarkan oleh Han Lin yang merasa terheran-heran.

"Hek-bin (Muka Hitam), jangan sombong engkau! Mentang-mentang sudah belasan tahun bertapa di kutub utara, kau kira kini ilmu kepandaianmu tak ada yang dapat menandingi? Apa kau kira selama belasan tahun ini aku tinggal menganggur saja? Hemmm, kau tahu, aku pun memperdalam ilmuku dan aku yakin engkau tidak akan mampu menandingiku!" kata si muka putih.

Si gendut bermuka hitam tertawa bergelak, mengangkat muka ke atas dan ketika tertawa. perut gendutnya bergerak-gerak seperti bergelombang. “Ha-ha-ha, Pek-bin (Muka Putih), engkau yang takabur! Engkau selama belasan tahun bertapa di kutub selatan? Heh-heh-heh, dulu kita memang setingkat, akan tetapi sekarang jangan harap engkau akan mampu menandingiku. Lebih baik engkau mengangkat aku menjadi guru dan saudara tua supaya aku dapat membimbingmu, ha-ha-ha!"

"Wah, gendut muka hitam sombong. Mari kita uji, tidak perlu banyak bicara. Kita buktikan siapa di antara kita yang lebih kuat dan lebih pantas menjadi saudara tua!” kata si tinggi kurus muka putih.
"Baik, majulah!"

Mereka berdua lalu berkelahi!

Han Lin masih terlalu kecil dan asing dengan ilmu silat untuk bisa mengetahui bahwa dua orang itu bukan hanya berkelahi biasa saja, melainkan bertanding dengan menggunakan ilmu-ilmu yang amat dahsyat! Gerakan kaki tangan mereka menimbulkan angin bersiutan, debu mengepul dan tampak batu-batu beterbangan dilanda angin tendangan kaki mereka, dan rumpun bambu terdekat seperti dilanda angin besar!

Kadang kala mereka bergerak sedemikian cepatnya sehingga bentuk tubuh mereka tidak nampak lagi, hanya terlihat dua bayangan saja yang seperti bergulat menjadi satu, namun ada kalanya gerakan mereka nampak perlahan-lahan seperti orang bermain-main. Namun ketika bertanding dengan gerakan perlahan itu, sesungguhnya mereka sangat berbahaya karena keduanya mengandalkan sinkang yang amat kuat.

Han Lin merasa heran sekali melihat dua orang itu bertanding seperti itu. Mengapa orang-orang tua itu begitu pandir, tanpa hujan tanpa angin saling hantam seperti itu hanya untuk memamerkan kepandaian dan tak mau kalah? Dia khawatir kalau-kalau seorang di antara mereka akan terluka atau tewas, maka dia pun bangkit kemudian lari menghampiri untuk melerai.

Pada saat itu kedua orang aneh yang merasa penasaran karena belum dapat mendesak lawan, baru saja saling berbenturan tangan. Keduanya segera meloncat ke belakang dan sekarang mereka mengerahkan seluruh tenaga melalui kedua tangan yang didorongkan ke depan, saling serang dengan pukulan jarak jauh.

"Tahan ! Harap kedua paman berhenti berkelahi!"

Han Lin berlari di antara kedua orang itu. Dia tidak tahu bahwa dia berada di antara dua pukulan jarak jauh yang saling menghantam! Kedua orang itu sangat terkejut, akan tetapi agaknya mereka tidak peduli dengan munculnya seorang anak laki-laki di antara mereka karena mereka tetap melanjutkan dorongan mereka.

Han Lin yang sedang berlari itu mendadak tertahan larinya dan dia terbelalak. Dia berdiri persis di antara kedua orang itu, menghadap ke arah si pendek gendut muka hitam. Dia merasa betapa dadanya diterpa hawa dingin seperti es yang membuat tubuhnya seperti kaku membeku, akan tetapi pada waktu yang bersamaan, punggungnya dihantam hawa yang amat panas seperti api.

Han Lin dihimpit dua tenaga dahsyat, bukan saja tenaga sinkang kedua orang itu sangat kuat, tapi keduanya juga mengandung hawa beracun yang amat mematikan! Hawa racun dingin dari si muka hitam itu dapat membuat darah menjadi beku, sedangkan hawa racun panas dari si muka putih dapat membuat seluruh isi tubuh menjadi hangus terbakar!


Seorang ahli silat yang tangguh sekali pun tak akan kuat menerima hantaman dari kedua pihak dengan tenaga sinkang beracun seperti itu, apa lagi tubuh Han Lin, anak berusia tujuh tahun yang belum pernah belajar ilmu silat sama sekali. Tubuhnya berkelojotan dan matanya melotot, kaki tangannya terpetang seperti disambar halilintar, rambutnya berdiri semua, jari-jari tangannya terpentang.....

