Api Di Puncak Merapi

Api Di Puncak Merapi

Prolog
"Pangeran! Telinga kananmu terluka!" Teriak Liris Merah. Gadis ini berlari mendatangi. Pangeran Matahari langsung merangkul pinggang Liris Merah.
"Hanya luka kecil, mengapa dikawatirkan!" kata sang Pangeran pula. "Kau tahu, kobaran api merangsang nafsuku. Aku ingin mencumbumu di tengah kebakaran dahsyat ini!"
"Pangeran, aku siap melayanimu," jawab Liris Merah yang sudah tergila-gila pada Pangeran Matahari. Lalu tanpa malu-malu gadis ini tanggalkan pakaian merahnya dan baringkan tubuh di tanah. "Pangeran, cepat. Lakukan sekarang. Tubuhku terasa mulai panas."
"Kekasihku, kau memang hebat. Tidak pernah aku menemui gadis luar biasa seperti dirimu sebelumnya!"
Liris Merah memekik kecil lalu tarik tangan Pangeran Matahari...
BAB 1
WULAN Srindi, murid Perguruan Silat Lawu Putih seperti diketahui telah mengalami nasib malang. Diperkosa oleh dua orang anggota Keraton Kaliningrat bernama Kunto Randu dan Pekik Ireng. Kejadian yang merupakan pukulan sangat hebat itu telah membuat Wulan Srindi rusak ingatan. Selain itu kecintaannya terhadap Wiro Sableng menyebabkan pula Wulan Srindi kemana-mana menebar cerita bahwa Pendekar 212 adalah suaminya dan Dewa Tuak adalah gurunya. Dan saat itu dia tengah mengandung jabang bayi usia tiga bulan hasil perkawinannya dengan Wiro.

Dengan bantuan lblis Pemabuk yang menyelamatkan dan mengajarkan beberapa ilmu kesaktian padanya, Wulan Srindi yang kini memiliki kulit wajah berwarna putih berhasil membunuh salah satu dari dua pemerkosanya yaitu Kuntorandu. Peristiwa itu menggegerkan pimpinan dan pengikut Keraton Kaliningrat. Karena Kuntorandu menemui ajal di hutan Ngluwer telak-telak di depan mata orang-orang Keraton Kaliningrat pada saat tengah dilakukan satu pertemuan rahasia.

Dalam Episode Azab Sang Murid diceritakan bagaimana Wulan Srindi berhasil pula membunuh pemerkosanya yang kedua yaitu Pekik Ireng. Saat itu Wiro tengah menghadapi serangan puluhan anggota Keraton Kaliningrat. Dia terpaksa mengeluarkan ilmu "Membelah Bumi Menyedot Arwah" yang didapatnya dari Luhrembulan alias Hantu Santet Laknat dari Negeri Latanahsilam.

Empat belas orang Keraton Kaliningrat, di antaranya dua tokoh silat bernama Ki Demang Timur dan Ki Demang Barat amblas jatuh ke dalam tanah yang terbelah. Satu diantara mereka yaitu Pekik lreng diselamatkan oleh seorang berpakaian hijau yang muncul secara tiba-tiba dan ternyata adalah Wulan Srindi.

Tentu saja maksud Wulan Srindi.bukan hendak menolong. Pekik lreng dibawa ke satu tempat. Setelah Wulan Srindi mengatakan siapa dia dan kebejatan apa yang telah dilakukan Pekik lreng terhadapnya. Anggota Keraton Kaliningrat itu berusaha membunuh Wulan Srindi. Pekik lreng tidak menganggap sebelah mata karena dia memiliki ilmu kebal, tak mempan pukulan sakti tak tembus senjata tajam.

Namun ternyata Wulan Srindi telah mengetahui kelemahan ilmu kebal lawan. Hal ini tak sengaja diketahuinya ketika dia pernah menempur orang-orang Keraton Kaliningrat di hutan Ngluwer sehabis terjadi bentrokan dengan awak kapal Cina yang kehilangan satu kantong kulit berisi madat.

Melihat lawan mengetahui kelemahan ilmu kebalnya, Pekik lreng jadi leleh nyalinya lalu ambil langkah seribu. Namun dia tidak mampu lari jauh. Setelah disembur dengan minuman keras yang menyebabkan kepala dan badannya berlubang hangus, dengan mempergunakan golok milik Pekik Ireng, sambil berteriak-teriak seperti orang kemasukan setan Wulan Srindi mencacah sekujur tubuh Pekik Ireng. Luar biasa mengerikan pembalasan dendam gadis malang yang telah berubah ingatan ini.

Sehabis membunuh Wulan Srindi terduduk menangis di tanah. Mendadak Wulan hentikan tangisnya. Dia mendengar suara langkah kaki orang mendekati dari samping kanan. Sebelum sempat berpaling, satu sosok berpakaian putih jatuh tergelimpang tertelungkup di tanah di hadapannya. Wulan Srindi berseru kaget. Lalu menjerit keras ketika mengenali siapa adanya orang yang tergelimpang.

"Wiro!" Wulan peluk Pendekar 212 lalu balikkan tubuh sang pendekar. "Suamiku, apa yang terjadi?!"

Wiro buka kedua matanya. Malam terlalu gelap dan pemandangannya agak kabur. Namun dia mengenali suara itu. "Wulan, kaukah ini?"

"Betul, aku Wulan istrimu..." Wiro jadi terdiam mendengar ucapan itu. Lidahnya mendadak kelu.

"Wiro! Katakan apa yang terjadi. Mukamu sepucat kain kafan!"

"Aku... aku terkena pukulan seorang bernama Pangeran Muda."

"Apa?!" Wulan Srindi terkejut besar. Dia membuka bagian depan baju Wiro lebar-lebar. "Wiro, beri tahu bagian mana yang terkena pukulan?"

"Pertengahan dada. Tak ada tanda cidera..."

Wulan Srindi balikkan lagi tubuh Wiro. Bagian belakang baju yang robek, dirobeknya lagi lebih besar. Dalam gelap di bawah cacat panjang bekas sambaran ujung tongkat Sinto Gendeng di punggung Wiro, Wulan melihat tanda merah besar dilingkari warna biru.

"Kau terkena pukulan Memukul Bukit Meremuk Gunung! Jika dalam beberapa hari kau tidak mendapatkan obat penangkal, nyawamu tidak tertolong lagi..."

Wiro tertawa. Wulan Srindi tepuk-tepuk pipi Pendekar 212. "Kenapa kau masih bisa tertawa?" tanya si gadis.

"Aku tidak tahu. Tapi jika mendengar kematian aku merasa lega...”

"Gila!" teriak Wulan Srindi. "Dengar Wiro, dengar suamiku! Aku tidak ingin kau mati! Aku tidak mau anakku lahir tanpa ayah!"

Wiro garuk kepala. Mulutnya ingin tertawa bergelak. Namun dalam hati dia setengah mengeluh setengah memaki. "Celaka! Bagaimana aku mau meyakinkan bahwa antara aku dan dia tidak ada ikatan perkawinan! Kalau dia hamil, itu bukan anakku. Tapi akibat perbuatan bejat orang-orang Keraton Kaliningrat!"

"Wiro suamiku," Wulan Srindi lanjutkan ucapan. "Aku pernah dihantam pukulan yang sama. lblis Pemabuk membawaku menemui seorang yang mampu menyembuhkan. Wiro, apakah kau bisa berjalan sejauh setengah hari dari tempat ini? Aku akan membawamu ke tempat orang yang mampu menolong itu."

"Wulan, aku sangat berterima kasih kau mau memikirkan keselamatan diriku. Kau mau menolong. Tapi rasanya aku tak akan sanggup berjalan sejauh itu. Dua kakiku seperti lumpuh. Pemandangan mataku terganggu."

"Kalau begitu aku akan mendukungmu!"

"Kau tidak mampu melakukan itu..."

"Harus mampu! Kau suamiku! Bagaimana aku bisa hidup tanpa dirimu?! Kalaupun kita harus mati bersama itu lebih baik dari membiarkan dirimu dalam keadaan seperti ini."

Wiro pejamkan mata. Hatinya sangat tersentuh. Begitu banyak orang memperlihatkan kebaikan dan rela berkorban untuk dirinya. Dia ingat Eyang Sinto Gendeng. Dia ingat pada Kapak Naga Geni 212 dan batu sakti yang ada di dalam tubuhnya. Dua senjata itu diketahui merupakan penangkal racun yang sangat ampuh. Mengapa kini tidak mampu memusnahkan racun pukulan Pangeran Muda? Mungkin karena dia telah berlaku kualat pada Eyang Sinto?

Susah payah Wulan berusaha mengangkat Wiro. Sampai mandi keringat dia tak berhasil mencoba memanggul pemuda itu di atas salah satu bahunya.

"Wulan, jangan memaksa diri. Pergilah. Tinggalkan aku sendirian di sini."

Gadis muka putih itu ingat apa yang dilakukan lblis Pemabuk ketika dia mengalami cidera akibat pukulan Memukul Bukit Meremuk Gunung. Dia harus melakukan hal yang sama agar Wiro mampu bertahan lebih lama sebelum mendapat pertolongan. Maka dengan cepat Wulan Srindi menotok beberapa bagian tubuh sang pendekar. Akibat totokan muka Wiro yang tadi pucat kelihatan berubah sedikit merah.

Namun di sela bibir sebelah kiri kelihatan ada lelehan darah. Wulan terpekik. Dia keluarkan sapu tangan biru muda yang dulu pernah diserahkan pada Wiro namun kemudian dikembalikan. Dengan sapu tangan itu dia seka lelehan darah. Dulu dengan sapu tangan itu juga dia menyeka darah di mulut Wiro yang luka akibat tamparan Sinto Gendeng. Mengingat kejadian yang terulang kembali ini Wiro menghela nafas dalam dan pejamkan kedua matanya.

"Luka dalammu lebih parah dari yang pernah aku alami. Apa lagi yang harus aku lakukan?" Si gadis terduduk di tanah. "Wiro, aku akan menyeretmu!" Wulan Srindi belum putus asa.

"Kau tidak perlu melakukan hal itu. Wulan, pergilah..."

Tiba-tiba satu bayangan aneh melayang turun dari atas pohon besar. Disusul suara perempuan. "Pendekar Dua Satu Dua Wiro sableng. Apakah kau berkenan menerima pertolonganku?" Wiro angkat kepalanya sedikit sementara Wulan Srindi memperhatikan dengan mata tak berkesip.

"Siapa?!" Tanya Wiro.

"Aku seorang sahabat."

"Bunga? Ah, kau bukan Bunga. Suaramu lain..."

"Betul, aku memang bukan Bunga." Bayangan itu berubah makin jelas, membentuk sosok seorang perempuan berwajah cantik sekali.

"Bidadari Angin Timur!" Wiro setengah berseru dan mencoba bangkit namun jatuh terbaring kembali.

Mahluk bayangan tersenyum. "Bidadari Angin.Timur berambut pirang. Rambutku hitam. Bidadari Angin Timur berwajah cantik. Wajahku buruk..."

Wiro tatap wajah itu, ”Tidak, kau tidak buruk. Wajahmu cantik sekali. Ada ketulusan dan kesetiaan dalam wajahmu..." Kata-kata itu hanya terucap dalam hati.

"Lalu siapa dirimu sebenarnya? Mengapa bicara berteka-teki?" Wulan Srindi membuka mulut. Ada rasa curiga bercampur marah tapi juga ada perasaan cemburu. "Kau bukan Bidadari Angin Timur atau jejadiannya. Gadis itu sudah mati. Aku tahu sekali hal itu!"

Mahluk cantik berpaling pada Wulan Srindi, tersenyum dan berkata. "Oh, begitu?"

"Jika kau tidak mau memberi tahu siapa dirimu, lekas menyingkir dari hadapanku!" Wulan Srindi keluarkan ancaman.

"Sahabat, saat ini aku belum dapat memberi tahu nama atau menjelaskan siapa diriku." Menjawab perempuan cantik berujud bayang-bayang. Lalu dia berpaling pada Wiro dan kembali bertanya. "Pendekar, apakah kau bersedia menerima pertolonganku? Kau menderita luka dalam sangat parah. Jika tidak mendapat pengobatan tubuhmu akan membusuk. Nyawamu tidak akan tertolong lagi."

"Enak saja kau bicara!" bentak Wulan Srindi. "Kau tahu apa mengenai luka dalam yang diderita suamiku! Lalu kau punya kemampuan apa untuk mengobatinya!"

Mahluk yang dibentak masih bisa tersenyum. "Aku memang orang bodoh. Mana punya kemampuan mengobati orang. Namun semua yang akan aku lakukan semata-mata berdasarkan kuasa Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyembuh. Jika diantara kalian ada yang tidak berkenan menerima Kuasa Sang Penyembuh maka aku mohon maaf dan saat ini juga aku minta diri dari hadapan kalian."

"Tunggu..." Ucap Wiro ketika dilihatnya perempuan cantik bayangan itu hendak bergerak pergi. "Jika kau punya kemampuan menolongku, aku sangat berterima kasih."

Perempuan bayangan melirik ke arah Wulan Srindi Yang dilirik diam saja, mungkin masih menaruh rasa was-was. Perempuan bayangan lalu minta bantuan Wulan Srindi untuk membalikkan tubuh Wiro. Sebelum melakukan hal itu Wulan Srindi berkata,

"Jika kau berdusta dan menipu, siapapun kau adanya akan aku pecahkan kepalamu!"

Masih dengan tersenyum perempuan cantik itu menjawab. "Manusia biasa memang sering berdusta, acap kali menipu. Tetapi Tuhan tidak pernah berdusta, tidak pernah menipu."

Wulan Srindi terdiam mendengar ucapan orang. Namun akhirnya dia lakukan apa yang diminta. Perlahan-lahan dia membalikkan tubuh Wiro hingga terbaring menelungkup. Punggung yang cacat dan ada tanda merah biru tersingkap lebar. Perempuan bayangan berlutut di sisi kanan Pendekar 212. Setelah sesaat memandangi punggung pemuda itu maka dengan suara perlahan tapi cukup jelas terdengar di telinga Wiro dan Wulan Srindi dia berkata.

"Kitab Seribu Pengobatan. Halaman dua ratus tiga. Pengobatan ke delapan ratus enam belas. Barang siapa terkena pukulan beracun yang meninggalkan tanda cidera di bagian yang berlawanan dari yang dipukul maka ada tiga hal yang harus dilakukan.

"Tunggu dulu!" Tiba-tiba Wiro berkata setengah berseru, memotong kata-kata perempuan bayangan. "Kau menyebut Kitab Seribu Pengobatan. Apa yang kau ketahui tentang kitab itu? Kau seperti tengah membacanya. Malah kau mampu menyebut halamannya."

"Pendekar, saat ini sebaiknya kau berdiam diri dulu. Jangan banyak bersuara. Mengenai pertanyaanmu, biar nanti saja aku menjawab." Kata-kata perempuan bayangan segera disahuti Wulan Srindi.

"Dia layak menanyakan. Kitab itu miliknya. Lenyap dicuri orang beberapa waktu lalu!"

"Sahabat, kalau kitab itu memang milik Pendekar Dua Satu Dua, satu hari kelak kitab itu akan kembali padanya. Sekarang apakah aku boleh melanjutkan menolong dirinya?"

Wulan Srindi tidak menjawab. Perempuan bayangan kembali memulai usahanya untuk menolong Wiro. Dia mengulang ucapannya tadi. "Kitab Seribu Pengobatan. Halaman dua ratus tiga. Pengobatan ke delapan ratus enam belas. Barang siapa terkena pukulan beracun yang meninggalkan tanda cidera di bagian yang berlawanan dari yang dipukul maka…”

Belum sempat perempuan bayangan menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba satu bayangan merah laksana burung raksasa berkelebat menukik dari arah belakang. Wiro yang terbaring menelungkup dengan muka menghadap ke jurusan datangnya bayangan merah mencium bahaya, serta merta berteriak.

"Sahabat! Awas! Ada mahluk aneh membokongmu!"

Saat itu juga lima larik cahaya merah berkiblat angker! Wiro angkat tangan kanan, bermaksud melepas satu pukulan sakti untuk menangkis serangan membokong. Namun astaga! Apa yang terjadi? Tangannya lumpuh, tak sanggup diangkat! "Celaka! Aku tak mungkin menolong!"

Wulan Srindi sendiri dalam keterkejutannya masih mampu melepas pukulan Membelah Ombak Menembus Gunung. Ini adalah jurus pukulan sakti yang dimilikinya sebagai murid Perguruan Silat Lawu Putih. Dia melancarkan serangan ini karena tidak punya cukup waktu untuk menyembur dengan minuman keras dalam kendi. Walaupun otaknya tak beres dan ada rasa benci terhadap perempuan bayangan, namun melihat orang berlaku pengecut, menyerang secara membokong, gadis ini masih punya pikiran untuk menolong. Wulan Srindi terpekik. Satu kekuatan dahsyat menerpa dirinya. Membuat gadis ini jatuh terjengkang lalu bergulingan di tanah. Lima larik sinar merah angker terus membeset ke arah tubuh sebelah belakang perempuan bayangan.

"Wusss!"
BAB 2
HANYA sekejapan mata lagi lima larik sinar merah itu akan menghantam telak sasaran, tiba-tiba tubuh perempuan bayangan memancarkan cahaya begemerlap laksana percikan ratusan bunga api. Suara seperti petir menggelegar menggoncang seantero tempat lima kali berturut-turut sewaktu lima larik sinar merah berbenturan dengan ratusan cahaya biru bergemerlap yang memancar keluar dari sosok perempuan bayangan. Perempuan ini goyangkan dua bahunya. Ratusan bunga api biru yang terpencar-pencar akibat bentrokan dengan lima larik sinar merah bergabung membentuk satu lingkaran aneh.

Lingkaran biru yang begemerlap ini lalu melesat ke arah bayangan merah yang tadi melepaskan serangan. Satu jeritan keras menyerupai lolongan srigala hutan terdengar merobek langit. Sosok serba merah mengepul tersungkur di tanah, tepat di hadapan Wulan Srindi hingga gadis ini berjingkrak dan terpekik!

"Setan pembokong siapa kau?!" Wulan Srindi membentak. Dia cepat mengambil sebuah kendi tanah lalu meneguk isinya. Mulut siap menyembur kearah orang yang tergelimpang di tanah. Tapi tak jadi karena dia keburu melengak ngeri melihat keadaan orang itu.

Yang ternyata adalah seorang nenek berambut dan bermuka merah, mengenakan pakaian selempang kain warna merah robek tak karuan rupa. Bagian dada yang tersingkap memperlihatkan payu dara sebelah kiri yang sangat besar, berbeda dengan payu dara sebelah kanan yang peot keriput. Sepasang mata merah mendelik besar seperti mau melompat keluar dari rongganya. Mulut keluarkan suara erangan disertai kucuran darah bewarna hitam!

Perempuan cantik bayangan tidak beranjak dari tempatnya berlutut di samping kanan Wiro. Mulutnya berucap perlahan. "Antara kita tak ada silang sengketa atau dendam sakit hati. Mengapa kau menyerangku? Salahkah kalau aku melindungi diri dari perbuatan jahatmu tadi?"

Sosok yang tergeletak di tanah keluarkan suara menggembor parau. Mulut megap-megap, tenggorokan turun naik. Sepertinya dia hendak menyemburkan ucapan kemarahan namun tak mampu dikeluarkan. Tiba-tiba didahului oleh satu jeritan merobek langit, tubuh mahluk serba merah itu meledak tercabik-cabik, berubah menjadi tujuh potongan daging yang ditancapi tulang belulang dan dikobari api, mencelat ke udara.

Sebelum hilang dari pemandangan tujuh potongan tubuh yang dikobari api itu menyatu kembali, membentuk sebuah bola api besar dan melesat ke langit hingga akhirnya lenyap dari pemandangan. Semua terjadi begitu cepat dan luar biasa mengerikan. Untuk beberapa ketika kesunyian menggantung di udara.
********************
Di tempat jauh, di sebuah taman di halaman belakang gedung Kepatihan, pada saat sosok merah meledak dan tercabik menjadi tujuh bagian, Wira Bumi yang baru saja menghabiskan secangkir kopi hangat dan bermaksud masuk ke dalam gedung tiba-tiba tersentak kaget. Dia melihat kiblatan cahaya merah tiga langkah di hadapannya. Bersamaan dengan itu di telinganya mengiang suara raungan panjang menggidikkan. Dia mengenali benar suara itu.

"Nyai...?" ucapnya dengan bibir bergetar. Dia tertegun beberapa ketika lalu gelengkan kepala. "Apa yang.terjadi dengan diriku?" Dengan hati tak enak Patih Kerajaan ini melangkah masuk ke dalam gedung. Kembali ke tempat kejadian.
********************
"Hai! Kau tahu siapa mahluk jahanam tadi? Manusia atau setan?” Wulan Srindi memecah kesunyian, bertanya pada perempuan bayangan.

"Setahuku dia adalah manusia yang telah pindah ke alam roh, menemui kematian puluhan tahun silam. Penghuni pekuburan Kebonagung. Kalau tidak salah dia dipanggil dengan nama Nyai Tumbal Jiwo..."

"Heran, bagaimana kau tahu semua itu?" ucap Wiro sambil mencoba menggerakkan tangan kiri kanan tapi tetap tergontai lumpuh.

Makhluk perempuan bayangan hanya tersenyum. "Aku pernah mendengar nama itu. Nyai Tumbal Jiwo adalah mahluk jahat guru Wira Bumi, yang sekarang menjabat Patih Kerajaan..."

Apa yang dikatakan Wiro ini adalah sesuai dengan yang didengarnya dari Djaka Tua sebelum dibunuh oleh Cagak Lenting alias Si Mata Elang atas perintah Patih Wira Bumi. Cagak Lenting sendiri kemudian dibunuh oleh Nyi Retno Mantili. (Baca Episode sebelumnya berjudul Azab Sang Murid)

"Pendekar apakah aku bisa melanjutkan pekerjaan mengobati pendekar..."

"Namaku Wiro. Jangan terus-terusan memanggilku pendekar" ucap Wiro yang saat itu terbaring menelungkup.

Makhluk bayangan tersenyum duduk bersila di samping kanan Wiro. Mata menatap kepunggung yang tersingkap, mulut berucap. "Kitab Seribu Pengobatan. Halaman dua ratus tiga. Pengobatan ke delapan ratus enam belas. Barang siapa terkena pukulan beracun yang meninggalkan tanda cidera di bagian yang berlawanan dari yang dipukul maka beradi dia telah terkena satu pukulan mengandung racun jahat yang bisa membuat tubuhnya busuk dan membunuhnya dalam waktu tiga hari. Untuk menolongnya ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama memohon doa, berdoa pada Tuhan Maha Kuasa Maha Penyembuh agar orang yang cidera disembuhkan dari cideranya. Kedua buat guratan tanda silang tepat di atas bagian tubuh yang cidera. Guratan bisa dilakukan dengan mempergunakan kayu, batu tapi akan lebih baik jika dilakukan dengan ujung kuku tangan disertai sedikit aliran tenaga dalam atau hawa sakti. Ketiga rebus empat helai daun sirih. Air remasan daun diminumkan, empat helai daun sirih lalu ditempelkan di bagian tubuh orang yang cidera dengan ujung daun mengarah kaler, kulon, kidul, dan wetan."

Setelah mengeluarkan ucapan itu perempuan cantik dalam ujud bayangan memandang pada Wiro dan Wulan Srindi. "Mari kita berdoa pada Yang Kuasa dalam hati masing-masing, memohon kesembuhan." Mahluk bayangan berujud perempuan cantik ini pejamkan mata.

Wiro melakukan hal yang sama walau dalam hati dia bertanya-tanya. "Mahluk aneh mengenal Tuhan. Apakah Tuhannya sama dengan Tuhanku?"

Sementara mahluk bayangan dan Wiro berdoa memohon kesembuhan pada Yang Maha Kuasa, Wulan Srindi teguk minuman keras dalam kendi. Mulutnya kemudian berucap perlahan. "Gusti Allah, aku memohon di hadapanMu, sembuhkan suamiku."

Tak selang berapa lama perempuan bayangan dan Wiro membuka mata masing-masing. Perempuan bayangan gerakkan tangan kanan, diletakkan di punggung Wiro. Dengan ujung kuku ibu jari tangan kanan dia menggurat, membuat tanda silang tepat di atas punggung yang cidera. Begitu tanda silang berbentuk, dari bagian tubuh yang cidera membersit darah kental berwarna merah kehitaman disertai kepulan asap,menebar bau tak enak.

Wiro sendiri saat itu menggigit bibir kuat-kuat menahan sakit luar biasa. Dia merasa seolah dicengkeram tangan raksasa tak kelihatan yang hendak menjebol dan membongkar punggungnya. Bagaimanapun Wiro berusaha bertahan akhirnya meledak juga jeritannya.

"Kurang ajar! Kau bukan menolong! Kau hendak membunuh suamiku!" teriak Wulan Srindi lalu melompat menerjang ke arah perempuan bayangan. Tendangan kaki kanannya melesat ke kepala orang. Mahluk bayangan angkat tangan kirinya. Telapak tangan dikembang, di arahkan pada Wulan Srindi. Mulutnya berucap.

"Jangan bergerak, jangan bersuara. Atau pendekar ini tak akan dapat disembuhkan!"

Dalam marahnya Wulan Srindi tidak perdulikan ucapan orang. Dia malah lipat gandakan tenaga dalam sambil tangan kiri mengambil sebuah kendi yang tergantung di pinggang. Namun semua gerakan itu mendadak sontak terhenti.Serangkum angin bersiur halus, keluar dari telapak tangan perempuan bayangan. Wulan Srindi merasa ada angin dingin menyapu sekujur tubuhnya. Saat itu juga dia tak mampu bergerak lagi.

Perlahan-lahan sosoknya yang tadi mengapung di udara turun ke bawah, terputar membelakangi Wiro. Kaki kiri menginjak tanah, kaki kanan masih dalam sikap menendang sementara tangan kanan terkulai tak bergerak di samping dan tangan kiri dalam sikap hendak mengambil kendi di pinggang.

"Jahanam keparat! Kau apakan diriku?!" Teriak Wulan Srindi. Namun teriakan itu hanya bergema di dalam hati karena jangankan berteriak, berkatapun dia tak mampu! Lucu sekali keadaan Wulan Srindi. Tidak beda dengan sebuah patung. Wiro yang menyaksikan kejadian itu kasihan ada geli juga ada.

Kepulan asap di punggung Wiro perlahan-lahan sirna dalam kegelapan. Cidera dengan tanda merah dilingkari warna biru tidak kentara lagi. Namun daging punggung di bagian yang cidera itu kelihatan membengkak ke atas sementara darah merah kehitaman masih terus mengucur.

"Pendekar, aku telah melakukan apa yang bisa aku lakukan. Tinggal kini mencari empat lembar daun sirih. Kurasa hal itu bisa dikerjakan oleh sahabat berpakaian hijau yang membekal banyak kendi di pinggangnya."

Habis berkata begitu perempuan bayangan bergerak bangkit. Namun sebelum berdiri, dalam keadaan setengah berjongkok dia dekatkan wajahnya ke telinga kiri Wiro dan berbisik. "Pendekar ada sesuatu yang hendak aku sampaikan padamu. Harap kau mendengar saja dan jangan bicara. Kitab Seribu Pengobatan milikmu ada padaku. Sebelum mati Hantu Malam Bergigi Perak berpesan agar kitab itu diserahkan padamu. Harap kau tidak gusar. Saat ini aku tidak dapat menyerahkan kitab padamu. Ada yang aku khawatirkan. Kalau berkenan datanglah ke Bukit Menoreh pada purnama hari ke empat belas minggu depan. Cari pohon jati yang doyong ke timur. Tunggu di situ. Tepat pada pertengahan malam kau akan mendengar tanda berupa suara burung perkutut tiga kali berturut-turut. Pada saat kita bertemu kitab akan aku serahkan padamu. Usahakan datang seorang diri. Karena kalau ada orang ke tiga keadaan bisa berubah nanti. Aku pergi sekarang. Semoga kau lekas sembuh."

