Pendekar Pedang Akhirat

PENDEKAR PEDANG AKHIRAT

(Petualangan Wiro Sableng ke Negeri Tiongkok)

SATU

MUNGKIN ini adalah malam yang paling mengerikan bagi Wiro Sableng selama dia menginjakkan kaki dalam rimba persilatan Tiongkok. Segala sesuatunya gelap, hitam memekat. Hujan turun dengan lebat, angin bertiup dingin mengeluarkan suara aneh tiada hentinya. Sekali-­sekali guntur menggeledek dan di kejauhan terkadang terdengar suara lolongan liar serigala hutan.
Dalam keadaan basah kuyup Wiro berusaha mencari perlindungan. Saat itu dia berada di lereng sebuah bukit gundul, sekitar 100 lie dari tembok besar. 

"Hujan gila!" memaki Wiro. Dia lari terus. Dalam kepekatan itu dikejauhan dilihatnya satu bayangan hitam sebuah bangunan. Dia tak dapat memastikan bangunan apa adanya itu, namun Wiro segera menuju ke sana. 

Sesaat kemudian, bila dia sampai ke tempat tersebut ternyata klenteng yang sudah tidak terpakai lagi, Wiro mendekam di bawah atap klenteng yang miring. Hawa dingin baginya bukan apa-apa tetapi perut yang kosong keroncongan betul-betul merupakan siksaan. 

Sekilas kilat menyambar. Bumi sekejapan terang lalu gelap lagi. Ketika sekali lagi kilat berkiblat tiba­-tiba sepasang mata Wiro yang tajam melihat sebuah batu empat persegi yang tebalnya hampir tiga jengkal, lebar dua meter dan panjang tiga meter. Batu ini menutupi hampir separuh dari bagian depan klenteng itu. Meskipun dia tak mengerti mengapa batu itu sampai berada di tempat tersebut, dan kelihatannya di sana, semula Wiro tak mau ambil perduli. 

Namun ketika sekali lagi pula kilat menyambar menerangi tempat itu. Tepat di atas batu besar itu menggeletak sebuah tengkorak kepala manusia. Sepasang matanya yang merupakan dua buah lobang besar, memandang menyorot mengerikan pada Wiro sedang mulutnya seolah-olah melontarkan seringai maut ke arah pendekar ini. Pada batu besar itu, tepat di bawah tengkorak tadi, terdapat tulisan yang agaknya dibuat dengan darah berbunyi, 

LIAN SE-THIAN (LIANG AKHIRAT) 

"Gila betul! Apa-apaan ini?" membatin Wiro. 

Meskipun bulu kuduknya agak merinding juga, namun dia melangkah maju mendekati batu besar itu. Tangannya diulurkan menjamah tengkorak. Batok tulang kepala itu terasa dingin. Jari-jari tangan Wiro Sableng bergetar. Wiro garuk-garuk kepala dengan tangan kiri. Tangan kanannya kemudian mengangkat tengkorak tersebut. Maksudnya hendak ditelitinya. 

Namun mendadak sontak kelihatan dua larik sinar hijau yang busuk membersit dari sepasang rongga mata yang seram dari tengkorak, menyambar ke muka Wiro. Dari warna dan baunya sinar tersebut Wiro serta merta dapat memastikan bahwa sinar ini mengandung semacam racun yang amat jahat. 

Sebenarnya dengan memiliki Kapak Naga Geni 212 yang dapat memusnahkan segala macam racun itu, Wiro Sableng tak usah kawatir. Akan tetapi saking kagetnya, pemuda ini secepat kilat meloncat sambil memaki membantingkan tengkorak itu hingga hancur berkeping-keping. 

Secara tak sengaja tengkorak yang dibantingkan Wiro membentur sebuah tombol kecil yang terletak di salah satu sudut batu besar. Dan belum lagi pemuda ini habis kejutnya tiba-tiba pula batu besar di hadapannya bergeser ke samping. 

Sebuah lobang gelap terbentang dan dari lobang ini tiba-tiba sekali melesat sesosok bayangan disertai mengumbarnya suara tertawa bekakakan yang amat dahsyat. Angin kelebatan bayangan tadi demikian hebatnya hingga membuat Pendekar 212 Wiro Sableng terhuyung-huyung ke samping, Wiro cepat berpaling. 

Sesosok tubuh yang berpakaian compang camping kurus kering tiada beda dengan jerangkong hidup dan di bawah rambutnya yang panjang awut-awutan terdapat wajahnya yang menyeramkan macam iblis ganas. Dia masih terus mengumbar tertawanya yang seram menggetarkan itu. Sedang sepasang matanya yang cekung memandang tidak berkedip pada Pendekar 212. 

Wiro Sableng tetapkan hati mengusir rasa ngeri dan berseru, "Siapa kau?! Manusia apa bangsa setan pelayangan!" 

Orang yang ditanya tidak menjawab. Malah dia mendongak dan kembali menghamburkan suara tertawanya yang lantang menyeramkan. Dia tertawa sepuas-puasnya. Dan bila tawanya itu berhenti tiba­-tiba dia membuka mulut. 

"Tiga tahun dipendam tidak membuat aku mati! Tiga tahun disekap tidak membuat aku mampus! Tiga tahun dikubur tidak menjadikan aku modar! Betapa tingginya kekuasaan Thian!"

Wiro yang tak mengerti makna kata-kata orang aneh itu jadi garuk-garuk kepala. Siapakah adanya manusia yang ada di depannya itu, kalau dia memang manusia? Apakah dia telah terkurung atau dipendam dalam liang batu itu selama tiga tahun? Tanpa makan dan minum tapi toh bisa hidup. Hanya satu hal yang dapat dipastikan oleh Wiro yakni orang bermuka hampir seperti muka tengkorak itu memiliki ilmu yang tinggi. Ini terbukti dengan angin kelebatannya waktu keluar dari liang tadi, yang telah membuat Wiro Sableng terhuyung! 

"Budak! Kau kemarilah!" Tiba-tiba orang itu berseru dan melambaikan tangannya ke arah Wiro.

Aneh! Seolah-olah ada satu kekuatan gaib yang menariknya, Wiro kemudian melangkah ke hadapan orang itu. Dia memperhatikan pendekar kita dengan matanya yang cekung seram. 

"Heh, kau orang asing? Bukan orang sini! Tapi sudah, aku tak perduli! Katakan siapa namamu!" 

Wiro sebutkan namanya. "Locianpwe sendiri siapakah kalau siauwte boleh tanya?" 

"Saat ini kau belum layak mengetahui siapa diriku. Tapi budak, ketahuilah. Kau telah menyelamatkanku. "Ujarnya mengatakan. "hutang emas dapat dibayar, hutang budi dibawa mati. Membawa mati budi itulah yang aku tidak sudi. Karena kau telah selamatkan jiwaku dari liang neraka keparat ini maka aku akan memberikan tiga jurus ilmu pedang!" 

Wiro Sableng jadi kaget. "Locianpwe…" katanya. "Aku tak merasa menolongmu, apalagi menyelamatkan jiwamu?" 

"Tidak merasa…?" Orang aneh bermuka dan bertubuh tengkorak itu kembali tertawa gelak-gelak. "Kau telah menggeser batu besar itu hingga kini aku bebas. Tiga tahun lamanya aku disekap di liang jadah ini! Kalau tidak ada kau mungkin sampai mati aku akan mendekam terus di situ! Bukankah itu berarti kau telah menyelamatkan diriku? Menolong jiwaku!?" 

"Kurasa semua itu terjadi dengan tidak Sengaja. Hari hujan dan aku tersesat kemari…" 

"Sengaja atau tidak tapi tetap kau adalah tuan penolongku, budak! Nah sekarang kau bersiap-siaplah untuk menerima tiga jurus ilmu pedang dariku!" 

"Aku tanya dulu, Locianpwe!" memotong Wiro. 

"Tanya apa?" 

"Tiga tahun dipendam di dalam liang batu ini, bagaimana Locianpwe masih bisa hidup?" 

"Bukan cuma masih bisa hidup, malah menambah ilmu kesaktianku." 

"Ah, itu hebat sekali! Tapi cobalah Locianpwe terangkan bagaimana hal itu bisa terjadi. Manusia biasa tak bakal bisa terus hidup. Kecuali kalau Locianpwe ini sebangsa jin…!" 

Sesaat orang tua bermuka tengkorak itu mendelik dan mimiknya seperti hendak menelan Wiro bulat-bulat. Tapi sesaat kemudian kembali suara tertawanya yang dahsyat terdengar. 

"Terhadap orang yang telah menolong jiwaku tiada beda seolah-olah aku telah meminjam nyawamu sendiri. Karenanya apa pun yang kau bilang aku tak akan marah!" 

"Ah, kau terlalu berlebih-lebihan, Locianpwe…" 

"Mungkin… mungkin. Sekarang bersiaplah untuk menerima pelajaran ilmu dariku. Tapi…" Orang itu sejenak berpikir-pikir. 

"Sebelum pelajaran ilmu pedang, sebaiknya lebih dulu kuberikan sepertiga iwekangku padamu!" 

"Locianpwe, sebenarnya untuk satu pertolongan yang tidak sengaja itu aku tidak meminta balas jasa apa-apa…." 

"Perduli apa, toh aku memberikannya dengan sukarela." 

"Walaupun begitu aku tetap tak layak menerimanya." 

"Sudahlah, jangan banyak mulut. Lekas duduk bersila dan hadapkan punggungmu padaku. Aku akan buka jalan darah tay hwi hiat di bagian tubuhmu itu!" 

Wiro tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti dan duduk bersila. Si muka tengkorak kemudian berlutut di belakang Wiro dan letakkan kedua telapak tangannya pada punggung pemuda ini. Sesaat kemudian Wiro merasakan punggungnya menjadi hangat. Hawa hangat itu terus mengalir menembus kulit dan daging di punggungnya, mengalir ke seluruh pembuluh darahnya. Sekitar seperempat jam kemudian dengan butiran-butiran keringat di kening dan pakaiannya yang compang-camping basah kuyup, si orang tua itu buka kedua matanya dan berdiri. Dia menghela nafas lega. 

"Berdirilah!" 

Ketika berdiri Wiro merasakan betapa tubuhnya kini terasa amat mantap dan enteng. Sebagai seorang pendekar sakti mandraguna sebelumnya Wiro Sableng telah memiliki iwekang (tenaga dalam) yang amat tinggi. Ini ditambah pula dengan sepertiga bagian tenaga dalam baru dari seorang sakti misterius itu, dengan sendirinya dapat dibayangkan bagaimana hebat dan luar biasanya tenaga dalam yang sekarang dimiliki oleh Pendekar 212 Wiro Sableng, murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede itu. 

"Sekarang kau perhatikan baik-baik. Aku akan mainkan tiga jurus ilmu pedang yang dahsyat. Sesudah itu kau menirukannya." 

Orang sakti aneh itu rentangkan kedua kakinya. "Ini jurus pertama. Bernama Cip hian-jay-hong (Tiba­-tiba Muncul Pelangi). Perhatikan baik-baik!" Kemudian, "Jurus kedua Lo han Ciang-yau (Malaikat Menundukkan Siluman)" Setelah itu, "Dan ini jurus terakhir kunamai, Kui-gok-Sin-ki atau Setan Meratap Malaikat Menangis! Nah sekarang kumainkan sekali lagi satu persatu dan kau menirukannya." 

Wiro manggut-manggut sambil garuk-garuk kepala dan sepasang matanya memperhatikan dengan teliti. Bila orang tua tak dikenal ini selesai memainkan jurus pertama yang disebut "Tiba-tiba Muncul Pelangi" maka Wiro pun menirukannya. Demikian seterusnya. 

Si orang tua tertawa lebar dan usap-usap janggutnya yang panjang acak-acakan. "Budak, ternyata kau memiliki dasar ilmu silat yang tinggi dan meskipun tampangmu tolol tapi otakmu cerdas. Hanya dua kali melihat, kau sudah dapat menirukan masing-masing jurus ilmu pedang tadi tanpa salah sedikitpun! Dan dalam gelapnya cuaca begini, kau betul-betul hebat. Asal kau rajin melatih diri, pasti kau tak akan dapat dirubuhkan oleh jago pedang dari negeri mana pun...!" 

Wiro garuk-garuk kepala. 

"Nah, untuk sementara segala hutang budi kurasa sudah terbayar. Cuma hutang nyawa yang masih belum impas. Di lain hari kelak aku akan datang membayarnya berikut bunganya. Selamat tinggal budak…" 

"Locianpwe, tunggu!" Wiro berseru cepat. 

"Ada apa pula, budak?!" 

"Sudilah Locianpwe mengatakan siapa adanya manusia jahat yang telah mencelakakan dan memendam Locianpwe dalam liang batu tui" 

"Memangnya kenapa, budak?" 

"Aku akan mencarinya guna membalaskan sakit hati Locianpwe sebagai tanda terima kasih atas budi baik yang Locianpwe berikan hari ini padakul" 

Si orang tua tertawa gelak-gelak. "Budak, ternyata kau seorang yang punya hati polos, budi luhur dan tahu peradatan. Tapi ketahuilah, soal dendam kesumat dengan orang yang telah menjebloskan diriku dalam liang akhirat ini biarlah tetap menjadi urusanku dan tanggung jawabku!" 

"Satu pertanyaan lagi, Locianpwe," kata Wiro. Tapi astaga! 

Padahal kata-kata terakhir orang itu masih ternigiang di telinga Wiro, tapi sosok tubuhnya sendiri sudah berkelebat lenyap dari hadapannya. Tadi dia hendak menanyakan bagaimana selama tiga tahun terpendam di liang batu itu si orang tua masih bisa hidup. Tapi yang hendak ditanya sudah melesat pergi. 

Wiro melangkah mendekati lobang batu itu. Gelap. Dia berlutut dan meluruskan tangannya meraba-raba. Aneh, dinding liang itu dirasakannya basah dan berlapis semacam benda lembut. Ketika dikorek dan diteliti ternyata adalah sejenis lumut yang dapat dimakan. 

"Hemm…" menggumam Wiro. Kini dia mengerti. Liang batu tersebut ditumbuhi oleh lumut dan lumut inilah yang menjadi satu-satunya makanan yang menjadi pengisi perut orang misterius tadi selama tiga tahun dipendam di situ! 

Perlahan-lahan Wiro berdiri. Di luar hujan telah mulai reda. Tiba-tiba sepasang telinga Wiro yang tajam mendengar suara berdesir, di belakangnya lima pisau terbang menderu ke arah lima bagian tubuh pendekar ini. Tahu bahaya mengancam secepat kilat Wiro jatuhkan diri dan berguling ke sudut ruang ini. Lima pisau melabrak dinding, sebuah menancap, empat lainnya jatuh berkerontangan di lantai. 

"Pembokong pengecut! Coba perlihatkan tampangmu!" teriak Wiro marah. 

Dua sosok tubuh kemudian melesat masuk ke ruangan itu.

DUA

Dua orang yang barusan melesat masuk itu bertampang garang dan seram. Rambut merah panjang awut-awutan, kumis dan janggut berangasan. Mereka mengenakan jubah hitam. Pada leher masing­-masing tergantung sebuah kalung emas yang mata kalungnya merupakan kepala seekor harimau tengah mengangakan mulutnya. 

"Aku tidak kenal siapa kalian! Sama sekali tidak ada permusuhan di antara kita. Kenapa kalian menyerangku?" Wiro menghardik. 

Kedua orang itu tidak menjawab. Yang satu melangkah mendekati liang batu dan memandang tajam ke dalam. Sesaat kemudian dia berpaling pada kawannya dan dengan paras berubah kaget dia berseru, 

"Liang batu ini kosong!" 

"Hah?!" sang kawan tampaknya juga kaget sekali dan dengan satu gerakan kilat tahu-tahu sudah berada di tepi lobang batu. Memandang ke bawah dilihatnya liang batu itu benar-benar kosong. 

"Pasti bangsat inilah yang telah melepaskannya!" 

Sesaat kedua orang itu memandang melotot pada Wiro. Salah seorang dari mereka mendengus, dan buka mulut, 

"Mengaku! Bukankah kau yang telah menggeser batu besar ini dan melepaskan orang yang dipendam di dalamnya?!" 

Wiro Sableng paling benci pada manusia-manusia yang kasar dan galak serta memandang rendah orang lain seenak perutnya. Apalagi barusan kedua orang tak dikenal itu telah membokongnya dengan satu serangan maut. Maka pemuda ini pun menjawab, 

"Datang dengan baik, berkata dengan baik, bertanya dengan baik itulah peradatan dunia kangouw!" 

"Kurang ajar! Budak hina dina macammu ini hendak memberi kuliah pada kami? Apakah tidak melihat gunung Thay-san di depan mata?!" 

Sebenarnya Wiro telah jengkel melihat dua manusia-manusia di hadapannya itu. Namun ditindasnya rasa jengkel itu dan sebelum dia menghajar mereka, ingin terlebih dahulu hendak dipermainkannya. Dia garuk-garuk kepala, mendelikkan mata dan kerenyitkan kening lalu memandang berkeliling celingukan. 

"Gunung Thay-san, katamu heh! Aku tak mellihatnyal Kau tentu sudah keblinger sobat! Gunung Thay-san jauh dari sini. Ribuan lie, mana aku bisa melihat? Apalagi malam gelap gulita begini!" 

"Bangsat gila! Berani kau mempermainkan Siang-mo-kiam! Kepalamu menggelinding detik ini juga!" 

Habis membentak begitu, tak tahu kapan dia mencabut pedang, tiba-tiba saja sinar putih bertabur di depan hidung Wiro Sableng. Untung saja pendekar ini waspada dan buru-buru menyurut tiga langkah. Kalau tidak niscaya lehernya tersambar putus dan kepalanya benar-benar dibikin menggelinding oleh pedang lawan. 

"Siang mo-kiam? Sepasang Pedang Iblis?! Hem, tampang kalian memang pantas disebut iblis kesiangan!" 

Di hadapan Wiro kini kedua orang berjubah hitam itu masing-masing telah mencekal sepasang pedang perak. Keduanya berputar-putar mengelilingi Wiro. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berteriak nyaring dan detik itu juga empat bilah pedang berkiblat bersuitan menggempur empat bagian tubuh Pendekar 212 Wiro Sableng! 

Wiro jadi terkesima. Memandang berkeliling dia tak dapat lagi melihat kedua musuhnya. Di sekitarnya kini hanya terlihat gulungan-gulungan sinar putih yang membuntal-buntal menyelubungi dirinya. Tak satu jalan keluar pun tampak, sedang buntalan gulungan-gulungan sinar pedang musuh detik demi detik semakin menyempit. Pakaian dan rambut Wiro sampai berkibar-kibar oleh kerasnya deru angin sambaran empat pedang lawan 

"Hebat!" mengagumi Wiro dalam hati. Seumur hidupnya baru hari itu dia melihat ilmu pedang yang demikian luar biasanya. 

Pendekar ini bersuit nyaring dan lepaskan satu pukulan sakti. Segulung angin menerpa ke depan memapasi sinar pedang yang bergulung-gulung. Terdengar dua seruan tertahan dan kedua penyerang merasakan tubuh mereka terdorong, pedang masing-masing menyibak tak karuan. Mau tak mau keduanya cepat mundur. Namun serentak kemudian mereka menyerang kembali. 

Dan kali ini permainan pedang mereka berubah amat ganas hingga dalam waktu singkat terdengar, 

"Brettt... Brettt…!" Dua bagian pakaian putih Pendekar 212 kena dirobek! 

Wiro menggerung marah. Dia bersult nyaring dan lepaskan pukulan sakti bernama 'Benteng Topan Melanda Samudera'. Dia cuma kerahkan sepertiga bagian tenaga dalamnya, tetapi karena tadi sebelumnya dia telah menerima tambahan iwekang dari si orang tua misterius maka kini daya kekuatan tenaga dalam itu hebatnya bukan main. Siang-mo-kiam terpental hampir setengah tombak. 

Memikir sampai di situ maka Wiro kerahkan ginkangnya yang tinggi dan berkelebat lenyap. Sebelum kedua musuh tahu di mana dia berada tahu-tahu salah seorang dari mereka merasakan pedang di tangan kirinya terbetot lepas! Dan di lain kejap bila dia memandang ke depan dilihatnya Wiro telah berdiri dengan dua kaki terpentang dan pedang melintang di depan dada! 

Saking kagetnya, kedua orang itu sesaat jadi kesima. Betapa tidak. Selama 20 tahun malang melintang dalam dunia kangouw belum ada satu lawan pun yang mampu berbuat demikian terhadap sepasang Pedang Iblis. Jangankan untuk merampas pedang, lolos dari kepungan empat bilah senjata maut itu pun tiada yang sanggup. Hari ini Sepasang Pedang Iblis atau Siang-mokiam betul-betul dibuat mendelik mata masing-masing. 

"Orang asing, siapakah kau sebenarnya?!" 

Wiro ganda tertawa. "Kalian berlututlah minta ampun di depanku, baru aku kasih tahu nama tuan besarmu ini!" 

Wajah kedua orang itu tegang membesi. Mata mereka laksana dikobari api, saking marahnya. Penghinaan begini rupa tak pernah mereka terima sebelumnya. 

"Anjing liar! Lekas sebutkan namamu...! Siang-mokiam tak pernah membunuh musuh yang tak bernama!" 

Kembali Wiro perdengarkan suara tertawa. Kali ini bernada mengejek. 

"Jika kau tidak mau kasih tahu nama tidak apa. Berarti kau bakal mati dengan penasaran! Sekarang beri tahu cepat ke mana perginya orang yang dipendam di dalam liang sini?!" 

"Katakan dulu apa sangkut paut kalian dengan dia?!" balik bertanya Wiro. 

"Budak keparat ini terlalu banyak bacot! Lebih bagus kita bereskan saja cepat-cepat dan bawa kepalanya ke hadapan Dewi sebagai pertanggungan jawab!" 

Habis berkata begitu salah seorang dari dua manusia berjubah itu mendahului menyerang, tapi kawannya pun kemudian menyusul pula dalam satu gerakan kilat. Kini hanya tiga pedang yang datang menggempur, tapi kehebatannya tetap tiada kepalang dan sedikit saja Wiro lengah pastilah akan terkutung-kutung bagian tubuhnya! 

Di lain pihak Wiro memang sudah tunggu dan mengharapkan serangan ini. Tiga pedang bertaburan di depan matanya. Dengan tenang Wiro mainkan jurus pertama ilmu pedang yang baru diterimanya yakni Cip-hian jay hong atau 'Tiba-tiba Muncul Pelangi'. Pedang perak di tangannya bersuit ke udara menimbulkan sinar berkilauan hampir selebar satu tombak dan melengkung! 