Agaknya dua orang aneh itu tidak mempedulikannya, bahkan mereka merasa jengkel dan menganggap anak itu sebagai pengganggu saja. Maka, begitu keduanya menggerakkan lengan, tubuh Han Lin segera terlempar ke dalam hutan bambu kemudian jatuh di dalam rumpun bambu.

Dua orang aneh itu tidak mempedulikan lagi kepadanya, karena mereka berdua merasa yakin bahwa anak itu tentu sudah mati. Biar seorang ahli silat tangguh sekali pun, sukar untuk dapat bertahan hidup apa bila telah terkena pukulan seorang saja dari mereka, apa lagi anak kecil itu menerima pukulan dari mereka berdua! Mereka melanjutkan adu tenaga dan ternyata keduanya seimbang sampai akhirnya mereka berdua sama-sama lemas dan mengakhiri adu tenaga itu lalu cepat duduk bersila untuk menghimpun tenaga. Kemudian mereka bangkit lagi.

"Hek-bin yang gendut, engkau ternyata hebat!" kata si muka putih.
"Engkau pun hebat, Pek-bin. Ternyata sampai sekarang kita masih juga seimbang, maka biarlah kita menjadi seperti dulu, tidak ada yang lebih tua dan tidak ada yang lebih muda, tidak ada yang lebih kuat atau lebih lemah." Si gendut tertawa bergelak.
"Bagus! Kalau begitu, mari kita bersama mencari rejeki!" kata si muka putih.

Mereka berdua lantas berkelebat dan tahu-tahu mereka sudah berada di atas perahu lagi yang kemudian diluncurkan cepat ke tengah sungai. Mereka sudah lupa lagi kepada anak yang menjadi korban adu tenaga mereka tadi. Dua orang aneh itu memang bukan orang sembarangan.

Belasan tahun yang lalu mereka telah terkenal sebagai Hek Pek Mo-ong (Raja Hitam dan Putih), sepasang datuk sesat yang berilmu tinggi. Para pendekar lalu bangkit menentang mereka dan akhirnya mereka berdua terusir dari dunia kangouw.

Keduanya lalu merantau, seorang ke selatan seorang ke utara dan selama belasan tahun mereka bersembunyi sambil memperdalam ilmu mereka. Kini mereka telah turun kembali ke dunia ramai sebagai dua orang tokoh yang ilmu kepandaiannya hebat sekali.

Yang gendut bermuka hitam berjuluk Hek-bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Hitam), sedangkan yang kurus kering bermuka putih berjuluk Pek-bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Putih). Dunia persilatan pasti akan menjadi gempar dengan turunnya kembali dua orang datuk sesat ini dari tempat persembunyian mereka…..
********************
Tubuh Han Lin bergerak-gerak, berkelojotan dalam sekarat. Anak berusia tujuh tahun itu telah diserang pukulan ampuh dari depan dan belakang, dengan hawa beracun dingin dari depan dan hawa beracun panas dari belakang. Kalau saja dia terkena satu saja dari dua pukulan itu, tentu dia telah tewas seketika.

Kalau terkena pukulan dingin saja, tentu semua darah di tubuhnya sudan membeku, atau kalau terkena pukulan panas saja, tentu tubuhnya telah hangus. Akan tetapi justru karena pukulan itu datang dari depan dan belakang, tubuhnya seperti terhimpit dua pukulan yang saling menolak. Hal ini membuat dia tidak sampai tewas seketika. Namun hawa beracun panas dan dingin itu telah menyusup ke dalam tubuhnya, membuat tubuh itu berkelojotan dalam sekarat, mati tidak hidup pun enggan.

Sejak lahir sampai mati, kita tidak bisa mengatur atau menguasai kehidupan kita sendiri. Kita dilahirkan begitu saja di luar kehendak kita, kemudian selama hidup kita pun tidak tahu apa akan terjadi dengan hidup kita, kemudian kematian datang tanpa bisa kita tolak atau minta.

Mati atau hidup sepenuhnya berada di tangan Tuhan, dalam kekuasaanNya. Kalau Tuhan menghendaki kita mati, tidak ada tempat persembunyian bagi kita untuk menghindarkan diri. Walau pun kita bersembunyi ke lubang semut, maut tetap akan datang menjemput. Sebaliknya, apa bila Tuhan belum menghendaki kita mati, meski dihujani seribu batang anak panah sekali pun, kita akan terhindar dari pada maut.