Mahluk bayangan berujud perempuan cantik usapkan tangan kanannya di atas kening Wiro. Pemuda ini merasa dadanya yang sejak tadi sesak menjadi lega. Rasa sakit di punggung jauh berkurang. Pemandangannya yang tadi buram menjadi lebih jernih. Wiro berusaha membuka mulut hendak mengatakan sesuatu. Namun perempuan bayangan cepat memberi tanda agar Wiro tidak mengeluarkan suara. Sebelum meninggalkan tempat itu perempuan bayangan angkat tangan kirinya. Telapak yang terkembang diarahkan pada Wulan Srindi.

Wulan merasa angin dingin menyapu dirinya. Saat itu juga tubuhnya yang kaku bisa bergerak dan mulut yang bisu mampu bersuara kembali. Dia membalikkan badan hendak mendamprat namun perempuan bayangan tak ada lagi di tempat itu. Wulan Srindi melompat.

"Wulan, kau mau kemana?" tanya Wiro.

"Aku mau mengejar setan betina tadi!" Jawab Wulan Srindi.

"Jangan lakukan itu."

Langkah Wulan terhenti. Dia memandang wajah Wiro sejurus lalu berkata. "Kalau begitu biar aku pergi mencari daun sirih untuk obatmu. Sebelum matahari terbit aku akan kembali."

"Terima kasih kau mau menolongku...“

Wulan Srindi menyeringai. "Hantu perempuan itu saja mau menolongmu. Apa lagi aku yang istrimu!"

Wiro terdiam. Tapi kemudian dia tertawa gelak-gelak.

"Kenapa kau tertawa? Apa yang lucu?!" tanya Wulan Srindi.

"Tidak ada yang lucu. Saat ini sepertinya aku kepingin jadi gila!"

"Oala. Kalau begitu bertambah satu lagi manusia sinting di dunia ini!" ucap Wulan Srindi. Sambil tertawa cekikikan gadis ini tinggalkan tempat itu.

Seperti yang dijanjikannya, sebelum sang surya muncul di ufuk timur Wulan Srindi kembali ke tempat dimana dia meninggalkan Wiro. Namun kagetnya bukan alang kepalang ketika mendapatkan pemuda yang dianggapnya sebagai suaminya itu tak ada lagi di situ.

"Pasti ini pekerjaan setan perempuan itu! Jahanam betul Kemana aku harus mencarinya?!" Wulan Srindi marah sekali. Dia ambil sebuah kendi yang tergantung di pinggang. Meneguk minuman keras dalam kendi hingga habis. Kendi yang kosong lalu dibanting hingga amblas masuk ke dalam tanah! Seperti orang kesetanan dari mulutnya keluar jerit berkepanjangan.

BAB 3
DALAM keadaan tubuh lunglai tak mampu bergerak dan didera demam panas Pendekar 212 Wiro Sableng menyadari kalau saat itu dia dipanggul orang dan dibawa lari di kegelapan malam. Dia berusaha mengerahkan tenaga dalam namun akibatnya aliran darahnya di beberapa tempat tertahan. Tak sanggup bertahan akhirnya Wiro jatuh pingsan.

Dua hari kemudian. Didahului satu tarikan nafas panjang perlahan-lahan Wiro membuka kedua matanya. Dia jadi terkesiap ketika kemanapun dia memutar mata hanya kegelapan yang terlihat. Telinganya menangkap suara dua perempuan bicara perlahan-lahan.

"Gila! Apakah aku sudah buta? Atau sudah mati... Jangan-jangan aku berada dalam liang kubur. Mengapa sangat gelap?" ucap Pendekar 212 dalam hati.

Saat itu dia terbaring menelungkup di atas satu benda keras dan dingin. Wiro coba gerakkan tangan kanan dan berusaha bangun. Ternyata dia tidak mampu melakukan, Dia gerakkan kaki kiri. Juga tidak bisa. Coba dongakkan kepala. Tidak berhasil. Wiro sadar.

"Ada orang yang menotok tubuhku. Siapa? Dua perempuan itu? Dimana mereka? Gelap sialan! Aku tak bisa melihat apa-apa!" Lapat-lapat dikejauhan Wiro mendengar suara air memancur Lalu kembali ada suara dua orang perempuan berbisik-bisik. Walau cuma dekat tapi karena sangat gelap dia tidak bisa melihat kedua orang itu.

"Hai! Aku berada dimana? Siapa yang barusan bicara? Apa yang terjadi dengan diriku?" Wiro keluarkan ucapan. Suara berbisik serta merta lenyap. Wiro jadi penasaran. Tubuhnya terasa tidak panas lagi. Dia coba gerakkan tangan dan kaki. Tidak mampu. Ternyata dia dalam keadaan tertotok.

Wiro coba mengingat-ingat. Bermula ketika di satu tempat dia ditinggal oleh Wulan Srindi. Gadis itu pergi untuk mencari daun sirih guna mengobati dirinya. Dalam keadaan tubuh cidera dan digerayangi demam panas tiba-tiba berkelebat satu bayangan dan tahu-tahu dia telah berada di atas bahu seseorang, dibawa berlari dalam gelapnya malam sampai akhirnya dia jatuh pingsan.

"Aku tahu ada dua orang perempuan di tempat ini."Wiro keluarkan ucapan. "Apakah kalian yang menolong dan membawaku ke sini. Kalau kalian memang punya niat baik menolongku, aku mengucapkan terima kasih. Tapi mengapa tidak mau unjukkan rupa? Mengapa menotokku segala? Dan ini tempat apa adanya? Mengapa gelap sekali. Kuburanpun tidak segelap ini!"

Dari samping kiri terdengar suara orang menahan tawa. Disusul suara ucapan dari samping kanan.

"Kau tahu gelapnya kuburan. Memangnya sudah pernah di kubur?! Apa sudah pernah mati?! Berarti saat ini kau adalah hantu jejadian! Hik hik hik!"

Pendekar 212 memaki dalam hati. "Dia sudah siuman dan mulai banyak bicara. Mungkin perlu kita totok untuh membungkam mulutnya!" Dalam gelap Wiro pejamkan mata sesaat. Dia coba mengingat-ingat. Dia rasa-rasa pernah mendengar suara itu. Tapi lupa dimana, apa lagi mengenali orangnya. Tiba-tiba murid Sinto Gendeng ingat kembali akan cidera parah yang dialaminya. Dia berkata. "Aku harus keluar dari tempat ini! Aku tak mau menemui ajal di sini!"

"Eh, memangnya kau tahu kalau dirimu mau mati?!"

"Keluarkan aku dari sini atau..."

"Tak ada gunanya mengancam. Kau dalam keadaan tertotok!"

"Kalau begitu lekas lepaskan totokan di tubuhku. Kalau tidak kau akan menyesal seumur-umur!"

"Hik hik hik, mengancam lagi!"

"Dengar, jika terjadi sesuatu dengan diriku, kalian berdua harus bertanggung jawab..."

"Kami membawamu kesini. Apa itu bukan satu bukti tanggung jawab?!"

"Tanggung jawab kentut! Aku dalam keadaan cidera berat. Aku butuh pengobatan. Seseorang tengah menolongku. Tapi kalian menculik dan membawaku ke tempat celaka ini! Aku akan menemui ajal! Aku akan segera mati!" Wiro berteriak keras hingga ruangan batu bergetar. Dadanya turun naik. Lalu mulutnya berucap perlahan. "Aku tidak takut mati. Tapi aku tidak mau mati di tempat celaka ini. Keluarkan aku dari sini!"

"Pendekar Dua Satu Dua! Kami tahu semua apa yang terjadi dengan dirimu. Kami telah melakukan yang terbaik untukmu. Yang Maha Kuasa masih menolong mu. Kini saatnya kau membalas budi kebaikan kami." Salah satu dari dua perempuan dalam gelap keluarkan ucapan.

"Kami... kami! Siapa kalian? Mengapa menyekap aku di tempat gelap ini! Mengapa kalian tidak berani unjukkan muka?! Jelas membekal niat tidak baik!"

"Siapa bilang kami tidak berani unjuk muka!”

Tiba-tiba sebuah obor menyala. Tempat itu kini jadi terang benderang. Sepasang mata Wiro berputar. Temyata dia berada di sebuah ruangan batu. Saat itu dia terbaring menelungkup di atas sebuah ketiduran terbuat dari batu, tanpa baju, hanya mengenakan celana. Pandangan Wiro segera saja membentur dua sosok tubuh dibalut pakaian merah dan biru, bersanggul digulung di atas kepala, berwajah cantik jelita.

"Wong edan! Kalian rupanya!" ucap Pendekar 212 setengah berteriak begitu mengenali. Jengkel sekali tapi juga merasa gembira. Dua orang itu ternyata adalah Liris Merah dan adiknya Liris Biru, murid Hantu Malam Bergigi Perak yang telah menemui ajal di tangan Sinto Gendeng.

Keduanya memperhatikan Wiro sambil senyum-senyum. Seperti dituturkan sebelumnya dua gadis itu membawa jenazah Hantu Malam Bergigi Perak ke Goa Cadasbiru di Kaliurang. Namun di tengah jalan keduanya berubah pikiran. Jenazah sang guru mereka kubur di sebuah bukit kecil lalu keduanya kembali ke tempat dimana Hantu Malam Bergigi Perak menemui ajal. Tidak terduga di satu tempat mereka menemui Pendekar 212 dalam keadaan cidera berat tengah ditolong oleh Wulan Srindi.

"Setelah melihat kami, apa kau masih punya pikiran bahwa kami membekal niat jahat?" Bertanya Liris Biru.

"Kalian menculik dan membawa aku ke tempat ini. Kalian juga menotok tubuhku! Siapa yang tidak akan punya dugaan kalau kalian memang punya niat jahat?!" Tukas Pendekar 212. Lalu menyambung ucapannya. "Aku jadi bingung. Kalau kalian memang orang-orang jahat mengapa dulu menciumku?" (Baca serial Wiro Sableng episode sebelumnya berjudul Nyi Bodong)

Liris Merah dan Liris Biru jadi kemerahan wajah masing-masing mendengar kata-kata pemuda itu.

"Kalau kami memang orang-orang jahat, seharusnya pada saat pertama kali kami menemuimu tergelimpang di tanah dalam keadaan tak berdaya, kami sudah membunuhmu tapi kami punya alasan kuat untuk menghabisi nyawamu" Liris Merah keluarkan ucapan.

"Hebat! Dosa kesalahan apa yang telah aku buat hingga enak saja kalian mau membunuhku?!"

"Bukan kau yang punya dosa! Tapi gurumu!" jawab Liris Biru.

"Guruku? Maksud kalian Eyang Sinto Gendeng?" Wiro kerenyitkan kening. Hendak menggaruk kepala tapi tidak bisa.

Liris Merah melangkah lebih dekat kepembaringan batu. "Dengar," ucap si gadis. "Gurumu Sinto Gendeng telah membunuh guru kami Hantu Malam Bergigi Perak! Keji sekali!"

Kejut Pendekar 212 bukan alang kepalang. Kalau saja tidak dalam keadaan tertotok, Wiro pasti sudah melesat melompat mendengar ucapan Liris Merah itu. "Aku tidak percaya! Jangan kau bicara tak karuan! Beraninya memfitnah guruku!" Teriak Wiro.

Kini Liris Biru yang melangkah mendekati pembaringan batu. "Kami memang tidak melihat peristiwanya. Tapi ada seorang menyaksikan kejadian itu..."

"Siapa?" tanya Wiro dengan suara bergetar.

"Seorang kakek bermata belok yang salah satu dari dua telinganya terbalik! Tukang beser bernama Setan Ngompol!" Jawab Liris Biru.

"Ah, kakek itu. Mungkin saja dia salah melihat. Dia sudah tua matanya sudah mulai rabun...”

Liris Merah mencibir. "Dia memang sudah tua, tapi matanya tidak rabun apa lagi buta. Dan ucapannya tidak dusta!"

"Kalau kalian merasa yakin guruku Eyang Sinto Gendeng yang membunuh guru kalian, lalu mengapa kalian tidak segera saja membunuhku? Malah sebaliknya menolongku?"

"Kalau saat ini kau memang minta mati, kami tidak segan-segan melakukannya!" kata Liris Merah pula dengan menahan amarah.

Wiro terdiam tapi otaknya berjalan. Kalau dua orang gadis itu tidak membunuhnya berarti ada sesuatu yang mereka harapkan. Akhirnya Wiro berkata. "Aku tidak bisa percaya begitu saja kata-kata kalian. Aku harus menemui Setan Ngompol. Aku harap kalian segera melepaskan totokan di tubuhku!"

"Dasar sableng. Mau enaknya sendiri. Tidak tahu terima kasih menerima budi orang..." ucap Liris Merah. Gadis ini mendekati Wiro lalu dengan dua jari tangan kanannya dia menusuk dua titik di punggung si pemuda. Saat itu juga totokan yang membuat kaku tubuh Wiro musnah.

"Totokan sudah kulepas! Kalau kau mau pergi silahkan pergi sekarang juga!" ucap Liris Merah pula dengan suara keras lantang.

Wiro atur aliran darah dan kerahkan tenaga dalam. Sesaat kemudian tubuhnya melesat ke udara lalu melayang turun, berdiri senyum-senyum di antara dua gadis cantik Liris Merah dan Liris Biru.

"Tak perlu cengengesan segala. Kau bilang mau pergi. Kenapa masih jual tampang di sini?!" Kata Liris Merah sambil berdiri berkacak pinggang.

Wiro tertawa. "Sebelum pergi, aku perlu bicara dulu."

"Bicara apa?" tanya Liris Biru.

Wiro usap-usapkan telapak tangannya satu sama lain. "Pertama, aku harus mengucapkan terima kasih pada kalian berdua karena membawaku ke sini. Aku merasa telah menerima budi sangat besar. Kedua aku mohon maaf kalau tadi telah bicara keras dan kasar pada kalian berdua..."

"Hemmm, aneh juga. Tadi kau marah-marah dibawa kesini. Sekarang malah berterima kasih dan minta maaf segala. Sepertinya minta dikasihani! Begitulah manusia, berbuat seenaknya dulu baru kemudian minta maaf!" Tukas Liris Merah pula.

Wiro cuma menyengir. Tangan kanannya bergerak ke punggung, pada bagian yang cidera bekas pukulan Pangeran Muda dari Keraton Kaliningrat. Dia merasa ada sesuatu menempel di punggung itu. Diambilnya lalu diperhatikan. Wiro terkejut. Yang dipegangnya saat itu adalah selembar daun sirih yang telah layu, berwarna kehitaman. Wiro meraba lagi ke punggung. Sekali ini diadapatkan tiga lembar daun sirih sekaligus. Langsung saja dia ingat kejadian dan ucapan perempuan cantik bayangan.

"Empat helai daun sirih Ialu ditempelkan di bagian tubuh orang yang cidera dengan ujung mengarah ke ler, kilen, kidul dan wetan..."

"Kalian berdua, Liris Merah, Liris Biru..." ucap Wiro sambil memandang dari daun sirih dan pada dua gadis silih berganti. "Kalian telah mengobati diriku?" Wiro merasa yakin kalau memang kedua gadis cantik itu yang telah menolong mengobatinya karena saat kejadian Wulan Srindi telah meninggalkan dirinya untuk mencari daun sirih yaitu sesuai dengan petunjuk perempuan bayangan.

"Tadi aku sudah mengatakan. Kami tahu semua yang terjadi. Dan kami berdua telah melakukan yang terbaik untukmu." Kata Liris Merah dengan wajah asam.

Wiro menggaruk kepala. Ini pertama kali dia menggaruk dan terasa sedap sekali. Puas menggaruk dia berkata. "Kalau tidak keberatan tolong jelaskan apa yang terjadi dan apa yang telah kalian lakukan." Liris Merah berpaling pada adiknya Liris Biru.

Liris Biru kemudian menerangkan. "Kami datang di tempat kau tergeletak pada malam dua hari lalu..."

"Apa?! Jadi aku berada di tempat ini sudah selama dua hari?" memotong Wiro.

Liris merah anggukkan kepala. Lalu meneruskan penjelasannya. "Kami datang pada saat kau roboh di samping seorang gadis yang pinggangnya dipenuhi kendi. Tak jauh dari situ ada satu sosok lelaki yang sudah jadi mayat dengan tubuh hancur seperti dicincang. Siapa adanya gadis berdandanan aneh itu?" Liris Biru bertanya sambil melirik melirik pada kakaknya.

"Namanya Wulan Srindi. Sengsara yang amat sangat membuat jalan pikirannya berubah. Dia diambil murid oleh lblis Pemabuk. Katakan, apa yang kalian ketahui selanjutnya..."

"Gadis itu berusaha keras menolongmu tapi tidak bisa. Lalu muncul satu mahluk aneh. Perempuan cantik berbentuk bayangan. Aku dan kakakku mendengar semua apa yang diucapkan mahluk bayangan itu untuk mengobatimu. Pokoknya kami mendengar semua pembicaraan kalian. Mahluk ini kemudian menolong mengobati cidera di punggungmu. Namun masih diperlukan empat lembar daun sirih untuk menuntaskan pengobatan. Ketika mahluk itu melenyapkan diri dan gadis bernama Wulan Srindi meninggalkanmu untuk mencari daun sirih, kami membawamu pergi. Kau kami bawa kesini. Tempat ini adalah Goa Cadasbiru, terletak di Kaliurang, tempat kediaman kami bersama mendiang guru..."

Wiro angguk-anggukkan kepala. "Tadi aku tidak tahu berada dimana. Sekarang setelah tahu aku sangat bersyukur..."

Liris Biru meneruskan keterangannya. "Sesuai ucapan mahluk bayangan kami cari empat lembar daun sirih. Kemudian kami tempelkan di punggungmu yang cidera. Tubuhmu mengepulkan asap hitam. Dari cidera di punggungmu membersit darah kehitaman yang kemudian secara aneh lenyap dengan sendirinya. Selama dua hari dua malam kau tergeletak menelungkup di atas pembaringan batu itu, terserang demam panas. Kau sering mengigau, berteriak-teriak, memukul dan menendang. Kami terpaksa menotokmu. Sekarang kau telah sembuh."

Wiro rapatkan dua tangan di atas kening, membungkuk dalam-dalam seraya berkata. "Aku berhutang budi dan nyawa pada kalian berdua. Katakan bagaimana aku bisa membalasnya."

"Kami hanya ingin kau menjawab beberapa pertanyaan." Jawab Liris Merah pula.

"Pertama, siapa adanya perempuan cantik berbentuk bayangan itu?"

Wiro menggaruk kepala. "Aku sendiri tidak kenal padanya. Tapi dia seperti kenal padaku."

"Aku tidak tahu apa kau berdusta atau tidak." ujar Liris Merah.

"Pertanyaan kedua," Liris Biru yang berucap. "Gadis bernama Wulan Srindi itu memanggilmu dengan sebutan suamiku. Apakah dia istrimu? Memangnya kau sudah kawin?"

Wiro garuk kepala lalu menggeleng. "Dia bukan istriku, aku bukan suaminya..."

"Tapi kabarnya dia sudah hamil tiga bulan!" Potong Liris Merah dengan unjukkan wajah sinis.

"Aneh juga! Tidak dikawini tapi bisa hamil!" ucap Liris Biru setengah mengejek. Lalu tertawa cekikikan.

"Memang aneh. Seperti aku katakan tadi akibat derita sengsara yang tak sanggup dihadapinya, Wulan Srindi rusak jalan pikirannya. Sebelumnya dia mengaku sebagai murid Dewa Tuak. Lalu kemana-mana menebar ucapan bahwa aku adalah suaminya. Malah dia mengatakan kalau sudah hamil tiga bulan. Bahkan semua itu pernah dikatakannya pada guruku Eyang Sinto Gendeng. Aku kasihan padanya, tapi tak bisa berbuat apa..."

"Derita sengsara apa yang begitu hebat hingga membuat dirinya rusak pikiran seperti itu?" Bertanya Liris Biru.

"Dia diperkosa...” Jawab Wiro.

Liris Merah dan Liris Biru saling pandang dan sama-sama terdiam. Akhirnya Liris Merah membuka mulut. "Waktu mengobati dirimu, mahluk bayangan menyebut Kitab Seribu Pengobatan. Yang kami ingin tahu dimana beradanya kitab itu sekarang?"

"Aku melihat mahluk bayangan itu berbisik padamu. Apa yang dibisikkannya?" Liris Biru ikut ajukan pertanyaan.

Wiro menggaruk kepala, mengingat-ingat. "Saat itu dia mengatakan bahwa Kitab Seribu Pengobatan ada padanya dan kelak akan diserahkan padaku."

"Kapan? Dimana akan diserahkan?" Desak Liris Merah.

Walau memang sudah ada perjanjian di satu tempat dengan mahluk bayangan namun Wiro tidak mau memberi tahu. "Kalian berdua, aku telah berhutang budi dan nyawa pada kalian. Aku ingat cerita kalian tempo hari. Kalian punya kelainan. Tidak tahan hawa panas. Dengar, jika kitab itu aku dapatkan, aku berjanji akan menyerahkan pada kalian."

"Siapa percaya janjimu!" ucap Liris Merah.

"Sahabatku, salah satu perbuatan baik dalam hidup ini adalah saling percaya. Mana mungkin aku berdusta pada orang-orang yang telah menyelamatkan nyawaku. Aku harus pergi sekarang. Tolong tunjukkan jalan keluar..."

Liris Merah kesal tapi tudingkan ibu jari tangan kirinya ke arah kanan. Wiro membungkuk. Mengucapkan terimakasih lalu melangkah cepat kearah yang ditunjuk. Lima langkah bergerak tiba-tiba Liris Biru berkelebat menghadang.

"Ada apa?" tanya Wiro heran. Liris Biru angkat tangan kanannya. Di tangan itu dia memegang sebuah benda terbuat dari perak yang segera dikenali Wiro.

"Tusuk konde perak. ltu milik guruku. Bagaimana bisa berada padamu?"

"Kami temukan tersemat di baju bututmu waktu kami menggeledah sekujur tubuhmu!" Menerangkan Liris Biru.

Wiro terkejut. "Apa?! Kalian menggeledah sekujur tubuhku?!" ucap pendekar sambil tekap dada lalu tekap bagian di bawah perutnya.

Liris Merah dan Liris Biru langsung merah wajah masing-masing. "Kami bukan gadis murahan! Kami cukup tahu peradatan sopan santun waiau saat itu kau dalam keadaan pingsan!" kata Liris Merah pula. Liris Biru kemudian angsurkan tusuk konde perak yang segera diambil oleh Wiro.

"Terima kasih. Kalian berdua baik sekali. Hutang budiku tambah besar." Pendekar 212 langsung melanjutkan langkahnya. Namun sebelum berkelebat pergi pemuda ini lebih dulu mencium pipi kiri Liris Biru. Untuk beberapa lamanya Liris Biru tegak tertegun sambil mendekap pipinya yang bekas dicium sementara sang kakak, Liris Merah, memperhatikan dengan pandangan tidak senang. Lalu dia melangkah mendekati adiknya dan berkata.

"Adikku, terus terang aku tidak percaya pada semua ucapan Pendekar Dua Satu Dua. Terutama janjinya akan menyerahkan Kitab Seribu Pengobatan. Aku harus mengikutinya. Aku punya firasat dia tengah menuju ke satu tempat dimana kitab itu berada."

"Terserah padamu, kakak. Tapi ingat sudah saatnya kita berendam di telaga, membersihkan diri di air pancuran. Tidakkah kau merasa kalau tubuh kita mulai panas? Sebaiknya kita mendinginkan diri dulu..."

"Kalau kita mendinginkan diri lebih dulu, pemuda itu sudah lari jauh. Aku akan berusaha mencari telaga di tengah jalan."

"Kalau begitu aku ikut bersamamu." Kata Liris biru pula.

"Tidak, kau tunggu di sini. Apa kau lupa di tempat ini kita menyimpan benda sangat berharga?" Walau menduga-duga apa itu alasan sebenarnya Liris Merah menolak dia ikut serta akhirnya Liris Biru anggukan kepala mengalah.

"Pergilah. Hati-hati..." Setelah Liris Merah pergi, sang adik masih tegak di tempatnya semula. Hatinya berucap.

"Aku lihat wajah kakak tadi. Menunjukkan rasa tidak senang. Ada bayangan rasa cemburu. Apakah dia sudah jatuh cinta pada pemuda itu. Tapi mengapa tadi dia selalu bicara keras? Kalau Wiro suka pada aku dan Liris Merah, mengapa cuma aku yang diciumnya? Padahal dulu aku dan kakak sama-sama menciumnya. Kepergian kakak, apakah sepenuh hati hanya untuk menguntit, bukan karena hasrat ingin berada dekat pemuda itu?" Liris Biru usap pipinya yang bekas dicium Wiro.

Dia ingat cerita Setan Ngompol. Selain memberi tahu siapa pembunuh gurunya si kakek juga menjelaskan bahwa Kitab Seribu Pengobatan berada di tangan perempuan bayangan. Dan yang tidak dilupakan Liris Biru adalah penjelasan Setan Ngompol bahwa gurunya pernah mengeluarkan ucapkan kalau Wiro suka dia boleh memilih salah satu antara dia dan kakaknya.

"Aku tadi diciumnya. Apakah itu satu pertanda bahwa dia memilihku...?” Liris Biru tersenyum sendiri. Gadis ini keluar dari gua, langsung menuju ke sebuah telaga yang terletak di bagian bawah satu tebing batu. Di salah satu dinding tebing ada sebuah pancuran. Walau ada tangga batu menuju ke dalam telaga, Liris Biru tidak mau berlama-lama. Gadis itu rangsung melesat terjun masuk ke dalam air.

Saat itu langit di ufuk timur mulai tersaput cahaya kemerahan pertanda tak lama lagi sang surya akan segera terbit. Sambil berendam untuk melenyapkan hawa panas penyakit aneh yang diidapnya selama bertahun-tahun Liris Biru bernyanyi-nyanyi kecil. Mendadak suara nyanyiannya lenyap. Dua kakinya yang menjajaki dasar telaga merasa ada getaran-getaran aneh. Lalu dilihatnya ada sebuak benda bergerak di dalam air, mendekat ke arahnya.

"lkan besar? Buaya? Bertahun-tahun tinggal di sini setahuku tidak ada binatang hidup dalam telaga ini. Jangan-jangan makluk jejadian hendak mencelakai diriku." Tidak tunggu lebih lama segera saja Liris Biru angkat tangannya, siap untuk menghantam dengan aliran tenaga dalam penuh.

Tiba-tiba sebuah benda besar mencuat keluar dari dalam telaga. Air telaga bermuncratan. Liris Biru pukulkan tangan kanannya ke depan. Dia berseru kaget ketika lengan kanannya terasa dicekal kuat. Dan sewaktu muncratan air lenyap gadis ini lebih kaget lagi begitu melihat siapa yang ada di hadapannya dan mencekal tangannya.

"Kau!" Yang diteriaki tertawa lebar.

"Kurang ajar sekali! Beraninya kau mengintip perempuan mandi!" Orang yang mencekal lengan si gadis, yang bukan lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng tertawa bergelak.

"Kau masih mengenakan pakaian utuh. Kalau sudah telanjang boleh saja kau marah!"

"Apa yang kau lakukan di telaga ini! Kau bilang tadi kau mau pergi! Sekarang mengapa ada di sini?" Liris Biru tarik tangannya yang dipegang Wiro.

"Aku tidak mau diikuti oleh kakakmu. Selain itu aku memang sudah beberapa hari tidak mandi. Kebetulan ada telaga berair jernih."

"Bagaimana kau tahu kalau kakakku mengikutimu."

"Keluar dari goa, aku tidak terus pergi. Aku sempat mendengar pembicaraan kalian..."

"ltu cuma jawaban yang dibuat-buat. Alasanmu yang sebenarnya adalah menungguku turun mandi ke telaga ini. Dasar pemuda ganjen..."

"Eh, tunggu dulu. Siapa yang ganjen di antara kita? Bukankah kau dan kakakmu yang lebih dulu menciumku tempo hari?"