"Jurus Tiba-tiba Muncul Pelangi!" salah seorang dari Siang-mo-kiam berseru kaget dan melompat mundur. Tapi... 

"Tring...! Tring...!" 

Pedang kedua orang mental patah ke udara. Yang satu terhuyung sambil pegangi dadanya yang koyak besar. Lalu tergelimpang mandi darah. Kawannya mengerang terduduk di pojok kiri ruangan sambil pegang lengan kirinya yang buntung dan berkucuran darah! 

Sesaat Wiro sendiri jadi melotot, tak percaya akan apa yang dilihatnya. Dia barusan telah memainkan jurus pertama dari ilmu pedang aneh yang dipelajarinya, bahkan jurus pertama itu pun belum rampung keseluruhannya dan tahu-tahu kedua lawannya telah roboh demikian rupa! 

Melihat kawannya mati si jubah hitam yang lengan kirinya buntung menggembor marah. Mukanya ganas sekali. 

"Keparat! Ada hubungan apa kau dengan Pendekar Pedang Akhirat Long-sam-kun?!" 

"Aku mana tahu segala macam akhirat. Sebaiknya nanti saja kau lihat sendiri bagaimana keadaan di akhirat itu!" 

"Setan! Jika kau bukan muridnya tua bangka Long-sam-kun itu tak nanti kau memiliki ilmu pedang itu! Tapi jangan kira aku takut padamu! Hari ini aku mengadu jiwa denganmu! Nyawa kawanku harus kau bayar dengan nyawa anjingmu!" 

Orang itu melompat. Meskipun lengannya luka parah, buntung dan masih mengucurkan darah serta cuma memegang satu pedang di tangan kanan, namtjn masih saja serangan yang dilancarkannya itu hebat berbahaya. 

Wiro berkelebat ke samping dan siap membalas kembali dengan ilmu pedang yang baru di­kuasainya, namun tiba-tiba serangan itu ditariknya kembali. Dia tak ingin musuh kedua ini menemui kematian pula. Lebih penting bila dia bisa mendapatkan keterangan mengapa mereka begitu bernafsu menginginkan jiwanya dan siapakah sebenarnya Pendekar Pedang Akhirat Long-sam-kun itu, apakah orang tua yang dipendam dalam liang batu dan ditolongnya itu? 

Pada saat tebasan pedang lawan lewat, Wiro kirimkan satu serangan susupan ke arah iga musuh. Namun ini cuma satu tipuan saja, karena begitu lawan berkelit dan hendak membacok ganas, Wiro sudah selundupkan kaki kanannya. Tendangannya tepat menghantam pinggul orang itu dan membuat musuh terpekik melintir dan pedangnya lepas dari genggaman. Selagi dia terhuyung-huyung, Wiro jambak rambutnya yang merah dengan tangan kiri. 

"Katakan, siapa yang menyuruhmu inginkan jiwaku?!" 

"Tidak ada yang menyuruh!" 

"Keparat, jangan dusta! Jika kau tak mau bicara…." Wiro Sableng pelintir kepala orang itu hingga dia merintih kesakitan. "Kau masih ingin hidup?" 

"Percuma saja. Kau sudah bunuh kawanku. Dan kalaupun aku hidup tiada gunanya." 

"Kenapa tiada guna?" 

"Pemimpinku akan menghukumku dengan kematian juga!" 

"Hem… sekarang kau nyerocos sendiri. Ayo katakan siapa pemimpin kalian!" sentak Wiro. 

"Baik, aku akan bicara. Tapi lepaskan dulu jambakanmul" jawab orang itu. 

Wiro lalu lepaskan jambakannya pada rambut musuh. Namun baru saja jambakan dilepaskan, tiba­-tiba sekali, di luar dugaan Wiro, orang itu angkat tangan kanannya dan... 

"Braakkk!" Dia berjibaku. Kepalanya dipukul sendiri hingga rengkah! Nyawanya putus detik itu juga! 

"Keparat, aku kena ditipu! Manusia tolol! Diberi hidup inginkan mampus!" 

Wiro bantingkan pedang perak ke lantai. Setelah merenung sejenak dia mendekati mayat Siang-mo­kiam dan menanggalkan kalung emas berkepala harimau itu dari leher keduanya.

********************
WWW.ZHERAF.COM
TIGA

Wiro Sableng lenggang kangkung memasuki kota Khay-hong tanpa memperdulikan orang yang memperhatikannya. Di hadapan sebuah kedai kecil dia berhenti. Masuk ke sana didapatinya sudah ada beberapa orang tamu asyik makan bubur ayam dan meneguk teh hangat. 

Wiro mengambil tempat duduk dan sebagaimana biasa pandangan mata orang kemudian tertuju penuh perhatian padanya. Selesai mengisi perut Wiro bermaksud untuk melanjutkan perjalanan. Dia ingin buru-buru mencari tahu siapa adanya kedua orang berkalung emas yang semalam berniat membunuhnya di bekas reruntuhan klenteng. Karenanya, setelah membayar harga makanan dan minuman, segera dikeluarkannya kalung harimau emas dan diperlihatkannya pada pemilik kedai. 

"Lopek, mungkin kau mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan kalung ini…?" 

Sesaat matanya melihat kalung harimau emas yang digoyang-goyangkan Wiro di tangan kanannya, paras pemilik kedai serta merta berubah pucat pasi. Tetamu lain yang juga ada di kedai itu kelihatan menjadi ketakutan, beberapa di antaranya segera menyingkir. 

"He…?" Wiro tentu saja menjadi heran. 

Di hadapannya pemilik kedai jatuhkan diri berlutut dan menjura berulang kali. "Mohon dimaafkan aku si orang tolol ini yang tidak mengetahui gunung Thay-san di depan mata." 

"Lagi-lagi gunung Thay-san!" menggerutu Wiro di dalam hati. 

"Ampunilah selembar jiwaku yang tiada berharga ini karena aku sebelumnya tidak mengetahui kalau tayhiap adalah anggota dari Hun-tiong Houw mo yang termasyur itu." 

Habis berkata demikian pemilik kedai itu lantas keruk sakunya, mengeluarkan beberapa tail perak yang barusan diterimanya dari Wiro dan mengembalikannya pada pemuda itu seraya berkata, 

"Harap tayhiap sudi menerimanya kembali. Untuk segala hidangan yang tak seberapa itu masakan aku berani meminta bayaran pada tayhiap. Kehadiran tayhiap di sini sesungguhnya satu kehormatan besar bagiku…" 

"Eh, lopek. Jadi aku ini tak usah membayar…?" 

"Betul… betul…!" 

Wiro garuk-garuk kepala dan memasukkan kembali beberapa tail perak itu ke dalam pakaiannya. Diam-diam dia semakin heran. 

"Jika sekiranya tayhiap ingin anggur atau arak yang baik untuk di perjalanan, aku segera akan menyediakannya…" 

"Tak usah… tak usah," kata Wiro pula seraya geleng-geleng kepala. 

Sebenarnya Wiro ingin menanyakan apa yang dinamakan Hun-tiong Houw-mo (Siluman Harimau Dari Hun Tiong) itu. Siapa pemimpinnya dan di mana letak markasnya. Di samping itu apakah kalung harimau tersebut merupakan tanda bagi setiap anggota Hun-tiong Houw-mo. Namun tentu saja saat ini dia menjadi kebingungan karena si pemilik kedai telah menganggapnya sebagai salah seorang anggota dari Hun-tiong Houw-mo. 

Tampaknya nama Hun-tiong Houw-mo begitu ditakuti di Khay-hong. Dan ini berarti Hun-tiong Houw­mo bukanlah sesuatu yang baik. Setelah merenung sejenak akhirnya sambil garuk-garuk kepala Wiro putar tubuh dan tinggalkan kedai itu. Kalung emas dimasukkannya kembali ke dalam pakaiannya. 

Pada saat dia keluar dari kedai, matahari telah mulai naik. Wiro memandang berkeliling di mana kira-kira dia bisa mendapatkan keterangan tentang spa yang dinamakan Hun-tiong Hauw-mo itu. Di ujung jalan sebelah kanan dilihatnya dua orang pemuda berjalan kaki ke arahnya Wiro menunggu sampai kedua orang pemuda itu sampai ke dekatnya. Namun tiba-tiba dari ujung lain sebelah kiri terdengar gemeletak roda gerobak yang ditingkah oleh derap kaki-kaki kuda berisik sekali. Wiro berpaling ke kiri! 

Sebuah gerobak yang ditarik oleh dua ekor kuda besar lewat dengan cepatnya. Di sebelah depan duduk dua orang lelaki bermuka bengis. Di bagian belakang yang terbuka duduk pula dua lelaki yang juga bermuka ganas. Masing-masing memanggul golok besar pada punggungnya. Di atas gerobak terdapat sebuah peti mati berwarna hitam. 

Di belakang gerobak ini mengikuti seorang lelaki separuh baya berpakaian ungu. Di balik pinggang pakaiannya tersembul gagang sebilah senjata. Orang ini menunggang seekor kuda coklat. Sebenarnya tak ada yang menarik perhatian Wiro atas lewatnya rombongan pembawa peti mati ini, jika saja sepasang matanya yang tajam tidak melihat seuntai kalung emas berkepala harimau yang tergantung pada leher penunggang kuda coklat itu.

Wiro memandang berkeliling. Di seberang jaIan sana dilihatnya tertambat seekor kuda putih di depan sebuah toko kecil. Tanpa pikir panjang lagi Wiro segera lari ke seberang jalan, membuka ikatan kuda pada tiang lalu melompat ke punggung binatang ini. Baru saja dia menarik tali kekang kuda tiba­tiba dari toko keluarlah seorang dara berbaju merah. Parasnya yang jelita serta merta berubah marah. 

"Pencuri kuda kurang ajar! Berhentilah jika tidak kepingin mampus!" 

Namun mana Wiro mau perduli. Menoleh pun tidak. Niatnya sudah bulat untuk mengejar rombongan pembawa peti mati tadi dengan cepat. 

Melihat teriakannya tidak diacuhkan, dara baju merah tadi keruk saku pakaiannya dan sesaat kemudian dua puluh jarum beracun berwarna hijau melesat menyebar, hampir tak kelihatan saking cepatnya, menderu ke arah 20 jalan darah di tubuh Wiro Sableng. 

Di antara kerasnya derap kaki kuda putih yang sedang dipacunya itu, Wiro mendengar suara bersiuran di belakang punggungnya yang disertal sambaran angin halus. Sebelumnya dia sudah mendengar bentakan seorang perempuan. Semua itu sudah jelas menunjukkan bahwa dia tengah diserang dengan piauw secara ganas. 

Tingkat kepandaian murid Eyang Sinto Gendeng yang tengah merantau di negeri orang itu seperti diketahui sudah mencapal tingkat tinggi. Karenanya meskipun diserang dari belakang demikian rupa, cukup tanpa menoleh dia lambaikan tangan melepas pukulan 'Angin Puyuh'. Dua puluh piauw beracun yang dilemparkan dara berbaju merah serta merta mental dan luruh ke tanah. 

Sang dara kaget bukan kepalang. Dia menggembor marah dan melompat sampai tiga tombak ke depan untuk mengejar Wiro. Namun tentu saja dia tak dapat mengejar kuda besar yang larinya cepat luar biasa itu. Baru saja dia membuat lompatan, Wiro dan kuda putihnya sudah lenyap di balik tikungan jalan. Dara ini mengomel setengah mati. Namun apakah yang bisa dibuatnya…? 

Setelah menempuh jarak lebih dari 80 lie, rombongan yang dibuntuti oleh Wiro Sableng berhenti di sebuah telaga kecil. Sebenarnya Wiro sudah gatal untuk buru-buru turun tangan terhadap rombongan tersebut. Pertama untuk menyelidiki apa sebenarnya rahasia yang ada di balik kalung emas berkepala harimau itu. Apa dan siapa sebenarnya Hun-tiong Hauw-mo itu dan di mana markasnya. Apa tujuan komplotan Siluman Harimau tersebut jika memang dia merupakan satu komplotan. Lalu apa sangkut pautnya dengan tua renta aneh yang secara tak sengaja telah ditolongnya ke luar dari Hang akhirat malam tadi. 

Namun karena memikir mungkin sekali rombongan pembawa peti mati itu tengah menuju ke markas Hun-tiong Hauw-mo maka Wiro mempersabar diri dan terus melakukan penguntitan secara diam-diam. Memperhatikan peti mati di atas gerobak dari tempat persembunyiannya di balik semak-semak, Wiro jadi berpikir-pikir kembali. Apakah peti mati itu kosong atau ada isinya? 

Jika kosong apa gunanya dibawa demikian jauh. Kalaupun untuk penguburan jenazah, adalah terlalu mencapaikan diri harus memesan peti mati dari tempat yang amat jauh. Sebaliknya jika dalam peti mati itu memang ada jenazahnya, kenapa rombongan membawanya dengan amat tergesa-gesa? Tidak lazim sama sekali mayat diangkut begitu sembrono, di atas gerobak yang dipacu kencang terus menerus, apalagi jalan demikian buruknya. 

Sementara orang-orang dalam rombongan itu beristirahat sambil meneguk arak, Wiro Sableng cuma bisa leletkan lidah membasahi bibir. Tak lama kemudian rombongan itu dilihatnya bersiap-siap hendak berangkat kembali. Dan kembali pula Wiro bersama kuda curiannya mengikuti orang-orang itu. 

Beberapa jam kemudian di ufuk barat sang surya telah mulai merosot ke titik tenggelamnya. Warnanya yang tadi putih menyilaukan dan terik kini kelihatan menjadi redup kemerah-merahan. Pada saat itulah rombongan pembawa peti mati memasuki kota Ci-bun. Mereka langsung menuju sebuah hotel. Dua orang jongos keluar menyambut kedatangan mereka. 

Namun keduanya serta merta tersurut langkah ke belakang dan pucat pasi wajah masing-masing. Mata mereka mendelik memandang kalung kepala harimau yang tergantung pada leher penunggang kuda berpakaian ungu. Seolah-olah kedua jongos hotel ini telah melihat setan kepala sepuluh yang mengerikan. Orang yang dipandang dengan mimik ketakutan itu kelihatan menyeringai. Dia membuka mulut dan bicara dengan nada keras,

"Untuk malam ini semua kamar hotel kami sewa. Ini hadiah dua tail perak untuk kalian. Tapi ingat! Awas jika kalian berani memberikan satu kamar saja buat siapa pun!" 

Habis berkata demikian lelaki baju ungu lantas lemparkan dua tail perak pada kedua jongos. Meskipun tadi ketakutan setengah mati, namun diberi uang dua jongos hotel itu ulurkan tangan menyambut. 

"Loya, apakah peti mati ini perlu diturunkan juga?" salah seorang dari empat lelaki bertampang bengis yang mengawal gerobak bermuatan peti mati bertanya begitu lelaki berpakaian serba ungu loncat turun dari atas kuda. 

Yang ditanya menjawab sambil memandang sekeliling halaman hotel. "Gotong ke kamar tidurku. Kau dan tiga kawanmu harus berjaga-jaga di luar kamar. Perjalanan kita masih cukup jauh dan aku tidak ingin terjadi kesulitan mendadak." 

"Perintahmu akan kami jalankan, Loya. Dan kau tak usah kawatir soal keamanan peti mati itu. Serahkan saja kepada kami Empat Golok Kematian…" 

Orang itu kemudian putar tubuh dan bersama tiga kawannya dia menggotong peti mati ke kamar yang disediakan jongos hotel untuk lelaki berbaju ungu. Empat Golok Kematian adalah empat perampok berkepandaian tinggi yang sering malang melintang di daerah barat. Rata-rata memiliki tenaga dalam yang besar. Namun dari cara mereka mengangkat peti mati tersebut kentara sekali bahwa peti tersebut amat berat. 

Apakah sebenarnya isinya? Bahkan Empat Golok Kematian sendiri pun tidak mengetahui. Mereka cuma dibayar untuk mengawal gerobak tersebut ke satu tempat yang mereka tidak tahu. Sepanjang perjalanan antara mereka saling bisik-bisik menduga-duga apa isi peti misterius tersebut. Hendak menanyakan pada lelaki baju ungu mereka tidak berani. Mereka tahu betul salah-salah mulut dan tingkah bukan mustahil nyawa mereka imbalannya. Meskipun mereka berjumlah lebih banyak dan rata-rata berkepandaian tinggi, namun terhadap si baju ungu berkalung harimau itu mereka laksana kelinci dengan singa! 

Setelah peti mati dimasukkan ke dalam kamarnya, lelaki berpakaian ungu lantas kunci pintu dan jendela kamar, memeriksa keadaan tempat itu lalu duduk bersila di lantai. Di luar kamar Empat Golok Kematian berjaga-jaga sedang di pintu halaman dua jongos hotel tegak pula melakukan penjagaan. 

Seekor kelelawar menggelepar di puncak sebuah pohon, ketika dua jongos yang mengawal di pintu halaman hotel melihat seorang penunggang kuda putih mendatangi. Acuh tak acuh orang ini hendak masuk melewati pintu halaman begitu saja. Kedua jongos serta merta menahannya. 

"Bukankah bangunan di dalam halaman ini sebuah rumah penginapan," penunggang kuda putih bertanya. 

Dia bukan lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng. Saat itu hari sudah gelap. Dua jongos hotel tidak begitu jelas melihat wajah penunggang kuda putih. Namun dari logat bicaranya kentara sekali kalau orang itu adalah orang asing. 

"Betul dugaanmu cuwi. Tapi harap dimaafkan. Jika kau bermaksud bermalam di sini ketahuilah semua kamar hotel telah penuh." 

"Penuh? Tak satu pun yang ketinggalan?" 

"Tak satu pun!" 

"Tapi barusan kalau aku tak salah lihat serombongan yang terdiri dari lima orang telah datang kemari. Masakan untuk mereka berlima ada, untuk aku yang sendiri tidak ada!" 

"Mereka… mereka memborong semua kamar dalam hotel ini. Harap cuwi mau cari rumah penginapan yang lain." 

"Tubuhku letih, perutku lapar. Aku perlu buru-buru istirahat. Harap kalian beri jalan!" 

"Kami sudah bilang semua kamar penuh. Harap cuwi mengerti dan jangan kelewat memaksa?"

"Aku bisa tidur di dapur!" 

"Itu tidak mungkin!" 

"Kenapa tidak mungkin?" sentak Wiro lantas gebrak kudanya dan menerobos masuk ke dalam halaman. 

Kedua jongos hotel cepat memburu. Satu menahan tali kekang kuda putih, satu lagi menarik ekor binatang itu. Wiro jadi jengkel. Jelas sudah ada apa-apa yang tak semestinya. 

"Kalian minta digebuk!" desis pendekar ini lalu melompat turun dan hadiahkan masing-masing satu tamparan pada kedua jongos tersebut. 

Karena tamparan cukup keras, kedua jongos itu melolong kesakitan dan rubuh ke tanah. Wiro putar tubuh untuk melangkah ke pintu depan hotel. Baru maju dua tindak, sesosok bayangan hitam berkelebat. Satu bentakan terdengar, 

"Bangsat rendah dari mana yang berani mengacau di sini?!" 

EMPAT

Berpaling ke kiri Wiro Sableng melihat seorang lelaki berpakaian hitam, bertubuh tegap dan punya tampang garang, berdiri mencekal sebilah golok besar. 

"Siapa kau?" sentak orang ini yang bukan lain adalah seorang dari Empat Golok Kematian. Dia melirik pada dua jongos hotel yang melingkar merintih-rintih di tanah. 

"Ah, kau lebih sopan sedikit dari dua kurcaci konyol in!," jawab Wiro pula. 

"Aku datang ke mari untuk menyewa kamar dan menginap." 

"Semua kamar sudah penuh. Kami memakainya semua!" jawab orang itu. 

Wiro garuk-garuk kepala. 

"Jika sudah tahu lekas angkat kaki dari sini!" 

"Yang aku belum tahu…" kata Wiro pula anteng-anteng, "Kalian cuma berlima sedang hotel ini punya hampir sepuluh kamar. Masakan penuh semua!" 

"Rupanya kau perlu diajar tahu dengan ini!" orang ketiga dari Empat Golok Kematian itu jadi naik darah dan babatkan goloknya kepada Wiro Sableng. Senjata ini besar berat dan menimbulkan suara bersiuran. 

Wiro segera maklum kalau manusia di hadapannya ini tidak sama dengan jongos hotel tadi. Cepat dia meluncur mengelit. Ujung golok lewat satu jengkal dari dadanya. Melihat serangannya tidak membawa hasil, orang itu menggembor marah dan membacok sebat. Tapi lagi-lagi serangannya hanya mengenai tempat kosong. 

"Bangsat, jika kau punya kepandaian keluarkan senjata!" dia membentak. 

Kemudian dia hanya mendengar suara orang tertawa perlahan dan memandang ke depan, Wiro Sableng dilihatnya tak ada lagi di tempat. Belum habis kagetnya tiba-tiba... 

"Dukkk...!" 

Satu jotosan menghantam punggungnya. Empat Golok kematian mengeluh dan tersungkur ke depan. Dia coba mengimbangi tubuh tapi satu totokan membuat dia tak bisa bergerak ataupun buka suara! Dalam hatinya orang ketiga dari Empat Golok Kematian ini memaki dan penasaran setengah mati. Seumur hidupnya baru sekarang dia dipecundangi lawan semuda itu. Siapakah adanya pemuda asing yang lihay ini...? 

Wiro melangkah mendekati bangunan hotel. Pintu depan tidak dikunci. Dia langsung melangkah masuk. Tapi baru masuk dua tindak, tiga senjata dilihatnya berkelebat ke arahnya. Satu menyambar ke dada, satu membabat ke muka dan satu lagi menusuk ke arah pintu. Ganas sekali serangan tiga senjata itu. Kalau saja Wiro tidak lekas melompat ke belakang niscaya tubuhnya akan mandi darah dan nyawanya akan putus! 

Baru saja Wiro menginjakkan kaki di serambi depan hotel, tiga sosok tubuh masing-masing men­cekal golok telah mengurungnya. Melihat kepada tampang dan pakaian mereka Wiro segera maklum kalau tiga manusia ini pastilah kambrat-kambrat yang satu tadi. Saat itu bagian serambi depan hotel tiada berpenerangan. Dalam suasana gelap begitu tiga orang tersebut kembali menggempur Wiro. Serangan tiga golok mereka bukan sembarangan dan Wiro harus berhati-hati. 

"Aku heran, ke mana kawan kita yang seorang," berbisik salah seorang Empat Golok Kematian pada teman di sebelahnya. 