Betapa banyaknya manusia, baik diakuinya mau pun tidak, merasa takut akan kematian. Pada lahirnya boleh membual dan berlagak tidak takut mati, tetapi jauh di sebelah dalam lubuk hatinya dia merasa ngeri dan takut!

Mengapa harus takut akan sesuatu sudah pasti terjadi, akan sesuatu yang tidak mungkin terelakkan lagi, sesuatu yang pasti akan menimpa setiap orang di dunia ini, tidak peduli tua atau pun muda, kaya atau pun miskin, pandai atau bodoh? Kenapa takut menghadapi sesuatu yang tidak dapat kita ketahui keadaannya, sesuatu yang tidak kita kenal?

Sesungguhnya kita tidak mungkin takut terhadap suatu keadaan yang tidak kita ketahui. Yang kita takuti adalah suatu keadaan yang kita ketahui melalui kepercayaan, dongeng dan penuturan tentang keadaan sesudah mati. Yang kita takuti adalah kenyataan bahwa kalau kita mati, kita meninggalkan semua yang kita sukai dan cintai. Meninggalkan harta benda, meninggalkan keluarga, meninggalkan segala macam kesenangan hidup di dunia ini.

Berbahagialah orang-orang yang menyerah kepada Tuhan secara menyeluruh, lahir dan batin, pasrah dengan penuh keikhlasan dan ketawakalan. Bagi orang seperti ini kematian bukanlah suatu akhir, melainkan suatu kelanjutan dari pada kehidupan di dunia. Karena itu, bila kita menyerah kepada Tuhan Sang Maha Pencipta yang menguasai dan memiliki seluruh alam beserta isinya, berarti yang memiliki dan menguasai diri kita, maka tidak ada rasa takut terhadap kehidupan mau pun kematian.

Menyerah kepada Tuhan sama sekali bukan berarti acuh, pasif atau pun mandeg. Sama sekali bukan! Bukan pasrah namanya kalau kita hanya menyerahkan segalanya kepada Tuhan tanpa mau berusaha sesuatu!

Tuhan menciptakan kita dengan alat yang paling sempuma dan lengkap, tangan kaki, hati akal pikiran, semuanya itu tentu untuk dimanfaatkan, dikerjakan sekuat kemampuan masing-masing demi kesejahteraan hidup di dunia, demi kelangsungan hidup dan untuk penjagaan diri.

Bekerja! Itulah hidup, karena hidup berarti gerak, dan gerakan kita berarti bekerja. Tetapi semua pekerjaan, usaha dan ikhtiar kita itu dilandasi kepasrahan mutlak kepada Tuhan, karena hanya Tuhan yang dapat menentukan apa yang akan kita alami dalam kehidupan ini mau pun dalam kelanjutannya sesudah kita meninggalkan dunia. Kalau sudah begitu, apa lagi yang perlu ditakuti? Adakah hal yang lebih membahagiakan bagi setetes air dari pada kembali ke samudera tempat dia berasal?

Demikian pula dengan Han Lin yang tubuhnya kini menyangkut di antara rebung bambu di rumpun itu. Tubuhnya berkelojotan, kaki tangannya bergerak-gerak, lalu tanpa disadarinya kaki kanannya menendang seekor ular yang sedang melingkar di rumpun bambu itu. Ular itu adalah seekor ular senduk kepala putih yang amat berbisa.

Karena tertendang kaki yang berkelojotan, ular itu menjadi marah lantas lehernya mekar, mulutnya mendesis, leher itu terangkat tinggi, dan matanya mencorong mengikuti gerakan kaki yang masih terus menendang-nendang. Mungkin dia mengira bahwa kaki itu sengaja hendak menyerangnya, maka tiba-tiba saja kepalanya bergerak kemudian pada detik lain moncongnya telah menggigit betis Han Lin yang kiri.

"Capp!"

Gigi-gigi kecil runcing terhujam di dalam daging betis itu dan liur beracun memasuki jalan darah di betis Han Lin. Akan tetapi ular itu menggeliat-geliat, tidak dapat melepaskan lagi moncongnya dan hanya sebentar dia mengeliat lalu tak bergerak, mati dengan gigi masih menancap di dalam betis Han Lin.

Sekarang terjadi perubahan pada tubuh Han Lin. Kaki tangannya tidak berkelojotan lagi, melainkan terdiam dan dia pun rebah di antara rebung bambu, menggeletak miring dan sama sekali tidak bergerak-gerak Iagi. Matikah dia seperti ular senduk itu?

"Omitohud…!"