"Kami menciummu bukan karena ganjen. Tapi karena sangat berharap dan bebesar hati kau bisa menolong kami mendapatkan Kitab Seribu Pengobatan. Kau sendiri mengapa tadi waktu di goa menciumku?"

Wiro menggaruk kepala. Lalu menjawab. "Pertama, kau baik. Lebih baik dari kakakmu yang bicara selalu keras meledak-ledak. Selain itu kau cantik. Lalu bukankah ciuman itu pantas sebagai sopan santun balasan ciumanmu tempo hari?"

"Edan!" Teriak Liris Biru. Wajahnya yang basah oleh air telaga kelihatan bersemu merah namun diam-diam hatinya merasa senang.

Wiro tertawa lebar. "Sudah, agar tidak dituduh ganjen terus-terusan aku mau pergi saja."

"Tunggu," kata Liris Biru. Kini dia yang mencekal tangan kanan Wiro hingga si pemuda tertarik satu langkah dan ini cukup membuat tubuh keduanyanya hampir bersentuhan. "Apakah kau benar-benar akan menyerahkan Kitab Seribu Pengobatan " bertanya Liris Biru. "Karena kalau kau berdusta, percuma saja aku menunggu disini"

"Mana aku sampai hati mendustai gadis sebaik dan secantikmu. Apa lagi mengingat kematian gurumu di tangan Eyang Sinto. Aku merasa sangat menyesal dan sedih sekali..." Wiro tekapkan kedua telapak tangannya kewajah Liris Biru.

Entah mengapa gadis ini lingkarkan dua tangannya di pinggang Wiro lalu sandarkan kepala di dada bidang sang pendekar. Terdengar suaranya perlahan. "Wiro, apakah aku boleh ikut bersamamu?"

"Hemm... Saat ini kurasa belum boleh. Lain kali kita akan pergi sama-sama kemana kau suka..." Wiro belai rambut basah si gadis. "Aku harus pergi sekarang. Tunggu di sini. Aku pasti datang membawa kitab itu."

"Aku akan menunggu," jawab Liris Biru lalu memeluk tubuh Wiro erat-erat seolah tak ingin pemuda itu lekas-lekas meninggal-kannya. Sesaat Wiro balas merangkul punggung si gadis lalu mencium keningnya.

"Aku pergi..." bisik Pendekar 212.

"Tunggu, walau kau tidak menceritakan kemana kau akan pergi namun aku tahu perjalananmu pasti jauh. Sementara kau hanya membekal sehelai celana basah dan tidak mengenakan baju. Di dalam goa ada beberapa perangkat pakaian mendiang guru. Aku akan mengambilkan satu pasang untukmu. Naiklah ke tebing di atas sana."

"Gurumu perempuan, aku laki-laki. Mana mungkin aku pakai pakaian perempuan. Aku belum mau jadi banci..."

Saat itu Liris Biru telah melesat keluar dari telaga, masuk kedalam Goa Cadasbiru. Ketika dia keluar membawa sehelai celana dan baju hitam, Wiro sudah menunggu.

"Pakailah," kata Liris Biru sambil menyerahkan pakaian yang di bawanya.

"Eh, tak mungkin aku berganti pakaian di hadapanmu," kata Wiro sambil memandang kiri kanan.

"Jangan bicara konyol. Kau bisa masuk ke dalam goa!"

Wiro menyengir. Sambil manggut-manggut melangkah masuk ke dalam goa. Ketika keluar dia sudah mengenakan baju dan celana hitam. Ukuran badannya agak sempit, lengan dan kaki celana menggantung kependekan. Liris Biru tertawa geli melihat keadaan Wiro. Pendekar 212 garuk-garuk kepala.

"Tak mengapa. Biar jadi badut dari pada tidak pakai baju dan celana sama sekali. Liris Biru, terima kasih untuk pakaian ini!" Sebelum berkelebat pergi Wiro tepuk pantat si gadis.

"lhhh!" Si gadis terpekik kaget tapi senang. Untuk beberapa lamanya dia masih tegak di tempat itu. Seumur hidup baru tadi untuk pertama kalinya dia memeluk dan dipeluk seorang lelaki. Satu kenangan mesra dan indah yang tak bakal dilupakannya sampai kapanpun. Di balik sebuah batu di atas tebing, sepasang mata melotot sejak tadi memperhatikan apa yang terjadi dengan dua insan di dalam telaga. Wajahnya yang cantik tampak berkerut dan dada menyentak keras.

"Perasaanku ternyata benar. Tidak sia-sia aku kembali untuk menyelidik. Lancangnya dia menyerahkan pakaian milik guru. Liris Biru, sekalipun kau suka pada pemuda kurang ajar itu dan dia senang padamu, aku bersumpah kau tak akan mendapatkan dirinya."

Orang yang berucap perlahan itu balikkan tubuh. Pakaian yang serba merah, rambut yang digulung di atas kepala menyatakan bahwa dia bukan lain adalah Liris Merah.

BAB 4
DALAM bangunan batu pualam di dasar telaga yang terletak dipuncak Gunung Gede. Nenek muka putih berpakaian biru dengan rambut hitam tergerai kusut, berlutut di hadapan Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Kiai, saya tak akan habis-habisnya mengucapkan terima kasih atas budi baik Kiai yang telah menolong menyelamatkan saya. Mengobati cidera yang saya alami sehingga sembuh. Saya tidak mungkin membalas semua budi dan hutang nyawa itu."

Kiai Gede Tapa Pamungkas, tokoh rimba persilatan berkepandaian sangat tinggi dan mengenakan pakaian selempang kain putih tersenyum. "Nenek sahabatku bangkitlah. Mengapa terlalu banyak memakai peradatan segala?"

Mendengar ucapan sang Kiai si nenek segera bangun.

"Menolong dengan mengharap balas budi bukanlah satu sifat yang tulus. Ketahuilah, jika kau ingin berterima kasih, berterima kasihlah pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Selain itu ada seseorang yang pantas menerima semua rasa terima kasihmu."

"Begitu...? Siapakah dia Kiai?" tanya nenek muka putih pula.

"Seorang perempuan muda bernama Nyi Retno Mantili. Dialah yang telah menemukan dirimu dalam keadaan cidera berat. Dia yang membawamu ke padaku."

"Nyi Retno Mantili..." ucap nenek muka putih. "Apakah saya pernah mengenal atau bertemu dengannya? Kiai, dimana saya bisa mencari dan menjumpai perempuan berbudi luhur itu?"

"Tidak mudah untuk mencarinya..."

"Dia membawa saya kepada Kiai. Berarti dia mengenal Kiai. Kalau saya boleh bertanya apa hubungan Kiai dengan Nyi Retno Mantili?"

"Perempuan muda itu sebenarnya adalah istri Tumenggung Wira Bumi yang sekarang telah menjadi Patih Kerajaan..."

Nenek muka putih unjukkan wajah kaget. Kiai Gede Tapa Pamungkas melanjutkan ceritanya. "Perjalanan nasib membawa Nyi Retno masuk ke jurang kesengsaraan. Derita yang amat sangat karena kehilangan bayi puteri pertamanya membuat pikirannya berubah tidak waras. Aku menemui dirinya di satu tempat ketika ada mahluk jejadian hendak menghabisi nyawanya. Mahluk jahat ini dikenal dengan panggilan Nyi Tumbal Jiwo, mahluk dari alam roh yang menjadi guru sesat Wira Bumi. Nyi Retno bisa kuselamatkan dan kubawa ke sini. Kuberi sedikit pelajaran ilmu silat dan beberapa kesaktian sambil berusaha menyembuhkan jalan pikirannya. Namun sia-sia belaka. Setelah membawamu ke sini dia pergi begitu saja. Mungkin mencari bayinya yang hilang. Mungkin juga ke Kotaraja untuk membalas dendam kesumat sakit hati pada Wira Bumi yang dalam ketidak warasannya tidak diketahuinya bahwa lelaki itu adalah suaminya sendiri."

Nenek muka putih menghela nafas dalam. "Derita yang saya alami rasanya begitu berat, seperti tidak tertahankan. Ternyata masih ada orang yang lebih sengsara dari saya."

"Sahabatku, baik atau buruk nasib kita sebagai manusia jangan diperbandingkan dengan orang lain. Karena hal itu bisa membawa rasa iri dan ketidakadilan dalam diri kita. Adalah satu dosa besar kalau kita sampai mengatakan bahwa Tuhanlah yang telah berlaku tidak adil pada kita. Padahal jalan nasib seseorang sudah ditentukan sebelumnya oleh Sang Pencipta."

Mendengar ucapan Kiai Gede Tapa Pamungkas nenek muka putih unjukkan wajah sayu dan hanya bisa berdiam diri.

"Sahabatku... Aku selalu memanggilmu dengan panggilan sahabat. Kau tentu punya nama. Lalu jika kau orang rimba persilatan pasti memiliki gelar. Apakah aku boleh mengetahui nama dan gelarmu?"

Nenek muka putih tertawa. "Gelar saya tak punya, Kiai. Kalau nama, orang-orang memanggil saya Nyi Bodong."

Kening sang Kiai mengerenyit. Matanya sekilas menatap ke arah perut nenek muka putih. Lalu bibirnya menyeruakkan senyum. "Nyi Bodong, sesuai janjiku tempo hari, siang ini kau boleh meninggalkan tempat ini. Namun ada satu hal yang ingin aku ketahui. Bagaimana ceritanya kau bisa berada di puncak Gunung Gede? Berjalan jauh kalau tidak tengah mencari seseorang rasanya tidak masuk akal. Siapakah yang ingin kau temui?"

"Saya tahu selain Kiai di puncak Gunung Gede ini tinggal juga Eyang Sinto Gendeng. Namun terus terang saja, saya tidak bermaksud menemui Kiai atau nenek sakti itu..."

"Begitu? Aku juga ingin tahu siapa yang telah menciderai dirimu begitu jahat hingga aku membutuhkan waktu lebih dari dua minggu untuk menyembuhkanmu."

Nenek muka putih tampak terkejut. Hampir tak percaya. "Jadi saya telah berada selama dua minggu di tempat ini? Ah, manusia bejat terkutuk itu pasti telah lari jauh..."

"Nyi Bodong maukah kau menceritakan riwayat perjalananmu dan siapa pula yang kau maksudkan dengan manusia bejat terkutuk itu?"

"Kiai, saya terpesat ke puncak Gunung Gede karena mengejar seorang manusia jahat berjuluk Hantu Pemerkosa yang bukan lain sebenarnya adalah Pangeran Matahari. Banyak gadis dan perempuan muda serta istri orang yang telah jadi korbannya..."

Kiai Gede Tapa Pamungkas menghela nafas panjang dan gelengkan kepala. "Aku pernah mendengar kabar buruk manusia berjuluk Hantu Pemerkosa itu. Tapi tidak pernah mengira kalau dia adalah Pangeran Matahari. Gusti Allah, bukannya saya ingin mendahului kehendakMu. Mungkin sudah saatnya manusia satu itu disingkirkan dari muka bumi ini untuk selamalamanya."

"Satu kali saya sempat menyergap Hantu Pemerkosa dan membuat buntung tangan kirinya namun dia bisa melarikan diri. Ternyata ada seorang ahli pengobatan yang menolong. Mengobati bahkan menyambung kembali tangan kiri Pangeran Matahari..."

"Hanya ada satu orang yang punya kemampuan ilmu pengobatan seperti itu. Seorang bernama Ki Tambakpati."

"Memang Kiai, memang dia orangnya. Saya sempat menemuinya. Saya kemudian mengetahui bahwa Pangeran Matahari itu dalam perjalanan menuju puncak Gunung Gede ini. Saya mengejar sampai ke sini..."

"Nyi Bodong, apakah kau tahu ada keperluan apa Pangeran Matahari alias Hantu Pemerkosa datang ke puncak Gunung Gede?"

"Dia mencari Kitab Seribu Pengobatan. Agaknya dia menderita satu penyakit yang sulit disembuhkan. Konon kitab itu ada pada Eyang Sinto Gendeng."

Si orang tua angguk-anggukkan kepala. "Kitab itu tadinya memang ada pada Sinto Gendeng..."

Dengan matanya yang jernih Kiai Gede Tapa Pamungkas menatap sesaat ke arah Nyi Bodong. Dada si nenek mendadak berdebar. "Kitab dicuri orang. Setelah lenyap beberapa lama kemudian kitab itu kembali berada di tempat kediaman Sinto Gendeng. Tapi saat ini aku punya firasat kitab tersebut sudah jatuh pula ke tangan orang lain. Sementara Sinto Gendeng sendiri tengah menghadapi banyak masalah sekarang . Entah dimana dia berada."

"Kiai, satu kali ketika saya masih terbaring sakit ada seorang pemuda masuk ke tempat ini. Maksudnya baik, namun saya tidak suka dia hendak menyentuh saya. Pemuda itu benama Wiro Sableng. Berjuluk Pendekar Dua Satu Dua. Bagaimana dia bisa berada di tempat ini?"

"Dia sahabat Nyi Retno Mantili. Aku yang membawa mereka masuk kedalam telaga ini. Karena Sinto Gendeng adalah muridku maka Wiro Sableng bisa disebut sebagai cucu muridku. Apakah kalian tidak saling mengenal sebelumnya?"

Nyi Bodong tidak menjawab. "Nyi Bodong, cidera berat di bahu kirimu. Apakah itu akibat bentrokan dengan Pangeran Matahari?"

"Betul Kiai. Saya sempat menghantamnya namun dia menyerang saya dengan sebuah senjata aneh. Sebuah lentera yang memancarkan cahaya kuning. Saya dengar lentera itu dalam rimba persilatan dikenal dengan sebutan Lentera Iblis..."

"Lentera Iblis..." Kiai GedeTapa Pamungkas usap wajahnya. "Senjata dari alam roh yang luar biasa hebatnya. Siapa yang memiliki akan menguasai rimba persilatan. Kalau lentera itu tidak dirampas dari tangan Pangeran Matahari atau tidak segera dimusnahkan, rimba persilatan akan dilanda satu malapetaka besar. Pangeran Matahari akan menjadi raja diraja kejahatan. Golongan hitam akan menguasai seluruh tanah Jawa bahkan sampai ke tanah seberang."

"Kiai, kalau saya memang sudah sembuh, apakah saya boleh meninggalkan tempat ini?"

"Sebelum kau pergi ada yang perlu aku beritahukan," kata Kiai Gede Tapa Pamungkas pula.

"Dalam sakitmu ada seorang tamu datang kesini. Dia hanya datang sebentar. Dia masuk keruangan ini ketika kau tertidur lelap..."

"Siapakah orang itu Kiai?" tanya Nyi Bodong sambil dalam hati menduga-duga.

"Sahabat lamaku. Namanya Kiai Munding Suryakala."

Nyi Bodong cepat menyembunyikan rasa terkejutnya ketika mendengar orang tua itu menyebut nama tersebut. "Apa saja yang dibicarakan orang tua itu dengan Kiai?" Nyi Bodong memberanikan diri bertanya.

"Seperti kataku tadi. Dia hanya datang sebentar. Yang penting bisa menjengukmu dan tahu kau berada dalam keadaan baik. Dia tidak bicara apa-apa. Hanya berpesan agar kau segera pulang menemuinya. Dalam perjalanan jangan melakukan apa-apa jangan pergi ke tempat lain, apapun yang terjadi."

"Akan saya lakukan Kiai. Kalau saya boleh bertanya, apakah Kiai Munding Suryakala menceritakan perihal diri saya atau hubungan saya dengan dirinya?" Nyi Bodong bertanya dengan jantung berdebar.

Kiai Gede Tapa Pamungkas gelengkan kepala. "Ada sesuatu yang menggelisahkanmu, sahabatku?"

"Tidak, tidak ada apa-apa..." si nenek muka putih menjawab dan diam-diam hatinya merasa lega.

"Sebelum pergi dia memberitahu satu hal padaku. Menurut Kiai Munding Suryakala satu peristiwa besar akan terjadi di rimba persilatan tanah Jawa. Mungkin hal ini ada hubungan dengan permintaannya agar kau lekas pulang. Dia tidak ingin suatu apa terjadi dengan dirimu.”

"Kalau begitu saya mohon diberi izin pergi sekarang..."

Kiai Gede Tapa Pamungkas mengangguk. Pintu hijau muda yang ada di ruangan itu terbuka.

"Kiai, seperti yang Kiai pernah jelaskan, tempat ini terletak di dasar sebuah telaga besar. Bagaimana mungkin saya keluar?"

Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum. "Dalam tidurmu sementara menanti kesembuhan, aku telah meresapkan ilmu tahan berada dalam air pada dirimu. Kau hanya tinggal menekankan kedua kakimu pada tanah dasar telaga, maka tubuhmu akan melesat ke permukaan air. Selanjutnya kau bisa berenang menuju tepian telaga..."

"Berenang?" Nyi Bodong tertawa lebar. "Saya tidak pandai berenang, Kiai."

"Saat ini kau sudah bisa berenang. Lihat saja nanti..."

Nenek muka putih menatap tercengang. Sadar kalau orang telah memberikan dua macam ilmu kepandaian Nyi Bodong segera jatuhkan diri berlutut sambil mulutnya berucap. "Terima kasih Kiai. Budimu setinggi langit sedalam samudera”

Kiai Gede Tapa Pamungkas cepat menahan bahu si nenek.b"Tak usah pakai peradatan segala. Aku tidak tahu antara kita siapa yang lebih tua...” Sang Kiai lalu tertawa mengekeh.

Nyi Bodong melangkah cepat menuju bagian depan bangunan batu pualam. "Selamat tinggal Kiai. Saya sangat berharap akan dapat menemui Kiai di lain waktu."

Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum dan anggukkan kepala. Seperti yang dikatakan sang Kiai, begitu Nyi Bodong tekankan ke dua kakinya ke dasar telaga, tubuhnya serta merta melesat ke atas dan dalam waktu sangat cepat dia sudah timbul di permukaan air. Nenek muka putih ini dapatkan dirinya berada di tengah telaga. Sosoknya terasa enteng. Ketika dia menggerakkan tangan dan kaki, tubuhnya meluncur ke pinggiran timur telaga. Luar biasa! Ternyata dia memang bisa berenang! Dan yang lebih luar biasa lagi, sewaktu dia mencapai daratan, baik rambut, tubuh maupun pakaiannya tidak basah sedikitpun!
********************
WWW.ZHERAF.NET
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng Karya Bastian Tito
HANYA tinggal satu hari perjalanan sebelum sampai ke tempat kediaman Kiai Munding Suryakala hujan lebat turun mendera bumi. Nyi Bodong yang berada di pinggiran rimba belantara beruntung mendapatkan sebuah gubuk yang biasa dipakai untuk istirahat oleh para penebang pohon. Nyi Bodong duduk di balai-balai panjang terbuat dari bambu. Matanya menatap sayu ke depan. Hujan lebat bukan saja menutupi pemandangan tapi juga membuat udara terasa dingin sekali. Cukup lama duduk di dalam gubuk baru hujan mulai mereda berubah menjadi rintik-rintik. Nyi Bodong memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Namun baru saja hendak bergerak dan bangkit berdiri tiba-tiba di depan sana, di antara kerapatan pepohonan, sepasang matanya melihat dua orang berlari ke arah gubuk. Gerakan mereka sebat dan enteng sekali. Satu perasaan tidak enak muncul dalam diri Nyi Bodong. Nenek muka putih ini cepat berkelebat ke balik sebatang pohon besar sejarak dua betas langkah dari gubuk.

"Ada teratak. Kita berhenti dulu!" Salah satu dari dua orang yang berlari keluarkan ucapan. Suara perempuan.

Yang satunya menyahuti. "Kita ini seperti orang tolol saja! Tadi waktu hujan lebat kita malah lari. Kini hujan berhenti baru mencari tempat berteduh."

"Hik hik hik! Sebetulnya dua kakiku sudah penat. Lagi pula aku dari tadi menahan kentut!" Lalu preettt! Orang yang barusan, bicara pancarkan kentut. Sambil tertawa-tawa orang ini yang ternyata perempuan masuk ke dalam gubuk dan duduk di pinggir balai-balai bambu.

Orang satunya menyusul masuk, duduk di samping temannya. Dari balik pohon besar Nyi Bodong mengintip. Matanya mendelik dan jantungnya berdegup keras ketika mengenali salah satu dari dua orang yang duduk dalam gubuk. "Lain yang dikejar, lain yang aku temui! Mahluk jahanam, kau datang ke sini mengantar nyawa!"
BAB 5
ORANG yang duduk di bangku bambu sebelah kanan mengenakan jubah putih menjela tanah, berbadan tinggi besar. Kepala dan wajah tidak kelihatan karena dia mengenakan sehelai kain putih yang menutupi kepala dan wajah sampai ke leher. Pada bagian depan tutup kepala ada dua lobang kecil di jurusan sepasang mata.

"Aku yakin dialah manusianya! Dibalik kain penutup kepala itu ada satu kepala memiliki dua muka. Satu di sebelah depan, satu di sebelah belakang. Mahluk jahanam! Hari ini kau bakal mendapatkan pembalasan atas semua perbuatan kejimu terhadapku!"

Nyi Bodong melirik pada sosok orang yang duduk di samping lelaki berjubah dan bertutup kepala kain putih. Seorang nenek memiliki rambut, wajah serta pakaian serba kuning. Di atas rambut kuning yang disanggul menancap tiga buah sunting. Nyi Bodong ingat, dia pernah melihat nenek ini sebelumnya. Selintas pikiran muncul di benak Nyi Bodong.

"Kalau kuhabisi mahluk jahanan itu, tidak mungkin si nenek muka kuning sahabatnya akan berlepas tangan. Aku sudah tak sabaran. Kalau perlu dua-duanya aku bereskan!" Saat itu Nyi Bodong sudah siap keluar dari balik pohon besar untuk segera menghabisi orang berjubah. Namun gerakan kakinya tertahan ketika dia mendengar nenek muka kuning berucap.

"Sahabatku Hantu Muka Dua, apa pendapatmu tentang kabar selentingan akan adanya satu peristiwa besar dalam rimba persilatan tanah Jawa?"

"Luhkentut, kau bertanya, aku menjawab. Apa perduliku?" sahut si jubah putih yang ternyata adalah Hantu Muka Dua, salah satu dari sekian banyak tokoh negeri Latanahsilam yang terpesat ketanah Jawa.

"Kita hanya mahluk-mahluk yang tersesat ke negeri ini. Mauku ingin kembali ke Latanahsilam, negeri seribu dua ratus tahun silam. Tapi tak tahu bagaimana caranya. Selain itu aku ingin menemui beberapa tokoh rimba persilatan. Aku ingin meyakinkan bahwa antara aku dengan mereka tidak ada permusuhan. Aku benar-benar tobat berbuat kejahatan..."

"Syukur kalau kau benar sudah bertobat. Berarti aku tidak perlu lagi mengikuti kemana kau pergi. Ketahuilah, setelah Seratus Tiga Belas Lorong Kematian musnah, para tokoh meminta aku agar mengawasi dirimu. Mereka kawatir kalau-kalau kau akan membuat malapetaka dimana-mana." Nenek yang dipanggil dengan nama Luhkentut itu berdiri. "Saatnya aku meninggalkan dirimu. Aku ada keperluan lain..."

"Aku tahu, kau mau mencari pemuda bernama Wiro Sableng itu." Kata Hantu Muka Dua sambil tertawa lalu berdiri pula.

"Aku tak pernah melupakan pertolongannya. Kalau tidak karena dia aku kemana-mana, setiap saat selalu menyemburkan kentut. Hik hik hik! Selain itu aku merasa kasihan, sejak dari negeri Latanahsilam sampai disini dia selalu menghadapi banyak masalah. Bahkan nyawanya senantiasa terancam. Kalau saja aku bisa membalas budi baiknya..."

(Kisah lengkap orang-orang dari negeri Latanahsilam sebelum terpesat ke tanah Jawa dapat dibaca dalam kisah Latanahsilam terdiri dari 18 Episode Bola-Bola Iblis s/d lstana Kebahagiaan)

"Aku juga punya hutang budi dan nyawa pada pemuda itu. Dia yang menyelamatan diriku ketika aku dalam keadaan sangat tak berdaya dan hampir jatuh ke jurang di kawasan Seratus Tiga Belas Lorong Kematian..." Hantu Muka Dua berikan pengakuan.

Luhkentut mengangguk. Usap-usap perutnya. "Rasanya aku mau kentut..." kata si nenek pula.

"Eh, kalau mau kentut jangan di hadapanku. Pergi jauh-jauh sana!"

Luhkentut alias Hantu Selaksa Angin tertawa cekikikan. Dia melangkah keluar gubuk. Lalu sekali berkelebat nenek serba kuning ini lenyap dari pemandangan. Si jubah putih tarik nafas dalam. Ketika dia menanggalkan kain putih penutup kepalanya, dibalik pohon besar wajah putih Nyi Bodong mengerenyit. Benar rupanya cerita seseorang padanya. Seumur hidup baru kali ini dia menyaksikan ada manusia memiliki dua buah wajah. Satu di depan berwarna putih, satu di belakang bewama hitam. Sepasang lensa matanya depan belakang tidak berbentuk bulat, tapi berupa segitiga berwarna hijau! Mau tak mau dingin juga tengkuk si nenek. Namun begitu ingat perbuatan keji yang pernah dilakukan orang itu padanya, amarahnya tak bisa terbendung lagi.

Hantu Muka Dua mengusap mukanya sebelah depan dan siap mengenakan kain penutup kepala kembali. Namun belum sempat hal itu dilakukan satu teriakan menggelegar di seantero tempat dan satu bayangan biru berkelebat dari balik pohon. Saking kagetnya kain penutup kepala di hngan Hantu Muka Dua jatuh ke tanah. Di lain kejap seorang nenek bermuka putih, berpakaian serba biru telah berdiri berkacak pinggang di hadapannya.

"Siapa...?" Hantu Muka Dua dalam kaget dan tercekatnya ajukan pertanyaan.

Nyi Bodong meludah ke tanah. "Mahluk jahanam! Masih bisa bertanya! Aku datang untuk menghabisi nyawamu! Dosamu setinggi langit sedalam lautan!"

Mendengar bentakan orang wajah Hantu Muka Dua depan belakang berubah menjadi wajah seorang kakek dan berwarna pucat pasi. Beginilah keadaannya jika Hantu Muka Dua dalam terkejut. "Nenek muka putih. Melihatmu pun baru kali ini. Bagaimana kau menuduh aku punya dosa setinggi langit sedalam lautan padamu?!"

"Otak mahluk jahanam sepertimu memang bisa tumpul karena terlalu banyak berbuat dosa kejahatan. lngat peristiwa di sebuah gubuk, ketika kau memperalat seorang rampok bernama Warok Jangkrik untuk menjebak seorang perempuan muda?! Kau kemudian hendak memperkosa perempuan itu!"

"Dimasa lalu aku memang banyak berbuat dosa. Tapi saat ini aku telah bertobat..."

"Bertobat?" Nyi Bodong tertawa panjang. "Kalau sisa nyawa sudah di leher, mana ada lagi tobat di muka bumi ini?!"

"Nenek muka putih. Antara kita tak ada silang sengketa. Kau sungguhan hendak membunuhku?!"

"Aku sudah bersumpah akan membunuhmu sejak hari kau melakukan perbuatan keji itu!" jawab nenek muka putih.

"Tapi apa hubunganmu dengan perempuan muda itu? Kau neneknya atau gurunya?"

"Soal hubunganku dengan perempuan muda itu bukan urusanmu! Sekarang bersiaplah untuk menerima kematian!"

"Nenek muka putih, jika aku memang berdosa, aku rela menerima kematian. Tapi jika aku tidak pernah punya silang sengketa denganmu, aku harap kau mau meninggalkan tempat, ini."

Nyi Bodong tertawa panjang. "Ajalmu sudah di depan mata!"

"Kalau kau keliwat memaksa, aku terpaksa melawan membela diri..." kata Hantu Muka Dua pula.

"Silahkan! Aku mau lihat kau bisa berbuat apa!"