"Jangan-jangan sudah terjadi apa-apa atas dirinya." 

Menduga sampai di situ ketiga orang tersebut kemudian putar golok masing-masing dengan sebat. Sampai saat itu Wiro masih mengandalkan tangan kosong dan ginkangnya. Namun serangan tiga golok makin lama makin gencar dan kurungan ketiga lawan itu semakin rapat. 

"Ilmu golok kalian hebat sekali. Tahan dulu! Aku mau bicara." Wiro tiba-tiba berseru. 

Tapi ketiga orang tersebut tidak mau hentikan serangan. Mereka menduga kawan mereka yang seorang telah celaka di tangan pemuda tak dikenal itu, karenanya mereka berkeputusan untuk membunuh Wiro. 

"Bagusnya kau sebutkan siapa nama dan dari mana kau datang agar kau tidak mampus penasaran," salah seorang dari Empat Golok Kematian berseru dan goloknya bersiut-siut mengirim serangan yang tidak berkeputusan. 

"Kalau mengandalkan tangan kosong terus menerus aku bisa mati konyol!" kata Wiro dalam hati. 

Sebaliknya untuk mengeluarkan kapak saktinya saat itu dirasanya masih belum pada tempatnya. Karenanya ketika mengelakkan satu bacokan dan dua tusukan golok ketiga lawannya, dengan menjambret, patah sebatang cabang pohon yang panjangnya lebih dari satu meter dan besarnya selingkaran lengan. 

Melihat lompatan yang barusan dibuat oleh Wiro, yang demikian gesit serta ringan sekali, ketiga lawannya diam-diam merasa kaget juga. Semakin jelas bagi mereka bahwa orang asing berambut gondrong itu bukan manusia sembarangan. Namun sebagai jago-jago yang memiliki ilmu silat tinggi serta pengalaman luas di dunia persilatan, tentu saja mereka tidak merasa jerih. Sebaliknya tiga manusia ini kembali menyerbu disertai dengan bentakan-bentakan dahsyat. 

Semula Wiro Sableng akan sambut tiga serangan itu dengan jurus 'Kipas Sakti Menerpa Hujan', yakni salah satu jurus ilmu silat yang dipelajarinya dari gurunya Eyang Sinto Gendeng. Namun saat itu selintas pikiran timbul dalam benaknya. Waktu menghadapi Siang-mo kiam tempo hari dia telah mengeluarkan jurus pertama dari ilmu pedang yang diterima dari manusia aneh berjuluk Pendekar Pedang Akhirat. Hasilnya luar biasa, membuat Siang-mo kiam atau Sepasang Pedang Iblis mandi darah. 

Kini bukankah ada baiknya kalau dia mencoba pula jurus kedua dari ilmu silat aneh tersebut? Yaitu jurus pedang yang disebut Lo han Ciang-yau atau 'Malaikat Menundukkan Siluman'. Begitulah, sewaktu tiga golok besar berkiblat untuk membantainya, Wiro lantas putar cabang di tangannya dalam jurus ilmu pedang tadi. 

Tiga lawannya tiba-tiba melihat sesuatu menghitam di depan mereka yang disertai dengan suara bersiur yang berat. Hanya sepasang cabang kayu masakan sanggup menghadapi tiga golok besar, demikian ketiga orang dari Empat Golok Kematian itu berpendapat serta memandang rendah lawan. 

Namun apa yang terjadi kemudian betul-betul mereka tidak menduga. Pertama sekali anggota Empat Golok Kematian yang di ujung kanan terpelanting hampir satu tombak, melingkar di tanah dengan kepala pecah kena hantaman cabang kayu di tangan Wiro. Dia mati tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. 

Empat Golok Kematian yang berada di tengah masih sempat mengeluarkan suara keluhan pendek sewaktu dadanya kena dihantam cabang kayu, lalu jatuh tergelimpang di tanah, megap-megap seketika, mengeluh sekali lagi dan mati. 

Yang ketiga masih untung karena hanya tulang lengannya saja yang remuk dan goloknya mental ke atas. Orang ini tanpa tunggu lebih lama segera putar badan dan ambil langkah seribu. 

Sementara itu di dalam hotel sewaktu terjadi keributan. Lelaki separuh baya yang berpakaian serba ungu dan berada dalam salah satu kamar hotel di mana Juga terletak peti mati hitam, itu menjadi kaget ketika di luar didengarnya suara ribut-ribut orang berkelahi. Setelah mengunci pintu dan jendela kamar itu serta memadamkan lampu minyak, dengan satu gerakan yang lihay dia melompat ke atas panglari. Dari sini dia membuka genteng kamar dan di lain saat dia sudah berada di atas atap hotel. 

Siapakah sebenarnya orang ini. Dia bernama Tio Ki-pi, seorang tokoh silat dari propinsi Ciat kang yang dikenal dengan julukan Thian-liong-pan atau si Ruyung Naga selama delapan tahun lebih dia dikenal sebagai seorang pendekar gagah golongan putih yang telah banyak jasanya dalam menolong manusia-manusia lemah dan tertindas. 

Namun sejak beberapa bulan belakangan ini Tio Ki-pi telah tersesat dan menempuh jalan salah, ikut bersekutu dengan satu komplotan manusia jahat. Di dalam gelapnya malam, dari atas atap hotel, Tio Ki-pi dapat melihat tiga dari Empat Golok Kematian tengah mengeroyok seorang tak dikenal tak berapa jauh dari situ menggeletak sesosok tubuh yang tak dapat tidak pastilah anggota Empat Golok Kematian yang telah kena dipreteli lawan. 

Di bagian lain dari halaman itu dua orang jongos hotel tampak melingkar di tanah. Segala sesuatunya kemudian begitu cepat terjadi. Sehingga belum sempat Tio Ki-pi berbuat sesuatu, berturut-turut terdengarlah suara bergedebukan, suara keluhan dan jeritan dua dari Empat Golok Kematian, dilihatnya menggeletak di tanah sedang yang ketiga lari pontang-panting sambil menjerit kesakitan. 

Sepasang alis mata Tio Ki-pi naik ke atas. Sesaat mukanya kelihatan tegang. Siapakah adanya orang di bawah sana yang demikian lihay dan mengandalkan kepandaiannya untuk melakukan pembunuhan begitu rupa? Sejenak jago silat dari Ciat kang ini berpikir. Kemudian laksana seekor burung walet dia melayang turun dari atas atap hotel dan menjejakkan kakinya ditanah tanpa menimbulkan suara barang sedikit pun. 

"Orang asing dari manakah yang telah menunjukkan keganasan di sini? Harap beritahukan nama dan gelar!" 

Wiro kaget dan cepat berpaling. Jika sampai sepasang telinga tidak jelas menangkap kedatangan orang ini jelas dia memiliki ilmu yang lihay. 

"Ah, kiranya kau…!" kata Wiro begitu dia melihat si baju ungu. 

"Kau kenal aku?!" Tio Ki-pi menghardik. 

"Cuma kenal tampang. Siapa kau adanya aku masih belum tahu…" jawab Wiro sambil nyengir. 

"Manusia-manusia itu tiada permusuhan dengan kau. Kenapa kau turun tangan sekejam itu?" 

Pendekar 212 garuk-garuk kepalanya lantas menjawab, "Mereka mencari urusan yang tak karuan. Masakan aku mau menginap di hotel ini mereka bilang semua kamar penuh. Brengsek! Lagi pula, kalau melihat tampang-tampangnya, yang dua ini serta yang tadi lari itu tampaknya bukan manusia baik-baik." 

"Mereka adalah Empat Golok Kematian pembantu-pembantuku!" 

"Pembantu-pembantumu…? Ah!" Wiro geleng-geleng kepala. 

"Orang asing. Dari gerak-gerik cecongormu, aku yakin juga kau bukan manusia baik-baik. Ke­datanganmu kemari membawa satu maksud yang tersembunyi. Mengapa!" 

Wiro tertawa. Kembali tangannya menggaruk-garuk kepalanya. "Kau betul. Jika aku boleh tanya, apakah isi peti mati yang ada di dalam hotel itu hingga pembawaannya dikawal ketat demikian rupa bahkan sampai-sampai dua manusia tolol itu mau pasrahkan jiwa mereka?" 

Tio Ki-pi berusaha melenyapkan perubahan air muka kekagetan atas pertanyaan Wiro yang tidak diduganya itu. "Oh, kiranya peti mati itulah yang menjadi perhatianmu? Apakah itu menjadi urusanmu?!" 

"Tentu saja bukan. Tapi kalau semua itu ada sangkut pautnya dengan kalung emas kepala harimau yang kau pakai maka itu lain pula ceritanya!" 

"He, tahukah kau apa artinya kalung kepala harimau ini?" tanya Tio Ki-pi seraya pegang kalung yang tergantung di lehernya. 

Dari balik pakaiannya, Wiro Sableng keluarkan salah satu kalung kepala harimau emas yang diam­bilnya dari Siang mo Kiam. Seraya menimbang-nimbang benda itu dia berkata, "Kalungmu tiada beda dengan kalungku. Bukankah begitu?" 

Tio Ki-pi melengak kaget. Sepasang matanya membeliak besar. "Apakah… apakah kau juga anggota komplotan Hun-tiong Hauw-mo?" 

"Kalau sudah tahu kenapa masih bertanya?" jawab Wiro keren sambil mendongak ke langit. 

Tio Ki-pi memandangi si rambut gondrong ini dari kepala sampai ke kaki. Hatinya meragu melihat potongan Wiro. Ditambah pula dengan keganasan yang dilakukannya terhadap Empat Golok Kematian. Jika dia anggota Hun-tiong Houw-mo kenapa melabrak kawan sendiri? Tapi jika dia bukan anggota komplotan itu di mana Tio Ki-pi merupakan pula salah seorang anggotanya, mengapa pemuda itu bisa memiliki kalung emas kepala harimau itu?" 

"Sobat, jika kau orang sendiri, kenapa membuat keonaran melakukan pembunuhan pada orang-orang yang kubayar untuk mengawal kereta?" Tio Ki-pi ajukan pertanyaan. 

"Kau tidak tahu orang bagaimana sebenarnya Empat Golok kematian," jawab Wiro, pula. "Pim­pinan telah menyuruhku secara diam-diam untuk mengikuti perjalananmu. Ternyata Empat Golok Kematian mempunyai rencana busuk. Dia hendak membunuhmu secara membokong kemudian melarikan apa yang terdapat dalam peti mati itu!" 

Tio Ki-pi seorang yang sudah berpengalaman dan tak mau lekas percaya pada orang lain. "Jika betul pimpinan kita telah menyuruhmu, coba kau beri tahu dari mana kami berangkat dan ke mana tujuan kami?" 

"Soal itu kau tak perlu memancingku. Sebaiknya kita masuk ke dalam dan istirahat. Besok pagi-pagi buta harus sudah melanjutkan perjalanan." 

Acuh tak acuh Wiro kemudian melangkah menuju pintu hotel. Tapi Tio Ki-pi cepat memotong jalannya dan menahan pada Wiro dengan tangan kiri. Cara Tio Ki-pi menahan gerakan Wiro ke­lihatannya lembut perlahan saja namun memiliki tenaga yang sanggup menahan dorongan 200 kati! 

Tahu kalau orang hendak menjajaki kepandaiannya, tak sungkan Wiro kerahkan tenaga dalamnya dan mendorongkan dadanya ke depan. Akibatnya Tio Ki-pi terhuyung sampai tiga langkah ke belakang. Kagetnya jagoan dari Ciat kang ini bukan kepalang. 

"Ah, tingkat tenaga dalamnya lebih tinggi dariku," katanya membathin. Kemudian dia terbatuk-batuk beberapa kali. 

"Sobat, ketahuilah tugas yang diberikan oleh pimpinan padamu merupakan satu tugas yang berat dan penuh tanggung jawab. Dunia persilatan penuh dengan orang-orang jahat dan penipu licik. Karenanya jika kau betul anggota Hun-tiong Houw-mo harap kau sudi mengucapkan sumpah perkumpulan kita!" 

Menyadari kalau dia tak bakal bisa mengucapkan segala macam sumpah komplotan tersebut maka Wiro tiba-tiba berpura marah dan menghardik, "Rupanya kau tidak pandang sebelah mata kepadaku? Berani kau menguji diriku?" 

Diam-diam Tio Ki-pi yakin kini kalau orang asing berambut gondrong di depannya itu bukanlah anggota Hun-tiong Houw-mo karena setiap anggota jika bertemu tapi sebelumnya belum saling kenal, diharuskan untuk menguji kebenaran keanggotaannya dengan mengucapkan sumpah perkumpulan. Namun untuk bertindak gegabah pada orang yang disadarinya lebih tinggi kepandaiannya, Tio Ki-pi tentu saja tidak mau. 

"Harap sicu maafkan. Aku bukan memandang rendah terhadapmu. Semua ini adalah demi keselamatan dan pengamanan tugas!" 

Wiro kertakkan rahang. "Menyingkirlah," perintahnya. "Kelak akan kumintakan pada pimpinan agar keanggotaanmu dalam Hun-tiong Houw-mo dicabut dan atas kekurang-ajaran mu ini kau harus menerima hukuman." 

Tio Ki-pi tertawa bergelak. 

"Manusia tolol, jangan kira aku akan termakan oleh tipu busukmu! Kau bukan anggota Hun-tiong Houw-mo! Selembar nyawamu tak mungkin kubiarkan terus petantang-petenteng!" 

Habis berkata begitu Tio Ki-pi yang bergelar Thian liong pian atau Ruyung Naga ini lantas meng­gembor. Kedua lututnya menekuk. Tiba-tiba tangan kanannya dipukulkan ke depan. Satu larikan besar angin panas menggebu ke arah Wiro Sableng. 

Wiro membentak marah dan balas hantamkan tangan kanannya ke muka, lepaskan pukulan sakti bernama, 'Benteng Topan Melanda Samudera' dengan mengandalkan sepertiga bagian tenaga dalamnya. 

Meskipun pukulan itu membuat Tio Ki-pi mencelat hampir sejauh satu setengah tombak namun Wiro sendiri terhuyung-huyung. Tubuhnya laksana terpanggang hingga dia buru-buru harus melompat selamatkan diri. 

Tio Ki-pi bukan alang kepalang kagetnya. Barusan dia telah melepaskan pukulan saktinya yang terhebat dan bernama Ngo-lu gui san atau 'Lima Petir Membelah Gunung' dengan mengerahkan tiga perempat tenaga dalamnya. Selama ini boleh dikatakan tak seorang lawan pun sanggup bertahan terhadap pukulan sakti itu. Namun nyatanya musuh di hadapannya itu masih sanggup selamatkan diri! 

Di lain pihak Wiro sendiri tak urung tersentak kaget pula karena ketika memperhatikan pakaiannya, baju serta celananya, kelihatan kehitam-hitaman. Hangus! 

Kedua orang itu sesaat saling baku pandang untuk kemudian sama-sama bergerak meneruskan baku hantam itu. Dalam waktu singkat kedua orang itu telah bertempur enam jurus. Dalam gelapnya malam hanya bayang-bayang pakaian mereka saja yang kelihatan. Salah seorang dari Empat Golok Kematian yang masih hidup yakni yang tadi ditotok oleh Wiro dan masih tertegun itu tidak hentinya menaruh kekaguman, melupakan sendiri nasib dirinya yang tiada berdaya saat itu. 

Tingkat pengalaman dan ilmu mengentengi tubuh dari Tio Ki-pi alias Thian liong-pian tak dapat disangsikan lagi ketinggiannya. Gerakannya gesit enteng. Serangannya mematikan sedangkan tipu­-tipuannya betul-betul maut. Namun menghadapi Wiro Sableng dia betul dibuat jadi gemas penasaran. Semua serangan dan tipu-tipuan lihaynya tidak menemui sasaran, yang amat menjengkelkan ialah karena dilihatnya lawan menghadapinya dengan sikap cengar-cengir mengejek. 

Tio Ki-pi membentak nyaring. Ilmu silatnya mendadak berubah dan tubuhnya kini hanya laksana angin yang menyambar-nyambar kian kemari. 

Diam-diam Wiro merasa kagum juga melihat kehebatan si baju ungu anggota Hun-tiong Houw-mo ini. Serta merta dia percepat pula gerakannya hingga kini mereka hanya laksana bayang-bayang yang saling berkelebatan kian ke mari dan sebentar-sebentar lenyap dari pemandangan karena saking cepatnya gerakan keduanya. 

"Sobat jaga dadamu!" Wiro berseru. Secepat kilat tangan kanannya memukul ke depan dalam gerakan yang dinamakan 'Kilat Menyambar Puncak Gunung'. 

Tentu saja Tio Ki-pi tidak mau menerima pukulan tersebut mentah-mentah. Dengan membentak dahsyat jago silat dari Ciat kang ini meningkatkan tubuh, pergunakan salah satu kakinya untuk menjejak tanah sehingga dalam keadaan miring itu tubuhnya tersurut tiga langkah ke belakang dan di lain kejap dia sudah maju pula sambil selusupkan satu tendangan kilat ke perut lawan! 

Jurus yang dilancarkan oleh Tio Ki-pi tadi bernama Hek-hou-wat-sim atau 'Macan Hitam Menggerak Hati' dan merupakan salah satu jurus yang hebat dalam ilmu silatnya. Sekali tendangannya mampir di perut lawan pastilah akan bobol serta merenggut nyawa. Namun yang dihadapi Tio Ki-pi saat itu bukanlah lawan dari tingkatan kurcaci rendah tolol, sekalipun bertampang goblok macam anak-anak! 

Serangan kedua yang dilancarkan Wiro disertai teriakan peringatan tadi tak lebih hanyalah sebuah tipuan belaka. Begitu lawan bergerak mundur dan kembali menyerang, murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede ini serta merta susulkan serangan berikutnya yang bernama 'Di balik Gunung Memukul Halilintar'. 

Ketika tendangannya melesat ke depan, Tio Ki-pi mendadak kehilangan lawan, serangannya mengenai tempat kosong. Kemudian sebelum dia berkesempatan mengetahui di mana Wiro berada tahu-tahu satu hantaman keras sudah melabrak punggungnya dari belakang. Demikian kerasnya hingga jago dari propinsi Ciatkang itu mencelat tiga tombak, terguling-guling di tanah. 

Tapi hebatnya dia cepat kembali berdiri. Buru-buru Tio Ki-pi mengambil sebutir pil. Setelah telan benda itu dan pejamkan mata serta atur jalan darah dan pernapasan, Tio Ki-pi lantas rasakan tubuhnya segar kembali meskipun dadanya agak sesak. 

"Bangsat! Hari ini aku mengadu jiwa denganmu!" Tio Ki-pi menggembor marah lantas keluarkan senjata dari balik jubah ungunya. 

Senjata ini adalah sebuah ruyung berbentuk kepala naga terbuat dari baja putih. Di beberapa bagian dihiasi dengan duri-duri beracun. Sekali seseorang kena dihantam senjata yang beratnya hampir lima puluh kati ini tak ampun lagi pasti akan mati dalam keadaan tubuh atau kepala hancur! 

Dengan memiliki senjata inilah selama bertahun-tahun berkelana di dunia persilatan Tio Ki-pi sampai mendapat julukan si Ruyung Naga (Thian liong pian). Meskipun malam gelap pekat namun ruyung baja putih kelihatan berkilat di tangan Tio Ki-pi. Sesaat Tio Ki-pi melontarkan pandangan bengis pada lawannya. Lalu tanpa banyak bicara lagi orang ini kiblatkan senjatanya.

"Wuttt..!"

Satu gelombang angin yang amat deras menerpa Wiro Sableng ketika ruyung baja itu membabat di depannya. Tubuhnya tergontai-gontai limbung. Selagi dia berusaha mengimbangi diri, secepat kilat ruyung kembali membabat, Wiro cepat menyingkir namun angin yang keluar dari senjata lawan masih sanggup membuatnya terjajar dan ter­sandar ke gerobak yang berada di halaman itu.

"Sekarang mampuslah!" teriak Tio Ki-pi bernafsu dan susul dengan hantaman ruyung untuk ketiga kalinya.

"Sialan, ganas dan hebat sekali permainan ruyung kunyuk ini!" maki Wiro dalam hati. Dia jatuhkan diri seraya mendorong dengan kedua tangannya ke arah dada serta perut lawan. Hantaman ruyung baja mengenai gerobak di belakang Wiro. Kendaraan ini hancur berkeping­-keping.

Sebaliknya Tio Ki-pi akibat dorongan Wiro tadi terpelanting sampai tiga tombak. Dada dan perutnya seperti dipilin. Tanpa memperdulikan rasa sakit dengan nekad dan kalap Tio Ki-pi kembali menyerbu. Ruyung naganya bersiuran di udara berputar-putar laksana titiran dan mengurung Wiro Sableng dari seluruh jurusan!

Diam-diam Wiro jadi mengeluh dan keluarkan keringat dingin ketika setelah tiga jurus dia dikepung oleh serangan ruyung lawan ternyata dia tak bisa keluar dari kepungan itu sekalipun dia telah kerahkan ilmu mengentengi tubuh dan segala kegesitannya. Sebaliknya kurungan sambaran-sambaran ruyung semakin ganas dan tambah rapat. Sekujur tubuhnya laksana ditindih oleh dinding yang keras gerakannya makin lama makin lamban!

Tio Ki-pi yang melihat bagaimana lawan sudah tak berdaya tertawa panjang dan mengejek. "Sekarang kau baru tahu siapa adanya Tio Ki-pi yang berjuluk Thian liong pian ini!" 

Sekali dia gerakkan tangan kanannya maka ruyung baja digenggamannya meluncur menghantam deras ke arah batok kepala Wiro Sableng. Tiba-tiba sekali satu sinar putih kelihatan bertabur dibarengi dengan menderunya suara macam seribu tawon mengamuk. Sekejap kemudian terdengar suara berdentang yang keras dan memerciknya bunga api. 

Memperhatikan senjata mustikanya yang somplak, nyalinya kini betul-betul menjadi lumer. Memandang ke depan dilihatnya lawan memegang sebilah senjata berbentuk aneh dan baru sekali itu disaksikannya. Senjata itu bukan lain adalah Kapak Naga Geni 212, yakni sebatang kapak bermata dua, gagangnya terbuat dari gading dan memancarkan sinar kemilau menyilaukan!