Suara pujian ini keluar dari mulut seorang hwesio yang berdiri di dekat rumpun bambu, memandang ke arah tubuh Han Lin yang tidak bergerak. Hwesio ini berusia lanjut, paling sedikit tentu sudah tujuh puluh tahun. Tubuhnya gendut seperti arca Jilaihud, akan tetapi wajahnya yang gemuk itu seperti wajah seorang anak kecil, segar kemerahan dan sinar matanya begitu terang.

Jubahnya kuning sederhana, sepatunya terbuat dari kulit kayu dan tangannya memegang sebatang tongkat bambu ular kuning, sejenis bambu kuning yang bentuknya seperti ular, seperti Bambu Sisik Naga yang terdapat di hutan itu akan tetapi lebih kecil.

Hwesio itu kini berjongkok, memeriksa keadaan Han Lin, menyentuh nadinya dan melihat ular senduk yang masih menggigit betis anak itu, lalu dia tertegun, menggeleng-gelengkan kepala dan menarik napas panjang, merangkap kedua tangan ke depan dada, kemudian berseru penuh ketakjuban.

"Omitohud, suatu mukjijat telah terjadi pada diri anak ini."

Dengan teliti dia membuka baju Han Lin, memeriksa dada, leher, dan kembali memeriksa denyut nadinya. Sesudah itu dia melepaskan gigitan ular itu, kemudian memeriksa bekas gigitan ular pada betis dan memeriksa pula tubuh ular yang wamanya berubah kehitaman.

"Omitohud!" berulang-ulang dia berseru, mengangguk­-anggukkan kepalanya yang gundul, lalu tersenyum lebar. "Bukan main, belum pernah aku melihat hal yang begini kebetulan! Mukjijat-mukjijat! Di dalam tubuh anak ini terdapat hawa beracun dingin dan hawa beracun panas, akan tetapi dua hawa beracun itu kehilangan kekuatannya oleh racun ular senduk kepala putih! Ketika bertemu racun ular, justru perpaduan antara racun dingin dan racun panas itu menjadi jinak dan tidak merenggut nyawa anak ini. Sungguh, nyawa anak ini tadi hanya bergantung pada sehelai rambut yang halus sekali. Bukan main!"

Akan tetapi, hwesio tua itu lalu memandang ke sekeliling dengan penuh kewaspadaan..

"Orang yang dapat memukul dengan hawa beracun dingin atau panas seperti itu, sungguh merupakan orang yang amat berbahaya dan lihai," katanya kepada diri sendiri.

Hatinya menjadi lega setelah melihat bahwa di situ tidak terdapat orang lain, dan kembali perhatiannya tertuju kepada Han Lin. Kini anak itu mengeluarkan suara keluhan lirih dan tubuhnya mulai bergerak.

Ketika dia membuka mata, yang pertama kali dilihatnya adalah dua buah rebung Bambu Persegi. Rebung ini enak sekali kalau dibuat sayur, rasanya gurih sehingga sering kali dia mengambil rebung Bambu Persegi ini untuk dimasak ibunya. Sekarang dia sudah hampir lupa bahwa Liu Ma bukan ibunya, saking terbiasa menyebut ibu kepada wanita yang amat mengasihinya itu.

"Syukurlah engkau tidak apa-apa, nak."

Han Lin terkejut mendengar suara itu dan ketika menoieh, dia melihat seorang hwesio tua duduk bersila di dekat situ. Dia cepat merangkak bangun, akan tetapi dia mengeluh lantas memejamkan matanya karena tiba-tiba dia merasa pening dan ingin muntah. Dia merasa sebuah tangan yang lebar dan hangat menempel di punggungnya dan suara lembut tadi berkata lagi,

"Anak baik, duduklah bersila lalu pejamkan matamu dan tenangkan hatimu. Engkau telah terlepas dari bahaya maut. Biarkan hawa hangat dari tangan pinceng memasuki tubuhmu dan membantumu membersihkan sisa hawa beracun yang menyerangmu.”

Han Lin tidak mengerti apa arti semua kata-kata itu, akan tetapi dia segera teringat akan peristiwa yang dialaminya tadi sehingga dia dapat menduga bahwa hwesio tua ini tentu bermaksud menolongnya, maka dia pun menaati.

Dia menahan kepeningan kepalanya, lalu bersila dan dia membiarkan hawa hangat yang terasa memasuki punggungnya itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Tidak lama kemudian pening kepalanya hilang, juga rasa mual seolah hendak muntah. Dia tidak melihat betapa dari kepalanya mengepul uap tipis berwarna hitam!