Hantu Muka Dua renggangkan dua kaki memasang kuda-kuda. Dua tangan siap menangkis atau menghantam. Dia siapkan ilmu pukulan yang disebut Hantu Hijau Penjungkir Roh. Semasa di negeri 1200 tahun lalu Latanahsilam, ilmu ini adalah hasil rampasan dari Hantu Lumpur Hijau. Lawan yang terkena hantaman pukulan akan hancur meleleh tubuhnya, tidak beda lumpur berwarna hijau. Saat itu ada keraguan dalam hati Hantu Muka Dua. Apakah dia memang harus melayani si nenek? Karena dia merasa yakin, sekali ilmu pukulan Hantu Hijau Penjungkir Roh di lepaskan, nenek muka putih itu akan menemui kematian secara mengerikan.

Sementara Hantu Muka Dua berada dalam kebimbangan, si nenek muka putih telah lebih dahulu membuat gerakan. Dibarangi teriakan lantang tangan kanan Nyi Bodong berkelebat menyingkap baju biru di bagian perut. Tangan kiri diangkat ke atas, telapak mengembang.

Sepasang mata segi tiga Hantu Muka Dua terbeliak besar, terpukau menyaksikan perut putih mulus dihias sebuah pusar menonjol bercahaya. Selagi Hantu Muka Dua terkesiap dari mulut Nyi Bodong tiba-tiba keluar suara raungan seperti srigala melolong. Lalu dari pusar yang bodong mendadak sontak Menyembur selarik sinar berwarna biru gelap menggidikkan. Sinar Geni Biru! llmu Pusar Pusara!

"Tahan serangan! Jangan!" Tiba-tiba ada orang berseru. Namun terlambat. Larikan sinar biru melanda Hantu Muka Dua tepat di bagian dada! Tak ampun lagi tubuh mahluk dari negeri 1200 silam itu terbelah menjadi dua. Nyi Bodong terkejut ketika melihat di kening sebelah depan Hantu Muka Dua secara aneh muncul guratan angka 212. lni adalah bekas pukulan Wiro yang dihantamkan ke kening Hantu Muka Dua sewaktu hancur dan musnahnya lstana Kebahagiaan. (Baca serial Wiro Sableng di negeri Latanahsilam)

Dua potongan tubuh Hantu Muka Dua kepulkan asap biru,mencelat ke udara lalu meledak berkeping-keping, berubah menjadi lelehan aneh berwarna putih dan akhirnya lenyap dari pemandangan. Tamat sudah riwayat mahluk yang di negeri Latanahsilam dijuluki Hantu Segala Keji, Segala Tipu, Segala Nafsu.

Satu raungan menggelegar di udara. Nyi Bodong tanpa perduli keluarkan suara tawa cekikikan. Dia baru hentikan tawanya ketika ada satu bayangan berkelebat di hadapannya disusul satu suara keras.

"Salah kaprah! Kau membunuh orang yang sudah tobat dan pernah menyelamatkan dirimu! Hukuman Tuhan sekalipun tidak sekejam itu!"

"Keparat jahanam! Siapa berani membawa-bawa nama Tuhan di tempat ini?!" teriak Nyi Bodong. Memandang ke depan kening nenek muka putih mengerenyit. Mata mendelik geram.

"Mahluk samar! Kau setan jejadian atau demit hutan belantara?!" Bentak Nyi Bodong. Yang muncul dan berdiri di hadapan Nyi Bodong adalah sosok bayangan berupa seorang perempuan cantik berambut panjang hitam menjela pinggang.

"Siapapun diriku tak ada pentingnya. Yang lebih penting kau telah melakukan satu kesalahan besar membunuh Hantu Muka Dua."

"Mahluk setan! Beraninya kau menuduh aku berbuat salah. Jika kau membela dan Hantu Muka Dua adalah sahabatmu, apakah kau tahu kebejatan mahluk itu?! Apakah kau tahu apa yang telah diperbuatnya terhadapku?!"

"Aku lebih dari tahu! Hantu Muka Dua memang manusia bejat! Tapi dosa kebejatan sebesar apapun akan selalu ada pengampunan. Dia sudah bertobat. Mengapa kau masih melampiaskan nafsu pembunuhan? Kalau kau tahu pertolongan apa yang telah dilakukannya terhadapmu, aku yakin kau akan mengampuni selembar jiwanya!"

"Yang aku tahu dia pernah hendak memperkosaku!"

"Betul," sahut mahluk bayangan berwajah jelita. "Tapi apakah kau tahu kalau Hantu Muka Dua juga yang menyelamatkan dirimu dari perkosaan?!"

Nyi Bodong terkejut sampai tersurut satu langkah. Menatap tak berkesip pada mahluk bayangan di depannya. "Apa maksud ucapanmu?" tanya Nyi Bodong pula.

"Sayang aku tak bisa menceritakan sekarang padamu. Di lain waktu jika kita bertemu lagi akan aku jelaskan semuanya. Saat ini aku harus pergi he satu tempat untuk memenuhi janji dengan seseorang."

"Mahluk kurang ajar! Jika kau pergi tanpa memberi penjelasan akan kubunuh kau!" Mengancam Nyi Bodong.

Mahluk bayangan sunggingkan senyum. "Aku tidak takut pada gertakanmu. Kematian bukan apa-apa bagiku. Tapi jika kau keliwat memaksa, baik! Akan kujelaskan. Pangeran Matahari tidak pernah sempat memperkosamu. Karena sewaktu dia hendak menggagahimu, Hantu Muka Dua yang kebetulan ada di tempat itu menghantam kemaluannya dengan satu pukulan sakti. Kau pernah melihat darah di sekitar pahamu. Itu bukan darah karena kegadisanmu telah dirampas Pangeran Matahari. Tapi itu adalah darah yang mengucur dari luka pada kemaluan manusia terkutuk itu!"

"Apa?!" Nyi Bodong menjerit keras. Sekujur tubuh nenek muka putih ini bergetar hebat. "Jadi...jadi kau tahu siapa diriku?!"

"Aku tak perduli siapa dirimu. Aku hanya turut sedih atas musibah yang kau alami..."

Mendengar ucapan orang Nyi Bodong jadi terenyuh hatinya. Saat itu mahluk bayangan dilihatnya bergerak menjauh dan semakin samar. "Hai! Tunggu!" seru Nyi Bodong.

Namun perempuan bayangan telah sima dari pemandangan.

BAB 6
LIRIS Merah sadar dia tak sanggup lagi meneruskan larinya. Padahal orang yang dikejar hanya tinggal beberapa tombak saja di depan sana. Malam dingin sekali karena belum lama, hujan lebat baru berhenti. Namun saat itu gadis murid mendiang Hantu Malam Bergigi Perak ini merasa diri seperti dipanggang. Sekujur tubuhnya dilanda panas luar biasa. Asap mengepul mulai dari kepala sampai ke kaki. Tenggorokan seperti diganjal bara menyala. Sepasang mata mulai membengkak dan dari mulutnya membersit darah kental, meleleh di sudut bibir. lnilah kelainan atau penyakit yang dideritanya selama bertahun-tahun. Seperti diketahui kelainan yang sama juga terjadi atas diri adiknya, Liris Biru.

"Wi... Wiro! Tolong!" Liris Merah berteriak sambil tangan kanan menggapai ke depan, kearah orang yang sejak tadi diikuti dan dikejarnya. Namun saat itu suaranya hanya tinggal merupakan seruan kelu halus. Dua lutut gadis cantik ini goyah. Tubuhnya tersungkur ke tanah. Mulut keluarkan suara erangan. Hidung hembuskan nafas sengal. Dua mata mendelik nyalang, menatap tak berkesip ke langit gelap hitam. Dada dan tenggorokan bergerak turun naik. Keadaannya tidak beda dengan orang yang tengah sakarat.

Tiba-tiba dalam gelap berkelebat satu bayangan hitam. Satu sosok tinggi besar kemudian berhenti dan berdiri di samping Liris Merah yang tergelimpang di tanah. Si gadis tidak melihat sosok yang ada di sebelahnya namun telinganya menangkap suara kaki dan gerakan orang.

"Wiro..." Suara Liris Merah perlahan sekali. Tapi masih bisa didengar oleh orang tinggi besar berpakaian serba hitam yang tegak di sampingnya.

Tampang orang ini jadi berkerut mendengar si gadis menyebut nama itu. Di tangan kiri dia membawa sebuah benda bercahaya, dibungkus kain hitam. Orang ini kemudian pergunakan kaki kanannya untuk menyentuh tubuh si gadis. "Kau menyebut nama itu. Katakan apa sangkut pautmu dengan Pendekar Dua Satu Dua!"

"Dengar, siapapun kau adanya. Aku butuh pertolongan. Kalau tidak segera masuk ke dalam telaga, sungai, kolam atau apa saja yang ada airnya, aku akan segera menemui kematian. Tolong, cepat."

Orang tinggi besar membungkuk memperhatikan wajah Liris Merah. "Ah... Ternyata wajahmu cantik sekali. Tubuhmu juga bagus." Orang itu lalu tertawa bergelak. "Tidak dinyana, di malam gelap dingin begini rupa aku mendapat rejeki besar. Ada seseorang yang bakal menghangatkan tubuhku! Ha ha ha!"

"Demi Tuhan, jangan tertawa dan bicara saja. Tolong... aku butuh air." Liris Merah meminta setengah meratap.

"Aku tahu... Dari kepulan asap yang keluar dari tubuhmu keadaanmu tidak beda seperti batang kayu terbakar. Kalau tidak habis terkena pukulan beracun, kau pasti mengindap satu penyakit aneh! Jika aku menolongmu, kau mau membalas dengan apa?"

"Aku bersedia melakukan apa saja..."

"Betul?!"

"Aku tidak dusta!"

"Ha ha ha!" Si tinggi besar tertawa bergelak. "Kau mau bersumpah?!"

"Aku bersumpah!" jawab Liris Merah yang berada dalam keadaan sangat terdesak dan butuh pertolongan demi menyelamatkan jiwanya.

Sambil terus mengumbar tawa orang tinggi besar ulurkan tangan kanan, mencekal dada pakaian merah lalu memanggul si gadis dan melarikannya ke arah timur. Dari gerakan lari yang cepat serta jurusan yang dituju agaknya orang ini cukup tahu seluk beluk kawasan itu. Tak selang berapa lama dia sampai di satu tikungan sungai berair cukup deras. Orang ini letakkan bungkusan bercahaya yang di bawanya di tebing sungai lalu penuh nafsu dia mendekap tubuh Liris Merah erat-erat, kemudian mencebur masuk ke dalam sungai.

Di dalam sungai yang airnya dingin sekali orang ini terus saja memeluki Liris Merah. Sesekali malah menciumi wajah si gadis. Cukup lama berada dan berendam dalam sungai, perlahan-lahan hawa panas yang mendera tubuh Liris Merah mulai berkurang dan akhirnya lenyap sama sekali. Gadis ini celupkan kepalanya ke dalam air beberapa kali. Setiap keluar dari air dia menarik nafas panjang. Dari mulutnya mengepul uap panas.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya orang yang memeluk Liris Merah.

"Aku merasa segar..."

"Apa sebenarnya yang terjadi denganmu?"

"Akan aku ceritakan. Lepaskan pelukanmu. Aku ingin naik ke darat." Liris Merah merasa tidak senang karena dirinya terus dipeluk dan diciumi.

"Kau mau melarikan diri?"

"Tidak. Aku berterima kasih kau telah menolongku. Lepaskan pelukanmu!"

"lngat pada sumpah yang telah kau ucapkan?"

"Ya, aku ingat..." jawab Liris Merah. Saat itu tiba-tiba saja si gadis merasa sangat takut.

"Aku tidak percaya padamu. Kita keluar dari sungai sama-sama!" Sambil terus mendekap tubuh Liris Merah, si tinggi besar melesat ke udara dan agaknya dia sengaja jatuhkan diri di samping serumpun semak belukar di tepi sungai. Tanpa memberi kesempatan bergerak pada gadis yang dihimpitnya orang ini berkata,

"Gadis cantik, katakan siapa namamu. Apa yang terjadi dengan dirimu dan mengapa kau berada di tempat begini rupa?"

Liris Merah berusaha melepaskan diri dari himpitan orang tapi tak berhasil. Ketika dia hendak berontak, satu totokan melanda dadanya sebelah kiri sehingga sekujur tubuhnya terasa lemas.

"Aku menunggu jawabanmu."

"Katakan dulu siapa kau adanya"

"Rimba persilatan mengenal aku dengan nama Pangeran Matahari."

"Apa?!" Kejut Liris Merah setengah mati. Dia berusaha memperhatikan wajah orang yang menghimpitnya. Dia melihat satu wajah garang angker. Hidung miring ke kiri, pipi dan rahang kiri melesak. Mata kiri terbenam di rongganya. Pada kening kiri di bawah ikatan kain merah tampak cacat memanjang bekas luka.

"Ya Tuhan," si gadis mengucap dalam hati. "Lebih baik tadi aku mati saja dari pada jatuh ke tangan manusia terkutuk ini!"

"Gadis cantik, kau beruntung mendapat pertolonganku. Setelah tahu siapa diriku, apa kau masih tidak mau bicara..."

"Aku akan bicara. Tapi berjanji kau akan memperlakukan aku baik-baik..."

Pangeran Matahari tertawa lebar. Matanya yang sebelah kanan bergerak berputar. "Aku akan memperlakukan kau luar biasa baik. Kau lihat saja nanti. Sekarang mulailah bicara."

"Namaku Liris Merah. Aku adalah murid Hantu Malam Bergigi Perak..." Dengan memberi tahu siapa gurunya Liris Merah berharap Pangeran Matahari tidak akan berbuat kurang ajar terhadap dirinya.

"Ah, ternyata kau adalah seorang dewi rimba persilatan. Aku pernah mendengar nama besar gurumu. Tapi beberapa waktu lalu aku menyirap kabar. Gurumu telah menemui ajal di tangan Sinto Gendeng, nenek geblek dari Gunung Gede. Lalu apa yang kau lakukan di tempat ini. Tadi kudengar kau menyebut nama Wiro. Dia adalah murid nenek jelek itu!"

"Aku tengah mengejar pemuda itu..."

"Hemmm... Untuk apa mengejar? Kau bercinta dengannya?" tanya Pangeran Matahari. Nada suaranya menyatakan ketidak senangan.

"Aku ingin mendapatkan sebuah benda."

"Benda apa?"

"Sebuah kitab tentang pengobatan."

"Aha! Tadinya aku mengira kau mengejar untuk membalas dendam kematian gurumu! Ketahuilah, aku juga tengah mencari kitab itu. Kitab Seribu Pengobatan."

"Kalau begitu kita bisa sama-sama melakukan pengejaran."

"Wiro sudah lari cukup jauh. Sulit untuk mengejar. Mengapa kita tidak lebih dulu menghabiskan waktu bersenang-senang di tempat ini sambil menunggu terbitnya sang surya? Atau kau ingin kita mencari tempat yang lebih baik dan lebih hangat. Sebuah goa atau pondok misalnya?"

"Apa maksudmu?!" tanya Liris Merah dengan bulu kuduk merinding. Wajah si gadis mendadak pucat. Dia coba kerahkan hawa sakti pada aliran darahnya, memusnahkan totokan, namun tak berhasil. Tubuhnya masih saja tetap lemas.

Pangeran Matahari menyeringai lalu singkapkan baju Liris Merah dan benamkan wajahnya ke dada si gadis. Liris Merah menjerit tanpa ada siapapun yang mendengar apa lagi memberi pertolongan. "Demi Tuhan, hentikan perbuatan terkutukmu ini!"

Pangeran Matahari angkat wajahnya dari dada si gadis. "Dengar, dalam waktu dekat aku punya satu rencana besar. Kau akan kujadikan salah satu orang kepercayaanku. Siang hari kau akan jadi pendampingku. Malam hari kau akan jadi penghiburku."

Tangan manusia terkutuk ini meluncur ke pinggul Liris Merah, menarik ke bawah celana merah yang dikenakan si gadis. Tak sengaja Pangeran Matahari melihat bungkusan hitam yang diletakkannya di tanah memancarkan cahaya lebih terang.

"Ada bahaya!" ucap Pangeran Matahari dalam hati. Serta merta dia melompat menyambar bungkusan. Pada saat itu ada suara orang berseru.

"Pangeran Matahari! Sahabat seperjuangan! Mohon maaf kalau kedatanganku mengganggu hajat besarmu!"

Pangeran Matahari menggeram dan cepat berpaling. Dalam kegelapan malam dia melihat seorang lelaki muda berpakaian sangat bagus dan berwajah tampan. Rambut panjang sebahu, kening tinggi dihias sepasang alis tebal. Di kiri kanan lelaki ini berdiri delapan orang rata-rata bertubuh tegap, mengenakan seragam hitam. Di setiap dada kiri baju yang dikenakan ada sulaman kuning gambar joglo dan dua keris bersilang.

"Manusia- manusia sialan! Siapa kalian?!" Bentak Pangeran Matahari sambil tangan kirinya membuka buhul bungkusan yang dipegang di tangan kanan.

"Sekali lagi mohon maafmu Pangeran Matahari." kata lelaki muda berpakaian bagus sambil maju dua langkah. "Kita sama-sama sahabat seperjuangan..."

"Tunggu dulu!" hardik Pangeran Matahari. "Melihat tampang kalian baru kali ini. Bagaimana bisa sesumbar mengatakan aku sebagai sahabat seperjuangan..."

"Biar saya jelaskan..."

"Sudah! Aku tidak butuh penjelasan. Aku tidak ada waktu mendengar penjelasan. Lekas minggat dari hadapanku atau kubuat amblas kalian semua!"

"Mohon maaf dan mohon sabarmu, Pangeran Matahari. Saya Sawung Guntur. Orang-orang dan para pengikut saya memanggil saya Pangeran Muda. Saya pimpinan tertinggi Keraton Kaliningrat Saya sudah lama mendengar nama besarmu. Saya juga tahu kalau Pangeran punya cita-cita untuk mengusai rimba persilatan. Sementara saya ingin mengambil dan mengusai hak saya sebagai pemilik sah tahta Kerajaan."

"Ceritamu enak didengar. Tapi aku tidak ada urusan, tidak punya waktu..."

"Dengar dulu Pangeran. Saya bisa membantumu mewujudkan cita-citamu menjadai Raja di Raja rimba persilatan. Sementara jika kau sudi, kau juga bisa membantu saya mendapatkan apa yang saya inginkan. Jika kita berdua bergabung, kekuatan mana yang bisa menghadapi?"

"Aku Pangeran Matahari cukup punya kemampuan melakukan sendiri apa yang ingin aku lakukan. Mendapatkan apa yang ingin aku dapatkan. Pangeran Muda, siapapun kau adanya, dari Keraton manapun kau berasal, lekas pergi dari tempat ini." Kain bungkusan di tangan kanan Pangeran Matahari terbuka, jatuh ke tanah. Kini di tangan Pangeran Matahari kelihatan sebuah lentera dalam kedaaan menyala, memancarkan tiga warna angker.

"Lentera lblis..." ucap Pangeran Muda yang mengaku bernama Sawung Guntur. "Beruntung saya dapat melihat dengan mata kepala sendiri senjata paling ditakuti dalam rimba persilatan!"

Mendengar disebutnya nama Lentera lblis delapan orang anak buah Pangeran Muda serentak bersurut ke belakang.

"Apa kau mau menyaksikan kehebatan lentera ini?" Tanya Pangeran Matahari dengan nada pongah.

Pangeran Muda tersenyum dan menjawab. "Mana saya berani berbuat yang bukan-bukan..."

"Kalau begitu biar kuberikan sedikit pelajaran..." Habis berkata begitu Pangeran Matahari renggangkan dua kaki lalu gerakkan Lentera lblis ke kanan.

"Wusss!" Selarik sinar merah berkiblat. Empat orang anggota Keraton Kali Ningrat di samping kiri Pangeran Muda menjerit Tubuh mereka dikobari api dan mencelat ke udara. Lalu jatuh bergedebukan di tanah dalam keadaan hangus merah leleh mengerikan!

Pangeran Muda dan empat orang anak buahnya berseru kaget. Kalau saja bukan menghadapi momok nomor satu rimba persilatan serta punya satu kepentingan besar pasti saat itu Pangeran Muda dan empat anak buahnya yang masih hidup akan melabrak habis Pangeran Matahari.

"Pangeran Matahari! Kehebatan dan keganasanmu nyatanya bukan isapan jempol belaka! Sayang hal itu kau perlihatkan pada kami orang-orang yang datang membawa persahabatan. Saya sangat menyesalkan. Saya akan pergi dari sini. Tapi saya punya satu pertanyaan padamu! Apakah kau masih membutuhkan sebuah benda yang kau anggap keramat?"

"Benda apa?!" tanya Pangeran Matahari membentak dan dua matanya mendelik. Hatinya jadi tidak enak. Darah panas naik ke kepala.

"Bendera Darah!" Jawab Pangeran Muda. Lalu dengan sikap melecehkan, tanpa menunggu jawaban orang dia memutar tubuh, siap tinggalkan tempat itu.

Tampang Pangeran Matahari berubah. "Tunggu!" seru Pangeran Matahari. "Bendera Darah milikku. Bendera itu aku tinggalkan di satu tempat. Tak satu orangpun tahu. Apakah kau telah mencuri bendera itu? Kau berani mencari mati!"

"Kami menemukan Bendera Darah secara tak sengaja di Goa Selarong. Bukankah kau masih tetap punya niat untuk mendirikan partai Bendera Darah? Sayang sekali kalau partai berdiri tanpa bendera sakti dan sangat bersejarah itu. Apa artinya sebuah partai tanpa bendera kebesaran! Ha ha ha!"

Geraham Pangeran Matahari bergemeletakan. Rahang menggembung, pelipis bergerak-gerak. "Kau membawa bendera itu saat ini?"

Pangeran Muda tersenyum. "Saya tidak sebodoh itu!"

"Pangeran setan! Kalau sampai Bendera Darah rusak atau hilang, nasibmu akan lebih jelek dari empat anak buahmu yang barusan kubikin mampus!"

"Saya percaya kau mampu melakukan hal itu. Apakah kini kau menerima ajakan saya untuk bersahabat?" Tanya Pangeran Muda pula.

Pangeran Matahari memaki dalam hati. Otaknya diputar Lalu dia men jawab. "Baik, Satu minggu dari sekarang naiklah ke puncak Gunung Merapi. Tunggu aku sampai datang. Di sana kita akan membicarakan bagaimana cara dan urusan kita bersahabat! Jangan lupa membawa Bendera Darah. Jika kau menipuku, kematian akan jadi bagianmu walau kau punya sepuluh nyawa cadangan sekalipun!"

Pangeran Muda tersenyum lalu bbngkukkan badan. "Saya gembira mendengar ucapan Pangeran. Sekarang silahkan melanjutkan hajat besarmu." Pangeran Muda bicara sambil memandang ke arah Liris Merah yang tergeletak di tanah dengan dada tersingkap serta celana merosot sampai ke pinggul. Ketika melewati empat orang anak buahnya yang tewas mengerikan Pangeran Muda gelengkan kepala.

"Lentera Iblis. Benar-benar luar biasa. Sanggup menembus ilmu kebal Atos Sejagat yang dimiliki anak buahku. Aku harus dapat merampas senjata itu! Pangeran Matahari, tunggu pembalasanku. Empat orang anak buahku tidak bisa mati percuma begitu saja!"

BAB 7
KAKI Bukit Menoreh. Menjelang pagi, hari ke empat belas. Di satu tempat Wiro hentikan lari. Tengah dia menikmati indahnya pe-mandangan dikala sang surya muncul di ufuk timur tiba-tiba ter-dengar suara berisik menyengat liang telinga. Telinga sang pen-dekar sampai berdesing saking kaget dan sakit. Mata membesar. Lalu mulut mengulum senyum. Dia kenal betul suara itu. Suara kaleng berisi batu kerikil yang digoyang dengan pengerahan tenaga dalam! Siapa lagi kalau bukan orang tua aneh itu!

"Kakek Segala Tahu!" Wiro berseru. "Kau dimana Kek?!" Suara kerontangan kaleng datang dari arah timur. Wiro menatap kearah itu. Namun suara berubah datang dari arah selatan. Ketika Wiro memandang ke selatan suara kerontangan kaleng malah muncul dari barat. Wiro tersenyum. "Kakek jahil itu mempermainkanku!" katanya dalam hati.

Mendongak ke arah sebuah pohon besar dia melihat orang yang dicarinya ada di sana. Duduk berjuntai uncang-uncang kaki di atas sebuah dahan besar berpakaian butut rombeng, mengenakan caping bambu di atas kepala. Di punggungnya ada sebuah buntalan. Di tangan kiri dia memegang kaleng rombeng yang setiap kali digoyang mengeluarkan suara berisik menggetarkan gendang-gendang telinga. Di tangan kanan dia memegang sebuah ubi panggang yang dimakannya dengan lahap sampai keluarkan suara menyiplak.

"Kek, aku lapar! Bagi ubimu!" Wiro berseru lalu melesat ke atas pohon, duduk di samping si kakek.

Si kakek berpaling. Dua matanya ternyata putih buta! "Eh, kau rupanya! Lapar? Bagusnya aku masih ada sepotong persediaan. Ini makanlah!" Dari dalam kantong bekalnya si kakek di atas pohon mengeluarkan sepotong ubi bakar.

"Terima kasih Kek, aku memang lagi lapar-laparnya." Sambil mengunyah ubi panggang Wiro bertanya. "Kek, sejak peristiwa di lorong kematian, apakah kau baik-baik saja?"

"Baik tidak baik bagiku sama saja. Puluhan tahun hidup di dunia ini apa kau kira tidak jenuh? Waktu di lorong jahanam itu aku pikir-pikir mengapa aku tidak mati saja. Sudah buta, buruk rupa begini hidup di dunia sengsara pula! Ha ha ha!" Si kakek tertawa.

"Kek, ubimu enak juga. Ah, capingmu baru! Kek, beruntung aku bertemu kau. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan. Boleh?"

Kakek bercaping yang dalam rimba persilatan tanah Jawa dikenal dengan sebutan Kakek Segala Tahu tertawa lebar lalu goyangkan kaleng rombengnya dua kali. Wiro cepat tekap kedua telinganya. Walau mata putih buta namun dengan kesaktiannya si kakek mampu melihat secara aneh.

"Dari bau pakaianmu aku tahu kau mengenakan baju dan celana bukan milikmu! Dari gerakanmu sewaktu melompat ke atas pohon ini aku tahu kalau pakaianmu kekecilan. Pakaian perempuan. Tangan dan kaki tergantung. Apa yang terjadi? Apa kau sudah jadi badut sekarang? Kau mencuri pakaian perempuan mana? Ha ha ha!"

"Aku tidak mencuri Kek. Ada yang memberi. Lumayan dari pada bugil!"

"Pasti yang memberikan gadis cantik!"

"Bagaimana kau tahu Kek?" tanya Wiro.

"Gampang saja. Pakaian perempuan yang punya pasti perempuan!" Si kakek tertawa gelak-gelak.

Wiro ikutan tertawa. "Kek, setelah kau meninggalkan kawasan Lorong Kematian tempo hari, apakah kau sudah bertemu dengan Nyi Roro Manggut?"

Kakek Segala Tahu mengangguk-angguk. Wajahnya tampak berseri.

"Wah, pasti seru pertemuannya. Pakai peluk cium segala Kek?!"

"Huss! Urusan orang tua-tua kau anak muda mengapa kepingin tahu saja?"

Wiro tertawa. "Kek, aku dalam perjalanan ke Bukit Menoreh. Menemui seseorang. Saat perjanjian adalah nanti tepat pertengahan malam..."

"Heran, janji malam-malam buta. Di puncak bukit angker pula. Kau menemui seorang manusia atau sebangsa mahluk jejadian?" bertanya Kakek Segala Tahu.

"Ah, agaknya kau sudah tahu aku akan menemui mahluk aneh. Justru aku mau tanya. Apa yang kau ketahui mengenai mahluk perempuan cantik berbentuk bayangan yang akan aku temui itu."