Tio Ki-pi mengeluh, kenapa dalam menjalankan tugas penuh tanggung jawab itu dia musti menemui lawan yang begini tangguh. Untuk melanjutkan perkelahian berarti konyol sendiri. Tapi tak mungkin pula baginya untuk kabur dari situ dengan meninggalkan peti mati yang ada di dalam kamar hotel. Lelaki ini jadi bingung sendiri. Namun dalam bingungnya masih ada sekelumit pikiran cerdik dalam otaknya. Tio Ki-pi tiba-tiba menjura dan sambil tersenyum dia berkata, 

"Hari ini benar-benar aku Tio Ki-pi manusia tak berguna ini mendapat pelajaran dari seorang yang rupanya tokoh persilatan berkepandaian tinggi. Aku menghaturkan hormat dan karena belum mengenal siapa adanya tayhiap harap sudilah memberi tahu nama dan gelaran."

"Nama dan gelarku tak perlu dipersoalkan. Yang jelas aku adalah anggota kepercayaan dari pimpinan Hun-tiong Houw-mo…"

"Tadi pun tayhiap sudah menerangkan…"

"Nah, kalau sudah tahu kenapa masih banyak tanya?" sentak Wiro. Sepasang matanya mengawasi waspada karena mungkin manusia di depannya itu akan melakukan serangan licik secara tiba-tiba.

"Maksudku cuma akan meminta petunjuk lebih lanjut dari tayhiap. Jika tayhiap betul-betul mendapat tugas mendampingiku dari pimpinan perkumpulan, baiklah kita lupakan segala apa yang barusan terjadi. Mari kita masuk ke hotel, untuk bicara lebih lanjut."

"Kunyuk ini mulutnya jadi begitu manis dan sikapnya jadi baik sekali. Aku harus hati-hati," membatin Wiro. Dia tetap tegak di tempatnya.

Tio Ki-pi yang sudah maju dua tindak berpaling, "Tunggu apa lagi? Apakah tayhiap tidak percaya padaku? Bukankah jika tayhiap mau kau dapat membunuhku dengan mudah seperti membalikkan telapak tangan saja?!"

Wiro merenung sejenak.

"Tadi tayhiap bilang ingin mengetahui isi peti mati itu…" kata Tio Ki-pi pula.

Akhirnya setelah menyimpan Kapak Naga Geni 212 di balik pinggangnya, Wiro melangkah juga mengikuti Tio Ki-pi. Mereka memasuki hotel dari pintu depan. Tio Ki-pi membuka pintu lebar-lebar, begitu sampai di dalam dia mempersilahkan Wiro masuk. Baru saja Wiro berada di bawah pintu tiba-tiba Tio Ki-pi dengan cepat bantingkan daun pintu keras-keras dan terus menekannya dengan tangan kiri hingga Wiro Sableng tergencet antara ujung daun pintu dan tonggak pintu! 

Wiro tahu bahaya apa yang mengancamnya dalam keadaan begitu rupa. Lebih-lebih ketika di­lihatnya Tio Ki-pi menggerakkan tangan kanan mencabut ruyung bajanya. Meskipun senjata itu sudah semplak, namun kalau sampai kena dihantam tetap saja Wiro akan menemui kematian! 

"Bangsat licik!"’ teriak Wiro marah sementara ruyung baja dilihatnya sudah tergenggam di tangan lawan, Wiro kerahkan tenaga dalam dan segala kekuatannya untuk melepaskan diri dari gencetan pintu. Tangan kirinya yang berada di sebelah dalam pintu tampak memutih. Dia membentak garang dan hantamkan tangan kiri memapasi pukulan deras ruyung naga lawan.

Pendekar 212 Wiro Sableng ternyata telah lepaskan pukulan 'Sinar Matahari' yang terkenal ke­dahsyatannya itu. Daun pintu dan tiangnya pecah berantakan. Tio Ki-pi sendiri meraung kesakitan. Tubuhnya terpental dan tersandar ke dinding ruangan depan hotel. Tangannya sebatas lengan hitam hangus sedang ruyung bajanya menggelinding di lantai. Senjata ini kelihatan merah laksana digarang di atas api dan perlahan-lahan meleleh menghitam. 

"Sekarang pergilah kau ke akhirat, anjing busuk!" sentak Wiro dan lepaskan lagi pukulan Sinar Matahari.

Namun dia kalah cepat. Sinar pukulannya hanya melabrak musnah dinding ruangan sementara musuh dengan sebat telah lebih dulu melompat melabrak jendela terus kabur dan lenyap di kegelapan malam, Wiro mengomel setengah mati dan melompat hendak mengejar. Namun kemudian dia ingat akan peti mati yang tentunya berada dalam satu kamar di hotel itu. Maka dia pun putar langkah dan mulai memeriksa kamar demi kamar.

Di salah satu kamar di tingkat bawah hotel akhirnya ditemukannya jugs peti mati itu, menghitam dan misterius dalam kegelapan. Karena di situ dilihatnya ada lampu minyak maka Wiro segera menyalakannya. Kamar itu kini menjadi terang. Wiro melangkah mendekati peti mati hitam. Setelah meneliti benda itu beberapa lamanya maka dia mulai membuka pasak-pasak sekeliling peti itu. 

Setelah pasak ditanggalkan masih ada enam buah sekerup yang harus dibuka. Untuk ini Wiro pergunakan kapak saktinya mendongkel sekerup tersebut. Perlahan-lahan dan hati-hati karena tak mustahil benda itu dipasang alat rahasia, di atas mula-mula kelihatan tumpukan jerami kering. Hati-hati pula Wiro menyibakkan jerami ini. Di bawah jerami tampak tumpukan batu-batu bata merah. Seluruh jerami disibakkan. Diperiksa sampai ke dasar ternyata peti mati itu cuma batu bata melulu, lain tidak!

"Sial dangkalan! Apa-apaan ini," Wiro menggerutu sendirian. 

Dia betul-betul tak mengerti. Dia melangkah memutari peti mati itu sambil tiada henti menggaruk-garuk kepala. Kalau cuma sebuah peti mati yang berisi batu-batu bata melulu, apa perlunya sampai dikawal oleh seorang tokoh silat seperti Tio Ki-pi dan Empat Golok Kematian? Bahkan sampai dua dari mereka mau mengorbankan jiwa hanya karena peti mati sialan itu? 

Wiro jadi tak habis pikir. Digeledahnya seluruh kamar itu namun tak menemukan apa-apa yang bisa memberi petunjuk. Tiba-tiba Wiro ingat pada salah seorang dari Empat Golok Kematian yang masih tertotok kaku di luar sana. Segera ditinggalkannya kamar itu. Tapi sampai di luar ternyata manusia yang satu ini sudah lenyap. Kembali Wiro menggerutu seorang diri. 

"Kalau tidak si Tio Ki-pi itu, pasti kawannya yang satu yang telah melepaskan totokannya lalu kabur sama-sama!" 

Wiro menduga dalam hati. Akhirnya dalam bingungnya pendekar ini melompat ke atas kuda putih yang dicurinya dari depan sebuah toko di kota Khay-hong lalu tinggalkan tempat tersebut. Kira-kira sejauh 20 lie memacu kuda putih itu, sepasang telinga tajam Pendekar 212 lapat-lapat menangkap suara beradunya senjata. 

Dihentikannya kudanya dan setelah memastikan dari arah mana datangnya suara itu. Wiro turun dari kuda dan lari menuju sumber suara. Suara beradunya senjata kini diiringi pula dengan suara gelak tertawa dua orang lelaki yang ditimpali pula oleh suara bentakan­-bentakan marah seorang perempuan. 

"Manusia-manusia bangsat hina dina. Kalian harus bayar kekurangajaran kalian dengan nyawa masing-masing! Mampuslah!" 

Terdengar suara robekannya kain yang disusul oleh pekik perempuan. Wiro terjang semak belukar di depannya. Begitu sampai di balik semak-semak diiihatnya dua orang laki-laki tengah mengeroyok seorang dara berpakaian merah. Salah seorang dari lelaki itu, yang bersenjatakan golok besar dengan kelihayannya pergunakan ujung senjatanya untuk merobek-robek pakaian sang gadis hingga tubuhnya yang berkulit putih halus kelihatan tersingkap di mana-mana. Lelaki bergolok besar itu bukan lain adalah orang kedua dari Empat Golok Kematian yang sebelumnya telah ditotok oleh Wiro. Sedang lelaki yang satu lagi bukan lain adalah Tio Ki-pi alias Thian liong pian! 

"Ha-ha-ha...! Tiada disangka malam-malam buta begini setelah ditimpa nasib sial tahu-tahu dapat rejeki begini besar," kata Empat Golok Kematian penuh nafsu sedang Tio Ki-pi terus mendesak dengan tangan kirinya tiada henti menjamahi dada dan bagian bawah perut sang dara baju merah yang berada dalam keadaan tak berdaya itu. Lelaki ini sama sekali tidak mempergunakan tangan kanannya karena ternyata tangan kanan itu sampai sebatas siku telah buntung dan ini menimbulkan tanda tanya dalam hati Wiro, apakah yang telah dilakukan manusia tersebut? 

"Bangsat! Kalau tidak dapat mencincang tubuhmu lebih baik aku bunuh diri," sang dara baju merah membentak marah ketika lagi-lagi tangan kiri Tio Ki-pi menjamah bagian bawah perutnya secara kurang ajar, sedang Tio Ki-pi dan Empat Golok Kematian sendiri cuma ganda tertawa. 

"Malam-malam buta begini apa pula yang terjadi di tempat ini?!" pikir Wiro. 

Gadis jelita berpakaian merah itu putar pedangnya dengan sebat. Namun sesaat kemudian... 

"Trangg...!" 

Golok besar orang kedua dari Empat Golok Kematian berhasil memukul mental pedang si nona. Dan saat itu juga kedua lelaki itu bersirebut cepat menubruk tubuh yang molek itu dengan penuh nafsu.

"Manusia-manusia haram jadah ini memang sudah saatnya diberi petunjuk jalan ke neraka!" kertak Wiro Sableng dengan marah. Didahului oleh satu bentakan keras dia berkelebat ke depan. 

********************
WWW.ZHERAF.NET
LIMA

Sebelum menuturkan jalannya perkelahian antara Wiro dengan Tio Ki-pi serta anggota Empat Golok Kematian yang hendak melampiaskan nafsu bejat terhadap gadis berpakaian merah, marilah kita ikuti dulu bagaimana kedua manusia brengsek itu sampai berada di tempat tersebut dan secara berbarengan mengeroyok sang dara.

Sehabis terkena pukulan 'Sinar Matahari' yang dahsyat dari Wiro Sableng. Tio Ki-pi lantas kabur dari hotel. Begitu sampai di halaman luar dilihatnya orang kedua dari Empat Golok Kematian tegak seperti patung di bawah sebatang pohon. Sebagai orang yang sudah ber­pengalaman Tio Ki-pi tahu apa yang terjadi dengan orang bayarannya itu. Segera dilepaskan totokan yang mempengaruhi Empat Golok Kematian lantas melanjutkan melarikan diri. 

Bagi Empat Golok Kematian begitu bebas dari totokan tak ada hal lain yang dilakukannya dari pada ikut kabur menyusul Tio Ki-pi. Kira-kira lari sejauh sepuluh lie, Tio Ki-pi berhenti, nafasnya mengengah-engah. Pemandangannya berkunang. Dia berpegangan pada pohon supaya tidak jatuh. 

"Ada apa?" tanya Empat Golok Kematian seraya memegang pundak Tio Ki-pi. Begitu telapak tangannya menyentuh pundak lelaki itu detik itu pula disentakkannya kembali saking kagetnya. Pundak Tio Ki-pi dirasakannya laksana bara! "Loya, tubuhmu panas sekali...!" 

"Aku keracunan," desis Tio Ki-pi seraya mengangkat tangan kanannya yang hitam hangus akibat keserempet pukulan 'Sinar Matahari' sewaktu terjadi perkelahian dengan Wiro di hotel tadi. Perlahan­-lahan dia duduk bersila di tanah. 

"Kelihatannya racun yang amat berbahaya," berkata Empat Golok Kematian. 

Tio Ki-pi tidak menyahut. Setelah menelan beberapa butir pil penolak dan pemusnah racun, jago silat dari Ciat Kang ini meramkan mata, atur jalan darah serta alirkan tenaga dalamnya ke tangan kanan. Beberapa menit berlalu. Tubuh dan wajah Tio Ki-pi telah basah oleh keringat. Namun hawa panas pada tubuhnya tidak berkurang. Pucat pasilah kini wajah anggota Hun-tiong Houw-mo ini. 

"Tak ada jalan lain," desisnya seraya membuka kedua mata dan menotok jalan darah pada bahu kanannya di empat bagian. Kemudian dia berpaling pada Empat Golok Kematian dan berkata, "Pinjam­kan aku golokmu." 

Empat Golok Kematian maklum apa yang hendak dilakukan Tio Ki-pi. Memang cuma itulah satu­-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawa. Goloknya dicabut dari sarung dan diserahkan pada Tio Ki­pi. Dengan menggigit bibir, Tio Ki-pi lantas tebaskan senjata itu ke tangan kanannya. Sekali tebas saja putuslah lengan kanannya yang keracunan pukulan sakti Wiro Sableng itu. Darah mengucur kemudian berhenti. 

"Apa yang kita lakukan sekarang, Loya?" bertanya Empat Golok Kematian setelah beberapa lama berdiam diri. 

Tio Ki-pi sendiri sebenarnya juga tidak tahu apa yang akan diperbuatnya saat itu. Untuk pergi ke markas Hun-tiong Houw-mo dan melapor apa yang telah terjadi pada pimpinan perkumpulan itu sama saja dengan mengantarkan nyawa. Sebaliknya untuk kembali ke hotel dan menyelamatkan isi peti dia tidak pula punya nyali karena sudah barang tentu Wiro masih ada di sana. 

Tiba-tiba Tio Ki-pi ingat pada seorang kenalan baiknya yang berdiam kira-kira 10 lie dari tempat itu. Sang kenalan adalah salah seorang anak murid Kun lun pai yang kini hidup sebagai guru silat di Siu Kan. Dengan meminta bantuan tokoh tersebut beserta lusinan anak muridnya masakan dia tidak dapat menghajar Wiro dan sekaligus menyelamatkan peti mati tersebut. Memikir sampai di situ Tio Ki-pi mendapat semangat dan harapan besar. Dia segera berdiri. 

Saat itu orang kedua dari Empat Golok Kematian berkata, "Loya, jika memang segala sesuatunya sudah dianggap selesai maka kuharap aku dapat menerima bayaran sebagaimana yang sudah ditetapkan. Aku tidak meminta semuanya, setengah pun jadilah." 

Tio Ki-pi melotot dan membentak, "Saat ini bukan tempatnya untuk bicarakan soal uang! Masih hidup sudah lebih dari untung! Ayo kau ikut aku ke Siu Kan!" 

Sebenarnya orang kedua Empat Golok Kematian ini sudah tak punya minat lagi untuk berurusan dengan Tio Ki-pi. Apalagi mengingat dua saudaranya sudah mati sedang yang satu lagi kabur entah ke mana. Namun untuk bentrokan dengan Tio Ki-pi sekalipun manusia ini telah cacat, Empat Golok Kematian musti pikir dua kali. Dalam pada itu Tio Ki-pi kembali membentak dengan kata-kata, 

"Apakah kau tidak ingin membalaskan sakit hati kematian dua saudaramu?!" 

Tanpa menunggu jawaban orang di hadapannya itu karena dia tahu bahwa Empat Golok Kematian akan mengikutinya Tio Ki-pi berkelebat meninggalkan tempat tersebut. Udara malam terasa dingin. Kegelapan semakin memekat. Kedua orang tersebut laksana hantu yang gentayangan di malam buta. Belum sampai menempuh jarak 10 lie, Tio Ki-pi yang berpendengaran lebih tajam dari Empat Golok Kematian tiba-tiba hentikan lari, lalu berlindung di balik sebuah pohon besar sambil memberi isyarat pada Empat Golok Kematian. 

"Ada apa?" bertanya Empat Golok Kematian. 

"Seseorang mendatangi dari jurusan depan," sahut Tio Ki-pi seraya siapkan pukulan sakti di tangan kanannya. Hati-hati. "Bukan tidak mungkin si rambut gondrong yang di hotel itu!" 

Beberapa detik menunggu muncullah orang yang datang dari arah depan itu. Meskipun malam gelap namun karena jarak mereka cukup dekat, baik Tio Ki-pi maupun Empat Golok Kematian segera dapat mengenali bahwa orang yang ada di hadapan mereka adalah seorang nona jelita berpakaian merah. Di balik punggungnya menyembul ujung gagang pedang. Melihat kenyataan bahwa yang muncul adalah seorang gadis berparas cantik, Tio Ki-pi dan Empat Golok Kematian jadi saling pandang dan saling maklum jalan pikiran serta perasaan masing-masing. 

"Di tempat sepi dan malam-malam begini Loya. Siapa yang bakal tahu. Asal saja Loya tidak menyerakahinya sendirian…" bisik Empat Golok Kematian. 

Tio Ki-pi alias Thian liong-pian menyeringai. Dia memberi isyrat lalu berseru, "Nona ku manis, malam-malam begini tengah menuju ke manakah?" 

"Bukankah akan lebih baik jika aku ikut menemanimu?" menimpali Empat Golok Kematian. 

Keduanya kemudian tertawa gelak-gelak. Sang nona, begitu mendengar teguran kurang ajar tersebut bukan kepalang kagetnya. Tapi dia juga marah. 

"Siapa kalian? Bangsa hantu apa dedemit yang minta dihajar?" 

Tio Ki-pi dan pembantunya kembali tertawa gelak-gelak. 

"Nonaku yang cantik, jangan terlalu galak dan lekas marah. Kami berdua sudah barang tentu manusia biasa seperti kau. Jika kau kepingin kenal maka aku adalah Hoa seng, orang kedua dari Empat Golok Kematian. Sedang ini Loya ku bernama Tio Ki-pi bergelar Thian liong pian…" 

Sang dara tidak pernah mendengar nama Empat Golok Kematian dan juga Tio Ki-pi atau Thian liong pian. Meskipun memiliki ilmu silat yang lumayan tingginya namun karena jarang mengembara maka si nona kurang begitu kenal akan nama-nama tokoh silat dalam dunia kangouw, baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam. Dan karena dia seorang yang bersifat berani bahkan kadang-kadang suka nekad, kembali dia menghardik. 

"Tampaknya kalian bukan bangsa manusia baik-baik. Lekas menyingkir jika tidak ingin merasakan gebukanku!" 

"Ah… ah… ah! Kataku juga jangan kelewat galak, nona. Coba perkenalkan dulu siapa kau adanya. Ke mana tujuanmu. Nanti kami berdua pasti bersedia mengantarkan kau…" yang bicara ini adalah Hoa seng orang kedua dari Empat Golok Kematian. 

Dan sehabis berkata demikian enak saja tangan kanannya mencuil dagu sang dara. Tentu saja nona baju merah ini bukan kepalang marahnya. Cepat laksana kilat tamparannya melayang menghantam muka Hoa seng dan sesaat membuat laki-laki kurang ajar ini menjadi berkunang-kunang pemandangannya. 

"Seumur hidup baru kali ini aku ditampar perempuan. Tapi tak apa. Lumayan juga oleh seorang nona cantik macammu," kata Hoa seng pula sambil cengar-cengir, meringis dan tiba-tiba dilompatinya dara baju merah itu, berusaha merangkulnya dengan bernafsu. 

Namun saat itu juga si nona sudah menghantamkan tinjunya kepada Hoa seng, membuat lelaki ini terjajar beberapa langkah ke belakang. 

"Hati-hati, sobat. Dia galak dan punya kepandaian silat yang bisa membuatmu konyol," kata Tio Ki-pi menyeletuk dan tahu-tahu tangan kirinya sudah mampir menjamah dada sang nona. 

Kini gadis berbaju merah itu jadi meluap amarahnya. "Sret...!" Dia cabut pedang dan begitu senjata ini keluar dari sarangnya, satu babatan dikirirrikannya ke batang leher tokoh silat propinsi Ciat kang itu. 

Serangan sang nona yang demikian ganas pastilah akan membuat putus leher dan menggelindingnya kepala Tio Ki-pi bilamana orang ini terlambat sedikit saja mengelak. Namun di mata Tio Ki-pi, serangan ini hanya disambut dengan tawa mengejek. Sekali dia bergerak, ujung pedang lewat dua jengkal di samping kepalanya! 

Melihat serangannya gagal, nona berbaju merah jadi semakin meluap amarahnya. Tio Ki-pi jadi kaget dan tersurut beberapa langkah. Tidak disangka kalau sang nona memiliki kepandaian begitu rupa. Hendak disambutinya dengan pukulan sakti dia merasa bimbang karena dia tak ingin mencelakai gadis kepada siapa dia ingin melampiaskan nafsu bejatnya. Sesaat dia layani serangan lawan dengan bergerak gesit kian kemari sambil sekali-sekali menyerang dengan tangan kosong. 

Namun agaknya sang nona tak mau memberi kesempatan dan dengan cerdik dia sengaja mengirimkan serangan­-serangan dari jurusan kanan sehingga Tio Ki-pi yang tangan kanannya buntung menjadi cukup kewalahan. Lelaki ini segera berikan isyarat pada Hoa-seng dan bekas anggota Empat Golok Kematian ini segera memasuki kalangan pertempuran setelah lebih dulu cabut golok kanannya. 

Betapa pun lihaynya ilmu pedang yang dimainkan oleh gadis berpakaian merah namun dikeroyok dua begitu rupa jurus demi jurus dia jadi terdesak. Bahkan kedua lawannya dengan seenaknya mem­permainkannya. Hoa seng pergunakan goloknya untuk merobek pakaian gadis itu sedang Tio Ki-pi dengan kurang ajar tiada hentinya menjamahi bagian-bagian tubuh tertentu dari si nona dan pada puncaknya Hoa seng berhasil memukul mental pedang lawannya. 

Dalam keadaan tak bersenjata gadis itu tentu saja betul-betul tak berdaya lagi. Kesempatan ini memang yang diharapkan oleh Tio Ki-pi serta Hoa seng. Serta merta keduanya menubruk gadis itu, siap untuk melampiaskan nafsu bejat masing­-masing. Dan justru pada saat itu pula lah Wiro Sableng yang sampai di tempat kejadian itu, Wiro kertakkan rahang. 

"Bangsat rendah! Kalian bedua memang layak mampus detik ini juga!" Setelah membentak begitu rupa secepat kilat dia menerjang ke depan. 

Tio Ki-pi seorang lihay yang berpendengaran tajam dan berotak cerdik. Dia laksana mendengar halilintar ketika mengenal suara Wiro Sableng. Saat itu dia tengah berguling-guling di tanah sambil merangkuli tubuh nona berpakaian merah. Meski nafsunya sudah meluap-luap namun lebih penting cari selamat. Secepat kilat dia melompat satu jotosan menyambar hanya beberapa milimeter saja dari kepalanya. Di lain ketika Tio Ki-pi sudah merapat ke balik pohon besar. Wiro lepaskan satu pukulan sakti. 