"Omitohud... benar-benar ajaib! Ini namanya bahaya maut berubah menjadi berkah yang amat besar! Bukan saja engkau terbebas dari maut, tetapi sekarang tubuhmu akan kebal terhadap serangan racun. Bukan main!"

Han Lin belum mengerti benar kecuali hanya bahwa hwesio tua itu telah menyelamatkan dirinya, maka dia pun berlutut di hadapan hwesio itu.

"Losuhu, terima kasih atas pertolongan losuhu kepada saya," katanya.
"Omitohud…!" Hwesio tua itu kembali memandang heran.

Anak ini memang berpakaian seperti anak dusun, akan tetapi wajahnya jelas bukan anak biasa, dan begitu mengerti tata susila, juga ucapannya teratur seperti seorang anak yang terpelajar.

"Anak baik, apa yang sudah terjadi denganmu tadi? Pinceng menemukan engkau tergigit seekor ular dan tubuhmu penuh dengan hawa beracun."
"Ular? Saya tidak tahu, losuhu," kata Han Lin dan begitu melihat bangkai ular tak jauh dari kakinya, bangkai ular yang kering kehitaman seperti terbakar, dia pun memandang heran.
"Tadi saya melihat dua orang kakek berkelahi, kemudian saya bermaksud hendak melerai dan mencegah mereka berkelahi. Tiba-tiba saja saya merasa dada saya amat dingin dan punggung saya amat panas, lantas tubuh saya terlempar ke sini dan saya tidak ingat apa-apa lagi."
"Omitohud..., tentu engkau telah bertemu dengan dua orang sakti yang sedang mengadu tenaga sinkang! Mereka itu lihai bukan main. Seperti apakah mereka itu?"
"Yang seorang bertubuh gemuk pendek dengan muka hitam, sedangkan orang yang ke dua bertubuh tinggi kurus bermuka putih seperti kapur. Yang muka hitam arang itu disebut Hek-bin oleh kawannya dan yang muka putih kapur disebut Pek-bin."
"Hemm, berapa usia mereka?"
"Kira-kira lima puluh tahun, losuhu."
"Hemm... mungkinkah mereka? Setelah selama belasan tahun menghilang, mungkinkah mereka kini muncul kembali?"
"Siapakah mereka, losuhu?"
"Kelak engkau akan mengetahui, tapi yang penting sekarang, siapakah engkau, di mana rumahmu dan siapa pula orang tuamu?".
"Losuhu, nama saya Sia Han Lin, rumah saya di dusun Libun di seberang sungai, ada pun orang tua saya, hanya ibu saya yang berada di rumah. Saya tidak mempunyai ayah lagi."
"Omitohud…! Sekecil ini engkau sudah kehilangan ayah. Han Lin, pinceng melihat engkau bukan seperti anak dusun biasa. Pinceng ingin berkenalan dan berbicara dengan ibumu. Bolehkah pinceng mengantarmu pulang agar pinceng dapat bicara dengan ibumu?"
"Tentu saja boleh, losuhu!" kata Han Lin gembira. "Tentu ibu akan merasa gembira dan berterima kasih sekali karena losuhu telah menolong saya."
"Omitohud…! Bukan pinceng yang menolongmu, Han Lin. Engkau tertolong oleh sebuah kebetulan, sebuah keadaan yang amat aneh. Pada saat yang bersamaan engkau terkena pukulan-pukulan yang mematikan, agaknya ketika engkau melerai dua orang yang sedang betanding tadi. Karena dua macam pukulan mengandung daya yang saling bertentangan, maka engkau tidak jadi tewas, padahal setiap pukulan itu telah cukup untuk menewaskan seorang dewasa yang tangguh sekali pun. Namun kedua hawa pukulan beracun itu justru saling meluruhkan. Biar pun begitu, tubuhmu lalu dipenuhi dua macam hawa beracun dan pada saat itu sungguh menakjubkan sekali, muncullah ular senduk kepala putih menggigit betismu. Padahal, gigitan ular itu akan mematikan seorang yang tangguh sekali pun! Dan racun gigitan ular itulah yang membebaskanmu dari kematian karena pengaruh dua hawa beracun itu. Engkau selamat, bukan oleh pinceng, bukan pula oleh ular, melainkan oleh Pemberi Kehidupan yang agaknya belum menghendaki engkau mati. Nah, mari antar aku berkunjung ke rumah ibumu, Han Lin."

Mereka lalu mempergunakan rakit menyeberangi sungai. Hwesio tua itu agaknya memang sengaja membiarkan Han Lin yang mendayung rakit menyeberangi sungai dan diam-diam dia memandang dengan wajah ramah dan hati kagum.