Si kakek mendongak, menatap ke langit yang mulai terang, goyangkan kalengnya dua kali lalu berkata. Lagi-lagi Wiro terpaksa menekap telinga. "Aku tak bisa memberi jawaban. Aku tak bisa menyelidik. Dia bukan mahluk alam roh dunia kita. Dia sudah meninggal lebih dari seribu tahun silam dan kematiannya di dunia lain..."

Wiro ingat sesuatu. "Aku sudah menduga. Muncul dalam ujud bayang-bayang. Agaknya dia adalah mahluk berasal dari Latanahsilam, negeri seribu dua ratus tahun lalu yang telah meninggal dunia. Aku pernah kesasar ke sana, Kek." Sambil menggaruk kepala Wiro bertanya. "Kek, menurut penglihatanmu apakah dia menaruh maksud baik atau jahat terhadapku?"

Kakek Segala Tahu buka capingnya. Walau hari masih pagi dan udara masih sejuk seperti orang kepanasan kakek ini kipas kipaskan capingnya di depan dada.b"Kalau aku katakan, nanti kau pikir-pikir saja sendiri." Jawab Kakek Segala Tahu. "Anak sableng, ketahuilah perempuan cantik berujud bayang-bayang itu tengah jatuh cinta padamu!"

"Apa Kek?!" Wiro tersentak kaget.

Si kakek tertawa gelak gelak. Lalu kerontangkan kaleng rombengnya hingga kembali Wiro terpaksa tekap dua telinganya. "Kau bercanda, Kek!"

Si orang tua geleng-geleng kepala. "Anak muda, begitu banyak gadis cantik di sekelilingmu.bSampai-sampai kau punya kekasih dari alam roh. Apakah belum punya niat untuk kawin?"

Kembali Pendekar 212 dibuat kaget. "Kawin Kek? Maksudmu dengan perempuan bayangan itu?"

Kakek Segala Tahu kerontangkan kaleng rombengnya berulang kali lalu tertawa mengekeh. "Sudah... sudah! Aku harus pergi sekarang. Tapi dengar, ada satu hal penting yang perlu aku beritahukan. Aku menyirap kabar akan terjadi satu peristiwa besar dalam rimba persilatan. Banyak tokoh rimba persilatan yang akan terlibat. Termasuk dirimu! Waktunya tak lama lagi. Tak sampai sepuluh hari dimuka. Jadi kau berhati-hatilah..."

"Bisa kau terangkan peristiwa besar apa yang kau maksudkan. Kek?" tanya Wiro pula.

"Banyak prasangka namun sulit diduga." Kakek Segala Tahu goyangkan kalengnya dua kali lalu menatap ke langit. "Ah, cahaya sang surya mulai menyilaukan. Aku tak mampu melihat jelas. Namun samar-samar ada tanda merah di langit. Tanda merah, bisa berarti darah atau api. Bisa dua-dua sekaligus..."

Wiro menggaruk kepala. "Sebelum pergi aku punya satu nasihat untukmu..."

"Urusan kawin Kek?" tanya Wiro.

"Nah, nah! Kau kini malah ingat-ingat kawin! Selangkanganmu sudah mulai gatal ya? Ha ha ha!"

"Enak saja kau bicara!" cemberut Wiro tapi sambil menggaruk bagian bawah perutnya.

"Weh, kalau tidak gatal mengapa anumu kau garuk?!" Kakek Segala tahu tertawa panjang.

Wiro hanya bisa garuk-garuk kepala. "Anak sableng, dengar nasihatku baik-baik. Kau jangan sekali-kali kualat sama gurumu."

"Maksud Kakek Eyang Sinto Gendeng?"

"Memangnya kau punya berapa guru?"

"Kek, aku sangat menghormati Eyang Sinto. Seumur hidup aku ingin berbakti padanya. Tapi belakangan ini..."

"Tak usah tapi-tapian. Kau tak usah menceritakan, aku sudah tahu apa yang terjadi antara kau dan Sinto Gendeng. Walau nenek itu edan seribu edan, sinting seribu sinting, jahat seribu jahat, dia tetap gurumu. Aku yakin selalu ada maksud baik dibalik semua tindakannya yang aneh-aneh. Kalau tidak karena dia, kau tidak selamat jadi orang seperti sekarang ini. Eh, apa jawabmu?! Jangan diam saja!" Si kakek kerontangkan kaleng di tangan kiri.

"Saya tahu Kek. Eyang Sinto yang menyelamatkan jiwaku dari kobaran api sewaktu saya masih bayi. Dia yang kemudian memelihara saya. Memberi ilmu kepandaian serta kesaktian. Saya perhatikan nasihatmu baik-baik Kek..."

"Jangan cuma diperhatikan. Tapi dilaksanakan!"

"lya Kek. Mungkin saya memang sudah kualat sama Eyang Sinto. Saya akan mencari beliau dan minta maaf. Buruk baik dia tetap guru yang saya hormati. Selain itu..."

Wiro hentikan ucapan. Berpaling ke samping ternyata Kakek Segala Tahu tak ada lagi di sebelahnya. Di kejauhan kemudian terdengar suara kerontangan kaleng.

********************
PUNCAK Bukit Menoreh. Bagi Wiro tidak gampang mencari pohon jati yang miring atau doyong ke timur di malam buta begitu rupa. Pohon doyong tersebut adalah tanda yang dikatakan perempuan bayangan sebagai tempat pertemuan. Wiro nyaris putus asa. Malam hampir mendekati pertengahan, saatnya perjanjian. Walau sebenarnya ada bulan purnama namun sang rembulan sendiri tersembunyi di balik awan gelap.

"Jangan-jangan mahluk itu menipuku..." pikir Wiro.

Lapat-lapat terdengar raungan anjing hutan di kejauhan, membuat Wiro merasa tambah tidak enak. Lalu ada suara mendesis. Wiro berpaling. Tepat pada saat seekor ular besar yang melilit berjuntai di cabang sebatang pohon melesat hendak mematuk kepalanya. Secepat kilat pemuda ini jatuhkan diri ketanah lalu bergulingan. Memaki panjang pendek. Ketika bangkit berdiri Wiro dikagetkan oleh suara menggelepar.

Dia berlaku waspada, merunduk sambil memandang ke depan. Ternyata ada seekor burang melesat keluar dari balik sebatang pohon rendah dan terbang dalam kegelapan malam ke arah timur. Tak sengaja Wiro terus memperhatikan. Burung lenyap di bagian bukit yang agak rendah dan hanya ditumbuhi sederetan pohon jati tua. Mendadak Wiro terkejut. Ketika dia mengawasi salah satu dari pohon jati itu bentuknya miring ke arah timur!

"Aneh. Burung tadi seperti memberiku petunjuk. Agaknya bukan burung biasa..." pikir Pendekar 212 lalu cepat berlari ke arah deretan pohon-pohon jati.

Wiro sampai di dekat pohon jati tua yang miring ke timur. Memandang berkeliling dia tidak melihat seorangpun berada di tempat itu. Wiro mendongak ke langit. Awan gelap yang sejak tadi menutupi rembulan kini bergerak ke barat. Bulan purnama empat belas hari tersembul menebar cahaya cukup terang di sekitar kawasan Bukit Menoreh. Hanya sayang saat itu hujan turun rintik-rintik. Angin bertiup kencang dan udara mendadak dingin.

"Pertanda apa lagi ini," membatin Wiro. Beberapa kali dia memandang berkeliling, memperhatikan keadaan sekitarnya. Perempuan bayangan tetap belum kelihatan. Akhirnya Wiro duduk di tanah, di bawah pohon jati tua yang miring ke timur. Mendadak ada suara burung berkicau. Tiga kali berturut-turut.

Wiro ingat itu adalah salah-satu tanda yang dikatakan mahluk bayangan. Cepat Wiro bangkit dari duduknya. Memandang berkeliling. Dia tak melihat burung juga tidak melihat perempuan bayangan.

"Pendekar, apakah kau sudah lama berada di sini?" Tiba-tiba ada suara menegur. Wiro berpaling ke kiri. Laksana turun dari langit, satu bayangan berupa sosok perempuan muncul kemudian berdiri lima langkah dari hadapan Wiro. Walau cahaya rembulan tertindih kegelapan malam namun sosok bayangan itu kelihatan jelas. Wajahnya yang cantik memandang tersenyum ke arah Wiro. Sang pendekar mencium bau harum semerbak.

"Aku belum lama berada di sini. Tadinya aku mengira..."

Mahluk bayangan tertawa. "Kau kira aku menipu?"

Wiro menggaruk kepala. "Apakah kau membawa kitab itu?"

"Tentu saja. Aku tidak akan berjanji dusta mengecewakanmu. Hanya saja saat ini ada yang lucu pada dirimu."

“Lucu apa?" tanya Wiro.

"Kau mengenakan baju kesempitan. Biar aku betulkan dulu." Mahluk bayangan berbentuk perempuan cantik lalu menarik bahu baju hitam kiri kanan yang dipakai Wiro. Menarik bagian pinggang kiri kanan lalu dua ujung lengan. Setelah itu dia membungkuk untuk menarik dua pergelangan kaki celana hitam yang menggantung. Setiap sentuhan tangan perempuan bayangan ini membuat sekujur tubuh Pendekas 212 bergetar. Sebaliknya Wiro juga merasakan tangan yang menyentuh pakaian dan tubuhnya itu dihangati oleh perasaan yang menggelora.

"Nah, itu lebih baik. Kau sekarang tidak terlihat seperti badut lagi." Wiro memperhatikan baju dan celana hitam yang dikenakannya. Aneh, baju hitam itu kini terlihat lebih besar, dua lengan tidak lagi menggantung. Begitu juga dua ujung kaki celana hitam, kini tidak kependekan lagi, menjulai panjang menutupi mata kakinya.

"Terima kasih. Kau punya keahlian menata pakaian rupanya," ucap Wiro sambil tersenyum. "Bagaimana mengenai kitab itu?"

"Ah, kau sangat tidak sabaran. Aku mau tanya dulu, apakah kau datang sendirian ke sini? Tidak merasa ada yang mengikuti?"

"Sesuai permintaanmu aku datang sendirian. Hanya malam kemarin memang seperti ada yang mengikuti. Tapi sejak aku sampai di kaki bukit, aku yakin tidak ada yang menguntit."

"Kau bisa mengira-ngira siapa orang yang mengikutimu malam kemarin?"

"Sulit aku menduga," jawab Wiro.

"Baiklah, Kitab Seribu Pengobatan akan aku serahkan sekarang padamu." Mahluk bayangan perempuan cantik menggerakkan tangan kanannya ke balik punggung.

Ketika tangan itu diajukan ke depan, Wiro melihat sebuah benda yang bukan lain adalah Kitab Seribu Pengobatan. Kitab ini tebal sekali. Wiro cepat mengambil kitab itu. Walau sangat tebal karena terbuat dari daun lontar halus ternyata kitab itu enteng sekali. Kitab disimpan di balik baju.

"Kau sekarang sudah mendapatkan kitab itu. Apa yang akan kau lakukan?"

"Kitab ini milik guruku Eyang Sinto Gendeng. Sebelum aku kembalikan pada beliau terlebih dulu akan aku baca dan pelajari agar bisa kupergunakan untuk menolong beberapa sahabat yang menderita penyakit."

"Siapa saja sahabatmu itu?" tanya perempuan bayangan.

"Tak mungkin aku sebutkan satu persatu..."

"Kalau begitu katakan saja apa penyakitnya"

Wiro tersenyum dan menggeleng. "Soal penyakit seseorang, aku tidak mungkin menceritakan pada orang lain."

Lama perempuan bayangan menatap wajah Wiro. Diam-diam dia sangat mengagumi sifat sang pendekar. Lalu dia berkata. "Aku tidak ingin mencari tahu rahasia penyakit seseorang. Niatku hanya ingin menolong semata. Secara kebetulan aku mengetahui siapa yang pertama kali ingin kau tolong. Bukankah mereka dua gadis kakak beradik murid seorang nenek sakti yang konon telah menemui kematian di tangan gurumu?"

"Eh, bagaimana kau tahu?"

"Bicara soal kematian, apakah kau sudah tahu bahwa Hantu Muka Dua, kerabatku dari negeri Latanahsilam telah menemui ajal beberapa hari lalu?"

Walau selama di negeri 1200 tahun silam Hantu Muka Dua alias Lajundai merupakan mahluk paling jahat dan menjadi musuh besarnya, namun mendengar keterangan perempuan bayangan mau tak mau Wiro menjadi terkejut. "Bagaimana kejadiannya? Siapa yang membunuh mahluk itu?" tanya Wiro pula.

"Seorang nenek sakti bermuka putih yang belakangan ini menggegerkan rimba persilatan. Namanya Nyi Bodong."
BAB 8
WIRO terkejut mendengar disebutnya nama itu.

"Kau tak percaya? Aku menyaksikan sendiri. Kasihan Hantu Muka Dua. Aku berusaha mencegah karena Hantu Muka Dua telah bertobat. Namun gagal..."

"Nyi Bodong," mengulang Wiro menyebut nama itu.

"Kau mengenalnya?"

"Aku pernah melihatnya beberapa kali."

"Pendekar, kau tahu siapa sebenarnya nenek itu?"

Wiro gelengkan kepala. Perempuan bayangan kemudian mengalihkan pembicaraan. "Mengenai dua gadis kakak beradik murid Hantu Malam Bergigi Perak yang ingin kau sembuhkan dari penyakitnya. Bukalah Kitab Seribu Pengobatan pada halaman seratus enam belas. Disitu ada petunjuk pada pengobatan tiga ratus sebelas."

"Luar biasa!" ucap Wiro. "Bagaimana kau bisa ingat isi kitab itu?"

Mahluk bayangan tersenyum. "Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan. Semua itu atas berkah dan kehendak Yang Maha Kuasa."

Wiro mengusap Kitab Seribu Pengobatan di balik pakaiannya lalu bertanya. "Selama kitab ini ada padamu, apakah ada orang yang telah kau tolong?"

"Memang ada. Dan tujuanku untuk mendapatkan kitab itu adalah semata-mata untuk menolong orang itu"

"Berhasil?" Perempuan bayangan mengangguk. "Siapa? Apa penyakitnya?" tanya Wiro.

"Turut ucapanmu tadi, bukankah tidak baik memberi tahu orang lain atas sakit seseorang? Aku tak bisa mengatakan. Tapi kelak kau akan menemui orang itu karena selama ini kalian bersahabat."

Wiro garuk-garuk kepala. "Aku tahu, kau berasal dari negeri Latanahsilam. Kau pasti salah seorang dari sekian banyak yang terpesat ke tanah Jawa sewaktu lstana Kebahagiaan milik Hantu Muka Dua hancur lebur. Bolehkan aku mengetahui namamu?"

"Mohon maafmu Pendekar. Saat ini aku belum bisa memberi tahu."

"Kalau begitu aku punya satu permintaan. Kuharap kau tidak menolak."

"Katakanlah," ucap perempuan bayangan sambil menatap.

Saat itu Wiro juga memandang memperhatikan hingga sepasang mata mereka saling beradu. Ada perasaan aneh dalam diri Pendekar 212. Terlebih ketika dia ingat ucapan Kakek Segala Tahu yang mengatakan bahwa mahluk di hadapannya ini tengah jatuh cinta atas dirinya. Hal yang sama juga terjadi pada perempuan bayangan. Ujudnya yang samar bergetar. Pandangan matanya menyimpan rahasia hati.

"Sejak pertemuan kita pertama kali sampai saat ini kau selalu menampakkan diri dalam ujud bayangan. Apakah kau bersedia memperlihatkan dirimu dalam ujud asli?"

"Seperti yang pernah dilakukan oleh Bunga, gadis alam roh sahabatmu itu?"

Ucap perempuan bayangan pula yang membuat Pendekar 212 jadi terperangah lalu senyum garuk-garuk kepala. "Pengetahuanmu luar biasa. Seluas laut setinggi langit."

"Kau keliwat menyanjung. Ketahuilah ujud dan rupa asliku buruk. Aku kawatir setelah melihat kau tidak akan mau bertemu lagi denganku."

Wiro tertawa. Pemuda ini ulurkan tangan kanannya ke arah tangan kanan mahluk bayangan. Dia mengira seperti akan menyentuh asap atau memegang angin. Tapi alangkah terkejutnya dia ketika tangan yang dipegang adalah benar benar tangan manusia yang halus dan hangat. Ketika Wiro memperhatikan ternyata mahluk bayangan itu telah memperlihatkan diri dalam ujud aslinya! Wajah cantik di hias rambut hitam panjang tergerai. Tubuh yang bagus dibalut pakaian biru muda. Sampai-sampai Pendekar 212 memandang dengan mulut ternganga dan jari-jari tangannya bergerak meremas, yang dibalas pula oleh perempuan cantik itu dengan remasan penuh perasaan.

"Aahh... Ternyata kau cantik sekali." Ucap Wiro penuh kagum. "Kalau saja kau bisa dalam keadaan seperti ini selamanya..."

"Aku tak mungkin melakukan. Kecuali..." jawab si cantik.

"Kecuali bagaimana?" tanya Wiro.

"Kecuali jika ada yang mengharapkan. Ada yang menginginkan."

"Seperti yang aku lakukan barusan?"

Si cantik mengangguk. "Ya, seperti yang kau lakukan barusan," katanya.

"Jika kau tak mau memberi tahu nama, bolehkah aku memanggilmu..." Wiro berpikir sejenak. Menatap ke langit dia melihat rembulan bulat indah empat betas hari. "Boleh aku memanggilmu dengan nama Purnama? tanya Wiro pula.

Perempuan di hadapannya tertawa dan anggukan kepala. "Kalau kau suka dengan nama itu, aku pun senang."

"Purnama, apakah aku boleh mengajukan pertanyaan yang sifatnya sangat pribadi?"

Sepasang bola mata perempuan cantik membesar. "Pertanyaan sangat pribadi? Apa maksudnya. Aku sangat ingin mendengarnya."

"Apakah kau pernah mencintai seseorang?"

Wajah cantik perempuan di hadapan Wiro tampak bersemu merah. Sepasang alis mata yang hitam lengkung bergerak naik, lalu senyum manis menyeruak di bibir yang merah segar. "Pertanyaanmu aneh. Mengapa hal itu kau tanyakan?"

Wiro garuk-garuk kepala. Sebenarnya ia ingin menguji apa yang dikatakan Kakek Segala Tahu. "Ah, Sudahlah. Anggap saja itu tadi pertanyaan tolol!"

"Di negeri asalku aku memang pernah mencintai seseorang. Bahkan aku pernah menjadi istri dari orang yang kucintai itu. Namun satu malapetaka besar terjadi. Aku menemui kematian di alamku. Kami berpisah. Sampai saat ini aku tidak tahu dimama suamiku berada. Secara adat Latanahsilam, aku bukan lagi istri baginya dan dia bukan lagi suami bagiku. Secara kenyataan di sana aku kembali menjadi seorang gadis."

"Maksudmu Hemm... perawan?"

"Ya," jawab perempuan bayangan.

"Sulit dipercaya. Tetapi begitulah keadaan lahiriah kami orang-orang perempuan Latanahsilam...”

"Hebat juga" ucap Wiro dalam hati. "Walau sudah punya sepuluh anak dan sudah jadi nenek peot tetapi begitu tidak punya suami lagi kembali menjadi perawan!" Wiro senyum-senyum sendiri.

Purnama juga tersenyum. Lama kedua orang itu terdiam sampai Wiro menyadari bahwa saat itu mereka masih saling bergenggaman jari jemari. Perlahan-lahan Wiro tarik tangannya.

"Purnama, yang kau katakan tadi adalah riwayat semasa kau masih berada di Latanahsilam. Yang aku ingin ketahui, setelah sekian lama aku berada ditanah jawa ini, apakah ada seseorang yang menjadi tambatan hatimu? Atau kau tahu ada seorang yang mencintaimu?"

Sepasang mata Purnama menatap tak berkesip. Dada perempuan itu berdebar. Hatinya berucap. "Apakah pemuda ini tahu apa yang aku rasakan?" Setelah terdiam beberapa ketika akhirnya perempuan itu menjawab. "Pertanyaanmu kali ini agak sulit kujawab. Jika kukatakan memang ada atau tidak ada seseorang yang kucintai, apakah itu ada artinya bagimu?"

Wiro menggaruk kepala, tertawa lebar dan balik bertanya. "Mengenai adanya orang yang menyukaimu?"

"Mana aku tahu ada orang yang suka apa lagi sayang padaku. Tidak ada yang menunjukkkan sikap seperti itu, apa lagi mengatakannya. Pendekar, apakah kau menyukai diriku?"

Wiro terperangah oleh pertanyaan yang blak-blakan ini sampai kakinya tersurut satu langkah. Cepat Wiro alihkan pembicaraan. "Purnama. Aku mengucapkan terima kasih. Kau telah sudi menyerahkan Kitab Seribu Pengobatan."

"Kau harus menjaga kitab itu baik-baik seperti kau menjaga keselamatan dirimu sendiri. Terlalu banyak yang menginginkan. Nah, kau sudah dapatkan kitab yang kau cari selama ini. Apakah kau akan segera meninggalkan tempat ini? Apakah pertemuan kita hanya dan akan berakhir sampai di sini?"

"Tentu saja persahabatan kita tidak hanya sampai di sini. Ada ujar-ujar mengatakan selama awan masih putih, gunung masih hijau dan laut masih biru, kita pasti akan bertemu." Jawab Wiro.

"lndah sekali ujar-ujar itu. Dan aku sangat berbahagia mengetahui bahwa kau masih inginkan pertemuan dengan diriku...”

"Jika aku ingin bertemu, dimana aku harus mencarimu?" tanya Wiro.

"Kau tak perlu susah susah mencari. Setiap gerak hatimu untuk bertemu akan kuketahui. Karena kau selalu berada di dekatmu..." Jawaban perempuan cantik itu membuat Pendekar 212 raba kuduknya lalu menggaruk kepala.

"Urusan berabe. Kalau aku mandi pasti dia bisa melihatku! Jangan-jangan apa yang dikatakan Kakek Segala Tahu memang benar. makluk ini tengan jatuh cinta padaku..." ucap Wiro dalam hati. "Purnama, sebelum kita berpisah, ada satu hal yang ingin aku tanyakan. Belakangan ini ada beberapa tokoh memberi tahu akan terjadi satu peristiwa besar dalam rimba persilatan. Apakah kau juga mengetahui hal itu?"

"Aku mengetahui. Justru kau salah seorang yang akan terlibat dalam peristiwa itu. Jaga dirimu baik-baik. Aku tak bisa menceritakan lebih banyak dan lebih rinci. Biar sebaiknya orang lain saja yang mengatakan. Dia sejak tadi menunggu di tempat ini."

Habis berkata begitu perempuan bayangan yang diberi nama Purnama oleh Wiro memegang erat-erat lengan kanan sang pendekar, menarik tangan itu lalu menciumnya. Di lain kejap sosoknya berubah menjadi samar membentuk bayangan dan akhirnya lenyap dari pemandangan. Wiro berbalik ketika merasa ada sambaran angin di belakangnya.

"Mesra sekali! Ada kata-kata mesra, ada pegangan tangan serta ada ciuman!" terdengar suara perempuan berucap. Di lain kejap di hadapan Wiro berdiri seorang perempuan muda berpakaian kebaya putih panjang-serta celana putih panjang sebetis. Wajahnya yang cantik tampak pucat dan kini tersenyum memandang pada Pendekar 212.

"Bunga..." ucap Wiro. Dia hendak merangkul tapi Bunga bersurut mundur. Wiro merasa tidak enak. Selain itu senyum Bunga, gadis alam roh yang semasa hidupnya bernama Suci di mata Wiro terlihat dan terasa sinis. Jadi inilah orang lain yang tadi dimaksud Purnama.

"Bunga, aku gembira melihat kedatanganmu."

"Sebaliknya aku merasa menyesal karena kemunculanku mungkin hanya mengganggu kehadiran si cantik tadi. Sebenarnya aku ingin berbincang-bincang dengannya. Sayang dia keburu pergi..."

"Dia meninggalkan pesan untuk menanyakan sesuatu padamu..."

"Begitu? Pesan apa? Pertanyaan apa?" tanya Bunga Tidak seperti biasanya dalam pertemuan yang sudah-sudah, kali ini setiap nada ucapan Bunga terasa tidak enak di telinga dan hati Wiro.

"Dia cemburu, mungkin juga marah. Seperti kata Purnama agaknya dia memang sudah lama berada di sekitar sini. Memperhatikan dan mendengar apa yang aku bicarakan..."

"Bunga..."

"Wiro, siapakah nama perempuan cantik tadi?" Bunga memotong ucapan Wiro.

"Aku tidak tahu. Dia tidak pernah menerangkan namanya. Lalu kupanggil saja Purnama," jawab Wiro polos.

"Nama yang bagus sekali. Aku ingat ketika kau melakukan hal seperti itu padaku. Ketika kau memberi nama Bunga padaku..."

Wiro garuk-garuk kepala. Gadis dari alam roh yang ada di hadapannya ini sudah jelas cemburu. "Bunga, jangan kau berprasangka..."

"Siapa yang berprasangka? Berprasangka apa? Aku hanya melihat kenyataan betapa mesranya dia menciumn tanganmu ketika hendak pergi. Aku berpikir, mengingat-ingat, apakah aku pernah melakukan hal itu padamu? Rasanya tidak..." Ternyata Bunga telah terlalu jauh larut dalam perasaannya.

Wiro cepat cepat berkata. "Bunga, aku ingin menanyakan. Apakah kau tahu satu peristiwa besar yang akan terjadi dalam rimba persilatan. Beberapa tokoh dunia persilatan membicarakan hal itu..."

"Ah, rupanya si cantik bernama Purnama tadi tidak menuntaskan keterangannya. Menyerahkan jawaban pada diriku. Cerdik sekali. Kalau aku tidak memberi tahu apakah kau akan marah padaku?"

Wiro menggeleng.v"Kau sangat baik padaku. Aku banyak berhutang budi. Mana mungkin aku marah."

Bunga tertawa mendengar kata-kata sang pendekar.

"Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Aku harus menemui dua orang sahabat yang menderita sakit. Kau ikut?" Wiro mengajak.

"Aku ingin sekali ikut. Tapi tak lama lagi hari akan segera siang. Selain itu aku tak mau menyakiti perasaan si cantik tadi yang katanya selalu berada dekat denganmu."

Wiro terdiam. Dia merasa sedih melihat sikap dan cara bicara Bunga. Namun mungkin semua itu dia juga yang salah. "Bunga, kurasa kau lebih dekat padaku. Maafkan aku kalau ada hal-hal yang membuat dirimu tidak enak. Apapun yang terjadi semua itu tidak mengurangi rasa sayangku padamu. Aku harus pergi sekarang juga..."

"Wiro, mengenai pertanyaanmu tadi..." Ucapan Bunga terputus. Saat itu Pendekar 212 telah berkelebat lenyap.

"Ah, apakah aku telah membuat dia kecewa? Marah?" Bunga duduk bersimpuh di tanah. Air mata meluncur dari balik kelopak mata. Bunga pejamkan kedua matanya. Hatinya kembali bersuara. "Untuk pertama kalinya dia mengatakan sayang padaku. Apakah kali ini aku terpaksa membenarkan kabar dan ucapan banyak orang selama ini bahwa Pendekar Dua Satu Dua itu seorang pemuda mata keranjang? Apakah aku tidak boleh cemburu? Apakah aku tidak boleh merasa takut kehilangan dirinya?" Bunga tersengguk. "Kalau saja aku bisa mati lagi, rasanya aku ingin sekali mati untuk kedua kalinya..."
BAB 9
WALAU hujan telah beberapa kali turun, namun hawa sejuk tidak menyentuh puncak Gunung Merapi. Sebagian besar daun-daun pepohonan mengering rontok. Kulit pohon menciut kehitaman. Semak belukar hanya tinggal berbentuk ranting-ranting lapuk. Beberapa anak sungai mengering dangkal. Kegersangan nyaris tampak dimana-mana. Siang itu begitu menjejakkan kaki di puncak Gunung Merapi bersama Liris Merah, kejut Pangeran Matahari bukan alang kepalang. Goa besar tempat kediaman mendiang gurunya Si Muka Bangkai tak ada lagi. Yang tampak hanya reruntuhan puing-puing batu goa, nyaris sama rata dengan tanah gunung.