"Kraakkk...!" 

Pohon itu patah dan tumbang tapi Tio Ki-pi lenyap. Lain halnya dengan Hoa seng. Meskipun dia juga dikagetkan oleh suara bentakan Wiro namun dia bertindak agak ayal. Baru saja dia putar kepala, mendadak sontak satu kepalan sudah menderu ke arah mukanya. Hoa seng hanya sempat keluarkan seruan pendek karena sedetik kemudian... 

Prakkk...!" Mukanya hancur, kepalanya rengkah. Otak dan darah berhamburan! Tamatlah riwayat orang kedua dari Empat Golok Kematian ini.

Wiro garuk-garuk kepala. Dia amat penasaran karena untuk kedua kalinya Tio Ki-pi anggota komplotan Hun-tiong Houw-mo yang misterius itu masih bisa melarikan diri. Dengan sebal dia balikkan tubuh. Tapi baru saja memutar tubuh tahu-tahu ujung sebilah pedang sudah menempel di tenggorokannya. Tentu saja pendekar kita jadi melengak kaget. Memandang ke depan ternyata sang nona yang barusan ditolongnya itulah yang telah menodongnya dengan ujung pedang tersebut! 

"Heh, apa-apaan ini…!" ujar Wiro membeliak. Tapi sekali ini dia bukan membeliak kaget melainkan membeliak bergetar menyaksikan sepasang payudara sang nona yang putih membuntal padat, bersembul di robekan-robekan bajunya! 

ENAM

Dara berpakaian merah melintangkan lengan kirinya di atas dada untuk menutupi auratnya yang terbuka karena bajunya yang robek-robek besar.

"Pencuri! Jangan kira aku akan minta terima kasih padamu karena kau telah menolong jiwa dan menyelamatkan kehormatanku. Lekas katakan di mana si Putih!"

"Si Putih…? Si Putih apamu?!"

"Setan! Jangan pura-pura tolol! Si Putih kudaku! Kau telah mencurinya sewaktu kutambatkan di depan toko di Khay-hong! Katakan cepat di mana binatang itu!"

"Ah…!" Wiro ingat kini dan tertawa lebar.

"Jangan cengar-cengir tak karuan! Kalau kuda kesayanganku sampai cedera sedikit saja, apalagi kau jual, jangan harap nyawamu akan selamat! Di mana binatang itu?!"

"Sabar Nona, sabar. Jangan terlalu galak. Mari kita bicara baik-baik."

"Dengan seorang maling tengik macammu tak perlu bicara baik-baik?" jawab si nona dan ujung pedangnya masih menempel pada kulit leher Wiro Sableng. Meskipun mengatakan pemuda gondrong itu sebagai pencuri tengik namun sang dara sesungguhnya sudah mengetahui kelihayan Wiro.

Pertama sewaktu dia menangkis musnah serangan senjata rahasianya di kota Khay-hong tadi pagi. Kedua ketika barusan dia menggebuk kepala Hoa seng hingga konyol hanya dalam sekejapan mata saja! Di samping marah pada dasarnya dia agak jeri juga pada pemuda itu. Karena itulah dia tak mau ambil risiko dan tetap menodong Wiro dengan ujung pedangnya.

"Aku memang mungkin bangsa maling tengik, pencuri picisan," kata Wiro sambil senyum dan garuk-garuk kepalanya. "Namun percayalah Nona, aku mencuri kudamu karena terpaksa…"

"Jangan bicara panjang lebar!" sentak sang dara.

Wiro ganda tertawa. "Jika kau bunuh aku, kudamu tak bakal ketemu lagi. Nah sekarang kau dengarlah dulu. Pertama aku pun tidak butuh ucapan terima kasih darimu. Aku berada di sini bukan untuk menolongmu, nona. Tapi karena memang mengejar dua bangsat itu, cuma sayang satu masih bisa lolos…"

Habis berkata begitu Wiro lantas keluarkan kalung emas kepala harimau. "Coba kau perhatikan kalung ini. Tanda dari komplotan yang menamakan diri Hun-tiong Houw-mo. Manusia yang barusan kabur adalah anggota komplotan tersebut."

Nona di hadapan Wiro mendelik kaget. "Aku tak percaya! Mungkin kau sendiri yang jadi anggota perserikatan dajal itu!"

Wiro geleng-geleng kepala. "Sudahlah, susah bicara denganmu. Jika kau cari kudamu, itu di sana di belakang semak belukar…" tak perduli Wiro kemudian putar tubuhnya hendak meninggalkan sang dara. 

Justru si nona bergerak cepat dan ajukan pertanyaan. "Kau mau ke mana?!"

"Eh…?" Wiro garuk-garuk kepala. "Aneh, kenapa kau tanya begitu?"

"Dengar! Komplotan Hun-tiong Houw-mo telah membunuh kakak lelakiku…"

"Yang aku dengar," memotong Wiro. "Bukan hanya saudaramu saja yang jadi korban, tapi banyak. Belasan gadis-gadis kabarnya diculik, entah untuk dijadikan apa. Apakah kau kepingin diculik juga oleh komplotan itu!"

"Jangan bicara ngaco belok!" sentak sang dara jengkel. "Kalau kau mau bekerja sama denganku, aku tahu sedikit tentang komplotan itu…"

"Siapa sudi bekerjasama dengan dara segalakmu? Lagi pula kau punya kepandaian apa?!" 

Wiro sengaja mengejek hingga si Nona jadi penasaran banting-banting kaki. Tangan kanannya bergerak dan putuslah dua kancing baju Wiro Sableng. 

"Ah... boleh juga ilmu pedangmu, Nona. Tapi aku sudah saksikan sendiri tadi. Menghadapi dua pengeroyok itu kau tak mampu berbuat apa-apa. Sekarang kau mau pinjam tanganku untuk membantumu menuntut balas kematian kakakmu pada komplotan Hun-tiong Houw-mo karena kau sadar tak bakalan mampu melakukannya sendiri. Sungguh cerdik otakmu, nona. Tapi tak usah ya…?!"

Dara itu gigit bibirnya. Sepasang matanya berapi-api. Rahangnya menggembung. Tanpa bilang apa­apa lagi dia putar tubuh dan melompat ke balik semak-semak. Begitu dilihatnya kuda putihnya segera saja dia menaiki binatang ini dan meninggalkan tempat itu dengan cepat. Sampai suara rintik kaki kuda putih lenyap di kejauhan barulah Wiro berlalu pula dari situ.

********************
WWW.ZHERAF.NET
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng Karya Bastian Tito

Larinya Tio Ki-pi setelah lolos dari lubang jarum kematian untuk kedua kalinya dari tangan Pendekar 212 Wiro Sableng tak bedanya seperti orang lari dikejar setan kepala tujuh! Hampir 20 lie dia lari terus menerus tanpa memperdulikan ke mana arah tujuannya.

Pakaian ungunya robek-robek tersangkut semak-semak. Ketika nafasnya megap-megap dan lidahnya terjulur keluar barulah lelaki ini hentikan larinya. Ternyata dia berada di satu daerah berbukit-bukit yang penuh ditumbuhi pohon-pohon kapas. Lapat-lapat didengarnya suara air yang jatuh memercik menimpa batu. Dia melangkah tertatih-­tatih ke jurusan itu. Ditemuinya sebuah sungai dan air terjun kecil.

Tio Ki-pi mencelupkan muka dan kepalanya dalam air yang dingin itu, kemudian meneguk air sungai sepuas hatinya. Tubuhnya dibaringkan di tebing sungai. Memandang ke langit dia melihat susunan bintang-bintang yang menunjukkan bahwa tak lama lagi malam akan digantikan dengan pagi. Karena terlalu letih Tio Ki-pi akhirnya tertidur pulas berselimutkan udara malam yang dingin.

Tio Ki-pi terbangun oleh silaunya sinar matahari pagi yang jatuh menimpa wajahnya. Sambil mengucak-ucak mata dia duduk. Ketika hendak membasuh mukanya dengan air sungai tiba-tiba kakinya menginjak sehelai kertas. Ternyata kertas itu bukan kertas biasa, melainkan sepucuk surat yang ditujukan kepadanya.

Tio Ki-pi. Hari ini juga kau harus segera kembali ke markas. 
Tertanda 
Hun-tiong Houw-mo

Surat itu ditulis dengan tinta merah dan tangan kiri Tio Ki-pi jelas kelihatan gemetaran memegang­nya. Dia tahu apa artinya kembali ke markas itu. Hukuman telah menunggunya yang bakal dijatuhkan oleh pemimpin komplotan. Jika dia melarikan diri, akan sanggupkah dia untuk melenyapkan diri selama­-lamanya? 

Tapi dari pada mengantar diri mentah-mentah ke markas komplotan, lebih mending kabur. Jika dia sampai di satu daerah yang ratusan lie jauhnya masakan ketua Hun-tiong Houw-mo dan anggota-anggotanya akan tahu kalau dia berada di situ?! 

Memikir demikian maka Tio Ki-pi lekas-lekas cuci muka dan mulutnya lalu melanjutkan perjalanan menuju ke timur, menjauhi markas Hun-tiong Houw-mo yang terletak di sebelah barat. Selama dalam perjalanan itu Tio Ki-pi senantiasa merasa tak enak. Nalurinya mengatakan bahwa ada seseorang yang terus menerus menguntitnya. Dia tak dapat memastikan siapa, namun yang jelas sang penguntit bukanlah Wiro Sableng. Karena jika benar Wiro pastilah pemuda itu siang-siang sudah melabraknya. 

Kadang-kadang Tio Ki-pi hentikan perjalanannya dan mengambil jalan memutardengan maksud hendak mengetahui siapa adanya penguntit tersebut. Namun tak seorang pun dilihatnya. Sekali-kali jika dia sedang berlari kencang, dia menoleh ke belakang. Tetap saja dia tak menampak siapa-siapa. Diam­-diam jagoan dari propinsi Ciat kang ini menjadi mengkirik juga. 

Dia baru merasa lega sedikit ketika memasuki sebuah kota kecil. Karena perutnya lapar langsung saja dia masuk ke dalam sebuah warung makanan. Tatkala pelayan datang menghidangkan pesanannya, sepasang mata Tio Ki-pi membeliak menyaksikan segulung kertas yang menancap di atas tumpukan nasi panas dalam mangkok. Diambilnya gulungan kertas itu. Begitu dibuka tampaklah serentetan tulisan yang berbunyi, 

Tio Ki-pi. Apa kau kira kau bisa melarikan diri mencari selamat?! Segera kembali ke markas atau kau akan mati dengan tubuh tercincang detik ini juga! 
Atas nama Ketua, 
Hun-tiong Houw-mo

Tengkuk Tio Ki-pi dingin laksana diguyur air es. Mukanya sepucat kertas. "Siapa yang meletakkan kertas itu di sini?" bertanya Tio Ki-pi pada pelayan yang membawa hidangan.

Pelayan itu geleng-geleng kepala. "Percayalah Loya, saya hampir tak melihat siapa-siapa pun yang menancapkan kertas itu. Waktu dari dapur benda itu belum ada…" 

Pastilah seorang lihay, amat lihay yang telah melakukannya. Kalau tidak masakan si pelayan sampai tidak mengetahui, demikian Tio Ki-pi membatin. Semakin gelisah dia. Dia memandang seputar ruangan. Di sudut sana duduk seorang lelaki muda berpakaian petani. Di bagian lain seorang kakek berkumis putih. Tak ada orang lain yang mencurigakannya. Tak mungkin pula kedua orang itu yang telah menancapkan gulungan surat dalam nasi. 

Karena seleranya boleh dikatakan saat itu sudah tak ada lagi untuk makan, Tio Ki-pi lantas berdiri. Membayar harga makanan dan keluar dari warung. Di depan warung dia memandang berkeliling. Segala sesuatunya kelihatan biasa dan tenang-tenang saja. Lelaki ini mengeluh dalam hati. 

"Tak ada jalan lain. Terpaksa kembali ke markas. Mudah-mudahan saja ketua mau memberi ampun…"

Maka Tio Ki-pi kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini menuju ke sebelah barat, ke jurusan di mana terletak markas komplotan Hun-tiong Houwmo.

TUJUH

Pada malam gelap ketika Tio Ki-pi dan Empat Golok Kematian mengawal gerobak misterius itu, hampir bersamaan waktunya, di sebuah jalan buruk kira-kira 50 lie di selatan Khay-hong terlihat pula sebuah gerobak yang ditarik oleh dua ekor kuda hitam, dipacu cepat ke jurusan utara. Satu-satunya orang di atas gerobak ini adalah kusirnya sendiri. 

Adalah satu hal yang luar biasa begitu kita mengetahui bahwa kusir gerobak itu nyatanya adalah seorang nenek berambut putih berpakaian rombeng penuh tambalan. Di bagian belakang gerobak terdapat timbunan jerami kering. 

Meskipun kuda-kuda penarik gerobak itu telah lari kencang sekali, namun si nenek masih saja terus mendera punggung binatang-binatang ini dengan cambuknya sehingga kedua kuda tersebut lari laksana dikejar setan. Di sebelah depan kini kelihatan daerah pegunungan yang menghitam dalam kegelapan malam. 

Inilah yang dikenal dengan nama Hun-tiongsan. Memasuki daerah pegunungan yang di sanasini terdapat jurang batu dalam dan terjal, si nenek bukannya memperlambat lari gerobak, malah seperti orang kesetanan kembali dia mencambuk kuda-kuda penarik gerobak itu!

Siapakah adanya nenek-nenek yang demikian hebat dan berani luar biasa mengemudikan gerobak di jalan buruk berbahaya dan dalam gelap gulitanya malam begitu rupa? Untuk mengetahuinya mari kita ikuti saja ke mana tujuan tua bangka misterius ini.

Kira-kira dua kali peminuman teh si nenek sampai ke puncak Hun-tiong-san. Sebuah tembok menjulang hampir sepuluh tombak tingginya. Bagian atasnya ditancapi dengan tombak-tombak besi. Di salah satu bagian dari tembok ini terdapat sebuah pintu gerbang bercat kuning yang pada kiri kanannya ada dua buah arca harimau tengah mendekam terbuat dari emas murni! 

Meskipun belum diketahui bangunan atau apa yang ada di belakang tembok tinggi tersebut namun sudah dapat diduga kiranya puncak Hun-tiong-san inilah markas Huntiong Houw-mo atau Siluman Harimau Dari Gunung Hun-tiong!

Si nenek berambut putih hentikan gerobaknya di depan pintu gerbang kuning. Dengan gerakan cepat dan enteng dia melompat turun, lalu bergerak mendekati arca harimau emas di sebelah kiri. Salah satu jari tangannya dipergunakan hendak menekan mata arca harimau emas yang sebelah kanan. 

Namun sebelum itu dilakukannya tiba-tiba didengarnya suara bersiur dan ketika memandang berkeliling si nenek jadi melengak. Tiga orang kakek-kakek berpakaian paderi dilihatnya tahu-tahu sudah mengurungnya. 

"Paderi dari mana yang malam-malam buta begini masih gentayangan di luaran?!" si nenek mem­bentak bengis. Sepasang matanya menyorot galak. 

Paderi yang di tengah yang berambut panjang sedang dua kawannya sama-sama berkepala gundul menyeringai dan keluarkan suara tertawa. Suara tertawanya ini perlahan saja, tetapi si nenek rambut putih merasakan seolah-olah ada satu kekuatan gaib yang mendorong dadanya hingga jika saja tidak lekas-lekas teguhkan kuda-kuda kedua kakinya pastilah dia akan terhuyung-huyung beberapa langkah. 

"Heh, paderi sialan ini nyatanya memiliki tenaga dalam yang bisa disalurkan lewat suara!" membathin nenek rambut putih dan melirik pada dua paderi lainnya sambil menimbang-nimbang sampai setinggi mana pula kehebatan yang dua ini. 

Paderi berambut panjang mendongak ke langit, keluarkan sebuah buli-buli kecil berisi anggur dan... Gluk… Gluk… Gluk. Setelah meneguk minuman itu tiga kali berturut-turut dan menyimpan buli-buli kembali di balik jubahnya, dengan masih mendongak dia membuka mulut, berkata, 

"Ada ujar-ujar yang mengatakan hutang budi bayar budi hutang nyawa dibayar nyawa!"

"Heh! Kalian ini paderi-paderi gila dari mana sampai kesasar kemari?! Tahukah kalian apa artinya jika ada orang-orang luar yang berani menginjakkan kaki di puncak Hun-tiong-san ini?!"

Paderi rambut gondrong kembali tertawa sementara kedua kawannya tampak tidak sabaran. "Kami datang kemari bukan untuk mencari segala tahu. Tapi guna menagih hutang nyawa! Beberapa waktu yang lalu kau telah membunuh seorang paderi dari Siauw Lim-si secara kejam tanpa sebab lantaran. Karenanya pantas hari ini kau mempertanggungjawabkannya!" 

Nenek rambut putih mendongak dan tertawa panjang. Sambil berkacak pinggang dia berkata, "Di puncak Hun-tiong-san ini ada suatu ketentuan. Siapa-siapa orang luar yang berani naik kemari berarti mampus! Bisa datang tak bisa pulang!" 

"Segala macam aturan bisa saja dibuat! Tapi yang kami perlukan adalah nyawa busukmu!" menyahuti paderi botak di sebelah kanan. Namanya Tek Bun. 

Si nenek rambut putih kembali mengumbar suara tertawa. "Nyali kalian sungguh besar. Apakah kalian akan maju berbarengan atau sendiri-sendiri?" 

"Bagi manusia laknat macam kau mengapa harus memakai segala macam aturan?!" sentak paderi rambut gondrong. Namanya Hoa keng. 

"Hem… bagus! Dengan demikian aku tak membutuhkan waktu lama untuk menyingkirkan kalian bertiga. Memang sudah lama juga puncak Hun-tiong-san ini tidak dibasuh dengan darah paderi tengik macam kalian…!" 

"Hun-tiong-san!" paderi botak yang di sebelah kiri dan bernama Tek Nyo. "Sudah lama kami mendengar nama keji Hun-tiong Houw-mo. Hari ini agaknya sudah layak nama itu dikubur untuk selama-lamanya. Dan kau warga komplotan terkutuk itu yang bakal mampus duluan!" 

"Paderi keparat! Jangan kelewat takabur! Makan jariku ini!" Berteriak si nenek rambut putih dan jentikkan lima jari tangan kanannya. Lima larik sinar hijau berkiblat. 

"Ilmu Jari Kelabang Hijau!" teriak paderi Tek Bun kaget. "Lekas menyingkir!" 

Tapi peringatannya itu terlambat. Di sampingnya terdengar jeritan paderi Tek Nyo. Berpaling ke samping kelihatan paderi Tek Nyo terbanting ke tanah. Sebagian tubuhnya menjadi hijau gelap sedang kepalanya hancur. Otak dan darah berhamburan! 

"Dan ini untuk kalian berdua!" seru si nenek rambut putih seraya jentikkan lagi-lagi jari tangan kanannya. Kembali lima larik sinar hijau menderu ke arah dua paderi dari Siauw Lim-si. Tapi sekali ini serangan itu tidak menemui sasarannya bahkan mendapat sambutan perlawanan yang hebat. 

Begitu melihat lima larik sinar hijau datang menyerang, paderi Hoa Keng melompat ke samping seraya kebutkan lengan jubahnya. Selarik angin deras mendorong tubuh si nenek, membuat dia terhuyung beberapa langkah sedang bagian dari serangan ilmu jari kelabang hijaunya terdorong kesamping. 

Di lain bagian begitu melihat serangan, paderi gondrong Tek Bun keluarkan buli-buli anggurnya, teguk tiga kali berturut-turut kemudian menyemburkan minuman ini ke depan. Meskipun cuma anggur namun disemburkan dengan kekuatan tenaga dalam yang ampuh maka serangan benda cair itu amat berbahaya. Sebagian dari ilmu jari kelabang hijau bukan saja musnah malah semburan anggur itu terus menerobos dan menerpa tubuh si nenek rambut putih! 

Perempuan tua ini melengak kaget menyaksikan bagaimana pakaian rombengnya menjadi bolong seperti disundut rokok, kulit tubuhnya menggerayang ngilu, namun untung saja dia mempunyai semacam ilmu kebal hingga dia tidak menderita luka. 

Baik paderi Hoa Keng maupun Tek Bun diam-diam merasa kaget menyaksikan bagaimana sem­buran anggur yang mengenai lawan hanya sanggup merobek pakaiannya saja. Maka berbisiklah paderi Tek Bun pada kawannya yang ternyata lebih tua. 

"Hoa Keng-twako, kita harus hati-hati. Tampaknya lawan bukan dari tingkat sembarangan!" Habis berbisik begitu Tek Bun berikan isyarat dan kedua paderi clad Siauw Lim-si ini kemudian menyerbu pula serentak dengan hebatnya. 

Nenek rambut putih rupanya sudah mengukur pula tingkat kepandaian lawan yang dua ini. Sejak dulu paderi-paderi dari Siauw Lim-si memang terkenal kehebatannya. Karenanya dalam menghadapi dua lawan tangguh itu si nenek keluarkan jurus-jurus terhebat dari ilmu silat 'Siluman Harimau' yang dipelajarinya dari Ketua Hun-tiong Houw-mo. 

Serangan dua paderi Siauw Lim-si menggebu-gebu tiada olah-olah hebatnya. Setelah berkelebatan cepat selama dua jurus di mana masingmasing pihak banyak dapat intai mengintai kelemahan dan kelengahan musuh, di jurus ketiga si nenek rambut putih membuka serangan dengan keluarkan jurus yang bernama Liong hun houw-hong atau 'Awan Naga Angin Harimau'. 

Dua paderi melihat seolah-olah udara malam yang gelap semakin pekat menghitam dan serentak dengan itu terdengar lawan keluarkan suara macam harimau menggereng, dan menyusul satu serangan yang membawa angin laksana tiupan badai! 

Untuk menghadapi serangan dahsyat ini yang membuat tubuh dua paderi jadi tergontai-gontai paderi Tek Bun sambut dengan jurus cian-bun-ki long atau 'Menolak Serigala di Depan Pintu' sedang paderi Hoa Keng menggebrak dengan jurus Po hun kian jit atau 'Menyibak Awan Memandang Matahari'. Kecamuk pertempuran di jurus yang ketiga itu bukan kepalang. Tanah serasa bergetar. Masing­-masing lawan sama-sama merasa tertekan dan kemudian terlempar sampai satu tombak! 