Anak itu sedikit pun tidak nampak menderita lagi dan meski pun rakit yang ditumpangi dua orang itu cukup berat, namun Han Lin mendayung dengan penuh semangat. Anak ini jelas memiliki semangat yang amat tinggi, pantang menyerah, tabah dan juga sama sekali tidak cengeng…..!

********************
Liu Ma menyambut kepulangan Han Lin dengan perasaan terheran-heran karena anak itu bergandengan tangan dengan seorang hwesio tua yang tubuhnya gendut dan berwajah seperti anak kecil, kulitnya putih kemerahan dan segar.


"Han Lin, apakah yang terjadi dan siapakah losuhu ini?" tanya janda itu dengan pandang mata khawatir.

Apa pun yang terjadi pada anak itu selalu mendatangkan perasaan khawatir di hatinya. la selalu gelisah nemikirkan nasib anak itu, takut kalau-kalau ada yang tahu bahwa Han Lin adalah putera Sia Su Beng yang pernah menjadi kaisar!

'Omitohud, harap nyonya tidak khawatir. Putera nyonya baik-baik saja dan karena pinceng tertarik sekali melihat pribadinya, maka pinceng ingin sekali bertemu dengan nyonya yang begini pandai mendidik puteranya. Sungguh pinceng merasa kagum dan hormat kepada nyonya karena nyonya telah mendidik seorang putera dengan demikian baiknya."

Liu Ma tersenyum, juga wajahnya berubah agak kemerahan karena tentu saja dia merasa bangga menerima pujian dari seorang hwesio tua. Siapa tahu arwah ayah ibu kandung Han Lin akan dapat mendengarkan suara seorang pendeta tua ini bahwa dia telah benar-benar setia dan patuh melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya, yaitu merawat dan mendidik Han Lin dengan penuh kasih sayang dan kesungguhan hati.

"Ibu," kata Han Lin dengan hati tegang saat mendapat kesempatan menuturkan peristiwa aneh tadi, "Tadi aku bertemu dengan dua orang manusia aneh dan hampir saja aku mati karena pertemuan itu. Juga kakiku digigit ular senduk kepala putih yang sangat beracun. akan tetapi aku tidak mati. Losuhu ini yang telah menyelamatkan nyawaku.”

Wajah wanita itu seketika menjadi pucat, kedua matanya terbelalak dan sambil menahan jeritnya, dia merangkul Han Lin.
"Han Lin apa yang terjadi, nak? Bagaimana perasaanmu sekarang? Apanya yang terasa sakit?"

Dengan penuh kasih sayang wanita itu memeriksa tubuh anaknya dan kelihatan gugup bukan main ketika melihat bekas gigitan ular pada betis anak itu.

"Kau... kau harus cepat kuperiksakan pada tabib."
"Omitohud..., harap nyonya tak perlu khawatir. Han Lin sudah terhindar dari bahaya maut, bukan karena pinceng, tetapi karena memang dia belum waktunya meninggalkan dunia ini."
"Benar, ibu. Aku tidak apa-apa, ibu jangan khawatir."
"Ah, kalau begitu kami berhutahg budi kepada losuhu," dan wanita itu cepat menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio tua itu.

Dengan tergopoh hwesio itu menyuruhnya bangkit dan diam-diam dia menjadi semakin heran. Wanita ini pun bukan seperti wanita dusun, melainkan seorang yang lemah lembut dan mengerti tata susila seperti orang yang berpendidikan. Ia tidak tahu bahwa tentu saja Liu Ma mengerti tata susila karena dia pemah menjadi seorang hamba di dalam istana, melayani keluarga kaisar!

Setelah disuruh bangun, Liu Ma bangkit berdiri kemudian dengan sikap hormat sekali dia pun mempersilakan hwesio itu untuk duduk di ruangan dalam. Dia segera sibuk menyuruh pembantunya mempersiapkan makanan yang tidak mengandung daging, juga membuat minuman dari sari buah untuk menjamu hwesio itu makan minum.

Kepada Liu Ma, Hwesio tua itu memperkenalkan diri sebagai Kong Hwi Hosiang dan dia tidak menolak jamuan makan yang diadakan oleh Liu Ma untuk menghormatInya. Bahkan hidangan makan minum itu menambah rasa kagumnya kepada wanita itu karena temyata nyonya rumah itu menjaga benar agar tidak ada daging di dalam semua hidangan.

Seorang wanita yang pandai membawa diri dan cermat. Pantas saja mempunyai seorang putera seperti Han Lin. Dan dia pun semakin tertarik terhadap Han Lin dan semakin kuat keinginannya untuk mengambil anak itu menjadi muridnya.