"Kurang ajar! Keparat! Jahanam mana berani mati menghancurkan goa tempat kediaman guruku!" teriak Pangeran Matahari menggelegar sehingga seantero tempat bergetar.

Beberapa binatang hutan yang ada di dekat situ lari berhamburan. Puluhan burung yang tengah berteduh dari teriknya sinar matahari di pepohonan menggelepar terbang ke udara. Selain tenaga dalam tinggi yang dimiliki, hawa sakti yang ada pada Lentera lblis yang dipegangnya ikut memberi kekuatan pada daya gelegar teriakannya. Pangeran Matahari alias Hantu Pemerkosa meman-dang berkeliling. Rahang menggembung mata menyala. Liris Merah yang tidak tahu pasal ceritanya, bertanya.

"Ada apa Pangeran? Kau kelihatan marah besar."

Kehadiran Liris Merah bersama Pangeran Matahari di puncak Gunung Merapi itu memang perlu dijelaskan. Setelah dirinya berulang kali digaulli oleh manusia bejat itu, entah mengapa Liris Merah menyukai sang Pangeran yang buruk rupa serta kasar dan jahat. Rasa suka itu hari demi hari berdua-dua selama perjalanan berubah menjadi rasa sayang. Lebih-lebih Pangeran Matahari selalu memanjakan dirinya, mencarikan telaga atau mata air untuk melenyapkan serangan hawa panas pada tubuhnya. Selain itu Pangeran Matahari juga menjanjikan akan mencari Kitab Seribu Pengobatan untuk menyembuhkan penyakitnya.

"Aku yakin. Kitab itu pasti ada di tangan Wiro Sableng."

Begitu Pangeran Matahari berkata pada Liris Merah. Sebagai gadis suci yang lugu soal hubungan lelaki dan perempuan, Liris Merah mendapat kenikmatan yang selama ini belum pernah dirasakannya. Dia tidak tahu apakah Pangeran Matahari benar-benar telah menyebadaninya. Dia juga tidak tahu apakah saat itu dia masih seorang perawan atau tidak. Karena seperti diketahui Pangeran Matahari telah kehilangan kejantanannya.

Setiap peluk cium serta rabaan sang Pangeran membuat Liris Merah bertambah suka pada lelaki terkutuk itu bahkan bisa dikatakan tergila-gila. Sebaliknya Pangeran Matahari menyadari bahwa sampai saat itu kejantanannya masih belum pulih. Hal ini terbukti setiap saat dia hendak melampiaskan nafsu terkutuknya, kejantanannya tidak berdaya. Itu sebabnya dia berusaha keras mendapatkan Kitab Seribu Pengobatan. Menurut ahli pengobatan Ki Tambakpati yang pernah menolongnya sampai dua kali, didalam kitab itu ada petunjuk untuk penyembuhan penyakitnya.

Pangeran Matahari letakkan Lentera lblis yang dibungkus kain hitam di tanah. Lalu sambil terus menatap kearah reruntuhan goa dia berkata, "Sebelumnya, di tempat ini ada sebuah goa besar milik mendiang guruku. Aku pernah tinggal di sini bertahun-tahun. Belum lama ini aku datang ke sini. Goa masih ada. Tapi kini kau saksikan sendiri. Goa itu lenyap! Yang kelihatan hanya puing-puing, tanah rata! Jahanam betul!"

Liris Merah melangkah mendekat, merangkul pinggang sang Pangeran lalu berkata. "Kalau cuma soal goa, kenapa terlalu dirisaukan. Kita bisa membangun pondok. Bagiku tidur beratap langit berselimut embun tidak jadi soal. Pertama asalkan selalu didekatmu. Kedua ada mata air tak jauh dari sini. Dan ketiga janjimu akan mendapatkan Kitab Seribu Pengobatan."

Pangeran Matahari peluk bahu Liris Merah. Setelah menciumi wajah, leher dan dada gadis itu penuh nafsu dia berkata. "Aku bukan akan mendirikan pondok di tempat ini. Tapi akan membangun istana! Puncak Gunung Merapi akan menjadi markas besar Partai Bendera Darah yang sejak lama ingin aku dirikan!" Pangeran memandang berkeliling. "Orang-orang yang membawa nenek sinting itu baru akan sampai besok. Yang mengherankan mengapa Pangeran Muda dari Keraton Kaliningrat tidak ada di tempat ini? Apa dia merasa sudah jadi raja besar dan aku yang harus menunggu kedatangannya?"

"Pangeran Matahari! Jangan salah menduga. Aku telah satu hari satu malam menunggumu di sini!" Satu seruan keras lantang menyahuti kata-kata Pangeran Matahari tadi. Sekejap kemudian berkelebat muncul sosok Pangeran Muda yang selalu berpakaian bagus mewah. Ternyata dia tidak datang seorang diri. Dua belas orang ikut muncul bersamanya.

Pangeran Matahari angkat kepala, menatap tajam. Dia tak merasa perlu memperhatikan sepuluh lelaki besar tegap berpakaian seragam hitam. Yang jadi pusat pandangan-nya adalah dua orang yang tegak di kiri kanan tokoh Keraton Kaliningrat itu. Yang pertama dan berdiri di sebelah kiri sang Pangeran adalah seorang kakek berwajah biru angker aneh berambut panjang kelabu yang dijalin lalu dililit seputar kening. Di atas matanya yang sipit nyaris merupakan garis tidak terdapat alis. Hidung hanya berbentuk benjolan sebesar ujung ibu jari sementara mulut menyerupai mulut ikan, setiap saat selalu bergerak membuka dan menutup. Pakaiannya jubah hijau digelayuti puluhan ekor ular berwarna coklat kehitaman.

"lblis Ular Terbang Goa Kladen!" ucap Pangeran Matahari dalam hati. Walau terkejut namun dia tidak merasa gentar. "Bertahun-tahun tidak kedengaran juntrungannya. Sekarang muncul bersama Pangeran gila kuasa yang banyak kehilangan pendukung ini."

Pangeran Matahari melirik ke sebelah kanan Pangeran Muda. Disini berdiri seorang .nenek berwajah sangat buruk. Rambutnya putih riap-riapan. Kepala selalu mendongak dan sepasang mata yang juling menatap ke langit seolah-olah memperhatikan sesuatu. Mulutnya yang keriput selalu menghembus-hembus, menebar hawa panas berbau aneh. Si nenek mengenakan pakaian menyerupai kemben hingga jelas kelihatan kalau dia sama sekali tidak mempunyai tangan!

”lblis Betina Mulut Beracun!" ucap Pangeran Matahari dalam hati menyebut nama si nenek begitu dia mengenali. "Jika iblis lelaki dan iblis perempuan ini bergabung bersama Pangeran Muda, aku mencium gelagat tidak baik."

Pangeran Matahari melirik kearah Lentera lblis yang terbungkus kain hitam yang diletakkannya di tanah. Di balik kain hitam pembungkus Lentera lblis keluarkan cahaya redup. Dalam hati sang Pangeran membatin. "Lentera lblis mengeluarkan cahaya di siang hari. Pertanda bahaya. Aku harus berhati-hati. "Pangeran Muda, jika kau berlaku culas ketahuilah kau tak akan bisa menipu Pangeran Matahari!"

"Pangeran Muda, sesuai janji, kau datang ke sini membawa Bendera Darah yang menurutmu kau temukan secara tak sengaja di Goa Selarong."

"Sobatku Pangeran Matahari, soal Bendera Darah itu jangan kawatir," jawab Pangeran Muda yang aslinya bernama Sawung Guntur. Dia melirik ke arah Liris Merah. "Ah, kalau tidak salah mataku melihat, bukankah gadis cantik berpakaian serba merah ini adalah salah seorang murid Hantu Malam Bergigi Perak,yang baru-baru ini dikabarkan menemui ajal di tangan Sinto Gendeng?"

"Ucapanmu tidak salah! Tapi saat ini aku membicarakan Bendera Darah, bukan perihal gadis ini!" Damprat Pangeran Matahari.

Pangeran Muda batuk-batuk. Dia tepukkan dua tangannya. Saat itu juga dari atas sebuah pohon besar melayang turun satu sosok berpakaian hijau sangat tipis sambil memegang sebatang besi berujung lancip dimana tergulung sehelai kain berlumuran darah setengah kering. Luar biasa! Semua mata mendelik!

Sosok berpakaian hijau yang turun dari pohon ternyata adalah seorang gadis cantik mengenakan pakaian hijau sangat tipis. Begitu tipisnya hingga jelas terlihat auratnya kencang, mulus dan bagus yang tidak mengenakan apa-apa lagi di balik pakaian hijau itu. Dengan kedua tangannya gadis cantik ini memegang gagang besi sebuah bendera yang tergulung, berwarna merah kehitaman, menebar bau busuk. Busuknya darah yang setengah mengering. ltulah Bendera Darah. Bendera kebesaran Partai Bendera Darah yang sejak lama ingin didirikan Pangeran Matahari dalam rangka tujuannya menguasai rimba persilatan tanah Jawa.

"Pangeran Matahari, aku perkenalkan. Gadis itu bernama Lawangningrum. Dia akan menyerahkan Bendera Darah padamu. Tapi tidak di sini. Tak jauh dari sini, orang-orangku telah membangun sebuah pondok kayu. Lawangningrum akan menyerahkan Bendera Darah di pondok itu. Selanjutnya gadis itu jadi milikmu."

Pangeran Matahari perhatikan gadis cantik yang nyaris bugil di hadapannya. Darahnya terasa panas, pelipis bergerak-gerak dan cuping hidung yang bengkok kembang kempis. Nafsunya menggelegak. Dia memang suka pada si gadis. Namun tindak tanduk dan bicara Pangeran Muda tadi membuat Pangeran Matahari merasa dilecehkan di hadapan orang banyak. Sang Pangeran terlalu sombong untuk menerima hadiah istimewa secara begitu rupa. Pangeran Matahari berpaling pada Pangeran Muda lalu berkata.

"Pangeran Muda, aku ingin Lawangningrum menyerahkan Bendera Darah saat ini juga padaku, di tempat ini!"

Pangeran Muda Sawung Guntur melirik pada lblis Betina Mulut Beracun dan lblis Ular Terbang Goa Kladen. Dua lblis ini sama anggukkan kepala. Pangeran Muda berpaling kembali pada Pangeran Matahari dan berkata dengan suara lantang.

"Pangeran Matahari kau adalah pimpinan dan penguasa di puncak Merapi. Jika Pangeran Matahari menghendaki bendera diserahkan di tempat ini siapa yang berani menampik? Lawangningrum serahkan Bendera Darah pada Pangeran Matahari!"

Pangeran Matahari tidak bodoh. Dia telah melihat gerak gerik tiga orang di hadapannya. Semakin jelas tercium hal yang tidak beres. Gadis bernama Lawangnillgrum anggukkan kepala lalu perlahan-lahan langkahkan kaki ke arah Pangeran Matahari. Sementara berjalan dia goyangkan bahunya yang bidang serta dada kencang dan pinggul besar. Pakaian hijau tipis yang melekat di tubuhnya sedikit demi sedikit merosot jatuh ke tanah. Ketika dia sampai di hadapan Pangeran Matahari untuk menyerahkan Bendera Darah, keadaan dirinya tidak lagi tertutup sehelai benang pun. Polos telanjang!

Darah Pangeran Matahari berdegup kencang dan panas Mata nya terbeliak besar. Dada berguncang keras. Ketika Lawangningrum sedikit membungkuk memberi penghormatan sambil.ulurkan Bendera Darah, nafsu Pangeran Matahari menggelegak. Gerakan mem bungkuk gadis bugil di hadapannya itu membuat sepasang payudaranya yang kencang membuyut besar dan bergoyang kenyal.

Namun kecerdikan otaknya membuat Pangeran Matahari tidak berlaku lengah. Dia sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Pada saat itulah Lawangingrum sentakkan dua tangannya yang memegang besi gagang bendera. Bendera Darah yang sejak tadi tergulung pada gagang besi, membuka sebat, menebar hawa luar biasa amis busuk. Namun yang keluar dari bendera itu bukan cuma hawa amis busuk. Bersamaan dengan terbukanya gulungan bendera berbentuk segi tiga itu melesat dua puluh senjata rahasia berupa paku panas merah menyala, menyerang Pangeran Matahari!

Di saat yang sama lblis Betina Mulut Seracun dan lblis Ular Terbang Goa Kladen keluarkan pekikan lantang. Sepuluh orang berpakaian seragam hitam ikut menjerit lalu menebar mengurung membentuk lingkaran. Bersamaan dengan itu tubuh Lawangningrum tampak mengepul. Ujudnya saat itu berubah menjadi sosok seorang nenek bertubuh gemuk bungkuk. Ketika mulutnya yang peot menyeringai kelihatan taring-taring mencuat panjang dan tajam serta basah oleh darah di dua sudut bibir.

"Genderuwo Penghisap Darah!" teriak Pangeran Matahari.b"Keparat kurang ajar! Kalian mencari mati semua!" Pangeran Matahari marah sekali.

lblis Betina Mulut Beracun melompat sambil menyembur. Asap hitam beracun membersitkan bau busuk mendera ke arah Pangeran Matahari. Jangankan manusia, seekor gajah pun kalau sampai menghisap hawa beracun ini pasti akan tergelimpang roboh menemui ajal!

Sementara itu sepuluh dari tiga puluh ular coklat kehitaman yang menempel di pakaian hijau lblis Ular Terbang Goa Kladen melesat di udara, menyambar ke arah Pangeran Matahari! Pada saat semua orang bergerak menyerang Pangeran Matahari, Pangeran Muda Sawung Guntur melompat menyambar Lentera lblis. Pangeran Matahari menggembor keras. Matanya terasa perih. Cepat dia tutup jalan pernafasan untuk selamatkan diri dari serangan asap beracun yang disemburkan lblis Betina Mulut Beracun.

Sambil tutup pernafasan Pangeran Matahari jatuhkan diri. Telapak tangan kiri bersitekan ke tanah. Tangan kanan menghantam ke depan, lancarkan pukulan Menahan Bumi Memutar Matahari yang didapatnya dari Singo Abang. Puluhan paku panas menyala yang menghantam ke arahnya berpelantingan ke udara. Namun sebuah paku masih sempat menghajar daun telinga kanannya sehlingga robek kucurkan darah!

"Setan alas! Terima kematianmu!" teriak Pangeran Matahari.

Dia hendak menghantam Gondoruwo Penghisap Darah dengan pukulan Gerhana Matahari namun.membatalkan niatnya karena saat itu sepuluh ular coklat kehitaman yang melesat telah berada dekat sekali. Sementara dia juga harus selamatkan Lentera Ibis yang hendak dirampas Pangeran Muda! Liris Merah tidak tinggal diam.

Didahului pekik kemarahan gadis murid mendiang Hantu Malam Bergigi Perak ini berkelebat ke arah samping lblis Ular Terbang Goa Kladen. Dua tangan disilang di depan dada. Dua tangan itu tampak berubah hitam, sepuluh kuku jari mencuat hitam panjang. Ketika dua tangan dihantamkan ke delapan, sepuluh larik cairan hitam menebar bau busuk serta mengepulkan asap menyambar sepuluh ular yang melesat di udara! ltulah pukulan sakti yang disebut Limbah Neraka Menghujat Bumi!

"Dess... dess... desss... blaarrr!"

Sepuluh ular terbang terpental hancur. lblis Ular Terbang Goa Kladen terkejut dan pucat. Dia tidak menyangka kalau Liris Merah telah menerima warisan pukulan sakti itu dari mendiang gurunya. Bum-buru dia bersurut mundur sampai empat langkah.

BAB 10
Sepuluh anggota Keraton Kaliningrat berseragam hitam di dahului teriakan marah menyerbu ke arah Liris Merah. Si gadis ganda tertawa dan berseru.

"Aku tahu ilmu kebal kalian! Majulah lebih dekat untuk menerima kematian! Hik hik hik! Liris Merah lalu melompat ke arah semak belukar hingga dua kakinya tidak lagi menginjak tanah.

Mendengar ucapan serta melihat gerakan si gadis sepuluh lelaki berseragam hitam serta merta hentikan gerakan menyerang. Seperti diketahui anggota Keraton Kaliningrat berseragam hitam memiliki ilmu kebal tahan pukulan tahan senjata. Rahasia kekebalan ini diketahui oleh Liris Merah dan Liris Biru dari guru mereka yaitu Hantu Malam Bergigi Perak. Selama kaki mereka berpijak di bumi, atau selama kaki penyerang menginjak tanah maka tidak ada ilmu pukulan serta senjata apapun sanggup mencelakai mereka!

Pangeran Matahari tertawa bergelak. "Kekasihku Liris Merah! Kau hebat sekali!" Bersamaan dengan itu sang Pangeran putar telapak tangan kirinya yang sampai saat itu masih bersitekan ke tanah. Kaki kanan melesat ke depan dan...

"kraakk!" Pangeran muda yang hendak mengambil Lentera lblis menjerit keras ketika lengan kanannya hancur dimakan tendangan Pangeran Matahari. Untuk selamatkan diri dia jatuhkan tubuh di tanah lalu berguling menjauh.

Sambil terus mengumbar tawa Pangeran Matahari ambil Lentera lblis dan buka kain hitam pembungkus. lblis Ular Terbang Goa Kladen, lblis Betina Mulut Beracun dan Gondoruwo Penghisap Darah tidak tahu apa yang terjadi. Mereka hanya melihat Lentera lblis di tangan Pangeran Matahari berputar sedemikian rupa. Sebelum ketiganya sempat selamatkan diri, kilatan cahaya merah berkiblat keluar dari Lentera Iblis.

"Wusss! Wusss! Wusss!"

Tiga tokoh rimba persilatan golongan hitam itu menjerit keras. Suara jeritan mereka lenyap begitu sinar merah melanda tubuh masing-masing lalu jatuh ke tanah dalam keadaan mengepul. Ketiganya menemui ajal dengan tubuh hangus nyaris leleh, berwarna merah! Pangeran Matahari telah menghajar ke tiga orang itu dengan jurus pertama Lentera lblis yakni Jurus Api Neraka!

Cahaya merah mengandung cahaya panas luar biasa ternyata tidak hanya berkiblat menghabisi nyawa ke tiga tokoh bawaan Pangeran Muda tadi, tetapi terus menghantam ke arah deretan pepohonan dan semak belukar kering. Dalam sekejap mata semuanya telah dilamun kobaran api. Ketika angin bertiup kencang kobaran api meluas kemana-mana! Dalam waktu singkat sebagian puncak utara Gunung Merapi di sekitar telaga telah tenggelam dalam satu kebakaran yang luar biasa dasyatnya.

Melihat apa yang terjadi atas diri ke tiga tokoh golongan hitam itu, sementara pimpinan mereka Pangeran Muda tidak diketahui berada di mana dan dalam keadaan bagaimana, sepuluh anggota Keraton Kaliningrat berseragam hitam tidak tunggu lebih lama segera putar tubuh ambil langkah seribu. Namun Liris Merah agaknya tidak memberi kesempatan bagi mereka untuk selamatkan diri. Masih di antara semak belukar yang saat itu mulai dijilat api, gadis itu lepaskan pukulan tangan kosong jarak jauh. Satu persatu anggota Keraton Kaliningrat berseragam hitam terpental dan tergelimpang dengan punggung hancur. Hanya dua orang saja yang sempat kabur selamatkan nyawa.

Pangeran Matahari tenteng Lentera lblis di tangan kanan lalu mengambil Bendera Darah. Gagang bendera yang terbuat dari besi ini kemudian dihunjamkan ke sebuah batu besar bekas reruntuhan goa. Bendera berbentuk segitiga yang berlumuran darah setengah kering ini berkibar ditiup angin, menebar bau busuk amis.

"Pangeran! Telinga kananmu terluka!" teriak Liris Merah. Gadis ini lari mendatangi.

Pangeran Matahari langsung merangkul pinggang Liris Merah. "Hanya luka kecil, mengapa dikhawatirkan?" kata sang Pangeran pula. "Kau tahu, kobaran api itu merangsang nafsuku. Aku ingin mencumbumu di tengah kebakaran dahsyat ini!"

"Pangeran, aku siap melayanimu," jawab Liris Merah yang sudah tergila-gila pada Pangeran Matahari. Lalu tanpa malu malu gadis ini tanggalkan pakaian merahnya dan baringkan tubuh di tanah.

"Pangeran, cepat. Lakukan Sekarang. Tubuhku mulai terasa panas." Pangeran Matahari tertawa tergelak-gelak. Sepasang matanya berkilat-kilat.

"Kekasihku, kau memang hebat! Tidak Pernah aku menemui gadis luar biasa seperti dirimu sebelumnya! Kita bercumbu dulu di sini. Ada sebuah telaga kecil tak jauh dari sini. Aku nanti akan mem-bawamu ke sana. Kita akan teruskan bersenang-senang di telaga itu sampai malam, sampai pagi. Ha ha ha! kau hebat! Bilamana Partai Bendera Darah berdiri, Aku akan menjadi Raja di Raja rimba persilatan dan kau akan menjadi Ratunya! Ha ha ha!" Liris Merah memekik kecil lalu tarik tangan Pangeran Matahari.
********************
API yang membakar puncak Merapi serta merta menarik perhatian semua orang yang berada di sekitar gunung tersebut bahkan sampai jauh ke Kotaraja. Sri Baginda Raja memerintahkan Patih Wira Bumi untuk melakukan penyelidikan. Sementara itu beberapa mata-mata Kerajaan yang disebar untuk memantau keamanan serta mengawasi gerakan-gerakan mencurigakan termasuk gerakan orang-orang Keraton Kaliningrat melapor bahwa dua hari sebelum api berkobar di puncak Merapi, Pangeran Muda terlihat menaiki gunung membawa sejumlah orang. Orang-orang

Kerajaan tak berani bertindak karena Pangeran Muda ditemani beberapa tokoh rimba persilatan golongan hitam. Keesokannya ada serombongan orang tak dikenal naik ke puncak gunung membawa sebuah usungan. Di hari yang sama kembali Pangeran Muda terlihat di sebuah dangau di kaki gunung. Kali ini dia hanya seorang diri dan dalam keadaan cidera berat. Berdasarhan keterangan mata-mata patih Wira Bumi bersama sejumlah pasukan serta dua orang tokoh silat istana segera mendatangi dangau dimana Pangeran Muda pimpinan pemberontak Keraton Kaliningrat terakhir kali terlihat.

Ketika menjelang malam rombongan orang-orang Kerajaan ini sampai ternyata Pangeran Muda Sawung Guntur masih ada di sana. Lengan kanannya yang hancur mulai membusuk. Sang Pangeran diperintahkan menyerah namun dengan nekad melakukan perlawanan. Walau lengan kanannya dalam keadaan cidera berat ternyata Pangeran Muda tetap merupakan manusia berbahaya. Dia mampu membunuh enam perajurit Kerajaan dan melukai salah seorang tokoh silat istana.

Setelah mendesak lawan yang terluka itu Wira Bumi berhasil menghantam dada lawan dengan pukulan Dibalik Asap Roh Mencari Pahala. Ini adalah ilmu pukulan sangat jahat yang didapat Wira Bumi dari Nyai Tumbal Jiwo. Sebelum memukul Wira Bumi menyembur dulu lawannya dengan asap hitam.

Selagi pemandangan Pangeran Muda tertutup, Patih Kerajaan menggebuk tokoh Keraton Kaliningrat itu telak di bagian dadanya hingga muntah darah. Dalam keadaan luka parah luar dalam dan tertotok Pangeran Muda dipaksa memberi keterangan. Megap-megap orang ini menceritakan apa yang terjadi di puncak Merapi.

"Aku berjuang demi menuntut hakku yang syah atas tahta Kerajaan. Kalian memperlakukanku secara sewenang-wenang! Aku mau tahu apa kalian orang-orang Kerajaan mampu menghadapi Pangeran Matahari." Ucap Pangeran Muda mengakhiri keterangan.

"Hanya berteman seorang gadis, apakah kemampuan Pangeran Matahari begitu hebatnya?"

"Patih Kerajaan, jangan pongah. Aku tahu kau dapat banyak ilmu hebat dari gurumu mahluk alam roh Nyai Tumbal Jiwo. Tapi siapa yang tidak kenal Pangeran Matahari! Jangan lecehkan ilmu kesaktiannya. Selain itu dia memiliki sebuah senjata berupa lentera bernama Lentera Iblis! Dialah yang telah membakar rimba belantara di puncak Gunung Merapi! Sekali Partai Bendera Darah berdiri kalian semua akan dihabisinya!"

Patih Kerajaan menyeringai lalu angguk-anggukkan kepala. "Aku tadinya menganggap cerita tentang Lentera lblis itu hanya isapan jempol belaka..."

"Naiklah ke puncak Merapi. Rampas lentera itu sebelum lentera merampas nyawamu!" kata Pangeran Muda pula lalu menyambung kata-katanya. "Patih Wira Bumi, aku telah memberi keterangan sangat berguna bagi Kerajaan, seharusnya saat ini kau membebaskan diriku! Aku adalah Rajamu yang syah!"

Wira Bumi tertawa panjang. Tiga tokoh silat golongan hitam yang datang bersamanya sunggingkan senyum mengejek. Sang Patih kemudian tepuk-tepuk bahu Pangeran Muda yang sampai saat itu masih berdiri dalam keadaan tertotok lalu berkata,

"Jangan kawatir Pangeran Muda. Kau akan aku lepaskan. Sekalian bersama nyawamu!" Patih Kerajaan mengambil tombak yang dipegang seorang perajurit. Senjata ini kemudian dihunjamkannya ke dada Pangeran Muda. Manusia yang memimpikan untuk dapat merebut tahta Kerajaan dan menjadi Raja ini hanya sempat keluarkan jeritan pendek lalu jatuh terbanting ke tanah dan hembuskan nafas terakhir dengan mata melotot.

Patih Wira Bumi dan dua orang tokoh silat istana berunding apa yang akan dilakukan. Akhirnya diputuskan bahwa hari itu juga, paling lambat sore nanti mereka akan naik ke puncak Gunung Merapi setelah lebih dulu menghimpun dan menambah kekuatan pasukan. Sang Patih sendiri yang akan memimpin rombongan.

Sementara itu kebakaran yang melanda puncak Merapi serta kabar tertangkap dan matinya Pangeran Muda gembong pimpinan kaum pemberontak dari Keraton Kaliningrat telah pula sampai ke telinga dan mendapat perhatian para tokoh rimba persilatan. Mereka menghubungkan peristiwa itu dengan ramalan akan munculnya satu kejadian luar biasa. Maka satu persatu para tokoh, rimba persilatan naik ke puncak Merapi.

Para sepuh rimba persilatan umumnya tahu bahwa kawasan utara puncak Gunung Merapi pernah menjadi tempat kediaman Si Muka Bangkai, guru Pangeran Matahari. Pasti sesuatu terjadi di sana. Kebanyakan dari mereka memilih melakukan perjalanan pada malam hari agar sampai keesokan pagi di tempat tujuan.

Ketika api melanda puncak Merapi, Pendekar 212 Wiro Sableng dalam perjalanan menuju Goa Cadasbiru. Rencananya menemui Liris Merah dan Liris Biru, mencari petunjuk dalam Kitab Seribu Pengobatan agar dapat menyembuhkan penyakit yang diderita dua gadis itu. Di tengah jalan Wiro malah berpapasan dengan Liris Biru yang ditemani Setan Ngompol. Ketika ditanya Setan Ngompol memberi tahu bahwa dia dan Liris Biru bermaksud mencari Wiro dan Liris Merah yang katanya hendak mengejar pemuda itu. Liris Biru tampak gelisah mengetahui kakaknya tidak bersama Wiro, bahkan Wiro tidak tahu menahu dimana gadis itu berada.