"Tiada nyana dua paderi keparat ini memiliki ilmu yang tangguh!" kata hati nenek rambut putih. Baru saja dia membatin begitu tiba-tiba si nenek mendengar suara mengiang di kedua telinganya. "Putih! Kau harus dapat melenyapkan dua paderi Siauw Lim-si itu dalam tiga jurus. Jika tidak berhasil kau bakal terima hukuman potong salah satu anggota tubuhmu!" 

Suara yang mengiang itu datangnya dari arah belakang tembok tinggi dan dilakukan oleh Ketua Komplotan Hun-tiong Houw-mo. Pada masa itu di dunia kangouw hanya terdapat beberapa orang tokoh yang memiliki ilmu mengirimkan suara dari jarak jauh seperti itu. Dari sini saja sudah dapat dibayangkan bagaimana tingginya tingkat kepandaian Ketua Hun-tiong Houw mo dan di samping itu juga kentara sekali bagaimana pula kebengisannya terhadap anak buahnya sendiri! 

Nenek rambut putih yang dipanggil dengan sebutan si Putih menjadi dingin tengkuknya mendengar perintah pemimpinnya itu. Sambil berkelebatan kian kemari dia berpikir, "Bagaimana aku dapat membunuh dua paderi ini hanya dalam tempo tiga jurus saja? Sulit! Keduanya memiliki kepandaian yang tinggi…"

Dalam pada itu kembali paderi Tek Bun dan Hoa Keng melancarkan serangan-serangan berbahaya, mendesak nenek rambut putih ke dekat pintu gerbang warna kuning. 

"Baiknya aku hadapi mereka dengan jurus hun in toan-san, lalu jurus jit gwat-bu kong kemudian baru kususul dengan serangan ilmu jari kelabang hijau. Jika ini tidak membawa hasil, celakalah. Biar aku terima nasib," demikian nenek rambut putih membatin. 

Rupanya jurus-jurus silat yang hendak dikeluarkannya itu adalah ilmu simpanan yang paling hebat. Satu jurus berlalu tanpa si nenek mem­punyai kesempatan untuk mulai menyerang karena dua paderi menyerbunya dengan amat hebat. Jurus berikutnya, didahului dengan bentakan menggeledek nenek itu keluarkan jurus hun-in toan-san atau 'Awan Melintang Memutus Bukit'. 

Kehebatan jurus ini segera terlihat karena bagaimana pun dua paderi Siauw Lim-si memburu lawannya namun di antara mereka tetap saja terdapat jarak tertentu yang memisah hingga setiap serangan yang dilancarkan tidak pernah sampai. Selagi dua paderi itu merasa heran campur penasaran, si nenek keluarkan jurus berikutnya yaitu jit-gwat-bu-kong atau 'Matahari dan Rembulan Tidak Bersinar'. 

Paderi Tek Bun dan kawannya tiba-tiba merasakan tempat sekelilingnya menjadi amat gelap dan mereka tak dapat melihat di mana musuh mereka berada. Selagi keduanya kebingungan begitu rupa tahu-tahu lima larik sinar hijau berkiblat di depan mata, demikian cepatnya hingga dua paderi ini tidak sempat menyelamatkan nyawa masing-masing. Mereka cuma sanggup berteriak. "Ilmu Jari Kelabang Hijau!" Dan sedetik kemudian keduanya roboh ke tanah, mati dengan kepala hancur dan hangus hijau! 

Nenek rambut putih menghela nafas lega. Dia membalikkan tubuh, mendekati arca harimau emas di pintu gerbang sebelah kiri. Ketika mata sebelah kanan dari harimau ini ditekan maka pintu gerbang kuning pun terbuka. Si nenek lompat ke atas gerobak dan membedal binatang penarik gerobak itu masuk melewati pintu gerbang. Begitu gerobak masuk pintu gerbang kuning menutup dengan sendirinya. 

Di belakang tembok tinggi di puncak Hun tiong-san itu ternyata terdapat sebuah bangunan besar yang keseluruhannya dilapisi emas hingga meskipun malam hari bangunan yang seperti istana itu kelihatan memancarkan sinar berkilau yang amat menakjubkan. Di mana-mana terdapat arca berbentuk kepala harimau. 

Dua orang berpakaian putih menyambut kedatangan si nenek dan langsung membawa gerobak ke bagian belakang bangunan emas sedang nenek rambut putih sendiri masuk ke dalam gedung besar lewat pintu depan. Di sebuah ruangan yang amat bagus, di atas satu kursi emas duduklah seorang gadis berparas amat jelita. Dia mengenakan pakaian sutera warna merah. Seuntai kalung emas kepala harimau tergantung di lehernya. Di atas kepalanya yang berambut hitam terdapat sebentuk mahkota emas yang ditaburi intan berlian. 

Meskipun wajahnya cantik rupawan, namun sepasang matanya kentara sekali membersitkan sinar kebengisan yang menggidikkan. Manusia inilah, yang menjadi Kepala Komplotan Hun-tiong Houw-mo yang selama beberapa bulan terakhir ini telah menebar anak-anak buahnya di seluruh pelosok untuk menimbulkan kekacauan, melakukan perampokan dan pembunuhan serta penculikan hingga menggegerkan dunia kangouw. 

Di sekeliling Ketua Hun-tiong Houw-mo berdiri beberapa orang gadis yang kesemuanya berparas cantik pula, masing-masing mengenakan pakaian sutera warna ungu, biru dan kuning. Nenek rambut putih menjura di hadapan Ketua Hun-tiong Houw-mo. 

"Dewi tugas telah kuselesai­kan. Harap petunjuk dari Dewi lebih tanjut." 

Ketua Hun-tiong Houw-mo yang dipanggil dengan sebutan 'Dewi' itu anggukkan kepalanya sedikit. "Betulkan dulu pakaian dan tampangmu, baru bicara!" sang Dewi membuka mulut. Suaranya tinggi angkuh. 

Nenek rambut putih tanggalkan pakaiannya yang kotor compang camping, tarik rambut palsunya yang berwarna putih talu membuka topeng tipis yang menutupi wajahnya. Ternyata dia adalah seorang gadis berparas cantik sekali, berambut panjang hitam yang digulung dan mengenakan pakaian sutera warna putih! Di lehernya tergantung kalung emas kepala harimau! 

DELAPAN

Diantara pembantu-pembantu utama Ketua Hun-tiong Houw-mo yang kesemuanya adalah dara­-dara berparas jelita maka dara berpakaian putih inilah yang paling cantik dan mendatangkan sedikit rasa iri dalam diri yang lain-lainnya. Setelah memandang wajah gadis itu seketika maka bertanyalah Dewi Hun-tiong Houw-mo, 

"Koan­koan, apakah dalam perjalanan kau ada bertemu dengan Tio Ki-pi?" 

"Tidak satu pun di antara mereka kutemui, Dewi," jawab si Putih Koan-koan.

Baru saja dia menjawab demikian tiba-tiba dari luar terdengar seseorang berseru, "Dewi, aku Tio Ki-pi datang menghadap!"

Sesaat kemudian masuklah Tio Ki-pi alias Thian liong-plan. Dia menjura di hadapan Ketua Hun­tiong Houw-mo yang duduk di kursinya dan memandang tajam pada tangan kanan Tio Ki-pi yang kini kelihatan buntung. 

"Dewi," kata Tio Ki-pi kemudian sambil berlutut jatuhkan diri, "Mohon maafmu karena aku tidak berhasil menyelamatkan gerobak itu. Bahkan Empat Golok Kematian yang kusewa untuk membantu mengawal, tiga di antaranya telah menemui ajal!" 

"Sejak semula aku sudah tahu kalau kau tidak mampu mengamankan dan menjalankan tugas. Masih untung aku berlaku cerdik, menyuruh Si Hitam ling-ling untuk membawa gerobak asli yang berisi emas rampokan milik Kaisar Boan. Kalau kuserahkan tanggung jawab padamu, pasti ludaslah semua emas itu!" 

"Ja… jadi Dewi sudah mengetahui semua…?" tanya Tio Ki-pi dengan suara gemetar dan muka seputih kain kafan. 

Ketua Hun-tiong Houw-mo menyeringai. Matanya kelihatan berapi-api. "Aku sudah menerima laporan lengkap tentang tindak tanduk kegagalanmu! Ling-ling, keluarlah kemari!" 

Sebuah pintu terbuka. Seorang kakek berkumis putih melangkah masuk dan menjura di hadapan Dewi Hun-tiong Houw-mo. Sepasang mata Tio Ki-pi terbelalak. Jika dia tidak salah kakek ini adalah yang pernah dilihatnya tempo hari di rumah makan di sebuah kota kecil di mana dia kemudian menerima sepucuk surat panggilan dari Ketua Hun-tiong Houw-mo yang ditancapkan di mangkuk nasi! 

"Jadi… kiranya dia…? Celakalah aku!" keluh Tio Ki-pi. 

Kakek berkumis putih tanggalkan pakaian luarnya dan tarik topeng tipis yang menutupi wajahnya. Nyatanya kini dia adalah seorang dara rupawan yang mengenakan pakaian sutera hitam, salah satu pembantu Dewi Siluman Harimau dari Hun-tiong! 

"Tio Ki-pi, tahukah kau apa kesalahanmu?!" 

Tio Ki-pi menyembah-nyembah dan seperti anak kecil dia merengek menangis: "Dewi aku yang hina ini mohon pengampunanmu. Semua terjadi di luar kemampuanku…" 

Ketua Hun-tiong Houw-mo cuma ganda tertawa. "Pertama kau telah gagal menjalankan tugas untuk membawa gerobak itu ke sini, sekalipun itu hanyalah gerobak yang bukan berisi emas karena yang asli telah kuperintahkan pada Koan-koan untuk membawanya kemari. Kesalahan kedua setelah menemui kegagalan kau berniat untuk melarikan diri tapi rencanamu itu diketahui oleh si Hitam Ling-ling. Pembantuku ini telah memberi surat peringatan agar kau kembali, ke markas dengan segera. Namun kau tidak acuhkan malah nekad hendak terus lari. Itu kesalahanmu yang ketiga!" 

"Dewi, betapa pun juga kasihanilah selembar nyawaku ini. Jika saja kau mau memberikan tugas baru untukku pasti akan kulakukan dengan berhasil." 

"Bagaimana kalau tugas baru itu adalah menyuruh kau membunuh dirimu sendiri…?" 

Tio Ki-pi merasakan nyawanya seolah-olah sudah terbang saja saat itu. "Apakah kau masih merasa pantas mengenakan kalung kepala harimau lambang tertinggi dari Hun-tiong Houw-mo itu?" ketua Komplotan membentak. 

Tio Ki-pi buru-buru membuka kalung emas kepala harimau yang tergantung di lehernya, kalung pertanda sebagai komplotan Hun-tiong nouw-mo. Benda ini kemudian diletakkannya di hadapan sang Dewi. 

"Kesalahanmu terlalu besar untuk diampuni Tio Ki-pi," berkata Dewi Siluman Harimau dari Gu­nung Hun-tiong itu. Tampangnya menjadi bengis total dan pandangan matanya membersitkan maut. Dia bertepuk tiga kali dan berseru, "Seret dia ke kamar penyiksaan. Gantung kaki ke atas kepala di atas tong bara menyala!" 

"Dewi!" seru Tio Ki-pi seraya berlutut dan menggerung. Namun saat itu tiga orang pembantu sang Dewi yang juga merupakan murid-murid berkepandaian tinggi sudah melompat ke muka, mengurung Tio Ki-pi. Dalam takutnya yang sudah sampai pada puncaknya dan dalam keadaan tidak berdaya untuk selamatkan diri, Tio Ki-pi menjadi nekad. Lari tidak mungkin, minta pengampunan juga tidak bisa. Dari pada mati disiksa lebih dulu, lebih baik menyabung nyawa. Dan kebencian serta kemarahan yang meluap bekas tokoh utama dari propinsi Ciat kang ini tertumpah keseluruhannya pada Dewi Siluman Harimau yang duduk dengan mimik bengis di atas kursi kebesarannya.

"Dewi atas semua kesalahan aku rela menerima hukuman," kata Tio Ki-pi dengan suara bergetar sambil maju beberapa tindak mendekati Ketua Hun-tiong Houw-mo itu. Diam-diam dia kerahkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kiri, "Namun sebelum aku menjalani hukuman itu ada satu rahasia besar yang kurasa perlu kuterangkan padamu…" 

Kening Ketua Hun-tiong Houw-mo mengerenyit. "Rahasia apa? Katakan lekas!" 

"Begini, Dewi…" kata Tio Ki-pi pula dan dia maju lagi dua langkah. Jaraknya dengan Ketua Komplotan Siluman Harimau itu hanya terpisah setengah tombak kini. "Di puncak Hun-tiong-san ini…"

Tiba-tiba dengan kecepatan luar biasa, dengan mempergunakan jurus yang dinamakan Teng miaou kin thian atau 'Kucing Sakti Terkam Tikus' Tio Ki-pi lancarkan satu hantaman dahsyat dengan tangan kirinya. Para pembantu Ketua Hun-tiong Houw-mo berseru kaget namun Ketuanya sendiri kelihatan tenang-tenang saja di kursinya. Sesaat lagi pukulan sakti itu akan menghancur-leburkan sang Dewi, gadis cantik ini dengan senyum maut bermain di bibir angkat tangan kanannya. 

"Naik!" seru Ketua Hun-tiong Houw-mo. Dan hebat sekali, angin pukulan Tio Ki-pi tadi terdorong penuh sedang tubuh Tio Ki-pi sendiri tiba-tiba terangkat ke udara sampai dua tombak. Dan ketika sang Dewi memukulkan telapak tangannya ke pegangan kursi, maka jatuhlah tubuh Tio Ki-pi ke lantai dengan keras. Kepalanya pecah, otak berantakan, darah menghambur! 

Beberapa pelayan mengangkat mayat Tio Kipi, yang lainnya membersihkan lantai. Kemudian Ketua Hun-tiong Houw-mo memandang berkeliling pada murid-muridnya yang berjumlah lima orang itu, 

"Aku mendapat firasat bahwa kita sekarang ini berada dalam keadaan yang tidak menyenangkan kalau tak mau dikatakan berbahaya. Pertama orang-orang Kaisar Boan sudah barang tentu menyelidiki perampokan segerobak emas yang kita lakukan itu. Lambat laut bagaimanapun juga pasti mereka akan mengetahui bahwa kitalah yang telah melakukannya. Kita tak perlu takut akan serbuan balatentara Boan kemari karena kita mempunyai banyak senjata rahasia. Namun jika Kaisar Boan meminjam tangan orang-orang kangouw, kita akan cukup direpotkan oleh mereka. Hal kedua adalah munculnya seorang pemuda asing sebagaimana yang diterangkan oleh si Hitam Ling-ling dan si Putih Koan-koan. Dapat dipastikan bahwa pemuda itulah yang bernama Wiro Sableng, yang telah menghancurkan Empat Golok Kematian dan mencelakai Tio Ki-pi. Mata-mata kita selanjutnya memberi tahu bahwa pemuda itu kini tengah mencari tahu di mana letaknya markas kita. Hal ketiga yang paling berbahaya ialah lenyapnya Pendekar Pedang Akhirat Long Sam Kun dari penjara Liang Akhirat dan matinya Siang-mo-kiam. Saat ini mungkin dia belum tahu letak markas kita. Tapi cepat atau lambat dia pasti akan mengetahui juga!" 

Dewi Ketua Hun-tiong Houw-mo itu diam sejenak. Kemudian melanjutkan kata-katanya, "Karenanya, sebelum tiga hal itu menjadi kenyataan yang berbahaya, ada beberapa tugas yang harus kalian lakukan! Pertama, kau Ling-ling harus menambah dan menebar sejumlah mata-mata untuk memperhatikan gerak-gerik pasukan Kaisar. Kemudian kau si Biru Bwe Bwe mencari tahu di mana adanya Pendekar Pedang Akhirat Long Sam kun. Kau si Ungu Lan-Lan dan si Kuning Ni-nio mendapat tugas membuat alat-alat rahasia baru di sekitar puncak Hun-tiong san ini. Tugas terakhir pada si Putih Koan-koan ialah membunuh pemuda asing yang bernama Wiro Sableng itu. Untuk itu kau harus berangkat saat ini juga, yang lain-lain tunggu pemberitahuanku lebih lanjut!" 

Dara berpakaian sutera putih bernama Koan-koan menjura dan meninggalkan tempat itu dengan cepat. 
********************
WWW.ZHERAF.COM
SEMBILAN

Sambil bersiul-siul membawakan lagu tak menentu Pendekar 212 Wiro Sableng melangkah lenggang kangkung. Kadang-kadang sesungging senyum muncul di ujung bibirnya. Saat itu bukan dia tidak tahu kalau sudah sejak tadi ada seseorang yang mengikutinya dari belakang dalam jarak tertentu. Namun pura-pura tak tahu dia jalan terus memasuki rimba belantara di kaki bukit yang menurut keadaannya mungkin belum pernah didatangi manusia sebelumnya. 

Di satu tempat tiba-tiba laksana seekor burung, dengan gesit dan tanpa suara sama sekali dia melompat ke sebuah cabang pohon yang tingginya hampir tiga tombak. Di sini dia mendekam di balik rerumputan daun dan menunggu. Tak lama kemudian di bawah sana dilihatnya ranting-ranting dan semak-semak bersibakan dan sesosok tubuh menyeruak mencari jalan. 

Pendekar kita tersenyum. Dia memang sudah menduga dari semula. Orang yang mengikutinya itu ternyata adalah gadis cantik yang tempo hari dicuri kudanya. Cuma sedikit yang menimbulkan tanda tanya dalam hati Wiro di mana gadis itu meninggalkan kudanya dan dari mana pula dia mendapat pesalin pengganti pakaian merahnya yang dulu robek-robek. Tepat ketika sang dara yang kini berpakaian putih ringkas dan rambut digulung di atas kepala sampai di bawah pohon. Wiro melayang turun hingga si nona menjadi kaget. 

"Ah, sungguh menyenangkan dapat bertemu denganmu kembali, Nona. Kurasa kau pun demikian pula bukan?" Wiro menegur sambil garuk-garuk kepala dan cengar-cengir. 

"Siapa sudi bertemu dengan kau!" sang dara melengos. 

"Eh, kalau tak sudi ketemu kenapa dari pagi tadi kau diam-diam mengikuti? Bukankah itu maksudnya pingin ketemu…?" 

Si Nona tadi merah wajahnya karena jengah. 

"Nah, sekarang ringkas saja, Nona. Kenapa kau mengikutiku?" 

"Aku tak mengikutimu, hanya kebetulan saja kita satu jurusan dan kau di sebelah depan." 

"Begitu? Baiklah. Sekarang kau silahkan jalan di sebelah depan dan aku di belakang!" 

Nona itu kelihatan geregetan sekali mendengar kata dan melihat tingkah Wiro. "Dengar," katanya serius. "Kau dan aku mempunyai kepentingan yang sama. Kita sama menuju gunung Hun-tiong di mana markas komplotan Hun-tiong Houw-mo berada. Kau tak tahu jalan dan aku butuh bantuan. Sekali lagi kutawarkan bagaimana kalau kita kerja sama?" 

Wiro merenung sejenak lalu tersenyum. "Aku kurang begitu percaya padamu. Sebelumnya kau hendak menebas batang leherku. Ingat?" 

"Itu… itu karena kau telah mencuri kuda kesayanganku dan… dan…" 

"Sudahlah, Nona, kalau kau kepingin jalan sama-sama denganku aku tak keberatan. Tapi sesampainya di Hun-tiong san kita urus persoalan sendiri-sendiri…" 

"Aku belum pernah bertemu laki-laki sesombongmu!" desis nona itu. 

"Aku belum pernah bertemu gadis secantikmu!" jawab Wiro pula dan membuat si nona jadi betul-­betul kepingin menggebuk pemuda itu. 

"Kau… kau terlalu…" kata gadis itu perlahan dan menggigit bibirnya keras-keras agar air matanya jangan sampai keluar karena rasa kesal yang amat sangat itu. 

Wiro jadi kasihan juga melihat gadis itu. "Sudahlah, aku tadi cuma bergurau. Bagaimana persoalannya sampai saudara laki-lakimu dibunuh oleh komplotan Hun-tiong Houw-mo?" 

"Suatu hari dia diculik oleh anggota komplotan itu, hendak dipersembahkan pada Ketua Hun-tiong Houw-mo yang kabarnya seorang gadis berparas jelita tetapi mempunyai nafsu terkutuk luar biasa dan suka menyimpan pemuda-pemuda gagah di markasnya. Jika dia sudah bosan, pemuda-pemuda itu dibunuhnya satu persatu dan cari yang lain…" 

"Jadi Ketua Hun-tiong Houw-mo itu adalah seorang gadis, seorang perempuan?" 

Sang dara mengangguk. "Seorang gadis cantik dan berkepandaian tinggi luar biasa." 

"Aneh…" Ujar Wiro. 

"Apa yang aneh?" 

"Jika dia berkepandaian tinggi dan banyak tokoh-tokoh persilatan yang jatuh di tangannya sedangkan usianya demikian muda, sejak umur berapa dia sudah menguasai ilmu silat dan kesaktian?" 

"Aku pun tidak mengerti," menyahut si nona. "Kira-kira sebulan sesudah saudaraku diculik, mayatnya ditemukan dalam keadaan rusak di pinggiran kota…" 

"Bagaimana kau tahu bahwa komplotan Hun-tiong Houw-mo yang membunuhnya?!" tanya Wiro pula. 

"Ada piauw kepala harimau dari emas menancap di keningnya." Wiro manggut-manggut. "Bagaimana sekarang?" si nona ajukan pertanyaan. 

"Apa yang bagaimana?" 

"Kau masih tak mau bekerja sama denganku?" 

"Apa yang kau ketahui tentang Hun-tiong Houw-mo?" balik bertanya Wiro. 

"Pertama aku tahu jalan terpendek ke puncak Hun-tiong san tanpa diketahui oleh penghuni markas komplotan itu." 

"Tapi kabarnya markas komplotan itu dipagari dengan tembok luar biasa tingginya sedang di pelbagai tempat penuh dengan senjata rahasia!" 

"Itu adalah persoalan kedua," jawab si nona. "Semasa kecil aku sering diajak kakek guruku ke puncak Hun-tiong san. Waktu itulah kutemui sebuah terowongan rahasia yang jika diikuti akan sampai di salah satu bagian dalam halaman markas Hun-tiong Houw-mo…" 

"Ah, itu bagus sekali!" ujar Wiro. "Lantas apa lagi yang kau ketahui…" 

"Di samping Ketua Hun-tiong Houw-mo yang terkenal sakti itu, di sana terdapat juga beberapa orang pembantunya yang terdiri dari gadis-gadis cantik dan rata-rata berkepandaian tinggi!" 