Kong Hwi Hosiang adalah seorang hwesio berilmu tinggi yang sejak muda sudah senang merantau, tidak menetap di dalam sebuah kuil. Dia merantau sambil mengajarkan agama Buddha dan di samping itu, karena dia seorang ahli silat yang tangguh, dia pun bertindak sebagai seorang pendekar yang selalu membela kebenaran dan keadilan.

Namanya sangat terkenal di kalangan persilatan, dan selama puluhan tahun merantau dia selalu memperdalam ilmu-ilmunya sehingga menjadi seorang yang sakti. Karena dia suka merantau, maka selama hidupnya dia hanya mempunyai dua orang murid wanita saja dan murid-muridnya itu bukan lain adalah ibu kandung Han Lin sendiri yang bernama Yang Kui Bi dan enci-nya, yaitu Yang Kui Lan!

Memang sungguh aneh sekali jalan hidup Han Lin. Bukan saja secara aneh dan kebetulan dia terhindar dari maut terpukul dua orang datuk sesat lalu digigit ular beracun, bahkan dia lalu mendapatkan kekebalan dalam tubuhnya terhadap racun, juga secara aneh dan tidak disengaja, guru mendiang ibunya sendiri yang lewat di tempat itu dan menolongnya!

Kong Hwi Hosiang sendiri tidak pemah menduga bahwa anak yang dikaguminya sehingga membuat dia ingin sekali mengambilnya sebagai murid itu bukan lain adalah putera dari salah seorang di antara kedua orang muridnya! Semenjak enci adik itu selesai belajar dan berpisah darinya, Kong Hwi Hosiang sudah tak pernah berhubungan lagi dengan mereka, juga tidak tahu bagaimana keadaan kedua muridnya itu. Hwesio tua ini sudah mencapai suatu tingkat kehidupan di mana dia tidak terikat lagi dengan apa pun.

Sesudah makan, dilayani sendiri oleh Liu Ma dan ditemani pula oleh Han Lin, Kong Hwi Hosiang minta kepada nyonya rumah untuk dapat bicara empat mata dengannya. Liu Ma memandang heran, tetapi dia segera menyuruh Han Lin untuk meninggalkan ruang tamu supaya dia dan tamunya dapat bicara berdua saja. Dengan patuh Han Lin mengundurkan diri.

Setelah duduk berdua saja, berhadapan dengan nyonya rumah, Kong Hwi Hwesio lantas berkata dengan suaranya yang lembut,

"Sebelumnya pinceng mengharapkan maaf kalau apa yang hendak pinceng utarakan ini ternyata tidak berkenan di hati nyonya. Secara tak sengaja, nasib telah mempertemukan pinceng dengan putera nyonya, dan begitu melihatnya, pinceng langsung merasa tertarik sekali. Putera nyonya itu mempunyai darah dan tulang yang baik, sangat berbakat untuk mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi, juga kiranya akan baik apa bila dia memperdalam ilmu sastera dan keagamaan untuk bekal hidupnya kelak. Pinceng merasa tertarik sekali, dan kalau nyonya merelakan dan tidak berkeberatan, pinceng akan merasa bersyukur sekali untuk mengambilnya sebagai murid pinceng."

Mendengar ucapan ini, wajah Liu Ma berseri sehingga legalah hati hwesio itu.

"Saya akan berterima kasih dan merasa girang sekali kalau losuhu suka mendidik Han Lin sebagai murid suhu. Akan tetapi di manakah tempat tinggal suhu, di kelenteng mana, dan jauhkah dari sini?"

Kong Hwi Hwesio menggeleng kepala sambil tersenyum lebar sehingga nampak mulutnya yang ompong tanpa gigi lagi dan wajahnya semakin mirip wajah bayi yang belum bergigi!

"Omitohud! Selamanya pinceng tidak pernah mempunyai kelenteng, tidak pernah tinggal di suatu tempat yang tetap. Pinceng adalah seorang hwesio pengembara, nyonya."

Liu Ma mengerutkan alis. "Lantas bagaimana suhu hendak mengambil anak saya sebagai murid jika losuhu tidak mempunyai tempat tinggal? Apakah suhu hendak membawa anak saya pergi mengembara pula, tidak tentu tempat tinggalnya?"

Ketika hwesio tua itu mengangguk, Liu Ma segera menyatakan keberatannya.