"Kek, dalam perjalanan aku melihat seperti ada kebakaran di puncak Gunung Merapi. Aku pernah menyirap kabar bahwa satu peristiwa besar akan terjadi dalam rimba persilatan. Dari Kakek Segala Tahu yang aku temui belum lama ini dia mengatakan peristiwa itu adalah api dan darah. Lalu mengingat puncak Merapi adalah tempat kediaman Si Muka Bangkai guru Pangeran Matahari, menurutmu bagaimana kalau kiia naik ke sana."

"Aku memang punya pikiran begitu." Jawab Setan Ngompol. Lalu berpaling pada Liris Biru "Kau ikut?"

"Aku ikut kemana kalian pergi," jawab si gadis.

Wiro mendekati Liris Biru dan berkata. "Kitab Seribu Pengobatan sudah ada di tanganku. Sekembalinya dari gunung Merapi kita sama-sama mencari petunjuk dalam kitab bagaimana mengobati penyakit dirimu dan Liris Merah."

Wajah biris Biru tampak berseri. "Aku gembira. Aku merasa lega sekarang."

********************
MALAM itu tanpa perdulikan api yang terus melalap puncak Merapi, Pangeran Matahari dan Liris Merah tidur di atas sebuah rakit di ayun lembut air telaga. Sementara mayat orang-orang Keraton Kaliningrat masih bergeletakan di sekitar telaga. Kedua insan yang lelap berpelukan setelah semalam suntuk memadu cinta saling melampiaskan nafsu baru terbangun dari tidur ketika cahaya matahari memanasi tubuh mereka. Kedua orang yang sejak malam tadi berada dalam keadaan bugil cepat kenakan pakaian masing-masing. Lentera terbungkus kain hitam nampak memancarkan cahaya merah.

"Ada bahaya," bisik Pangeran Matahari. Dia pegang tangan Liris Merah. Tangan yang lain menjangkau bungkusan Lentera lblis lalu keduanya melesat ke tepi telaga, berdiri di hadapan sebuah pondok kayu yang sebelumnya sengaja dibangun oleh Pangeran Muda untuk membujuk hati Pangeran Matahari.

"Masuklah ke dalam pondok. Jangan sekali-kali berani keluar kalau tidak aku beri tanda dengan dua kali suitan. Awasi tawanan kita. Rombongan malam tadi yang membawa tawanan sudah meninggalkan tempat ini. Aku punya perasaan saat ini bukan cuma kita yang ada di tempat ini. Orang-orang rimba persilatan. Mereka naik ke sini untuk mengantar nyawa!"

Setelah Liris Merah masuk ke dalam pondok, Pangeran Matahari melangkah mendekati Bendera Darah yang kini menancap di tengah halaman luas antara pondok kayu dan telaga. Sambil memegang besi gagang bendera, dua mata Pangeran Matahari memandang berkeliling. Dia melihat beberapa orang mendekam di balik pohon-pohon besar. Ada yang berlindung di balik gundukan batu di tepi telaga. Ada juga merunduk di balik semak belukar.

Pangeran Matahari tertawa bergelak. "Manusia-manusia geblek! Berani datang tidak berani unjukkan tampang!"

Belum lenyap gelegar suara lantang Pangeran Matahari, tiba tiba dari balik pepohonan, dari belakang gundukan batu dan semak belukar satu persatu melesat keluar beberapa orang.

Pangeran Matahari tahu kalau tidak semua orang yang datang sudah unjukkan diri. Masih ada yang sembunyi. Sementara itu dari arah timur pinggiran telaga mendatangi pasukan Kerajaan dibawah pimpinan Patih Wira Bumi dan Kepala Pasukan Kerajaan Gempar Sumodibroto. Pangeran Matahari mendengus. Unjukkan seringai dan membuka mulut.

"Kalian datang dari jauh. Sepantasnya aku menghidangkan minuman hangat. Namun kalian bukan tamu tamu yang pantas mendapatkan kehormatanku. Lagi pula kalian datang sudah membawa bekal minuman. Yaitu darah kalian masing-masing yang kelak akan kalian teguk sendiri sebelum menemui kematian! Ha ha ha!"

Sang Pangeran tahu, walau ada yang tidak dikenalnya namun orang-orang yang ada di tempat itu bukanlah manusia-manusia sembarangan. Diantara mereka sudah menjadi musuhnya sejak lama. Tapi selama Lentera Iblis ada dalam pegangannya dia tidak perlu merasa kawatir.

"Tidak diduga tidak disangka! Rupanya kalian datang jauh jauh minta mati secara bersamaan! Belantara kobaran api puncak Gunung Merapi agaknya telah menarik perhatian kalian! Sayangnya rasa ingin tahu kalian akan berakhir pada kematian! Ha ha ha!"

BAB 11
ORANG pertama yang jadi perhatian Pangeran Matahari adalah musuh bebuyutannya yang bukan lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng. "Pemuda Sableng berjuluk Pendekar Dua Satu Dua! Hari ini kau berpenampilan aneh dan lucu! Biasanya selalu mengenakan pakaian serba putih. Sekarang mengenakan pakaian hitam! Apakah itu tanda sebagai rasa tahu diri bahwa kau bakal menemui kematian?!"

Diejek begitu rupa Wiro tenang-tenang saja, malah sambil menyengir dia menyahuti ucapan orang. "Aku memang kehabisan kain putih untuk bahan pakaian. Kabarnya persediaan kain putih di seluruh tempat sudah habis dipesan orang. Untuk dijadikan kain kafan pembungkus jenazahmu. Tentunya kalau hari ini kau mampus dengan jazad masih utuh! Ha ha ha!"

Tampang Pangeran Matahari jadi kaku membesi. Tak mau kalah dia kembali tertawa. Suara tawanya menindih suara tawa Pendekar 212, menggetarkan seantero tempat termasuk halaman luas antara pondok dan telaga. Air telaga tampak bergelombang.

Wiro perhatikan Lentera lblis di tangan Pangeran Matahari. Dia meyakini senjata aneh itu memberi kekuatan tambahan pada tenaga dalam serta hawa sakti yang ada dalam tubuh murid Si Muka Bangkai itu.

"Gunung Merapi adalah daerah kekuasaanku. Aku berpantang mati di sarang sendiri! Lihat di sekitar kalian. Hampir selusin mayat bergeletakan. Apa itu tidak membuat kalian berpikir seribu kali berani menyatroni Pangeran Matahari di sarangnya sendiri?!"

Wiro balas ucapan orang. "Pangeran Matahari, dosamu telah melebihi takaran. Sedalam lautan setinggi langit tembus, sebusuk comberan. Ketahuilah bahwa sebenarnya kau telah lama mati. Selama ini kau tak lebih dari pada mayat berjalan!"

Air muka Pangeran Matahari langsung mengelam kaku mendengar kata-kata Pendekar 212 itu. Namun dengan cerdik dia tindih hawa amarah dengan tawa bergelak. Setelah puas tertawa Pangeran Matahari perhatikan orang berikutnya. Yaitu seorang kakek bermata jereng, kuping lebar dan salah satunya terbalik. Kakek ini sebentar-sebentar pegangi celana. Tanah yang dipijak tampak basah. Setan Ngompol! Siapa lagi kalau bukan dia!

"Kakek jelek! Kau datang hanya mengotori tempat kediamanku dengan air kencingmu! Tololnya mau ikut-ikutan mati bersama pendekar sableng itu!"

Mendengar ancaman itu karuan saja kencing Setan Ngompol jadi terpancar. Tanah di bawah kedua kakinya tampak tambah becek. "Air kencingku bukan air kencing biasa!" menyahuti Setan Ngompol. "Kalau kau minum sambil menungging rasanya sama dengan anggur harum negeri Cina! Ha ha ha! Kau mau minum kencingku? Sekarang? Ha ha ha!" Sambil tertawa Setan Ngompol tekap bagian bawah perutnya Serrr... serrr. Kencing kembali memancar.

Tampang Pangeran Matahari jadi merah membesi. "Kakek bau pesing! Kau boleh mempermainkanku! Sebentar lagi tubuhmu akan aku buat leleh!" Namun dia jadi terhibur ketika melihat gadis cantik berpakaian serba biru yang tegak di dekat si kakek. "Gadis cantik, bukankah kau adik gadis bernama Liris Merah? Ah, sayang sekali. Cantik dan harum mengapa jalan bersama kakek jelek bau pesing itu?! Ha ha ha! Sebentar lagi kau akan terkejut melihat siapa yang hadir di sini! Kau harus memanggil kakak ipar padaku! Ha ha ha!"

Ucapan terakhir pangeran Matahari itu membuat Liris Biru selain heran juga terkejut. Apakah telah terjadi perkawinan antara Pangeran Matahari dengan kakaknya? Kapan? Namun saat itu gadis ini tak bisa berpikir panjang. Pangeran Matahari lalu palingkan kepala ke arah seorang pemuda yang tidak dikenalnya. Pemuda ini berambut ikal hitam, berwajah tampan. Wiro sendiri sejak tadi memperhatikan karena rasa-rasa kenal.

"Sobat muda! Aku tak mengenal siapa dirimu! Lekas terangkan siapa kau adanya. Apa sudah bosan hidup berani datang ke puncak Merapi!"

"Namaku Jatilandak! Aku datang ke sini untuk mewakili seorang gadis sahabatku yang pernah kau perkosa!"

Kejut Wiro dan Setan Ngompol bukan alang kepalang. Jatilandak! Pemuda dari Latanahsilam. Negeri 1200 tahun silam. Apa yang terjadi? Bagaimana keadaannya ymg dulu botak serta berkulit kuning menjijikkan kini berubah menjadi seorang pemuda tampan berkulit bersih berambut lebat? Kitab Seribu Pengobatan! Wiro lantas ingat pada perempuan bayangan. Mungkin sekali Jatilandak lah yang diobati mahluk itu.

"Purnama..." Wiro berucap berlahan. "Apakah kau berada di sini?"

"Aku sejak tadi ada di dekatmu," ada suara jawaban mengiang di telinga kanan Pendekar 212 disertai saputan angin halus.

"Purnama, pemuda itukah yang kau maksudkan pada pertemuan kita sebelumnya?"

"Betul. Dia sahabatmu bukan?"

Wiro menggaruk kepala lalu mengangguk perlahan. "Apa hubunganmu dengan Jatilandak..."

"Kau cemburu? Sudah nanti saja kita bicara lihat apa yang terjadi. Banyak kejutan yang akan kau lihat sebentar lagi." Jawab Purnama mahluk alam roh dari Negeri Latanasilam.

Kening Pangeran Matahari mengerenyit. "Selama hidup aku telah merusak kehormatan puluhan gadis. Aku tak ingat satu-satu nama mereka. Katakan siapa. nama Sahabatmu yang menurutmu telah aku perkosa?!"

"Bidadari Angin Timur!" jawab Jatilandak tanpa tedeng aling-aling dengan suara keras lantang hingga semua orang mendengar jelas.

Wiro terkejut. "Pangeran jahanam!" geram Wiro dengan dua tangan terkepal.

Pangeran Matahari lebih lagi kejutnya. Tetapi ia tunjukkan sikap tenang. Sambil mengeringai dan usap-usap dagu pangeran bergumam. "Hemm... Bidadari Angin Timur bukan gadis sembarangan. Jangan kau berani menuduh tanpa membawa bukti. Dimana gadis itu sekarang?"

"Dia diketahui telah membuang diri masuk jurang. Bunuh diri karena tidak sanggup menahan aib besar!"

Wiro Sableng merasa tanah yang dipijak seperti amblas. Mukanya tampak pucat. Sekujur tubuh panas bergetar dan dada terasa sesak. Dia memandang ke arah Setan Ngampol Si kakek sendiri dalam kaget luar biasa langsung kucurkan air kencing.

"Kek, Apakah benar Bidadari Angin Timur sudah meninggal? Aku seperti tak bisa percaya..." suara Wiro bergetar.

Tenggorokan Setan Ngompol turun naik mendengar ucapan Wiro tadi. "Aku tidak tahu Wiro. Lama sekali aku tidak melihat atau mendengar kabar dirinya. Kalau nasibnya sampai begitu rupa, kasihan sekali..."

"Pangeran Matahari! Aku datang untuk membalaskan sakit hati atas perbuatanmu terhadap gadis sahabatku itu!" Habis berkata begitu Jatilandak siap hendak menyerang Pangeran Matahari. Namun seperti ada satu tangan yang menahan dadanya hingga gerakan kedua kakinya terhenti.

"Anak Muda, kalau mau mati harap bersabar dulu! Jika kau memaksa aku akan memberikan kesempatan bagimu untuk menemui kematian!" Jawab Pangeran Matahari.

Jatilandak sunggingkan senyum sinis. ”Pangeran Matahari kau tak bisa lari dari kematian. Mayatmu tidak bakal berkubur!"

Pangeran Matahari gembungkan rahang. Dia tak ingin melayani Jatilandak lebih jauh. Dia berpaling pada Patih Kerajaan. "Patih Kerajaan Wira Bumi!" Pangeraan Matahari berseru. "Sungguh satu kehormatan atas kehadiranmu membawa pasukan dalam jumlah besar. Disertai pula Kepala Pasukan Kerajaan dan dua tokoh silat istana! Benar-benar kehormatan luar biasa!"

Wiro berbisik pada Setan Ngompol. Suami perempuan Nyi Retno Mantili jadi urusan kita nanti Kek. Dia yang menggantung Ki Tambakpati."

Sementara itu Patih Wira Bumi telah maju selangkah. "Pangeran Matahari. Aku datang untuk menyelidik. Ada orang yang memberi tahu bahwa kau telah membakar rimba di kawasan puncak gunung ini. Kemudian kau hendak mendirikan Partai Bendera Darah yang mengancam ketentraman Kerajaan serta seluruh kawasan negeri. Apakah hal itu benar adanya?"

Mendengar kata-kata Patih Kerajaan Pangeran Matahari tertawa langsung tertawa gelak-gelak. "Sungguh tolol!! Jauh jauh datang hanya untuk mengajukan dua pertanyaan. Ha ha ha!" Pangeran Matahari kacakkan tangan kiri di pinggang. Tangan kanan memegang lebih erat gagang Lentera Iblis. Dua mata menatap tajam pada Patih Kerajaan lalu dia bertanya.

"Patih, siapa yang mengadukan hal itu pada sampeyan?!"

"Pangeran Muda yang kau hancurkan tangannya!" Jawab Patih Kerajaan.

Kembali Pangeran Matahari tertawa tergelak-gelak. "Kau lebih percaya pada biang pemberontak itu dari pada orang rimba persilatan yang selalu bicara apa adanya seperti aku!"

Wira Bumi melirik ke arah Bendera Darah yang menancap di tanah. Dia berpaling pada Kepala Pasukan yang berdiri di sebelahnya dan berkata. "Gempar Sumobroto! Tangkap manusia itu hidup atau mati..."

Mendengar perintah sang Patih, Kepala Pasukan Kerajaan segera memberi tanda kepada seluruh anak buahnya. Hampir lima puluh perajurit segera mengepung Pangeran Matahari. Dua orang tokoh silat istana yang juga mendapat tanda dari Wira Bumi cepat mendekati sang Patih. Salah seorang berbisik.

"Patih, Lentera lblis bukan senjata sembarangan Kita harus menghadapi lawan dengan memakai siasat."

"Kalian berdua tak perlu menasehatiku! Saat ini bukan waktunya banyak bicara. Aku membawa kalian ke sini untuk menghabisi orang itu! Kerjakan perintah!"

Patih Kerajaan marah sekali. Dia membentak sambil delikkan mata. Dua tokoh silat istana tak bisa berbuat lain. Namun salah seorang dari mereka yang dikenal dengan julukan "Jerangkong Hidup" berlaku cerdik. Tokoh silat yang keadaan tubuhnya memang seperti jerangkong kurus tinggi berselempang kain putih itu berkelebat ke samping kiri seolah hendak menyerang lawan dari arah ini namun sebenarnya dia berusaha menjauhkan diri dari Pangeran Matahari.

Pangeran Matahari sendiri saat itu decakkan lidah dan goleng-goleng kepala. Dengan sikap tenang malah sambil menyeringai dia menatap ke arah orang-orang yang datang menyerbu. Pergelangan tangan kanan yang memegang Lentera lblis perlahan-lahan bergerak berputar ke kanan siap mengeluarkan jurus pertama Lentera Iblis bernama Api Neraka. Pangeran Matahari keluarkan bentakan dahsyat. Lentera Iblis berputar ke kanan lalu...

"Wusss!" Sinar merah berkiblat laksana kipas raksasa menyapu. Saat itu juga pekik kematian mendera seantero tempat. Puluhan tubuh mencelat ke udara lalu jatuh berkaparan di tanah dalam keadaan sudah jadi mayat, hangus merah kepulkan asap. Bau daging terpanggang menghampar dimana-mana! Yang menemui ajal saat itu adalah dua puluh tiga perajurit Kerajaan, Kepala Pasukan Gempar Sumobroto serta seorang tokoh silat istana!

Perajurit-perajurit dan tokoh silat Si Jerangkong Hidup yang masih hidup, tanpa dapat dicegah langsung saja tinggalkan tempat itu. Patih Kerajaan dalam kemarahannya tidak bisa mencegah mereka yang kabur. Nyalinya sendiri saat itu sebenarnya sudah leleh. Tapi untuk ikutan kabur dia merasa malu. Agar harga dirinya tidak jatuh Wira Bumi menghunus sebilah tombak pendek bermata dua yang memancarkan sinar berputar membentuk tameng besar di tangan kiri sementara tangan kanan menyiapkan pukulan sakti bernama Angin Roh Pengantar Kematian.

Didahului satu teriakan keras Patih Kerajaan melompat ke hadapan Pangeran Matahari. Yang diserang segera gerakkan tangan kanan yang memegang Lentera lblis. Namun tiba-tiba ada suara perempuan berseru keras. Membuat gerakan sang Patih tertahan.

"Patih Kerajaan menyingkirlah! Nyawa Pangeran keparat itu bukan punyamu tapi milikku! Aku sudah menghancurkan goa kediamannya. Kini giliran dirinya akan kulumat amblas!"

Semua orang memandang berkeliling. Suara perempuan tadi terdengar jelas dan begitu dekat. Namun sulit diduga dimana orangnya berada.

"lblis perempuan! Berani bicara mengapa tidak berani unjukkan tampang?!" Pangeran Matahari berteriak.

Teriakan Pangeran Matahari disambut oleh satu tawa panjang. Disusul suara seperti srigala melolong. Walau saat itu siang hari dan terang benderang apa lagi ada hamparan hawa panas kobaran api yang membakar, namun tak urung semua orang merasa tercekat. Sesaat kemudian satu bayangan biru berkelebat dari atas atap pondok kayu. Di lain kejap sosok biru tadi sudah berdiri sepuluh langkah di depan kiri Pangeran Matahari. Orang ini adalah nenek berwajah putih, mengenakan pakaian serba biru, berambut hitam kusut masai riap-riapan.

"Nyi Bodong!" ucap Wiro setengah berseru.

Begitu melihat siapa yang berdiri dihadapannya walau dia tidak gentar namun perasaan tidak enak merasuki Pangeran Matahari. Nenek muka putih inilah yang dulu membuntungi tangannya setelah dia gagal memperkosa Nyi Retno Mantili.

"Nenek keparat! Kau rupanya!" teriak Pangeran Matahari marah besar. "Dulu kau buntungi tanganku! Barusan kau katakan kalau dirimulah yang telah menghancurkan goa kediamanku! Sungguh besar dosamu Nyi Bodong! Hari ini kau harus membayar perbuatanmu berikut bunganya alias mampus!"

Nenek muka putih tertawa panjang. "Kalau kau mampu membunuhku, aku sangat suka membawamu serta ke alam kematian menemui orang-orang yang telah kau bunuh! Hik hik hik! Dosamu terhadap rimba persilatan dan terhadap diriku sulit ditakar!"

"Nenek sinting bermulut busuk! Aku ingin tahu dosa apa yang telah aku perbuat atas dirimu!"

"Pertama kau menghamili lalu membunuh adikku!"

"Huh! Siapa nama adikmu?!"

"lngat Pangandaran?"

"Nenek setan! Kau yang mengingati aku! Bukan tugasku mengingat-ingat!"

Nyi Bodong mendengus. "Adikku bernama Pandan Arum! Kau nodai dirinya sehingga hamil lalu kau bunuh! Itu dosamu perbuatan pertama. Dosa kedua kau juga telah memperkosa diriku!"

Disebutnya nama Pandan Arum membuat kening Wiro mengerenyit dan dadanya berdebar.

"Aku memperkosa dirimu?! Tunggu! Ha ha ha!" Pangeran Matahari tertawa bergelak. "Masih banyak gadis dan perempuan muda yang bisa aku dapatkan! Mengapa aku mau-mauan memperkosa nenek jelek dan bau macam dirimu?!"

"Pangeran Matahari! Buka matamu lebar-lebar! Lihat siapa aku sebenarnya!" Habis berkata begitu nenek muka putih gerakkan tangan ke atas kepala. Rambut panjang hitam dan kusut dijambak ditanggalkan lalu dicampakkan ke tanah. Ternyata dia mengenakan rambut palsu. Kini kelihatan rambut aslinya, berwarna pirang panjang sepinggang indah sekali. Semua orang jadi melengak, semua mata terbuka besar dan semua hati menduga-duga. Wiro tambah tegang. Setan Ngompol kucurkan air kencing.

Tidak berhenti sampai hanya menanggalkan rambut. Kini nenek muka putih berambut pirang gerakkan tangan ke atas kening, mengelupas sehelai topeng kulit yang sangat tipis. Begitu topeng tersingkap memperlihatkan wajah sebenarnya dari si nenek muka putih, beberapa mulut sama-sama keluarkan seruan tertahan.

"Bidadari Angin Timur!" seru Wiro. "Ya Tuhan, terimakasih ternyata dia masih hidup!"

Kalau Pangeran Matahari sampai terdongak saking tidak percaya, maka Pendekar 212 Wiro Sableng mendelik ternganga, menarik nafas berulang kali. Setan Ngompol tekap bagian bawah perutnya.

"Wiro, Yang aku tidak mengerti, dari mana dia dapat ilmu kesaktian Pusar bodong! Hik hik hik!"

"Pangeran Matahari! Apakah kau sudah siap menerima kematian?!" Bidadari Angin Timur alias Nyi Bodong ajukan pertanyaan sambil tangan kiri bergetak ke bagian perut sementara tangan kanan perlahan-lahan diangkat ke atas. Jelas dia hendak menghabisi lawan dengan llmu Pusar Pusara Yang selama ini telah menggegerkan rimba persilatan. Apakah pukulan sakti itu akan sanggup menghadapi Lentera Iblis?

Setelah lenyap kejutnya, kepongahan kembali bersarang di otak dan hati Pangeran Matahari. "Bidadari Angin Timur. Sekalipun kau punya ilmu hebat dan pernah membuntungi tanganku, tapi keadaan sekarang sudah berobah! Sekalipun semua orang yang ada di sini membantumu! Sekalipun semua malaikat turun dari langit menolongmu! Kau dan semua keparat yang ada di sini tidak akan mampu mengahadapi Lentera Iblis. Kalian sudah menyaksikan sendiri bagaimana puluhan manusia berkaparan dan mati! Apa kalian telalu sombong atau buta semua! Bidadari Angin Timur, lebih baik kau ikut bersamaku! Kita akan menjadi pasangan luar biasa hebat rimba persilatan!"

Bidadari Angin Timur menjawab dengan dengusan lalu meludah ke tanah. "Tawaranmu sungguh sangat menjijikkan!”

Pelipis Pangeran Matahari bergerak-gerak. Rahang menggembung. "Manusia-manusia keparat! Kalian semua dengar!" Suara Pangeran Matahari menggeledek. ”Aku bersedia berbaik hati mengampuni nyawa kalian semua dengan satu syarat! Yaitu dengan tebusan nyawa Pendekar Dua Satu Dua. Dia harus datang ke hadapanku, berlutut dan sebelum merima kematian harus menyerahkan Kitab Seribu Pengobatan padaku!"

Semua orang yang ada di tempat itu jadi terdiam dalam keterkejutan dan sama memandang ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng. Setan Ngompol langsung kucurkan air kencing. Belum lenyap getar suara geledek Pangeran Matahari di telinga semua orang, tiba-tiba satu suara perempuan menggema di tempat itu.

"Siapa ingin membunuh Pendekar Dua Satu Dua langkahi dulu mayatku!" lag-lagi semua orang dibuat terkejut.
BAB 12
DARl balik gundukan batu hitam di tepi telaga melesat seorang gadis muka putih berpakaian hijau. Di pinggangnya tergantung lima kendi kecil warna hitam. Kendi ke enam ada di pegangan tangan kiri. Anehnya begitu menjejakkan kaki di halaman, dia bukan berdiri di depan tapi malah di belakang Pangeran Matahari. Sang Pangeran menggeram. Dalam amarahnya sang Pangeran menaruh curiga dan cepat berpikir.

"Gadis kurang waras ini, dia sengaja berdiri di belakangku. Apa maksudnya? Mungkin dia mengetahui sesuatu. Tiga jurus Lentera Iblis! Tidak ada satupun jurus yang menyerang musuh di sebelah belakang! Astaga! Kurang ajar!" Pangeran Matahari cepat balikkan badan.

"Wulan Srindi..." ucap Wiro, terkesiap tegang. Selain itu dia juga merasa sangat terharu. Ternyata dalam kekurangan warasnya gadis itu benar-benar mencintai dan siap membela dirinya.

"Perempuan gila! Siapa kau?! Bagaimana bisa kesasar sampai di sini?!" bentak Pangeran Matahari.

Perempuan muda berbaju hijau lebih dulu teguk minuman keras dalam kendi. Setelah tertawa panjang baru menjawab. "Namaku Wulan Srindi! Aku murid Dewa Tuak! Aku adalah istri Pendekar Dua Satu Dua! Saat ini aku tengah hamil empat bulan! Apa cukup jelas jawabanku? Hik hik hik!”

Ucapan si gadis tentu saja membuat semua orang menjadi gempar. Air muka Wiro tampak merah. Ternyata Wulan Srindi masih saja bertingkah seperti dulu. Bidadari Angin Timur tercengang lalu tundukkan kepala. Dia merasa kasihan terhadap Wiro. Setan Ngompol pegangi bagian bawah perut. Hanya Liris Biru yang tampak agak tenang.

"Ha ha ha! Tidak sangka Pendekar Dua Satu Dua punya istri gelap! Punya anak haram pula dalam kandungan empat bulan! Ha ha ha!” Pangeran Matahari tertawa gelak-ge!ak.

"Hus! Tawamu jelek! Mulutmu bau!" damprat Wulan Srindi lalu tertawa cekikikan. Gadis itu teguk minuman dalam kendi lalu disemburkan ke arah Pangeran Matahari. Sang Pangeran cepat menghindar dengan melompat kebelakang sambil keluarkan kutuk serapah. Tanah satu langkah di depan kaki Pangeran Matahari terbongkar membentuk lobang besar.

"Perempuan kurang ajar! Amblas nyawamu!" Lentera iblis di tangan kanan,Pangeran berputar ke kiri. Saat itu juga selarik sinar hitam menderu ke arah Wulan Srindi, inilah jurus kedua Lentera lblis yang disebut Jurus Api Akhirat.

Wulan Srindi sambuti serangan itu dengan semburan minuman keras.

"Wulan! Awas! Cepat menyingkir!" teriak Wiro. Dia hendak melompat.

"Wutt!" Sinar hitam keburu berkiblat keluar dari Lentera Iblis. "Wusss!" Wulan Srindi masih sempat menyemburkan minuman keras dari dalam mulutnya. Semua terjadi luar biasa cepat. Wulan Srindi terpental dua tombak lalu terkapar dalam ujud mengerikan. Sekujur tubuhnya mulai dari kepala sampai kaki hangus nyaris tak berbentuk lagi. Pangeran Matahari sendiri sesaat tampak tertegak tegang. Dua buah lobang besar kelihatan di kaki celana hitamnya sebelah kanan. Semburan minuman keras Wulan Srindi walau tidak telak telah melukai kakinya.