"Lain hal…?" 

"Tak ada lagi yang kuketahui." 

Wiro usap-usap dagunya. "Kau belum menerangkan siapa namamu, Nona." 

Kembali paras sang dara menjadi merah. Tapi dia menyahut juga. "Panggil aku Pek Lan…" 

"Pek Lan…? Ha, kalau tak salah itu artinya Anggrek Putih! Nama yang bagus! Nah sekarang mari kita sama-sama lanjutkan perjalanan…" 

"Kau silahkan jalan duluan," kata Pek Lan pula. "Eh, bagaimana ini? Katanya bekerja sama, jalan sama-sama tidak mau…!" 

"Jalan saja duluan, aku tunjukkan arah dari belakang. Sekeluarnya dari rimba ini, puncak Hun-tiong­san akan segera terlihat!" 

Wiro tarik nafas panjang dan geleng-geleng kepala. Akhirnya dia melangkah juga. Pek Lan meng­ikutinya sejauh lima belas langkah di belakang. Ketika hampir akan keluar dari hutan belantara itu tiba-tiba Wiro tersentak kaget menyaksikan pe­mandangan beberapa langkah di hadapannya. Seorang nenek-nenek tak dikenal, berambut putih berpakaian compang-camping duduk menjelepok di tanah. 

Di tangannya ada sepotong ranting kering. Dengan ranting ini dia menggurat-gurat tanah. Gerakan tangannya acuh tak acuh dan tampaknya perlahan saja namun guratan yang terlihat di tanah demikian dalamnya tanpa mempergunakan tenaga dalam yang tinggi tak bakal seseorang mampu melakukan hal itu. 

Wiro sudah mengetahui baik di tanah airnya maupun di Tiongkok, orang-orang atau tokoh per­silatan itu banyak yang bersifat aneh. Karenanya dia sudah menduga kalau nenek tak dikenal ini pun tentu salah seorang dari tokoh-tokoh golongan aneh itu. Maka menjuralah dia dengan penuh hormat dan menegur dengan lembut. 

"Nenek tua rambut putih, maafkan siauwte mengganggu ketentramanmu. Sudilah nenek memberi jalan sedikit agar aku dapat melanjutkan perjalanan." 

Sementara itu Pek Lan yang mengikutinya, dari belakang, begitu melihat ada orang lain di depan, cepat hentikan langkah, menyelinap ke balik semak belukar dan menghilang. 

Anehnya, ditegur oleh Wiro si nenek seolah-olah tak mendengar dan terus saja menggurat-gurat tanah dengan ujung ranting kering. Memikir kalau-kalau pendengaran si nenek kurang baik maka Wiro menegur lagi. Kali ini dengan suara lebih keras. 

Si nenek tiba-tiba angkat kepalanya. Kelihatan jelas kini wajah yang mengeriput. Di lain pihak Wiro melihat bagaimana sepasang mata si nenek bening bercahaya, bukan seperti mata seorang yang sudah lanjut usia. Si nenek sendiri begitu matanya membentur wajah Wiro, hatinya tercekat dan dalam hati dia membatin, 

"Ah… tak kusangka kalau yang harus kubunuh ini seorang pemuda asing berparas gagah meskipun tindak tanduknya macam orang tolol dan lucu…" Kemudian nenek ini cepat-cepat tundukkan kepalanya kembali. Pandangan mata Wiro Sableng membuat hatinya bergetar. 

"Nenek, beri jalan padaku…" Wiro berkata lagi. 

Tiba-tiba si nenek melompat. Mimiknya jadi bengis dan dia membentak garang. "Bangsat, kapan aku kawin dengan kakekmu kau panggil aku nenek!" 

Mendengar ini Wiro hendak meledak tawanya. Tapi batal karena sambil membentak dilihatnya si nenek tusukkan ranting kering di tangannya ke arah dada Wiro. Meskipun cuma sepotong ranting kering namun bisa mendatangkan maut karena dialiri tenaga dalam yang hebat. Wiro berkelit ke samping dan menghantam dengan tangan kanannya.

"Blukkk...!" 

Pukulan tepi telapak tangannya tepat mengenai lengan si nenek. Ranting terlepas mental dan si nenek menggigit bibir menahan sakit. Wiro sendiri merasakan tangannya seperti kesemutan. Diam-diam pendekar ini kaget juga dan mulai berlaku lebih hati-hati. 

"Aku tiada permusuhan denganmu Nenek, kenapa kau menyerangku?" 

"Mulutmu terlalu kurang ajar. Orang sepertimu pantas dilenyapkan!" 

"Eh, bukankah kau yang duluan bicara segala macam kawin dengan kakekku. Kau yang buktinya bermulut usil, Nek!" 

Si nenek yang bukan lain adalah si Putih Koan-koan sebenarnya merasa geli juga mendengar ucapan Wiro itu, namun berhubung dia mendapat tugas dari ketuanya untuk membunuh pemuda asing ini, maka itu tak dapat ditawar-tawar lagi. Dia tahu kalau pemuda itu dikabarkan memiliki kepandaian tinggi dan telah sanggup membunuh Siang Mo Kiam, dua anggota komplotan Hun-tiong Houw-mo yang berkepandaian tinggi. 

Karenanya dalam serangan kedua dia sengaja keluarkan jurus hun-in toan-san atau 'Awan Melintang Memutus Bukit' yakni jurus pertama yang sebelumnya telah mengantar kematian dua paderi Siauw lim-si berkepandaian tinggi itu. 

Wiro kaget ketika melihat bagaimana seolah-olah lawan dipisahkan oleh satu jarak gaib yang tak bisa dicapainya padahal si nenek kelihatan dekat saja di depan matanya. 

"Ah, nyatanya kepandaiannya cuma rendah saja," kata nenek rambut putih alias Koan-koan begitu melihat jurus yang dikeluarkannya itu membuat lawan tidak berdaya. Segera dia keluarkan jurus kedua yakni 'Matahari Dan Rembulan Tidak Bersinar' atau jit-gwat-bu-kong. 

Ketika menghadapi jurus aneh yang pertama tadi Wiro memang terkesiap namun itu bukanlah berarti dia menjadi tak berdaya seperti yang disangka oleh Koan-koan. Secepat kilat tangan kanannya mendorong ke depan melancarkan pukulan sakti bernama 'Benteng Topan Melanda Samudera'. Setiup angin bertiup dengan dahsyat seolah bumi ditiup badai. 

Kini Koan-koan-lah yang menjadi kaget. Bukan saja dia tak mendapat kesempatan untuk mengeluarkan jurus 'jit gwat-bu-kong' tetapi jurus 'hun-in-toan-san'nya pun dilabrak musnah sedang dirinya sendiri terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang. 

Melihat lawan nyatanya memiliki kepandaian tinggi, tidak serendah yang diduganya, Koan-koan menjadi marah dan naik pitam. Baginya jika menghadapi lawan seperti ini hanya ada satu pilihan, dia yang bakal konyol atau lawan yang akan meregang nyawa. Karenanya Koan-koan tanpa tunggu lebih lama lagi segera keluarkan kesaktiannya yang paling tinggi yaitu 'Ilmu Jari Kelabang Hijau'. 

Ketika Pek Lan yang mengintip di balik belukar melihat si nenek rambut putih jentikkan lima jarinya yang disusul dengan berkiblatnya lima larik sinar hijau yang menggidikkan maka dara itu tersentak kaget dan berseru memperingati Wiro. 

"Saudara, awas! Itu pukulan Ilmu Jari Kelabang Hijau yang ganas! Lekas menyingkir!" 

Wiro tertegun mendengar peringatan itu sedang Koan-koan sendiri terheran-heran karena tak menyangka kalau ada orang ketiga di tempat itu. Karena belum tahu sampai di mana kehebatan Ilmu Jari Kelabang Hijau, Wiro turuti juga per­ingatan Pek Lan, menyingkir dua langkah ke samping dan menghantam dengan pukulan 'Angin Puyuh', tapi apa lacur, pukulan sakti yang dialiri setengah bagian tenaga dalamnya itu ternyata punah dilabrak sinar hijau pukulan lawan. Di lain kejap sinar hijau terus menyambar ke arah Wiro. 

Pek Lan menjerit kaget, "Celaka!" dan dia sendiri tidak punya kemampuan untuk menolong Wiro. Meskipun demikian dia cabut pedangnya dan menyerang ke arah Koan-koan seraya membentak garang. "Nenek keparat, jadi kau adalah salah seorang dari pembantu ketua Hun-tiong Houw-mo terkutuk itu! Jangan coba mungkir sekalipun kau bisa menyamar jadi setan! Hanya orang-orang dari Hun-tiong san yang memiliki ilmu laknat itu!" 

Koan-koan sendiri sebenarnya mengeluh dan menyesal dalam hatinya telah lepaskan pukulan ilmu Jari Kelabang Hitam yang ganas yang dilihatnya telah membuat si pemuda tak berdaya dan bakal meregang nyawa. Pada dasarnya dia tak ingin membunuh pemuda yang menarik hatinya ini. Namun untuk menarik pukulan tersebut sudah kasip dan dalam pada itu satu serangan pedang dari seorang gadis cantik tak dikenalnya datang pula dari samping, membuat dia terpaksa berkelit, selamatkan batang lehernya. 

Melihat pukulan tangkisannya musnah Wiro kaget sekali dan sebelum sinar hijau melabrak kepalanya pendekar ini hantamkan tangan kirinya ke atas. Selarik sinar putih menyilaukan berkelit ganas dan terdengarlah suara berdentum! 

Nenek rambut putih atau Koan-koan mencelat mental sampai tiga tombak. Dengan jungkir balik susah payah baru dia bisa berdiri di atas kedua kakinya. Dadanya terasa sakit dan jari-jari tangannya seperti hendak putus. Wajahnya sepucat kain kafan. Sedang di depannya Wiro Sableng dilihatnya berdiri tegak dengan kaki melesak ke tanah sampai sedalam sepertiga jengkal. Di bagian lain beradunya dua pukulan sakti itu telah membuat Pek Lan terbanting ke samping dan jatuh duduk di tanah. Tapi gadis ini cepat bangun kembali. Pungut pedangnya dan kembali menyerbu Koan-koan. 

"Bangsat dari Hun-tiong san! Kau harus tebus nyawa kakakku dengan nyawa anjingmu!" Pedangnya berkelebat. Tapi saat itu Koan-koan yang sudah maklum tidak bakal sanggup menghadapi Wiro sudah putar langkah dan hendak kabur. Cuma sayang Wiro lebih cepat menghadangnya. 

"Nenek manis, kau mau merat ke mana? Makan dulu jariku ini." Sekali totok saja nenek rambut putih alias Koan-koan tertegun jadi patung, tak bisa bergerak lagi! 

"Hem, sekarang mampuslah!" seru Pek Lan. Pedangnya turun laksana kilat. Koan-koan hanya bisa pejamkan mata terima nasib. 

"Pek Lan tahan dulu!" Wiro tiba-tiba berseru dan memegang lengan Pek Lan. 

Gadis ini coba berontak. "Apa-apaan kau! Bangsat ini adalah musuh besarku, yang telah membunuh kakakku! Musuh besar setiap orang-orang golongan putih! Kenapa kau cegah aku membunuhnya?" 

"Sabar dulu Pek Lan. Dari dia kita bisa mengorek beberapa keterangan penting…" 

"Aku tak butuh segala macam keterangan! Aku butuh nyawanya!" sentak Pek Lan. 

"Itu bisa kau lakukan nanti. Tapi aku pun mempunyai kepentingan sendiri," tukas Wiro pula. Dia berpaling pada si nenek rambut putih dan bertanya, "Betul kau anggota Hun-tiong Houw-mo?" 

"Perlu apa itu ditanya lagi! Lihat aku akan buktikan sendiri!" kata Pek Lan dan dengan kedua tangannya dirobeknya pakaian luar Koan-koan. Kini kelihatan pakaiannya sebelah dalam, pakaian ringkas warna putih sedang di lehernya tergantung kalung emas kepala harimau. "Dan ini tampang iblis ini yang asli!" seru Pek Lan selanjutnya seraya menanggalkan topeng tipis dari wajah Koan-koan. 

Wiro sampai ternganga bengong waktu menyaksikan wajah di balik topeng nenek-nenek buruk keriput tadi ternyata adalah paras yang demikian jelitanya. "Nona, aku tak mengerti. Kau demikian cantik. Kenapa menyia-nyiakan hidup dengan masuk men­jadi anggota Hun-tiong Houw-mo?" 

Ditegur oleh Wiro selembut itu, Koan-koan jadi sesenggukan dan tak dapat lagi menahan air matanya. 

"Eh, kenapa jadi menangis?" tanya Wiro. 

"Awas, jangan sampai kita termakan tipunya!" ujar Pek Lan tetap bernafsu. 

Wiro bertanya sekali lagi. Sekali ini Koan-koan membuka mulut memberi keterangan dengan ter­isak-isak, "Aku dan juga empat kawanku yang lain tak pernah menginginkan untuk hidup sebagai murid Ketua Hun-tiong Houw-mo. Kami semua terpaksa. Diculik beberapa tahun yang silam dan tak mungkin lagi keluar dari genggaman Ketua kami kecuali kalau kami ingin buru-buru mati!" 

"Bangsat! Kau pandai main sandiwara! Toh kau yang menculik dan membunuh kakakku!?" 

"Apakah kakakmu itu masih muda…?" tanya Koan-koan dengan pandangan rawan. 

"Ya." 

"Orang-orang muda ditangani sendiri oleh Ketua kami. Dia yang menyuruh culik kemudian dia pula yang membunuhnya bila telah bosan. Aku dan kawan-kawan hanya menjalankan tugas secara ter­paksa karena kami tak punya daya." 

"Kenapa tidak melarikan diri?!" bertanya Wiro. 

"Tak ada gunanya. Kami akan segera tertangkap dan disiksa seumur-umur…" 

"Apakah kau punya niat untuk kembali ke jalan yang benar?" Wiro tanya lagi. 

"Aku dan juga kawan-kawan selalu mengharapkan hal itu. Namun sampai saat ini kesempatan itu belum ada. Kalaupun ada tokoh golongan putih tentu siang-siang sudah membunuh kami. Padahal mereka banyak yang tidak tahu kehidupan kami yang boleh dikatakan tersiksa batin sepanjang hari…" 

"Siapakah namamu Nona?" Koan-koan menerangkan namanya. "Dengar, jika kami berdua membebaskan kau saat ini…" 

"Siapa sudi melepaskan dia!" Pek Lan nyerobot. Wiro memberi isyarat agar gadis itu diam. "Rupanya kau sudah tertarik pada kecantikannya Wiro! Kau akan ditipunya dan kelak akan di­bunuhnya!" 

Wiro tak perdulikan kata-kata Pek Lan. "Dengar Koan-koan," katanya. "Segala apa yang terjadi antara kita bisa dilupakan, dan kami berdua mengampuni dirimu. Tapi dengan syarat kau harus mem­bantu kami. Dan kelak mengajak pula kawan-kawanmu kembali ke jalan yang benar. Bertobat dan hidup secara baik-baik." 

Koan-koan tertawa rawan. "Seolah-olah mimpi ini semua bagiku," katanya. Lalu, "Kau belum tahu siapa Ketua Hun tiong Houw-mo. Jika kau bermaksud hendak memusnahkannya itu adalah satu kesia­-siaan belaka…" 

"Kita harus coba dan kau musti membantu. Menghadapi kita beramai-ramai masakan dia bisa menang…?" 

Koan-koan menghela nafas dalam. "Baiklah, aku berjanji. Tapi apakah kau percaya pada diriku?" 

Wiro memandang sepasang mata sang dara. Dan pandangan keduanya saling bertemu. "Aku percaya padamu!" kata Wiro lalu lepaskan totokan Koan-koan. 

Begitu Wiro tepaskan totokan Koan-koan, Pek Lan kontan berkata, "Mulai saat ini aku tak mau kenal lagi padamu, Wiro! Kau dengan urusanmu dan aku dengan urusanku!" 

"Pek Lan, kau mau ke mana?" seru Wiro. Namun gadis yang keras hati itu sudah berkelebat pergi. Wiro cuma geleng-geleng kepala. "Adatnya keras…" kata Wiro. 

"Kekasihmu…?" bertanya Koan-koan. 

Wiro berpaling. Sepasang mata mereka kembali saling bertemu. Koan-koan merasakan dadanya berdebar dan perlahan-lahan tundukkan wajahnya. Wiro gelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Kuharap kau betul-betul dapat dipercaya dan tidak menipuku," berkata Wiro. 

Koan-koan angkat wajahnya yang jelita. "Asalkan kau bersungguh hati membawaku ke jalan yang benar, kau suruh apa pun aku pasti akan melakukan." 

"Apakah kau akan lakukan jika aku meminta kau menciumku saat ini?" kata Wiro pula bergurau. 

Tapi di luar dugaan Koan-koan melompat ke muka, memeluk pemuda itu dan mencium sang pendekar pada kedua pipinya. "Aku sudah buktikan!" kata Koan-koan pula meski wajahnya bersemu merah. 

Wiro usap-usap kedua pipinya. "Aku tadi cuma bergurau. Tapi tak apa… Ini pertama kali seorang gadis menciumku lebih dahulu. Terima kasih untuk ciumanmu itu…" 

"Di lain hari aku akan memberikan lebih dari…!" kata Koan-koan dengan setulus hatinya. Entah mengapa dia demikian terpikat pada si gondrong yang baru beberapa saat saja dikenalnya itu.

"Aku akan lebih berterima kasih," jawab Wiro pula. "Nah, sekarang mari kita atur siasat."

SEPULUH

Keadaan terowongan rahasia seperti yang diketahui Pek Lan di masa kanak-kanaknya ternyata kini sudah jauh berubah sejak puncak Hun-tiong-san dipergunakan sebagai markas oleh komplotan Hun­tiong Houw-mo. Perubahan-perubahan ini telah menyesatkan Pek Lan dan tanpa diketahuinya beberapa kali dia telah menyentuh alat-alat rahasia di dalam terowongan itu.

Melihat adanya tanda dari alat-alat rahasia, Dewi Siluman Harimau segera memberi perintah pada dua orang murid atau pembantunya yakni si Ungu Lan-lan dan si Biru Bwe-bwe. Meskipun Pek Lan memiliki ilmu pedang yang tidak rendah, namun menghadapi kedua gadis tangguh itu, dengan hanya mempergunakan tangan kosong dalam tempo dua jurus dia sudah kena diringkus dan dihadapkan pada Dewi Siuman Harimau. 

"Nona, parasmu cantik dan keberanianmu patut dipuji untuk bernyali masuk ke sarang kematian ini. Siapakah nama mu dan bagaimana kau bisa tahu terowongan rahasia di bawah tanah itu?!" Ketua Hun-tiong Houw-mo ajukan pertanyaan. 

Pek Lan yang memang seorang gadis pemberani, apalagi dihantui dendam kesumat kematian saudaranya tegak berkacak pinggang diapit dan diawasi oleh si Biru Bwe-bwe dan si Ungu Lan-lan. Ditanya bukannya dia menjawab, malah balas bertanya dengan sikap congkak nada sinis, 

"Hemm... jadi inilah Ketua Hun-tiong Houw-mo yang dipanggil dengan sebutan Dewi itu?" Pek Lan kemudian tertawa panjang. "Tampangmu juga cantik. Cuma sayang hatimu lebih busuk dari comberan dan kejahatanmu lebih ganas dari iblis." 

"Dewi! Biar kurobek mulut gadis kurang ajar ini!" teriak si Hitam Ling-ling. 

Ketua Hun-tiong Houw-mo lambaikan tangan dan berkata, "Nyalinya cukup mengagumkan Ling-ling. Dan potongan tubuhnya menunjukkan bakat silat yang bagus. Kau ada harapan untuk kujadikan murid serta pembantuku seperti nona-nona yang lain ini." 

Pek Lan keluarkan suara mendengus dari hidung. "Aku datang kemari bukan untuk menghambakan diri pada iblis macam mu ini!" 

"Lantas, apa perlu mu datang kemari dan lewat terowongan rahasia segala?" 

"Untuk mencincangmu. Kau bertanggung jawab atas penculikan dan kematian kakak laki-laki ku." 

"Apakah kakakmu yang bernama Oel Siong Ang itu…? Ah, dia sungguh cakap dan amat pandai melayaniku di atas tempat tidur!" 

"Perempuan cabul! Mampuslah!" teriak Pek Lan marah sekali dan melompat ke muka hendak kirimkan tendangan ke kepala Ketua Hun-tiong Houw-mo. Namun maksudnya ini tidak kesampaian karena Ling-ling dan Lan-Ian cepat mencegahnya. 

"Dewi, sebaiknya gadis binal ini buru-buru saja disingkirkan. Kalau tidak bisa bikin berabe…!" ber­kata Bwe-bwe. 

"Menyingkirkannya soal mudah, muridku. Tapi bagaimana pendapatmu kalau mukanya kita cincang hingga wajahnya yang cantik menjadi lebih buruk dan seram dari muka setan sehingga seumur-umur tak satu pemuda pun ingin mendekatinya…" 

"Perempuan gila!" sentak Pek Lan. "Jika kau punya nyali mari kita bertempur sampai seribu jurus!" 

"Gadis sundel!" si Hitam Ling-ling, memaki. "Kau andalkan apakah berani bicara sombong ter­hadap Ketua kami? Membunuh mu jauh lebih mudah dari pada membalikkan telapak tangan!" 

"Hitam dan Biru! Seret dia ke kamar penyiksaan!" Dewi Siluman Harimau berteriak. 

Namun sebelum kedua muridnya melakukan hat itu tiba-tiba dari luar berkelebat satu bayangan putih dan tahu ­tahu si Putih Koan-koan sudah tegak di ruangan itu. Di bahunya dia memanggul sesosok tubuh pemuda berpakaian putih. Begitu melihat pemuda ini Pek Lan keluarkan seruan tertahan. Si pemuda yang bukan lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng! 

Saat itu Koan-koan telah mengenakan kembali pakaian samarannya dan topeng tipisnya. Dia meletakkan sosok tubuh Wiro di lantai, menjura di hadapan sang Ketua dan berkata, 

"Dewi, tugas telah kujalankan, cuma mohon dimaafkan agak menyimpang sedikit dari yang diperintahkan. Semula Dewi menugaskan agar aku membunuh pemuda ini, namun ketika melihat dia memiliki paras yang cukup gagah maka dalam perkelahian aku cuma menotoknya lalu membawanya kemari dengan harapan siapa tahu Dewi berkenan padanya!" 