"Harap losuhu sudi mengampuni saya. Saya akan berterima kasih sekali kalau anak saya dapat menjadi murid losuhu, akan tetapi sebaliknya, saya pun tak akan dapat hidup kalau dijauhkan darinya. Hendaknya losuhu ketahui bahwa hidup saya hanyalah untuk Han Lin seorang, bagaimana mungkin sekarang dia akan losuhu bawa pergi mengembara? Saya hanya mempunyai dia seorang, losuhu."

"Omitohud, pinceng juga tidak ingin membuat nyonya yang baik hati ini menjadi berduka. Tetapi pinceng adalah seorang hwesio yang miskin dan tidak mempunyai harta secuil pun, tentu tidak dapat mengadakan tempat tinggal."

"Ahh, saya jadi teringat, losuhu! Bagaimana kalau diatur sehingga kebutuhan kita berdua dapat terpenuhi dan kita pun sama-sama merasa enak dan senang? Maksud saya, losuhu tetap dapat menjadi guru anak saya, sedangkan saya dapat tetap tidak kehilangan Han Lin, tidak berjauhan darinya?"

Hwesio tua itu merangkapkan kedua tangannya di depan dada.

"Omitohud, pinceng yakin bahwa hati nyonya bersih, dan maksud hati nyonya baik sekali. Akan tetapi, demi menjaga nama baik nyonya, tidak mungkin pinceng tinggal di sini. Meski pun pinceng sudah tua renta, tetapi nyonya adalah seorang wanita janda, maka sungguh tidak baik bila..."

Liu Ma tersenyum geli, membuat Kong Hwi Hwesio tidak melanjutkan ucapannya malah memandang heran.

"Losuhu salah paham. Bukan maksud saya minta kepada losuhu supaya tinggal di sini. Tetapi dekat puncak Bukit Ayam Emas di sana itu terdapat sebuah kuil tua yang kosong dan tidak dipergunakan lagi. Kabarnya, puluhan tahun yang silam kuil itu menjadi tempat tinggal seorang tosu, tapi pertapa itu kemudian meninggal dunia di kuil dan dimakamkan di pekarangan kuil. Sejak itu pula kuil itu tidak ada penghuninya dan menjadi rusak karena tidak terawat. Bagaimana kalau saya minta ijin kepada kepala dusun, memperbaiki kuil itu kemudian losuhu tinggal di sana sambil mendirikan sebuah kelenteng? Dengan demikian losuhu dapat mendidik Han Lin dan setiap saat saya dapat menjenguknya."

Wajah hwesio itu berseri.

"Omitohud! Agaknya semua telah digariskan dengan lurus dan tepat sekali! Pinceng akan merasa senang sekali, nyonya, maka sebelumnya pinceng mengucapkan banyak terima kasih atas budi kebaikan nyonya."

Ucapan hwesio tua itu bukan sekedar untuk menyenangkan hati Liu Ma saja. Ketika dia melakukan perantauan dan tiba di daerah itu, hatinya sudah merasa tertarik sekali akan keindahan alam di situ.

Dia merasa dirinya sudah terlampau tua untuk mengembara Iagi, dan timbul keinginannya untuk tinggal di daerah yang sangat indah itu, untuk menghabiskan sisa hidupnya. Selain itu, juga dia ingin sekali meninggalkan ilmu­-ilmunya kepada seorang murid yang berbakat, di samping apa yang telah dia ajarkan kepada Yang Kui Lan dan Yang Kui Bi.

Maka dapat dibayangkan betapa senang rasa hatinya bahwa semua keinginan hatinya itu ternyata terkabul sedemikian mudahnya. Tanpa sengaja, ketika dia menikmati keindahan alam di dekat hutan bambu, dia bertemu dengan Han Lin yang segera dipilihnya sebagai calon muridnya. Kemudian ia bertemu dengan ibu anak itu yang dengan senang hati mau memperbaiki kuil tua untuk menjadi tempat tinggalnya! Semua begitu kebetulan, begitu tepat memenuhi kebutuhannya.

Ketika ditanya pendapatnya, Han Lin menyambut dengan gembira sekali keinginan Kong Hwi Hosiang yang ingin mengangkat dia sebagai muridnya. Segera dia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki hwesio itu dan berkali-kali menyebut, “Suhu!”

Hwesio tua itu tertawa bergelak. Liu Ma juga tertawa senang karena dia percaya bahwa di bawah bimbingan seorang hwesio tua yang demikian ramah dan baik, tentu Han Lin kelak akan menjadi seorang yang berguna. Dengan demikian tentu dia akan merasa berbahagia dan puas bahwa dia telah dapat memenuhi kewajiban dengan baik.....

Selanjutnya baca
KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-02
LihatTutupKomentar