Wiro berteriak marah. Liris Biru terpekik. Bidadari Angin Timur melesat mendahului. Jatilandak tak tinggal diam. Patih Wira Bumi juga marah namun tetap tak bergerak di tempatnya.

Pangeran Matahari sudah bisa kuasai dirinya. Sambil melompat menjauhi para penyerang dia masukkan dua jari tangan kiri ke dalam mulut lalu keluarkan suara bersuit dua kali berturut-turut. Lentera lblis diangkat setinggi pinggang di arahkan pada Wiro dan kawan-kawan. Dari pintu pondok melesat seorang gadis berpakaian merah, menggedong seseorang.

"Tahan serangan kalian! Atau tua bangka ini akan menemui ajal saat ini juga!" Berteriak Pangeran Matahari.

Ketika gadis yang berpakaian merah yang bukan lain Liris Merah adanya menurunkan orang yang digendongnya ke tanah di depan Pangeran Matahari, kegemparan hebat terjadi. Perempuan tua yang tergeletak tertelentang di tanah adalah Sinto Gendeng! Keadaannya mengenaskan sekali Tubuh, muka dan pakaian kotor, mata setengah terpejam menatap ke langit Di keningnya ada guratan luka. Dari mulut keluar erangan halus. walau masih bisa keluarkan suara namun si nenek berada dibawah pengaruh totokan yang membuat sekujur tubuhnya kaku.

"Eyang!” teriak Wiro.

"Kakak!" teriak Liris Biru yang terkejut melihat Liris Merah. Tapi si kakak diam saja, menoleh pun tidak.

"Jahanam! Kau apakan guruku!" Penuh kalap Wiro melompat ke arah Pangeran Matahari. Tangan kanan siap menghantam dengan pukulan Harimau Dewa sedang tangan kiri melepas pukulan Tangan Dewa Menghantam Batu Karang. Kedua pukulan sakti itu didapat Wiro dari Datuk Rao Basaluang Ameh dan keduanya dilancarkan dengan tenaga dalam penuh! Jangankan manusia. Gunung batu sekalipun kalau sampai kena hantaman dua pukulam itu akan hancur lebur!

Namun gerakan Pendekar 212 serta merta terhenti ketika melihat apa yang dilakukan Pangeran Matahari. Pangeran Matahari letakkan Lentera lblis di atas dada Sinto Gendeng. Si Nenek keluarkan suara mengerang. Lentera itu tidak beda seperti himpitan sebuah batu besar.

"Ada yang berani bergerak, tua bangka buruk ini akan menemui kematian!" Pangeran Matahari mengancam.

Bukan cuma Wiro, semua orang terpaksa hentikan gerakan. "Pangeran jahanam! Berani kau mencelakai guruku..."

"Pendekar Dua Satu Dua tak usah mengancam! Nyawa gurumu ada di tanganku! Kitab Seribu Pengobatan berikan padaku berikut nyawamu!"

"Pengecut keparat!" teriak Wiro.

Sosok Sinto Gendeng yang tergeletak di tanah keluarkan suara batuk-batuk beberapa kali. Lalu terdengar nenek itu berucap. "Anak Setan, aku mendengar suaramu. Benar kau ada di sini?"

"Eyang!" seru Wiro. "Saya ada di sini. Saya akan menyelamatkanmu. Saya akan serahkan Kitab Seribu Pengobatan. Juga nyawa saya sendiri!"

"Tidak... tidak. Jangan percaya ucapan manusia bermulut kotor berhati mesum itu. Jika Pangeran dajal ingin membunuhku biarkan saja. Aku memang sudah lama kepingin mati! Jangan kau berani menyerahkan Kitab Seribu Pengobatan padanya. Apa lagi kalau sampai menyerahkan nyawa!"

"Nek, biar aku yang mati! Aku ingin menebus dosa-dosaku padamu!"

Sinto Gendeng masih bisa tertawa. "Dosa kentut!" katanya.

"Nenek hebat! Kalau begitu biar kau dan semua yang ada di sini kuhabisi sekarang juga!" Pangeran Matahari tekan Lentera lblis kebawah sekaligus didorong ke depan. Kali ini dia hendak melancarkan jurus ke tiga Lentera lblis yang bernama Liang Lahat Menunggu. Kalau ini sampai terjadi maka yang akan menemui ajal bukan cuma Sinto gendeng tapi juga semua orang yang ada di depan, samping kiri dan samping kanan. Dari tiga jurus Lentera lblis, jurus inilah yang paling ganas!

"Eyang! Aku akan mengadu jiwa!" teriak Wiro.

"Aku juga!" pekik Bidadari Angin Timur.

"Aku ikut!" Setan Ngompol tak ketinggalan.

Jatilandak juga berteriak. Malah sudah siap menyerbu ke arah Pangeran Matahari. Sepasang matanya memancarkan sinar kuning pertanda dia akan menghantam sasaran dengan ilmu kesaktian Mega Kuning Liang Batu yakni berupa semburan cahaya kuning dari kedua mata.

Liris Biru dalam keadaan tegang dan bingung hendak lari menubruk Liris Merah. Sebelum ke empat orang tadi berteriak, tiba-tiba satu bayangan samar laksana kilat berkelebat dan membungkuk di samping tubuh Sinto Gendeng. Jari tangannya bergerak cepat, mulut membisikkan sesuatu ke telinga si nenek.

”Dess... desss... desss!"

Tiga totokan yang menguasai tubuh si nenek terlepas musnah! Sinto Gendeng menjerit keras. Tangan kanannya mencuat ke atas, ke arah bagian bawah perut Pangeran Matahari. Pangeran Matahari tersentak kaget. Berusaha menghindar, tapi terlambat.

"Kreekkk!" Jeritan Pangeran Matahari setinggi langit ketika kemaluannya hancur diremas Sinto Gendeng. Dalam menahan sakit yang amat sangat dia masih berusaha mendorong Lentera lblis ke depan.

Namun saat itu Wiro menghantam lengan kanannya dengan pukulan Koppo sehingga tulang lengan itu berderak remuk. Cahaya hitam menyapu ke udara kosong. Wiro berusaha merampas Lentera lblis namun pegangan Pangeran Matahari masih kuat walau tangannya sudah hancur. Sinto Gendeng yang tidak sabaran angkat pinggulnya ke atas tinggi-tinggi lalu menjepit Lentera lblis dengan kedua kakinya.

Sebenarnya jepitan dua kaki si nenek tidak akan membuat Lentera terlepas dari pegangan Pangeran Matahari. Namun saat itu Lentera lblis telah bersentuhan dengan kain panjang hitam yang dikenakan Sinto Gendeng yang basah kuyup oleh air kencing! Pantangan Lentera lblis telah dilanggar! Yaitu tidak boleh tersentuh cairan yang keluar dari tubuh manusia! Saat itu juga satu persatu cahaya merah, hitam dan kuning Lentera lblis meredup lalu padam sama sekali. Asap tiga warna mengepul. Pangeran Matahari meraung keras.

"lhhh!" Sinto Gendeng terpekik menggeliat karena hawa panas kepulan asap lentera membuat tubuhnya sebelah bawah jadi kegelian. Si nenek lepaskan jepitan dua kakinya pada Lentera Iblis. Ketika Lentera lblis akhirnya terlepas dari tangannya dan meledak hancur berkeping-keping Pangeran Matahari jatuh terjerembab ke tanah. Dia cepat bangun. Sambil menjerit-jerit dan pegangi bagian bawah perut, terbungkuk-bungkuk dia berusaha melarikan diri. Namun di depannya telah menghadang Bidadari Angin Timur.

”Buukkk!" Satu tendangan dahsyat mengantam bagian bawah perut Pangeran Matahari hingga tambah hancur tak karuan rupa. Darah mengucur. Telapak tangan kirinya yang dipakai menekap remuk. Raungan Pangeran matahari tak berkeputusan. Jatilandak jambak rambutnya, di tarik ke atas lalu sarangkan satu jotosan ke dada orang. Tak ampun Pangeran Matahari terpental empat langkah, dada hancur. Ketika dia menjerit darah ikut menyembur dari mulutnya.

Tapi sungguh luar biasa! Walau dada remuk, tubuh sebelah bawah hancur, Pangeran Matahari masih sanggup berdiri. Mata berputar liar. Saat itu Setan Ngompol tak sabaran datang menghampirinya. Kakek ini masukkan dulu tangan kanannya ke dalam celana. Setelah basah tangan itu dikeluarkan dan dijotoskan ke muka Pangeran Matahari.

"Croot!" Mata kanan Pangeran Matahari hancur. Untuk kesekian kalinya sang Pangeran meraung keras. Selagi tubuhnya terhuyung-huyung, dia berusaha mengerahkan tenaga dalam untuk melepas pukulan sakti. Namun dayanya sudah hampir sampai ke titik terendah. Saat itu pula dari samping Pendekar 212 ulurkan tangan kanan mencengkeram lehernya.

"Pangeran terkutuk! Aku mewakili orang-orang yang telah kau rusak kehormatannya dan mereka yang kau bunuh!" Lima jari tangan kanan Wiro yang dialiri tenaga dalam tinggi mencengkeram.

"Kraakk!" Tulang leher Pangeran Matahari remuk. Mata kiri mencelet dan lidah terjulur. Dalam keadaan babak belur seperti itu tak ada hal lain yang bisa dilakukan Pangeran Matahari selain berusaha melarikan diri. Namun dia sudah tidak punya punya kemampuan. Hanya sanggup bergerak empat langkah.

Tiba-tiba Bidadari Angin Timur datang menghadang. Tangan kiri naik ke atas, tangan kanan menyingkap baju biru. Pusar bodong menyembul. "Pangeran laknat! Ini dariku!" ucap Bidadari Angin Timur. Pusar bodong pancarkan cahaya. Sinar Geni Biru melesat. Luar biasa mengerikan. Tak ada lagi jeritan ketika tubuh Pangeran Matahari terkutung dua tepat di bagian pinggang. Isi perut berbusaian. Darah menggenang. Belum puas Bidadari Angin Timur tendang dua potongan tubuh hingga mental dan amblas masuk ke dalam kobaran api.

"Wiro," kata Setan Ngompol yang menyaksikan kejadian itu. "Seperti yang kau bilang Pangeran Matahari benar-benar tidak memerlukan kain kafan!"

ltulah akhir riwayat manusia paling jahat dan paling mesum yang selama ini menjadi momok nomor satu dalam rimba persilatan. Bidadari Angin Timur tekap wajahnya. Air mata mengalir di sela jari-jari yang halus. Dia benar-benar puas telah membalaskan sakit hati dendam kesumat Pandan Arum sekaligus dendamnya sendiri. Pada saat itu terjadi satu keanehan. Di siang bolong begitu rupa tiba-tiba di langit kilat menyambar disusul suara gelegar guntur. Semua orang tegak diam tercekam. Wiro ingat pada gurunya. Dia segera mendatangi, berlutut di samping Sinto Gendeng, menciumi tangan si nenek seraya berkata,

"Nek, saya murid kualat. Mohon ampun dan maafmu."

Ketika kutungan tubuh Pangeran Matahari mengepul jatuh ke tanah Liris Merah terpekik. Dia hendak lari menubruk tubuh yang sudah tak karuan rupa itu. Namun cepat dicegat oleh Liris Biru dan Setan Ngompol. Liris Merah meratap keras. Wiro menolong gurunya berdiri. Si nenek menatap wajah sang murid yang berlutut di depannya dan usap rambut gondrong Pendekar 212. Matanya berkaca-kaca.

"Wiro, kau murid baik. Apapun yang terjadi kau tetap muridku. Aku punya satu permintaan. Semua ilmu silat dan kesaktian yang aku berikan padamu tetap harus kau pergunakan untuk kebaikan. Ketahuilah dengan menyatunya Kapak Naga Geni Dua Satu Dua dan Batu Hitam Sakti di dalam tubuhmu, kekuatan tenaga dalam serta hawa sakti yang kau miliki sekarang jadi berlipat ganda..."

"Terima kasih Eyang. Saya tetap mohon maafmu," jawab Wiro dengan air mata berlinang. Lalu dia bertanya. "Bagaimana sampai Eyang bisa diculik oleh manusia terkutuk itu?"

"Kejadiannya malam hari. Selagi aku tertidur lelap di sebuah dangau, dalam keadaan sakit..." Menerangkan Sinto Gendeng.

"Apakah sekarang Eyang masih sakit?"

Si nenek menggeliat lalu tertawa cekikikan. "Rasanya aku sudah sembuh..." Dia perhatikan lagi sang murid. "Kau lucu berpakaian hitam-hitam seperti ini."

Wiro tersenyum lalu Keluarkan Kitab Seribu Pengobatan dari balik bajunya. "Eyang, ini Kitab Seribu Pengobatan milik Eyang. Saya berhasil mendapatkannya..."

Si nenek ambil kitab itu dari tangan Wiro, diperhatikan dibolak balik lalu diserahkan kembali pada muridnya. "Ambil dan simpan baik-baik. Kau lebih layak menyimpannya. Banyak orang yang perlu kau tolong dengan kitab itu."

"Tapi Eyang..."

"Huss!" Sinto Gendeng masukkan kitab ke balik pakaian Wiro hingga sang murid tak bisa menolak. Wiro keluarkan lagi sebuah benda dan diperlihatkan pada si nenek.

Sepasang mata Sinto Gendeng membesar berkilat. "Oala! Itu tusuk kondeku!"

"Benar Eyang, sesuai tugas dari Eyang saya berhasil menemukan." Sinto Gendeng tertawa gembira.

"Anak setan, terbukti kau murid baik! Kau berhasil menjalankan dua tugas yang aku berikan!" Sinto Gendeng usap kepala Wiro lalu ambil tusuk konde dan crass! Tusuk konde perak itu ditancapkan di batok kepalanya! Kini tusuk konde si nenek lengkap kembali berjumlah lima buah.

"Nek, kita segera meninggalkan tempat ini. Api semakin besar. Hawa panasnya sampai ke sini. Saya akan mengantarkanmu ke Gunung Gede."

"Tidak usah... tidak usah. Aku mau keluyuran dulu mencari ketenangan hati. Bertemu dengan beberapa sahabat." Sinto Gendeng tepuk-tepuk pundak sang murid. "Tadi ada kejadian hebat. Seorang perempuan cantik berbentuk bayangan melepaskan totokan yang ada di tubuhku. Lalu memberi kisikan agar aku meremas barangnya Pangeran Matahari. Aku suka suka saja memegang anunya orang. Hik hik hik! Tapi aku mau tanya, siapa mahluk aneh itu? Jelas dia bukan Bunga gadis dari alam roh itu."

"Namanya Pumama Nek..."

"Sahabat atau kekasihmu yang baru?"

Wiro tertawa. "Terserah Eyang mau bilang apa."

Sinto Gendeng tertawa dan angguk-anggukan kepala. "Jangan lupa mengurus mayat Wulan Srindi. Dia gadis baik. Hanya jalan nasibnya yang buruk. Kau tahu, sebenarnya aku tak pernah percaya kalau kau sudah kawin dengan dia. Apa lagi sampai gadis itu hamil. Hik hik hik. Sejak kecil aku sudah memperhatikan dan tahu keadaan dirimu. Sifatmu memang jahil, tapi anumu tidak jahil! Hik hik hik. Kelak kalau kau ingin kawin, kawin dengan siapa saja asal perempuan yang punya sifat baik, setia dan sayang padamu. Aku tidak perduli apakah dia bangsa manusia atau hantu sekalipun! Hik hik hik!"

Wiro garuk-garuk kepala. "Terima kasih atas nasihatmu Nek. Tapi aku belum mau kawin."

"Ya terus saja ganjen keluyuran!" ucap si nenek tapi sambil tersenyum. "Sudah, aku mau pergi sekarang. Eh, apa luka dipunggungmu masih ada?"

"Saya tidak tahu Nek. Saya tidak mengingat-ingat. Murid nakal tentu saja pantas menerima hukuman dari gurunya..."

Sinto Gendeng mesem-mesem. "Coba kau balikkan tubuhmu sana. Aku mau lihat punggungmu. Ayo singkapkan punggung bajumu."

Sementara Wiro berbalik dan menyingkapkan bajunya di bagian punggung si nenek peras kain panjangnya dengan tangan kanan hingga tangan itu basah dengan air kencing. Tangan yang basah itu kemudian diusapkannya ke punggung Wiro lalu dia meniup. Aneh! Guratan panjang cacat bekas luka di punggung sang murid serta merta lenyap!

"Nek, apa yang kau lakukan? Aku merasa dingin-dingin dan mencium bau pesing ” tanya Wiro.

Dia hanya mendengar suara Sinto Gendeng tertawa. Ketika berpaling nenek itu tak ada lagi di belakangnya. Memandang ke jurusan lain kelihatan Sinto Gendeng sudah berada di tempat jauh, melangkah sambil tertawa haha-hihi. Wiro menarik nafas panjang, bangkit berdiri dan tertawa lepas. Wiro memandang berkeliling. Jatilandak diiringi BidadaribAngin Timur dan Setan Ngompol serta Liris Merah dan Liris Biru melangkah menghampiri.

"Jangan dekat-dekat. Dia barusan diusapi air kencing sama gurunya!" berkata Setan Ngompol sambil tertawa-tawa.

Tidak perdulikan ucapan orang Jatilandak mendekati Wiro lalu merangkul Pendekar 212. "Wiro, sahabatku. Aku berterima kasih kau telah meminjamkan Kitab Seribu Pengobatan. Dengan petunjuk dalam kitab itu kulitku yang kuning bisa disembuhkan. Rambutku bisa tumbuh wajar..."

Terheran-heran Wiro berkata. "Rasanya aku tidak pernah meminjamkan kitab itu padamu. Bagaimana mungkin..."

"Kau menyerahkan pada seseorang yang kau beri nama Pumama."

"Ah, kalau itu memang benar," kata Wiro pula.

"Wiro, jangan kaget kalau aku jelaskan bahwa Purnama adalah ibuku. Di Latanahsilam namanya Luhmintari..."

PendekarbDua Satu Dua terperangah dengan mulut ternganga. "Jatilandak, kau mengatakan jangan kaget. Saat ini aku justru merasa sejuta kaget!" kata Wiro sulit bisa percaya.

Lalu kedua pemuda itu saling berpelukan kembali. Wiro kemudian berpaling pada Bidadari Angin Timur. "Sampai saat ini rasanya aku masih tidak percaya kalau Nyi Bodong itu adalah Bidadari Angin Timur. llmu kesaktianmu luar biasa."

Bidadari Angin Timur tersenyum manis. Wiro menambahkan. "Aku gembira bertemu denganmu sebagai Bidadari Angin Timur. Tidak sebagai Nyi Bodong..."

Gelak tawa meledak di tempat itu. Tangan kiri Bidadari Angin Timur meluncur mencubit pinggang Wiro hingga sang pendekar menggeliat kesakitan. "Wiro, aku tahu banyak pekerjaan yang harus kau lakukan. Diantaranya menolong dua gadis kakak beradik ini. Mereka sekarang adik-adikku yang terkasih. Walau dulu aku pernah menampar mereka. Untuk itu aku mohon maaf..."

Habis berkata begitu Bidadari Angin Timur mencium Liris Merah dan Liris Biru. "Walau aku tak ingin mengingat masa lampau lagi namun ada dua orang yang harus kutemui..."

"Kalau aku boleh bertanya siapa kedua orang itu?" tanya Wiro.

"Mengapa tidak?" jawab Bidadari Angin Timur. "Yang pertama perempuan cantik yang kau beri nama Purnama itu. Ibu Jatilandak. Aku ingin kejelasan kesaksiannya tentang musibah yang terjadi atas diriku. Yang kedua adalah Kiai Munding Suryakala. Kakek sakti yang telah menyelamatkan diriku waktu aku nekad menghambur ke jurang. Dia juga memberikan ilmu kesaktian padaku."

Gadis cantik berambut pirang itu diam sebentar lalu melanjutkan ucapannya. "Wiro, ada satu hal yang ingin aku ceritakan padamu disertai permintaan maaf. Mengenai hilangnya Kitab Seribu Pengobatan itu, akulah yang telah berlaku jahil. Aku kesal padamu. Kitab kubawa kemana-mana sampai akhirnya aku ditolong Kiai Munding Suryakala. Kiai yang secara diam-diam mengembalikan kitab ke pondok Eyang Sinto di Gunung Gede."

Wiro terdiam. Garuk-garuk kepala lalu tertawa gelak-gelak.n"Semua kejadian ada hikmahnya. Dan semua itu terjadi atas kehendak Yang Maha Kuasa. Bidadari Angin Timur, jika kau ingin bertemu dengan ibu Jatilandak tak usah pergi jauh. Dia ada di sini." Wiro menoleh ke kanan lalu berkata. "Purnama, hadirkan dirimu di sini."

Saat itu juga tampak bayangan samar perempuan cantik. Perlahan-lahan sosok bayangan itu berubah menjadi ujud utuh seorang perempuan berparas jelita.

Jatilandak terkejut. "Wiro, bagaimana kau bisa melakukan hal ini. Aku anaknya sendiri tak bisa berbuat seperti itu!"

Wiro angkat bahu dan tertawa. "Tanya saja pada ibumu yang cantik ini," jawab Pendekar 212.

Bidadari Angin Timur memeluk Purnama alias Luhmintari lalu menggandeng tangannya. Sebelum berpisah ketiga orang itu, Wiro, Jatilandak dan Bidadari Angin Timur saling berpelukan.

Wiro berpaling pada Purnama. "Kau telah menolong Eyang Sinto. Aku sangat berterima kasih. Apakah aku boleh memelukmu?"

Purnama tersenyum. Bidadari Angin Timur dan Jatilandak sama-sama tertawa. Purnama kemudian mendahului merangkul Pendekar 212 lalu cepat-cepat menjauh jengah. Setelah ke tiga orang itu pergi Wiro memandang berkeliling.

"Aku tidak melihat Patih Kerajaan. Kita punya urusan yang belum selesai dengan manusia satu itu."

"Pasti sudah kabur duluan setelah ditinggal lari anak buahnya," kata Setan Ngompol. "Sekarang bagaimana?"

"Kita urus jenazah Wulan Srindi lebih dulu. Kemudian kita sama-sama ke Goa Cadasbiru," kata Wiro pula.

Liris Biru mengangguk. Liris Merah tampak kikuk. Gadis satu ini sebenarnya ingin memisahkan diri. Apa yang ada di dalam pikiran Liris Merah terbaca oleh sang adik. Liris Biru berkata,

"Kakak, kau boleh pergi kemana kau suka. Tapi kau harus menjalani pengobatan lebih dulu. Wiro akan menolong kita." Liris Merah akhirnya anggukkan kepala dan tersenyum.

"Dalam perjalanan ke Goa Cadasbiru di Kaliurang, apakah aku boleh meminjam Kitab Seribu Pengobatan? Sekadar untuk dibaca-baca saja?" Setan Ngompol bertanya.

"Mau mencari obat kuat Kek?" tanya Wiro bercanda.

"Boro-boro mencari obat kuat. Kencing saja belum lempang!" jawab Setan Ngompol lalu tertawa sendiri.

Wiro keluarkan Kitab Seribu Pengobatan. "Aku serahkan Sekarang. Tapi awas jangan sampai kena air kencingmu!”

Liris biru dan Liris Merah tertawa cekikikan. Dua gadis ini memandang ke arah kobaran api yang semakin besar dan luas di kejauhan.

”Bagaimana dengan api yang melanda puncak gunung ini? Apakah bisa dipadamkan?" bertanya Liris Biru.

”Tak usah khawatir ” jawab Setan Ngompol. ”Biar nanti aku kencingi, pasti padam semua!”

Semua orang yang ada disitu tertawa gelak-gelak. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Di sebelah barat langit tampak mendung tebal menggantung. Ketika orang-orang itu berada di lereng gunung sebelah timur hujan mulai turun. Mula-mula perlahan saja kemudian berubah sangat deras.

”Lihat apa kataku! Kencingku sudah tumpah, sebentar lagi api di puncak gunung akan segera padam” kata Setan Ngompol sambil berkacak pinggang.

”Sombongnya!” ucap Liris Merah lalu menggelitik pinggang si kakek yang membuat Setan Ngompol menjerit kegelian dan terkencing-kencing.
********************
Pada pagi hari perjalanan menuju Goa Cadas Biru di Kaliurang Setan Ngompol selalu tertinggal di belakang. Sekali-sekali wajahnya tampak meringis seperti orang kesakitan. Sebentar-sebentar dia pegangi bagian bawah perutnya. Ketika Wiro menanyakan mengapa dia tidak berlari cepat dan sering meringis, sikakek menjawab berbisik-bisik.

”Aku kena masalah...”

”Masalah apa?”

”Aku baca kitab Seribu Pengobatan. Aku menemui cara-cara pengobatan untuk kencing beserku. Mudah saja, meminta Kesembuhan pada Yang Kuasa lalu membuat totokan pada tiga tempat di bagian tubuh sebelah bawah. Kusangka penyakit beserku akan hilang. Tapi ternyata sampai pagi ini aku tidak kencing-kencing. Tidak bisa beser sama sekali. Sakitnya gila-gilaan. Sampai keluar keringat dingin aku dibuatnya!”

Wiro minta Setan Ngompol mengeluarkan Kitab Seribu pengobatan dan menunjukkan halaman serta urutan cara pengobatan yang telah dilakukannya. Wiro mulai meneliti dan membaca. Selesai membaca dia bertanya pada Setan Ngompol bagian mana saja dari tubuhnya yang ditotok dan berapa kali. Si kakek lalu menunjukkan bagian tubuh sebelah bawah perut yang ditotoknya.

"Semua aku totok masing-masing tiga kali. Tapi bukannya sembuh, malah tidak bisa kencing!”

Wiro kembali meneliti dan membaca kitab. Sesaat kemudian dia tertawa. Mula-mula perlahan saja, akhirnya keras terbahak-bahak. Liris Merah dan Liris Biru mendatangi, ingin tahu apa yang terjadi.

"Anak sableng! Aku sakit setengah mati kau malah tertawa!" Setan Ngompol merengut.

"Kek, coba kau lihat dan baca lagi petunjuk dalam kitab ini. Untuk sakit kencing-kencing yang kau alami penyembuhannya terbagi dua. Yaitu untuk lelaki dan untuk perempuan. Tadi kau menunjukkan tempat-tempat yang telah kau totok serta berapa kali totokannya. Aku baca disini, apa yang kau kerjakan itu adalah penyembuhan untuk perempuan. Untuk lelaki bukan di situ totokannya dan jumlahnya untuk setiap tempat masing-masing hanya dua kali! Jadi jangan heran kalau kini kau tidak bisa kencing-kencing! Keliru pengobatan! Ha ha ha!"

Wiro, juga Liris Merah dan Liris Biru tertawa terpingkal pingkal. Setan Ngompol tegak tertegun lemas. Mungkin kesal dia usap keras-keras bagian bawah perutnya.

"Eh... eh... lihat!" si kakek tiba-tiba berseru sambil menunjuk ke bagian bawah. Celananya yang basah tampak menggembung bergerak-gerak. Matanya yang jereng tambah juling. Seerr... seeerr! "Oala! Beserku muncrat!"

Wiro, Liris Merah dan Liris Biru kembali tertawa gelak-gelak.

T A M A T
Bagaimana dengan Nyi Retno Mantili serta bonekanya yang bemama Kemuning. Sesuai janji Datuk Rao Basaluang Ameh apakah perempuan malang itu akan bertemu dengan puteri kandung yang diberi nama Ken Permata?
Bagaimana pula dengan Patih Kerajaan Wira Bumi. Apakah Nyi Retno akan terus melaksanakan niat untuk membunuh suaminya itu. Semua pertanyaan akan terjawab dalam kisah episode tersendiri...
Episode Pertama Rangkaian Kisah Wiro Sableng Selanjutnya:
LihatTutupKomentar