Ketua Hun-tiong Houw-mo kerenyitkan kening. Sepasang alis matanya naik ke atas. Dia bangkit dari kursi emas dan melangkah mendekati sosok tubuh Wlro. Dengan ujung kakinya yang dibungkus dengan kasut sutera merah dia membalikkan kepala Wiro untuk dapat menilai wajah pemuda itu lebih jelas. Ternyata tampang Wiro memang membuat dia terpikat. 

"Ah… aku memang belum pernah dapat pemuda asing. Kelihatannya dia kuat sekali!" 

Sang Dewi tertawa dikulum dan meneguk ludahnya beberapa kali lalu dengan gembira menepuk-nepuk bahu Koan­-koan yang saat itu sudah menanggalkan pakaian luar serta topeng tipisnya.

"Kau memang muridku yang bijaksana dan banyak berjasa. Panjang pikiran dan tahu bagaimana kesenangan guru serta Ketuamu ini! Bagus sekali Koan-koan, bagus sekali. Kau gotonglah dia ke kamar tidurku sekarang juga…" 

Baru saja sang Dewi berkata demikian tiba-tiba hampir tak kelihatan sepasang tangan Wiro ber­gerak laksana kilat menangkap salah satu kaki Ketua Hun-tiong Houw-mo itu. Di lain kejap terdengar satu bentakan dan tubuh sang Dewi mencelat mental ke udara! 

Semua orang terkejut bukan kepalang. Ketua Hun-tiong Houw-mo kelihatan jungkir balik tiga kali di udara kemudian tegak di lantai kembali. Wajahnya merah laksana bara. Sepasang matanya berapi-api, menatap pada Pendekar 212 Wiro Sableng yang berdiri di samping Koan-koan sambil satu tangan tolak pinggang, tangan lain garuk kepala dan tertawa gelak-gelak. 

"Tiada dinyana ketua Hun-tiong Houw-mo begini cantiknya dan pandai main akrobat pula!" kata Wiro masih terus tertawa-tawa. 

"Jadah! Koan-koan kau berani menipuku! Kau telah bersekongkol untuk mengkhianati ku hah?!" Ketua Hun-tiong Houw-mo meluap amarahnya bukan kepalang. Dia berpaling dan berteriak, "Ringkus murid murtad itu! Aku akan hadapi bangsat bernama Wiro Sableng ini!"

Melihat kawan-kawan atau saudara seperguruannya hendak bergerak, Koan-koan cepat berseru, "Saudara-saudaraku tunggu dulu! Bukankah kita sudah sejak lama tersiksa hidup di puncak Hun-tiong san ini? Bukankah kita sejak lama ingin meninggalkan tempat celaka ini dan menempuh hidup di dunia luar secara wajar dan baik? Bukankah kita sering menyadari bahwa apa yang kita lakukan dan diperintahkan oleh Dewi semua bertentangan dengan hati kecil kita dan perikemanusiaan? Apakah akan kita rusakkan lebih jauh hidup kita yang cuma sekali ini di dunia? Hari inilah saat yang kita tunggu-­tunggu untuk mendapat kehidupan bebas yang kita rindukan. Hari ini kebenaran akan menghancurkan malapetaka yang bersumber di puncak Hun-tiong san ini! Mari, ikutlah bersamaku untuk kembali pada hidup yang benar dan keluar dari azab neraka ini!" 

Mendengar kata-kata Koan-koan yang penuh semangat itu, empat saudara seperguruannya jadi bimbang. Melihat ini marahlah Ketua Hun-tiong Houw-mo. Dia berteriak, 

"Lekas bunuh murid murtad Itu. Kalau tidak kalian berempat akan mendapat hukuman berat!"

Empat murid sang Ketua semakin bingung. 

"Kesempatan ini hanya sekali, saudara-saudaraku! Kalau sampai luput, kalian akan celaka sampai di liang kubur!" berseru Koan-koan. 

"Aku si geblek yang bernama Wiro Sableng ini akan membantu kalian!" Wiro pentang mulut. 

"Aku juga!" teriak Pek Lan. 

"Murid jadah! Kau layak mampus duluan!" 

Kemarahan Ketua Hun-tiong Houw-mo tak terken­dalikan lagi. Sekaligus dia jentikkan lima jari tangan kanannya yang sudah dialiri seluruh tenaga dalam yang ada ke arah Koan-koan. Gadis ini berseru tegang dan secepat kilat menyingkir. Dalam pada itu Wiro telah lepaskan pukulan Sinar Matahari yang membuat istana emas itu laksana dilabrak geledek. Satu dentuman terdengar. Semua orang yang ada di sini terpental ke samping sedang salah satu dinding ruangan yang terbuat dari emas meleleh dan berlobang besar! 

Ketua Hun-tiong Houw-mo kaget bukan kepalang. Ternyata pemuda asing itu memiliki tenaga dalam yang tidak berada di bawahnya. Namun dia sama sekali tidak gentar. Dengan satu lengkingan nyaring dahsyat dia menerjang ke depan. Begitu cepatnya dia berkelebat hingga hanya bayangan , merah pakaiannya saja yang kelihatan.

"Bukkk...!"

Satu jotosan melabrak dada Wiro Sableng, Pendekar ini terpental sampai satu tombak. Darah kental kelihatan meleleh di sebelah bibirnya. Melihat ini Koan-koan jadi bergeming. Jika sampai Wiro kalah oleh Ketuanya pastilah dia bakal celaka pula. Dia melirik pada saudara-saudaranya. Sampai saat itu mereka masih tertegun dalam kebimbangan. 

Melihat serangannya berhasil Ketua Hun-tiong Houw-mo kembali melabrak ke depan, sosok tubuhnya tak kelihatan. Kali ini Wiro bertindak gesit karena ternyata lawan memiliki ilmu yang disebut Pek-pian-mo-ing atau Seratus Bayangan Iblis! Hal ini diketahui Wiro dari Koan-koan. Untung saja dia telah mendapat tambahan kekuatan tenaga dalam dan ginkang dari orang tua misterius yang berjuluk Pendekar Pedang Akhirat Long Sam Kun itu, kalau tidak pastilah dia bakal celaka. 

Mengingat si orang tua tersebut, setelah menelan sebutir obat, Wiro segera hadapi musuhnya dengan jurus silat yang pernah dipelajari dari kakek itu yakni jurus yang bernama Cip-hian-jay-hong atau 'Tiba-tiba Muncul Pelangi'. 

Ketua Hun-tiong Houw-mo itu tersurut saking kagetnya ketika menyaksikan lawannya keluarkan jurus tersebut bahkan kemudian mendesaknya dengan jurus yang dikenalnya bernama Lo han-cianyau atau 'Malaikat Menundukkan Siluman'. 

"Bedebah!" seru Ketua Hun-tiong Houw-mo seraya menyambut dengan jurus Pit bun ki khek atau 'Menutup pintu Menolak Tetamu', meskipun dia tahu jurus tersebut tak mungkin sanggup menangkis serangan lawan. "Ada sangkut paut apa kau dengan Pendekar Pedang Akhirat?! Ayo lekas jawab!" 

"Ini jawabanku!" kata Wiro pula dan mainkan jurus terakhir setelah dua jurus pertama sanggup menghantam Ketua Hun-tiong Houw-mo yang tangguh itu. Jurus ketiga ini bernama Kui gok-sin ki atau 'Setan Meratap Malaekat Menangis'. 

Sang Dewi merasakan pemandangannya tertutup dan sebelum dia sempat menjauhkan diri, dua buah pukulan telah menghantam di tubuhnya, membuatnya tak ampun terguling-guling di lantai tapi hebatnya segera pula bangkit berdiri meskipun dengan terhuyung-huyung dan muka pucat yang menandakan dia terluka di dalam. 

Dewi Siluman Harimau itu tiba-tiba berteriak garang. Kedua tangannya bergerak ke pinggang dan sesudah itu hampir tak kelihatan kapan dia melemparkannya, sepuluh piauw emas beracun berbentuk kepala harimau meluncur pesat ke arah Wiro. 

Dari Koan-koan Wiro sudah mengetahui kehebatan senjata rahasia ini, jangankan sampai menancap di tubuh, sedikit saja kulit sampai kena diserempet pastilah korbannya akan meregang nyawa. Karenanya tanpa tunggu lebih lama Wiro segera lepaskan pukulan 'Dewa Topan Menggusur Gunung'. 

Kehebatan pukulan ini membuat geger. Bukan saja ke sepuluh piauw emas beracun mencelat mental tapi sebagian langit-langit gedung dan sebagian dinding amblas sedang lebih ke atas lagi atap bangunan ambruk, salah satu tiang besar patah. Gedung yang berlapiskan emas itu bergetar dahsyat laksana diguncang gempa. Koan-koan, Pek Lan, dan murid-murid Dewi Siluman jatuh berkaparan di lantai sedang Wiro dan sang Dewi sendiri tergontai-gontai untuk beberapa lamanya. 

Wajah sang Dewi sepucat kertas kini. Jika pemuda asing itu tidak lekas dapat dibunuhnya pasti dia bakal celaka pikirnya. Maka diputuskannyalah untuk mengeluarkan ilmu simpanannya yang terakhir yakni ilmu siluman atau ilmu sihir (hoatsut) yang selama ini tak satu orang pun sanggup menandingnya. 

Koan-koan, begitu melihat mulut gurunya berkomat-kamit dan sepasang matanya laksana dikobari nyala api, dengan ilmu menyusupkan suara segera memberi peringatan, "Awas, dia akan segera mengeluarkan ilmu sihir silumannya! Hati-hati!" 

Mendengar ini Wiro segera cabut Kapak Naga Geni 212. Namun sebelum dia sempat memper­gunakan, di depan sana Ketua Hun-tiong Houw-mo sudah membentak, "Naik!" 

Wiro merasakan kedua telapak kakinya tidak lagi menginjak lantai. Tubuhnya perlahan-lahan naik ke atas. Dengan sekuat tenaga dia coba bertahan. Satu pukulan sakti yakni pukulan 'Sinar Matahari' dilepaskan ke arah lawan kemudian menyusul dia kiblatkan senjatanya. Namun dua serangannya itu hanya mengenai tempat kosong dan merusak gedung yang bagus itu sedang lawannya sendiri sudah lenyap dari hadapannya. 

Ketika Wiro berpaling ke kiri, segulung asap membuntal ke arahnya. Sedetik kemudian asap itu berobah menjadi satu makhluk raksasa, badan manusia berbulu sedang kepala harimau bertampang ganas dengan taring-taring luar biasa besarnya. Binatang ini menggereng. Bangunan itu terasa bergetar. Koan-koan serta gadis-gadis lainnya sama-sama menjauhkan diri dengan perasaan ngeri. 

"Pemuda itu tak akan sanggup memusnahkan ilmu siluman dari Ketua…" bisik si Hitam Ling-ling dengan menggigil. 

"Rampas kapak itu!" Dewi Siluman Harimau memberi perintah pada makhluk sihirnya. Makhluk ini kembali menggereng dan sekali dia bergerak Kapak Naga Geni 212 di tangan Wiro sudah kena dirampas. 

Wiro memukul dengan pukulan 'Se­gulung Ombak Menerpa Karang', namun pukulan itu seolah-olah lewat di tempat kosong, tidak me­nimbulkan apa-apa pada diri manusia raksasa kepala harimau. Wiro keluarkan keringat dingin. "Celaka sekarang mampuslah aku!" keluh pendekar ini. 

Dan kembali terdengar Ketua Hun-tiong Houwmo memberikan perintah, "Bunuh dia dengan kapak itu." 

Makhluk sihiran itu menggereng dan mengangkat tangan kanannya yang memegang kapak tinggi­tinggi. Wiro melompat selamatkan diri seraya lepaskan pukulan 'Sinar Matahari', tapi tak mempan dan dalam pada itu tangan kiri raksasa kepala harimau itu telah mencengkeram pundaknya hingga dia tak bisa berkutik lagi. 

Ketua Hun-tiong Houw-mo tertawa meninggi. "Bunuh," teriaknya. Kapak Naga Geni 212 membacok turun ke arah batok kepala Wiro Sableng. 

"Celaka, betul-betul aku mampus juga akhirnya…" Wiro cuma bisa membathin demikian dan tutupkan mata siap menerima kematian dengan tabah.

Justru di saat yang amat kritis itu terdengar satu suara berseru, "Siok Eng! Ilmu menakuti anak-anak apakah yang kau keluarkan ini!" 

Selarik sinar biru yang dingin melesat dari atas reruntuhan atap. Makhluk kepala harimau meng­gereng. Kapak Naga Geni 212 lepas dari tangannya dan detik itu pula sosok tubuhnya lenyap punah! Jika ada orang yang paling kaget di tempat itu, maka manusianya adalah Ketua Hun-tiong Houw­mo sendiri yang tadi dipanggil dengan nama aslinya yaitu Siok Eng!

Wiro juga kaget dan buka sepasang matanya lebar-lebar. Sesosok tubuh kurus kering macam jerangkong dilihatnya melayang turun dari panglari dan segera dikenalinya. Pemuda ini kontan berteriak, "Locianpwe!"

SEBELAS

Ternyata orang yang barusan melompat dari atas langit-langit ruangan bukan lain adalah kakek­-kakek sakti bertubuh kurus kering macam jerangkong yang tempo hari secara kebetulan pernah ditolong oleh Wiro dari ruangan batu di mana dia disekap. Dia yang dikenal dengan Pendekar Pedang Akhirat Long Sam Kun. 

Melihat munculnya si kakek di tempat itu, kaget Dewi Siluman bukan kepalang. Dia sudah tahu kalau kakek itu terlepas dari penjara batu di mana dia disekap selama bertahun-tahun. Namun adalah tidak diduganya sama sekali kalau dia akan muncul di situ demikian cepatnya! 

Di lain pihak si kakek tertawa gelak-gelak lalu berpaling pada Wiro, "Budak, tidak dinyana bukan kalau hari ini aku telah dapat membalas hutang nyawa tempo hari terhadap mu?" 

Wiro cepat menjura dan menghaturkan terima kasih. Dia hendak mengatakan sesuatu namun saat itu Pendekar Pedang Akhirat telah berpaling pada Ketua Hun-tiong Houw-mo. 

"Siok Eng! Dosa kejahatan mu telah lewat takaran! Hari ini kau harus mempertanggung jawabkan semua itu!" 

Meskipun saat itu Ketua Hun-tiong Houw-mo boleh dikatakan sudah pecah nyalinya namun dengan tetap angkuh dia bertolak pinggang dan mendamprat! "Pengemis gila dari mana yang kesasar kemari! Lekas angkat kaki dari istanaku. Kalau tidak ku bikin berhamburan otakmu!" 

Long Sam Kun cuma ganda tertawa mendengar kata-kata itu. "Kini semua jelas bagiku, Siok Eng! Tiga tahun yang lalu kau sengaja menipuku dan menjebloskan diriku ke dalam liang penjara batu. Dengan berbuat demikian kau merasa tak ada lagi yang menghalangi dirimu berbuat kejahatan seenak perut mu, mendirikan komplotan Hun-tiong Houw-mo dengan maksud membunuh musnah tokoh-­tokoh persilatan hingga kau bisa merajai dunia kangouw! Kau lupa Siok Eng! Kejahatan tak akan pernah menang dari kebenaran!"

"Tua bangka edan! Nama ku bukan Siok Eng! Lekas minggat dari sini atau…"

Pendekar Pedang Akhirat tertawa bergelak. "Kau tak mau kupanggil dengan nama aslimu itu?! Kau hendak menipu dirimu sendiri? Cukup sejak dari muda kau menipuku dengan kasih sayang palsu dan penyelewengan. Hari ini jangan harap kau bisa berbuat lebih banyak!" 

Orang tua bertubuh jerangkong itu maju satu langkah. "Sudah saatnya kau memperlihatkan tampang mu yang asli, Siok Eng!"

Habis berkata demikian Long Sam Kun menyerbu ke depan. Tubuhnya lenyap. Ketua Hun-tiong Houw-mo membentak garang dan lepaskan sekaligus pukulan Ilmu Jari Kelabang Hijau dengan kedua belah tangannya. Sepuluh larik sinar hijau menyambar ke arah tubuh Long Sam Kun. 

Justru di saat itu pula terlihat satu cahaya merah menebas dan punahlah serangan Ketua Hun-tiong Houw-mo. Juga pada detik yang bersamaan terdengar pekik sang Ketua dan gelak berderai Pendekar Pedang Akhirat! 

"Nah sekarang semua orang bisa melihat tampangmu yang asli! Selama ini kau telah menipu dirimu sendiri dan orang lain!" 

Memandang pada Ketua Hun-tiong Houw-mo itu, baik Wiro maupun lima murid-muridnya bukan kepalang terkejut mereka. Wajah gadis jelita yang selama ini mereka lihat ternyata hanyalah sebuah topeng tipis belaka yang barusan telah direnggutkan oleh Pendekar Pedang Akhirat Long Sam Kun. Kini wajah sang ketua yang asli hanyalah wajah peot cekung penuh kerut dari seorang nenek-nenek yang berusia sekitar 80 tahun! 

Long Sam Kun masih terus mengumbar tertawanya sambil melintangkan pedang merah tipis di depan dada. "Siok Eng! Kau juga punya pedang seperti yang kupegang ini. Lekas keluarkan dan aku beri kau kesempatan untuk membela diri." 

"Koko…" tiba-tiba membersit ucapan itu dari sela bibir Ketua Hun-tiong Houw-mo. Sepasang matanya berkaca-kaca dan perlahan-lahan dia berlutut di hadapan Long Sam Kun. 

Sesaat hati kakek ini jadi tergetar juga. Namun cepat dia mendongak, menguatkan hatinya dan membentak, "Ini bukan panggung sandiwara, Siok Eng! Kalau kau tak mau kuberi kesempatan untuk membela diri, kau bakal lebih menyesal sampai ke pintu gerbang kematianmu yang terkutuk! Jangan mengemis cinta dan belas kasihan terhadapku! Apa kau tidak punya malu?!" 

Ucapan itu membuat wajah Siok Eng alias Ketua Hun-tiong Houw-mo menjadi gelap. Tiba-tiba dia melompat berdiri. Dari balik pakaian sutera merahnya nenek ini cabut sebilah pedang merah yang bentuknya persis sama dengan pedang yang digenggam oleh Long Sam Kun! 

"Bagus, kau telah menentukan kematianmu secara lebih menyenangkan!" 

"Tua bangka keparat! Jangan terlalu takabur. Kepalamu akan menggelinding lebih dulu!" teriak Siok Eng marah. 

Dia menerkam ke depan. Pedangnya bersuit. Segulung sinar merah menebas ganas ke arah Long Sam Kun dalam jurus yang dinamakan hun-tin-coan-san atau Awan Melintang Memutus Bukit. Ini merupakan satu jurus dari ilmu pedang naga kencana yang dimiliki oleh Siok Eng. Kehebatannya luar biasa. 

Namun di mata si tua bangka Long Sam Kun itu bukan apa-apa. Dia segera sambut dengan jurus ilmu pedangnya yang sejak 20 tahun silam telah menggegerkan dunia kangouw di Tiongkok yakni jurus pertama dari ilmu pedang akhirat yang bernama Cip-hian Jay-hong atau 'Tiba-tiba Muncul Pelangi'.

Wiro yang saat itu tegak sambil memegang Kapak Naga Geni 212 untuk menjaga segala kemungkinan jadi geleng-geleng kepala. Dia telah diberi pelajaran jurus ilmu pedang itu oleh Long Sam Kun dan bahkan telah pernah mencobanya sendiri menghadapi musuh-musuh tangguh. Tapi jurus 'Tiba-tiba Muncul Pelangi' yang dimainkan si kakek boleh dikatakan hampir enam kali lebih hebat dari yang dikuasainya. Mau tak mau pendekar ini jadi leletkan lidah saking kagum!

Siok Eng sudah tahu kehebatan ilmu pedang orang yang pernah menjadi kekasihnya, tetapi kemudian dikhianatinya itu bahkan dipenjarakannya di liang batu. Adalah tak bisa dipercayai olehnya kalau setelah tiga tahun mendekam dalam penjara batu tahu-tahu ilmu pedang si kakek kini semakin dahsyat! 

Karenanya dalam jurus kedua Siok Eng segera lancarkan serangan dengan gerakan yang dinamakan 'Hek-houw Wat-sim' atau 'Harimau Hitam Mengorek Hati' yang kemudian disusul dengan gerakan ganas bernama 'Sin-liong Pok-cui' atau 'Naga Sakti Menyambar Air'. 

Pendekar Pedang Akhirat tetap tenang-tenang saja dan dengan satu gerakan yang sebat, setelah mengelakkan kedua serangan itu dia mainkan jurus kelima dari ilmu pedangnya yang disebut 'Tiang-hong­ Koan-jit' atau 'Pelangi Menutup Matahari'.

"Tranggg...!"

Pedang merah di tangan Siok Eng terlepas mental dan sebelum senjata ini jatuh ke lantai, ujung pedang di tangan Long Sam Kun telah menusuk dada Siok Eng tembus sampai ke punggung. Ketua Komplotan Hun-tiong Houw-mo ini cuma keluarkan seruan pendek dan mati dengan mata membeliak. 

Long Sam Kun tarik pedangnya dan tubuh Siok Eng lantas roboh ke lantai. Orang tua itu menarik nafas dalam, membungkuk mengambil pedang Siok Eng lalu memandang pada Wiro dan gadis-gadis yang ada di situ. Sekali lagi dia menarik nafas dalam lalu berkata, 

"Ini satu pelajaran bagi kalian. Ada kalanya cinta itu harus dikorbankan untuk suatu kebenaran. Mudah-mudahan kalian tidak mengalami nasib sepahit diriku ini!" Habis berkata begitu Pendekar Pedang Akhirat Long Sam Kun balikkan tubuh. 

"Locianpwe, tunggu dulu…" Wiro cepat memanggil.

"Ah, budak kau masih seperti dulu saja. Selalu banyak cerewet. Sudah, kau atur saja nona-nona manis itu. Aku percaya kau akan bakal bisa membawa mereka ke jalan yang benar, keluar dari neraka dunia di puncak Hun-tiong san!" Si muka jerangkong itu tersenyum kedipkan matanya pada Wiro dan berkelebat pergi. 

Pendekar Kapak Maut 212 geleng-geleng kepala dan garuk-garuk rambutnya. "Ah, benar-benar di luar langit masih ada langit lagi…" katanya dalam hati dan seenaknya tangan kirinya kemudian sudah melingkar di pinggang si Putih Koan-koan.

T A M A T

Episode berikutnya: 
LihatTutupKomentar